Chapter

My Sister and I [Chapter 1]

1

—Different Place—

=Seoul, South Korea=

 

From: Chaerin_Lee

Hyuna, anyeong.. Miane, eonni baru bisa membalas e-mailmu. Tugas kuliah membuatku depresi. >,<

Bagaimana sekolahmu? Keluargamu? Kau bilang di pesanmu sebelumnya, ada anak-anak yang menjahatimu? Siapa mereka?!

Eonni belum bisa kembali ke Korea dan eonni sangat menyesal. Kau tau hanya kau yang benar-benar eonni miliki di dunia ini.. Tunggulah sebentar lagi, eonni akan segera mengumpulkan uang dan mengunjungimu. Saranghae.. ♥

 

Hyuna tersenyum membaca e-mail masuk dari id Chaerin_Lee. Ia membalas e-mail itu dan mengirimkannya. Setelah itu ia memandang sekitar rumah yang gelap itu, memastikan tidak ada siapa pun disana. Lalu segera mematikan komputer yang terletak di ruang tengah rumahnya itu dan kembali ke kamarnya yang terletak di loteng rumah.

Paginya.

Hyuna harus bangun lebih pagi dari semua orang dirumah, karena ia harus melakukan pekerjaan rumah. Di rumah itu ia tinggal bersama seorang ibu asuh dan seorang anaknya yang seumuran dengannya bernama Jiyoon. Juga seorang pria keponakan ibu asuhnya, Junhyung.

“Hyuna, mana susuku?” Tanya Jiyoon kesal.

“Ne..” Hyuna menuangkan susu di kotak ke gelas Jiyoon, lalu menghampiri Junhyung yang sangat tenang. “Oppa, kau juga mau susu?”

“Ani..” Jawab Junhyung.

Hyuna berjalan ke kulkas dan memasukkan kotak susu, lalu menghampiri wastafel dan membersihkan sisa piring kotor.

“Hyuna, jangan lupa sepulang sekolah langsung ke butik..” Ucap ibu asuh Hyuna, Songyi.

“Ne, eomma..” Jawab Hyuna.

Sekolah.

Hyuna tau hal yang terbaik baginya, berusaha tidak terlihat. Karena, jika ia muncul di tempat ‘rawan’ di sekolah, ia akan menjadi sasaran empuk para seniornya. Ia mulai tertarik dengan dunia jahit karena sudah membantu Songyi di butiknya. Selain alasan itu, juga karena seorang seniornya yang dijuluki si ‘tangan ajaib’.

Hyuna memasang pentul pada baju di boneka torsho, matanya melirik seniornya yang berwajah tenang dan selalu serius dengan baju di boneka torsho di depannya. Bibirnya membentuk senyuman malu sambil memasang pentul lainnya.

“Wuaa.. Sanbae, desainmu sangat luar biasa! Bagaimana caramu selalu berhasil membuat baju seperti ini?” Tanya seorang junior yang juga bergabung di ekstrakurikuler jahit.

Senyum Hyuna luntur dan menghela nafas kecewa, ia sama sekali belum pernah berbicara dengan seniornya itu.

Pria bernama Jang Hyunseung itu memandang juniornya itu, “Menjahit bukan sekedar kau memegang jarum dan benang, tapi perasaanmu saat memotong sebidang kain menjadi pakaian indah sesuai keinginanmu..” Jawabnya tanpa eskpresi.

Hyuna tertegun mendengar jawaban Hyunseung, ia baru pertama kali mendengar kalimat seperti itu. ‘Perasaan?’ Batinnya sambil memandang pakaiannya di boneka torsho. Bibirnya membentuk senyuman, ‘jadi karena itu aku selalu bahagia saat menjahit?’ Batinnya.

=New York, USA=

 

From: Hyuna_Kim

Eonni, sama seperti yang eonni katakan. Aku juga benar-benar hanya memiliki eonni. 🙂 aku akan menunggu hingga eonni datang, jangan khawatirkan aku. Mereka hanya seniorku, aku sudah menemukan cara mengatasi mereka.

Eonni, bagaimana kuliahmu? Apakah hidup di Amerika menyenangkan? Kuharap aku bisa tinggal disana bersamamu. Saranghae.. ♥

Chaerin menghela nafas dalam membaca e-mail dari Hyuna. Satu tangannya menopang dagu sambil memandangi layar komputernya. Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka dan melihat Amy Lee atau yang lebih sering di panggil Ailee,  teman sekamarnya di asrama keluar dengan handuk kecil di lehernya.

Uuuuh.. This feel good!” Ucap Amy riang sambil membanting tubuhnya ke tempat tidur di sisi kiri kamar.

Chaerin kembali memandang layar komputer lesu.

Ailee memandang Chaerin penarasan, “Hei, Chae.. What’s wrong?” Tanyanya.

Chaerin memutar kursi yang dia duduki menghadap Ailee, “Nothing, I just feel so sad..” Jawabnya lesu.

Ailee bangkit dan menghampiri Chaerin, “Why?” Tanyanya dan melihat layar komputer, “About your baby sister?

Chaerin menyandarkan punggungnya ke kursi sambil mengelus dahinya, “Yes..

Ailee memandang Chaerin sedih dan duduk di sebelah temannya itu, “Chaerin-a, jangan bersedih lagi.. Kau sudah bekerja paruh waktu sepanjang tahun ini, bukankah musim panas ini kita akan pergi ke Korea?” Ucapnya memberi semangat.

Chaerin menunduk sedih, “Yes, I know.. But…” Ia menghela nafas dalam sejenak, “Aku tidak bisa hanya datang Ailee.. Aku juga harus memberikannya uang, You don’t know how hard be a foster children!

Ailee memegang punggung tangan Chaerin dan tersenyum hangat, “Yes, Chae.. I know how hard it is.. You told me every single time before..” Ucapnya pelan.

Chaerin menyadari ia memang sensitif jika sudah membahas adiknya dan tentang anak asuh, tangannya yang lain memegang tangan Ailee yang memegang tangannya. “I’m sorry, I don’t mean like that..” Ucapnya menyesal.

Ailee tersenyum dan mengangguk, “It’s okay..”

Chaerin tersenyum dan memeluk Ailee, “Hmm.. I don’t know what will become of me without you..

Ailee tertawa kecil dan mengelus punggung Chaerin, “Yes.. I Know..

Korean Food Restaurant.

Chaerin memiliki teman-teman dari kampus yang keturunan Korea namun lahir dan besar di New York, seperti Ailee. Juga seorang lagi, Jay Park. Bedanya, Jay sama sekali tak tau apa pun tentang kampung halaman orang tuanya.

“Ahh.. I’m going crazy! For real!” Ucap Jay depresi.

Ailee tertawa melihat ekspresi Jay, “You already crazy, you know?” Ejeknya.

Jay cemberut dan meminum kopi di cangkirnya.

Chaerin yang bekerja paruh waktu di restauran itu menghampiri teman-temannya dan kembali mengisi cangkir Jay dengan kopi, “What are you talking about?” Tanyanya heran.

Are you girls don’t want me to go on vacation this summer with you?” Tanya Jay kesal.

Chaerin memandang Jay heran, “I’m going to Korea to meet my sister.  Ailee wanted to visit his grandmother ate, what are you gonna do there?” Tanyanya.

Jay mendengus kesal, “I just want to go! I’m going too!

Chaerin dan Ailee berpandangan, lalu tertawa lucu. “Whatever..

=Butik=

Hyuna merapikan baju-baju yang dipajang di boneka torsho di butik ibu asuhnya.

“Selamat datang..” Sapa seorang pegawai disana pada seorang pria yang baru masuk.

Hyuna menoleh pada pria itu dan langsung membesarkan matanya melihat Hyunseung melangkah masuk dengan wajah ekspresinya seperti biasa. ‘Omo!’ Batinnya kaget, lalu bersembunyi di balik sebuah boneka torsho sambil memperhatikan pria itu.

Hyunseung melangkah sambil memperhatikan baju-baju yang di pajang.

Hyuna memperhatikan ekspresi Hyunseung. Itu yang membuatnya kagum pada pria itu, selalu fokus pada apa yang dikerjakannya. Bibirnya tanpa sadar membentuk senyuman memperhatikan betapa kerennya pria itu.

“Hyuna!” Panggil Songyi.

Hyuna terkejut dan memandang ke arah suara Songyi, tapi jika ia keluar dari tempat persembunyiannya Hyunseung akan tau dia disana.

“Hyuna! Ya!!” Panggil Songyi yang mulai kesal.

Hyuna memandang ke arah Songyi dan memandang Hyunseung, ‘Ahh.. Eoteokhe?’ Batinnya panik.

Songyi menemukan dimana Hyuna dan langsung menghampirinya, “YA!!!” Teriaknya sambil memukul bahu gadis itu.

BUK!!!

“Ahhh!! Eomma..” Rintih Hyuna sambil mengelus bahunya.

“Aku memanggilmu sejak tadi!” Seru Songyi, lalu menjewer telinga Hyuna dan menariknya.

“Aw.. Aw! Eomma.. Sakit..” Rintih Hyuna.

Hyunseung menoleh ke arah suara Hyuna sesaat, lalu kembali sibuk dengan urusannya.

=2 am=

Hyuna mengendap-endap turun dari kamarnya di atap, ia harus melakukan itu agar tak ketahuan oleh anggota keluarga asuhnya. Ia tak di perbolehkan menggunakan komputer di rumah, apalagi jika Songyi tau ia masih berhubungan dengan Chaerin.

From: Chaerin_Lee

Hyuna-a, eonni akan datang mengunjungimu musim panas ini. Bersabarlah sedikit lagi..

Jangan katakan apa pun pada keluargamu, itu akan berakibat buruk. Araso? Eonni akan menemui mereka begitu tiba disana.. Kau mengerti? Saranghae ♥

Hyuna tersenyum membaca pesan dari Chaerin itu, ia memperhatikan sekitar dan segera membalas e-mail itu. Lalu mengeluarkan akunnya dan mematikan komputer sebelum ada orang yang menyadarinya.

=Asrama=

Chaerin keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan duduk di depan komputer, lalu memeriksa e-mail masuk. Bibirnya membentuk senyuman dan segera membacanya.

From: Hyuna_Kim

Ne, eonni.. Aku tidak akan mengatakan apa pun. Jaga kesehatanmu.. Saranghae.. ♥

Chaerin menghela nafas dalam. Ia dan Hyuna hidup sebagai anak asuh yang pindah dari satu keluarga ke keluarga lainnya sejak 10 tahun yang lalu. Awalnya mereka berada di satu keluarga yang sama, namun pihak dari agen sosial merasa akan terlalu berat jika mengasuh 2 anak. Karena itu ia dan Hyuna di asuh keluarga yang berbeda. Hingga 9 tahun lalu keluarga yang mengasuhnya pindah ke New York. Mungkin bagi anak lain itu adalah sesuatu yang hebat, tapi baginya itu sebuah petaka. Keluarga asuhnya menjadi kacau karena orang tua asuhnya menjadi kecanduan alkohol dan meninggal karena over dosis narkotika. Anak mereka yang lebih tua 2 tahun darinya di penjara karena menjadi mengedar sabu-sabu. Ia perlu berjuang sendiri demi biaya hidupnya seperti sekarang ini.

Ia mematikan komputer dan melangkah ke tempat tidurnya.

=Sebuah Studio Pemotretan=

Chaerin berdiri membelakangi photograper dengan tatapan berani yang menggoda. Ia memperlihatkan punggung mulusnya yang tak tertutupi apa pun. Ini adalah pekerjaan sampingannya yang lain. Menjadi model untuk majalah dewasa. Semakin berani pose yang dia perlihatkan, semakin besar bayaran yang ia dapatkan. Ia tak perduli meskipun harus memperlihatkan seluruh tubuhnya, ia sudah bertekad harus bisa kembali ke Korea demi Hyuna.

Good job Chae!!” Ucap photographer setelah mengambil photo terakhir.

Chaerin mengenakan handuk baju sambil tersenyum, “Thank you..

Jay menunggu selama proses pemotretan itu dengan wajah sebal.

Chaerin selesai berganti baju dan segera keluar, “Hei..” Sapanya.

Jay menatap Chaerin kesal, “You almost naked!

Chaerin tersenyum lucu, “Yes, I know..

Jay memutar bola matanya dan melangkah bersama Chaerin keluar.

Chaerin memandang Jay yang masih terlihat tidak senang, “Jay, please.. Why do you put on a face like that?

Jay berhenti melangkah dan menatap Chaerin serius, “Chae, I know you don’t like this.  I know you want to raise money, but why you do this?” Tanyanya tak mengerti.

Chaerin menghela nafas dalam dan menyelipkan rambutnya ke belakang rambut, “I just did a photo session.  I don’t sleep with just any guy..

Jay menatap Chaerin serius, “Not yet! Maybe you would do that if money was not enough! Chae, Ailee and I just worry about you.

No! I never do that!! I promise!!” Ucap Chaerin bersungguh-sungguh, namun Jay masih terlihat tak percaya. “Listen! I’m not going to do it!  I want to be a good sister, we’ve been through years of weight in other people’s families.  At least I can make her come together with her birth family ..  Me!” Jelasnya.

Jay menatap Chaerin serius.

Come on Jay, don’t act like you know me yesterday..” Ucap Chaerin kesal.

Jay menghela nafas dalam, “Okay! I trust you..” Ucapnya dan merangkul Chaerin, “Let’s go, I’m starving..

Chaerin tertawa kecil.

=Sebulan sebelum musim panas=

Hyuna tersenyum sambil merapikan bagian rok baju yang dia buat, sekarang sudah terlihat 90% dari bajunya. Namun yang membuatnya tersenyum adalah e-mail terakhir Chaerin, kakaknya itu akan datang musim panas ini dan dia tak sabar menunggunya.

Hyunseung masuk ke ruang jahit dan langsung melangkah menuju boneka torsho dimana bajunya berada. Ketika hendak memasang pentul, matanya tak sengaja memandang kearah Hyuna yang terlihat tersenyum sambil merapikan baju buatannya. Dahinya berkerut dan melangkah menghampiri gadis itu.

Hyuna terkejut melihat Hyunseung menghampirinya, “San.. Sanbae?”

Hyunseung memperhatikan baju buatan Hyuna dan menyentuh bagian jahitan yang terlihat sangat rapi. Juga lipatan-lipatan di bawah baju terlihat sempurna. Matanya kembali menatap Hyuna, “Ini buatanmu?”

Hyuna menunduk dan mengangguk kaku.

Hyunseung kembali memperhatikan baju itu dan menoleh ke tangan Hyuna yang saling tergenggam, lalu menarik tangannya.

Mata Hyuna membesar menatap tangan Hyunseung menarik tangannya dan memperhatikan pria itu seperti sedang meneliti jari-jarinya.

Hyunseung mengerutkan dahi dan kembali memandang Hyuna, “Sejak kapan kau mulai menjahit?”

“Ne? Oh.. Mmm.. Sejak bergabung dengan klub ini..” Jawab Hyuna jujur.

Hyunseung diam sejenak menatap Hyuna, lalu kembali memandang tangan gadis itu.

Hyuna tak mengerti mengapa Hyunseung memandangi tangannya seperti barang antik. Matanya membesar lagi dengan mulut terbuka melihat pria itu mengecup jemarinya, “San..sanbae?!”

Hyunseung menatap Hyuna, “Aku bisa merasakan perasaan yang tuangkan melalui jemarimu ini..” Ucapnya.

Hyuna tertegun, “Ne?”

“Aku belum pernah bertemu orang yang bisa dengan mudah memasukkan perasaannya pada baju yang ia buat, kau sangat mengagumkan..” Ucap Hyunseung lagi.

Wajah Hyuna merona merah mendengar ucapan Hyunseung, “Ne?”

“Sepertinya aku pernah melihatmu di butik itu, apa kau bekerja disana?” Tanya Hyunseung langsung.

“Butik? Oh.. Mmm.. Aku.. Aku hanya membantu ibuku..” Jawab Hyuna canggung.

Hyunseung menatap Hyuna serius, “Bekerjalah untukku..”

Hyuna tertegun mendengar keseriusan dalam suara Hyunseung, “Sanbae?”

“Keluargaku memiliki butik. Para saudaraku sudah berhasil dengan butik mereka sedangkan aku baru memulai, aku membutuhkan orang sepertimu!” Jelas Hyunseung.

Hyuna tak memberi respon apa pun karena terlalu shock dengan apa yang dia dengar.

<<Back          Next>>

Advertisements

3 thoughts on “My Sister and I [Chapter 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s