Chapter

My Sister and I [Chapter 12]

12

Not What I Mean

=Gedung Apartemen=

Hyunseung memarkirkan mobilnya di depan gedung dan turun. Ketika memperbaiki posisi sandangan tas di bahunya, ia tertegun melihat Junhyung berdiri di depan gedung apartemen bersama Minji dan sepertinya sedang membicarakan sesuatu. Dahinya berkerut karena ingat pria itu menyebarkan selebaran tentang Hyuna di sekolah. Ia melangkah pelan menuju pintu masuk gedung seolah-olah ia tak melihat kedua orang itu disana.

“Kau benar-benar yakin melihat gadis ini?” Tanya Junhyung pada Minji.

Minji mengangguk, “Ne, oppa.. Mobilku hampir menabraknya di depan sini..”

Junhyung mengedarkan pandangannya dan tak sengaja melihat Hyunseung yang berjalan memasuki gedung, dahinya berkerut menyadari pria itu mengenakan seragam yang sama dengan Hyuna. “Hey, kau..” Panggilnya.

Minji memandang kearah Junhyung memandang.

Hyunseung berhenti melangkah dan memandang Junhyung, “Aku?”

Junhyung menghampiri Hyunseung sambil memperhatikan wajah pria itu, “Sepertinya aku pernah melihatmu?”

“Lalu?” Tanya Hyunseung tak mengerti.

Junhyung menatap Hyunseung curiga. Jika Hyuna terlihat ada di tempat itu dan ada orang yang juga satu sekolah dengan gadis itu, mungkin saja dia di bantu oleh pria di hadapannya. “Kau mengenal Kim Hyuna?”

Hyunseung diam sejenak untuk berpikir, “Kim Hyuna…” Gumamnya berpura-pura mengingat, “Oh.. Siswi kelas 10 itu?”

“Ne, kau mengenalnya?” Tanya Junhyung.

“Dia adik kelasku..” Jawab Hyunseung tenang.

“Kau tau dimana dia?” Tanya Junhyung.

Hyunseung diam sejenak, lalu mengerutkan dahinya. “Apa menurutmu aku akan mencaritau dimana dia?”

“Oh.. Begitu..” Ucap Junhyung.

“Jika sudah selesai aku pergi..” Ucap Hyunseung dan berjalan menuju lift.

Meskipun Hyunseung berkata seperti itu, ia tetap curiga.

“Waeyo oppa?” Tanya Minji ingin tau.

Junhyung memandang Minji, “Minji-a, kau mengenal pria itu?”

Minji memperhatikan Hyunseung yang masuk ke lift, lalu menggeleng. “Ani, ini pertama kalinya aku melihat pria itu..”

“Hmm..” Gumam Junhyung mengerti. “Keure, gumopta Minji. Oppa akan pergi duluan..” Ucapnya dan melangkah pergi.

“Hati-hati oppa..” Ucap Minji sambil melambai.

Jiyong masuk ke gedung apartemen setelah memarkirkan mobilnya di parkiran basement, sambil berjalan ia membaca pesan dari Bom kalau kakaknya itu sudah mengirimkan berkas-berkas tentang Chaerin. Ia tersenyum dan langsung membuka file yang dikirim kakaknya, namun belum sempat ia membaca isinya, matanya melihat Minji sedang menunggu lift. “Hm?” Gumamnya bingung dan langsung menghampiri adiknya itu. “Minji-a..”

Minji memandang kebelakang dan tersenyum, “Oppa..”

“Kenapa kau disini?” Tanya Jiyong sambil merangkul adiknya.

“Aku hanya ingin mengunjungimu..” Jawab Minji.

Jiyong membawa Minji masuk ke lift dan bersandar ke dinding.

“Oppa, kapan kau akan pulang?” Tanya Minji sambil memandang kakaknya.

“Oppa akan segera pulang, tapi oppa membantu teman oppa dulu..” Jawab Jiyong menjelaskan.

Minji cemberut, “Bagaimana jika oppa tidak bisa membantu?”

“Jangan berkata seperti itu..” Ucap Jiyong, “Seharusnya kau mendoakan agar adiknya segera ditemukan..”

“Tapi kan mencari orang tidak mudah oppa..” Protes Minji.

Jiyong tersenyum lucu mendengar ucapan Minji, “Ne.. Karena itu oppa akan membantunya..”

Minji memalingkan wajahnya sambil menyilangkan kedua tangan didada dengan wajah cemberut.

Jiyong mengelus kepala adiknya, “Sudahlah.. Ayo, kau harus bertemu dengannya dulu..” Ucapnya sambil melangkah keluar dari lift.

Apartemen Hyunseung.

“Ne?!” Seru Hyuna dengan mata membesar.

“Kita harus berhati-hati, seseorang melihatmu di depan apartemen ini.” Jelas Hyunseung.

Hyuna mulai panik, “Oppa, eoteokhe?”

Hyunseung memegang tangan Hyuna dan menatapnya yakin, “Tenanglah.. Mereka tidak akan tau kau ada disini. Jadi tetap didalam apartemen ini hingga aku menemukan cara lain untuk menyelesaikan semuanya. Araso?”

Hyuna mengangguk, “Ne, oppa..”

=Rumah Keluarga Kim=

“Bagaimana? Kau menemukannya?” Tanya Songyi pada Junhyung.

“Belum gommo, tapi aku sudah tau dimana harus menemukannya..” Jawab Junhyung.

Songyi menatap Junhyung serius, “Ne? Dimana?”

“Gommo tenang saja, aku akan menemukannya dan membawanya kembali.” Ucap Junhyung meyakinkan.

“Baiklah.. Tapi pastikan jangan sampai dia mengetahui eonni-nya kemari, araso?!” Tegas Songyi.

Junhyung mengangguk, “Ne, gommo..”

=Malamnya=

Apartemen Jiyong.

Jiyong duduk di sofa sambil menonton tv. Sesekali ia melirik Chaerin yang duduk di meja makan sambil memandangi gelas berisi air putih diatas meja. Ia kembali teringat file yang dikirim Bom dan segera mengeluarkan ponselnya, lalu membuka file itu.

Chaerin tersadar dari lamunannya karena mendengar bunyi ponselnya disaku, ia segera mengeluarkan benda itu dan melihat Ailee memanggilnya. Dengan berat hati ia mengangkat panggilan itu, “Yes, Ailee..” Jawabnya.

Chae, where are you now?” Tanya Ailee diseberang.

Chaerin menghela nafas dalam, “In someone place…” Jawabnya pelan.

Where?” Tanya Ailee lagi.

Sebelum Chaerin menjawab, ia mengerutkan dahi mendengar Ailee berdebat dengan seseorang dan merebut ponsel itu dari tangan temannya.

Chae, we’re in Korea right now..” Ucap Jay.

Mata Chaerin membesar, “What?!” Serunya.

Where are you?” Tanya Jay.

Chaerin bergerak bangkit, “I’m coming to you..” Ucapnya dan memutuskan telepon, lalu melangkah cepat menuju pintu.

Jiyong memandang Chaerin bingung, “Ya.. Odiso?”

“Tidak lama..” Ucap Chaerin sambil mengenakan sepatunya dan berlari keluar.

Dahi Jiyong berkerut dan kembali membaca file yang di kirimkan Bom.

Chaerin berlari menuju lift, saat itu Hyunseung keluar dari apartemen dan hampir ditabrak olehnya. “Oh!!” Serunya sambil berhenti.

Hyunseung terkejut.

I’m sorry..” Ucap Chaerin dan kembali berlari.

Hyunseung mengikuti Chaerin dengan tatapannya, dahinya berkerut melihat gadis itu tampak terburu-buru.

Kepala Hyuna muncul dari belakang bahu Hyunseung, “Waeyo oppa?”

“Hm? Oh.. Aniya.. Masuklah.. Aku hanya sebentar..” Ucap Hyunseung dan melangkah menuju lift.

Hyuna memandang ke arah Hyunseung pergi, saat itu ia melihat seorang gadis sudah berdiri didalam lift yang pintunya bergerak menutup. Dahinya berkerut karena seperti mengenal gadis itu, namun sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya dan masuk.

Sementara itu, Jiyong berusaha mengerti yang di maksud Bom dalam berkas-berkas itu. Setelah beberapa saat dahinya berkerut dan kembali membaca beberapa baris. Kepalanya terangkat dan menoleh ke pintu, ‘Chaerin dan adiknya anak asuh? Pantas saja dia mencari adiknya di dinas sosial..’ Batinnya tak percaya.

=Rumah Keluarga Ailee=

Chae datang secepat yang ia bisa kesana sebelum teman-temannya mulai mengomel ataupun kembali menghubunginya. Ia melangkah ke pintu utama dan menekan belnya.

Pintu terbuka dan muncul Ailee yang langsung tersenyum lebar, “Chae!!” Serunya sambil memeluk gadis itu.

Chaerin tersenyum sambil membalas pelukan sahabatnya itu.

Jay muncul di pintu dan tampak lega melihat Chaerin, “Hei, are you okay?” Tanyanya dan memeluk gadis itu sekilas.

Yes, I’m okay..” Jawab Chaerin.

Let’s go in..” Ucap Ailee sambil menarik Chaerin masuk.

Chaerin dan teman-temannya duduk di ruang tengah dan menceritakan apa yang terjadi setelah mereka kembali ke New York.

Oh my god! Itu sangat mengerikan Chae..” Ucap Ailee prihatin.

Chaerin menghela nafas dalam.

“Jadi, dimana kau tinggal menetap selama kami kembali Ke New York?” Tanya Jay dalam bahasa inggris.

Chaerin memandang Jay, “At Kwon Jiyong apartemen..

Jay mengangguk mengerti, “Just move here, we looking for your sister together..” Ucapnya.

Chaerin menggeleng, “I’m sorry, I can’t.. Jiyong akan membantuku mencari adikku. Jadi aku harus tetap di apartemennya sementara waktu..”

Dahi Jay berkerut, “What?! Are you kidding me?

No Jay.. I have to stay in his place..” Ucap Chaerin meyakinkan.

Chae, Ailee and I comeback here for you.. We gonna help you..” Ucap Jay mulai kesal.

Yes I know.. Tapi kita tidak akan bisa menemukan dimana adikku jika kita tidak tau apa yang harus kita lakukan disini..” Jelas Chaerin.

Hey! Hey!! Stop it!!” Seru Ailee menengahi dan memandang Jay, “Jay, kita datang kemari untuk membantu Chae. Jadi bagaimana pun caranya, kita akan membantu..”

Jay memalingkan wajahnya kesal.

Chaerin menghela nafas dalam berkali-kali untuk menetralkan emosinya, lalu kembali memandang Jay. “Jay, listen..” Ucapnya pelan, membuat pria itu memandangnya. “Jiyong bisa membantuku menemukan adikku.. Dia tinggal disini dan mempunyai koneksi, jadi aku harus tetap tinggal di apartemennya sementara waktu..” Jelasnya dalam bahasa inggris.

Jay diam memandang Chaerin sambil memikirkan apa yang harus dia ucapkan.

Ailee memandang Jay menunggu pria itu mengatakan sesuatu. Biasanya memang pria itu yang mengeluarkan keputusan akhir karena dirinya memang lebih tua dari mereka.

Jay menghela nafas dalam dan duduk bersandar, “Okay..” Ucapnya pelan.

Chaerin dan Ailee tersenyum lebar mendengar ucapan Jay.

=Apartemen Hyunseung=

“Oppa.. Oppa…” Panggil Hyuna sambil berlari keluar dari ruang jahit.

Hyunseung yang sedang membuat desain pakaian di ruang tengah menoleh, ia tertegun melihat Hyuna memamerkan pakaian yang dibuatnya selama hampir 2 minggu ini.

“Bagaimana? Rapikan?” Tanya Hyuna sambil berputar-putar.

Hyunseung meletakkan buku desainnya dan melangkah menghampiri Hyuna sambil memperhatikan pakaian yang di kenakan gadis itu. Tangannya bergerak menyentuh permukaan kain yang dijahit. Ia benar-benar mengagumi hasil jahitan gadis dihadapannya. Matanya berpindah ke tangan Hyuna. Seperti terhipnotis, matanya hanya menatap tangan gadis itu dan memegangnya sambil mendekatkan jemari indah itu ke depan wajahnya.

Hyuna memperhatikan Hyunseung menatap tangannya kaget, namun karena ini bukan yang pertama kali, ia tidak akan melarikan diri lagi.

Hyunseung memejamkan mata sambil menunduk hingga pipi dan pelupuk matanya menyentuh punggung tangan Hyuna.

Jantung Hyuna berdebar cepat melihat apa yang dilakukan Hyunseung. Disaat bersamaan, ia merasa kalau bukan hanya dia yang merasa kesepian selama ini. Bibirnya membentuk senyuman memperhatikan ekspresi pria didepannya, tanpa sadar tangannya yang lain terangkat dan mengelus rambut pria itu.

Hyunseung tertegun merasakan elusan Hyuna, perlahan matanya terbuka dan memandang gadis itu.

Hyuna segera tersadar dan langsung menarik tangannya sambil menunduk. Wajahnya terasa panas, ia benar-benar malu atas apa yang ia lakukan barusan. Apalagi sekarang Hyunseung memandangnya tanpa ekspresi, “Ce..cesonghamida..” Ucapnya malu bercampur gugup.

Hyunseung tidak tau mengapa, tapi ia suka melihat wajah Hyuna merona seperti itu. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik dan membentuk senyuman kecil, gadis didepannya benar-benar mempunyai sesuatu yang tak pernah ia temukan sebelumnya.

Hyuna melirik Hyunseung yang tidak mengatakan apa pun, ia tertegun menyadari pria itu tersenyum. “Oh.. Oppa?” Ucapnya tak percaya dan tersenyum lebar. Karena terlalu senang ia menarik tangannya dari pegangan Hyunseung dan memegang kedua pipi pria itu, “Oppa baru saja tersenyum!!” Serunya girang.

Hyunseung sendiri terkejut mendengar ucapan Hyuna, “Ne? Benarkah?”

Hyuna mengangguk cepat, “Ne! Aku melihatnya! Oppa tersenyum!” Ucapnya senang.

Hyunseung ikut senang mengetahui itu, berarti dirinya sudah mulai menjadi ‘manusia’. “Gumopta..” Ucapnya tulus.

Wajah Hyuna berubah bingung dan menarik kedua tangannya dari wajah Hyunseung, “Wae?”

“Karena membuatku tersenyum..” Jawab Hyunseung.

Hyuna tersenyum malu, “Karena aku?”

“Ne..” Jawab Hyunseung, lalu bergerak maju dan memeluk Hyuna.

Hyuna mematung merasakan tubuh hangat Hyunseung memeluknya. Matanya membesar dan jantungnya berdegup kencang.

Hyunseung kembali tersenyum tipis merasakan jantung Hyuna berdegup kencang, “Jantungmu berdegup kencang sekali..” Gumamnya di dekat telinga gadis itu.

Wajah Hyuna terasa semakin panas, “N-ne?”

Hyunseung melepaskan pelukannya dan menatap Hyuna, tampak keceriaan dari sorot matanya. “Kuharap kau akan selamanya bersamaku..”

Hyuna menatap kedua mata Hyunseung yang memancarkan ketulusan, ia seperti baru saja mendengar seseorang melamarnya. Memang aneh, tapi ia kembali merasa seseorang membutuhkannya. Hidupnya terasa penuh arti jika Hyunseung tetap menatapnya seperti saat ini. Bibirnya membentuk senyuman dengan mata berkaca-kaca, “Oppa?”

“Bukankah kau sudah berjanji akan bekerja di butikku?” Tanya Hyunseung sambil tersenyum.

Senyuman Hyuna memudar, rasa harunya beberapa saat tadi langsung menghilang menyadari maksud Hyunseung bukan ingin bersamanya sebagai seorang kekasih, melainkan ingin bekerja bersamanya. “Oh.. Ne..” Jawabnya pelan, lalu menunduk agar Hyunseung tidak melihat rasa kecewanya.

Hyunseung mundur selangkah dan kembali memperhatikan pakaian di tubuh Hyuna, “Kau memang berbakat dalam menjahit..”

Hyuna tidak menjawab dan kembali memandang Hyunseung.

Hyunseung memandang Hyuna bingung, “Wae?”

Hyuna menunduk dan menggeleng pelan, “Aniya.. Aku akan memperbaiki beberapa bagian baju ini..” Ucapnya dan melangkah menuju ruang jahit.

Hyunseung meperhatikan Hyuna pergi dengan wajah bingung, ‘Aku mengatakan sesuatu yang salah?’ Batinnya bingung.

<<Back          Next>>

Advertisements

3 thoughts on “My Sister and I [Chapter 12]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s