Chapter

Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 25]

–My Turn To Cry 2–

 25

Because when I fall in love, I know that feeling..

Because I feel my heart fluttering..

Because I know it will hurt when I fall in love..

I’m afraid and I can’t even talk..

What to do? Because it hurts..

If you know how I feel, please tell me first..

Because of you, because I’m sad..

Is it just me?

(T-Ara – I know the Feeling)

 

 

-Hyunseung’s POV-

Aku menyandarkan kepalaku ke bath up. Udara masuk memenuhi paru-paruku dan kembali keluar. Air di bath up yang merendam tubuhku terasa hangat di kulitku, juga aroma terapi yang berasal dari sabun yang disiapkan Hyuna untukku. Sudah seminggu kegelapan ini menyelimutiku. Aku tidak bisa melakukan apapun. Terkadang ada saja sesuatu yang terjatuh tanpa kusadari. Juga Sohyun pasti terluka karena aku tidak sengaja memukulnya tempo hari. Putriku tidak pernah menangis sekeras itu hingga tak berhenti meminta Hyuna datang. Apa yang telah kulakukan? Seharusnya ini tidak terjadi. Aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ayah macam apa aku?! Tanganku terangkat dan menyandarkan sikuku ke pinggir bath up untuk memegang dahiku. Mataku terpejam perlahan dan menikmati suasana hening itu.

Tidak tau berapa lama, tapi sepertinya aku tertidur. Sentuhan lembut di pipiku langsung membuatku tersadar, “Ahh..” rintihku karena kepalaku kembali terasa sakit. Aku memejamkan mata dan memegang dahiku. Seperti ada yang berdenyut di bagian sekitar alisku dan itu sangat mengganggu.

“Oppa, kenapa sampai tertidur disini?” Tanya Hyuna khawatir.

Rasa sakit itu perlahan berkurang, namun masih terasa. “Aku juga tidak tau kalau aku tertidur..”

“Kepalamu sakit lagi?” Tanya Hyuna, kurasakan kedua tangan lembutnya memijat pelipisku.

Kenapa dia yang melakukan ini? Dia tak pantas merasakan ini. Seharusnya aku yang melindunginya, tapi kenapa aku sangat tak berdaya sekarang?!

“Oppa, jika kau tidak segera keluar kau akan terkena flu…” ucap Hyuna mengingatkan.

“Ne..” ucapku sambil memegang pinggiran bath up dan bergerak bangkit. Tangan Hyuna memegangi lenganku ketika aku melangkah keluar dari bath up, ia juga memberikan handuk  baju padaku.

“Sebentar, aku akan mengosongkan bath up..” ucap Hyuna, lalu terdengar suara air terhisap dan hilang. Tangan Hyuna kembali memegang lenganku, “Khaja..”

Aku menghindari tangan Hyuna, “Aku bisa sendiri..” ucapku dan melangkah sambil mengulurkan tanganku ke depan. Aku tau dia pasti sedang menatapku sedih sekarang, tapi aku tidak ingin terlihat lemah didepannya. Orang yang seharusnya dilindungi adalah Hyuna, bukan aku! Aku melangkah ke lemari dan meraba-raba yang mana pintu untuk bajuku. Kembali kurasakan tangan Hyuna memegang tanganku dan menariknya ke sebuah pintu.

“Yang ini oppa.. kau bisa merasakan permukaan di lemari bajumu sedikit kasar..” ucap Hyuna memberitau sambil mengeluskan telapak tanganku ke permukaan lemari.

Saat itu seharusnya aku merasa senang dia membantuku mengenali lemariku, tapi tidak. Aku sangat marah karena dia memperlakukanku seperti orang buta. Aku tidak buta! Belum sepenuhnya!! Aku langsung menyentak tanganku dan menatap ke asal suaranya, “Wae?! Kau merasa kasihan karena aku buta?! Apa menurutmu aku tidak akan melihat lagi!?!!”

“A.. aniya oppa.. aku hanya..”

“Tutup mulutmu!” tegasku yang langsung mengunci semua ucapan Hyuna, aku sendiri tidak tau mengapa aku melakukan ini. Tapi aku sangat terluka! Karena kebutaanku. Ketidak mampuanku. Juga takdirku. Tanganku kembali terulur ke lemari dan membukanya. Meskipun tak mengeluarkan suara, aku tau Hyuna masih berdiri di  tempatnya. Karena aku bisa mencium aroma khasnya. Dia selalu beraroma strawberry seperti shampoo dan sabun favoritnya. Aku mengenakan pakaianku tanpa mempedulikannya disana. Bulir air mataku terasa hendak jatuh, namun aku menahannya. Aku bukan marah pada Hyuna. Aku marah pada diriku yang menjadikan semuanya kambing hitam atas kesialanku, aku benar-benar putus asa namun terlalu malu mengakuinya.

Akhirnya aku kembali bergabung di meja makan bersama yang lainnya. Namun aku hanya diam sambil memegang sendok. Telingaku mendengar dentingan halus sendok, aku bisa mencium aroma sup ayam buatan ibuku. Namun nafsu makanku tidak ada saat ini.

“Sohyun-a, makanan tidak  boleh dijadikan mainan..” ucap Hyuna, aku tidak tau apa yang dilakukan Sohyun. Tapi biasanya aku akan tertawa jika dia melakukan sesuatu yang aneh.

“Hyunseung-a, kau sudah mencicipi sup ayam buatan eomma? Ini khusus eomma buatkan untukmu..” ucap eomma.

“Hmm..” gumamku, lalu meraba meja di depanku dan merasakan mangkuk berisi kuah hangat di dalamnya. Tanganku yang lain memasukkan sendok dan mendekatkannya ke mulutku dengan hati-hati. Ketika ujung sendok mengenai bibirku, aku terkejut karena itu sangat panas. “Ah!!” seruku dan spontan melepaskan sendok ditanganku.

“Omo!! Oppa! Gwenchana?” Tanya Hyuna panic, sebuah serbet menyeka bibirku.

“Hyunseung, kau harus meniupnya dulu..” ucap eomma khawatir.

“Hyuna, kau bisa membantunya?” Tanya appa.

“Ne, appanim..” jawab Hyuna, “Ini oppa.. Aku sudah meniupnya terlebih dahulu..”

Aku tertegun mereka memperlakukanku seperti orang cacat. Aku belum siap diperlakukan seperti ini.

“Oppa, buka mulutmu..” ucap Hyuna, aku bisa merasakan ujung sendok di bibirku.

Aku memalingkan wajah dan bangkit, “Aku selesai..” ucapku.

“Ne? kau belum memakan apa pun Hyunseung..” ucap eomma ketika aku berbalik.

“Oppa, paling tidak habiskan sup ini dulu..” pinta Hyuna sambil menarik lenganku.

Aku menyentak tangan Hyuna dan melangkah sambil meraba-raba, meskipun kakiku berkali-kali menabrak sesuatu, aku tidak berhenti. Sebenarnya aku tidak menyalahkan mereka, aku menyalahkan diriku. Aku yang menyebabkan semua ini terjadi. Jika saat itu aku mendengarkan Eunkwang tentang mengantarku pulang, aku tidak akan mengalami kecelakaan ini. Mungkin aku bisa menjadi ayah terbaik yang ikut merayakan acara ulang tahun Sohyun.

-Hyunseung’s POV end-

-Hyuna’s POV-

Aku menatap Hyunseung oppa yang pergi meninggalkan ruang makan sedih. Rasanya aku ingin memberikan mataku padanya agar terlepas dari rasa sedihnya.

“Hyuna-a, gwenchana.. kembalilah makan..” ucap eommanim.

Aku mengangguk pelan dan kembali duduk. Tapi nafsu makanku sudah tidak ada. Bagaimana mungkin aku makan sementara Hyunseung oppa menderita seorang diri?

Setelah semuanya selesai makan, aku membawakan semangkuk sup untuk Hyunseung oppa ke kamar. Dia duduk di meja kerjanya sambil menopang dahinya. “Oppa, aku membawakan sup ayam untukmu..” ucapku sambil meletakkan mangkuk sup di hadapannya.

“Aku tidak ingin makan..” ucap Hyunseung oppa pelan. Melihat ekspresinya, aku tau sakit kepalanya kembali lagi.

“Oppa, kemanhe.. Jangan seperti ini terus, kau harus kembali menjadi dirimu.” Pintaku.

Hyunseung oppa menghela nafas dalam, “Apa kau tidak bisa mengatakan hal lain?”

Aku benar-benar tidak sanggup melihatnya seperti ini, bagaimana aku bisa memberitaunya kalau aku jauh lebih terpuruk melihatnya seperti sekarang ini. Tanganku terulur dan memegang tangannya. dapat kurasakan ia membalas genggaman tanganku, bahkan mencengkeramnya kuat. Tapi kemudian mendorong tanganku menjauh. Ia tidak bermaksud melakukan ini, ia hanya berusaha menolak semuanya. Aku sangat tau bagaimana dirinya. Dia tak pernah ingin terlihat lemah, aku tau itu. jika didunia ini terjadi bencana terbesar yang pernah ada, maka dia adalah satu-satunya orang yang akan bertahan hingga mati demi keluarganya. “Oppa..”

“Aku akan makan jika kau berhenti berbicara omong kosong!” ucap Hyunseung oppa.

Aku diam sejenak, lalu menarik tangannya agar bisa memegang sendok. Aku hanya bisa memperhatikannya memakan sup ayam itu tanpa mengatakan apa pun. Kuharap semua ini akan segera berlalu. Sekarang giliranku berdiri kokoh untuknya. Dia sudah banyak berkorban untukku, apa yang kulakukan sekarang belum apa-apa jika dibandingkan apa yang sudah ia lakukan dulu. Aku mencintaimu oppa, apa pun yang terjadi.

-Hyuna’s POV end-

=Keesokan Harinya=

Hyuna melangkah keluar dari gedung kampus dengan wajah lesu, ia tak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini hingga lingkar hitam di bawah matanya terlihat jelas. Langkahnya berhenti melihat Dujun keluar dari sebuah mobil dan membukakan pintu di belakangnya, keluar Brian Kim sambil tersenyum padanya. “Appa?”

“Masuklah.. Kita makan siang terlebih dulu..” ucap Brian Kim.

Sebuah restaurant mewah.

Brian Kim memandang Hyuna yang terus terlihat lesu dan tak memandang matanya, “Hyuna-a?”

Hyuna memandang ayahnya, “Ne?”

Brian Kim menghela nafas dalam dan menatap ayahnya serius, “Appa sudah mendengar tentang Hyunseung..”

Hyuna tertegun dan menunduk sedih.

“Kenapa selalu appa yang terakhir tau tentang masalahmu? Apakah appa tidak begitu penting untuk membantumu?” Tanya Brian Kim sedikit kecewa.

“Aniya appa, aku hanya tidak ingin Hyunseung oppa merasa tidak nyaman jika semakin banyak orang yang tau..” jawab Hyuna menyesal.

“Mwo? Orang? Kau menganggap appa orang lain dalam masalah rumah tanggamu, Kim Hyuna?” Tanya Brian Kim tak percaya.

Hyuna menatap ayahnya, “Appa, tak bisakah kita tidak mempermasalahkan ini?”

Brian Kim menatap Hyuna sesaat, lalu menghela nafas dalam untuk menetralkan emosinya. “Lalu, bagaimana dengan Hyunseung? Apakah dia tidak bisa melihat lagi?”

“Dokter berkata itu hanya sementara appa, Hyunseung oppa akan bisa melihat lagi..” jawab Hyuna.

“Dokter mana yang mengatakannya? Hyuna, itu cara dokter untuk membesarkan hati pasiennya. Jika dia mengatakan itu, berarti Hyunseung tidak akan bisa melihat lagi..” jelas Brian Kim.

Hyuna menatap ayahnya kesal, “Appa! Jika appa hanya ingin membuat masalahku semakin rumit, aku akan pergi!”

Brian Kim menatap Hyuna tak mengerti, “Hyuna, appa melakukan semua ini karena appa menyayangimu. Appa tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu..”

“Na ara, appa..” ucap Hyuna, “Tapi aku bukan anak kecil lagi, aku sudah memiliki suami dan seorang putri..”

“Memiliki suami atau istri juga anak bukan berarti pola pikirmu sudah dewasa, Hyuna! Banyak keluarga yang mengaku bahagia tapi sebenarnya memiliki rahasia besar yang menyakitkan.” Jelas Brian Kim.

Hyuna menghela nafas dalam, “Katakan apa maksud appa mengajakku bertemu disini!”

Brian Kim menatap Hyuna tak mengerti, “Hyuna, apa kau tau apa yang akan terjadi jika Hyunseung benar-benar buta?”

Hyuna menggertakkan giginya kesal, “Aku tidak peduli apa yang akan terjadi! Jadi jangan khawatirkan aku!!” ucapnya dan bangkit.

“Dia akan menjadi pecundang Hyuna!” ucap Brian Kim.

Hyuna menatap ayahnya marah, “Pecundang? Seharusnya appa mengatakan itu pada dirimu!” ucapnya, “Paling tidak Hyunseung oppa tidak pernah meninggalkanku disaat dia kesulitan! Dia tetap disisiku dan membuatku merasa lebih baik!! Tapi ayahku sendiri pergi meninggalkan tanggung jawab yang tidak pernah kulakukan!!!” serunya dengan mata memerah menahan air mata.

“Keure, appa pecundang yang dulu meninggalkanmu! Tapi sekarang appa bisa memberikan apa pun yang kau inginkan! Appa juga bisa membiayai Sohyun hingga kuliah! Kau mengerti?” tegas Brian Kim.

Hyuna tertegun mendengar ucapan Brian Kim, lalu menggeleng tak percaya. “Mwo? Appa ingin berkata kalau aku lebih baik berpisah dari Hyunseung oppa?!”

“Ne! pria seperti itu tidak akan menguntungkanmu! Dia sudah menjadi parasit yang tidak berguna Hyuna! Masih banyak pria di luar sana yang bersedia menerimamu apa adanya..” jawab Brian Kim.

Hyuna menghela kesal dan langsung melangkah pergi.

Brian Kim berdiri sambil memandang  punggung putrinya, “Jika dia mencintaimu…”

Langkah Hyuna berhenti dan kembali menatap ayahnya marah.

Brian Kim menatap Hyuna serius, “….dia yang akan memintamu pergi..”

Hyuna tak percaya ia berhenti untuk mendengarkan ucapan tidak penting itu. ia kembali melangkah dan tidak memandang kebelakang lagi.

<<Back          Next>>

Advertisements

4 thoughts on “Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 25]

  1. apaan segh appa nya hyuna nyuruh hyuna pisah am hyunseung -_-

    gue tendang juga degh appa nya hyuna , kesel -_-
    next ^^

  2. appa nya hyuna bener2 nyebelin tingkat dewa dechhhh…
    setuju ma hyuna yg harus nya d katain pecundang kn dya bukan hyun oppa..
    kalo dya emang baik seharus nya kn dya nyaranin berobat yg lbh canggih biar hyun oppa cepet sembuh bukan nya malah minta anak nya pisah sama suami nya sendiri…
    dasaarrr gag membantu malah nambah2in beban ajaaa..
    nyebelin 😡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s