Chapter

My Sister and I [Chapter 18]

18

It’s Not Ending Yet

=Kamar perawatan=

Jiyong yang duduk di sebelah tempat tidur Hyunseung melirik Hyuna dan Chaerin yang duduk di sofa. Hyuna duduk sambil memeluk Chaerin dari samping, gadis yang satunya merangkul gadis itu. ia hanya tak bisa percaya kedua  gadis itu bersaudara karena benar-benar memiliki sifat yang bertolak belakang. Namun saat itu, ia melihat sisi lain Chaerin. Sisi lemah lembut dan penuh cinta pada Hyuna.

“Omo.. jadi selama ini eonni menginap di apartemen Jiyong oppa?” tanya Hyuna tak percaya.

Chaerin mengangguk, “Ne..” jawabnya, “Sepertinya takdir ingin mempermainkan kita beberapa saat..”

Hyuna mengerutkan dahi dan terlihat berkutat dengan pikirannya sendiri, “Padahal kita ada di gedung yang sama dan hanya dibatasi dinding..”

Chaerin tertawa kecil dan memperhatikan Hyuna yang tampak mengantuk namun tetap memaksa diri untuk tetap tersadar, “Hyuna-a, jika kau lelah tidur saja..” ucapnya pelan.

Hyuna mendongak memandang Chaerin, masih tetap menempelkan pipinya ke dada gadis itu. lalu menggeleng, “Shiroyo..” ucapnya pelan, “Aku pernah bertemu eonni sekali sebelumnya, tapi tiba-tiba aku langsung terbangun dan semuanya hanya mimpi. Jadi aku tidak akan tidur lagi, nanti ketika terbangun ini juga hanya mimpi..”

Chaerin menatap Hyuna sedih, tangannya kembali memeluk gadis itu dan meletakkan dagu di atas kepala adiknya. “Aniya, eonni akan selalu disini saat kau tertidur dan terbangun lagi.”

“Humm..” gumam Hyuna manja.

Chaerin tersenyum dan membelai rambut adiknya, lalu melepaskan pelukannya dan memandang gadis muda didepannya. “Tidur saja.. eonni akan menjagamu hingga terbangun..” ucapnya sambil mengambil bantal di sofa dan menempatkannya di atas pangkuannya, “Kemari..” ucapnya sambil menarik Hyuna berbaring di pangkuannya.

Hyuna membaringkan kepalanya ke pangkuan Chaerin, namun masih tetap memandang ke wajah kakaknya. Ia benar-benar takut semua ini hanya mimpi lagi.

Chaerin mengelus rambut Hyuna sambil tetap tersenyum, “Pejamkan matamu..”

Hyuna tersenyum pada Chaerin, lalu menggenggam satu tangan kakaknya dan memejamkan mata.

Chaerin memperhatikan adiknya sambil mengelus rambut gadis itu. ia sangat bahagia bisa bertemu adiknya lagi. Dulu ia sering melakukan hal ini ketika adiknya tidak bisa tidur disaat malam.

Setelah sekian lama hening, Jiyong memutuskan memecahkan keheningan.

“Chaerin-ssi..” panggil Jiyong.

Chaerin memandang Jiyong, “Ne?”

“Mmm.. sekarang pasti keluarga asuh adikmu sudah tau kita memenjarakan Junhyung. Apa kau siap dengan kelanjutan kasus ini?” Tanya Jiyong.

Chaerin diam sejenak untuk berpikir, lalu memandang Hyuna yang sudah terlelap di pangkuannya. Perlahan bibirnya membentuk senyuman dan kembali memandang Jiyong, “Aku siap menghadapi apa pun setelah berhasil menemukan adikku..”

Jiyong tersenyum, “Keure…”

=Persidangan=

“Jadi, apakah pihak anda akan menambahkan kesaksian lagi?” Tanya hakim pada Bom yang berdiri didepan meja yang diduduki Chaerin. Di seberang mereka Songyi duduk bersama pengacaranya. Sementara Jiyoon duduk di belakang ibunya.

Bom mengangguk, “Ne, hakim.” Jawabnya, lalu memandang Chaerin.

Chaerin bangkit dan berjalan menuju pintu ruang tunggu. Diluar Hyuna menunggu bersama Ailee dan Jay. Bibirnya membentuk senyuman ketika menghampiri adiknya, “Kau siap?”

Hyuna tampak sangat gugup, namun ia menganggukkan kepalanya.

Chaerin mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Hyuna, kemudian membawa gadis itu menuju ruang sidang. “Jangan khawatir, eonni ada disini untukmu..” ucapnya sebelum membuka pintu.

Hyuna mengangguk.

Chaerin membuka pintu dan melangkah masuk bersama Hyuna. Jiyong tampak memperhatikan mereka berjalan menuju meja hakim.

Mata Songyi membesar melihat Hyuna muncul bersama Chaerin.

“Kim Hyuna-ssi.. Animida, Lee Hyuna-ssi akan memberi kesaksian atas apa yang sudah terjadi padanya..” ucap Bom pada hakim.

Hakim mengangguk, “Baiklah..”

Hyuna terperanjat ketika melihat Songyi dan langsung memeluk lengan Chaerin takut.

Chaerin mengelus tangan adiknya, “Gwenchana.. eonni ada disini..” bisiknya pada gadis itu.

Hyuna memandang Chaerin, meskipun terlihat sangat ketakutan, ia merasa tenang bersama kakaknya.

Chaerin mengantarkan Hyuna ke kursi saksi dan kembali duduk ke mejanya.

Hyuna duduk dengan kepala tertunduk.

“Kim Hyuna-ssi, benarkah Jung Songyi-ssi telah memperalatmu selama tinggal bersamanya?” Tanya Hakim.

Hyuna melirik hakim, lalu memandang Chaerin yang tampak mengangguk untuk memberikan keberanian padanya. “Ne..” jawabnya pelan.

Songyi menatap Hyuna, berusaha menjatuhkan mental gadis itu agar tidak melawannya.

Hyuna terkejut melihat tatapan Songyi dan kembali menunduk takut.

“Bagaimana kau tau bahwa Jung Songyi-ssi memperalatmu?” Tanya hakim lagi.

Kedua tangan Hyuna mulai gemetaran, ia benar-benar takut bertemu dengan ibu asuhnya itu lagi. “Eo-eomma… eomma memperkerjakanku di butiknya tanpa gaji dan tidak memberikanku uang saku sama sekali..” jawabnya.

Hakim memandang Songyi yang berusaha terlihat tidak tau apa pun, lalu kembali memandang Hyuna. “Kim Hyuna-ssi, bisa kau ceritakan apa saja yang sudah dilakukan ibu asuhmu selama kau bersamanya?”

Hyuna menjilat bibirnya yang kering, “Eomma melarangku berhubungan dengan eonni..” ucapnya pelan, “Tidak mengijinkanku melakukan apa pun yang kumau. Juga…” matanya bergerak-gerak panic mengingat bagaimana mengerikannya ketika ia dikurung digudang, bulir air matanya berjatuhan begitu saja.

Chaerin menatap Hyuna khawatir, “Pengacara Kwon, bisakah aku berdiri disebelah Hyuna?” bisiknya.

“Itu akan dibilang mempengaruhi saksi, Chaerin-ssi..” jawab Bom.

Chaerin menghela nafas kecewa dan kembali memandang Hyuna.

“Kim Hyuna-ssi?” panggil hakim.

“Eomma.. eomma mengurungku digudang..” gerak bibir Hyuna tanpa suara, ia terlalu takut membayangkannya hingga tak sanggup mengatakannya dengan jelas.

“Ne? kami tidak mendengarmu, Kim Hyuna-ssi..” ucap Hakim tadi.

Hyuna mulai gemetaran dan menangis tersedu-sedu ditempatnya, “Tolong aku.. Aku tidak mau disini..” tangisnya sambil menggeleng. Tubuhnya merosot dari kursi, “Eomma buka pintunya.. aku takut disini..” tangisnya ketakutan.

Chaerin langsung berdiri dan berlari menghampiri Hyuna, “Hyuna.. Hyuna..” ucapnya sambil memegang kedua pipi gadis itu dan menatap wajahnya, bulir air matanya ikut berjatuhan mengetahui betapa menderitanya Hyuna selama ini. “Gwenchana.. eonni disini..” ucapnya dan memeluk gadis itu.

Songyi mulai terlihat panic karena trauma Hyuna yang tiba-tiba muncul begitu bertemu dengannya.

Hyuna seperti merasakan apa yang ia rasakan ketika di kurung didalam gudang. Ia terus menangis di pelukan Chaerin. “Eomma maafkan aku… aku takut..” tangisnya.

“Hyuna.. eonni disini.. Jangan takut..” ucap Chaerin sambil mendekap adiknya.

Jiyong segera bangkit dan menghampiri Chaerin, “Aku akan menenangkannya diluar..” ucapnya sambil memapah Hyuna bangkit dan membawa gadis itu keluar.

Chaerin menatap Hyuna sedih, ia sangat menyesal tidak kembali lebih cepat. Adiknya tidak akan merasakan itu jika ia langsung kembali.

Bom merangkul Chaerin dan membawa gadis itu kembali duduk dikursinya. Lalu memandang hakim, “Apakah kejadian yang baru saja terjadi belum meyakinkan anda, hakim?”

Hakim memandang Songyi yang terlihat gelisah, ia menghela nafas dalam dan mengangkat palu kayunya. “Jung Songyi kunyatakan bersalah!” TOK! TOK! TOK!

=Apartemen Jiyong=

Chaerin menatap Hyuna yang terlelap khawatir, gadis itu terus menangis ketakutan dan berakhir pingsan karena terlalu tertekan. Tangannya dengan lembut mengelus rambut gadis itu. ia membungkuk sedikit dan mencium dahi adiknya, lalu kembali menatap wajah gadis itu dalam. “Jangan takut Hyuna-a, eonni sudah berada disini..” bisiknya. Lalu bangkit sambil memperbaiki selimut adiknya dan berjalan keluar dari kamarnya untuk menemui Bom dan yang lain.

“Dia sudah lebih baik?” Tanya Ailee.

Chaerin mengangguk dan duduk disebelah Jay.

“Chaerin-ssi, perjuangan kita belum berakhir..” ucap Bom mengingatkan.

Chaerin menghela nafas dalam dan mengangguk, “Ne..” ucapnya.

“Apa yang akan terjadi lagi setelah ini?” Tanya Jiyong.

“Akan ada sidang lanjutan mengenai hukuman Jung Songyi. Aku akan berusaha semampuku agar dia mendapat hukuman seberat-beratnya..” ucap Bom pada Chaerin.

Chaerin tersenyum, “Gumopta pengacara kwon..” ucapnya, lalu menunduk karena perasaan sedihnya.

Jay mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Chaerin.

Chaerin memandang Jay dan tersenyum.

Jiyong tertegun melihat kedua sahabat itu terlihat sangat berbeda dalam menyampaikan perhatian mereka.

“Eonni..” terdengar suara Hyuna memanggil Chaerin dari dalam kamar.

Chaerin memandang ke kamar dan langsung berdiri, “Aku akan menemani Hyuna..” ucapnya dan langsung melangkah cepat ke kamar.

Jiyong geleng-geleng kepala memperhatikan Chaerin, “Wuaaa.. dia seperti punya dua kepribadian..” ucapnya tak mengerti.

“Aniya, dia memang selalu seperti itu.. Kau saja yang tidak tau..” ucap Ailee dan menahan tawa.

Jiyong memandang Ailee kaget, “Ne?”

Di dalam kamar.

Hyuna terbangun dari tidurnya dan tidak melihat siapa pun. Ia berpikir kalau semua yang terjadi sebelumnya hanya mimpi dan kembali menangis.

Chaerin membuka pintu kamar dan segera menghampiri Hyuna, “Hyuna-a.. ssssh.. jangan menangis lagi..” ucapnya sambil memegang kedua pipi adiknya.

Hyuna memandang Chaerin, “Eonni..” tangisnya dan langsung memeluk kakaknya.

“Sssssh.. eonni disini..” ucap Chaerin sambil mengelus punggung adiknya.

Hyuna mulai tenang dalam pelukan Chaerin.

Chaerin membiarkan Hyuna merasa nyaman di pelukannya sambil mengelus rambut adiknya dengan ibu jari.

Hyuna memandang Chaerin, “Eonni, kupikir tadi aku hanya bermimpi bertemu denganmu lagi..”

Chaerin tersenyum dan menyeka air mata adiknya, “Aniya, ini bukan mimpi. Kau memang sudah bertemu eonni..”

Hyuna tersenyum dan kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Chaerin. Setelah beberapa saat, ia bergerak bangkit sambil memandang kakaknya, “Eonni, bagaimana dengan Hyunseung oppa?”

Chaerin menghela nafas dalam sambil merapikan rambut adiknya yang menutupi wajah, “Dia sudah stabil sekarang, tapi belum sadarkan diri..”

Hyuna memandang kebawah sedih.

“Gwenchana, ia akan segera sadar. Kondisinya cukup baik sekarang..” ucap Chaerin menghibur.

Hyuna kembali memandang Chaerin dan tersenyum, “Ne, eonni..”

Chaerin tersenyum melihat adiknya merasa nyaman, “Setelah kau merasa lebih baik, kita akan mengunjungi Hyunseung lagi ke rumah sakit..”

Hyuna mengangguk, “Ne..”

Malamnya.

Chaerin membantu Ailee menyiapkan makanan di dapur Jiyong, sementara Hyuna membersihkan dirinya.

Jay yang membawa majalah di sofa melirik Jiyong keluar dari kamarnya untuk mengambil sesuatu di lemari kecil di dekat sofa, namun pria itu terlihat tak berhenti melirik ke arah Chaerin yang sedang sibuk di dapur. Bahkan hingga pria itu kembali masuk ke kamarnya. Ia menghela nafas dalam untuk menetralkan emosinya. Sejujurnya ia tidak ingin Chaerin terus tinggal di apartemen Jiyong, namun ia tak bisa melarang gadis itu juga. Jadi ia bangkit dan menghampiri teman-temannya di dapur. “Chae..” panggilnya sambil menyandarkan pinggangnya ke meja dapur.

Chaerin memandang Jay, “What’s up?

Jay diam sejenak, “Mmm.. I just want to know..” ucapnya pelan, lalu menatap Chaerin serius. “Do you want to go back to New York?

Ailee juga langsung menatap Chaerin serius, menunggu apa yang akan di katakan temannya itu.

Chaerin tertegun mendengar pertanyaan Jay, ia menghela nafas dalam dan memandang dua temannya bergantian. “Mmm.. honestly, I don’t know yet..” jawabnya, membuat temannya terlihat kecewa. “But..” tambahnya cepat, “..No place I know except New York. Right?” tanyanya sambil kembali memandang kedua temannya bergantian.

Ailee tampak ragu dengan ucapan Chaerin, “You want to stay here, don’t you?

Chaerin tak bisa menyembunyikan apa yang sebenarnya ia rasakan jika Ailee sudah menebaknya, “Ummmm.. maybe..” jawabnya pelan.

Chae, just think about this for a while..” ucap Jay.

Chaeriin mengangguk, “Yes, I’ll think about this. But right now I want give all my time for my sister. Okay?

Ailee dan Jay saling berpandangan, lalu mengangguk mengerti.

Chaerin tersenyum memandang kedua temannya bergantian, “Thank you..

=Ruang Perawatan=

Hyuna menatap Hyunseung yang terlihat seperti tak bernyawa di tempat tidur, hanya dadanya yang tergerak naik turun perlahan. “Oppa, kenapa kau tidak sadar juga?” tanyanya pelan. Kepalanya menoleh ketika mendengar pintu terbuka, Chaerin masuk sambil tersenyum padanya.

“Hyuna, sudah waktunya kembali..” ucap Chaerin.

Hyuna menghela nafas dalam, “Apa aku tidak bisa menemani Hyunseung oppa malam ini?”

Chaerin menggeleng, “Aniya, kita kembali besok pagi. Jiyong-ssi yang akan menjaganya saat malam..”

Hyuna mengangguk mengerti, “Keure..” ucapnya berat, lalu memandang Hyunseung. “Aku akan menemaninya beberapa saat lagi.”

Chaerin mengelus rambut Hyuna, “Eonni akan menunggu diluar..” ucapnya dan berjalan keluar.

Setelah Chaerin keluar, Hyuna bangkit sambil tetap menatap wajah Hyunseung. Ia membungkuk sedikit dan mengelus pipi pria itu, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu. “Oppa, aku sudah bertemu dengan eonniku. Cepatlah sadar.. aku menunggumu..” bisiknya, lalu mencium pipi pria itu. ia kembali berdiri tegap dan memandangi Hyunseung beberapa saat, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum membuka pintu ia sempat melirik ke arah Hyunseung sekali lagi.

Sementara itu.

Chaerin menghampiri Jiyong yang langsung berdiri begitu melihatnya keluar.

“Kau akan kembali?” tanya Jiyong, entah mengapa ia jadi merasa canggung.

Chaerin tersenyum tipis, “Ne..”

“Mm.. begitu..” komentar Jiyong sambil mengelus belakang kepalanya.

Chaerin menatap Jiyong tulus, “Jiyong-ssi, apa setelah ini kau akan kembali kerumahmu?”

Jiyong tersenyum malu, “Ne..”

Senyuman Chaerin berubah menjadi senyuman tulus, “Gumawoyo..”

Jiyong memandang Chaerin bingung, “Wae? kau yang menemukan adikmu..” ucapnya menahan tawa.

“Ne, tapi aku tidak akan menemukannya jika kau tidak membantuku..” ucap Chaerin.

Jiyong tersenyum malu sambil mengelus belakang kepalanya lagi. “Ne..”

“Juga..” lanjut Chaerin, membuat Jiyong memandangnya menunggu kelanjutkan ucapannya. “..terima kasih sudah meminta Seunghyun-ssi mencari adikku..”

Jiyong tertegun, “Ne? Oh.. darimana kau tau?”

Chaerin tersenyum, saat itu ia mendengar pintu terbuka dan melihat Hyuna keluar. “Sudah selesai?”

Hyuna mengangguk.

Chaerin merangkul Hyuna yang berjalan ke sisinya, “Khaja..”

Hyuna tersenyum pada Jiyong, “Sampai besok oppa..”

Jiyong mengangguk, “Ne..”

Chaerin kembali memandang Jiyong, “Terima kasih untuk semuanya, Jiyong-ssi..” ucapnya tulus.

Jiyong tersenyum lebar, “Ne..”

Chaerin melangkah bersama Hyuna meninggalkan ruang perawatan Hyunseung.

<<Back          Next>>

Advertisements

3 thoughts on “My Sister and I [Chapter 18]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s