Chapter

Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 18]

–Now! There is No Tomorrow For us!–

18

In this maze we’re in together..
The only place I can lean on is you..
Close your eyes, come into my arms because there is no tomorrow..
(Trouble Maker – Now)

Hyuna membuka pintu kamar dan melihat Hyunseung sudah terlelap di tempat tidur. Ia memandang pria itu bingung dan menoleh kearah Sohyun yang berdiri sambil berpegangan ke pinggir box sambil memandangnya. Ia menghampiri putrinya dan menggendong gadis imut itu, “Sepertinya appa sangat lelah, kita bermain diluar saja..” ucapnya setengah berbisik dan membawa putrinya keluar.
Ibu Hyunseung yang sedang membaca majalah langsung menutup bacaannya begitu melihat Hyuna membawa Sohyun keluar, “Aigoo.. Sohyun-a..” panggilnya.
Hyuna duduk di sebelah mertuanya sambil memberikan Sohyun.
Sohyun tertawa dan melonjak-lonjakkan dirinya tanpa ia ingin berdiri.
“Wae? Kau ingin berjalan lagi?” Tanya Ibu Hyunseung sambil menahan tubuh Sohyun agar berdiri di pangkuannya.
“Humm.. appppa..” ucap Sohyun sambil memasukkan kepalan tangan kecilnya ke mulut.
“Hm? Appa?” Tanya Hyuna.
Ibu Hyunseung memandang Hyuna, “Oh iya, mana Hyunseung?”
“Hyunseung oppa sudah tidur eommanim, sepertinya sangat lelah..” jawab Hyuna.
“Oh.. ne. Perusahaan akan menghadapi kerja sama besar dengan klien dari luar negeri untuk pertama kali, dan Hyunseung yang menanganinya. Kau harus bersabar jika dia terlihat cuek dan terlalu sensitive, itu pasti karena stress dari pekerjaannya..” ucap ibu Hyunseung mengingatkan.
Hyuna tersenyum dan mengangguk, “Ne, eommanim..”
Ibu Hyunseung mendudukkan Sohyun di pangkuannya dan bermain dengan cucu pertamanya itu, “Dulu, saat Hyunseung berusia 1 tahun. Ayahnya juga pernah sangat sibuk seperti ini hingga selalu lembur di kantornya, bahkan ketika pulang hanya untuk mengganti baju dan kembali lagi ke kantor. Kami juga jadi sering bertengkar karena ada saja yang jadi masalah, tapi semuanya segera selesai ketika eomma sadar ia sedang tertekan karena pekerjaannya..” ceritanya sambil mengenang masa lalu.
Hyuna mengangguk mengerti, “Hmm.. apa yang kualami ternyata tidak berbeda dengan eommnim. Aku senang ada disini..” ucapnya.
Ibu Hyunseung memandang Hyuna karena ucapan gadis itu terdengar sangar tulus, “Eomma juga senang kau ada disini. Setelah Hyunseung lahir, eomma berpikir untuk memiliki anak perempuan. Tapi sepertinya eomma tidak beruntung untuk memiliki anak kedua..” ucapnya.
Hyuna tersenyum, “Mungkin Hyunseung oppa memang ditakdirkan menjadi anak tunggal eomma..” ucapnya.
Ibu Hyunseung menghela nafas dalam dan tersenyum sedih, “Ne..”
Hyuna tertegun, “Waeyo eommanim?”
Ibu Hyunseung menggeleng, “Aniya, hanya saja…” ia kembali menghela nafas dalam.
“Wae?” Tanya Hyuna ingin tau.
Ibu Hyunseung memandang Hyuna, “Sebenarnya Hyunseung memiliki adik perempuan.”
Hyuna terkejut, “Ne?!”
“Tapi adiknya meninggal karena terlahir tidak cukup bulan.” Jelas Ibu Hyunseung.
“Ohh…” Hyuna mengangguk mengerti.
Ibu Hyunseung memandang Sohyun yang asik bermain, “Setelah adiknya meninggal, eomma sangat takut untuk hamil lagi. Karena bisa saja terjadi kematian lagi.. Jadi, eomma putuskan untuk membesarkan Hyunseung saja..”
“Ohh. Maafkan aku eommanim..” ucap Hyuna menyesal.
“Aniya, bagaimana pun kau harus tau tentang Hyunseung..” ucap ibu Hyunseung.
“Mmm.. dimana adik Hyunseung oppa di kuburkan?” Tanya Hyuna ingin tau.
“Di pemakaman keluarga, tidak jauh dari sini. Wae?” Tanya Ibu Hyunseung.
“Aniya, mungkin aku bisa mengajak Hyunseung oppa mengunjunginya..” jawab Hyuna sambil tersenyum.
Ibu Hyunseung tersenyum.
Keesokan paginya.
“Hyuna, aku pergi.. Bye Sohyun..” ucap Hyunseung yang langsung keluar dari rumah.
Hyuna hanya bisa memandang Hyunseung bingung, lalu berpandangan dengan Sohyun tak mengerti.

=Ruang Kerja Hyunseung=
Hyunseung mengelus belakang kepalanya dan meletakkan berkas di tangannya sambil menyandarkan punggung ke kursi. Kepalanya mulai terasa pusing karena terlalu lama berkutat dengan pekerjaan. Matanya melirik telepon yang berbunyi, lalu dengan malah mengambilnya. “Ne, Jang Hyunseung..”
“Sajanngnim, ayah anda meminta anda datang ke ruangannya sekarang..” ucap sekretaris Hyunseung.
“Oh.. aku akan segera kesana..” jawab Hyunseung dan kembali meletekkan telepon ketempatnya semula. Meskipun ia tak ingin pergi, ia tetap bangkit dan segera pergi ke ruangan ayahnya.
Tok! Tok! Tok!
Hyunseung mengetuk pintu perlahan dan membukanya.
“Oh Hyunseung-a, ayo masuk..” panggil ayah Hyunseung.
Hyunseung tertegun melihat Tuan Nam dan putrinya, Jihyun, yang duduk di sofa.
“Hyunseung, ucapkan salam dan bergabung bersama kami..” ucap ayah Hyunseung.
Hyunseung membungkuk sopan dan berjalan ke sofa, lalu duduk di sebelah ayahnya. Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa kedua orang itu ada disana.
Jihyun tersenyum memandang Hyunseung, “Oppa, kudengar kau sudah memiliki putri. Chukae..”
Hyunseung tersenyum tipis dan mengangguk pelan, “Gumopta..”
“Hyunseung, Tuan Nam dan Jihyun kemari untuk menawarkan kerja sama.” Jelas ayah Hyunseung.
Hyunseung menatap ayahnya tak percaya dan memandang Tuan Nam, dia tak mengerti mengapa pria itu masih mau bekerja sama dengan perusahaannya setelah semua yang terjadi.
“Ini.. kau bisa melihat proposal mereka..” ucap ayah Hyunseung sambil memberikan berkas di meja pada Hyunseung.
Hyunseung mengambil berkas itu dan membacanya sekilas, sebenarnya ia tak bisa berkonsentrasi karena terlalu penasaran mengapa kerja sama itu akan terjadi.
“Oppa, kenapa kau terlihat bingung begitu?” Tanya Jihyun.
“Hm? Oh.. ani…” jawab Hyunseung cepat.
Jihyun tersenyum, “Aku yang memberi ide kerja sama ini pada appa, karena sekarang aku menjalankan salah satu cabang perusahaan appa. Karena aku belum mengenal siapa pun di bidang ini, aku berpikir mungkin akan lebih baik jika oppa yang bekerja sama denganku dalam hal ini. Benarkan?”
Hyunseung tertegun mendengar ucapan Jihyun, “Oh..” hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.
“Pikirkanlah dulu Jang Hyunseung, kami akan kembali beberapa hari lagi..” ucap Tuan Nam.
Hyunseung memandang Tuan Nam dan mengangguk, “Ne.. Aku akan mempertimbankannya.”
Setelah Tuan Nam dan Jihyun pergi.
“Appa, kurasa ini tidak begitu baik..” ucap Hyunseung sambil membolak balik berkas ditangannya.
“Ne, appa juga berpikir begitu. Tapi perusahaan Tuan Nam sudah terlebih dulu bekerja sama dengan perusahaan luar, jika kita menolak hubungan kerja sama ini, bisa saja nama perusahaan kita akan menjadi jelek karena mereka tau tentang latar belakang penolakan itu..” jelas ayah Hyunseung.
Hyunseung menghela nafas dalam dan meletakkan berkas itu ke meja, “Sejujurnya aku bisa bekerja secara professional, appa..” ucapnya yakin, “Tapi Hyuna akan terganggu jika tau aku bekerja sama dengan mantan tunanganku..”
“Appa tau Hyunseung..” jawab ayah Hyunseung, lalu memegang bahu putranya. “Pikirkanlah dampak negative dan positifnya dulu, lalu putuskan yang terbaik..”
“Bagaimana jika appa saja yang memutuskan?” Tanya Hyunseung.
“Tidak bisa, Jihyun inginnya bekerja sama denganmu..” jawab ayah Hyunseung.
“Ahh.. aku dan appa apa bedanya? Kita kan bekerja di perusahaan yang sama..” ucap Hyunseung sebal.
Ayah Hyunseung tersenyum lucu, “Kau seperti tidak mengenal Jihyun saja..”
Hyunseung menghela nafas dalam dan mengambil berkas itu, “Baiklah, aku akan memikirkannya lagi..”

=Kamar Tamu=
Hyuna membuka pintu dan melihat Hyunseung tampak sangat depresi dengan berkas-berkas di hadapannya. Ia melangkah masuk dengan segelas coklat hangat.
Hyunseung menoleh kearah Hyuna dan segera menutup berkas proposal dari Jihyun, “Oh Hyuna-a..”
Hyuna tersenyum, “Ini, aku membawakanmu coklat hangat..” ucapnya.
Hyunseung tersenyum dan mengambil gelas itu dan menghirup aromanya, “Hmm..” gumamnya dan menyeruputnya sedikit.
Hyuna duduk di pinggir tempat tidur, “Oppa, apakah masih sibuk sekali?” tanyanya.
“Mmm.. lumayan.. Wae?” Tanya Hyunseung.
Hyuna menghela nafas dalam, “Aniya, aku hanya khawatir. Ini sudah hampir tengah malam, tapi oppa masih bekerja..”
“Ne?” Hyunseung memandang jam tangannya, “Oh.. benar..” ucapnya dan memandang Hyuna, “Miane, aku sampai lupa waktu.. Apa Sohyun sudah tidur?”
Hyuna mengangguk, “Ne, dia sepertinya sangat ingin bermain denganmu..”
Hyunseung menghela nafas dalam sambil mengusap wajahnya, “Ahh.. aku selalu menghabiskan waktu dengan pekerjaanku akhir-akhir ini..”
Hyuna tersenyum, “Oppa, aku berpikir untuk merubah kamar tamu menjadi kamar untuk Sohyun dan meja kerjamu bisa di pindahkan ke kamar kita..”
Hyunseung memandang Hyuna bingung, “Wae? Sohyun masih tidur di box bayi, jadi itu tidak masalah kan?”
“Ne, memang begitu. Tapi sebentar lagi Sohyun akan berusia 1 tahun. Dia harus belajar tidur di kamar sendiri setelah itu, jadi kurasa sudah saatnya kita mempersiapkan kamarnya..” jelas Hyuna.
Hyunseung diam sejenak untuk berpikir, lalu mengangguk. “Keure.. Aku akan menyiapkan waktu untuk membeli perlengkapan kamarnya.”
“Aniya, oppa sangat sibuk, jadi aku akan pergi dengan eommanim dan Eunji eonni saja..” ucap Hyuna cepat.
Hyunseung memandang Hyuna bingung, “Ahh.. sekarang kau sudah tidak membutuhkanku lagi?”
Hyuna tertawa kecil, “Oppa.. tidak, mungkin begitu..”
Hyunseung tertawa kecil sambil mengulurkan tangannya kearah Hyuna, lalu menariknya duduk ke atas pengkuannya.
Hyuna memandang Hyunseung sambil tersenyum.
Hyunseung memeluk pinggang langsing Hyuna sambil memperhatikan seluk beluk wajah gadis itu, “Hyuna-a, mungkin aku akan sangat sibuk beberapa saat ini. Kau bisa mengerti kan?”
Hyuna mengangguk, “Ne.. Aku akan mengerti, tapi oppa juga harus memikirkan kesehatanmu. Aku tidak ingin kau jatuh sakit karena terlalu lelah bekerja, araso?”
Hyunseung mengangguk mengerti, “Ne, Sohyun eomma..”
Hyuna tersenuyum malu, “Keure, Sohyun appa..”

=Beberapa Hari Kemudian=
Hyunseung duduk di ruangannya sambil memijat pundaknya yang terasa pegal, “Ahh.. melelahkan..” ucapnya sendiri, lalu menyandarkan punggung dan memejamkan matanya sejenak. Ponselnya berbunyi, tangannya bergerak mengeluarkan ponsel dari saku celana tanpa membuka mata. Setelah ponsel itu berada di depan wajahnya, ia baru membuka mata dan melihat Hyuna menghubunginya dengan video call. Ia segera menjawab, “Oh, Hyuna-a..”
“Oppa, annyeong..” sapa Hyuna dengan senyuman lebar di wajahnya dan melambai pada Hyunseung.
Hyunseung tersenyum lebar melihat istrinya berlaku imut.
“Oppa, apa kau masih sibuk? Sudah makan siang?” Tanya Hyuna.
“Ne?” Hyunseung memandang jam tangannya dan tertegun melihat jam makan siang sudah berlalu satu jam yang lalu.
“Oppa belum makan siang kan?” Tanya Hyuna sebal.
“Ahh.. aku akan makan siang sebentar lagi..” jawab Hyunseung.
Hyuna cemberut, “Oppa ini..” ucapnya.
Hyunseung tersenyum, “Gwenchana, bagaimana dengan persiapan kamar Sohyun?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Hyuna kembali tersenyum, “Aku mengganti kertas dindingnya dan eommanim  bayi. Juga ada sofa dikamarnya agar aku bisa menyusuinya dengan nyaman..” ceritanya.
Hyunseung mengangguk mengerti, “Apa dia suka kamarnya?”
“Ne, dia merangkak ke sekitar kamarnya dan bermain dengan ceria..” Jawab Hyuna.
“Itu bagus..” ucap Hyunseung.
“Oh ya, ada yang ingin kuperlihatkan..” ucap Hyuna sambil menghampiri putrinya yang sedang menyusun pyramid. Ia mengarahkan kamera kepada dia dan Sohyun, “Sohyun-a, itu appa..” ucapnya.
Hyunseung tersenyum lebar melihat putrinya, “Sohyun-a..” sapanya sambil melambai.
Sohyun memandang layar ponsel Hyuna dan terlihat Hyunseung melambai padanya, ia tertawa sambil mengulurkan tangannya ke ponsel. “Appa..” panggilnya.
Hyunseung tertegun, “OH! Dia memanggil appa!!” serunya girang.
Hyuna tersenyum lebar sambil mengelus rambut putrinya, “Aigoo.. keyowa..”
“Ahhh.. kuharap aku ada disana sekarang.” Ucap Hyunseung kecewa.
“Nanti pulanglah lebih cepat, paling tidak oppa bisa menemani Sohyun sebelum tidur..” ucap Hyuna.
“Keure, aku akan mengusahakannya..” ucap Hyunseung.
“Oke, bye oppa.. Saranghae..” ucap Hyuna.
Hyunseng langsung tersenyum lebar, “Ne, saranghae..” jawabnya dan video call itu berakhir. Meskipun begitu bibirnya masih membentuk senyuman mengingat bagaimana Sohyun memanggilnya.

<<Back     Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 18]

  1. untuk apa tuan nam n jihyun menawarkan kerja sama??
    jangan” ada udang dibalik bakwan??

    wahhh sohyun imut sekaiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s