Chapter

Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 26]

–My Turn To Cry 3–

 26

Just one mistake, just one regret..

Even now, I still love you selfishly..

(Girls Generation – Time Machine)

 

 

Hyuna melangkah menuju kamar dan tertegun mendengar suara barang-barang terjatuh dari kamar, dengan cepat ia masuk ke kamar dan melihat Hyunseung membanting barang-barang di mejanya frustasi. “Oppa! Apa yang kau lakukan?!” serunya sambil menahan pria itu sebelum melempar berkas-berkasnya.

Nafas Hyunseung menderu cepat karena emosi yang memuncak ke atas kepalanya, namun tetap melempar kertas-kertas itu ke lantai.

“Oppa! Kemanhe!!” teriak Hyuna.

Hyunseung berhenti dan diam di tempatnya sambil mengatur nafas.

Hyuna menahan tangisnya melihat Hyunseung benar-benar terlihat hancur saat itu, tangannya terulur dan memegang lengan pria itu. “Oppa, jangan seperti ini..”

Hyunseung menepis tangan Hyuna, “Aku tidak butuh rasa ibamu! Pergi!!”

Bulir air mata Hyuna mulai berjatuhan dan kembali memegang lengan Hyunseung, “Aniya oppa.. Aku akan selalu disini untukmu..”

Hyunseung memegang tangan Hyuna di lengannya dan menggenggamnya erat, tangannya tak sanggup melepaskan tangan gadis itu lagi. Matanya terpejam menahan air mata, “Pergilah Hyuna, aku bukan pria yang bisa membahagiakanmu lagi..” ucapnya pelan.

“Oppa, kenapa kau mengatakan itu? aku bahagia bagaimana pun dirimu..” ucap Hyuna.

Hyunseung perlahan melepaskan tangan Hyuna dari lengannya dan berjalan kearah buffet sambil meraba-raba, tangannya menyentuh pajangan hingga berguling.

“Oppa..” Hyuna menarik Hyunseung agar tidak menabrak apa pun lagi.

Hyunseung mendorong Hyuna menjauh, “Berhenti Hyuna!” serunya.

“Oppa, kenapa kau seperti ini?” tangis Hyuna.

Hyunseung sendiri tidak tau mengapa ia melakukan itu, tapi ia merasa harus melakukan sesuatu demi gadis yang ia cintai. “Aku sudah tidak berguna Hyuna… Untuk apa kau terus disini? Aku bahkan tidak bisa berhadapan dengan Sohyun..” ucapnya dengan suara bergetar.

Hyuna semakin menangis mendengar ucapan Hyunseung dan langsung maju untuk memeluknya, “Andwaeyo, oppa.. Jangan berkata seperti itu..” tangisnya, “Aku akan menjadi matamu untuk melihat, aku akan membantumu! Aku akan menjagamu dengan baik..”

Bulir air mata Hyunseung berjatuhan satu persatu dan mendorong Hyuna agar melepaskan pelukannya, “Ani! Bukan kau yang seharusnya mengatakan itu! tapi aku!! Aku yang seharusnya menjagamu! Aku Hyuna!!” serunya sambil memegang dadanya.

“Oppa melakukan itu karena oppa mencintaiku, aku juga akan melakukannya karena aku mencintamu..”  ucap Hyuna bersungguh-sungguh.

Hyunseung menunduk dengan air mata terus berjatuhan, “Ani! Jangan sia-siakan hidupmu bersama pria cacat sepertiku..”

Hyuna terkejut mendengar ucapan Hyunseung dan langsung menggenggam tangannya, “Oppa! Jangan katakan itu!!”

“Hyuna, aku hanya akan menjadi bebanmu! Bagaimana aku bisa hidup seperti itu?!” seru Hyunseung.

“Aku tidak peduli jika kau hanya menjadi bebanku! Aku hanya ingin tetap disisimu, oppa. Aku mencintaimu apa adanya dan aku akan menerima apa pun kekuranganmu..” ucap Hyuna, “Kumohon oppa, jangan seperti ini..”

Hyunseung benar-benar merasa tak berarti. Kakinya terasa melemah dan jatuh terduduk ke lantai. Ia menangis sambil memegang dahinya, menyesali kejadian yang menyebabkan matanya menjadi buta seperti itu.

Hyuna menyamakan tingginya dan Hyunseung, lalu memeluk pria itu erat. “Oppa, kau selalu menjadi malaikat pelindungku. Biarkan aku menjadi malaikat pelindungmu sekarang..”

Hyunseung menangis tersedu-sedu dan memeluk Hyuna erat, rasanya ia tak sanggup lagi berdiri karena kekurangannya.

Ibu Hyunseung yang berdiri di ambang pintu menyeka air matanya melihat bagaimana Hyuna berusaha meyakinkan putranya.

Malam itu.

Hyunseung berbaring membelakangi Hyuna sambil berpikir, ia sama sekali tidak tau apa yang harus ia lakukan jika matanya benar-benar buta. Sepasang tangan memeluknya dari belakang.

“Oppa, kau belum tidur kan?” Tanya Hyuna.

“Ne..” jawab Hyunseung.

Hyuna bergerak bangkit dan memandang Hyunseung dari bahu pria itu, “Memikirkan sesuatu?”

“Ne..” jawab Hyunseung lagi.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Hyuna ingin tau.

Hyunseung diam sejenak, “Kita..”

Hyuna tertegun, “Ada apa dengan kita?”

Hyunseung diam sejenak lagi, “Hyuna-a, kupikir..” ia diam sejenak untuk menghela nafas dalam, “..kupikir sebaiknya kau menjalani hidupmu sendiri..” jawabnya berat.

Hyuna menatap Hyunseung tak percaya, lalu mendorong pria itu telentang hingga bisa berhadapan dengannya. “Mwo?! Apa yang kau katakan?! Kenapa kau membahas ini lagi?!”

Wajah Hyunseung memancarkan rasa sedih yang mendalam, satu tangannya terangkat untuk memegang pipi Hyuna. “Kau gadis yang menawan, Hyuna.. Kau bisa melakukan banyak hal yang lebih berarti dari pada hanya mengurusi pria buta sepertiku..”

Mata Hyuna kembali basah karena air mata, “Oppa..”

“Aku harus melakukan ini karena aku mencintaimu.. Aku tidak ingin kau menghabiskan sisa hidupmu bersama pria tak berguna sepertiku..” ucap Hyunseung menahan tangisnya.

Hyuna memegang tangan Hyunseung di pipinya dan menggeleng, “Ani! Aku tidak akan melakukannya!”

“Hyuna…”

“Ayahku juga mengatakan itu padaku tempo hari! Dia ingin aku berpisah darimu! Tapi aku tidak akan melakukannya!!” tegas Hyuna.

Bulir air mengalir dari sudut mata Hyunseung.

Hyuna menyeka air mata Hyunseung, “Jangan menangis oppa! Semuanya kan baik-baik saja, kita akan melewati ini bersama..” ucapnya, meskipun air matanya tidak berhenti mengalir.

Hyunseung diam sejenak, tangannya yang lain bergerak ke pipi Hyuna yang satunya. “Pergilah bersama Sohyun ke Amerika..”

Hyuna terkejut mendengar ucapan Hyunseung, “Oppa?”

Hyunseung menarik wajah Hyuna mendekat padanya dan menciumnya penuh cinta. Semua ini adalah keputusan terbaik menurutnya.

Hyuna memejamkan matanya, meskipun bulir air terus mengalir. Kedua tangannya mencengkeram bahu Hyunseung erat.

Hyunseung melepaskan ciuman manis itu dan memandang wajah Hyuna meskipun hanya kegelapan yang dapat terlihat oleh matanya, “Miane, aku harus melakukan ini Hyuna.”

“Aniyo…” ucap Hyuna sambil terus menangis.

“Ne..”  ucap Hyunseung.

“Aniya, oppa…” Hyuna menyandarkan dahinya ke dada Hyunseung dan menangis tersedu-sedu.

Hyunseung mengelus rambut Hyuna lembut dan mencium puncak kepalanya, ‘Jeongmall miane, Hyuna..’ batinnya sedih, perlahan matanya terpejam sambil memeluk gadis itu erat. ‘Neomu saranghae..’

=Ruang Tengah=

“Aku akan menceraikan Hyuna..” ucap Hyunseung di depan orangtuanya, membuat semua orang tercekat menatapnya.

“OPPA!!!” seru Hyuna marah.

“Hyunseung?! Apa yang kau katakan?!” Tanya ayah Hyunseung tak kalah marah.

“Aku sudah memutuskannya..” ucap Hyunseung, “Eomma, tolong minta ayah Hyuna datang. Aku akan berbicara padanya..”

Hyuna memukul dada Hyunseung dengan bulir air mata berjatuhan, “Andwae!! Aku tidak akan melakukannya!!”

Hyunseung tidak melakukan apa pun merasakan pukulan Hyuna di dadanya, hatinya terasa kaku.

“Hyunseung-a, jangan seperti ini..” ucap ibu Hyunseung pelan, “Masih ada jalan lain untuk menyelesaikannya..”

“Aniya! Jangan mengatakan apapun lagi! Aku akan menceraikan Hyuna dan itu keputusan terakhirku!” tegas Hyunseung.

Hyuna mencengkeram kerah baju hangat yang di kenakan Hyunseung dan mengguncang-guncang tubuh pria itu, “Aniya oppa!! Aku tidak mau!!” tangisnya sambil berteriak.

Kedua tangan Hyunseung bergerak menahan tangan Hyuna agar berhenti memukul dadanya, gadis itu menangis tersedu-sedu dihadapannya. “Kemanhe, Hyuna..”

Sohyun menghampiri Hyuna dan memandang ibunya tak mengerti, “Eomma..” panggilnya dan mulai ikut menangis.

Hyuna memandang Sohyun dan menarik tangannya dari genggaman Hyunseung untuk mengelus rambut putrinya, “Eomma gwenchana..” ucapnya sambil menahan tangis dan memeluk putrinya.

Ayah dan ibu Hyunseung memandang keluarga putra mereka sedih.

=Kamar=

“Hyuna, besok ayahmu akan datang untuk menjemputmu. Kau harus segera membereskan baju-bajumu dan Sohyun..” ucap Hyunseung berat.

Hyuna duduk di pinggir tempat tidur sambil menangis, “Aku tidak akan membereskan barang-barangku…”

Hyunseung menghela nafas dalam, “Miane Hyuna.”

Hyuna menatap Hyunseung marah, “Kenapa oppa melakukan ini?! Aku tidak mau berpisah denganmu!!”

“Karena aku tidak ingin membuatmu sulit, mengertilah…” pinta Hyunseung menahan tangis.

Hyuna diam sejenak menatap Hyunseung, “Oppa minta aku mengerti? Wae?! Kau sangat egois oppa!!”

Bulir air mata Hyunseung jauth perlahan, ia segera menyekanya sambil mengangguk. “Ne…”

Hyuna bergerak bangkit untuk mengambil bantal dan melemparkannya kearah Hyunseung.

Buk! Bantal itu mengenai wajah Hyunseung namun dia tak mengatakan apa pun.

“Jika oppa tetap berkeras untuk menceraikanku! Aku akan bunuh diri!!” seru Hyuna.

Hyunseung tertegun dan memandang kearah suara Hyuna, “Hyuna!”

“Aku tidak peduli! Aku akan membunuh diriku!!” seru Hyuna.

Hyunseung tau Hyuna hanya menggertak dan menghela nafas dalam, “Kau tidak akan melakukannya..”

“Aku akan melakukannya!! Sebelumnya aku sudah pernah melakukannya! Kenapa aku tidak bisa melakukannya lagi?!” seru Hyuna marah.

“Karena saat ini kau memiliki Sohyun..” jawab Hyunseung tenang.

Hyuna terdiam. Hyunseung benar, Sohyun akan menjadi korban jika dia membunuh dirinya. Ia menghela nafas dalam dan kembali duduk di pinggir tempat tidur.

“Hyuna, aku tau ini semua sangat berat. Tapi aku tidak bisa membiarkan orang yang kucintai menderita, jadi aku akan membiarkanmu pergi..” ucap Hyunseung berat.

Hyuna menggemertakkan giginya dan kembali menatap Hyunseung marah, “Keure! Aku akan pergi!! Aku pergi!! Tapi akan kupastikan kau menyesalinya seumur hidupmu!!” serunya, lalu bangkit dan berjalan cepat keluar dari kamar.

Hyunseung mendengar pintu terbanting, bulir air matanya berjatuhan. Tangannya terangkat untuk memegang dadanya yang terasa sesak. “Miane Hyuna, jeongmal miane..” sesalnya.

3 a.m.

Hyuna membuka pintu kamar dan mengintip kedalam, memastikan Hyunseung sudah tidur atau tidak. Dengan langkah mengendap-endap itu melangkah ke lemarinya dan mengambil tas ransel berukuran sedang, lalu memasukkan beberapa bajunya. Sesekali ia melirik Hyunseung yang tampak tidur tenang. Ia benar-benar marah pada pria itu. ia merasa pria itu seperti tak menghargai perasaan dan pengorbanannya. Setelah memasukkan bajunya, ia segera keluar dari kamar dan kembali ke kamar Sohyun. Sebelumnya ia sudah menyiapkan keperluan putrinya ke tas lain, jadi dia tinggal membangunkan putrinya saja.

“Sohyun, sayang..” panggilnya sambil menggoyang sedikit tubuh putrinya.

Dahi Sohyun berkerut, “Hmm..”

“Shhh..” bisik Hyuna sambil menarik kedua tangan putrinya perlahan ke bahunya, lalu mengangkat tubuh gadis mungil itu ke tubuhnya. Putrinya tetap tidur dengan kepala bersandar ke bahunya, kedua kaki putrinya melingkar ke pinggangnya. Hati-hati ia menyandang tas Sohyun dan langsung menuju pintu depan. Ia menoleh ke belakang sebelum ia benar-benar keluar, lalu pergi.

Paginya.

Hyunseung terbangun dari tidurnya dan langsung menghela nafas berat mengingat hari ini ayah Hyuna akan datang untuk menjemput gadis itu bersama putrinya. Perlahan ia bangkit sambil mengulurkan satu tangan ke sebelahnya, tidak ada siapa pun. ‘Pasti dia tidur di kamar Sohyun..’ batinnya, ia menyibak selimut dan berjalan ke kamar mandi untuk mempersiapkan dirinya.

Ibu Hyunseung menyiapkan sarapan dengan wajah murung, ia sangat sedih semuanya akan berakhir dengan buruk.

“Yobo, temui Hyuna. Mungkin dia mulai menangis lagi sekarang..” ucap ayah Hyunseung pelan.

Ibu Hyunseung mengangguk, “Ne..” jawabnya dan berjalan pelan menuju kamar Sohyun, ia sempat melihat tadi malam gadis itu masuk ke kamar cucunya. “Hyuna-a.” panggilnya sambil membuka pintu, namun tidak terlihat siapa pun. Dahinya berkerut sambil memandang sekitar, “Sohyun-a?” panggilnya sambil melangkah ke pintu kamar mandi dan membukanya. Juga tidak ada siapa pun. Ia mulai merasa ada sesuatu yang aneh, lalu memeriksa tempat tidur cucunya. Boneka dan mainan favorit cucunya tidak ada. Dengan cepat itu keluar dan menghampiri kamar Hyunseung, “Hyunseung..” panggilnya sambil mengetuk pintu.

Pintu terbuka, tampak Hyunseug yang sudah bersiap. “Aku akan keluar eomma..” ucapnya pelan sambil melangkah keluar.

Ibu Hyunseung tertegun dan memperhatikan kedalam kamar, tapi tidak melihat siapa pun. “Hyunseung!” panggilnya sambil menarik putranya.

“Eomma, aku sudah memutuskan semuanya. Jadi jangan paksa aku lagi!” tegas Hyunseung.

Ibu Hyunseung menghela nafas dalam dan menatap putranya kesal, “Eomma ingin bertanya, dimana Hyuna dan Sohyun?!”

Hyunseung tertegun, “Mwo?”

Ibu Hyunseung melepaskan tangan putranya, “Mereka tidak ada Hyunseung!!”

Mata Hyunseung membesar, “Ne?!”

<<Back          Next>>

Advertisements

4 thoughts on “Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 26]

  1. andwe hyunseung kenapa km ceraikan hyuna 😥
    kenapa semua jd kayak gini 😥
    tenang seungi aq akan menemani mu *cieeelahh*
    next ^^

  2. tuuuhhh kan oppa…
    ngotot aja sichh pengen nyeraiin unni…
    udahh tau unni orang nya nekat…
    jadi kabur kan sekarang….
    jangan sampe yg d omongin unni jd kenyataan..
    kalo oppa bakal nyeselin semua nyaaa….
    huuufffttt nyeseeekk nyaaaaa TT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s