Chapter

My Sister and I [Chapter 5]

5

—Charming and Cool Boy—

=Apartemen Hyunseung=

Hyunseung diam memikirkan cerita Hyuna tentang keluarga asuhnya, lalu memandang gadis itu yang juga memandangnya bingung. “Apa kau tau mereka hanya memperalatmu?” tanyanya.

Dahi Hyuna berkerut, “Ne? bagaimana mungkin?”

Hyunseung menghela nafas dalam mengetahui kebodohan Hyuna, “Kau benar-benar tak mengerti mengapa keluarga itu mengangkatmu sebagai anak asuh tetap?”

Hyuna diam sejenak dan menggeleng, “Ani..”

Hyunseung menatap Hyuna heran, “Apa kau tau anak asuh itu akan mendapatkan biaya hidup dari pemerintah?” tanyanya.

Hyuna kembali diam sejenak sambil berpikir, “Ne..”

“Kau tau berapa banyak?” Tanya Hyunseung.

“Mmm.. Eomma berkata hanya cukup untuk membiayaiku sekolah..” jawab Hyuna.

Hyunseung mengelus dahinya dan memandang Hyuna tak mengerti, “Aniya.. Biaya sekolahmu di tanggung oleh pihak social..” jelasnya.

Hyuna tertegun mendengar ucapan Hyunseung, “ne?”

“Kau tidak tau itu?” Tanya Hyunseung tak percaya.

Hyuna menggeleng, “Eomma berkata dia memberiku tempat tinggal, memberiku makan, juga memperlakukanku seperti anak..”

“Dengan memperkerjakanmu di butiknya?” Tanya Hyunseung kesal.

Hyuna memikirkan ucapan Hyunseung dengan wajah tak percaya, “Berarti eomma hanya memanfaatkanku saja?”

“Sudah berapa lama kau bersama keluarga asuhmu itu?” Tanya Hyunseung ingin tau.

“8 tahun…” Jawab Hyuna.

Hyunseung menatap Hyuna serius, “Kau dimanfaatkan selama 8 tahun dan kau tidak tau?”

Hyuna menunduk bingung, rongga matanya mulai dipenuhi air dan kembali memandang Hyunseung. “Jadi karena itu mereka tidak mengijinkanku berhubungan dengan eonni-ku?” Ucapnya dan langsung teringat tentang Chaerin, “Omo! Eonni!! Sanbae, bisakah aku menggunakan komputermu? Aku harus mengirimkan e-mail pada eonni-ku..” Ucapnya cepat.

Hyunseung membalik tubuhnya dan menjangkau sesuatu di laci meja, lalu kembali menghadap Hyuna dan memberikan i-padnya pada gadis itu. “Ini..”

Hyuna mengambil i-pad Hyunseung dan membuka akun e-mailnya. Dahinya berkerut karena password dan e-mailnya tidak bisa di proses, “Hm? Waeyo?” Gumamnya tak mengerti dan mencoba lagi, tapi tetap tak bisa.

Hyunseung berpindah duduk ke sebelah Hyuna untuk melihat layar i-padnya, “Wae?”

“Sanbae, aku tidak bisa masuk ke akunku..” Ucap Hyuna bingung.

Hyunseung mengambil i-pad dan mencoba sendiri, namun tetap tak bisa. Ia menghela nafas dalam dan memandang Hyuna. “Mereka pasti sudah mengganti password atau e-mailmu, atau mungkin sudah menghapusnya..”

“Ne?!” Seru Hyuna kaget, “Eoteokhe?”

“Kau tau id eonni-mu?” Tanya Hyunseung.

Hyuna mengangguk, “Ne..” Jawabnya.

Hyunseung mengetik sesuatu, “Gunakan akunku saja..” Ucapnya dan memberikan i-padnya pada Hyuna.

Hyuna mengetik pesan dan mengirimkannya.

“Semoga eonni-mu membaca e-mail itu..” Ucap Hyunseung.

Hyuna mengangguk, “Ne..” Jawabnya.

Hyunseung diam sejenak, “Hyuna, kurasa kau tidak bisa pergi ke sekolah dulu..”

Hyuna memandang Hyunseung bingung, “Ne? Lalu, aku harus bagaimana?”

Hyunseung mengelus pundaknya sambil berpikir sejenak, “Mmm.. Bagaimana jika untuk sementara kau tetap di apartemenku?”

Hyuna memandang Hyunseung tak mengerti, “Apa yang harus kulakukan di apartemenmu?”

“Lakukan apa saja yang kau mau..” Ucap Hyunseung, lalu bergerak bangkit. “Aku akan meminta pembantuku membersihkan kamar tamu..” Ucapnya sambil melangkah ke pintu tanpa memandang ke belakang.

Hyuna garuk-garuk kepala bingung.

=Beberapa Hari Kemudian=

Chaerin mendang tasnya dan membanting tubuhnya ke pinggir tempat tidur. Kepalanya menunduk sambil memegang dahinya frustasi.

Chae.. Don’t be like this.. I know your sister sure to be in a safe place..” Ucap Ailee menghibur Chaerin.

Chaerin menghela nafas dalam dan duduk tegap, “How if she’s not..

Jay melangkah masuk dan duduk di sebelah Chaerin, “Chae.. You’re the strongest girl I ever met! I know you sister will be like that too..

Chaerin menatap Jay kesal, “You don’t know my sister! She’s so fragile.. She’s too young when our parents died. She cried all the time when we move from one house to another house.. And she can’t sleep if I didn’t hug her!” Ucapnya penuh emosi dengan tatapan marah pada temannya itu, namun ia segera tersadar dan memalingkan wajahnya. Ia bukan gadis lemah yang bisa meneteskan air mata jika terlalu emosi, atau ia tak pernah ingin menunjukkan sisi lemahnya pada siapa pun.

Ailee melangkah masuk dan duduk di sisi lain Chaerin, “Chae.. We’re sorry.. But we have to go back..

Chaerin menatap Ailee kaget, “Hell no!!” Serunya marah sambil bangkit dan berbalik menatap kedua temannya yang terlihat canggung.

Chae, we just have one week to visit Korea. We have to go back tomorrow..” Ucap Jay menjelaskan.

Chaerin menyipitkan matanya, “We? No! That just for you both! I’m a Korean! I could stay for as long as I want!” Tegasnya.

Jay bergerak bangkit, “Chae, your life is in New York! Not here..” Ucapnya berusaha merubah keputusan Chaerin. Namun gadis itu menatapnya marah.

Ailee ikut bangkit, “Chae, maksud Jay.. Bagaimana dengan kuliahmu? Part time mu?” Ucapnya menjelaskan.

Chaerin menatap kedua temannya bergantian, lalu mengambil tas ranselnya dan mengenakannya. “I’m out!

No Chae!” Panggil Jay sambil menahan tas Chaerin.

Ailee memegang lengan Chaerin, “Chaerin.. Pikirkan baik-baik..” Pintanya.

Chaerin berhenti dan kembali menatap Ailee, “Aku tidak akan pergi sebelum aku menemukan adikku!” Tegasnya, lalu melepaskan tangan Ailee.

Chae!! Listen!” Seru Jay, membuat gadis itu kembali menatapnya. “Just do this right.. You have to go back with us.. We can comeback here next time, I promise..” Ucapnya.

No! I’m not going to anywhere! Never!” Tegas Chaerin dan kembali melangkah pergi.

Chae!! Your life is not here!!” Seru Jay mulai kesal dengan kekeras kepalaan Chaerin.

Chaerin berhenti dan berbalik menatap Jay, “My baby sister is MY LIFE!!!” Teriaknya penuh kemarahan.

Jay dan Ailee tertegun melihat mata Chaerin mulai memerah.

And I can’t let her suffer alone..” Lanjut Chaerin pelan, lalu berbalik sebelum air matanya berjatuhan.

=Jalanan Korea=

Chaerin melangkah sambil memandang ke kanan dan kiri, langit sudah mulai gelap namun ia belum tau akan pergi kemana. Ia berhenti melangkah dan memandang langit, ‘Hyuna-a, odiso?’ Batinnya sedih.

DUAAKKK!!! BRUKK!!!

Chaerin terjerembab ke jalanan bersama orang yang menabraknya dari belakang. “Ahhh…” Rintihnya karena lutut dan dahinya terasa sakit. Namun ia segera bangkit duduk begitu menyadari pria yang menabraknya bergerak bangkit juga. “YA!! Micheoso?!!” Teriaknya marah. Namun ia langsung terdiam ketika pria tadi memandangnya, karena wajah pria itu babak belur dengan darah segar dari bibirnya.

“ITU DIA!!!” Seru seorang pria tinggi berwajah tampan dan berlari kearah pria tadi bersama 3 orang pria.

Chaerin menatap ke arah pria-pria itu ngeri.

“Aissh!!” Seru pria itu dan langsung bangkit sambil menarik tangan Chaerin untuk berlari bersamanya.

Chaerin merasa kaget bercampur panik karena pria-pria bertubuh besar itu mengejarnya.

“Cepat!!” Seru pria itu.

Spontan Chaerin mempercepat langkah kakinya mengikuti pria yang tidak ia ketahui itu.

Pria itu memperlambat larinya untuk melihat kebelakang, para pria tadi tertinggal jauh. Namun Chaerin terlihat seperti akan pingsan kapan saja. “Ayo..” Ucapnya sambil menggenggam tangan gadis itu lebih erat dan masuk ke sebuah Club.

Tanpa sadar Chaerin juga menggenggam tangan pria itu dan berusaha tidak terlepas ketika melewati keramaian di lantai dansa Club itu.

Pria itu menarik Chaerin ke lorong gelap dan masuk ke toilet pria, tanpa ragu ia membuka salah satu bilik dan mendorong gadis itu masuk, lalu juga masuk.

Seluruh tubuh Chaerin gemetaran karena ketakutan dan berlari secara tiba-tiba tadi, nafasnya juga terasa sesak. Dadanya bergerak naik turun seperti mesin uap.

Pria itu memejamkan matanya sambil mengatur nafas dan melirik ke celah pintu, memastikan tidak ada orang yang masuk.

Setelah beberapa menit Chaerin baru menyadari dia dan pria didepannya berdiri berhadapan dengan jarak hanya beberapa senti. Bahkan ia bisa merasakan nafas pria itu di wajahnya. Karena bilik toilet itu kecil, ia tak bisa bergerak kemana pun.

Pria memandang kedepan dan terpaku menatap Chaerin. Ia juga baru menyadari bagaimana posisi mereka.

Chaerin memalingkan wajahnya menutupi rasa gugupnya, “Kenapa kau menarikku?!” Tanyanya kesal.

Pria itu menghela nafas dalam, “Jika aku membiarkanmu disana, kau akan di tangkap karena terlihat bersamaku..”

Chaerin menatap pria itu marah, “Mwo?! Apa kau berhutang pada gengster?!” Tanyanya tak percaya.

Mata pria itu menyipit menatap Chaerin, “Lebih buruk dari yang bisa kau bayangkan..” Ucapnya sebal.

Chaerin mendengus kesal, “Sudahlah.. Aku pergi!” Ucapnya sambil membuka pintu bilik dan keluar.

Pria itu menarik tangan Chaerin dan kembali menutup pintu, “Micheoso?! Kau ingin tertangkap oleh orang-orang itu?!”

“Mereka mengejarmu! Bukan aku!! Lepaskan!” Chaerin menyentak tangan pria itu dan kembali mendorong pintu tapi pria itu menahannya. “YA!!” Serunya.

Pria itu terkejut mendengar Chaerin teriak dan langsung membungkam mulut gadis itu, “Pelankan suaramu!” Ucapnya tertahan.

“Aissh!!” Seru Chaerin sambil mendorong tangan pria itu dari mulutnya.

Pria itu menatap Chaerin kesal, “Setelah kau berlari seperti tadi bersamaku, kau pikir mereka akan melepaskanmu?” Tanyanya.

Chaerin menatap pria itu marah, “Aissh! Kenapa kau membawaku kemari?!” Tanyanya kesal.

“Aku menyelamatkanmu, bodoh!” Ucap pria itu kesal.

Kemarahan Chaerin naik ke kepala mendengar pria itu menyebutnya ‘bodoh’, “What?!” Serunya.

“Ahhh.. Lupakan..” Ucap pria itu sambil membuka pintu sambil melangkah keluar.

“Ya!!” Seru Chaerin emosi.

Pria tadi membuka pintu, namun ia kembali menutupnya dan berbalik. “Mereka kemari!” Ucapnya sambil mendorong Chaerin kembali masuk ke bilik toilet tadi.

“Kenapa kau mendorongku?!” Tanya Chaerin kesal.

“Sssshh!!” Bisik pria itu sambil membekap mulut Chaerin.

Chaerin melotot pada pria itu. Namun dia dan pria itu langsung menatap ke arah suara pintu kamar mandi yang terbuka. Terdengar musik keras dari luar dan kembali menghilang seiring pintu tertutup.

Pria itu melepaskan bekapannya dari mulut Chaerin perlahan sambil menatap ke pintu bilik ngeri. Terdengar langkah beberapa kaki berat masuk. Tanpa sadar tangannya yang tadi membekap mulut gadis itu menggenggam tangan sang gadis erat.

Mata Chaerin melotot melihat bayangan seseorang mendekat dari bawah pintu. Tubuhnya merapat pada pria di depannya dan menggenggam tangan pria itu yang menggenggam tangannya lebih erat.

“Dengar..” bisik pria itu sangat pelan, “..ketika aku mengatakan 3, persiapkan dirimu untuk kabur..”

Chaerin menatap pria itu kaget, “Ne?!” serunya berbisik.

Pria itu menatap bagian bawah pintu serius, ia menahan nafas ketika melihat pegangan pintu terputar. “TIGA!!!” teriaknya dan langsung menendang pintu itu hingga engselnya patah.

“ARRGGH!!” seru pria-pria yang terkena lemparan pintu.

Chaerin langsung berlari mengikuti pria itu keluar dari bilik toilet, ia menatap 4 pria yang tadi mengejar mereka tadi jatuh berhimpitan di lantai akibat pintu yang di tendang pria tadi.

“Hei!!” teriak pria tampan yang sepertinya ketua orang-orang itu.

Pria itu mendorong semua orang yang menghalangi jalannya ketika berlari sambil terus menarik Chaerin berlari pergi meninggalkan Club itu. “Pplaliwa!!” serunya sambil terus berlari.

Chaerin tak sempat memandang kebelakang karena terlalu focus dengan langkahnya agar tidak tersandung kakinya sendiri.

Pria itu menarik Chaerin masuk ke gang kecil gelap dan bersembunyi di balik sebuah tempat sampah besar. Dengan nafas memburu ia berjongkok sambil menarik gadis itu ke sisinya.

Keempat pria tadi terus berlari mengejar Chaerin dan pria tadi yang sudah tak terlihat.

Chaerin berusaha mengatur nafasnya yang terasa hanya sampai pangkal tenggorokan. Keringat memenuhi wajahnya dan mengalir dari pelipisnya.

“Ahhh… micheoso..” ucap pria itu di tengah nafasnya yang memburu.

Chaerin menatap pria disebelahnya kesal, “Aissh! Kenapa aku harus terseret seperti ini!!” serunya.

Pria itu menatap Chaerin kesal, “Lalu kau ingin tertangkap dan manfaatkan mereka?!”

“Aissh!” seru Chaerin dan bangkit, lalu menendang kaki pria itu.

“Ahh!! Aissh!! Ya!!” seru pria itu sambil mengelus kakinya.

Chaerin langsung melangkah pergi dengan wajah marah, namun langkahnya langsung berhenti melihat seorang pria yang mengejar mereka tadi muncul di ujung gang.

“YA! Itu mereka!!” serunya memanggil pria yang lain.

“Aissh!” ucap pria tadi dan langsung berlari untuk menarik Chaerin, lalu kembali berlari ke ujung lain gang itu.

“Aissh!! Jinja! Bagaimana mungkin mereka mengetahui dimana kau?!” ucap Chaerin sambil berlari mengikuti pria itu.

“Tutup mulutmu!!” seru pria itu sambil terus berlari.

<<Back           Next>>

Advertisements

2 thoughts on “My Sister and I [Chapter 5]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s