Chapter

Baby Boo~~ [Chapter 5]

–Really a Bad Dream–

 5

=Beberapa Hari Kemudian=

“Jadi, bagaimana tempat tinggal barumu?” Tanya Naeun ingin tau.

Hyuna tersenyum, “Hanya tempat kecil, tapi cukup untukku..” jawabnya.

“Ajak aku kesana.. Ayolah..” pinta Naeun.

“Bagaimana aku bisa mengajakmu, aku saja pulang sekolah harus ke restaurant sushi. Pulangnya sudah malam..” jelas Hyuna.

“ahh..” keluh Naeun sebal.

“Aku akan mengajakmu lain kali..” ucap Hyuna.

Malamnya. Hyuna kembali berkutat dengan buku catatannya, “Ahhh.. sekarang aku juga memiliki hutang pada Naeun.  Bagaimana aku melunasinya?” gumamnya, “Hmm.. sepertinya aku harus mencari pekerjaan lain..”

Keesokan paginya.

Hyuna melangkah ke sekolah sambil mengelus lengannya yang bentol-bentol karena digigit nyamuk, “Kenapa jadi aneh begini?” gumamnya heran. Namun saat mengangkat wajah dia terkejut melihat Hyunseung menatapnya marah.

Hyunseung melangkah mendekati Hyuna dengan tangan tersilang didada, “Ya.. Apa kau tidak bisa memberitau dimana tempat tinggal barumu? Kenapa kau pergi begitu saja?!”

Hyuna cengengesan sambil garuk-garuk kepala, “Hehehe.. cesongeo oppa..”

Hyunseung menatap Hyuna kesal, “Apa dengan tertawa semuanya selesai?! Katakan dimana kau tinggal sekarang!”

Hyuna diam sejenak, lalu tersenyum sedih. “Aniya oppa.. aku tidak bisa memberitaukannya padamu..”

Hyunseung melotot pada Hyuna, “Wae?!”

Hyuna menatap Hyunseung dalam, “Oppa, kau menyukaiku?” tanyanya pelan.

Hyunseung tertegun, lalu berpaling menutupi kegugupannya. “Aniya, masa aku menyukai anak kecil..” ucapnya berbohong.

Meskipun tau Hyunseung berbohong, Hyuna senang mendengarnya. “Keure..”

Dahi Hyunseung berkerut melihat ekspresi Hyuna, “Wae?”

“Setelah semua yang terjadi padaku, aku mulai berpikir kalau tidak ada gunanya terus memaksamu menyukaiku. Jadi, lebih baik aku berhenti..” ucap Hyuna.

Hyunseung tertegun, “Apa yang kau katakan?”

Hyuna tersenyum dan memegang tangan Hyunseung, “Gumawoyo, oppa.. Jika tidak ada kau, mungkin sekarang aku masih di klub itu dan menjadi salah seorang wanita penghibur disana. Gumawo, karena telah mengorbankan mobilmu untukku. Gumawo, karena telah menjagaku dan memberikanku tempat tinggal. Gumawo, karena telah sangat baik padaku..” ucapnya, meskipun dia tersenyum bulir air matanya menetes perlahan. “Aku akan berusaha membayar semua hutang ayahku padamu, aku tidak tau berapa lama, tapi aku akan membayarnya..”

Hyunseung tak percaya Hyuna malah mengatakan itu, “Hyuna?”

Hyuna menyeka air matanya dan berusaha memberikan senyuman tulus, “Aku akan mengatakannya untuk terakhir kali, saranghae oppa..” ucapnya dan tertawa kecil, “Itu adalah yang terakhir kalinya kau akan mendengar ucapan itu..” dia membungkuk sopan dan melangkah pergi melewati Hyunseung.

Hyunseung terpaku ditempatnya dan berbalik, “Hyuna..” panggilnya, namun gadis itu tetap pergi. “Kim Hyuna!” panggilnya lebih keras.

Hyuna menahan dirinya untuk tidak berbalik dan terus melangkah meskipun air matanya tak bisa berhenti mengalir.

“KIM HYUNA!!” teriak Hyunseung, tetap saja gadis itu tidak menoleh. Bulir air matanya menetes menyadari kekeliruannya. Dia seharusnya menyadari mengenai perasaannya itu lebih cepat dan menyatakannya pada Hyuna.

=Kampus Hyunseung=

Hyunseung sama sekali tak bersemangat mengikuti kelas dan hanya duduk di kafetaria seorang diri.

“Oh! Itu dia..” ucap Eunji sambil menunjuk Hyunseung.

“Aneh sekali dia..” ucap Taemin dan menghampiri Hyunseung bersama Eunji.

“Hyunseung!!” seru Eunji sambil mngejutkan pria itu.

Hyunseung hanya menatap Eunji sekilas dan kembali termenung.

Eunji menatap sepupunya itu kaget, tidak biasanya pria itu diam saja. “Ya.. waekeure?”

“Aniya..” jawab Hyunseung lesu.

“Hei Hyunseung, katakanlah.. ada apa?” Tanya Taemin.

“Aniragu(kubilang tidak ada)..” jawab Hyunseung.

Eunji memandang tangan Hyunseung yang menggenggam syal berwarna merah, “Ohh.. ini karena gadis bernama Hyuna itu kan?”

Hyunseung menatap Eunji kesal, “Ani!”

“Ada apa dengan Hyuna?” Tanya Taemin ingin tau.

Hyunseung kesal kedua orang gitu mengganggunya, “Sudahlah.. aku pergi..” ucapnya sambil bangkit.

“Ya!” seru Eunji sambil menarik tas Hyunseung, namun karena terlalu kasar dia malah membuat tas itu terjatuh dan isinya berserakan. “Oh!” serunya kaget.

Hyunseung menatap Eunji kesal, lalu berjongkok dan memunguti buku-bukunya.

Eunji ikut membantu Hyunseung, “Miane..” ucapnya menyesal. Dia heran menemukan Koran yang sudah dirobek-robek terselip diantara buku sepupunya itu. “Hm? Ige mwoya?”

Hyunseung tertegun melihat sobekan Koran itu, matanya membesar dan langsung mengambilnya. Meskipun sobek dia masih bisa membaca isinya jika menyatukan sobekan-sobekan itu, terlihat jelas ada beberapa tempat yang dilingkari Hyuna saat itu. ‘Aku akan menemukannya!’ batinnya lalu bangkit, “Eunji, tolong pegang tasku dulu..” ucapnya sambil berlari.

Sementara itu ditempat lain.

Hyuna mengenakan seragam luarnya perlahan. Tubuhnya terasa sakit dan kepalanya juga pusing, “Waekeure?” gumamnya sambil mengelus pundak. Tangannya gemetaran ketika terulur untuk mengambil tas, dia bisa terlambat jika tidak bergegas. Namun semuanya terasa berputar dan dia jatuh terbaring dilantai. ‘oppa.. oppa..’ panggil batinnya dengan mata terpejam, perlahan kesadarannya menurun dan tak sadarkan diri.

Hyunseung turun dari mobil sambil memperhatikan sebuah gedung, “Disini?” gumamnya, lalu melangkah masuk.

“Tuan muda, ada yang bisa kubantu?” Tanya nenek di meja informasi.

“Mmm.. annyeonghaseo, aku mencari seseorang yang bernama Kim Hyuna.. Apakah dia menyewa kamar disini?” Tanya Hyunseung penuh harap, karena ini sudah tempat ketiga yang dia datangi.

“Sebentar tuan..” ucap nenek itu sambil memeriksa daftar nama orang yang menyewa disana, “Oh.. ne, dia menyewa kamar 21 di lantai dua..”

Hyunseung tersenyum lega, “Gamshamida..” ucapnya sambil membungkuk sopan dan langsung berjalan cepat menaiki tangga ke lantai dua. Dahinya berkerut melihat lingkungan disana sangat buruk, juga tidak terawat bahkan di depan sebuah pintu terdapat banyak botol bir kosong. “Aissh! Pantas saja dia tak memberitauku..” ucapnya kesal, lalu mencari kamar yang disewa Hyuna. Tenyata kamar paling ujung. Perlahan dia mengetuk pintu, TOK! TOK! TOK! “Hyuna-a..” panggilnya, lalu mengetuk lagi. “Hyuna!” panggilnya lebih keras. Karena tak mendengar jawaban dia langsung membuka pintu, “Oh! Dia tidak menguncinya! Benar-benar ceroboh!” ucapnya dan melangkah masuk. Matanya langsung melotot melihat Hyuna terbaring ditengah ruangan dengan wajah pucat dan keringat memenuhi wajahnya. “HYUNA!!” serunya sambil berlari menghampiri gadis itu. “Hyuna.. Oh!” serunya kaget merasakan tubuh gadis itu sangat panas. Tubuhnya juga menggigil hebat.

“mmmh.. ngggg..” gumam Hyuna.

“Sial!” seru Hyunseung dan mengendong gadis itu pergi.

=Rumah Sakit=

Hyunseung terkejut melihat Hyuna muntah darah begitu tiba diruang UGD, dia benar-benar khawatir. “Apa yang terjadi dokter?!” tanyanya panic.

“Sepertinya dia mengidap DBD tuan, kami akan segera menanganinya..” jawab dokter itu dan memberi intruksi untuk melakukan tindakan selanjutnya.

Hyunseung mencengkeram rambutnya panic, “Ohh.. Hyuna-a..” ucapnya.

Trombosit Hyuna turun drastic dan sangat berbahaya untuk dirinya, dia sampai harus menerima donor darah yang banyak.

Hyunseung menatap Hyuna sedih dari balik ruang kaca, “Hyuna, miane..” gumamnya menyesal.

“Jang Hyunseung-ssi?” Tanya seorang perawat.

Hyunseung menoleh, “Ne?”

“Maaf tuan, anda diminta menemui dokter diruangannya..” ucap perawat itu memberitau.

“Oh.. ne..” ucap Hyunseung, lalu mengikuti perawat itu ke ruang dokter.

“Anda kerabat dari pasien Kim Hyuna?” Tanya dokter itu.

“Ne..” jawab Hyunseung,

“Hmm.. saya hanya akan menjelaskan bahwa kondisi Kim Hyuna-ssi dalam keadaan kritis. Seharusnya begitu merasakan gejala demam dia langsung memeriksakan diri ke rumah sakit, tapi kondisinya sudah terlanjur memburuk sekarang.” Ucap dokter itu.

Hyunseung menghela nafas dalam, “Mmm.. apakah ada yang bisa anda lakukan dokter? Apa saja, masalah biaya aku tidak peduli.” Ucapnya.

“Maaf Jang Hyunseung-ssi, dalam kasus seperti ini kami dari pihak rumah sakit tentunya akan melakukan yang terbaik. Tapi tetap Tuhan yang menentukan apa yang terjadi pada pasien.” Ucap dokter itu.

Hyunseung memejamkan matanya dengan kepala tertunduk, ‘Ahh.. seharusnya aku tidak membiarkannya tinggal sendiri!’ batinnya penuh sesal.

“Dan Hyunseung-ssi..” lanjut dokter itu lagi.

Hyunseung membuka mata dan memandang dokter itu, “Ne, dokter?”

“Anda harus bersiap untuk menerima berita buruk jika pengobatan yang kami berikan tidak berhasil..” ucap dokter itu berat.

Hyunseung tertegun, ‘Andwae! Bagaimana aku bisa menerimanya!’ seru batinnnya. “Ne..” ucap bibirnya berat.

Beberapa jam kemudian.

Hyunseung duduk disebelah tempat tidur Hyuna sambil menggenggam tangan gadis itu. Tidak peduli suhu tubuh Hyuna akan membakar kulitnya, dia tetap menggenggamnya erat. “Jika kau kembali sadar, aku akan melakukan apa pun untukmu..” ucapnya pelan, “Apa pun Hyuna..” ucapnya lagi. Lalu menempelkan tangan gadis itu ke pipinya dengan mata terpejam. Bulir air mengalir dari sudut matanya.

Ayah dan Ibu Hyunseung yang baru tiba tertegun melihat putra mereka menangis dari jendela kaca dipintu. Pria itu menangis disebelah Hyuna yang belum sadarkan diri.

“Ahhh.. ini pasti sangat berat bagi Hyunseung..” ucap ayah Hyunseung prihatin.

Ibu Hyunseung memandang suaminya dan menunduk bingung. Dia yang menginginkan Hyuna pergi dari rumah mereka, tapi sekarang dia merasa sangat menyesal dan bersalah.

Paginya.

Hyunseung terbangun dari tidurnya dengan posisi menelungkup di pinggir tempat tidur Hyuna, “Ahhh..” erangnya sambil mengelus pundak. Saat itu dia menyadari tangan Hyuna yang dia genggam sangat dingin. Matanya membesar dan menatap gadis didepannya, “Hyuna-a..” ucapnya panic sambil mengelus tangan gadis itu untuk menghangatkannya. Bulir air matanya mengalir begitu saja memikirkan apa yang telah terjadi pada gadis itu. dia bangkit dan memegang kedua pipi gadis itu yang juga terasa dingin, “Kim Hyuna!” serunya sambil mengguncang tubuh gadis itu, namun tidak ada respon sama sekali.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit….

Telinganya menangkap bunyi dengungan panjang dari layar disebelah tempat tidur, mulutnya terbuka melihat garis panjang disana. Lalu kembali menatap gadis itu, “Andwae!! Hyuna! Ya! Kim Hyuna!!” teriaknya sambil memegang kedua pipi gadis itu dan menangis histeris. Dia tertegun merasakan keberadaan seseorang dibelakangnya, perlahan dia berbalik dan melotot melihat bayangan tubuh seseorang yang sangat dia sayangi. “Hyu.. Hyuna?”

Wajah Hyuna tampak sangat sedih menatap Hyunseung, “Oppa, saranghae..” ucapnya pelan. Bulir air mata gadis itu berjatuhan seiring tubuhnya yang menghilang bak di terpa angin.

“Andwae!!! HYUNA!!!” teriak Hyunseung, lalu kembali menatap tubuh tak bernyawa Hyuna di tempat tidur. “Andwae!! Hyuna!! Na saranghaeyo!!! Jeongmal!!!” teriaknya tak karuan. “Hyuna… saranghae…” tangisnya pedih, “Oppa saranghaeyo, Hyuna..” tangisnya menatap wajah pucat gadis itu. namun semuanya sudah tak berarti lagi, gadis itu takkan pernah mendengarnya.

Namun itu semua hanya mimpi Hyunseung.

“Hyuna!!” seru Hyunseung dan spontan duduk tegap dengan mata melotot dan bulir air berjatuhan. Matanya memandang Hyuna yang terbaring di tempat tidur. Tangannya langsung mengelus tangan Hyuna yang berada dalam genggamannya, masih terasa hangat. Kepalanya menoleh pada layar pendeteksi detak jantung, masih berdetak normal. Dia bisa menghela nafas lega dan menempelkan tangan gadis itu ke pipinya, “Ahh.. jeongmal! Itu mimpi terburuk yang pernah kualami..” ucapnya. Matanya memandang wajah gadis itu, seulas senyum muncul dibibirnya. “Hanya mimpi Hyuna, itu tidak akan terjadi..” ucapnya pelan.

Beruntung semua itu memang hanya terjadi dalam mimpi Hyunseung, karena Hyuna dapat kembali pulih.

“Hyuna-a, gwenchana? Kau masih bisa dirawat disini.. Tidak perlu memikirkan yang lain, yang terpenting kau pulih seperti semula..” ucap ayah Hyunseung karena memutuskan untuk keluar dari rumah sakit karena merasa kondisinya sudah baik-baik saja.

Hyuna tersenyum, “Aniya, appanim.. Aku sudah tidak apa-apa..”

Ibu Hyunseung memegang tangan Hyuna, “Kau belum pulih Hyuna, jika kau kembali pulang kau bisa parah lagi..” ucapnya khawatir.

Hyuna tersenyum sambil memegang tangan ibu Hyunseung yang memegang tangannya, “Aniya eommanim. Pihak rumah sakit memang sering berlebihan, aku yang lebih tau bagaimana tubuhku..”

“Bagaimana jika kau tinggal dirumah kami dulu hingga kau benar-benar pulih?” Tanya ayah Hyunseung.

Hyuna tertawa kecil, “Appanim, tidak perlu begitu..” ucapnya lucu, lalu memandang sekitar. “Hyunseung oppa mana?”

=Kamar sewaan Hyuna=

Setelah Hyuna berkata ingin pulang, dia tau gadis itu tidak akan menukar pemikirannya lagi. Jadi dia mendekorasi ruangan kecil itu, membersihkannya, juga membuatnya benar-benar layak untuk ditinggali. “Aissh!! Jinja!! Dia bahkan tidak menguras air di bak! Pantas saja dia terkena demam berdarah!” serunya sesal, lalu menguras bak itu dan mengisinya lagi.

Dua jam kemudian.

Hyunseung berbaring di ruangan itu untuk melepas lelah, “Ahhh… lelah sekali..” ucapnya dengan mata tertutup. Matanya terbuka perlahan dan memandang sekitar, tubuhnya yang tinggi jika berbaring bisa menghabiskan semua lantai yang ada. “Aigoo, tubuhnya memang kecil, tapi ini bukan tempat tinggal sama sekali..” gumamnya.

Ketika kembali ke kamar sewaannya, Hyuna terkejut melihat kertas dinding dikamarnya telah diganti menjadi lebih cerah. Juga semuanya tertata rapi. “Oppa, kau yang melakukan ini?”

“Siapa lagi?” Tanya Hyunseung kesal.

Hyuna tersenyum, “Gumawoyo, oppa..”

Hyunseung menatap Hyuna sebal, “Ucapan terima kasih tidak cukup..” ucapnya, lalu menyodorkan pipi dan menunjuknya bermaksud meminta kecupan manis.

Hyuna tertawa sambil mendorong pipi Hyunseung, “Mwoya? Jangan bercanda oppa..” ucapnya.

Hyunseung memandang Hyuna sebal, gadis itu membuka lemari kecil disudut ruangan dan mengambil kasur lipat. Dengan cepat dia mengambil kasur itu dari tangan gadis itu dan membentangkannya ke lantai, lalu meletakkan bantal dan selimutnya. “Nah.. istirahatlah..”

Hyuna tersenyum dan masuk ke bawah selimutnya, “Oppa, sudah sore. Pulanglah..”

Hyunseung menatap Hyuna tak percaya, “Ya.. kau mengusirku disaat aku ingin menjagamu? Mwoya?” tanyanya sebal.

Hyuna cemberut, “Oppa ingin mengambil kesempatan ketika aku tidur kan?”

Hyunseung terkejut, “Ne??”

“nanti oppa akan memastikan aku tidur atau tidak, lalu mengelus rambutku dan menciumku.. Keutji..” ucap Hyuna sambil mempraktekkan apa yang dia ucapkan.

Mulut Hyunseung terbuka mendengar ucapan Hyuna, “Naega?! Ya! Berpikir untuk menyentuhmu saja tidak!” serunya.

Hyuna tertawa melihat Hyunseung mulai mara-marah.

“Aissh.. apa yang lucu?! Cepat istirahat! Aku pulang!” ucap Hyunseung sambil bangkit dan berjalan pergi. Bukan karena dia ingin, tapi wajahnya sudah berubah merah sekarang karena malu.

Hyuna berusaha menahan tawanya sambil berbaring dan merapatkan selimutnya. Meskipun matanya terpejam dan berusaha tidur, bulir air menyelinap dari sudut matanya. ‘Gumawo oppa..’ batinnya sedih.

Keesokan Harinya.

Hyuna tertegun melihat Hyunseung berdiri didepan sekolahnya sambil mengemut lollipop, “Oppa, kenapa disini?”

Hyunseung memandang Hyuna, “Lama sekali, aku menunggumu sejak tadi..”

Hyuna tersenyum lucu, “Menungguku? Wae?”

“Jangan banyak bicara, khaja..” ajak Hyunseung sambil menarik tangan Hyuna pergi.

Hyunseung mengantarkan Hyuna ke tempat bekerjanya, lalu menjemputnya lagi. Juga menemaninya sepanjang malam. Kejadian itu terus terjadi hingga beberapa hari.

Hyuna yang sedang mengerjakan PR di meja melirik kearah Hyunseung yang duduk bersandar ke dinding dengan wajah bosan, pria itu sudah duduk disana sejak 1 jam yang lalu. “Oppa, jika kau bosan kenapa tidak pergi saja?”

Hyunseung menghela nafas kesal, “Kapan kau akan selesai?! Aku ingin mengajakmu pergi!”

“Hm? Setelah ini aku harus segera tidur, jika tidak aku akan tertidur di kelas lagi..” ucap Hyuna.

“Ne? ahhh.. micheoso!” ucap Hyunseung sambil mengacak-acak rambutnya.

“Oppa kan bisa berkumpul dengan temanmu, atau pergi ke klub..” ucap Hyuna heran.

“Shireo! Sudah kerjakan saja PR-mu itu..” ucap Hyunseung dan kembali duduk dengan wajah bosannya.

Hyuna memandang Hyunseung tak mengerti, “Oppa, waekeure?”

Hyunseung memandang Hyuna dengan dahi berkerut, “Apanya?”

“Kau bertingkah aneh akhir-akhir ini..” jawab Hyuna.

Hyunseung tersedak mendengar ucapan Hyuna, “Aneh? Ya! Itu yang biasa dilakukan seorang kekasih, kenapa kau malah mengatakan itu aneh?!”

Hyuna menatap Hyunseung tak mengerti, namun kemudian dia tertawa geli. “Oppa, memangnya kau kekasih siapa?”

“Aku kekasihmu..” Jawab Hyunseung santai.

Hyuna menahan tawa, “Kapan kau menjadi kekasihku?”

“Mulai saat ini! Kau kekasihku! Aku kekasihmu! jelas?!” Tanya Hyunseung sebal.

Hyuna tersenyum dengan tatapan lucu pada Hyunseung, “Kenapa begitu?”

“Kau kan sudah sering berkata kau menyukaiku, jadi kurasa aku juga menyukaimu sekarang..” ucap Hyunseung dengan wajah memandang tembok.

Hyuna tertegun mendengar ucapan Hyunseung, lalu tersenyum sedih. “Aku sudah berhenti menyukaimu..”

Hyunseung menatap Hyuna tak percaya, “Mwo?”

“Aku tidak akan menyukaimu lagi..” ucap Hyuna pelan.

Hyunseung merasakan sesuatu yang jatuh berantakan dalam dadanya, “Wae?”

Hyuna tetap tersenyum sambil menatap tangannya, “Karena menyukai disatu sisi itu menyakitkan..” jawab Hyuna, lalu kembali memandang Hyunseung. “Jadi aku putuskan untuk berhenti..”

Hyunseung terpaku mendengar ucapan Hyuna, ‘Jangan! Kau tidak bisa berhenti!!’ batinnya.

Hyuna kembali memandang buku tugasnya. Meskipun terlihat tegar, hatinya menangis sejadi-jadinya mengatakan itu pada Hyunseung. Bagaimana mungkin dia bisa berhenti mencintai pria yang telah dia kagumi sejak kecil itu.

Hyunseung menghela nafas dalam dan menatap Hyuna, “Memangnya kau sedang bekerja? Bisa berhenti sesukamu?” tanyanya sebal, lalu mendekati gadis itu dan membaringkan kepalanya ke pangkuan gadis itu dengan mata terpejam.

Hyuna menatap Hyunseung bingung, “Oppa, jika ingin tidur ambil kasur lipat saja..” ucapnya tak mengerti.

Hyunseung memutar tubuhnya membelakangi Hyuna tanpa membuka mata, “Aku ingin tidur disini..”

Hyuna tak berkomentar dan melanjutkan PRnya. Tak lama dia sudah mendengar dengkuran lembut dari Hyunseung. Kepalanya kembali memandang pria itu, sepertinya sudah benar-benar tidur. Bibirnya membentuk senyuman, perlahan tangannya mengelus rambut pria itu lembut. “Oppa, aku ingin kau menemukan gadis yang lebih baik dariku. Mungkin aku akan merasa sangat sakit, tapi aku akan tersenyum untukmu. Untuk kebahagiaanmu..” ucapnya sedih. Matanya langsung berkedip-kedip agar bulir air tidak berjatuhan, lalu menyelesaikan PR-nya yang sejak tadi terganggu.

Hyunseung membuka matanya perlahan, hatiya sangat sedih mendengar ucapan Hyuna. Perlahan dia bergerak bangkit duduk sambil menatap gadis itu dalam.

Hyuna menatap Hyunseung kaget, “Oppa! Kupikir kau tidur!”

Hyunseung menggenggam kedua tangan Hyuna dan menatapnya dalam, “Hyuna-a, saranghaeyo..” ucapnya sepenuh hati.

<<Back           Next>>

Advertisements

4 thoughts on “Baby Boo~~ [Chapter 5]

  1. pyuuhhhh sempet sesek pas hyun oppa mimpi…
    kirain beneran kejadian kayak gtoo..
    pyuuhhh untung cuma mimpi..
    arghhhhh unni knpa bingung gtoo..
    d trima aja hyunhyun oppa..
    unni terbaik kok buat oppa..
    ayooo oppa gantian berjuang untuk dapetin unni..
    ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s