Uncategorized

Set Me Free..

set me free Cast:

– Kim Hyuna

– Jang Hyunseung

– Kris Wu

Hyuna membuka matanya perlahan. Ia tetap pada posisi itu untuk beberapa saat sambil menghela nafas. Tubuhnya terasa sakit. Didadanya seperti ada sesuatu berat menggantung hingga sulit ketika paru-parunya hendak bekerja menarik dan mengeluarkan udara. Ia tak bergerak untuk waktu yang lama hingga terdengar ketukan di pintu.

Tok! Tok! Tok!

“Agassi, sudah waktunya bangun..” panggil seorang wanita di balik pintu.

Hyuna memejamkan matanya erat, seperti ia tak mendengar wanita itu memanggilnya.

Tok! Tok! Tok!

“Agassi..” panggil wanita itu lagi.

Hyuna kembali membuka matanya dan bergerak duduk, “Ne… aku sudah bangun..” jawabnya dengan suara mengantuk. Meskipun ia sama sekali tidak mengantuk saat itu.

“Sarapan akan siap dalam waktu 10 menit agassi..” ucap wanita itu dan tak terdengar lagi.

Hyuna menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, lalu turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Hari untuk bersandiwara telah di mulai. Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolahnya, ia berdiri di depan cemin sambil menyisir rambutnya. Ia mengikat satu rambutnya dan menyandang tasnya, lalu melangkah menuju pintu. Ia berhenti di balik pintu dan menghela nafas dalam sejenak, kemudian tersenyum lebar dan membuka pintu. Dengan langkah riang ia menuruni tangga dan langsung berlari kecil ke ruang makan. Disana kakeknya sudah duduk terlebih dulu, “Harabeutji!!!” ucapnya riang sambil memeluk leher kakeknya dari samping.

Kakek Hyuna tersenyum sambil membelai kepala cucunya, “Segeralah sarapan..”

“Ne..” ucap Hyuna sambil melepaskan tasnya dan duduk di sisi kiri meja makan. Para pelayan langsung menghidangkan sup di hadapannya. “Hmm.. sup..” ucapnya senang dan langsung mengambil sendok.

“Agassi, kiriman dari ayah anda sudah tiba tadi malam..” ucap seorang pelayan memberitau.

Hyuna memandang pelayannya itu, “Ne? Mana dia?” tanyanya penasaran.

“Sebentar agassi..” ucap pelayan itu dan berbalik, namun kakek membuatnya berhenti.

“Aniya..” ucap Kakek cepat, membuat Hyuna dan pelayan itu memandangnya. “Sekarang waktunya sarapan, juga jika tidak buru-buru kau akan terlambat Hyuna..”

Hyuna tersenyum malu, “Ne, harabeutji..” ucapnya dan kembali makan.

Pelayan itu membungkuk sopan dan kembali ke dapur.

“Baiklah.. aku selesai.” Ucap Hyuna begitu menghabiskan supnya, lalu berdiri sambil mengenakan tasnya lagi. “Harabeutji, aku berangkat.. Annyeonghaseo..” ucapnya sambil membungkuk sopan.

“Ne.. Jangan membuat keributan di sekolah..” ucap kakek dengan nada bercanda.

Hyuna tertawa kecil, “Ne..” jawabnya, lalu melangkah riang menuju pintu depan. Ia tersenyum melihat Kris sudah berdiri di sebelah mobil yang biasa ia gunakan. “Oppa..” sapanya riang.

Kris membungkuk sopan, lalu membukakan pintu untuk Hyuna.

Hyuna masuk ke mobil dan duduk dengan tenang di kursi penumpang.

Kris masuk ke kursi kemudi dan menghidupkan mesin.

Hyuna memandang keluar jendela ketika mobil mulai bergerak pergi. Setelah cukup jauh, ia bisa melihat rumah mewah yang selama ini ia tinggali bersama kakeknya. Ia selalu memandanginya ketika berangkat ke sekolah hingga hilang dari pandangannya. Setelah itu ia akan memperhatikan Kris yang selalu serius seperti biasa, “Oppa, hari ini aku ingin membolos les piano saja..” ucapnya.

Kris tertegun dan melirik kaca spion di atas kepalanya untuk melihat Hyuna yang tampak cemberut, “Wae?”

Hyuna menghela nafas sebal, “Gurunya menyebalkan, masa dia berkata jari-jariku terlalu pendek untuk bermain piano..”

Kris tersenyum tipis, “Jika begitu, buktikan pada gurumu kalau dia salah..”

Hyuna memandang jari-jarinya, “Tapi jari-jariku memang pendek.. eoteokhe?” tanyanya bingung.

Kris tidak bisa menahan senyumnya, “Itu berarti anda harus lebih berusaha, agassi..”

Hyuna cemberut, “Ahhh.. kenapa aku tidak pernah bisa melakukan hal dengan benar?” tanyanya sebal sendiri.

Kris tidak berkomentar lagi karena mobil sudah memasuki kawasan sekolah. Ia menginjak rem dan menarik rem tangan, lalu keluar dari mobil untuk membukakan pintu untuk Hyuna.

Hyuna keluar dari mobil dan langsung tersenyum lebar melihat dua gadis sudah menunggunya.

“Hyuna-a..” panggil salah seorang yang bernama Jaekyung.

Hyuna melambai pada para gadis itu, lalu memandang Kris “Nah oppa, aku pergi..” ucapnya dan langsung melangkah riang menghampiri teman-temannya.

Kris menutup pintu dan kembali masuk ke mobil.

“Kenapa lama sekali? Kupikir kau akan terlambat..” ucap Minah ketika Hyuna tiba di depan dia dan Jaekyung.

Hyuna tertawa kecil sambil mengelus belakang kepalanya, “Tadi pagi aku bangun telat lagi..” ucapnya.

“Sudahlah.. Ayo masuk..” ajak Jaekyung sambil merangkul Hyuna.

“Khaja..” ajak Minah juga.

“Oh ya, apa kalian sudah melihat Hyunseung oppa?” tanya Hyuna.

Jaekyung dan Minah menatap Hyuna dengan mata jahil, “Aigoo.. baru tiba langsung mencari tunangannya..” canda mereka.

Kedua pipi Hyuna merona merah dan tersenyum malu, “Wae.. memangnya salah?”

Jaekyung dan Minah tertawa kecil, “Aniya, Hyunseung oppa tadi sepertinya sudah tiba. Pagi ini dia akan mengikuti kelas musik dulu..” ucap Minah memberitau.

Hyuna memandang Minah bingung, “Hm? Bagaimana kau bisa tau kelas Hyunseung oppa setiap hari?”

Minah tertawa malu, “Karena Hyunseung oppa juga sekelas dengan Junhyung oppa..” ucapnya malu.

Jaekyung dan Hyuna tertawa, “Pantas saja..” ledek mereka.

“Khaja, pagi ini kita akan olahraga..” ucap Hyuna sambil menarik teman-temannya ke kelas.

Ruang Ganti Perempuan.

Hyuna masuk ke ruang ganti dan langsung menuju lokernya, ia harus bergegas mengganti baju karena ia yang terakhir masuk ke sana. Ia tadi menyempatkan dirinya melihat Hyunseung di kelas musik dan segera kembali. Ketika ia sudah membuka kemejanya dan sedang memasang kaus olahraga, ia mendengar orang masuk dari balik lokernya. Namun ia tetap berkonsentrasi pada kegiatannya. Ia mengambil celana olahraga dan membungkuk untuk memasukkan satu kakinya.

“Pabo ya! Bagaimana mungkin kau berkata Hyunseung oppa sekelas dengan Junhyung oppa?” tanya Jaekyung kesal.

Hyuna berhenti bergerak karena mendengar suara Jaekyung.

Minah menunduk menyesal, “Miane, aku kelepasan bicara tentang kelas pagi Hyunseung oppa. Jadi aku menjadikan itu alasan..”

Hyuna kembali berdiri tegak tanpa memikirkan celananya yang belum terpasang.

“Jika Hyuna tau kau sengaja mengetahui jadwal Hyunseung oppa, dia akan curiga pada kita. Araso?” tanya Jaekyung kesal.

Minah mengangguk, “Ne, araso.. Miane..”

“Sudah, ayo keluar. Nanti Hyuna curiga kita menghilang..” ucap Jaekyung dan keluar dari ruang ganti.

Hyuna masih berdiri ditempatnya. Rasa sakit ditubuhnya terasa semakin menyiksa, juga terasa sulit untuk menghela nafas.

Gedung Olahraga.

“Kim Hansun!” panggil guru olahraga sambil memandang buku absennya.

“Ne..” jawab siswa bernama Hansun di deretan tengah.

“Kim Hyomin..” panggil guru olahraga lagi.

“Ne..” jawab siswi bernama Hyomin di deretan depan.

“Kim Hyuna..” panggil guru olahraga. Tidak ada jawaban, ia mengangkat wajah dan memandang para siswanya, “Kim Hyuna..” panggilnya lagi.

Jaekhyung dan Minah saling memandang bingung, mereka tidak tau dimana Hyuna. Gadis itu tak ada disana ketika mereka tiba.

“Kim Hyuna!” panggil guru olahraga lagi.

“Ne!!!” jawab Hyuna sambil berlari menuju teman-temannya.

Semua orang memandang Hyuna yang berhenti di sebelah guru olahraganya dan membungkuk sambil mengatur nafas. Setelah beberapa saat ia memandang guru olahraganya yang terlihat kesal, “Cesonghamida sonsaengnim..” ucapnya sambil membungkuk sopan.

Guru olahraga menghela nafas dalam, “Aku memaafkanmu kali ini karena kau murid berprestasi, tapi jika kau terlambat lagi. Kau tidak boleh mengikuti kelasku selama satu semester! Mengerti?!”

Hyuna tersenyum lebar dan membungkuk sopan lagi, “Gamshamida..” ucapnya dan segera menghampiri Jaekyung dan Minah di barisan belakang.

“Ya.. darimana saja kau? Kau sampai berkeringat seperti ini..” ucap Minah sambil mengeluarkan sapu tangannya dan menyeka keringat di dahi Hyuna.

“Ne.. kenapa kau pergi seorang diri seperti itu?” tanya Jaekyung khawatir.

Hyuna memandang kedua temannya bergantian, lalu tersenyum malu. “Aku lupa waktu karena memandangi Hyunseung oppa dari jauh..” ucapnya setengah berbisik dan tertawa kecil.

“Aigoo.. Hyunseung oppa tidak akan hilang..” ucap Jaekyung sebal, lalu tertawa kecil.

=Kafetaria=

Hyuna, Jaekyung dan Minah ikut dalam antrian untuk mengambil makanan sambil bercerita tentang kejadian di gedung olahraga tadi.

Pria yang berdiri di depan Hyuna memandang kebelakang, “Omo.. Hyuna-a..” sapanya.

Hyuna memandang pria itu dan tersenyum, “Oh.. Sehun, annyeong..”

“Aigoo.. kenapa kau mengantri dibelakangku..” Ucap Sehun, lalu memegang bahu temannya di depan, “Ya.. ayo pindah kebelakang. Kenapa membiarkan para gadis mengantri dibelakang kita?” ucapnya.

“Omo.. Hyuna, annyeong..” sapa teman-teman Sehun sambil berpindah ke belakang Hyuna, Jaekyung dan Minah.

Hyuna tersipu malu, “Gumopta..” ucapnya manis.

Minah dan Jaekyung tertawa kecil.

“Hei Hyuna, sepertinya Sehun masih menyukaimu.” Bisik Jaekyung sambil mengambil makanannya.

Hyuna tertawa malu sambil mengambil makanannya juga.

“Ya.. Hyuna sudah bertunangan..” ucap Minah sebal.

Hyuna melangkah untuk mencari tempat duduk dan melihat Hyunseung sudah duduk di sebuah meja bersama Junhyung dan beberapa teman prianya. Bibirnya membentuk senyuman dan langsung menghampiri pria itu, diikuti oleh Jaekyung dan Minah.

Hyunseung menikmati makanannya sambil mendengarkan teman-temannya bercerita. Sesekali ia tertawa kecil mendengar lelucon Yoseob.

“Omo.. princess Hyuna tiba..” ucap Dongwoon yang menyadari kedatangan Hyuna.

Hyuna tersenyum malu, “Annyeonghaseo..” sapanya sopan.

“Annyeonghaseo, oppa..” sapa Jaekyung dan Minah.

Hyunseung memandang Hyuna, lalu menarik kursi disebelahnya. “Duduklah..”

Hyuna meletakkan nampan makanannya di meja dan bergerak duduk di sebelah Hyunseung.

Yoseob dan Dujun langsung berbaik hati mengambilkan kursi untuk Jaekyung dan Minah yang langsung tersipu malu.

“Kudengar tadi kau terlambat ke di jam olahraga, wae?” tanya Hyunseung ingin tau.

Hyuna menatap Hyunseung kaget, “Oh.. bagaimana oppa tau?”

“Guru olahraga membertauku, dia bilang sepertinya kau sedang merasa tidak baik. Jadi memintaku memastikan keadaanmu..” jelas Hyunseung.

Hyuna tersenyum malu, “Hehehe.. miane oppa, aku tidak tau guru olahraga berbicara padamu..”

Hyunseung tersenyum, “Makanlah.. kau memang terlihat agak pucat..” ucapnya.

Hyuna mengangguk dan mulai makan. Sembari mengunyah makanan di mulutnya, ia melirik Hyunseung yang menikmati makanan sambil memperhatikan teman-temannya yang kembali bercerita. Lalu kembali memandang makanannya.

“Oh iya! Aku mendengar sebuah berita baru!” ucap Dujun menghentikan tawa teman-temannya, membuat semuanya menatapnya serius.

“Berita apa?” tanya Yoseob.

“Harga sahammu menurun?” tebak Dongwoon tak percaya.

“Salah satu perusahaan ayahmu bangkrut?!” tebak Junhyung.

“Ya.. cepat katakan!” ucap Gikwang ingin tau.

Dujun menatap teman-temannya kesal, “Ya! Hanya itu yang bisa kalian pikirkan?!”

“Sudah, cepat katakan!” desak Yoseob.

“Oppa, aku juga penasaran. Cepat katakan..” ucap Minah.

Dujun mengenyampingkan perasaan kesalnya dan kembali terlihat serius, “Kemarin ayahku berkata kalau Kwon Yuri akan kembali ke Korea!!” ucapnya.

Semuanya terdiam menatap Dujun.

Dujun memandang teman-temannya bingung, “Wae? Kalian tidak senang mengetahui teman kalian kembali?” tanyanya tak mengerti.

Semuanya selain Dujun menatap Hyunseung yang tampak terpaku mendengar berita itu, juga Hyuna yang ikut terpaku menatap makanannya.

Hyunseung memandang Hyuna.

Yoseob memukul bahu Dujun kesal, “Aissh.. kenapa kau selalu merusak suasana?” tanyanya setengah berbisik.

Jaekyung bisa melihat Hyuna sangat terkejut, “Hyuna-a..”

Hyunseung berusaha mengendalikan dirinya, “Hyuna, aku sama sekali tidak tau jika Yuri kembali..” ucapnya pelan.

Hyuna menghela nafas dalam dan meletakkan sendok di tangannya, “Aku selesai..” ucapnya sambil bangkit dan melangkah pergi.

“Hyuna..” panggil Minah dan Jaekyung yang langsung mengikuti teman mereka.

Dujun baru sadar seharusnya ia tak mengatakan berita itu di depan Hyuna dan Hyunseung, “Ohh.. miane, aku lupa..”

“Aissh.. Kau ini..” ucap Dongwoon kesal.

Junhyung memandang Hyunseung yang masih duduk di tempatnya, “Ya, kenapa tidak mengejar Hyuna? Kau harus menjelaskan padanya..”

Hyunseung kembali menyendokkan makanannya, “Aku akan menjelaskannya nanti..” ucapnya dan kembali makan.

“Hyuna.. tunggu…” panggil Minah sambil mengikuti Hyuna yang terus melangkah di lorong.

Jaekyung menyamakan langkahnya dengan Hyuna dan memandang wajah gadis itu, “Hyuna-a, kenapa kau pergi?”

Hyuna berhenti melangkah dan menghela nafas dalam, lalu memandang kedua temannya bergantian. “Yuri eonni akan kembali. Dia pasti juga akan masuk ke sekolah ini.” Ucapnya khawatir.

Jaekyung dan Minah saling memandang, lalu berdiri disisi kanan dan kiri Hyuna.

“Apa yang kau khawatirkan? Hyunseung oppa dan Yuri eonni hanya berteman, kau tunangannya. Kenapa kau seperti ini?” tanya Jaekyung.

Hyuna menghela nafas dalam, “Mereka memang berteman, tapi kan Hyunseung oppa dan Yuri eonni saling menyukai sejak kecil..” gumamnya.

“Aniya, itu kan dulu. Namanya juga anak-anak, jadi biasa jika saling suka satu sama lain. Yang penting kan sekarang Hyunseung oppa sudah menjadi tunanganmu.” Ucap Jaekyung, lalu memandang Minah. “Benarkan?”

Minah mengangguk, “Ne..”

Hyuna memandang kedua temannya bergantian, “Keure, aku tidak akan khawatir lagi..”

Jaekyung dan Minah tersenyum, “Itu baru temanku..” ucapnya, “Oh ya, kulihat ada model baju baru. Bagaimana jika sepulang sekolah kita pergi berbelanja?”

Hyuna tersenyum, “Ide bagus..”

=Kamar Hyuna=

Hyuna duduk di kursi sambil memandang keluar jendelanya yang besar sambil menikmati teh. Matanya melirik ke kotak yang dikirimkan ayahnya, lalu tas belanjaan di sebelah kotak itu. Ia mengambil cangkir teh dan menyeruput isinya, lalu memandang langit malam. Ponselnya yang tergeletak di atas meja berbunyi, ia mengembalikan cangkir pada tempatnya semula dan mengambil ponselnya. Ia diam sejenak melihat nama siapa yang muncul. Jang Hyunseung. Ia menghela nafas dalam dan mengangkat panggilan itu, “Ne oppa..” jawabnya pelan.

“Kau belum tidur?” tanya Hyunseung.

“Belum..” jawab Hyuna.

Hening…

“Mmm.. tentang Yuri…”

“Oppa..” potong Hyuna.

“Ne..” jawab Hyunseung.

“Apa oppa tau Yuri eonni akan kembali?” tanya Hyuna.

“Aniya, aku juga terkejut ketika Dujun mengatakannya..” jawab Hyunseung.

Hening..

“Hyuna, kau masih disana?” tanya Hyunseung.

“Ne…” jawab Hyuna.

Terdengar Hyunseung menghela nafas dalam, “Dengar Hyuna..” ucapnya pelan, “Yuri kembali kemari karena dia memang berasal dari sini, tidak ada hubungannya denganku atau siapa pun. Araso?”

“Ne, oppa..” ucap Hyuna dengan nada lebih ceria.

“Baiklah.. sampai jumpa besok..” ucap Hyunseung.

“Sampai jumpa besok..” ucap Hyuna dan telepon berakhir. Meskipun begitu, ia masih menempelkan ponsel di telinganya, “…jika aku masih terbangun besok pagi..” gumamnya pelan. Tangannya menurunkan ponsel dan kembali memandang langit.

=Keesokan Paginya=

Hyuna membuka matanya perlahan. Rasa sakit itu terus menyiksanya. Rasanya setiap pagi rasa sakit itu terus bertambah dan membuatnya semakin sulit untuk bernafas. Seperti biasa, ia akan tetap pada posisi itu untuk waktu yang lama hingga seseorang mengetuk pintu kamarnya.

Tok! Tok! Tok!

“Agassi, sudah saatnya bangun..” panggil seorang pelayan Hyuna.

Hyuna bergerak bangkit dan duduk di tempat tidurnya, “Ne..” jawabnya. Namun ia tak langsung turun dari tempat tidur, ia diam sejenak untuk memandang photo pertunangannya dengan Hyunseung yang terpajang di meja. Setelah beberapa saat ia menyibak selimut dan turun dari tempat tidur.

Perjalanan menuju sekolah.

Kris melirik Hyuna yang tampak membaca buku di tangannya melalui kaca spion, “Agassi, besok adalah hari peringatan kematian ibu anda..” ucapnya mengingatkan.

Hyuna  mengangkat wajahnya memandang Kris, “Besok?”

“Ne, agassi..” jawab Kris.

Hyuna diam sejenak, ‘Sudah tiba hari peringatan kematian eomma lagi?’ batinnya.

Kris memperhatikan ekspresi Hyuna dari kaca spion tanpa mengatakan apa pun.

Hyuna memandang Kris, “Oppa, aku ingin ketempat eomma kecelakaan..” ucapnya.

Kris mengangguk, “Ne..” ucapnya.

Sebuah tikungan jalan di pinggiran kota Seoul.

Hyuna berdiri di memandangi sebuah dinding batu yang terdapat goresan dalam disana. 8 tahun lalu, ibunya mengalami kecelakaan mobil disini dan meninggal dunia. Sudah 8 tahun berlalu, tapi ia masih merasa kejadian itu baru terjadi kemarin.

Kris menunggu di dalam mobil tak jauh dari tempat Hyuna berdiri. Satu tangannya memegang stir mobil, satu lagi menyentuh dagunya sambil memperhatikan gadis itu.

Hyuna melangkah maju mendekati dinding tebing, tangannya terulur dan mengelus permukaan kasar itu dengan ujung jarinya. ‘Eomma, apa eomma masih merasakan sakit disana?’ batinnya. Tangannya kembali turun dan bergerak mundur lagi.

Kris memandang jam tangannya, Hyuna sudah terlambat untuk ke sekolah. Matanya kembali melirik gadis itu. Meskipun gadis itu berdiri membelakanginya, ia tau gadis itu sangat sedih. Bibirnya membentuk senyuman sinis. Ia merasa senang melihat gadis yang selalu ceria itu merasa sedih. Matanya melihat sebuah truk melaju dari kejauhan, kemudian melirik Hyuna. Menunggu gadis itu berjalan kesisi lain jalan. Namun hingga ia bisa mendengar bunyi mesin truk itu, Hyuna masih berdiri ditempatnya. Ia langsung keluar dari mobil dan berlari ke arah Hyuna.

Hyuna mendengar deruan mesin mendekat, kepalanya memandang kearah truk yang melaju kearahnya itu. Namun ia tak bergerak.

Supir truk terkejut melihat Hyuna dan langsung menekan klakson agar gadis itu beranjak dari tempatnya.

DIIIIN!!! DIIIIN!!!

Kris berlari menangkap tubuh Hyuna dan mendorongnya ke sisi lain jalan sebelum truk tadi menyambar tubuh gadi itu. Ia menjebak tubuh Hyuna di dinding batu dan menjadikan tubuhnya tameng untuk melindungi gadis itu ketika truk tadi berlalu. Beberapa kerikil dan batu berterbangan ketika truk itu berlalu di belakangnya.

Hyuna memejamkan mata dan mencengkeram baju Kris.

Tanpa sadar satu tangan Kris menahan kepala Hyuna kedadanya agar tidak membentur dinding batu ketika mendorong gadis itu. Setelah beberapa saat truk itu pergi, ia memandang kearah truk itu dengan nafas menderu cepat.

Hyuna membuka matanya dan mendongak memandang Kris.

Kris menunduk memandang Hyuna dan memegang kedua bahu gadis itu, “Agassi! Anda baik-baik saja?” tanyanya cepat.

Hyuna hanya menatap Kris dan mengangguk pelan.

Kris menghela nafas dalam sambil memejamkan mata, lalu kembali menatap Hyuna. “Agassi! Itu berbahaya! Kenapa anda tidak menyingkir?!”

Hyuna menunduk sambil melepaskan baju Kris yang tadi ia cengkeram, lalu kembali mengangkat wajahnya dengan tatapan menyesal. “Cesongeo, aku sangat ketakutan hingga tak bisa menggerakkan kakiku..”

Kris menghela nafas kesal menatap Hyuna, lalu memandang sekitar. “Khaja..” ucapnya sambil menarik tangan gadis itu kembali ke mobil.

Hyuna duduk diam selama Kris mengendarai mobil kembali ke pusat kota Seoul, sesekali ia melirik pria itu. Bingung harus mengatakan apa. “Oppa..”

Kris melirik Hyuna dari kaca spion, “Hmm..” gumamnya menjawab Hyuna.

“Mmm.. apa oppa marah padaku?” tanya Hyuna takut.

Kris menghela nafas dalam, “Aniya, anda harus lebih berhati-hati lain kali..” ucapnya.

Hyuna tersenyum, “Ne..” ucapnya, “Gumawo oppa sudah menyelamatkanku..”

Kris kembali melirik kaca spion, “Ne..”

=Sekolah=

Hyunseung mengedarkan pandangannya mencari Hyuna yang tidak juga terlihat, gadis itu juga tidak membalas pesannya.

Junhyung dan Gikwang bergerak duduk bersama makanan mereka, “Wohooo.. makan..” ucap Gikwang senang.

Dongwoon dan Yoseob menyusul mereka duduk disisi lain meja.

Junhyung memandang Hyunseung yang terlihat mencari seseorang, “Wae? Kau mencari siapa?”

“Aku tidak melihat Hyuna dimana pun..” ucap Hyunseung.

“Hmm.. mungkin dia masih di kelas.. Tunggu saja sebentar lagi..” ucap Junhyung.

Hyunseung bergerak bangkit, “Aku akan memeriksanya..”

“Annyeong!!” sapa Dujun sambil melambai.

Hyunseung yang sudah berdiri terpaku melihat Dujun datang bersama seorang gadis. Kwon Yuri.

Mata semua pria di meja itu membesar melihat Yuri yang juga mengenakan seragam yang sama dengan mereka.

“Oh!! YURI~~~” seru para pria itu tak percaya.

Yuri tersenyum lebar, “Annyeong chingudeul!” sapanya sambil melambai.

Hyunseung terpaku menatap Yuri, tak percaya setelah bertahun-tahun dirinya kembali bertemu dengan gadis itu.

Yuri memandang Hyunseung tetap sambil tersenyum.

Junhyung memandang Hyunseung, “Kupikir kau akan mencari Hyuna..”

Hyunseung tertegun memandang Junhyung, “Ne?” ucapnya, lalu memandang Yuri. “Ohh.. dia akan segera kemari..” ucapnya sambil kembali duduk.

Junhyung melirik Hyunseung, lalu kembali memandang Yuri yang di persilahkan duduk oleh teman-temannya yang lain.

Koridor sekolah.

Hyunseung melangkah menuju kelas Hyuna. Saat berbelok di koridor, ia berpapasan dengan Yuri.

Yuri tersenyum, “Annyeong Hyunseung..”

Hyunseung tersenyum kaku, “Ne… annyeong..” jawabnya pelan.

Yuri menahan tawa melihat ekspresi Hyunseung, “Ya.. seperti itu ekspresimu ketika bertemu teman lama?” tanyanya lucu.

Hyunseung tersenyum malu dengan kepala menunduk dan mengelus belakang kepalanya, “Mian…”

Yuri menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, “Oh ya, selamat atas pertunanganmu. Dengan Kim Hyuna kan?”

Hyunseung memandang Yuri dan mengangguk berat, “Ne..”

“Omo.. kau beruntung sekali bisa bertunangan dengannya.. dia gadis manis dan pintar..” ucap Yuri sambil mendorong bahu Hyunseung bercanda.

Hyunseung tersenyum melihat senyuman Yuri. Gadis itu masih memiliki rasa humor dan senyuman yang indah.

“Apa yang kau lakukan disini? Sepertinya kau akan kesana..” ucap Yuri sambil menunjuk kearah Hyunseung pergi tadi.

“Ne? Oh… aku hanya… mmm.. aniya, aku memang suka berkeliling sekolah saat aku bosan..” ucap Hyunseung.

Yuri tertawa kecil, “Masih suka melakukan hal aneh ha?” candanya.

Hyunseung tersenyum sambil mengangkat bahunya.

“Apa kau bisa menemaniku berkeliling sekolah?” tanya Yuri.

Hyunseung mengangguk, “Keurom..”

=Rumah Hyuna=

“Agassi?” ucap pelayan bingung ketika melihat Hyuna masuk ke rumah, karena seharusnya gadis itu masih disekolah.

“Aku tidak sekolah hari ini dan besok..” ucap Hyuna memberitau sembari melangkah masuk.

Pelayan itu segera mengikuti Hyuna, “Ne? Waeyo agassi?”

Hyuna memandang pelayannya, “Aku lapar, bikinkan aku mi ramen..”

“agassi, kenapa anda tidak disekolah?” tanya pelayan itu.

“Sudah, siapkan saja ramenku..” jawab Hyuna sebal dan melangkah menuju tangga.

Kris memperhatikan Hyuna naik, lalu memandang pelayan itu. “Besok adalah hari peringatan kematian ibunya.. Biarkan saja dia dirumah..”

Pelayan itu menatap Kris kaget, “Ne? Omo.. maafkan saya, saya tidak tau..”

“Siapkan ramennya..” ucap Kris, lalu melangkah ke ruang tengah.

Hyuna membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk, lalu menutup pintunya lagi. Begitu pintu tertutup, ia terpaku beberapa saat ditempatnya. Kakinya terasa lemah untuk berdiri. Tubuhnya merosot dan jatuh terduduk di lantai. Matanya memerah dan bulir air berjatuhan ke pipinya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, namun bulir air mata terus berjatuhan. Ia bergerak bangkit dan melangkah ke tempat tidur, lalu membanting tubuh bagian depannya ke permukaan kasur yang sudah dirapikan pelayannya. Dengan wajah menghadap kesatu sisi.

=Malamnya=

Hyunseung yang duduk di depan meja belajarnya menoleh kearah ponsel yang berbunyi, ia segera mengangkat panggilan itu karena nama Junhyung yang muncul. “Ne, Junhyung..”

“Hyunseung, aku ingin berbicara..” ucap Junhyung.

“Bicaralah..” ucap Hyunseung.

Junhyung menghela nafas dalam, “Hyunseung, aku tau kau bertunangan dengan Hyuna karena keluargamu menginginkannya. Tapi kau tidak bisa kembali memaksakan perasaanmu pada Yuri..” ucapnya langsung.

Hyunseung tertegun, “Hmm.. aku tau..”

“Jika kau tau, jadikan Hyuna prioritas dan jangan mencari Yuri..” ucap Junhyung.

“Aku mengerti..” ucap Hyunseung pelan.

Junhyung diam sejenak, “Maaf Hyunseung, aku mengerti jika kau masih menyukai Yuri. Tapi kau tidak akan bisa membantah kedua orangtuamu. Kau mengerti?”

“Ne..” jawab Hyunseung pelan.

“Baiklah, sampai besok..” ucap Junhyung dan memutuskan telepon.

Hyunseung menghela nafas dalam sambil menarik ponselnya dari telinga. Tak lama ponselnya kembali berbunyi, spontan ia memandang layarnya dan melihat nama Hyuna muncul. Ia kembali ingat gadis itu tidak datang ke sekolah tadi, “Hyuna! Gwenchana?” tanyanya langsung.

Hyuna yang duduk di kursi sambil memandangi langit dari jendela menghela nafas dalam, “Oppa, besok hari peringatan kematian ibuku..” ucapnya pelan.

Hyunseung tertegun, “Ne? Karena itu kau tidak datang ke sekolah?”

“Ne..” jawab Hyuna sedih.

Hyunseung diam sejenak, “Kenapa tidak memberitauku? Aku khawatir kau tidak datang..”

Hyuna diam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Oppa khawatir?”

“Tentu saja..” ucap Hyunseung, “Apa kau baik-baik saja?”

Hyuna sedikit merasa lebih baik mendengar Hyunseung mengkhawatirkannya, “Sekarang sudah lebih baik setelah mendengar suaramu..”

“Syukurlah..” ucap Hyunseung pelan, “Besok kau tidak sekolah lagi?” tanyanya.

“Ani, biasanya saat peringatan kematian eomma aku dan harabeutji akan mengunjungi makamnya..” jawab Hyuna.

“Keure, aku akan memberitau pihak sekolah..” ucap Hyunseung.

“Selamat malam oppa..” ucap Hyuna.

“Ne..” jawab Hyunseung dan telepon terputus.

Ditempat lain.

Hyuna tersenyum tipis memandang ponselnya, ia menjadikan photo dirinya dan Hyunseung menjadi wallpaper. Walaupun ia tau pria itu menyukai Yuri, ia tetap berharap pria itu akan membuka hati untuknya.

=Makam Ibu Hyuna=

Hyuna yang mengenakan pakaian serba hitam berdiri di belakang kakeknya. Angin bertiup membuat rambutnya berterbangan. Di depan mereka, sebuah gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan Min Se Mi menjadi pusat perhatian mereka.

Kakek memandang Hyuna, “Ayo kita pulang..” ucapnya dan berbalik.

“Harabeutji..” panggil Hyuna pelan.

Kakek Hyuna berhenti dan memandang cucunya.

“Bolehkan aku disini sebentar?” tanya Hyuna.

Kakek Hyuna mengangguk, “Ne, harabeutji akan meminta Kris menunggumu..” ucapnya, lalu melangkah menuju pengawal dan asistennya yang sudah menunggu.

Hyuna kembali memandang batu nisan ibunya.

Kris yang berdiri di sebelah mobil membungkuk sopan begitu melihat kakek Hyuna tiba.

“Hyuna masih disana, tunggu sebentar..” ucap kakek Hyuna dan melangkah menuju mobilnya.

“Ne, tuan besar..” ucap Kris. Ia memperhatikan pria setengah baya itu masuk ke mobil dan pergi bersama yang lain, meninggalkan dirinya sendiri. Ia masuk ke kursi kemudi dan menunggu beberapa saat. Namun hingga 20 menit Hyuna tak kunjung kembali. Ia memutuskan menghampiri gadis itu, jika tidak ia bisa bermalam disana.

Kris melangkah menuju makam ibu Hyuna, dari kejauhan ia bisa melihat Hyuna berdiri memandangi sebuah nisan.

Hyuna mendengar seseorang datang dan menoleh, “Oppa?”

“Agassi, sudah sore.. Sebaiknya kita kembali sekarang..” ucap Kris.

Hyuna memandang nisan ibunya sekali lagi, “Khaja..” ajaknya dan berjalan duluan.

Perjalanan kembali ke rumah.

Hyuna mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Hyunseung, namun pria itu tak kunjung mengangkat panggilannya. Dahinya berkerut dan mencoba lagi, tetap saja panggilan itu tak dijawab. Jadi dia memutuskan untuk menghubungi orang lain.

=Sebuah Tempat Billyard=

Hyunseung dan teman-temannya selalu datang ke tempat ini untuk berkumpul. Selain bisa menikmati musik dan makanan, mereka bisa bermain billyard bersama.

“Aaa.. kenapa bola putihnya meleset terus?” ucap Yuri menahan tawa melihat bola putih yang ia sodok berguling kesana kemari tak tentu arah.

Yoseob tertawa, “Perhatikan aku..”

Dujun tertawa melihat Yuri tidak bisa menyodok bola, ia tertegun mendengar ponselnya berbunyi dan mengangkat panggilan itu. “Yoboseyo..” sapanya, “Oh.. Hyuna-a, waeyo?” ia diam sejenak, “Hyunseung?” gumamnya sambil melirik Hyunseung yang sedang memperhatikan Yuri menyodok bola. “Ne, kami di tempat biasa.. Keure..” jawabnya dan telepon terputus.

Junhyung yang duduk di sebelah Dujun memandang temannya itu, “Siapa?”

“Hyuna..” jawab Dujun santai.

Dahi Junhyung berkerut, “Ne? Kim Hyuna?”

Junhyung mengangguk, “Ne..”

“Kenapa dia menghubungimu?” tanya Junhyung.

“Dia bertanya tentang Hyunseung..” jawab Dujun.

Junhyung memandang Hyunseung yang sekarang sudah berdiri dan mengajari Yuri memegang stik dengan benar.

“Begini?” tanya Yuri.

“Lebih rendah sedikit..” ucap Hyunseung sambil mendorong bahu Yuri lebih rendah.

“Ya.. kau mengajari Yuri seperti itu, tapi tidak pernah mau mengajariku..” Protes Yoseob sebal.

“Tentu saja, Hyunseung kan tidak pernah suka padamu..” ucap Dongwoon dan tertawa, namun ia langsung tertegun dan menatap Hyunseung kaget.

“Ya..” seru Gikwang kesal pada Dongwoon.

“Hehehe.. miane..” ucap Dongwoon menyesal.

Yuri tersenyum dan memandang Hyunseung yang tampak canggung, “Memangnya kau pernah suka padaku?” candanya, lalu kembali menyodok bola.

Hyunseung memandang belakang tubuh Yuri, tak percaya gadis itu bisa mengembalikan suasana dengan mudah. Ia tersenyum tipis menatap gadis itu.

Gikwang, Dongwoon dan Yoseob tertawa melihat ekspresi Hyunseung. Sementara Junhyung menatap temannya itu tajam. Dujun bingung dengan situasi antara Junhyung dan teman-temannya.

Hyunseung menahan tawa melihat bola putih yang di sodok Yuri kembali meleset. “Kau harus memegangnya dengan benar..” ucapnya sambil memegang ujung stik yang juga di pegang gadis itu, lalu merangkul bahunya untuk bisa mencapai ujung stik.

“Bukan seperti ini?” tanya Yuri bingung.

Gikwang yang berdiri di sisi kiri meja billyard memandang ke sisi lain ruangan karena seperti melihat seseorang dengan pakaian serba hitam, ia tertegun melihat Hyuna berdiri menyaksikan Hyunseung dan Yuri. Lalu memperhatikan Hyunseung yang masih sibuk mengajarkan Yuri, sementara teman-temannya yang lain juga ikut memperhatikan mereka. “Yoseob!” panggilnya setengah berbisik.

Yoseob memandang Gikwang. Dahinya berkerut melihat temannya itu memberikan isyarat dengan. Kepalanya menoleh dan tertegun melihat seorang gadis berbaju serba hitam berbalik pergi. “Hyuna!” panggilnya spontan.

Hyunseung terkejut dan menatap Yoseob kaget, lalu memandang kearah temannya itu memandang. ia melepaskan bahu Yuri dan kembali memandang Yoseob, “Wae?”

“Pabo!! Kejar Hyuna!” seru Yoseob.

Mata Hyunseung membesar, “Hyuna?!” ucapnya dan langsung berlari mengejar Hyuna.

Yuri memandang teman-temannya bingung, “Ada apa?”

Kris yang menunggu di samping mobil tertegun melihat Hyuna sudah keluar, “Agassi, sudah selesai?”

“Ayo pulang..” ucap Hyuna sambil terus masuk ke mobil.

Hyunseung berlari keluar dan mengedarkan pandangannya mencari Hyuna, ia melihat Kris membuka pintu mobil. “Hyuna!” panggilnya.

Kris berhenti bergerak ketika mendengar Hyunseung berseru, apalagi sekarang berlari kearah mobil.

Hyunseung membuka pintu penumpang dan memandang Hyuna.

Hyuna memandang Hyunseung bingung.

Hyunseung bergerak masuk dan duduk di sisi Hyuna, “Kenapa kau pergi begitu saja?” tanyanya.

Hyuna menghela nafas dalam, kemudian memandang Hyunseung. “Perasaanku sedang sedih, jadi kupikir bisa bertemu denganmu sebentar. Tapi sepertinya oppa sibuk..”

Hyunseung mengelus belakang kepalanya, “Kau melihatku dan Yuri?”

Hyuna menunduk dan mengangguk pelan.

Hyunseung menatap Hyuna, lalu mengulurkan tangan dan memegang tangan gadis itu. “Kau kan sudah datang, kenapa tidak bermain sebentar?”

Hyuna mengangkat wajahnya kembali memandang Hyunseung.

Hyunseung tersenyum tipis, “Khaja..”

“Aku ingin pulang saja..” ucap Hyuna lesu.

Senyuman Hyunseung memudar, “Bagaimana jika oppa menemanimu pulang?”

Hyuna menatap Hyunseung tak percaya, perlahan bibirnya membentuk senyuman dan mengangguk.

Hyunseung menutup pintu dan duduk tenang bersama Hyuna.

Kris masuk ke kursi kemudi dan memandang kebelakang, “Jadi Hyunseung-ssi ikut pulang bersamamu?”

“Ne…” jawab Hyuna senang.

Kris mengangguk dan kembali duduk lurus, lalu menghidupkan mesin mobil.

Hyuna memeluk lengan Hyunseung dan menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu sambil tersenyum.

Kris melirik ke kaca spion dan melihat Hyuna tersenyum senang, sementara Hyunseung terlihat tidak nyaman. Ia menghela nafas dalam dan kembali memandang ke depan. Sebenarnya sejak awal ia sudah menyadari kalau Hyunseung tidak pernah memiliki perasaan pada Hyuna, namun ia tidak pernah mengatakan apa pun. Baginya, melihat Hyuna sangat menderita nantinya lebih baik daripada memperbaiki situasi itu.

Hyunseung memandang Hyuna, “Besok kau sekolah kan?”

Hyuna mengangkat wajahnya memandang Hyunseung, lalu mengangguk. “Ne..”

“Syukurlah..” ucap Hyunseung, lalu tersenyum tipis.

=Sekolah=

“Hyuna, kau sudah tau teman lama Hyunseung oppa, Kwon Yuri sudah bersekolah disini?” tanya Minah begitu Hyuna datang.

Hyuna tertegun, “Ne?”

“Kau tidak tau?” tanya Jaekyung tak percaya.

Hyuna diam mengingat bagaimana Hyunseung merangkul bahu Yuri kemarin malam.

“Oh.. itu dia..” ucap Minah sambil menunjuk Yuri yang turun dari mobil Dujun.

Hyuna berhenti memandang Yuri yang berjalan menuju pintu depan bersama Dujun.

Yuri tertegun memandang Hyuna, lalu tersenyum lebar. “Oh.. Hyuna-a..” sapanya sambil tersenyum lebar dan melambai.

Minah dan Jaekyung tertegun Yuri menyapa Hyuna seperti itu.

Yuri menghampiri Hyuna, “Sudah lama tak bertemu, bagaimana kabarmu?”

Hyuna mengangguk sopan, “Baik, eonni..”

“Selamat atas pertunanganmu dan Hyunseung, aku senang sekali mengetahuinya..” ucap Yuri.

Hyuna tersenyum tipis.

“Sampai nanti..” ucap Yuri dan berjalan masuk.

“Annyeong..” sapa Dujun sambil melangkah.

Kafetaria.

Hyuna mengambil makanan bersama Minah dan Jaekyung. Ketika berbalik dan mencari dimana Hyunseung, ia sempat tertegun beberapa saat melihat tunangannya duduk bersebelahan dengan Yuri dan bercanda dengan yang lainnya. Saat itu ia menyadari kalau Hyunseung masih menyukai Yuri. Kesempatannya mendapatkan hati pria itu semakin mengecil.

“Hyuna, waeyo?” Tanya Minah.

Hyuna hendak meletakkan nampan ditangannya ke meja ketika Junhyung memanggilnya.

“Hyuna-a..” Panggil Junhyung.

Semua orang di meja itu memandang Hyuna dan dua temannya.

Hyuna dapat melihat wajah cerah Hyunseung meredup ketika melihatnya, rasa sakitnya bertambah. Tangannya yang memegang nampan bergetar.

“Hyuna, kenapa berdiri disana.. Kemari..” Panggil Yoseob.

“Khaja Hyuna..” Ajak Jaekyung yang berjalan duluan bersama Minah.

Mau tak mau Hyuna melangkah kesana.

“Hyuna annyeong..” Sapa Yuri.

Hyuna tersenyum tipis dan duduk di sebelah Hyunseung.

“Kenapa lama sekali?” Tanya Hyunseung, berusaha terdengar khawatir.

Hyuna menatap kedua mata Hyunseung, tidak pernah ada cinta dalam tatapan pria itu untuknya. Dan itu membuatnya merasa jauh lebih sakit. Namun bibirnya membentuk senyuman, “Miane oppa, tadi guru Fisikaku menambah ceramahnya dulu..”

Hyunseung tersenyum tipis, “Makanlah..”

Hyuna mengangguk dan mulai makan. Makanan itu tak terasa di mulutnya, ia hanya mengunyahnya cepat dan menelannya.

“Oh ya, dua minggu lagi akan ada acara perilisan produk baru perusahaan ayahmu kan?” Tanya Gikwang pada Yoseob.

Yoseob tersenyum lebar, “Ne.. Jangan sampai tidak hadir, araso!”

“Keurom, ayahku juga menanamkan saham di produk itu. Jika produk itu tidak berhasil, aku akan menendang pantatmu!” Ucap Dujun sebal.

Yoseob tertawa kecil seperti yang lainnya.

Junhyung memandang Hyunseung serba salah duduk diantara Yuri dan Hyuna. “Hyuna-a, kau datang kan?”

Hyuna memandang Junhyung dan tersenyum, “Keurom, aku akan pergi bersama Hyunseung oppa..” Ucapnya, lalu memandang Hyunseung. “Keutji oppa?”

Hyunseung mengangguk, “Ne…”

Hyuna tersenyum senang.

“Minah-a, Jaekyung-a, kalian datang kan?” Tanya Yoseob.

“Keurom oppa..” Ucap Jaekyung.

“Pasti seru kalau kita semua berkumpul disana..” Ucap Yuri bersemangat.

Hyuna tersenyum, meskipun begitu ia tak merasa senang.

=Pulang Sekolah=

Hyuna memandang Kris yang hanya memandang ke depan tanpa berbicara, “Oppa..”

Kria melirik kaca spion, “Ne?”

“Aku ingin ke tempat eomma kecelakaan..” Ucap Hyuna.

Dahi Kris berkerut, “Wae?”

Hyuna memasang mata memelasnya, “Ne….. Ne….. Oppa….” Bujuknya menja.

Kris menghela nafas dalam, “Wae agassi?” Tanyanya ingin tau.

Hyuna memandang kebawah sedih, “Aku hanya rindu eomma..”

“Kenapa tidak ke makamnya saja?” Tanya Kris tak mengerti.

“Karena disana tempat terakhir kali eomma masih hidup. Jadi aku ingin kesana..” Ucap Hyuna.

Kris memandang spion, tatapan Hyuna membuatnya tak bisa menolak. “Keure..” Ucapnya.

Hyuna tersenyum lebar, “Yeay.. Gumawo oppa..”

=Tempat Kecelakaan=

Kris duduk di mobil memperhatikan Hyuna yang berjongkok di depan goresan di dinding batu itu. Ia tak mengerti mengapa gadis itu ingin kesana lagi.

Hyuna memandang goresan itu. Kesedihannya terasa memuncak. Namun ia tak pernah bisa mengungkapkannya.

=Flashback, 8 tahun lalu=

Hyuna menoleh ke pintu dan langsung tersenyum lebar melihat ibunya, “Eomma..”

Semi tersenyum sambil menghampiri putrinya yang sedang menggambar di meja belajar, “Kenapa kau belum tidur sayang? Ini sudah larut.. Ayo..” Ucapnya sambil membawa putrinya ke tempat tidur.

Hyuna naik ke tempat tidur dan diselimuti oleh ibunya. Ia tersenyum lebar karena Semi akan menemaninya sebelum tidur, namun senyumnya memudar menyadari kedua mata ibunya memerah dan basah. “Eomma, kenapa menangis?”

Semi tersenyum dalam tangis sambil menatap wajah putrinya dalam, tangannya bergerak mengelus rambut gadis kecil itu. “Karena eomma sangat menyayangimu, Hyuna. Eomma tidak bisa membayangkan hidup tanpamu..” Ucapnya lembut.

Hyuna tersenyum dan memegang tangan Semi yang mengelus kepalanya, “Aku juga eomma.. Aku sangaaaaaat menyayangi eomma..”

Bulir air mata Semi semakin deras berjatuhan mendengar ucapan Hyuna.

Hyuna mengerutkan dahinya bingung dan bergerak duduk, “Eomma, jangan menangis..” Bujuknya sambil menyeka air mata di pipi ibunya.

Semi memegang tangan Hyuna di pipinya sambil tersenyum, meskipun bulir air tetap berjatuhan dari matanya. Tangannya yang lain mengelus pipi putri kecilnya, “Hyuna.. Jika kau besar nanti, eomma harap kau tidak jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya kau cintai. Karena cinta seperti itu akan sangat menyakitkan..” Ucapnya pelan.

Hyuna lebih bingung dengan ucapan Semi, “Ne? Waeyo eomma?”

“Karena…” Semi menatap kedua mata Hyuna dalam, “Mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, sama saja dengan menghancurkan dirimu sendiri.”

Hyuna menggenggam tangan ibunya, “Eomma tenang saja, aku akan menyayangi eomma hingga aku mati dan tidak pernah berpaling darimu..” Ucapnya.

Semi mengangguk, “Ne…” Ucapnya, namun ia tampak semakin sedih.

“Eomma, kenapa semakin menangis?” Tanya Hyuna tak mengerti.

Semi memegang kedua pipi putrinya, “Eomma miane Hyuna.. Eomma sangat menyayangimu.” Ucapnya, lalu mencium dahi putrinya penuh cinta.

=Flashback end=

Hyuna masih menatap goresan itu tanpa ekspresi, “Eomma, aku tau sekarang rasanya..” Gumamnya, tangannya terulur dan menyentuh permukaan itu. “Haruskah aku melakukan hal yang sama?”

=Sekolah=

Hyuna melihat Hyunseung keluar dari kelas pertamanya dan segera menghampiri pria itu dengan tersenyum lebar, “Oppa..”

Hyunseung memandang Hyuna dan tersenyum tipis, “Oh.. Hyuna-a..”

Hyuna memeluk lengan Hyunseung, “Oppa, bagaimana jika sepulang sekolah kita pergi berdua?”

Hyunseung diam sejenak, “Wae?”

Hyuna cemberut, “Memangnya oppa tidak mau pergi denganku? Apa oppa tidak cemburu aku pergi kemana-mana dengan Kris oppa?”

Hyunseung tersenyum lebar melihat ekspresi Hyuna, lalu mencubit pipinya. “Keurom.. Kau bisa menghubungi Kris-ssi, katakan aku yang akan mengantarkanmu pulang..”

Hyuna tersenyum lebar dan mengangguk cepat, “Ne..”

=Sepulang sekolah=

Kris tertegun ketika Hyuna memberitaunya jika ia akan pergi bersama Hyunseung, “Agassi, saya akan mengantarkan anda..”

Hyuna tertawa kecil di seberang, “Gwenchana oppa, aku akan pulang dengan selamat..”

“Agassi…”

“Oppa tenang saja.. Aku kan bersama Hyunseung oppa. Baiklah, bye..” Hyuna langsung memutuskan telepon sebelum Kris mengomel lagi. Ia menghela nafas dalam dan memandang Hyunseung yang menunggunya di dalam mobil. Ia tersenyum dan masuk ke mobil.

“Jadi, kemana kita akan pergi?” Tanya Hyunseung.

“Kemana saja, kita kan akan pergi berkencan..” Jawab Hyuna riang.

Hyunseung tersenyum lebar, “Keure..” Ucapnya dan menghidupkan mesin.

Hyuna dan Hyunseung benar-benar melakukan kencan dengan hanya berdua mereka yang ada. Biasanya selalu ada Kris yang mengawasi Hyuna. Namun kali ini sangat menyenangkan.

Hyunseung menggenggam tangan Hyuna dan melangkah bersama gadis itu di taman sambil terus tersenyum.

Hyuna memandang wajah Hyunseung senang. Akhirnya pria itu terlihat ceria bersamanya, juga terkadang ketika menatapnya, pria itu tampak sangat bahagia.

“Oppa, aku mau seperti ini setiap hari.” Ucap Hyuna senang.

Hyunseung memandang Hyuna dan mengangguk, “Keure, kita akan berkencan setiap hari. Bagaimana?”

Hyuna mengangguk cepat, “Aku mau!!”

Hyunseung tertawa kecil, “Sudah sangat lama kita tidak pergi berdua seperti ini..”

“Ne, lama sekali..” Ucap Hyuna sambil mengerutkan hidungnya.

Hyunseung terus melangkah sambil memandang ke depan, entah mengapa hatinya terasa sangat senang hari itu.

“Oppa, harabeutji berkata aku bisa berkuliah di luar negeri. Bagaimana menurutmu?” Tanya Hyuna.

Hyunseung tersenyum tanpa memandang Hyuna, “Jika kau menginginkannya, kenapa tidak?”

Hyuna memasang wajah sedih, “Jika aku keluar negeri, aku akan jauh darimu..”

Hyunseung tertawa kecil dan memandang Hyuna, “Gwenchana, oppa akan mengunjungimu..” Ucapnya, “Coba saja berkuliah di negara favoritmu, dengan begitu kau akan merasa senang..”

“Hmm.. Benar juga..” Ucap Hyuna senang, “Menurutmu, negara mana yang bagus?”

“Bukankah kau menyukai London?” Tanya Hyunseung masih dengan senyuman diwajahnya.

Hyuna tertegun mendengar ucapan Hyunseung, perlahan senyumanya luntur sambil menatap pria itu kecewa.

Senyum Hyunseung mendadak menghilang dan berhenti melangkah sambil menatap Hyuna menyesal, “Owh.. Maksudku.. Venezuella, benarkan?” Ucapnya memperbaiki. Ia bisa tau apa yang dipikirkan Hyuna karena London adalah negara favorit Yuri dan gadis itu juga sempat tinggal disana beberapa tahun.

Hyuna tidak merasa bahagia lagi. Ia sadar kalau Hyunseung bahagia karena merasa bersama Yuri, bukan dirinya.

“Hyuna, aku hanya salah menyebutkannya. Mianata..” Ucap Hyunseung cepat.

Hyuna menunduk sesaat dan kembali memandang Hyunseung, “Ayo pulang, oppa..” Ucapnya, lalu menarik tangannya dari genggaman pria itu dan berbalik.

Hyunseung menyesali ucapannya tadi, ia seharusnya tidak melakukan kesalahan seperti tadi. Akibatnya semua mood baik sebelumnya hancur begitu saja. “Hyuna, tunggu aku..”

=Rumah=

Hyunseung menghentikan mobilnya di depan rumah Hyuna dan memperhatikan gadis itu melepaskan safety-belt.

Hyuna memandang Hyunseung dan tersenyum, “Gumawoyo oppa..” Ucapnya, lalu membuka pintu.

Hyunseung menarik tangan Hyuna sebelum gadis itu keluar, membuat gadis itu kembali memandangnya. Kedua matanya memancarkan penyesalan mendalam, “Miane, karenaku kencan kita jadi rusak..”

Hyuna mengangguk pelan, “Gwenchana..”

Hyunseung masih menahan tangan Hyuna dan menatap gadis itu, “Apa besok kita bisa berkencan lagi?”

Hyuna diam sejenak, lalu mengangguk. “Ne..”

Hyunseung tersenyum, “Selamat malam..” Ucapnya dan melepaskan pergelangan tangan Hyuna.

Hyuna bergerak keluar, namun kembali memandang Hyunseung.

“Wae?” Tanya Hyunseung.

Hyuna tersenyum manis, “Saranghae, oppa..”

Hyunseung tertegun, ia tak tau harus bagaimana menjawab ucapan Hyuna.

Senyum Hyuna luntur dan menatap Hyunseung bingung, “Wae? Oppa tidak mencintaiku?”

“Keurom… Nadoo..” Balas Hyunseung.

Hyuna tersenyum, lalu bergerak mendekati Hyunseung dan mencium pipi pria itu.

Hyunseung terkejut dengan keberanian Hyuna mencium pipinya, hal itu membuatnya tersipu. “Hyuna..” Ucapnya sambil tersenyum.

“Sampai besok oppa..” Ucap Hyuna dan langsung turun.

Kris memperhatikan keuar melalui jendela, dahinya berkerut melihat Hyuna mencium pipi Hyunseung dan keluar dari mobil. Ia memperhatikan gadis itu melangkah menuju pintu depan, lalu melangkah ke pintu untuk menunggunya.

Hyuna membuka pintu dan melangkah masuk, bibirnya membentuk senyuman melihat Kris. “Oh.. oppa, kenapa masih disini?” tanyanya.

Kris memandang jam tangannya, lalu menatap Hyuna. “Agassi, ini sudah pukul 8 malam. Kenapa anda pulang terlambat sekali?”

Hyuna tersenyum malu, “Cesongeo, oppa.. tadi aku pergi berkencan, jadi lupa waktu.. hehehehe..” Namun wajah Kris sama sekali tidak menunjukkan apa yang ia katakan lucu. Kepalanya langsung menunduk menyesal, “Cesonghamida..” ucapnya pelan.

Kris menghela nafas dalam sambil tetap menatap Hyuna kesal, “Besok aku akan mengantar jemputmu seperti biasa. Tidak peduli anda akan pergi bersama Hyunseung atau tidak. Araso?” tanyanya.

Hyuna memandang Kris bingung, “Ne? Waeyo?”

“Agassi, tuan besar memerintahkanku untuk menjagamu. Jadi aku harus ikut kemana pun anda pergi. Jika sesuatu terjadi saat anda hanya bersama Hyunseung, bagaimana aku mempertanggung jawabkan pekerjaanku pada tuan besar?” ekspresi Kris terlihat seperti akan memakan Hyuna hidup-hidup.

Hyuna menunduk menyesal, “Ne… arasso..”

Kris menghela nafas dalam lagi, “Masuk ke kamarmu, aku pulang sekarang..” ucapnya, lalu membungkuk sopan dan melangkah pergi.

Hyuna memperhatikan Kris berjalan ke pintu dan keluar, lalu melangkah menuju tangga.

=Sekolah=

Hyuna, Minah dan Jaekyung berjalan kembali menuju ruang ganti setelah berolah raga.

“Hyuna-a, bagaimana jika kita pergi berbelanja sepulang sekolah nanti?” tanya Jaekyung.

“Berbelanja? Mmm.. aku akan berkencan dengan Hyunseung oppa..” jawab Hyuna sambil tersenyum malu.

“Jinja? Wuaaah.. aku iri sekali..” ucap Minah.

“Humm.. kau jadi lebih sering bersama Hyunseung oppa daripada kami..” ucap Jaekyung sambil cemberut.

Hyuna tertawa kecil, “Kita akan selalu bersama, aku juga terkadang saja bersama Hyunseung oppa..” ucapnya. Langkahnya langsung berhenti  karena teringat sesuatu, “Omo.. aku lupa harus menemui wali kelas..” ucapnya sambil memandang kedua temannya.

“Ne? Oh.. baiklah..” ucap Minah.

“Keure, kami akan menunggumu di ruang ganti..” ucap Jaekyung dan pergi bersama Minah.

Hyuna melangkah menuju ruangan guru. Ketika berlalu di koridor yang langsung berdinding kaca transparan, ia memandang ke arah taman dan melihat beberapa orang seniornya disana. Ia tertegun dan berhenti melangkah karena melihat Hyunseung dan Yuri disana. Kedua orang itu bersama Junhyung, Yoseob, Dujun, Gikwang dan Dongwoon sedang melakukan sesuatu yang sepertinya akan mengadakan acara. Disaat 5 pria lain sibuk memasang sesuatu diatas panggung kecil, Hyunseung tertawa bersama Yuri sambil merapikan spanduk. Ia kembali menyadari kalau Hyunseung masih menyukai Yuri. Pria itu selalu tersenyum lebar dan tertawa ketika bersama Yuri.

Kris melangkah ke koridor dimana Hyuna berdiri karena harus menemui wali kelas gadis itu sebagai pengganti kakeknya. Ia tertegun melihat gadis itu disana, kepalanya menoleh ke dinding kaca dan melihat apa yang membuat gadis itu berhenti disana. Ternyata gadis itu melihat Hyunseung dan Yuri. Kepalanya kembali menoleh kearah Hyuna. Gadis itu menatap mereka tanpa ekspresi, namun ia bisa melihat luka dari tatapan gadis itu. Seharusnya ia senang jika gadis itu menderita, tapi saat ini, ia tidak senang ada orang lain yang mendahului tugasnya. Ia kembali melangkah untuk menghampiri Hyuna, “Agassi..”

Hyuna tersadar dari lamunannya dan memandang Kris, “Oh.. oppa?”

“Kenapa anda disini? Anda tidak masuk ke kelas?” tanya Kris seperti tidak tau apa pun.

“Ne? Oh.. aku.. aku akan ke ruang guru..” jawab Hyuna.

“Benarkah? Aku juga akan kesana.. Khaja..” ajak Kris dan berjalan dulu.

Hyuna memandang ke arah Hyunseung tadi sekali lagi sebelum mengikuti Kris.

Setelah dari ruangan Guru.

Kris memandang Hyuna yang keluar dari ruang guru dan menutup pintu.

Hyuna tersenyum memandang Kris, “Oppa akan langsung kembali?”

Kris diam sejenak, “Hmm.. kurasa aku akan menunggu disini..”

“Wae?” tanya Hyuna ingin tau.

“Tuan besar memberiku perintah untuk tetap memantau perkembanganmu, anda akan segera berangkat ke New York untuk melanjutkan kuliahmu begitu selesai SMA. Jadi aku tidak bisa membiarkanmu di celakai seseorang..” jawab Kris.

Hyuna tertegun, “Harabeutji mengatakan itu?”

Kris mengangguk, “Ne, agassi..”

Hyuna berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, namun kesedihan tersirat jelas dari tatapannya. “Oh…” komentarnya.

Kris memperhatikan Hyuna, “Agassi, bukankah seharusnya anda mengganti baju dulu?”

Hyuna memandang dirinya, “Oh benar…” ucapnya, lalu kembali tersenyum pada Kris. “Sampai nanti oppa..” ucapnya dan langsung melangkah cepat menuju ruang ganti.

Jam istirahat.

Hyuna keluar kelas bersama Minah dan Jaekyung seperti biasa. Namun ia berhenti melangkah ketika melihat Kris berdiri sambil bersandar ke dinding dengan kedua tangan masuk ke saku celana. “Oppa, kenapa disini?”

Jaekyung dan Minah juga memandang Kris bingung.

Kris berdiri tegap dan berjalan mendekati Hyuna, “Saya sudah mengatakan pada pihak sekolah kalau saya akan terus berada di sekitar anda untuk keamanan..” jawabnya.

“Ne?” ucap Hyuna bingung.

“Mari agassi..” ucap Kris mempersilahkan Hyuna berjalan duluan.

Hyuna memandang teman-temannya bingung dan melangkah menuju kafetaria. Ketika ia hendak mengambil makanan, Kris langsung mengambil nampan dan mulai mengambilkan apa saja yang biasa ia ambil. Ia hanya mengikuti pria itu dengan wajah bingung.

Kris berbalik memandang Hyuna, “Agassi, dimana anda akan duduk?” tanyanya.

“Hmm…” gumam Hyuna sambil mengedarkan pandangan.

Dahi Gikwang berkerut melihat Hyuna bersama Kris, “Ya.. bukankah itu pengawal Hyuna?”

Semua orang di meja Hyunseung memandang ke arah Hyuna.

Hyunseung mengerutkan dahi melihat Kris ada disana dan membawakan makanan Hyuna.

“Hyuna-a..” panggil Yoseob memberitau gadis itu kalau mereka disana.

Hyuna memandang ke arah Yoseob dan memandang Kris, “Aku akan duduk bersama Hyunseung oppa dan teman-temannya..”

Kris memandang kearah Hyunseung, pria itu juga menatapnya. “Keure, ayo..” ucapnya dan melangkah kesana terlebih dulu.

Hyuna mengikuti Kris dan tersenyum pada orang-orang disana bersama Jaekyung dan Minah, “Annyeonghaseo..” sapanya.

Hyunseung memperhatikan Kris meletakkan makanan Hyuna di sebelahnya, lalu dengan cepat menarik kursi disebelahnya agar lebih dekat. “Duduklah..” ucapnya pada Hyuna.

Ketika Hyuna hendak bergerak duduk, Kris menahan tubuhnya. Membuatnya memandang pria itu tak mengerti.

Jaekyung dan Minah yang sudah terlebih dulu duduk di sebelah Yoseb dan Dongwoon ikut memandang Kris bingung.

Kris berjalan ke belakang kursi yang akan di duduk Hyuna dan menggesernya agar memiliki jarak dengan Hyunseung, “Silahkan duduk, agassi..”

“Oppa?” ucap Hyuna tak mengerti.

Kris tersenyum tipis, “Agassi, anda dan Hyunseung-ssi baru bertunangan..” ucapnya pelan, lalu memandang Hyunseung. “Kalian harus tetap menjaga jarak sebelum menikah..”

Hyunseung menatap Kris kesal, tangannya kembali terulur dan menarik kursi tadi kesisinya. Lalu memandang Hyuna, “Duduklah..”

Hyuna tertegun melihat apa yang dilakukan Hyunseung, lalu memandang Kris yang terlihat tidak senang dengan apa yang dilakukannya.

Teman-teman Hyunseung dan Hyuna saling berpandangan bingung, karena situasi panas itu.

Tangan Hyunseung bergerak menarik Hyuna agar duduk, namun Kris menahan tangannya dan menatapnya tajam. Ia juga menatap pria itu tajam.

“Ya… ada apa dengan kalian? Biarkan Hyuna duduk dan makan..” ucap Junhyung berusaha menengahi sambil melepaskan tangan Hyunseung dan Kris.

Hyuna menarik kursinya untuk memberikan sedikit jarak antara dia dan Hyunseung, lalu bergerak duduk agar Kris tidak marah.

Hyunseung menghela nafas dalam dan mengambil sendoknya.

Kris merasa menang karena Hyuna menuruti ucapannya dan berdiri di belakang nona mudanya. Namun karena dia berdiri, semua orang terlihat canggung untuk makan. “Anggap saja aku tidak ada..” ucapnya.

Hyuna memandang Kris di belakangnya, “Oppa, tidak apa-apa jika berdiri disana?”

Kris mengangguk, “Ne, agassi..”

Yang lain mulai makan dengan canggung.

Hyunseung memandang Hyuna sambil tersenyum, “Makanlah..”

Hyuna mengangguk, “Ne..” ucapnya dan mulai makan.

Yuri menghampiri meja teman-temannya setelah mengambil makanan, “Hei.. masih ada tempat untukku?” tanyanya.

“Yuri-a, duduk disini..” ucap Dujun dan pindah ke kursi disisinya.

Hyuna memandang kursi kosong yang di sediakan Dujun ada disebelah Hyunseung.

Hyunseung memandang Yuri bingung yang bergerak duduk, “Kenapa lama sekali?”

“Huuuft.. akan banyak tugasku hari ini. Kepala sekolah bilang dekorasi itu harus selesai sebelum sore..” jelas Yuri.

“Tenang saja.. Kami akan membantumu..” ucap Hyunseung sambil tersenyum.

Kris memperhatikan Hyuna yang memandang Hyunseung, tapi pria itu terus memandang Yuri.

Hyuna kembali memandang makanannya sambil menghela nafas dalam. Ia terkejut sebuah tangan terulur dan memegang meja disisi antara dia dan Hyunseung, lalu terasa dada bidang yang hangat menyentuh pundaknya. Sebuah wajah muncul dari sisi kanan pipinya. Juga tangan lain memegang tangannya yang memegang sendok. Ia menatap Kris kaget.

“Agassi, jangan menyisihkan sayuran lagi..” ucap Kris sambil mengembalikan sayuran yang disisihkan oleh nona mudanya.

Semuanya tertegun melihat apa yang dilakukan Kris.

Hyunseung memandang kearah Hyuna dan langsung terbakar emosi melihat Kris memperlakukan tunangannya seperti kekasih.

“Oppa, ini..” Hyuna ingin mendorong Kris, namun ia terlalu gugup.

Hyunseung melepaskan tangan Kris yang bertumpu di meja dan mendorong pria itu mundur agar tidak lagi menyentuh Hyuna, lalu berdiri sambil menatap pria itu marah. “Ya.. kau pikir apa yang kau lakukan?” tanyanya dingin.

“Hyunseung..” panggil Junhyung sambil berdiri.

Hyuna ikut berdiri dan memandang kedua pria itu bingung.

Kris mengerutkan dahi, “Aku menjaga nona mudaku..”

Hyunseung melangkah maju, namun Dujun segera menahannya.

“Ya.. tenangkan dirimu.. Ini sekolah..” ucap Dujun memperingatkan.

“Oppa..” ucap Hyuna sambil memegang lengan Hyunseung. “Kris oppa hanya memperingatkanku agar memakan semua sayurnya..”

Hyunseung menatap Hyuna dan kembali menatap Kris, “Aissh!” serunya kesal dan berjalan pergi.

“Oppa..” panggil Hyuna, namun Hyunseung tetap pergi. Lalu memandang Kris tak mengerti.

“Lanjutkan makanmu lagi, agassi..” ucap Kris sambil tersenyum.

=Perjalanan Pulang=

Hyuna menatap Kris sebal, “Oppa sengaja kan berlaku seperti tadi didepan Hyunseung oppa..”

Kris melirik kaca spion dan kembali memandang jalanan, “Ne..”

“Oppa..” ucap Hyuna sebal, “Seharusnya pulang sekolah ini aku berkencan lagi dengan Hyunseung oppa..”

Kris menghela nafas dalam, “Ani, dia akan sibuk membantu teman wanitanya itu..” jawabnya santai.

Hyuna tertegun, “Ne?”

“Saya melihat apa yang membuat anda berhenti di lorong, agassi..” ucap Kris.

Hyuna diam sejenak dan menunduk sedih.

Kris melirik Hyuna melalui kaca spion lagi, entah mengapa ia seperti ikut merasakan kesedihan gadis itu. namun ia memaksakan dirinya untuk merasa puas.

Tak lama Hyuna kembali mengangkat wajahnya sambil tersenyum pada Kris, “Gumawoyo oppa…”

Kris tertegun melihat Hyuna tersenyum, “Oh.. ne..”

Hyuna memandang keluar jendela sambil tetap tersenyum.

Dahi Kris berkerut melihat ekspresi Hyuna.

=Tempat Billyard=

Gikwang, Yoseob dan Dujun sedang asik bermain billyard ketika Hyunseung duduk sambil menggenggam gelasnya penuh emosi. Ia tak bisa melupakan bagaimana Kris memperlakukan Hyuna seperti kekasihnya.

Junhyung melirik Hyunseung heran, “Ya.. ada apa denganmu?”

Hyunseung memandang Junhyung, “Kau lihatkan bagaimana Kris memeluk Hyuna dari belakang? Ahhh.. dia benar-benar sudah melewati batas! Aku harus berbicara dengan kakeu Hyuna!!” ucapnya sambil bangkit dan langsung melangkah pergi.

“Hm? Hyunseung? Odiso?” Tanya Yoseob ketika Hyunseung berlalu, namun temannya itu tak memberi jawaban. Membuat dia dan yang lain kebingungan.

Junhyung memandang Hyunseung tak mengerti beberapa saat, kemudian tersenyum tipis. “Kupikir pertunangan ini hanya karena orangtuamu..” gumamnya.

=Keluarga Kim=

Mata Hyuna membesar mendengar ucapan kakeknya di ruang keluarga, “Ne?”

Kakek Hyuna menghela nafas dalam dan memandang Kris yang berdiri di sebelah cucunya. “Hyunseung tidak senang melihat apa yang kau lakukan.. Menurutnya kau sedang menggoda cucuku, jadi kau harus berhenti..”

Hyuna menatap kakeknya tak percaya, lalu memandang Kris yang tampak membungkuk sopan.

“Ne, tuan besar..” ucap Kris pelan.

“Mwo?! Aniya! Aku tidak mau!!” seru Hyuna.

Kakek Hyuna memandang cucunya, “Hyuna.. Hyunseung itu tunanganmu. Kau tidak bisa terus berdekatan dengan pria lain ketika tunanganmu tidak suka..”

“Andwaeyo! Aku sangat senang Kris oppa ada didekatku..” ucap Hyuna.

“Hyuna!” tegas kakek.

“Jika Kris oppa berhenti, aku juga akan pergi!!” ucap Hyuna sebal, lalu bangkit dan berlari menaiki tangga.

“Kim Hyuna!!!” panggil kakek, namun Hyuna terus berlari dan terdengar benturan keras ketika gadis itu menutup pintu.

Kris memandang kelantai atas dan memandang kakek, “Saya akan segera pergi tuan besar..” ucapnya sambil membungkuk.

Kakek menghela nafas dalam, “Tidak perlu..”

Kris tertegun, “Ne?”

“Hyuna ingin kau tetap disini.. Jaga dia dengan baik..” ucap kakek, lalu bergerak bangkit dan berjalan ke kamarnya.

Kris diam sejenak di tempatnya, tak lama bibirnya membentuk senyuman sinis. “Keure, aku akan memanfaatkan waktuku..” gumamnya, lalu melangkah pergi.

=Keesokan harinya=

Kris berdiri menunggu Hyuna keluar rumah, ia tertegun melihat gadis itu keluar dengan mata sembab. “Agassi?”

“Oppa..” ucap Hyuna dan memeluk pinggang Kris dan menyandarkan pipinya ke dada pria itu.

Kris memandang Hyuna tak mengerti, “Waeyo Agassi? Kenapa matamu sembab seperti itu?” tanyanya.

Hyuna mendongak memandang Kris tanpa melepaskan pelukannya, “Oppa tidak jadi pergi kan?”

Kris terdiam sesaat mendengar pertanyaan Hyuna, tatapan gadis itu memberitaunya kalau keberadaanya sangat dibutuhkan gadis itu.

“Oppa, jawab aku..” rengek Hyuna seperti anak kecil.

Kris tersenyum dan menyelipkan rambut Hyuna ke belakang telinganya, “Aniya, saya akan selalu menjaga anda..”

Hyuna tersenyum lebar, “Jinja?”

Kris mengangguk, “Sudahlah.. ayo, nanti anda terlambat..”

Hyuna melepaskan pelukannya dan masuk ke mobil.

Kafetaria.

Hyuna tersenyum pada Kris yang meletakkan nampan makanan di depannya, “Gumawoyo oppa..” ucapnya.

Kris tersenyum, “Selamat makan Agassi..”

Semua orang di meja itu menatap Hyuna dan Kris bergantian, lalu memandang Hyunseung yang terlihat panas menatap Hyuna.

Hyuna memandang Hyunseung bingung, “Wae oppa? Tidak makan?”

Hyunseung masih menatap Hyuna kesal.

Hyuna tersenyum lebar, “Mau kusuapi?”

Hyunseung mendapatkan ide karena tawaran Hyuna, lalu tersenyum, “Ne..”

Hyuna langsung menyendokkan makanan dan mengarahkannya ke mulut Hyunseung, “Aa..”

Hyunseung membuka mulutnya dan memakan makanan di sendok Hyuna sambil tersenyum, lalu melirik Kris penuh kemenangan.

Kris menatap Hyunseung tanpa ekspresi, lalu memalingkan wajahnya tak peduli.

Ruang ganti perempuan.

Hyuna masuk ke ruang ganti secepat yang ia bisa dan segera mengganti bajunya. Ketika membuka kancing bajunya, ia mendengar pintu terbuka. Terdengar tawa dua orang gadis dan pintu kembali tertutup. Tangannya berhenti bergerak karena merasa mengenali suara itu.

“Pabo Hyuna..” ucap Jaekyung sambil membuka lokernya dan mengambil baju olahraganya.

Minah tertawa sambil membuka kancing bajunya, “Ne.. Aku tidak mengerti mengapa dia tidak juga menyadari kalau Hyunseung oppa tidak pernah menyukainya. Bahkan tidak tertarik padanya.. Ughh.. aku juga jika dia tidak sering memberi kita hadiah, aku tidak akan mau berteman lama dengan gadis naïf seperti dia..” ucapnya dan melepaskan kemejanya, lalu mengenakan kaus olahraganya.

“Nadoo..” ucap Jaekyung dan tertawa, “Kita hanya tinggal menunggu Hyunseung oppa benar-benar menyatakan perasaannya pada Yuri sanbae. Dia pasti menangis setiap hari.. hahahha…” tawanya sambil mengekan celana olahraganya.

“Benar.. Pasti lucu sekali melihat dia yang selalu tersenyum dan sok baik pada semua orang menangis tanpa henti. Lalu minatnya belajar akan turun dan dia tidak akan mendapatkan prestasinya lagi.. hahaha..” Tawa Minah puas.

“Hahahaha… Khaja.. nanti kita dimarahi guru olahraga.” Ucap Jaekyung sambil menutup pintu lokernya dan melangkah ke pintu.

Minah menutup pintu lokernya dan mengikuti Jaekyung.

Sementara dibalik loker besi itu, Hyuna berdiri terpaku di tempatnya. Kedua tangannya masih memegang kancing baju yang sudah terbuka beberapa.

Tes.. tes…

Bulir air jatuh begitu saja dari mata Hyuna. Ia sama sekali tak bergeming. Ia hanya membiarkan lambang kelemahan itu jatuh dari matanya. Ia sudah sangat lelah menahannya selama ini. Setelah beberapa menit ia kembali memasang kancing bajunya dan menyeka air matanya. Ia berbalik dan berjalan ke cermin yang tergantung di dinding. Ia menatap wajahnya sendiri. Gadis naïf yang selalu bersandiwara tentang hidupnya. Agar semua orang tidak meninggalkannya sendiri. Agar dia tidak segera mendapat hukuman karena penderitaan orang lain yang disebabkan oleh dirinya.

‘1.. 2… 3….’ Hyuna menghitung dalam hatinya sambil menatap wajahnya di cermin, kemudian senyuman lebar dan wajah polos itu kembali muncul diwajahnya.

Gedung Olahraga.

Jaekyung dan Minah memandang ke kanan dan kiri mencari Hyuna, namun gadis itu tetap tak terlihat. “Dimana dia?”

“Entahlah.. apa terlambat lagi ya?” Tanya Minah menebak-nebak.

“Oh..  itu pengawal Hyuna..” ucap Jaekyung yang melihat Kris melangkah menghampiri guru olahraga.

“Annyeonghaseo..” sapa Kris sambil membungkuk sopan.

Guru olahraga memandang Kris, “Ne, ada yang bisa kubantu?”

Kris memandang guru olahraga, “Songsaenim, Hyuna Agassi tidak bisa ikut olahraga hari ini. Dia merasa tidak sehat dan saya tidak ingin kondisinya semakin buruk jika berolahraga.. Apakah anda bisa memakluminya?”

Guru olahraga mengangguk mengerti, “Oh, gwenchana.. dia bisa ijin hari ini..”

Kris tersenyum dan membungkuk sopan, “Gamshamida songsaenim..” ucapnya dan berbalik pergi.

Ruang kesehatan.

Hyuna berbaring dengan satu sisi tubuhnya di tempat tidur. Matanya tetap terbuka sambil memandangi dinding berwarna putih tak jauh darinya. Ia langsung memejamkan mata ketika mendengar seseorang masuk.

Kris memandang Hyuna yang memunggunginya, ia menarik kursi dan duduk disebelah tempat tidur. Suasana hening ketika ia hanya memandangi rambut coklat Hyuna, “Agassi..”

Hyuna tak menjawab atau membuka matanya.

“Aku tau anda tidak tidur Agassi..” ucap Kris pelan.

Hyuna membuka matanya perlahan dan memandang kebelakang, Kris tampak menatapnya serius seperti biasa. Ia tersenyum malu dan bergerak duduk, “Bagaimana oppa tau?”

“Anda hanya tidak ingin berolahraga, benarkan?” tebak Kris.

Hyuna tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya, “Hehehe.. ne..” ucapnya malu, namun tawanya memudar perlahan karena Kris tetap menatapnya serius. “Oppa, jangan beritau harabeutji. Ne…” pintanya.

Kris menatap Hyuna sesaat, lalu menghela nafas dalam dan mengangguk. “Keure.. saya akan diam sekali ini..”

Hyuna tersenyum lebar, “Gumawoyo oppa..” ucapnya senang.

Kris menatap Hyuna masih tetap serius, dalam hati ia sangat muak melihat gadis didepannya tersenyum lebar seperti itu. namun di sudut hatinya merasa lega gadis itu tidak sakit sama sekali.

Hyuna diam sejenak dan memandang Kris, “Oppa, menurutmu, Hyunseung oppa akan mencintaiku atau tidak?”

“Ani..” jawab Kris tanpa ragu.

Wajah Hyuna berubah sedih, “Aku juga berpikir begitu..” ucapnya berat, “Apa yang menurutmu dia tidak akan mencintaiku?”

“Karena anda bukan Kwon Yuri..” jawab Kris lagi.

Hyuna terdiam. Ucapan Kris barusan seperti menancapkan sebilah pedang ke hatinya. “Apa aku…… bisa membuatnya mencintaiku?”

Kris diam sejenak menatap Hyuna, lalu menggeleng.

Hyuna kembali merasakan sakit diseluruh tubuhnya. Benar. Sangat-sangat-sangat benar. Selama dirinya bukanlah Kwon Yuri, Hyunseung tidak akan mencintainya. “Oppa.. apa aku bisa menjadi seperti Yuri eonni?” Tanyanya dengan suara bergetar.

Kris menggeleng lagi, “Dirimu tetaplah dirimu, Agassi..”

Hyuna menunduk memandang selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Ia berusaha keras untuk tidak menangis. Ia sangat sakit sekarang. “Oppa…” ucapnya lagi, nyaris tak terdengar karena suaranya menghilang akibat tangis yang hendak pecah. “…menurutmu, kapan Hyunseung oppa akan mencampakkanku?”

Tatapan Kris melemah melihat eskpresi terluka Hyuna, namun ia langsung memalingkan wajahnya agar tidak mengasihani gadis dihadapannya. “Saya tidak tau Agassi..” ucapnya pelan. “Tapi, ketika dia lebih memilih Kwon Yuri dibandingkan anda.” Lanjutnya sambil memandang Hyuna, gadis itu juga memanadngnya dengan tatapan terluka. “…berarti dia sudah memberitau anda waktunya..”

Rongga mata Hyuna dipenuhi air dan bulir air mata berjatuhan. Kesedihannya saat ini. Bukan hanya karena Hyunseung, tapi juga karena Kris. Pria yang selalu berada disisinya, pria yang selalu perhatian padanya, juga adalah pria yang sangat membencinya. “Oppa… aku mau pulang..” ucapnya sambil tetap berusaha menahan ratusan butir air yang hendak berjatuhan ke pipinya.

Kris merasakan kesedihan mendalam melihat Hyuna seperti itu, gadis ceria itu akhirnya menunjukkan siapa dirinya. Tapi hatinya menolak untuk menunjukkan simpati dan segera berdiri, “Keure, saya akan meminta ijin pada pihak sekolah..”

=Kamar Hyuna=

Hyuna berbaring ditempat tidur sambil memandang langit-langit. ia merasa tak sanggup meneruskan dramanya. Ia sudah lelah menjadi orang lain dan ingin menyudahi rasa sakitnya. Bulir air mengalir dari sudut matanya, ‘Apa aku sudah harus menyelesaikan drama ini?’ batinnya.

Tok! Tok! Tok!

Hyuna menoleh ke pintu tanpa menjawab.

“Hyuna-a, ini aku.. Apa kau tidur?” terdengar suara Hyunseung dari luar.

Hyuna tetap tak menjawab, masih memandangi pintu kamarnya. Perlahan tangannya terangkat dan menyeka air matanya, lalu bergerak duduk. “Ne, oppa..”

Pintu terbuka, masuk Hyunseung dengan senyuman manisnya. “Hei..”

Hyuna kembali bersandiwara. Ia tersenyum lebar karena melihat tunangannya datang mengunjunginya, “Oppa..”

Hyunseung naik ke tempat tidur dan duduk di sebelah Hyuna sambil memandangnya khawatir, “Gwenchana? Tadi kau pulang lebih awal karena sakit, apakah parah?”

Hyuna menggeleng, “Aniya oppa, tadi aku hanya sakit perut. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa..”

Hyunseung tersenyum lega, “Syukurlah.. kupikir terjadi sesuatu padamu..” ucapnya.

Wajah Hyuna berubah sedih, “Apa aku membuat oppa khawatir?”

Hyunseung cemberut, “Keurom.. seharusnya kau memberitauku dulu jika kau sakit. Aku akan menemanimu terus, juga mengantarkanmu pulang..”

Hyuna kembali tersenyum, lalu memeluk lengan Hyunseung dan menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu.

Hyunseung ikut tersenyum dan mengelus tangan Hyuna yang memegang lengannya.

“Hmm.. kalau begitu aku ingin sakit terus agar oppa terus memperhatikanku..” ucap Hyuna senang.

“Ya.. jangan berkata seperti itu!” ucap Hyunseung sebal.

Hyuna memandang Hyunseung sambil tersenyum. Senyuman itu bukan sandiwara, ia benar-benar senang pria itu khawatir padanya.

Hyunseung mengelus pipi Hyuna dengan belakang jarinya, “Kau ingatkan besok malam adalah acara peluncuran produk perusahaan ayah Yoseob?”

Hyuna tertegun, “Oh benar.. Aku hampir lupa..” ucapnya.

“Yang penting sekarang kau sudah tau, jadi jangan lupa datang. Arasso?” Tanya Hyunseung sambil tersenyum lebar.

Hyuna mengangguk cepat, “Keure..”

Hyunseung mengerutkan hidungnya sambil menyentuh ujung hidung Hyuna dengan ujung hidungnya, gadis disebelahnya ini selalu membuatnya gemas. “Aku akan memberikan kejutan untukmu..”

Hyuna menatap Hyunseung penasaran, “Ne? apa itu?” tanyanya.

Hyunseung tersenyum lebar, memamerkan giginya yang rapi. “Masih rahasia.. Kau harus menunggu besok..”

Hyuna tersenyum sebal, “Arasso..” ucapnya.

Kris berdiri dibalik pintu sambil mendengarkan Hyuna dan Hyunseung berbicara di dalam. Dadanya terasa sesak mendengar gadis itu bermanja-manja pada Hyunseung. Ia ingin masuk kedalam dan menyeret pria itu keluar dari sana, namun ia berusaha menahan dirinya sebelum melakukan sesuatu yang akan merusak semua rencananya selama ini.

=Keesokan Malamnya=

Kris berdiri di ruang tengah menunggu Hyuna siap berdandan. Saat itu, pikirannya tidak pada gadis itu, tapi sesuatu dalam sakunya. Ia menghela nafas dalam dan mengeluarkan sebuah tabung kecil berisi sebuah kapsul berwarna orange dan merah. Benda kecil itu, akan membunuh siapa pun yang meminumnya dalam waktu satu jam. Itu racun paling berbahaya di dunia. Dengan meminum kapsul itu, seseorang akan mati dengan tenang dalam tidurnya. Dan tak lama lagi ia akan memberikannya pada Hyuna. Maka semua rencananya akan berakhir dengan baik.

“Oppa…” panggil Hyuna yang berjalan menuruni tangga dengan dress panjang dan make-up yang menghiasi wajahnya.

Kris terkejut dan langsung memasukkan tabung tadi kembali ke sakunya sambil menoleh kearah Hyuna. Saat itu, semua disekelilingnya berhenti. Hanya Hyuna yang bergerak menuruni tangga dengan senyuman manis itu. gadis itu memiliki kecantikan alami, namun ia tidak tau gadis itu akan terlihat 1000 kali lebih cantik ketika mengenakan make-up dan berdandan feminine seperti sekarang.

Kedua pipi Hyuna merona melihat Kris menatapnya dengan mata terpesona, bahkan ketika ia sudah berdiri tepat didepan pria itu. “Oppa..” panggilnya.

Kris langsung tersadar dari dunianya dan menatap Hyuna kaget, “Oh.. anda sudah selesai, agassi?” tanyanya gugup.

Hyuna semakin merona karena kegugupan Kris, perlahan kepalanya mengangguk menandakan ia sudah siap berangkat.

Kris tersenyum, lalu menyodorkan lingkaran lengannya pada Hyuna.

Hyuna memegang lengan Kris dan melangkah bersama pria itu keluar dari rumah.

Hotel Mewah.

Hyunseung dan teman-temannya berdiri disisi kanan ruangan besar itu sambil membicarakan sesuatu yang lucu, ditangan mereka masing-masing memegang gelas berkaki panjang.

Gikwang tertawa mendengar lelucon Dongwoon dan tidak sengaja mengedarkan pandangannya, saat itu tawanya langsung terhenti dan menatap kagum ke satu sisi. “Wuaaa..”

Dongwoon, Yoseob, Dujun dan Junhyung ikut memandang ke mana Gikwang, mata mereka membesar. “Wuaaaa..”

Hyunseung penasaran dan ikut memandang kearah teman-temannya memandang. Saat itu dunianya berhenti melihat Hyuna yang melangkah diantara tamu lain bersama Kris sambil memperhatikan sekitar. Akhirnya gadis itu memandang kearahnya dan langsung tersenyum lebar. Sedangkan ia masih terpaku melihat gadis itu melangkah ke arahnya.

“Wooooooo… Hyuna-a, yepeuta!!” ucap Gikwang tak percaya.

Hyuna tersipu malu, “Gumawoyo oppa..” ucapnya, lalu memandang Hyunseung bingung karena hanya menatapnya tak percaya. “Oppa, wae?”

“Ya..” panggil Yoseob sambil memukul bahu Hyunseung.

Hyunseung langsung tersadar dan menyadari Hyuna sudah berdiri di hadapannya, “Oh.. Hyuna-a.. Neo neomu yeppo..” pujinya.

Hyuna semakin tersipu dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

Kris yang berdiri dibelakang Hyuna tampak tidak senang dengan respon gadis itu atas pujian Hyunseung.

Hyunseung menarik Hyuna ke sisinya dan melingkarkan tangan gadis itu ke lengannya sambil tetap menatap wajah cantiknya.

“Aigoo.. Ya.. kau bisa melubangi wajah Hyuna karena tatapanmu..” ucap Junhyung menahan tawa.

Hyunseung tertawa kecil mendengar lelucon Junhyung, namun tetap tak bisa melepaskan tatapannya dari tunangannya yang sangat cantik malam itu. “Diamlah..”

Teman-teman Hyunseung mulai sailng berbisik dan tertawa geli.

Wajah Hyuna terasa panas dan semakin merona karena Hyunseung tak berhenti menatapnya. Saat mengangkat wajahnya untuk memandang pria itu, ia tak percaya melihat kelembutan cinta dari tatapan pria itu. tak ada yang ia inginkan selain mendapatkan tatapan itu dari Hyunseung. Pria pertama yang benar-benar ia cintai.

Hyunseung sedikit membungkuk dan mencium pipi Hyuna, membuat gadis itu membesarkan mata dan menatapnya tak percaya. Wajah gadis itu juga terlihat semakin memerah.

“Wuuu.. aishh.. Hyunseung jeongmal..” ucap Dujun geli.

Kris menggemertakkan giginya dan memalingkan wajahnya, setelah menetralkan emosinya beberapa saat, ia membungkuk ke telinga Hyuna. “Agassi, saya akan mengambil minum..” bisiknya, lalu melangkah pergi.

Hyuna memandang Kris yang terdengar tidak senang tadi, lalu kembali memandang Hyunseung yang masih menatapnya. Ia benar-benar mendapatkan Hyunseung malam ini. Dia dan pria itu bisa benar-benar menjadi sepasang kekasih mulai saat ini.

“Annyeong! Maaf aku terlambat..” ucap Yuri sambil menghampiri teman-temannya. Ia mengenakan dress indah dan make-up glamor yang membuatnya terlihat semakin bersinar.

“Wuaaaaa.. kenapa para gadis sangat cantik mala mini?” Tanya Gikwang tak mengerti.

Hyunseung menoleh karena mendengar suara Yuri, ia langsung memperhatikan gadis itu dari atas kebawah dan begitu juga sebaliknya. “Wow.. so pretty..” pujinya.

Hyuna tertegun Hyunseung memalingkan wajah darinya. Karena Yuri tiba.

Yuri memandang Hyuna, “Oh! Hyuna-a! neomu yepputa..” pujinya tak percaya.

Hyuna tersenyum, “Gumopta eonni, kau juga sangat cantik..”

Yuri menatap Hyunseung, “Aigoo.. kau sangat beruntung memiliki tunangan cantik seperti ini. Jadi kau harus menjaganya dengan baik, arasso?”

Hyunseung tersenyum, “Tanpa kau katakan juga aku akan menjaganya.” Ucapnya.

Hyuna memandang wajah Hyunseung, namun pria itu tak pernah lagi memandang kearahnya. Pria itu terus tersenyum dan tertawa kearah Yuri. KWON YURI! Hatinya terasa sangat sakit. Ia pikir jika terlihat cantik Hyunseung akan jatuh cinta padanya, tapi ia hanya pelarian sesaat hingga sang bintang utamanya muncul. KWON YURI. Ia bisa menyebutkan nama itu sangat jelas..

“Karena anda bukan Kwon Yuri..”

Ucapan Kris itu masih terukir jelas di kepalanya. Ia mengerti sekarang. Tidak peduli seberapa cantiknya ia. Sekaya apa pun keluarganya. Hyunseung tidak akan mencintainya. Karena dirinya bukan Kwon Yuri yang selalu dicintai pria itu. ia bukan teman sejak kecil Hyunseung yang sangat sempurna. Dia hanya gadis yang hidup dengan sandiwara yang tak akan pernah berakhir. Ia masih menatap Hyunseung, berharap pria itu akan memandangnya paling tidak sekali, tapi itu tak pernah terjadi. Pria itu tetap menatap gadis lain. Kepalanya bergerak menunduk sambil menarik tangannya dari lengan Hyunseung. Ia kembali melirik pria itu, tapi tetap saja ia seperti tidak ada disana. Ia tak sanggup menahan sakit dihatinya menyadari kalau Hyunseung tidak akan pernah menatapnya selama Yuri masih ada di dunia ini. Ia langsung berbalik dan berjalan diantara para tamu undangan tadi.

Kris yang kembali dengan dua gelas minuman tertegun melihat Hyuna berjalan pergi, lalu memandang Hyunseung yang masih sibuk dengan teman-temannya dan Kwon Yuri. Ia segera meletakkan dua gelas tadi dan menyusul Hyuna.

“Annyeonghaseo..” sapa Minah dan Jaekyung.

“Ohh.. kalian sudah datang..” ucap Yoseob senang.

“Oppa, dimana Hyuna?” Tanya Jaekyung pada Hyunseung.

Semuanya memandang kearah Hyuna berdiri tadi, namun gadis itu sudah tidak ada.

“Hm? Tadi dia disini..” ucap Hyunseung kaget, lalu mengedarkan pandangannya. “Dimana dia?”

“Kapan dia pergi?” Tanya Dongwoon bingung.

“Aku akan mencarinya sebentar..” ucap Hyunseung dan langsung menyusuri tempat itu untuk mencari Hyuna. Namun ia tak menemukan gadis itu dimana pun, bahkan di toilet.

Hyunseung berdiri didepan toilet wanita sambil menghela nafas dalam, “Dimana dia?” gumamnya, lalu memasukkan tangan ke saku celana dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah marun. Dengan ibu jari ia membuka tutup kotak dan terlihat sebuah cincin berlian indah didalamnya. “Hmm.. aku ingin langsung memberikan ini..” gumamnya lagi.

Sementara itu.

Kris mengendarai mobilnya dengan tenang. Matanya sesekali melirik Hyuna yang duduk di kursi belakang tanpa ekspresi sambil memandang keluar jendela. Ia tau nona mudanya itu sangat sedih saat ini. Ia ingin tertawa puas namun juga ingin menangis karena gadis itu. semuanya bercampur menjadi satu di dadanya.

Hyuna tak bisa melupakan ekspresi Hyunseung ketika menatap Yuri. Pria itu perlu waktu lama untuk memujinya, tapi ketika melihat Yuri ucapan pujian itu mengalir tanpa beban. Itu berarti Hyunseung sudah sering mengatakannya pada Yuri. Dadanya terasa sangat sakit. Rasanya ia ingin berteriak dan mengeluarkan semua air matanya hingga kering, tapi tidak disini. Tidak di depan Kris. Dia belum siap menunjukkan dirinya yang asli pada pria itu seutuhnya. “Oppa, kenapa lambat sekali? Aku ingin segera tiba dirumah..” ucapnya tanpa memandang pria itu.

Kris memandang kaca spion, “Ne, Agassi..” ucapnya dan kembali memandang kedepan, lalu menginjak gas lebih lebih dalam.

Sekarang Hyuna melihat pandangan diluar seperti garis tertiup angin karena kecepatan mobil. Kondisi jalanan yang tidak ramai membuat mobil bisa melaju tanpa hambatan. Matanya melirik kunci pintu. Benda kecil itu terlihat sangat penting baginya sekarang. Tangannya yang bersandar pada pintu bergerak perlahan ke tombol kunci itu dan menariknya dengan cepat sambil membuka pintu. Ia spontan memejamkan mata ketika tubunya ikut tertarik dengan pintu yang terbuka dan merosot jatuh keluar mobil.

Kris terkejut dan memandang kebelakang dengan mata melotot, “AGASSI!!” teriaknya kaget dan langsung menginjak rem juga menarik rem tangan. Mobil itu berhenti mendadak dan jungkir balik akibat kecepatan tinggi yang tiba-tiba di hentikan mendadak.

BRUKKK!! BRUSSSHHH!!!

Kria sempat kehilangan kesadarannya selama beberapa detik. hingga ia merasakan sakit luar biasa dari kepalanya yang membentur stir. Juga batang hidungnya terasa nyeri. “Ahhh…” erangnya sambil memegang dahinya. Darahnya terasa mengalir ke kepala karena tubuhnya yang tergantung terbalik akibat safety-belt yang menahannya di kursi. Dengan mata setengah terpejam ia berusaha menggapai pembuka safety-beltnya dan membuka benda itu. Brukk!! Tubuhnya langsung jatuh keatap mobil yang sekarang menjadi alas. “Ahhh…” rintihnya, tubuhnya terasa remuk selama beberapa saat. “Ahhhh…” rintihnya sambil bergerak berbalik untuk mendarat dengan dadanya, ia berusaha memfokuskan pandangannya dan memandang sekitar. Saat itu matanya terbuka lebar dan semuanya kembali terlihat jelas. Ia melihat Hyuna tergeletak di  tengah jalan. Hanya beberapa mil darinya. Gadis itu tak bergerak sama sekali. “Agassi..” ucapnya dan merangkak keluar dari dalam mobil. Tidak peduli tubuhnya terasa sangat sakit, ia tetap berusaha berdiri. “Ahhh!!” serunya karena kaki kirinya terasa ngilu, namun melihat Hyuna diujung sana tidak juga bergerak, ia menahan sakit itu dan melangkah dengan menyeret kaki kirinya agar segera tiba di dekat Hyuna.

Suara sirene sudah terdengar ketika ia mencapai tubuh Hyuna. Gadis itu menelungkup di aspal tak sadarkan diri. Darah mengalir dari kepala gadis itu dan ia bisa melihat tubuh gadis itu dipenuhi luka. Kakinya melemah dan jatuh berlutut di sebelah gadis itu, “Agassi..” ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke pipi gadis yang juga terlihat luka terbuka disana. “A.. Agassi.” Ucapnya tercekat.

Ambulance berhenti di dekat Kris dan Hyuna, para medis langsung berlari turun.

=Rumah Sakit=

Kris memejamkan dan membuka matanya lagi menahan sakit. Dihidungnya terpasang alat bantu pernafasan. Kedua tangannya berlumuran darahnya. Kesadarannya mulai menurun, namun ia tetap memaksa dirinya untuk tersadar. Akhirnya ia merasakan tempat tidur yang didorong para perawat itu berhenti. Pandangannya seperti kabut dan tidak ada yang berhenti bergoyang. Para perawat itu mengatakan sesuatu namun ia tak bisa mengerti apa yang mereka katakan. Tampak wajah-wajah di sisi kanan dan kirinya, tapi ia tak bisa melihat dengan jelas siapa mereka. Yang ia tau, mereka melakukan sesuatu pada tubuhnya. Kepalanya menoleh ke sisi kanan dan melihat seorang gadis yang tak sadarkan diri. Wajah cantiknya di lumuri darah dan luka terbuka di pipinya terlihat sangat dalam. “Agassi..” gerak bibirnya dan semuanya menjadi gelap.

…………………………………………………………………………………..

Hyuna membuka matanya perlahan. Ia merasa berada diluar angkasa karena tubuhnya seperti melayang. Ia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Matanya terpejam kembali dan membukanya. Perlahan namun pasti, penglihatannya kembali jelas dan tampak cahaya lampu di langit-langit.

“Hyuna?”

Hyuna menggerakkan matanya kearah suara itu, namun tak bisa mengenali wajah yang terlihat oleh matanya. Ia mengerjapkan matanya lagi dan kembali memandang orang itu.

“Hyuna, gwenchana?” Tanya pria itu sambil mengelus rambut Hyuna dan menatapnya serius.

Hyuna menghela nafas dalam dan menelan ludah untuk melancarkan tenggorokannya.

Pria itu tersenyum dan menggenggam tangan Hyuna sambil menatapnya dalam, “Syukurlah kau tidak kembali sadar.. Aku sangat khawatir mendengarmu kecelakaan..”

Hyuna berusaha mengingat siapa pria itu, karena suaranya terdengar tidak asing, setelah beberapa saat ia seperti dapat mengumpulkan ingatannya lagi. “Oppa..” ucapnya pelan.

Hyunseung mengangguk, “Ne, Hyuna.. oppa disini..”

Hyuna memandang sekitarnya dan menyadari dia tidak dikamarnya, “Aku dimana?”

Satu tangan Hyunseung melingkar di atas kepala Hyuna dan mengelus rambutnya, “Kau ada dirumah sakit. Kemarin malam kau kecelakaan.. Kau ingat?”

Hyuna memejamkan matanya beberapa saat dan kembali memandang Hyunseung. Saat itu ia kembali ingat bahwa ia membuka pintu mobil yang melaju kencang dan jatuh berguling-guling di aspal.

“Gwenchana.. Keadaanmu tidak parah.. jangan khawatir..” ucap Hyunseung menenangkan.

Hyuna menyadari ada perban menutupi pipi kirinya, juga tangan kirinya tampak di gips. Seluruh tubuhnya terasa sakit.

“Hyuna, bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi? Apakah Kris-ssi sengaja tidak menutup pintunya dengan rapat?” Tanya Hyunseung curiga.

Hyuna diam  sejenak mendengar pertanyaan Hyunseung dengan dahi berkerut, “Apa maksudmu oppa?”

Hyunseung menghela nafas dalam, “Kemarin malam terjadi kecelakaan parah dengan mobil kalian, karena kalian berdua tidak sadarkan diri. Polisi memeriksa kamera CCTV jalanan dan melihat kau terjatuh dari mobil sesaat sebelum mobil berbelok ke kiri dan terbalik..” jelasnya.

Hyuna berusaha mencerna ucapan Hyunseung dengan baik, tak lama matanya membesar. “Ne? Kris oppa juga terluka?” tanyanya tak percaya.

Hyunseung mendengus kesal, “Hanya memar di kepala dan cedera kaki, ahhh.. aku tidak percaya dia masih bisa bersikap baik didepan kakekmu..”

Hyuna tak percaya Kris juga mengalami kecelakaan karena tindakannya kemarin malam, ia berpikir dengan meloncat keluar berarti hanya dia yang akan terluka. Mata Hyuna mulai memerah dan bulir air mengalir dari sudut matanya.

Hyunseung mengelus pipi Hyuna dan menyeka air matanya, “Jangan menangis Hyuna.. Semuanya akan baik-baik saja..”

Hyuna sangat menyesal, ia membuat Kris terluka lagi. Namun sekarang secara fisik. Ia hanya ingin mengakhiri hidupnya tapi malah membuat Kris ikut terluka. Matanya bergerak menatap Hyunseung menyesal, “Ini salahku oppa..” gumamnya pelan.

Hyunseung menggeleng, “Aniya, kau tidak salah. Kris-ssi sudah mengakui kecerobohannya dengan tidak memeriksa pintu disisimu.” Ucapnya pelan.

Hyuna tertegun, “Ne?”

Hyunseung tersenyum hangat dan mencium punggung tangan Hyuna, “Gwenchana.. Istirahatlah lagi.. Kakekmu akan segera kembali kemari..”

Ruang perawatan Kris.

Kris duduk di sisi tempat tidur dengan kepala tertunduk. Ia tidak mendapat cedera parah selain di kaki kirinya, namun ia harus mempertanggung jawabkan kejadian kemarin pada Kakek Hyuna. “Saya bersalah tuan muda, saya akan menanggung semua hukumannya..” ucapnya pada pria setengah baya yang duduk di sofa didepannya.

Kakek Hyuna menatap Kris tajam, “Bagaimana mungkin kau tidak memeriksa pintu belakang..” ucapnya kecewa.

Kepala Kris semakin menunduk. Wajahnya yang terdapat beberapa luka goresan terasa nyeri ketika ia menunduk. “Cesonghamida..”

Kakek Hyuna memalingkan wajahnya, “Beruntung malam kemarin tidak banyak kendaraan di jalanan, jika terjadi hal lebih parah dari ini aku tidak akan memaafkanmu..”

“Saya mengerti tuan besar..” ucap Kris.

Seorang pengawal kakek Hyuna yang menunggu diluar masuk dan menghampiri pria setengah baya itu, lalu membisikkan sesuatu.

Kakek Hyuna memandang pengawalnya, kemudian memandang Kris yang masih menunduk. “Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti..” ucapnya, lalu berdiri. “Temui Hyuna.” Ucapnya sebelum pergi.

Kris tertegun mendengar nama Hyuna sambil memandang kakek Hyuna yang berjalan ke pintu, “Hyuna Agassi sudah sadar?” tanyanya.

Langkah kakek Hyuna terhenti dan kembali memandang Kris, “Temui dia, setelah itu aku akan memutuskan apa yang harus kulakukan padamu..” ucapnya dan berjalan pergi.

Kris menjangkau tongkat dan berjalan dengan tertatih-tatih menuju ruangan Hyuna.

Ruang perawatan Hyuna.

Hyunseung yang terus berada disisi Hyuna menoleh begitu mendengar pintu terbuka, wajah cerianya langsung berubah dingin ketika melihat Kris melangkah masuk.

“Siapa oppa?” Tanya Hyuna pada Hyunseung.

Hyunseung kembali memandang Hyuna yang masih terlihat lemah.

“Agassi..” painggil Kris pelan.

Hyuna tertegun mendengar suara Kris dan memandang kearah suara itu, namun Hyunseung tidak mau menyingkir untuk memperlihatkannya melihat Kris.

“Hyuna akan beristirahat, kembali saja nanti..” ucap Hyunseung tanpa memandang Kris dingin.

Hyuna memandang Hyunseung tak mengerti.

“Aku ingin berbicara dengannya sebentar..” ucap Kris.

“Dia harus beristirahat! Pergi!!” tegas Hyunseung.

“Oppa…” ucap Hyuna dengan mata memelas pada Hyunseung agar dia bisa berbicara dengan Kris.

Hyunseung menatap kedua mata Hyuna, meskipun tidak ingin, ia bergerak kesamping agar tunangannya itu bisa memandang pengawal setianya.

Hyuna akhirnya bisa memandang Kris. Wajah pria itu terdapat luka goresan, juga kakinya tampak di gips dan harus menggunakan tongkat untuk berjalan.

Kris bergerak maju menghampiri tempat tidur, tapi Hyunseung mengulurkan tangannya untuk menjaga jarak antara dirinya dan tempat tidur Hyuna.

“Oppa, gwenchana?” Tanya Hyuna pelan.

Kris mengangguk sambil menatap Hyuna sedih, “Ne, saya baik-baik saja Agassi..” ucapnya pelan, ia bisa melihat mata gadis itu mulai basah karena air mata. “Agassi, maafkan kecerobohan saya. Saya menyebabkan anda terluka parah seperti ini..” ucapnya dengan kepala menunduk.

Hyuna menggeleng pelan, “Aniya oppa, semua ini salahku..”

Hyunseung mengelus rambut Hyuna dan menatapnya lembut, “Sudah Hyuna, istirahatlah lagi. Kondisimu tidak cukup baik untuk mendapat tekanan seperti ini..”

Kris kembali memandang Hyuna, gadis itu tampak sangat menyesal. “Istirahatlah Agassi, saya akan kembali lain kali.. Permisi..” ucapnya sambil membungkuk sopan dan berbalik.

Hyunseung mengerutkan dahi melihat ekspresi Hyuna yang memandangi Kris pergi. Ia menghela nafas dalam untuk menetralkan perasaan kesalnya, ia kembali berdiri di sebelah gadis itu agar tidak memandangi Kris lagi sambil tersenyum lebar, “Nahh.. kau sudah bertemu dengannya.. Sekarang istirahatlah..”

Hyuna memandang Hyunseung. Pria itu ada disisinya. Menatapnya sambil tersenyum dan  terlihat sangat peduli padanya. Hatinya semakin sakit mengingat tatapan dan perhatian itu akan menghilang setelah Yuri ada disini. “Oppa, dimana harabeutji?”

“Harabeutji sedang mengurus beberapa hal, jangan khawatir. Harabeutji akan segera kembali..” ucap Hyunseung sambil menyeka bulir air yang kembali mengalir dari mata Hyuna. “Pejamkan matamu dan tidur, ketika kau bangun nanti harabeutji pasti sudah kembali kemari..”

Hyuna menghela nafas dalam dan mengangguk pelan, “Ne..” ucapnya, perlahan matanya menutup. Ia dapat merasakan tangan Hyunseung mengelus rambutnya lembut. Bulir air matanya kembali mengalir dari sudut matanya. Perhatian pria itu terasa tidak ada artinya. Karena dia bukanlah Yuri. Dia hanya gadis yang di tunangkan dengan Hyunseung, bukan gadis yang ingin ditunangi Hyunseung.

Hyunseung menatap Hyuna iba, ia tau gadis itu merasa kesakitan karena luka yang di tubuh kecilnya. “Tidurlah.. Oppa akan menemanimu..” ucapnya sambil menyeka air mata Hyuna.

-Hyuna’s POV-

Aku berdiri disini. Disebelah jasad seseorang yang ditutupi dengan kain putih. Terlihat darah orang itu juga menyerap ke kain putih. Namun aku tidak memandang jasad itu, aku memandang ke seberang ruangan. Seorang anak berusia belasan tahun berdiri menatap jasad disebelahku penuh kebencian. Aku tidak menyalahkannya karena membenci jasad disebelahku. Karena sekarang kami serupa. Hanya akan sendirian di dunia ini. Aku tidak pernah bisa melupakan tatapan mata itu. Tidak sedetik pun. Jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya di usia tuanya, aku tetap tidak akan melupakan tatapan tajam itu. Aku akan mengingat tatapan itu agar aku tidak pernah melupakan apa yang sudah kusebabkan. Aku yang seharusnya disalahkan atas semua yang terjadi padanya. Kata maaf tidak akan bisa mengakhiri kebenciannya, jadi aku akan menyerahkan diriku padanya..

-Hyuna’s POV end-

“Hyuna…” panggil kakek ketika Hyuna membuka matanya perlahan.

Hyuna berusaha benar-benar tersadar dan memandang kakeknya, “Harabeutji?”

Kakek tersenyum, “Gwenchana?”

Hyuna mengangguk pelan, lalu memandang sekitar ruangan itu. Tidak ada siapa pun, namun banyak karangan bunga dimeja dan lantai. Ia tau itu pasti dari rekan kerja kakek.

“Harabeutji meminta Hyunseung tetap pergi ke sekolah meskipun dia mau menjagamu disini..” ucap kakek memberitau Hyuna.

Hyuna memandang kakek.

“Hyunseung berkata akan datang bersama teman-temanmu nanti. Mereka pasti sangat mengkhawatirkanmu..” ucap kakek sambil tersenyum.

Mendengar kata ‘teman-teman’ tadi membuat mata Hyuna mulai basah karena air mata.

Kakek tertegun melihat Hyuna menangis, “Hyuna-a, waeyo? Apa kau merasa sakit lagi?”

“Harabeutji, aku tidak mau bertemu mereka..” ucap Hyuna pelan.

Kakek tertegun, “Ne? Wae?”

“Aku tidak ingin bertemu siapa pun.. Kumohon..” ucap Hyuna sambil menangis.

Kakek memandang Hyuna tak mengerti, “Oh.. begitu..”

“Aku ingin Kris oppa ada bersamaku..” ucap Hyuna lagi.

Kali ini kakek tampak terkejut, “Mwo? Kris?”

“Ne.. Aku membuatnya terluka, aku ingin dia ada disini..” ucap Hyuna.

“Hyuna, lebih baik Hyunseung yang menjagamu disini..” ucap kakek tak mengerti.

“Aku tidak ingin bertemu dengannya.. Aku tidak ingin menjadi tunangannya lagi.. Aku benci mereka semua..” tangis Hyuna.

Kakek memandang Hyuna tak mengerti, “Hyuna, katakan apa yang terjadi.. Kenapa tiba-tiba kau tidak ingin bertemu Hyunseung atau pun teman-temanmu?”

“Karena aku benci mereka! Aku ingin Kris oppa ada disini.. Harabeutji..” mohon Hyuna sambil terus menangis.

Tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit-tit..

Kakek terkejut mendengar pendeteksi jantung Hyuna menunjukkan peningkatan drastis dan itu berbahaya untuk kondisi Hyuna, “Ne.. Ne.. tenang, Hyuna.. Harabeutji akan melakukannya..” ucapnya sambil membelai kepala cucunya.

Hyuna kembali tenang. Alat pendeteksi jantungnya mulai terdengar normal lagi.

Kakek menghela nafas lega sambil mengelus rambut Hyuna, “Kau tidak perlu khawatir, harabeutji akan meminta petugas rumah sakit memindahkan Kris ke kamar ini bersamamu..”

Hyuna mengangguk, “Ne..”

=Siangnya=

Hyunseung bersama teman-temannya dan teman-teman Hyuna datang kerumah sakit dengan buah dan bunga untuk mengunjungi gadis itu.

“Oppa, dia tidak parah kan?” tanya Jaekyung.

“Sekarang sudah lebih baik..” jawab Hyunseung, lalu masuk ke ruangan khusus untuk kamar VVIP. “Itu kamarnya..” ucapnya sambil melangkah ke pintu kamar Hyuna yang sekarang di jaga dua pengawal kakek.

“Maaf, kalian tidak bisa masuk..” ucap salah seorang pengawal.

Hyunseung dan yang lain kebingungan, “Ne? Wae?”

“Hyuna agassi tidak ingin bertemu siapa pun. Jadi silahkan pergi..” jawab pengawal tadi.

“Ne? Apa maksudmu tidak ingin bertemu siapa pun? Katakan padanya Jaekyung dan Minah datang, dia pasti ingin bertemu kami..” ucap Minah bingung.

“Ini sudah perintah, jadi silahkan pergi..” ucap pengawal tadi.

Hyunseung mengerutkan dahi, “Aku Jang Hyunseung, tunangan Hyuna..” ucapnya, “Dia pasti menungguku..”

“Maaf, anda tetap tidak bisa masuk..” ucap pengawal tadi tegas.

“Apa benar Hyuna tidak ingin bertemu siapa pun?” tanya Dujun pada teman-temannya bingung.

“Atau mungkin kakek Hyuna yang tidak ingin Hyuna terganggu dulu, dia kan masih butuh istirahat yang lebih..” ucap Yuri.

“Benar juga..” ucap Yoseob sambil mengangguk.

“Baiklah, kami akan pergi. Tapi nanti katakan pada Hyuna kalau teman-temannya dan Jang Hyunseung berkunjung..” ucap Hyunseung, lalu berbalik bersama teman-temannya. Saat itu matanya tak sengaja melirik papan nama di pintu, ia kembali menatap benda itu dan mengerutkan dahi membaca nama yang tertera disana. “Mwo?”

Semuanya memandang Hyunseung bingung, “Waeyo?”

Jaekyung ikut membaca nama di pintu dan menutup mulutnya kaget, “Omo..”

Junhyung mengerutkan dahi, “Kris?” gumamnya tak percaya, lalu memandang Hyunseung. “Hyuna di rawat bersama pengawalnya?”

Wajah Hyunseung terlihat sangat marah dan menatap pengawal Hyuna, “Kris-ssi di rawat disini?!”

“Ne, Hyuna agassi yang menginginkannya..” jawab pengawal tadi.

“Mwo?! Aku harus masuk!” ucap Hyunseung dan langsung menerobos pengawal, tapi dia kalah cepat.

“Tuan, jangan memaksa kami melakukan kekerasan..” ucap pengawal tadi.

Dujun menarik Hyunseung mundur, “Ya.. jangan seperti ini. Biarkan dulu.. mungkin Hyuna memang butuh istirahat..”

“Ne, Hyunseung.. Kita kembali lain kali..” ucap Dongwoon.

Hyunseung sangat marah mengetahui Hyuna menginginkan Kris dirawat bersama tapi tidak ingin bertemu siapa pun termasuk dirinya. “Ayo pergi..” ucapnya dan berjalan duluan.

Ketika perjalanan kembali, ponsel Hyunseung berbunyi. Ia segera mengangkat panggilan itu, “Ne, eomma..” jawabnya.

“Jang Hyunseung! Kembali ke rumah sekarang juga!” tegas ibu Hyunseung di seberang.

Hyunseung tertegun karena ibunya terdengar marah, “Ne eomma..” jawabnya dan telepon terputus.

Junhyung yang mengendarai mobil memandang Hyunseung yang tampak bingung, “Waeyo Hyunseung?”

Hyunseung memandang Junhyung dan menyadari teman-temannya juga memandangnya bingung, “Oh.. ibuku menyuruhku pulang. Sepertinya sangat penting.”

“Hmm.. keure, aku akan mengantarkanmu terlebih dulu..” ucap Junhyung.

=Rumah Keluarga Jang=

Hyunseung melangkah masuk ke ruang tengah dan langsung mematung kedua orangtuanya menatapnya marah, “Waeyo appa, eomma?”

“Duduk Hyunseung..” tegas ibu Hyunseung.

Hyunseung meletakkan tas ranselnya di sofa dan duduk sambil memandangi ayah dan ibunya bingung.

Ayah Hyunseung menatap putranya tegas, “Jang Hyunseung, apa yang kau lakukan pada Hyuna?”

Dahi Hyunseung berkerut, “Ne? Aku? Apa?” tanyanya tak mengerti.

“Hyunseung! Jujur pada kami! Apa yang sudah kau lakukan?!” tanya ibu Hyunseung kesal.

Hyunseung semakin tak mengerti dengan pembicaraan ayah dan ibunya, “Aku tidak mengerti, aku tidak melakukan apa pun!”

Ayah Hyunseung menatap putranya marah, “Jika kau tidak melakukan apa pun, mengapa Hyuna ingin membatalkan pertunangan kalian?”

Hyunseung terdiam dengan mata membesar, “M-mwo? Hyuna?”

“Ne! Oh.. Hyunseung, kau tau kakek Hyuna sangat berpengaruh di dunia bisnis. Ini kesempatan yang sangat baik untuk berbesan bersama mereka..” ucap ibu Hyunseung kesal.

Tapi Hyunseung tidak memikirkan apa yang diucapkan ibunya, ia tak percaya Hyuna yang memutuskan pertunangan itu. “Ini pasti salah..” ucapnya dan langsung berdiri, “Aku harus bertemu Hyuna..” ucapnya dan langsung berlari keluar.

“Hyunseung!!” panggil ayah Hyunseung, namun putranya terus berlari pergi.

=Kamar Perawatan Hyuna=

Hyuna tersenyum sambil memperhatikan Kris yang duduk di pinggir tempat tidurnya sambil mengupas kulit jeruk untuknya.

“Ini agassi..” ucap Kris.

Hyuna mengambil jeruk dan memakannya satu persatu.

Kris memperhatikan ekspresi Hyuna yang terlihat ceria bersamanya, “Agassi, kurasa anda tidak perlu sampai meminta saya dirawat disini juga..” ucapnya.

Hyuna memandang Kris bingung, “Wae? Aku takut jika sendirian disini..” ucapnya.

“Tapi anda bisa di temani kakek anda tau teman-teman anda.” Ucap Kris tak mengerti.

Hyuna menggeleng, “Aku tidak berteman dengan mereka lagi..”

Kris diam sejenak, “Wae?”

“Karena mereka tidak baik padaku.. Mereka hanya memanfaatkanku..” jawab Hyuna.

‘Akhirnya dia sadar..’ batin Kris, “Oh..” ucapnya pelan.

Hyuna kembali tersenyum, “Hanya oppa yang benar-benar ada disisiku, keutji?”

Kris tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum, “Ne, agassi..”

Sementara diluar.

Hyunseung di dorong pengawal yang berjaga di depan pintu untuk menjauh dari sana, “Aku harus bertemu Hyuna! Minggir!!”

“Anda tidak bisa masuk tuan!” tegas pengawal itu.

“Katakan padanya Jang Hyunseung datang!!” seru Hyunseung marah, tidak peduli para perawat dan orang-orang disekitar sana memandangnya bingung.

“Tidak boleh seorang pun yang bisa masuk kecuali petugas rumah sakit..” ucap pengawal tadi tegas.

“Katakan padanya!! Dia pasti ingin bertemu denganku!!” seru Hyunseung.

“Tidak tuan!” tegas pengawal itu.

Hyunseung mengacak-acak rambutnya frustasi, “Aarrgh!!” serunya kesal.

Hingga berhari-hari kemudian dia terus datang meskipun tidak pernah di ijinkan masuk. Ia hanya duduk di luar menunggu.

=Hari Kepulangan Hyuna=

Kris melangkah ke sisi Hyuna dan membantu gadis itu turun dari tempat tidur. Hari ini gadis itu sudah bisa kembali kerumah. Dirinya sendiri sudah membaik dan tidak perlu menggunakan gips lagi dikaki kirinya. “Agassi, duduk disini..” ucapnya sambil memegang sebuah kursi roda.

Hyuna memegang pegangan kursi roda dengan tangan kanannya dan bergerak duduk.

Kris mengambil tas berisi keperluan Hyuna, lalu mendorong kursi roda menuju pintu. Ia berhenti di dekat pintu, namun tidak langsung membukanya.

Hyuna mendongak ke belakang untuk melihat Kris, “Waeyo oppa?”

Kris memandang Hyuna tanpa ekspresi, “Agassi, Jang Hyunseung ada diluar..” ucapnya.

Hyuna diam sejenak, lalu menunduk sedih. Ia tidak ingin bertemu Hyunseung.

“Apakah anda ingin saya meminta pengawal membawanya pergi?” tanya Kris.

Hyuna kembali memandang Kris dan mengangguk.

“Keure, mohon tunggu sebentar..” ucap Kris dan melangkah ke pintu.

Hyunseung yang sudah menunggu sejak tadi langsung menoleh begitu mendengar pintu terbuka, “Kris! Mana Hyuna?!” tanyanya.

Kris membisikkan sesuatu pada pengawal dan memandang Hyunseung tanpa menjawab.

Dahi Hyunseung berkerut melihat kedua pengawal tadi mendekatinya. “Apa yang kalian lakukan?” tanyanya, ia terkejut kedua pria itu memegang lengannya dan menyeretnya pergi. “Ya! Ya!! Lepaskan!! Hyuna!!” teriaknya sambil berusaha berontak.

Kris memperhatikan Hyunseung yang diseret pergi hingga hilang dari pandangannya, lalu kembali masuk.

Hyuna sangat sedih mendengar teriakan Hyunseung tadi, namun ia sudah memutuskannya. Ia tidak akan menjadi gadis naif lagi untuk mereka. Ia akan memberikan waktunya pada Kris. Ia mengangkat wajah ketika menyadari Kris kembali masuk.

“Ayo agassi..” ucap Kris dan membawa Hyuna keluar.

=Rumah Keluarga Kim=

Kris berdiri di ruang tengah dengan pakaian kasualnya seperti biasa. Hyuna akan kembali ke sekolah hari ini, tentu saja dia harus menemani gadis itu. Matanya melirik ke arah ruang makan, belum ada tanda-tanda gadis itu akan segera keluar. Tangannya bergerak ke saku dan mengeluarkan sebuah tabung berisi kapsul berwarna oranye dan merah. Kali ini, wajahnya tampak ragu. Ia tidak seperti dirinya lagi. Ia menghela nafas dalam dan kembali memasukkan tabung itu ke sakunya, ‘Aku harus melakukannya, ini tujuanku datang kemari. Aku tidak bisa membuang waktu lagi..’ batinnya yakin.

“Oppa.. khaja..” ajak Hyuna sambil melangkah mendekati Kris dengan tas ransel di punggungnya. Tangan kirinya masih di  gips, jadi ia perlu hati-hati ketika membawa sesuatu. Bekas luka di pipi kirinya juga masih tertutupi perban.

Kris menghela nafas dalam dan menarik tas Hyuna, “Saya akan membawanya agassi..”

Hyuna tersenyum manis sambil melepaskan tasnya dan membiarkan Kris membawanya, “Ayo agassi..”  ucapnya dan melangkah duluan.

“Oppa tunggu..” ucap Hyuna sambil mengejar langkah Kris, lalu melingkarkan tangan kanannya ke lengan kiri pria itu.

Kris tertegun memandang Hyuna, namun melihat gadis itu tersenyum senang ia tak bisa merasakan hal lain selain ikut senang juga. Ia berhenti di dekat mobil baru Hyuna dan membukakan pintu, “Silahkan..”

Hyuna masuk dan duduk tenang.

Selama perjalanan ke sekolah, Kris melirik Hyuna yang tampak menggambari gips ditangannya dengan spidol warna-warni. Bibirnya membentuk senyuman melihat gadis itu kembali ceria. Namun sedetik kemudian senyum itu memudar. Kedua tangannya mencengkeram stir dengan tatapan marah kedepan, ‘Apa yang kau pikirkan?!’ batinnya sambil berusaha membuang jauh pemikiran tentang Hyuna.

Hyuna tersenyum lebar melihat hasil gambar bunga yang dia buat, lalu mengulurkan tangan kirinya pada Kris, “Oppa, cantikkan?” tanyanya.

Kris melirik gambar itu dan melirik kaca spion untuk memandang Hyuna, bibirnya kembali tersenyum. “Ne, cantik..” ucapnya dan kembali memandang ke depan.

Hyuna kembali melanjutkan gambarnya.

=Sekolah=

Kris memarkirkan mobil dan bergerak turun, lalu membuka pintu belakang. Setelah mengambil tas ransel Hyuna, ia mengulurkan tangan dan membantu gadis itu keluar.

“Oppa akan menemaniku terus kan?” tanya Hyuna dengan senyuman lebarnya.

Kris mengangguk, “Ne, agassi..” jawabnya. “Ayo..” ajaknya sambil menyandang tas Hyuna di satu bahu dan berjalan disisi gadis itu.

Hyuna tersenyum senang sambil terus melangkah. Banyak orang yang langsung menyapa dan menanyakan keadaannya ketika berjalan masuk ke gedung utama. Ia hanya tersenyum tanpa menjawab mereka.

Minah dan Jaekyung tertegun melihat Hyuna muncul.

“Omo!! Hyuna!! Kau sudah sembuh?” Tanya Jaekyung sambil menghampiri gadis itu dengan kedua tangan terbuka lebar hendak memeluknya.

Namun Hyuna menghindar sambil menatap Jaekyung sebal.

Jaekyung bingung melihat ekspresi Hyuna, “Hyuna, waeyo?”

“Menjauh dariku! Aku tidak mau berteman denganmu lagi!” ucap Hyuna, lalu memalingkan wajahnya dan berjalan menuju tempat duduknya.

Jaekyung terkejut mendengar ucapan Hyuna sambil menatap gadis itu tak percaya.

“Hyuna-a, ada apa denganmu?” Tanya Minah tak mengerti.

Kris menghampiri Hyuna dan meletakkan tas gadis itu di meja, “Ini Agassi..”

Hyuna memandang Kris sambil tersenyum, “Gumawo oppa..” ucapnya dan mulai mengeluarkan buku pelajarannya.

Tak lama Hyunseung yang mendengar berita kedatangan Hyuna langsung berjalan cepat memasuki ruang kelas untuk menghampiri gadis itu.

Kris memblokir jalan Hyunseung menuju Hyuna sambil menatapnya tegas, “Jangan mendekat..”

Hyunseung menatap Kris tajam, “Minggir..”

Hyuna menoleh sedikit karena mendengar suara Hyunseung, ia tak ingin mendengar pria itu marah.

“Hyuna Agassi sudah tidak ingin bertemu denganmu lagi..” ucap Kris tanpa menyingkir.

“Kubilang minggir..” ucap Hyunseung dengan nada mengancam.

Kris sama sekali tak bergeming.

Jaekyung dan Minah saling melirik bingung. Orang-orang dikelas memandang mereka penasaran.

Teman-teman Hyunseung muncul untuk melihat apa yang terjadi.

Hyunseung menghela nafas dalam, lalu memegang bahu Kris dan mendorongnya. Tapi pria itu tetap bertahan, membuat kemarahannya semakin memuncak.

“Kris oppa..” ucap Hyuna.

Kris dan Hyunseung terdiam. Kris memandang ke belakang.

Hyunseung memandang Hyuna yang tetap memandang kedepan, “Hyuna, kita harus bicara..” ucapnya langsung.

“Ne, Agassi..” jawab Kris seperti tidak mendengar Hyunseung.

Hyuna menghela nafas dalam, “Katakan pada mantan tunanganku..” ucapnya tanpa menoleh, membuat Hyunseung mengerutkan dahinya. “…aku tidak mau berbicara dengannya lagi..”

“Hyuna?” ucap Hyunseung tak percaya.

Sudut bibir Kris membentuk senyuman, “Ne, Agassi..” ucapnya dan memandang Hyunseung yang masih menatap Hyuna tak percaya. “Jang Hyunseung-ssi, Hyuna Agassi tidak ingin berbicara denganmu lagi..”

“Hyuna, kenapa kau seperti ini?” Tanya Hyunseung tak mengerti.

Hyuna berusaha menahan kesedihannya. Ia baru saja mematahkan hatinya sendiri. Tapi ia sudah siap untuk hari ini.

“Hyuna, jawab aku..” ucap Hyunseung frustasi sambil melangkah maju, tapi Kris menahan tubuhnya. “Hyuna.. bicara padaku..” pintanya.

Hyuna menghela nafas dalam dan berdiri, lalu memandang Hyunseung dengan tatapan terluka. “Oppa, aku sudah bukan tunanganmu lagi. Kau bisa menyatakan perasaanmu pada Yuri eonni..” ucapnya.

Yuri yang berada diantara teman-teman Hyunseung tertegun mendengar ucapan Hyuna.

“Ne? Hyuna..” ucap Hyunseung tak percaya.

Mata Hyuna memerah menahan air mata, ia memalingkan wajahnya dan berjalan keluar kelas.

“Hyuna!!” panggil Hyunseung dan hendak menggapai tangan gadis itu, tapi Kris menahan tubuhnya.

Yuri memandang Hyuna menyesal ketika gadis itu berlalu disisinya.

“Hyuna!!” panggil Hyunseung.

Kris menatap Hyunseung tegas, “Jangan dekati dia lagi..” ucapnya dingin, lalu melangkah mengikuti Hyuna.

“Mwo?! Ya!!” seru Hyunseung sambil mengikuti Kris. Namun langkahnya terhenti melihat Yuri yang menunduk canggung diantara teman-temannya, “Yuri?”

Yuri memandang Hyunseung menyesal, lalu berbalik dan berjalan pergi.

“Yuri..” panggil Hyunseung sambil mengejar Yuri.

Junhyung menahan bahu Hyunseung dan menatapnya tajam.

“Nanti Junhyung!” ucap Hyunseung sambil melepaskan tangan Junhyung dari bahunya.

Junhyung mengikuti langkah Hyunseung yang mengejar Yuri, “Ya! Jang Hyunseung!!”

Hyunseung mendengus kesal dan berbalik memandang Junhyung, “Mwo?!”

Junhyung menatap Hyunseung kecewa, “Jika kau mengejar Yuri, kau tidak akan mendapatkan Hyuna lagi. Pabo!”

Hyunseung tertegun dan kembali ingat Hyuna memutuskan pertunangan mereka. Ia diam sejenak sambil berpikir. Kepalanya memandang kearah Yuri yang terus berjalan pergi, lalu memandang Junhyung. Ia menghela nafas dalam dan segera berlari mengejar Hyuna.

Hyuna berjalan ke belakang sekolah dengan bulir air mata berjatuhan. Sekarang ia dan Hyunseung benar-benar berakhir. Meskipun ia tau pria itu tidak mencintainya, ia tetap merasa sangat sakit ketika hari ini benar-benar berakhir.

Kris menghela nafas dalam melihat Hyuna menangis. Ia melangkah pelan menghampiri gadis itu dan mengelus rambutnya.

Hyuna memandang Kris dengan bulir air mata terus berjatuhan, “Oppa, kenapa aku bukan Yuri eonni?” gumamnya sambil menangis. Kepalanya tertunduk sambil memegang dadanya yang terasa sakit dengan tangan kanan.

Kris menatap Hyuna sedih. Dengan lembut ia menarik gadis itu kepelukannya. Membiarkan air mata gadis itu membasahi bajunya. Puncak kepala gadis itu mengenai dagunya, tangannya mengelus rambut gadis itu lembut. “Karena anda adalah Kim Hyuna, anda tidak pantas bersama pria bernama Jang Hyunseung itu Agassi..”

“Lalu kenapa aku mencintainya? Kenapa hatiku selalu berdebar bersamanya?” Tangis Hyuna.

“Sudahlah Agassi, Jang Hyunseung tidak pantas mendapatkan air matamu..” ucap Kris.

Hyunseung pergi ke belakang sekolah dan memandang ke kanan dan kiri mencari Hyuna, ia langsung terpaku melihat gadis itu di peluk oleh Kris. Dadanya terasa sesak. Juga terasa sangat berat. Melihat pemandangan itu, ia seperti mendapat bisikan kalau Hyuna tidak membutuhkannya lagi. Gadis itu sudah memiliki Kris. Entah sejak kapan, ia merasa kedekatakan mereka sangat memuakkan.

Junhyung berjalan ke sisi Hyunseung sambil memperhatikan Hyuna dan Kris. Ia menghela nafas dalam dan memegang bahu temannya itu, “Seharusnya kau mengejar Hyuna, bukan Yuri..” ucapnya sambil memandang Hyunseung, lalu berbalik dan pergi meninggalkan temannya yang masih menatap Hyuna di pelukan Kris dengan hati hancur berantakan.

Kepala Hyunseung bergerak menunduk penuh sesal, ‘Kenapa kau mengejar Yuri tadi Jang Hyunseung? Jika tidak kau yang sedang memeluk Hyuna sekarang..’ batinya. Dengan berat hati ia memalingkan wajahnya dan berjalan pergi.

Istirahat.

Hyunseung sama sekali tidak berniat menyentuh makanan di hadapannya. Ia sangat menyesal dengan semuanya. Yuri tidak datang ke kafetaria dan Hyuna duduk di meja lain dengan Kris yang menemaninya. Rasanya ia sangat bodoh karena tak tau siapa yang benar-benar berarti baginya.

Yoseob, Dujun, Dongwoon, Gikwang dan Junhyung saling melirik satu sama lain.

Gikwang memandang Hyunseung yang sejak tadi hanya menatap makanannya tanpa ekspresi, “Hyunseung, gwenchana?”

Hyunseung menggeleng pelan.

Gikwang garuk-garuk kepala bingung sambil memandang teman-temannya, lalu melirik ke meja yang cukup jauh dimana Hyuna duduk.

Hyuna tersenyum sambil menikmati makanannya, karena Kris duduk dihadapannya.

Dahi Dujun berkerut, “Sepertinya ada yang aneh..” gumamnya.

“Apa?” Tanya Junhyung.

“Bukankah tadi Hyuna menangis setelah berbicara dengan Hyunseung? Tapi kenapa sudah tersenyum lebar seperti itu?” Tanya Dujun tak percaya.

Yang lainnya langsung terpaku mendengar ucapan tanpa perasaan Dujun di depan Hyunseung.

“Benar kan?” Tanya Dujun lagi.

BRAK! Semua orang disana terkejut ketika Hyunseung tiba-tiba berdiri, lalu berjalan pergi.

“Hm? Ada apa dengannya?” Tanya Dujun tak mengerti.

“Aissh!!” seru Junhyung kesal karena Dujun tak menyadari kesalahannya.

Mata Yoseob membesar menyadari Hyunseung menghampiri meja Hyuna, “Omo! Lihat!”

Semuanya memandang Hyunseung dan melotot.

Hyunseung berjalan ke sisi Hyuna dan langsung memegang tangan gadis itu yang memegang sumpit. Membuat gadis itu terkejut dan memandangnya bingung.

Kris langsung berdiri dan menatap Hyunseung tajam, “Apa yang anda lakukan Jang Hyunseung-ssi?” tanyanya dingin.

Hyuna menunduk untuk menghindari tatapan Hyunseung.

Hyunseung tetap memegang tangan Hyuna ketika menatap Kris tajam, “Aku tidak akan melepaskan Hyuna semudah itu..”

Kris tersenyum sinis, “Jang Hyunseung-ssi, bukankah anda bisa bersama Kwon Yuri-ssi? Untuk apa melakukan hal ini?”

Hyunseung tersenyum sinis, “Kwon Yuri?”

Kris mengulurkan tangannya untuk melepaskan tangan Hyunseung dari Hyuna, namun pria itu langsung bergerak yang membuatnya terpaku.

Hyunseung mengulurkan satu tangannya yang lain untuk menarik dagu Hyuna sambil membungkuk, begitu wajah gadis itu menghadapnya, bibirnya langsung mendarat tepat di bibir gadis itu.

Mata Hyuna membesar menyadari apa yang dilakukan Hyunseung di depan semua orang di kafetaria.

Mata Kris membesar, kepalanya terasa panas dan sesuatu mendidih didalamnya. Ia langsung menarik kerah baju Hyunseung dan melayangkan pukulannya ke wajah pria itu.

DUAKK!! BRUKK!!

Hyunseung terlempar ke meja dibelakangnya. Kepalanya sempat merasa pusing beberapa saat, sudut bibirnya terasa perih. Ia menjilat sudut bibirnya dan menyeka darah yang keluar dari luka itu. ia tertawa kecil dan kembali menatap Kris.

Teman-teman Hyunseung berdiri, namun Junhyung menahan mereka untuk membiarkan Hyunseung menyelesaikan masalahnya secara pria.

Hyuna berdiri sambil menatap Hyunseung tak percaya, lalu memandang Kris. “Oppa?”

“Cih.. seharusnya aku tau..” gumam Hyunseung menahan kemarahannya.

“Anda melewati batasan yang kuberikan, Jang Hyunseung-ssi..” ucap Kris dingin.

Hyunseung berdiri tegak dan melangkah maju, “Kau menyukai tunanganku, benarkan?”

Hyuna menatap Hyunseung tak mengerti.

“Mantan tunanganmu, Jang Hyunseung-ssi..” ucap Kris tetap berusaha sopan meskipun nada biacaranya terdengar mengerikan.

“Aku tidak pernah menerima pembatalan itu..” ucap Hyunseung menantang Kris.

Hyuna memandang Kris dan Hyunseung bergantian.

“Anda egois Jang Hyunseung-ssi..” ucap Kris, “Jika anda hanya ingin status, jangan sakiti nona muda saya. Anda bisa mencari gadis lain..”ucapnya.

“Wae? Agar kau bisa menjalin hubungan dengannya?” Tanya Hyunseung sinis.

Kris tersenyum, lalu memandang Hyuna yang tampak bingung sambil membelai rambut panjang gadis itu lembut.

Hyunseung terbakar emosi melihat tatapan Kris pada Hyuna, sekarang dia yang menarik kerah baju Kris dan melayangkan pukulannya.

DUAKK!!!

“Kyaa!! Oppa!!” teriak Hyuna histeris, lalu menatap Hyunseung tak percaya.

Hyunseung mengelus kepalan tangannya yang tadi memukul wajah Kris sambil menatap pria itu tajam.

Kris memegang rahangnya yang terasa nyeri.

Hyuna menghampiri Kris dan memegang lengannya, “Oppa, gwenchana?”

Hyunseung tertegun Hyuna menghampiri Kris, “Kim Hyuna!”

Kris memegang tangan Hyuna yang memegang lengannya, “Gwenchana Agassi..” ucapnya pelan.

Hyunseung menarik Hyuna dengan kasar ke sisinya, “Hyuna! Apa yang kau lakukan?!”

Hyuna mendorong Hyunseung dengan satu tangannya, “Oppa! Aku tidak ingin menjadi tunanganmu lagi!!” serunya.

Hyunseung terluka mendengar ucapan Hyuna, “Wae? Hyuna-a..”

Hyuna menatap Hyunseung dengan perasaan terluka, bulir air matanya kembali berjatuhan. “Karena aku bukan Yuri eonni, oppa..”

Hyunseung tertegun, “Apa maksudmu?”

“Kau hanya mencintai Yuri eonni, meskipun waktu terus bergulir dan jarak sudah memisahkan kalian. Tapi hatimu tetap mencintainya.. Aku tidak bisa menggantikan Yuri eonni di hatimu.. Aku tidak mau menghalangimu lagi untuk bersamanya, jadi aku memutuskan berhenti..” ucap Hyuna pelan, lalu menunduk menahan air matanya.

Hyunseung merasa bersalah sambil menatap Hyuna sedih, “Karena kau bukan Yuri, Hyuna..”

Hyuna menarik tangannya dari pegangan Hyunseung dan memalingkan wajahnya, “Aku tidak mau berbicara denganmu lagi..” ucapnya tanpa memandang pria itu dan langsung berbalik.

Hyunseung kembali menarik Hyuna agar memandangnya, “Jebal Hyuna..” pintanya.

“Oppa! Berhenti berbicara padaku!!” seru Hyuna dengan bulir air mata berjatuhan.

“Bagaimana aku bisa berhenti?!” seru Hyunseung ikut emosi.

Kris menghampiri Hyunseung dan menarik bahu pria itu, lalu melayangkan pukulannya ke wajah pria itu lagi.

“Oppa!!” seru Hyuna kaget.

Kris menahan tangannya sedetik sebelum membentur wajah di hadapannya. Bukan wajah Hyunseung, tapi Hyuna yang memejamkan matanya erat sambil melindungi Hyunseung. Kemarahannya langsung lenyap sambil menatap gadis itu tak percaya. Setelah yang pria itu lakukan, Hyuna tetap melakukan ini dengan spontan.

Hyuna membuka matanya perlahan dan melihat tatapan mata Kris memperlihatkan luka di hati pria itu. “Oppa..”

Kris mundur selangkah dan memalingkan wajah dinginnya, “Ayo pergi Agassi..” ucpanya, lalu melangkah pergi.

Hyuna memperhatikan Kris pergi dengan perasaan bersalah. Ia membuat Kris terluka lagi.

Hyunseung langsung membalik tubuh Hyuna  dan memegang kedua bahunya sambil menatap kedua matanya serius, “Gwenchana?”

Hyuna menunduk sedih.

“Hyuna-a..” ucap Hyunseung sambil memegang dagu Hyuna agar memandangnya.

Hyuna mengangkat wajahnya memandang Hyunseung, lalu melepaskan kedua tangan pria itu di bahunya. “Jangan bicara padaku lagi..” ucapnya pelan, lalu melangkah mengikuti Kris.

Hyunseung tertegun mendengar ucapan Hyuna, “Hyuna?”

Sepulang Sekolah.

Hyunseung berjalan di belakang teman-temannya tanpa ekspresi, ia tak bisa melupakan kejadian di kafetaria tadi. Ia tahu Hyuna terluka karenanya dan ia menyadari apa yang gadis itu ucapkan tentang Yuri benar. Hingga ia menyadari Hyuna sangat berarti baginya.

“Oh.. itu Hyuna..” ucap Yoseob.

Kepala Hyunseung menoleh. Dahinya berkerut melihat Hyuna tersenyum manis sambil memeluk lengan Kris yang membawakan tas gadis itu.

“Ini perasaanku saja atau Hyuna memang memiliki kepribadian ganda ya?” ucap Dujun tak mengerti.

“Ya!” seru Junhyung tertahan pada Dujun.

Hyunseung benar-benar tak mengerti. Hyuna bisa berubah drastis dalam beberapa menit. ‘Bagaimana mungkin?’ batinnya tak mengerti.

Kris membukakan pintu untuk Hyuna dan menunggu gadis itu masuk, lalu memberikan tas gadis itu kedalam. Setelah itu menutup pintu dan masuk ke kursi kemudi.

Selama perjalanan pulang, Kris sama sekali tidak mengatakan apa pun. Hatinya merasa sakit karena Hyuna masih mencintai Hyunseung, merasa senang karena gadis itu semakin menderita, juga sangat marah karena gadis itu masih bisa tersenyum manis meskipun luka hatinya sangat dalam.

Hyuna memandang Kris ragu, “Oppa, kau marah padaku?” tanyanya hati-hati.

Kris menghela nafas dalam, “Animida, agassi..” jawabnya pelan tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.

“Kau yakin?” tanya Hyuna tak yakin.

“Ne..” jawab Kris lagi.

Hyuna menghela nafas dalam dan duduk lesu di tempatnya, “Aku tau oppa marah padaku..”

Kris melirik Hyuna dari spion, lalu kembali memandang jalanan. “Untuk apa saya marah pada anda agassi?”

Hyuna memandang Kris sedih, “Entahlah.. aku hanya merasa oppa marah karena kejadian tadi..”

“Sudah saya bilang, saya tidak marah agassi..” Jelas Kris.

Hyuna diam sejenak, lalu tersenyum lebar. “Jinja?”

“Ne..” jawab Kris.

“Gumawoyo oppa..” ucap Hyuna senang.

Kris menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, namun langsung memudarkan senyumannya lagi.

Hyuna melihat bagaimana Kris memudarkan senyuman itu. Ini bukan yang pertama kalinya. Ia sudah sangat sering mengetahui itu namun tak pernah mengatakan apa pun. Karena ia tau semua yang dirasakan Kris adalah kesalahannya. “Mmm.. oppa, bagaimana jika kita ke tempat eomma kecelakaan?” tanyanya setelah beberapa saat hening.

Kris melirik kaca spion, “Waeyo agassi?”

“Aku hanya ingin..” jawab Hyuna.

“Hmm.. keure..” jawab Kris.

=Tempat Berkumpul=

Hyunseung melangkah masuk ke tempat billiyard itu dan langsung tertegun melihat Yuri ada diantara teman-temannya. Begitu juga dengan sang gadis.

“Oh.. aku baru ingat sudah ada janji.. Bye semua..” ucap Yuri sambil menyandang tasnya dan melangkah menuju pintu.

“Yuri, tunggu..” panggil Hyunseung.

Yuri berhenti dan berdiri canggung beberapa saat, lalu memandang Hyunseung sambil tersenyum. “Oh.. Hyunseung, kau sudah datang?”

Hyunseung menghela nafas dalam, “Bisa kita bicara sebentar?”

Yuri melirik teman-temannya yang lain yang tampak pura-pura sibuk sendiri, lalu kembali memandang Hyunseung. “Keure..”

Hyunseung berbalik dan melangkah keluar tempat itu, lalu masuk ke mobilnya. Tak lama Yuri ikut masuk dan duduk canggung selama beberapa menit.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Yuri memulai.

“Mmm.. ini tentang Hyuna..” jawab Hyunseung pelan.

Yuri menggigit bibir bawahnya ragu, lalu memandang Hyunseung. “Apa hubungan kalian benar-benar berakhir?”

Hyunseung diam sejenak memandang tangannya yang memegang stir mobil, lalu memandang Yuri. “Ani, aku tidak akan mengakhirinya semudah itu.” Ucapnya tanpa ragu.

Yuri mengangguk mengerti, “Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?”

Hyunseung menatap Yuri dalam, “Kwon Yuri, jika pertunanganku dan Hyuna dibatalkan. Apa kau akan menerima perasaanku?”

Yuri tertegun mendengar pertanyaan Hyunseung, “Hyunseung?”

Hyunseung menghela nafas dalam dan kembali duduk lurus, “Aku tau..” ucapnya pelan, “Awalnya kupikir aku hanya menyukaimu. Tapi ternyata sekarang Hyuna yang mengambil alih pikiranku. Entah apa yang sebenarnya terjadi padaku..” ucapnya tak mengerti.

Yuri merasa canggung, “Mmm.. Hyunseung, aku menghargai perasaanmu terhadapku. Tapi itu hanya cinta anak-anak, diusia kita yang sekarang kau sudah harus melupakannya..”

Hyunseung kembali memandang Yuri, “Apa kau tidak pernah menyukaiku juga?”

Yuri tertegun mendengar pertanyaan Hyunseung dan tatapan pria itu tepat dimatanya.

“Apa kau pernah?” tanya Hyunseung lagi.

Yuri menunduk bingung.

“Jawab aku Yuri..” pinta Hyunseung.

“Jika aku menjawabnya, apakah akan merubah keadaan sekarang?” tanya Yuri sambil menatap Hyunseung.

“Aku hanya ingin mendengar jawabannya..” ucap Hyunseung pelan.

Yuri menatap Hyunseung tak mengerti, “Untuk apa?”

“Agar aku bisa melepaskan semuanya sekarang..” jawab Hyunseung.

Yuri terdiam, “Ne?”

“Agar aku bisa melepaskan perasaanku padamu, dengan begitu aku hanya akan memupuk perasaanku untuk Hyuna..” jelas Hyunseung. Tampak kesedihan di mata pria itu.

Yuri menatap kedua mata Hyunseung bergantian.

“Jawab aku Kwon Yuri, apa kau pernah menyukaiku juga?” tanya Hyunseung lagi.

Mata Yuri memerah menahan air mata dan segera menunduk, lalu dengan berat hati ia menganggukkan kepalanya.

Hyunseung menghela nafas lega sambil tersenyum, lalu memegang kedua pipi Yuri dan langsung mencium gadis itu lembut.

Yuri tidak menolak ciuman itu. Karena ia memang menyimpan perasaan untuk sahabatnya ini.

Hyunseung melepaskan ciuman itu dan saling bertatapan mata dengan Yuri, perlahan bibirnya kembali membentuk senyuman. “Kwon Yuri, apa kau mau tetap menjadi temanku seperti dulu?”

Yuri menahan tawa dan memukul bahu Hyunseung pelan, “Pabo, kau baru saja menciumku..” ucapnya sebal.

Hyunseung tertawa kecil, “Gumopta, Yuri-a…”

Yuri mengangguk, “Ne, chingu..”

=Pinggiran Kota=

Kris melirik Hyuna yang masih duduk di tempatnya sejak mereka tiba satu jam yang lalu, “Agassi, anda tidak akan turun?”

Hyuna memandang Kris, lalu memandang ke dinding batu yang menghabisi nyawa ibunya 8 tahun lalu. “Aku ingin duduk disini saja..” ucapnya pelan.

“Hmm..” gumam Kris mengerti.

Hyuna kembali memandang Kris yang terlihat sangat tenang, “Oppa..”

Kris memutar setengah badannya ke belakang untuk memandang Hyuna, “Ne, agassi?”

“Apa kau pernah merasakan sangat kesepian?” tanya Hyuna.

Kris diam sejenak sambil berpikir, lalu mengangguk. “Ne, agassi..”

“Apa kau pernah merasa kau harus tetap hidup untuk seseorang?” tanya Hyuna lagi.

Kris kembali diam sejenak dengan tatapan tak mengerti pada Hyuna, “Pernah..”

Hyuna tersenyum, “Apa orang yang kau cintai?”

Kris diam sejenak untuk berpikir sambil memalingkan wajahnya, “Awalnya tidak..” jawabnya pelan.

“Sekarang?” tanya Hyuna lagi.

Kris menghela nafas dalam dan memandang Hyuna, “Kurasa iya..” jawabnya pelan.

Hyuna tertawa kecil, “Sepertinya dia sangat berarti..”

Kris mengangguk, “Ne..”

Hyuna menghela nafas sejenak masih sambil tersenyum, “Tapi oppa, ibuku pernah berkata kalau mencintai seseorang berarti membuat dirimu terluka. Apa kau juga merasakannya?”

‘Baru saja..’ batin Kris, “Ne..” jawab mulutnya.

“Oppa, jangan mencintainya. Jika kau mencintainya, kau akan melupakan rencana hidupmu. Kau akan merasa kehilangan arah hingga tak bisa kemana pun lagi selain datang padanya, padahal kau akan terluka lagi dan lagi.” Ucap Hyuna, lalu tertawa kecil sambil memegang pipinya. “Omo.. aku jadi spesialis cinta..” candanya.

Kris tersenyum, “Apakah itu pengalaman pribadimu agassi?” candanya.

Hyuna tertawa malu, “Ahh.. aku malu..” ucapnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Kris tak bisa menahan senyumannya melihat Hyuna tidak terpengaruh dengan masalah Hyunseung.

“Oppa, ayo kita pulang.. Aku lapar..” ucap Hyuna masih sambil tersenyum.

Kris mengangguk, “Baik, agassi..” ucapnya, lalu kembali duduk lurus dan menghidupkan mesin.

=Malamnya=

Kamar Hyuna.

Hyuna berbaring di tempat tidurnya sambil memandang langit-langit kamar tanpa ekspresi. Namun bulir air matanya terus mengalir. Rasanya ia tak sanggup bangkit lagi setelah melepaskan Hyunseung. ‘Eomma, mungkin aku akan segera menemuimu..’ batinnya.

Kamar Kris.

Kris duduk di pinggir tempat tidurnya sambil memandangi tabung berisi kapsul berwarna oranye dan merah itu. Matanya bergerak memandang photo yang terpajang di meja. Photo sebuah keluarga yang terlihat bahagia, “Aku tidak tau apa yang harus kulakukan..” gumamnya. Tangannya menggenggam tabung itu dan memejamkan matanya sesaat.

“Oppa, jangan mencintainya. Jika kau mencintainya, kau akan melupakan rencana hidupmu. Kau akan merasa kehilangan arah hingga tak bisa kemana pun lagi selain datang padanya, padahal kau akan terluka lagi dan lagi.”

Mata Kris kembali terbuka mengingat ucapan Hyuna itu. Perlahan bibirnya membentuk senyuman sinis, “Benar, aku mencintainya karena aku ingin membantunya.” Gumamnya, lalu memandang tabung di tangannya. “Aku akan mengakhiri penderitaan cintanya pada Hyunseung..” ucapnya penuh kebencian dan kembali memandang photo tadi.

Kamar Hyunseung.

Hyunseung tak bisa tenang karena Hyuna tak juga mengaktifkan ponselnya. “Hyuna.. aktifkan ponselmu!!” gumamnya sambil terus mencoba menghubungi gadis itu.

=Rumah Keluarga Kim=

Seorang pelayan menghampiri kamar Hyuna dan mengetuk pintunya, “Agassi..” panggilnya, lalu mengetuk sekali lagi. “Agassi, sudah saatnya bangun..” ia mendekatkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan Hyuna menjawab, namun tak ada jawaban. Tangannya kembali mengetuk dengan lebih keras, “Agassi..” panggilnya. Tetap tak ada jawaban. “Agassi?” panggilnya lagi.

“Uhuk.. uhuk..”

Pelayan itu tertegun mendengar suara batuk Hyuna yang terdengar lemah, ia langsung membuka pintu dan memandang ke tempat tidur. Nona mudanya tampak masih berbaring dengan keringat membasahi wajahnya. “Agassi!!” serunya sambil menghampiri Hyuna dan menempelkan punggung tangannya ke dahi gadis itu. “Omo!!” ucapnya kaget karena suhu tubuh gadis itu sangat tingi.

=Sekolah=

Hyunseung menunggu di depan sekolah hingga Hyuna tiba, namun gadis itu tak knjung muncul hingga bel berbunyi. “Dimana dia?” gumamnya. Karena tak juga melihat gadis itu ketika istirahat, ia menemui wali kelas gadis itu.

“Oh, Jang Hyunseung. Ada apa?” tanya wali kelas Hyuna.

“Sonsaengnim, bisakah aku tau mengapa Hyuna tidak datang?” tanya Hyunseung ingin tau.

Wali kelas Hyuna tertegun, “Omo, berita pertunangan kalian itu batal benar? Kupikir hanya rumor..” ucapnya tak percaya.

“Aniya sonsaengnim, hanya kesalahpahaman. Tapi aku akan segera memperbaikinya..” jawab Hyunseung, “Jadi, kenapa dia tidak hadir?”

“Oh. Hyuna panas tinggi pagi ini, jadi dia akan beristirahat dirumah saja..” jawab wali kelas Hyuna.

Mata Hyunseung membesar, “Ne?!”

=Rumah Keluarga Kim=

Kris melangkah masuk ke dapur dan menemui seorang pelayan, “Pelayan Jin, Hyuna agassi berkata ingin segelas air putih..”

“Ne..” jawab pelayan itu dan segera mengambilkan segelas air putih dan memberikannya pada Kris, “Apa anda yang akan membawanya?”

“Ne, gamshamida..” ucap Kris dan kembali ke lantai atas.

Panas Hyuna sudah turun, namun masih butuh waktu untuk penyembuhan. Dokter yang memeriksanya berkata gadis itu tidak sakit, melainkan depresi. Semua orang sudah bisa menebak itu pasti karena berakhirnya hubungannya dengan Hyunseung. Dan semua orang merasa iba padanya. Namun bagi Kris, ini adalah saat yang tepat untuk menjalankan rencananya.

Hyuna tersenyum melihat Kris masuk dan bergerak duduk.

“Tidak perlu bangkit, agassi..” ucap Kris sambil meletakkan gelas air di meja dan duduk di sebelah Hyuna.

Hyuna tampak senang Kris ada bersamanya, “Apakah harabeutji dirumah?”

“Animida agassi, tuan besar sudah pergi sejak pagi..” jawab Kris.

“Hmm.. aku pasti membuat harabeutji khawatir padahal masih sibuk dengan pekerjaannya..” ucap Hyuna menyesal.

“Tentu saja tuan besar khawatir..” ucap Kris, “Tapi tidak akan lagi..”

Hyuna memandang Kris bingung, “Wae?”

Kris tersenyum dan mengambil gelas tadi, juga sebuah kapsul berwarna oranye dan merah. “Ini, minumlah..”

Hyuna memandang kapsul itu bingung dan kembali memandang Kris, “Apa ini?”

“Ini akan membuatmu merasa lebih baik.. Dengan begitu tuan besar tidak perlu mengkhawatirkan dirimu lagi..” jawab Kris.

Hyuna tersenyum, lalu mengambil kapsul dan gelas itu. Juga tanpa ragu memasukkannya ke mulut dan mendorongnya dengan air.

Kris tersenyum melihat Hyuna meminum obat itu tanpa ragu.

Hyuna mengembalikan gelas pada Kris, “Ini..”

Kris kembali meletakkan gelas ke meja dan memandang Hyuna, “Nah.. tidurlah, saya akan menunggu diluar..” ucapnya sambil bangkit.

“Ne? Kenapa oppa tidak menemaniku sebentar?” tanya Hyuna.

Kris diam sejenak memandang Hyuna, lalu mengangguk.

Hyuna tersenyum lebar dan menarik Kris agar mendekat kesisinya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu. “Hmm.. aku senang oppa ada disini..”

Kris merasa bersalah, namun ia tetap mempertahankan wajah tenangnya. “Hmm..”

Hyuna menghela nafas dalam sambil memandang kosong kedepan, “Kuharap aku masih bisa menghabiskan waktu bersama Hyunseung oppa..” ucapnya pelan.

Kris memutar bola matanya kesal, ‘Pria itu lagi..’ batinnya.

Tangan Hyuna bergerak memeluk lengan Kris, “Oppa, terima kasih sudah berada disisiku hingga saat ini..”

Kris memandang Hyuna, gadis itu terdengar sedih.

Bibir Hyuna membentuk senyuman sedih, “Oppa, sebenarnya… selama ini aku selalu merasa sendiri..”

“Hm? Wae? bukankah anda selalu bersama teman-teman anda, tuan besar dan ayah anda?” tanya Kris.

“Ani..” jawab Hyuna, “Jaekyung dan Minah berteman denganku karena aku selalu memberikan mereka hadiah mahal. Harabeutji sebenarnya selalu membenciku, karena itu dia tak pernah menghabiskan waktunya bersamaku. Juga appa, sebenarnya tidak ingin aku hadir dalam hidupnya karena itu ia tinggal diluar negeri.”

Kris tertegun mendengar ucapan Hyuna.

“Oppa, apa kau tau juga kalau eomma meninggal karena kecelakaan?” tanya Hyuna masih tetap memandang kosong kedepan.

“Ne..” jawab Kris pelan.

Hyuna menghela nafas dalam dan menatap kebawah sedih, “Aniya.. itu bukan kecelakaan..”

“Apa maksudmu agassi?” tanya Kris tak mengerti.

“Eomma sengaja menabrakkan mobilnya ke dinding itu..” jawab Hyuna.

Kris memandang Hyuna yang tidak memandangnya, “Ne?! Bagaimana anda tau?”

Hyuna mengingat malam dimana ibunya kecelakaan. Ibunya masuk ke kamarnya dan berbicara padanya. “Sebelum eomma mengalami kecelakaan itu. Eomma masuk ke kamarku dan berkata kalau ia sangat mencintaiku. Dan berkata kalau appa membuatnya terluka. Eomma menangis malam itu tapi aku tidak mengerti apa yang terjadi. Hingga aku menyadari itu adalah salam perpisahan dari eomma yang memang ingin mengakhiri hidupnya.”

Kris memandang kedepan tak mengerti sambil berusaha mencerna ucapan Hyuna, “Tapi, kenapa anda tidak memberitaukannya pada tuan besar atau ayah anda?”

Sebulir air jatuh dari mata Hyuna, “Jika aku mengatakannya, semua orang akan tau akulah yang menyebabkan semua penderitaan ibuku..”

Dahi Kris berkerut dan memegang tangan Hyuna yang memeluk lengannya, “Agassi, saya tidak mengerti..”

Bulir air semakin banyak berjatuhan dari mata Hyuna, “Ibuku selalu menderita karena kehadiranku.” Ucapnya pelan, “Jika ibuku tidak mengandung diriku, mungkin ibuku tidak akan menikah dengan ayahku. Harabeutji sama sekali tidak menyetujuinya, tapi eomma sudah mengandung diriku dan tidak mau menggugurkannya. Karena mencintai jabang bayinya, eomma menikah dengan pria yang tidak pernah mencintainya. Karena mencintai putrinya, ia hanya bisa menangis ketika menyadari ia telah melahirkan anak dari pria yang selalu menyakitinya. Harabeutji tidak pernah berbicara padaku hingga eomma meninggal. Harabeutji menampungku dirumahnya karena appa tidak mau menjagaku. Aku tau setiap kali harabeutji memandangku, ia akan merasa terluka karena putrinya meninggal karena mempertahankanku.”

Kris benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, “Agassi?”

“Setelah eomma pergi. Semua orang memandangku iba. Jadi aku memutuskan untuk bersikap naif agar mereka tetap peduli padaku. Meskipun aku tau mereka tidak pernah menganggapku ada. 8 tahun… sudah 8 tahun aku hidup dengan sandiwaraku sendiri..” ucap Hyuna dengan bulir air mata terus berjatuhan. Ia mengangkat kepalanya dan memandang Kris, “Aku tidak akan bersandiwara lagi. Aku sudah lelah..”

Kris menatap kedua mata Hyuna sedih, lalu mengangguk. “Ne.. Anda akan segera merasa lebih baik..”

Hyuna tersenyum dan mengangguk, “Ne.. Gumawoyo oppa..”

Kris menyeka air mata Hyuna, “Tidurlah agassi..”

Hyuna memegang tangan Kris yang menyeka air matanya sambil tetap tersenyum, kedua matanya memancarkan rasa terima kasih yang dalam. Dan itu membuat Kris semakin bersalah.

Kris memalingkan wajahnya agar tidak runtuh karena tatapan Hyuna.

“Mianeyo, oppa..” ucap Hyuna sepenuh hati.

“Anda tidak memiliki kesalahan apa pun pada saya agassi, anda bisa beristirahat sekarang..” ucap Kris tanpa memandang Hyuna.

Hyuna menatap wajah Kris menyesal, “Oppa, apa yang menimpa keluargamu adalah kesalahanku..”

Kris tertegun dan memandang Hyuna tak mengerti.

Bulir air mata Hyuna kembali mengalir menatap Kris, “Jika bukan karenaku, eomma tidak akan melakukan bunuh diri hingga membuat keluargamu juga meninggal dalam kecelakaan itu..”

Mata Kris membesar mendengar ucapan Hyuna, “Agassi?”

Hyuna memeluk tubuh Kris dan memejamkan matanya sambil menyandarkan pipinya ke dada pria itu, “Sekarang aku akan beristirahat, gumopta oppa..”

Kris langsung mendorong kedua bahu Hyuna dan menatap gadis itu tak percaya. “Agassi?! Sejak kapan kau mengetahui itu?!”

Hyuna menatap Kris menyesal, “Sejak kau datang kerumah ini..”

Kris menatap kedua mata Hyuna gusar, “Lalu kenapa anda tidak pernah mengatakan apa pun?!”

“Karena…” Hyuna menatap kedua mata Kris, memperlihatkan betapa menderitanya ia selama ini. “Jika oppa juga pergi, siapa yang akan menemaniku?”

Kedua tangan Kris memegang pipi Hyuna, seluruh tubuhnya gemetaran. Bulir air matanya mengalir begitu saja. “A-agassi..”

Hyuna menyeka air mata Kris, “Gwenchana oppa, aku akan beristirahat sekarang..”

“Andwae!! Kau tidak bisa beristirahat! Muntahkan kapsul tadi!!” seru Kris sambil memegang dagu Hyuna.

Hyuna mendorong tangan Kris, “Gwenchana oppa, aku tau itu bukan vitamin.”

Mata Kris semakin membesar mendengar ucapan Hyuna, “Lalu kenapa kau meminumnya?” tanyanya frustasi.

“Karena aku mempersiapkan diriku untuk hari ini..” jawab Hyuna.

Bulir air mata Kris semakin deras berjatuhan bersama rasa bersalahnya, “Andwae!! Anda harus memuntahkannya agassi!!” ucapnya sambil mencengkeram dagu Hyuna dan memaksa dua jarinya masuk ke mulut gadis itu.

Hyuna berusaha berteriak dan mendorong Kris, namun pria itu terlalu kuat. “HMMMPP!!!”

Kris menambah kekuatan tangannya, namun karena Hyuna terus memberontak ia dan gadis itu terjatuh dari tempat tidur dan berguling ke lantai.

Hyuna terbatuk-batuk sambil memegang lehernya.

Kris tidak menyerah, ia kembali mencengkeram dagu Hyuna dan memasukkan dua jarinya.

Hyuna memejamkan matanya menahan sakit karena Kris membuatnya tersedak, ketika jari pria itu mengenai pangkal lidahnya, ia langsung merasa mual dan muntah.

Kris tak peduli muntahan Hyuna mengenai bajunya, ia harus mengeluarkan kapsul tadi sebelum mulai bekerja. Ia kembali memasukkan tangannya ke mulut Hyuna dan memaksa gadis itu untuk muntah sekali lagi.

Seorang pelayan yang mendengar keributan dari kamar Hyuna terkejut melihat Kris seperti akan mencongkel tenggorokan Hyuna, “KRIS-SSI!!” teriaknya panik.

Kris tidak ada waktu untuk mendengarkan orang lain, yang terpenting sekarang Hyuna memuntahkan kapsul tadi.

“Uhuk.. uhuk..” batuk Hyuna sambil memegang lehernya, kerongkongannya terasa sakit karena dipaksa muntah berkali-kali. Tapi Kris kembali memasukkan jari kemulutnya, “Hmmmp!!” ia berusha memukul pria itu namun tenaganya sudah terkuras karena muntah terus menerus.

“Muntahkan agassi!!” seru Kris frustasi.

“Kris-ssi hentikan!!” teriak pelayan tadi.

Hyunseung yang datang ke rumah Hyuna karena mendengar gadis itu sakit muncul dipintu dan terkejut melihat apa yang dilakukan Kris, “YA!!!!” teriaknya sambil berlari menghampiri pria itu.

DUAKK!! Kaki Hyunseung menendang wajah Kris hingga terjungkal ke belakang.

Hyuna terlihat akan memuntahkan sesuatu begitu jari Kris keluar dari mulutnya, kerongkongannya terasa sakit. Bulir air matanya terus mengalir karena itu.

Hyunseung merangkul Hyuna dan menatapnya panik, “Hyuna! Apa yang dia lakukan padamu?!!”

Sekali lagi, Hyuna memuntahkan sesuatu dari perutnya.

Mata Hyunseung melotot melihat Hyuna memuntahkan darah, “Hyuna!!” serunya kaget.

Hyuna tak bisa menahan rasa sakitnya dan tak sadarkan diri.

“Hyuna!!” Hyunseung menarik Hyuna ke dadanya dan mengguncang tubuh gadis itu, tidak peduli darah yang mengalir dari mulut gadis itu juga membasahi seragamnya. “Siapa saja!! Panggil Ambulance!!!” teriaknya.

=Rumah Sakit=

Hyuna langsung mendapat pertolongan dan sudah dalam keadaan baik sekarang. Beruntung kapsul itu langsung keluar sebelum sempat bekerja di dalam tubuh Hyuna. Namun efek obat tidur yang keras yang sudah di cerna tubuhnya masih membuatnya belum sadarakan diri.

Hyunseung menatap Hyuna sedih sambil mengelus rambut gadis itu, “Hyuna-a, aku ada disini. Jangan khawatir..” ucapnya pelan.

Sementara itu diluar.

Kakek Hyuna duduk di kursi tunggu dengan wajah marah, tak jauh di depannya Kris berlutut dengan kepala tertunduk. “Jadi ini yang kau rencanakan selama ini?”

Kris semakin menundukkan kepalanya, “Cesonghamida..” ucapnya pelan.

Kakek Hyuna menggemertakkan giginya, “Kau pikir ucapan maaf akan menyelesaikan semuanya?”

“Aku tau apa yang kulakukan adalah kesalahan besar. Aku akan menebusnya..” ucap Kris dengan suara bergetar.

“Cih.. hukuman mati pun tak akan bisa menebusnya!” ucap kakek Hyuna marah.

Kris mengangkat wajahnya memandang kakek Hyuna penuh kebencian, “Tuan besar, awalnya aku masuk kerumahmu untuk membalaskan dendam pada Hyuna.”

Kakek menatap Kris dengan mata menyipit.

“Tapi setelah aku tau apa yang terjadi padanya, aku justru ingin membantunya..” lanjut Kris.

“Dengan berencana membunuhnya?!” tanya kakek emosi.

Kris tersenyum sinis, “Dia sangat menderita karena tidak ada seorang pun yang peduli padanya. Karena itu aku ingin membebaskannya dari rasa penderitaan itu.. Bukankah ia akan bahagia jika berkumpul lagi dengan ibunya?”

Kemarahan Kakek memuncak, dengan cepat ia berdiri dan melayangkan tongkat yang ia pegang ke wajah Kris.

DUAK! Wajah Kris memandang ke satu sisi akibat pukulan itu, terlihat luka gores yang langsung mengeluarkan darah di pipinya. Bibirnya masih membentuk senyuman sinis dan kembali memandang kakek Hyuna. “Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan padaku. Hyuna akan segera mati dan semua rencanaku selesai..”

Kakek menatap Kris penuh kebencian, “Bawa pria ini dan beri pelajaran yang cukup untuknya!” ucapnya marah.

Kris tidak bergerak ketika para pengawal kakek Hyuna menghampiri dirinya dan menariknya berdiri, “Selamat tinggal kakek tua..” ucapnya sembari di seret pergi.

Kakek Hyuna terduduk di tempatnya sambil memikirkan kondisi Hyuna, ia sangat menyesal membuat gadis itu menderita seorang diri dan hanya memikirkan perasaannya.

=Pinggiran Kota=

Kris menyadari mobil yang membawanya bukan menuju kantor polisi, melainkan tempat orangtuanya dan ibu Hyuna meninggal. Dengan kasar para pengawal itu menendangnya keluar hingga terjungkal ke tanah. Belum sempat ia bangkit sebuah tongkat baseball mengenai wajahnya, lalu tendangan demi tendangan bertubi-tubi mengenai tubuhnya. “Uhuk..” ia memuntahkan darah karena seluruh tubuhnya terasa remuk.

“Kau pantas mendapatkan ini!” ucap seorang pengawal dan kembali menendangi Kris.

Kris sama sekali tidak melawan. Ia menyadari apa yang telah ia lakukan pada Hyuna adalah salah besar. Ia tak seharusnya membuat gadis itu menderita. Penderitaannya tidak sebanding dengan Hyuna yang selalu tersenyum meskipun ia ingin membunuh dirinya karena perasaan sepi itu. Setelah beberapa menit tidak ada lagi pukulan yang dirasakan tubuh Kris, samar-samar telinganya mendengar mesin mobil menyala dan berjalan pergi. Tubuhnya terasa hancur. Tidak ada yang bisa ia rasakan selain rasa sakit.

Entah berapa lama Kris berbaring disana, rasa sakitnya berkurang namun tetap membuatnya tak bisa bergerak. Perlahan matanya bergerak terbuka dan memandang langit malam yang sangat cerah. Bibirnya membentuk senyuman mengingat Hyuna baik-baik saja. Gadis itu masih tetap hidup meskipun sempat menelan kapsul mematikan itu. Ia semakin tertawa mengingat ia tidak sampai membuat hidup gadis itu hancur. Namun bulir air mengalir dari sudut matanya mengingat ia tidak akan bisa bersama gadis itu lagi. Perlahan ia bergerak bangkit, namun semuanya terasa bergoyang hingga dia kembali terbanting ke tanah. Ia menelan ludah dan berusaha mengumpulkan tenaganya. Dengan tangan gemetaran ia mendorong tubuhnya bangkit dan berdiri, meskipun langkahnya sempoyongan dan selalu hampir kembali terjatuh ke tanah. Ia terus melangkah maju mendekati dinding batu itu. Ia hampir terjungkal dan mendarat di permukaan dinding. Darah mengalir dari dahinya dan menetes jatuh dari dagunya. Matanya berusaha terbuka dan memandang ukiran nyata di permukaan dinding akibat benturan mobil 8 tahun lalu.

Dari kejauhan terdengar deru mesin mendekat. Kris tidak bergeming sama sekali. Saat ia sudah melihat cahaya lampu kendaraan, ia  mendorong tubuhnya menjauh dari dinding dan berjalan mudur beberapa langkah. Ia tak ingin hidup dengan rasa sesal pada keluarganya, pada Hyuna, juga pada siapa pun yang mengetahui tentang kejahatannya. Ia memejamkan mata dan menunggu kendaraan itu membentur tubuhnya.

“OPPA!!”

Mata Kris terbuka karena seperti mendengar suara Hyuna, saat itu ia menyadari truk besar yang mengarah padanya sudah menekan klakson panjang. Dengan cepat ia kembali ke dinding batu itu untuk menyelamatkan dirinya. Matanya terpejam ketika batu-batu kerikil berterbangan di belakangnya. Setelah beberapa saat kendaraan itu berlalu, ia membuka matanya perlahan. Ia berbalik dan menyandarkan punggungnya ke dinding batu, tubuhnya merosot dan duduk ke jalanan. Bibirnya membentuk senyuman sambil memandang langit, “Gumopta agassi..” gumamnya.

=Dua Bulan Kemudian=

Kris melangkah bersama sipir penjara menuju ruangan pertemuan. Ia sempat tertegun melihat Hyuna yang duduk di balik meja yang diberi batasan kaca transparan itu.

Hyuna langsung mengambil gagang telepon berwarna hitam itu dan menempelkannya ketelinga sambil memandang Kris.

Kris merasa sangat malu berhadapan dengan Hyuna lagi, apalagi sekarang ia mengenakan seragam napi dan kedua tangan yang terborgol.

Hyuna menatap Kris memelas agar pria itu mau berbicara padanya.

“Waktumu 30 menit..” ucap sipir yang membawa Kris dan melangkah mundur.

Kris menundukkan kepalanya dan bergerak duduk, lalu mengambil gagang telepon dengan kedua tangannya yang terborgol. Ia menempelkan gagang itu ke telinganya dan memandang Hyuna.

“Oppa, gwenchana?” tanya Hyuna.

Kris menelan ludah untuk melancarkan kerongkongannya dan mengangguk, “Ne, agassi..”

Mata Hyuna mulai memerah dan bulir-bulir air berjatuhan, “Oppa, kenapa kau tidak membiarkan aku mati saja? Dengan begitu kau tidak perlu seperti ini..”

Kris sangat sedih melihat Hyuna menangis, matanya ikut memerah menahan tangis. “Aku tidak bisa agassi.. Anda terlalu berharga untuk mati seperti itu..”

“Oppa, lalu bagaimana sekarang?” tanya Hyuna.

Kris diam sejenak menatap Hyuna, “Aku tidak ingin anda bersandiwara lagi, jadilah dirimu. Jika kau tidak suka, tunjukkan dengan jelas. Jika kau menderita, menangislah di depan semua orang agar mereka tau apa yang kau rasakan. Araso?”

Bulir air mata Hyuna terus berjatuhan ketika ia menganggukkan kepalanya, “Ne, oppa..”

Perlahan bibir Kris membentuk senyuman, namun bulir air matanya mulai berjatuhan. “Jaga dirimu, agassi..” ucapnya tulus.

“Kau juga oppa..” ucap Hyuna.

Kris kembali meletakkan gagang telepon dan bangkit tanpa memandang Hyuna lagi.

Hyuna memperhatikan Kris kembali masuk bersama sipir penjara beberapa saat, lalu menyeka air matanya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Begitu keluar dari penjara itu, ia tertegun melihat Hyunseung berdiri disebelah mobil yang mengantarkannya.

Hyunseung memandang Hyuna dan tersenyum, “Sudah selesai?”

Hyuna melangkah pelan menghampiri Hyunseung, “Oppa, kenapa disini?”

“Aku ingin menemuimu..” jawab Hyunseung.

“Oppa, tidak ada gunanya berbicara denganku lagi. Aku tidak ingin–” ucapan Hyuna terputus karena tiba-tiba Hyunseung mencium bibirnya. Matanya membesar dan menatap pria itu tak percaya.

Hyunseung tersenyum, “Karena kau bukan Yuri, Hyuna..” ucapnya pelan, “Yuri adalah cinta masa laluku yang harus kubuang untuk mendapatkan masa depanku, yaitu kau..”

Hyuna tertegun mendengar ucapan Hyunseung, “Oppa?”

“Jadi, apa aku bisa berbicara denganmu sekarang?” tanya Hyunseung.

Perlahan bibir Hyuna membentuk senyuman dan menunduk malu, “Mmmm…”

Hyunseung membuka kan pintu, “Ayo, kita berbicara dalam perjalanan…”

Hyuna mengangguk dan melangkah masuk ke mobil, lalu pria itu juga ikut masuk.

=15 Tahun Kemudian=

Pintu penjara terbuka, keluar Kris dengan wajah tak terawat dan baju kaus lusuhnya. Ia berhenti di depan pintu dan memandang langit, akhirnya ia bisa menghirup udara bebas lagi sekarang. Matanya terpajam dan menghirup udara memenuhi paru-parunya, lalu tersenyum tipis. Kakinya melangkah ke meninggalkan tempat penuh sesak itu dibelakangnya.

…………………………………………………………

Kris berdiri di depan pagar rumah besar itu sambil memperhatikan rumah mewah itu, bibirnya membentuk senyuman mengingat seorang gadis yang biasa ia antar kemana pun 15 tahun lalu. Namun sekarang semua itu hanya kenangan. Ia tidak akan bisa melakukan itu lagi sekarang. Usianya sudah tidak muda lagi dan tentunya tidak akan bisa melindungi gadis itu lagi. Perlahan ia berbalik dan melangkah pergi. Dalam hati ia berjanji tidak akan kembali ke rumah itu lagi selamanya. Meskipun bertemu dengan gadis itu, dia tidak akan dikenali lagi karena wajah tuanya.

Sebuah mobil yang berbelok masuk ke rumah besar itu mendadak berhenti, pintu dari kursi sebelah kursi kemudi terbuka. Keluar seorang wanita awal 30-an yang langsung berlari kecil mengejar langkah Kris.

“Oppa..”

Langkah Kris terhenti mendengar suara lembut itu. Suara milik gadis yang hampir ia akhiri hidupnya 15 tahun lalu.

“Kris oppa?” ucap gadis itu menahan tangis.

‘Hyuna..’ batin Kris, perlahan ia berbalik dan memandang Hyuna. Gadis itu terlihat semakin cantik dengan wajah dewasanya. Bibirnya membentuk senyuman melihat gadis yang sudah 15 tahun tak pernah lagi ia lihat itu.

“Oppa..” ucap Hyuna dengan bulir air mata berjatuhan, ia melangkah cepat mendekati Kris dan memeluk pria itu.

Kris memejamkan matanya ketika merasakan kedua tangan Hyuna memeluk tubuhnya, perlahan tangannya terangkat dan mengelus rambut gadis itu.

Hyuna menangis di dada Kris. Ia merindukan pria itu juga sangat bersalah padanya. “Oppa, kenapa kau tidak mau menemuiku lagi? Aku datang setiap minggu untuk menjengukmu..” tangisnya.

Mata Kris mulai basah karena air mata, “Penjara tidak cocok untukmu agassi..”

Hyuna melepaskan pelukannya dan mendongak menatap wajah Kris yang terlihat semakin tua, “Oppa..” ucapnya sedih sambil memegang kedua pipi pria itu.

Kris tersenyum sedih, “Anda semakin cantik, agassi..”

Di dalam mobil.

Hyunseung menatap kedepan dengan wajah sebal menunggu Hyuna yang masih berbicara dengan Kris.

Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun yang duduk di belakang Hyunseung mengerutkan dahi melihat Hyuna sepertinya mengenal pria berantakan seperti Kris, “Appa, pria itu kekasih eomma?” tanyanya polos.

“Ani! Eomma sudah menikah, mana mungkin punya kekasih..” jawab Hyunseung sebal.

“Lalu, ahjussi itu siapa?” tanya anak itu lagi.

Hyunseung memandang kebelakang, “Hanya seorang pria.” Jawabnya.

Gadis kecil berusia 4 tahun ikut memperhatikan dari belakang anak laki-laki tadi, “Oppa, sepertinya eomma dekat dengan ahjussi itu..”

“Jang Hanyeol! Jang Hanbyul! Jangan memperhatikan terus, duduk saja..” ucap Hyunseung memarahi anak-anaknya.

Hanyeol dan Hanbyul memandang Hyunseung bingung.

“Aaaa… appa cemburu ya?” tanya Hanyeol menahan tawa.

Wajah Hyunseung langsung terasa panas, “Aissh.. anak-anak ini..” ucapnya sebal.

Kembali pada Hyuna dan Kris.

“Oppa, kemana kau akan pergi?” tanya Hyuna.

Kris diam sejenak, “Entahlah agassi.. Saya masih memikirkannya..” ucapnya.

Hyuna memegang tangan Kris, “Oppa, maukah kau kembali bekerja bersamaku?”

Kris tertegun mendengar ucapan Hyuna, “Ne?”

Hyuna tersenyum, “Aku ingin oppa menjaga anak-anakku seperti oppa menjagaku dulu..”

Kris mengerutkan dahi, “Anak-anak?”

Hyuna memandang kebelakang, terlihat kedua anaknya memperhatikan dirinya dari mobil. “Hanyeol-a, Hanbyul-a..” panggilnya.

Hanyeol dan Hanbyul senang mereka dipanggil, “Ne, eomma..” jawabnya sambil membuka pintu dan berlari kearah ibunya.

Kris tertegun melihat kedua anak itu terlihat sangat tampan dan cantik, sekilas terlihat seperti Hyuna. Apalagi Hanbyul.

Hyuna tersenyum sambil mengelus kepala kedua anaknya, “Oppa, ini putra dan putriku..” ucapnya.

Kris mengerutkan dahi memandang kedua anak yang sekarang bersembunyi di belakang kaki Hyuna sambil menatapnya ngeri, lalu memandang Hyuna tak percaya. “Kau menikah dengan Jang Hyunseung?”

Hyuna mengangguk, “Ne, oppa..” jawabnya, lalu memandang kedua anaknya. “Ayo beri salam.. Ahjussi ini orang baik, dia yang menjaga eomma dulu..”

Hanyeol keluar dari persembunyiannya dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseo, Jang Hanyeol imnida..”

Hanbyul tidak mau keluar karena terlihat takut pada Kris.

Hyuna tertawa kecil, “Jangan takut Hanbyul..”

Kris tersenyum, “Mereka sangat tampan dan cantik..”

Hyunseung akhirnya keluar dari mobil dan menghampiri Hyuna, “Tentu saja..” ucapnya.

Kris memandang Hyunseung, lalu tersenyum tipis. “Lama tidak berjumpa. Jang Hyunseung-ssi..”

Hyunseung diam sejenak, lalu tersenyum. “Sudah kubilang aku tidak akan melepaskan Hyuna dengan mudah kan?”

Kris tertawa kecil dan mengangguk, “Ne..”

“Oppa, bagaimana? Kau mau kan menjaga anak-anakku?” tanya Hyuna lagi.

Kris kembali tertegun dan memandang Hyunseung.

Hyunseung memandang Hyuna, lalu memandang Kris yang terlihat bingung. Ia menghela nafas dalam dan menggendong Hanbyul yang masih terlihat takut. “Gwenchana Hanbyul-a, ahjussi ini baik..” ucapnya.

Kris tersenyum mendengar ucapan Hyunseung, lalu mengangguk. “Baiklah agassi, saya akan menjaga dua malaikat kecil ini..” ucapnya.

Hyuna tersenyum lebar mendengar ucapan Kris, “Ayo kita masuk..” ajaknya sambil menggandeng tangan Hanyeol, lalu berjalan masuk bersama Hyunseung yang menggendong Hanbyul.

Kris menghela nafas dalam melihat Hyuna tampak lebih ceria. Benar-benar ceria bersama dua anaknya. Kakinya ikut melangkah mengikuti keluarga kecil itu.

====THE END====

Advertisements

21 thoughts on “Set Me Free..

      1. Sama sama, author jjang :D♥ hehe tapi aku masih bingung itu di awal ngapain minah sengaja nyari tau jadwal hyunseung (?)

  1. aaaaaaaaaa *teriakbarengseungi !!!!!!!!!
    hanna hanna aq gg salah km masuk dlm daftar author terbaik dan terfavorit aq , ff km bener” daebak (y)
    diawal aq bingung kenapa am hyuna apa dya punya penyakit atau apa gttu dan ternyata dya depresi terlalu banyak berpikir !!!!!!
    kagak suka adegan kisseu seungi am yuri bikin panas ati *airmanaair 😦

    bener” bikin nyesek dah nie ff >_<
    dan seperti byasa seungi selalu telat menyadari perasaan sendiri , ckckckckckc dasar suami w telmi hohohohohoho
    pokok nya DAEBAK degh (y)
    oke ditunggu ff 2hyun lain nya ^^

    #ppyong

  2. Ceritanya keren (y) kasian hyuna hrus pura2 bhagia pd hal dia sdih..
    Dkira endingnya hyuna bkal sma kris trnyta ma hyunseung jga..

      1. Aku jga bcanya sdih liat hyuna mndrita pa lg pas hyunseung blum cnta ma hyuna trus tman2 hyuna cma manfaatin dia ja..
        Daebak buat authornya (y)

  3. wow . . . . . . cerita ff nie bWat emosi qu naik turun 😥 >:O 😉
    aq kirain hyuna punya penyakit jantung, eh ternyata hyuna depresi kaRna di manfaatin ma tMen”nYa 😥
    pokoknya daebak bWat AUTHORnya n aQ nilai 100 unTuk ff nie (y)
    di tunggu ff 2HYUN laGi . . .

  4. omo…. kenapa yah kalau baca disini selalu bisa bikin mewek.. huaaaaaa aku kira hyuna bakalan ama kris.. tapi finally.. hyuna hyunseung selamanya bersatu.. aduhhh g ada rated 19+ nya yah.. kekeke xD selalu suka ama hyuna hyunseung couple.. daebak authornya~~

  5. huwaaaaaaa hanna unni…
    jinjaaaaa keren bangeeetttt….
    trus bahasa kamuuuu jugaaa..
    slalu bikin jatuh cinta sama karya kamuuu…
    arghhhh bener2 nangis pas hyuna ngeluarin unek2 nya k kris..
    bener2 menderita hidup hyuna unni slama ini…
    trus masi d tambah hyun oppa yg gag isa move On dr yuri unni..
    argghh untung kris oppa nyadarin kesalahan nyaa..
    hyuna unni bisa selamat dech dr kapsul mematikan ituuu..
    ahhhhh akirnya hepi end semuaaaa..

    pyuuhhh bener2 kereennn efef nyaa..
    nulis 2hyun yg banyak lagi yaaa unn..
    d tunggu karya nyaaaa
    ^^

  6. FF yaa bagus thor,, suka banggeeeettttt kalo ff nya 2hyun :$

    Boleh request gak ?? Bikin ff taeun dong thor (:

  7. Seperti biasa ff yg author bikin pasti selalu ngena di hati >_< hyunseung telat terus nihh.. thor blh saran ga? Kali2 bikin sifat hyuna dingin sedingin es *caelah kayaknya asik deh hehe
    tapi sekali lagi 10 jempol buat ff n author tercinta *bow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s