Chapter

My Sister and I [Chapter 9]

9

—Where is My Sister?—

=Beberapa Hari Kemudian=

Hyunseung masuk ke apartemennya tapi tak menemukan Hyuna dimana pun. Ia melepaskan tas ranselnya dan meletakkannya ke sofa, kemudian melangkah ke ruang jahit. Ternyata Hyuna tertidur di sana dengan posisi duduk dan kepala bertumpu di lipatan tangannya di meja. Wajah gadis itu terlihat sangat tenang. Ia menoleh ke boneka torsho yang sudah mengenakan pakaian buatan Hyuna. Matanya terpaku melihat rimpel indah di bagian pinggang yang sangat sulit di lakukan oleh pemula, tangannya menyentuh rimpel itu tak percaya. Kepalanya menoleh kearah Hyuna, ‘Bagaimana dia melakukannya?’ Batinnya tak percaya. Matanya berpindah pada tangan gadis itu, tangannya terulur perlahan untuk menyentuh jemari gadis itu.

Hyuna terbangun karena merasakan tangannya di tarik seseorang. Dahinya berkerut dan membuka matanya perlahan, ia melihat seseorang memegang tangannya. Matanya langsung membesar menyadari Hyunseung mencium jemarinya. Spontan kepalanya bangkit sambil tetap menatap pria itu kaget, “San.. Sanbae?”

Hyunseung memandang Hyuna, “Kau memiliki tangan yang indah..” Ucapnya, lalu menatap jemari gadis itu seperti sesuatu yang ajaib.

Dahi Hyuna berkerut, “Apa maksudmu sanbae?” Tanyanya tak mengerti.

Hyunseung menatap Hyuna dan memegang pipi gadis itu, “Apa pun yang terjadi, kau harus tetap berada disisiku..” Ucapnya.

Hyuna terpaku mendengar ucapan Hyunseung, “Sanbae?”

Hyunseung menatap tangan Hyuna lagi, “Kau harus menciptakan sesuatu bersamaku..” Ucapnya pada tangan itu dan kembali menciumnya.

Mata Hyuna membesar melihat tangannya di cium lagi oleh pria itu, “Sanbae!!!” Teriaknya spontan dan memukul kepala pria itu dengan tangannya yang lain.

DUAKKK!! BRUKK!!

Hyunseung membentur boneka torsho dan jatuh ke lantai.

Hyuna menggenggam tangannya yang tadi dicium Hyunseung sambil menatap pria itu ngeri.

“Aahh..” Rintih Hyunseung sambil memegang kepalanya, “Kenapa kau memukulku?” Tanyanya sebal.

Hyuna bergerak bangkit, “Apa yang kau lakukan?”

Hyunseung mengulurkan tangan untuk berpegangan ke kursi agar dia bisa bangkit, namun karena dengan mata terpejam tangannya malah memegang paha Hyuna.

“KYAAAAAA!!!” Teriak Hyuna histeris dan menendang Hyunseung, lalu berlari keluar.

“Ahhh… Ya!!” Seru Hyunseung sambil mengelus dagunya, lalu bangkit perlahan. Ia tertegun mendengar suara pintu apartemen terbuka dan tertutup lagi, matanya membesar dan langsung berlari mengejar Hyuna.

Hyuna panik karena Hyunseung berlaku seperti pria mesum, ia mempercepat langkah kakinya ketika melihat lift disisi kiri terbuka. Dengan cepat ia masuk dan menekan tombol untuk menutup pintu.

Hyunseung berlari menuju lift namun terlambat, ia segera menghampiri pintu lift disisi kanan dan menekan tombolnya gusar. Akhirnya lift itu tiba dilantai itu dan terbuka.

Jiyong terkejut Hyunseung masuk seperti orang kesurupan, “Ya, ada apa denganmu?”

Chaerin menatap Hyunseung tak mengerti.

“Cesonghamida..” Ucap Hyunseung sambil mendorong Jiyong dan Chaerin keluar dari lift dan menekan tombol menutup.

Dahi Jiyong dan Chaerin berkerut melihat pintu lift itu tertutup, lalu saling berpandangan.

“Kupikir hanya kau yang gila..” Ucap Chaerin, lalu melangkah menuju apartemen Jiyong.

“Mwo? Ya..” Jiyong mengikuti Chaerin kesal.

Hyuna keluar dari pintu lift dan berlari keluar gedung, begitu tiba di depan gedung, ia terkejut sebuah mobil mengarah kepadanya. “Kyaaaa!!” Teriaknya kaget.

Mobil itu berhenti sedetik sebelum mengenai tubuh Hyuna. Pintu belakang terbuka dan keluar gadis berseragam SMP yang langsung menghampirinya.

“Eonni, gwenchana?” Tanya gadis berseragam SMP itu khawatir.

Hyuna memegang dadanya, “Ne…” Jawabnya.

“Cesonghamida, seharusnya supirku tidak terlalu kencang saat parkir..” Ucap gadis itu.

Hyuna mengangguk, “Ne..” Ucapnya lagi, matanya melihat Hyunseung keluar dari gedung. “Omo.. Sampai jumpa..” Ucapnya dan kembali berlari.

Hyunseung melihat Hyuna berlari, “Ya!” Panggilnya, kemudian mengejar gadis itu. Akhirnya dia bisa menarik lengan Hyuna ketika melewati sebuah taman bermain, “Kim Hyuna! Tunggu dulu!”

Hyuna terkejut dan menatap Hyunseung takut, “Jangan sanbae! Usiaku masih 17 tahun.. Aku tidak mau melakukannya sebelum aku menikah..” Ucapnya langsung.

Hyunseung menatap Hyuna dengan dahi berkerut dan nafas sesak karena berlari tadi, “Mwo?”

Hyuna menyilangkan kedua tangannya di dada, “Kumohon sanbae..” Ucapnya menahan tangis.

Hyunseung mengerti kemana arah pembicaraan Hyuna, ia menghela nafas dalam sambil mengelus dahinya, “Ya.. Kau pikir aku sebejat itu?” Tanyanya kesal, namun gadis di depannya malah menangis. “Aisssh.. Kau benar-benar..”

“Aku akan pergi ke tempat lain, terima kasih sanbae..” Ucap Hyuna sambil membungkuk sopan dan berbalik.

“Ya!” Panggil Hyunseung kesal.

Hyuna berhenti dan kembali memandang Hyunseung.

Hyunseung mengacak-acak belakang kepalanya frustasi, “Dengar, aku tidak bermaksud melakukan tindakan asusila. Aku tadi tidak sengaja memegang pahamu..” Ucapnya menjelaskan.

“Tapi sanbae mencium tanganku seperti orang tidak waras..” Ucap Hyuna menjelaskan ketakutannya.

Hyunseung memutar bola matanya kesal, “Well, aku memang tidak waras jika melihat tanganmu. Kau puas?”

Dahi Hyuna berkerut, lalu memandang kedua tangannya, “Tanganku?”

Hyunseung memandang tangannya Hyuna, “Ne..” Jawabnya.

Hyuna memandang Hyunseung bingung, “Wae?”

Hyunseung memegang tangan Hyuna dan mengelus telapak tangannya, “Tangan lembut yang bisa merubah kain menjadi pakaian indah..” Ucapnya pelan, “Ibuku juga memiliki tangan seperti ini..”

Hyuna tertegun mendengar nada bicara Hyunseung terdengar sedih, “Ne?”

Hyunseung menatap tangan Hyuna dalam, “Aku selalu mengenakan pakaian yang ibuku buatkan setiap hari. Hanya aku.. Karena semua saudaraku sudah memiliki ribuan baju dari keluarga ayahku. Tapi aku tidak.. Bahkan mereka tidak mengakui sebagai anggota keluarga mereka…” Ucapnya sedih, matanya bergerak menatap Hyuna. “Karena ibuku hanya seorang pembantu yang jatuh cinta pada tuannya..”

Hyuna tertegun, “Sanbae?”

Hyunseung menggenggam tangan Hyuna, “Aku sangat kesepian Hyuna, bisakah kau menemaniku bersama tangan indahmu ini? Aku tidak akan meminta apa pun..” Ucapnya tulus.

Hyuna menatap Hyunseung tak percaya, “Sanbae, aku..”

“Aku tidak peduli apa pun.. Jika perlu menyembunyikanmu seumur hidupku, aku tidak peduli..” Ucap Hyunseung tegas.

Hyuna tau, merasa diinginkan adalah hal paling membahagiakan di dunia ini. Perlahan bibirnya membentuk senyuman dan mengangguk, “Ne, sanbae..”

Apartemen Jiyong.

Chaerin membuka kulkas dan melihat isinya dengan dahi berkerut, “Ya! Apa hanya bir yang bisa kau minum?” Tanyanya sebal, lalu kembali menutup pintunya.

Jiyong yang sedang menonton tv menoleh kearah Chaerin aneh, “Ini kan apartemenku..”

Chaerin memutar bola matanya kesal, “Terserah kau..” Ucapnya, lalu melangkah menuju pintu depan.

Jiyong tertegun melihat Chaerin melangkah ke pintu, “Ya.. Mau kemana kau?”

Chaerin terus melangkah ke pintu dan mengenakan sepatunya, “Pergi mencari sesuatu yang bisa di minum..” Ucapnya cuek.

“Aissh..” Ucap Jiyong kesal sendiri.

Ketika Chaerin membuka pintu, ia tertegun melihat seorang anak SMP yang hendak menekan bel. Mereka berpandangan untuk waktu yang lama.

“Nuguseyo?” Tanya gadis itu bingung.

“Ya!” Panggil Jiyong sambil menghampiri Chaerin, ia ikut terpaku melihat gadis itu.

“Oppa..” Sapa gadis tadi, namun dengan wajah bingung.

Chaerin kembali ingat gadis itu adalah adik Jiyong, Minji.

“Minji-a, kenapa kau disini?” Tanya Jiyong sambil mendorong Chaerin keluar agar bisa membuka pintu lebih lebar. “Pergilah, jangan terlalu jauh..” Ucapnya pada Chaerin, lalu merangkul adiknya masuk.

Chaerin menatap pintu yang bergerak menutup sebal, lalu melangkah menuju pintu lift. Ia menekan tombol dan menunggu lift terbuka. Pintu lift di sebelah kiri terbuka, ia langsung melangkah masuk dan menekan lantai mana ia akan pergi.

Disaat yang bersamaan, lift disebelah kanan juga terbuka. Hyunseung dan Hyuna keluar dan melangkah canggung menuju apartemen pria itu.

Chaerin sempat melihat seorang pria dan gadis berjalan di lorong hingga pintu lift benar-benar tertutup. Ketika lift tertutup, ia ingat bagaimana Jiyong merangkul Minji tadi, pria itu lebih memilih adiknya dari pada mengejarnya. Hal itu membuatnya menyadari sesuatu, kalau Jiyong tak seburuk pemikirannya.

Jiyong duduk di sofa bersama Minji, “Waeyo?”

“Oppa, appa semakin marah kau tidak pulang. Pulanglah..” Bujuk Minji.

Jiyong mengelus belakang kepalanya, “Aku akan pulang, tapi tidak sekarang.. Aku bosan bertemu appa..”

Minji cemberut, “Aku yang jadi sasaran kemarahan appa.. Pulanglah oppa..” Bujuknya.

“Minji-a, oppa hanya ingin menenangkan diri lebih lama sedikit. Nanti oppa akan pulang..” Ucap Jiyong.

“Oppa! Pengawalmu terancam akan di pecat appa jika tidak behasil membawamu pulang..” Ucap Minji sebal.

Jiyong tertegun, “Ne? Appa akan memecat mereka? Ahh.. Tidak masuk akal..” Ucapnya sebal.

“Karena itu oppa, pulanglah..” Bujuk Minji sambil mengguncang-guncanng lengan Jiyong.

Jiyong menatap adiknya iba, ia tau gadis itu hanya kesepian di rumah besar mereka. Satu tangannya terangkat dan membelai kepala Minji sambil tersenyum tipis, “Oppa sekarang sedang membantu seorang teman, setelah itu oppa akan pulang. Araso?”

Minji cemberut, “Siapa? Eonni yang tadi? Apa dia kekasihmu?”

Jiyong menggeleng, “Aniya, temanku. Dia sekarang sedang kesulitan. Jadi aku harus membantunya..”

“Wae?” Tanya Minji.

Jiyong merapikan poni Minji, “Temanku itu sedang kehilangan adiknya, dia sangat menyayangi adiknya itu hingga tidak memikirkan apa pun selain cara untuk mendapatkan adiknya. Oppa membantunya karena oppa menyayangimu, jika hal itu terjadi padaku tapi tidak ada yang membantuku untuk menemukanmu bagaimana? Tentu akan sangat memilukan. Keutji?”

Minji diam sejenak dan menghela nafas dalam, “Kenapa oppa menjadikanku contoh?” Tanyanya sebal.

Jiyong tertawa kecil, “Karena oppa tidak mau kau hilang, araso?”

“Ne..” Jawab Minji berat.

Sementara itu.

Chaerin duduk di depan sebuah minimarket sambil menikmati sebotol jus jeruk, ia menghela nafas dalam berkali-kali mengingat adiknya masih berada entah dimana. Beberapa kali ia merasa ragu pada dirinya sendiri karena tak juga menemukan Hyuna. Ponselnya berbunyi, ia mengeluarkan benda itu dan memandang layarnya. Lalu mengangkat panggilan itu, “Yes, Ailee..” Jawabnya.

Have you opened your e-mail address?” Tanya Ailee di seberang.

Not yet, why?” Tanya Chaerin bingung.

I’m so sorry.. Aku tidak sengaja membuka e-mailmu dan menemukan sebuah pesan baru. Awalnya aku tidak ingin melihat, tapi karena akun yang mengirimnya berbeda aku membukanya.” Jawab Ailee membesar.

Chaerin menghela nafas dalam, “It’s okay, just an e-mail..” Jawabnya lesu.

But, that message from your baby sister..” Ucap Ailee lagi.

Chaerin terpaku, “What?!” Serunya kaget.

Apartemen Jiyong.

Jiyong duduk memikirkan ucapan Minji tadi, sebenarnya ia juga tak tega membiarkan adiknya seorang diri di rumah karena kedua kakak mereka sudah memiliki rumah sendiri. Terkadang ia berharap agar terlahir sebagai perempuan.

Ting! Tong! Ting! Tong! Ting! Tong! Ting! Tong! Ting! Tong! Ting! Tong!

Jiyong menatap ke arah pintu kesal, “Siapa yang menekan bel seperti itu?!” Tanyanya sembari bangkit dan menghampiri layar cctv. Dahinya berkerut melihat Chaerin yang tak henti-henti membunyikan bel, jadi ia langsung menekan tombol buka otomatis.

Chaerin membuka pintu dan berlari masuk menghampiri Jiyong, “Where is your computer? Laptop? Or anything!! I need that!!” Serunya langsung.

Dahi Jiyong berkerut, “Mwo?”

Ah stupid!” Seru Chaerin kesal.

Mata Jiyong membesar, “Ya!! Aku mengerti kata itu!!”

“Aku butuh komputer!!!” Seru Chaerin.

“Bilang saja komputer..” Gerutu Jiyong sambil melangkah ke kamarnya, lalu keluar dengan notebooknya. “Ini..”

Chaerin mengambil notebook Jiyong dan membawanya ke sofa, lalu segera menghidupkannya dan membuka akun e-mailnya.

Jiyong ikut duduk disebelah Chaerin dan memperhatikan apa yang dilakukan gadis itu.

Mata Chaerin memperhatikan layar serius, ia menemukan e-mail yang dimaksud Ailee dan segera membukanya.

From: JS_So-1

Eonni, ini aku Hyuna. Ini aku milik senior yang membantuku. Aku kabur dari rumah keluarga asuhku. Mereka mengurungku di gudang, aku sangat takut eonni..

Eonni.. Kumohon tolong aku.. Aku tidak tau harus melakukan apa. Jika mereka menangkapku, aku pasti tidak akan terlepas kali ini. Kumohon eonni, datanglah ke Korea. Aku bisa mati jika terus seperti ini. Saranghae, Hyuna..

 

Mata Chaerin membesar dengan satu tangan menutup mulutnya, ‘Andwae.. Hyuna.. Eonni miane..’ Batinnya penuh sesal. Ia segera membalas e-mail itu dan mengirimkannya.

Jiyong tertegun melihat Chaerin seperti akan menangis, namun tetap terlihat tegar. “Wae? Siapa yang mengirimkan e-mail itu?”

“Adikku..” Jawab Chaerin.

Jiyong tertegun, “Ne?! Jinja?! Apa katanya?”

“Dia memang melarikan diri. Dia berkata mereka mengurungnya di gudang..” Jawab Chaerin.

<<Back                                                                  Next>>

Advertisements

4 thoughts on “My Sister and I [Chapter 9]

  1. Hahaha..
    Kasian hyunseung oppa di tendang ma hyuna hbisnya sich buat tkut ja..
    Kasian hyunseung trnyta ibunya pembntu yg mncintai majikannya, trus sapa appanya?

  2. Lol~ pikirannya hyuna kemana-mana, sampe mikir hyunseung bakalan kayak gitu kkkk~
    ckck ternyata hyunseung tuh kesepian ya selama ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s