Uncategorized

Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 33]

–Its Really Hurt–

 33

Oh.. this is the end?

Am I no longer in your heart now?

When I, I think about you..

It hurts, hurts, hurts so much..

(2ne1 – It Hurts)

=Kamar Naeun=

Taemin berbaring di tempat tidur sambil memegang dahinya dengan mata terpejam, Naeun menempelkan kantung es batu ke memar di sudut bibirnya.

“Oppa, kenapa tidak menghindari pukulan Baekhyun?” Tanya Naeun heran.

Taemin membuka mata dan memandang Naeun, “Dia memukulku secara tiba-tiba. Aku tidak sempat menghindarinya..”

Naeun menatap Taemin sebal, “Cih..bilang saja kau tidak bisa berkelahi kan?”

Taemin menghela nafas dalam dan bergerak bangkit sambil menatap Naeun, “Dengar, apa kau tidak akan bertanya mengapa aku menciummu tadi?”

Naeun tertegun dan langsung merasa canggung, “Mmm.. W..wae?”

Taemin menatap Naeun serius, “Kau tidak mengerti?”

“Ani! Sudahlah! Jika sudah lebih baik oppa bisa pergi!” Ucap Naeun sebal dan bergerak bangkit.

Taemin memandang Naeun tak mengerti, “Ahh.. Geotjimal.. Kau jelas tau apa maksudku melakukan itu..”

Naeun berbalik dan menatap Taemin kesal, “Jika sudah tau kenapa masih bertanya?!”

Taemin tertegun dengan tatapan tak percaya pada Naeun, lalu tersenyum dan meloncat dari tempat tidur. “Jeongmalyo?!” Tanyanya sambil memegang kedua bahu Naeun.

Naeun memalingkan wajahnya malu.

Taemin sangat senang melihat ekspresi Naeun dan memeluknya, “Hmm.. Akhirnya kau mengakui perasaanmu..”

Naeun tak bisa menahan senyumnya dan perlahan memeluk Taemin.

Taemin melepaskan pelukannya dan memandang Naeun sambil tersenyum, “Apa kita berbaikan sekarang?”

Naeun tersenyum malu sambil mengangguk.

Taemin teringat dengan misi yang dia bawa, “Oh.. Naeun-a, kau harus membantuku..”

Naeun memandang Taemin bingung, “Waeyo oppa?”

Taemin tersenyum evil.

=Kampus=

“Ne? Micheoso?!” Tanya Baekhyun kesal begitu mendengar cerita Naeun.

Naeun memegang lengan Baekhyun dan menatapnya memelas, “Kumohon, kita harus melakukan ini untuk Hyuna!”

Baekhyun memutar bola matanya kesal, “Mwo? Ya Son Naeun!”

“Ayolah Baekhyun.. Sampai kapan Sohyun harus menjadi korban atas kekeras kepalaan kedua orang tuanya?!” Tanya Naeun berusaha mempengaruhi Baekhyun.

“Sohyun baik-baik saja! Dia akan mengerti kondisi orangtuanya nanti…” Jawab Baekhyun kesal.

“Kapan? Setelah dia merasa tidak adil karena kedua orangtuanya terlalu egois?!” Seru Naeun ikut kesal.

Baekhyun menatap Naeun kesal, “Naeun! Apa kau sekarang kembali berpihak pada kekasihmu itu?!”

Taemin yang sejak tadi berdiri di belakang kedua anak muda itu spontan menatap Baekhyun kesal.

Baekhyun membalas tatapan Taemin beberapa saat dan kembali menatap Naeun, “Aku tidak akan melakukannya!”

“Baekhyun-a..” Rengek Naeun seperti anak kecil.

“Aissh! Aku tidak akan melakukannya!” Tegas Baekhyun lagi.

Naeun berhenti merengek dan melepaskan tangannya dari lengan Baekhyun, “Keure, jika suatu saat nanti Sohyun merasa tersakiti karena hal ini. Aku akan memberitaunya jika semua ini salahmu!!” Ancamnya.

Baekhyun tertegun mendengar ucapan Naeun, “Mwo? Bagaimana mungkin salahku?!”

“Ne! Karena kau tidak mau menyatukan kedua orangtuanya lagi!” Ucap Naeun kesal, lalu berbalik dan menarik Taemin pergi.

Baekhyun mengerutkan dahi memperhatikan Naeun pergi, “Mwoya?” Gumamnya tak mengerti.

=Kamar Studio=

Baekhyun berencana ingin bermain dengan Sohyun agar Hyuna bisa beristirahat, namun langkahnya terhenti melihat Hyunseung berjalan bersama temannya dan Sohyun masuk ke gedung.

Sohyun berjalan sambil menggandeng tangan Hyuna, satu tangannya lagi terulur untuk memegang tangan Hyunseung.

Hyuna tertegun melihat Sohyun tertawa lucu memandang dirinya dan Hyunseung, lalu melirik pria itu.

Hyunseung tersenyum pada Sohyun dan memandang Hyuna canggung.

Tawa Sohyun perlahan menghilang dan memandang kedua orangtuanya bingung.

Hyuna tersenyum dan menggendong Sohyun, “Khaja..” Ajaknya dan berjalan duluan.

“Hmm.. Appa..” Rengek Sohyun sambil menunjuk Hyunseung yang masih berdiri di tempatnya.

Hyuna berhenti dan memandang Hyunseung.

Hyunseung menghampiri Hyuna dan putrinya, “Ne, appa bersamamu..” Ucapnya.

Tangan kecil Sohyun memegang tangan Hyunseung dan tak mau melepaskannya agar ayahnya tetap disisi ibunya.

Baekhyun menghela nafas dalam dan mengelus belakang kepalanya, “Sohyun memang masih sangat kecil, tapi dia tau keadaan orangtuanya..” Gumamnya prihatin.

Malam itu.

Hyuna keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia memeriksa Sohyun yang sudah terlelap dan melangkah ke kulkas untuk mengambil minum. Kepalanya menoleh kepada Hyunseung yang berbaring di sofa dengan mata terpejam sambil menuang air ke gelas. Ia menghela nafas dalam dan meneguk air di gelas, lalu meletakkannya di wastafel dan mencuci perlengkapan makan yang kotor. Baru beranjak ke tempat tidur sambil memantikan lampu dan berbaring di sebelah Sohyun. Namun beberapa detik memejamkan mata, ia kembali membukanya dan melirik Hyunseung yang tak juga bergerak. Dahinya berkerut, karena pria itu tak mungkin tidur di sofa tanpa pertengkaran terlebih dulu dengannya. Ia bangkit dan menghampiri pria itu.

Dahi Hyunseung tampak berkerut meskipun terlihat tidur.

“Oppa?” Panggil Hyuna, tak ada respon. “Oppa?” Panggilnya lagi sambil mengguncang tubuh pria itu.

“Hmmm..” Gumam Hyunseung pelan dan membuka matanya perlahan, namun hanya sebuah celah karena dahinya malah semakin berkerut.

Hyuna memandang Hyunseung bingung, “Kenapa kau mengerutkan dahi seperti itu?”

Hyunseung memejamkan mata sambil mengelus dahinya, “Kepalaku sakit lagi..” Gumamnya.

“Ne? Bukankah matamu sudah pulih, kenapa kepalamu masih sering sakit?” Tanya Hyuna khawatir, “Dimana obat penahan rasa sakitmu?” Tanyanya.

Hyunseung mengelus nafas berat, “Aku meninggalkannya di mobil.”

Hyuna menatap Hyunseung tak percaya, “Mwo? Ahh.. Kau selalu seperti itu! Aku akan mengambilnya!” Ucapnya kesal dan bangkit.

Hyunseung membuka mata dan langsung menahan tangan Hyuna, namun karena gerakan cepat kepalanya terasa semakin sakit. “Ahh!!” Rintihnya dengan mata terpejam.

Hyuna terkejut, “Wae? Biarkan aku mengambil obatmu!”

Hyunseung memandang Hyuna dengan celah matanya, “Andwae.. Ini sudah malam, kembali tidur saja..”

Hyuna tertegun menatap Hyunseung, ekspresinya berubah marah. Lalu melepaskan tangan pria itu dari tangannya, “Ne! Kau tidak ingin aku melakukan apa pun untukmu.. Keure!” Ucapnya dingin dan berjalan cepat ke tempat tidur dan berbaring sambil menyelimuti dirinya dan Sohyun.

Hyunseung menghela nafas dalam melihat Hyuna kembali marah, ‘Aniya, sangat berbahaya diluar!’ Batinnya kesal. Matanya kembali terpejam dan berusaha menenangkan pikirannya.

=Rapat di Rumah Naeun=

“Baiklah! Ini rencananya!” Ucap Eunji sambil membagikan kertas-kertas berisi langkah-langkah tahap rencananya pada Naeun, Taemin, Key dan Baekhyun. Mereka langsung membaca isinya.

“Wuaa.. Kau hebat sekali..” Ucap Taemin kagum.

Eunji tersenyum, “Keurom..” Jawabnya bangga dan memandang Baekhyun, “Baiklah Baekhyun, kau yang bergerak pertama kali..”

Baekhyun mengangguk mengerti, “Ne!”

=Beberapa Hari Kemudian=

Hyuna mendengar seseorang menekan bel pintu dan segera membukanya, bibirnya membentuk senyuman melihat Baekhyun. “Hei Baekhyun..” Sapanya.

Baekhyun tersenyum dan melangkah masuk, “Mana Soh…” Ucapannya terputus melihat Hyunseung duduk di sofa bersama Sohyun.

“Kau datang?” Tanya Hyunseung datar.

Hyuna menghampiri Baekhyun, “Baekhyun-a, ini..”

Baekhyun menatap Hyuna kesal, “Hyuna, kenapa dia masih disini?! Kau bilang dia akan segera pergi?! Apa-apaan ini?!”

“Ne, miane.. Aku hanya..”

Hyunseung berdiri sambil menatap Baekhyun kesal, “Ya! Siapa yang mengijinkanmu membentaknya?!”

Baekhyun menatap Hyunseung, “Aku membiarkan Hyuna tinggal disini karena dia akan segera bercerai!” Ucapnya, lalu kembali memandang Hyuna. “Hyuna! Perceraian bukan main-main! Jika kau ingin berpisah, kenapa masih tinggal bersamanya?!?!” Tanyanya marah.

Hyuna menggigit bibir bawahnya menyesal, “Aniya, bukan begitu..”

“Ya! Tentu saja aku disini!!” Seru Hyunseung kesal.

Baekhyun menatap Hyunseung kesal, “Ya, aku menyediakan tempat ini untuk Hyuna dan Sohyun. Aku tidak akan membiarkanmu tinggal disini bersamanya!”

Hyuna tertegun mendengar ucapan Baekhyun dan memandang Hyunseung.

Hyunseung tersenyum sinis, “Apa hakmu melarangku? Jika kau keberatan aku tinggal di tempatmu, minta temanmu ini kembali ke rumah!”

“Rumah mana?! Dia tidak akan kembali ke rumah manapun! Kalian akan berpisah!” Tegas Baekhyun.

Hyunseung memutar bola matanya kesal.

“Ya, kenapa kau berbicara seperti itu di depan Sohyun?” Tanya Hyuna sebal.

Baekhyun menatap Hyuna tegas, “Hyuna, pastikan dia pergi dari sini besok! Ara?”

Hyuna menunduk bingung dan menganggukkan kepalanya, “Ne..”

Hyunseung sangat tersinggung melihat Hyuna sampai menuruti Baekhyun karena menumpang di tempatnya, “Ya! Kim Hyuna! Meskipun berpisah, aku akan memberikan tempat yang lebih bagus dari ini untukmu dan Sohyun! Tidak perlu tundukkan kepalamu di depannya!” Tegasnya.

Hyuna tertegun mendengar ucapan Hyunseung.

Baekhyun menatap Hyunseung seperti baru saja mendengar hal lucu, “Mwo? Agar kau bisa datang sesukamu dan berpura-pura mabuk agar Hyuna membukakan pintu ditengah pagi buta?” Tanyanya sinis.

Mata Hyuna membesar mendengar Baekhyun membahas itu, Hyunseung tidak akan senang jika dia menceritakan keburukannya pada orang lain.

Hyunseung tertegun mendengar ucapan Baekhyun dan memandang Hyuna tak percaya.

Hyuna memegang lengan Baekhyun, “Ya.. Kenapa kau membahas itu?” Bisiknya.

Hyunseung memalingkan wajahnya dan menghela nafas dalam.

Baekhyun kembali menatap Hyuna, “Pokoknya aku tidak ingin dia masih disini besok!” Tegasnya, lalu langsung berbalik pergi. Meninggalkan kecanggungan diantara Hyuna dan Hyunseung.

Hyunseung menatap Hyuna kesal, lalu memandangnya putrinya sambil tersenyum. “Sohyun-a, maukah kau menggambarkan appa rumah dan pohon seperti biasa?”

Sohyun memandang Hyunseung bingung karena kejadian yang baru terjadi, lalu mengambil krayon dan kertasnya lagi untuk menggambar.

Hyunseung mengelus kepala Sohyun dan melangkah menghampiri Hyuna, lalu menariknya keluar kamar studio untuk berbicara. “Kau bahkan menceritakan hal itu pada Baekhyun? Apa kau tidak menghormatiku lagi?!” Tanyanya tak percaya.

“Aku hanya ingin bercerita pada sahabatku oppa!” Jawab Hyuna kesal.

Hyunseung menatap Hyuna kesal, “Hyuna, aku tinggal disini bersamamu agar Sohyun tidak bingung kenapa ayah dan ibunya tinggal berpisah. Kenapa kau masih keras kepala?! Lupakan masalah ini dan kembali pulang! Jebal Hyuna!!”

Hyuna tersinggung dengan ucapan Hyunseung, “Lupakan?! Oppa! Apa aku bisa melupakan ucapan mengerikan tentang perceraian darimu?! Kata-katamu terus menggema di telingaku selama berminggu-minggu!”

Hyunseung menatap Hyuna penuh sesal, “Ne, na arayo. Kau sangat terluka dengan semua yang telah kuucapkan dan aku sangat menyesal Hyuna! Aku benar-benar menyesalinya!” Ucapnya sambil menggenggam kedua tangan gadis itu dan menatap kedua matanya dalam, “Mianata!”

Hyuna menatap Hyunseung, hatinya kembali bimbang.

Hyunseung memeluk Hyuna erat, “Jebal Hyuna, hentikan ini demi Sohyun. Kita bisa memperbaiki ini lagi..”

Hyuna melepaskan pelukan Hyunseung dan menatapnya, “Oppa, yang harus diperbaiki itu adalah dirimu..” Ucapnya, lalu melangkah kembali ke pintu.

Hyunseung menarik tangan Hyuna hingga gadis itu kembali memandangnya, “Apakah aku harus berlutut Hyuna?”

Hyuna memalingkan wajahnya agar Hyunseung tidak melihat tatapan sedihnya, “Kemanhe oppa..” Jawabnya pelan dan menarik tangannya, lalu masuk.

Hyunseung masih berdiri di tempatnya menahan rasa bersalah yang teramat sangat.

Malamnya.

Setelah menidurkan Sohyun, Hyuna dan Hyunseung kembali berbicara serius di sofa.

Hyunseung menatap Hyuna menyesal, “Hyuna, kau selalu ada disini selama hampir 13 tahun. Apa rasa cintamu tidak bisa mengalahkan keegoisanmu?”

Hyuna terus memalingkan wajahnya dari wajah Hyunseung, “Aniya oppa, rasa sakitku yang menutupinya..” Jawabnya pelan.

Hyunseung mengulurkan tangannya ke tangan Hyuna, juga menggenggam erat tangan gadis itu. “Hyuna-a.. Tak bisakah kau mengingat apa saja yang telah kita lewati untuk tiba disini? Bagaimana kita bertahan ditengah-tengah kekacauan dulu? Bagaimana kita memiliki Sohyun? Mimpi-mimpi kita bersama setelah menikah?”

Bulir air mata Hyuna jatuh dari matanya, namun ia tetap memalingkan wajahnya.

“Hyuna.. Tatap aku..” Ucap Hyunseung sambil menarik dagu Hyuna agar memandangnya.

Hyuna menatap Hyunseung, “Oppa, aku masih harus memikirkannya lagi. Kau kembalilah ke rumahmu dulu..”

“Rumah kita, Hyuna..” Ucap Hyunseung memperbaiki ucapan Hyuna.

Hyuna melepaskan tangan Hyunseung dari dagunya dan menggeleng pelan, “Aniya, itu selalu menjadi rumahmu..”

Hyunseung menunduk sedih, lalu kembali menatap Hyuna dengan mata menahan air mata. “Hyuna, aku benar-benar tidak ingin kita berakhir dengan perceraian..” Ucapnya sepenuh hati, “Jika kau marah padaku, kau bisa melampiaskan semua kekesalanmu. Kau juga bisa memukulku.. Aku akan menerima semuanya, asalkan kau merasa lebih baik dan kembali padaku. Jebal..”

“Oppa, kita bicarakan nanti. Kembalilah pulang..” Ucap Hyuna pelan.

Hyunseung menghela nafas dalam dan mengangguk berat, “Keure..” Ucapnya.

Paginya.

“Appa…” Panggil Sohyun sambil memandang sekitar bingung begitu bangun tidur.

Hyuna mengelus kepala Sohyun sambil tersenyum, “Appa sudah pergi bekerja sayang..”

Sohyun mengerutkan dahi dan mulai menangis, “Appa…” Tangisnya.

Hyuna menggendong Sohyun dan menimang-nimang putrinya, “Gwenchana, appa hanya pergi bekerja sayang..” Ucapnya menenangkan.

=Gallery=

Karena Sohyun tak kunjung tenang, Hyuna terpaksa membawanya ketika bekerja.

“Appa…” Tangis Sohyun yang sudah ditimang-timang Hyuna.

Hyuna mengelus punggung Sohyun sedih, putrinya pasti menyadari situasi orangtuanya sekarang, ‘Miane, Sohyun..’ Batinnya sedih.

“Appa…” Rengek Sohyun terus.

Hyuna menghela nafas dalam dan duduk di kursinya, “Keure, kita hubungi appa ya..” Ucapnya sambil tersenyum.

Tangisan Sohyun mereda melihat Hyuna mengeluarkan ponselnya sambil terisak-isak.

Hyunseung di kantornya tertegun melihat Hyuna memanggilnya dengan video call dan langsung mengangkat, “Ne, Hyuna-a..”

“Oppa, Sohyun mencarimu sejak tadi pagi..” Ucap Hyuna memberitau dan langsung mengarahkan ponselnya pada Sohyun yang duduk di pangkuannya.

Hyunseung tersenyum pada Sohyun, “Sohyun-a.. Waeyo? Appa pergi bekerja sayang…”

Sohyun mengedip-kedipkan matanya dan mengulurkan tangannya ke kamera.

Hyunseung sedih melihat dia akan melakukan video call seperti ini terus jika memang berpisah dari Hyuna, “Gwenchana.. Appa akan segera bertemu lagi denganmu..”

“Appa…” Panggil Sohyun.

“Ne, appa disini.. Sudah, jangan menangis sayang..” Bujuk Hyunseung.

Sohyun memandang Hyuna dan tertawa lucu, lalu kembali memandang Hyunseung di layar ponsel.

“Sohyun-a saranghe..” Ucap Hyunseung.

Hyuna mengelus rambut Sohyun dan memandang ponselnya, “Keurom, sampai jumpa oppa..” Ucapnya canggung.

Hyunseung tersenyum canggung, “Ne..” Jawabnya.

Hyuna memutuskan telepon dan tersenyum memandang Sohyun.

Menjelang siang, Hyuna tertegun melihat Taemin muncul ke gallery. “Oppa?”

Taemin menatap Hyuna, “Hyuna-a, bisakah kita berbicara sebentar?”

Kafe.

“Hyuna-a, apa kau benar-benar ingin berpisah dari Hyunseung?” Tanya Taemin hati-hati.

Hyuna menunduk sedih, “Oppa, ini antara aku dan Hyunseung oppa..”

“Ne, aku tau..” Jawab Taemin, “Tapi aku tidak tega melihatnya selalu murung dan tampak akan menangis akhir-akhir ini..” Ucapnya sedih.

“Oppa, kemanhe..” Pinta Hyuna.

Taemin menghela nafas dalam, “Kau tau kan Hyunseung sering sakit kepala akhir-akhir ini?”

“Ne..” Jawab Hyuna.

“Itu bukan karena penyakit Hyuna, tapi karena dia depresi.” Ucap Taemin memberitau.

Hyuna tertegun, “Ne?”

“Sejak dulu, seberat apa pun masalah yang di lalui Hyunseung, dia tak pernah sampai depresi seperti ini. Hanya kau yang bisa membuatnya gila seperti ini Hyuna. Apa kau tidak bisa mempertimbangkan lagi keputusanmu? Demi perjuangan kalian, demi Sohyun?” Tanya Taemin.

Hyuna bingung harus menjawab apa karena dia tak tau harus melakukan apa.

“Hyuna, datanglah nanti malam ke rumah Naeun. Kami semua akan berkumpul disana..” Pinta Taemin.

“Kami? Hyunseung oppa juga?” Tanya Hyuna.

“Ne, aku tidak ingin dia terus-menerus depresi. Jika kau memang ingin berpisah, katakan dengan jelas nanti malam. Jika tidak, rubahlah keputusan..” Jelas Taemin, lalu berdiri dan berjalan pergi.

<<Back          Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 33]

  1. kasian oppa..
    sakittt kepala nya gag ilang2 gtoo..
    tp ituuu bagian dr rencana gag sichhh..
    akirnya taeun bisa kompak lagiii…
    ughhhh kata2 nya bebeb jleb bgt sichhh..
    ayooo unni km harus bisa mutusin n milih dr pilihan ny bebeb temin..
    penasaraaann chap end nyaaaa….
    comiiing ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s