Chapter

Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 10]

–“Flower Love”–
10

Oh Flower, you’re so sweet, sweet, sweet, sweet..
Oh Flower, you’re so deep, deep, deep, deep..
Even after time passes, the thickly settled scent remains..
Baby, oh, oh, I’m addicted..
Flowers are gone, but I still (Still love you baby, I love you baby)..
Flowers are gone, but you’re in me (You’re in me baby, you’re in my heart baby)..
Flowers are gone, but I still (Still love you baby, I love you baby)..
Flowers are gone, but you’re in me..
Flowers are gone, but you’re in me..
(Yong Jun Hyung – Flower)

=Flashback=
Satu tangan Hyuna menggenggam tangan Hyunseung sedangkan satu lagi mencengkeram alas kasur tempat dia berbaring. Seluruh tubuhnya dibasahi keringat. Juga air mata yang terus mengalir karena rasa sakit di bagian bawah tubuhnya. Nafasnya terasa sesak seperti mencekik lehernya.
Satu tangan Hyunseung yang lain melingkar diatas kepala Hyuna dan menatapnya dalam, “Ayo Hyuna, kau bisa mendorongnya keluar..” ucapnya memberi semangat.
Hyuna menggigit bibir bawahnya karena semua tenaganya terasa sudah terkuras habis, “Ahhh.. aniya oppa, aku tidak sanggup..” tangisnya sambil menggeleng.
“Kau bisa! Kau sangat kuat Hyuna!” ucap Hyunseung.
“Ayo Hyuna-ssi, aku sudah bisa melihat kepalanya. Dorong lagi, kau bisa melakukannya.” Ucap dokter yang membantu persalinan Hyuna.
“Kau dengar? Kepalanya sudah terlihat, kau bisa Hyuna.. Dorong lagi..” pinta Hyunseung sambil menyeka keringat di dahi Hyuna.
Hyuna menghela nafas dalam berkali-kali dan kembali mendorong bayinya keluar dari tubuhnya. Namun rasa sakit kembali membuatnya tak berdaya, “Ahh.. aku tidak bisa oppa..” ucapnya lemah.
“Hyuna-ssi, satu dorongan kuat lagi bayimu akan segera keluar..” ucap dokter itu menyemangati.
“Hyuna! Satu dorongan lagi.. Jangan menyerah sekarang, bayi kita akan segera lahir.. Kau bisa melakukannya..” ucap Hyunseung lembut.
Hyuna menatap Hyunseung ditengah rasa sakitnya, Hyunseung benar, hanya dia yang bisa berjuang demi bayinya sekarang. Ia mengumpulkan semua tenaga terakhirnya dan mendorong bayinya keluar. “Arrrrrrgghhhh!!!!” serunya dan terbaring lemas dibantalnya. Matanya terpejam dengan nafas sesak. Ia merasa berada di awang-awang, bahkan rasa sakitnya tak terasa untuk beberapa saat. Dari kejauhan, ia seperti mendengar suara tangisan bayi. Semakin lama semakin dekat. Suara tangisan itu memberi kekuatan lagi untuknya. Matanya terbuka perlahan dan memandang kearah Hyunseung yang tersenyum lebar padanya.
“Putri kita sudah lahir Hyuna, kau melakukannya dengan baik..” ucap Hyunseung penuh haru dan mencium punggung tangan Hyuna berkali-kali.
Hyuna terlalu lemah untuk menjawab ucapan Hyunseung, kepalanya menoleh ke sisi lain melihat dokter yang membantu persalinannya menyodorkan seorang bayi padanya. Matanya membesar melihat bayi mungil yang terus menangis itu, air mata haru langsung mengalir dari matanya.
“Ini putrimu Hyuna-ssi, dia sangat cantik..” ucap dokter itu sambil tersenyum.
Hyuna tersenyum haru sambil menerima bayinya dan menatapnya tak percaya, ia benar-benar telah melahirkan putrinya ke dunia.
Hyunseung tersenyum dan menatap putrinya penuh haru, “Dia cantik sekali..”
Hyuna memandang Hyunseung sambil tersenyum haru, “Oppa…putri kita..”
Hyunseung mengangguk sambil menyeka keringat yang masih tersisa di wajah Hyuna.
“Kau bisa langsung menyusuinya, Hyuna-ssi..” ucap dokter itu memberi instruksi.
“Ne..” jawab Hyuna, tangannya bergerak membuka kancing bajunya. Namun tangannya terus bergetar hingga tak bisa bergerak leluasa.
Hyunseung membantu Hyuna membuka kancing bajunya dan membukanya sedikit.
Hyuna mengarahkan mulut bayi mungil itu kearah payudaranya dan memperhatikan bagaimana bayi itu mulai menyusu untuk pertama kali padanya.
Hyunseung mengelus kepala Hyuna dan menempelkan pelipisnya ke kepala gadis itu sambil memperhatikan bayi mereka menyusu untuk pertama kalinya.
Hyuna memandang Hyunseung dan menatapnya dalam, “Oppa, hari ini adalah salah satu hari yang paling membahagiakan dihidupku..” ucapnya.
Hyunseung memandang Hyuna menahan tawa, “Salah satu?”
“Ne.. Karena semua hari yang kulalui bersamamu sangat membahagiakan, dan ini salah satunya..” ucap Hyuna menjelaskan.
Hyunseung tersentuh mendengar ucapan Hyuna dan menatapnya penuh arti, “Aku juga..” ucapnya pelan, lalu memberi kecupan manis di bibir gadis yang baru saja melahirkan anaknya.
=Flashback End=
-Hyuna’s POV-
Aku membuka mataku perlahan, namun kembali memejamkannya karena kepalaku terasa sangat sakit. Sekelilingku terasa berputar beberapa saat hingga aku bisa menguasai rasa sakitku.
“Hyuna, kau sudah sadar?”
Mataku kembali terbuka perlahan dan memandang kearah pria yang berbicara.
Kris menatapku khawatir, “Kau sudah merasa lebih baik?” tanyanya, lalu memegang kepalaku. “Apa kepalamu sakit lagi?”
Saat itu, saat memandang Kris. Aku tidak pernah merasa sangat salah seperti ini seumur hidupku. Aku tidak pernah menyesali apa yang telah kulakukan. Bulir air mengalir begitu saja dari sudut mataku.
“Hyuna, kenapa kau menangis?” Tanya Kris, kecemasan tampak tersirat jelas di wajahnya.
Aku berusaha menguasai diriku dan mengumpulkan suaraku untuk berbicara, “Kris, aku harus pergi..” ucapku pelan.
Kris menggenggam jemariku, “Hyuna, kita bisa menjemput Sohyun setelah kau merasa lebih baik..” ucapnya.
Aku menggeleng dan bergerak bangkit sambil menarik tanganku dalam genggaman Kris, “Maafkan aku Kris, seharusnya aku tidak pergi bersamamu.. Aku harus pergi sekarang..” ucapku sambil melepaskan jarum infuse perlahan.
Kris menahanku ketika hendak turun dari tempat tidur, “Tunggu.. Apa maksudmu?”
Aku menatap Kris dalam, “Aku harus kembali pada suamiku, Kris..” ucapku pelan.
Kris tertegun mendengar ucapanku dan menatap kedua mataku dalam, “Ingatanmu sudah kembali Hyuna?”
Kepalaku mengangguk pelan, “Ne..” jawabku, “Dan aku telah melakukan kesalahan besar Kris, aku harus pergi..” ucapku, lalu melangkah meninggalkannya. Kali ini Kris tidak menghalangiku lagi.

I love you, even if I say it a thousand times..
(Co-ed school – I Love you a thousand times)

=Rumah Keluarga Jang=
Aku memberikan uang pada supir taxi dan langsung membuka pintu, lalu setengah berlari menuju pintu depan. Aku harus segera bertemu dengan Hyunseung oppa dan menjelaskan semua yang sudah terjadi. Aku tidak akan berpisah darinya, tidak akan pernah! Begitu masuk aku langsung melihat Naeun dan Eunji eonni duduk di ruang tengah.
Naeun memandangku bingung, “Hyuna-a?” ucapnya sambil berdiri.
“Dimana Sohyun?” tanyaku langsung.
Eunji eonni berdiri, “Hyuna, kenapa kau datang malam sekali?”
Aku tidak tau harus memulai dari mana, sekarang yang ada di pikiranku hanya Hyunseung oppa dan Sohyun. Aku harus memberitau mereka kalau aku sudah kembali pada diriku yang sebenarnya.
Naeun melangkah menghampiriku, “Hyuna-a, kenapa kau terlihat panic?” tanyanya khawatir sambil memegang bahuku.
Rongga mataku kembali di penuhi air dan bulir-bulir air berjatuhan memandang sahabat terbaikku. Dia selalu ada untuk membantuku tapi aku meragukannya, aku tidak tau apa yang menimpaku sebelumnya. Tapi sekarang aku benar-benar menyesal.
Naeun terkejut melihatku menangis, “Hyuna? Waekeure?” tanyanya tak mengerti.
“Naeun-a..” ucapku pelan dan memeluknya.
Naeun tampak bingung. Ragu-ragu tangannya bergerak mengelus punggungku, “Ne, tenangkan dirimu dulu..”
“Hyuna-ssi, kenapa kau baru datang?” Tanya seseorang.
Aku langsung memandang kearah suara tenang itu. Hyunseung oppa berdiri disana sambil memandangku tanpa ekspresi. Aku melepaskan pelukanku dari Naeun dan langsung berlari memeluk Hyunseung oppa. Aku benar-benar merindukannya. Mataku langsung terpejam begitu merasakan baju hangat yang dia kenakan menyentuh pipiku, hidungku bisa mencium aroma tubuhnya yang biasa kunikmati setiap berada didekatnya. Aku tidak tau apa yang harus kukatakan padanya. Yang kutahu, hatiku sangat merindukannya hingga tak bisa melepaskan pelukanku dari tubuhnya.
“Hyuna-ssi, waekeure?” Tanya Hyunseung oppa tak mengerti sambil memegang bahuku dan mendorongku perlahan, tapi aku menolak melepaskan pelukanku dan memeluknya semakin erat. “Hyuna-ssi?”
Bulir air mataku terus mengalir mendengar kecanggungan dalam suara Hyunseung oppa. Mengingat tatapannya kemarin, aku tau hatinya telah terluka dengan semua yang terjadi.
“Hyuna-a, apa terjadi sesuatu?” Tanya Eunji eonni khawatir.
Hyunseung oppa menunduk untuk memandang wajahku, “Hyuna-ssi..”
Tanganku akhirnya melepaskan pelukanku dan menatap Hyunseung oppa dalam, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku.
Hyunseung oppa mengerutkan dahi melihatku menangis tersedu-sedu tanpa sebab dihadapannya, “Waeyo? Sesuatu terjadi?” tanyanya pelan, ia terdengar sangat khawatir.
Mulutku terbuka untuk mengatakan sesuatu, tapi aku tidak tau harus mengatakan apa. Kedua tanganku mencengkeram baju disisi kanan dan kiri tubuhnya, lalu meletakkan dahiku ke dadanya sambil terus menangis. Kurasa Hyunseung oppa, Naeun dan Eunji eonni saling berpandangan bingung. “Miane oppa….” Ucapku pelan, sangat pelan hingga hanya Hyunseung oppa yang bisa mendengarnya.
Hyunseung oppa tertegun mendengar ucapanku dan menatapku tak percaya.
Aku mengangkat wajahku dan menatapnya. Aku tidak peduli bagaimana keadaan wajahku sekarang, aku hanya ingin Hyunseung oppa melihat diriku yang sebenarnya.
Mata Hyunseung oppa menatap kedua mataku tak percaya, “Hyuna?”
“Miane oppa..” ulangku lagi.
Mata Hyunseung oppa perlahan membesar dan langsung memegang kedua pipiku, “Hyuna?” ucapnya penuh haru.
Bulir air terus mengalir dari mataku yang menatap Hyunseung oppa, “Saat itu aku berkata kalau hari itu adalah salah satu hari yang paling membahagiakan dihidupku. Karena semua hari yang kulalui bersamamu sangat membahagiakan, dan hari dimana aku melahirkan Sohyun salah satunya..” ucapku pelan, menjawab pertanyaannya dulu mengenai ucapanku beberapa saat setelah Sohyun lahir.
Mata Hyunseung oppa mulai berkaca-kaca dan langsung mencium dahiku sepenuh hatinya, lalu memelukku erat seperti dia tidak akan melepaskanku lagi. “Hyuna!!” ucapnya dengan suara bergetar.
Tuhan!! Aku benar-benar merindukan pelukan hangatnya! Akhirnya aku bisa merasakannya lagi!
“Hyunseung, ada apa?” Tanya Eunji eonni bingung.
Namun kami terlalu sibuk dengan dunia kami hingga tak mempedulikan siapa pun di sekitar kami lagi. Saat ini, hanya kami yang ada disini. ^^
-Hyuna’s POV end-

And I remember that fight, 2:30 a.m..
As everything was slipping right out of our hands..
And I ran out crying and you followed me out into the streets..
Braced myself for the goodbye..
‘Cause that’s all I’ve ever known..
And you took me by surprise..
You said “I’ll never leave you alone..”
(Taylor Swift – Mine)

Hyuna berpandangan dengan Hyunseung tanpa mengatakan apa pun. Ia berbaring di lengan pria itu dan satu tangannya saling menggenggam dengan pria yang sangat ia cintai itu. Bibirnya membentuk senyuman lebar, “Oppa, aku belum memberitau Sohyun kalau ingatanku sudah kembali..”
Hyunseung yang sejak tadi tersenyum sambil menatap Hyuna menarik tangan gadis itu yang dalam genggamannya ke pipi, lalu mencium jemari gadis itu lembut.
“Oppa…” ucap Hyuna malu dengan pipi merona.
Hyunseung sangat yakin gadis di depannya memang Hyuna yang selama ini ia cintai melihat respon yang ia lihat, “Sohyun masih tidur.. Aku ingin meyakinkan diriku..” ucapnya pelan.
Hyuna menahan tawa mendengar ucapan Hyunseung, “Oppa, kau ini..” ucapnya sambil memukul bahu pria itu pelan.
Hyunseung menatap Hyuna penuh arti, “Saranghae Hyuna..” ucapnya sepenuh hati.
Hyuna tersentuh mendengar ucapan Hyunseung dan memegang pipinya, “Ne, nadoo saranghae oppa..” ucapnya.
Tangan Hyunseung yang tadi menggenggam tangan Hyuna berpindah memegang pipi gadis itu dan memajukan wajahnya.
Hyuna memejamkan matanya begitu merasakan bibir Hyunseung menyentuh bibirnya. Ciuman manis yang sudah lama tidak ia rasakan. Kedua tangannya bergerak memeluk leher pria itu untuk memperdalam ciuman mereka.
Hyunseung memejamkan matanya dan mencium Hyuna seperti itu adalah ciuman terakhir mereka, kedua tangannya bergerak memeluk gadis itu erat. Semakin lama ciuman itu berubah dari ciuman lembut menjadi ciuman penuh gairah diantara mereka. Dengan satu gerakan cepat ia sudah melayang di atas tubuh Hyuna tanpa melepaskan ciuman mereka. Satu tangannya tetap memeluk gadis itu, sementara tangannya yang lain bergerak dari pinggang Hyuna menuju kaki indahnya. Tepat saat dia menarik satu kaki Hyuna ke pinggangnya, terdengar suara tangisan Sohyun yang tiba-tiba terbangun. Terpaksa bibirnya melepaskan bibir Hyuna dan bertatapan sejenak.
Hyuna tersenyum sambil mengelus pipi Hyunseung, “Oppa, Sohyun menangis..” ucapnya.
Hyunseung tersenyum, “Sepertinya dia tidak ingin ibunya menghabiskan waktu dengan yang lain..” candanya dan bergerak duduk di sebelah Hyuna.
Hyuna tertawa kecil sambil bergerak bangkit, ia turun dari tempat tidur dan langsung menghampiri box bayi. “Aigoo… Sohyun-a..” ucapnya sambil menggendong bayi mungil itu dan mencium pipi putrinya, “Kau buang air kecil? Ayo kita ganti dulu..” ucapnya sambil membaringkan Sohyun ke meja di sebelah box dan mulai membuka popoknya.
Hyunseung memperhatikan Hyuna mengganti popok Sohyun sambil tersenyum, ‘Terima kasih Tuhan, Kau mengembalikan Hyunaku..’ batinnya.
Hyuna kembali memasang popok baru Sohyun, ia sempat terkejut merasakan sepasang tangan kekar memeluk pinggangnya dari belakang. Namun ia langsung tau siapa yang memeluknya karena Hyunseung meletakkan dagu ke bahunya, “Oppa, kau mengejutkanku..”
Hyunseung tersenyum sambil memandang Sohyun yang terlihat asik memainkan bonekanya, “Kau tau? Aku sangat merindukan keadaan seperti ini..” ucapnya pelan.
Hyuna tersenyum dan mengangkat satu tangannya untuk mengelus pipi Hyunseung, “Aku tau oppa..”
Hyunseung mengecup pipi Hyuna dan melepaskan pelukannya agar gadis itu bisa melanjutkan kegiatannya.
Hyuna menggendong Sohyun dan membawanya ke tempat tidur. Tidak seperti sebelumnya, ia tanpa canggung langsung membuka kancing bajunya dan menyusui Sohyun didepan Hyunseung.
Hyunseung mengangkat satu tangannya keatas kepala Hyuna dan membiarkan gadis itu bersandar padanya, ia seperti baru terbangun dari mimpi buruk yang panjang. Keadaan sangat hening saat ia memperhatikan Sohyun yang mulai mengantuk setelah beberapa saat menyusu. “Oh ya, hari ini Sohyun mengatakan kata pertamanya..” ucapnya memberitau.
Hyuna memandang Hyunseung tak percaya, “omo, jinja? Apa yang dia katakan?”
“Dia berkata eomma..” jawab Hyunseung sambil tersenyum.
Hyuna tersenyum lebar, “Eomma? Oh..” ucapnya tak percaya sambil memandang putrinya dan mengelus kepalanya, “Omo.. anak pintar..” ucapnya bangga.
Hyunseung mengelus rambut Hyuna dan menyandarkan kepala gadis itu ke bahunya.

<<Back     Next>>

Advertisements

5 thoughts on “Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 10]

  1. akhirnya hyuna kembali jdi dirinya sendiri 🙂
    senang nya 😀
    kasian kris iih 😥
    but gpp lah dya kan bssa cari cw lain , jd jangan ganggu keluarga hyuna lgy ya ^^
    next 🙂

  2. ahhhhh akirnya ingatan hyuna unni kmbli lagiiiii…
    yeeeyyyyy hyun family bisa berkumpul lagii…
    kalo gtoo kan maniss jadi nyaaa…
    ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s