Chapter

Baby Boo~~ [Chapter 4]

–Feel Your Love–

4

=Sekolah Hyuna=

Hyuna yang menunggu diluar ruang guru langsung menghampiri Hyunseung, “Oppa, eoteokhe?”

“Semua sudah beres, aku berkata pada gurumu kalau kau mendapat masa sulit karena ayahmu pergi. Dan tidak ada yang tau mengenai klub itu..” jelas Hyunseung.

Hyuna tersenyum, “Gumawoyo, oppa..”

Hyunseung tersenyum simpul dan mengelus rambut Hyuna, “Ne, masuklah ke kelasmu. Naeun pasti sangat khawatir..”

Hyuna mengangguk, “Ne, oppa..” ucapnya, lalu melangkah ke kelasnya.

“Oh! Hyuna!! Hyuna!!” seru Naeun girang ketika melihat Hyuna duduk disebelahnya.

Hyuna tersenyum, “Naeun-a…” ucapnya sambil memeluk sahabatnya itu.

Naeun menatap Hyuna khawatir, “Ya! Kim Hyuna! Bagaimana mungkin kau tidak mengatakan apa pun padaku?! Nappeun gijibe(gadis jahat)!!” ucapnya sambil memukul bahu Hyuna.

Hyuna meringis sambil memegang bahunya, “Ahh… appo..” ucapnya.

Naeun tertawa kecil, “Lain kali jika kau berada disituasi seperti ini lagi, aku akan menyeretmu kerumahku! Ara?!”

Hyuna tertawa, “Arasso..”

“Lalu, dimana kau tinggal sekarang?” Tanya Naeun.

“Mmm.. untuk sementara waktu ini aku tinggal di rumah Hyunseung oppa dulu..” jawab Hyuna.

Naeun tertegun, “Ne?” ucapnya tak percaya, lalu tersenyum jahil sambil menunjuk wajah Hyuna. “Kau berhasil menaklukkan Hyunseung oppa ya?”

Hyuna tertawa kecil, “Aniya.. bukan begitu.. Hyunseung oppa hanya kasihan padaku. Apalagi ibunya, orang sangat baik.”

“Hmm.. geotjimal(pembohong/bohong)..” ucap Naeun sebal, lalu tertawa.

=Rumah Hyunseung=

Hyuna duduk di taman belakang sambil menghitung sesuatu dibuku cacatannya, “Ohh.. mahal sekali, bagaimana aku bisa mencari uang sebanyak ini?” gumamnya. “Jika hanya part time pasti tidak akan cukup.. Huuuuft…”

Hyunseung yang berlalu diruang tengah melihat Hyuna duduk seorang diri di taman belakang, karena penasaran dia menghampiri gadis itu. Dahinya berkerut melihat gadis itu menghitung dengan jarinya kemudian mengeleng sendiri. “Mwoya?” tanyanya.

Hyuna terkejut dan langsung menutup bukunya, lalu berdiri dengan kedua tangan memegang buku itu dibelakang tubuhnya. “Aniya..” jawabnya.

Hyunseung menatap Hyuna curiga, “Geotjimal..” ucapnya, “Berikan padaku..” ucapnya sambil mengulurkan tangan.

“Aniya, oppa..” ucap Hyuna sambil tersenyum.

“Berikan padaku!” tegas Hyunseung.

Hyuna menatap Hyunseung sebal, “Wae? Ini bukuku.”

Hyunseung memutar bola matanya dan langsung mengulurkan tangannya untuk merebut buku itu, “Berikan..”

“Aniya!” ucap Hyuna sambil menahan buku itu.

“Berikan!” tegas Hyunseung, namun dia langsung terpaku melihat wajah Hyuna sangat dekat dengannya. Apalagi sekarang dia malah memeluk gadis itu. Dengan cepat dia menarik tangannya dan menjaga jarak.

Hyuna menunduk malu, “Oppa…” ucapnya malu.

“W..Wae? berikan saja buku itu!” ucap Hyunseung menutupi rona merah diwajahnya.

“Aniyo..” ucap Hyuna, lalu menjulurkan lidahnya dan berlari pergi.

“Ya! Kim Hyuna!” panggil Hyunseung.

Dari dalam rumah, ibu Hyunseung memperhatikan kedua anak itu dengan wajah risau.

Malamnya.

Hyuna masuk ke kamar tamu dan melihat Hyunseung sedang merapikannya, “Wuaaa.. bagus sekali..”

“Keurom, dirumahku tidak ada yang tidak bagus..” ucap Hyunseung.

Hyuna menatap Hyunseung lucu, “Oppa, berbicara manis saja apa tidak bisa?” tanyanya.

Hyunseung berhenti merapikan selimut dan memandang Hyuna sebal, “Ini juga karena eomma yang meminta, jika tidak kau akan mengerjakannya sendiri. Araso?”

Hyuna tersenyum malu, “Araso..” ucapnya, “Aku akan membantumu..” ucapnya sambil membantu Hyunseung.

“Tidak usah, kerjakan PR-mu sana..” ucap Hyunseung.

“Aku tidak ada PR..” ucap Hyuna.

“Kalau begitu belajar sana, kau sudah lama tidak masuk. Jadi harus mengejar ketertinggalanmu!” ucap Hyunseung memerintah.

Hyuna cemberut, “Oppa, aku ingin bersamamu! Molaso?!” ucapnya kesal.

Hyunseung terdiam mendengar ucapan Hyuna, “Ehem.. ohh.. kalau begitu rapikan meja itu..” ucapnya sambil menunjuk meja disudut ruangan.

Hyuna kembali tersenyum, “Oke..” ucapnya dan segera merapikan meja.

Hyunseung memandang Hyuna yang dengan ceria merapikan meja itu, seulas senyum muncul dibibirnya dan kembali melanjutkan kegiatannya.

Ibu Hyunseung melihat kedua anak itu dari pintu kamar, lalu melangkah ke ruang tengah dengan wajah risau.

Ayah Hyunseung keluar dari ruang kerja dengan Koran ditangannya, dahinya berkerut melihat ekspresi istrinya. “Yobo, waekeure?”

Ibu Hyunseung menghampiri suaminya sambil melirik kearah kamar tamu memastikan tidak ada yang mendengar mereka.

“Wae?” Tanya ayah Hyunseung heran.

“Yobo, apa menurutmu Hyunseung benar-benar menyukai Hyuna?” Tanya ibu Hyunseung setengah berbisik.

“Ne.. Lihat saja, dia sampai membersihkan kamar tamu untuk Hyuna..” jawab ayah Hyunseung yakin.

“Ahh.. eoteokhe?” ucap ibu Hyunseung bingung.

“Memangnya kenapa? Bukankah mereka sudah kenal sejak kecil?” Tanya ayah Hyunseung.

“Ani, bukan karena itu..” ucap ibu Hyunseung, “Tapi, Hyuna yang sekarang tidak seperti Hyuna yang dulu yobo..” ucapnya.

“Apa maksudmu?” Tanya ayah Hyunseung bingung.

“Dulu keluarga Kim sangat baik dan berteman dengan keluarga kita, tapi sekarang..” ucap ibu Hyunseung. “Tuan Kim bahkan kabur dengan uang yang kau berikan untuk membantunya, dia juga tidak membawa putrinya. Aigoo.. orang tua macam apa dia?”

Ayah Hyunseung tertegun mendengar ucapan istrinya, “Yobo, Tuan Kim memang salah. Tapi Hyuna gadis yang baik..”

“Yobo-a, apakah kau tidak tau tentang genetic keluarga?” Tanya ibu Hyunseung tak mengerti, “Jika orang tuanya seperti itu, maka anaknya juga bisa saja seperti itu..”

“Eomma!” seru Hyunseung.

Ibu Hyunseung terkejut dan langsung berbalik, ternyata Hyunseung dan Hyuna sudah selesai membereskan kamar dan mendengar apa yang dia ucapkan barusan. “Ohh.. mianata Hyuna-a..”

Hyuna tampak sangat terluka mendengar ucapan ibu Hyunseung dan menunduk sedih.

Hyunseung menatap ibunya kecewa, lalu menarik tangan Hyuna pergi.

Ayah Hyunseung menatap istrinya kecewa, “Gadis itu sedang menderita, tolong jaga perasaannya dulu..”

Ibu Hyunseung menunduk menyesal.

=Sekolah=

Hyuna duduk di taman sekolah sambil menghitung sesuatu dibukunya, “Hufft.. aku baru bisa mengumpulkan uang untuk sewa tempat tinggal kecil jika bekerja dua kali part time, belum lagi untuk sekolah, mobil Hyunseung oppa beserta hutang-hutang ayahku..” ucapnya bingung.

Naeun duduk disebelah Hyuna sambil memandang buku ditangan gadis itu, “Apa itu Hyuna?”

“Hm? Ini, aku menghitung pengeluaran perbulan. Ternyata sangat sulit.” Ucap Hyuna bingung.

Naeun memandang Hyuna heran, “Ne? mengapa kau menghitung pengeluaran perbulan?” tanyanya.

“Aku kan tidak mungkin tinggal terus dirumah Hyunseung oppa, jadi aku harus segera mendapatkan pekerjaan agar bisa menyewa tempat tinggal..” jawab Hyuna.

“Ohh.. begitu.” Ucap Naeun, lalu berpikir sejenak. “Hmm.. bibiku mempunyai sebuah restoran sushi, apa kau mau mencoba bekerja disana?”

Hyuna tersenyum lebar, “Oh! Aku mau!!”

“Keure, aku akan membujuk bibiku agar mau menerimamu disana..” ucap Naeun.

“Ahhh… gumawoyo Naeun-a..” ucap Hyuna sambil memeluk Naeun.

“Ne..” ucap Naeun senang.

=Rumah Hyunseung=

Semuanya makan malam dengan tenang, namun Hyuna ada kabar untuk di beritau.

“Eommanim, appanim..” ucap Hyuna.

Kedua suami istri itu memandang Hyuna, “Waeyo?”

Hyunseung yang sedang makan juga memadang Hyuna menunggu apa yang akan dikatakan gadis itu.

“Mulai besok aku akan pulang agak larut, karena aku akan paruh waktu dulu di restoran sushi bibinya Naeun..” ucap Hyuna memberitau dengan senyuman diwajahnya.

“Uhuk!” Hyunseung tersedak mendengar ucapan Hyuna, “Ya.. siapa yang mengijinkanmu bekerja paruh waktu?” tanyanya kesal.

“Hm? Appanim sudah menyetujuinya kemarin..” jawab Hyuna.

Hyunseung menatap ayahnya kesal.

“Wae? Appa tidak bisa melarangnya jika dia yang mau..” ucap ayah Hyunseung memberi alasan, lalu tersenyum pada Hyuna. “Keure Hyuna, kau harus bekerja keras..” ucapnya menyemangati.

Hyuna tersenyum lebar, “Ne..”

Hyunseung kesal karena merasa di khianati ayahnya dan terus makan tanpa berkomentar.

Keesokan harinya.

Hyunseung berjalan di trotoar sambil mencari-cari, “Dimana restaurant sushi itu?” gumamnya. Akhirnya menemukan satu-satunya restaurant sushi dan masuk, tempat ternyata lumayan diminati. Dia langsung melihat Hyuna berkeliaran dengan celemek dipinggangnya dan tersenyum pada para pelayan, ‘Itu dia..’ batinnya, lalu duduk disebuah meja.

Hyuna terkejut melihat Hyunseung disalah satu meja menunggu dilayani. Dengan hati-hati dia menghampiri pria itu, “Oppa? Kenapa disini?”

“Tentu saja makan, berikan menunya..” ucap Hyunseung.

Hyuna memberikan menunya pada Hyunseung, “Ini, tuan.. Saya akan menunggu sementara anda memilih..” ucapnya sopan.

Hyunseung menatap Hyuna aneh dan mulai memilih, namun belum satu datik dia sudah menutup buku itu dan memberikannya pada gadis itu. “Berikan saja sushi terbaik..” ucapnya.

Hyuna tertawa kecil dan mencatat pesanan Hyunseung, “Baik tuan, mohon menunggu..” ucapnya dan berjalan masuk.

Tapi tidak hanya makan, Hyunseung tidak kunjung pergi hingga jam pulang Hyuna tiba.

Hyuna memandang Hyunseung bingung, “Kenapa oppa tidak langsung pulang saja?” tanyanya ketika mereka berjalan pulang.

“Aku bosan pulang sendirian..” jawab Hyunseung.

Hyuna menahan tawa, “Bilang saja oppa mau berjalan denganku, benar kan?”

Hyunseung melirik Hyuna, lalu tersenyum tipis. “Baiklah, kau benar sekarang..”

Hyuna tertawa kecil.

Namun kesulitan hidup Hyuna belum berakhir, beberapa hari kemudian.

“Hyuna-a, bisakah kita berbicara sebentar?” Tanya ibu Hyunseung.

“Keure, eommanim..” jawab Hyuna dan mengikuti ibu Hyunseung ke taman belakang.

Ibu Hyunseung menatap Hyuna dan memegang tangannya, membuat gadis itu bingung sendiri. “Hyuna-a, kau gadis yang manis dan baik. Eomma sangat senang kau disini, tapi jika kau disini terus, Hyunseung akan semakin menyukaimu..” ucapnya pelan.

Hyuna tertegun, “Ne?”

Ibu Hyunseung menatap Hyuna menyesal, “Miane Hyuna, mungkin ini terdengar kasar. Tapi Hyunseung pantas mendapatkan gadis yang lebih baik.. Kau mengerti kan?”

Hyuna merasakan sesuatu yang tajam menyayat hatinya, perlahan kepalanya mengangguk mengerti. “Ne, eommanim..”

“Atau kau ingin eomma membelikanmu apartemen?” Tanya ibu Hyunseung.

Hyuna terkejut dan segera menggeleng, “Aniya, eommanim. Aku akan menyewanya.. aku kan sudah bekerja, jadi akan mandiri secepatnya..” ucapnya.

Ibu Hyunseung menatap Hyuna iba dan mengelus rambutnya, “Kau akan mendapatkan pria yang lebih baik dari Hyunseung, gumawoyo..”

Hyuna tersenyum tipis dan mengangguk.

Malam itu Hyuna tidak bisa tidur memikirkan ucapan ibu Hyunseung. Dia duduk bersandar ke kepala tempat tidur sambil berpikir. “Ahh.. rasanya aku ingin mati..” ucapnya sebal, “Ahh.. eoteokhe?” ucapnya, bulir air matanya mulai berjatuhan. “Eoteokhe?” tanyanya lagi dan mulai menangis.

Tok! Tok! Tok!

Hyuna terkejut dan segera menyeka air matanya, lalu berbaring membelakangi pintu berpura-pura tidur.

Pintu kamar terbuka sedikit, muncul kepala Hyunseung yang mengintip kedalam. Setelah memastikan Hyuna tidur, perlahan dia masuk dan mengendap-endap menghampiri tempat tidur. Seulas senyum muncul di bibirnya melihat gadis itu tidur. Tangannya terulur dan mengelus rambut gadis itu, lalu keluar tanpa menimbulkan bunyi.

Hyuna merasa semakin sedih, perlahan matanya terbuka dan menghela nafas berat. Disaat Hyunseung sudah mulai memperhatikannya, dia justru tak bisa bersama pria itu.

=Sekolah=

Hyuna duduk bersandar di tempatnya lesu.

Naeun heran melihat Hyuna seperti itu, “Waeyo Hyuna-a? ada masalah dengan pekerjaanmu?”

Hyuna tersenyum, “Aniya.. Pekerjaanku baik-baik saja..”

“Lalu kenapa wajahmu seperti itu?” Tanya Naeun.

Hyuna diam sejenak, “Mmm.. Naeun-a, bisakah aku meminjam uangmu?”

Naeun terkejut, “Ne? wae?”

“Mmm.. Aku merasa tidak nyaman merepotkan keluarga Hyunseung oppa hingga bulan depan, jadi kupikir aku akan mencari tempat tinggal lain secepatnya..” ucap Hyuna memberi alasan.

Naeun mengangguk mengerti, “Atau bagaimana jika kau tinggal dirumahku saja?”

Hyuna menggeleng cepat, “Aniya, aku tidak ingin merepotkan siapa pun. Jadi aku harus mandiri..”

Naeun menghela nafas dalam dan menatap Hyuna sedih, “Keure, aku akan meminjamimu uang. Kau bisa menggantinya kapan pun kau bisa..”

Hyuna tersenyum lebar, “Gumawoyo..”

Malamnya.

Hyuna mulai mencari tempat tinggal murah dikoran, “Humm.. kenapa ini jauh sekali?” gumamnya, dia terkejut melihat Hyunseung duduk sebelahnya dan segera menyembunyikan Koran itu.

Dahi Hyunseung berkerut, “Apa itu?”

“Bukan apa-apa..” jawab Hyuna sambil tersenyum.

Hyunseung langsung merebut Koran itu dan melihatnya, kemudian menatap Hyuna kesal. “Jangan berpikir untuk mencari tempat tinggal lain!” ucapnya sambil merobek Koran itu.

Hyuna terkejut melihat Hyunseung merobek Koran, “Omo! Oppa!”

“Araso?!” tegas Hyunseung dan membawa sobekan Koran itu pergi.

Hyuna memperhatikan Hyunseung pergi, lalu tersenyum lebar karena dia sudah menyiapkan cadangannya jika tertangkap Hyunseung. Dia mengambil Koran yang dia duduki dan kembali melihat-lihat sambil menahan tawa.

=Sebuah gedung apartemen=

Ini sudah tempat ketiga yang Hyuna lihat minggu ini, tempatnya dekat dengan sekolah meskipun tidak besar. Atau bisa dibilang sangat kecil.

“Bagaimana Agassi?” Tanya nenek yang menjaga tempat itu.

Hyuna tersenyum, “Tempat ini sangat cocok untukku..”

“Baiklah Agassi, kau bisa meninggalinya setelah membayar uang muka..” jelas nenek itu.

Hyuna mengangguk, “Ne, halmoni..”

=Ruang Makan=

“Mwo?!” seru Hyunseung saat Hyuna menyampaikan niatnya pindah ke tempat yang dia sewa dengan alasan dekat dengan sekolah.

“Hyuna-a, apa tidak dipikirkan lagi? Hidup diluar seorang diri sangat sulit..” ucap ayah Hyunseung.

Hyuna tersenyum, “Gwenchana, appanim. Aku akan berusaha keras..”

Hyunseung meletakkan sumpit ditangannya dan menatap Hyuna, “Ya! Aku sudah berkata jangan mencari tempat lain kan?!”

Hyuna cemberut menatap Hyunseung, “Oppa, kau juga bukan suamiku. Kenapa melarangku?”

Hyunseung melotot pada Hyuna, “Ya!”

“Hyunseung-a, kau harus menghargai keputusan Hyuna. Dia pasti sudah memikirkannya dengan matang sebelum melakukan ini..” ucap ibu Hyunseung.

“Ne.” jawab Hyuna membenarkan.

Hyunseung mendengus kesal, lalu bangkit dan pergi.

Hyuna memandang Hyunseung sedih, dia sendiri juga tidak ingin pergi dari sana. Tapi dia harus menyadari statusnya sekarang. Karena dia hanya perlu membawa baju-baju dan perlengkapan sekolahnya, dia bisa langsung pindah keesokan harinya.

“Hyuna-a, apa kau tidak ingin menunggu Hyunseung dulu? Biar dia yang mengantarkanmu kesana.” Ucap ayah Hyunseung khawatir.

Hyuna tersenyum, “Aniya, aku akan pergi sendiri..”

“Hmm.. begitu.” Ucap ayah Hyunseung berat.

Ibu Hyunseung melangkah maju, “Hyuna-a, kau harus bisa berjuang..” ucapnya, lalu memeluk gadis itu. “Miane Hyuna-a..” bisiknya.

Hyuna tersenyum dan memandang ibu Hyunseung, “Ne, eommanim.. “ucapnya, “Baiklah, annyeonghaseo..” pamitnya dan langsung berbalik pergi. Dia tak ingin mereka memperlihatkan wajah sedihnya.

Siangnya.

“Mwo?! Hyuna sudah pergi?!” seru Hyunseung.

“Ne.. dia bilang akan merepotkan jika kau mengantarnya..” jawab ibu Hyunseung.

Hyunseung benar-benar kesal pada Hyuna, “Aissh! Gadis itu!”

<<Back           Next>>

Advertisements

5 thoughts on “Baby Boo~~ [Chapter 4]

  1. ughhhh umma nya hyunhyun oppa tega bgt sich…
    walopun alasan nya demi kebaikan ny hyun oppa tp kn gag bisa mukul rata gtoo..
    kn blm tentu ada gadis sebaik hyuna unni yg sanggup menjalani cobaan kayak gto..
    huufft berjuang unni..
    buktikan kalo unni pantas untuk oppa..
    ^^

  2. aigoo kenapa eomma hyunseung oppa sampai berpikiran seperti itu?? tega sekali

    apakah eomma ny tdk sadar jika hyuna itu perempuan yg ditinggalkan secara sengaja oleh ayah ny??

    aigooo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s