Chapter

Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 24]

–My Turn To Cry–

 24

No, it’s my turn to cry, I’ll cry now..

I’ll take all of your tears..

It’s my turn to cry..

(EXO – My Turn To Cry)

 

 

Hyuna dan yang lainnya berjalan cepat menuju sebuah ruang perawatan. Ia sangat panic mengetahui Hyunseung mengalami kecelakaan lalu lintas akibat terlalu lelah hingga membuat mobilnya lepas kendali.

Naeun menarik Hyuna yang tampak sangat shock, “Hyuna-a.. Tenangkan dirimu dulu.” Ucapnya.

“Aku tidak bisa tenang Naeun! Aku harus bertemu Hyunseung oppa!” ucap Hyuna.

“Hyuna-a, tenanglah..” ucap ayah Hyunseung menenangkan.

Begitu mengetahui dimana Hyunseung di rawat, Hyuna dan orangtua Hyunseung langsung masuk untuk melihat bagaimana keadaannya. Sementara yang lain menunggu diluar bersama Sohyun.

“Omo! Hyunseung!!!” Ucap Ibu Hyunseung kaget melihat bagaimana keadaan putranya.

“Yobo, tenangkan dirimu..” ucap ayah Hyunseungs sambil merangkul istrinya.

Hyuna terpaku di tempatnya melihat Hyunseung terbaring di tempat tidur. Di dahinya tampak ditutupi dengan perban, juga ada beberapa luka lebam di sekitar wajah sebelah kirinya. “Oppa?” ucapnya tercekat, bulir air matanya langsung berjatuhan begitu saja. Ia menghampiri pria itu dan menggenggam tangannya, “Oppa.. oppa..” panggilnya sambil mengguncang tubuh pria itu perlahan.

Seorang dokter masuk ke ruang perawatan Hyunseung, “Apa kalian keluarganya?” tanyanya, membuat semua yang ada di ruangan itu memandangnya.

“Ne, apa yang terjadi pada putraku dokter?” Tanya ayah Hyunseung langsung.

Dokter itu tersenyum tipis, “Gwenchana, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Ia baik-baik saja. Tidak ada luka dalam dan semua alat vitalnya dalam keadaan baik.. sekarang ia masih dalam pengaruh obat bius, beberapa jam lagi akan segera sadar..”

Hyuna dan kedua orang tua Hyunseung menghela nafas lega.

“Oh.. syukurlah..” ucap ibu Hyunseung lega.

“Pasien hanya mendapat benturan di kepalanya, tapi tidak berbahaya. Mungkin pasien akan merasa pusing beberapa hari ini, jadi biarkan dia beristirahat saja..” jelas dokter itu lagi.

“Terima kasih dokter..” ucap ayah Hyunseung.

Setelah mendengar penjelasan dokter itu, diputuskan kalau Hyuna yang akan menemani Hyunseung di rumah sakit. Sohyun akan bersama nenek dan kakeknya untuk sementara waktu.

Malam itu Hyuna tidak bisa tidur karena Hyunseung belum juga sadar. Tangannya terus menggenggam tangan pria itu agar pria itu tau dia ada disana.

Hyunseung mengerutkan dahinya dan menggerakkan kepalanya perlahan karena merasa kepalanya sangat sakit.

Hyuna tertegun, “Oppa? Kau sadar?”

Hyunseung menghela nafas dalam dan membuka matanya perlahan.

Hyuna mendekatkan wajahnya ke wajah Hyunseung dan menatap pria itu, “Oppa, gwenchana?” tanyanya sambil memegang pipi suaminya perlahan.

Hyunseung mengerutkan dahinya dan meringis sakit, “Ahh.. kepalaku..” ucapnya sambil memegang dahinya.

Hyuna lega Hyunseung benar-benar tersadar, “Gwenchana oppa, sakit di kepalamu akan berkurang selama beberapa hari..” ucapnya sambil mengelus kepala pria itu.

Hyunseung memandang Hyuna masih sambil memegang kepalanya, “Hyuna?”

“Ne, oppa.. Aku disini..” ucap Hyuna sambil tersenyum.

Hyunseung terdiam dan perlahan menurunkan tangannya, “Hyuna…”

Hyuna memandang Hyunseung bingung, “Waeyo oppa?”

Hyunseung memandang sekitarnya panic.

“Oppa, kau disini karena mengalami kecelakaan lalu lintas. Jika kau lelah kenapa tidak beristirahat dulu?” Tanya Hyuna khawatir, lalu memegang kedua pipi Hyunseung. “Oppa, bagaimana jika kau mendapat luka serius dan…”

“Hyuna!” seru Hyunseung, matanya terus memandang kesekitar panic.

Hyuna terdiam dan memandang Hyunseung tak mengerti, “Waeyo oppa?”

Hyunseung tampak sangat shock, tangannya bergerak memegang tangan Hyuna di pipinya. Bulir air matanya perlahan berjatuhan.

“Oppa? Waekeure?” Tanya Hyuna bingung.

“Hyuna, aku tidak melihat apa pun..” jawab Hyunseung pelan.

Hyuna tertegun, “Apa maksudmu oppa?”

Hyunseung memandang Hyuna, namun tidak menatap matanya. “Aku hanya melihat kegelapan..”

Hyuna menatap Hyunseung tak percaya, “Ne?”

Paginya.

Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan pada Hyunseung dan akhirnya memberikan hasil pemeriksaan itu.

“Apa yang terjadi dokter?” Tanya Hyuna.

Dokter itu menghela nafas dalam, “Maaf, ini dampak benturan yang di terima kepala pasien. Jika di lihat dari hasil pemeriksaan, kemungkinan ini hanya sementara hingga trauma di otaknya menghilang. Sepertinya saraf penglihatannya terjepit akibat benturan itu..”

Hyuna dan Hyunseung tersentak, “Ne?”

“Kami akan berusaha lebih baik untuk mengembalikan penglihatan Jang Hyunseung-ssi. Hal ini beberapa kali terjadi pada pasien yang mengalami hal serupa dan semuanya kembali bisa melihat setelah beberapa waktu berlalu. Jadi tidak perlu khawatir..” jelas dokter itu.

“Mwo?! Tidak khawatir?! Aku tidak bisa melihat dokter!!!” seru Hyunseung marah.

Hyuna menatap Hyunseung sedih,  dan kembali memandang dokter tadi. “Apa tidak ada jalan untuk mengembalikannya dengan cepat dokter?”

“Mmm.. ini tidak seperti penyakit atau kerusakan agassi, operasi tidak terlalu dianjurkan. Tapi bisa di pancing dengan terapi..” jelas dokter itu.

“Berapa lama dokter?” Tanya Hyuna.

“Hal itu tidak bisa di pastikan, karena semua ini tergantung pada pasien juga..” jawab dokter itu.

“Mwo?!! Kau tidak bisa mengatakan itu pada pasienmu!! Apa kau benar-benar dokter?!!” Tanya Hyunseung tak percaya.

“Oppa..” ucap Hyuna menenangkan Hyunseung, bulir air matanya berjatuhan mengatahui pria itu pasti sangat shock tentang kebutaannya.

“Saya akan berusaha sebaik mungkin. Sekarang saya permisi..” ucap dokter itu sambil membungkuk sopan dan melangkah keluar.

Hyunseung memejamkan matanya sambil memegang dahi, ia tak percaya hal itu terjadi padanya.

Hyuna memegang pipi Hyunseung, “Gwenchana oppa, kau dengar kan? Ini hanya sementara.. Kau tidak perlu khawatir..”

Hyunseung kembali membuka matanya dan memandang kearah suara Hyuna, “Mwo?! Berapa lama aku harus menunggu?! Setahun?! Dua tahun?!” serunya.

Hyuna tidak bisa menahan air matanya melihat respon Hyunseung, “Aniya oppa, ini akan berlalu hingga kau tidak menyadarinya..” ucapnya dan memeluk leher pria itu. Tangannya mengelus rambut pria itu perlahan.

Hyunseung berusaha menahan air matanya, namun ia sangat lemah untuk menutupi perasaannya sendiri. Kedua tangannya bergerak memeluk Hyuna dan menangis di dada gadis itu.

“Gwenchana oppa, aku akan selalu membantumu melewati ini..” ucap Hyuna.

Dengan berat hati Hyuna menyampaikan berita buruk itu pada keluarga dan teman-teman mereka. Meskipun mereka ingin datang dan menghibur Hyunseung, pria itu menolak menemui siapa pun.

Hyunseung berbaring di tempat tidurnya sambil menggenggam tangan Hyuna, namun ia tak bisa tertidur nyenyak karena perasaan was-was yang terus menghantuinya. Kegelapan itu terasa seperti akan membunuhnya secara tiba-tiba.

Hyuna memperhatikan ekspresi Hyunseung yang terlihat sudah terlelap, lalu menarik tangannya perlahan. Ia terkejut ketika tiba-tiba tangan pria itu menggenggam tangannya erat.

Hyunseung membuka matanya dan menarik tangan Hyuna, “Hyuna-a?”

Hyuna menghela nafas dalam dan mengelus punggung tangan Hyunseung, “Oppa, aku hanya akan ke toilet. Sebentar saja..”

Hyunseung diam sejenak, “Hmm..” gumamnya dan melepaskan tangan Hyuna perlahan.

Hyuna bangkit dan melangkah ke toilet.

Hyunseung mendengar suara pintu terbuka dan kembali tertutup, lalu suara air terdengar. Tak lama terdengar pintu terbuka dan tertutup lagi. Dalam hitungan detik tangannya sudah di genggam oleh tangan lembut Hyuna lagi.

“Tidurlah oppa, besok kau sudah bisa kembali ke rumah…” ucap Hyuna.

Hyunseung menghela nafas dalam, “Apa aku tidak bisa disini saja?”

Hyuna menatap Hyunseung sedih dan memegang pipi pria itu dengan satu tangannya, “Oppa, kenapa kau berusaha menghindari semua orang? Mereka simpati padamu, jangan seperti ini. Juga kalau disini aku tidak bisa membawa Sohyun, kau tau kan betapa tidak sukanya aku jika berjauhan dari Sohyun?”

Hyunseung diam sambil menghela nafas dalam.

“Oppa, tidak akan ada yang berubah. Kau akan mengikuti terapi dan penglihatanmu akan segera kembali..” ucap Hyuna menghibur Hyunseung.

Hyunseung akhirnya mengangguk, “Ne..”

Hyuna tersenyum, “Nah.. tidurlah..”

Hyunseung diam sejenak, “Aku merasa tidak nyaman dengan kegelapan ini, apa kau bisa tidur bersamaku?”

“Hm.. baiklah..” ucap Hyuna, lalu membantu Hyunseung menggeser tubuhnya dan berbaring miring disebelah pria itu.

Begitu merasakan keberadaan Hyuna, Hyunseung merendahkan tubuhnya hingga bisa menyandarkan pipinya ke dada gadis itu sambil memeluk pinggang langsing istrinya.

Hyuna memeluk leher Hyunseung dan menyisir rambut pria itu dengan jemarinya.

Hyunseung memejamkan matanya. Dengan posisi seperti itu ia bisa menghirup aroma khas Hyuna yang membuatnya sangat tenang. Hanya itu yang tersisa baginya. Jika ia benar-benar buta, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi.

Keesokan harinya.

“Ayo oppa..” Hyuna membantu Hyunseung melangkah ke kursi roda dan memperhatikan pria itu duduk.

“Kau membawa kacamata hitam?” Tanya Hyunseung.

“Ne? oh.. ada..” jawab Hyuna sambil mengeluarkan kacamata hitam dari tas dan memberikannya ke tangan Hyunseung.

Hyunseung mengenakan kacamata itu dan duduk diam.

“Oke, kita pergi..” ucap Hyuna sambil mendorong kursi roda Hyunseung keluar dari ruang perawatan itu dan menuju pintu depan.

“Hyunseung!! Ahh.. akhirnya aku bisa menemuimu!!” ucap seseorang ketika Hyuna dan Hyunseung keluar dari gedung rumah sakit.

Dahi Hyunseung berkerut mendengar suara pria itu.

“Ya! Kenapa kau menolak bertemu kami?!” tanya pria lainnya.

“Oppa, jangan ditanyai seperti itu..” ucap Hyuna mengingatkan.

Hyunseung menyadari teman-temannya ada disana, tadi itu adalah suara Taemin dan Key.

“Hyunseung, gwenchana?” Tanya Eunji hati-hati.

Hyunseung menghela nafas dalam, “Hyuna, bukankah aku berkata jangan hubungi mereka?” tanyanya dingin.

Hyuna tertegun dan memandang teman-temannya yang lain bingung, “Oppa, mereka hanya…”

“Segera cari taxi!” potong Hyunseung.

“Hyunseung, kami sengaja menjemputmu.” Ucap Eunji.

“Aku tidak memintanya! Jangan temui aku!” seru Hyunseung, “Hyuna!!”

“Oh.. ne, oppa..” ucap Hyuna dan memandang yang lainnya menyesal, “Miane oppa, eonni..” ucapnya dan mendorong kursi roda Hyunseung pergi.

=Rumah=

Hyunseung benar-benar depresi karena kebutaan matanya. Iya tak ingin bertemu siapa pun, bahkan tidak ingin berbicara denga orangtuanya.

“Oppa, aku akan menyuapimu. Ayo buka mulut..” ucap Hyuna yang duduk di pinggir tempat tidur dengan piring makanan di tangannya.

Hyunseung menghela nafas dalam, “Keluarlah.. aku tidak lapar..” ucapnya.

Hyuna menatap Hyunseung sedih, “Oppa, jebal.. Aku akan menyuapimu, buka mulutmu.. ini..” dia mengarahkan sendok penuh dengan makanan ke mulut pria itu.

Hyunseung merasakan sesuatu menyentuh bibirnya, tangannya terangkat dan mendorong tangan Hyuna menjauh. “Aku tidak lapar! Keluar dan temani Sohyun!”

“Sohyun sedang tidur siang oppa, ayolah..” bujuk Hyuna sambil kembali menyodorkan sendok ke mulut Hyunseung.

Hyunseung mendorong tangan Hyuna dengan kasar hingga sendok dan makanan didalamnya berserakan di lantai.

Hyuna terkejut melihat sendok itu sekarang sudah berada di lantai dan memandang Hyunseung tak percaya, “Oppa, waekeure?”

“Kubilang aku tidak ingin makan!!!! Kau tidak mengerti?!!!” teriak Hyunseung marah.

Mata Hyuna memerah menahan air mata dan bulir-bulir air berjatuhan ke pipinya, “Oppa, jangan seperti ini..”

“Keluar Hyuna..” ucap Hyunseung pelan.

Hyuna menyeka air matanya dan membersikan lantai, lalu keluar dari kamar.

“Bagaimana? Dia belum mau makan?” Tanya ibu Hyunseung begitu Hyuna memasuki ruang tengah.

Hyuna menunduk sedih dan menggeleng.

“Ahh.. dia benar-benar..” ucap ayah Hyunseung tak habis pikir.

“Hyunseung oppa hanya membutuhkan waktu, appanim, eommanim. Aku akan terus memaksanya makan, jangan khawatir..” ucap Hyuna menenangkan.

“Ne, gumawoyo Hyuna-a..” ucap ibu Hyunseung.

Hyuna mengangguk.

Malamnya.

Hyuna naik ke tempat tidur dan duduk disebelah Hyunseung, “Oppa..”

Hyunseung menoleh kearah suara Hyuna.

Hyuna tersenyum dan menggenggam kedua tangan Hyunseung, “Oppa, gwenchana. Semuanya akan baik-baik saja, aku selalu disini untukmu..”

Hyunseung merasa semakin tak berguna mendengar ucapan Hyuna, perlahan ia menarik tangannya dari genggaman gadis itu dan memalingkan wajahnya.

Hyuna menatap Hyunseung sedih, “Oppa..”

Hyunseung bergerak berbaring sambil menyelimuti dirinya dan membelakangi Hyuna.

Hyuna berusaha menahan suara tangisnya, ia tau apa yang sebenarnya Hyunseung rasakan saat itu. Ia bergerak berbaring di belakang pria itu dan memeluknya.

Hyunseung menahan tangisnya, mendengar Hyuna menangis membuat hatinya jauh lebih sakit. Tangannya bergerak ke tangan gadis itu untuk melepaskan pelukannya, namun malah di genggam erat oleh Hyuna. Merasakan genggaman lembut itu membuatnya tak berdaya untuk menolak pesan cinta yang dikirimkan Hyuna melalui genggaman itu.

“Saranghae, oppa..” ucap Hyuna pelan.

Hyunseung memejamkan matanya erat, ‘Nadoo…’ batinnya membalas ucapan Hyuna.

=Kampus=

Naeun memandang Hyuna yang terlihat sedih, “Hyuna-a, Hyunseung oppa masih tidak mau bertemu dengan siapa pun?”

Hyuna menghela nafas dalam dan memandang Naeun, “Ne..”

Naeun memegang tangan Hyuna, “Hyunseung oppa masih shock, jangan terlalu khawatir dengan semua ini. Dokter berkata kalau kebutaannya bukan permanen kan, jadi kau tidak perlu memikirkannya..”

Hyuna mengangguk sambil tersenyum tipis.

=Rumah=

Hyunseung berjalan dikamar sambil meraba-raba sekitarnya, namun kemana pun ia melangkah sekelilingnya terasa sama saja. Kakinya melangkah cepat dan malah tersandung tempat tidur hingga terjatuh. “Ahh..” rintihnya karena lutut kirinya terasa sakit, ia bergerak duduk sambil mengelus lututnya. Perlahan ia kembali bangkit sambil berpegangan ke pada tempat tidur, telinganya mendengar suara pintu terbuka dan menoleh.

“Hyunseung-a, gwenchana?” Tanya ibu Hyunseung khawatir.

Hyunseung terpaku mendengar suara ibunya, “Eomma?”

“Appa!!!” sorak Sohyun sambil berlari menghampiri ayahnya.

Hyunseung menunduk merasakan pelukan kecil di kakinya, “Sohyun-a..” ucapnya sambil meraba-raba dimana putrinya.

Sohyun memandang tangan Hyunseung bingung dan memegangnya.

Hyunseung dapat merasakan jemari mungil Sohyun di satu tangannya, tangannya yang lain bergerak mengelus rambut gadis mungil itu.

“Hyunseung, tadi kau terjatuh?” Tanya ibu Hyunseung lagi.

“Ne..” jawab Hyunseung, “Gwenchana..” ucapnya, ia tertegun Sohyun melepaskan kakinya. “Sohyun?”

“Sohyun..” panggil ibu Hyunseung juga.

Hyunseung agak membungkuk untuk meraba-raba dimana putrinya. Tepat saat tangannya melayang untuk meraba ke sisi kiri, Sohyun berlari kearahnya.

DUK!

Hyunseung terkejut tangannya membentur sesuatu.

Sohyun terjatuh ke belakang dan langsung menangis karena kaget.

“Omo.. gwenchana.. sssh..” Ibu Hyunseung langsung menggendong Sohyun untuk menenangkannya.

Mata Hyunseung membesar menyadari dia baru saja mencelakai putrinya, “Oh.. Sohyun-a, appa miane..” ucapnya cepat.

“Gwenchana Hyunseung, dia hanya terkejut..” ucap ibu Hyunseung sambil memegang tangan putranya, “Ini.. dia baik-baik saja..” ucapnya sambil mengarahkan tangan putranya kepada Sohyun.

“Hmm!! Shiro!!” seru Sohyun sambil mendorong tangan Hyunseung dan menangis lebih keras.

Hyunseung terpaku ditempatnya. Menyadari ia benar-benar tak bisa melakukan apapun tanpa penglihatannya.

“Ssssh…” ibu Hyunseung menimang-nimang Sohyun agar lebih tenang, “Appa tidak sengaja sayang, gwenchana..”

“Ani.. eomma..” tangis Sohyun, “Eomma..”

Ibu Hyunseung menatap putranya sedih, “Hyunseung, dia baik-baik saja..” ucapnya sambil memegang tangan putra semata wayangnya itu.

Hyunseung menepis tangan ibunya, “Eomma, bawa Sohyun keluar..”

“Hyunseung, dia..”

“Bawa dia keluar!!” seru Hyunseung.

Ibu Hyunseung hampir menangis melihat ekspresi terluka di wajah putranya, “Ne, eomma akan menenangkannya diluar..” ucapnya, lalu membawa Sohyun yang terus menangis sambil memanggil ibunya.

Satu jam kemudian.

Hyuna kembali ke rumah setelah kuliah, “Aku pulang..” ucapnya pelan, terlalu pelan karena ia tertegun mendengar suara tangisan Sohyun.

“Sayang, eomma akan segera pulang. Tenang ya..” bujuk ibu Hyunseung pada cucunya.

“Huhuhu.. eomma odiga? Halmoni… aku mau eomma..” tangis Sohyun.

Hyuna langsung menghampiri Sohyun, “Sohyun-a, waekeure?”

“Eommaaaa…” tangis Sohyun sambil memeluk ibunya.

“Ne, eomma disini.. Sssssh.. tenanglah sayang..” ucap Hyuna sambil mengelus punggung putri kecilnya.

“Ahh.. syukurlah kau sudah pulang..” ucap ibu Hyunseung lega.

“Waeyo eommanim?” Tanya Hyuna tak mengerti, karena tak biasanya Sohyun menangis sampai seperti itu.

Ibu Hyunseung menghela nafas dalam dan menceritakan apa yang terjadi tadi.

Hyuna tertegun dan memandang putrinya sedih. Setelah menenangkan Sohyun, ia masuk ke kamar untuk menemui Hyunseung.

Hyunseung duduk di pinggir tempat tidur sambil memegang kepalanya.

“Oppa, kepalamu sakit lagi?” Tanya Hyuna sambil memegang kepala Hyunseung.

Hyunseung menggerakkan kepalanya menghindari sentuhan tangan Hyuna, membuat gadis itu tertegun dengan responnya.

“Oppa? Sohyun masih terlalu kecil untuk mengerti.. Gwenchana..” ucap Hyuna menjelaskan.

Hyunseung menunduk menyesal, “Pastikan saja dia tidak berada didekatku lagi..”

“Aniya, oppa..” ucap Hyuna.

“Berhenti berbicara, Hyuna!” tegas Hyunseung.

Hyuna terdiam sambil menatap Hyunseung sedih.

<<Back          Next>>

Advertisements

4 thoughts on “Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 24]

  1. andai aq jd hyuna aq pasti bkal selalu nemenin seungi walaupun dya kasar aq terima 🙂
    kasian hyuna but kasian juga hyunseung 😥
    next ^^

  2. huhuhu meweekk lagiiii…
    kasian hyun oppa..
    wajar sich kalo dya ngrasain gag bergunaaa…
    apa lg sampe buat sohyun nangis gtoo..
    dlu pas sohyun luka aja dya sampe bisa marahin hyuna apa lg ini yg nyelakain dirinya sendiri..
    pasti lah dya langsung jd down..
    hyuna unni jangan d masukin hati yaa kata2 kasar hyun oppa.
    terus dekati hyun oppa..
    😦

  3. beruntung ny hyunseung punya hyuna adalah karna mereka berdua saling memahami satu sama lain. dan sikap sabar hyuna menghadapi perlakuan kasar hyunseung oppa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s