Chapter

My Sister and I [Chapter 8]

8

—Stupid Thing but it’s FUN—

=Malamnya=

Rumah Keluarga Kim.

“Eomma, eoteokhe? Mungkin eonni-nya Hyuna akan melaporkan masalah ini ke polisi..” Ucap Jiyoon takut.

Songyi menghela nafas dalam, “Aniya, kau tenang saja. Eomma akan menghubungi pengacara keluarga dan melakukan serangan duluan. Kau dan Junhyung harus membantu eomma. Kalian mengerti?” Tanyanya pada Jiyoon dan Junhyung.

Jiyoon mengangguk cepat, “Ne, eomma..”

Junhyung memandang Songyi dan menunduk tanpa menjawab. Meskipun ia berkata tidak, bibinya itu tetap akan berkata iya.

Apartemen Hyunseung.

Hyuna berbaring miring di tempat tidur sambil berpikir, ‘Apa eonni akan datang mencariku? Kenapa dia sama sekali tidak membalas e-mailku?’ Batinnya sedih, bulir air matanya menyelinap keluar dari matanya memikirkan itu.

Apartemen Jiyong.

Chaerin menghela nafas berat ketika duduk di pinggir tempat tidur sambil memandangi photo masa kecilnya bersama Hyuna sebelum orang tua mereka meninggal yang selalu dia letakkan di dompet. ‘Hyuna-a, eonni akan menemukanmu. Tunggulah sebentar lagi..’ Batinnya dengan mata berkaca-kaca. Ia segera mengedipkan matanya beberapa kali agar tidak ada air yang terjatuh dari sana, ia sudah bertekad untuk tidak menangis. Karena dia harus menjadi kuat demi Hyuna.

Sementara itu di kamar lain, Jiyong mencari sebuah kontak di ponselnya dan menghubungi seseorang. Tak lama menunggu panggilan itu di jawab.

“Ne..” Jawab seorang gadis bersuara unik diseberang.

“Noona.. Ini aku..” Ucap Jiyong pelan.

“Siapa?” Tanya gadis itu lagi.

Jiyong mendengus kesal, “Kau lupa suaraku?” Tanyanya sebal.

“Oh.. Jiyong, wae?” Tanya gadis itu.

“Noona, bisakah kau membantuku?” Tanya Jiyong memohon.

“Andwae! Appa marah besar saat tau kau tidak mau kembali, dia bahkan menghubungiku 100 kali sehari hanya untuk marah-marah karena kau tak di temukan juga..” Ucap gadis itu kesal.

“Noona~~~” rengek Jiyong manja.

“Aissh.. Kenapa aku harus memiliki adik sepertimu?!” Tanya gadis itu kesal.

“Noona, jika bukan kau siapa lagi yang bisa membantuku..” Bujuk Jiyong.

“Huffft.. Apa masalahmu?” Tanya gadis itu.

Jiyong tersenyum lebar, “Noona, temanku memiliki sebuah masalah. Dia harus memiliki pengacara untuk urusan hukum, apa kau bisa membantu?”

“Ya! Jika ini tentang narkotika atau perkelahian tidak jelas, aku tidak akan membantumu!” Seru gadis itu.

Jiyong menjauhkan ponselnya dari telinga beberapa saat dan kembali mendengarkan, “Aniya.. Memangnya teman-temanku hanya yang seperti itu? Dia ini orang baik-baik, jika kau mau membantunya, aku akan membawanya kesana besok. Jika tidak aku akan membawanya ke rivalmu si nona sexy itu..” Ancamnya dengan nada bercanda.

“Mwo?! Ya!! Jika kau mendatanginya aku akan menganggapmu pengkhianat! Kau mengerti?! Bawa dia kemari besok!” Seru gadis itu marah.

Jiyong tertawa kecil, “Araso.. Araso..” Ucapnya, “Saranghae noona..” Ucapnya dan memutuskan telepon.

=Kantor Pengacara=

Chaerin memandang papan nama di depan kantor itu dan memandang Jiyong, “Kwon?”

Jiyong tersenyum, “Ayo masuk..” Ucapnya sambil menaiki tangga di depan dan masuk.

Chaerin mengikuti Jiyong masuk tanpa berkomentar lagi.

Jiyong menghampiri meja sekretaris, “Aku ingin bertemu pengacara Kwon..” Ucapnya.

“Ne, silahkan masuk Tuan. Pengacara Kwon sudah menunggu..” Ucap sekretaris itu.

Jiyong mengangguk dan memandang Chaerin, “Khaja..” Ajaknya dan melangkah ke sebuah pintu.

Chaerin mengikuti Jiyong.

Jiyong mengetuk pintu dan menunggu hingga seseorang didalam menyuruhnya masuk, ia memutar pegangan pintu dan melangkah masuk dengan senyuman lebar di wajahnya. “Noona..” Sapanya.

Chaerin terkejut mendengar sapaan Jiyong, berarti gadis itu sudah sangat akrab dengannya.

Gadis berwajah cantik bak malaikat itu tertegun melihat Chaerin, “Oh.. Ini teman  yang kau katakan semalam?”

Jiyong mengangguk, “Ne, kenalkan. Ini Lee Chaerin..” Ucapnya.

Chaerin membungkuk sopan, “Annyeonghaseo..” Sapanya.

Gadis itu tersenyum kaku, “Ne..” Ucapnya, “Sebentar Lee Chaerin-ssi..” Ucapnya sambil merangkul leher Jiyong dan menarik pria itu menjauh dari Chaerin.

Jiyong berusaha menahan rangkulan gadis itu karena ia mulai tercekik, “Ahh.. Noona..” Protesnya.

“Ya! Dimana kau bertemu gadis itu?” Tanya gadis yang tidak lain adalah kakak Jiyong itu berbisik.

Jiyong menatap kakaknya kesal, “Wae? Dia bukan pengedar narkoba ataupun gadis panggilan!” Ucapnya berbisik juga.

“Justru karena itu! Siapa dia! Bagaimana dia bisa mengenalmu?!” Tanya kakak Jiyong menuduh.

Jiyong melepaskan rangkulan kakaknya, “Aissh.. Noona! Memangnya aku tidak bisa mengenal gadis baik-baik?” Tanyanya kesal, lalu melangkah ke sofa dan membanting dirinya. “Bicaralah dengannya..” Ucapnya pada Chaerin dengan wajah malas.

Chaerin memandang Jiyong bingung, lalu memandang kakak pria itu.

“Silahkan Lee Chaerin-ssi, bicara di mejaku..” Ajak gadis itu dan melangkah ke mejanya.

Chaerin mengikuti gadis itu dan duduk di hadapannya.

“Maaf, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Kwon Bom..” Ucap gadis bernama Bom itu.

Chaerin tersenyum, “Ne..” Ucapnya.

“Jadi, apa yang bisa kubantu?” Tanya Bom ingin tau.

“Mmm.. Ini tentang adikku..” Jawab Chaerin pelan, namun suaranya teredam karena suara tv yang di besarkan Jiyong untuk menonton acara musik.

Bom menatap adiknya yang tampak menikmati penampilan girl group sexy 4minute, “YA KECILKAN SUARA TV ITU!” Teriaknya.

Chaerin terkejut mendengar suara melengking Bom.

Jiyong melirik kakaknya sebal, “Aigooo..” Ucapnya sambil mengecilkan suara tv.

Bom tersenyum hangat, “Maafkan aku..” Ucapnya pelan, “Ayo kita lanjutkan..”

Chaerin mengangguk, “Ne..”

“Jadi, apa yang bisa kubantu?” Tanya Bom.

Chaerin menghela nafas dalam dan membuka mulut untuk berbicara, kali ini suara tv kembali membesar. Membuat dirinya dan Bom menatap Jiyong tajam.

Jiyong panik karena suara tv tiba-tiba membesar dan berusaha mematikan tv itu secepat yang dia bisa, namun terlambat untuk menyelamatkan dirinya. Ia menelan ludah melihat kedua gadis tadi menghampirinya.

Sekretaris Bom menoleh ke pintu dan terkejut melihat Jiyong di tendang keluar, lalu pintu kembali tertutup.

Jiyong berguling-guling di lantai sambil mengelus pantatnya yang sakit. “Aisssh!! Dasar gadis-gadis mengerikan!” Serunya pada pintu.

Bom dan Chaerin kembali pada pembicaraan mereka.

“Adikku menghilang.. Aku tidak tau sejak kapan, tapi sekarang tidak ada seorang pun yang tau dimana dia..” Jelas Chaerin.

Bom menatap Chaerin serius, “Kapan kau tau adikmu menghilang?”

“Sekitar dua minggu lalu.. Selama 10 tahun ini aku tinggal di New York dan tetap saling bertukar e-mail dengannya, dua minggu lalu adikku berkata kalau dia merasa tertekan dan ketakutan. Lalu akun e-mailnya tidak bisa terlacak lagi..” Cerita Chaerin.

Bom mengangguk mengerti, “Dimana selama ini adikmu tinggal?”

Chaerin tertegun sejenak, “Mmm.. Di.. Dirumah keluarga asuhnya..” Jawabnya pelan, atau lebih tepat mendesis.

Dahi Bom berkerut, “Maaf, aku tidak mendengar ucapanmu..”

Chaerin memandang Bom, “Di rumah keluarga asuhnya..” Jawabnya lebih jelas.

Bom diam sejenak, namun dahinya semakin tampak berkerut. “Keluarga asuh?”

Chaerin menunduk canggung, “Ne..” Jawabnya, “Orangtua kami meninggal saat kami masih dibawah umur dan seseorang memasukkan kami ke daftar anak asuh. Selama hampir setahun kami selalu berpindah dari satu rumah ke rumah lain, hingga dinas sosial memutuskan untuk meletakkan di dua rumah berbeda karena mengasuh dua anak lebih sulit.” Ucapnya pelan.

Bom diam sejenak melihat ekspresi Chaerin, “Oh.. Begitu.. Lalu, dimana adikmu di asuh terakhir kali?”

Chaerin memandang Bom, “8 setengah tahun lalu aku dan adikku diangkat sebagai anak asuh tetap di keluarga berbeda. Aku dibawa keluarga asuhku ke New York dan adikku di asuh keluarga Kim. Saat ini juga adikku menggunakan nama keluarga mereka. Beberapa hari lalu aku mendatangi keluarga itu tapi mereka berkata adikku sudah tidak ada..”

Bom mengangguk mengerti, “Jadi, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku ingin mereka di hukum. Mereka membuat adikku hidup menderita selama 8 tahun, bahkan melarangnya tetap berhubungan denganku. Di e-mail terakhirnya, aku tau dia benar-benar ketakutan.. Bisakah kau membantuku?” Tanya Chaerin.

Bom diam sejenak untuk berpikir, “Keure, aku akan membantumu. Apa kau memiliki bukti tentang kasus ini?”

“Apakah e-mail yang dikirimkan adikku bisa jadi bukti?” Tanya Chaerin ingin tau.

“Mmm.. Bisa, tapi belum kuat bukti.. Apa ada yang lain?” Tanya Bom.

Chaerin berpikir sejenak, “Mmm.. Apa kau bisa juga membantuku menemukan adikku?”

Bom diam sejenak memandang Chaerin, “Mmm.. Tentang itu, kau bisa membicarakannya dengan Jiyong. Dia yang paling mengerti tentang hal itu..” Ucapnya.

Chaerin mengangguk, “Ne.. Gamshamida pengacara Kwon..”

Bom mengangguk sambil tersenyum ramah, “Ne..” Ucapnya, “Kau mau mendengar saranku?”

Chaerin menatap Bom ingin tau, “Ne..”

“Kita harus menemukan adikmu dulu, lalu menuntut keluarga asuh adikmu itu. Dengan begitu kita mempunyai bukti kuat untuk menghukum merea..” Ucap Bom.

Chaerin mengangguk, “Ne..”

=Mobil Jiyong=

“Ya, kau mempunyai kakak pengacara tapi kabur seperti ayam dikejar pria-pria itu..” Ucap Chaerin sambil menatap Jiyong aneh.

Jiyong menatap Chaerin sebal dan menghela nafas dalam, “Jika tertangkap oleh orang-orang itu, bahkan presiden sekalipun tidak bisa membantuku. Kau tau?” Ucapnya malas.

“Wae? Hutangmu terlalu besar hingga akan mati ditangan mereka?” Tanya Chaerin dengan nada mengejek.

“Ani.. Tapi karena darah yang mengalir di dalam tubuhku..” Jawab Jiyong.

Dahi Chaerin berkerut, “Maksudmu kau pernah melakukan donor darah tapi pemiliknya menginginkan darahnya kembali?” Tanyanya tak mengerti.

Jiyong menatap Chaerin aneh, “Pabo! Mana mungkin itu terjadi!” Ucapnya kesal.

“Lalu apa?!” Tanya Chaerin tak mau kalah.

Jiyong menghela nafas kesal sambil menghentikan mobilnya di lampu merah, “Karena aku satu-satunya putra ayahku..” Jawabnya.

Dahi Chaerin berkerut, “Maksudmu, orang-orang kemarin orang suruhan ayahmu?”

“Ne! Kau puas?” Tanya Jiyong sebal.

Chaerin menatap Jiyong tak percaya, “Omo.. Apakah begitu sulit menjadi putra ayahmu?” Tanyanya aneh.

“Ahhh.. Jika kau terlahir menjadi satu-satunya pria dari 4 bersaudara, kau akan memutuskan bunuh diri sebelum dewasa!” Ucap Jiyong kesal.

Mata Chaerin membesar, “4?! Kupikir hanya pengacara Kwon saja..” Ucapnya tak percaya.

Jiyong melepaskan rem dan kembali menginjak gas perlahan sambil menahan tawa, matanya melihat poster besar yang memerkan seorang gadis cantik dengan produk kecantikan yang di iklankan. “Kau lihat gadis itu..” Ucapnya sambil menunjuk poster di atas sebuah gedung.

Chaerin agak membungkuk untuk melihat dengan jelas, “Ne.. Wae?” Tanyanya bingung.

“Itu noona keduaku..” Jawab Jiyong santai.

“Ne?! Jinja?!” Tanya Chaerin kaget.

“Ne, cari saja di internet. Namanya Kwon Sandara. Aku masuk dalam profile resminya..” Jawab Jiyong bangga.

“Lalu, saudarimu yang lain?” Tanya Chaerin.

Jiyong mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan memperlihatkan layarnya pada Chaerin, “Ini.. Maknae keluargaku, Kwon Minji..”

Chaerin tertegun melihat photo Jiyong yang tersenyum sambil mencubit pipi gadis imut berwajah manis. “Ooh..” Komentarnya, “Oh ya, malam itu wajahmu babak belur. Orang suruhan ayahmu itu yang memukulimu?” Tanyanya.

Jiyong tertawa kecil, “Aniya.. Aku berkelahi di klub untuk mengalihkan perhatian mereka, karena itu aku bisa kabur untuk kesekian kalinya..”

Chaerin menatap Jiyong tak percaya, “YA!!”

Jiyong tertawa, “Wae? Itu sangat menyenangkan..”

“Aissh!! Kupikir kau dalam masalah besar saat itu! Pabo!” Seru Chaerin kesal.

Jiyong tertawa terbahak-bahak.

<<Back                      Next>>

Advertisements

3 thoughts on “My Sister and I [Chapter 8]

  1. hhahaha jiyong oppa jjinjja ….

    ini aku ska bgt sama pairing ny

    Hyuna Hyunseung & CL GD
    best couple forever.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s