Chapter

Baby Boo~~ [Chapter 9]

–I’ll Be There For You–

 9

Eunji menghampiri ibu Hyunseung yang sedang membaca majalah di ruang tengah, “Gommo..” sapanya sambil ikut membaca majalan ditangan wanita itu, matanya membesar. “Omo! Ini tas edisi spesial itu kan?!”

Ibu Hyunseung memandang Eunji, “Kau tau juga?”

“Keurom! Aku sangat menginginkannya! Apa sekarang mereka menjualnya lagi?” Tanya Eunji penuh harap.

“Ne.. namun sangat terbatas.” Jawab Ibu Hyunseung.

“Ahh.. pasti sangat sulit mendapatkannya..” ucap Eunji kecewa.

Ibu Hyunseung tersenyum, “Tenang saja, teman gommo memiliki butik yang menjual tas seperti ini. Gommo akan memintanya menyimpankan satu untukmu.”

Eunji menatap bibinya tak percaya dengan senyuman lebar diwajahnya, “Jeongmall?!! Wuaaaa!!!” serunya sambil bertepuk tangan girang.

Ibu Hyunseung tertawa kecil, “Kau masih saja selalu histeris..” ucapnya lucu.

Eunji cengengesan, lalu kembali melihat-lihat majalah itu. namun sebenarnya topic yang ingin dia bicarakan bukan tenang tas itu, melainkan Hyunseung. “Mmm.. gommo, apa Hyunseung memiliki kekasih?” tanyanya.

Ibu Hyunseung memandang Eunji bingung, “Wae?”

“Habis, Taemin selalu bertingkah seperti kekasih Hyunseung. Aku takut jika ternyata Hyunseung malah tergoda olehnya..” jelas Eunji memberi alasan.

Ibu Hyunseung menahan tawa, “Aniya.. Hyunseung tidak akan tergoda.. Kau ini..” ucapnya lucu.

“Tapi, aku tidak pernah melihat Hyunseung bersama seorag gadis..” ucap Eunji.

Ibu Hyunseung menghela nafas berat memikirkan jawaban dari pertanyaan Eunji.

“Waeyo gommo?” Tanya Eunji penasaran.

“Hyunseung akhir-akhir ini berkata dia menyukai seorang gadis bernama Hyuna..” jawab ibu Hyunseung.

‘Bingo!!’ batin Eunji, “Hyuna? Mmm.. apa aku pernah mendengarnya ya?” ucapnya berpura-pura berpikir.

“Dia putri salah seorang rekan kerja ayah Hyunseung. Tapi ayahnya bangkrut dan melarikan diri keluar negeri tanpa memikirkan Hyuna dengan uang bantuan dari ayah Hyunseung. Aigoo.. betapa buruknya dia..” ucap Ibu Hyunseung kesal.

Eunji mengangguk mengerti, “Hmm.. begitu. Gommo tidak menyukai Hyuna?”

“Hyuna anak yang manis, juga baik. Tapi dengan status keluarga seperti itu semua orang akan memandang rendah pada kami..” ucap Ibu Hyunseung.

Eunji tertawa kecil, “Gommo, ucapan apa itu?” ucapnya lucu, “Saat ini kan tidak ada batas status lagi untuk rasa cinta..”

Ibu Hyunseung menghela nafas dalam, “Ne.. Tapi bayangkan saja jika Hyunseung bersama Hyuna, paman akan mulai mendapat kesulitan karena status Hyuna itu. apalagi sekarang semua orang sudah tau bagaimana ayahnya..”

“Ohh.. begitu..” ucap Eunji asmbil mengangguk mengerti. Diam-diam dia tersenyum karena mendapatkan penyebab kejadian itu.

=Sekolah=

Hyuna duduk termenung di kelas seorang diri. Mengingat bagaimana ekspresi Hyunseung semalam, dia tau pria itu sangat marah. ‘Apa aku bisa menjalani ini sendiri? Tidak ada appa dan Hyunseung oppa.. Kenapa semua ini terjadi padaku?’ batinnya sedih.

Naeun menoleh kearah Hyuna dan melihat gadis itu menunduk sedih ditempatnya, “Hmm.. apa yang harus kulakukan untuknya?” gumamnya.

Istirahat tiba.

Naeun tertegun melihat Hyuna menghampirinya dan langsung tersenyum lebar, “Hyuna-a..”

Hyuna menunduk, tidak mau Naeun melihat kesedihannya saat itu. “Ini..” ucapnya sambil memberikan amplop berwarna putih pada gadis itu.

“Hm? Apa ini?” Tanya Naeun sambil mengambil amplop itu, lalu tertegun melihat isinya uang.

“Itu hutangku padamu..” jawab Hyuna.

Naeun memandang Hyuna kaget, “Ne? Hyuna-a, gunakan saja untuk keperluanmu dulu. Kau bisa menggantinya kapan pun kau mau..” ucapnya sambil berdiri.

Hyuna menggeleng, “Aniya, lebih baik aku segera membayarnya.” Ucapnya, “Gumopta..” ucapnya, lalu berbalik.

Naeun memandang Hyuna sedih, “Hyuna-a..” ucapnya pelan, lalu menunduk memandang amplop ditangannya. “Dia memberikan hampir semua gajinya..” ucapnya.

=Kampus Hyunseung=

Hyunseung keluar dari gedung kampus tanpa ekspresi, ia berusaha meyakinkan dirinya kalau Hyuna pasti kembali. ‘Andwae! Dia pasti kembali. Pasti..’ batinnya.

Taemin merangkul Hyunseung dari belakang, “Hyunseung!!”

Hyunseung menatap Taemin kesal, “Aissh..” ucapnya kesal sambil mendorong tangan pria itu.

Taemin cemberut dan segera mengikuti Hyunseung, “Hyunseung-a…” panggilnya.

“Sanbae..” panggil seorang gadis sambil menghampiri Hyunseung.

Hyunseung berhenti dan memandang gadis itu.

“Ini, ada seseorang yang memintaku memberikannya padamu..” ucap gadis itu sambil menyodorkan amplop putih pada Hyunseung.

Dahi Hyunseung berkerut melihat amplop itu dan mengambilnya.

Gadis itu membungkuk sopan dan berjalan pergi.

“Apa itu?” Tanya Taemin.

Hyunseung membuka amplop dan mengerutkan dahi melihat isinya uang, lalu mengeluarkan setengah isinya. Memastikan itu benar uang atau tidak.

“Uang?” Tanya Taemin bingung, saat itu dia melihat ada lipatan kertas terjatuh dan segera mengambilnya. Juga membukanya. “Ada pesan..”

Hyunseung mengambil kertas itu dan membacanya.

_Aku akan mencicil hutang ayahku setiap bulan_

Kim Hyuna

Mata Hyunseung melotot, lalu mengedarkan pandangnya mencari gadis itu.

“Hyuna?” ucap Taemin bingung, “Kenapa dia…” ucapannya terputus karena temannya itu langsung berlari pergi, “Aissh.. bisa tidak kau mendengar ucapanku sampai selesai?” tanyanya kesal.

Hyunseung berlari keluar dari kawasan kampusnya, perasaannya berkata Hyuna belum jauh pergi dan dia masih bisa mengejar gadis itu. kakinya terus berlari menyusuri sekitar sana mencari sosok Hyuna, ternyata usahanya tidak sia-sia. Dari kejauhan dia melihat sesosok gadis yang mengenakan seragam SMA berjalan menjauh. Dengan cepat dia mengejar gadis itu dan menarik tangannya hingga berbalik memandangnya.

Hyuna terkejut tiba-tiba ditarik Hyunseung seperti itu.

Hyunseung menatap Hyuna marah, “Apa ini?!” tanyanya sambil memperlihatkan amplop ditangannya.

Hyuna memandang amplop itu dan kembali memandang Hyunseung.

“Ya! Kau pikir hutangmu akan terbayar lunas jika kau membayarnya setiap bulan?! Aku sudah mengatakan kalau hutangmu tidak bisa dibayar dengan uang!!” teriak Hyunseung marah.

Hyuna menatap Hyunseung sedih, lalu menundukkan kepalanya tanpa menjawab.

“Berani sekali kau!” ucap Hyunseung, “Setelah membuatku gila karenamu, kau memutuskan untuk berhenti?! Cih!!” ucapnya kesal.

“Miane oppa..” ucap Hyuna menyesal.

“Simpan ucapan maafmu itu!” ucap Hyunseung sambil meletakkan amplop tadi ketangan Hyuna, lalu berbalik pergi.

Hyuna memandang Hyunseung sedih dan memandang amplop ditangannya.

=Keesokan Harinya=

“Aku sudah tau mengapa hubungan Hyunseung dan Hyuna menjadi sulit seperti sekarang ini..” Ucap Eunji pada Taemin saat mereka di kafetaria.

“Katakan padaku..” ucap Taemin penasaran.

“Ternyata ibu Hyunseung tidak menyukai Hyuna karena kondisi keluarganya sekarang..” jelas Eunji.

Taemin tertegun, “Ne? omo.. kenapa jadi rumit sekali?” tanyanya tak mengerti.

“Itulah.. Aku juga sangat bingung bagaimana menanganinya..” ucap Eunji bingung.

“Ahh.. andai saja aku bisa melakukan sesuatu..” ucap Taemin bingung.

Ditempat lain.

Naeun memperhatikan Hyuna yang sedang menulis di mejanya, dia ingin sekali kembali mengobrol dan berjalan kesana kemari bersama temannya itu. sebuah ide muncul dikepalanya, lalu mengeluarkan dua susu kotak dari tasnya dan bangkit menghampiri Hyuna. “Hyuna-a..” sapanya riang sambil duduk di hadapan gadis itu.

Hyuna memandang Naeun.

Naeun menyodorkan satu kotak susu tadi pada Hyuna, “Bagaimana pekerjaanmu? Apakah baik-baik saja?” tanyanya ceria.

Hyuna memandang susu kotak itu, lalu memandang Naeun.

“Wae? Kau tidak suka susunya? Atau mau susu strawberry?” Tanya Naeun sambil menyodorkan yang dia pegang.

Hyuna menunduk sedih, “Aku tidak benar-benar marah padamu.” Ucapnya.

Naeun tertegun, “Ne? oh.. lalu, kenapa kau tetap tak berbicara padaku?”

“Aku hanya malu..” ucap Hyuna.

Naeun tersenyum, “Kenapa malu? Sudahlah.. kau seperti baru mengenalku saja.” Ucapnya lucu.

Hyuna memandang Naeun, lalu tersenyum. Dia merasa beruntung masih memiliki gadis itu. melihat temannya itu menusukkan pipet ke susu kotak, dia melakukan hal yang sama.

Naeun menunduk untuk meminum susu melalui pipet, namun matanya melihat memar di pergelangan tangan Hyuna. “OH!” serunya dengan mata membesar dan langsung memegang tangan Hyuna, juga menarik lengan seragam luarnya keatas agar pergelangan tangannya terlihat. “Hyuna! Waekeure?!” tanyanya tak percaya.

Hyuna menarik tangannya dan kembali menurunkan lengan seragam luarnya sambil tersenyum tipis, “Gwenchana, kemarin aku terjatuh..” ucapnya memberi alasan.

Naeun menatap Hyuna tak percaya, “Terakhir kau bilang tanganmu terkena cairan lilin, sekarang terjatuh? Bagaimana aku bisa percaya itu?!”

“Sudah.. kau masih saja berlebihan..” ucap Hyuna dan berlaku seperti biasa.

Kampus Hyunseung.

Jam sudah menunjukkan pukul 3, tapi Hyunseung belum juga beranjak dari tempatnya meskipun kelas sudah berakhir satu jam yang lalu. Hanya Eunji dan Taemin yang masih duduk di belakangnya.

“Ya.. ayo pulang..” ajak Eunji pada Hyunseung, namun pria itu tak memberi jawaban apa pun. “Aissh..” gumamnya kesal.

Taemin mendapatkan sebuah pesan dan langsung tersenyum melihat siapa pengirimnya, “Naeun mengirimiku pesan, dia bilang Hyuna sudah berbicara seperti biasa lagi padanya..” jelasnya.

“Hmm.. itu bagus..” ucap Eunji.

Hyunseung tak mengatakan apa pun, karena berita itu tidak berarti apa pun untuknya.

Dahi Taemin berkerut membaca lanjutan pesan Naeun, “Hm? Naeun berkata pergelangan tangan Hyuna memar..”

Hyunseung tertegun mendengar ucapan Taemin dan memasang pendengarannya baik-baik.

“Ne? kenapa?” Tanya Eunji.

“Hyuna berkata karena terjatuh, tapi Naeun tidak percaya..” ucap Taemin, “Apa ada yang menyakitinya?” tanyanya bingung.

‘Pergelengan tangan?’ batin Hyunseung dengan dahi berkerut. Dia kembali teringat bagaimana kasarnya dia menarik tangan Hyuna kemarin, bisa saja itu meninggalkan memar karena dia tak tau sebesar apa kekuatan tangannya akibat terlalu emosi. Akhirnya dia berdiri, “Aku pergi..” ucapnya dan langsung melangkah cepat keluar dari kelas.

“Ya! Hyunseung! Aissh!!” ucap Eunji kesal.

Taemin memandang Hyunseung bingung, “kenapa lagi dia?”

=Tempat Tinggal Hyuna=

Hyuna melangkah menuju gedung tua itu sambil memegang pergelangan tangannya, dia sengaja meminta ijin karena dia tidak bisa bekerja dengan tangan seperti itu.

“Kim Hyuna!” panggil Hyunseung sambil berlari menghampiri Hyuna.

Hyuna berbalik dan memandang Hyunseung bingung, “Oppa? Kenapa kemari?”

Hyunseung mengatur nafasnya karena baru saja berlari, matanya memandang tangan kanan Hyuna memegang pergelangan tangan kirinya yang tertutup lengan seragam luarnya.

Hyuna menyadari Hyunseung memandang tangannya dan segera berlaku seperti biasa, “waeyo oppa? Kenapa kau berlari seperti itu?”

Hyunseung menatap Hyuna marah, lalu menarik lengan kirinya dan memeriksa pergelangannya. Matanya membesar melihat memar di sekitar pergelangan gadis itu, lalu menatapnya kaget.

Hyuna berusaha menarik tangannya, namun Hyunseung tak melepaskan tangannya. “Oppa, gwenchana..”

Wajah Hyunseung tampak sangat marah, “Ini tidak baik-baik saja!” ucapnya tertahan.

“Oppa..” ucap Hyuna pelan.

Hyunseung kembali memandang memar di pergelangan tangan Hyuna, kedua tangannya bergetar menyadari itu memang karenanya. “Ini karena aku menarikmu kemarin kan?”

Hyuna terdiam, bingung bagaimana mengelakkannya.

“Ayo masuk..” Hyunseung menarik lengan Hyuna dan membawanya masuk.

Tak jauh dari sana, ibu Hyunseung yang berencana kembali berbicara dengan Hyuna malah melihat putranya menghampiri gadis itu. dia menghela nafas kesal, “Keure Hyunseung, eomma tidak akan menggunakan cara lembut sekarang..” ucapnya, lalu berbalik pergi.

Kamar sewaan Hyuna.

Hyuna memperhatikan Hyunseung yang membalut pergelangan tangannya yang memar dengan kain yang telah direndam dalam air hangat. Tangannya yang lain menahan tangan Hyunseung dan memegang kain itu sendiri, “Gwenchana oppa, aku bisa melakukannya sendiri..”

Hyunseung memandang Hyuna menyesal, “Miane..”

Hyuna tersenyum simpul, “Aniya..”

“Berhenti berkata kau baik-baik saja..” ucap Hyunseung.

Hyuna menunduk canggung.

Hyunseung menghela nafas dalam, “Kemarin aku tidak bermaksud kasar padamu, aku hanya terlalu marah. Miane..”

Hyuna mengangguk pelan, “Aku sudah tidak apa-apa oppa, kau bisa…”

“Aku akan tetap disini!” potong Hyunseung.

Hyuna terdiam dan tak bisa mengatakan apa pun lagi.

Hyunseung kembali menarik tangan Hyuna. Mengambil kain tadi dan merendamnya beberapa saat, lalu meremasnya dan kembali melingkarkannya ke pergelangan tangan gadis itu. “Apa terasa nyeri saat kau menggerakkannya?”

“Sedikit..” jawab Hyuna.

Hyunseung mengangguk mengerti dan memandang tangan Hyuna, tak lama dia kembali memandang gadis itu. “Hyuna..”

“Ne?” jawab Hyuna.

“Aku tidak tau kenapa kau tetap tidak mau membuka hatimu untukku, tapi….” Hyunseung menghela nafas dalam. “…aku ingin kau tau, kau bisa datang padaku saat kau membutuhkan seseorang untuk memelukmu. Membuatmu merasa aman. Seseorang yang akan menyeka air matamu saat kau menangis dan seseorang yang akan memandangimu hingga tertidur..” ucapnya tulus, tampak matanya berkaca-kaca ketika mengatakan itu.

Bulir air mata Hyuna jatuh begitu saja mendengar ucapan Hyunseung yang benar-benar menyentuh hatinya.

Hyunseung tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya untuk menyeka bulir air di pipi Hyuna.

Hyuna tak bisa menahan air matanya karena perlakuan lembut Hyunseung. Tangannya terangkat dan menggenggam tangan pria itu dipipinya, lalu menangis pedih karena merasa ketakutan tidak ada siapapun yang berada disisinya.

Hyunseung menarik tubuh Hyuna kedalam pelukannya dan membiarkan gadis itu menangis sambil mengelus rambutnya. Perlahan bibirnya membentuk senyuman dan memeluk gadis itu erat.

<<Back           Next>>

Advertisements

5 thoughts on “Baby Boo~~ [Chapter 9]

  1. ughhhh nyesek nyaaaa…
    2hyun sama2 tersakiti…
    apa lg yg akan d lakuin hyunseung umma..
    jangan sampe ngapa2in hyuna unni…
    lanjuuutt ><

  2. apa eomma hyunseung tdk akan menggunakan cara lembut lgi??

    aigoo … apa semua hanya bisa dinilai dgn status sosial untuk cinta??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s