Uncategorized

Baby Boo~~ [Chapter 22]

–I Love You a Thousand Times–

 22

“Key? Apa dia tidak apa-apa?” Tanya Hyuna sambil merapikan bajunya di depan cermin pada Naeun melalui telepon.

“Aniya, dia baik-baik saja. Sekarang dia sedang bergabung bersama kami.. Apa kau tidak bisa datang?” Tanya Naeun sedikit kecewa.

“Mianata, sore ini orang yang membantu perusahaan ayah Hyunseung oppa akan datang. Jadi aku akan ikut menemuinya.. ahhh.. aku tidak sabar.. Hihihi..” tawa Hyuna sendiri.

“Baiklah.. semoga soremu menyenangkan..” ucap Naeun dan telepon terputus.

Hyuna meletakkan ponselnya dan kembali memperhatikan dirinya dengan dress selutut itu. kepalanya menoleh ketika mendengar pintu terbuka.

“Khaja Hyuna..” ajak Hyunseung.

Hyuna tersenyum dan segera menghampiri Hyunseung yang mengulurkan tangan, “Apa sudah datang?” tanyanya sambil membalas uluran tangan pria itu.

“Mereka sudah didepan, ayo..” Ajak Hyunseung dan menarik tangan Hyuna ke ruang tengah.

Tampak ayah dan ibu Hyunseung duduk diruang tengah bersama seorang pria bertubuh tinggi dan berwajah tampan.

“Oh.. in putraku..” ucap ayah Hyunseung begitu melihat Hyunseung.

Pria tampan tadi berdiri dan tersenyum sambil mengulurkan tangannya, “Annyeonghaseo, namaku Yoon Dujun.. Aku orang kepercayaan Tuan Brian Kim..”

Hyunseung membalas uluran tangan pria bernama Dujun itu, “Annyeonghaseo, namaku Jang Hyunseung..”

Dujun beralih pada Hyuna, “Dan siapa gadis cantik ini?”

“Mmm.. Tunanganku..” jawab Hyunseung, membuat ayah dan ibunya menahan tersenyum.

Dujun tersenyum, “Oww.. kurasa aku terlambat menemui nona manis ini..” candanya.

Hyuna mengerutkan dahi memandang Dujun, “Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyanya langsung.

Hyunseung dan orangtuanya tertegun mendengar pertanyaan Hyuna.

Dujun tertegun sesaat, lalu tertawa kecil. “Entahlah.. Mungkin..”

“Tapi sepertinya aku pernah bertemu denganmu..” ucap Hyuna ragu.

Dujun tertawa kecil, “Mungkin kita memang pernah bertemu..” ucapnya.

“Sudah.. Ayo duduk dulu..” ucap ayah Hyunseung.

Dujun kembali duduk, Hyunseung menarik Hyuna duduk di sebelahnya.

“Apakah Tuan Brian Kim terjebak macet? Kenapa lama sekali?” Tanya ibu Hyunseung penasaran.

“Maaf Nyonya, Tuan Brian Kim harus pergi kesuatu tempat dulu. Mohon sabar sebentar lagi.” Ucap Dujun sopan.

“Ohh.. ne, gwenchana..” ucap ibu Hyunseung.

Hyuna memperhatikan wajah Dujun dengan seksama, dia benar-benar merasa pernah bertemu pria itu. melihat caranya tertawa, dia semakin merasa ingat, namun tak tau dimana dia pernah bertemu pria itu.

Hyunseung memandang Hyuna tak mengerti, sebagai seorang pria tentu dia tidak senang kekasihnya memperhatikan pria lain didepan hidungnya. Tangannya menggenggam tangan gadis itu dan menatapnya seolah-olah berkata ‘berhenti menatapnya!’

Hyuna memandang Hyunseung dan menunduk mengerti.

Ponsel Dujun berbunyi, dia segera mengangkatnya dan berbicara. Tak lama dia menyudahi teleponnya sambil tersenyum, “Tuan Brian Kim sudah tiba, dia akan segera masuk..” ucapnya memberitau.

“Ohh.. ne.. ayo kita menyambutnya..” ucap ayah Hyunseung sambil berdiri dan berjalan kepintu bersama istri dan putranya, juga Hyuna.

Dujun melangkah keluar untuk menyambut atasannya, tak lama dia kembali masuk. “Tuan Brian Kim tiba..” ucapnya, lalu memberikan ruang untuk pria setengah baya yang mengenakan setelan jas dan tampak sangat elegan melangkah masuk.

Senyum ayah dan ibu hyunseung menghilang melihat siapa yang masuk. Hyunseung membesarkan matanya. Sementara Hyuna terpaku.

Pria bernama Brian Kim itu tersenyum, “Apa kabar Jang Minsoo?”

“Tu.. Tuan Kim?” ucap ayah Hyunseung tak percaya.

Brian Kim tersenyum pada Hyuna, “Hyuna-a..”

“A…appa?” ucap Hyuna tak percaya.

“Kim Jisob, bagaimana… kau yang membantu perusahaanku?” Tanya ayah Hyunseung tak percaya.

Brian Kim yang tak lain adalah ayah Hyuna itu mengangguk, “Ne..” jawabnya.

“Maaf, bisakah kita duduk dulu?” Tanya Dujun sopan.

Hyuna menatap Dujun, “Neo!!” serunya sambil menunjuk pria itul, “Aku mengenalmu! Kau orang yang bekerja untuk ayahku dulu kan?!!”

Dujun tersenyum, “Ne, nona Kim Hyuna..”

“Ayo.. kita duduk dulu..” ucap ibu Hyunseung.

“Mari Tuan Kim..” ucap ayah Hyunseung.

Semuanya bergerak ke sofa kecuali Hyuna.

Brian Kim atau Kim Jisob menghampiri putrinya, lalu mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut Hyuna. “Hyuna-a, appa miane. Appa…”

Hyuna mendorong ayahnya, “Jangan sentuh aku!!” teriaknya, membuat orang disana terkejut. Matanya memerah dan bulir air mulai berjatuhan, “Kau bukan ayahku! Aku tidak punya ayah lagi!! Dia sudah mati!!!” teriaknya, lalu berlari ke kamar.

“Hyuna!” panggil Hyunseung, lalu memandang ayah Hyuna. Perlahan dia berjalan mundur dan mengejar gadis itu.

Brian Kim hanya bisa memandang putrinya sedih.

“Silahkan Tuan..” ucap Dujun.

Brian Kim menghela nafas dalam dan berjalan duduk.

“Apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa seperti ini?” Tanya ayah Hyunseung ingin tau.

Brian Kim tersenyum tipis, “Sebelumnya aku harus meminta maaf padamu, karena aku pergi begitu saja dengan uang yang kau berikan..” ucapnya menyesal, “Aku mendengar berita buruk tentangku yang kabur seperti pecundang, bahkan meninggalkan putriku begitu saja..” ucapnya sedih, “Aku menyesal mengapa aku tidak membawa Hyuna..” dia diam sejenak, “Aku pergi ke Amerika untuk memulai usaha baru. Berkat uang yang kau berikan, juga bantuan Dujun, aku bisa membangun usahaku lagi.. Aku bisa bangkit menjadi diriku yang sekarang..” ucapnya sambil tersenyum. “Setelah cukup lama pergi, aku mencari tau tentang kehidupan disini. Saat itulah aku tau kau yang merawat putriku dan perusahaanmu berada diujung tanduk. Karena itulah aku merasa harus membantumu yang telah membantuku..”

Ayah dan Ibu Hyunseung berpandangan, lalu kembali memandang Brian Kim. “Jadi kau akan kembali tinggal disini?”

Brian Kim menggeleng, “Aniya.. Aku hanya ingin mengunjungimu..” ucapnya, “Dan aku datang untuk menjemput putriku..”

Ayah dan Ibu Hyunseung tertegun, “Ne?”

Dikamar.

Hyunseung mengelus punggung Hyuna yang menangis tersedu-sedu ditempat tidur, “Kemanhe, jangan menangis seperti itu..” ucapnya.

Hyuna bergerak bangkit dan memandang Hyunseung dengan mata bengkak karena terus menangis, “Siapa pria tua itu?!! aku tidak mengenalnya!!” serunya.

Hyunseung menatap Hyuna sedih, tentu saja gadis itu tidak akan bisa menerima ayahnya setelah semua yang terjadi padanya. Dengan lembut dia memegang kedua pipi gadis itu dan menatap matanya, “Dia bukan siapa-siapa..”

Hyuna terus menangis dan memukul kasur, “Aku benci pria itu!! aku benci dia!!!” teriaknya.

Hyunseung menarik Hyuna ke dadanya, “Ne.. Bencilah dia..” ucapnya pelan sambil memeluk gadis itu.

Hyuna menangis tersedu-sedu didada Hyunseung hingga membasahi baju pria itu. Hatinya terasa sangat sakit mengingat ayahnya pergi begitu saja dan membuatnya menderita seorang diri.

Hyunseung mengelus punggung Hyuna agar lebih tenang.

Malamnya.

Hyuna terpaksa ikut berbicara diruang tengah bersama keluarga Hyunseung dan ayahnya. Meskipun begitu dia tak ingin menatap wajah ayahnya.

“Hyuna-a, ayahmu ingin berbicara padamu.. Jangan seperti ini..” ucap ayah Hyunseung.

“Aku bisa mendengarnya!” ucap Hyuna kesal.

Brian Kim tersenyum tipis, “Hyuna-a, appa tau appa bersalah. Kau pasti sangat menderita.. Jeongmall mianata..” ucapnya menyesal.

Hyuna tak mengatakan apa pun.

“Appa merasa sangat bersalah karena meninggalkanmu, membuatmu berjuang seorang diri. Appa tau kau pasti tidak akan bisa memaafkan appa, tapi appa berusaha bangkit untukmu. Agar appa bisa kembali kemari untuk menjemputmu..” ucap Brian Kim tulus.

Bulir air mata Hyuna berjatuhan meskipun tidak menatap ayahnya.

Brian Kim menatap putrinya menyesal, “Hyuna-a, kita bisa memulai hidup kita di Amerika.. Appa akan menebus semua kesalahan appa dengan membahagiakanmu..” pintanya.

Hyuna menatap ayahnya penuh kebencian, “Mwo?! Kau pikir kata maaf bisa menghapus semuanya?!!!” serunya.

“Hyuna-a…” Mohon Brian Kim.

Hyuna berdiri sambil menatap ayahnya marah, bulir air berjatuhan deras dari matanya. “Aku tidak akan memaafkanmu!! Tidak akan pernah!!” serunya, “Kau tau apa yang harus kujalani karena semua masalah yang kau tinggalkan?!” ucapnya penuh emosi, “Aku harus kehilangan harga diriku menari di klub!! Aku kehilangan mukaku bertemu semua orang!! Aku harus menanggung malu karena memiliki ayah sepertimu!!!” teriaknya.

Hyunseung mengulurkan tangannya memegang tangan Hyuna, “Hyuna, kemanhe..” ucapnya pelan.

“Kau!!” Seru Hyuna sambil menunjuk ayahnya, “Aku akan membencimu hingga aku MATI!!!” teriaknya, lalu melangkah pergi ke kamarnya.

Brian Kim menunduk sedih, dia tau putrinya sangat terluka.

Hyunseung ikut bangkit dan mengikuti Hyuna. Begitu membuka pintu kamar, dia berhenti sejenak melihat gadis itu duduk memeluk lutut di sebelah tempat tidur sambil menangis pedih. Kakinya melangkah masuk dan menghampiri gadis itu, lalu duduk disebelahnya sambil memeluk gadis itu. “Ssssh.. tenanglah Hyuna..” ucapnya lembut.

Tak lama.

Hyunseung memandangi Hyuna yang sudah tertidur, tangannya mengelus pipi gadis itu lembut. Tangannya yang memegang pipi gadis itu bergerak menggenggam tangannya dan menempelkan punggung tangan gadis itu ke dadanya, dimana jantungnya berada. ‘Hyuna.. Apa kau mendengarkan detak jantungku? Jantungku berdetak lebih cepat ketika berada didekatmu.. Apa kau melihat air mataku? Aku menangis karenamu.. Di dunia ini, aku hanya ingin bersamamu. Jangan berpaling dan tetaplah menatapku, aku akan membuatmu bahagia.’ Batinnya sambil menatap wajah tenang gadis itu. tangannya kembali bergerak memegang belakang kepala Hyuna dan mencium dahi gadis itu. seulas senyum muncul di bibirnya dan membaringkan kepalanya ke bantal Hyuna sambil memejamkan mata.

Ibu Hyunseung membuka sedikit pintu kamar Hyuna dan mengintip kedalam, dia sempat tertegun melihat putranya sangat menjaga Hyuna. Saat itu dia merasa bersalah karena telah berpikir untuk memisahkan mereka. Terlihat jelas dimatanya betapa besar cinta Hyunseung untuk gadis itu. ia kembali menutup pintu dan melangkah ke kamarnya.

“Hyuna sudah tenang?” Tanya ayah Hyunseung begitu istrinya masuk.

Ibu Hyunseung mengangguk dan naik ke tempat tidur, “Ne.. Hyunseung benar-benar menjaganya dengan baik..”

Ayah Hyunseung menghela nafas dalam, “Sepertinya hubungan mereka tidak pernah berjalan mulus, selalu saja ada yang mengganggunya.” Ucapnya prihatin.

“Tapi Hyunseung tidak akan berhenti semudah itu, dia akan terus memperjuangkan Hyuna.. Benarkan?” ucap Ibu Hyunseung.

Ayah Hyunseung mengelus dahinya, “Benar..” jawabnya, “Tapi masalahnya Tuan Kim ingin membawa Hyuna ke Amerika, bagaimana mereka bisa menyelesaikan itu?”

“Hyuna tidak ingin pergi dengan ayahnya, kenapa kau risau begitu yobo?” Tanya ibu Hyunseung tak mengerti.

Ayah Hyunseung memandang istrinya, “Tuan Kim tidak ingin Hyuna bersama Hyunseung..”

Ibu Hyunseung tertegun, “Ne? wae? Bukankah dia tau putrinya menyukai putra kita?”

Ayah Hyunseung menghela nafas dalam, “Tuan Kim sudah tau apa yang telah kau lakukan untuk menyingkirkan Hyuna…”

Mata ibu Hyunseung membesar, “Ne?!”

Ayah Hyunseung memperbaiki posisi tidurnya dan berbaring membelakangi istrinya, “Matikan lampunya..” ucapnya sambil memejamkan mata.

Ibu Hyunseung tak percaya dia benar-benar merusak kebahagiaan putranya. Tangannya terulur ke lampu meja dan mematikannya, lalu berbaring. Bulir air matanya mengalir begitu saja mengingat putranya akan mendapat kesulitan karena dirinya lagi.

<<Back           Next>>

Advertisements

6 thoughts on “Baby Boo~~ [Chapter 22]

  1. yaaahhh ada lg cobaan tuk 2hyun…
    padahal udahh ademmm
    knpa nie ayah hyuna dtng2 mo bawa hyuna pergii..
    apa tu gag malah tambah nyakitin hyuna…
    n malah semakin gag d mav’in..
    ahhhhh makin penasaran…
    lanjuuutttt ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s