Uncategorized

Speak With Love

speak with love copy

Cast:

– Kwon Sohyun

– Xiu Luhan

– Kim Joon

– Hwang Sunhee

-Sohyun’s POV-

Aku hanya bisa menghela nafas dalam lagi dan lagi. Sudah hampir 3 jam aku duduk di depan apartemen mewah nomor 143 ini. Apa aku pengemis? Tapi aku harus bertemu dengan pemiliknya. Orang yang sudah tidak asing lagi dimata masyarakat. Rapper dan si jenius musik Kim Joon.  Aku melihat jam tanganku, sudah pukul 8 malam. ‘Haruskah aku pergi saja?’ Batinku sambil mengedarkan pandanganku. Aku kembali menghela nafas dalam dan memeluk lututku.

Pintu apartemen disebelah kananku terbuka, keluar seorang wanita berusia sekitar 30 tahunan bergaya anggun. Aku memandangnya dan sudah menebak dia akan tertegun melihatku. Dia menghampiriku dan menyamakan tinggi kami, “Agassi, kenapa kau duduk disini?”

Aku hanya memandangnya.

Wanita cantik itu tersenyum ramah, “Kau penggemar Kim Joon? Sebaiknya kau pulang saja.. Dia jarang pulang akhir-akhir ini..” Ucapnya pelan.

‘Aku sudah tau..’ Batinku sambil menunduk.

Wanita itu membuka tas tangannya dan mengeluarkan sesuatu, sebungkus coklat dan memberikannya padaku. “Ini, wajahmu pucat. Kau pasti belum makan kan?” Ucapnya, lalu  mengelus kepalaku dan bangkit.

Aku memandanginya pergi, lalu memandang coklat itu. Aku memang kelaparan. Siapa pun wanita itu, dia adalah malaikat pelindungku saat ini. Seulas senyum muncul di bibirku dan segera membuka coklat itu. Ketika setengah coklat itu sudah masuk ke perutku, terlihat sepasang kaki dengan sepatu sneakers didepanku. Kepalaku mendongak dan melihat seorang pria memandangku dengan dahi berkerut. Dia orang yang kutunggu sejak tadi. Perlahan aku berdiri dihadapannya.

Joon memperhatikan diriku dari atas kebawah, “Kau siapa? Apa maumu?”

Tanganku masuk ke saku jaket dan mengeluarkan sebuah surat, lalu memberikannya pada Joon.

Joon mengambil surat itu dan membukanya sambil memandangku heran. Aku memperhatikannya membaca surat itu sambil kembali memakan coklat pemberian malaikat pelindungku tadi. Matanya bergerak mengikuti baris tulisan disana, semakin lama matanya semakin besar hingga menatapku kaget. “Kau.. Kau putri Kwon Yuri?!” Serunya kaget.

Aku mengangguk.

Joon kembali menatap surat itu tak percaya, “Maldu andwae(omong kosong)!” Gumamnya tak percaya.

Ruang tengah apartemen Joon.

Aku duduk disofa panjang memandangi Joon yang duduk di sofa sebelahku dengan dahi berkerut menatapku.

“Berapa usiamu?” Tanya Joon, namun aku tak menjawab apa pun. “15?” Tanyanya lagi.

Aku mengangguk membenarkan.

“Ahhh..” Joon menunduk memegang dahinya frustasi. “Jika media tau habislah aku..” Gumamnya.

Aku menghela nafas dalam, lalu mengambil tasku dan berdiri sambil kembali menyandangnya.

Joon memandangku bingung.

Aku membungkuk sopan dan berjalan ke pintu.

“Ya.. Ya…” Panggil Joon sambil menarikku, “Aigoo.. Kau juga seperti ibumu..” Ucapnya.

Aku memandangnya tak mengerti.

“Sudah.. Duduklah..” Ucapnya sambil mendorongku kembali duduk, lalu duduk di sebelahku. “Dengar, aku memang berkencan dengan ibumu 15 tahun lalu ketika kami SMA. Tapi bisa saja kau bukan putriku. Araso?”

Aku memandangnya dalam diam, lalu menunduk sedih.

“Bukan berarti aku ingin kau pergi, tapi aku seorang artis besar.” Ucap Joon berusaha menjelaskan. “Maksudku, jika berita tentang kemunculanmu sebagai putriku akan sangat mengejutkan. Begini saja, kau tinggal disini sementara waktu hingga aku menemukan jalan keluar lain untukmu. Bagaimana?”

Aku memandangnya, mengapa eomma ingin aku tinggal dengannya? Dia bahkan tidak berani mengakui aku putrinya.

“Baiklah.. Aku harus menghubungi manajerku..” Ucap Joon sambil bangkit dan pergi ke ruangan lain.

Aku menghela nafas dalam dan melepaskan tas ranselku lagi, lalu menjadikannya bantal kepala untuk tidur. Aku cukup lelah hari ini.

-Sohyun’s POV end-

Paginya.

Sohyun membuka matanya dan mendengar suara Joon dari kejauhan. Perlahan dia bangkit dan melangkah ke arah suara itu.

Joon sedang berbicara dengan manajernya Yonghwa.

“Apa dia memang putrimu? Kenapa kau menyuruhnya menginap disini? Bisa saja kan ternyata dia hanya fans fanatikmu..” Ucap Yonghwa tak mengerti.

“Aku tidak yakin, tapi surat yang dia bawa memang berisi tulisan Kwon Yuri. Aku yakin itu memang dia yang menulisnya..” Ucap Joon yakin.

Yonghwa memijat batang hidungnya, “Ahhh.. Berita ini akan mengganggu persiapan konsermu..”

“Usahakan berita ini tidak menyebar kemana pun! Aku akan berusaha menanganinya..” Ucap Joon. Kepalanya menoleh karena merasa ada seseorang yang memperhatikan mereka. Dia tertegun melihat Sohyun, “Oh.. Kau sudah bangun?”

Yonghwa berbalik memandang Sohyun.

Sohyun menunduk sedih, lalu berbalik dan kembali ke ruang tengah. Dia sudah tau Joon tidak akan menerimanya, jadi dia akan pergi. Dia kembali mengenakan tasnya dan berjalan ke pintu.

Joon segera mengejar Sohyun, “Ya! Tunggu!” Panggilnya sambil menarik bahu gadis itu. “Aissh.. Kau persis sekali dengan ibumu! Kemana kau akan pergi?!”

Sohyun menunduk sedih.

Yonghwa menghampiri Joon, “Ya, kau akan menampungnya disini?”

Joon menatap Yonghwa kesal, “Aku tidak mungkin membiarkannya pergi begitu saja! Ibunya menulis aku harus menjaganya!”

Yonghwa memutar bola matanya kesal, “Aissh..” Gumamnya, lalu menatap Sohyun. “Dimana ibumu?! Berapa yang kalian inginkan?!!”

“Ya!!” Joon mendorong Yonghwa agar tak melotot pada Sohyun. “Apa-apaan kau?!”

Yonghwa menatap Joon kesal, “Modus seperti ini sudah sering terjadi, Joon! Berpura-pura memiliki anak seorang artis besar, lalu muncul dan berlagak sok dikasihani. Padahal yang mereka mau hanya uang!!”

Joon menghela nafas dalam, “Ne, aku mengerti! Tapi biarkan dia disini dulu, membiarkannya pergi justru akan menimbulkan masalah. Bagaimana jika ternyata dia membeberkan pada media aku menelantarkannya?”

“Aissh.. Dia juga belum tentu putrimu!” Ucap Yonghwa.

“Ne, aku tau..” Ucap Joon.

Yonghwa menatap Sohyun, “Dengar nona, jika terbukti kau bukan putri Joon. Aku yang akan menuntut ibumu!” Ucapnya, lalu melangkah pergi dari apartemen.

Sohyun hanya terdiam ditempatnya. Tidak tau apa yang harus dia lakukan.

Joon memandang Sohyun, “Gwenchana.. Kau bisa tinggal sementara waktu disini..” Ucapnya.

Sohyun memandang Joon tanpa berbicara.

“Ayo..” Joon menarik Sohyun ke kamar tamu yang tak kalah besar dari kamar utama. “Lihat, kau bisa tidur disini.” Ucapnya.

Sohyun memandangi kamar itu.

“Semua disini berisi barang bermerk. Jangan sembarangan menyentuhnya, araso?” Tanya Joon mengingatkan.

Sohyun memandang Joon dan mengangguk mengerti.

“Bagus..” Ucap Joon, “Susun bajumu di lemari itu..” Ucapnya sambil menunjuk lemari besar di tengah ruangan, “Dan bersihkan dirimu..” Ucapnya, lalu keluar.

Sohyun diam sejenak, lalu menghela nafas dalam dan melangkah ke tempat tidur sambil melepaskan tas ranselnya.

Sorenya.

Joon melirik Sohyun yang makan dengan tenang, “Hei.. Nona, siapa namamu?”

Sohyun memandang Joon, lalu mengambil sesuatu dari sakunya dan memberikannya pada pria itu.

Joon mengambil kertas itu dan membacanya dengan dahi berkerut. Itu data singkat Sohyun. “Kenapa kau tidak menjawabku? Kau tidak bisa berbicara?”

Sohyun menatap Joon tanpa berbicara.

“Jawab aku!” Tegas Joon, tetap saja tak mendapat jawaban. “Ya! Kwon Sohyun!”

Sohyun menghela nafas dalam dan bergerak bangkit.

Dengan cepat Joon menahan tangan Sohyun sebelum beranjak pergi, “Aniya.. Aniya.. Tidak perlu berbicara..” Ucapnya sebal.

Sohyun kembali duduk, namun hanya memandangi pizza yang dipesan Joon tadi.

Joon menghela nafas dalam memandang Sohyun, “Kau bersekolah?”

Sohyun memandang Joon dan menggeleng.

“Besok kau akan mulai bersekolah..” Ucap Joon sambil bangkit dan berjalan pergi.

Sohyun menghela nafas dalam.

=Seoul High School=

Sohyun turun dari mobil dengan seragam lengkap dan memperhatikan sekolah barunya.

Yonghwa turun juga dari mobil dengan wajah sebalnya, “Ini data sekolahmu..” Ucapnya sambil memberikan sebuah buku panduan ke tangan Sohyun. “Aku sudah mengurus semuanya, tinggal masuk ke kelas dan belajar. Oke, aku pergi..” Ucapnya dan kembali masuk ke mobil.

Sohyun memandang mobil Yonghwa yang berjalan pergi, lalu melangkah memasuki gedung sekolahnya. Dia membuka buku panduan ditangannya dan mencari dimana kelasnya. Begitu masuk ke kelas, keributan dikelas langsung berhenti. Dia jadi bingung sendiri karena jadi pusat perhatian.

“Oh.. Kau si anak baru itu?” Tanya seorang gadis berambut pendek sambil menghampiri Sohyun. Sementara keributan kembali berlangsung.

Gadis tadi menghampiri Sohyun, “Perkenalkan, namaku Jeon Jiyoon. Aku ketua kelas disini. Jika perlu sesuatu, katakan saja padaku..”

Sohyun mengangguk pelan.

“Nah.. Kau bisa memilih tempat duduk. Tapi karena kau masuk di pertengahan, hanya ada tempat duduk dibelakang.. Gwenchana?” Tanya Jiyoon.

Sohyun membungkuk sopan, lalu melangkah ke belakang.

Jiyoon memandang Sohyun bingung, namun dia hanya kembali ke tempat duduknya.

Sohyun melihat hanya ada tempat duduk kosong disebelah seorang pria yang asik main PSP dengan headphone di kepalanya dan jaket yang menutupi seragamnya. Kepalanya menoleh ke sekitar tapi tak menemukan tempat lain, dengan langkah berat dia menghampiri tempat itu. Dia melepaskan tasnya dan duduk.

Pria berwajah baby-face itu melirik Sohyun dan melepaskan headphonenya, “Siapa kau?”

Sohyun memandang pria itu, lalu memandang name-tag-nya di baju.

Pria itu membaca nama Sohyun, lalu kembali memandang gadis itu. “Siapa yang mengijinkanmu duduk disini?”

Sohyun hanya memandang pria itu, lalu kembali bangkit sambil membawa tasnya dan melangkah ke pintu keluar dibelakang kelas.

Pria itu tertegun Sohyun malah pergi, “Ya..” Panggilnya sambil menarik baju gadis itu.

Sohyun berhenti dan memandang pria tadi bingung.

“Aissh.. Kau pandai sekali.” Ucap pria itu kesal, “Duduklah! Aku akan diomeli ketua kelas jika kau pergi dari kelas..” Ucapnya malas.

Sohyun diam sejenak, lalu kembali duduk.

“Aissh..” Gumam pria bernama Luhan itu sambil kembali mengenakan headphone-nya.

Sohyun melirik Luhan, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan buku tulis.

Istirahat.

Sohyun melangkah di koridor seorang diri sambil memperhatikan sekitar, sekolah itu ramai dan elit.

Hwang Sunhee, guru konseling di sekolah itu tersenyum pada beberapa anak yang menyapanya. Ketika melewati koridor, langkahnya terhenti karena berpapasan dengan Sohyun. Dia memutar tubuh langsingnya untuk memastikan matanya, tapi sepertinya gadis itu tak menyadari pertemuan mereka. “Hei.. Agassi..” Panggilnya.

Sohyun berhenti melangkah karena merasa pernah mendengar suara itu, lalu berbalik dan tertegun melihat Sunhee tersenyum padanya. Itu adalah malaikat pelindungnya.

“Hei.. Aku tidak tau kau murid disini..” Ucap Sunhee, “Hmm.. Sudah merasa lebih baik? Apa kau bertemu Kim Joon?” Tanyanya.

Sohyun mengangguk pelan.

Sunhee tersenyum ramah dan memegang bahu Sohyun, “Kau bisa mengaguminya, tapi jangan sampai duduk di depan apartemennya seperti itu. Araso?”

Sohyun hanya memandang Sunhee.

Sunhee berbalik masih dengan senyuman ramahnya dan berjalan pergi.

Sohyun memandangi Sunhee pergi, lalu menghela nafas lega. ‘Jika aku bisa, aku akan pergi dari semua ini..’ Batinnya, lalu melangkah kembali ke kelasnya.

=Apartemen Joon=

Sohyun melangkah keluar kamar namun tak menemukan siapa pun. Lalu melangkah ke dapur. Pertama dia membuka pintu kulkas dan tidak menemukan apa pun untuk dimakan. Dia kembali menutupnya dan memeriksa lemari gantung, tetap tak ada apa pun. Akhirnya dia hanya menghela nafas dalam dan keluar dari dapur. ‘Bagaimana mungkin dia tidak punya apa pun untuk dimakan?’ Batinnya tak mengerti. Lalu kembali ke kamarnya.

Malamnya.

Joon masuk ke apartemen dengan wajah lelahnya, langkahnya terhenti melihat Sohyun duduk di sofa menonton tv. Bukan karena heran melihat seseorang disana, tapi karena wajah gadis itu tampak pucat. Dia tertegun dan melirik dapurnya, dia baru ingat tak pernah menyimpan makanan dirumah. “Ya.. Jangan bilang kau tidak makan apa pun sejak siang?”

Sohyun menunduk.

Joon memutar bola matanya kesal, “Ya! Kau bisa memesannya kan?!!” Serunya kesal.

Sohyun memandang Joon dan menghela nafas dalam, lalu bangkit dan masuk ke kamarnya.

Joon menatap gadis itu tak habis pikir, “Ahhh.. Aku yakin Yonghwa juga tak memberikannya uang saku. Bagaimana mungkin dia tidak makan seharian..” Ucapnya. Akhirnya dia melangkah ke kamar gadis itu, dahinya berkerut melihat gadis itu berbaring di tempat tidur. “Hei.. Jangan tidur seperti ini, kau harus makan sesuatu..”

Sohyun tetap diam dengan mata terpejam.

Joon menghela nafas dalam dan menarik Sohyun duduk. Gadis itu memandangnya tanpa mengatakan apa pun, “Apa yang ingin kau makan? Aku akan memesannya..”

Sohyun menunduk dan menggeleng pelan.

Joon menatap Sohyun kesal, “Ya.. Kenapa kau selalu menggeleng dan mengangguk? Kau punya mulut, gunakan untuk berbicara!”

Sohyun menghela nafas dalam dan kembali berbaring.

Joon tetap menahan tangan Sohyun sambil menatapnya kesal, “Khaja..” Ajaknya sambil menarik gadis itu.

Sohyun hanya mengikuti Joon keluar dari apartemen, pria itu juga menariknya keluar dari gedung besar itu. Ternyata mereka pergi ke sebuah kedai ramen tak jauh dari sana.

“Ahjussi, berikan aku dua mangkuk ramen..” Ucap Joon sambil bergerak duduk.

“Baik..” Jawab ahjussi pemilik kedai itu.

Sohyun memandang Joon bingung.

“Duduklah..” Ucap Joon sambil menarik Sohyun duduk.

Tak lama mi ramen pesanan mereka tiba, Joon langsung menyantap makanannya.

“Mmm.. Selamat makan..” Ucap Joon, namun tangannya yang sudah hampir memasukkan mi ke mulut terhenti karena melihat Sohyun hanya memandangi mangkuknya. “Ya.. Cepat makan..”

Sohyun memandang Joon.

Joon menghela nafas dalam, “Paliwa.. Jika kau sakit atau menjadi kurus, ibumu akan sangat marah padaku..”

Sohyun menghela nafas dan kembali memandang mangkuk mi-nya, perlahan tangannya mengambil sumpit dan mulai makan.

“Sohyun-a, kau harus bertahan hidup tanpa eomma. Dia adalah ayahmu, dia akan menjagamu dengan baik..”

Sohyun menghela nafas dalam mengingat ucapan ibunya. Meskipun terasa berat, dia tetap menelan makanan yang masuk ke mulutnya.

Joon melirik gadis disebelahnya, ‘Apa dia benar-benar putriku?’ Batinnya.

Setelah menikmati ramen, mereka kembali ke apartemen.

Joon berhenti di depan lift dan menekan tombol di dinding. Kepalanya menoleh sedikit ke belakang, Sohyun berdiri di belakangnya tanpa mengatakan apa pun. Dia menghela nafas dalam, ‘Dia sama sekali tak berbicara padaku, ada apa dengannya?’ Batinnya tak mengerti. Pintu lift terbuka, “Ayo..” Ucapnya sambil melangkah masuk.

Sohyun ikut masuk dan berdiri disebelah Joon.

Sebelum pintu lift tertutup, masuk seorang gadis bertubuh langsing masuk. Sunhee tertegun melihat Joon, dia membungkuk sopan dan melangkah ke sisi lain ruangan lift. Dia kembali tertegun melihat Sohyun, “Oh.. Kwon Sohyun?”

Sohyun memandang Sunhee, lalu membungkuk sopan.

Joon memandang Sohyun dan memandang Sunhee bergantian, “Kalian saling mengenal?”

“Mmm.. Aku guru konseling di sekolah Sohyun..” Jawab Sunhee.

“Ooh..” Joon mengangguk mengerti, “Kebetulan sekali..”

Sunhee memandang Sohyun dan Joon bergantian, “Mmm.. Kim Joon-ssi, anda mengenal Kwon Sohyun?”

“Ne? Mmm.. Itu.. Mmm..” Joon bingung bagaimana menjawab pertanyaan Sunhee.

Sohyun memandang Joon, lalu menunduk sedih.

“Kau mengenalnya?” Tanya Sunhee lagi.

“Mmm.. Ne..” Jawab Joon akhirnya.

“Oh.. Apa dia tinggal bersamamu?” Tanya Sunhee.

“Ne.. Dia.. Dia.. Errr..” Joon garuk-garuk kepala sambil melirik Sohyun.

“Keluargamu?” Tanya Sunhee.

“Ne! Dia…keponakanku..” Jawab Joon akhirnya.

“Oh.. Keponakanmu..” Komentar Sunhee sambil tersenyum dan memandang Sohyun, “Maaf Sohyun-a, ibu pikir kau fans fanatik Kim Joon-ssi..” Ucapnya menyesal.

Joon melirik Sohyun yang hanya mengangguk.

Ketika pintu lift terbuka, Sohyun melangkah keluar duluan.

Sunhee merasa ada sesuatu yang tidak beres pada Sohyun sambil melangkah keluar dari lift. “Kim Joon-ssi..” Panggilnya.

Joon berhenti dan memandang Sunhee, “Ne?”

“Maaf, mungkin ini bukan urusanku. Tapi bolehkah aku tau mengapa Sohyun tak pernah berbicara?” Tanya Sunhee hati-hati.

Joon tertegun, lalu memandang Sohyun yang sudah berdiri di depan apartemen menunggu dia membukanya. ‘Kupikir dia hanya tidak mau berbicara padaku..’ Batinnya sambil kembali memandang Sunhee.

“Apakah terjadi sesuatu padanya?” Tanya Sunhee.

“Mmm.. Sejujurnya aku tidak tau juga, tapi dia memang selalu begitu sejak tinggal bersamaku..” Jawab Joon sambil garuk-garuk kepala.

Sunhee menghela nafas dalam, “Hmm.. Begitu.. Baiklah, selamat malam Kim Joon-ssi..” Ucapnya, lalu melangkah ke pintu apartemennya. “Sampai besok Kwon Sohyun..” Ucapnya dan masuk ke apartemennya.

Joon menghampiri Sohyun dan memandangnya tak mengerti dengan kedua tangan terlipat didada, “Kita harus berbicara..” Ucapnya dan menekan kombinasi kode.

Sohyun memperhatikan gerak jari Joon di tombol angka, lalu masuk begitu pintu terbuka.

“Kwon Sohyun..” Panggil Joon karena gadis itu hendak masuk ke kamarnya.

Sohyun berhenti dan memandang Joon.

“Ada apa denganmu? Apa kau tidak bisa berbicara? Kenapa kau tidak mengatakan apa pun?” Tanya Joon tak habis pikir.

Sohyun tetap tak mengatakan apa pun.

“Apa kau bisu?!” Tanya Joon mulai emosi, tapi gadis itu tetap tak mengatakan apa pun. “Ya!! Jawab aku!!” Tegasnya.

Sohyun menggeleng.

“Kau tidak bisa berbicara?” Tanya Joon.

Sohyun menunduk.

Joon tertegun, “Kau benar-benar tak bisa berbicara?” Tanyanya tak percaya.

Sohyun berbalik dan masuk ke kamarnya.

Joon terpaku ditempatnya, tak percaya gadis itu tak bisa berbicara.

=Sekolah=

Luhan memandang Sohyun bingung, gadis itu hanya duduk memperhatikan pelajaran tanpa berbicara selama 2 minggu. “Ya.. Kau tidak bisa berbicara?” Tanyanya.

Sohyun memandang Luhan tanpa mengatakan apa pun.

“Tidak bisa?” Tanya Luhan.

Sohyun menggeleng.

Luhan menatap Sohyun tak percaya, “Oh.. Jinja?”

Sohyun kembali memandang ke depan dan melanjutkan catatannya.

Luhan garuk-garuk kepala, “Aneh sekali..” Gumamnya sendiri.

Diluar kelas.

Sunhee berhenti dan memperhatikan kelas melalui jendela, tampak Sohyun duduk di deretan belakang sambil mencatat. Meskipun temannya yang lain asik bermain karena tak ada guru disana. Dia merasa sesuatu terjadi pada gadis itu.

“Sam?” Panggil Jiyoon bingung.

Sunhee menoleh, “Oh.. Ketua kelas..”

Jiyoon tersenyum, “Ada apa sam? Kenapa berdiri disini?” Tanyanya.

Sunhee tersenyum, “Ani, aku hanya sedang berkeliling..” Jawabnya, lalu melirik Sohyun. “Mmm.. Jeon Jiyoon, bisakah aku meminta bantuanmu?”

“Ne.. Katakan saja sam..” Jawab Jiyoon.

“Itu, anak baru itu, Kwon Sohyun.. Sepertinya dia memiliki masalah dengan keluarganya, karena itu dia tak berbicara pada siapa pun. Bisakah kau membantunya membaur?” Tanya Sunhee.

“Oh.. Kwon Sohyun, ne sam.. Aku akan berusaha semampuku..” Ucap Jiyoon.

Sunhee tersenyum kagum sambil memegang bahu Jiyoon, “Kau memang bisa diandalkan..”

Jiyoon tersenyu sambil mengangguk sopan, “Ne, sam..”

Sunhee kembali memandang kearah Sohyun.

Istirahat.

Luhan melirik Sohyun yang tidak bergerak dari tempatnya meskipun kelas sudah kosong, “Kau akan disini lagi?”

Sohyun memandang Luhan dan mengangguk.

“Hmm.. Keure..” Ucap Luhan, lalu bangkit dan melangkah keluar dari kelas.

Sohyun melirik Luhan yang berjalan pergi, lalu membuka bukunya. Dia melihat seseorang berdiri disebelah mejanya dan menoleh.

Jiyoon tersenyum pada Sohyun, “Annyeong.. Ini, akan ada pertunjukkan drama musikal nanti sore. Datanglah, kau pasti menyukainya..” Ucapnya sambil memberikan selebaran.

Sohyun mengambil selebaran itu dan mengangguk.

“Baiklah.. Sampai nanti..” Ucap Jiyoon dan melangkah pergi.

Sohyun membaca selebaran itu sekilas.

Jam pelajaran kembali dimulai.

Luhan yang justru asik bermain game disaat yang lain mengerjakan latihan melihat sebuah lipatan kertas dimeja Sohyun, “Hm? Apa ini?” Tanyanya sambil mengambil kertas itu dan membukanya. “Drama musikal?” Dia memandang gadis disebelahnya.

Sohyun mengangguk.

“Kau akan melihatnya?” Tanya Luhan.

Sohyun mengangkat bahunya tanda tak tau.

Luhan memandang kertas ditangannya, “Hmm.. Kudengar ceritanya menarik. Bagaimana jika kita melihatnya?”

Sohyun tertegun, lalu menunjuk Luhan dan dirinya.

“Ne, memangnya kau ingin melihatnya sendiri? Pasti bosan..” Ucap Luhan dengan senyum manisnya.

Sohyun diam sejenak dan mengangguk pelan.

Luhan tersenyum lebar.

=Rumah Sakit=

Sohyun duduk di ruang tunggu sambil memeluk lututnya. Joon baru saja membuatnya mengikuti serangkaian pemeriksaan kesehatan.

Sementara itu diruang dokter.

Dokter yang memeriksa Sohyun memandang berkas di tangannya, lalu memandang Joon. “Dari hasil pemeriksaan, tidak ada tanda-tanda kerusakan pada organ vitalnya. Juga fungsi pita suaranya sangat baik. Dia tidak mungkin bisu dengan hasil seperti ini, Kim Joon-ssi..” Jelasnya.

“Ne? Lalu kenapa dia tidak pernah berbicara sepatah katapun?” Tanya Joon tak mengerti.

Dokter itu menghela nafas dalam, “Sepertinya yang kau butuhkan adalah psikiater Kim Joon-ssi..”

Joon tertegun, “Ne?”

=Mobil=

“Maksudmu dia tidak waras?” Tanya Yonghwa pada Joon sambil mengendarai mobil.

Joon melirik Sohyun yang duduk di sebelahnya, “Ya.. Berbicaralah, kenapa kau membuatku bingung seperti ini?”

Sohyun memandang Joon, lalu kembali menunduk.

Joon mengacak-acak rambutnya frustasi, “ahhh!!! Aku bisa gila!!” Serunya.

“Ya.. Untuk apa kau pusing mengurusinya? Temukan ibunya, kembalikan anak ini pada ibunya!” Ucap Yonghwa.

Joon kembali memandang Sohyun, “Dimana ibumu?” Tanyanya. Namun gadis itu tak menjawab, “Ya!! Jawab aku!!!” Bentaknya.

Sohyun tersentak karena bentakan Joon dan semakin menundukkan kepalanya.

Begitu Yonghwa menghentikan mobil didepan apartemen, Sohyun langsung turun dan melangkah cepat masuk.

“Ya!! Kwon Sohyun!” Panggil Joon sambil turun dan mengejar Sohyun.

Sunhee keluar apartemen sambil memperbaiki sandangan tas selempangnya di bahu, lalu melangkah menuju lift. Tapi baru selangkah dia kembali berhenti karena melihat Sohyun keluar dari lift yang langsung ditarik oleh Joon.

Joon memegang kedua bahu Sohyun dan menatapnya marah, “Berhenti berpura-pura!! Aku tau kau bisa berbicara!!!” Serunya.

Sohyun menatap Joon kesal dan mendorong pria itu, tapi pria itu lebih kuat.

Joon menyentak tubuh Sohyun, “Katakan sesuatu!!!” Bentaknya.

Sohyun terkejut dengan bentakan Joon dan menatapnya dengan mata melotot.

Sunhee mempercepat langkahnya menghampiri Joon dan Sohyun, “Kim Joon-ssi!” Serunya sambil merangkul Sohyun yang tampak shock dan menahan tubuh Joon agar tidak membentak lagi. “Bukan seperti ini berbicara padanya!”

Joon melepaskan bahu Sohyun dan memijat pangkal hidungnya, “Ahh.. Micheoso!” Gumamnya.

Sunhee memandang Sohyun khawatir, “Gwenchana?” Tanyanya.

Sohyun mendorong Sunhee kesamping dan berlari ke pintu apartemen.

“Ya!! Kwon Sohyun!” Seru Joon.

Sunhee memandang Sohyun cemas.

Joon memandang Sunhee kesal, lalu melangkah ke pintu apartemennya.

=Kantor Agensi=

Joon membolak-balik buku agenda selama masa SMA-nya, hampir semua isinya mengenai Kwon Yuri. Cinta pertama dan kekasih pertamanya. Dia memang melakukan hubungan yang cukup jauh dengan kekasihnya itu, tapi jika memang gadis itu mengandung putrinya, kenapa dia tak pernah mendengar apa pun?

“Aku harus menemukanmu..” Gumamnya, lalu mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. “Yonghwa, bayar detektif terbaik untuk mencaritau tentang Kwon Yuri..” Ucapnya.

=Sekolah Sohyun=

Sohyun berdiri diteras sekolah sambil memandangi langit yang terus berwarna gelap dan hujan tak berhenti turun. Satu tangannya terulur untuk merasakan air hujan itu. Tangannya kembali turun sambil memandang sekitar. Jam pulang sudah berakhir hampir 2 jam lalu, tapi belum ada seorang pun yang menjemputnya. Biasanya jika bukan Yonghwa, yang selalu mengomel, akan ada supir yang menjemputnya. Tapi hari ini tidak ada. ‘Aku tau seharusnya tidak datang menemuinya..’ Batinnya sambil menghela nafas dalam. Perlahan dia mundur dan duduk di bangku batu seorang diri. ‘Mungkin sebentar lagi..’ Batinnya berusaha menghibur diri. Dia melepaskan tas ransel dan menjadikannya bantal kepala, lalu memejamkan matanya.

………………………….

Luhan melangkah masuk ke kawasan sekolah dengan senter ditangannya, dia terpaksa kembali ke sekolah dimalam hari karena meninggalkan headphone-nya di laci kelas.

“Ini dia..” Gumamnya sambil mengalungkan headphone itu ke lehernya dan kembali keluar dengan bantuan cahaya senternya. Ketika keluar dari pintu depan, dia kembali mengenakan tudung kepalanya karena gerimis masih turun. Namun dia langsung berhenti melihat seseorang tertidur di bangku batu masih dengan seragamnya. “Nugu?” Gumamnya sambil menyenter gadis itu.

Sohyun mengerutkan dahinya karena cahaya lampu senter Luhan masuk ke sela matanya. Perlahan dia membuka mata sambil bergerak bangkit.

“Hm? Kwon Sohyun?” Ucap Luhan tak percaya sambil menghampiri gadis itu.

Sohyun memandang sekitarnya yang sudah gelap, lalu menghela nafas dalam. ‘Aku harus pulang sendiri..’ Batinnya.

“Ya.. Kenapa kau masih disini?” Tanya Luhan, namun gadis itu hanya memandangnya. “Kau tidak dijemput?”

Sohyun bangkit sambil mengenakan tasnya lagi, lalu mengangguk.

“Hm? Kenapa bisa begitu?” Ucap Luhan tak habis pikir.

Sohyun membungkuk sopan dan berjalan pergi.

“Ya..” Panggil Luhan sambil menarik tas Sohyun, “Kau bisa pulang sendiri? Ini sudah malam..”

Sohyun mengangguk.

Luhan memandang Sohyun tidak yakin, namun tak mengatakan apa pun. “Ya sudah, hati-hati..”

Sohyun tersenyum tipis, lalu kembali berjalan.

Luhan tertegun, “Oh.. Dia baru saja tersenyum..” Gumamnya senang, lalu melangkah ke tempat memarkirkan motor sportnya. Dia naik ke motor dan memasang helm, “Tunggu..” Ucapnya sebelum menghidupkan mesin, “Aku tidak yakin dia bisa pulang sendiri..” Gumamnya, lalu segera menghidupkan mesin dan mengikuti kearah Sohyun pergi tadi.

=Kantor Agensi=

Joon keluar dari ruang rekaman dan mengeluarkan ponsel, lalu menempelkannya ke telinga. “Yonghwa, dimana kau?” Tanyanya, dahinya berkerut mendengar jawaban manajernya itu, “Kau masih di stasiun tv? Bagaimana dengan Sohyun?!” Tanyanya, “Mwo?! Ya!! Jika kau sibuk kenapa tidak memberitauku?! Aissh!!” Serunya kesal, lalu memutuskan telepon dan segera melangkah cepat menuju parkiran.

=Suatu Jalan=

Sohyun memandang ke kanan dan kiri bingung. ‘Bukankah lewat jalan ini?’ Batinnya, lalu garuk-garuk kepala bingung. ‘Sepertinya bukan..’ Batinnya lagi sambil berbalik dan kembali ke jalan yang tadi dia lewati, tapi dia merasa semua jalan terlihat sama. ‘Eoteokhe?’ Batinnya bingung. Dia menghela nafas dalam dan berbalik lagi dengan kepala tertunduk, namun langkahnya terhenti melihat seorang pria sudah berdiri dihadapannya.

Pria yang mengenakan jubah coklat panjang itu menatap Sohyun dengan wajah bengisnya.

Mata Sohyun membesar melihat pria itu memegang sebuah pisau dan menatapnya ngeri. Perlahan kakinya bergerak mundur.

“Aku tidak akan menyakitimu, berikan saja uang, ponsel juga perhiasan yang kau punya..” Ucap pria itu dingin.

Sohyun ketakutan bercampur bingung karena dia tak punya satupun benda yang pria itu katakan. Jadi dia memutuskan untuk berbalik dan berlari. Namun pria itu menarik tasnya.

“Ya! Berikan tasmu!” Seru pria tadi.

Sohyun mempertahankan tasnya sambil terus berusaha kabur. Tapi pria itu berhasil menarik tasnya terlepas dari bahu. ‘Andwae!!’ Batinnya sambil memeluk tasnya agar tak direbut pria itu.

“Lepaskan!!” Seru pria itu sambil menarik tas Sohyun dengan kasar.

Sohyun memejamkan matanya dan tetap memeluk tasnya, ‘Eomma.. Eomma..’ Batinnya ketakutan.

“Ya!! Aissh!!” Pria itu melayangkan tangannya ke wajah Sohyun.

Duaakk!!! Gagang pisau yang dia pegang mengenai wajah Sohyun.

“Ahhhk!!” Jerit Sohyun menahan sakit, namun dia tetap tak menyerah.

“Aisssh!! Lepaskan!!” Pria itu menyentak tas Sohyun, membuat gadis ikut tertarik dan terjatuh ke aspal.

“YA!!!!” Teriak Luhan dari kejauhan.

Pria tadi terkejut melihat Luhan memacu motornya kesana dan berusaha menarik tas Sohyun agar gadis itu melepaskannya, namun gadis itu masih memegangi ujung tasnya. “Aisssh!!” Duak!!! Kakinya melayang ke wajah Sohyun.

Sohyun terpental ke sisi lain akibat tendangan itu dan tanpa sadar melepaskan tasnya.

Luhan turun dari motor dan langsung menerjang pria itu. Dengan mudah dia merebut tas Sohyun lagi dan mengunci gerakan pria itu ke aspal.

“Ahhk!! Ya!!” Seru pria itu.

“Kau tidak akan lepas dariku!!” Ucap Luhan marah.

Sohyun bergerak bangkit sambil memegang pipi kirinya yang terasa sakit akibat tendangan pria tadi, sudut bibirnya juga mengeluarkan banyak darah.

Pria tadi tidak semudah yang Luhan pikirkan, dengan cepat dia membalik tubuhnya dan melukai lengan pria muda itu dengan pisau yang dia pegang.

“Ahhkk!!” Seru Luhan sambil memegang lengannya yang mulai berdarah, “Ya!!” Serunya karena pria tadi langsung kabur. “Ahhh.. Sial!” Gumamnya sambil memandang lengannya, paling tidak dia berhasil mendapatkan tas Sohyun. Kepalanya menoleh kepada gadis itu dan melihatnya menahan sakit di pipinya. “Sohyun!!” Serunya sambil menghampiri gadis itu.

=Gedung Apartemen=

“Untukku? Terima kasih..” Ucap Sunhee ketika mengambil barang yang ditujukan padanya di bagian informasi. Saat berbalik dia tak sengaja berpapasan dengan Joon, dia hanya menunduk sopan dan berjalan ke lift. Begitu juga dengan pria itu.

Joon berhenti didepan lift dengan hati risau, tadi dia sudah ke sekolah Sohyun tapi gadis itu tidak ada. ‘Semoga dia di apartemen..’ Batinnya.

Sunhee menerima panggilan masuk dan mengangkatnya, “Yoboseo..” Sapanya, “Ne, benar..” Jawabnya dan kembali mendengar. Dia tertegun dan langsung menarik Joon yang hendak masuk ke lift.

Joon memandang Sunhee kaget.

“Ne, aku segera kesana..” Ucapnya pada orang ditelepon dan telepon berakhir, “Joon-ssi, Sohyun ada dirumah sakit..”

Joon terkejut, “Ne?!”

=Rumah Sakit=

Sunhee dan Joon melangkah cepat menuju ruang UGD, mereka segera mencari-cari dimana Luhan dan Sohyun.

Sunhee terkejut melihat Luhan yang sedang mendapat perawatan di lengan kanannya, “Oh.. Xiu Luhan! Apa yang terjadi?! Gwenchana?” Tanyanya panik.

Luhan meringis menahan sakit, “Ne, Gwenchana Hwang Sam..”

“Mana Sohyun?! Bagaimana keadaannya?” Tanya Joon cemas.

Luhan memandang Joon, lalu memandang tirai yang membatasi tempat tidur yang dia duduki dengan yang lainnya.

Sunhee memandang tirai itu dan menyibaknya, terlihat Sohyun duduk dipinggir tempat tidur dengan wajah shock. Juga memar di pipi kirinya dan sudut bibir terluka, “Omo! Sohyun!!” Serunya.

Joon menghampiri Sohyun dan memegang bahunya, “Ya! Apa yang terjadi?!”

Sohyun memandang Joon tanpa menjawab.

“Ya! Kwon Sohyun!!” Seru Joon kesal.

“Kim Joon-ssi!” Ucap Sunhee mengingatkan.

“Ahjussi..” Panggil Luhan, membuat Joon memandangnya, “Tadi ada seorang pria yang ingin merebut tas Sohyun, dia terus mempertahankan tasnya. Karena itu dia mendapat pukulan dari pria itu..” Ucapnya menjelaskan.

Joon tertegun dan kembali menatap Sohyun, matanya melihat satu tangan gadis itu memegang tasnya. Kemarahan perlahan naik ke puncak kepalanya, dengan kasar dia menarik gadis itu berdiri dihadapannya hingga tas gadis itu terjatuh ke lantai. “Kwon Sohyun!! Pabo ya?!! Kenapa kau mempertahankan tas bodoh itu?! Aku bisa membelikan ribuan yang seperti itu!!!” Serunya.

Sunhee memperhatikan ekspresi Sohyun, gadis itu terlihat hanya menatap Joon shock, namun tangannya gemetaran.

“Jinja?! Kau gadis bisu yang bodoh!!” Ucap Joon marah.

Luhan terbungkam ditempatnya, tak tau apa yang harus dia katakan.

Sunhee menatap Joon kesal, lalu mendorong pria itu kesamping agar bisa berhadapan dengan Sohyun. Bibirnya membentuk senyuman dan memegang pipi kanan gadis itu, “Gwenchana.. Kau sudah aman sekarang..” Ucapnya lembut, lalu memeluk gadis itu sambil mengelus punggungnya.

Sohyun tertegun merasakan pelukan Sunhee. Rasa takutnya terasa ingin meluap. Kedua tangannya yang gemetaran perlahan terangkat dan memeluk tubuh langsing Sunhee. Bulir air matanya jatuh begitu saja dan menangis tersedu-sedu di bahu wanita itu.

Joon tertegun melihat Sohyun menangis. Setelah beberapa minggu gadis itu hanya terlihat bingung atau tanpa ekspresi, ia cukup terkejut melihatnya menangis.

=Apartemen=

Sunhee keluar dari kamar Sohyun setelah memastikannya tidur, Joon yang berdiri di depan pintu memandangnya.

“Dia sudah tidur?” Tanya Joon.

Sunhee mengangguk, “Ne..” Jawabnya.

Joon mengelus belakang kepalanya frustasi, “Ahhh…”

Sunhee menatap Joon serius, “Kim Joon-ssi, aku tau kau khawatir padanya. Tapi caramu memperlihatkannya salah.. Kau tidak melihat dia sangat ketakutan tadi? Jika kau memarahinya, dia bisa semakin tertekan.”

Joon menghela nafas dalam dan memandang Sunhee kesal, “Bagaimana aku tidak marah? Dia mempertahankan tas tak berharga itu! Dia bahkan sampai terluka! Beruntung wajahnya hanya memar, bagaimana jika sampai terluka parah?!”

Sunhee menghela nafas kesal, lalu membuka tas Sohyun yang dia pegang dan mengeluarkan sebuah buku gadis itu. “Lihat ini.. Apa kau masih bisa mengatakan ini tidak berharga?” Tanyanya.

Joon memandang buku yang disodorkan Sunhee, tangannya terulur mengambil buku itu dan membukanya. Halaman demi halaman, hingga akhirnya dia menemukan sebuah photo. Seorang gadis yang sangat dia kenal memeluk Sohyun yang tersenyum lebar. Gadis yang dulu pernah sangat dia cintai. Kwon Yuri.

“Itu ibu Sohyun kan? Melihat bagaimana responnya, itu pasti satu-satunya photo yang dia miliki sekarang..” Ucap Sunhee.

Joon tertegun menatap photo itu, kemudian memandang Sunhee.

“Kim Joon-ssi, sebagai anggota keluarga yang paling dekat dengannya sekarang, kau harus mengerti bagaimana kondisinya.” Ucap Sunhee.

Joon diam sejenak, lalu mengangguk. “Ne, gamshamida Hwang Sunhee-ssi..”

Sunhee mengangguk, “Aku pergi sekarang. Dan biarkan Sohyun beristirahat sementara waktu, aku akan mengurus hal-hal disekolah..” Ucapnya, lalu melangkah menuju pintu.

Joon menghela nafas dalam dan kembali memandang wajah Yuri di photo itu. Sudah sangat lama sejak terakhir dia melihat wajah gadis itu.

=Sekolah=

Luhan menghampiri Sunhee di ruangannya, “Sam, apakah Sohyun baik-baik saja?” Tanyanya.

Sunhee tersenyum tipis, “Ne, dia hanya perlu menenangkan diri beberapa hari lagi. Tidak perlu khawatir..”

Luhan mengangguk mengerti, “Tapi sam..” Ucapnya, “Kim Joon itu siapanya Sohyun? Kenapa dia marah-marah seperti tempo hari?”

“Mmm.. Dia paman Sohyun..” Jawab Sunhee. “Sudah, kembalilah ke kelasmu..”

Luhan membungkuk sopan dan kembali ke kelasnya.

=Apartemen=

Sohyun duduk diatas tempat tidurnya sambil memandangi photo dia dan ibunya, ‘Eomma, kapan eomma akan datang menjemputku?’ Batinnya. Dadanya terasa sangat sesak mengingat Joon sama sekali tak memperlakukannya seperti anak. ‘Eomma, aku sangat merindukanmu..’ Batinnya lagi. Bulir air mengalir dari matanya. Dia menempelkan photo itu ke dadanya dan berbaring dengan mata terpejam.

“Uljima.. Kau putri eomma yang kuat, Sohyun.. Kau bisa menghadapi semuanya, uljimara..”

Bulir air mata Sohyun semakin deras mengalir mengingat ucapan ibunya itu. ‘Aniya eomma, aku tidak kuat sama sekali.. Aku sangat lemah.. Aku tidak bisa apa pun tanpa dirimu..’ Batinnya sedih.

Joon pulang lebih cepat karena khawatir pada Sohyun, namun seperti kemarin, begitu masuk kerumah, dia kembali menemukan makanan yang tersedia dimeja tak tersentuh sedikit pun. Dia menghela nafas dalam dan melangkah cepat ke kamar Sohyun. Gadis itu masih terlelap, “Sohyun.. Kwon Sohyun..” Panggilnya sambil mengguncang tubuh gadis itu.

Sohyun terbangun dan memandang Joon.

“Kenapa kau tidak menyentuh makananmu? Kau itu sakit, ayo makan..” Ucap Joon sambil menarik Sohyun bangkit dan membawanya ke ruang makan.

Sohyun hanya duduk memandang makanan di meja.

“Cepatlah makan..” Ucap Joon,  “Kwon Sohyun.. Sudah beberapa hari kau hanya berbaring di tempat tidur, kau tidak terluka parah! Jangan membuat penyakit itu datang padamu!” Tegasnya.

Sohyun menggeleng.

Joon menghela nafas kesal, “Aigoo.. Kau benar-benar..” Gumamnya, “Cepat makan!” Serunya.

Sohyun memandang Joon dengan mata memelas.

“Ahh..” Joon memijat batang hidungnya frustasi, “Jinja..” Gumamnya, lalu menatap Sohyun kesal. “Jika kau hanya ingin menambah masalahku, kenapa kau datang padaku?! Apa yang diinginkan ibumu?! Kenapa dia mengirimmu padaku?!” Tanyanya kesal, tapi Sohyun tak menjawab. “Karena kau anakku?! Cih.. Bagaimana mungkin setelah 15 tahun dia baru memberitauku kalau kau ada di dunia ini..” Ucapnya kesal, lalu bangkit. “Terserah kau akan makan atau tidak! Aku sudah membayar detektif untuk mencari ibumu, setelah dia kutemukan, kau akan kembali padanya!!” Ucapnya, lalu melangkah pergi.

Sohyun diam ditempatnya memandangi makanan. Bulir air matanya jatuh satu persatu mewakili hatinya. Dia menghela nafas dalam dan mengambil sumpit, lalu mulai makan. Kesedihannya terasa berlipat ganda. Dia memasukkan makanan-makanan itu memenuhi mulutnya dan berusaha mengunyah semuanya, bulir air terus berjatuhan dari matanya. ‘Eomma..’ Batinnya pedih. Makanan yang masuk ke tenggorokkannya terasa asing untuk perutnya sendiri, tiba-tiba dia merasa mual dan kembali memuntahkan makanan itu. “Huweeeekk..” Dia merasa tak bertenaga dan jatuh tak sadarkan diri ke lantai.

BRUKKK!!

Joon terkejut mendengar bunyi jatuh yang cukup besar itu, lalu berlari ke ruang makan. Matanya membesar melihat Sohyun terbaring dilantai, “Sohyun!!” Serunya.

Beberapa saat kemudian.

Keadaan Sohyun terus memburuk, makanan yang masuk ke perutnya selalu keluar lagi. Joon sangat khawatir dan memutuskan merawatnya dirumah. Juga dokter pribadinya terpaksa memasang infus karena gadis itu tak bisa menerima asupan makanan sama sekali.

Sunhee duduk di sebelah tempat tidur Sohyun sambil menggenggam tangannya, bibirnya membentuk senyuman sambil mengelus punggung tangannya. “Gwenchana.. Kau akan segera sembuh..” Ucapnya.

Sohyun hanya memandang Sunhee lemah.

Sunhee mengelus kepala Sohyun, “Sohyun-a, ibu berbicara sebentar dengan pamanmu..” Ucapnya, lalu bangkit dan berjalan keluar.

Joon yang duduk di sofa ruang tengah memandang Sunhee yang keluar dari kamar Sohyun dan kembali menunduk.

Sunhee menghampiri Joon, “Bisa aku bicara denganmu?”

Joon mengangguk dan mempersilahkan Sunhee duduk dengan isyarat tangannya.

Sunhee duduk di sofa disebelah Joon, “Jangan khawatir, Sohyun akan segera baik-baik saja..” Ucapnya.

Joon memandang Sunhee heran, “Kenapa kau yakin sekali? Dokter saja tidak tau apa yang terjadi padanya, bagaimana mungkin kau lebih dulu memprediksi?” Tanyanya.

Sunhee tersenyum simpul, “Kim Joon-ssi, dokter hanya bisa memprediksi penyakit fisik manusia. Tapi Sohyun, bukan fisiknya yang sakit. Tapi hatinya..”

Dahi Joon berkerut, “Apa maksudmu?”

Sunhee menatap Joon serius, “Kim Joon-ssi, selama dia tinggal bersamamu. Tidak pernahkah sekali saja kau menatap kedalam matanya? Hatinya terluka sangat dalam, hal itu membuatnya tak sanggup berbicara dan selalu menutup diri.”

Joon tertegun sesaat, “Bagimana kau tau?”

“Aku ini guru konseling, sebelumnya aku mempelajari psikis manusia. Terutama pada anak. Sangat mudah menyentuh seseorang melalui tatapannya.” Jelas Sunhee, “Saat dirumah sakit, kau terus memarahinya. Padahal tangannya gemetaran hebat saat itu. Dia ketakutan. Seperti ada sesuatu yang akan segera menerkamnya. Karena itu aku memeluknya, memberitaunya kalau aku akan melindunginya. Saat itu, pasti pertama kalinya kau melihat Sohyun menangis. Benar kan?”

Joon menatap Sunhee tak percaya, lalu mengangguk kaku.

“Kau lihat? Hatinya terluka. Tapi dia tak bisa mengungkapkannya. Saat aku berlaku hangat seolah hanya aku yang mengerti dirinya, dia mengungkapkan perasaannya dengan menangis. Itulah yang dibutuhkan Sohyun, mengungkapkan apa yang dia rasakan. Kau mengerti?” Tanya Sunhee.

Joon berusaha mencerna ucapan Sunhee.

Sunhee menatap Joon dalam, “Kim Joon-ssi, obati luka hatinya. Jangan buat ia menderita seorang diri. Aku yakin dia sangat ketakutan karena tidak ada seseorang disisinya..”

Joon memandang Sunhee, ucapan gadis itu membuatnya merasa bersalah. Dia menyadari dirinya memang kurang peka terhadap perasaan orang disekitarnya. Dia tertegun merasakan tangan Sunhee memegang punggung tangannya.

“Kau anggota keluarga yang paling dekat dengannya saat ini, lindungi dia.. Buat dia merasa nyaman disisimu..” Ucap Sunhee.

Joon menghela nafas dalam dan mengangguk, “Ne..”

Sunhee tersenyum.

Keesokan Paginya.

Joon masuk ke kamar Sohyun dan duduk dipinggir tempat tidurnya. Dia langsung tersenyum begitu gadis itu membuka matanya, “Annyeong, sudah merasa lebih baik?”

Sohyun hanya memandang Joon lemah.

Joon mengelus kepala Sohyun, “Sohyun-a, kau tau ibumu memiliki sifat sepertimu?” Tanyanya menahan tawa, “Dulu, saat kami bertengkar. Selalu aku yang meledak-ledak, sedangkan dia orang yang paling sabar yang pernah kutemui. Tapi saat aku menyuruhnya pergi, dia akan langsung pergi tanpa melihat kebelakang lagi. Aku terkejut dan panik, jadi aku segera melupakan kemarahanku dan mengejarnya. Persis sekali denganmu..” Ceritanya. Lalu menerawang jauh mengenang masa itu, “Aku merasa bersalah karena harus berhenti sekolah untuk mengikuti trainee di agensi dan terpaksa memutuskan hubungan kami. Aku selalu menyesalinya setiap menit dalam hidupku, andai aku bisa memutar waktu, aku akan mengulang masa bersamanya dan tidak akan memilih bergabung dengan agensi.” Ucapnya sedih, kemudian memandang Sohyun. “Dan memiliki keluarga bahagia bersamanya..” Ucapnya sambil tersenyum, tangannya perlahan menggenggam tangan Sohyun. “Juga bersamamu..” Ucapnya tulus. “Miane..”

Sohyun tertegun mendengar ucapan Joon yang terdengar sangat tulus.

“Kau menderita karena ibumu pergi? Miane, itu pasti karena dia benar-benar membenciku hingga memiliki rencana ini sejak lama..” Ucap Joon menyesal, “Miane.. Seharusnya kau tidak menjadi korban dalam hal ini..” Ucapnya, satu tangannya yang lain mengelus kepala Sohyun penuh kasih sayang.

Mata Sohyun basah karena air mata, perlahan dia bangkit dan memeluk pria itu. Bulir air matanya berjatuhan begitu saja.

Joon tersenyum dan memeluk Sohyun. “Kau aman disini, kau datang ke tempat yang tepat Sohyun..”

Sohyun merasa tenang merasakan pelukan Joon, rasanya dia tak ingin melepaskan pelukan pria itu.

=Suatu Pagi=

Sunhee keluar dari apartemennya dan berjalan menuju lift, namun dia tertegun melihat Joon melangkah ke lift sambil merangkul Sohyun yang sudah bersiap ke sekolah. Perlahan bibirnya membentuk senyuman.

Sekolah.

Joon menghentikan mobilnya di depan sekolah Sohyun, “Kita sampai..”

Sohyun melepaskan safety beltnya dan memandang Joon.

Joon tersenyum dan mengelus pipi Sohyun yang masih terlihat memar tipis, “Jika ada yang mengejekmu karena memar ini, katakan padaku. Araso?”

Sohyun tersenyum dan mengangguk.

Joon senang melihat Sohyun tersenyum, “Masuklah..”

Sohyun melambai pada Joon dan turun dari mobil.

Joon memperhatikan Sohyun sesaat, lalu pergi dari kawasan sekolah gadis itu.

Luhan yang sudah lebih dulu duduk di tempatnya tertegun seseorang duduk disebelahnya, ketika menoleh ternyata orang itu Sohyun. “Oh.. Sohyun!” Ucapnya senang.

Sohyun tersenyum pada Luhan.

Luhan memperhatikan wajah Sohyun, tangannya spontan menyelipkan rambut gadis itu kebelakang telinga agar bisa melihat pipinya lebih jelas. “Wua.. Hampir sepekan tapi bekasnya masih ada..” Ucapnya tak percaya.

Sohyun tertegun merasakan tangan Luhan menyentuh pipinya. Wajahnya terasa panas dan langsung menepis tangan pria itu sambil menunduk canggung.

“Oh.. Miane..” Ucap Luhan menyesal.

Sohyun mengangguk pelan.

Luhan garuk-garuk kepala canggung, “Mmm.. Apa ada barangmu yang hilang?” Tanyanya memastikan.

Sohyun menggeleng.

Luhan kembali tersenyum melihat rona merah diwajah Sohyun, “Mmm.. Bagaimana jika sepulang sekolah nanti kita pergi ke suatu tempat?”

Sohyun tertegun mendengar ucapan Luhan. Perlahan bibirnya membentuk senyuman malu.

=Apartemen=

Luhan menghentikan motornya di depan gedung apartemen dan melepaskan helm.

Sohyun turun dan motor dan tersenyum pada Luhan.

“Hmm.. Kau tinggal disini bersama pamanmu?” Tanya Luhan.

Sohyun tertegun mendengar ucapan Luhan, senyumannya perlahan memudar dan mengangguk dengan kepala tertunduk.

“Wae? Aku mengatakan sesuatu yang tidak kau suka?” Tanya Luhan.

Sohyun menggeleng dan membungkuk sopan, lalu berbalik.

“Sohyun..” Panggil Luhan yang spontan menarik tangan gadis itu.

Sohyun memandang Luhan yang bergerak turun dari motornya bingung.

Luhan tersenyum, “Mmm.. Bisakah lain kali kita pergi seperti tadi?”

Sohyun tertegun, lalu tersenyum dan menggangguk.

Luhan melepaskan tangan Sohyun perlahan, “Baiklah.. Sampai jumpa..” Ucapnya sambil melambai.

Sohyun tersenyum manis dan berbalik masuk.

Luhan senang Sohyun tidak menolak ajakannya.

Sementara di Apartemen.

“Kau tidak bisa menemukannya?” Tanya Joon pada Yonghwa.

Yonghwa menghela nafas kesal, “Gadis itu sudah 15 tahun pergi dari keluarganya, tidak ada yang tau dimana dia..” Ucapnya.

Joon tertegun, “15 tahun?”

“Ne! Sudahlah! Dari pada kau pusing mencarinya, tanya saja gadis itu. Ahhh.. Aku tak percaya dia bisa berpura-pura bisu! Ibunya pasti sutradara yang baik!” Ucap Yonghwa.

Joon menatap Yonghwa kesal, “Sohyun dalam keadaan tertekan, pasti dia juga tidak tau dimana ibunya! Dan dia tidak berpura-pura tidak bisa berbicara.. Jika kau ingin tau tentang Kwon Yuri darinya, tunggu hingga dia sembuh..”

“Mwo?! Menunggu?! Berapa lama?! Setahun?! Dua tahun?!” Tanya Yonghwa kesal, “Joon, konsermu tinggal beberapa bulan lagi!”

“Aku tau! Tapi aku tidak akan memaksa Sohyun jika dia memang belum mau berbicara!” Tegas Joon.

Yonghwa menatap Joon tak percaya, “Ya.. Sepertinya anak itu berhasil mempengaruhimu! Dia bahkan belum tau anakmu atau tidak!”

“Anakku atau bukan! Dia anak dari wanita yang berarti dalam hidupku!!” Seru Joon.

Yonghwa terdiam dengan tatapan marah pada Joon, “Persetan dengan cinta! Kau ingin menghancurkan karir yang sudah kau bangun hampir 10 tahun ini?!”

Joon menghela nafas dalam, “Karirku tidak akan hancur hanya karena Sohyun! Pikiranmu saja yang terlalu berlebihan, Yonghwa!”

“Ohya? Bayangkan jika fans-mu tau kau memiliki putri 15 tahun lalu dan membiarkan ibunya membesarkannya seorang diri! Apakah mereka tidak akan memberi label pria brengsek padamu?!” Tanya Yonghwa marah.

Joon memutar bola matanya kesal, “Aku tidak berkata akan memberitau publik kalau Sohyun itu putriku! Aku hanya berkata biarkan dia disini hingga ibunya muncul!!” Jawabnya.

Yonghwa menatap Joon marah, “Oh.. Kau yakin ibunya akan datang?! Bagaimana jika dia datang dengan tuntutan kalau kau menculik anaknya?!”

“Ya! Berhenti berpikiran negatif!” Seru Joon.

Yonghwa memijat batang hidungnya, “Terserah padamu!!” Ucapnya sambil bangkit dan berjalan ke pintu.

“Ya! Kita belum selesai!” Seru Joon sambil berdiri. Saat itu dia melihat Sohyun yang berdiri di dekat pintu menghindari Yonghwa yang terus melangkah.

Sohyun memandangi Yonghwa hingga keluar dari apartemen, lalu memandang Joon diruang tengah.

“Kau sudah pulang?” Tanya Joon canggung.

Sohyun memandang Joon sesaat, lalu melangkah ke kamarnya.

Joon melangkah ke arah Sohyun dan menarik bahunya, gadis itu memandangnya tanpa ekspresi. “Kau mendengar pembicaraanku dan Yonghwa?”

Sohyun menunduk menyesal, lalu mengangguk.

Joon menghela nafas dalam, “Mmm.. Kau tenang saja, Yonghwa tidak akan melakukan apa pun padamu..”

Sohyun memandang Joon, lalu melepaskan tangan pria itu dari bahunya dan kembali melangkah ke kamar.

“Sohyun..” Panggil Joon sambil kembali menarik bahu gadis itu.

Sohyun memandang Joon masih tanpa ekspresi.

Joon menatap Sohyun kesal, “Kau marah padaku?”

Sohyun mengangguk.

Joon menghela nafas dalam menetralkan emosinya, “Jika kau marah, kenapa tidak menatapku tajam? Ekspresi apa itu?!”

Sohyun mendorong tangan Joon dari bahunya dan berjalan ke kamarnya.

“Kwon Sohyun!!” Seru Joon, membuat gadis itu berhenti dan kembali memandangnya. “Ada apa denganmu? Beritau padaku! Aku ingin membantumu..”

Sohyun tak mengatakan apa pun dan masuk ke kamarnya.

Joon mendengus kesal, lalu menendang lantai. “Ahh! Micheoso!”

=Apartemen Sunhee=

Sunhee tersenyum melirik Sohyun yang menikmati kue coklat buatannya di meja dapur, “Kau suka?”

Sohyun memandang Sunhee dan tersenyum.

“Biasanya aku hanya membuat dan memakannya sendiri. Aku senang akhirnya ada yang menikmatinya bersamaku..” Ucap Sunhee senang.

Sohyun juga terlihat senang bisa menghabiskan waktu bersama Sunhee. Wanita itu membuatnya merasa nyaman.

Sunhee ikut menikmati kue buatannya dan memandang Sohyun, “Sohyun-a..” Ucapnya sambil mengulurkan tangan memegang punggung tangan gadis itu dan menatapnya dalam, “Kau telah melewati masa yang sulit kan? Pasti terasa berat untukmu melewatinya sendiri.. Jika kau merasa tidak tau harus datang pada siapa, datanglah pada ibu..” Ucapnya pelan.

Sohyun tertegun memandang Sunhee.

Sunhee tersenyum hangat, “Jika kau tidak bisa mengekspresikan apa yang kau rasakan, ucapkan dengan mulutmu..” Ucapnya, “Itu akan membuatmu merasa lebih baik..”

Sohyun diam memikirkan ucapan Sunhee.

“Makanlah lagi..” Ucap Sunhee dan kembali menikmati makanannya.

=Sekolah=

Sohyun merasa kepalanya seperti dipukul palu. Nafasnya terasa sesak, juga keringat mulai membasahi wajahnya. Satu tangannya terangkat memegang dahinya.

Luhan yang menatap malas kedepan menyadari Sohyun memejamkan mata sambil memegang dahinya, juga tampak mengerutkan dahinya. “Sohyun-a, gwenchana?” Bisiknya.

Tiba-tiba Sohyun kehilangan kesadarannya dan jatuh ke arah yang berlawanan dengan Luhan.

Mata Luhan membesar dan langsung menarik Sohyun kearahnya, “Ya!! Sohyun!! Kwon Sohyun!!” Serunya sambil mengguncang tubuh gadis itu.

Seluruh kelas memandang kearah Luhan kaget, termasuk guru mereka.

“Ada apa Xiu Luhan?” Tanya guru di depan.

“Sam! Kwon Sohyun pingsan!” Jawab Luhan.

“Ne? Cepat bawa dia ke ruang kesehatan!” Perintah guru.

Dengan cepat Luhan membelakangi Sohyun dan menarik kedua tangan gadis itu ke bahunya, lalu mengangkatnya ke ruang kesehatan.

Perawat di ruang kesehatan terkejut melihat Luhan masuk dengan Sohyun yang tak sadarkan diri dipunggungnya, “Omo! Segera baringkan dia!”

Luhan membaringkan Sohyun ke tempat tidur dan memperhatikan perawat memeriksa gadis itu. “Apa yang terjadi padanya?” Tanyanya.

Perawat melepaskan stetoskop dari telinganya dan memeriksa bawah mata Sohyun, “Aku belum bisa memastikan alasan dia pingsan, tapi sebaiknya biarkan dia beristirahat dulu..”

Luhan menghela nafas dalam, “Ne..” Ucapnya.

“Kembalilah ke kelasmu, aku akan menjaganya..” Ucap perawat.

Luhan memandang Sohyun, lalu membungkuk sopan pada perawat dan keluar.

=Ruang Latihan=

Joon menyeka keringat di wajahnya dengan handuk kecil sambil berbaring dilantai. Matanya terpejam melepaskan rasa lelahnya setelah berlatih dance selama hampir 4 jam.

Yonghwa menghampiri Joon dan duduk disebelahnya, “Ya, sekolah Sohyun menghubungiku..”

“Wae?” Tanya Joon dengan mata masih terpejam.

“Mereka bilang Sohyun pingsan..” Jawab Yonghwa.

Mata Joon spontan terbuka dan langsung bangkit duduk menatap Yonghwa kaget, “Mwo?!!” Serunya.

Yonghwa terkejut Joon tiba-tiba berseru, “Omo! Kau mengejutkanku!”

Joon langsung bangkit dan berlari ke pintu.

Dahi Yonghwa berkerut melihat respon Joon seperti itu.

=Pulang Sekolah=

Sohyun melangkah pergi dari sekolahnya sambil memperhatikan langkah kakinya. Kepalanya menoleh mendengar sebuah motor berhenti.

Luhan membuka helm dan turun dari motor, “Ya! Kenapa kau pergi begitu saja?!” Tanyanya kesal.

Sohyun memandang Luhan bingung.

Luhan menatap Sohyun marah, “Aku akan mengantarkanmu..” Ucapnya sambil menarik tangan gadis itu.

Sohyun menyentak tangannya dengan wajah tanpa ekspresi, lalu kembali melangkah pergi.

“Ya!!” Seru Luhan sambil menarik Sohyun lagi.

Sohyun menyentak tangannya lagi, namun Luhan tetap tak melepaskan tangannya.

“Wajahmu masih pucat! Bagaimana mungkin kau pergi seorang diri?!” Ucap Luhan kesal.

Sohyun menarik tangannya, tapi Luhan tetap tak melepaskan tangannya.

Joon berlari di sekitar sekolah mencari Sohyun, “Ahhh.. Odiga?” Gumamnya cemas. Akhirnya dia melihat gadis itu bersama Luhan. “Kwon Sohyun!” Panggilnya.

Sohyun menoleh dan melihat Joon berlari kearahnya.

Luhan langsung melepaskan tangan Sohyun.

Joon terkejut melihat wajah Sohyun sangat pucat dan memegang bahunya, “Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa pingsan?”

Sohyun menggeleng tanda tak tau.

Joon menghela nafas lega, “Tapi yang penting kau tidak apa-apa..” Ucapnya sambil mengelus rambut Sohyun. Lalu memandang Luhan, “Oh.. Kau yang waktu itu kan?”

Luhan membungkuk sopan, “Ne, ahjussi.. Annyeonghaseo..”

“Apa yang terjadi tadi?” Tanya Joon.

“Tadi tiba-tiba Sohyun terlihat seperti sakit kepala dan pingsan..” Jawab Luhan.

Joon tertegun, lalu memandang Sohyun.

“Ahjussi, mungkin sebaiknya anda memeriksakan Sohyun ke rumah sakit..” Ucap Luhan memberi usul.

Joon mengangguk, “Ne.. Aku akan membawanya sekarang. Terima kasih sudah memperhatikannya..” Ucapnya, lalu merangkul Sohyun berjalan ke mobilnya.

Selama perjalanan Sohyun hanya duduk dengan wajah memandang ke jalanan.

“Sohyun-a, gwenchana?” Tanya Joon khawatir.

Sohyun memandang Joon dan mengangguk.

“Mmm.. Aku akan meminta Yonghwa.. ah.. Ani.. Mungkin aku akan meminta temanku untuk memeriksakanmu ke rumah sakit..” Ucap Joon.

Sohyun menggeleng.

“Ani?” Ucap Joon bingung, “Wae? Kau terlihat pucat sekali..” Ucapnya, tapi Sohyun kembali memalingkan wajahnya. Dia menghela nafas dalam dan kembali memandang jalanan.

=Keesokan Harinya=

Sohyun keluar dari kamarnya dengan seragam lengkap, baru beberapa langkah dari kamar kepalanya terasa sangat pusing. Matanya terpejam menahan sakit dengan satu tangan memegang dahi, kakinya melemah dan jatuh terduduk di lantai. ‘Eomma! Eomma!’ Batinnya menahan sakit.

Joon keluar kamar sambil memasang jam tangannya, dia terkejut melihat Sohyun duduk dilantai memegang dahi. “Sohyun!” Serunya sambil menghampiri gadis itu.

Sohyun tak berdaya karena rasa sakit dikepalanya.

“Sohyun! Waeyo?!” Tanya Joon sambil menarik Sohyun bersandar ke lengannya. Wajah gadis itu tampak pucat. “Sohyun! Sohyun!!” Ucapnya panik sambil menyeka keringat di dahi gadis itu.

‘Eomma..’ Batin Sohyun kesakitan dengan mata terpejam.

Joon mengeluarkan ponsel dan menghubungi dokter pribadinya, “Dokter Shin! Segera datang ke apartemenku!! Sekarang!”

Beberapa jam kemudian.

Joon menatap Dokter Shin serius setelah memeriksa Sohyun, “Bagaimana dokter?”

Dokter Shin memandang Joon, “Sebaiknya anda membawanya ke rumah sakit, Kim Joon-ssi..”

“Ne? Apa separah itu?” Tanya Joon khawatir.

Dokter Shin memperhatikan wajah Sohyun, “Sepertinya dia bukan mengalami sait kepala biasa..” Ucapnya.

“Mmm.. Ibunya dulu sering merasa migraine, mungkin itu menurun padanya..” Ucap Joon.

“Mmm.. Bisa saja, tapi lebih baik kau memeriksanyakannya lebih lanjut..” Ucap Dokter Shin.

Joon menghela nafas dalam dan mengangguk berat, “Ne, aku akan membawanya ke rumah sakit secepatnya..” Ucapnya. “Mmm.. Dokter Shin, bisakah aku meminta bantuanmu?”

Dokter Shin memandang Joon, “Ne? Mmm.. Jika aku bisa..”

Joon menggigit bibir bawahnya ragu, “Dokter Shin, kita sudah saling mengenal untuk waktu yang lama. Aku ingin memintamu melakukan sesuatu yang sangat rahasia..”

Dahi Dokter Shin berkerut, “Apa?”

Joon melirik Sohyun dan memandang Dokter Shin serius, “Bisakah kau melakukan tes DNA antara aku dan Sohyun?”

Dokter Shin tertegun, “Ne?”

Joon mengelus pundaknya, “Kupikir Sohyun adalah putriku..”

“Mwo? Putrimu?” Tanya Dokter Shin tak percaya.

“Kumohon Dokter Shin, ini hanya antara kau dan aku..” Pinta Joon setengah memohon.

Dokter Shin diam sejenak, lalu memandang Sohyun. “Mmm.. Baiklah..” Ucapnya.

Joon tersenyum, “Terima kasih Dokter Shin..”

Dokter Shin mengambil plastik steril dari tasnya, “Aku akan mengambil sedikit rambutnya..” Ucapnya sambil mengambil beberapa helai rambut Sohyun, setelah itu meminta Joon memberikan beberapa helai rambutnya. “Baiklah.. Saya akan kembali sekarang..” Ucap Dokter Shin sambil bangkit dan membereskan barang-barangnya.

Joon mengantarkan Dokter Shin ke pintu dan kembali ke kamar Sohyun. Dia duduk di sebelah gadis itu sambil menatapnya khawatir. Tangannya terangkat mengelus rambut gadis itu. “Ada apa denganmu?” Tanyanya pelan.

3 jam kemudian.

Sohyun mengerutkan dahinya dan membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa pusing. Dia bergerak duduk sambil memegang kepalanya. Ia langsung tertegun melihat Joon tertidur dengan posisi duduk di samping tempat tidur, namun kepala berbaring di dekat pinggangnya. Juga menggenggam satu tangannya.

“Hmm..” Gumam Joon dan menggenggam tangan Sohyun lebih erat. “Gwenchana, Sohyun-a..” Gumamnya dalam tidur.

Sohyun memandang Joon sambil menghela nafas dalam, lalu menggoyang tangan Joon yang menggenggam tangannya.

Joon terbangun merasakan tangan Sohyun bergerak dan langsung terduduk menatap gadis itu tak percaya, “Oh! Gwenchana?!” Tanyanya sambil memegang kedua pipi gadis itu.

Sohyun mengangguk pelan.

Joon menghela nafas lega, “Ohhh.. Syukurlah..” Ucapnya sambil mengelus rambut gadis itu. “Aku khawatir sekali..”

Sohyun menunduk menyesal.

Joon tersenyum, “Gwenchana, dokter sudah memberikanmu resep obat.” Ucapnya.

Sohyun memandang Joon dan mengangguk pelan.

=Sekolah=

Sohyun berdiri di halaman sekolah sambil memandang langit, namun tiba-tiba ada sepasang tangan yang melindungi kepalanya. Lalu menoleh kesamping.

“Kenapa panas-panasan? Nanti kepalamu sakit lagi..” Ucap Luhan aneh.

Sohyun mengangguk dan berjalan ke teras, Luhan terus melindungi kepalanya hingga tiba dibawah atap.

“Kau sudah makan siang? Wajahmu masih pucat..” Ucap Luhan khawatir.

Sohyun mengangguk.

“Apa kau sudah memeriksakan diri ke rumah sakit?” Tanya Luhan.

Sohyun tersenyum tipis dan mengangguk.

“Lalu bagaimana hasilnya?” Tanya Luhan ingin tau. Namun gadis itu hanya memandangnya tanpa menjawab, “Ahh.. Kau tidak bisa berbicara..” Ucapnya, “Apa hasilnya baik?”

Sohyun mengangguk pelan.

Luhan menghela nafas lega, “Syukurlah..” Ucapnya.

=Apartemen=

Joon masuk ke kamar Sohyun dan memandang ke kanan dan kiri, “Dia belum pulang?” Tanyanya sambil memandang jam tangannya, “Seharusnya dia sudah tiba..” Ucapnya bingung. Dia menghela nafas dalam dan melangkah masuk, lalu duduk di pinggir tempat tidur. ‘Apa dia memang putriku?’ Batinnya. Lalu menoleh ke arah bantal Sohyun, dahinya berkerut melihat sebuah photo terselip dibawah bantal itu. Tangannya terulur dan mengambil photo itu, ternyata photo Sohyun dan Yuri itu. Dia sempat tertegun beberapa saat memandang photo itu. Bibirnya membentuk senyuman, “Dia benar-benar menyerupaimu, Yuri..” Gumamnya sambil membelai pipi Yuri di photo itu. Dia kembali menyelipkan photo kebawah bantal, tapi tangannya membentur sesuatu yang keras. Jadi dia menggeser bantal itu untuk melihat apa dibawahnya. Ternyata sebuah kotak kaleng kecil. “Mwoya?” Gumamnya sambil mengambil benda itu.

Dengan hati-hati dia membuka tutupnya dan melihat ada beberapa kertas didalamnya. Tangannya mengambil kertas-kertas itu dan melihatnya. Dahinya berkerut melihat salah satunya adalah surat pendek yang ditulis Yuri.

Sohyun-a, ayahmu tidak tau siapa kau. Tapi kau harus tetap bersamanya. Dia akan menjagamu. Eomma tidak bisa bersamamu lagi. Tapi kau harus tau eomma selalu menyertaimu..

Mata Joon membesar, ‘Kapan Yuri memberikan pesan ini?!’ Batinnya. Kepalanya menoleh ke pintu mendengar seseorang masuk.

Sohyun bingung melihat Joon dikamarnya, matanya langsung membesar pria itu memegang kotak kalengnya, juga suratnya. Dengan cepat dia berlari ke arah pria itu dan merebut barang-barangnya.

Joon berdiri dan menatap Sohyun marah, “Kapan Yuri memberikan surat itu?!” Serunya.

Sohyun menatap Joon, lalu memasukkan benda-bendanya ke dalam kotak kaleng lagi dan berjalan ke sisi tempat lain tidur.

Joon mengikuti Sohyun dan menarik bahu gadis itu hingga berputar menghadapnya, “Ya!! Kau benar-benar bersekongkol dengan ibumu untuk menghancurkanku?!!” Tuduhnya.

Sohyun hanya menatap Joon.

Joon memegang dagu Sohyun dan menatapnya marah, “Dimana Yuri?!” Tanyanya, namun gadis itu tetap tak menjawab. “Dimana Kwon Yuri?!!!” Teriaknya.

Sohyun memejamkan matanya kaget, lalu kembali menatap Joon.

Joon menatap Sohyun seperti sesuatu yang menjijikkan, lalu melepaskan dagu gadis itu. “Pergi ke tempat ibumu!! Katakan padanya, aku tidak akan segan-segan menuntutnya seumur hidup karena penipuan ini!” Ucapnya dingin.

Sohyun menatap Joon beberapa saat, lalu mengambil photo ibunya di tempat tidur dan langsung melangkah keluar dari kamar.

Joon menghela nafas dalam berkali-kali menetralkan emosinya, “Aaargh!!!” Serunya sambil menendang tempat tidur.

Sohyun memasukkan kotak kaleng dan photo ibunya ke tas, mengenakan sepatunya lagi dan keluar apartemen.

Sunhee yang baru tiba di depan pintu apartemennya tersenyum melihat Sohyun keluar, “Oh.. Sohyun-a..” Sapanya, tapi gadis itu terus berjalan pergi melewatinya. “Sohyun-a?” Ucapnya bingung, lalu memandang pintu apartemen Joon. ‘Ada apa lagi?’ Batinnya bingung.

Malamnya.

Joon duduk diruang tengah dengan kepala bersandar ke sandaran sofa dan menatap langit-langit tanpa ekspresi.

“Ya.. Ada apa denganmu?” Tanya Yonghwa sambil bergerak duduk di sebelah Joon.

Joon menghela nafas dalam, “Kwon Yuri..” Gumamnya.

Sebelah alis Yonghwa terangkat mendengar ucapan Joon sambil meletakkan sebuah map di meja. “Kebetulan sekali, aku menemukan data-data yang kau inginkan..”

Joon memejamkan mata dan menutup matanya dengan punggung tangan, “Buang saja..”

Yonghwa memandang Joon tak mengerti, lalu mengedarkan pandangannya. “Mana gadis itu?”

“Kembali pada ibunya..” Jawab Joon.

Yonghwa menghela nafas dalam, “Kau harus membaca berkas itu..”

Joon membuka matanya dan menatap Yonghwa kesal, “Untuk apa? Gadis itu sudah pergi..”

Yonghwa menatap Joon kesal, “Ya! Kau tau berapa biaya yang kukeluarkan untuk membayar detektif demi berkas-berkas itu?! Paling tidak kau harus membacanya sekali!”

Joon menghela nafas kesal dan duduk tegap sambil mengambil map diatas meja. Meskipun perasaannya sangat kesal, ia tetap membuka berkas itu sambil membacanya sekilas. Namun semakin lama membaca, dahinya berkerut dan mulai membacanya serius. ‘Dibuang keluarganya karena mempertahankan anak diluar nikah?’ Batinnya tak percaya dan terus membaca, ‘Membesarkan putrinya seorang diri dengan bekerja sebagai pelayan restauran selama 6 tahun, lalu membuka sebuah toko bunga namun tutup 7 tahun kemudian.’ Batinnya lagi. Data di berkas terakhir membuatnya sangat shock hingga mulutnya terbuka lebar. “Mwo?! Ige.. Ige mwoya?” Tanyanya tak percaya.

Yonghwa melipat kedua tangannya dan bersandar, “Sudah kubilang kau harus membacanya..”

Joon teringat Sohyun yang sudah pergi, lalu berdiri panik sambil mondar mandir memegang kepalanya. “Oh.. Sohyun-a..” Gumamnya frustasi.

Mata Yonghwa mengikuti Joon bolak balik dengan wajah sebalnya.

Ponsel Joon berbunyi, tangannya mengeluarkan ponsel dari saku dan memandangnya. Lalu menjawab panggilan itu, “Ne, Dokter Shin..”

“Kim Joon-ssi, gadis itu memang putrimu..” Ucap Dokter Shin.

Joon memejamkan matanya, “Ne, gamshamida..” Ucapnya dan memutuskan telepon.

“Wae?” Tanya Yonghwa.

Joon menghela nafas dalam dan menatap Yonghwa panik sambil menarik kerah baju pria itu, “Yonghwa!! Dimana Sohyun?!!” Serunya panik.

Yonghwa terkejut, “Ya!! Mana kutau!!” Serunya.

Joon melepaskan kerah baju Yonghwa dan memegang kepalanya frustasi, “Eoteokhe?!!”

“Kenapa kau tidak keluar dan langsung mencarinya?” Tanya Yonghwa sebal.

“Tapi dimana aku harus menemukannya?!! Ahh!! Pabo!!” Seru Joon sambil memukul kepalanya sendiri.

“Menurutmu kemana lagi dia akan pergi?” Tanya Yonghwa sebal.

Joon tertegun mendengar ucapan Yonghwa, lalu kembali membaca berkas tentang Yuri di halaman terakhirnya. “Aku harus menjemputnya!” Ucapnya sambil berlari ke pintu.

=Suatu Tempat=

Sohyun berhenti melangkah dan menatap sedih kedepan, bulir air matanya mengalir perlahan. Bibirnya membentuk senyuman sedih, “Eomma, aku datang..” Ucapnya pelan. Tangannya melepaskan tas dibahunya dan membiarkannya terjatuh begitu saja, lalu berlutut untuk mengelus sebuah batu besar yang tertanam di tanah. Jari-jarinya menyentuh ukiran-ukiran di permukaan batu itu dan berhenti di sebuah tulisan. Kwon Yuri. “Eomma, ijinkan aku pergi bersamamu..” Ucapnya pedih. Lalu menelungkup diatas gundukan tanah yang telah di tutupi rumput tipis sambil menangis tersedu-sedu.

=Flashback, 1 tahun lalu=

Sohyun menggenggam tangan Yuri dengan kedua tangannya erat.

Yuri yang hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur memandang Sohyun sedih, “Sohyun-a, kau selalu menemani eomma. Miane..” Ucapnya menyesal.

Sohyun menggeleng, “Aniya eomma, aku akan selalu disisimu hingga eomma sembuh..”

Yuri tersenyum tipis, “Eomma sangat beruntung melahirkanmu..” Ucapnya dengan mata memerah menahan air mata.

Sohyun berusaha menahan air matanya yang hendak jatuh dan tersenyum, “Ne, karena itu.. Aku akan merawat eomma hingga sembuh seperti semula..”

Tangan Yuri yang lain bergerak pelan memegang tangan Sohyun yang menggenggam tangannya.

Sohyun menyeka air yang mengalir dari mata Yuri dengan satu tangannya, “Uljima eomma, eomma akan sembuh dan kita akan membuka toko bunga lagi..” Ucapnya, berusaha tegar untuk dirinya sendiri dan ibunya.

Yuri menatap Sohyun penuh sesal dan bulir air mata yang terus berjatuhan.

Melihat air mata ibunya, bulir air mata Sohyun tak terbendung lagi. “Eomma, gwenchana..” Ucapnya.

“Eomma miane..” Ucap Yuri penuh sesal.

Sohyun tak bisa menahan tangisnya dan menggeleng cepat, “Aniya eomma..”

“Kau masih memiliki ayah Sohyun, datang padanya. Dia akan melindungimu..” Ucap Yuri pelan.

“Aniya..” Ucap Sohyun sambil menggeleng, “Aku akan bersama eomma.. Aku tidak akan pergi kemana pun..”

Yuri menatap Sohyun sedih, “Eomma miane..”

Sohyun menggeleng lagi, tak ada kalimat yang bisa dia keluarkan dari mulutnya karena menahan tangis.

Mata Yuri terus menatap wajah Sohyun dengan bulir air mengalir. Perlahan tatapannya menjadi kosong dan tak berkedip lagi.

Sohyun tertegun merasakan genggaman tangan ibunya melemah, “Eomma?” Ucapnya tak percaya sambil mengguncang tubuh Yuri, “andwae.. Eomma! Eomma!!” Teriaknya histeris sambil menggenggam tangan ibunya erat. “Eomma..”

=Flashback end=

Matanya memandang nisan ibunya dengan air mata berlinang, tangannya kembali terulur untuk memegang batu nisan itu. Namun kepalanya kembali terasa sakit. Matanya terpejam dan memegang dahinya, “Ahhh..” Rintihnya menahan sakit, matanya terbuka sedikit memandang nisan ibunya. ‘Eomma, ijinkan aku ikut denganmu..’ Batinnya menahan sakit. Kesadarannya menurun dengan darah yang mengalir dari hidungnya.

Joon mengendarai mobilnya secepat yang dia bisa, dia benar-benar menyesal telah mengatakan hal buruk pada Sohyun. Dia terpaksa menghentikan mobilnya di lampu merah dan menunggu dengan perasaan gusar. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk stir mobil ketika matanya menatap lampu yang masih berwarna merah, “Aissh..” Gumamnya kesal karena lampu itu tak juga berubah warna. Perlahan terlihat butir-butir air berjatuhan ke kaca mobilnya, dia tertegun melihat hujan langsung turun dengan deras. “Sial!!” Gumamnya. Tepat ketika lampu berubah menjadi hijau, kakinya menginjak gas dan kembali menuju tempat tujuannya.

20 menit kemudian Joon menghentikan mobilnya di depan sebuah pemakaman, lalu keluar dari mobil dan berlari ke kawasan pemakaman tanpa mempedulikan hujan yang turun. “Sohyun! Kwon Sohyun!!” Panggilnya sambil memandang ke kanan dan kiri. Keadaan yang gelap dan hujan yang turun membuatnya kesulitan melihat. Namun itu tidak menghentikannya karena dia yakin Sohyun ada disana. Dia terus masuk semakin dalam, beberapa kali dia sempat tergelincir karena genangan air ditanah, tapi dia kembali bangkit dan terus mencari. Hingga akhirnya dia melihat sesosok gadis berseragam berbaring didepan sebuah makam, matanya membesar dan langsung berlari kesana. “Sohyun!!” Serunya sambil menarik gadis itu ke lengannya, seluruh tubuh gadis itu basah dan dipenuhi lumpur. “Sohyun!!” Panggilnya, namun tak ada respon. Dengan cepat dia mengangkat gadis itu dan membawanya kembali ke mobil.

=Rumah Sakit=

“Tolong!!!” Seru Joon sambil berlari masuk ke ruang UGD.

“Omo! Tuan, baringkan dia disini..” Ucap seorang perawat sambil menunjuk sebuah tempat tidur.

Joon langsung membaringkan Sohyun dan mundur beberapa langkah agar dokter dan perawat bisa memeriksanya. Dia sangat khawatir dengan kondisi gadis itu.

“Tuan.. Ini, keringkan tubuh anda..” Ucap seorang perawat sambil memberikan handuk pada Joon yang basah kuyup.

Joon memandang perawat itu dan mengambil handuk, “Gamshamida..” Ucapnya.

Perawat itu tertegun, “Oh.. Kau Kim Joon kan?”

Joon juga tertegun, “Mmm.. Errr.. Ne..” Jawabnya akhirnya.

“Omo! Kau benar-benar dia!” Ucap perawat itu tak percaya.

Joon memandang Sohyun yang sedang ditangani, lalu memandang perawat tadi.

“Apa hubunganmu dengan pasien itu?” Tanya perawat itu ingin tau.

“Tolong, aku tidak ingin media tau tentang ini.. Bisakah kau kembali melanjutkan pekerjaanmu saja?” Tanya Joon sopan.

“Mmm.. Ne..” Jawab perawat itu dan kembali ke tempatnya.

=Ruangan Dokter=

“Kim Joon-ssi, setelah kami melakukan pemeriksaan secara keseluruhan. Ditemukan tumor di batang otak Kwon Sohyun.” Jelas dokter yang menangani Sohyun.

Mata Joon membesar, “Ne?!”

“Ne..” Jawab dokter itu, “Apa dia pernah mengeluh kepalanya sakit atau pingsan?”

Joon mengangguk pelan, “Beberapa kali dokter..”

Dokter itu menghela nafas dalam, “Itu karena tumor di batang otaknya..”

Joon menatap dokter dihadapannya serius, “Dokter, apakah ada cara menyembuhkannya? Kumohon! Lakukan apa pun!”

Dokter itu tersenyum, “Kim Joon-ssi, beruntung ukuran tumor itu tidak terlalu besar dan kemungkinan besar bisa sembuh karena operasi pengangkatannya..”

Joon langsung menghela nafas lega mendengar penjelasan sang dokter, “Lakukan dokter! Yang penting dia bisa sembuh..”

=Kamar Perawatan Sohyun=

Joon menggenggam tangan Sohyun sambil menatapnya dalam, meskipun belum sadar gadis itu sudah melewati masa kritisnya akibat kedinginan dan air yang masuk ke paru-paru. Hatinya sangat lega gadis itu ada dihadapannya.

Beberapa jam kemudian dahi Sohyun tampak berkerut.

Joon memandang Sohyun serius, “Sohyun.. Kau sadar?” Tanyanya sambil menggenggam tangan gadis itu dengan kedua tangannya.

Sohyun membuka matanya perlahan. Terasa seseorang memegang pipinya, matanya bergerak memandang sang pemilik tangan. Pandangannya yang blur semakin sejak setelah dia berusaha memusatkannya.

Joon tersenyum, “Gwenchana? Kau mengenaliku kan?”

Sohyun memandang Joon bingung, lalu memandang sekitar.

“Kau ada dirumah sakit..” Jelas Joon, gadis itu kembali memandangnya. “Jeongmal, mianata..” Ucapnya menyesal.

Sohyun menghela nafas dalam dan memejamkan matanya, lalu memalingkan wajah.

Joon tau Sohyun pasti terluka karena ucapannya kemarin, tangannya tetap menggenggam tangan gadis itu. “Sohyun-a, kenapa kau tidak bilang ibumu telah meninggal?” Tanyanya pelan.

Sohyun kembali membuka mata dan memandang Joon.

Joon menatap Sohyun sedih, “Wae? Kau membuatku merasa sangat bersalah..” Ucapnya, “Mianata..” Ucapnya sepenuh hati, bulir air jatuh perlahan dari matanya. “Appa miane, Sohyun-a..”

Sohyun hanya menatap Joon sedih, rongga matanya mulai dipenuhi air dan bulir air berjatuhan.

Joon menunduk menyesal dengan bulir air mata terus berjatuhan, lalu kembali memandang Sohyun sambil menyeka air matanya. “Jika Yuri meninggal tahun lalu, kenapa kau tidak langsung mencariku? Kau seharusnya memberitauku lebih cepat..” Ucapnya, “Appa akan melindungimu, Sohyun..”

Sohyun tak mengatakan apa pun juga.

Joon menghela nafas dalam dan menempelkan punggung tangan Sohyun ke pipinya. “Apakah karena Yuri meninggal kau menjadi tertekan dan tak berbicara pada siapa pun?” Tanyanya, satu tangannya melingkar diatas kepala gadis itu dan mengelus kepalanya. “Sekarang kau tidak perlu khawatir.. Appa akan melindungimu..” Ucapnya lembut, bibirnya membentuk senyuman hangat. Lalu mencium dahi gadis itu dan kembali menatapnya. “Kau bisa mengatakan apa yang kau rasakan, gwenchana..”

Sohyun mulai menangis tersedu-sedu dan bergerak bangkit memeluk leher Joon. Matanya terpejam dan membenamkan wajahnya dibahu pria itu.

Joon memeluk Sohyun sambil mengelus punggungnya, “Gwenchana.. Appa disini..”

“Aku takut..” Ucap Sohyun pelan.

Joon tertegun, lalu melepas pelukan Sohyun dan menatapnya tak percaya. “Mwo?”

Sohyun memandang Joon masih sambil terisak-isak, “A…aku takut..” Ucapnya pelan.

Joon tak percaya mendengar Sohyun berbicara, kedua tangannya memegang pipi gadis itu dengan bulir air mata haru berjatuhan dan tersenyum tak percaya. “Kau berbicara?” Ucapnya, lalu kembali memeluk gadis itu erat. “Jangan takut.. Appa disini Sohyun..” Ucapnya sambil mengelus rambut gadis itu.

Siangnya.

Sohyun duduk di tempat tidur dengan kaki bersila memandang Joon yang duduk dikursi.

“Kau tenang saja, kita akan tinggal bersama. Kau tidak perlu takut, appa akan menjagamu dengan baik..” Ucap Joon.

Sohyun tersenyum dan mengangguk.

Joon memegang tangan Sohyun dan menatapnya ragu, “Sohyun, tentang kepalamu yang sering sakit akhir-akhir ini.” Ucapnya pelan, lalu mengelus belakang kepalanya bingung. “Itu karena…” Dia menghela nafas dalam, tak tau bagaimana cara mengatakannya.

Sohyun menunduk sedih, “Tumor..”

Joon menatap Sohyun kaget, “Ne?”

Sohyun kembali memandang Joon, “Eomma meninggal karena kanker otak..” Ucapnya pelan, lalu menunduk sedih. “Aku memiliki tumor di batang otakku..”

Mata Joon membesar mendengar ucapan gadis itu, “Sejak kapan kau memiliki tumor itu?”

Sohyun memandang Joon menyesal.

“Kapan Sohyun?!” Tanya Joon mulai emosi.

Sebulir air kembali jatuh dari mata Sohyun, “Saat usiaku 10 tahun..”

Joon merasa sangat bersalah, satu tangannya bergerak memegang pipi Sohyun. “Kenapa… Kenapa Yuri tidak memberitauku? Kenapa dia…” Dia memegang dahi frustasi. Dia kembali memandang putrinya menahan tangis, “Sohyun.. Wae?”

Sohyun menunduk sedih, “Saat eomma meninggal, tidak ada seorang pun yang datang. Aku terus menangis di makam eomma, tapi tidak ada yang menghampiriku. Nenek dan kakek tidak mau menatapku. Karena itu aku tidak berbicara pada siapa pun. Aku tidak ingin berbicara apa pun. Eomma berkata aku harus bertahan, tapi aku tidak bisa..” Ucapnya sedih.

Joon menatap putrinya sedih, lalu bergerak bangkit untuk memeluk gadis itu sambil mencium puncak kepalanya. “Aniya, kau tidak sendiri.. Kau memiliki appa, Sohyun..”

=Apartemen=

“Ne?!” Ucap Yonghwa tak percaya setelah mendengar rencana Joon mengundur konsernya demi operasi yang akan dijalani Sohyun untuk mengangkat tumor di batang otaknya.

Joon mengangguk, “Aku bisa mengundur konser, tapi operasi Sohyun tidak. Jika operasi diundur, tumor di batang otaknya bisa semakin berbahaya..”

“Ya! Kim Joon! Pikirkan bagaimana fansmu jika mengetahui kau sudah memiliki putri berusia 15 tahun!” Seru Yonghwa.

“Lalu, aku harus menyembunyikannya dirumah seumur hidupnya?! Ya! Ini hidupku! Karirku! Meskipun aku akhirnya kehilangan semuanya, tapi aku mendapatkan putriku! Apa yang lebih berarti selain putriku?!” Tanya Joon marah.

Yonghwa tak bisa mengatakan apa pun lagi sekarang. Dia diam untuk waktu yang lama dan kembali memandang Joon, “Lalu apa rencanamu?” Tanyanya.

“Aku akan mengadakan konferensi pers. Aku akan menyampaikan penundaan konserku sendiri..” Jawab Joon.

Yonghwa menghela nafas dalam dan mengangguk, “Keure..”

=Sekolah=

Luhan setengah berlari menuju ruang guru mencari Sohyun yang akan cuti sekolah. Akhirnya dia melihat gadis itu berjalan keluar bersama Yonghwa. “Kwon Sohyun!” Panggilnya.

Sohyun berhenti dan memandang Luhan.

Luhan berhenti didepan Sohyun sambil mengatur nafasnya, “Ya.. Kau benar-benar akan cuti sekolah?” Tanyanya.

Sohyun menunduk sedih.

Yonghwa memegang bahu Sohyun, “Aku menunggumu di mobil..” Ucapnya, lalu melangkah pergi.

Luhan memegang kedua bahu Sohyun dan menatapnya serius, “Wae? Apa yang terjadi?”

Sohyun memandang Luhan sedih.

“Apakah ini ada hubungannya dengan kepalamu yang sering sakit?” Tanya Luhan khawatir.

Sohyun mengangguk pelan.

Luhan terlihat sangat khawatir, “Ne? Apa yang terjadi? Mengapa kau harus cuti selama beberapa bulan?”

Sohyun tersenyum tipis, “Ada tumor di batang otakku..” Jawabnya.

Luhan tertegun mendengar Sohyun berbicara dan menatapnya kaget, “Neo!! Kau baru saja berbicara?!”

Sohyun mengangguk sambil tersenyum lebar, “Ne..”

“Omo! Kau benar-benar berbicara!!” Ucap Luhan senang, namun beberapa menit kemudian dia langsung terdiam. “Tunggu, tumor di batang otak?!!” Serunya kaget.

“Gwenchana.. Dokter bilang aku bisa kembali pulih setelah operasi..” Ucap Sohyun sambil tersenyum.

Luhan menatap Sohyun khawatir, “Jinja?”

Sohyun mengangguk, lalu memegang bahu Luhan. “Terima kasih sudah peduli padaku..”

Luhan tersenyum, “Beritau aku saat kau akan menjalani operasi..” Ucapnya.

“Ne..” Jawab Sohyun, “Aku harus pergi..” Ucapnya dan melangkah pergi.

Luhan berdiri ditempatnya sambil memperhatikan Sohyun pergi. “Semoga berhasil Sohyun..”

=Rumah Sakit=

Hari dan jadwal operasi Sohyun sudah dipastikan, hanya perlu menunggu prosesnya.

Sohyun duduk di atas tempat tidur dengan seragam pasiennya sambil menonton tv yang sedang menyiarkan tayangan live dari Joon yang mengumumkan tentang pemunduran konsernya.

“Aku akan mengundurkan konserku hingga awal tahun depan..” Ucap Joon, “Itu karena aku harus menemani seseorang yang sangat berharga dihidupku melakukan operasi penting.”

“Siapa Joon-ssi?” Tanya seorang reporter.

Joon tersenyum, “Putriku..” Jawabnya.

Terdengar keributan diantara para wartawan.

“Ne? Bukankah kau tidak mempunyai putri?” Tanya reporter lain.

“Aku juga baru mengetahui aku memiliki seorang putri beberapa bulan ini. Dulu, sebelum aku mengikuti trainee di agansi, aku memiliki hubungan khusus dengan seorang gadis. Ternyata dia mengandung anakku, tapi dia tidak memberitaukannya padaku dan memutuskan untuk membesarkan putri kami seorang diri karena tidak ingin merusak mimpiku.” Cerita Joon dengan mata berkaca-kaca, lalu menunduk menyesal. “Dia, sangat tau bagaimana aku memimpikan menjadi seseorang yang sukses di dunia entertainment. Dia juga yang selalu memberiku semangat hingga aku akhirnya lolos audisi dan terpilih untuk trainer mempersiapkan debutku. Aku sangat menyesal dia menderita seorang diri demi diriku..”

“Kim Joon-ssi, setelah sekian lama kenapa putrimu baru muncul sekarang?” Tanya reporter itu.

“Karena ibunya meninggal setahun lalu..” Jawab Joon, “Dia telah banyak menderita karenaku. Maka aku akan menebus semuanya untuknya..”

Sohyun tersenyum mendengar ucapan Joon, sebuah elusan dirambutnya membuatnya menoleh.

Sunhee tersenyum, “Kau senang?”

Sohyun mengangguk, “Ne..”

Sunhee merangkul Sohyun, “Sore ini kau akan menjalani operasi, apakah takut?”

“Sedikit..” Jawab Sohyun.

Sunhee mengelus kepala Sohyun, “Gwenchana, kau akan melewatinya..”

Sohyun mengangguk.

Sorenya.

Joon berjalan di sisi tempat tidur sambil menggenggam tangan Sohyun yang akan segera masuk ke ruang operasi. “Jangan takut appa akan menunggu disini hingga operasimu selesai..” Ucapnya.

Sohyun mengangguk.

Perawat yang mendorong tempat tidur Sohyun berhenti didepan pintu.

Joon membungkuk untuk mencium dahi Sohyun dan kembali menatapnya, “Kau juga akan melihat appa saat membuka matamu lagi..”

Sohyun tersenyum, “Ne, appa..” Ucapnya.

Joon tersenyum mendengar Sohyun akhirnya menyebutnya appa. Dengan berat hati akhirnya dia membiarkan putrinya masuk ke ruang operasi.

Sunhee berdiri disisi Joon dan memegang bahunya, bibirnya membentuk senyuman ketika pria itu memandangnya. “Dia akan baik-baik saja..”

Joon tersenyum tipis dan mengangguk.

Satu jam pertama adalah saat yang sangat menegangkan bagi Joon. Rasanya untuk diam disatu posisi sangat mengganggunya.

Sunhee mengikuti Joon kesana kemari dengan matanya hampir 2 jam, “Kau akan semakin gugup jika terus kesana kemari Kim Joon-ssi..” Ucapnya.

Joon mengelus pundaknya dan memandang Sunhee, “Aku tidak bisa berdiam diri..”

Pintu operasi terbuka, muncul seorang perawat dengan baju operasi. “Keluarga Kwon Sohyun!”

Joon langsung menghampiri perawat itu, “Ne..”

“Tuan, terjadi pendarahan parah. Kau harus memberikan persetujuan untuk melakukan operasi lanjutan sekarang juga..” Ucap perawat itu.

Mata Joon membesar, “Ne?! Oh.. Baik! Aku akan melakukannya!!” Serunya.

Kegugupan Joon berlipat ganda, perasaannya terasa tak karuan. Rasanya dia ingin membenturkan kepalanya sendiri ke dinding karena terlalu khawatir.

“Kim Joon-ssi!! Hentikan!” Seru Sunhee karena Joon mulai bertingkah aneh.

“Aku panik!! Oke?!!” Seru Joon.

Sunhe menatap Joon, “Ne..” Ucapnya, “Tapi kau juga membuatku takut!”

Joon menghela nafas kesal, lalu memejamkan mata sambil memijat dahinya.

“Awas!!” Seru seseorang.

Joon membuka mata dan melihat sesuatu yang besar menimpanya. Dia langsung melindungi kepalanya dengan kedua tangan dan memejamkan mata. BRUKK!!

Joon kembali membuka matanya dan memandang sekitar. Tapi tidak ada siapa pun disana. Hanya dia yang berdiri diruang tunggu itu. Dahinya berkerut dengan keanehan itu. Kepalanya menoleh ketika merasakan seseorang disisinya. Matanya membesar melihat wanita yang berdiri disisinya. Kwon Yuri. “Yu.. Yuri?”

Yuri tersenyum, “Sudah sangat lama tak bertemu, Kim Joon..”

Joon menatap Yuri tak percaya.

Tangan Yuri memegang lengan Joon sambil tetap tersenyum dan membawa pria itu berjalan ke pintu operasi, mereka berdiri didepan pintu sambil memandang ke dalam. “Kau lihat dia?”

Dahi Joon berkerut mendengar pertanyaan Yuri, lalu memandang lurus kedepan. Dia tertegun melihat Sohyun berdiri di belakang dokter dan para perawat yang sedang sibuk melakukan sesuatu. “Sohyun?”

“Dia berada diantara hidup dan mati sekarang, satu kesalahan saja akan membuatnya benar-benar terlepas dari dunia..” Jelas Yuri, lalu kembali memandang Joon.

Joon memandang Yuri, “Maksudmu dia akan meninggal?”

“Mungkin..” Jawab Yuri.

Joon terkejut menatap Sohyun, “Andwae..” Gumamnya.

Yuri menatap Joon sedih, “Kau tidak bisa mengubah apa pun yang sudah ditakdirkan Tuhan, Joon-a..”

Bulir air mata Joon berjatuhan ketika kembali memandang Yuri.

Yuri tersenyum manis, “Aku sangat senang kau berhasil menggapai mimpimu. Kau memang yang terbaik, Joon..”

Ucapan Yuri justru membuat Joon bersalah, “Kenapa kau tidak memberitauku tentang kehamilanmu? Kenapa kau memilih pergi dari keluargamu? Kenapa kau menanggung semuanya sendiri?” Tanyanya sedih, “Wae, Yuri?”

Bulir air mata Yuri jatuh satu persatu meskipun tetap tersenyum, “Karena aku mencintaimu, Joon..”

Joon seperti merasa ada sebuah pedang menancap dihatinya mendengar jawaban Yuri, “Mwo? Kau menderita karena mencintaiku, kau tidak pantas merasakannya Yuri..”

Tangan Yuri terulur kewajah Joon dan menyeka air mata dipipi pria itu, “Aniya, kau memberikanku sesuatu yang sangat berharga. Sohyun..” Ucapnya.

Joon tak bisa menahan kesedihannya, tangannya menggenggam tangan Yuri dipipinya.

“Mencintai adalah saat kau bahagia melihat orang kau cintai bahagia..” Ucap Yuri. “Jika saat itu aku memberitaumu tentang kehamilanku, kau tidak akan bisa melakukan debutmu.. Kau pasti akan memilih untuk menyerah atas mimpimu. Aku tidak ingin itu terjadi..” Ucapnya.

“Tapi, kenapa kau memilih untuk mempertahankannya dan pergi dari keluargamu?” Tanya Joon tak mengerti.

“Karena aku tau, tidak ada lagi yang tersisa selain bayiku. Jika aku menggugurkannya, aku akan kehilanganmu selamanya. Jadi aku mempertahankannya. Agar aku tetap merasakan keberadaanmu disisiku. Agar aku tetap mengingat betapa bahagianya aku ketika bersamamu..” Jawab Yuri.

Joon memegang kedua pipi Yuri dan menatapnya dalam, “Aku membuatmu menderita, bagaimana caraku membalas semua pengorbananmu?”

Yuri tersenyum, “Berbahagialah.. Maka aku tidak akan menyesali semua pengorbananku..”

Joon menatap Yuri dengan bulir air mata berjatuhan, “Mianata..” Ucapnya sepenuh hati.

Yuri tersenyum manis, “Saranghae, Joon-a..”

“Kim Joon-ss!! Kim Joon-ssi!!!”

Joon tersadar dari pingsannya dan menyadari dia terbaring dilantai.

Sunhee menatap Joon cemas, “Gwenchana?”

Joon meringis sambil memegang kepalanya, “Ahh..” Rintihnya dan bergerak duduk.

“Cesenghamida, tuan.. Aku tidak melihatmu..” Ucap pegawai rumah sakit yang tadi membawa troly berisi perlatan medis.

Joon mengangguk, “Ne..”

“Ayo..” Ucap Sunhee sambil membantu Joon bangkit dan membawanya duduk ke kursi. “Gwenchana? Apa sakit sekali?”

Joon masih memegang dahinya karena memang terasa pusing, “Na gwenchana..” Jawabnya, beberapa saat kemudian dia ingat apa yang terjadi sebelumnya. ‘Kwon Yuri?’ Batinnya, lalu menatap Sunhee serius. “Bagaimana operasinya?!”

“Hm? Masih berjalan..” Jawab Sunhee.

Joon menghela nafas lega, itu berarti Sohyun masih hidup. Matanya terpejam dan menunduk, ‘Kumohon.. Jangan ambil dia sekarang, aku baru mendapatkannya kembali..’ Batinnya.

Sunhee melihat dokter yang menangani operasi Sohyun keluar, “Kim Joon-ssi..”

Joon membuka mata dan langsung berdiri melihat dokter itu, “Dokter! Bagaimana operasinya?”

Dokter itu tersenyum dan memegang bahu Joon, “Berjalan lancar Tuan Kim..”

Joon tersenyum lebar, dadanya terasa sangat lega. “Gamshamida dokter..” Ucapnya penuh haru.

Dokter itu mengangguk dan melangkah pergi.

“Ohh.. Syukurlah Kim Joon-ssi..” Ucap Sunhee lega.

Tak lama tampak pintu terbuka dan muncul sebuah tempat tidur yang didorong oleh beberapa perawat. Joon langsung menghampiri tempat tidur itu, bulir air mata haru mengalir melihat putrinya berhasil melewati operasi itu. Para perawat itu berhenti sejenak agar dia bisa melihat Sohyun. Tangannya menggenggam tangan gadis itu dan menciumnya, “Bagus Sohyun..” Ucapnya.

=1 Tahun Kemudian=

Luhan memarkirkan motornya dan bergerak turun sambil melepaskan helm. Lalu melangkah masuk menuju kelasnya. Sebelumnya dia akan melewati kelasnya dulu untuk memandangi kursi yang dulu dia duduki bersama Sohyun. Melihat kursi itu selalu kosong membuatnya menghela nafas dalam dan berjalan berat ke kelasnya di kelas dua ini.

Tangannya meletakkan tas di meja dan bergerak duduk, rasanya sangat sepi sejak tidak ada Sohyun di sekolah. Sudah setahun berlalu tapi dia masih merasa seperti itu. Bel berbunyi menandakan jam belajar akan segera dimulai. Dia menghela nafas dalam sambil mengeluarkan buku-buku pelajarannya. Dikelas dua ini dia tetap duduk dibelakang dan membiarkan kursi disebelahnya kosong.

Sunhee masuk ke kelas dengan senyuman manis diwajahnya, “Selamat pagi anak-anak..” Sapanya.

“Selamat pagi sam..” Sapa murid-murid dikelas.

“Hari ini kalian akan mendapatkan teman baru, tolong berbaik hati padanya ya..” Ucap Sunhee.

“Ne…..” Jawab murid-murid itu lagi.

Luhan memandang bukunya dan mulai mencoret-coret, dia sama sekali tak tertarik dengan berita itu.

Sunhee memandang ke pintu, “Kim Sohyun..” Panggilnya.

Luhan menghela nafas dalam, ‘Ahh.. Kenapa bukan Kwon Sohyun?’ Batinnya kesal.

Sohyun melangkah masuk ke kelas dan berhenti di sebelah Sunhee, orang pertama yang dia sadari adalah Luhan dibelakang. Bibirnya membentuk senyuman memandang teman-teman barunya, “Annyeonghaseo, Kim Sohyun imnida..”

Luhan tertegun mendengar suara gadis itu, lalu mengangkat wajahnya. Matanya membesar dan terpaku melihat Sohyun.

“Kim Sohyun, kau bisa memilih tempat dudukmu..” Ucap Sunhee.

Sohyun membungkuk sopan, “Gamshamida Hwang sam..” Ucapnya dan melangkah kebelakang.

Luhan mengikuti Sohyun dengan matanya hingga berhenti disebelah mejanya yang kosong.

“Apakah aku bisa duduk disini?” Tanya Sohyun menahan senyumannya.

Luhan menahan tawanya dan mengangguk, “Keurom..”

Sohyun melepaskan tasnya dan duduk disebelah Luhan dengan senyuman diwajahnya tanpa memandang pria itu.

Luhan juga duduk lurus dengan senyuman diwajahnya, setelah beberapa saat dia melirik gadis disebelahnya dan membaca name tag di baju gadis itu. “Kim Sohyun?”

Sohyun memandang Luhan, “Rapper Kim Joon sudah mengumumkan tentang putrinya kan?”

Senyuman Luhan langsung menghilang, berganti dengan wajah kaget menatap Sohyun. “Oh! Neo?!” Tanyanya sambil menunjuk gadis itu.

Sohyun mengangguk, “Ne.. Karena itu, namaku menjadi Kim Sohyun..”

Luhan kembali tersenyum lalu mencubit pipi Sohyun gemas, “Siapa pun namamu, aku senang kau kembali..”

Wajah Sohyun terasa panas dan muncul rona merah diwajahnya.

Dari jendela, Sunhee tersenyum melihat Sohyun dan Luhan bisa kembali bersama. Lalu melangkah menuju ruangannya, saat itu ponselnya berbunyi. Senyumannya semakin lebar melihat siapa yang menghubunginya, “Ne..”

“Malam ini akan ada pesta perayaan konserku, jangan lupa untuk datang..” Ucap Kim Joon diseberang.

Sunhee tertawa kecil, “Keurom..”

“Jangan lupa mengenakan cincin yang kuberikan, jika ada yang bertanya langsung jawab kau kekasihku. Araso?” Tanya Kim Joon serius.

“Araso.. Kim Joon-ssi..” Jawab Sunhee.

Joon tertawa kecil, “Sampai jumpa nanti..”

“Ne..” Jawab Sunhee dan memutuskan telepon.

===THE END===

Advertisements

3 thoughts on “Speak With Love

  1. ..Dari awal aku pikir emg sohyun gak bisa ngomong.. Tapi ternyata dia cuman tertekan.. Agak kesel ama sikap kim joon waktu marahin sohyun.. 😡 tapi untuk ada sunhee =) aduh.. Ekhem.. Tjiee luhan sohyun xD :v untung deh sohyun balik lagi kesekolah dan sehat sentosa 😀 xD

      1. Iyaa sama2 thor~ makasih juga udah bikin2 fanfic-fanfic yg selalu berhasil bikin saya terkagum-kagum bacanya =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s