Chapter

Baby Boo~~ [Chapter 24]

–I’m Sorry–

 24

Hyuna menghela nafas dalam, “Aku…” dia diam sejenak, “…tidak bisa hidup bersamamu..” lanjutnya.

Hyunseung terdiam, perlahan tangannya melepaskan pelukannya ketubuh Hyuna. Namun gadis itu tetap memeluk lehernya sambil menangis. “Mworagu?”

“Miane oppa..” tangis Hyuna.

Hyunseung tidak percaya mendengar ucapan Hyuna, “Kau mengatakan apa?”

Hyuna mempererat pelukannya pada leher Hyunseung, “Miane oppa..”

Hyunseung memegang tangan Hyuna yang memeluk lehernya dan melepaskan pelukan gadis itu, “Apa yang baru saja kau katakan?!” tanyanya marah.

Hyuna menundukkan kepalanya sambil terus menangis, tidak sanggup menatap kedalam mata Hyunseung.

Hyunseung menatap Hyuna tak percaya, “Kau tidak bisa hidup bersamaku?” tanyanya mengulang ucapan gadis itu.

Hyuna mengangkat wajahnya memandang Hyunseung, “Oppa, mencintai bukan sekedar kau dan aku bahagia. Tapi juga orang sekitar kita..” ucapnya.

Hyunseung menggeleng, “Tapi berpisah bukan jalan keluarnya, Hyuna…” ucapnya sambil menggenggam kedua tangan gadis itu.

“Oppa..”

“Kau berkata akan selalu disisiku. Kau akan memelukku disaat aku tak sanggup berdiri, kau akan mendengarkan semua yang membuat dadaku terasa sesak. Juga kau akan tersenyum untukku disaat semua orang mengacuhkanku! Ada apa denganmu?!! Apa kau sudah lupa ucapanmu sendiri?!!” Tanya Hyunseung tak habis pikir.

Hyuna menggigit bibir bawahnya ragu dengan bulir air mata tetap mengalir, “Miane oppa..” ucapnya dengan suara bergetar.

Hyunseung menghela nafas berat menatap Hyuna yang terus menangis, perlahan genggaman tangannya melemah dan melepaskan tangan gadis itu. “Hanya itu yang bisa kau ucapkan? Maaf?”

Sebuah mobil yang dinaiki ayah Hyuna dan Dujun, juga mobil orangtua Hyunseung berhenti tak jauh dari mobil mereka. Dujun langsung turun dan melangkah cepat menuju pintu mobil.

“Nona Hyuna!” panggilnya sambil membuka pintu, namun terkunci.

Hyuna memandang ke jendela, tampak Dujun mengetuk-ketuk jendela. Lalu kembali memandang Hyunseung.

Hyunseung tetap menatap Hyuna meskipun ibunya mengetuk-ketuk jendela mobil disisinya, “Hyuna, jika kau pergi ke Amerika, apakah semuanya dapat selesai?” tanyanya pelan.

“Oppa, seperti yang kau lihat.. Kita tidak bisa bersama.. Aku tidak ingin kau melukai ibumu terus, kau harus menghormatinya. Bukan memusuhinya..” ucap Hyuna.

“Hyunseung!! Buka pintunya!” panggil ibu Hyunseung sambil mengetuk jendela.

Hyunseung menatap kedua mata Hyuna dalam, “Apa kau bisa hidup tanpaku?”

Hyuna tertegun, memikirkannya saja sudah sangat mengerikan. Dia menundukkan kepalanya, “Aku….” Dia tak sanggup melanjutkan ucapannya.

“Aku tidak bisa hidup tanpamu, Hyuna..” ucap Hyunseung tulus.

Hyuna kembali memandang Hyunseung.

“Aku tidak bisa..” ucap Hyunseung dengan bulir air kembali mengalir.

Hyuna mengulurkan tangannya ke pipi Hyunseung dan menyeka air matanya, “Miane oppa..”

Hyunseung memejamkan matanya dan menangis pedih.

“Hyuna!! Buka pintunya!!” panggil Brian Kim sambil mengetuk pintu.

Hyuna menatap Hyunseung sesaat, lalu membuka pintu dan keluar sambil menyeka air matanya.

“Gwenchana?” Tanya Brian Kim khawatir.

“Ne..” jawab Hyuna pelan.

“Ayo kita pergi..” ucap Brian Kim sambil menarik Hyuna masuk ke mobil.

Hyuna melangkah maju tanpa memandang ke belakang lagi.

Hyunseung terus menangis sambil memegang dahinya, dunianya kembali terasa gelap tanpa Hyuna disisinya.

“Hyunseung.. Gwenchana?” Tanya ibu Hyunseung khawatir.

Hyunseung terdiam karena teringat sesuatu, “Aku harus pergi!” ucapnya sambil mendorong ibunya dan kembali menutup pintu, lalu menghidupkan mesin dan pergi.

Selama di perjalanan menuju bandara Hyuna sama sekali tak mengatakan apa pun. Jika dia pergi ke Amerika, dia akan benar-benar hidup tanpa Hyunseung. Mungkin tidak akan bertemu pria itu lagi.

Brian Kim memandang putrinya sedih, tangannya terulur mengelus rambut gadis itu. namun Hyuna menatapnya marah, membuatnya kembali menarik tangannya.

“Aku pergi bersamamu bukan berarti aku akan memaafkanmu!” ucap Hyuna dingin, lalu kembali memalingkan wajahnya ke jendela.

“Hyuna-a, appa tau semua ini berawal dari appa. Mianata..” ucap Brian Kim.

Rongga mata Hyuna kembali dipenuhi air.

“Jika appa tidak meninggalkanmu, kau pasti tidak akan menderita seperti ini.. Kau bisa menyalahkan appa seumur hidupmu..” ucap Brian Kim.

Bulir air jatuh dari mata Hyuna mengingat apa saja yang telah dia alami setelah ayahnya pergi.

“Hyuna..” ucap Brian Kim sambil mengelus rambut Hyuna.

Hyuna menepis tangan ayahnya, “Ne!! semua ini salahmu!! Jika kau tidak meninggalkanku, aku tidak mungkin mengalami hal buruk untuk membayar hutang-hutangmu!! Aku tidak mungkin bisa membuat Hyunseung oppa menyadari perasaannya padaku!! Aku tidak mungkin sangat mencintainya hingga tak sanggup melepaskan pelukanku dari tubuhnya!!” serunya dengan bulir air mata berjatuhan, “Aku tidak mungkin berpisah dengannya sekarang…” lanjutnya dan menangis pedih. “Ini salahmu..” tangisnya sambil memukul bahu ayahnya lemah.

Bulir air mata Brian Kim ikut berjatuhan dan memegang tangan Hyuna yang memukulnya, “Appa miane Hyuna..”

“Oppa..” tangis Hyuna mengingat dia tidak akan bersama Hyunseung lagi.

Brian Kim menarik Hyuna ke pelukannya dan mengelus punggungnya.

Dujun melirik kaca spion, dia merasa sedih melihat Hyuna terlihat sangat menderita berpisah dengan Hyunseung.

=Bandara=

Hyuna duduk tanpa ekspresi diruang tunggu beberapa bangku dari ayahnya. Pesawat mereka datang satu jam lagi, jadi mereka harus menunggu. Dujun datang memberikan kopi untuk Brian Kim, lalu menghampiri Hyuna.

“Nona, anda masih suka milkshake strawberry?” Tanya Dujun sambil menyodorkan milkshake strawberry pada Hyuna, namun gadis itu tak memberi jawaban. Dia bergerak duduk disebelah gadis itu sambil memandangnya. “Nona?”

Hyuna tetap tak memberi jawaban.

Dujun menghela nafas dalam, “Jika kau tidak bisa meninggalkanya, kenapa tidak pergi sekarang?”

Hyuna memadang Dujun tak mengerti.

“Kau akan menyesal jika tidak pergi sekarang..” ucap Dujun.

Hyuna diam memandang Dujun, lalu memalingkan wajahnya. “Percuma… dia pasti sangat membenciku sekarang..”

Dujun tersenyum, “Jika kau pergi ke Amerika, dia akan semakin membencimu..”

“Diamlah!” ucap Hyuna kesal.

Dujun menyandarkan punggungnya dan memandang jam tangan, “Mmm.. kurasa kau masih bisa memperbaiki semuanya jika pergi sekarang..”

Hyuna kembali menatap Dujun, “Apa maumu sebenarnya?!”

“Memberi solusi..” jawab Dujun.

“Lalu pria tua itu akan marah dan menuntut keluarga Hyunseung oppa karena menyembunyikanku?! Itu maumu?!” Tanya Hyuna kesal.

Dujun menahan tawa, “Wow.. imajinasimu masih tinggi nona..”

Hyuna menatap Dujun kesal, lalu kembali memalingkan wajahnya.

Dujun tertawa kecil. Saat itu terdengar bunyi ponsel disaku celananya, tangannya mengeluarkan ponsel itu dan memandang Hyuna. “Nona, ini ponselmu.”

Hyuna kembali memandang Dujun kaget, “Bagaimana kau bisa memegang ponselku?!”

“Tadi aku menemukannya di meja disebelah pajangan bertulis You’re the best..” jawab Dujun.

Hyuna mengambil ponselnya sambil tetap menatap Dujun kesal, lalu melihat layar. Ternyata Naeun yang memanggilnya. Namun dia hanya menatap ponselnya tanpa mengangkat panggilan itu hingga berakhir sendiri.

Dujun memandang Hyuna bingung, “Nona, ada apa? Kenapa tidak mengangkatnya?”

“Biarkan saja..” ucap Hyuna dan hendak mematikan ponselnya, namun Naeun kembali memanggil.

“Angkatlah.. Bukankah itu putri Tuan Son? Kalian kan bersahabat, apa kau tidak akan memberitaunya kalau kau akan keluar negeri?” Tanya Dujun.

Hyuna diam sejenak. Ucapan Dujun ada benarnya. Sebelum panggilan itu berakhir, dia segera mengangkatnya dan menempelkan ponselnya ke telinga. “Ne, Naeun-a..” ucapnya pelan.

“Ya!! Kim Hyuna! Dimana kau?!” Tanya Naeun kesal diseberang.

Hyuna diam sejenak, “Aku.. mmm..”

“Hyunseung oppa kritis!! Dia ada di UGD sekarang!” ucap Naeun cepat.

Hyuna tertegun, “Ne?”

“Cepatlah datang!!” ucap Naeun panic.

Mata Hyuna membesar, “Ne? A… apa yang.. bagaimana dia…”

“Aku tidak tau! Tadi Eunji eonni menghubungiku kalau Hyunseung oppa kecelakaan.. Pokoknya cepatlah datang Hyuna!!! Dokter berkata kondisinya sangat parah hingga tak mungkin bertahan lama!! Apa kau tidak ingin bertemu dengannya?!!” ucap Naeun dan mulai menangis.

Tubuh Hyuna menegang, bulir air matanya langsung berjatuhan. “Ne?”

“Paliwa Hyuna..” tangis Naeun.

“A.. aku segera kesana..” ucap Hyuna dan langsung memutuskan telepon.

“Nona?” ucap Dujun bingung.

“Aku harus pergi..” ucap Hyuna sambil berdiri dan langsung berlari.

“Nona!!” panggil Dujun.

“Hyuna!!” panggil Brian Kim.

“Tuan, aku akan mengejarnya.. Anda tenang saja..” ucap Dujun sambil melangkah mengikuti Hyuna.

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Baby Boo~~ [Chapter 24]

  1. aaaaaa apa lg iniiii..
    knpa oppa malah kecelakaan..
    aigoooo 2hyun hubungan kalian knpa sulit sekali sichhh
    adaaaaa ajaaa..
    TT

  2. aaaaaaa … apa lagi ini??

    kenapa seperti ini??

    ya…author keren knp kau merubah-rubah perasaanku yg membaca ini aigooo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s