Chapter

Baby Boo~~ [Chapter 30]

–Everything is Gonna Be Alright–

 30

Setelah Hyuna tertidur, Hyunseung keluar dari ruangan perawatan dan duduk diruang tunggu sambil berpikir. ‘Bagaimana  aku memberitaunya? Apa dia akan baik-baik saja?’ batinnya sambil mengelus belakang kepalanya.

Dari kejauhan terlihat ayah dan ibu Hyunseung melangkah cepat kearahnya.

“Hyunseung! Apa yang terjadi pada Hyuna?” Tanya Ibu Hyunseung.

Hyunseung berdiri dan memandang kedua orang tuanya, lalu menunduk. “Tuan Kim memaksa Hyuna meminum pil aborsi..” jawabnya pelan.

Mata ayah dan ibu Hyunseung melotot, “Ne?!”

“tapi kan dia…” ibu Hyunseung langsung terdiam melirik suaminya.

“Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?” Tanya ayah Hyunseung khawatir.

Hyunseung memandang ayahnya dan menunduk menyesal, “Masalahnya…” ucapnya berat, “..Hyuna tidak hamil appa..”

Mata ayah Hyunseung membesar, “Ne?”

Hyunseung bergerak berlutut dihadapan ayahnya, “Cesonghamida appa..”

“Hyunseung?!” ucap ayah Hyunseung tak percaya, “Tapi, bukankah kau melihat hasil tes nya? Dia hamil kan?!” tanyanya pada istrinya.

Ibu Hyunseung menunduk menyesal.

Ayah Hyunseung tak semua itu hanya kebohongan istri dan putranya, “Kalian membohongiku?! Juga ayah Hyuna?!”

Hyunseung memegang kaki ayahnya, “Cesonghamida appa.. Ini salahku. Aku tidak ingin kehilangan Hyuna, karena itu aku mengatakan dia sudah hamil..” ucapnya menyesal.

Ibu Hyunseung memegang bahu putranya sedih, “Hyunseung, lalu bagaimana keadaannya sekarang?”

Kepala Hyunseung semakin tertunduk, “Ini salahku.. maafkan aku..” ucapnya dengan suara bergetar.

“Hyunseung, apa yang terjadi pada Hyuna?” Tanya ayah Hyunseung.

Tangan Hyunseung melepaskan kaki ayahnya dan menahan tubuhnya di lantai, “Maafkan aku..”

Ibu Hyunseung berlutut disebelah putranya dan merangkulnya, “Apa yang terjadi Hyunseung?” tanyanya cemas.

Hyunseung memandang ibunya dengan mata memerah menahan air mata, “Rahimnya terluka.. Dia mungkin tidak bisa memiliki keturunan..” ucapnya, sebulir air mengalir dari matanya. “Ini salahku, eomma.” Ucapnya penuh sesal.

Ibu Hyunseung sangat terkejut mengetahui itu, “Ne?” ucapnya tak percaya, lalu memeluk putranya untuk memberikan dukungan secara mental.

Ayah Hyunseung menghela nafas dalam mendengar berita yang disampaikan Hyunseung.

“Eomma.. na eoteokhe?” ucap Hyunseung putus asa di pelukan ibunya.

“Gwenchana..” ucap Ibu Hyunseung sambil mengelus punggung putranya, “Kau harus tetap disisinya, dukung dia. Ini pasti sangat berat untuknya..”

Ayah Hyunseung bergerak duduk di kursi tanpa mengatakan apapun.

Ibu Hyunseung melepaskan pelukannya dan menatap Hyunseung sambil menyeka air mata putranya lembut, matanya juga tampak basah karena air mata. “Apakah dia sudah tau?”

Hyunseung menggeleng, “Aku tidak sanggup memberitaunya eomma..”

“Kau harus Hyunseung!” ucap ibu Hyunseung, “Tunjukkan padanya kau akan selalu ada untuk mendukungnya.. Kau mengerti?”

Hyunseung menatap ibunya sambil memikirkan ucapannya.

“Kau mengerti Hyunseung?” Tanya Ibu Hyunseung lagi, “Sudah terlambat bagimu berhenti sekarang, jadi kau harus tetap maju dan menghadapinya..”

Hyunseung merasa sangat terbantu karena ucapan ibunya, lalu mengangguk mengerti. “Ne, eomma..”

Ibu Hyunseung tersenyum, “Sekarang temui dia dan beritau kenyataan buruk itu.”

Hyunseung menghela nafas dalam dan mengangguk lagi. Perlahan dia bangkit sambil membantu ibunya, lalu memandang ayahnya. “Appa, aku akan menjelaskan semuanya nanti.” Ucapnya, lalu melangkah ke ruang perawatan Hyuna. Begitu dia masuk, Hyuna masih terlelap ditempatnya. Meskipun tidak tega mengatakannya, dia harus melakukan apa yang ibunya katakan. Perlahan dia menghampiri Hyuna dan mengelus rambutnya, “Hyuna..”

Dahi Hyuna berkerut dan membuka matanya, bibirnya membentuk senyuman melihat Hyunseung. “Oppa..”

Hyunseung tersenyum, lalu menunduk sedih.

“Waeyo oppa?” Tanya Hyuna bingung.

Mata Hyunseung tampak memerah dan kembali menatap Hyuna, “Ini salahku Hyuna..”

Dahi Hyuna berkerut, “Apa yang salahmu oppa?”

Hyunseung bingung bagaimana menjelaskan maksudnya, perlahan tangannya bergerak memegang perut Hyuna dengan bulir air mata berjatuhan. “Tentang pil itu..”

Hyuna mulai khawatir, tangannya terangkat dan menyeka air mata Hyunseung. “Oppa, waekeure?”

“Pil itu merusak rahimmu Hyuna..” ucap Hyunseung berat.

Mata Hyuna membesar, “Mwo?!”

“Kau…” Hyunseung tak sanggup mengatakannya, “Kau tidak….” Dia kembali menahan kalimatnya, “..kemungkinan besar..” ucapan demi ucapan itu terasa tersangkut di tenggorokannya. “..tidak bisa memiliki anak..” ucapnya dengan kepala menunduk.

Hyuna terpaku mendengar ucapan Hyunseung, bulir air matanya mulai berjatuhan. “Mwo?” tanyanya dengan suara bergetar.

Hyunseung menatap Hyuna menyesal, “Miane Hyuna.. Ini salahku..” ucapnya lagi, “Jeongmal miane..” tangisnya, kepalanya menunduk kedada Hyuna dan menangis penuh penyesalan.

Hyuna tak percaya dengan kenyataan itu, bagaimana mungkin seorang wanita tanpa kemampuan memiliki anak? Perlahan tanganya terangkat dan mengelus kepala Hyunseung yang terus menangis didadanya.

Hyunseung mengangkat kepalanya dan memandang Hyuna, “Miane Hyuna.. Kau tidak akan mengalami ini jika aku tidak memikirkan ide bodoh itu!”

Hyuna hanya bisa menangis karena berita mengejutkan itu.

Hyunseung kembali menunduk dan terus menangis.

Akhirnya Hyuna bisa mengendalikan dirinya, kedua tangannya terangkat untuk memegang kedua pipi Hyunseung. “Oppa, na eoteokhe?”

Hyunseung menatap Hyuna dalam, “Mianata..”

Hyuna hanya bisa memeluk leher Hyunseung dan menangis dibahunya.

Hyunseung memeluk kekasihnya dan mengelus punggung gadis itu lembut.

Malamnya.

Hyunseung berbaring di tempat tidur dengan Hyuna yang bersandar ke dadanya, tangannya hanya mengelus rambut gadis itu tanpa mengatakan apa pun sejak beberapa jam yang lalu.

Hyuna menghela nafas dalam, “Oppa..”

“Ne..” jawab Hyunseung pelan.

Hyuna mengangkat wajahnya memandang Hyunseung.

Hyunseung menunduk memandang Hyuna, “Wae?”

“Bagaimana jika aku tidak bisa memiliki anak?” Tanya Hyuna pelan.

Hyunseung diam sejenak dan menghela nafas dalam, “Mmm.. gwenchana..” jawabnya berat.

Hyuna diam menatap Hyunseung tepat dimatanya. Pria itu terdengar ragu. Dia hanya bisa menghela nafas dalam dan kembali menunduk.

Hyunseung menggenggam tangan Hyuna, “Jinja, gwenchana..” ucapnya lebih yakin.

Hyuna menarik tangannya dan bergerak duduk, “Oppa, aku ingin sendiri..” ucapnya tanpa memandang Hyunseung,

Hyunseung bergerak duduk di sebelah Hyuna, “Jeongmall, gwenchantagu..” ucapnya.

Hyuna memalingkan wajahnya dari Hyunseung.

Hyunseung menghela nafas dalam sambil mengelus rambut Hyuna, “Hyuna-a..”

“Keluar oppa..” ucap Hyuna pelan.

Hyunseung kembali menarik tangannya, “Baiklah.. aku akan duduk diluar..” ucapnya, lalu turun dari tempat tidur dan berjalan keluar.

Hyuna memandang pintu yang ditutup Hyunseung dari luar sedih, lalu kembali berbaring memikirkan nasibnya. Kedua matanya menatap langit-langit dengan bulir air mengalir perlahan. Tangannya bergerak memegang perut dan memejamkan matanya menahan tangis. Usianya belum genap 20 tahun tapi kemungkinan tidak bisa memliki ketururan sudah harus dia terima. Itu sangat berat.

Keesokan Harinya.

Ibu Hyunseung kembali datang ke rumah sakit karena putranya tidak pulang semalam, namun begitu dia tiba didepan ruang perawatan Hyuna, dia melihat putranya duduk bersandar di kursi dengan mata terpejam dan kedua tangan terlipat didada. Dia sedih melihat putranya harus berada disituasi itu. perlahan dia mengulurkan tangan dan mengelus kepala putra semata wayangnya. “Hyunseung-a..”

Dahi Hyunseung berkerut dan membuka mata perlahan, “Ahh.” Rintihnya sambil mengelus pundak.

“Kau tidur disini semalam? Bagaimana Hyuna?” Tanya ibu Hyunseung.

Hyunseung memandang ibunya, “Oh.. eomma..” ucapnya, lalu menghela nafas berat. “Dia berkata ingin seorang diri..”

Ibu Hyunseung tersenyum tipis, “Eomma membawakan sarapan, ayo kita masuk ke dalam..”

Hyunseung mengangguk perlahan dan bangkit. Hyuna masih tidur ketika ibu dan anak itu masuk keruang perawatannya.

Hyunseung menghampiri tempat tidur dan melihat mata gadis itu sembab, berarti Hyuna menangis semalaman. Dia sangat sedih gadis yang dia cintai harus merasakan hal buruk seperti itu. tanganya dengan lembut mengelus rambut gadis itu, “Hyuna..” panggilnya pelan.

“Hmm..” gumam Hyuna sambil bergerak pelan, lalu membuka mata dan langsung memandang Hyunseung.

Hyunseung tersenyum tipis, “Merasa lebih baik?”

Hyuna menghela nafas berat dan mengangguk.

“Hyuna-a, eomma membawa sarapan..” ucap ibu Hyunseung.

“Duduklah..” ucap Hyunseung pada Hyuna dan membantunya bergerak duduk.

“Bagaimana perutmu, masih sakit?” Tanya ibu Hyunseung.

Hyuna mengangguk pelan, “Ne, eommanim..”

Hyunseung memegang tangan Hyuna, “Gwenchana.. Rasa sakitnya akan segera menghilang..”

Hyuna mengangguk pelan.

Siang itu Hyunseung masih melihat raut sedih diwajah Hyuna, dengan lembut dia mengelus rambut gadis itu dan tersenyum padanya. “Wae?”

Hyuna menatap Hyunseung sedih.

“Sudah.. jangan pikirkan apa pun lagi. Kau akan segera pulang..” ucap Hyunseung berusaha membuat suasana ceria. Namun Hyuna masih tampak sangat terpukul. Tangannya menggenggam tangan gadis itu dan mencium punggung tangannya, “Gwenchana Hyuna…” ucapnya sepenuh hati.

Hyuna menggeleng pelan sambil menarik tangannya dari genggaman Hyunseung.

Hyunseung tetap mempertahankan genggamannya dan menatap Hyuna dalam, “Gwenchana..” ucapnya, “Aku mencintaimu lebih dari apa pun didunia ini.. Kita akan tetap bahagia meskipun kau tidak bisa memberikanku anak.. Aku tidak peduli..”

Hyuna menahan tangis mendengar ucapan Hyunseung.

“Hyuna-a..” ucap Hyunseung lembut.

Bulir air berjatuhan dari mata Hyuna, tangannya yang lain menyeka air matanya. “Apa oppa masih mengatakan itu setelah 5 tahun berlalu?”

Hyunseung menghela nafas dalam sambil menggenggam tangan Hyuna dengan kedua tangannya, “Aku akan mengatakannya 5 tahun, 10 tahun, bahkan hingga aku mati!”

Hyuna memalingkan wajahnya.

Hyunseung mengangkat satu tangannya untuk memegang pipi Hyuna dan menarik wajah gadis itu memandangnya, “Hyuna, jebal.. Percaya padaku..” pintanya.

Hyuna menatap Hyunseung sedih, “Bagaimana dengan keluargamu? Ibumu? Ayahmu? Apa mereka akan mengatakan itu juga?”

“Hyuna, saat ibuku tidak menyutujui hubungan kita. Apa aku menyerah? Ani! Aku tetap mempertahankannya meskipun sangat berat. Dan aku akan terus melakukannya hingga tidak ada kekuatan didalam diriku lagi.” Jawab Hyunseung.

Hyuna menangis tersedu-sedu dan memeluk leher Hyunseung erat.

Hyunseung memejamkan matanya sambil mengelus punggung dan rambut Hyuna, “Na saranghaeyo.. dan akan selalu begitu..” ucapnya pelan, “Semuanya akan baik-baik saja, berjanji kau akan tetap disisiku Hyuna..”

Malamnya. Hyuna memejamkan matanya sambil mendengarkan detak jantung Hyunseung karena kepalanya bersandar pada dada pria itu. juga tubuhnya di peluk oleh pria itu. perlahan matanya terbuka dan menatap kosong kedepan. Meskipun Hyunseung berkata tidak peduli apa pun yang terjadi, tapi kenyataan dia tak bisa memiliki keturunan sangat menyakitkan baginya. ‘Ini yang kau inginkan, appa?’ batinnya pedih.

“Hmmm..” gumam Hyunseung sambil mempererat pelukannya pada tubuh Hyuna.

Hyuna memejamkan matanya dan memeluk Hyunseung, “Saranghae oppa..” gumamnya. Sebulir air matanya perlahan mengalir tanpa suara.

Keesokan paginya.

Hyunseung membereskan barang-barang Hyuna kedalam tas dan mengangkatnya, “Khaja Hyuna..” ajaknya sambil menarik tangan gadis itu keluar dari ruang perawatan.

Hyuna melangkah disebelah Hyunseung masih dengan wajah sedihnya.

Naeun, Eunji, Taemin dan Key yang menunggu di depan rumah sakit langsung melambai begitu melihat Hyunseung dan Hyuna muncul.

“Hyuna-a..” sapa Naeun sambil memeluk Hyuna.

Hyuna tersenyum, “Kau datang untuk menjemputku?”

“Ne.. Aku khawatir sekali. Tapi sekarang aku lega kau sudah baik-baik saja..” ucap Naeun dengan senyuman lebarnya.

Hyuna mengangguk.

“Khaja.. kita makan dikafe..” usul Taemin bersemangat.

“Khaja!!” ucap Naeun dan Eunji bersemangat.

“Ani!” ucap Hyunseung tegas, membuat semua orang menatapnya kecewa. “Hyuna baru saja keluar dari rumah sakit, dia harus beristirahat.

Hyuna tersenyum pada Hyunseung, “Na gwenchana oppa..”

Hyunseung menatap Hyuna kesal, “Kita bisa makan di kafe lain kali..”

Hyuna cemberut dan menggeleng, “Shiro.. aku ingin pergi sekarang..” ucapnya manja.

“Ya sudah, jika Hyunseung tidak mau. Kita saja yang pergi..” ucap Key sambil tersenyum evil pada Hyuna.

Hyuna mengangguk setuju.

“Ya! Aissh..” ucap Hyunseung pada Key yang langsung tertawa.

“Khaja oppa…” ajak Hyuna sambil menarik Hyunseung.

“Ne.. khaja..” ajak Eunji sambil ikut menarik Hyunseung disisi lain.

Mau tak mau Hyunseung mengikuti teman-temannya, apalagi Hyuna yang menginginkannya.

=Kafe=

Hyuna tak berhenti tertawa mendengar lelucon Taemin dan Key, hal itu membuat Hyunseung merasa sedikit tenang. Bibirnya membentuk senyuman melihat gadis itu kembali ceria.

“Hyuna-a, apa kau benar sudah baik-baik saja?” Tanya Naeun khawatir karena Hyuna terus saja tertawa.

Hyuna memandang Naeun bingung, “Ne? tentu saja..” jawabnya dan tertawa kecil.

“Kenapa kau menanyakannya? Dia baik-baik saja..” ucap Taemin heran.

“Aniya, aku hanya memastikan..” ucap Naeun ragu.

Hyuna tertawa lucu, “Oppa, Naeun selalu berlebihan..” ucapnya pada Taemin.

“Ne, dia memang begitu..” ucap Taemin.

“Jika dia menjadi kekasihmu, kau pasti akan merasa pusing karena kecemasannya yang berlebihan..” ucap Hyuna.

Wajah Naeun langsung berubah merah, “Ya!” ucapnya pada Hyuna.

Hyuna tertawa melihat wajah sahabatnya berubah merah.

Hyunseung memandang jam tangannya, “Hyuna, sudah sore. Kita harus kembali..” ucapnya sambil bangkit.

“Hm? Cepat sekali..” ucap Hyuna kecewa.

“Besok kita bisa berkumpul dengan mereka lagi..” ucap Hyunseung sambil mengulurkan tangannya pada Hyuna.

“Aigoo.. kau juga sudah ketularan sifatnya Naeun..” ucap Taemin dan menahan tawa.

“Oppa!” ucap Naeun malu.

“Tapi kau memang harus beristirahat Hyuna, pulanglah..” ucap Eunji.

Hyuna bangkit dan memegang tangan Hyunseung, “Bye semua..” ucapnya, lalu melangkah pergi bersama pria itu.

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Baby Boo~~ [Chapter 30]

  1. uggghhhh kasian kan unni…
    pasti berat banget buat unni harus nerima nasib kayak gtooo..
    berharap gag terjadi apa2 lg ma unni n ayah ny jd sadar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s