Chapter

Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 2]

–New Disaster–

 2

Lonely you.. Lonely you..

Do you know my heart?

Lonely heart.. Lonely heart..

No one is by my side..

Again today, lalala lonely.. Lalala lonely..

My heart drenched in rain is lalala lonely.. Lalala lonely..

Will you hold me?

(Hyorin – Lonely)

-Hyunseung’s POV-

Hyuna ada disana. Duduk diatas tempat tidur memandangku canggung. Dia Hyuna yang sama. Namun sangat berbeda. Apa yang harus kukatakan? Dia bahkan tidak mengingatku. Atau pun Sohyun yang telah dia lahirkan beberapa bulan lalu. Haruskah aku menangis saat ini? Berseru padanya agar berhenti bersikap seperti orang lain? Atau tetap diam dan membiarkan semuanya berjalan seperti kehendak Tuhan?

Kenapa harus Hyuna? Aku baru saja memilikinya dan bahagia bersamanya setelah semua yang terjadi pada kami. Sohyun masih membutuhkan ibunya. Bagaimana aku menjelaskannya?

Aku tersadar dari lamunanku merasakan seseorang memegang lenganku, ternyata eomma.

“Kau belum makan apa pun, pergilah..” Ucap Eomma mengingatkan.

Aku bahkan tak bisa menelan ludahku saat ini, “Na gwenchana eomma..” Tanganku terulur memegang tangan eomma agar tak mengatakan apa pun lagi.

Eomma menghela nafas dalam dan mengangguk. Perlahan dia bangkit dan menghampiri Hyuna bersama Sohyun, “Hyuna-a, sepertinya dia lelah. Kau bisa menidurkannya?”

Hyuna memandang eomma bingung, lalu memandang Sohyun yang menatapnya seperti meminta pelukan hangat dari ibunya. “Mmm.. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan..”

“Cobalah gendong dia.. Meskipun kau belum mengingatnya, kau bisa merasakan kontak batin kalian secara perlahan..” Ucap eomma pelan sambil menyodorkan Sohyun.

Hyuna memandang Sohyun dan memandang eomma, “Aku tidak yakin apa aku bisa..” Ucapnya.

Eomma tersenyum, “Cobalah berikan ASI padanya, kau akan mengerti apa yang eomma maksud tadi..”

Hyuna tertegun, “Ne?”

“Ne..” Ucap eomma membenarkan.

Hyuna melirikku, “Tapi….”

Eomma memandangku.

Aku mengerti, Hyuna pasti tidak nyaman jika aku ada disana. Aku segera bangkit, “Aku akan menunggu diluar..” Ucapku dan melangkah keluar. Setelah menutup pintu, aku berdiri ditempatku beberapa saat sambil menghela nafas dalam. Kemudian bergerak ke sisi lain dinding dan duduk bersandar disana. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apakah ini akan terus terjadi? Tuhan, kenapa kau melakukan ini?

-Hyunseung’s POV end-

 

How much more do I have to love for you to know my heart?

How much more time has to pass for you to love me?

Because I always have a lot of tears..

Because I’m a fool who can’t even speak my heart hurt..

Today feels a bit longer than yesterday..

(Gummy – Day and Night)

 

-Hyuna’s POV-

Aku melangkah disebelah gadis bernama Naeun yang menggendong Sohyun, yang mereka bilang adalah putriku, menuju mobil. Well, aku bisa memberikan ASI secara langsung berarti menandakan dia memang putriku. Tapi kenapa aku tak mengingat apa pun? Bahkan merasakan sesuatu saat menyentuhnya? Semuanya terasa sangat asing. Bahkan pria yang mengaku adalah suamiku juga tampak sangat asing di mataku. Apalagi hatiku.

“Hyuna-a, khaja..” Ajak Naeun sambil masuk ke mobil.

Aku mengangguk dan ikut masuk bersama Naeun. Hari ini aku sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, tapi aku tidak tau akan pulang kemana.

Mereka membawaku kesebuah rumah, disana eomma yang menjagaku di rumah sakit sudah menunggu. Ternyata benar aku sudah menikah dengan Jang Hyunseung. Ada photo pernikahan kami di ruang tengah, juga bukti-bukti lainnya.

Malamnya.

“Maksudmu kita akan tidur di tempat tidur yang sama?” Tanyaku tak percaya.

Hyunseung berdiri disisi tempat tidur sambil memandangku, “Mmm.. Jika kau tidak nyaman, aku akan tidur dikamar tamu..” Ucapnya.

“Aniya..” Ucapku cepat, “Maksudku, aku saja yang tidur di kamar tamu. Inikan kamarmu..” Jelasku.

Hyunseung diam memandangku sambil menghela nafas dalam.

“Aku akan keluar..” Ucapku, lalu melangkah ke pintu.

“Ini kamar kita Hyuna..” Ucap Hyunseung.

Langkahku terhenti dan memandang Hyunseung, tatapannya terlihat marah. “Tapi aku tidak mengingatnya.. Bagaimana mungkin aku tidur seranjang denganmu..”

Hyunseung melangkah menuju pintu dan berhenti di hadapanku. “Kau akan mengingatnya..” Ucapnya, “Selamat malam..” Ucapnya lagi dan langsung keluar.

Aku menghela nafas dalam sambil memandangi pintu yang kembali tertutup, lalu memandang ke box bayi dimana Sohyun tidur. Ahhh.. Ada apa dengan hidupku.

-Hyuna’s POV end-

 

=Kafe=

“Dulu kita sering berkumpul disini. Kau, aku, Hyunseung oppa, Taemin oppa, Eunji eonni dan Key oppa..” Jelas Naeun.

Hyuna memandang sekitarnya bingung, dia sama sekali mengingatnya.

Naeun memperhatikan ekspresi Hyuna penasaran, “Kau ingat sesuatu?”

Hyuna memandang Naeun menyesal dan menggeleng.

Naeun tampak kecewa, namun sedetik kemudian kembali tersenyum. “Masih banyak waktu untuk mengingatnya..” Ucapnya.

Hyuna tersenyum tipis.

“Oh iya, bagaimana Sohyun? Dia sudah tidak rewel lagi kan?” Tanya Naeun.

“Mmm.. Dia masih rewel, tapi tidak sering lagi..” Jawab Hyuna, lalu menunduk menyesal. “Sepertinya dia merasa aku bukan ibunya..”

Naeun tertegun dan memegang punggung tangan Hyuna, “Aniya! Jangan merasa seperti itu, dia hanya belum mengerti dengan perubahan ibunya yang tiba-tiba..” Ucapnya menghibur.

Hyuna memandang Naeun, “Begitu?”

Naeun mengangguk, “Ne..”

Hyuna hanya mengangguk mengerti.

Naeun memandang jam tangannya, “Omo, sudah sore.. Ayo kita kembali..” Ucapnya sambil bangkit.

Hyuna bangkit dan mengikuti Naeun keluar kafe. Saat melewati ruangan tidak sengaja seorang pria menyenggol bahunya.

“Oh! Maaf!” Ucap pria itu menyesal.

Hyuna memegang bahunya dan tersenyum simpul, “Ne..” Ucapnya, lalu kembali melangkah bersama Naeun.

Pria itu tertegun melihat Hyuna tersenyum dan memperhatikan gadis itu pergi sesaat.

=Ruang Kerja Hyunseung=

Hyunseung berusaha fokus pada pekerjaannya, namun bayangan Hyuna yang menatapnya canggung terus muncul di kepalanya. Ia menghela nafas dalam dan memejamkan mata sambil memijat dahinya.  Tak lama matanya terbuka sambil mengeluarkanl ponsel dari saku celananya, lalu memandang layarnya. Hatinya terasa hampa menatap wallpaper disana. Itu adalah photonya, Hyuna dan Sohyun yang dia ambil beberapa saat setelah istrinya melahirkan bayi mereka. Biasanya dia akan tersenyum lebar melihat photo itu, tapi bagaimana dia bisa tersenyum ketika wanita yang dia cintai tak mengingatnya sedikit pun. Semua ini adalah mimpi buruk yang memerlukan waktu lama untuk terbangun. Ia tertegun ponselnya tiba-tiba berbunyi, muncul nama Eunji di layarnya. Ia menghela nafas dalam sejenak dan mengangkat panggilan itu, “Ne, Eunji..”

“Hyunseung-a, apa kau sibuk? Ayo bertemu di tempat biasa..” Ucap Eunji.

Hyunseung diam sejenak, “Keure..”

=Kafe=

Eunji tersenyum lebar melihat Hyunseung melangkah memasuki kafe, “Hyunseung-a!” Panggilnya sambil melambai pada sepupunya.

Hyunseung tersenyum tipis dan segera menghampiri sepupunya, “Hei, kau hanya sendiri?” Tanyanya sambil duduk.

“Ne, Taemin harus mengurus beberapa hal. Naeun juga masih ada kelas..” Jawab Eunji.

“Hmm.. Tidak biasanya kau ingin bertemu denganku hanya berdua..” Ucap Hyunseung menahan tawa.

Eunji tertawa kecil, “Bagaimana pekerjaanmu? Tidak ada masalah kan?”

Hyunseung memandang Eunji sesaat dan tersenyum sedih, “Masalahnya ada dirumahku..”

Eunji tersenyum tipis, “Hehehe.. Kau tidak perlu khawatir, Hyuna tidak mungkin melupakanmu terus..” Ucapnya yakin.

Hyunseung menghela nafas dalam, “Mmm.. Kuharap juga begitu..”

Eunji menatap Hyunseung dan memegang tangannya, “Hyunseung-a, Hyuna mencintaimu bukan sebulan atau dua bulan.. Tapi hampir 12 tahun, perasaan itu tidak mungkin sirna begitu saja karena kejadian ini..” Ucapnya, “Mungkin sekarang ingatan di otaknya belum kembali, tapi hatinya pasti bisa merasakanmu..”

Hyunseung tersenyum tipis, “Ne..”

“Dan ingat Hyunseung, Sohyun membutuhkanmu..” Ucap Eunji.

Hyunseung mengangguk, “Ne, arasso..”

=Rumah=

“Hyuna-a, kau harus menyusui Sohyun setiap 2 jam. Karena dia masih dibawah 6 bulan..” Ucap ibu Hyunseung pada Hyuna yang duduk di pinggir tempat tidur memperhatikannya menidurkan Sohyun.

Hyuna mengangguk mengerti, “Ne eommanim..”

Ibu Hyunseung memandang Hyuna dan tersenyum, “Apa kau sudah mulai merasa hubungan batin antara dirimu dan Sohyun?”

Hyuna tersenyum tipis, “Ne eommanim.. Aku merasa dia sangat bergantung padaku..”

Ibu Hyunseung duduk disebelah Hyuna, “Itu adalah hubungan ibu dan anak..”

Hyuna menghela nafas dalam.

“Ada apa?” Tanya ibu Hyunseung.

“Mmm.. Eommanim, apakah aku benar-benar mencintai Hyunseung sebelumnya?” Tanya Hyuna hati-hati.

Ibu Hyunseung tertegun, “Ne? Oh.. Ne, kalian benar-benar saling mencintai hingga tidak ada apa pun yang mampu memisahkan kalian..” Jawabnya.

Hyuna tampak berpikir.

Ibu Hyunseung memandang Hyuna tak mengerti, “Waeyo?”

Hyuna memandang ibu Hyunseung ragu, “Aku tidak merasakan apa pun saat bersamanya eommanim..”

Ibu Hyunseung dia sejenak, lalu mengelus kepala Hyuna. “Gwenchana, yang kalu perlukan bukan memikirkan siapa Hyunseung. Tapi berusaha membuka hatimu untuknya.. Jika kau benar-benar melihat dirinya, kau akan jatuh cinta lagi padanya..”

Hyuna tertawa kecil, “Benarkah?”

Ibu Hyunseung mengangguk, “Ne..”

Hyuna memandang Sohyun yang terlelap sambil tersenyum.

Malamnya.

Hyuna melihat Hyunseung keluar dari kamar mandi dan menghampiri box bayi untuk memeriksa Sohyun.

Hyunseung memandang Hyuna, “Selamat malam..” Ucapnya pelan, lalu melangkah keluar.

Hyuna menghela nafas dalam melihat Hyunseung keluar. Sejujurnya dia merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti itu. Sudah seminggu sejak kepulangannya dari rumah sakit, tapi ia tetap merasa seperti orang asing saat bersama pria yang menjadi suaminya itu.

Keesokan Paginya. Ini adalah akhir pekan pertama yang dijalani Hyuna dirumah Hyunseung, keadaan semakin canggung karena pria itu akan dirumah seharian.

Hyuna melihat Hyunseung bermain bersama Sohyun di taman belakang, dengan hati-hati dia menghampiri mereka.

Hyunseung memandang Hyuna dan tersenyum tipis.

Hyuna duduk di sebelah Hyunseung canggung, “Mmm.. Hyunseung-ssi, apa aku membuatmu canggung?”

Hyunseung diam sejenak dan menggeleng, “Aniya..”

“Mmm..” Hyuna menggaruk kepala bingung, “Eommanim berkata dulu kita melewati banyak masalah untuk bersama, benarkah?”

Hyunseung tersenyum, “Ne..”

Hyuna menatap Hyunseung ragu, “Hyunseung-ssi, aku ingin menanyakan sesuatu. Kuharap kau tidak terkejut..”

Hyunseung tertegun mendengar keseriusan dalam nada bicara Hyuna, “Silahkan..”

“Mmm..” Hyuna menggigit bibir bawahnya ragu, “Bagaimana jika ternyata ingatanku tidak akan kembali?”

Hyunseung terdiam.

Hyuna menunduk menyesal, “Maafkan aku..”

Hyunseung menatap Hyuna dalam diam sejenak, lalu memegang dagu gadis itu agar memandangnya. Dengan lembut dia mencium bibir gadis itu, lalu menatapnya dalam. “Aku akan membuatmu kembali jatuh cinta padaku..”

Hyuna tertegun karena ciuman itu, perlahan bibirnya membentuk senyuman. “Ne..”

Hyunseung senang Hyuna tersenyum tulus, “Mmm.. Mungkin kita bisa mulai berteman dulu..”

Hyuna mengangguk, “Ne..” Jawabnya lagi, lalu memandang Sohyun yang memainkan ponsel Hyunseung.

<<Back          Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Baby Boo~~ (Season 2) [Chapter 2]

  1. hihihihi hyun oppa menggalau ria..
    iyaaahh mulai dr nol lagiiii…
    gag apa oppa..
    oppa pasti bisa kok buat hyuna unni jatuh cinta lagii..
    ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s