Chapter

Baby Boo~~ [Chapter 20]

–Word I Don’t Want to Hear–

 20

Keadaan di ruang makan terasa aneh, ayah dan ibu Hyunseung menyadari putra mereka dan Hyuna tampak sedih ketika sarapan.

“Sesuatu terjadi?” Tanya ayah Hyunseung membuka suara.

Hyunseung memandang ayahnya dan berpandangan dengan Hyuna, dia bingung harus bagaimana menyampaikan maksudnya.

“Wae?” Tanya ibu Hyunseung.

Hyuna menunduk memandang makanannya.

Hyunseung menghela nafas dalam dan meletakkan sumpit ditangannya, lalu memandang kedua orangtuanya tanpa ragu. “Aku akan menikahi putri Tuan Nam..” ucapnya jelas.

Hening..

“Ne?” Tanya ayah dan ibu Hyunseung hampir bersamaan, lalu memandang Hyuna.

“Tapi, kenapa? Bukankah kau dan Hyuna…” Ayah Hyunseung tak tau apa yang telah terjadi hingga putranya berpikiran seperti itu.

“Aku sudah memutuskannya.. Aku putra satu-satunya dari keluarga ini, maka aku harus berkorban demi keluargaku..” ucap Hyunseung tanpa ekspresi.

Ayah dan ibu Hyunseung berpandangan bingung.

“Hyunseung, tidak perlu seperti itu..” ucap ayah Hyunseung.

“Aniya appa, aku akan melakukannya..” ucap Hyunseung, lalu berdiri. “Aku selesai..” ucapnya dan langsung pergi.

Hyuna memandang orangtua Hyunseung yang memandangnya, bibirnya membentuk senyuman palsu. “Hyunseung oppa sudah memutuskannya, jadi aku harus menerimanya..” ucapnya, lalu berdiri dan membungkuk sopan. Kemudian berjalan pergi.

Ayah dan ibu Hyunseung kembali berpandangan tak mengerti.

Hyuna memasukkan pakaiannya ke tas sambil menahan tangis, dia harus pergi agar tak membuat Hyunseung merubah pikirannya. Atau paling tidak dia harus menjauh dari pria itu agar tak semakin terluka. Setelah menyimpan semua bajunya kedalam tas, dia melangkah keluar dari kamar dan menghampiri ibu Hyunseung yang duduk diruang tengah sambil termenung. “Eommanim..”

Ibu Hyunseung tertegun melihat Hyuna membawa tas ransel dan langsung berdiri, “Kau akan pergi?”

Hyuna tersenyum dan mengangguk, “Ne eommanim, aku tidak ingin Hyunseung oppa merasa bersalah jika aku terus disini. Lebih baik aku pergi saja..” ucapnya.

“Ne? kemana kau akan pergi?” Tanya ibu Hyunseung.

“Mmm.. aku belum tau, tapi mungkin aku akan menginap dirumah Naeun sementara waktu..” jawab Hyuna.

Ibu Hyunseung tidak bisa mengatakan apa pun lagi sekarang, “Hmm.. begitu..”

“Baiklah eommanim, aku pergi sekarang..” ucap Hyuna sambil membungkuk sopan dan langsung berjalan kepintu sebelum dia membatalkan niatnya.

Hyuna tidak tau akan pergi kemana, namun sekarang dia ingin pergi sejauh mungkin dari rumah Hyunseung.

“Kim Hyuna…” panggil seseorang ketika Hyuna keluar dari pagar rumah Hyunseung.

Hyuna berhenti dan memandang orang yang memanggilnya, dia tertegun melihat Eunji. “Eonni? Kenapa kau disini?”

Eunji menghampiri Hyuna sambil menghela nafas dalam, “Hyunseung sudah tau kau akan pergi, jadi memintaku menunggu disini jika kau memang pergi begitu saja..”

Hyuna garuk-garuk kepala karena ternyata Hyunseung sudah tau pikirannya.

“Ayo, aku akan mengantarkanmu.” Ucap Eunji sambil menarik tas punggung Hyuna ke mobilnya hingga gadis itu juga tertarik.

Hyuna bingung ketika berada dimobil Eunji yang diantar supir, “Eonni, kita akan kemana?”

Eunji memandang Hyuna, “Kau pasti berpikiran akan kerumah Naeun kan?”

Hyuna tertegun mendengar ucapan Eunji, “Bagaimana eonni tau?”

“Hyunseung juga memberitauku..” jawab Eunji, “Aku akan memberitau Naeun kita akan kerumahnya..” ucapnya sambil mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan untuk Naeun.

Hyuna mengangguk mengerti. Lalu memandang keluar jendela, tiba-tiba Eunji menyodorkan sebuah ponsel padanya. Dia memandang gadis itu tak mengerti.

“Hyunseung khawatir kau tidak menggunakan ponsel, jadi gunakan ini..” ucap Eunji memberitau.

Hyuna memandang ponsel itu, “Ne?”

“Aigoo.. aku tidak mengerti bagaimana kau bisa hidup tanpa ponsel..” ucap Eunji sambil memberikan ponsel itu ke tangan Hyuna.

Hyuna memandang ponsel itu bingung.

Eunji memandang Hyuna sedih, “Bagaimana caramu menerima perjodohan Hyunseung?”

Hyuna memandang Eunji, lalu tersenyum sedih. “Sepertinya kami memang tidak bisa bersama.. Jadi aku harus menerimanya..”

Eunji menghela nafas dalam.

Tak lama mereka tiba didepan rumah Naeun.

“Hyuna…” ucap Naeun girang sambil memeluk Hyuna begitu turun dari mobil Eunji.

Hyuna tersenyum sambil memeluk Naeun.

“Wuaa.. akhirnya kau akan menginap di rumahku!” ucap Naeun senang.

“Baiklah.. Aku akan langsung kembali ke kampus..” ucap Eunji, “Naeun, pastikan Hyuna tidak pergi tanpa pesan lagi..” ucapnya sambil menahan tawa.

Naeun tertawa kecil, “Ne, eonni..”

“Gumawo eonni..” ucap Hyuna sebelum Eunji masuk ke mobil lagi.

“Khaja..” Naeun menarik Hyuna masuk dan naik kelantai atas.

“Orang tuamu mana?” Tanya Hyuna karena tidak melihat siapa pun dirumah Naeun.

Naeun tersenyum, “Ayah dan ibuku pergi untuk urusan bisnis..” ucapnya, “Padahal aku tau mereka hanya ingin menghabiskan waktu berdua..” ucapnya menahan tawa.

Hyuna tertawa kecil, “Orang tuamu memang selalu romantic..”

Naeun membuka pintu kamarnya dan masuk, “Ayo masuk..”

Hyuna memperhatikan kamar Naeun, saat itu dia masih melihat photo-photo mereka di dinding kamar temannya itu. semuanya lengkap, sejak SMP hingga terakhir mereka SMA. Bibirnya membentuk senyuman melihat photo-photo itu, “Kau masih menyimpannya?”

“Keurom..” ucap Naeun dan menarik Hyuna duduk di tempat tidur. “Hyuna-a, apa yang terjadi? Kenapa kau pergi dari rumah Hyunseung oppa?”

Hyuna tersenyum sedih, “Hyunseung oppa akan menikah..”

Naeun tertegun, “Ne?”

Mengingat hal itu membuat Hyuna sangat sedih, “Hyunseung oppa harus menikah dengan putri Tuan Nam agar perusahaan ayahnya tidak bangkrut..”

Naeun menatap Hyuna sedih, “Omo.. Hyuna-a..”

Hyuna tersenyum meskipun matanya tampak berkaca-kaca, “Gwenchana, ini yang terbaik untuknya. Mungkin kami memang tidak ditakdirkan bersama, jadi aku tidak bisa melakukan apapun..”

Naeun sangat sedih karena penderitaan sahabatnya, kedua tangannya langsung memeluk gadis itu. “Hyuna-a, apa pun yang terjadi. Aku akan selalu ada untukmu..” ucapnya.

Hyuna tenang mendengar ucapan Naeun, “Ne, gumawo..”

=Makan Malam Dua Keluarga=

Hyunseung duduk diam mendengarkan kedua orangtuanya berbicara mengenai perjodohannya dan gadis bernama Nam Jihyun yang sekarang duduk di hadapannya.

“Bagaimana jika pernikahan ini kita adakan bulan depan?” usul Bibi Cho.

Ibu Hyunseung tertegun, “Ne? apa tidak terlalu cepat nyonya Cho?”

Bibi Cho tertawa kecil, “Aniya.. Bukankah lebih cepat lebih baik? Benarkan Jihyun?”

Jihyun tersipu malu, “Eomma..” ucapnya.

Ayah dan Ibu Hyunseung tersenyum palsu sambil melirik Hyunseung yang sama sekali tak memberikan respon.

“Bagaimana Jang Hyunseung? Kau siap menikahi putriku tahun depan?” Tanya Tuan Nam dengan nada bercanda.

Hyunseung memandang Tuan Nam, “Aku siap, Tuan Nam..” jawabnya tanpa ragu.

“Omo.. dia benar-benar berkarisma..” ucap Bibi Cho sambil melirik Jihyun yang sekarang wajahnya merah merona.

Ibu Hyunseung memandang putranya sedih, namun ini semua sudah menjadi keputusan putranya.

=Beberapa Saat Kemudian=

Berita tentang Hyunseung yang akan menikahi putri dari Tuan Nam tersebar begitu cepat. Dia bahkan bisa mendengar orang-orang dikantor mulai membicarakan tentang itu.

“Oppa.. bagaimana jika kita pergi makan siang?” ucap Jihyun yang datang ke kantor Hyunseung.

Hyunseung memandang Jihyun, “Aku harus menyelesaikan pekerjaanku, mungkin lain kali..”

Jihyun cemberut, “Oppa.. kenapa pekerjaanmu lebih penting? Aku kan calon istrimu..”

Hyunseung menghela nafas berat mendengar ‘calon istri’ itu dari mulut Jihyun, “Hmm.. baiklah..” ucapnya.

“Yeaay.. khaja..” ajak Jihyun sambil memeluk lengan Hyunseung dan membawanya pergi.

Kafe.

Hyunseung menikmati makanannya tanpa mengatakan apa pun.

“Oppa, apa kau memang tidak banyak berbicara?” Tanya Jihyun.

“Hm? Oh.. ne..” jawab Hyunseung.

Jihyun tersenyum lebar, “Wuaaa.. kau keren sekali..”

Hyunseung tersenyum palsu dan kembali memandang makanannya. Saat itu, dia mendengar Jihyun tertawa kecil dan kembali memandang gadis itu. memandang gadis itu membuatnya sesak, karena dia ingin bersama seorang gadis yang benar-benar dia cintai. Hidup bersama selamanya hingga kematian yang memisahkan mereka. Dalam bayangannya, dia seperti melihat Hyuna yang berbicara dan tertawa kecil di hadapannya. Tangannya mengepal merasakan sesak didadanya karena terlalu merindukan gadis itu.

“Oppa, waekeure?” Tanya Jihyun bingung.

“Hm?” Hyunseung kembali terasadar dari lamunannya, “Oh.. aniya.. makanlah..” ucapnya dan kembali makan.

Malamnya.

Hyuna tertegun mendengar ponselnya berbunyi, namun tidak ada nama yang tertera dilayarnya. Hanya nomor saja. Ragu-ragu dia menempelkan ponsel itu ketelinganya, “Yoboseo?”

Ditempat lain, Hyunseung diam dengan ponsel ditelinganya.

“Yoboseyo..” ucap Hyuna lagi karena tidak mendengar apa pun. Terdengar seseorang menghela nafas berat diseberang, dia tertegun menebak siapa yang meneleponnya.

Bulir air mata Hyunseung hampir berjatuhan mendengar suara lembut Hyuna diseberang.

“Oppa?” ucap Hyuna ragu.

Tes.. sebulir air mengalir dari mata Hyunseung mendengar Hyuna memanggilnya.

“Hyunseung oppa?”  ucap Hyuna lagi.

“Ne..” jawab Hyunseung akhirnya.

Hyuna terdiam beberapa saat mendengar suara Hyunseung, sudah lama sejak terakhir dia mendengar suara pria itu. entah mengapa bulir air matanya langsung berjatuhan begitu saja. “Oppa…”

Hyunseung menyeka air matanya, “Kau baik-baik saja?”

Hyuna berusaha terdengar biasa saja, “Ne, oppa?”

“Aku juga..”jawab Hyunseung.

Hening..

“Oppa, bagaimana perjodohanmu?” Tanya Hyuna memecahkan keheningan.

“Baik-baik saja..” jawab Hyunseung, “Kau masih dirumah Naeun?”

“Ne oppa..” jawab Hyuna.

Hyunseung berusaha menahan dirinya untuk tidak memohon agar Hyuna kembali padanya, atau malah mengajak gadis itu kabur bersamanya.

“Oppa, kurasa kita tidak perlu saling menghubungi lagi..” ucap Hyuna berat.

Hyunseung memejamkan matanya, menahan air mata yang hendak berjatuhan dari matanya.

“Kita sudah berakhir..” ucap Hyuna dengan bulir air mata berjatuhan, “Kau akan segera menjadi seorang suami, jadi kau tidak bisa menghubungiku lagi..” dia sendiri sangat berat mengatakannya. “Selamat tinggal oppa..”

“Andwae!” akhirnya Hyunseung mengeluarkan suaranya, “Jangan katakan itu!” tegasnya, “Aku tidak ingin mendengar kata perpisahaan darimu…”

Hyuna menutup mulutnya dengan tangan agar Hyunseung tak mendengar tangisnya.

“Kumohon Hyuna, jangan katakan perpisahan itu..” mohon Hyunseung menahan tangisnya.

“Selamat Tinggal oppa..” ucap Hyuna dan langsung memutuskan telepon.

Tangan Hyunseung bergetar menggenggam ponselnya, rasanya sekarang hidupnya sudah tak berarti lagi. Bulir air matanya jatuh begitu saja setelah sekian lama menahannya. Tidak ada lagi Hyuna seperti tidak ada lagi cahaya untuknya, karena gadis itu adalah matahari yang menyinari dunianya.

<<Back           Next>>

Advertisements

4 thoughts on “Baby Boo~~ [Chapter 20]

  1. aigooooo ternyata aku ketinggalan part 20….
    kkekekek
    pantes langsung aneh pas baca part 21..
    kapan hyuna unni ngucapin selamat tinggal…
    ehhehe
    kalo sampe baca urut mungkin bakalan mewek lagi pas baca part ini..
    untung baca nya 21 dluuu…
    hihihi next ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s