Chapter

Baby Boo~~ [Chapter 31] (19+)

–I Did It For Love 4–

 31

Selama perjalanan menuju rumah Hyuna hanya memandang keluar jendela. Yang terjadi hari ini. Semua keceriaannya, hanya topeng untuk menutupi perasaannya. Juga karena dia terlalu mencintai pria disisinya untuk terus membuatnya khawatir. Dia menghela nafas dalam dan memandang Hyunseung, “Oppa, bagaimana jika kita pergi ketempat lain dulu?”

Hyunseung memandang Hyuna aneh, “Kemana? Besok saja..”

Hyuna menggeleng, “Aniya.. aku ingin melihat sungai Han di malam hari..” ucap Hyuna.

Hyunseung menghela nafas dalam, “Kita bisa melihatnya besok, juga besoknya lagi.. Sekarang kau harus beristirahat dulu, Hyuna..”

“Ahhh.. aku sudah beristirahat selama berhari-hari dirumah sakit.. Kenapa aku harus beristirahat lagi?” ucap Hyuna sebal.

“Kim Hyuna!” tegas Hyunseung.

“Wae, Jang Hyunseung?!” ucap Hyuna.

Hyunseung menatap Hyuna dan kembali memandang jalanan.

“Oppa..” bujuk Hyuna, tapi pria itu tak mengatakan apa pun. “Oppa..” bujuknya lagi.

“Keure!” ucap Hyunseung akhirnya.

Hyuna tersenyum lebar, “Yeaaay!!” soraknya senang.

Hyunseung menghela nafas dalam dan membelokkan arah mobilnya.

=Sungai Han=

Hyuna dan Hyunseung duduk di dalam mobil dikursi belakang memandangi sungai Han dalam keheningan.

“Apa yang ingin kau lihat disini?” Tanya Hyunseung tak mengerti.

Hyuna merapat ke Hyunseung dan menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu sambil tersenyum lebar, “Bukankah ini romantic?”

Hyunseung tertegun mendengar pertanyaan Hyuna dan memandang gadis itu, “Ne?”

Hyuna memandang Hyunseung dengan wajah merona, “Jika dirumahmu kita tidak bisa bermesraan seperti ini.. Keutji?”

Perlahan bibir Hyunseung membentuk senyuman lebar, “Ne..” jawabnya dan kembali memandang ke depan dengan kepala bertumpu ke kepala Hyuna.

Hyuna juga ikut memandangi sungai yang terlihat lebih indah disaat malam itu dengan wajah ceria. Namun perlahan senyumnya menghilang dan menatap sedih ke depan. Matanya melirik kearah Hyunseung. Saat itu dia merasa sangat sedih. Benar-benar sedih hingga tak ingin melakukan apa pun selain menangis sekeras yang dia bisa. Tapi dia berusaha menahannya agar Hyunseung tidak khawatir, juga demi malam yang indah itu. dia menarik kepalanya bangkit dari bahu Hyunseung dan memandang pria itu.

Hyunseung memandang Hyuna masih dengan senyuman diwajahnya.

“Oppa, aku ingin memberikanmu sesuatu. Apa kau akan menerimanya?” Tanya Hyuna pelan.

“Hm? Mwo?” Tanya Hyunseung ingin tau.

Hyuna bergerak bangkit dan duduk diatas pangkuan Hyunseung dengan pria itu berada diantara kedua kakinya.

Hyunseung tertegun Hyuna duduk dipangkuannya, “Apa yang kau lakukan?”

Hyuna menatap Hyunseung dalam sambil mengelus dada bidang pria itu, “Aku akan memberikan sesuatu yang paling berharga dihidupku untukmu..”

Hyunseung terkejut mendengar ucapan Hyuna, “M..mwo?”

Hyuna memegang kedua pipi Hyunseung dan mencium bibir pria itu dengan mata terpejam.

Dengan cepat Hyunseung mendorong bahu Hyuna dan menatap gadis itu tak percaya, “Hyuna! Apa yang kau lakukan?!”

Hyuna menatap kedua mata Hyunseung dan mengelus pipi pria itu dengan ibu jarinya, “Oppa, kau tau aku tidak ingin kehilanganmu kan? Karena itu aku memberikan semua yang kumiliki agar kau tidak pernah meninggalkanku..” ucapnya.

“Ne.. tapi aku tidak bisa. Aku akan mengambilnya setelah kau menjadi istriku.” Ucap Hyunseung.

Hyuna menempelkan dahinya pada Hyunseung, hingga ujung hidung mereka saling menyentuh. “Aku tidak bisa menunggu hingga kau menikahiku..” ucapnya dan kembali mencium bibir Hyunseung.

Hyunseung kembali mendorong Hyuna, “Ya!” serunya.

“Oppa, kumohon..” pinta Hyuna.

Hyunseung menatap Hyuna tak mengerti, gadis itu kembali menciumnya dengan mata terpejam. Dia tidak tau harus melakukan apa. Namun tak bisa di pungkiri apa yang dilakukan gadis itu membuat hasratnya tak bisa menunggu. Akhirnya dia melupakan semuanya dan memejamkan mata. Satu tangannya bergerak ke pinggang gadis itu dan satu lagi di punggung gadis itu.

……………………………………………………………………………………

Hyuna membuka matanya dan diam sejenak ditempatnya, lalu bergerak bangkit perlahan sambil memandang Hyunseung yang masih terlelap dengan posisi duduk bersandar ke kursi. Dia segera memperbaiki pakaiannya tanpa membuat pria itu terbangun dan kembali memandangi pria itu sedih, ‘Oppa, aku memberikan diriku padamu. Kau harus terus mencintaiku hingga aku mati.’ Batinnya dengan bulir air mata berjatuhan, ‘Karena itu…. aku akan mati untuk membuatmu melepaskan cintamu padaku..’ batinnya pedih. Kepalanya menunduk sedih melihat cincin di jari manisnya, dengan berat hati dia melepaskan cincin itu dan meletakkannya di telapak tangan Hyunseung. Wajahnya mendekati wajah Hyunseung dan mencium pipinya, “Saranghae oppa…” bisiknya, lalu segera keluar dari mobil.

Beberapa jam kemudian.

Hyunseung terbangun karena cahaya matahari masuk ke celah matanya. “Ahh..” erangnya sambil melindungi mata dari cahaya itu, saat itu dia merasa ada sesuatu yang terjadi ke pahanya. Matany berusaha focus untuk melihat apa yang terjatuh itu. dahinya berkerut melihat sebuah cincin, tangannya terulur dan mengambil cincin itu untuk melihatnya lebih jelas. Setelah beberapa saat ia menyadari itu adalah cincin yang dia berikan pada Hyuna. Kepalanya menoleh kesekitar tapi tak menemukan Hyuna dimana pun, “Hyuna!” panggilnya sambil memperbaiki celananya dan keluar dari mobil. “Hyuna!! Kim Hyuna!!” panggilnya, tapi gadis itu tak terlihat dimana pun.

=Ruangan Brian Kim=

Dujun tertegun melihat Hyuna melangkah menuju ruang kerja ayahnya, “Nona Hyuna?”

Hyuna berhenti, “Aku ingin bertemu ayahku..” ucapnya tanpa ekspresi.

“Ne? tapi nona..”

“Sekarang!” tegas Hyuna.

Dujun menunduk dan mempersilahkan Hyuna masuk. Kepalanya menoleh mendengar pintu ruangan terbuka, tangannya mengeluarkan ponsel dan menempelkannya ke telinga.

Brian Kim mengangkat wajahnya memandang ke pintu, dia juga sempat tertegun melihat Hyuna masuk. “Hyuna-a?”

Hyuna berhenti didepan meja ayahnya sambil menatap pria itu tajam.

Brian Kim juga menatap Hyuna tajam, “Lelucon apa yang kau buat mengenai kehamilanmu?” tanyanya dingin.

Hyuna diam sejenak, lalu melangkah maju menghampiri meja ayahnya. “Lelucon?” tanyanya, matanya melihat apa saja yang ada di meja kerja ayahnya dan melihat sebuah pisau cutter kemudian kembali memandang ayahnya sambil tersenyum sinis. “Kau mau melihat apa yang disebut lelucon?” tanyanya, dengan cepat tangannya mengambil pisau cutter itu dan mundur sambil mengeluarkan pisaunya.

Brian Kim melotot melihat Hyuna mengarahkan pisau itu ke lengannya, “Ya!! Hyuna!! Apa yang kau lakukan?!”

Hyuna menatap ayahnya tajam, matanya memerah menahan air mata. “Kau yang benar-benar menghancurkan hidupku! Karenamu aku tidak bisa memiliki keturunan seumur hidupku!! Ini yang kau inginkan?!”

Brian Kim berdiri perlahan, “Jangan lakukan!”

Bulir air mata Hyuna mengalir perlahan, “Kau ingin aku berpisah dari Hyunseung oppa? Keure! Aku akan berpisah dengannya!” ucapnya, “Tapi kau harus tau!! Berpisah dari Hyunseung oppa berarti akhir dari hidupku!!” ucapnya dan langsung mengiris lengannya.

“HYUNA!!!” seru Brian Kim sambil berlari kearah Hyuna.

Hyuna menahan sakit di lengannya dan langsung mengulurkan pisau itu kearah Brian agar tidak mendekat, “Jangan dekati aku!!!” serunya. “Kau harus menyaksikan kematianku!! Kau harus menyesalinya seumur hidupmu!!” dia kembali mengiris lengannya.

“KIM HYUNA HENTIKAN!!!” teriak Brian Kim.

“Ahhh…” rintih Hyuna menahan sakit dilengannya.

“Hyuna.. jebal.. hentikan..” mohon Brian Kim.

Dujun melangkah masuk karena mendengar Brian Kim berteriak, “Ada apa tu…” matanya langsung membesar melihat dari tangan Hyuna mengalir darah yang mulai membasahi lantai. “Nona Hyuna!!”

Hyuna menangis menatap ayahnya, “Aku tidak akan bisa bersama Hyunseung oppa.. Untuk apa bersama seorang gadis yang tidak bisa memberikannya keturunan? Kau membuatku semakin menderita! Apa kau memang ayahku? Kenapa kau melakukan ini padaku?” tangisnya.

Bulir air mata Brian Kim mulai berjatuhan, “Appa miane Hyuna…” ucapnya menyesal, “Jeongmal mianeyo…” ucapnya. “Buang pisau itu, kau harus segera mendapat pertolongan medis..”

“Untuk apa? Aku sangat membenci hidupku sekarang! Untuk apa kau menginginkannya?!” seru Hyuna.

Dujun mendekati Hyuna perlahan, “Nona, berikan pisau itu..” bujuknya.

Hyuna mengarahkan ujung pisau itu ke lehernya, “Jangan mendekat!”

Dujun dan Brian Kim langsung tercekat, “JANGAN!!” seru mereka hampir bersamaan.

“Hyuna.. kau bisa bersama Hyunseung!! Jebal!! Jangan lakukan itu!!” ucap Brian Kim cepat.

Hyuna memandang Brian Kim sambil menurunkan pisau itu dari lehernya.

Dujun dan Brian Kim menghela nafas lega.

“Ne, Hyuna.. Appa tidak akan menghalangimu lagi..” ucap Brian Kim, “Letakkan pisau itu, kau harus mendapatkan pertolongan medis..”

Hyuna tersenyum dalam tangisnya, “Aku bisa bersama Hyunseung oppa?”

“Ne..” ucap Brian Kim.

Senyuman Hyuna menghilang, “Terlambat!” ucapnya dan langsung menusuk perut kanannya dengan pisau itu. “Ahhhk!!” serunya dengan mata terpejam.

Disaat Hyuna menusuk perutnya, Hyunseung berlari masuk dan melihat dengan matanya sendiri bagaimana gadis itu menyakiti dirinya. “HYUNA!!!”

“HYUNA!!” teriak Brian Kim.

Dujun langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi ambulance.

Hyunseung berlari menghampiri Hyuna dan menampung tubuh gadis itu sebelum terjatuh ke lantai, “Hyuna!! Apa yang kau lakukan?!!” serunya tak percaya.

Hyuna merasa tak berdaya karena rasa sakit ditubuhnya, matanya perlahan terbuka dan menatap Hyunseung lemah.

Hyunseung melihat luka di lengan dan perut Hyuna, lalu kembali menatap gadis itu. bulir air matanya berjatuhan satu persatu, “Mwoya?” tanyanya sambil memegang pipi gadis itu.

Hyuna menatap Hyunseung sedih, “Miane oppa..” ucapnya pelan.

Hyunseung menyeka air mata Hyuna, “Aku sudah berkata tidak apa-apa.. Aku berkata semuanya akan baik-baik saja Hyuna!!! Kenapa kau melakukan ini?!!!” serunya dan memeluk gadis itu, tak peduli tubuhnya juga dipenuhi dengan darah.

“Saranghae..” ucap Hyuna pelan, terlalu pelan hingga hanya terdengar seperti bisikan di telinga Hyunseung. Perlahan matanya terpejam dan tak sadarkan diri.

Hyunseung melepaskan pelaukannya dan menatap Hyuna tak percaya, “Hyuna..” ucapnya pelan sambil mengelus kepala gadis itu, “Hyuna!!” serunya, “KIM HYUNA!!”

=Rumah Sakit=

Eunji, Taemin, Key, Naeun, orangtua Hyunseung, ayah Hyuna dan Dujun duduk di ruang tunggu tanpa mengatakan apa pun karena terlalu tegang. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengusik Hyunseung karena pria itu duduk disebelah pintu UGD dengan tatapan tanpa ekspresi kedepan. Seluruh bajunya tampak telah dinodai cairan berwarna merah. Juga di tangannya yang terus memegang cincin yang ditinggalkan Hyuna.

‘Kenapa kau melakukan ini padaku?’ batin Hyunseung dengan perasaan hampa. ‘Mati seorang diri? Itu sangat egois Hyuna..’ batinnya lagi. Tangannya menggenggam cincin itu dan bergerak bangkit, lalu melangkah cepat meningglkan ruang UGD.

“Hyunseung?” ucap Eunji sambil berdiri dan mengikuti Hyunseung, “Ya! Berhenti!” panggilnya sambil menarik sepupunya itu.

Hyunseung menyentak tangan Eunji dan kembali melangkah pergi.

“Hyunseung?” ucap Eunji tak mengerti.

Seorang perawat keluar dari ruang UGD, “Keluarga Kim Hyuna!”

Semua orang yang menunggu langsung berdiri, “Ne!!”

Perawat itu terkejut karena mereka berseru disaat bersamaan, “Oh.. siapa keluarganya?”

“Ada apa? Bagaimana keadaannya?” Tanya Ibu Hyunseung.

“Pasien membutuhkan donor darah! Sekarang!” jawab perawat itu.

“Oh! Aku!!” ucap Naeun sambil mengangkat tangannya, “Ketika SMP Hyuna pernah memberikan darahnya untukku..”

“Baiklah.. ikut saya nona.” Ucap perawat itu dan berjalan pergi.

Naeun segera mengikuti perawat itu dengan harapan sahabatnya akan selamat karena darahnya.

=Rumah Hyunseung=

Orangtua Hyunseung beserta Eunji kembali ke rumah dengan perasaan lega karena mobil pria itu ada di depan rumah. Namun mereka bingung menemukan pria itu berlaku seperti tidak terjadi apa pun di kamarnya.

Eunji melangkah masuk ke kamar Hyunseung sambil memandang pria itu yang telah membersihkan diri dan mengenakan kaus lengan panjang dan celana tidur sambil membaca bukunya dimeja belajar. “Hyunseung? Kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir.

Hyunseung memandang Eunji, “Ne..” jawabnya tanpa ekspresi dan kembali membaca bukunya.

Eunji menatap Hyunseung tak percaya dan memegang bahunya, “Ya.. kau membuatku takut..”

“Na gwenchana..” ucap Hyunseung pelan.

“Hyunseung, kenapa kau malah duduk membaca buku di rumah sementara Hyuna masih kritis di rumah sakit?” Tanya Eunji tak mengerti.

“Aku lelah..” jawab Hyunseung tanpa ekspresi.

“Hyunseung! Apa yang terjadi padamu sebenarnya?!!” Tanya Eunji.

Hyunseung memandang Eunji dingin, “Bisakah kau keluar? Aku tidak ingin mendengar suara siapa pun saat ini..” ucapnya.

“Hyunseung…” ucap Eunji.

“Apa aku perlu mengatakannya lagi?” Tanya Hyunseung.

Eunji menghela nafas dalam dan berjalan keluar dari kamar Hyunseung.

Begitu pintu tertutup, Hyunseung memejamkan matanya sesaat. Lalu bangkit dan berjalan ke tempat tidur, juga berbaring di tempat tidurnya. Satu tangannya mengambil ponsel didekat bantal dan menatapnya, lalu kembali meletakkannya ke kasur. Matanya menatap langit-langit tanpa ekspresi. Dari sana hanya dia yang akan melihat seutas tali yang sudah dia ikat membentuk lingkaran. satu berita saja yang datang mengenai kematian Hyuna, dia juga akan mengakhiri hidupnya.

<<Back           Next>>

Advertisements

4 thoughts on “Baby Boo~~ [Chapter 31] (19+)

  1. Ya ampun ceritanya keren banget,apa kamu memang seorang penulis novel ya…tapi ceritanya terlalu banyak dugaannya,kasihan banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s