Chapter

Baby Boo~~ [Chapter 18]

–I’ll Be There For You 2–

 18

“Tuan.. anda harus menghadiri rapat bersama ketua Min..” ucap Eunkwang, asisten Hyunseung.

Hyunseung mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas ditangannya, “Kemana ayahku?”

“Ayah anda sedang pergi menemui tuan Nam, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting..” ucap Eunkwang.

Hyunseung menghela nafas dalam, lalu bangkit perlahan. “Ne.. ayo..” ucapnya sambil melangkah ke pintu, Eunkwang mengikutinya dari belakang.

=Ruang Kerja Tuan Nam=

Tuan Nam memandang Hyunseung, prihatin, “Omona.. ternyata berita mengenai masalah financial perusahaanmu itu benar-benar ada?”

Ayah Hyunseung mengangguk berat, “Ne, Tuan Nam.. Karena itu, aku kemari ingin meminta kemurahan hatimu untuk memberikan sponsor untuk perusahaanku. Aku sudah membuat proposal untuk menjelaskan bagaimana semua prosesnya terjadi. Anda ingin melihatnya sekarang?”

Tuan Nam tertawa kecil, “Aigoo.. Tuan Jang, kenapa anda seperti orang yang tidak mengenalku. Kita kan sudah lama berteman, tentu saja aku akan membantumu. Tapi tidak perlu dengan proposal seperti itu..” ucapnya.

Ayah Hyunseung tersenyum, “Tuan Nam, anda memang baik hati. Lalu bagaimana proposalnya?”

Tuan Nam tersenyum, “Tuan Jang, bagaimana jika kita menggunakan cara lama saja?”

Ayah Hyunseung memandang Tuan Nam tak mengerti, “Ne? cara lama?”

Tuan Nam mengangguk, “Dengan menjodohkan putra-putri kita..”

Ayah Hyunseung tertegun, “Ne?”

Tuan Nam tertawa kecil, “Aku mendengar dari istriku kalau istrimu awalnya ingin menjodohkan putra-putri kita, tapi sepertinya tidak berjalan lancar. Tapi putriku benar-benar menyukai putramu, dia bilang putramu sangat berkarisma.. Bukankah akan lebih baik jika kita menjadi keluarga?”

Ayah Hyunseung tidak bisa mengatakan apa pun, “Oh..” dia hanya tertawa palsu karena tidak mungkin langsung menolak usul itu.

=Rumah=

Ibu Hyunseung melihat suaminya termenung di ruang kerjanya, “Yobo.. Waekeure?” tanyanya sambil melangkah masuk.

Ayah Hyunseung memandang istrinya, “Duduklah.. Ada yang ingin kubicarakan..”

Ibu Hyunseung tertegun, merasa ada sesuatu yang buruk. Perlahan dia duduk di depan suaminya dan siap mendengarkan.

“Mmm.. Aku tidak akan menyalahkanmu atas tindakanmu menjodohkan Hyunseung dan putri dari tuan Nam, jadi jangan memihak satu sisi. Araso?” Tanya ayah Hyunseung mengingatkan.

Ibu Hyunseung mengerutkan dahi, “Baiklah..”

Ayah Hyunseung menghela nafas dalam, “Hmm.. ini tentang perusahaanku..”

“Ada apa dengan perusahaan?” Tanya ibu Hyunseung.

Ayah Hyunseung bingung harus bagaimana mengatakannya, karena semua ini pasti merupakan berita baik untuk istrinya. “Perusahaanku mendapat kerugian besar akhir-akhir ini, aku tidak bisa menutupi hutang dan akan terjebak dalam masalah financial jika tidak segera menghentikan semuanya. Jadi aku meminta bantuan pada Tuan Nam untuk sponsor, dan dia memiliki ide yang sama denganmu..” ucapnya.

Ibu Hyunseung tampak tak mengerti, “Denganku?”

“Menjodohkan putra kita dan putri mereka..” jawab ayah Hyunseung.

Ibu Hyunseung tertegun, “Ne?”

Ayah Hyunseung menghela nafas dalam lagi, “Sepertinya aku harus mengucapkan selamat karena usahamu berhasil..”

Namun yang dirasakan ibu Hyunseung tidak seperti itu, dia benar-benar terkejut. “Tapi, Hyunseung sudah memiliki Hyuna..”

“Hmm.. jadi menurutmu sebaiknya aku menutup perusahaanku saja?” Tanya ayah Hyunseung.

“A.. aniya.. bukan seperti itu..” ucap ibu Hyunseung cepat.

“Sudahlah.. Tolong panggilkan Hyunseung, aku ingin berbicara padanya..” ucap ayah Hyunseung.

Ibu Hyunseung bangkit dan berjalan keluar untuk memanggil Hyunseung dikamarnya. Tak lama pria itu muncul.

Hyunseung membungkuk sopan dan duduk di hadapan ayahnya, “Waekeure appa?”

Ayah Hyunseung menghela nafas dalam dan kembali mengulang ceritanya pada Hyunseung. Membuat putranya itu terkejut.

“Ne? perjodohan?!” Tanya Hyunseung tak percaya.

“Aniya.. Gwenchana.. Kau tidak perlu melakukannya, appa akan mencari cara lain..” ucap ayah Hyunseung.

“Appa bisa mencarinya? Aku akan membantumu..” ucap Hyunseung yakin.

Ayah Hyunseung tersenyum, “Sudah kubilang, aku selalu suka optimismemu..”

“Aku akan berusaha semampuku..” ucap Hyunseung.

Namun semuanya tak semudah yang dibayangkan Hyunseung, semuanya sudah terlanjur menjadi buruk dan tidak ada orang yang mau mempercayakan uangnya membantu perusahaan ayahnya.

Hyunseung berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celananya, dia tak bisa tidur dan merasa tak tenang terus menerus. ‘Aku harus segera menemukan sponsor itu, aku tidak mungkin membiarkan perusahaan hancur setelah perjuangan ayahku selama ini..’ batinnya.

Hyuna menghampiri Hyunseung, dia juga menyadari akhir-akhir ini pria itu selalu terlihat resah. “Oppa, ada apa?”

“Hm? Oh..aniya..” jawab Hyunseung sambil tersenyum tipis.

“Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Tanya Hyuna.

Hyunseung mengelus rambut Hyuna, “Aniya.. Hanya masalah kantor..”

Hyuna memegang tangan Hyunseung yang mengelus rambutnya dan menggenggamnya erat, “Oppa bisa menceritakannya padaku..”

Hyunseung menatap Hyuna sedih, lalu menggeleng pelan. “Aku akan menyelesaikannya.. Kau tenang saja..”

Hyuna menatap Hyunseung sedih, lalu memeluk pria itu hangat.

Hyunseung memeluk Hyuna namun memandang gadis itu bingung, “Wae? Bagaimana jika ada yang melihat?”

Hyuna mendongak memandang Hyunseung dan meletakkan dagunya di dada pria itu, “Aku tidak peduli, saat ini aku ingin membuatmu tau kalau aku akan selalu disisimu. Aku akan memelukmu disaat kau merasa tidak sanggup berdiri, mendengarkan semua yang membuat dadamu terasa sesak. Juga tersenyum untukmu disaat semua orang mengacuhkanmu..” ucapnya tulus.

Hyunseung tersentuh mendengar ucapan Hyuna, perlahan bibirnya membentuk senyuman sambil mengelus rambut gadis itu. “Saranghaeyo..” ucapnya, lalu menunduk untuk mencium bibir gadis itu lembut.

Hyuna tersenyum sambil menatap kedalam mata Hyunseung tanpa melepaskan pelukannya.

Hyunseung seperti mendapatkan kekuatan untuk menghadapi semuanya berkat dukungan Hyuna. Dengan lembut dia merapikan poni gadis itu, ‘Aku akan berjuang, tidak akan lama..’ batinnya.

Dari ruang tengah, ibu Hyunseung menatap kedua anak muda itu sedih. Sejujurnya sekarang dia lebih ingin melihat senyum itu diwajah putranya.

=Beberapa Hari Kemudian=

Hyuna tersenyum melangkah masuk ke kantor Hyunseung untuk memberikan makan siang, karena pria itu terlalu sibuk bekerja hingga lupa makan. “Permisi, apakah Jang Hyunseung ada dikantornya?” tanyanya pada gadis di bagian informasi.

Gadis itu memandang Hyuna, namun tampak mengerutkan dahinya.

“Apakah ada?” Tanya Hyuna lagi.

“Ne? oh.. sebentar nona..” ucap gadis itu sambil mengambil telepon dan menghubungi keruangan Hyunseung. Setelah berbicara beberapa saat dia kembali memanadng Hyuna, “Tuan Jang Hyunseung ada di ruangannya nona..” ucapnya.

Hyuna tersenyum, “Bisakah aku tau dimana ruangannya?”

Gadis itu memandang Hyuna seperti ada sesuatu yang salah, “Mmm.. apa anda sudah membuat janji nona?”

Hyuna garuk-garuk kepala, “Belum, aku hanya ingin memberikan sesuatu.”

“Mmm.. ruangan Tuan Jang Hyunseung ada di lantai dua sebelah kiri ruang rapat nona..” ucap gadis itu memberitau.

Hyuna mengangguk, “Ne, terima kasih..” ucapnya dan langsung melangkah riang menuju lift.

Gadis tadi memperhatikan Hyuna sejenak, lalu berpikir.

Hyuna keluar dari lift dan mencari-cari dimana ruangan Hyunseung, hati-hati dia mendekati meja secretaries.

Gadis di balik meja itu berdiri, “Annyeonghaseo nona, apa yang bisa kubantu?”

Hyuna tersenyum, “Apakah Jang Hyunseung ada?” tanyanya.

Gadis itu tertegun mendengar pertanyaan Hyuna, lalu memandang Hyuna dari atas kebawah. “Tuan Jang?”

Hyuna bingung kenapa gadis itu memandangnya seperti ada yang aneh padanya, dia memperhatikan dirinya. Tidak terlihat aneh sama sekali. Apa karena rambut pirangnya yang terikat rapi itu, “Wae? Dia tidak ada?”

“Oh.. animida..” jawab secretaries Hyunseung, “Tuan Jang masih diruang rapat nona, mungkin baru selesai nanti sore..”

“Ohh.. begitu..” ucap Hyuna sedikit kecewa.

“Apakah ada pesan nona?” Tanya secretaries Hyunseung.

“Mmm.. ini, apakah aku bisa menitipkan ini untuknya?” Tanya Hyuna sambil meletakkan tempat makanan yang dia bawa di meja, “Dia sering lupa makan akhir-akhir ini..”

Gadis itu kembali tertegun melihat Hyuna memberikan makanan untuk Hyunseung, “Ne?”

Hyuna tak mengerti mengapa gadis itu terlihat kaget, “Wae? Apa aku tidak bisa menitipkan ini?”

“Bukan nona.. anda bisa menitipkannya..” ucap gadis itu.

Hyuna tersenyum tipis, “Baiklah, aku permisi..” ucapnya sambil melangkah pergi. Selama menunggu didalam lift, dia terus berpikir mengapa dua gadis tadi memandangnya aneh. Padahal dia mengenakan pakaian normal, tidak norak, juga rapi. Kakinya kembali melangkah ketika pintu lift terbuka.

“Aku yakin sekali itu gadis yang kulihat di klub itu..” ucap gadis di bagian informasi tadi pada teman prianya.

Hyuna berhenti melangkah mendengar ucapan itu dan mendengarkan.

“Hm? Yang mana?” Tanya teman pria gadis tadi.

“Itu, gadis yang menari di ruang VIP. Yang membuatmu berteriak tidak henti..” ucap gadis itu mengingatkan.

“Oh! Jinja? Yang super sexy itu?” Tanya pria tadi.

“Cih.. untuk apa sexy jika kau tidak mempertunjukkan tubuhmu seperti itu..” ucap gadis itu jijik.

“Aishh.. kau tidak mengerti tentang itu..” ucap pria itu, “Oh ya, untuk apa dia kemari? Dimana dia? Hihihi.. mungkin aku bisa mengajaknya keluar..” candanya.

Gadis itu menatap temannya itu bingung, “Dia datang menemui Tuan Jang Hyunseung..”

“Hm? Jinja?! Tuan Jang Hyunseung?!” ucap pria itu tak percaya.

“Ne.. ahh.. kupikir Putra Tuan Jang memiliki selera gadis yang lebih tinggi, ternyata juga menggunakan gadis seperti itu..” ucap gadis tadi meremehkan.

Hyuna terpaku ditempatnya, hatinya benar-benar sakit. Sekarang dia tau mengapa mereka tampak terkejut. ‘Apa yang kau pikirkan Hyuna? Kenapa kau datang kemari?’ batinnya, lalu melangkah cepat meninggalkan tempat itu.

Sementara itu, Hyunseung melangkah menuju ruangannya dengan wajah kesal. Dia tak kunjung bisa meyakinkan para rekan bisnisnya untuk menjadi sponsor untuk perusahan. Eunkwang mengikutinya dari belakang.

Secretaries Hyunseung berdiri dan membungkuk sopan, “Tuan Jang, ada titipan untukmu..” ucapnya.

Hyunseung berhenti melangkah dan memandang secretarisnya, “Ne? apa?”

Gadis itu memberikan tempat makan yang dibawa Hyuna tadi, “Ini Tuan..”

Dahi Hyunseung berkerut melihat tempat makan itu, “Siapa yang memberikannya?”

“Mmm.. dia tidak menyebutkan namanya Tuan, tapi seorang gadis..” ucap secretaries Hyunseung memberitau.

Hyunseung tertegun, “Gadis? Berambut pendek dan pirang?”

“Ne, tuan..” jawab secretaries Hyunseung.

“Lalu dimana dia sekarang?” Tanya Hyunseung.

“Dia langsung pergi tuan..” jawab gadis itu.

“Baru saja pergi?” Tanya Hyunseung sambil memberikan tempat makan itu pada Eunkwang.

Eunkwang bingung memegang tempat makan itu.

“Baru saja tuan..” jawab secretaries Hyunseung.

Hyunseung langsung berlari kecil meninggalkan Eunkwang dan secretarisnya menuju lift untuk mengejar Hyuna.

“Tuan Jang..” panggil Eunkwang bingung.

Hyunseung langsung mendorong pintu lift terbuka dan setengah berlari keluar, namun Hyuna tak terlihat. Kepalanya menoleh kesekitar.

“Omo.. omo.. gadis itu berjalan di antara orang-orang seperti tidak punya malu..” ucap gadis di meja informasi.

Hyunseung berhenti dan menoleh ke meja informasi.

“Ya.. apa-apaan kau.. Memangnya penari striptis tidak boleh memiliki kehidupan social?” Tanya teman prianya aneh.

“Aigoo.. dia hanya akan merusak mata pria-pria sepertimu..” ucap gadis tadi.

Hyunseung kembali mengedarkan pandangannya dan melihat Hyuna melangkah menuju pintu keluar. Rahangnya tampak mengeras mendengar ucapan karyawannya, “Hyuna!!” panggilnya lantang, tidak peduli semua orang langsung memandangnya.

Hyuna berhenti mendengar namanya dipanggil, lalu berbalik perlahan.

“Omo.. tuan Jang Hyunseung..” bisik gadis tadi.

Hyunseung tersenyum lebar melihat Hyuna sambil menghampirinya.

“Oppa?” ucap Hyuna bingung.

Hyunseung memegang tangan Hyuna, “Kenapa kau pergi begitu saja? Seharusnya kau menemuiku dulu..”

Hyuna menunduk sambil berusaha menarik tangannya, “Aku pergi saja..” ucapnya sambil membungkuk sopan.

Hyunseung tetap mempertahankan pegangannya, “Wae? Paling tidak kau harus menemaniku makan..” ucapnya sebal.

Hyuna menatap Hyunseung sedih, “Oppa..”

Hyunseung menggeleng, “Kau tidak boleh pergi sebelum aku selesai makan..” ucapnya, lalu menarik Hyuna kembali menuju lift tanpa mempedulikan tatapan para karyawannya.

Hyuna terus menundukkan wajahnya, tak menyangka orang-orang disana juga pernah melihatnya di klub. Dia merasa tidak nyaman karena Hyunseung akan mendapat dampak buruk karena dirinya.

Ketika menunggu lift bergerak naik, Hyunseung memandang wajah Hyuna yang terus menunduk. “Hyuna-a, kenapa kau terus menunduk?”

Hyuna memandang Hyunseung, lalu kembali menunduk. “Oppa.. sebaiknya aku langsung pulang saja..” ucapnya sambil menjauh dari pria itu.

Hyunseung kesal karena kekasihnya jadi merasa tidak nyaman akibat karyawannya, tangannya kembali menarik Hyuna kesisinya. “Andwae..”

“Oppa..” Hyuna berusaha melepaskan tangan Hyunseung dari lengannya.

Hyunseung menatap Hyuna tegas, “Kau bisa pulang setelah menemaniku makan!”

Hyuna menatap Hyunseung tak mengerti, “Oppa..”

Pintu lift terbuka, Hyunseung merangkul Hyuna dan membawanya keluar. Beberapa karyawan yang berlalu membungkuk sopan dan menyapa pria itu ketika berlalu. Dia hanya menganggukkan kepala. Saat hendak masuk ke ruangannya, dia tertegun mendengar obrolan Eunkwang bersama secretarisnya.

“Kau yakin? Kan banyak gadis berambut pirang seperti itu..” ucap Eunkwang yang masih memegangi tempat makanan yang diberikan Hyunseung tadi.

Hyunseung berhenti melangkah dan melirik Hyuna yang semakin menunduk.

“Aniya.. Sekali melihat saja aku sudah tau itu dia..” ucap secretaries Hyunseung yakin.

“Ohh.. Tuan Jang menggunakan gadis seperti itu? aku tidak mengerti mengapa dia seperti itu.. Apa karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak sempat mendapatkan kekasih?” ucap Eunkwang tak mengerti.

Hyuna berusaha menahan air matanya sambil melepaskan tangan Hyunseung dari bahunya, “Aku pergi..” ucapnya sambil berbalik.

Hyunseung langsung menarik pinggang Hyuna tetap disisinya dan memandang gadis itu, “Aku tidak menggunakanmu, kenapa kau pergi?” tanyanya pelan.

Hyuna hanya menunduk. Tangan Hyunseung kembali menggenggam tangannya dan menariknya masuk.

Eunkwang dan secretaries Hyunseung langsung tertegun melihat pria itu masuk bersama Hyuna.

Hyunseung berhenti didepan kedua karyawannya dengan wajah dingin, lalu menatap secretarisnya. “Nona Jung, apa kau pernah menari di klub?” tanyanya dingin.

Secretaries Hyunseung tertegun, “Ne? oh.. beberapa kali, Tuan Jang..” jawabnya dengan kepala tertunduk.

“Lalu, apa kau juga sering digunakan pria?” Tanya Hyunseung.

Secretaries Hyunseug dan Eunkwang menatap pria itu kaget, “Tu..Tuan Jang?”

“Kekasihku memang menari di klub, tapi apa kau pernah melihatnya di sentuh oleh pria?” Tanya Hyunseung dingin.

Secretaries Hyunseung menunduk menyesal, “Cesonghamida..”

Hyunseung menatap gadis itu seperti akan membekukanya, lalu mengambil tempat makan dari tangan Eunkwang dan menarik Hyuna masuk ke ruangannya.

Eunkwang membungkuk sopan ketika Hyunseung berlalu, lalu memandang secretaries Jung yang tampak hampir menangis mendengar ucapan kasar pria itu. “Kau ini, seharusnya kau hati-hati ketika berbicara..”

Hyunseung berhenti di tengah ruangannya sambil menghela nafas dalam, lalu meletakkan tempat makanan di meja dan berbalik memandang Hyuna. Bulir air tampak mengalir dari matanya. Bibirnya membentuk senyuman dan menyeka air mata gadis itu, “Uljimara..” ucapnya.

Hyuna memandang Hyunseung menyesal, “Oppa, tidak perlu seperti itu..”

Hyunseung mengelus rambut Hyuna, lalu memeluknya. “Jika bukan aku, siapa yang akan melindungimu?”

<<Back           Next>>

Advertisements

4 thoughts on “Baby Boo~~ [Chapter 18]

  1. omoo omooo…
    ituuuu kata2 terakhir nya oppa ngena bangeeettt…
    ahhh oppa….
    semoga oppa bisa buktikan kalo oppa bisa ngusahain perusahaan tanpa perlu perjodohan segalaaaa..
    hwaiting oppa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s