Chapter

My Sister and I [Chapter 21]

21

Felt Guilty

Hyuna sempat tak sadarkan diri beberapa saat hingga seseorang tiba-tiba melepaskan kain hitam dari kepalanya. Ia terkejut dan membuka matanya perlahan. Saat itu ia baru menyadari dirinya terbaring di lantai kotor penuh debu. Setelah beberapa saat ia menyadari Jiyoon berdiri di dekatnya sambil tersenyum sinis dan kedua tangan terlipat didada, “Jiyoon-a?”

“Lama tak berjumpa Hyuna..” ucap Jiyoon.

Hyuna memandang sekitar dan menyadari ternyata ia ada di gudang rumah keluarga asuhnya, dibelakang Jiyoon ada beberapa pria yang ia yakin adalah orang suruhan saudara asuhnya itu. “Jiyoon, apa yang kau lakukan?” tanyanya sambil bergerak bangkit, namun sesuatu menahan kedua tangan dan kakinya. Matanya membesar melihat ia kembali terikat disana.

“Jika kau tidak melakukan ini padaku, aku tidak akan melakukan apa pun padamu…” ucap Jiyoon dingin.

Mata Hyuna mulai memerah menahan air mata, “Jiyoon, kumohon jangan ikat aku disini.. Aku takut, Jiyoon..” mohonnya.

Jiyoon tertawa sinis, “Karena itu, kau akan mendekam disini hingga eomma dan Junhyung oppa keluar dari penjara..” ucapnya dingin.

“Ne? Andwae!!” ucap Hyuna sambil menggeleng ketakutan, bulir air matanya langsung berjatuhan.

Jiyoon berbalik dan keluar bersama pria-pria tadi, lalu mengunci pintu.

“JIYOON!! Keluarkan aku!! Kumohon!!” tangis Hyuna panik. Ia ingin bergerak bangkit namun kedua tangan dan kakinya terikat. Traumatik itu kembali menghantunya. Ia berteriak dan menangis memohon siapa saja mengeluarkannya dari sana.

=6 a.m=

Jiyong memijat pundaknya dan bergerak duduk di sebuah bangku, tubuhnya terasa lelah karena terjaga sepanjang malam untuk mencari Hyuna. Ia mengangkat wajahnya dan melihat Chaerin masih berjalan untuk mencari Hyuna, “Gadis ini benar-benar..” gumamnya.

“Hyuna-a..” panggil Chaerin, suaranya terdengar lemah karena terus memanggil adiknya sepanjang malam.

Jiyong bangkit dan melangkah pelan mengikut Chaerin, “Chaerin-ssi, kita harus beristirahat. Kita sudah terjaga sepanjang malam mencari Hyuna..”

Chaerin memandang Jiyong dan menggeleng, “Aniya, kau bisa beristirahat. Aku akan tetap mencari Hyuna..” ucapnya, lalu kembali melangkah.

Jiyong mempercapat langkahnya dan menarik tangan Chaerin, “Chaerin-ssi! Kau terlihat lelah! Hyuna hanya perlu menenangkan pikirannya dan dia pasti akan kembali lagi nanti..”

Chaerin menatap Jiyong, “Dia marah padaku! Dia pergi karenaku! Kita tidak menemukannya sepanjang malam, Jiyong-ssi! Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?!”

Jiyong menghela nafas dalam, “Aku akan meminta Seunghyun mencarinya, kau harus beristirahat sekarang.”

Chaerin menatap Jiyong marah, “Apa menurutmu aku bisa beristirahat ketika dia masih diluar sana?!”

“Arasso!! Tapi jika kau tidak mempedulikan dirimu, bagaimana kau bisa menemukannya?!” tanya Jiyong ikut marah.

Chaerin menyentak tangan Jiyong, “Aku akan mencarinya..” ucapnya, lalu kembali melangkah pergi.

Jiyong menghela nafas dalam dan mengeluarkan ponselnya sambil memperhatikan Chaerin masih tetap mencari.

“Hyung, kau menemukan Hyuna?” tanya Hyunseung langsung.

“Aniya.. sepertinya Hyuna pergi agak jauh..” jawab Jiyong, “Tapi kau tenang saja.. aku akan meminta pengawalku mencarinya..” ucapnya.

Hyunseung menghela nafas dalam, “Keure, hyung..”

Jiyong memutuskan telepon dan kembali menghubungi seseorang, “Seunghyun, Hyuna menghilang lagi semalam. Tolong temukan dia..”

“Lagi? Apa yang terjadi, tuan muda?” tanya Seunghyun tak habis pikir.

“Sudah, temukan dia dulu..” ucap Jiyong dan memutuskan telepon, lalu mengikuti Chaerin.

=5 p.m=

Chaerin mulai merasa pusing karena tidak beristirahat sejak semalam dan juga tidak makan karena terlalu khawatir pada Hyuna. Ia tak bisa berhenti  hingga adiknya belum ditemukan. Kali ini Hyuna menghilang karena kesalahanya dan itu membuatnya menyesal. Jay dan Ailee sudah memperingatinya tentang pemotretan itu, andai dia mendengarkan mereka saat itu. kakinya terasa lemah dengan air mata yang terus hampir terjatuh dari matanya.

Jiyong mengikuti Chaerin dengan wajah lelahnya, ia juga tak bisa beristirahat selama gadis itu belum berhenti. “Chaerin-ssi..” panggilnya, namun gadis itu terus berjalan seperti tidak mendengar panggilannya, “Chaerin-ssi!” panggilnya lagi, “Lee Chaerin!”

Kaki Chaerin menyerah dan langsung jatuh ke trotoar.

Mata Jiyong membesar, “Chaerin-ssi!!” serunya sambil menghampiri gadis itu. “Chaerin-ssi!” panggilnya sambil mengangkat gadis itu ke lengannya. Ia menghela nafas dalam melihat gadis itu yang tampak tak sadarkan diri, “Tubuhmu juga ada batasannya, pabo..” gumamnya. Ia menahan gadis itu duduk tegap dan berbalik, lalu menarik kedua tangan gadis itu ke bahunya dan mengangkatnya kembali ke apartemen.

=Gudang=

BYURRR!!

“Ahhh!!” seru Hyuna kaget yang baru saja disiram air oleh seseorang.

Jiyoon tersenyum, “Pabo! Siapa yang menyuruhmu tidur?!” serunya.

Hyuna yang tadi tertidur karena kelelahan menangis menatap Jiyoon memelas, “Jiyoon, kenapa kau melakukan ini? Kumohon keluarkan aku..” tangisnya.

“Mwo?! Jangan bermimpi!” ucap Jiyoon, lalu kembali berbalik dan keluar.

Hyuna kembali menangis, “Jiyoon-a… Jiyoon-a..” panggilnya memohon, tapi gadis itu tetap menutup pintu dan meninggalkannya disana. Ia menangis ketakutan, tidak tau apa yang akan terjadi padanya. “Eonni..” gumamnya sambil menangis.

=Apartemen=

Chaerin tersentak dari tidurnya dengan nafas terengah-engah, keringat memenuhi wajahnya. Tubuhnya terasa lemah dan kepalanya seperti akan pecah. “Ahh..” rintihnya sambil memegang dahinya.

Jiyong muncul di pintu dan berjalan masuk, “Hei, kau sudah merasa lebih baik?”

Chaerin bergerak bangkit sambil memegang kepalanya, “Kenapa aku disini?”

“Kau pingsan tadi..” ucap Jiyong sambil duduk di sebelah Chaerin.

Chaerin memandang Jiyong dengan dahi berkerut, tak lama matanya membesar. “Apa Hyuna sudah kembali?”

Jiyong menggeleng pelan, “Belum, tapi Seunghyun sudah melakukan pencariannya..” ucapnya.

Chaerin memejamkan matanya dan memegang dahinya frustasi.

“Gwenchana, dia akan segera ditemukan..” ucap Jiyong.

Chaerin kembali memandang Jiyong, “Bagaimana dengan Hyunseung?”

“Hm? Dia ada diluar.. Dia juga terlihat frustasi..” ucap Jiyong, lalu mengelus belakang kepalanya. “Apa gadis dimajalah dewasa itu memang kau?” tanyanya pelan, namun ia langsung bergidik melihat tatapan tajam Chaerin.

Chaerin semakin marah pada dirinya mengingat tentang photo-photo itu, “Ne! Itu aku!! Wae?!” serunya.

“A-aniya, aku hanya bertanya…” ucap Jiyong ngeri.

Chaerin menghela nafas dalam dan menyibak selimut, “Aku harus mencari Hyuna lagi..” ucapnya.

“Ne? Ya.. kau masih sangat lemah..” ucap Jiyong sambil menahan tangan Chaerin.

Chaerin menatap Jiyong, “Tapi aku harus menemukannya!” serunya.

“Aku mengerti, tapi kau harus memikirkan kondisimu juga..” ucap Jiyong memberi pengertian.

Chaerin mendorong tangan Jiyong dan bergerak bangkit, tapi kepalanya masih terasa sangat pusing hingga hampir tumbang lagi.

Jiyong langsung menahan tubuh Chaerin, “Chaerin-ssi, jangan paksakan dirimu!” ucapnya sambil mendudukkan gadis itu kembali ke tempat tidur.

Chaerin menunduk sambil memegang dahinya, matanya terpejam erat dengan nafas berat.

“Kepalamu sakit sekali? Apa ingin aku mengambilkan obat sakit kepala?” tanya Jiyong, namun ia tertegun melihat air mengalir dari celah mata Chaerin.

Chaerin memalingkan wajahnya, “Keluar.. aku akan beristirahat..” ucapnya.

Jiyong menatap Chaerin sedih, “Chaerin-ssi..”

“Keluar Jiyong!” ucap Chaerin tanpa memandang Jiyong.

Jiyong bergerak bangkit dan berjalan ke pintu. Sebelum menutup pintu, ia kembali memandang ke dalam melihat Chaerin menangis di tempatnya tadi. Ia tau gadis itu sangat mengkhawatirkan Hyuna, hal itu membuatnya merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa pun. Perlahan ia menutup pintu dan menghampiri Hyunseung yang duduk di sofa dengan wajah risau. “Kenapa Hyuna tidak kembali juga? Apa dia semarah itu pada Chaerin-ssi?” tanyanya tak mengerti.

Hyunseung tampak sedang berkutat dengan pikirannya, “Hyuna bukan orang yang akan membiarkan orang lain khawatir. Apalagi kakaknya..”

Jiyong memandang Hyunseung, “Tapi jika marah seseorang bisa melakukan apa pun kan..”

“Benar, tapi Hyuna tidak akan marah terlalu lama..” ucap Hyunseung, “Dia akan sangat marah saat ini, tapi setelah beberapa saat ia akan menyadari kalau itu salah..”

Jiyong mengerutkan dahi, lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Seunghyun. “Seunghyun, periksa CCTV di sekitar apartemenku antara kemarin sore hingga tadi malam..” ucapnya.

=Sorenya=

Chaerin berbaring miring di tempat tidur sambil memikirkan Hyuna. Ia tidak akan memaafkan dirinya jika sesuatu terjadi pada adiknya. Ia ingin keluar dan menemukan adiknya sendiri, tapi kondisinya sangat lemah. Untuk berdiri saja kepalanya akan terasa sangat sakit. ‘Hyuna-a, eonni miane.. kembalilah..’ batinnya.

Sementara itu.

Hyuna berbaring di lantai dengan mata sembab dan air mata masih mengalir. Saat itu ia benar-benar menyesal telah pergi seperti kemarin. Ia menyesal telah marah pada Chaerin. Meskipun kakaknya memang menjadi model untuk majalah dewasa dan tidak memikirkannya, tapi kakaknya telah datang kemari demi dirinya. Chaerin memperjuangkan keadilan untuknya. “Eonni, mianeyo..” gummamnya penuh sesal. Matanya terpejam dan terus menangis sambil berdoa akan ada orang yang menolongnya kali ini.

Apartemen.

Seunghyun datang ke apartemen Hyunseung untuk memberitau tentang video CCTV yang ia temukan.

“Kau menemukannya? Apa yang terjadi padanya?” tanya Chaerin yang duduk disofa bersama Jiyong dan Hyunseung. Wajahnya masih terlihat pucat dan ia belum pulih seutuhnya.

Seunghyun mengeluarkan i-padnya dan memberikannya pada Chaerin agar gadis itu dan yang lain bisa melihat, “Ini rekaman CCTV dari jalan sekitar apartemen..”

Chaerin menekan tombol play dan menyaksikannya beberapa saat. Tak lama terlihat seorang gadis berlari keluar dari apartemen sambil menangis, “Ini Hyuna..” ucapnya.

“Dia pergi kemana?” tanya Hyunseung ingin tau.

Mereke kembali menyaksikan. Mata mereka bertiga membesar melihat seorang pria menghampiri Hyuna dari belakang dan menutup wajah gadis itu dengan kain hitam.

“OH! Hyuna di culik!! Siapa yang melakukan ini?!” seru Chaerin kaget.

Seunghyun mengambil i-padnya dan menghentikan rekaman, lalu memperlihatkan wajah seorang gadis yang ikut bersama para pria yang membawa Hyuna. “Gadis ini..”

Dahi Hyunseung dan Jiyong berkerut, “Siapa ini?”

Chaerin memperhatikan wajah gadis lebih jelas, tak lama matanya membesar. “Jiyoon! Gadis ini anak Jung Songyi!”

“Ne, Chaerin-ssi.” Ucap Seunghyun.

“Ne?! Aissh!! Mereka benar-benar!” ucap Jiyong kesal.

“Lalu, kemana mereka membawa Hyuna?” tanya Hyunseung.

“Kami mengikuti mobil yang mereka gunakan dan berhenti di kawasan rumah Jung Songyi..” jawab Seunghyun.

Chaerin tertegun, “Dia pasti mengurung Hyuna di gudang!! Hyuna sangat takut disana!!” ucapnya panik.

“Anda tidak perlu khawatir, saya dan yang lainnya akan segera menyelamatkan Hyuna-ssi..” ucap Seunghyun sambil bangkit.

Chaerin ikut bangkit, “Aku ikut!”

Jiyong menatap Chaerin kaget, “Ne? Ya.. kondisimu saja belum membaik..” ucapnya tak percaya.

“Aku akan ikut denganmu..” ucap Chaerin pada Seunghyun.

Seunghyun memandang Jiyong yang masih memandang Chaerin tak mengerti.

“Ya.. kau belum membaik.. tunggu saja disini..” ucap Jiyong menenangkan Chaerin.

Chaerin menatap Jiyong, “Aku tidak bisa hanya menunggu disini! Adikku sangat takut ditempat itu!! aku harus menjemputnya kesana!!” ucapnya marah.

“Aku mengerti kau khawatir, tapi keadaanmu tidak baik!!” ucap Jiyong kesal.

“Aku akan pergi, Chaerin-ssi.. tetap disini..” ucap Hyunseung sambil bangkit.

“Kau? Keadaanmu lebih parah!” ucap Jiyong kesal pada Hyunseung.

“Saya akan segera membawa Hyuna-ssi kembali..” ucap Seunghyun, lalu melangkah pergi.

“Seunghyun-ssi!!” panggil Chaerin sambil mengejar Seunghyun, namun kepalanya kembali terasa pusing dan hampir terjatuh jika Jiyong tidak dengan cepat menangkap tubuhnya dari belakang.

“Ya! Apa kubilang!” ucap Jiyong kesal.

“Chaerin-ssi, saya akan kembali membawa adikmu. Kau tidak perlu khawatir.” Ucap Seunghyun menenangkan.

Chaerin kembali berdiri tegap sambil mendorong Jiyong, “Aniya! Apa pun yang terjadi, aku akan tetap ikut..”

Hyunseung tertegun mendengar keteguhan Chaerin, ia sendiri belum tentu bisa melakukan itu.

“Chaerin-ssi…” ucap Seunghyun pelan.

Chaerin melangkah kearah Seunghyun, namun kembali hampir terjungkal karena kepalanya terasa sangat sakit. Pria itu menangkap tubuhnya dan membantunya kembali berdiri.

“Ahh… dasar keras kepala..” ucap Jiyong sambil membanting tubuhnya ke sofa kesal.

“Chaerin-ssi, kondisimu tidak baik.. Tetaplah disini..” ucap Seunghyun.

Chaerin menatap kedua mata Seunghyun memelas, “Kumohon, aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika sesuatu terjadi pada Hyuna..”

Seunghyun tertegun melihat tatapan Chaerin, “Keure..” ucapnya pelan, “Saya akan membantumu..” ucapnya sambil memapah gadis itu.

Jiyong terkejut Seunghyun malah menyetujuinya, “Ya!! Pabo!!” serunya.

Hyunseung memandang Jiyong, “Hyung, tidak bisakah kita juga mengikuti mereka? Paling tidak aku bisa melihat Hyuna baik-baik saja..” pintanya.

Jiyong memandang Hyunseung sejenak, “Keure, khaja..” ucapnya setuju, sebenarnya ia khawatir sesuatu terjadi pada Chaerin.

=Gudang=

Dahi Hyuna berkerut mencium aroma yang menyengat hidungnya. Matanya terbuka dan melihat Jiyoon sedang menuangkan sesuatu ke sekitar gudang, “Jiyoon, apa yang kau lakukan?”

Jiyoon tersenyum dan mendekati Hyuna, “Kau akan segera mati Hyuna..” ucapnya pelan.

Hyuna menatap Jiyoon tak mengerti, setelah melihat botol di tangan gadis itu ia baru menyadari itu adalah minyak. “Jiyoon!!! Kau akan membakar kita?!”

“Kita? Ani, hanya kau..” ucap Jiyoon sambil tersenyum. Lalu menuang sisa minyak ditangannya ke tubuh Hyuna.

“Kyaaaa!!! Jiyoon!! Apa yang kau lakukan?!!” teriak Hyuna panik.

Jiyoon tersenyum sinis pada Hyuna, “Aku akan membakar mulai dari kamarmu Hyuna, lalu ruang tengah dan dapur. Setelah itu aku hanya akan mendengar berita kematianmu..” ucapnya sambil melempar botol di tangannya.

“Jiyoon! Jangan!! Jiyoon!!” teriak Hyuna pada Jiyoon yang keluar dari gudang.

Jiyoon menutup pintu gudang dan mengeluarkan korek api dari sakunya. Ia tersenyum sinis dan melangkah ke tangga menuju loteng. Ia sudah menyiram minyak ke semua tempat dirumah dan menghubungkan semuanya. Ia menghidupkan korek api, lalu melemparkannya ke tempat tidur Hyuna. Dalam sekejap api langsung menyebar dari tempat tidur ke seluruh lantai dan dinding. Ia berbalik dan keluar dari rumah itu.

<<Back          Next>>

Advertisements

2 thoughts on “My Sister and I [Chapter 21]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s