Chapter

Baby Boo~~ [Chapter 19]

–Love is Pain–

 19

Hyuna memperhatikan Hyunseung memakan makanan yang dia bawa.

Hyunseung tertegun merasakan makanan di mulutnya dan memandang Hyuna, “Kau yang  memasaknya?”

Hyuna tersenyum lebar dan mengangguk, “Ne, bagaimana? Enak kan?”

Hyunseung diam menatap Hyuna.

Hyuna menghela nafas dalam dan menunduk, “Baiklah, ahjumma yang memasaknya..”

Hyunseung tertawa kecil, “Lain kali bawakan masakanmu..”

Hyuna tersenyum malu dan mengangguk, “Keure..”

Setelah menghabiskan makanan, tiba saatnya untuk Hyuna pulang.

“Apa kau tidak ingin menungguku pulang saja? Kita bisa makan malam diluar dulu nanti..” ucap Hyunseung ketika Hyuna membereskan tempat makan itu.

“Aniya, aku pulang saja. Oppa kan masih sibuk, jadi aku pergi saja..” ucap Hyuna, “Aku akan menunggumu dirumah..”

Hyunseung mengantarkan Hyuna ke pintu, “Keure, kau akan diantarkan supir kembali kerumah..” ucapnya sambil mengelus rambut gadis itu.

Hyuna tersenyum, “Ne..” ucapnya, “Bye oppa..” ucapnya sambil melambai dan melangkah kepintu. Namun dia berhenti dan kembali berbalik memandang Hyunseung dengan senyuman manisnya.

Hyunseung memandang Hyuna bingung, “Wae?”

Hyuna maju selangkah, “Oppa, setelah ini oppa pasti akan bekerja keras. Aku akan memberikan jimat..” ucapnya dengan kedua pipi merona.

Hyunseung memandang Hyuna tak mengerti sesaat, lalu tertawa kecil. “Mmm.. Keure..” ucapnya sambil mengelus bibir bawahnya.

Hyuna mendekati Hyunseung sambil tersenyum malu, lalu berjinjit dan memberi kecupan manis di bibir pria itu dan menunduk malu.

Hyunseung tersenyum lebar melihat wajah Hyuna merona, “Ahh.. aku akan bekerja sangat keras, satu jimat tidak akan cukup..” ucapnya jahil.

Hyuna tertawa kecil, “Oppa..” ucapnya sambil memukul bahu Hyunseung pelan.

Hyunseung memegang lengan Hyuna dan menyodorkan pipinya, “Pali..”

Wajah Hyuna merona merah, dia kembali memberikan kecupan dipipi pria itu.

Hyunseung menyodorkan pipinya yang lain.

Hyuna tertawa malu sambil memukul bahu pria itu, namun akhirnya memajukan wajahnya untuk mengecup pipi pria itu. Tapi Hyunseung memutar wajahnya hingga bibir mereka bertemu.

Hyunseung tersenyum melihat ekspresi Hyuna.

“Oppa!” ucap Hyuna sebal sambil memukul lengan pria itu.

Hyunseung tertawa kecil sambil memegang kedua pipi Hyuna dan bergerak maju untuk mencium gadis itu.

“Hmmph.. Hmmmph..” gumam Hyuna sambil berusaha mendorong Hyunseung, namun dia tersenyum pria itu hanya menahan bibir mereka agar tetap menempel.

Hyunseung menahan tawa namun tetap menahan kedua pipi gadis itu.

Klek!

Hyunseung melirik kepintu tanpa bergerak, namun spontan langsung melepaskan Hyuna karena melihat ayahnya berdiri dipintu tertegun memandang mereka. “Oh.. appa..” ucapnya canggung.

Hyuna menunduk malu sambil garuk-garuk kepala.

Ayah Hyunseung tersenyum sambil mengelus dahinya, “Apa appa mengganggu?”

“Hm? Aniya..” jawab Hyunseung.

“A.. aniya, appanim..” ucap Hyuna malu, “Aku juga sudah akan pergi..” ucapnya, “Bye oppa..” ucapnya dan langsung berjalan cepat keluar dari ruangan Hyunseung.

Hyunseung memperhatikan Hyuna pergi dari bahu ayahnya. Tampak secretarisnya dan Eunkwang membungkuk sopan ketika dia berlalu, lalu memandang ayahnya. “Silahkan duduk appa..”

Ayah Hyunseung melangkah masuk dan duduk disofa, putranya ikut duduk didepannya. Dia menghela nafas dalam dan menatap putranya dalam.

“Waeyo appa?” Tanya Hyunseung bingung.

Ayah Hyunseung mengelus pundaknya dan memajukan tubuhnya, “Hyunseung, perusahaan kita akan benar-benar bangkrut jika sampai bulan depan tidak ada juga yang menjadi sponsor untuk perusahan kita..”

Hyunseung tertegun, “Ne?”

Ayah Hyunseung menatap putranya sedih, “Hyunseung, appa tidak ingin mengatakan ini. Tapi sepertinya harapan kita satu-satunya hanya bantuan dari Tuan Nam, atau kita bisa menerima kebangkrutan ini dan membangun semuanya dari awal lagi nanti..”

Hyunseung tak bisa mengatakan apa pun. Itu semua pilihan yang sangat berat.

Ayah Hyunseung memegang bahu putranya, “Sekarang semuanya ada padamu Hyunseung, kau putra appa satu-satunya. Kau yang akan menentukan bagaimana kelanjutan hidup keluarga kita sekarang..” ucapnya, lalu bangkit dan berjalan pergi.

Hyunseung masih terpaku ditempatnya. Baru saja dia merasa bahagia karena Hyuna datang untuknya. Satu tangannya bergerak memegang kepala dan memejamkan matanya frustasi.

=Kafe=

“Hyuna-a, pasti kau jadi tidak bisa bertemu Hyunseung oppa karena dia selalu sibuk..” ucap Naeun sedih.

Hyuna tersenyum, “Ne, sekarang oppa jadi sangat sibuk karena ada sedikit masalah di perusahaan.”

Naeun mengulurkan satu tangannya memegang tangan Hyuna, “Pasti sangat berat untukmu mendampingi Hyunseung oppa disaat seperti ini..”

Hyuna tersenyum malu, “Naeun-a, kau berbicara seperti aku adalah istrinya..”

Naeun tertawa kecil, “Kan sebentar lagi akan menjadi istrinya..”

Hyuna tertawa malu sambil menutup wajahnya dengan tangan, “Kau ini..”

Tawa Naeun perlahan berhenti, “Tapi, melihatmu tertawa seperti ini. Sepertinya kau belum tau masalah perusahaannya..” ucapnya curiga.

Hyuna garuk-garuk kepala, “Ne, Hyunseung oppa tidak memberitauku..”

Naeun terdiam, “Jadi kau tidak tau?”

Hyuna tertegun, melihat ekspresi Naeun sepertinya itu bukan masalah sepele. “Kau tau masalahnya?”

Naeun menelan ludah, bingung apa yang harus dia katakan. “Mmm.. perusahaan ayah Hyunseung oppa hampir bangkrut karena tidak ada sponsor Hyuna..”

Hyuna tertegun, “Ne?”

Naeun mengangguk, “Ne, Hyuna..”

Hyuna tak percaya ternyata itu yang dialami keluarga Hyunseung sekarang.

“Aku juga sudah meminta ayahku membantu, tapi katanya masalah perusahaan ayah Hyunseung oppa tidak mudah. Akan sulit untuk bangkit, karena itu tidak ada yang berani menjadi sponsor untuk perusahaan mereka. Karena takut akan merugi..” jelas Naeun.

Hyuna mengingat apa yang dia dan ayahnya rasakan dulu, setelah kebangkrutan terjadi mereka benar-benar terpuruk. Bahkan ayahnya sampai pergi keluar negeri.

=Rumah Hyunseung=

Hyuna melihat ibu Hyunseung duduk termenung di ruang tengah, sepertinya memikirkan sesuatu yang berat. Perlahan dia duduk disebelah wanita itu, “Eommanim..”

Ibu Hyunseung memandang Hyuna.

“Aku mendengar tentang perusahaan appanim, benarkah.. mmm..” Hyuna bingung bagaimana mengatakannya.

“Bangkrut? Ne..” jawab ibu Hyunseung.

Hyuna tertegun, “Apakah tidak bisa diselamatkan?”

Ibu Hyunseung menghela nafas dalam, “Ada satu cara, tapi semuanya tergantung pada Hyunseung.” Ucapnya sambil menunduk.

Dahi Hyuna berkerut, “Ada apa eommanim?”

Ibu Hyunseung memandang Hyuna, “Hyunseung harus berkorban demi perusahaan.”

“Apa maksudmu eommanim?” Tanya Hyuna tak mengerti.

“Dia…”

“Eomma!” seru Hyunseung yang baru pulang bekerja.

Hyuna menoleh kearah Hyunseung, lalu kembali memandang ibu Hyunseung yang tetap menunduk dan bangkit pergi. Melihat respon wanita itu, dia tau pasti sesuatu yang berat harus dilakukan Hyunseung.

Hyunseung menghampiri Hyuna, “Apa yang dikatakan ibuku?”

“Hm? Eopseo(tidak ada)..” jawab Hyuna sambil menggeleng.

Hyunseung menghela nafas dalam sambil melonggarkan dasi dilehernya, “Aku akan beristirahat sebentar..” ucapnya dan melangkah ke kamar.

Hyunseung mengikuti Hyunseung ke kamar pria itu dan membantu melepaskan blazernya, “Oppa..”

Hyunseung yang sedang melepaskan dasi memandang Hyuna, “Hm..”

Hyuna memandang Hyunseung sedih, “Oppa, benarkah perusahaan appanim akan bangkrut?”

Hyunseung tertegun, “Ibuku yang mengatakannya?”

“Aniya, Naeun yang memberitauku..” ucap Hyuna cepat.

Hyunseung menghela nafas dalam dan memandang Hyuna, “Gwenchana.. aku akan segera memperbaikinya..” ucapnya, lalu melangkah ke kamar mandi.

“ibumu berkata kau harus berkorban demi perusahaan..” ucap Hyuna, membuat Hyunseung berhenti melangkah. “Apakah aku?”

Hyunseung diam sejenak, lalu kembali memandang Hyuna. “Masuk ke kamarmu, aku sangat lelah..” ucapnya dan langsung masuk ke kamar mandi.

Hyuna sedih jika Hyunseung harus menanggung semuanya sendiri, namun dia juga tak ingin mengganggu pria itu. dia berbalik dan melangkah keluar.

“Yobo, bagaimana? Apakah masih belum ada kemajuan?” Tanya ibu Hyunseung yang menyambut suaminya masuk.

Hyuna menoleh ke pintu masuk, ayah Hyunseung juga terlihat sangat lelah.

“Belum.. Mungkin sebaiknya kita menutup perusahaan saja..” ucap ayah Hyunseung berat.

Hyuna tertegun.

Ibu Hyunseung menghela nafas berat, “Ne.. Mungkin itu yang lebih baik. Aku juga tidak ingin Hyunseung berkorban..”

Ayah Hyunseung menatap istrinya sedih dan mengangguk berat, “Ne.. Dia putra kita satu-satunya, jangan sampai dia melepaskan orang yang dia cintai hanya untuk menikahi putri dari penolong kita..”

Mata Hyuna membesar dan langsung membungkam mulutnya.

“Ne.. Ayo, kau pasti lelah..” ucap ibu Hyunseung sambil memeluk lengan suaminya dan berjalan menuju kamar.

Hyuna tak tau apa yang harus dia rasakan saat itu. kepalanya menoleh ke pintu kamar Hyunseung, ‘Jadi itu pengorbanan yang dimaksud ibumu?’ batinnya.

Suatu Malam.

Hyunseung berdiri di taman belakang sambil memandangi langit, masalah yang ada membuatnya merasa tak berdaya. Jika memilih Hyuna, dia akan membiarkan perusahaan yang telah dibangun ayahnya hancur begitu saja. Jika memilih perjodohan, dia akan melukai gadis yang sangat dia cintai. Juga hatinya sendiri. Memikirkan dirinya akan menikahi gadis lain sudah sangat membuatnya frustasi. Dia tersadar dari lamunannya merasakan seseorang memegang lengannya dan menoleh.

Hyuna tersenyum begitu Hyunseung memandangnya, “Oppa, melihat bintang?”

“Hm? Oh.. ne..” ucap Hyunseung sambil tersenyum tipis.

Hyuna berdiri disebelah Hyunseung sambil memandang langit.

Hyunseung menatap Hyuna sedih, lalu memandang langit. dia tertegun merasakan tangan Hyuna menggenggam tangannya, kepalanya kembali memandang gadis disebelahnya.

Hyuna masih menatap langit, “Oppa, menurutmu ada berapa bintang disana?”

“Ne?” Hyunseung memandang langit, “Ribuan, kurasa..”

“Dari semua bintang itu, apa kau bisa memilih satu?” Tanya Hyuna tetap sambil memandang langit.

“Mmm.. kenapa harus memilih satu jika bisa melihat semuanya?” Tanya Hyunseung.

Bibir Hyuna membentuk senyuman, lalu memandang Hyunseung. “Jika oppa harus memilih, antara aku dan keluargamu, apa oppa akan memilihku?”

Hyunseung tertegun mendengar pertanyaan Hyuna, “Kenapa kau menanyakan itu?”

Hyuna menghela nafas dalam dengan kepala tertunduk untuk menetralkan emosinya, lalu kembali memandang Hyunseung dengan senyuman diwajahnya. “Aku sudah tau apa yang sebenarnya terjadi..”

Hyunseung memutar tubuhnya menghadap Hyuna tanpa melepas genggaman tangan mereka, “Eomma yang memberitaumu?” tanyanya kesal.

Hyuna menggeleng, “Aniya.. Jangan terus menyalahkan ibumu oppa..” ucapnya.

Hyunseung menghela nafas kesal, “Ibuku memang selalu membuat masalah denganku..”

Hyuna tertawa kecil, “Aniya..” ucapnya. Keadaan hening sejenak, sebenarnya dia kembali berusaha menetralkan emosinya agar tidak menangis. “Oppa, kurasa sebaiknya oppa menikah dengan putri Tuan Nam…” ucapnya berat.

Hyunseung menatap Hyuna tak percaya, “Mwo?!”

Hyuna menatap kedua mata Hyunseung dalam, “Jika oppa menikah dengan putri dari Tuan Nam, perusahaan ayahmu akan kembali membaik. Na gwenchana..” ucapnya, berusaha terdengar setenang mungkin. Meskipun dia sendiri tak percaya mengatakan itu pada Hyunseung.

Hyunseung menatap Hyuna tak percaya hingga tak menemukan kata-kata untuk membalas ucapan gadis itu.

Hyuna menarik tangan Hyunseung dalam genggamannya dan mengelus punggung tangan pria itu, “Aku tau oppa tidak ingin melihat perusahaan yang telah dibangun ayahmu hancur begitu saja. Aku juga tau kau akan merasa bersalah jika tidak melakukan apa pun. Jadi….” Dia diam sejenak, berusaha tidak hancur karena ucapannya sendiri. “…lakukan saja perjodohan itu oppa..”

Hyunseung merasa hatinya sangat hancur mendengar ucapan Hyuna, namun saat itu dia tak bisa melakukan apa pun. Hyuna benar, dia akan merasa bersalah seumur hidupnya jika membiarkan perusahaan ayahnya hancur. Matanya terasa panas dan segera memalingkan wajah agar Hyuna tak melihatnya.

Mereka berdiri tanpa berbicara disana untuk waktu yang lama, namun tak seorang pun dari mereka yang ingin melepaskan genggaman tangan mereka.

Hyuna menghela nafas dalam dan kembali memandang Hyunseung, “Oppa, kurasa ini saatnya kita masuk..”

Hyunseung memandang Hyuna sedih dan mengangguk, “Ne..”

Hyuna tersenyum tipis, “Meskipun sakit, aku akan tersenyum untukmu..” ucapnya, namun matanya tampak dipenuhi air dan bulir air jatuh begitu saja. “Oh.. kenapa ini?” tanyanya sambil tertawa kecil dan menyeka air matanya.

Hyunseung tak bisa mengatakan apa pun, dia hanya menatap Hyuna sedih. Sejak tadi dia berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.

Sekeras apa pun Hyuna menahan tangisnya, dia tetap tak bisa. Perlahan dia menarik tangannya dari genggaman Hyunseung dan langsung melangkah cepat masuk ke rumah dengan air mata bercucuran.

Hyunseung tetap diam ditempatnya, tidak tau apa yang benar-benar harus dia lakukan. Namun dia tidak akan menangis, dia akan menahan semuanya.

<<Back           Next>>

Advertisements

4 thoughts on “Baby Boo~~ [Chapter 19]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s