Chapter

My Sister and I [Chapter 14]

14

Life or Not

Jiyong keluar dari ruangan dokter dengan kepala tertunduk. Hyunseung mendapat benturan cukup keras di kepalanya dan mungkin akan koma beberapa saat. Juga pendarahan yang terjadi di dada akibat tulang rusuk yang patah karena membentur stir. Ia sangat sedih mengetahui itu. Hyunseung selalu menyendiri. Ia mengetahuinya. Karena itu terkadang ia menghabiskan waktu bersama pria itu sebagai seorang hyung. Ia tersadar dari lamunannya karena mendengar ponselnya berbunyi, ia segera mengeluarkan ponselnya dan melihat itu dari kakak keduanya. “Ne noona..” jawabnya.

“Jiyong-a, Bom eonni menghubungiku. Kau belum kembali ke rumah juga?” tanya Dara, terdengar khawatir.

Jiyong berhenti melangkah dan menyandarkan punggungnya ke dinding sambil mengelus pundaknya, “Ne..”

“Jiyong, sampai kapan kau akan menentang appa? Kau tau itu tidak ada gunanya..” ucap Dara berusaha mengubah pemikiran adiknya.

“Ne.. Aku akan segera pulang. Tidak sampai 2 minggu lagi..” jawab Jiyong.

“Pastikan kau benar-benar kembali, araso?” tegas Dara.

“Ne, Noona..” Jawab Jiyong dan telepon terputus.

Jiyong menurunkan telepon dari telinganya, ketika hendak kembali melangkah ponselnya berbunyi lagi. Kali ini dari Seunghyun. “Ne..”

“Tuan, ada masalah besar..” ucap Seunghyun dengan suara beratnya.

Jiyong tertegun, “Ne?”

Sementara itu.

Chaerin menghela nafas dalam menunggu Jiyong kembali.

“Kenapa dia lama sekali?” tanya Ailee bingung.

Ponsel Chaerin berbunyi dan segera melihat layarnya, tapi tidak ada nama pemanggilnya disana. Jadi ia langsung mengangkat panggilan itu, “Yoboseyo?”

“Lee Chaerin-ssi?” ucap seorang pria diseberang.

“Ne..” jawab Chaerin.

“Kami dari kepolisian Seoul, mohon anda segera datang dan melakukan pemeriksaan..” ucap pria itu lagi.

Chaerin tertegun mendengar ucapan pria itu, “Ne?” kepalanya menoleh kearah Jiyong yang berlari kearahnya.

Ailee dan Jay juga memandang Jiyong bingung.

Jiyong berhenti didepan Chaerin sambil mengatur nafasnya.

Chaerin memandang Jiyong sambil mendengarkan penjelasan pria itu, “Ne, aku mengerti..” ucapnya dan memutuskan telepon.

“Kantor polisi?” tanya Jiyong pada Chaerin yang masih menatapnya.

Ailee memandang Chaerin bingung.

“Kenapa mereka menghubungiku?” tanya Chaerin tak mengerti.

Jiyong menghela nafas dalam, “Mereka, keluarga adikmu melaporkanmu atas tuduhan memberikan pengaruh agar adikmu melarikan diri..”

Mata Ailee membesar, “What?!” serunya dan menatap Chaerin tak percaya.

“Aku akan menghubungi Bom noona..” ucap Jiyong sambil mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kakaknya itu.

Jay memandang Chaerin, “Ada apa?”

Chaerin memandang Jay bingung, Ailee menjelaskan apa yang terjadi, membuat pria itu ikut terkejut.

“What? Mereka pasti bercanda..” ucap Jay tak percaya.

“Ayo, Bom noona akan langsung ke kantor polisi. Kita akan bertemu dengannya disana…” ucap Jiyong.

“Tunggu..” ucap Chaerin sambil berdiri, “Bagaimana dengan Hyunseung?”

Jiyong menunduk sedih, lalu kembali memandang Chaerin. “Dia mendapat benturan keras di kepalanya dan pendarahan di dada. Aku sudah menyetujui operasi dan kemungkinan dia akan koma beberapa saat..” ucapnya.

Chaerin diam sejenak, “Mmm.. kau bisa menungguinya disini. Aku akan pergi bersama teman-temanku..” ucapnya.

Jiyong tetrtegun mendengar ucapan Chaerin, “Ne? Ani, aku sudah berjanji akan membantumu. Jadi ayo pergi..” ucapnya dan mulai berjalan.

Chaerin segera menarik tangan Jiyong, membuat pria itu memandangnya. “Kubilang tetap disini, aku akan pergi bersama teman-temanku..” ucapnya lebih tegas.

“Hei! Stop it!” ucap Ailee kesal, ia melangkah ke sisi Chaerin dan mendorong gadis itu bersama Jay mendekat ke Jiyong. “Pergilah, aku akan menungguinya disini dan memberi kabar pada kalian..”

Semuanya memandang Ailee bingung.

“Kau yakin?” tanya Chaerin.

Ailee tersenyum, “Ne, pergilah..” ucapnya.

Chaerin mengangguk, “Ne..”

“Terima kasih Ailee-ssi..” ucap Jiyong dan kembali melangkah bersama Chaerin dan Jay.

“Kenapa Ailee tidak pergi bersama kita?” tanya Jay bingung.

“Dia akan menunggui Hyunseung, tidak perlu khawatir..” jelas Chaerin.

Jiyong hanya melirik kedua teman itu karena tak mengerti apa yang mereka katakan.

=Kantor Polisi=

Songyi duduk di depan seorang polisi dengan air mata berlinang, “Kumohon pak, Hyuna pasti ketakutan di luar sana. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya..”

“Ne, nyonya.. kami akan menemukannya secepat yang kami bisa..” ucap polisi itu menenangkan.

Jiyoon mengelus lengan ibunya dengan ekspresi sedih.

Junhyung berdiri di belakang mereka tanpa ekspresi. Kepalanya menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekat. Matanya membesar dan langsung berdiri, “Dia!! Dia orangnya pak!! Dia yang sudah membuat Hyuna melarikan diri!! Cepat tangkap dia!!” serunya sambil menunjuk Chaerin yang tiba bersama Jiyong dan Jay.

Mata Chaerin membesar, “Mwo?! Ya!!” teriaknya tak percaya.

“Tenang nyonya, kami akan segera memprosesnya..” ucap polisi tadi.

“Nyonya, mengapa anda membolak balikkan fakta?!” tanya Jiyong tak percaya.

“Lee Chaerin-ssi, silahkan duduk. Kami akan menanyai beberapa pertanyaan pada anda..” ucap polisi itu sambil menunjuk kursi didepannya.

Chaerin menatap Songyi penuh kebencian dan bergerak duduk.

“Apa hubunganmu dengan Kim Hyuna?” tanya polisi itu.

Chaerin menghela nafas dalam untuk menetralkan emosinya, “Aku kakak kandung Kim Hyuna..” jawabnya jelas.

Polisi itu diam sejenak dan memandang Songyi yang kembali duduk, “Benar nyonya?”

Songyi menyeka air matanya dengan tisu, “Ne, polisi..”

Polisi itu kembali memandang Chaerin, “Apa benar kau terus mengirim e-mail pada adikmu selama ini?”

Chaerin mengangguk, “Ne, kami terus saling bertukar e-mail..”

“Apa benar kau mempengaruhi adikmu untuk pergi dari keluarga asuhnya?” tanya polisi itu.

Chaerin menatap Songyi tajam karena telah membuatnya menjadi orang jahat, lalu kembali memandang polisi didepannya. “Aniya! Mereka yang memaksa adikku agar tidak berhubungan denganku lagi!” jawabnya.

“Apa anda memiliki bukti Lee Chaerin-ssi?” tanya polisi itu.

“Keurom! Aku punya semua e-mail yang dikirim Hyuna padaku..” jawab Chaerin.

Bom tiba dan langsung menghampiri meja polisi, “Maaf saya terlambat..” ucapnya.

Semuanya memandang Bom.

Songyi memandang Bom bingung.

Bom mengeluarkan berkas dari tasnya dan meletakkannya di meja, “Namaku Kwon Bom Lee, aku pengacara nona Lee. Kami memang akan segera menuntut nyonya Jung Songyi atas tuduhan memanfaatkan anak asuh yang tinggal bersamanya..”

Mata Songyi dan Jiyoon membesar melihat berkas itu dan menatap Bom tak percaya.

Polisi itu membuka berkas dan melihat isinya, disana juga tertera cetakan hasil e-mail Hyuna dan Chaerin. Ia diam sejenak dan memandang Songyi. “Nyonya, apa anda tetap pada tuduhan anda?”

“Tentu saja! Aku akan menuntuk gadis ini!” ucap Songyi sambil menunjuk Chaerin.

Chaerin menatap Songyi tajam, “Aku akan menuntutmu juga! Kau dan keluargamu akan menyesal sudah menyakiti adikku!!”

Polisi itu diam sejenak, “Baiklah.. kasus ini akan segera dipersidangkan..” ucapnya.

=Malamnya=

Apartemen.

Hyuna memandang jam dinding, sudah hampir pukul 10 malam tapi Hyunseung tidak belum juga kembali. Ia mulai merasa cemas, “Kenapa oppa belum pulang juga?”

Rumah Sakit.

Chaerin berhenti melangkah ketika mereka menuju ruang operasi, Jay dan Jiyong juga berhenti dan memandangnya bingung.

What’s wrong, Chae?” tanya Jay.

Chaerin menghela nafas dalam, “Just go, I want to be alone for a while..” ucapnya dan berjalan ke arah lain.

“Chaerin, kau akan kemana?” tanya Jiyong.

“Hanya sebentar..” ucap Chaerin tanpa berhenti.

Jiyong memandang Jay yang masih memandang Chaerin. Ia langsung merasa canggung ditinggal berdua bersama pria itu.

Jay memandang Jiyong, “Pergilah terlebih dulu, aku akan menemani Chaerin..” ucapnya dalam bahasa Korea.

Jiyong diam sejenak, lalu mengangguk. Ia memperhatikan Jay melangkah kearah Chaerin tadi, lalu melangkah menuju ruang operasi.

Chaerin berjalan pelan ke teras rumah sakit dan berdiri disana beberapa saat sambil memandang kebawah. Ia sangat sedih sekarang masalahnya menjadi semakin rumit. Dirinya akan menjadi tersangka jika Hyuna tidak juga di temukan. Penyelidikan masih berjalan, namun ia merasa seperti tidak akan pernah selesai selamanya. Matanya bergerak memandang langit, “Hyuna-a, odiga?” gumamnya.

Jay melangkah ke sisi Chaerin sambil ikut memandang langit, “Nice view..” ucapnya.

Chaerin memandang Jay sebal, “I said, I want to be alone!” tegasnya, lalu melangkah lagi.

Dengan cepat Jay menahan tangan Chaerin, membuat gadis itu kembali menatapnya. Kali ini dengan tatapan marah, “Chae, please.. Don’t hide your problem from me..” ucapnya, “..again!

Chaerin tertegun mendengar ucapan Jay, ia menunduk untuk menghindari tatapan pria itu.

Chae, I’m always here for you.. Please don’t turn your head to another..” ucap Jay memohon, “…again..” lanjutnya. Terdengar ia sangat terluka ketika mengatakan itu.

Jay, please don’t talk about this anymore. I want lose you, so just forget it..” ucap Chaerin tanpa memandang temannya itu.

Jay diam sejenak sambil memalingkan wajahnya dari Chaerin.

Just let me alone for a while.. Please..” pinta Chaerin masih tanpa memandang Jay.

Jay memandang Chaerin sedih, “Okay..” ucapnya pelan.

Chaerin berbalik dan kembali melangkah pergi.

=Apartemen Hyunseung=

Hyuna terbangun dan mendapati dirinya masih diruang tamu dan berbaring di sofa. Ia bangkit perlahan sambil memandang sekitar. “Oppa..” panggilnya, tidak ada jawaban. Itu menandakan Hyunseung belum juga kembali. Matanya mulai basah dan bulir air berjatuhan, ia sangat khawatir namun tak tau harus melakukan apa. Ia mengambil i-pad di meja dan memeriksa aku e-mail Hyunseung, masih belum ada balasan dari Chaerin. Bulir air matanya semakin deras berjatuhan.

‘Bagaimana jika eonni sudah kembali ke New York karena aku tidak membalas e-mailnya? Eonni..’ batinnya sambil menangis. Ia merasa takut. Hyunseung tak kunjung kembali. Chaerin tak juga membalas pesannya.

=Rumah Sakit=

“Bagaimana keadaan Hyunseung?” tanya Chaerin setelah mendengar Hyunseung sudah berada di ruang perawatan biasa.

Jiyong mengelus belakang kepalanya, “Dia masih koma, tapi pendarahan di dadanya sudah berhenti..”

Chaerin mengangguk mengerti, “Hmm.. begitu..” ucapnya mengerti.

Jiyong memperhatikan ekspresi Chaerin, “Kau terlihat lelah, apa kau mau aku mengantarkanmu pulang?”

“Aniya.. kau disini saja. Aku akan kembali bersama teman-temanku. Mungkin aku akan berada di rumah Ailee..” jawab Chaerin.

“Ne? Wae? Kembali ke apartemenku saja..” ucap Jiyong.

“Gwenchana.. aku juga akan menemui pengacara Kwon siang ini..” ucap Chaerin menenangkan.

Jiyong menatap Chaerin menyesal, “Miane, aku sudah berjanji untuk membantumu tapi aku juga harus menjaga Hyunseung..”

Chaerin mengangguk dan tersenyum, “Ne, gwenchana..” ucapnya, “Pastikan kau kembali ke rumah dan beristirahat sebentar..” ucapnya lagi, “Aku pergi..”

Jiyong memperhatikan Chaerin melangkah keluar dari ruang perawatan Hyunseung, gadis itu terdengar mengkhawatirkannya. Dan ia sangat senang mengetahui hal itu.

=Taxi=

Ailee memandang Chaerin yang duduk di sisinya, gadis itu tampak menatap kosong kebawah. “Chae, are you okay?”

Chaerin memandang Ailee, “Yes..”

“Tapi kau tidak terlihat baik.. Kau memikirkan Hyunseung?” tanya Ailee ingin tau.

Chaerin menghela nafas dalam, “Aku memikirkan adikku..” ucapnya pelan.

Ailee memegang punggung tangan Chaerin sambil tersenyum, “Chae, dia pasti baik-baik saja di suatu tempat.”

Chaerin memandang Ailee sedih, “I hope so..” ucapnya pelan, lalu memandang Jay yang memandangnya sedih dari depan.

Jay memalingkan wajahnya dan kembali memandang ke depan.

=Apartemen=

Jiyong keluar dari apartemennya dan berjalan ke pintu apartemen Hyunseung. Ia mengeluarkan kunci dan membuka pintu apartemen itu. Ia memberikan kunci apartemennya pada Hyunseung untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi, begitu juga sebaliknya. Ia berencana mengambil beberapa keperluan Hyunseung sebentar sebelum kembali ke rumah sakit.

Hyuna yang sedang menangis di sofa langsung berdiri dan berlari ke pintu, “Oppa!!”

Jiyong terkejut melihat Hyuna, tak menyangka ia akan menemukan seseorang disana.

Hyuna tertegun melihat yang datang bukan Hyunseung.

Jiyong ingat pernah melihat Hyuna ditarik Hyunseung waktu itu, “Oh.. nona, kau selalu disini?” tanyanya.

“Dimana Hyunseung oppa?” tanya Hyuna dengan suara serak karena terlalu banyak menangis. Matanya juga memerah dan membengkak sekarang, pandangannya jadi sedikit buram karena air mata.

“Hyunseung? Dia…” Jiyong ragu untuk mengatakan tentang kondisi Hyunseung.

Hyuna kembali menangis melihat ekspresi Jiyong, kakinya melemah dan terduduk di lantai sambil terus menangis.

“No-nona?” ucap Jiyong tak mengerti sambil menyamakan tinggi mereka, “Jangan menangis..” bujuknya.

Hyuna memandang Jiyong, “Apa Hyunseung oppa pergi meninggalkanku? Kenapa dia tak pernah kembali hingga sekarang?” tangisnya.

Jiyong diam sesaat, ‘Jadi dia belum tau?’ batinnya. Rasa iba muncul melihat Hyuna menangis seperti itu, tangannya terangkat dan mengelus kepala gadis itu. “Aniya, Hyunseung tidak meninggalkanmu.. Dia hanya.. mmm..dia… sedang dirumah sakit..”

Hyuna tertegun, “Ne? Kenapa dia disana?”

Jiyong menjilat bibir bawahnya yang terasa kering sambil mengelus belakang kepalanya, “Beberapa hari lalu dia kecelakaan dan sekarang dalam keadaan koma..”

Mata Hyuna membesar, “Ne?!” ucapnya kaget, kedua tangannya memegang lengan Jiyong dan menggenggamnya erat, “Tolong bawa aku kesana.. kumohon ahjussi.. aku ingin menemuinya..” mohonnya sambil menangis.

Jiyong terkejut Hyuna malah semakin menangis, “Ne.. ne.. aku akan membawamu kesana. Jangan menangis lagi..” bujuknya sambil mengelus kepala Hyuna.

Hyuna tersedu-sedu mengetahui ternyata Hyunseung kecelakaan dan ia sama sekali tidak mengetahuinya.

<<Back          Next>>

Advertisements

2 thoughts on “My Sister and I [Chapter 14]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s