Chapter

My Sister and I [Chapter 10]

10

—Losing Hope—

Hyuna meletakkan makanan di depan Hyunseung, “Ini sanbae..”

Hyunseung memandang Hyuna, “Kau tidak perlu memanggilku sanbae lagi..” ucapnya.

Hyuna tersenyum malu, “Keure, oppa..”

Tatapan Hyunseung terlihat ceria, namun wajahnya tetap tanpa ekspresi.

Hyuna duduk di sisi Hyunseung sambil memperhatikan ekspresi pria itu, “Apa kau tidak pernah tersenyum?”

Hyunseung tertegun mendengar pertanyaan Hyuna, “Ne?”

Hyuna mendekatkan wajahnya pada Hyunseung untuk memperhatikan wajah pria itu lebih lekat, “Omo.. kulitmu terlihat kaku..” ucapnya sambil menunjuk pipi pria itu.

Hyunseung terpaku melihat wajah Hyuna ada di depan wajahnya, ia bisa melihat kulit gadis itu sangat mulus dan membuatnya ingin mengelus pipi lembut itu.

Dahi Hyuna berkerut, “Oh.. kenapa wajahmu jadi merah begitu?”

Hyunseung langsung memalingkan wajahnya, “Berhenti menatapku..” ucapnya datar.

Hyuna menarik wajahnya dan kembali duduk tegak di tempatnya, “Cesonghamida..” ucapnya pelan.

Hyunseung menghela nafas dalam dan memandang Hyuna yang tampak canggung, “Cesongeo, aku terlalu kaku..” ucapnya pelan.

Hyuna memandang Hyunseung, “Ne? aniya.. menurutku kau sangat cool, sanbae.. Oh.. maksudku, oppa..” ucapnya dan tertawa malu.

Hyunseung merasa senang Hyuna ada disana bersamanya, namun ia seperti tak bisa menggerakkan bibirnya untuk tersenyum. Setelah beberapa saat mulai makan tanpa mengatakan apa pun, ia kembali memandang Hyuna. “Hyuna..”

“Ne?” jawab Hyuna sambil memandang Hyunseung.

“Mmm.. aku tidak melihatmu memeriksa e-mail lagi akhir-akhir ini..” ucap Hyunseung.

Wajah Hyuna berubah sedih, lalu menunduk memandang jemarinya. “Aku tidak mau berharap terlalu banyak..” ucapnya pelan.

“Wae? Bukankah kau sangat yakin eonni-mu akan membaca e-mail itu?” Tanya Hyunseung tak mengerti.

Hyuna menghela nafas dalam, “Ne..” ucapnya pelan, “Tapi….” Ia kembali memandang Hyunseung, “..apa dia bisa langsung datang dan membantuku? Dia sangat sibuk juga, bahkan terkadang baru seminggu kemudian membalas e-mailku. Mungkin eonni sudah memiliki kehidupannya yang baru disana.”

Hyunseung menatap Hyuna sesaat, lalu mengulurkan tangannya ke tangan gadis itu. membuatnya gadis itu menatap tangannya tak percaya, “Aku tau ini terdengar aneh..”

Hyuna kembali memandang Hyunseung masih dengan tatapan tak percayanya.

“Tapi aku bisa mewujudkan mimpimu untuk menjadi penjahit, kau bisa mendesain dan membuat baju apa pun yang kau suka. Aku benar-benar membutuhkan orang dengan kemampuan tangan special sepertimu untuk butikku..” ucap Hyunseung bersungguh-sungguh.

Hyuna tertegun menatap Hyunseung, bibirnya perlahan membentuk senyuman dan mengangguk. “Keure..”

Hyunseung menarik tangannya dan melanjutkan makan.

=Ruangan Bom=

“Apa kau mengenal pemilik akun ini?” Tanya Bom sambil memandang layar notebook Jiyong.

Chaerin menggeleng, “Aniya.. Aku baru pertama kali mendapat e-mail dari akun ini.”

“Adikmu bilang akun itu milik seniornya, kau tau siapa dia?” Tanya Jiyong.

Chaerin menggeleng lagi, “Ani..”

Jiyong menatap Chaerin aneh, “Aigoo.. kau sebut dirimu kakak?”

Chaerin menatap Jiyong kesal, “Mwo?!” ucapnya kesal.

“Ya.. jika kau memang peduli pada adikmu, kenapa kau tidak kembali sejak dulu? Aissh..” komentar Jiyong sambil menyilang kedua tangannya di dada.

Chaerin menatap Jiyong marah, ia berusaha tidak mengeluarkan kemarahannya karena ada Bom disana.

Bom memandang kedua orang itu bergantian, “Sudah, jangan bahas yang lain dulu..” ucapnya menengahi.

Chaerin menghela nafas dalam dan kembali memandang Bom, “Jadi, apa kau bisa menemukan sesuatu?”

Bom menatap Jiyong, “Ya, bukankah kau bisa menggunakan para pengawalmu untuk menemukan adiknya? Ada apa denganmu?!” tanyanya kesal.

Jiyong memandang Bom bingung, “Ne? kenapa pengawalku? Lebih baik membayar detektif lain, aisshh..” gumamnya.

“Pabo, para pengawalmu lebih hebat dari detektif mana pun!” ucap Bom kesal.

“Aniya! Aku tidak akan memanggil mereka! Jika appa tau, aku akan diseret pulang!” ucap Jiyong kesal.

“Paboya.. Minji menangis meneleponku semalam, dia bilang sangat kesepian dirumah..” ucap Bom sebal.

Jiyong tertegun, “Ne? jinja?” ucapnya, ia merasa bersalah mendengar itu.

“Mmm.. Kurasa aku akan memikirkan cara menemukan adikku lagi..” ucap Chaerin.

Mobil Jiyong.

Jiyong mengendarai mobilnya tanpa mengatakan apa pun, begitu juga Chaerin yang duduk disebelahnya. Matanya melirik gadis itu dan kembali memandang kedepan, “Ya.. tumben kau tenang sekali..” ucapnya heran.

Chaerin memandang keluar jendela, “Diamlah..” ucapnya pelan.

Jiyong memutar bola matanya kesal, “Terserah..”

Chaerin diam beberapa saat, lalu memandang Jiyong. “Ya.. kau bilang akan membantu menemukan adikku, tapi kenapa sekarang kau bersikap seperti ini?” tanyanya kesal.

“Aku akan membantumu. Tapi semuanya perlu waktu..” ucap Jiyong sebal.

Chaerin menyipitkan matanya menatap Jiyong, “Aku tidak bisa menunggu terlalu lama!”

Jiyong menepikan mobilnya dan menatap Chaerin kesal, “Ya! Meski aku menggunakan jasa detektif terbaik pun, menemukan seseorang yang bahkan tidak kau miliki photonya di masa sekarang akan sangat sulit! Menemukan orang hilang tidak seperti mencari barangmu yang dicuri orang! Araso?!”

Chaerin menggemertakkan giginya, lalu memalingkan wajahnya. Ia sangat kesal mendengar ucapan Jiyong karena semua itu benar. Ia tak bisa membayangkan adiknya berada di suatu tempat tanpa perlindungan dan menangis ketakutan.

Jiyong menghela nafas dalam dan memandang kedepan, “Ahh.. menyebalkan..” gumamnya, “Sudahlah, kita cari makan dulu baru pulang..” ucapnya.

“Ani..” ucap Chaerin.

Jiyong memandang Chaerin bingung, “Wae?”

Chaerin melepaskan safety beltnya, “Aku ingin sendiri..” ucapnya dan turun dari mobil.

“Ne? Ya! YA!!” panggil Jiyong, namun Chaerin tetap keluar dari mobil dan berjalan di trotoar. Ia menghela nafas dalam melihat gadis itu melangkah tanpa memandang kebelakang sama sekali.

=Sebuah Tempat=

Hyuna memandang Hyunseung yang menghentikan mobilnya di depan sebuah mini market, “Oppa, kenapa kita kemari?”

Hyunseung melepaskan safety beltnya sambil memandang Hyuna, “Aku akan membeli minuman, tetap disini. Jangan sampai seseorang melihatmu, araso?”

Hyuna mengangguk, “Ne..”

Hyunseung membuka pintu mobil dan turun.

Hyuna memperhatikan Hyunseung melangkah masuk ke mini market dan duduk bersandar menunggu pria itu kembali. Ia menghela nafas dalam sambil memperhatikan keluar mobil. Dahinya berkerut melihat seorang gadis yang berjalan di trotoar di seberang jalan, ia berusaha memperhatikan dengan jelas. Matanya membesar, “Eonni?” gumamnya tak percaya. Tanpa sadar ia membuka safety beltnya dan membuka pintu.

Hyunseung keluar dari mini market dengan sekantung belanjaan di tangannya, ia tertegun melihat Hyuna berlari keluar dari mobil. “Ya!” panggilnya dan langsung mengejar gadis itu.

Hyuna berlari ke pinggir jalan dan berusaha mencari gadis yang ia lihat tadi, namun di seberang jalan sana terlalu banyak orang dan juga kendaraan terus berlalu lalang. “Eonni..” gumamnya penuh harap. Ia melangkah cepat di sepanjang trotoar mengikuti arah gadis tadi pergi sambil terus memperhatikan. Sosok gadis tadi kembali terlihat olehnya, “Oh! EONNI!!” teriaknya dan langsung berlari hendak menyeberangi jalan.

“YA!” Hyunseung menarik tangan Hyuna sebelum gadis itu berlari ke tengah jalan. “Ya! Micheoso?!” serunya tak percaya.

Hyuna menatap Hyunseung dengan mata memerah menahan air mata, “Oppa, aku melihat eonniku diseberang jalan! Dia sudah kembali kemari!” ucapnya sambil mengguncang lengan pria itu.

Hyunseung diam menatap Hyuna sesaat.

“Oppa! Ppali! Aku harus mengejarnya!” ucap Hyuna dan hendak berlari ke seberang jalan lagi.

Hyunseung kembali menarik Hyuna hingga berbalik menghadapnya, lalu menatap gadis itu serius. “Kemanhe, Kim Hyuna!” ucapnya tertahan.

Hyuna menatap Hyunseung tak mengerti, “Apa maksudmu oppa?”

Hyunseung tampak ragu untuk berbicara, “Kemanhe..” ucapnya pelan, “Eonnimu tidak mungkin ada disini.. Dia di New York..”

Bulir air mata Hyuna mulai berjatuhan, “Aniya! Dia disana.. Aku melihatnya!!” ucapnya meyakinkan.

Hyunseung berbalik sambil menarik tangan Hyuna kembali ke mobilnya.

“Oppa! Eonniku ada di seberang jalan sana!!” ucap Hyuna sambil berusaha menahan langkahnya.

Hyunseung terus menarik Hyuna dan memaksa gadis itu masuk ke mobil.

Hyuna menahan pintu yang hendak di tutup Hyunseung, “Oppa! Jebal.. eonniku ada disana!” tangisnya.

Hyunseung menatap Hyuna iba, lalu menggeleng. “Aniya..” ucapnya pelan, “Aku tidak pernah mengatakan ini karena tidak ingin membuatmu terluka, tapi kau harus tau Hyuna. Jika eonni-mu memang akan kembali untukmu, kenapa dia tidak kembali sejak dulu?”

Hyuna tertegun mendengar pertanyaan Hyunseung, “Oppa?”

Hyunseung memegang kedua bahu Hyuna dan menatapnya serius, “Dia tidak akan kembali.. Kau mengerti?”

Bulir air mata Hyuna semakin banyak berjatuhan, “Aniya, eonniku akan kembali.. Dia sudah berjanji padaku..”

“Sadarlah Hyuna! Dia mengatakan itu agar kau tidak mengkhawatirkannya, araso?! Jadi hentikan ini.. Lanjutkan hidupmu, berhenti berkhayal dia akan kembali!” tegas Hyunseung.

Hyuna menunduk dan menangis tersedu-sedu di depan Hyunseung.

Hyunseung menatap Hyuna sedih, tangannya terulur dan mengelus kepala gadis itu. “Duduk dengan benar..” ucapnya sambil mendorong kaki Hyuna agar menghadap lurus kedepan, lalu menutup pintu. Ia tidak suka melihat gadis itu menangis, namun ia juga tak ingin gadis itu terluka nantinya. Ia segera masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin.

Sementara itu.

Chaerin tertegun dan langsung berbalik, lalu memperhatikan sekitarnya. Mencari asal suara yang ia dengar tadi. Dahinya berkerut karena tidak menemukan seorang pun yang terlihat mengenalnya, kepalanya menunduk sedih dan kembali berbalik. Kakinya dengan berat kembali melangkah diantara pejalan kaki lainnya.

“…jika kau memang peduli pada adikmu, kenapa kau tidak kembali sejak dulu?”

Ucapan Jiyong itu bergema di telinga Chaerin. Ia berusaha keras menahan air matanya. Ponselnya berbunyi, ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan memandang layarnya. Jay memanggilnya. Ia menghela nafas dalam dan mengangkat panggilan itu. “Hei Jay..” sapanya pelan.

Chae, are you okay?” Tanya Jay khawatir.

Yes, I’m okay..” jawab Chaerin.

You’re not sound ‘okay’.. What’s wrong? You find your sister?” Tanya Jay ingin tau.

Not yet..” jawab Chaerin, rongga matanya terasa di penuhi air ketika mengatakan itu. namun ia langsung mengedip-kedipkan matanya menghilangkan air itu agar tidak terjatuh.

Terdengar Jay menghela nafas panjang, “Chae, I’ll be there soon..” ucapnya.

Chaerin menghela nafas dalam, “No, don’t coming..

I can’t let you fight alone..” ucap Jay tulus.

I’m not alone, don’t worry about me..” ucap Chaerin.

Don’t lie Chae!” tegas Jay.

I’m not! I met a……” Chaerin bingung bagaimana menyebutkan Jiyong, “Mmm.. friend..

Who?” Tanya Jay ingin tau.

Just a friend..” ucap Chaerin.

Give me a name!” tegas Jay.

Chaerin memutar bola matanya kesal, “Kwon Jiyong..”

Jay diam sejenak, “Wait, it’s sound like a guy name..” ucapnya bingung.

Yes, he is..” jelas Chaerin.

What?! You met a guy just few days you came to your hometown?!” Tanya Jay tak percaya bercampur marah.

I have to go..” ucap Chaerin sebal dan langsung memutuskan telepon. Ia menghela nafas dalam sambil memandang layar ponselnya. Meskipun jadi kesal, ia merasa sedikit lebih baik. Bibirnya perlahan membentuk senyuman, “Thank’s Jay..” ucapnya pelan, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana dan berjalan dengan perasaan lebih ringan.

<<Back          Next>>

Advertisements

2 thoughts on “My Sister and I [Chapter 10]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s