Chapter

my Sister and I [Chapter 19]

19

I Love You

-Hyunseung’s POV-

“Oppa, aku sudah bertemu dengan eonniku. Cepatlah sadar.. aku menunggumu..”

Aku mendengar seseorang membisikkan itu ke telingaku. Aku ingin segera membuka mata namun aku tidak bisa. Aku merasa terjebak di sebuah tempat yang hanya ada kegelapan. Aku sangat mengenal suara itu. suara gadis yang membuatku ingin menghabiskan seumur hidupku bersamanya. Tapi kenapa aku tidak bisa bergerak juga? Aku terus berusaha melawan kekakuan itu. tapi aku tidak berdaya.

‘Hyuna..’ batinku. Aku ingin berteriak memanggil namanya, namun aku tetap tak bisa. Aku tidak tau berapa lama aku berteriak dalam hati memanggil namanya, hingga aku kembali pada diriku.

-Hyunseung’s POV end-

“Hyuna..” gumam Hyunseung.

Jiyong tertegun dan langsung menghampiri tempat tidur pria itu, “Hyunseung!!” panggilnya sambil menatap pria itu tak percaya.

Hyunseung mengerutkan dahinya, “Hyuna…” gumamnya lagi.

Jiyong tersenyum lebar dan memegang kedua bahu Hyunseung, “Hyunseung! Hyunseung!!” panggilnya senang.

Perlahan Hyunseung membuka matanya. Terasa sangat berat, namun ia tetap berusaha membukanya lebar. Setelah beberapa saat ia baru menyadari yang ada didepan wajahnya adalah Jiyong, “Hyung?”

“Syukurlah Hyunseung!! Kupikir kau tidak akan membuka matamu lagi!” ucap Jiyong girang, “Sebentar, aku akan memanggil dokter..” ucapnya sambil berlari keluar ruangan.

=Rumah Ailee=

Hyuna memperhatikan kamar Ailee bingung, lalu memandang Chaerin yang sedang membaca berkas-berkas yang diberikan Bom. “Eonni, kenapa kita menginap disini?”

Chaerin memandang Hyuna, “Hm? Oh.. karena eonni sudah menemukanmu. Jadi eonni tidak bisa tetap di apartemen Jiyong-ssi. Juga dia akan segera kembali kerumahnya..” jelasnya.

Hyuna mengangguk, “Ohh.. aku merasa seperti kita pindah dari satu rumah ke rumah lain lagi..” ucapnya, lalu tersenyum.

Chaerin tersenyum mendengar ucapan Hyuna dan kembali memandang berkas ditangannya, sesuatu kembali mengusik pikirannya. Yaitu tentang masa depannya dan adiknya. Ia mengangkat wajahnya dan memandang Hyuna yang masih memperhatikan kamar Ailee, “Hyuna-a..”

Hyuna memandang Chaerin, “Ne?”

“Mmm.. bagaimana menurutmu jika kau dan eonni tinggal di New York?” tanya Chaerin hati-hati.

Hyuna tertegun mendengar pertanyaan Chaerin, “New York?”

Chaerin mengangguk, “Ne..” jawabnya pelan, “Mmm.. eonni masih harus menyelesaikan kuliah eonni. Dengan begitu eonni bisa mencari pekerjaan yang lebih baik. Kau juga bisa melanjutkan sekolahmu disana..”

Hyuna terdiam sambil berpikir, “Mmm.. apa harus pergi kesana?”

Chaerin meletakkan berkas di tangannya dan berpindah duduk ke sebelah Hyuna sambil menggenggam kedua tangan gadis itu, “Hyuna..” ucapnya dengan tatapan tepat ke mata adiknya, “Cara terbaik agar kita tetap bersama adalah dengan kau ikut eonni ke New York. Disana eonni bisa bekerja sambil kuliah untuk kita. Jika disini, eonni tidak akan bisa menyelesaikan kuliah dan tidak akan bisa bekerja untuk menutupi biaya hidup kita..”

Hyuna menatap kedua mata Chaerin dan memandang ke bawah bingung. Ia tak tau harus melakukan apa, namun yang ia inginkan hanya bersama kakaknya sekarang. Ia kembali memandang kakaknya dan tersenyum, “Ne, eonni..”

Chaerin tersenyum mendengar Hyuna setuju, “Setelah semua masalah disini selesai, kita akan pergi ke New York. Arasso?”

Hyuna mengangguk mengerti.

Chaerin tertegun mendengar ponselnya berbunyi dan segera mengangkatnya, “Ne, Jiyong-ssi..” jawabnya, tiba-tiba wajahnya berubah kaget setelah mendengar ucapan Jiyong, lalu menatap Hyuna tak percaya. “NE?! Ne! Kami akan segera kesana..” ucapnya dan memutuskan telepon.

“Waeyo eonni?” tanya Hyuna penasaran.

Chaerin tersenyum lebar sambil memegang kedua pipi adiknya, “Hyuna, Hyunseung sudah sadar!”

Mata Hyuna membesar, “Jinja?!! Wuaaaa!!!” serunya girang.

“Khaja, kita langsung kesana..” ajak Chaerin.

=Rumah Sakit=

“Oppa!!” seru Hyuna sambil berlari berhamburan ke dalam kamar perawatan Hyunseung untuk memeluk pria itu.

“Ah! Pelan-pelan Hyuna..” rintih Hyunseung karena Hyuna membentur dadanya yang masih terasa ngilu.

Hyuna langsung melepaskan pelukannya dan menatap Hyunseung kaget, “Omo! Mianeyo oppa!”

Ailee tertawa kecil melihat kelucuan Hyuna, lalu memandang Jay yang berdiri disisinya. “Jay..”

Jay memandang Ailee.

You know what? Chaerin akan membawa Hyuna ke New York..” ucap Ailee dalam bahasa inggris.

Jay tertegun, lalu melirik Chaerin yang berdiri didekat pintu bersama Jiyong. Kemudian tersenyum pada Ailee, “Itu sangat bagus..” ucapnya pelan.

Chaerin memegang bahu Ailee, “Ayo keluar, biarkan mereka berbicara.” Ucapnya, kemudian berjalan keluar bersama dua temannya dan Jiyong.

Jay yang terakhir keluar menutup pintu dan ikut duduk bersama yang lain.

“Jadi, kau akan segera kembali kerumah kan?” tanya Chaerin.

Jiyong mengangguk, “Ne.. setelah Hyunseung sadar, aku merasa lebih tenang. Jadi aku akan kembali kerumah besok..” ucapnya.

Chaerin mengangguk mengerti.

Sementara itu didalam.

Hyuna tersenyum lebar memandang Hyunseung, “Oppa, aku senang sekali kau kembali sadar..” ucapnya.

Hyunseung tersenyum tipis, “Aku juga..” ucapnya, “Oh  ya, Jiyong hyung sudah memberitauku tentang Yong Junhyung..”

Senyuman Hyuna perlahan memudar dan menunduk sedih, “Mianeyo oppa, karena aku oppa jadi terluka seperti ini..”

Hyunseung mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Hyuna, membuat gadis itu kembali memandangnya. Bibirnya kembali membentuk senyuman melihat bulir air berjatuhan dari mata gadis itu. “Jangan menangis, yang penting sekarang kan aku sudah baik-baik saja..”

Hyuna masih memandang Hyunseung menyesal.

“Oh ya..” ucap Hyunseung, “Benarkah gadis yang tinggal bersama Jiyong hyung itu eonni-mu?”

Hyuna tertegun mendengar pertanyaan Hyunseung, pria itu terdengar sedih. “Ne, oppa..” jawabnya pelan.

Hyunseung memandang kebawah sedih, “Apa kau akan pergi bersama eonni-mu?” tanyanya berat.

Hyuna menatap Hyunseung menyesal lalu menunduk bingung.

Hyunseung kembali menatap Hyuna, “Kau akan pergi bersamanya?” tanyanya lagi.

Hyuna memandang Hyunseung sedih, lalu mengangguk berat.

Hyunseung tampak terluka mengetahui jawaban Hyuna, “Wae? bukankah kau sudah berjanji untuk mendesain pakaian di butikku? Jika kau pergi bersamanya, bagaimana denganku?”

“Oppa..” ucap Hyuna sedih.

Hyunseung mengulurkan tangannya memegang tangan Hyuna, “Jebal Hyuna, hanya kau yang kumiliki sekarang. Jika kau pergi, aku tidak punya siapa pun lagi..” mohonnya.

Hyuna benar-benar tidak tau harus mengatakan apa, namun melihat Hyunseung terluka membuatnya ikut terluka.

“Jebal Hyuna..” pinta Hyunseung.

Hyuna menatap Hyunseung sedih.

Hyunseung menggenggam kedua tangan Hyuna dan menempelkan telapak tangan gadis itu ke pipinya, “Kumohon, Hyuna..” pintanya.

Hyuna bisa mendengar suara Hyunseung bergetar ketika mengatakan itu. pria itu akan menangis kapan saja jika ia tidak juga berkata iya. Tapi ia tak mungkin tetap disini jika Chaerin kembali ke New York.

“Ahh..” rintih Hyunseung sambil memegang dadanya.

Hyuna terkejut, “Oppa, waekeure?” tanyanya panik.

Satu tangan Hyunseung mencengkeram tangan Hyuna sementara yang lain tetap memegang dadanya, “Ahh… dadaku..” rintihnya kesakitan.

Hyuna langsung bergerak bangkit dan menekan tombol pemanggil perawat.

Semua yang menunggu diluar terkejut melihat dua orang perawat dan seorang suster berlari masuk ke ruangan Hyunseung.

“Oh.. ada apa ini?” tanya Ailee bingung.

……………………………………………………………………………………………….

“Tolong jangan beri tekanan dulu..” Ucap dokter setelah memeriksa keadaan Hyunseung diluar kamar perawatan.

Hyuna menunduk menyesal dengan Chaerin yang merangkulnya.

“Ne, Dokter..” ucap Jiyong.

“Keadaan pasien masih lemah, jika mendapat tekanan ia akan drop lagi dan kemungkinan bisa kembali koma.. atau lebih buruk..” jelas dokter itu.

“Cesonghamida, dokter..” ucap Hyuna menyesal.

“Keure, sekarang biarkan pasien beristirahat. Dia sedang dalam pengaruh obat tidur. Selamat malam..” ucap dokter itu dan berjalan pergi.

Jiyong memandang Hyuna, “Apa yang kau katakan pada Hyunseung?” tanyanya ingin tau.

Hyuna memandang Jiyong menyesal, “Tadi Hyunseung oppa bertanya apakah aku akan pergi bersama eonniku. Setelah itu oppa langsung merasa sakit di dadanya..” ceritanya.

“Gwenchana.. dia akan segera baik-baik saja..” ucap Chaerin menenangkan.

Jiyong menghela nafas dalam, “Ahh.. dia pasti sangat takut kau akan pergi..” ucapnya pada Hyuna.

Hyuna tertegun mendengar ucapan Jiyong dan berpandangan dengan Chaerin.

Malam itu.

Jay kembali ke ruang tunggu tempat teman-temannya tadi dan memberikan pada Hyuna yang masih terlihat sedih.

This is for you..” ucap Jay sambil menyodorkan minuman kaleng hangat.

Hyuna mengangguk sopan sambil mengambil minuman kaleng itu, “Gumopta oppa..” ucapnya.

Jay tersenyum tipis dan duduk disebelah Hyuna, karena Chaerin sedang menemani Jiyong mengurus administrasi. Sedangkan Ailee menjaga Hyunseung di dalam.

Hyuna diam memandangi minuman kaleng ditanganya. Ia sangat bingung dengan keadaan itu.

Jay memperhatikan Hyuna bingung, “What’s wrong?” tanyanya.

Hyuna memandang Jay, “Oppa, apa oppa bisa berbahasa Korea?”

Jay diam memandang Hyuna, “What?” tanyanya.

Hyuna menghela nafas dalam, “Aku akan menceritakan sesuatu..”

Jay mengerutkan dahi.

“Oppa, aku ingin bersama Chaerin eonni. Jadi aku harus pergi ke New York. Tapi aku juga ingin bersama Hyunseung oppa, tapi aku tidak bisa terus disini. Aku benar-benar bingung..” ucap Hyuna tanpa mempedulikan wajah bingung Jay. Sebenarnya ia hanya ingin menyampaikan apa yang ia pikirkan tanpa diketahui siapa pun. “Apa Chaerin eonni mau tetap disini bersamaku?”

Jay tertegun mendengar pertanyaan Hyuna.

Hyuna menghela nafas dalam, “Fiuuuhh.. aku sudah mengatakannya..” ucapnya sambil tersenyum, “Thank you..

Jay menatap Hyuna aneh, lalu tertawa kecil. ‘She just like Chae..’ batinnya.

Hyuna membuka minuman kaleng ditangannya dan meminum isinya, “Hmm..”

Jay ikut membuka minuman ditangannya dan menyeruput isinya. Ia kembali memandang Hyuna dan tersenyum, “Hyuna..”

Hyuna memandang Jay, “Ne..”

Jay diam sejenak memandang Hyuna, “Kau mau tau sebuah rahasia?”

Hyuna tertegun mendengar ucapan Jay dengan mata berkedip-kedip bingung, “Oh.. kukira oppa tidak bisa berbahasa Korea..”

“Awalnya memang tidak bisa, tapi setelah bertemu Chaerin aku mempelajarinya..” jelas Jay.

Hyuna tersenyum, “Jadi oppa bisa berbicara Korea?”

Jay mengangguk, “Kau bisa menjaga rahasia?”

Hyuna kembali bingung, “Tapi kenapa oppa merahasiakannya?”

Jay diam sejenak, “Jika yang lain tau aku bisa berbicara Korea, aku tidak akan bisa mendengar Chaerin berbicara sesukanya untuk melepaskan beban hatinya..”

Hyuna tertegun, “Ne? Eonni?”

Jay mengangguk, “Ne.. selama bertahun-tahun ini Chae terkadang bergumam dalam bahasa Korea agar aku tidak mengerti. Tapi dia tidak bisa melakukannya di depan Ailee.. Kau mengerti?”

Hyuna mengangguk, “Memangnya eonni mengatakan apa saja oppa?” tanyanya ingin tau.

Jay mengerutkan dahi mengingat apa saja yang sudah diucapkan Chaerin, “Sebagian besar tentang dirimu. Sebagian lagi tentang kehidupannya di New York..”

“Kenapa eonni mengatakannya pada orang yang tidak mengerti ucapannya?” tanya Hyuna tak mengerti.

Jay tersenyum, “Seperti yang kau lakukan tadi, dia tidak ingin orang lain tau bagaimana masalahnya. Ia gadis kuat yang tidak pernah meneteskan air matanya didepan siapa pun. Tapi begitu bertemu denganmu, Chae benar-benar menangis..” ceritanya.

Hyuna tersenyum, “Gumayo oppa, sudah menjaga eonniku..” ucapnya tulus.

Jay mengangguk, “Ne..” jawabnya, “Tentang kau bicarakan tadi, apa kau benar-benar ingin bersama Hyunseung?”

Hyuna tertegun, “Ne? Oh.. itu.. mmm..” gumamnya sambil garuk-garuk kepala.

“Hyuna..” ucap Jay pelan, “Aku tau kau tidak ingin Hyunseung seorang diri, tapi kuharap kau tidak mengecewakan Chaerin..” ucapnya meminta.

Hyuna memandang Jay menyesal, “Ne, oppa..”

Sementara itu.

Chaerin dan Jiyong berjalan kembali menuju kamar perawatan Hyunseung, mereka kembali merasa canggung satu sama lain.

“Mmm.. Jiyong-ssi, apa aku boleh meminta bantuanmu sekali lagi?” tanya Chaerin.

Jiyong memandang Chaerin sambil tersenyum, “Ne, katakan saja..”

“Mmm.. bisakah kau membantuku membuatkan passport untuk Hyuna?” tanya Chaerin hati-hati.

Langkah Jiyong terhenti dan langsung menatap Chaerin kaget, “Ne?”

Chaerin sudah menebak respon Jiyong akan seperti ini, namun entah mengapa ia tetap merasa tidak enak.

Jiyong menatap Chaerin tak percaya, “Maksudmu, kau akan membawa Hyuna ke New York?”

Chaerin mengangguk, “Ne..”

“Kau akan kembali ke New York?” tanya Jiyong sedih.

Chaerin memandang ke bawah sedih, lalu mengangguk berat. “Ne..”

Jiyong sangat sedih mengetahui itu, “Kapan kau akan kembali?”

“Aku belum tau, mungkin setelah semua masalah disini selesai..” jawab Chaerin, “Apa kau bisa membantuku?”

Jiyong menghela nafas dalam, sebenarnya ia ingin menolak. “Keure, aku akan membantumu..”

Chaerin tersenyum, “Terima kasih, Jiyong-ssi..”

<<Back          Next>>

Advertisements

3 thoughts on “my Sister and I [Chapter 19]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s