Chapter

My Sister and I [Chapter 2]

2

—Have To Be Alone—

=Asrama=

Ailee yang sedang main game online menghias anjing lucu melihat ada gambar amplop muncul di sudut kiri layar, ia menyipitkan matanya membaca siapa pengirim pesan itu. “Chae! This is your baby sister!” Panggilnya.

Chaerin yang sedang mengerjakan tugas di tempat tidur langsung menghampiri Ailee, “Where?

Ailee berdiri dan membiarkan Chaerin mengambil tempatnya.

Chaerin membuka e-mail itu dan membacanya.

From: Hyuna_Kim

Eonni, seorang seniorku menawarkanku bekerja menjadi desainer baju di butiknya. Dia berkata tanganku memperlihatkan perasaan pada kain yang kujahit menjadi baju. Tapi aku bingung, tidak mungkin aku meminta ijin pada ibu asuhku.. (╥_╥) Menurutmu apa yang harus kulakukan eonni?

Saranghae.. ♥

 

Chaerin diam sejenak memikirkan apa yang harus dilakukan Hyuna, lalu membalasnya.

Ailee membungkuk untuk melihat layar komputer, “Hm? Adikmu bisa menjahit?” Tanyanya kagum.

She often told me that she likes to sew..” Jawab Chaerin sambil membalas pesan Hyuna.

“Ahhh.. Aku semakin tak sabar untuk bertemu dengannya..” Ucap Ailee bersemangat.

=2 am=

From: Chaerin_Lee

Jika kau memang ingin melakukannya, kau akan menemukan caranya. Tapi jika kau ragu, jangan membuat keluargamu marah. Araso? Saranghae.. ♥

Hyuna mengangguk sendiri membaca pesan itu dan membalas dengan cepat, lalu kembali ke kamarnya. Ketika hendak kembali naik ke tangga, ia terkejut melihat Junhyung berdiri di anak tangga paling atas memandangnya. “O..oppa?”

Junhyung bergerak turun dan berhenti di sebelah Hyuna sambil melirik komputer yang baru dimatikan gadis itu.

Hyuna menunduk menyesal, jantungnya berdegup kencang menyadari ia mendapat masalah besar.

“Kembali ke kamarmu..” Ucap Junhyung dan berjalan ke dapur.

Hyuna melirik Junhyung, lalu melangkah naik ke loteng.

Keesokan paginya.

Suasana hening seperti biasa. Hyuna menyiapkan sarapan sambil melirik Junhyung yang tidak mengatakan apa pun tentang semalam. Ia berpikir akan terkena masalah besar pagi ini.

Setelah sarapan, Hyuna menunggu Junhyung di dekat persimpangan tak jauh dari rumah mereka.

Junhyung yang seusia Chaerin berhenti melangkah karena melihat Hyuna.

Hyuna menghampiri Junhyung dengan kepala tertunduk.

“Kenapa kau disini? Kau bisa terlambat sekolah..” Ucap Junhyung.

Hyuna memandang Junhyung takut, “Oppa, apa kau akan memberitau eomma aku menggunakan komputer dimalam hari?”

Junhyung diam sejenak, “Apa yang kau lakukan? Aku sering melihatmu mengendap-endap disaat malam..”

Hyuna tertegun, “Ne? Mmm…” Ia menunduk bingung, “Mmm..”

“Kau mengirimkan e-mail pada siapa?” Tanya Junhyung.

Hyuna menatap Junhyung kaget, tak menyangka pria itu sampai tau ia mengirimkan e-mail.

“Siapa?” Tanya Junhyung lagi.

“Mmm.. Aku… Mengirimkan e-mail pada eonniku..” Jawab Hyuna dengan kepala tertunduk.

Dahi Junhyung berkerut, “Kakakmu yang pergi ke New York?”

Hyuna mengangguk pelan.

Junhyung menghela nafas dalam, terdengar sepertinya sangat kesal.

“Oppa, kumohon jangan beritau eomma tentang ini..” Pinta Hyuna dengan kedua tangan menangkup didepan dagunya.

“Hyuna, aku tau kau tidak pernah menganggap kami sebagai keluargamu. Kenapa kau begitu? Bukankah ibumu memberikanmu tempat tinggal? Membiayai sekolahmu? Memberikanmu makan dan mendidikmu seperti anaknya? Kenapa kau seperti pencuri yang terus berhubungan dengan kakakmu yang sangat jauh?!” Tanya Junhyung kesal.

Hyuna tertegun mendengar ucapan Junhyung.

Junhyung menatap Hyuna menahan kemarahannya, “Hyuna, bibiku tidak akan memarahimu jika kau mulai menganggapnya ibumu!” Tegasnya, lalu melangkah pergi.

Hyuna masih berdiri di tempatnya sambil memperhatikan Junhyung pergi.

=Club Jahit=

Hyuna duduk lesu sambil memandangi bantalan pentulnya. Ia masih memikirkan ucapan Junhyung tadi pagi. ‘Apa aku bersalah?’ Batinnya tak mengerti. Kepalanya terangkat dan memandang boneka torsho dengan baju buatannya.

Hyunseung masuk ke ruang club jahit dan mengedarkan pandangannya, ia melangkah menghampiri gadis itu dan mengulurkan secarik kertas.

Hyuna tertegun melihat kertas di tangan Hyunseung dan memandang pria itu bingung, “Sanbae?”

“Ini alamat butikku, ambillah.. Aku akan menunggumu datang..” ucap Hyunseung tanpa ekspresi seperti biasa.

Hyuna diam sejenak memandang Hyunseung, lalu kembali memandang kertas itu.

“Wae? Kau tidak mau?” Tanya Hyunseung, “Keure..” ucapnya sambil menarik tangannya.

Dengan cepat Hyuna bangkit dan mengambil kertas itu, “Ne! aku akan datang..” ucapnya cepat.

Hyunseung mengangguk, “Keure..” ucapnya, lalu berbalik pergi.

Hyuna memandangi Hyunseung pergi dan menghela nafas dalam, lalu memandang tulisan di dalam kertas yang ia pegang.

=Butik=

Hyuna menghampiri Songyi yang sedang membaca sebuah catalog di meja kerjanya, “Eomma..” panggilnya ragu.

Songyi memandang Hyuna, “Ne?”

“Mmm..” Hyuna ragu mengatakan maksudnya, “Itu.. seorang senior di sekolahku memintaku bekerja di butik miliknya, apakah boleh?”

Dahi Songyi berkerut, “Mwo?”

Hyuna menunduk menyesal.

“Hyuna, apa yang kau pikirkan? Kenapa kau bekerja disana? Kau kan harus membantu eomma..” ucap Songyi tak habis pikir.

“Ne, eomma.. Aku tau, tapi disana aku bisa belajar menjahit dan bisa memamerkan bajuku sendiri..” jelas Hyuna dengan kepala tetap tertunduk.

Songyi berdiri sambil menatap Hyuna marah, “Mwo?! Jadi maksudmu disini kau tidak bisa belajar?!”

“Ani.. bukan begitu.. Tapi di sini eomma sudah punya banyak pegawai dan memiliki desainer yang bagus, aku hanya ingin memulai dari bawah dan juga membuat eomma bangga.” Jelas Hyuna cepat.

Songyi menatap Hyuna marah, perlahan ia melangkah menghampiri gadis itu. “Kim Hyuna! Apa kau tidak merasa bersyukur setelah aku memberikan nama keluarga suamiku? Membuatmu mendapatkan keluarga asli disini?!”

Hyuna menunduk menyesal, “Aniya eomma, aku…”

“Diam Hyuna!” potong Songyi sambil menunjuk wajah Hyuna.

Hyuna terdiam.

“Dengar!!” ucap Songyi tegas, “Meskipun kau anak asuh, kau sudah terdaftar sebagai anak dari keluargaku! Atau kau mau kembali berpindah-pindah rumah seperti dulu?! Ha?! Kau mau?!!”

Hyuna menyesal telah menanyakannya pada Songyi, bulir air matanya mulai berjatuhan dan menggeleng pelan. “Aniya eomma..”

Songyi menghela nafas dalam dan memegang bahu Hyuna, “Hyuna, eomma tidak ingin bersikap kasar. Jadi jangan bantah ucapanku..”

Hyuna menyeka air matanya dan mengangguk, “Ne, eomma..”

“Sudah, kembali bekerja..” ucap Songyi.

Hyuna membungkuk sopan dan melangkah pergi.

=Rumah Keluarga Kim=

Hyuna duduk di kamarnya sambil memandangi photo masa kecilnya bersama Chaerin. Ia tak mengerti mengapa keluarga asuhnya tidak ingin ia berhubungan dengan kakak kandungnya. Tapi untuk hidup berpindah-pindah rumah ke keluarga berbeda sangat melelahkan, ia sudah tidak ingin merasakannya lagi. Apalagi tanpa Chaerin. ‘Eonni, na eotheoke?’ batinnya.

Malam itu, Hyuna menunggu semua orang tidur. Baru keluar dari kamarnya untuk menggunakan computer. Ia menuruni tangga sambil memperhatikan sekitarnya yang gelap, meskipun beresiko sangat besar ia harus melakukannya. Jika tidak, ia tak akan bisa berkomunikasi lagi dengan Chaerin.

Ia menghidupkan computer dan segera membuka akun e-mailnya, lalu dengan cepat mengetik pesan untuk kakaknya itu sambil memandang kesekitar dengan jantung berdegup kencang. Ia bisa menghela nafas lega setelah mengirim pesan itu. namun, perasaan buruk menghinggapinya. Kepalanya memandang kebelakang dan terkejut melihat Junhyung berdiri dibelakangnya. “O..oppa?”

Junhyung memandang layar computer dan menatap Hyuna.

Hyuna hendak menutup akunnya namun Junhyung menarik tangannya yang hendak memegang mouse, juga menariknya hingga berdiri dan menjauh dari computer. “Ahh.. oppa, sakit..” rintihnya.

Junhyung menatap Hyuna tajam, “Oppa sudah memperingatimu, Hyuna!” ucapnya setengah berbisik.

Hyuna menunduk takut menahan tangis, “Oppa, aku hanya ingin tetap berhubungan dengan eonni-ku..” ucapnya dengan suara bergetar.

Lampu ruang tengah menyala, Songyi memandang Junhyung yang mencengkeram pergelangan tangan Hyuna. Gadis itu juga terlihat terkejut menatapnya. “Ada apa ini?”

Hyuna menunduk takut.

Junhyung menatap Hyuna yang terlihat ketakutan, “Gommo, selama ini.. hampir setiap malam.. Hyuna terus mengirimkan e-mail pada kakaknya yang tinggal di New York..” ucapnya memberitau.

“Mwo?!” ucap Jiyoon yang baru keluar dari kamarnya.

Songyi menatap Hyuna tak percaya, “Kim Hyuna!” serunya marah.

Bulir air mata Hyuna mulai berjatuhan, Junhyung melepaskan tangannya.

Songyi menghampiri Hyuna dan langsung menamparnya.

PLAKK!!

Wajah Hyuna menghadap satu sisi dan memegang pipinya sambil terus menangis.

“Kim Hyuna! Aku memberikanmu tempat tinggal, memberimu makan! Bahkan menyekolahkanmu! Kau masih mengkhianatiku dengan berhubungan dengan kakakmu?!” Tanya Songyi marah.

“Aniya eomma..” tangis Hyuna menyesal.

Jiyoon melangkah ke depan computer dan melihat akun e-mail Hyuna, ia membaca pesan terakhir gadis itu dan memandang ibunya. “Eomma, Hyuna mengadu pada kakaknya kalau dia tidak bahagia disini! Juga mengatakan eomma tidak mengijinkan melakukan apa yang ia inginkan..” kadunya.

Mata Songyi membesar dan menatap Hyuna tajam, “Kau anak tidak tau diri!” ucapnya, lalu memandang Junhyung. “Junhyung! Kurung dia digudang!”

Hyuna menatap Songyi kaget, “Ne? eomma..”

“Junhyung!” Seru Songyi lagi.

Junhyung melangkah maju dan menarik lengan Hyuna.

Mata Hyuna melotot dan berusaha melepaskan diri, “Andwae! Eomma!! Maafkan aku!! Eomma!!” teriaknya panic ketika di tarik Junhyung menuju gudang.

Junhyung menarik Hyuna masuk ke gudang dan mendorong gadis itu ke tengah ruangan pengap itu.

Hyuna menangis tersedu-sedu menatap Junhyung sambil menarik lengan baju tidurnya, “Oppa! Jangan kurung aku disini.. Kumohon..”

Junhyung menatap Hyuna, “Jika kau tidak ingin dikurung disini, jangan hubungi saudarimu lagi..”

“Oppa…” mohon Hyuna dengan suara bergetar.

Junhyung tidak tega melihat air mata Hyuna, namun ia harus melakukan itu. “Miane Hyuna..” ucapnya pelan, lalu melepaskan tangan gadis itu dan melangkah cepat ke pintu.

“Oppa!!” seru Hyuna sambil berlari ke pintu, namun Junhyung mendorongnya hingga terjerembab ke lantai dan langsung menutup pintu. “Andwae!!” teriaknya sambil terus menangis dan berusaha membuka pintu. Ia memandang sekitar yang gelap. Tubuhnya merosot turun dan terduduk bersandar ke pintu. “Eonni..” gumamnya sambil menangis.

=Asrama=

Chaerin masuk ke kamar asramanya sekitar pukul 2 pagi karena ada pemotretan hingga tengah malam. Ia menutup pintu perlahan karena Ailee sudah terlelap di tempat tidurnya. Ia menghampiri lemari baju dan membuka syal dan baju luar yang ia kenakan, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Ia membuka semua bajunya dan berjalan ke bawah shower, lalu memutar kran air dingin dan panas bersamaan. Matanya terpejam ketika merasakan air hangat jatuh membasahi kepalanya dan turun ke kulitnya. Tubuhnya terasa lelah. Pikirannya terasa lelah. Hatinya terasa lelah. Hari ini, demi mendapatkan bayaran pemotretan yang lebih besar. Ia berani melepaskan semua pakaiannya dan berpose di depan kamera. Tak lama lagi semua orang pembeli majalah dewasa itu akan melihat keseksian tubuhnya. Ia membuka mata dan mengambil sabun. Sambil mengabuni tubuhnya, ia masih berpikir tentang apa yang telah ia lakukan. ‘Aku bukan gadis panggilan, aku hanya berpose tanpa pakaian. Tidak ada seorang pria pun yang menyentuhku, jadi ini tidak buruk..’ batinnya agar merasa lebih baik untuk dirinya. ‘Aku melakukan ini untuk Hyuna, setelah kembali dari Korea aku tidak akan melakukannya lagi. Aku hanya akan melakukan part time seperti biasa..’ batinnya lagi.

Keesokan paginya.

Ailee terbangun karena cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui jendela. Ia membuka mata dan memandang ke sisi lain kamarnya, Chaerin masih terlelap dengan posisi menelngkup dan kepala tersembunyi di balik bantal. Ia perlahan bangkit sambil merenggangkan tubuhnya, lalu menyibak selimut dan melangkah ke kamar mandi.

Beberapa saat kemudian.

Ailee duduk di pinggir tempat tidur Chaerin dan mengguncang tubuh temannya itu agar terbangun, “Chae.. Wake up..” panggilnya.

“Hmm…” gumam Chaerin dan bergerak sedikit, namun hanya untuk memperbaiki posisi tidurnya.

Chae.. Wake up!” ucap Ailee sambil mengguncang lebih keras.

Chaerin akhirnya terbangun, “What?” tanyanya sebal.

We have a morning class..” ucap Ailee mengingatkan.

Chaerin mengerang kesal dan mengacak-acak rambutnya, “I’ll pass it, just go..” ucapnya malas.

Ailee menghela nafas dalam memandang Chaerin iba, “Chae, jam berapa kau pulang semalam?” tanyanya.

I don’t know..” gumam Chaerin dengan mata terpejam.

Ailee merapikan rambut Chaerin yang menutupi wajah, “Chae, you don’t have to do this.. You work so hard and that will make you ill.. You hear me?

Chaerin menghela nafas dalam dan membuka matanya memandang Ailee, perlahan ia bergerak duduk. “Ailee, I have to do this.. my sister need me.. She just have me now..

Ailee menatap Chaerin sedih, “I know.. Just like you said, she just have you.. jadi kau harus menjaga dirimu tetap sehat, kau harus kuat untuknya. Jangan sampai kau merusak dirimu sendiri karena adikmu..”

Chaerin menunduk sedih.

Ailee memegang dagu Chaerin dan membuat gadis itu memandangnya, “Chae, Jay memberitauku kalau kau melakukan photo untuk majalah dewasa itu..” ucapnya pelan, “Kenapa kau melakukannya?”

Chaerin menghela nafas dalam, “Bayaranku untuk satu session photo 3 kali lipat dari part timeku, Ailee..” jawabnya pelan.

I know.. tapi kau akan menyesalinya, kau membiarkan semua orang melihat tubuhmu hanya untuk uang..” ucap Ailee.

I don’t care, kau tau di Amerika hal itu bukan hal baru lagi. Aku harus segera mengumpulkan biaya.” Ucap Chaerin menjelaskan.

“Chae.. Aku tidak mau kau menyesalinya nanti. Berhentilah, aku akan membantumu. Jay and I will help you..” ucap Ailee tulus.

Chaerin menghela nafas dalam, “No, I have to do this alone.

Ailee menggenggam tangan Chaerin dan menatapnya dalam, “Listen! Aku tau kau ingin mengumpulkan uang sebelum musim panas. Kau bisa.. gaji part time-mu akan cukup, juga uang yang telah kau kumpulkan selama ini. Jika kau masih membutuhkan banyak uang untuk adikmu, aku akan meminjamkan uangku dulu. Kau bisa menggantinya setelah kita kembali kemari..”

Ailee… no..” ucap Chaerin sambil menggeleng.

Yes! You have to say yes!” tegas Ailee.

But…

Say yes if you really consider me as your best friend!” tegas Ailee lagi.

Chaerin tak bisa mengatakan apa pun lagi setelah mendengar ucapan Ailee.

Ailee menatap Chaerin serius, “Say yes!

Okay, yes!!” ucap Chaerin sebal.

Ailee tersenyum lebar, “Good girl.. Segera bersiap..” ucapnya sambil menarik Chaerin bangkit.

<<Back          Next>>

Advertisements

3 thoughts on “My Sister and I [Chapter 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s