Chapter

My Sister and I [Chapter 15]

15

—Here For You—

=Ruangan Bom=

Chaerin memandang Bom yang sedang memperhatikan berkas-berkas ditangannya, “Pengacara Kwon..”

Bom memandang Chaerin, “Ne?”

Chaerin diam sejenak dan menyelipkan rambut ke belakang telinganya, “Apa menurutmu aku akan menemukan adikku?” tanyanya.

Bom tertegun mendengar pertanyaan dan melihat ekspresi Chaerin, bibirnya membentuk senyuman. “Chaerin-ssi, kau tidak seperti gadis yang bertemu denganku pertama kali..” ucapnya menahan senyuman, “Ada apa Chaerin-ssi?”

Chaerin sendiri merasa malu pada dirinya, perlahan kepalanya bergerak menunduk. “Entahlah.. Aku seperti kehilangan kepercayaan diriku pagi ini ketika aku membuka mataku..” ucapnya pelan.

“Aniya Chaerin-ssi, kau hanya merasa bimbang. Karena kau belum juga menemukan adikmu.. Tapi semuanya akan baik-baik saja..” ucap Bom memberi semangat.

Chaerin memandang Bom, tidak tau harus menunjukkan ekspresi seperti apa.

Bom tersenyum hangat, “Tidak perlu khawatir.. Kau hanya perlu mengingat satu hal..” ucapnya pelan, “Jika kau kuat dan mampu bertahan, suatu hari nanti adikmu akan sangat bangga karena kau tidak berhenti berjuang untuk menemukannya..”

Mata Chaerin tampak memerah menahan air mata, “Pengacara Kwon..” ucapnya pelan tanpa memalingkan tatapannya dari kedua mata Bom. “Pernahkah kau merasa sangat menyesal hingga berpikir mati adalah jalan untuk menebusnya?”

Senyuman Bom memudar perlahan, ia menghela nafas dalam dan mengulurkan tangannya untuk memegang punggung tangan Chaerin. “Aku tidak pernah merasakannya, dan kau juga tidak akan merasakannya..”

Bulir air muncul dari sudut mata Chaerin dan jatuh ke pipinya masih sambil tetap menatap Bom, “Aku sudah merasakannya…” ucapnya dengan suara bergetar.

Bom menatap Chaerin iba, “Jangan Chaerin-ssi, kau tidak boleh merasa seperti itu.. Adikmu masih berada diluar sana dan dia membutuhkanmu, jika kau berpikir untuk mati, bagaimana dengan dia?”

Chaerin benar-benar merasa berada di titik ia tidak bisa lagi melakukan apa pun. Ia memalingkan wajahnya dan menatap kosong kedepan. Cukup membayangkan Hyuna ketakutan di suatu tempat sudah membuatnya benar-benar frustasi. “Aku sudah mengabaikannya selama bertahun-tahun. Aku tau kalau dia tidak bahagia disini. Tapi aku tidak langsung datang. Aku terlalu mengasihani diriku yang mendapatkan keluarga asuh buruk.” Ia memejamkan mata dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Bom berpindah duduk ke sebelah Chaerin dan merangkul gadis itu, “Gwenchana.. kau bisa melepaskan semua bebanmu, menangislah hingga merasa lebih nyaman. Setelah itu kau harus kembali tegar seperti dirimu yang sesungguhnya..”

Setelah beberapa saat Chaerin menurunkan tangannya dan memandang Bom, “Pengacara Kwon, apa aku benar-benar akan menemukannya?”

Bom kembali tersenyum hangat dan mengangguk, “Keurom..”

“Tapi, mereka pasti mengetahui sesuatu hingga melaporkanku sebagai penyebab kepergian adikku..” ucap Chaerin.

Bom tetap tersenyum mendengar ucapan Chaerin, “Ne, mereka tau sesuatu..”

Chaerin tertegun mendengar ucapan Bom dan memandang pengacara itu tak mengerti.

“Karena mereka tau sesuatu, mereka berani melakukan langkah ini. Benarkan?” ucap Bom.

Chaerin baru mengerti ucapan Bom, “Ne.. Kau benar!” ucapnya.

Bom melepaskan rangkulannya dari bahu Chaerin dan mengambil ponselnya.

Chaerin memperhatikan Bom menghubungi seseorang dengan ekspresi tidak mengerti sambil menyeka sisa air matanya.

“Seunghyun-ssi, bisakah kau datang ke kantorku sekarang?” Tanya Bom. “Keure, aku menunggumu..” ucapnya dan memutuskan telepon, lalu kembali memandang Chaerin sambil tersenyum.

Chaerin mengerutkan dahi, “Siapa yang kau hubungi?”

“Tunggu saja..” ucap Bom.

Tak sampai setengah jam kemudian, terdengar ketukan pintu.

“Ne, masuklah..” ucap Bom mempersilahkan.

Pintu terbuka, muncul seorang pria tampan bertubuh tinggi masuk. “Annyeonghaseo..” sapanya.

Chaerin terkejut melihat pria itu, “Kau!!” serunya sambil menunjuk Seunghyun itu.

Seunghyun tersenyum dan membungkuk sopan.

“Chaerin-ssi, ini Choi Seunghyun. Salah satu pengawal adikku, Jiyong..” ucap Bom memberitau.

Chaerin memandang Bom dengan wajah bingung, lalu memandang Seunghyun.

“Maaf, saat itu saya membuat anda ketakutan nona..” ucap Seunghyun menyesal.

“Oh.. ne..” jawab Chaerin canggung.

“Silahkan duduk Seunghyun-ssi..” ucap Bom.

Seunghyun bergerak duduk di hadapan Chaerin dan Bom, lalu mengeluarkan sebuah berkas dari balik jasnya. “Ini yang anda cari Nona..”

Chaerin memperhatikan Bom mengambil berkas itu dan melihat isinya, “Apa itu?” tanyanya.

Bom memandang Chaerin dan meletakkan isi berkas itu ke meja.

Mata Chaerin membesar melihat itu adalah photo Junhyung yang sedang menguntit seseorang, “Oh.. pria ini..” ucapnya sambil melihat photo-photo itu. Semuanya diambil secara diam-diam dari sisi yang berbeda.

“Tuan muda Jiyong meminta kami menyelidiki tentang ini tanpa sepengetahuanmu..” jelas Seunghyun.

Chaerin memandang Seunghyun kaget, “Ne?”

Seunghyun mengangguk, “Ne, dengan satu perjanjian. Jika kami bisa menemukan adikmu dalam waktu 2 minggu, dia akan kembali ke rumah tanpa perlawanan.”

“2 minggu?!” tanya Chaerin tak percaya.

“Satu minggu sudah berlalu, jadi kurasa seminggu lagi..” ucap Seunghyun bersungguh-sungguh. “Anda tenang saja, kami akan segera menemukan adikmu..”

Chaerin masih menatap Seunghyun tak percaya, “Kenapa Jiyong meminta kalian melakukannya tanpa sepengetahuanku?”

Bom tertawa kecil, “Chaerin-ssi, adikku memang terlihat menyebalkan. Tapi sebenarnya dia sangat sensitif jika sudah menyangkut tentang keluarga. Aku yakin dia membantumu karena tidak ingin terlihat cengeng di depanmu.” Ucapnya.

“Tapi dia kan bisa memberitauku saja..” ucap Chaerin tak mengerti.

“Karena itu..” ucap Seunghyun, membuat Chaerin kembali memandangnya, “Tolong tetap rahasiakan ini darinya. Jika tidak, saya dan yang lainnya akan kehilangan pekerjaan kami..”

Chaerin diam sejenak dan mengangguk, “Ne..”

“Baiklah, kembali ke topik..” ucap Bom.

“Ne..” ucap Seunghyun dan duduk lebih maju, “Pria itu, Yong Junhyung. Selalu mencari adikmu dan menyebarkan selebaran tentang hilangnya adikmu. Dia keponakan dari ibu asuh adikmu, Chaerin-ssi..”

Chaerin mengangguk mengerti, “Lalu, apa yang kau temukan tentan adikku?”

“Dari gerak-geriknya akhir-akhir ini, kami dapat menyimpulkan kalau dia tau sesuatu dimana keberadaan adikmu..” ucap Seunghyun menyimpulkan.

Chaerin tertegun, “Ne?! Apa kau tau?”

“Sayangnya belum nona, tapi anda bisa mempercayakanya pada kami selama seminggu ini. Saya akan menemukan adik anda, juga membebaskan anda dari semua tuduhan yang di tuduhkan keluarga asuh adikmu..” jelas Seunghyun.

Chaerin menatap Seunghyun ragu, “Apa aku bisa memegang perkataanmu?”

Seunghyun mengangguk, “Ne..” jawabnya, “Meskipun setelah waktu yang di tentukan adikmu belum ditemukan dan meskipun saya akan kehilangan pekerjaan saya, saya akan tetap menepati janji untuk menemukan adikmu lagi..” janjinya.

Bom memegang punggung tangan Chaerin, “Kau bisa mempercayai Seunghyun, Chaerin-ssi..” ucapnya yakin.

Chaerin tersenyum, “Terima kasih..”

=Rumah Sakit=

Hyuna memegang tangan Hyunseung sambil menatap wajah pria itu, “Oppa..” panggilnya dengan suara bergetar. “Oppa.. sadarlah..” pintanya dan menangis sambil menggenggam tangan pria itu. “Eonniku benar-benar sudah kembali oppa, dia membalas e-mailku. Kau harus segera sadar dan menemaniku mencarinya..” ucapnya dan kembali menangis.

Diluar kamar perawatan Hyunseung, Jiyong berdiri didepan pintu yang terbuka sedikit sambil memperhatikan Hyuna menangis di sisi pria itu. Ia menghela nafas dalam dan menutup pintu. Ia tak bisa menerima kejadian ini begitu saja, tangannya mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. “Seunghyun, aku ingin kau menemukan siapa orang yang menyebabkan Hyunseung kecelakaan..” ucapnya langsung.

“Tuan muda…”

“Temukan! Aku tidak ingin mendengar ucapanmu..” ucap Jiyong tegas dan memutuskan telepon.

Chaerin melangkah bersama Ailee dan Jay kerumah sakit karena tau Jiyong pasti ada disana. Ia sempat tertegun melihat pria itu duduk di kursi tunggu dengan wajah sedih. Ia tak menyangkat pria itu benar-benar membantunya.

Jiyong mengangkat wajahnya memandang Chaerin dan teman-temannya, “Oh.. kalian sudah datang?”

“Ne, bagaimana keadaan Hyunseung?” tanya Chaerin.

Jiyong bangkit sambil mengelus belakang kepalanya, “Belum ada perkembangan, tapi sudah mulai stabil.

Ailee yang membuka pintu kamar perawatan Hyunseung sedikit tertegun melihat seorang gadis duduk disebelah tempat tidur membelakangi pintu, “Hm? Siapa itu?” tanyanya bingung.

Chaerin ikut mengintip dan melihat seorang gadis berambut panjang, lalu memandang Jiyong. “Kau bilang Hyunseung tidak akan di kunjungi siapa pun..”

Jiyong mengelus belakang kepalanya, “Gadis itu ada di apartemen Hyunseung dan menangis hingga matanya bengkak ketika aku datang untuk mengambil barang Hyunseung. Jadi aku membawanya kemari..”

“Ohh..” gumam Chaerin dan mengintip sekali lagi sebelum Ailee kembali menutup pintu.

Jay memperhatikan Chaerin mengelus lengan karena terasa dingin, ia langsung melepaskan jaketnya dan meletakkannya di bahu gadis itu.

Chaerin tertegun dan memandang Jay yang tersenyum padanya.

It’s cold..” ucap Jay.

Chaerin tersenyum, “Thank’s..

Jiyong memandang Chaerin dan Jay bergantian, merasa ada yang aneh dengan mereka.

“Jiyong-ssi, aku akan menjaga Hyunseung. Kau bisa beristirahat dulu..” ucap Ailee menawarkan diri.

“Ne? Oh.. gwenchana..” ucap Jiyong.

“Aniya, kau terlihat lesu. Pergilah dulu, paling tidak kau harus mengisi perutmu..” ucap Chaerin mengingatkan.

Jiyong menghela nafas dalam, “Aku tidak bisa menelan apa pun saat ini..”

Jay melirik Chaerin yang terdengar khawatir pada Jiyong, “Chae..” panggilnya, membuat gadis itu memandangnya. “Have you eat?

“Hm? Oh.. not yet..” jawab Chaerin.

“Ne? Kau juga belum makan? Kalau begitu kalian pergi saja dulu.. Aku akan menemani teman Hyunseung itu di dalam..” ucap Ailee.

Chaerin memandang Jiyong.

“Ohh.. kalau begitu, ayo kita ke kafetaria rumah sakit..” ajak Hyunseung.

Chaerin mengangguk dan memandang Ailee, “I’ll be back..” ucapnya dan berjalan bersama Jiyong dan Jay.

Ailee memperhatikan teman-temannya sesaat, lalu membuka pintu perlahan dan melangkah masuk.

Hyuna tertegun mendengar seseorang masuk dan langsung memandang kebalakang.

Ailee kembali menutup pintu dan tersenyum pada Hyuna, “Annyeonghaseo..” sapanya ramah.

Hyuna menatap Ailee ngeri, “Nu-nuguseyo?” tanyanya.

“Namaku Lee Yejin, aku teman Jiyong-ssi..” ucap Ailee menyebutkan nama koreanya.

Hyuna menghela nafas dalam dan membungkuk sopan.

Ailee tersenyum karena melihat Hyuna sangat imut, “Apa aku bisa menemanimu disini?”

Hyuna mengangguk.

Ailee duduk disisi lain tempat tidur Hyunseung agar bisa berhadapan dengan Hyuna. Saat memandang gadis itu dari depan, ia mengerutkan dahi dan memiringkan kepalanya karena merasa wajah Hyuna sangat familiar. “Ohh.. apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Hyuna tertegun, “Ne? Ohh..” ia takut Ailee pernah melihat selebaran yang diberikan Junhyung karena wajahnya terlihat sangat jelas disana. “A-ani..” jawabnya cepat.

“Jinja? Tapi sepertinya kau tidak asing..” ucap Ailee heran.

“Aniya, kau pasti salah..” ucap Hyuna lagi.

“Hmm.. mungkin saja..” ucap Ailee, lalu kembali tersenyum. “Siapa namamu?”

“Ne?” Hyuna kembali tertegun, “Namaku? Oh.. mmm.. aku..” ia berusaha memutar otak untuk menemukan sebuah nama yang terlintas di kepalanya. “Namaku.. mmm.. Eun…. Eunsung! Cha Eunsung..” jawabnya.

Ailee tersenyum, “Omo.. namamu seimut dirimu..” candanya.

Hyuna tersenyum kaku, “Gamshamida..” ucapnya canggung.

“Oh ya, apa hubunganmu dengan Hyunseung-ssi?” tanya Ailee.

“Aku? Mmm.. aku.. emm..” Hyuna garuk-garuk kepala bingung.

“Apa kau kekasihnya?” tanya Ailee.

“Ne? Oh… sepertinya..” gumam Hyuna ragu.

Ailee tertawa kecil, “Kau lucu sekali Eunsung-ssi..”

Hyuna hanya garuk-garuk kepala.

Kafetaria.

Wait here, I have to go to bathroom..” ucap Jay ketika dia, Chaerin dan Jiyong akan kembali ke kamar perawatan Hyunseung.

Chaerin mengangguk, “Okay..

Jiyong mengangkat sebelah alisnya, “Hei.. pria itu pacarmu?”

Chaerin memandang Jiyong aneh, “Ani..”

“Tapi sepertinya dia sangat perhatian padamu..” ucap Jiyong heran.

“Memangnya teman tidak boleh saling memperhatikan?” tanya Chaerin heran, lalu bergerak duduk di sebuah kursi.

Jiyong tersenyum mendengar Chaerin mengatakan Jay itu temannya, ia juga ikut duduk disebelah gadis itu. “Oh.. dia temanmu..” ucapnya senang.

Dahi Chaerin berkerut, “Ada apa denganmu?”

“Hm? Ani..” jawab Jiyong dengan senyum seperti anak kecil yang mendapat permen.

Chaerin memutar bola matanya kesal, namun ketika berpaling ia tak bisa menahan senyuman karena sikap Jiyong.

“Oh iya, kalian memang selalu menggunakan bahasa inggris ya?” tanya Jiyong heran.

Chaerin kembali memandang Jiyong dan mengangguk, “Ne, hanya aku dan Ailee yang bisa berbahasa korea..”

Jiyong diam sejenak sambil berpikir, “Jinja?”

“Ne..” jawab Chaerin, “Keluaga Jay sama sekali tidak menggunakan bahasa korea selama di New York, jadi dia tidak bisa..” jelasnya.

Jiyong mengerutkan dahinya menatap Chaerin, “Chaerin, apa menurutmu aku mengerti bahasa inggris?”

Dahi Chaerin ikut berkerut, “Mana kutahu..”

Jiyong kembali ingat beberapa hari lalu Jay berbicara dalam bahasa korea padanya, “Tapi…”

“Hei..” sapa Jay yang baru kembali.

Chaerin memandang Jay dan langsung bangkit, “Let’s go..” ajaknya dan langsung melangkah duluan.

Jiyong memandang Jay dan Chaerin yang kembali mengobrol dalam bahasa inggris, dahinya kembali berkerut. “Apa jangan-jangan saat itu aku benar-benar mengerti bahasa inggris?” gumamnya bingung.

Chaerin berhenti karena Jiyong tak kunjung mengikutinya dan Jay, lalu memandang kebelakang. “Ya! Kau masu duduk disana terus?”

“Ne? Oh.. tunggu aku..” ucap Jiyong sambil bangkit dan mengejar Chaerin.

Ailee asik dengan ponselnya hingga menyadari Hyuna tertidur dengan posisi duduk di sisi Hyunseung, bibirnya membentuk senyuman dan bangkit untuk mengambil sebuah selimut tipis di sofa dam menyelimuti bahu Hyuna. Ia melangkah keluar dari ruangan itu.

“Ada perkembangan?” Tanya Jiyong yang baru kembali.

Ailee menggeleng, “Aniya, tapi sekarang Eunsung-ssi tertidur. Sepertinya ia sangat mengkhawatirkan Hyunseung-ssi..”

“Eunsung?” ucap Jiyong bingung.

“Ne, gadis itu bernama Cha Eunsung. Apa kau tidak bertanya siapa namanya?” Tanya Ailee heran.

Jiyong cengengesan, “Sepertinya aku lupa..”

“Mmm.. kurasa kami akan kembali sekarang. Kau tidak apa-apakan jika disini bersama gadis itu?” Tanya Chaerin.

“Oh.. ne..” jawab Jiyong sambil mengangguk.

“Baiklah, sampai jumpa..” ucap Chaerin dan berjalan pergi bersama Jay.

“Bye, Jiyong-ssi..” ucap Ailee sambil mengikuti Chaerin.

Jiyong melambai dan memperhatikan Chaerin yang berjalan pergi. Ia menghela nafas dalam sejenak, “Aku akan menemukan adikmu..” gumamnya, lalu masuk ke ruangan Hyunseung.

<<Back          Next>>

Advertisements

3 thoughts on “My Sister and I [Chapter 15]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s