Chapter

my Sister and I [Chapter 20]

20

Please Stay

Hyuna tertegun melihat Hyunseung membuka matanya perlahan, “Oppa, kau sudah sadar?” tanyanya senang.

Kepala Hyunseung menoleh kearah Hyuna lemah, “Hyuna..” ucapnya pelan.

Hyuna tersenyum, “Ne, oppa..” jawabnya.

Hyunseung menghela nafas dalam dan mengangkat tangannya kearah Hyuna.

Hyuna memandang tangan Hyunseung dan memegangnya dengan kedua tangan, “Aku disini oppa..”

Hyunseung menatap Hyuna memelas, “Hyuna, kau tidak akan pergi kan?”

Hyuna tertegun mendengar pertanyaan Hyunseung, “Oppa?”

“Jebal Hyuna..” mohon Hyunseung.

Hyuna melihat Hyunseung mulai meringis menahan sakit, “Ne, oppa.. Aku tidak akan pergi.” Ucapnya cepat.

Hyunseung lega mendengar jawaban Hyuna, “Gumawoyo, Hyuna.. hanya kau yang aku miliki..”

Hyuna mengangguk, “Ne, oppa..” ucapnya pelan.

=Bandara Incheon=

Chaerin mengantarkan teman-temannya yang harus kembali ke New York, Hyuna juga ikut bersamanya.

“Bye Hyuna..” ucap Ailee sambil tersenyum.

“Bye eonni..” lambai Hyuna.

Jay menatap Chaerin serius, “Chae, you will comeback right?

Chaerin tersenyum, “Yes, I will..”

Jay tersenyum dan memegang pipi Chaerin dengan tatapan dalam, “I’m waiting for you..

Chaerin tertawa kecil, “Just go before I kick your ass!” candanya.

Jay tertawa kecil dan berjalan bersama Ailee menuju boarding pass, “See You Hyuna..” ucapnya sembari melangkah.

Hyuna melambai, “Bye oppa..”

Chaerin merangkul adiknya sambil memperhatikan teman-temannya yang melangkah pergi.

Hyuna memanang Chaerin, “Eonni tidak sedih kan?”

Chaerin memandang Hyuna sambil tersenyum, “Aniya, eonni kan sudah menemukanmu.. Lagi pula kita akan kembali bertemu bersama mereka di New York.. Keutji?”

Hyuna tertegun mendengar ucapan Chaerin, “Mmm.. ne..” jawabnya pelan.

Chaerin memandang ke pintu boarding pass, teman-temannya sudah tak terlihat. “Khaja..” ajaknya.

Hyuna mengangguk dan berjalan bersama Chaerin.

=Apartemen Hyunseung=

Hyuna menemani Hyunseung yang sudah kembali ke apartemen, sementara Chaerin menghadiri persidangan kedua untuk Songyi bersama Jiyong.

Hyunseung duduk bersandar di sofa sambil memperhatikan wajah risau Hyuna, “Waekeure?”

Hyuna memandang Hyunseung, “Entahlah oppa, aku merasa takut..”

Hyunseung tersenyum tipis dan memegang tangan Hyuna, “Gwenchana.. mereka sudah seharusnya mendapatkan balasan. Benarkan?”

Hyuna menghela nafas dalam dan mengangguk, “Ne.. tapi aku tetap merasa takut..”

“Tenang saja, setelah ini kau bisa keluar dan berjalan-jalan sesukamu..” ucap Hyunseung menghibur.

Hyuna tersenyum, “Ne..”

“Kita bisa pergi ke sekolah bersama, itu pasti menyenangkan..” ucap Hyunseung.

Senyum Hyuna perlahan luntur, “Oh.. ne..” jawabnya pelan. Ia benar-benar tak mengerti apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia akan bersama dengan dua orang berbeda di dua tempat berbeda juga adalah hal paling tidak masuk akal di dunia ini.

Hyunseung memegang dadanya, lalu memandang Hyuna. “Hyuna, bagaimana jika kita berjalan-jalan disekitar apartemen?” tanyanya.

Hyuna tersenyum, “Keure, sebentar oppa..” ucapnya sambil bangkit dan menarik kursi roda ke dekat Hyunseung. “Ayo..” ia membantu pria itu bangkit dan mendudukkannya ke kursi roda. “Khaja..” ia mendorong kursi roda itu menuju pintu.

Taman.

Hyuna mendorong kursi roda Hyunseung di sekitar taman sambil memperhatikan sekitar, “Hmm.. hari ini cerah sekali..” ucapnya.

Hyunseung tersenyum, “Ne..” ucapnya.

“Oppa, tunggu disini sebentar ya. Aku akan membeli minuman..” ucap Hyuna sambil menempatkan Hyunseung dibawah sebuah pohon yang terdapat bangku panjang di sebelahnya.

Hyunseung mengangguk, “Ne, jangan terlalu lama..”

Hyuna tersenyum pada Hyunseung dan melangkah menuju sebuah mini-market tak jauh dari taman tadi. Ia masuk kesana dan langsung  mengambil dua botol air mineral dan membayarnya. Awalnya ia tidak mengerti mengapa Chaerin memberikannya uang saku, namun sekarang ia mengerti. “Ghamsamida..” ucapnya pada petugas kasir dan berjalan pergi. Ketika ia kembali ke tempat Hyunseung tadi, tampak pria itu sedang melihat-lihat sebuah majalah. “Apa itu oppa?” tanyanya.

“Oh.. sudah kembali?” ucap Hyunseung senang.

Hyuna memberikan sebotol air mineral dan bergerak duduk disebelah Hyunseung, “Kapan oppa membelinya?”

Hyunseung tersenyum, “Tadi ada seseorang yang menjualnya, jadi kubeli saja..”

Hyuna melihat sambil majalah itu dan langsung menatap Hyunseung sebal, “Oppa, ini majalah dewasa..”

Hyunseung meletakkan majalah itu ke pangkuannya dan membuka tutup botol sambil tertawa kecil, “Aku hanya ingin melihat..”

Hyuna tertegun mendengar Hyunseung tertawa kecil dan menatap pria itu tak percaya, “Omo.. oppa tertawa..” ucapnya senang.

Hyunseung juga baru menyadari hal itu, “Ne?”

Hyuna tersenyum lebar, “Akhirnya oppa tertawa..” ucapnya lega.

Hyunseung tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Hyuna, “Hal ini karena aku sangat bahagia bersamamu..”

Hyuna kembali merasa bersalah mendengar ucapan Hyunseung, tapi ia tetap mempertahankan senyumanya. “Ne, oppa..” ucapnya. Ia langsung memutuskan kontak mata mereka sebelum ia menangis karena akan mengecewakan pria itu pada akhirnya. “Apa saja isinya?” tanyanya sambil mengambil majalah tadi untuk mengalihkan pembicaraan mereka.

“Ya.. jangan, ini unutk pria..” ucap Hyunseung sambil hendak mengambil majalah ditangan Hyuna.

“Aku hanya ingin melihat..” ucap Hyuna sambil mempertahankan majalah itu.

Hyunseung menghela nafas dalam, “Keure, sebentar saja..” ucapnya dan meneguk air didalam botol.

Hyuna tersenyum dan mulai melihat-lihat isi majalah itu. matanya membesar melihat photo beberapa gadis yang berphoto hanya dengan bikini. Tubuh mereka sangat sexy. “Omo..” gumamnya tak percaya.

Hyunseung tersenyum melihat ekspresi Hyuna.

Hyuna membalik halaman berikutnya, ia cukup terkejut melihat seorang model bule berpose dengan pakaian tidur sexy ditempat tidur. Ia sampai menelan ludah melihatnya, “Ahh.. kenapa ada orang yang mau berpose seperti ini?” gumamnya tak mengerti.

“Kudengar bayarannya bagus..” komentar Hyunseung.

“Hm? Jinja?” ucap Hyuna sambil tetap memperhatikan halaman demi halaman yang disana.

“Sudah, jangan lihat lagi.. itu bisa merusak pikiranmu..” ucap Hyunseung sambil menarik majalah ditangan Hyuna.

“Tunggu!” ucap Hyuna sambil menahan majalah ditangannya.

“Kubilang sudah..” ucap Hyunseung sambil terus menarik.

Hyuna menarik majalah itu dan duduk membelakangi Hyunseung sambil tertawa kecil agar dia bisa melihat dengan leluasa, namun sebuah photo di halaman tengah membuatnya tertegun. Gadis asia berambut panjang yang mengenakan celana jeans pendek berdiri membelakangi kamera dengan punggung terskpos bersih. Wajah gadis itu memandang ke satu sisi bahunya. Matanya terasa akan keluar melihat gadis disana sangat familiar. Dagu tajam, hidung mancung dan bibir sensual. Tangannya membalik halaman berikutnya dan benar-benar terkejut melihat model yang sama berpose tanpa pakaian dan hanya menutupi bagian inti tubuhnya dengan selembar kain tipis. Bulir air matanya langsung berjatuhan menyadari siapa gadis itu, “Eonni?” gumamnya tak percaya.

“Ya.. kembalikan majalah itu..” ucap Hyunseung sambil mendorong roda kursinya ke sebelah Hyuna, ia tertegun melihat gadis itu menangis. “Hyuna?”

Hyuna menatap photo itu tak percaya, namun ia langsung menutupnya sebelum Hyunseung melihat gambar apa yang sedang ia lihat.

“Wae?” tanya Hyunseung tak mengerti.

“Oppa, kita harus segera kembali..” ucap Hyuna sambil bangkit dan langsung berjalan ke belakang Hyunseung untuk mendorong kursi roda.

=Malamnya=

Chaerin tersenyum melangkah keluar dari lift bersama Jiyong. Hari ini dia memenangkan sidang kedua. Songyi dan Junhyung akan mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatan mereka pada Hyuna.

Jiyong tersenyum melihat ekspresi Chaerin, “Kau senang mendengar hasilnya?”

Chaerin memandang Jiyong dan mengangguk, “Ne..”

Jiyong mengangguk, “Aku juga senang..” ucapnya, tapi sekali lagi ia merasa canggung berjalan berdua bersama Chaerin seperti ini. Satu tangannya terangkat dan mengelus belakang kepalanya, “Errrr.. Chaerin-ssi..”

Chaerin memandang Jiyong, “Ne?”

“Mmm.. aku akan kembali pulang ke rumahku malam ini..” ucap Jiyong.

Chaerin tertegun dan tanpa sadar berhenti melangkah, “Oh.. begitu..”

“Passport Hyuna sudah dalam proses dan akan selesai dalam waktu beberapa hari, aku juga akan mengantarkanmu ketika pergi..” ucap Jiyong.

Chaerin tersenyum, membicarakan perpisahan sudah membuatnya sangat sedih. “Ne, gumopta Jiyong-ssi..”

Jiyong menghela nafas dalam dan menatap Chaerin, “Masuklah ke apartemen Hyunseung, aku akan mengurus barang-barang yang akan kubawa kembali..”

Chaerin mengangguk pelan, “Keure, sampai jumpa..” ucapnya dan kembali melangkah ke pintu apartemen Hyunseung dan menekan bel. Kepalanya menoleh kearah Jiyong yang kembali tersenyum padanya sebelum masuk ke apartemen sebelah. Bibirnya membentuk senyuman dan mendengar pintu terbuka, tangannya melambai sekali lagi pada Jiyong dan melangkah masuk.

Jiyong juga bergerak masuk ketika Chaerin masuk, namun ia tidak benar-benar masuk. Ia berhenti sebelum pintu tertutup, lalu kembali mengeluarkan kepalanya untuk memandangi pintu di sebelahnya. Membayangkan Chaerin yang masih tersenyum padanya disana. Perpisahan memang sangat menyedihkan, tapi itulah hidup. Ia akhirnya masuk dan memeriksa barang-barangnya.

Chaerin tak bisa menutupi perasaan sedihnya akan segera kembali ke New York, “Aku kembali..” ucapnya pelan sambil melepaskan sepatu dan melangkah masuk. Ia menyadari seseorang berdiri di hadapannya dan mengangkat wajah, dahinya berkerut melihat Hyuna menatapnya dengan mata sembab dan memerah. “Hyuna? Waekeure?” tanyanya sambil memegang kedua pipi adiknya.

“Eonni, ada yang ingin kutanyakan padamu..” ucap Hyuna.

“Apa? Tentang sidang tadi? Tenang saja, mereka sudah diberikan hukuman setimpal untuk apa yang sudah mereka lakukan..” ucap Chaerin sambil membelai rambut adiknya.

Hyuna menggeleng, lalu mengangkat majalah ditangannya tepat dibagian gadis yang memamerkan punggung itu.

Chaerin memandang halaman majalah itu dan langsung membesarkan matanya, lalu menatap Hyuna tak percaya. “Dari mana kau mendapatkannya?!”

“Apakah ini eonni?” tanya Hyuna dengan suara bergetar, tangisnya kembali akan pecah.

Chaerin tampak sangat terkejut dan kembali memandang majalah itu.

“Eonni jawab aku!!” seru Hyuna, bulir air matanya kembali berjatuhan.

Chaerin mengambil majalah itu dan langsung merobeknya dengan perasaan malu dari ujung kaki ke ujung kepalanya, “Kau seharusnya tidak melihat majalah seperti ini Hyuna!” tegasnya.

Hyuna menatap Chaerin terluka, “Jadi ini yang eonni lakukan di New York?”

Chaerin memalingkan wajahnya sambil menahan air mata yang hendak terjatuh.

Hyuna memegang lengan Chaerin dan menatap kakaknya, “Eonni wae?! untuk apa kau melakukannya?!” serunya.

Chaerin menatap Hyuna dengan mata memerah, “Aku tidak punya pilihan Hyuna..”

“Eonni tidak punya pilihan?” tanya Hyuna tak percaya, “Eonni, aku harus tersiksa bersama keluarga asuhku. Tapi eonni disana menikmati waktumu menjadi model! Pantas saja eonni tidak langsung kembali untukku!!” teriaknya sambil terus menangis.

Chaerin menatap Hyuna menyesal, “Aniya, tidak begitu Hyuna..” ucapnya mencoba menjelaskan.

Hyunseung yang duduk di sofa merasa tidak nyaman dengan pembicaraan kedua gadis itu, perlahan ia bangkit dan berjalan pelan menghampiri Hyuna. “Hyuna, tenangkan dirimu dulu. Biarkan Chaerin-ssi menjelaskannya..”

“Hyuna, eonni tidak akan melakukan ini lagi.. Sekarang eonni sudah menemukanmu, eonni akan menjadi orang lebih  baik sekarang..” ucap Chaerin sambil memegang kedua pipi Hyuna.

Hyuna mendorong Chaerin, “Menjauh dariku!” teriaknya.

“Hyuna.. jebal..” mohon Chaerin, air matanya tampak akan terjatuh kapan saja sekarang.

“Kupikir eonni memang peduli padaku! Kupikir eonni benar-benar mencintaiku hingga rela kembali kemari!! Tapi itu semua bohongkan?!!” Seru Hyuna yang benar-benar terluka.

Chaerin menunduk menyesal, tampak sebulir air jatuh dari matanya. “Aniya, Hyuna..”

“Hyuna, jangan seperti ini..” ucap Hyunseung menenangkan.

Hyuna mendorong tangan Hyunseung yang hendak merangkulnya sambil menatap Chaerin penuh kebencian, “Aku tidak akan ikut bersamamu ke New York! Aku akan tetap disini bersama Hyunseung oppa!!”

Chaerin menatap Hyuna kaget, “Hyuna-a?”

“Aku tidak mau bertemu eonni lagi!!” teriak Hyuna dan langsung berlari keluar apartemen.

“Hyuna!!” panggil Chaerin sambil mengejar Hyuna.

“Hyuna!! Ahh..” Hyunseung yang hendak mengejar Hyuna langsung memegang dadanya menahan sakit.

Chaerin berhenti dan menatap Hyunseung kaget, “Hyunseung-ssi?!” ucapnya, lalu melihat Hyuna sudah pergi. Jadi ia kembali menghampiri Hyunseung dan mememapah pria itu, “Duduk dulu, kondisimu belum baik.” Ucapnya sambil membantu pria itu duduk ke sofa.

“Ahh.. tapi Hyuna..” gumam Hyunseung.

“Aku akan mengejarnya.. kau tunggu disini..” ucap Chaerin dan langsung berlari ke pintu.

Hyuna terus berlari meninggalkan gedung apartemen itu sambil menangis. Ia benar-benar merasa terluka. Rasanya ia sangat membenci Chaerin hingga tak mau menatap wajahnya lagi. Ia berhenti melangkah setelah cukup jauh sambil tetap menangis.

“Akhirnya kau keluar, Hyuna..”

Hyuna tertegun mendengar suara dari sisi kanannya, matanya melotot melihat gadis yang berbicara tapi. “Jiyoon?” sebuah kain hitam langsung menutup kepalanya dan tangan besar membungkamnya. Ia diseret pergi tanpa seorang pun yang mengetahuinya.

Chaerin berlari kecil ke sekitar apartemen untuk mencari Hyuna, “Hyuna…” panggilnya sambil memandang ke kanan dan kiri, “Hyuna!!!” panggilnya lebih keras. Tapi adiknya tidak terlihat dimana pun.

Jiyong yang diberitau Hyunseung tentang pertengkaran Chaerin dan Hyuna tadi langsung keluar dari gedung apartemen untuk membantu gadis itu. “Chaerin-ssi..” panggilnya.

Chaerin berbalik dan melihat Jiyong berlari kearahnya.

“Hyuna pergi kemana?” tanya Jiyong.

“Aku tidak tau. Dia hanya pergi begitu saja..” ucap Chaerin sambil menunduk menyesal.

Jiyong memandang kesekitar, namun tidak melihat Hyuna disana. “Ayo, aku yakin dia tidak akan jauh dari sini..”

“Ani, aku akan mencarinya seorang diri. Kau harus kembali kerumahmu..” ucap Chaerin.

“Paboya? Kau tidak tau daerah disini, tapi aku tau. Ayo!” ucap Jiyong dan menarik Chaerin untuk mencari bersamanya. “Hyuna!!” panggilnya.

Akhirnya Chaerin ikut mencari bersama Jiyong, “Hyuna-a!!”

<<Back          Next>>

Advertisements

3 thoughts on “my Sister and I [Chapter 20]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s