Chapter

My Sister and I [Chapter 6]

6

—Same Place, But Different—

Hyuna menghela nafas berat melihat tidak ada balasan e-mail dari Chaerin, “Eonni.. apa kau membaca e-mailku?” gumamnya sedih.

Hyunseung masuk ke kamarnya dan menghampiri Hyuna yang terus terlihat murung selama berhari-hari, “Kau masih menatap benda itu?” tanyanya tak mengerti.

Hyuna menghela nafas dalam, “Eonniku belum membalas e-mailku juga..”

Hyunseung mengambil i-padnya dan melempar benda itu ke tengah kasur, “Berhentilah.. Kau akan gila jika menatapnya terus. Ikut aku..” ucapnya sambil menarik tangan Hyuna bangkit.

Hyuna hanya mengikuti Hyunseung keluar dari kamar dan masuk ke sebuah ruangan yang belum pernah ia masuki. Pada awalnya ia sempat bingung karena ruangan itu gelap, namun begitu lampu di hidupkan, matanya membesar mengetahui itu adalah ruang jahit.

Hyunseung melangkah masuk mendekati sebuah boneka torsho, lalu menyentuh permukaan meja di dekatnya.

Hyuna memperhatikan ruangan yang di penuhi perlengkapan menjahit. Benang, kain juga berbagai jarum. “Sanbae, kenapa kau tidak memberitauku tentang ruangan ini?” tanyanya tak percaya.

Hyunseung memandang Hyuna, “Sekarang kau sudah tau, kau bisa menggunakannya..”

Hyuna menatap Hyunseung kaget, “Ne?”

“Kau bisa menemukan apa yang kau butuhkan disini..” ucap Hyunseung, lalu berjalan ke lemari di sudut ruangan dan mengeluarkan buku desain. “Kau bisa membuat desainmu disini..” ucapnya sambil meletakkan buku itu ke meja.

Hyuna tersenyum lebar dan mengambil buku tadi tak percaya, “Aaaa.. aku selalu ingin memiliki buku seperti ini..” ucapnya senang.

“Kau bisa melakukan yang kau suka disini. Aku akan memeriksa kapan keluarga asuhmu berhenti mencarimu, baru kau bisa keluar dari apartemenku. Araso?” Tanya Hyunseung.

Hyuna mengangguk, “Ne, gumopta sanbae..” ucapnya.

“Keure, aku akan pergi sebentar..” ucap Hyunseung, lalu berbalik dan berjalan keluar.

Hyuna tersenyum memperhatikan Hyunseung keluar, lalu memperhatikan seluruh ruangan itu lagi.

Hyunseung keluar dari apartemen dan berjalan menuju lift. Karena malam sudah larut, biasanya ia tak akan bertemu siapa pun disaat seperti itu. pintu lift terbuka di lantai dasar, kakinya berhenti melangkah ketika melihat seseorang yang ia kenal.

“Oh Hyunseung-a, kau akan pergi?” Tanya seorang pria.

Hyunseung membungkuk sopan, “Ne, hyung.. Kau baru kembali? Ada apa dengan wajahmu?” tanyanya bingung.

Pria itu tertawa kecil, “Hanya berkelahi dengan beberapa berandalan.. Sampai jumpa..” ucapnya dan melangkah masuk ke lift.

“Ya!!” seru Chaerin sambil menarik tangannya dari tarikan pria itu.

Hyunseung memandang Chaerin kaget.

Pria itu berbalik menatap Chaerin kesal, “Sudah ikut saja!” serunya sambil menarik gadis itu masuk ke dalam lift.

Hyunseung mengerutkan dahi, namun karena pintu lift sudah tertutup ia hanya melangkah pergi.

Chaerin menatap pria disebelahnya kesal, “Untuk apa kau membawaku ke apartemenmu?!”

Pria itu mendengus kesal sambil mengelus telinganya, “Ya.. kau bisa merusak gendang telingaku..” ucapnya sebal, “Ayo..” ucapnya sambil menarik tangan Chaerin keluar dari lift.

Chaerin mendengus kesal mengikuti pria itu.

Pria itu berhenti di depan apartemennya dan membuka pintu, “Ayo masuk..”

Chaerin menghentakkan kakinya, lalu melangkah masuk.

Pria itu melangkah menghampiri sebuah cermin dan memperhatikan memar di wajahnya, “Ahh.. ini buruk sekali..” ucapnya sendiri.

Chaerin melepaskan tasnya dan duduk di sofa, lalu memanjangkan kakinya dan memijat lututnya yang terasa pegal.

Pria tadi duduk di sofa diseberang Chaerin sambil meletakkan minuman kaleng dingin di hadapan gadis itu, “Siapa namamu?” tanyanya.

Chaerin menatap pria itu kesal dan mengambil minuman kaleng itu, “Apa kau perlu tau namaku sekarang?” tanyanya sebal, lalu meneguk air disana.

Pria itu menatap Chaerin sebal, “Namaku Kwon Jiyong..”

Puffffffffffff!!!!

Chaerin menyemburkan air dari yang ia minum ke wajah pria bernama Jiyong itu.

Jiyong terpaku dengan mata terpejam karena air itu mengenai wajahnya.

“Aargghh!! Ini bir!” seru Chaerin dan menyeka bibirnya sambil meletakkan minuman kaleng di meja.

Jiyong menyeka air diwajahnya dan menatap Chaerin, “YA!!!”

“Wae?! Kau tidak memberitauku itu bir, jangan salahkan aku!” ucap Chaerin tak mau kalah.

“Aissh! Memangnya ada apa dengan bir?! Kau masih di bawah umur?!!” seru Jiyong kesal.

“Tutup mulutmu!!” seru Chaerin, lalu bergerak bangkit. “Dimana kamarmu?! Aku ingin membersihkan diriku!”

Jiyong harus menahan emosinya ketika menatap Chaerin, “Aissh.. disana!” ucapnya sambil menunjuk pintu kamarnya.

Chaerin memandang kearah Jiyong menunjuk, lalu menatap pria itu kesal. “Karena kau sudah membuatku terjebak hingga larut seperti itu, aku akan bermalam disini!” tegasnya, lalu melangkah cepat ke pintu kamar.

Jiyong menatap Chaerin tak percaya, “Aissh.. jinja..” gumamnya kesal.

Chaerin masuk ke kamar Jiyong dan mengunci pintunya, ia tentu tidak ingin pria itu masuk ketika ia sedang mandi meskipun itu bukan kamarnya.

……………………………………………………………………..

Chaerin keluar dari kamar mandi dengan celana olahraga dan baju kaus besarnya, ia menghampiri melangkah keluar dari kamar sambil memandang ke sekitar. Dahinya berkerut melihat Jiyong tertidur di sofa, juga ada beberapa kaleng bir kosong di meja. “Aigoo..” gumamnya sambil geleng-geleng kepala, ia berbalik dan kembali ke kamar. “Sudahlah.. tidak perlu memikirkannya.” Ucapnya sambil masuk ke bawah selimut dan berbaring dengan nyaman disana. Matanya terpejam beberapa saat, namun kembali terbuka karena teringat sesuatu. ‘Apa yang kulakukan besok?’ batinnya.

Keesokan paginya.

Chaerin keluar dari kamar setelah bersiap dengan tas ransel di bahunya, dahinya berkerut tak melihat Jiyong di sofa. Kaleng-kaleng minuman kosong tadi malam juga terlihat berserakan di lantai, “Ige mwoya?” gumamnya tak mengerti.

Trank.. trank..

Kepala Chaerin memandang kearah dapur dan langsung melangkah kesana.

Jiyong meringkuk di lantai dapur sambil memegang perutnya, “Ahh.. ahh.. perutku..” rintihnya.

Chaerin masuk ke dapur dan memandang Jiyong bingung, “Ya.. apa yang kau lakukan?”

Jiyong meringis kesakitan dan memandang Chaerin, “Ya.. tolong aku.. Aku akan mati.. ahhk!”

Chaerin tertegun melihat Jiyong terlihat sangat kesakitan, “Ya.. kau serius?” tanyanya sambil menghampiri pria itu dan memegang bahunya.

“Ahh.. ppaliwa, lakukan sesuatu.. Aku akan mati..” ucap Jiyong kesakitan.

“Sebentar..” ucap Chaerin sambil melepaskan tas ranselnya dan langsung memeriksa lemari gantung.

“Ppali.. ppali..” ucap Jiyong sambil mencengkeram perutnya.

Chaerin berusaha bergerak secepat yang ia bisa untuk membuat teh herbal yang ia temukan, lalu kembali berlutut di depan Jiyong. “Ini, ayo minum..”

Jiyong menarik cangkir yang di pegang Chaerin ke mulutnya, lalu meneguknya sedikit demi sedikit.

Chaerin memperhatikan Jiyong menghabiskan teh di cangkir, “Sudah lebih baik?” tanyanya ketika priai tu selesai dengan minumannya.

“Ahh.. perutku..” rintih Jiyong sambil mengelus perutnya.

Chaerin menghela nafas dalam dengan tatapan kesal pada Jiyong, “Karena itu aku tidak ingin menkonsumsi alcohol!” serunya kesal.

“Ahhk!! Perutku..” ucap Jiyong lagi.

“Aissh!! Ini karena aku menginap di tempatmu!” ucap Chaerin sambil bangkit dan memegang lengan Jiyong, “Ayo..” ucapnya sambil menarik pria itu bangkit dan membantunya melangkah ke meja makan.

“Mwoya?” Tanya Jiyong tak mengerti.

“Diam saja!” ucap Chaerin kesal, lalu meninggalkan Jiyong di meja makan untuk kembali ke area dapur.

Dahi Jiyong berkerut menahan sakit di perutnya sambil memperhatikan Chaerin mengeluarkan ikat rambut dari saku celananya dan mengikat rambutnya kebelakang, lalu mengambil celemek yang belum pernah ia kenakan sama sekali dan mengenakannya.

Chaerin membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan makanan yang ia temukan, lalu membawanya ke meja dapur dan mempersiapkan bahan-bahan lainnya. Setengah jam kemudian ia sudah menyelesaikan masakannya.

Mata Jiyong membesar melihat Chaerin memasak sup ayam untuknya. Ia memandang mangkuk sup berisi ayam, wortel, kentang dan beberapa bumbu. Lalu memandang Chaerin yang berdiri disebelah meja makan memandangnya.

“Cepat makan..” ucap Chaerin setengah memerintah.

Jiyong mengangguk dan mengambil sendok, lalu mulai makan. “Wuaa.. enak sekali..” ucapnya dan makan dengan semangat.

“Keure.. selamat menikmati..” ucap Chaerin, lalu kembali ke area dapur.

Jiyong melirik Chaerin sambil menikmati sup-nya. Gadis itu melepaskan celemek dan ikatan rambutnya, tangannya berhenti menyendokkan sup kerika menyadari gadis itu mengenakan tas ranselnya, juga melangkah menuju pintu depan. “Ya.. ya..” panggilnya, namun gadis itu tak berhenti. Dengan cepat ia bangkit untuk mengejar gadis itu, “Ya.. odiga?”

“Terima kasih untuk masalah yang sudah kau berikan dan tempat menginap ini, aku akan pergi..” jawab Chaerin sambil mengenakan sepatunya tanpa memandang Jiyong, lalu bangkit dan melangkah ke pintu.

“Ne? Ya..” Jiyong menarik tangan Chaerin sebelum sempat memegang  pegangan pintu.

Chaerin memandang Jiyong kesal, “wae?!”

“Kau akan pergi kemana?” Tanya Jiyong ingin tau.

“Bukan urusanmu.” Jawab Chaerin.

“Ya.. jika kuperhatikan, kau bukan dari Seoul.. Apa kau baru datang kemari?” Tanya Jiyong.

“Bu.kan.u.ru.san.mu!” ucap Chaerin menyebutkan satu persatu suku kata yang ia ucapkan dengan jelas dan tegas, lalu menyentak tangan Jiyong.

“Ya! Paling tidak beritau aku siapa namamu..” ucap Jiyong.

“Lupakan..” ucap Chaerin sambil melangkah keluar apartemen Jiyong.

“Ya.. Seoul ini kota yang kejam.. Jika kau tidak tau apa yang akan kau lakukan, kau akan mati!” ucap Jiyong menakut-nakuti.

Chaerin memutar bola matanya kesal sambil terus melangkah, “Naega ara!”

Jiyong tak mau kalah, “Kau tidak tau apa-apa.. Jangan sok tau.. araso?”

Chaerin berhenti sambil mendengus kesal, lalu berbalik menatap Jiyong. “Aku lahir disini, pabo?!”

Jiyong tertegun, “Ne? tapi style-mu tidak seperti orang Seoul pada umumnya..” ucap Jiyong sambil memperhatikan penampilan Chaerin.

Chaerin hampir memukul Jiyong dengan tangannya, pria itu spontan langsung melindungi kepala dengan tangan. “Ne! aku tinggal di New York selama 10 tahun! Kau puas?!!” serunya, “Aissh!” ia kembali berbalik dan berjalan menuju lift.

“Hmm.. pantas saja..” gumam Jiyong, “Oh.. tunggu!! Ya!” panggilnya sambil menarik tangan Chaerin lagi.

Chaerin menatap Jiyong kesal, “Kau ingin mati?!”

“Ya.. Jangan pergi dulu. Apa yang akan kau lakukan disini? Sepertinya kau tidak kembali kemari untuk waktu yang lama..” ucap Jiyong heran.

“Tidak ada urusannya denganmu! Jadi lepaskan aku!!” ucap Chaerin sambil menarik tangannya.

“Aissh.. kau ini..” ucap Jiyong kesal, lalu menggendong pinggang Chaerin ke bahunya.

“YA!! YA!!” teriak Chaerin sambil berontak dan memukul-mukul punggung Jiyong.

Jiyong tidak mempedulikan teriakan Chaerin dan hanya membawanya masuk.

Pintu di apartemen sebelah Jiyong terbuka, muncul kepala Hyuna yang langsung memandang ke kanan dan kiri bingung. “Hm? Sepertinya tadi ada suara seseorang..” ucapnya, lalu kembali masuk.

Hyunseung yang sudah bersiap dengan seragamnya memandang Hyuna bingung, “Waeyo?”

“Aniya, tadi sepertinya aku mendengar suara seseorang berteriak. Tapi tidak ada..” Jawab Hyuna.

“Hmm.. Keure, aku akan pergi ke sekolah. Kau bisa menjahit sepuasmu. Sepulang sekolah nanti aku mungkin akan pulang terlambat, aku berencana akan mengurus beberapa hal di kantor pihak social..” jelas Hyunseung.

Hyuna tertegun, “Ne? kenapa kau kesana sanbae?”

“Aku akan mengabarkan tentang kehilangan kau..” jawab Hyunseung.

Hyuna menatap Hyunseung tak percaya, “Ne?!”

“Dengar, jika pihak social tau kau hilang. Mereka akan mengusutnya dari keluarga asuhmu, kejahatan mereka akan terbongkar dan kau akan baik-baik saja. Aku akan mengurus semuanya, tugasmu hanya tetap di sini hingga tidak ada siapa pun yang tau. Araso?” ucap Hyunseung.

Hyuna tersentuh karena perhatian Hyunseung padanya, bibirnya membentuk senyuman dan mengangguk. “Ne, sanbae.”

“Keure, aku pergi..” ucap Hyunseung dan melangkah kepintu.

Hyuna berbalik memandang punggung Hyunseung, “Sanbae..”

Hyunseung berhenti dan memandang Hyuna, “Ne..”

Hyuna tersenyum tulus, “Gumawoyo sanbae..”

Hyunseung diam sejenak, lalu mengangguk mengerti dan kembali melangkah ke pintu.

<<Next              Back>>

Advertisements

3 thoughts on “My Sister and I [Chapter 6]

  1. Fanficnya menarik sekali…
    Fanficnya kak Hanna bagus2 banget ya, favorit aku banget 😀
    oh iya, itu bukannya seharusnya sunbae ya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s