Chapter

Baby Boo~~ [Chapter 16]

–Yes Or No?–

 16

Taemin memandang Naeun bingung karena selalu termenung, “Hei..”

Naeun tertegun dan memandang Taemin, “Ne?”

Dahi Taemin berkerut, “Ada apa? Kau termenung terus..”

Naeun tersenyum malu, “Miane oppa..” ucapnya menyesal dan menunduk sambil garuk-garuk kepala.

“Wae? Ada sesuatu lagi pada Hyuna?” Tanya Taemin.

“Mmm.. itu..” ucap Naeun bingung, “Saat aku datang ke rumah nenek Hyunseung oppa, Hyuna terlihat aneh sekali.”

“Aneh bagaimana?” Tanya Taemin ingin tau.

Naeun berusaha memikirkan kalimat yang pas untuk mengatakan maksudnya, “Mmm.. itu, Hyuna berbicara dengan seorang gadis. Dia sampai tidak berkedip menatap gadis itu, tapi aku tidak melihat siapapun..”

Taemin tertegun, “Hm? Maksudmu dia melihat hantu?”

“mmm.. aku tidak yakin juga, tapi Hyuna bukan orang yang terlalu percaya dengan hal seperti itu sebelumnya..” ucap Naeun bingung.

Taemin berpikir sejenak, “Naeun-a, dulu, dikeluargaku pernah terjadi gangguan makhluk halus seperti itu. Nenekku pernah berkata, jika ada makhluk halus didekat kita, kita akan merasa udara berubah dingin.”

“Mmm.. apa menurutmu kita bisa membantu Hyuna?” Tanya Naeun.

Taemin berpikir sejenak, “Itu ide bagus..” jawabnya.

Naeun tersenyum, “Ne…”

=Rumah Hyuna+Hyunseung=

Hyunseung keluar dari kamarnya sambil merapikan rambut bagian belakangnya dan melangkah melewati pintu kamar Hyuna, namun langkahnya terhenti mendengar suara gadis itu karena pintunya tidak tertutup rapat. Jadi dia berhenti dan mendengarkan dengan dahi berkerut.

“Ada apa disana?” terdengar suara Hyuna seperti sedang mengobrol dengan seseorang, “Aku tidak bisa kesana jika tidak ada alasannya..”

Dahi Hyunseung semakin berkerut karena setahunya gadis itu tidak pernah memiliki ponsel, tangannya terulur dan mendorong pintu agar terbuka lebih lebar sambil mengintip kedalam.

“Hm?” Hyuna memandang kesisi kanannya, lalu memandang kebelakang. “Oppa?”

Hyunseung memandang kesekitar kamar dan memandang Hyuna bingung, “Hyuna, tadi sepertinya aku mendengarmu berbicara..”

Hyuna tertegun, “Hm? Ohh.. tadi aku berbicara pada diriku sendiri..” jawabnya sambil tersenyum gugup.

Hyunseung memandang Hyuna bingung, “Berbicara dengan dirimu?”

Hyuna melirik ke kanan dan berjalan menghampiri Hyunseung dengan senyuman manisnya, “Waeyo oppa?” tanyanya.

“Mmm.. aniya..” jawab Hyunseung.

“Hyunseung-ssi..” ucap Eunhye dari pintu kamar Hyuna.

Hyunseung memandang ke pintu, begitu juga dengan Hyuna. “Ne?”

“Ada tamu..” ucap Eunhye memberitau.

“Hm? Siapa?” Tanya Hyunseung.

“Dokter Seo..” jawab Eunhye, “Dia berkata ingin memastikan keadaan Hyuna-ssi..”

Hyunseung memandang Hyuna, “Oh.. begitu, baiklah kami akan segera turun..”

Dokter Seo yang berusia sekitar 26 tahun itu langsung berdiri begitu melihat Hyuna dan Hyunseung muncul, “Oh.. annyeonghaseo..” sapanya.

Hyunseung tersenyum, “Annyeonghaseo, silahkan duduk dokter Seo..” ucapnya sopan.

Hyuna masih berdiri disebelah Hyunseung memandang Boram yang berdiri didekat dokter Seo sambil menatap pria itu sedih.

Hyunseung memandang Hyuna bingung, “Hyuna?”

Hyuna terasadar dan memandang Hyunseung, “Ne? oh.. maaf..” ucapnya dan membungkuk sopan pada dokter Seo, “Annyeonghaseo dokter..” sapanya dan duduk disebelah pria itu.

Dokter Seo tersenyum, “Sepertinya kau sudah baik-baik saja Hyuna-ssi?”

Hyuna tersenyum, “Ne, dokter.. terima kasih.” Ucapnya, namun dia tertegun melihat Boram memandangnya seperti ingin menyampaikan sesuatu.

Boram memandang Hyuna dan memandang dokter Seo.

“Hyuna-ssi?” panggil Dokter Seo.

Hyuna tersadar mendengar panggilan dokter Seo, “Ne?”

Hyunseung memandang Hyuna khawatir, “Ada apa denganmu?”

“Hm? Oh.. aniya.” Jawab Hyuna pelan.

“Dia sering termenung seperti ini sejak tinggal disini, aku sendiri tidak tau ada apa padanya..” ucap Hyunseung pada dokter Seo.

Hyuna memandang Hyunseung bingung.

Dokter Seo tersenyum pada Hyuna, “Hyuna-ssi, waekeure? Sesuatu mengganggu pikiranmu?”

Hyuna memandang Dokter Seo bingung, lalu kembali melirik Boram yang sepertinya ingin dia mengatakan sesuatu. “Mmm.. Dokter Seo, apa kau mengenal seseorang bernama Boram?”

Wajah Dokter Seo berubah kaku dan menatap Hyuna kaget, “Ne?”

Sekarang Hyunseung yang memandang Hyuna bingung, “Siapa itu?”

Dokter Seo tampak bingung, “Ne, Boram adalah adikku..”

Hyuna tertegun dan memandang Boram, tampak gadis itu menitikkan air matanya menatap Dokter Seo.

“Ada apa Hyuna-ssi? Bagaimana kau mengetahui Boram?” Tanya Dokter Seo.

“Hm? Mmm.. aku tidak tau juga sebenarnya..” jawab Hyuna bingung.

“Mmm.. Boram menghilang beberapa bulan lalu, aku belum menemukan berita apa pun tentangnya. Jika kau mengetahui dimana dia, kau bisa memberitauku..” ucap Dokter Seo memberitau.

Hyuna menatap Dokter Seo sedih, bagaimana dia mengatakan kalau adiknya telah meninggal? “Ne..” jawabnya berat.

“Baiklah, aku permisi..” ucap Dokter Seo sambil berdiri, lalu berpamitan sedikit pada Hyunseung dan langsung pergi.

Begitu Dokter Seo keluar, bulir air mata Hyuna berjatuhan memandang Boram yang juga menangis.

Hyunseung terkejut melihat kekasihnya menangis, “Hyuna, waekeure?” tanyanya sambil memegang kedua pipi Hyuna.

Hyuna menggeleng sambil melepaskan tangan Hyunseung dan langsung naik ke lantai atas.

Sorenya.

“Hyuna-a, apa kau masih melihat gadis yang bilang itu?” Tanya Naeun pada Hyuna saat dia berkunjung.

Hyuna tertegun mendengar pertanyaan Naeun, “Waeyo?”

“Mmm.. Taemin oppa bilang, jika kau melihat arwah seseorang, itu berarti ada sesuatu yang mereka ingin kau lakukan..” jelas Naeun.

Hyuna melirik Boram yang berdiri memandang rumah sebelah dari jendela, lalu kembali memandang Naeun. “Lalu apa yang harus kulakukan?”

Naeun merapat pada Hyuna, “Apa kau masih melihatnya?” bisiknya, lalu memperhatikan sekitar ngeri.

“Dia adik dokter yang tinggal disebelah rumah ini..” ucap Hyuna sedih.

“Ne? lalu, apa yang dia ingin kau lakukan?” Tanya Naeun ingin tau.

Hyuna memandang ke jendela, “Sepertinya dia ingin aku memberitau oppanya kalau dia sudah meninggal. Karena semua orang masih berpikir dia hilang..”

Naeun memandang ke jendela ngeri, “Oh! Apa dia disana?” tanyanya.

“Ne..” jawab Hyuna pelan, lalu memandang Naeun. “Apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Ya.. beritau saja oppanya..” jawab Naeun.

Hyuna menunduk sedih, “Tapi.. bagaimana aku mengatakan kalau adik yang dia cari telah meninggal?”

“Mmm..” Naeun berpikir sejenak, “Atau kau Tanya saja pada hantu itu kapan dan mengapa dia meninggal, beres kan?”

“Tapi aku tidak bisa berkomunikasi dengannya, dia hanya bisa mengangguk atau menggeleng menjawabku..” jawab Hyuna.

“Hm? Kenapa begitu?” Tanya Naeun.

Hyuna mengangkat bahu.

Malam itu, Hyunseung kembali tidur di kamar Hyuna karena melihat gelagat gadis itu semakin parah.

Hyunseung keluar dari kamar mandi dan melihat Hyuna memandang sedih keluar jendela, “Hyuna, apa yang kau lihat?” tanyanya sambil menghampiri gadis itu.

“Hm? Ahh.. ani..” jawab Hyuna.

Hyunseung menatap Hyuna khawatir, “Sebenarnya ada apa denganmu? Kau membuatku sangat khawatir..”

Hyuna tersenyum tipis, “Aniya..” jawabnya.

Hyunseung mengelus kepala Hyuna sambil menatapnya dalam, “Kau tidak suka tinggal disini?”

Hyuna tersenyum sambil mengelus dada bidang Hyunseung, “Aku suka oppa, disini sangat indah..”

Hyunseung hanya bisa menghela nafas dalam, “Ya sudah, ayo tidur..” ucapnya sambil merangkul Hyuna dan membawanya ke tempat tidur. Dia menarik selimut dan naik ke tempat tidur bersama gadis itu.

Hyuna berbaring di bantalnya dan memejamkan mata, Hyunseung mematikan lampu meja dan berbaring disebelahnya. Beberapa saat memejamkan mata, Hyuna kembali membuka mata dan memandang Hyunseung. “Oppa..”

Hyunseung membuka mata dan memandang Hyuna, “Wae?”

Hyuna menghela nafas dalam, “Jika seseorang yang kau kenal menghilang dan suatu hari ada orang yang memberitaumu dia meninggal, apa yang kau lakukan?”

Dahi Hyunseung berkerut, “Ne?”

Hyuna menunggu jawaban Hyunseung.

Hyunseung bergerak bangkit dan bersandar dengan sikunya agar bisa menatap wajah Hyuna lebih jelas, “Aku tidak mengerti maksud ucapanmu..”

“Aku tidak meminta oppa mengerti, jawab saja..” ucap Hyuna.

Hyunseung menatap Hyuna tak mengerti, lalu garuk-garuk belakang kepalanya. “Hmm.. aku akan mencari tau dimana tubuhnya…” jawabnya asal.

Hyuna tertegun, lalu berpikir sejenak. ‘Itu yang diinginkan Boram?’ batinnya.

“Wae?” Tanya Hyunseung.

Hyuna menggeleng dan tersenyum tipis, “Selamat malam..” ucapnya, lalu memutar tubuhnya membelakangi Hyunseung untuk tidur.

Hyunseung benar-benar tak mengerti mengapa Hyuna menanyakan itu, namun melihat gadis itu sudah memejamkan matanya, dia ikut berbaring dan memejamkan matanya.

Beberapa jam kemudian, Hyuna terbangun ada seseorang yang memanggilnya. Begitu membuka mata, tampak Boram berdiri memandangnya. Perlahan dia bergerak bangkit duduk, “Boram, kau ingin aku memberitau dokter Seo dimana tubuhmu?”

Boram mengangguk pelan.

“Tapi, bagaimana aku memberitaukannya?” Tanya Hyuna bingung. Kepalanya menoleh mendengar pintu terbuka sendiri, Boram sudah berdiri didepan pintu menunggunya. Dia mengerti kalau gadis itu ingin dia mengikutinya, dia segera turun dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar. Ketika keluar dari pintu kamar, Boram sudah berdiri di anak tangga paling bawah. “Tunggu aku..” ucapnya sambil berlari kecil mengikuti gadis itu.

Hyuna bingung mengapa Boram membimbingnya ke belakang rumah besar itu, “Kenapa kau membawaku kemari?” tanyanya.

Boram memandang ke pintu gudang, lalu kembali memandang Hyuna.

Hyuna tertegun, “Maksudmu, aku masuk kesana?”

Boram mengangguk pelan.

Hyuna menelan ludah gugup, lalu menghela nafas dalam. Perlahan tangannya terulur dan mendorong pintu gudang itu terbuka. Kepalanya mengintip kedalam, ruangan itu sangat gelap dan banyak jaring laba-laba disana. Dia sangat takut dengan laba-laba. Kepalanya menoleh pada Boram yang sudah lebih dulu didalam, “Boram, disini mengerikan..” ucapnya takut.

Boram memandang Hyuna memohon, lalu memandang ke dalam.

Hyuna tidak tau mengapa dia ingin melakukan itu. dia kembali menghela nafas dalam dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam perlahan sambil melindungi kepalanya agar tidak terkena jaring laba-laba, apalagi sampai kejatuhan hewan itu. kakinya dengan hati-hati melangkah didalam kegelapan itu. “Boram, kau dimana?” bisik Hyuna sambil melirik ke kanan dan kiri ngeri.

Boram kembali muncul di depan Hyuna, membuat gadis itu terlonjak kaget.

“Omo! Boram! Jangan muncul tiba-tiba seperti itu!” ucap Hyuna kaget.

Boram menoleh kesisi kanannya.

Hyuna memandang ke sisi kanan Boram, “Wae?” tanyanya.

JLEDAARRR!!!

Hyuna terlonjak mendengar suara petir yang tiba-tiba menyambar, lalu terdengar bunyi hujan rintik-rintik yang langsung berubah menjadi hujan lebat. “Omo! Bunyinya menyeramkan.” Ucapnya. Lalu kembali memandang Boram, “Kenapa berhenti disini?”

Boram memandang Hyuna, lalu berputar ke sisi kanan dan melangkah menembus dinding.

Mata Hyuna membesar, “Boram! Boram!” panggilnya sambil memeriksa dinding itu, “Ahh.. bagaimana caraku melalui dinding ini?” ucapnya bingung sendiri.

Sementara itu, Hyunseung tersentak dari tidurnya karena petir yang menyambar tadi. “Ahhh…” rintihnya pelan karena kepalanya jadi terasa pusing karena tiba-tiba terbangun sambil mengelus dahinya. Tangannya yang lain terulur ke sebelahnya namun tak merasakan siapa pun disana. Matanya terbuka dan menoleh kesamping. Tidak ada siapa pun. Dia langsung bangkit duduk dan memandang sekitar, “Hyuna..” panggilnya, “Hyuna!” panggilnya lagi sambil menyibak selimut dan melangkah kekamar mandi untuk memeriksa, namun tidak ada. “Hyuna!!” panggilnya sambil keluar dari kamar. “Ya! Kim Hyuna!” panggilnya sambil melihat ke lantai bawah, lalu segera melangkah cepat menuruni tangga. “Hyuna!!!” teriaknya mulai panic.

Digudang.

Hyuna tertegun merasakan sesuatu yang menonjol di dinding di bagian bawah, namun karena gelap dia tak bisa melihatnya dengan jelas. “Apa ini?” gumamnya sendiri, lalu menekan benda itu. secara mengejutkan, dinding disebelahnya langsung terbuka seperti pintu rahasia. “oh.. ada pintu rahasia..” ucapnya sendiri. Dia membuka pintu itu dan menjulurkan kepalanya masuk, “Boram?” bisiknya sambil memandang kedalam, namun tak terlihat apa pun karena gelap. Namun tiba-tiba sebuah lampu disudut ruangan menyala. Meskipun awalnya terkejut, akhirnya dia sadar kalau Boram yang membantunya. Gadis itu berdiri di seberang ruangan kecil itu, disebuah pintu yang terlihat terbuat dari besi. “Kenapa kemari?”

Boram berbalik dan melangkah menembus pintu besi itu.

“Hm? Boram! Kenapa kau meninggalkanku lagi?” Tanya Hyuna sambil berlari kecil kesana. Tapi dia tak bisa membuka pintu itu, “Oh.. eoteokhe?” tanyanya sambil berusaha mendorong pegangan pintu. Dia terkejut merasakan seseorang memegang bahunya, “OH!!” serunya kaget sambil berbalik.

“Hyuna-ssi? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Eunhye heran.

“Ahhh.. Eunhye-ssi, kupikir siapa..” ucap Hyuna lega, “Oh.. kau kan sudah lama menjaga rumah ini, apa kau tau cara membuka pintu ini?” tanyanya sambil menunjuk pintu besi itu.

Eunhye memandang pintu itu, lalu memandang Hyuna bingung. “Kenapa kau ingin membukanya?”

“Hm? Oh.. itu.. aku.. aku hanya ingin tau apa isinya..” ucap Hyuna memberi alasan.

“Tapi ini sudah malam, juga hujan lebat diluar. Lebih baik kau kembali ke kamarmu..” ucap Eunhye.

“Aku hanya ingin melihat, setelah itu aku akan kembali ke kamarku..” ucap Hyuna.

Eunhye diam sejenak, “Apa Hyunseung-ssi tau kau kemari?”

“Mmm.. ani, tadi oppa masih tidur..” jawab Hyuna sambil garuk-garuk kepala.

Eunhye mengangguk mengerti, “Jika membukanya kau harus mendorongnya seperti ini…” ucapnya sambil memegang pegangan pintu dan mendorongnya dengan bantuan bahunya.

Hyuna tersenyum melihat pintu itu terbuka, “Wuaaa terbuka..” ucapnya senang, namun senyumnya langsung menghilang melihat isinya dipenuhi batu es dan juga terasa sangat dingin. “Hm? Tempat apa ini?” tanyanya.

Eunhye tersenyum sinis, “Tempatmu mati, Hyuna-ssi..” ucapnya dan langsung mendorong Hyuna kedalam.

“Ahhk!!” seru Hyuna yang terjerembab kedalam ruangan super dingin seperti freezer ukuran besar itu, matanya membesar melihat pintu ditutup Eunhye dari luar. “Oh!! Park Eunhye-ssi!! Buka pintunya!!” teriaknya sambil berusaha membuka pintu, namun pintu itu hanya bisa terbuka dari luar. “Park Eunhye-ssi!!” teriak Hyuna sambil memukuli pintu itu, namun udara dingin membuat tubuhnya menggigil, dia langsung memeluk dirinya dan memandang sekitar ngeri. Saat itu dia melihat Boram, bukan hantunya, tapi jasadnya. Gadis itu duduk disisi lain ruangan itu dengan kepala berat kesatu sisi dan es yang membekukan tubuhnya. “Boram?” gumamnya tak percaya, ternyata mayat gadis itu ada disana. Dirumahnya.

<<Back           Next>>

Advertisements

6 thoughts on “Baby Boo~~ [Chapter 16]

  1. euhh ternyata yg bunuh boram sii eunhye..
    jahaatt banget sichhh..
    dan cara bunuh ny kejam bgt..
    d taruh d friser gto mati pelan2 tersiksa..
    aduuhhhh gmna cara hyuna unni keluar dr situuuu..
    jgn sampe knpa2..
    ayoo oppa cari hyuna unni…
    😦

  2. Hahh itu beneran hantu *masihgapercaya biasanya kalo cerita ff yg ada hantunya aku langsung berhenti baca tapi buat yg ini trus bikin aku klik next hehehe
    Penasarannnnn *lanjut baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s