Uncategorized

Never Let You Die!!

trouble-makerDi sebuah Club malam yang di penuhi orang-orang mabuk yang menggila, Hyunseung duduk sambil memandangi botol birnya. Kepalanya menoleh kearah seorang gadis yang asik menari. Gadis itu terlihat tidak ditemani siapa pun, atau mungkin terpisah dari teman-temannya. Ia bangkit dan menghampiri gadis berparas cantik itu.

Kamar mandi pria.

Hyunseung menahan kedua tangan gadis dihadapannya di dinding diatas kepala gadis itu sambil berciuman dalam dengan gadis itu. Ia bukan ingin menikmati malam bersama gadis itu, tapi ia sedang memasukkan sejenis cairan yang membuat gadis itu tak sadarkan diri dari mulutnya.

Tak sampai beberapa detik gadis itu langsung tak sadarkan diri.

Hyunseung melepaskan tangan gadis itu dan menarik tubuh gadis itu ke tubuhnya. Kepalanya menoleh ke belakang, memastikan tidak ada seorang pun disana. Lalu membawa gadis itu ke bilik toilet. Ia mendudukkan gadis itu ke toilet duduk dan menutup pintu. Ia menatap gadis itu dengan mata lapar, bola matanya berubah warna menjadi hitam legam dan membuka mulutnya memamerkan dua taring panjangnya. Satu tangannya memegang bahu gadis itu dan satu lagi menahan kepalanya, tanpa ragu ia menggigit leher gadis itu tepat di pembuluh besarnya. Terasa cairan hangat masuk ke mulutnya dan turun ke kerongkongannya. Ini adalah saat-saat yang sangat ia senangi, memuaskan rasa hausnya sebagai vampir. Hidup di tengah manusia membuatnya tidak boleh kekurangan asupan darah untuk dirinya, dengan begitu ia tetap bisa mempertahankan ciri khas manusianya. Itu adalah kelebihannya sebagai vampir. Setelah puas dengan rasa hausnya, ia menarik mulutnya dari leher gadis itu dan menjilat sisa darah di bibirnya. Lalu mengambil tisu toilet dan membersihkan sisa darah di dagunya. Ia menghela nafas dalam dan kembali menatap gadis itu. Satu perbedaan Hyunseung dengan vampir lainnya, dia tak pernah membunuh korbannya. Hanya menghisap darah secukupnya. Ia membungkuk dan memberi kecupan di bekas taringnya tadi, terlihat luka itu perlahan memudar dan hilang seperti tak pernah ada luka disana. Kekuatan vampirnya memang berbeda. Hanya dia yang mendapati kemampuan seperti itu.

Hyunseung yang sudah merasa lebih kuat setelah meminum darah, segera keluar dari toilet pria dan dari Club itu. Saatnya mencari korban selanjutnya. Kali ini bukan untuknya. Mungkin terdengar bodoh, tapi ia mendedikasikan dirinya menjadi ‘vampir induk’. Yaitu mengisap darah manusia untuk diberikan pada vampir lainnya.

Ia berjalan di trotoar sambil merasakan aura-aura orang yang ia lewati. Seorang gadis yang berlalu disisinya membuatnya berhenti dan memandang gadis itu. Seorang gadis manis berjalan sambil menangis, ia bisa dapat mengetahui gadis itu merasa tersakiti oleh seseorang yang dicintainya. Dari aura yang dirasakan Hyunseung, gadis itu berjiwa murni dan polos. Ia melirik ke kanan dan kiri, lalu mengikuti gadis itu.

Gadis itu tertegun merasakan seseorang memegang bahunya dan memandang orang itu.

Hyunseung tersenyum hangat sambil mengulurkan sebuah sapu tangan, “Nona, udara sangat dingin. Jika kau menangis seperti itu, kau akan membeku..”

Gadis itu memandang sapu tangan yang di sodorkan Hyunseung dan kembali memandang pria itu tak percaya.

Hyunseung menyeka air mata gadis itu dan menatap matanya dalam, hanya gadis itu yang bisa melihat bola matanya berkilat coklat beberapa saat dan gadis itu menatapnya kosong. Bibirnya masih membentuk senyuman hangat, “Nona, kau mempunyai hati bersih. Maukah kau menolongku?”

Gadis itu mengangguk pelan.

Hyunseung menarik tangan gadis itu dan melingkarkan ke lengannya, lalu berjalan seolah-olah mereka adalah pasangan kekasih. Begitu tiba di jalanan sepi, ia berhenti dan memeriksa kondisi sekitar. Setelah memastikan semuanya aman, ia berhadapan dengan gadis itu sambil tersenyum. “Aku sangat menghargai bantuanmu, gumawo..” Ucapnya, lalu matanya berubah hitam legam dengan taring yang kembali memanjang. Kepalanya bergerak menunduk ke leher gadis itu dan menggigitnya.

=Sebuah Rumah kecil di kawasan kumuh Seoul=

Hyunseung masuk ke rumah yang sudah ia tempat 5 tahun terakhir. Matanya memandang sekitar rumah yang dalam keadaan gelap sambil melepaskan baju hangatnya, ia mengenakan itu bukan karena ia akan kedinginan, tapi untuk membaur ditengah masyarakat. Ia melangkah ke kamar dan membukanya, ia bisa melihat seorang gadis berbaring miring di tempat tidur. Tatapannya berubah sendu melihat gadis itu sangat pucat dan lemah. Perlahan ia duduk di pinggir tempat tidur dan mengelus rambut gadis itu lembut, “Hyuna..” Panggilnya pelan.

Hyuna yang terlihat semakin pucat dengan rambut pirangnya membuka mata perlahan dan langsung menatap Hyunseung. Tatapan gadis itu tampak sangat rapuh.

Hyunseung tersenyum sambil memegang kedua pipi Hyuna, “Ayo..” Ucapnya dan mendorong gadis itu berbaring dengan punggungnya. Kepalanya menunduk mendekati wajah gadis itu.

Hyuna menahan bahu Hyunseung sambil memalingkan wajahnya lemah.

Hyunseung menatap Hyuna memelas, “Jebal Hyuna, jangan menolak..” Pintanya dan menahan kepala gadis itu agar tidak bergerak.

Tangan Hyuna berusaha mendorong bahu Hyunseung, namun ia terlalu lemah bahkan untuk berbicara.

Hyunseung mencium Hyuna, ia harus memberikan darah yang telah ia minum untuk gadis itu. Namun Hyuna terus menolaknya. Dengan kasar ia memaksa gadis itu membuka mulutnya.

Hyuna tak bisa melawan Hyunseung, ia sadar ia terlalu lemah untuk itu. Mulutnya terbuka dalam ciuman lembut pria itu. Awalnya ia tetap menolak, namun begitu merasakan cairan hangat masuk ke mulutnya dan turun ke kerongkongannya, seperti ada sesuatu yang liar menguasai dirinya. Tangannya yang tadi berusaha mendorong Hyunseung berubah menjadi mencengkeram bahu pria itu, satu tangannya bergerak ke belakang kepala pria itu dan mendorongnya semakin dalam ke wajahnya. Matanya terpejam dan memokuskan dirinya meminum darah dari Hyunseung seperti bayi kehausan. Akan sulit baginya untuk berhenti jika sudah merasakan darah manusia.

Hyunseung tersedak karena Hyuna meminum darah seperti akan meminum seluruh kehidupannya. Tangannya yang memegang pipi gadis itu berpindah menahan tubuhnya ke permukaan kasur disebelah kepala Hyuna. Seharusnya dia menghentikan gadis itu, namun ia tak pernah melakukannya. Meskipun ia merasa gadis itu akan membunuhnya jika terus seperti itu, ia tak keberatan selama hal itu demi orang yang ia cintai.

Tangan Hyuna yang mencengkeram bahu Hyunseung bergerak ke pipi pria itu dan membuka matanya perlahan, saat itu ia kembali tersadar dan langsung mendorong tubuh Hyunseung. Matanya membesar menyadari dia hampir saja membunuh pria itu.

Tubuh Hyunseung terasa lemah dan merosot jatuh ke lantai. Di bibirnya mengalir sisa darah yang tadi Hyuna minum darinya.

“Oppa!” Seru Hyuna panik dan berlutut di sebelah Hyunseung, “Oppa!” Kedua tangannya memegang pipi pria itu dan menatapnya tak percaya.

Hyunseung menatap Hyuna lemah dan tersenyum tipis.

Bulir air mata Hyuna mulai berjatuhan, “Oppa.. Kenapa kau tetap melakukan ini? Aku tidak mau lagi seperti ini..”

Tangan Hyunseung bergerak lemah ke pipi Hyuna dan menyeka air matanya, “Gwenchana.. Aku akan segera membaik..”

“Andwae oppa!” Ucap Hyuna kesal, “Aku hampir meminum semua darahmu.. Kenapa kau bodoh sekali?!” Tangisnya.

“Uljima..” Ucap Hyunseung pelan.

“Oppa, tunggu sebentar.. Aku akan mencari seseorang..” Ucap Hyuna dan langsung berlari ke pintu.

Hyunseung ingin melarang Hyuna tapi kondisinya tidak mengijinkan. Pandangannya juga mulai buram.

“Oppa.. Oppa!!”

Hyunseung kembali membuka mata dan melihat Hyuna yang baru saja mengguncang tubuhnya.

“Oppa.. Ayo bangun..” Hyuna menarik Hyunseung bangkit dan mendorong kepala pria itu menunduk ke leher seorang gadis yang terkapar di sebelahnya. “Minum darahnya oppa.. Ppaliwa..”

Hyunseung, vampir lapar pada umumnya, langsung menatap gadis tadi seperti singa yang memburu mangsanya. Tanpa ragu ia menggigit leher gadis itu dan menghisap darahnya tanpa ampun. Ia melanggar sumpahnya selama ini, untuk tidak membunuh manusia.

Hyuna menghela nafas lega melihat Hyunseung melahap gadis yang dia bawa dengan baik, “Oppa…” Ucapnya khawatir sambil mengelus punggung pria itu.

Hyunseung menarik wajahnya dan menjilat sisa darah di bibirnya, lalu duduk bersandar ke pinggir tempat tidur. Bola matanya kembali berubah normal dan taringnya perlahan juga kembali normal.

Hyuna bergerak duduk di sebelah Hyunseung dan memeluknya dari samping. Dahinya bersandar ke bahu pria itu dan menangis mengingat ia hampir saja membunuh pria yang sudah mengubahnya menjadi vampir itu.

Hyunseung menatap gadis tak bernyawa yang terbaring di depannya tanpa ekspresi, ia juga tak menenangkan Hyuna yang terus menangis.

=Keesokan Malamnya=

Hyuna tertegun melihat Hyunseung sudah bersiap pergi lagi, “Oppa, odiga?”

Hyunseung memandang Hyuna sambil memasang kancing baju di lengannya, “Berburu..” Jawabnya dan kembali memandang dirinya di cermin.

Hyuna menghela nafas dalam dan menghampiri Hyunseung, “Oppa, kenapa kau selalu melakukan ini? Kau bisa bertahan meski hanya meminum sedikit darah manusia, berhenti berkeliaran disaat malam..”

Hyunseung menghentikan kegiatannya dan memandang Hyuna, “Aku harus memberimu makan..”

“Oppa, kemanhe.. Aku tidak ingin kau terus melakukannya untukku..” Ucap Hyuna sedih.

Hyunseung menunduk sedih, lalu kembali menatap kedua mata Hyuna dan memegang pipi gadis itu. “Tunggulah, aku hanya sebentar..”

Hyuna menarik tangan Hyunseung yang memegang pipinya, “Jika kau tetap melakukan ini, aku akan pergi!” Ancamnya.

Hyunseung berusaha menahan emosinya, rahangnya tampak mengeras dan menatap Hyuna marah. Tampak warna bola matanya kembali terlihat hitam legam, itu selalu terjadi saat ia marah atau saat mengeluarkan taringnya.

Hyuna tertegun melihat bola mata Hyunseung, di sekelilingnya terasa panas dan tidak nyaman. Itu selalu terjadi saat ‘induknya’ marah padanya.

“Hyuna, aku tidak ingin menggunakan caraku untuk melumpuhkanmu..” Ucap Hyunseung dingin.

Hyuna sangat sedih Hyunseung selalu seperti itu. Ia tau bagaimana perasaan pria itu padanya, mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Saat mereka masih manusia biasa. Hyunseung adalah oppa yang tinggal di sekitar rumahnya dulu. Suatu hari pria itu menghilang hingga berbulan-bulan, hingga akhirnya kembali muncul di depannya dengan bentuk yang lain. Makhluk abadi yang membutuhkan darah untuk hidupnya.

Hyunseung bisa merasakan bagaimana perasaan Hyuna saat ini. Ia jadi merasa lebih marah, bukan pada Hyuna, tapi dirinya sendiri. Ia memalingkan wajahnya dan melangkah ke pintu.

Hyuna tak bisa mengatakan apa pun lagi, ia tak bisa menentang Hyunseung. Pria itu memiliki hak atas dirinya sekarang.

Hyunseung membuka pintu dan berhenti sejenak, “Kau tau aku bisa menemukanmu dimana pun dirimu..” Ucapnya tanpa menoleh, lalu keluar dan kembali menutup pintu.

Bulir air mata Hyuna berjatuhan karena Hyunseung yang sekarang ia kenal tidak seperti Hyunseung yang selalu baik padanya dulu. Ia mengakui perasaannya untuk pria itu, namun ia selalu hanya bisa menangis seorang diri seperti itu.

=Club=

Hyunseung berada disana untuk memuaskan rasa hausnya dulu, lalu baru akan mencari gadis berhati murnis dan darah segar untuk Hyuna. Ia tertegun merasakan keberadaan makhluk sepertinya di sekitar sana dan menoleh, saat itu sudah duduk seorang pria yang tersenyum cool padanya.

Long time no see, Hyunseung..” Ucap pria itu, Yong Junhyung, pria yang juga di rubah bersamanya.

“Hmm..” Gumam Hyunseung tak tertarik dan kembali memandang botol birnya. Ia tak pernah meminumnya, tapi selalu memesannya.

Junghyung tertawa kecil karena respon Hyunseung, “Bagaimana gadis itu? Kau masih bersamanya?”

Hyunseung kembali menatap Junhyung, ia tak suka vampir lain menyebut tentang Hyuna.

“Kau masih memberikannya makan?” Tanya Junhyung lagi.

“Ne..” Jawab Hyunseung.

Junhyung memandang tangannya, “Kau tau hanya induk utama yang bisa mengubah manusia menjadi vampir Hyunseung..”

Hyunseung hanya diam, tak mau menanggapi ucapan Junhyung.

“Gadis itu tak akan bisa menjadi vampir seutuhnya, dia tak bisa mencari makanannya sendiri dan membutuhkan darah setiap saat. Kau mengerti?” Tanya Junhyung berusaha mengubah pemikiran Hyunseung, hal itu sudah ia lakukan sejak berpuluh tahun sejak teman seperjuangannya itu memberitaunya jika ia tidak bisa membiarkan Hyuna mati dengan tubuh manusianya.

“Dia vampir, Junhyung..” Ucap Hyunseung tegas, lalu bangkit untuk langsung mencari mangsanya.

Junhyung menahan tangan Hyunseung dan menatap pria itu serius, “Kau akan terus menderita seperti ini, biarkan dia pergi.”

Hyunseung menatap Junhyung tajam, lalu menyentak tangan pria itu. “Meskipun aku harus berburu setiap malam atau setiap waktu, aku akan terus melakukannya seumur hidupku demi Hyuna!” Ucapnya, lalu melangkah ke tengah kerumunan orang.

Junhyung menghela nafas dalam sambil memperhatikan Hyunseung menghipnotis seorang gadis dan membawanya ke toilet.

Hyuna memang bukan vampir sempurna. Di dunia vampir, hanya vampir induk utama yang bisa mengubah manusia menjadi vampir. Itulah yang terjadi pada Hyunseung. Tapi saat itu…..

=Flashback=

Hyuna berlari sekencang yang ia bisa untuk keluar dari hutan lebat itu. Pipi dan bibirnya berdarah karena goresan ranting yang ia lalui. Nafasnya terasa tercekik namun ia tetap berlari. Keringat mengalir deras dan pelipisnya.

“Hyuna! Kumohon jangan pergi! Dengarkan aku dulu!” Pintu Hyunseung sambil mengejar Hyuna.

Hyuna semakin panik mendengar suara Hyunseung sangat dekat dengannya, tanpa sadar ia semakin mempercepat kakinya meskipun ia sudah tak sanggup berlari lagi. Satu hal yang ia tak tau, hutan itu tidak memiliki jalan keluar dari sisi lain ketika ia masuk. Kakinya tersandung akar pohon dan langsung berguling jatuh ke sebuah jurang.

Hyunseung berhenti berlari begitu mencium aroma darah, ia tau Hyuna terluka parah.

“Ya! Kau membunuh gadis itu! Sudah kubilang jangan kejar dia!!” Seru Junhyung marah.

Hyunseung menatap Junhyung tak percaya, “Andwae!” Ucapnya tertahan, namun ia masih merasakan aura kehidupan Hyuna, berarti gadis itu masih sekarat. “Dia masih hidup!” Serunya dan langsung berlari kencang dan masuk ke jurang. Ia tak perlu khawatir akan terluka karena ia cukup mahir melakukan hal ekstrim. Matanya membesar melihat gadis yang ia cintai terkapar di dasar jurang dengan tubuh remuk. Darah mengalir dari hampir seluruh anggota tubuhnya. “Hyuna!” Ia jatuh berlutut di sebelah gadis itu dan menatapnya penuh sesal.

Junhyung mengikuti Hyunseung ke dasar jurang yang sangat dalam itu dan juga terkejut melihat kondisi Hyuna.

Bulir air mata Hyunseung mengalir melihat gadis yang dulu selalu ia kagumi saat berlalu di depan rumahnya terluka parah.

“Hyunseung, hisap darahnya hingga habis. Dengan begitu dia akan segera terlepas dari rasa sakitnya..” Ucap Junhyung.

Hyunseung tau itu adalah hal terbaik yang harus dia lakukan, perlahan tangannya terulur dan memegang pergelangan tangan Hyuna. Bola matanya berubah hitam dan taringnya muncul. Rasanya sangat berat untuk melakukan itu, namun ia tak bisa membiarkan Hyuna menderita. Mulutnya terbuka dan sudah bersiap untuk mengigit pergelangan tangan gadis itu, tapi ia berhenti dan memalingkan wajahnya. “Aku tidak bisa membiarkannya mati..” Ucapnya.

“Kau akan membawanya pada induk utama kita? Bukankah dia sudah menghilang entah kemana?” Tanya Junhyung.

Hyunseung kembali menatap Hyuna, “Ani, aku yang akan melakukannya..”

Mata Junhyung membesar, “Mwo?! Ya! Kita tidak bisa mengubah manusia menjadi vampir!”

“Ani! Aku punya kemampuan mencampurkan zat-zat dari air liurku, aku bisa membentuk racun vampir dan mengubah Hyuna..” Ucap Hyunseung yakin dan tanpa berpikir lagi ia langsung menggigit pergelangan tangan Hyuna dan memasukkan racun vampir yang ia buat dengan kelebihannya.

“Ya! Hyunseung!” Seru Junhyung tak percaya.

Hyunseung memejamkan matanya untuk berkonsentrasi pada racun yang ia masukkan ke darah Hyuna, juga berusaha untuk tidak menghisap darah gadis itu. Tak lama ia menarik giginya dan menyeka bibirnya yang berlumuran darah Hyuna sambil memperhatikan apa yang akan terjadi.

Junhyung ikut memperhatikan apa yang akan terjadi dengan wajah serius.

Hyunseung menunggu dengan perasaan cemas, takut ia terlambat. Kalau ternyata Hyuna sudah meninggal saat ia memasukkan racun itu.

“Kau benar-benar memasukkan racun vampir Hyunseung?” Tanya Junhyung tak percaya.

Hyunseung memandang Junhyung, “Ne..” Jawabnya.

“Well, aku masih mendengar detak jantungnya meskipun sangat lemah. Bawa saja dia, ini akan memakan waktu beberapa hari..” Ucap Junhyung pelan, ia tak punya pilihan lain selain membantu temannya itu sekarang.

Hyunseung menggendong tubuh Hyuna dengan kedua tangannya, ia bisa merasakan tulang rusuk dan tulang punggungnya patah, begitu juga dengan tangan kiri dan kedua kakinya. Bulir air matanya kembali menetes menatap wajah tak berdaya gadis itu. “Ini tidak akan lama.. Percaya padaku..” Ucapnya pelan, lalu membawa Hyuna bersama Junhyung.

Selama beberapa hari Hyunseung hanya duduk di sebelah tempat tidurnya sambil memperhatikan Hyuna yang mulai berubah. Tubuh gadis itu menyembuhkan dirinya sendiri dan kembali membuka matanya.

Hyunseung tersenyum lebar menyambut Hyuna yang mulai bergerak bangkit dengan wajah bingungnya.

“Oppa?” Ucap Hyuna pelan.

“Ne..” Jawab Hyunseung.

“Apa yang terjadi? Aku merasa…..” Hyuna tidak tau bagaimana mengatakan apa yang ia rasakan.

“Haus?” Tanya Hyunseung.

Hyuna mengangguk masih dengan wajah bingungnya, “Ne..”

Hyunseung memegang pipi Hyuna, saat itu senyumnya perlahan memudar karena merasa ada sesuatu yang aneh pada gadis itu. Biasanya vampir baru akan memiliki aura keras dan langsung liar untuk memuaskan rasa hausnya, tapi Hyuna terasa sangat lemah. Kedua mata Hyuna tidak bermata hitam legam.

Saat itulah Hyunseung melakukan kesalahan terbesarnya. Ia melukai pergelangan tangannya dan menyodorkan darah yang keluar dari tangannya kepada Hyuna.

Hyuna tertegun mencium aroma darah itu dan langsung menarik tangan Hyunseung dan darah pria itu. Ia sendiri terkejut merasakan darah itu terasa sangat manis dan membuatnya ingin lagi dan lagi.

Jika vampir baru meminum darah induknya, itu berarti dia akan kehilangan kemampuan berburunya.

=Flashback end=

Hyunseung masuk ke rumah dan menemukan Hyuna duduk sofa depan menunggunya. Ia masih bisa merasakan air mata yang tadi mengalir dari mata gadis itu. Ia diam sejenak di tempatnya menatap Hyuna yang juga menatapnya, tapi dengan tatapan sedih. “Kau belum tidur?”

Hyuna bangkit berdiri, “Oppa, kenapa kau sangat lama?”

Hyunseung menghela nafas dalam dan melangkah menghampiri Hyuna, “Aku harus memastikan banyak persediaan darah untukmu..” Ucapnya sambil tersenyum, lalu merendakan wajahnya sambil memegang pipi gadis itu.

Hyuna memalingkan wajahnya, tidak mau menerima darah pemberian Hyunseung.

Hyunseung menatap Hyuna sedih, “Hyuna, berhenti keras kepala. Biarkan aku memberikan makananmu..” Ucapnya, lalu menarik dagu Hyuna agar menghadap wajahnya. Kepalanya kembali menunduk untuk mencium gadis itu.

Hyuna memejamkan matanya dan membalas ciuman Hyunseung.

Hyunseung menarik wajahnya dan menatap Hyuna kesal, karena seharusnya gadis itu membiarkannya memberikan darah. “Hyuna, apa yang kau lakukan?!”

Hyuna menatap Hyunseung dengan mata berkaca-kaca, “Oppa, apakah kita tidak bisa kembali seperti sebelumnya?”

Tatapan Hyunseung berubah lembut, tangannya dengan lembut mengelus rambut Hyuna. “Aku ingin Hyuna, tapi aku tidak bisa memutar waktu..”

Hyuna menghela nafas dalam, bulir air matanya mengalir ke pipinya dan menetes jatuh dari dagunya. Tangannya terangkat dan meletakkan kedua tangannya ke dada Hyunseung sambil menatap mata pria itu dalam, “Oppa, aku tidak ingin kau terus mengorbankan dirimu untukku. Kau bisa meneruskan hidupmu dan biarkan aku mati..”

Tangan Hyunseung spontan bergerak memegang satu tangan Hyuna yang memegang dadanya dan menatap gadis itu marah, “Aku sudah memperingatimu dengan ucapan itu!! Aku tidak suka mendengarnya!! Kau mengerti?!” Serunya.

“Oppa.. Kemanhe.. Aku semakin liar saat meminum darah darimu! Aku tidak ingin suatu saat membuatmu mati karena meminum semua darah di tubuhmu!” Ucap Hyuna ikut kesal.

“Andwaeyo! Kau hanya perlu mengontrolnya!! Berapa kali kukatakan?!” Tanya Hyunseung sambil menyentak tubuh Hyuna.

Bulir air mata Hyuna semakin deras berjatuhan melihat tatapan marah Hyunseung, “Aku tidak bisa oppa..” Tangisnya.

Hyunseung mencengkeram kedua lengan Hyuna seperti dia akan membenamkan jari-jarinya ke kulit gadis itu. “Keure! Kau tidak akan makan malam ini!” Ucapnya tertahan, lalu melepaskan gadis itu dan melangkah cepat ke kamar. Juga membanting pintu karena terlalu marah.

Hyuna masih menangis ditempatnya. Perlahan tangannya bergerak mengelus kedua sisi lengannya yang terasa nyeri. Menjadi vampir bukan berarti dia bisa menahan kekerasan dari vampir lain. Karena ia bukan vampir sempurna, ia harus mengkonsumsi darah sebanyak yang ia bisa untuk mendapatkan kekuatan tubuh seperti vampir biasanya. Tapi ia selalu menolak untuk meminum darah, karena kejadian seperti kemarin malam sering terjadi sejak puluhan tahun lalu.

Hyunseung berdiri dibalik pintu dan menghela nafas dalam untuk menetralkan amarahnya. Emosinya selalu terpancing saat Hyuna meminta hal yang sama, membiarkannya mati. Sepanjang malam ia menunggu Hyuna masuk dengan berbaring di tempat tidur, tapi gadis itu tak kunjung masuk. Ketika ia hendak bangkit untuk menemui Hyuna diluar, pintu terbuka. Ia kembali berbaring dan berpura-pura tidur membelakangi pintu.

Hyuna menatap Hyunseung sedih, lalu menutup pintu dan melangkah ke tempat tidur. Ia berbaring di belakang Hyunseung sambil memandangi punggung pria itu. “Oppa..”

Hyunseung tak menjawab atau pun bergerak sedikit pun.

“Oppa, aku tau kau tidak tidur..” Ucap Hyuna.

Hyunseung membuka matanya perlahan, “Wae?”

“Oppa, aku hanya tidak ingin kau menderita. Kau nyaris mati dan itu juga melukaiku..” Ucap Hyuna pelan.

Hyunseung bergerak berbaring dengan punggungnya dan memandang Hyuna, “Aku tidak akan mati.. Aku akan terus ada untukmu..”

“Oppa..” Ucap Hyuna pelan.

“Hyuna, aku yang mengubahmu seperti ini. Aku akan bertanggung jawab atas dirimu, kau tidak perlu memikirkan apa pun lagi..” Ucap Hyunseung dalam.

Hyuna bergerak mendekati Hyunseung dan membaringkan kepalanya ke dada pria itu, puncak kepalanya menyentuh dagu pria itu. “Aku terkadang takut karena sikapmu oppa, kau tidak seperti oppa yang kukenal dulu. Kau terlihat seperti akan menyakitiku..” Ucapnya dengan suara bergetar.

Hyunseung bisa merasakan Hyuna merasa ketakutan dan sedih disaat bersamaan, satu tangannya bergerak memeluk gadis itu dan mengelus rambutnya lembut. “Hyuna, aku memang tidak terbiasa mengatakan perasaanku. Tapi kau tau betapa aku mengagumimu sejak kita tumbuh remaja, aku tidak ingin menyakitimu. Aku mengubahmu sepertiku karena aku ingin kau selalu ada disisiku. Agar kita bahagia bersama..”

Hyuna mendongak agar bisa memandang wajah Hyunseung.

Hyunseung agak menunduk agar bisa menatap Hyuna tepat di matanya, “Kau tidak perlu takut padaku, aku tidak akan marah jika kau berhenti keras kepala dan berhenti mengatakan kau ingin mati. Araso?”

Kali ini Hyuna merasa sangat nyaman dengan tatapan Hyunseung, pria itu sangat lembut. Sudah sangat lama sejak terakhir ia merasakan betapa lembutnya pria itu.

Satu tangan Hyunseung yang lain bergerak mengelus pipi Hyuna tanpa mengalihkan tatapannya.

“Bagaimana jika aku tidak bisa menahan diriku?” Tanya Hyuna khawatir.

“Aku akan mengajarimu, kau hanya perlu percaya padaku..” Ucap Hyunseung pelan.

Hyuna menghela nafas dalam dan berpikir sejenak, ia sendiri tidak yakin pada dirinya.

Hyunseung menunggu Hyuna memutuskan sambil mengelus pipi gadis itu lembut.

Hyuna kembali memandang Hyunseung dan mengangguk pelan.

Hyunseung tersenyum tipis. Tangannya yang tadi mengelus pipi Hyuna bergerak memegang dagu gadis itu dan menatapnya dalam, “Yang harus kau lakukan, tetap kuasai dirimu. Rasakan tetes demi tetes darah yang masuk ke mulutmu, kau mengerti?”

Meskipun ragu, Hyuna menganggukkan kepalanya.

Hyunseung bangkit sedikit dan menopang dirinya dengan siku sambil mendorong Hyuna berbaring dengan punggungnya, lalu memegang pipi gadis itu dan menciumnya lembut. Lidahnya bergerak menyentuh bibir Hyuna yang masih tertutup rapat agar gadis itu memberi celah untuk darah yang akan dia berikan.

Hyuna berusaha memokuskan dirinya dan memegang kedua bahu Hyunseung, bibirnya yang tertutup rapat terbuka dan merasakan cairan hangat masuk ke mulutnya. Ia menelan cairan itu perlahan-lahan. Tangan Hyunseung mengelus pipinya pelan sebagai tanda ia harus menelan darah itu perlahan. Awalnya ia mulai menggila karena darah itu seperti narkoba yang membuatnya kecanduan, tapi ia bisa mengendalikan dirinya.

Hyunseung dapat merasakan Hyuna bisa relax dan meminum darah dengan tenang. Namun, perlahan tapi pasti tangan Hyuna yang memegang bahunya berubah menjadi cengkeraman kuat dan menarik tubuhnya lebih menunduk. Tangannya yang mengelus pipi Hyuna berusaha menahan gadis itu, namun tak ada pengaruh.

Hyuna kembali tak bisa menahan dirinya. Pikirannya menjadi kacau dan liar karena rasa darah di mulutnya. Bahkan Hyunseung yang lebih kuat tak bisa menghentikannya. Matanya yang terpejam bergerak terbuka dan menyadari Hyunseung memejamkan kedua matanya erat seperti menahan sakit, matanya membesar dan langsung mendorong pria itu untuk melepaskan ciuman mereka.

Hyunseung membuka matanya perlahan dan memandang Hyuna yang tampak shock. Bibirnya dan gadis itu masih berlumuran darah.

Hyuna tak percaya dia hampir membunuh Hyunseung lagi. Dengan cepat ia bangkit sambil mendorong pria itu ke samping dan berlari keluar sambil menangis.

“Hyuna!” Panggil Hyunseung dan segera mengejar Hyuna.

Hyuna keluar dari rumah sambil terus menangis, ia bahkan tak menyeka darah di bibir dan dagunya.

“Kim Hyuna! Berhenti!” Seru Hyunseung, namun gadis itu tetap tak berhenti. Ia menggunakan gerakan super cepat vampirnya dan menarik tangan Hyuna. Gadis itu merasa sangat menyesal, ia dapat merasakannya. “Uljima.. Kau baru memulai menguasai dirimu..” Ucapnya menenangkan.

Hyuna terus menunduk sambil menggelengkan kepalanya, “Andwae! Aku tidak akan melakukannya lagi..” Ucapnya dengan suara bergetar.

Hyunseung menatap Hyuna sedih dan mengelus rambutnya, “Hyuna, ayo pulang..”

Hyuna memandang Hyunseung dengan air mata terus berjatuhan, meskipun begitu matanya tidak akan berubah merah atau pun membengkak.

Hyunseung membungkuk sedikit dan membersihkan darah di bibir dan dagu Hyuna dengan lidahnya, lalu kembali berdiri tegap sambil memandangnya. “Ayo..” Ajaknya sambil menarik gadis itu.

=Beberapa Hari Kemudian=

Hyunseung melirik Hyuna yang duduk di sudut sofa sambil memeluk lututnya dengan pandangan kosong ke depan. Kulit gadis itu hampir terlihat seputih salju karena kondisinya sangat lemah. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri gadis itu.

Hyuna tetap tak bergeming meskipun Hyunseung sudah berdiri di hadapannya.

“Hyuna, jika kau memilih mati, aku tidak akan bisa melanjutkan hidupku..” Ucap Hyunseung datar.

Hyuna tetap diam untuk beberapa saat. Akhirnya ia mengangkat wajah untuk memandang Hyunseung.

“Hyuna, kau tau aku tidak bisa menahan diriku saat aku sedang marah. Keutji?” Tanya Hyunseung dengan nada tenang, namun memberikan rasa tekanan dan mengancam ditelinga Hyuna.

Hyuna tidak tau harus mengatakan apa saat itu. Perlahan ia melepaskan pelukannya dari lutut dan duduk bersila di sofa, kemudian tangannya bergerak memeluk pinggang Hyunseung dan menempelkan satu pipinya ke perut pria itu tanpa mengatakan apa pun.

Hyunseung memalingkan wajahnya untuk mnghilangkan perasaan marahnya, mekipun begitu satu tangannya bergerak mengelus rambut Hyuna.

Hyuna memejamkan matanya dan membiarkan perasaannya menguap dengan sendirinya. Meskipun itu tak pernah terjadi.

Hyunseung menunduk memandang kepala Hyuna di perutnya, “Aku akan pergi sebentar..” Ucapnya.

Hyuna mempererat pelukannya di pinggang Hyunseung tanpa mengatakan apa pun.

Tidak sulit bagi Hyunseung melepaskan pelukan Hyuna dan menatap gadis itu, “Aku akan memberikan makananmu..”

Hyuna menatap Hyunseung dengan mata memelas, seperti berkata kalau ia ingin Hyunseung berhenti melakukan itu.

“Aku akan segera kembali..” Ucap Hyunseung dan melangkah menuju pintu.

Hyuna membeku di tempatnya tanpa mengatakan apa pun.

Langkah Hyunseung terhenti dan kembali memandang Hyuna. Meskipun tau gadis itu tak akan pergi kemana pun, ia tetap khawatir. Ia memutar tubuhnya dan kembali menghampiri gadis itu, lalu duduk disebelahnya.

Hyuna tertegun melihat Hyunseung duduk di sebelahnya.

Hyunseung menatap Hyuna menyesal sambil menarik tangan gadis itu, “Aku harus melakukan ini..” Ucapnya. Bola matanya berubah hitam legam.

Mata Hyuna membesar dan langsung meringis menahan sakit ketika Hyunseung menggigit pergelangan tangannya, “Ahh.. Oppa!” Serunya menahan sakit.

Hyunseung menghisap darah Hyuna perlahan, ia ingin membuat gadis itu sangat lemah hingga tak akan sanggup menggerakkan tubuhnya.

Bulir air mata Hyuna mengalir karena sakit dari pergelangan tangannya. Tubuhnya terasa sangat lemah. Terlalu lemah bahkan untuk berseru pada Hyunseung.

Hyunseung melepaskan lengan Hyuna dan menatap gadis itu yang langsung bersandar lemah ke dadanya. Hyunseung mengecup bekas luka di pergelangan tangan Hyuna dan luka itu perlahan memudar. Ia tak ingin melakukan itu lagi, tapi ternyata ia harus. “Miane..” Gumamnya, lalu mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke kamar.

=Jalanan Kota Seoul=

Hyunseung menggigit lengan seorang gadis berjiwa murni yang berada dalam pengaruh hipnotisnya. Ia tidak ingin memberikan sembarang darah untuk Hyuna, ia ingin memberikan yang terbaik untuk gadis yang ia cintai. Setelah merasa cukup, ia melepaskan lengan gadis itu dan menjilat sisa darah di mulutnya. Juga memberi kecupan di bekas luka itu hingga kembali seperti semula. Ia tersenyum hangat menatap gadis itu, “Gumawo.. Setelah beberapa saat kau akan kembali tersadar dalam perjalanan pulang seperti tak terjadi apa pun..” Ucapnya.

Gadis itu mengangguk dan melangkah menuju rumahnya dengan tenang.

Hyunseung memperhatikan gadis itu sejenak, lalu berbalik pergi. Ia harus segera kembali ke rumah agar Hyuna menderita sepanjang malam.

“Hyunseung!”

Hyunseung menoleh ke sisi kirinya dan tertegun melihat Junhyung menatapnya marah.

“Biarkan gadis itu mati!! Jika induk utama tau, habislah kau!” Ucap Junhyung mulai kehabisan kesabarannya.

Hyunseung menatap Junhyung tajam, “Urus saja dirimu!” Ucapnya dan melangkah pergi.

Junhyung ikut melangkah di belakang Hyunseung, “Sudah 36 tahun Hyunseung! Kau tidak mungkin bisa menutupi semuanya terus!”

Hyunseung tak menjawab ucapan Junhyung, pikirannya sekarang sudah berada di rumah dan memberikan makanan untuk Hyuna.

“Baiklah! Aku bertemu induk utama kita beberapa saat lalu!” Ucap Junhyung yang langsung membuat Hyunseung berhenti dan membeku ditempatnya.

Ucapan Junhyung cukup membuat Hyunseung shock. Setelah 36 tahun menghilang, induk utamanya kembali?

“Dia ingin kita ikut berkumpul bersamanya dan vampir-vampir yang dia rubah, Hyunseung..” Ucap Junhyung.

Hyunseung tidak tau apa yang harus dia katakan, jika induk utama mengetahui tentang Hyuna. Habislah dia. Juga Hyuna.

Dalam sekejap Junhyung sudah berpindah ke hadapan Hyunseung, “Kesempatan terakhirmu, Hyunseung. Aku tidak akan bisa membantumu lagi jika induk utama sudah tau tentang kesalahan yang kau buat..”

Hyunseung menghela nafas dalam, lalu mengangguk berat. “Ne..” Ucapnya, “Tapi aku tetap tidak akan membiarkan Hyuna mati..” Tegasnya, lalu melangkah pergi.

=Rumah=

Karena Hyuna sangat lemah, ia tak bisa menolak darah yang diberikan Hyunseung padanya. Sekali lagi, keliaran Hyuna membuat Hyunseung harus lebih keras.

Tangan Hyunseung bergerak mencengkeram leher Hyuna dan menarik wajahnya. Ternyata cara itu berhasil, ia yang tadinya melayangkan tubuhnya di atas tubuh Hyuna bergerak duduk dengan pinggang gadis itu berada di antara kakinya sambil menyeka darah di bibirnya.

Hyuna masih terbaring dengan mulut berlumuran darah dan mata terpejam.

Hyunseung melihat memar di leher Hyuna perlahan menghilang, “Hyuna?”

Hyuna membuka matanya dan memandang Hyunseung, “Oppa, berhenti melakukan ini..” Ucapnya pelan.

Hyunseung menatap Hyuna dalam dan membungkuk sambil menahan tubuhnya dengan satu tangan tempat tidur di sebelah kepala Hyuna, “Aku akan melakukannya seumur hidupku..” Ucapnya tanpa ekspresi, lalu membersihkan darah yang masih tersisa di bibir gadis itu dengan lidahnya.

Hyuna mendorong Hyunseung sambil memalingkan wajahnya.

Hyunseung menatap Hyuna sedih, lalu bergerak bangkit. “Kita harus pergi Hyuna..” Ucapnya dan mulai memasukkan beberapa baju ke tas ransel.

Hyuna memandang Hyunseung tak mengerti dan bergerak duduk, “Kemana?”

Hyunseung melemparkan celana jeans panjang dan baju hangat pada Hyuna, lalu mengambil tas ransel lain dan memasukkan baju-baju gadis itu, “Ganti bajumu, jangan banyak bicara.”

Hyuna tau ada sesuatu yang serius terjadi, “Apa kita akan pergi ke tempat lain lagi?”

Tangan Hyunseung yang memasukkan baju Hyuna berhenti dan menatap Hyuna kesal, “Kau mau pergi seperti itu?! Ganti bajumu!” Serunya, karena gadis itu hanya mengenakan baju kemeja besar untuk menutupi pakaian dalamnya.

Hyuna tak mau mengambil resiko kemarahan Hyunseung dan segera mengganti baju. Ia tak perlu merasa risih membuka baju dan kembali memasang bajunya lagi di hadapan Hyunseung karena mereka sudah cukup lama bersama.

Hyunseung menutup resleting tas dan memberikannya pada Hyuna, lalu mengenakan tas ransel berisi bajunya. “Khaja..” Ucapnya sambil menggenggam tangan gadis itu dan menariknya keluar.

=Terowongan bawah Tanah=

Junhyung melangkah pelan menuju sebuah ruangan di terowongan bawah tanah yang sudah tidak di ketahui manusia lagi. Hanya vampir yang bisa menemukan jalan masuknya. Sesungguhnya ia sangat gugup untuk bertemu seseorang di tempat itu, induk utamanya dan Hyunseung, vampir berusia ribuan tahun yang menyebut dirinya King. Akhirnya ia tiba disebuah ruangan besar yang di penuhi belasan vampir pria dan beberapa vampir wanita.

King yang bertubuh tegap, berwajah tampan namun memiliki aura mematikan menoleh kearah Junhyung dan langsung tersenyum, “Kau datang Junhyung..”

Junhyung membungkuk sopan, “Akhirnya kita bertemu lagi, Tuan..”

King memegang bahu Junhyung dan melirik ke sekitar pria itu, “Hyunseung tidak ada?”

Junhyung menelan ludah menghilangkan kegugupannya, “Aku tidak tau Tuan, kami sudah lama berpisah jalan karena dia bertemu vampir wanita dan memutuskan bersamanya..” Jawabnya pelan.

King mengangguk pelan, “Hmm.. Vampir wanita?” Ucapnya lucu dan tertawa kecil.

Vampir-vampir di sekitar King ikut tertawa geli.

Junhyung bingung apa yang ditertawakan King dan yang lainnya, namun berusaha ikut tertawa.

Wajah King kembali serius dan menatap Junhyung, “Dimana dia bertemu vampir wanita itu?”

Junhyung terdiam, “Ne? Oh.. Molaso, dia langsung pergi begitu saja.”

King tersenyum sinis, lalu mencengkeram pundak Junhyung dan menarik wajah pria itu mendekat dengannya.

Junhyung memejamkan matanya menahan sakit.

King mendekatkan bibirnya ke telinga Junhyung, “Bertemu vampir wanita atau mengubah seorang gadis menjadi vampir?” Tanyanya dengan aura mematikan. Kelebihan vampirnya adalah bisa menggunakan kekuatan pikiran.

Junhyung berusaha menenangkan diri, namun ia tak bisa membohongi dirinya jika ia sangat ketakutan.

King melirik wajah Junhyung di sebelahnya.

Tiba-tiba Junhyung merasakan seluruh tubuhnya seperti di tusur ribuan jarum, “Ahhh!!!” Serunya menahan sakit.

“Jawab aku…” Ucap King dengan nada mengancam.

“AHHH!!!” Teriak Junhyung dan jatuh berlutut.

=Sebuah Hutan=

Hyunseung berusaha bergerak secepat yang ia dan Hyuna bisa melewati perbatasan Korea Selatan menuju Utara, ia harus pergi sejauh mungkin sebelum King mengetahui mengenai Hyuna.

Hyuna akhirnya mendapat keberanian untuk bertanya mengapa mereka harus berlari dengan cepat sepanjang malam, “Oppa, kenapa kita pergi seperti ini? Ada seseorang yang mengejarmu?”

Hyunseung mendadak berhenti dan menatap Hyuna, “Turuti saja aku!” Tegasnya.

Hyuna menahan tarikan Hyunseung, “Oppa! Aku tidak akan pergi kemana pun sebelum kau menjawab pertanyaanku!”

Hyunseung tidak tau bagaimana menjelaskan semuanya pada Hyuna. Dia menyadari semua yang terjadi adalah salahnya.

Hyuna memperhatikan raut wajah Hyunseung yang terus memalingkan wajahnya, ia juga dapat merasakan pria itu ketakutan dan merasa tak perdaya. “Oppa, waekeure?” Tanyanya sambil menarik pipi Hyunseung dengan tangannya yang tidak di genggam pria itu agar memandangnya.

Wajah Hyunseung menghadap Hyuna namun tetap memandang ke bawah.

“Oppa, kau harus mengatakan yang sebenarnya padaku..” Pinta Hyuna tak mengerti.

Hyunseung menatap Hyuna menyesal, “Kita sebaiknya meneruskan perjalanan..” Ucapnya dan kembali berbalik sambil menarik Hyuna.

“Ani!” Tegas Hyuna.

Hyunseung berhenti namun tidak berbalik menghadap Hyuna.

“Jika kau ingin aku ikut denganmu, aku harus tau mengapa kita pergi seperti ini? Bukankah biasanya kita pergi setelah 10 tahun berlalu di tempat lama?” Tanya Hyuna meminta penjelasan.

Hyunseung menghela nafas dalam, namun dadanya masih terasa sesak. Tubuhnya bergerak berbalik dan menatap Hyuna, “Kita akan mati jika tetap disini..” Ucapnya pelan.

Hyuna mengerutkan dahinya, “Wae?”

Hyunseung menatap Hyuna dalam, “Hyuna, aku telah melakukan sesuatu kesalahan besar. Aku pasti akan dibunuh oleh induk utama, kau juga akan dibunuh karenaku. Jadi kumohon, kita harus segera pergi..” Ucapnya dengan nada tenang. Meskipun terdengar sangat penuh tekanan.

Hyuna terlihat semakin tak mengerti, “Kesalahan apa oppa? Kenapa kau tak pernah mengatakannya padaku?”

Hyunseung diam sejenak menatap Hyuna, lalu memegang pipi gadis itu dan mengelus pipinya dengan ibu jari.

Dahi Hyuna semakin berkerut melihat tatapan Hyunseung, “Oppa?”

Kepala Hyunseung bergerak maju dan mencium dahi Hyuna sepenuh hati dengan mata terpejam, lalu memeluknya erat. “Saranghae, Hyuna..” Ucapnya pelan.

Hyuna tertegun mendengar ucapan Hyunseung. Memang pria itu pernah mengatakannya beberapa kali selama mereka bersama. Tapi kali ini, kalimat itu terdengar sangat dalam dan penuh arti. Hal itu membuatnya takut, seperti ada sesuatu yang akan memisahkan mereka. “Oppa, waekeure?” Tanyanya sambil memeluk pria itu erat.

Hyunseung melepaskan pelukannya dan kembali memandang Hyuna, “Khaja, kita harus bergegas..” Ucapnya.

Kali ini Hyuna tak mengatakan apa pun lagi dan mengangguk setuju, lalu kembali bergenggaman tangan Hyunseung dan berlari lagi bersamanya.

=Rumah Hyunseung+Hyuna=

King melangkahkan kakinya masuk ke kamar dan memperhatikannya, bibirnya membentuk senyuman sinis. “Mereka sudah pergi..” Ucapnya pelan, lalu berbalik dan memerintahkan vampir-vampir lain menyebar ke seluruh kota dan juga beberapa mengikutinya, termasuk Junhyung.

=Hutan=

Hujan turun sejak pagi membasahi hutan dan juga Hyunseung dan Hyuna. Namun mereka terus melanjutkan perjalanan. Sekarang mereka sudah tiba di bagian hutan terdalam yang jarang di lalui manusia.

Hyuna semakin lemah karena tak mengkonsumsi darah hampir 2 hari. Kakinya terasa bergetar dan jatuh merosot ke rerumputan.

Hyunseung terkejut dan segera menyamakan tingginya dengan Hyuna, “Hyuna!”

Hyuna memandang Hyunseung lemah, “Oppa, aku tidak bisa melanjutkannya lagi..” Ucapnya sambil menggeleng.

“Kau bisa! Aku harus memburu hewan hutan, ayo, lebih baik cari tempat beristirahat..” Ucap Hyunseung dan menggendong Hyuna yang sangat lemah.

Hyunseung menemukan sebuah gua dari reruntuhan batu besar dan membawa Hyuna kesana, lalu membaringkan gadis itu bersandar ke sebuah batu besar. Seluruh tubuh gadis itu basah karena hujan, begitu juga dengannya. Ia merapikan rambut yang menempel di wajah Hyuna dan menatapnya, “Aku tidak akan lama..” Ucapnya, lalu melepas tas ranselnya.

Tangan Hyuna bergerak menahan tangan Hyunseung, membuat pria itu memandangnya. “Oppa, pergilah.. Kau harus menyelamatkan dirimu..” Ucapnya lemah.

Hyunseung menatap Hyuna, ia tak ingin marah saat itu. “Aku akan segera kembali..” Ucapnya datar, lalu segera pergi. Ia juga harus menemukan makanan untuknya agar bisa segera kembali melanjutkan perjalanan.

Satu jam kemudian.

Hyuna membuka matanya merasakan sentuhan lembut di pipinya dan melihat Hyunseung yang basah kuyup di hadapannya. Juga air menetes dari rambut pria itu. Wajah pria itu mendekat sambil memegang kedua pipinya, ia memalingkan wajahnya. “Andwae..” Ucapnya pelan.

“Hyuna, jangan seperti ini sekarang.” Ucap Hyunseung meminta.

Hyuna menahan kedua bahu Hyunseung sambil menatap pria itu dalam, “Oppa, aku hanya akan memperlambatmu. Pergilah..” Ucapnya dengan suara bergetar, bulir air matanya mengalir dari sudut matanya.

Hyunseung menatap Hyuna sedih, “Aku tidak akan pergi tanpa kau..” Ucapnya, “Dengar, tatap mataku dan minum darah yang kuberikan dengan baik..” Ia memegang kedua pipi gadis itu dan kembali mendekatkan wajahnya sambil tetap menatap matanya.

Hyuna menatap kedua mata Hyunseung. Pria itu menggunakan satu jari untuk membuka mulutnya dan mencium bibirnya lembut. Mata pria itu memandunya untuk tetap menjadi dirinya, bahkan ketika ia merasakan darah masuk ke mulut dan turun ke tenggorokannya.

Hyunseung menarik wajahnya sambil menjilat darah dibibirnya, lalu tersenyum sambil mengusap darah di bibir Hyuna dengan ibu jarinya. “Kau lihat, kau bisa melakukannya..”

Hyuna sendiri tak percaya dia baru saja menerima darah dari Hyunseung tanpa membuat pria itu terluka, matanya berkedip-kedip bingung. “Oppa menghipnotisku?”

Hyunseung menggeleng pelan, “Ani, kau berhasil menguasai dirimu.” Ucapnya senang.

“Aku?” Ucap Hyuna tak percaya.

“Ne, bagaimana kau melakukannya?” Tanya Hyunseung.

“Mmm…” Hyuna mencoba mengingat-ingat, “Aku hanya berpikir tentang oppa..”

Hyunseung tersenyum, “Aku? Keure, pikirkan aku terus..” Ucapnya dan mencium pipi Hyuna.

Hyuna tersenyum malu dan memeluk Hyunseung yang terlebih dulu memeluknya, “Aku tak menjamin akan berhasil lain kali..”

Karena hujan tak juga berhenti, Hyunseung memutuskan untuk menetap disana malam itu. Ia menghidupkan api unggun dan mengeringkan baju-baju mereka di tas yang ikut basah.

Hyunseung duduk di sebelah api unggun sambil menambahkan ranting-ranting kering yang berhasil ia dapatkan ke dalam kobaran api. Ia hanya mengenakan celana jeansnya karena bajunya tergantung bersama baju-baju yang lain untuk dikeringkan.

Hyuna yang mengenakan kemeja besar Hyunseung untuk menutupi pakaian dalamnya menghampiri pria itu dan duduk di sebelahnya.

Hyunseung memandang kemeja yang dikenakan Hyuna, “Sudah kering?”

Hyuna tersenyum, “Ne..”

Hyunseung tertegun melihat ekspresi Hyuna, perlahan biburnya membentuk senyuman melihat gadis itu tampak ceria.

“Wae oppa?” Tanya Hyuna ingin tau.

“Aku lupa kapan terakhir kali aku melihatmu ceria seperti ini..” Jawab Hyunseung.

Hyuna tertawa kecil, “Ne..” Ucapnya, lalu menghela nafas dalam dan menatap kedua mata Hyunseung. “Setelah berubah menjadi vampir, aku selalu merasa sedih dan marah..” Ucapnya.

Hyunseung tertegun lagi, “Wae? Apa aku membuatmu menderita?” Tanyanya pelan.

“Aniya.. Errr.. Sedikit, tapi aku tidak menderita karenamu..” Ucap Hyuna cepat, “Mmm.. Aku merasa sedih karena tidak bisa kembali pada keluargaku…” Ucapnya lagi dengan ekspresi sedih dan memandang api unggun di depannya, “Aku hanya bisa memandangi mereka dari jauh. Mereka sangat mengkhawatirkanku karena tak pernah pulang ke rumah. Ibuku menangis setiap hari sambil berdoa agar aku segera pulang..” Sebulir air mengalir dari matanya. “Aku juga tak bisa menghadiri pemakaman mereka, itu membuatku sangat sedih..”

Hyunseung menunduk menyesal.

Hyuna memandang ke jalan masuk gua, memperhatikan hujan yang terus turun. “Aku marah padamu karena membuatku seperti ini, aku marah pada diriku sendiri karena membuatmu harus berburu untukku dan selalu hampir membunuhmu..”

“Miane..” Ucap Hyunseung pelan.

Hyuna memandang Hyunseung dan menyeka air matanya, bibirnya membentuk senyuman dan memeluk lengan pria itu sambil menyandarkan kepalanya.

Hyunseung memandang Hyuna tak mengerti.

Hyuna mendongak memandang Hyunseung dengan senyum manisnya, “Tapi sekarang aku bahagia kau melakukannya oppa..”

Hyunseung masih terlihat bingung, “Ne?”

Senyum Hyuna memudar berubah dengan wajah menyesalnya, “Selama ini, aku hanya berpikir bagaimana caraku keluar dari mimpi buruk ini. Karena itu aku tidak pernah bisa mengendalikan diriku. Tapi beberapa saat lalu aku mulai berpikir tentangmu yang selalu berada disisiku, berkorban untukku meskipun aku tak pernah mengerti. Kau yang selalu mencintaiku..” Ucapan terakhir itu terdengar dalam, “..karena itu, aku merasa bahagia bisa disisimu oppa..”

Hyunseung merasa ingin menangis karena terlalu bahagia, tapi itu terlalu cengeng baginya. Bibirnya membentuk senyuman dan mengelus pipi Hyuna, “Aku sudah pernah berkata, kau akan bisa mengendalikannya..” Ucapnya.

Hyuna memajukan wajahnya dan mencium bibir pria itu.

Hyunseung sempat berpikir kalau Hyuna ingin meminta darah, tapi ternyata hanya ciuman lembut. “Oh.. Kukira kau ingin darah..” Ucapnya dengan nada bercanda.

Hyuna tersenyum malu, “Aniya.. Aku menciummu juga ada alasan lain..” Ucapnya.

Hyunseung tersenyum dan perlahan bergerak mendorong Hyuna berbaring sambil menciumnya lembut.

Hyuna mendorong Hyunseung dengan wajah memerah, “Oppa! Kita di alam terbuka!” Ucapnya tertahan.

“Wae? Bukankah bisa mencoba hal baru?” Canda Hyunseung dan kembali mencium Hyuna.

=Keesokan harinya=

King mengulurkan tangannya dan mengambil sebuah kayu yang setengah terbakar.

Junhyung tertegun menyadari gua dari bebatuan besar itu memang terlihat baru saja di tempati, ‘Ini buruk..’ Batinnya.

Bibir King membentuk senyuman, “Mereka pergi pagi ini, tidak jauh.. Ayo pergi..” Ucapnya dan kembali pergi bersama kelompoknya.

Junhyung memperhatikan tempat itu sekali lagi, lalu segera mengikuti King.

Sementara itu.

Hyunseung menggenggam tangan Hyuna sambil terus berlari. Meskipun jalanan licin karena hujan yang terus turun kemarin, juga gerimis yang masih turun sekarang, ia tetap bergerak.

Hyuna menahan langkahnya dan membuat Hyunseung berhenti, “Oppa! Kemanhe! Kita sudah berlari selama 9 jam penuh!”

Hyunseung memandang Hyuna, “Kita harus terus bergerak, Hyuna. Paling tidak kita harus tiba di Korea Utara sebelum malam dan pergi ke Amerika atau Eropa..” Ucapnya dan kembali menarik Hyuna melangkah bersamanya.

“Oppa…” Hyuna kembali menahan dirinya.

Hyunseung kembali memandang Hyuna kesal, “Hyuna, kita sudah membicarakan ini kemarin. Jangan ulangi lagi.. Ayo pergi!”

“Oppa! Kesalahan apa yang kau perbuat?! Kenapa kita harus berlari seperti penjahat?! Kenapa mereka akan membunuh kita?!” Tanya Hyuna meminta penjelasan. Ia dapat merasakan genggaman Hyunseung menjadi semakin kuat.

“Hyuna.. Aku tidak suka mengulang ucapanku!” Ucap Hyunseung penuh tekanan, Hyuna dapat merasakan sekelilingnya menjadi panas karena pria itu marah.

“Aku akan membuat oppa semakin marah dan lepas kendali!! Lalu oppa akan membunuhku!!!” Seru Hyuna.

Hyunseung tertegun dan mengerutkan dahi dengan tatapan tak percaya pada Hyuna, “Hyuna, kupikir kau tidak akan mengatakan itu lagi..”

“Aku tidak akan mengatakannya jika oppa berhenti menutupi rahasiamu!” Tegas Hyuna.

Hyunseung diam sejenak menatap kedua mata Hyuna, “Aku tidak ingin kau membenciku jika tau apa yang telah kulakukan, Hyuna..”

“Kau tidak percaya padaku?” Tanya Hyuna kesal.

Hyunseung tau Hyuna tak mudah di bohongi. Kepalanya bergerak menunduk, “Kau tau kelebihanku sebagai vampir..” Ucapnya, lalu kembali memandang gadis di hadapannya.

Hyuna menatap Hyunseung dengan mata penasaran dan menunggu jawaban pria itu.

“Aku…” Hyunseung memulai pengakuannya, “..seharusnya tidak mengubah manusia menjadi vampir..” Lanjutnya pelan.

Hyuna diam sejenak mencerna ucapan Hyunseung, matanya perlahan membesar tak percaya. “O..oppa?”

“Yang bisa, dan seharusnya, mengubah manusia menjadi vampir hanya induk utama. Aku bukan induk utama..” Ucap Hyunseung dengan wajah bersalah.

“Jadi…” Hyuna tak percaya apa yang baru saja di katakan Hyunseung, “Karena itu kau selalu menyembunyikanku? Membawaku kesana kemari? Mengurungku di rumah?” Tanyanya tak percaya, bulir air matanya mulai berjatuhan menyadari pria itu melakukan kesalahan besar karenanya.

Hyunseung menunduk menyesal dan mengangguk pelan. “Saat itu kau sekarat, aku tidak tau dimana induk utamaku dan jika menunggunya kembali kau akan mati. Jadi aku memutuskan untuk membuat racun vampir dengan kekuatanku dan mengubahmu..” Ucapnya.

Hyuna benar-benar tak bisa percaya apa yang dikatakan Hyunseung, “Oppa…” Bulir air matanya mengalir lebih deras menyadari itu sambil memegang baju hangat pria itu.

“Karena itu kau tidak sempurna, kau tidak seperti vampir pada umumnya. Dan itu kesalahanku..” Ucap Hyunseung menyesal.

Hyuna menatap Hyunseung tak percaya, “Oppa mempertaruhkan hidupmu untukku?”

Hyunseung memalingkan wajahnya agar Hyuna tak melihat wajah sedihnya.

“Wae? Oppa… Wae??” Tanya Hyuna sambil menangis, tangannya bergerak memukul dada Hyunseung pelan beberapa kali.

Hyunseung tak melakukan apa pun saat Hyuna memukulnya. Meskipun tak terasa sakit, tapi ia merasa hatinya remuk karena ia membuat gadisnya menangis.

“Seharusnya kau membiarkanku mati! Untuk apa kau mempertaruhkan nyawamu seperti ini?!” Tangis Hyuna.

Bulir air jatuh dari mata Hyunseung. Ia memandang Hyuna dalam dan memegang kedua pipi gadis itu agar menatapnya, “Aku tidak ingin menjadi vampir.. Aku ingin hidupku berjalan normal seperti biasa, tapi aku tak punya pilihan..” Ucapnya, “Aku juga ingin membiarkanmu mati saat itu, tapi aku tidak bisa melepaskan cintaku padamu begitu saja. Aku harus membuatmu tetap disisiku. Karena aku benar-benar mencintaimu.. Jebal Hyuna..”

Hyuna menatap kedua mata Hyunseung bergantian, membaca pesan cinta yang disampaikan tatapan pria itu.

“Kumohon, kita harus pergi.. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu. Aku tidak keberatan berburu untukmu sepanjang hidupku, aku akan melakukan semuanya untukmu.” Ucap Hyunseung bersungguh-sungguh.

Hyuna benar-benar merasakan ketulusan Hyunseung, kebenaran tentang perasaan pria itu padanya. Kepalanya mengangguk pelan menandakan ia setuju dengan apa yang pria itu katakan.

Hyunseung lega Hyuna setuju. “Ayo, kita harus pergi..” Ucapnya dan kembali menggenggam tangan gadis itu dan membawanya pergi.

Setelah beberapa jam perjalanan.

Hyunseung menyadari langkah Hyuna melemah, juga aura gadis itu terasa redup. Ia berhenti dan menoleh ke belakang. Gadis itu memang terlihat akan mati kapan saja.

Hyuna memandang Hyunseung bingung, “Waeyo oppa?”

Hyunseung menatap Hyuna kesal, “Jika kau mulai merasa haus, sedikit saja! Katakan padaku!” Tegasnya.

Hyuna menunduk menyesal, “Aku tidak mau mengganggumu..”

Hyunseung memegang pipi Hyuna dan menunduk, “Kemari..”

Hyuna meninggikan dagunya dan memejamkan mata ketika merasakan bibir Hyunseung menyentuh bibirnya. Meskipun itu tidak bisa dikatakan berciuman karena ia mengambil darah dari pria itu, tapi ia selalu memejamkan mata sebagai kebiasaan.

Hyunseung menarik wajahnya dan tersenyum melihat Hyuna tidak berekspresi shock seperti biasa, “Kau semakin baik..” Ucapnya.

Hyuna tersenyum malu.

“Kau ingin melanjutkan atau beristirahat? Matahari sudah mulai turun..” Ucap Hyunseung.

Hyuna memandang sekitar, gerimis mulai turun lagi. Juga pakaiannya kembali basah kuyup. Begitu juga rambutnya. “Mmm.. Mungkin beristirahat saja. Aku tidak nyaman dengan pakaian basah ini..” Ucapnya sambil memegang bajunya.

Hyunseung mengangguk, “Ne, ayo.. Sepertinya aku melihat gua disana..” Ucapnya sambil memimpin jalan.

Hyuna tertegun, “Gua?”

Hyunseung berhenti dan memandang Hyuna bingung, “Wae?”

Hyuna memandang Hyunseung dengan mata berkedip-kedip, kedua pipinya merona dan memalingkan wajah. “Aniya..”

Hyunseung menatap Hyuna curiga, namun sepertinya ia bisa menebak mengapa gadis itu tampak merona. Bibirnya membentuk senyuman jahil, “Wae? Kau memikirkan yang kita lakukan kemarin?”

Hyuna menatap Hyunseung kaget, wajahnya berubah merah padam. “Ne? Aniya!!”

Hyunseung menahan tawa melihat ekspresi Hyuna, “Khaja..” Ucapnya sambil kembali berjalan.

Hyuna memegang kedua pipinya yang terasa panas sambil mengikuti Hyunseung.

“Kita juga bisa melakukannya lagi nanti..” Ucap Hyunseung sambil melirik Hyuna tanpa menghentikan langkahnya.

Hyuna berhenti mendengar ucapan Hyunseung, “Oppa!” Serunya malu.

Hyunseung tertawa.

Malam itu.

Hyunseung berbaring dalam gua tak jauh dari api unggun. Satu tangannya terlipat dan menjadi bantalan kepala meskipun ia menjadikan tas ranselnya sebagai bantal. Dari sana ia bisa melihat langit malam yang berkabut. Tak tampak satu bintang pun disana.

“Hmmm..” Gumam Hyuna yang tidur didada Hyunseung.

Hyunseung melirik Hyuna dan mengelus rambutnya. Meskipun mengenakan pakaian hangat mereka tak merasakan apa pun di kulitnya. Udara memang terasa dingin, tapi ia bisa menahannya. Ditengah keheningan itu, ia seperti mendengar sesuatu. Dahinya berkerut dan berusaha mendengarkan lebih jelas, namun suara rintik hujan yang masih menetes membuat pendengarannya terganggu. ‘Apa perasaanku?’ Batinnya tak mengerti. Beberapa menit kemudian ia kembali merasa mendengar sesuatu, bukan hanya itu, ia merasakan kedatangan makhluk sepertinya. Bukan hanya satu, ada belasan! Matanya membesar dan langsung bergerak bangkit sambil menahan tubuh Hyuna agar tak berguling jatuh.

Hyuna terbangun dan memandang Hyunseung bingung, “Oppa, wae?”

Hyunseung menatap Hyuna serius, “Hyuna, kita harus pergi. Ayo..” Ucapnya dan mematikan api unggun.

“Ne? Wae?” Tanya Hyuna tak mengerti.

“Cepat! Kita tak punya waktu!” Jawab Hyunseung sambil mengenakan ranselnya, lalu menarik Hyuna bangkit sambil membawa ransel gadis itu dan langsung berjalan cepat keluar gua.

Sebelum mereka menginjak keluar gua, belasan orang sudah bermunculan disana.

Hyunseung terkejut dan langsung menarik Hyuna ke belakang tubuhnya.

Hyuna juga terkejut dan bisa merasakan kepanikan Hyunseung.

King tersenyum melihat Hyunseung, “Hyunseung… Wuaaa.. Kita bertemu lagi..”

Hyunseung menatap King ngeri, ia tak mungkin lari dengan jumlah orang sebanyak itu.

Mata Junhyung membesar melihat Hyunseung dan Hyuna disana.

King memandang Hyuna yang bersembunyi dibalik tubuh Hyunseung, “Gadismu cantik, Hyunseung.”

“Tuan! Aku tau apa yang kulakukan salah. Kumohon maafkan aku kali ini..” Mohon Hyunseung.

King tersenyum dan mengelus sebelah alisnya, “Ne? Memaafkanmu? Memangnya apa yang kau lakukan?” Tanyanya lucu.

Hyunseung menelan ludah, “Aku… Aku mengubah kekasihku menjadi vampir..” Akunya.

King tertawa, “Kau tau kesalahan itu tak termaafkan Hyunseung..”

“Kumohon, Tuan..” Ucap Hyunseung.

King menatap Hyunseung dengan senyuman sinisnya.

Tiba-tiba Hyunseung merasa tulang punggungnya seperti di gerogoti sesuatu yang menyakitkan, matanya terpejam dan memegang pundaknya. “Aahhkk!!”

Hyuna menatap Hyunseung kaget, “Oppa? Waekeure?” Tanyanya.

Junhyung memandang King yang masih menatap Hyunseung, berarti itu kekuatan induk utamanya.

“Ahhhhkkkkk!!!” Teriak Hyunseung dan jatuh berlutut.

“Oppa!!” Seru Hyuna panik.

“Bawa gadis itu padaku..” Ucap King pelan.

4 orang bergerak maju. Dua untuk memegangi Hyunseung, dua lagi untuk menarik Hyuna.

“Apa yang kalian lakukan?! Pergi!!” Seru Hyuna sambil melindungi Hyunseung. Namun mereka terlalu kuat. “Kyaaaaa!!! Oppa!! Andwae!!” Teriaknya ketakutan.

“Ahhk!! Hyuna!!” Hyunseung memegang tangan Hyuna namun rasa sakitnya meningkat. “AAHHKKK!!!”

“Lepaskan aku!!” Teriak Hyuna ketika di seret menghampiri King.

“Hyu.. Hyuna…” Ucap Hyunseung ditengah rasa sakitnya, sekali lagi rasa sakit itu kembali meningkat. “Ahhh!!!” Darah keluar dari kedua telinga, hidung dan mulutnya. Karena isi perutnya juga terasa di gerogoti. Namun matanya tetap berusaha memandang kearah Hyuna.

King melepaskan Hyunseung dan memandang Hyuna.

Hyunseung tidak merasakan sakit lagi namun tubuhnya terasa remuk. Ia hampir berguling lemas jika kedua vampir itu tidak memegang kedua lengannya.

Hyuna menatap King ngeri dengan air mata berjatuhan.

“Jangan takut, sayang. Kau tidak akan apa-apa..” Ucap King, lalu memegang bahu Hyuna. Kedua vampir yang memegang gadis itu melepaskannya.

Hyuna ingin berlari menghampiri Hyunseung, namun tubuhnya tak bisa bergerak. Rasa takutnya bertambah ratusan kali lipat.

King tersenyum dan membimbing Hyuna berdiri membelakanginya. Dari bahu gadis itu ia memandang Hyunseung yang masih kesakitan, “Kau harus melihat ini Hyunseung..” Ucapnya.

Hyunseung memandang Hyuna yang ketakutan. Matanya membesar melihat King menarik baju yang dikenakan gadis itu disekitar bahu hingga semua orang bisa melihat bahu putih mulus Hyuna. “Tuan?”

King tersenyum sinis pada Hyunseung. Satu tangannya memegang bahu Hyuna, satu lagi memegang dagu gadis itu dari belakang.

Mata Hyunseung melotot melihat bola mata King berubah hitam legam dan terlihat gigi taringnya memanjang, “Andwae!!!” Teriaknya.

Hyuna memejamkan mata dan meringis kesakitan ketika merasakan sepasang taring panjang menusuk kulitnya, juga menghisap darahnya perlahan. “Ahh!!” Rintihnya.

Hyunseung berusaha bangkit dan menarik tangannya, tapi ia tak cukup kuat untuk itu. “Tuan!! Jangan!!!” Teriaknya.

Hyuna bisa menggerakkan tubuhnya lagi, namun tak bisa menghentikan King. Tubuhnya menjadi lemah seiring darah yang dihisap oleh vampir itu. “Ahh.. Lepaskan..” Rintihnya lemah sambil berusaha melepaskan diri, meskipun tak ada gunanya.

“Hyuna…” Ucap Hyunseung sedih, ia merasa semua ini salahnya karena tak bisa melakukan apa pun.

Hyuna memandang Hyunseung dengan bulir air mata berjatuhan, ‘Miane oppa..’ Batinnya. Sepasang gigi taring tadi keluar dari kulitnya, juga pegangan pada bahu dan dagunya. Tubuhnya merosot jatuh dan terbaring di bebatuan. Ia sangat lemah hingga bisa mati kapan saja jika King menyerangnya sekali lagi.

Hyunseung menatap Hyuna tak percaya. Bulir air matanya berjatuhan melihat gadis yang ia cintai sekarat.

Junhyung memandang Hyuna ngeri dan melirik King, lalu memandang Hyunseung menyesal.

King berjongkok di sisi Hyuna sambil memperhatikan kulit mulusnya. Senyuman kembali muncul di bibirnya dan melirik Hyunseung, “Hyunseung, apa kau juga tidur dengannya?”

Hyunseung merasakan sesuatu yang lain ketika King menanyakan itu.

Senyuman King berubah menjadi seringai lebar, “Anak-anak.. Kalian mau mencoba gadis cantik ini?” Tanyanya pada vampir lain sambil tetap menatap Hyunseung.

Hyunseung melotot, “Andwae!! Jangan berani menyentuhnya!!” Teriaknya marah.

King bergerak bangkit dan melangkah ke arah Hyunseung.

Hyunseung merasakan pegangan di kedua lenganya terlepas, namun tubuhnya tak bisa bergerak. Matanya menatap King yang bergerak menghampirinya, lalu berdiri dibelakangnya yang masih berlutut.

King memberi isyarat pada vampir lain untuk bergerak.

Hyunseung ingin berteriak dan memaki para vampir itu karena mulai mendekati Hyuna. Juga menyentuh tubuhnya. Tapi ia seperti boneka lilin yang tak bisa bergerak.

King tersenyum merasakan kepanikan Hyunseung.

Hyuna yang setengah sadar merasakan sentuhan tangan pria di dada dan perutnya, juga seseorang merobek baju hangatnya dari depan. Ia berusaha membuka mata dan terkejut melihat beberapa vampir menyentuh dan menjilati tubuhnya, juga beberapanya sudah menancapkan taring di paha, perut dan dadanya. Matanya membesar dan berusaha melawan, namun tenaganya tak tersisa untuk menyakiti mereka. Kepalanya menoleh kepada Hyunseung yang menatapnya dengan wajah bersalah.

Bulir air mata Hyunseung mengalir melihat Hyuna menatapnya meminta pertolongan, tapi ia tak bisa bergerak.

King tertawa, “Kau harus melihat ini sebelum kematianmu, Hyunseung..” Ucapnya.

Kemarahan Hyunseung memuncak. Ia tau kekuatannya bukan hanya sekedar membentuk enzim di mulutnya. Dengan semua kemarahan menyaksikan kekasihnya di sentuh pada vampir itu, ia berusaha melindungi dirinya. Berusaha menjadi kuat untuk melawan King. Jika bukan dia, Hyuna akan menjadi budak nafsu para vampir itu dan mati mengenaskan. Cairan hangat seperti menjalari seluru tubuhnya secara perlahan, juga bisa terlihat hawa panas disekelilingnya. Senyuman sinis muncul di bibirnya, merasakan King tak lagi menguasai tubuhnya. Perlahan ia bergerak bangkit.

King yang menikmati pemandangan di depannya terkejut melihat Hyunseung bangkit, juga berbalik menatapnya.

“Hyunseung?!” Seru Junhyung tak percaya.

Para vampir yang tadi sibuk dengan tubuh Hyuna memandang ke arah Hyunseung kaget. Karena tak ada yang bisa menahan kekuatan King sebelumnya.

King tersenyum sinis, “Melawanku, Hyunseung?” Tanyanya. Ia sempat tertegun melihat kobaran api kemarahan dalam tatapan Hyunseung.

Hyunseung langsung menyerang King. Membanting dan menghancurkan tubuh induknya itu.

King terkejut Hyunseung punya kekuatan seperti itu, namun ia tak akan kalah. Tulang rusuknya remuk karena Hyunseung membantingnya dengan sangat kuat, tapi tak perlu waktu lama untuk menyembuhkannya. Matanya berubah hitam legam dan membalas serangan Hyunseung.

Pertarungan sengit terjadi di antara Hyunseung dan King, bahkan membuat gua batu itu hampir runtuh. Mereka saling membenturkan satu sama lain ke dinding gua, membuat bekas yang ditinggalkan menjadi remuk dan beberapa serpihan batu terjatuh dari atas.

Para vampir yang manyadari gua itu akan segera runtuh langsung menyelamatkan diri keluar gua.

Junhyung tidak tau harus melakukan apa, tidak mungkin ia selamat jika membantu Hyunseung. Kepalanya menoleh kearah Hyuna yang berlumuran darah dan terlihat tak sadarkan diri. Ia kembali memandang Hyunseung yang masih bertarung sengit. Ia kagum pada pria itu karena benar-benar mempertaruhkan semuanya demi gadis yang dincintainya, jadi ia putuskan untuk menyelamatkan Hyuna. Ia membuka baju luarnya dan menutupi bagian baju hangat gadis itu yang sobek dan membawanya keluar dari gua untuk mencari tempat aman.

King menarik kerah baju Hyunseung dan menalangkan tinjunya, membuat sebelah mata pria itu hancur dan tulang tengkoraknya retak. “Kau akan mati disini!!”

Hyunseung meringis sesaat, lalu kembali menatap King dengan satu matanya. “Ani! Kau yang akan mati disini!” Ucapnya dingin.

Mata King membesar melihat mata dan tulang tengkorak Hyunseung pulih dalam hitungan detik.

Hyunseung mendongakkan kepala King dengan mendorong dagu pria itu keatas, lalu mengeluarkan taringnya dan menggigit leher pria itu.

King benar-benar terkejut karena kecepatan Hyunseung.

Hyunseung merobek tenggorokan King dengan taringnya, menghisap darahnya dan mematahkan lehernya. Juga memutuskan hubungan antara kepala dan tubuh pria itu. Bola matanya berubah merah menatap kepala King yang sekarang ada ditangannya dan tersenyum puas, “Kau tamat King!” Ucapnya, lalu melempar kepala itu ke batu-batu yang terus berjatuhan dari atas. Jika ia perhitungkan, dalam satu menit semua gua itu akan runtuh.

Dari luar. Junhyung dan para vampir lain memperhatikan gua yang sudah dipenuhi batu dan tidak ada tanda-tanda Hyunseung atau pun King akan keluar. Namun terlihat bebatuan terlontar keluar seperti di pukul sesuatu dan muncul seseorang dengan mulut dan lehernya berlumuran darah.

Mata semuanya membesar melihat Hyunseung keluar dengan mata berwarna merah menyala, itu menandakan ia memiliki keluatan induk utama sekarang.

Hyunseung berhenti dan menatap para vampir lain, “KING SUDAH MATI!! AKULAH INDUK UTAMA SEKARANG!!” Serunya lantang.

Junhyung tersenyum kagum pada temannya itu. Tak percaya vampir yang berubah bersamanya akan mengalahkan induk utama mereka yang terkenal kuat dan tak terkalahkan.

“PERGI SEBELUM AKU MEMATAHKAN LEHER KALIAN!!!” Teriak Hyunseung marah. Dengan itu, tak perlu menunggu lama hingga ia tak melihat seorang pun dari para vampir tadi. Kepalanya menoleh kearah Junhyung dan melihat pria itu duduk disisi Hyuna yang terbaring lemah, “Hyuna!” Serunya sambil menghampiri gadis itu.

“Dia masih hidup, tapi sangat lemah..” Ucap Junhyung memberitau.

Hyunseung menatap Junhyung penuh arti, “Terima kasih menjaganya untukku..”

Junhyung mengangguk, “Berikan darah untuknya, ia harus menyembuhkan dirinya sendiri..”

Hyunseung menatap Hyuna dan mengangkat gadis itu ke lengannya, lalu mencium bibirnya lembut dan memberikan darah padanya.

Junhyung memperhatikan apa yang dilakukan Hyunseung. Sebenarnya ini pertama kali ia melihat bagaimana temannya itu memberikan darah pada Hyuna.

Hyunseung menarik wajahnya dan memperhatikan apa yang akan terjadi.

Perlahan, luka-luka gigitan di tubuh Hyuna sembuh dan juga memar-memar yang terlihat.

Hyunseung lega melihat luka terbuka akibat gigitan King di leher Hyuna kembali menutup dan sembuh seperti tak pernah terluka sebelumnya. “Hyuna..” Panggilnya lembut.

Hyuna mengerutkan dahi dan membuka matanya perlahan, bibirnya membentuk senyuman Hyunseung berhasil menyelamatkan mereka dari King. “Oppa..” Ucapnya dan bergerak memeluk leher pria itu.

Hyunseung tersenyum dan memeluk Hyuna erat.

=Rumah=

Hyunseung tak merasa banyak berubah setelah menyandang prediket ‘induk utama’, ia bahkan tak tertarik mengubah orang-orang menjadi vampir untuk membentuk koloninya sendiri. Baginya, memiliki Hyuna disisinya sudah sangat sempurna. Bibirnya membentuk senyuman melirik gadis yang membaringkan kepala ke dada bidangnya, satu tangannya menyisir rambut gadis itu dengan jemarinya.

Hyuna sedang asik dengan ponsel barunya, karena sekarang tak perlu bersembunyi lagi, ia bisa berbaur.

Hyunseung merasa terganggu karena Hyuna selalu sibuk dengan ponselnya, tangannya bergerak mengambil ponsel itu.

Hyuna memandang Hyunseung bingung, “Wae oppa? Aku sedang twitteran..” Protesnya.

Dahi Hyunseung berkerut, “Apa ponselmu lebih penting sekarang dari padaku?”

Hyuna diam sejenak, lalu menahan tawa. “Aniya.. Tentu saja oppa lebih penting dari apa pun di dunia ini..”

Hyunseung tersenyum dan kembali memberikan ponsel Hyuna.

Hyuna meletakkan ponselnya ke bawah bantal dan menelungkup di atas tubuh Hyunseung sambil tersenyum manis.

Hyunseung senang Hyuna memilih untuk memperhatikannya. Satu tangannya menyelipkan rambut gadis itu ke belakang telinga dan memegang pipinya, “Kau tau? Sekarang aku adalah induk utama, aku bisa memberikan racun vampir dan membuatmu menjadi vampir sempurna.” Ucapnya sambil tersenyum.

Hyuna berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Shiro..”

Senyum Hyunseung menghilang, “Wae?”

Hyuna tersenyum malu dan mendekatkan wajahnya ke wajah Hyunseung, “Aku ingin oppa yang memberikannya untukku..” Ucapnya dengan pipi merona dan mengecup bibir pria itu lembut, lalu tertawa malu.

Hyunseung tersenyum lebar dan mengelus rambut Hyuna, “Aku tau kau akan mengatakannya..” Ucapnya, lalu menarik wajah gadis itu lebih turun dan menciumnya dalam.

===THE END===

Advertisements

17 thoughts on “Never Let You Die!!

  1. hanna sumpah ff mu nie keren sangat (y)

    aq jd inget film ecplise bella swan am edward cullen 🙂
    but ini jelas berbeda walau ada kesamaan sedikit , hhhee
    but sumpah ini keren (y)
    gg nyangka bakal happy ending 😀
    awal” baca agak sedikit bingung but setelah baca mppe akhir , ngerti am alur dan maksud nya apa ^^
    but aq agak bingung hanna , kenapa waktu itu hyunseung ngejar hyuna ???
    agak bingung , hhheee
    *telmigue* -_-
    pokok nya ff mu nie DAEBAK (Y)
    apalgy ff yg there’s no tomorrow wah itu DAEBAK sangat , kl liat mv TM yg now aq pasti inget ff mu >_<
    GOMAWO hanna udda share and bikin ff yg DAEBAK (Y)
    ditunggu juga ff 2hyun karya km lain nya ^^
    FIGHTING \^_^/

  2. huaaahhh FF nya keren.. sumpah aku ngefans bgt ama kmu authornim.. :’) hyuna ama hyunseung jd vampire >< please buat lagi yah FF hyuna hyunseung nya.. psti laku keras deh.. hehe Fighting!! i cant wait next project nya.. ^~^

  3. Kemaren seharian baca semua ff 2hyun dari yg oneshot sampe babyboo season 2 ternyata author yg punya blog hannasongfanfict.blogspot.com ya? Pantes ff nya bagus dan menguras air mata haha aku nunggu author post di blog itu tapi ternyata pindah kesini. Aku tunggu ya ff 2hyun yg lainnya 😀 hehe annyeong~

    Btw, salam kenal juga aku termasuk silent reader sih ><

  4. Kemaren baru nemu blog ini dan seharian baca ff 2hyun dari yg oneshot sampe babyboo season 2.. ternyata author yg punya blog hannasongfanfict.blogspot.com ya? Pantes ff nya bagus dan menguras air mata haha aku nungguin author post ff di blog itu tapi ternyata pindah kesini. Jangan bosen2 bikin ff 2hyun lagi ya.. (maklum 2hyun shipper) >< baru kali ini baca ff comment hehe annyeong~

    1. Kemaren baru nemu blog ini dan seharian baca ff 2hyun dari yg oneshot sampe babyboo season 2.. ternyata author yg punya blog hannasongfanfict.blogspot.com ya? Pantes ff nya bagus dan menguras air mata haha aku nungguin author post ff di blog itu tapi ternyata pindah kesini. Jangan bosen2 bikin ff 2hyun lagi ya.. (maklum 2hyun shipper) >< baru kali ini baca ff comment hehe annyeong~

    2. Author-nim sebelumnya maaf ngerepotin comment yg 2 terakhir ini diapus aja ya aku ga ngerti kenapa comment aku kepotong jadi ini diapus aja ya.. makasih ><

  5. Author~ !!! Kenapa sih… Kalo bikin ff2 kayak gini selalu keren!!? ><
    woah hyunseung bisa ampe sekuat itu demi hyuna… O_o
    tapi syukur deh… Akhirnya hyuna ama hyunseung bisa bahagia 😀

  6. Daebak!!!!!!!!!!! Awalnya gak terlalu tertarik sama FF yg ini , tapi setelah baca , gak nyesel deh !!

  7. Hwuuaaa seru bangettt aku ga sengaja ngunjingin ini blog eh ketemu deh ff ini

    Seru bangettt,, penulisan sama bahasanya juga gampang mengerti juga

    Konfliknya seru lagi,, aku kira bakal sad ending ga taunya happy

    Oh ya aku minta judul judul ff kamu dong kalo emang udah bikin ff selain ini,, aku suka sama cara penulisannya

    Ditunggu karya selanjutnya
    Salam kenal hanna-ssi
    Hwaiting ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s