Chapter

My Sister and I [Chapter 7]

7

—In Safe Place—

Jiyong saling bertatapan dengan Chaerin di sofa, “Baik, kau bisa pergi. Tapi setelah misimu selesai..”

Chaerin memutar bola matanya kesal, “Lupakan..”

Jiyong mendengus kesal, “Kau pikir mencari orang di Seoul ini mudah? Apalagi jika kau sama sekali tidak mempunyai petunjuk..”

“Aku akan menemukannya! Dia adikku, kemana pun dia pergi aku pasti bisa menemukannya!” Tegas Chaerin kesal.

“Ya!! Slogan itu sudah sangat lama tidak di gunakan lagi. Aissh.. Kampungan!” Ucap Jiyong kesal.

“Mwo?! Ya!!” Seru Chaerin marah.

“Aissh! Kau tidak bisa berhenti berseru?! Seharusnya seorang gadis itu berbicara lemah lembut!” Ucap Jiyong sebal.

Chaerin bergerak bangkit, “Sudahlah, aku tidak ada waktu berbicara denganmu..” Ucapnya sambil melangkah.

“Aku bisa membantumu menemukannya!” Ucap Jiyong cepat.

Chaerin berhenti melangkah dan memandang Jiyong.

Jiyong bangkit berdiri sambil menatap Chaerin penuh percaya diri, “Kau akan lebih mudah menemukannya jika aku membantumu..”

Mata Chaerin menyipit menatap Jiyong curiga, “Kau pikir aku akan percaya ucapanmu?!” Tanya kesal, lalu melangkah ke pintu lagi.

Jiyong semakin kesal karena kekeras kepalaan Chaerin dan segera mengejarnya, “Ya!” Panggilnya sambil menarik tangan gadis itu.

“Aissh! Bisa tidak kau jangan menyentuhku?!” Ucap Chaerin sambil menarik tangannya.

“2 bulan!!” Seru Jiyong, “Aku akan menemukannya selama 2 bulan!”

Chaerin tertegun mendengar ucapan Jiyong dan menatapnya marah, “Ya.. Aku tidak butuh belas kasihanmu! Aku bisa menemukannya sendiri, jadi tutup mulutmu!” Ucapnya tertahan.

“Aku berjanji akan menemukannya selama 2 bulan!! Aku tau dia sangat berarti bagimu!! Karena itu aku ingin membantumu!!” Ucap Jiyong tegas.

Chaerin tampak sangat marah, “Kenapa kau ingin membantuku?” Tanyanya dingin.

Jiyong menghela nafas dalam untuk menetralkan emosinya, “Dengar.. Aku punya banyak koneksi, aku bisa menggunakannya untuk menemukan adikmu.. Araso?”

Sesungguhnya Chaerin tidak mempunyai rencana apa pun untuk menemukan Hyuna saat ini, jadi merasa itu bukan ide yang buruk. “Jika selama 2 bulan kau belum menemukannya juga, aku akan membunuhmu!”

Jiyong tersenyum, “Ne.. Jika perlu aku akan memilih batu nisanku sendiri..”

Chaerin menarik tangannya dari pegangan Jiyong, lalu melangkah masuk. “Dimana kamar tamu?”

Jiyong senang Chaerin tidak jadi pergi dan segera mengikutinya, “Ada di sebelah sana..”

=Sekolah=

Hyunseung memarkirkan mobil dan keluar sambil menyandang ranselnya, lalu melangkah ke pintu masuk. Langkahnya terhenti melihat seorang seorang pria menyebarkan selebaran di depan gedung sekolah. Kakinya melangkah ke pintu seperti tidak melihat pria itu.

Junhyung melihat Hyunseung berlalu dan memberikan selebaran itu, “Ini.. Namanya Kim Hyuna, jika kau melihatnya tolong hubungi nomor di sini..” Ucapnya dan kembali membagikan selebaran itu.

Hyunseung memandang kertas selebaran di tangannya. Ada photo Hyuna dan nomor yang harus di hubungi disana. Ia melipat selebaran itu dan memasukkannya ke saku celana sambil melangkah menuju kelasnya.

=Kantor Departemen Sosial=

Hyunseung melangkah menghampiri meja resepsionis.

“Annyeonghaseo, ada yang bisa kubantu anak muda?” Tanya wanita disana.

“Aku ingin memberitau tentang seorang anak asuh yang tinggal di rumah keluarga Kim, namanya Kim Hyuna..” Ucap Hyunseung.

Wanita itu memandang Hyunseung serius, “Ne? Ada apa dengan Kim Hyuna?”

“Aku teman sekolahnya, dia sudah tidak masuk sekolah hampir seminggu dan keluarga asuhnya berkata dia melarikan diri. Tapi sebenarnya Hyuna mendapat tekanan disana hingga melarikan diri, apakah itu akan dibiarkan?” Tanya Hyunseung dengan nada datarnya.

Mata wanita resepsionis itu membesar, “Ne? Omo.. Benarkah begitu? Keure, aku akan memberitaukan hal ini pada bagian pemeriksa..”

Hyunseung membungkuk sopan dan berbalik.

“Oh ya..” Panggil wanita tadi.

Hyunseung kembali memandang wanita itu, “Ne?”

“Jika aku tidak salah, beberapa hari lalu ada seseorang yang datang kemari mencari Kim Hyuna. Pantas saja ia mencarinya..” Ucap wanita itu mengerti.

Hyunseung tertegun, “Seseorang? Nuguseo?”

Wanita itu berusaha mengingat-ingat, “Mmm.. Aku tidak ingat apakah menanyakan namanya atau tidak, tapi yang jelas seorang gadis berusia sekitar 20 tahunan..”

Hyunseung diam sesaat dan mengangguk, “Mmm.. Begitu. Baiklah, terima kasih..” Ucapnya dan langsung berbalik.

=Gedung Apartemen=

Jiyong berjalan bersama Chaerin keluar dari apartemen dan menuju lift, “Apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Aku akan mendatangi kantor departemen sosial lagi..” Ucap Chaerin memberitau dan berhenti di depan lift.

“Hmm.. Setelah itu?” Tanya Jiyong.

“Aku akan memikirkannya dalam perjalanan..” Jawab Chaerin.

“Begitu..” Komentar Jiyong, “Mmm.. Bagaimana jika pergi makan dulu? Perutku lapar..” Ucapnya.

Chaerin menatap Jiyong kesal, “Pergilah! Aku sendiri saja!”

Jiyong cemberut, “Aissh.. Dasar gadis menyeramkan..”

Chaerin melotot pada Jiyong, “Apa kau bilang?”

“Gadis menyeramkan! Creepy girl!” Ucap Jiyong.

Chaerin hampir memukul kepala Jiyong jika pintu lift tidak terbuka.

Hyunseung memandang dua orang di depan pintu lift bingung.

“Oh.. Hyunseung-a, baru pulang sekolah?” Tanya Jiyong sambil masuk ke lift bersama Chaerin.

“Ne, hyung.. Aku pergi..” Ucap Hyunseung, lalu mengangguk sopan pada Chaerin dan melangkah menuju apartemennya.

Chaerin memperhatikan Hyunseung hingga pintu lift tertutup, “Siapa anak itu?”

“Jang Hyunseung, dia tinggal di sebelah apartemenku. Anaknya tidak banyak bicara, tapi sangat sopan.. Aku sudah mengenalnya sejak…”

“Cukup jawab dia tetanggamu!” Potong Chaerin kesal, “Aissh.. Siapa yang mau mendengar semua cerita itu?” Ucapnya.

Jiyong menatap Chaerin sebal, namun ia senang bisa berbicara panjang lebar seperti itu.

=Kantor Departemen Sosial=

Jiyong berdiri di depan kantor dengan kedua tangan masuk ke saku celana, kepalanya menoleh merasakan keberadaan seorang gadis. “Oh.. Bagaimana?” Tanyanya.

Chaerin menghela nafas dalam, “Mereka bilang beberapa jam lalu ada orang yang datang untuk melaporkan adikku menghilang..”

Jiyong tertegun, “Ne? Jinja? Nugu?”

Chaerin menatap Jiyong kesal, “Jika aku tau, aku tidak mungkin masih berdiri disini! Pabo..” Ucapnya, lalu melangkah.

Jiyong menatap Chaerin kesal, “Aissh.. Gadis ini..” Gumamnya, lalu menyamakan langkahnya dengan gadis itu. “Ya.. Tapi kenapa kau mencari adikmu di dinas sosial? Memangnya adikmu pengemis?”

Chaerin berhenti melangkah untuk menatap Jiyong marah.

Jiyong tercekat karena tatapan mengerikan Chaerin.

“Jika kau bertanya lagi, aku akan membunuhmu!” Ancam Chaerin.

Jiyong menelan ludah, “Ne..”

Chaerin kembali melangkah, namun baru sekali melangkah ia berhenti dan menatap Jiyong. “Ya.. Kau bilang punya banyak koneksi, apa kau punya kenalan detektif?”

Jiyong diam sejenak, “Aha!! Kenapa tidak bilang dari tadi?! Khaja..” Ucapnya dan langsung menarik Chaerin kembali ke mobil.

=Apartemen Hyunseung=

Mata Hyuna membesar, “Jinja? Siapa?”

Hyunseung menggeleng, “Mola, tapi wanita itu berkata seorang gadis berusia sekitar 20 tahunan..”

Dahi Hyuna berkerut sambil menebak-nebak kira-kira siapa yang mencarinya ke dinas sosial.

“Apa kau punya kenalan gadis berusia sekitar 20 tahunan?” Tanya Hyunseung.

“Mmm.. Apakah Jiyoon? Dia suka berdandan seperti gadis dewasa..” Jawab Hyuna menebak.

Hyunseung mengerutkan dahinya untuk berpikir, “Mungkin saja..”

Hyuna tertegun karena mengingat sesuatu, “Oh.. Atau jangan-jangan eonniku..”

Hyunseung menatap Hyuna kaget, “Mwo?”

“Ne! Pasti eonniku!” Ucap Hyuna yakin.

“Kau bilang dia di New York..” Ucap Hyunseung.

“Ne.. Tapi mungkin saja dia sudah membaca e-mail yang kukirimkan waktu itu, lalu dia datang ke Korea untuk mencariku.. Benarkan?” Ucap Hyuna menjelaskan teorinya.

Hyunseung diam sejenak menatap Hyuna, “Jangan terlalu berharap, tidak semua yang kau pikirkan benar-benar seperti yang terjadi..” Ucapnya pelan.

Hyuna memandang Hyunseung bingung, “Apa maksudmu?”

“Hyuna, aku tidak bermaksud mengatakan hal buruk. Tapi kau tidak bisa berpikir dengan sisi positif saja, araso?” Tanya Hyunseung.

Hyuna diam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Ne..” Jawabnya.

“Apa dia sudah membalas e-mailmu?” Tanya Hyunseung mengalihkan pembicaraan.

Hyuna menggeleng, “Belum..” Jawabnya sedih.

“Ya sudah, kau sudah membuat desainmu?” Tanya Hyunseung lagi.

“Hm? Sudah, tapi…”

“Aku ingin lihat..” Potong Hyunseung sambil bangkit dan langsung berjalan menuju ruangan jahit.

Hyuna memandang Hyunseung bingung, lalu bangkit dan mengejar pria itu.

=Rumah Keluarga Kim=

Chaerin mendatangi rumah Songyi yang tidak jauh dari butik setelah mendapatkan alamatnya dari pegawai disana.

Jiyong memandang rumah itu bingung, “Rumah siapa ini?” Tanyanya ingin tau.

“Jika ingin tetap ikut tutup mulutmu..” Ucap Chaerin sambil membuka pintu pagar dan masuk.

Jiyong cemberut mendengar ucapan Chaerin sambil terus mengikuti gadis itu.

Chaerin menekan bel pintu dan menunggu, tak lama seorang pria membuka pintu.

Junhyung memandang Chaerin dan Jiyong bergantian, “Ada yang bisa kubantu?”

“Dimana Hyuna?” Tanya Chaerin langsung.

Junhyung diam sejenak menatap Chaerin, “Siapa kau?”

“Aku Lee Chaerin! Dimana Hyuna?!” Tanya Chaerin tegas.

Jiyong memandang Chaerin, ‘Jadi namanya Lee Chaerin?’ Batinnya baru tau.

Junhyung tampak tertegun mendengar ucapan Chaerin, “Dia tidak ada..” Ucapnya dan langsung menutup pintu.

Chaerin mendorong pintu itu sebelum tertutup dan menatap Junhyung tajam, “Katakan dimana dia, jika tidak aku akan menggunakan jalur hukum untuk membalas apa yang sudah kalian lakukan pada adikku!” Ancamnya.

Junhyung menatap Chaerin, lalu tersenyum sinis. “Lakukan apa yang kau inginkan..” Ucapnya tenang, lalu mendorong pintu lebih keras.

Chaerin terkejut pria itu tak takut dengan ancamannya, “Ya!! YA!!” Serunya sambil menggedor-gedor pintu.

“Ya!! Kau bisa di laporkan ke polisi jika memaksa masuk!” Ucap Jiyong sambil menarik Chaerin menjauh dari pintu.

“Aissh!!” Seru Chaerin kesal sambil menatap pintu itu, “YA!! Katakan pada wanita itu aku akan menuntutnya!! Kau dengar!! Kalian semua akan di hukum atas apa yang telah kalian lakukan!!” Teriaknya marah.

Jiyong tertegun menatap Chaerin, “Ya.. Kau serius?” Bisiknya.

“Tentu saja!!” Tegas Chaerin dan melangkah pergi dengan wajah marah.

“Ya..” Panggil Jiyong sambil mengikuti Chaerin.

Chaerin terus melangkah cepat meninggalkan pekarangan rumah Songyi dengan perasaan marah yang memuncak.

“Ya.. Gadis mengerikan, kau pikir bisa semudah itu menuntut orang? Paling tidak kau harus punya pengacara..” Ucap Jiyong sambil mengikuti langkah Chaerin.

Chaerin berhenti dan menatap Jiyong, “Kau bilang kan akan membantuku! Kenalkan seorang pengacara yang bagus! Sekarang!!” Tegasnya dan kembali melangkah menuju mobil pria itu terparkir.

Jiyong terkejut, “Sekarang? Aissh.. Gadis ini..” Gumamnya sambil mengikuti Chaerin.

<<Back       Next>>

Advertisements

4 thoughts on “My Sister and I [Chapter 7]

  1. rasa ny jadi seorang kakak yg sangat menyayangi adik ny itu …wahh aku bisa merasakan ny….
    knp hampir semua ff eonnie selalu berhubungan dengan kehidupanku…aku serasa membaca diaryku sndri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s