Chapter

Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 21]

–Now! There is No Tomorrow For us! 4–

21

I want your lips, your kiss..
I want your love..
I want your honestly..
Tonight, I want all of you..
Baby love you girl, baby love you girl..
(Hyunseung & Gikwang – Let it snow)

“Oppa, akan kemana?” Tanya Hyuna yang melihat Hyunseung sudah rapi dengan setelan tuxedonya.
Hyunseung menghela nafas dalam, “Aku harus pergi ke acara kantor. Oh ya, appa dan eomma juga akan pergi. Tidak apa-apa kan kau hanya bersama Sohyun?”
Hyuna tersenyum tipis, “Ne, gwenchana..”
Hyunseung tersenyum sambil memegang pipi Hyuna, “Aku akan pulang lebih cepat, jadi tidak perlu khawatir..”
Hyuna mengangguk, ia senang Hyunseung masih memikirkannya. “Ne, oppa..”
Hyunseung mencium dahi Hyuna dan kembali memandangnya, “Baiklah.. aku pergi..”
“Ne, semoga sukses..” ucap Hyuna menyemangati.
Setelah mengantarkan Hyunseung dan mertuanya pergi, Hyuna masuk ke kamar Sohyun untuk memeriksa putrinya. Ternyata gadis kecil itu kembali terbangun dan tidak mau tidur lagi. “Sohyun-a, ini sudah larut. Tidurlah lagi..” bujuknya.
Tapi Sohyun tetap rewel dan menangis.
Hyuna menghela nafas dalam dan menggendong putrinya, “Tidurlah sayang.. ne..” bujuknya sambil menimang-nimang putrinya. Namun perlu waktu lama hingga ia merasa lelah menggendong putrinya yang sudah semakin berat. Setelah cukup lama, akhirnya ia bisa tenang karena Sohyun terlelap. Perlahan ia keluar dari kamar putrinya dan kembali menutup pintu tanpa menimbulkan suara.
“Ya Jang Hyunseung!!!” terdengar seruan dari pintu depan.
Hyuna tertegun dan spontan memandang ke arah suara itu, ‘Ada apa ya?’ batinnya sambil melangkah kesana.
Ayah Hyunseung menatap putranya marah, “Kau tidak membawa Hyuna tapi bersama Jihyun di acara kantor?! Kau gila?!”
Hyunseung menghela nafas dalam, “Aniya appa! Jihyun yang selalu mengikuti kemana pun aku pergi!”
“Yobo! Pelankan suaramu. Sohyun pasti sudah tidur sekarang..” bujuk ibu Hyunseung.
Ayah Hyunseung memegang pangkal hidungnya dan kembali menatap putranya kecewa, “Kenapa para tamu dari Amerika berpikir Jihyun adalah tunanganmu? Itu sangat buruk Hyunseung! Bagaimana jika mereka tau jika itu semua hanya kebohongan?!”
“Appa, ini semua karena Jihyun! Dia yang membuat situasi menjadi kacau seperti ini!!” ucap Hyunseung kesal, “Dia berpikir jika begitu kerja sama kita akan semakin lancar! Aku tidak pernah memulainya!”
“Dan kenapa kau hanya diam?!” Tanya ayah Hyunseung.
Hyunseung kehilangan kata-kata menjawab ayahnya karena pria itu seharusnya lebih mengerti dirinya dan bukan menuduh yang bukan-bukan seperti itu.
“Oh.. kau juga menggunakan cara ini untuk memperlancar bisnismu? Kotor sekali Hyunseung!” ucap ayah Hyunseung marah.
Ibu Hyunseung tertegun melihat Hyuna sudah berdiri memandangi mereka, “Oh Hyuna-a..”
Hyunseung tertegun dan menoleh kearah ibunya memandang.
Hyuna tidak tau harus mengatakan apa, jadi ia memutuskan untuk tersenyum tipis. “Oh.. kalian sudah pulang..” ucapnya pelan, “Kenapa berseru terus? Sohyun sudah tidur..”
“Ne, miane.. ada sedikit masalah..” jawab ibu Hyunseung.
“Hmm.. baiklah, aku akan tidur. Selamat malam..” ucap Hyuna dan berbalik pergi.
Hyunseung tau Hyuna pasti mendengar pembicaraan mereka dan memandang ayahnya, “Kemanhe appa..” ucapnya, lalu melangkah menuju kamar. Begitu masuk ke kamar, ia melihat Hyuna duduk di tempat tidur dengan setengah tubuhnya tertutupi selimut.
Hyuna memandang Hyunseung.
Hyunseung menghela nafas dalam dan menghampiri Hyuna, lalu duduk disebelahnya. “Kenapa belum tidur?”
“Tadi Sohyun rewel terus, jadi aku harus menemaninya bermain dulu..” jawab Hyuna.
“Hmm.. apa sekarang dia sudah tidur?” Tanya Hyunseung, berusaha membangun mood baik. Meskipun hanya kecanggungan yang terasa.
Hyuna mengangguk pelan. Keadaan hening sesaat.
“Mmm.. aku akan mengganti baju..” ucap Hyunseung sambil bangkit.
“Oppa..” panggil Hyuna.
Hyunseung berhenti dan memandang Hyuna.
Hyuna menatap Hyunseung dalam, “Apa aku tidak pantas mendampingimu diacara kantor?” tanyanya kecewa.
Hyunseung tertegun, “Ne? ani! Siapa yang mengatakannya?!”
Hyuna menunduk sedih, “Lalu kenapa oppa pergi sebagai tunangan Nam Jihyun?”
Hyunseung terkejut dan kembali duduk di sebelah Hyuna, “Mwo?! Aku tidak sama sekali memikirkan itu!” tegasnya.
Mata Hyuna mulai basah dan bulir air berjatuhan ke pipinya.
“Oh.. Hyuna, kau menangis? Ini bukan masalah besar! Kenapa kau menangis?!” Tanya Hyunseung tak mengerti bercampur kesal.
Hyuna memandang Hyunseung dengan ekspresi terluka, “Tidak penting? Apa bagimu ini tidak penting?”
“Aniya!! Kenapa kau masih menanyakannya?! Seharusnya kau tau ini hanya omong kosong!!” ucap Hyunseung kesal, lalu menghela nafas dalam. “Jebal Hyuna, aku lelah dan emosiku tak terkendali saat ini. Hentikan sikap konyolmu..” ucapnya, lalu bangkit dan berjalan masuk ke kamar mandi sambil melepaskan jasnya.
Hati Hyuna semakin sakit mendengar Hyunseung mengatakan perasaan terlukanya tidak penting, “Naega ara, oppa..” gumamnya, “Aku hanya seorang penari striptis..”

=Kampus=
Hyuna tidak bisa berkonsentrasi pada materi kuliahnya karena masih terpikirkan ucapan Hyunseung beberapa malam lalu. Pria itu bahkan tidak mengatakan maaf hingga berhari-hari berlalu. Ia tidak tau bagaimana harus menyelesaikan semua itu.
Kafetaria.
“Hyuna-a, ada apa lagi?” Tanya Naeun heran.
“Paling bertengkar dengan si manusia es itu lagi..” komentar Baekhyun.
Naeun menatap Baekhyun sebal, “Diamlah..” ucapnya, lalu kembali memandang Hyuna.
“Ne, aku bertengkar lagi dengan Hyunseung oppa..” ucap Hyuna lesu.
“Ha! Benarkan!” ucap Baekhyun.
“Wae? Kenapa lagi sekarang?” Tanya Naeun tak mengerti.
“Aku juga tidak mengerti..” jawab Hyuna.
Naeun diam sejenak, lalu memegang tangan Hyuna. “Hyuna-a, aku tau pasti masalahnya sangat berat untuk di ceritakan. Kau harus ingat, kau tidak boleh membiarkan dirimu terlihat lemah! Kau harus tetap memperjuangkan semuanya! Araso?”
Hyuna tertegun mendengar ucapan Naeun dan menatapnya serius, “Ne! kau benar! Aku harus memperjuangkan semuanya!! Aku pergi!” ucapnya dan langsung mengambil barang-barangnya pergi,
“Ya!” panggil Naeun tak mengerti.

=Perusahaan Keluarga Jang=
Seluruh kantor gempar karena kedatangan Hyuna, bukan karena melihat gadis itu muncul. Tapi karena dandanannya. Ia yang biasanya hanya mengenakan make up tipis dan pakaian formal jika datang kesana, saat itu datang dengan make up tebal dan pakaian yang diberikan Naeun padanya. Baju hangat berwarna hot-pink, juga celana jeans pendek yang didalamnya mengenakan legging jenis jaring. Serta high heels tinggi.

21b

Hyunseung yang sedang membaca beberapa berkas di ruangannya tertegun melihat seseorang masuk tanpa mengetuk pintu, apalagi ketika ia menyadari siapa yang masuk. Ia sempat terpaku beberapa saat melihat penampilan Hyuna. “Hyuna, mengapa kau mengenakan ini?”
Hyuna melangkah menghampiri Hyunseung dan menatapnya sambil tersenyum, “Wae? Oppa terkejut?” tanyanya dan mengelus bahu pria itu.
Hyunseung menahan tangan Hyunseung yang memegang bahunya dan bergerak bangkit, “Hyuna-a, waekeure?”
“Aku ingin memberikanmu kejutan, kau tidak suka penampilanku?” Tanya Hyuna sambil tersenyum lebar.
Hyunseung tidak tau harus mengatakan apa. “Mmm.. Hyuna…”
Hyuna mendekati Hyunseung sambil menggenggam tangannya, “Wae? Kenapa oppa jadi gugup?”
“Hyuna, ini kantor.. Jika kau ingin memberikan kejutan seperti ini, lakukan dirumah!” ucap Hyunseung tak mengerti.
Senyuman Hyuna menghilang dan melepaskan tangan Hyunseung, “Wae? Karena Jihyun akan melakukannya di kantor?”
Hyunseung tertegun dan memandang Hyuna dengan dahi berkerut, “Mwo?”
“Oppa, apa aku tidak menarik lagi di matamu? Kenapa kau sangat dingin padaku?” Tanya Hyuna tak mengerti.
“Hyuna, kita bicarakan ini dirumah.” Ucap Hyunseung menenangkan Hyuna.
Hyuna menatap Hyunseung marah, kedua tangannya langsung membuka kancing baju hangatnya hingga memperlihatkan bra hitam yang ia kenakan pada pria dihadapannya, “Kenapa kita tidak membicarakannya disini?!”
Hyunseung semakin tak mengerti dengan apa yang dilakukan Hyuna, “Hyuna! Apa-apaan kau?!”
Hyuna benar-benar melepaskan baju hangatnya dan membuangnya jauh, “waeyo? Apa oppa sudah terlalu sering melihat tubuhku hingga aku tidak menarik lagi bagimu?” tanyanya kecewa.
“Aniya!! Kenakan baju hangatmu lagi!!” ucap Hyunseung sambil melangkah untuk mengambil baju hangat Hyuna.
Hyuna menarik Hyunseung dan menatap marah, “WAE!!! Apa aku tidak seperti gadis glamor lain yang bisa kau bawa di muka umum?!!” serunya.
Hyunseung terkejut Hyuna terus mempermasalahkan semuanya, “Kim Hyuna!! Hentikan ini!”
Bulir air mata Hyuna mulai berjatuhan, “Apa yang harus dihentikan?! Hubungan kita?”
Hyunseung melotot mendengar ucapan Hyuna, “KIM HYUNA!!!”
Pintu ruangan terbuka dan muncul Eunkwang dengan wajah cemas, “Sajangnim, ada.. OH!” serunya kaget sambil memalingkan wajahnya karena melihat Hyuna seperti itu.
Hyuna terkejut dan menutupi dadanya dengan tangan.
Hyunseung memeluk Hyuna untuk menutupi tubuhnya, “KAU TIDAK BISA MENGETUK PINTU?!!!” teriaknya.
“Cesonghamida!!” ucap Eunkwang menyesal dan langsung keluar dengan kepala menunduk.
Hyuna benar-benar shock dengan apa yang baru saja terjadi. Seseorang melihat tubuh bagian atasnya hanya mengenakan bra. Bulir air matanya semakin berjatuhan menyadari kesalahannya datang kesana.
Hyunseung melepaskan pelukannya dan menatap Hyunseung kecewa, “Hyuna-a, kau benar-benar membuatku malu..” ucapnya tertahan.
Hyuna sangat terluka mendengar ucapan Hyunseung dan menatap pria itu, “Lalu kenapa kau menikahi penari striptis?” tanyanya, lalu segera mengambil baju hangatnya.
Hyunseung tertegun mendengar ucapan Hyuna, ia menyadari ucapannya sangat salah. “Hyuna, aku tidak bermaksud seperti itu.”
Hyuna mengenakan baju hangatnya dan langsung melangkah keluar.
Hyunseung menarik tangan Hyuna dan menatap gadis itu menyesal, “Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu, kumohon jangan salah mengerti..”
Hyuna menatap Hyunseung dengan ekspresi terluka, “Kemanhe oppa, sikapmu sudah menjelaskan lebih dari apa yang kau ucapkan..” ucapnya pelan, lalu melepaskan tangan Hyunseung dan keluar dari ruangan pria itu sambil menyeka air matanya. Ia berhenti sejenak menatap Eunkwang dan sekretaris Hyunseung yang membungkuk sopan padanya, mereka terlihat meliriknya ngeri. Kakinya kembali melangkah dan segera masuk ke lift. Bulir air matanya kembali berjatuhan, sekarang ia benar-benar terlihat rendah. Bahkan dimata suaminya sendiri.
Hyunseung sangat menyesali ucapannya. Ia segera mengejar Hyuna, namun gadis itu sudah tak terlihat.
“Cesonghamida sajangnim! Aku tidak bermaksud lancang!” ucap Eunkwang dengan kepala menunduk menyesal.
Hyunseung menatap Eunkwang, “Apa pun yang terjadi, ketuk pintu terlebih dahulu!” ucapnya dingin, lalu melangkah menuju lift.

=Malamnya=
Hyunseung melangkah masuk ke rumah dengan perasaan kacau, “Aku pulang..” ucapnya pelan.
Ibu Hyunseung langsung menghampiri putranya dengan Sohyun yang menangis di gendongannya, “Kenapa baru pulang?” tanyanya, namun ia tampak kebingungan tidak melihat Hyuna. “Hm? Hyuna mana?”
Hyunseung tertegun mendengar pertanyaan ibunya, “Hyuna belum pulang?”
Dahi ibu Hyunseung berkerut, “Bukankah ia pergi ke kantor. Kalian tidak pulang bersama?”
Hyunseung sendiri tak mengerti mengapa Hyuna belum pulang, “Oh.. waeyo Sohyun-a?” tanyanya karena putrinya terus menangis.
“Tubuhnya agak panas..” jawab ibu Hyunseung.
Hyunseung terkejut, “Ne?!” ucapnya tak percaya, lalu mengambil Sohyun dari ibunya. Putrinya memang terasa hangat, “Ssshh.. appa disini sayang..”
“Kemana Hyuna? Seharusnya dia langsung pulang jika urusannya sudah selesai..” ucap ibu Hyunseung tak habis pikir.
Hyunseung sangat kesal pada Hyuna dan segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi gadis itu, namun tak kunjung diangkat. “Aissh!! Kemana dia?!”
Sementara itu.
Hyuna duduk disebuah bar seorang diri sambil memandangi botol bir di depannya tanpa ekspresi.
“Jika bukan aku, siapa yang akan melindungimu?”
Itu adalah ucapan Hyunseung ketika pria itu membelanya dari para karyawatinya yang membicarakan dirinya sebagai penari striptis. Saat itu ia merasa seperti mendapat dinding untuk bersandar dan merasa sangat nyaman. Namun saat itu semua dinding itu sudah runtuh hingga membuatnya kembali terombang ambing. Ia menghela nafas dalam dan meneguk bir di botolnya, lalu kembali memandang botol itu. “Sebenarnya apa yang terjadi padamu Hyuna” gumamnya.
“Apa yang kurasakan selama 10 tahun ini..” “Aku akan membuangnya..”
Bulir air mengalir dari mata Hyuna, “Kenapa aku tidak benar-benar membuangnya?” gumamnya, lalu kembali meneguk bir di botol. Ia mengingat masa lalu, saat-saat berat ketika semuanya terus bergulir. “Oppa, kenapa semua ini tidak berkahir juga?” gumamnya pedih.

<<Back     Next>>

Advertisements

5 thoughts on “Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 21]

  1. ughhhhh knpa masa lalu hyuna unni dbawa2 lagiiiii…
    oppa sichhhhh…
    ada acara kayak gto yoo gag d ajag unni..
    jd salah paham kaannn..
    setuju ma appa ny hyun oppa..
    knpa gag bisa tegasin sich pas jihyun ngaku2 tunangan..
    *pukpuk hyuna unni

  2. memang ada salah ny jika menjadi seorang penari??

    apa itu terlihat sangat buruk?? apa mereka pikir mereka itu sangat baik??

    hah klo semua memandang pekerjaan sbga penari apalagi penari striptis rendah,, mereka justru lbh memalukan. menyebalkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s