Uncategorized

Hello To Yourself..

Hello to Yourself

Cast:

– Narsha ‘Brown Eyed Girls’

– Ha Yeonsoo

-Narsha’s POV-

“Hello to myself hello to myself ul-ji malla-go nal wiirohaeju-llae.. Hello to myself hello to myself hal su it-da-go neo marhaeju-llae.. Hello hello ul-jima Hello hello i-reona..”

Lagu Hello To Myself dari Yeun ‘Wonder Girls’ itu menjadi backsound di butikku. Brown Eyed Girls Boutique.

Aku berdiri di depan dinding kaca butikku sambil memperhatikan hujan yang turun perlahan dari langit. Setelah aku dan teman-temanku, Miryo, Jea dan Gain kembali dari Amerika, kami membuka butik ini bersama.

“Hei.. Kau yang memutar lagu ini lagi?” Tanya Miryo sambil menghampiriku.

Aku memandang Miryo dan tersenyum tipis, “Ne.. Entah mengapa aku suka mendengarnya..”

Miryo tertawa kecil, “Cih.. Benarkah?” Tanyanya sambil melirikku jahil, “Atau kau merindukan seseorang?”

Aku menatap Miryo kesal, “Desainmu sudah selesai?” Tanyaku, lalu melangkah ke ruang desain.

Diruang desain tampak Gain yang terlihat stress dengan desainnya sendiri.

“Waeyo?” Tanyaku sambil menghampiri mejaku dan mulai melihat-lihat desainku kemarin.

“Aissh!! Jinja!” Ucap Gain kesal sambil mengacak-acak rambutnya.

Aku tertawa melihatnya seperti itu. Lebih baik aku tak mengganggunya lagi, daripada dia mulai berteriak histeris.

Malamnya.

“Bye semua.. Sampai jumpa besok..” Ucapku sambil melambai pada ketiga teman-temanku, lalu melangkah pergi meninggalkan butik. Kami memang tinggal di gedung apartemen yang sama, tapi kali ini aku ingin pergi ke suatu tempat dulu. Karena akhir-akhir ini sering hujan, udara jadi terasa dingin. Aku perlu merapatkan baju hangatku lagi.

Inilah Seoul, sama seperti New York, tidak pernah tidur meskipun malam semakin larut. Aku sangat senang kembali ke tanah kelahiranku. Setelah lama melangkah, kakiku berhenti di depan sebuah poster. Bibirku membentuk senyuman tipis.

“Bagaimana kabarmu?” Tanyaku pada orang di gambar itu, lalu melangkah pergi.

Suatu Hari.

Hujan tidak turun, namun langit terus berawan. Aku kembali berdiri di depan dinding kaca sambil memperhatikan orang berlalu lalang seperti biasa. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ada seorang gadis yang duduk di depan butik sambil bernyanyi dengan gitarnya, juga terlihat beberapa orang yang berlalu berhenti sejenak untuk mendengarkannya bernyanyi. Tapi mereka tidak memberikan uang. Benar-benar mereka ini.

Aku penasaran apa yang dinyanyikan gadis itu, aku juga penasaran bagaimana wajahnya. Jadi aku melangkah keluar dari butik dan mendekatinya. Oooh.. Pantas saja banyak yang berhenti, gadis itu menyanyikan lagu Ma Boy dari grup Sistar19 dengan petikan gitarnya dan sudah dirubah versinya. Dia memiliki wajah manis dan senyuman ramah. Jari-jarinya sangat terlatih di senar gitar itu. Dan pantas saja tidak ada yang memberikan uang, ada papan bertulis ‘Free Showcase..’ Aku hampir tertawa membacanya.

Gadis itu menyelesaikan lagunya dengan baik. Mengundang tepuk tangan semua orang disana, termasuk aku. Dia berdiri dan membungkuk sopan.

“Gamshamida..” Ucapnya sopan.

Orang-orang mulai melangkah pergi, namun aku tetap berdiri disana. Setelah semua orang benar-benar pergi, aku melangkah maju untuk menghampirinya.

Gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sopan, “Annyeonghaseo..”

Aku tersenyum, “Pertunjukkanmu bagus sekali..”

Gadis itu tersipu malu, “Gamshamida..”

“Mmm.. Boleh aku meminta kau memainkan sebuah lagu?” Tanyaku.

“Tentu.. Apa yang ingin anda dengarkan?” Tanya gadis itu, dia bahkan tak memikirkannya dulu.

Aku memikirkan sebuah lagu yang sudah lama tak kudengarkan, “Kau tau Cleansing Cream?”

Gadis itu tampak berpikir sejenak, “Dari Brown Eyed Girls?” Tanyanya.

“Ne..” Jawabku.

“Aku akan mencobanya..” Ucap gadis itu, lalu mulai memainkan gitarnya. Intro yang manis, “Apa, apa(It hurts, it hurts).. Dachyeo beorin mami manhi manhi(my closed heart – a lot, a lot).. Oh my honey, honey baby.. Eotteohke haeya hajyo?(what do I do?)..”

Aku sangat terkesan dia bisa menyanyikannya dengan sangat manis, dia juga menyanyikan semua liriknya dengan bagus dan penghayatan pas. Di refrain pertama, spontan aku ikut bernyanyi memberikan harmonisasi yang indah.

“Na eotteok hajyo eonni, ijen jam deulgo shipeunde(What do I do, unni? I want to sleep now).. Nae mameun jakku geunyeo, seok hante dallyeo ga ne yo(But my heart keeps running to him).. Eojjeo jyo eonni, na idaeron andwel geotman gata(What to do, unni? I don’t think I can go on like this).. Butakhae ttak hanjan man, nawa masheo jullae yo, butakhae eonni(Please, can you have a drink with me? I ask of you, unni)..” Nyanyi kami bersama.

“Apa, apa.. Dachyeo beorin mami manhi manhi.. Oh my honey, honey baby.. Eotteohke haeya hajyo..” Gadis itu menyelesaikan lagunya dengan merdu. Kami saling tersenyum beberapa saat dan tertawa kecil.

“Wow.. Kau luar biasa..” Pujiku.

Gadis itu tersipu malu, “Gamshamida.. Anda juga sangat luar biasa..”

Aku mengulurkan tanganku, “Narsha..” Ucapku.

Gadis itu segera berdiri dan menjabat tanganku, “Ha Yeonsoo imnida..” Ucapnya sopan.

“Baiklah.. Silahkan melanjutkan showcase-mu.. Aku akan pergi..” Ucapku.

“Ne.. Gamshamida..” Ucap gadis bernama Yeonsoo itu sopan.

Aku melangkah kembali masuk ke butik, begitu masuk aku kembali berdiri di balik dinding kaca sambil memperhatikannya. Anak yang cantik dan berbakat.

“Siapa itu?” Tanya Jea penasaran.

“Hanya seorang gadis luar biasa..” Jawabku.

“Dia pengamen?” Tanya Jea.

“Ani, hanya showcase..” Jawabku lagi.

“Ne? Showcase?” Tanya Jea tak percaya.

“Biarkan saja.. Dia sangat berbakat..” Ucapku, lalu berbalik pergi.

Keesokan harinya, gadis itu kembali mengadakan showcase disana. Namun sore ini, mendadak hujan turun sangat deras. Dia segera memasukkan gitarnya ke tas dan berteduh di teras butikku. Namun dia tetap saja terkena air hujan karena teras butikku sangat kecil.

“Miryo.. Kita ada payung?” Tanyaku pada Miryo yang sedang membicarakan sesuatu dengan karyawan kami.

“Payung? Ooh.. Di meja kasir..” Jawab Miryo.

Aku segera melangkah ke meja kasir dan mengambil payung, lalu melangkah ke pintu depan. Begitu membuka pintu aku melebarkan payung dan berjalan menghampiri Yeonsoo.

“Ha Yeonsoo..” Panggilku.

Yeonsoo memandangku dan langsung membungkuk sopan, “Annyeonghaseo..”

“Ayo.. Berteduh di dalam..” Ajakku.

Yeonsoo tertegun, “Ne?”

“Ayolah..” Ajakku lagi.

Awalnya Yeonsoo tampak ragu, tapi akhirnya ikut masuk ke butik. Rambut dan bajunya tampak basah, tas gitarnya juga tampak mengalirkan tetesan air.

Miryo, Jea dan Gain memandang Yeonsoo heran.

“Annyeonghaseo..” Sapa Yeonsoo sambil membungkuk sopan.

“Nanti saja perkenalannya..” Ucapku pada yang lain, “Yura, tolong keringkan gitarnya dengan hair-dryer..” Ucapku sambil mengambil tas gitar Yeonsoo dan memberikannya pada Yura.

“Ne?” Ucap Yeonsoo kaget.

“Ikut aku..” Ucapku pada Yeonsoo dan berjalan masuk.

Yeonsoo membungkuk sopan pada yang lain dan segera mengikutiku ke ruang desain. Tentu aku tidak ingin dia masuk angin karena mengenakan baju yang basah, jadi aku memberikan sepasang baju hangat buatanku.

Setelah beberapa saat masuk ke ruang ganti, Yeonsoo keluar dengan wajah merona. Bibirku membentuk senyuman lebat melihatnya sangat cocok mengenakan baju itu.

“Tidak apa-apa aku mengenakan ini?” Tanya Yeonsoo.

“Gwenchana.. Anggap saja hadiah dariku..” Ucapku.

Yeonsoo tersenyum, “Gamshamida.. Ini cantik sekali..”

Aku tidak tau mengapa aku sangat menyukai gadis ini. Dia sangat sopan dan menyenangkan. “Ne..” Jawabku, “Ayo, aku akan memperkenalkanmu pada teman-temanku..” Ajakku sambil merangkulnya dan membawanya keluar.

Mata Miryo, Jea dan Gain membesar melihat Yeonsoo mengenakan bajuku.

“Woaaah.. Baju ini belum di rilis tapi kau sudah memberikannya pada gadis ini..” Ucap Jea.

Aku tersenyum, “Bukankah pantas untuknya?”

Gain memperhatikan Yeonsoo, “Kau gadis yang bernyanyi di depan butik itu kan?”

Yeonsoo membungkuk sopan, “Annyeonghaseo, Ha Yeonsoo imnida..”

“Annyeong.. Namaku Jo Mihye, tapi disini aku di panggil Miryo..” Ucap Miryo memperkenalkan diri.

Yeonsoo tersenyum lebar.

“Panggil saja aku Jea..” Ucap Jea.

“Namaku Son Gain..” Ucap Gain memperkenalkan diri.

Yeonsoo tertawa kecil, “Bibiku juga bernama Gain..” Ucapnya. “Dia juga cantik sepertimu..”

Kulihat Gain langsung tersipu malu. Gadis ini benar-benar tau cara memuji orang.

“Ayo ke ruang pertemuan, kita bisa mengobrol sambil menikmati coklat hangat disana.” Ajak Jea.

Kami semua melangkah ke ruang pertemuan dan menikmati secangkir coklat hangat.

“Yeonsoo-a, kenapa kau melakukan showcase? Kau trainee di agensi?” Tanya Gain ingin tau.

“Ani..” Jawab Yeonsoo sambil menggeleng, “Aku hanya menyukainya..”

“Dengan bakatmu itu, kau bisa menjadi penyanyi terkenal..” Ucap Jea memuji.

Yeonsoo tersenyum malu.

“Ne.. Kenapa kau tidak mengikuti audisi agensi?” Tanya Miryo.

“Mmm.. Sejujurnya aku tidak begitu menyukai dunia entertainment..” Ucap Yeonsoo.

Kami semua tertegun, “Waeyo?”

“Mmm.. Karena aku hanya ingin memainkan musik yang kuinginkan.. Aku tidak ingin orang-orang mulai menilaiku dan mengatakan apa yang harus dan tidak kulakukan. Aku bernyanyi hanya karena aku suka. Juga karena aku senang melakukannya..” Jawab Yeonsoo.

Aku benar-benar terperangah mendengar jawabannya. Gadis ini, kenapa dia terlihat sepertiku? Hahahaha..

“Oh iya, berhubung Yeonsoo disini. Kenapa kita mendengarkannya bernyanyi sambil menunggu hujan reda?” Usul Jea.

“Ne..” Ucap Gain setuju.

“Hei.. Dia kan tamu..” Protesku.

“Aku akan melakukannya..” Ucap Yeonsoo, “Anggap saja ucapan terima kasihku karena sudah diijinkan berteduh disini..”

“Ide bagus!” Ucap Miryo setuju.

Aku hanya tersenyum sambil memperhatikannya mengambil gitar dan menyanyikan sebuah lagu.

-Narsha’s POV end-

=Rumah Gain-Youngkwang=

Gain tersenyum mendengar cerita Yeonsoo mengenai gadis bernama Son Gain yang dia temui tadi sore.

“Jinja? Lebih cantik mana?” Tanya Youngkwang, lalu memajukan wajahnya. “Gain yang ini atau yang itu?” Bisiknya.

Gain melirik Youngkwang sebal.

Yeonsoo menahan tawa mendengar pertanyaan itu.

Youngkwang segera duduk tegap dengan senyuman menawan pada istrinya, “Tentu saja Gain yang ini..” Ucapnya sambil mencium pipi Gain.

“Pfff.. Dasar penggoda..” Ucap Gain sebal, lalu tertawa.

“Tapi sepertinya yang bernama Gain memiliki wajah yang cantik..” Ucap Yeonsoo.

Gain tersenyum lebar, “Sudah.. Ayo makan..”

=Brown Eyed Girls Boutique=

Narsha memasang jarum pentul di kain yang dia pasang di boneka torsho. Desainnya itu dia buat semalam dan langsung ingin dia buat. Bibirnya membentuk senyuman selama membuat baju itu.

Jea yang sedang membuat baju di boneka torshonya memandang Narsha heran, “Hei.. Ada apa denganmu?”

“Hm?” Narsha memandang Jea, “Apanya?”

Dahi Jea berkerut, “Aku mengenalmu sudah sangat lama, baru kali ini kau membuat baju sambil terus tersenyum seperti itu..”

Senyuman Narsha semakin lebar dan kembali menyelesaikan bajunya, “Aku hanya senang..”

“Wae? Sepertinya setelah bertemu gadis bernama Yeonsoo itu kau sangat aneh..” Ucap Jea heran.

Narsha berhenti sebentar sambil mengingat bagaimana Yeonsoo bernyanyi menggunakan gitar di depan butik mereka, “Mmm.. Aku hanya seperti melihat diriku dulu..” Ucapnya, lalu memandang Jea, “Dulu aku juga sering melakukan pertunjukkan di jalanan seperti itu..”

“Di Amerika?” Tanya Jea.

“Ani..” Jawab Narsha sambil kembali tersenyum, lalu kembali mengerjakan bajunya.

Jea tertawa kecil, “Dasar.. Kau selalu saja penuh misteri..”

Narsha hanya tersenyum mendengar ucapan Jea.

=Sekolah Yeonsoo=

Bel pulang berbunyi, Yeonsoo segera membereskan buku-bukunya dan menyandang tas. Saat hendak bangkit berdiri, ponselnya berbunyi, dia segera melihat layarnya. Bibirnya membentuk senyuman membaca pesan yang masuk.

From: Kang Haneul

Aku sudah menunggumu.. 🙂

Yeonsoo melangkah riang keluar kelas, senyuman lebar langsung terbentuk di bibirnya melihat Haneul bersandar di dinding menunggunya.

Haneul berdiri tegap dan tersenyum begitu melihat Yeonsoo, “Ayo pulang..”

Yeonsoo mengangguk dan berjalan bersama Haneul meninggalkan sekolah.

Setelah cukup jauh dari sekolah, Haneul mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Yeonsoo. Dia dan gadis itu saling berpandangan dan tersenyum sambil tetap berjalan.

“Haneul-a..” Panggil Yeonsoo memulai pembicaraan.

Haneul memandang Yeonsoo, “Hm?”

“Kau tau? Sepertinya aku ingin menjadi desainer baju..” Ucap Yeonsoo girang.

“Wae?” Tanya Haneul ingin tau.

Yeonsoo mengingat baju yang diberikan Narsha tempo hari padanya dengan mata berbinar, “Aku bertemu seorang eonni yang mengagumkan.. Dia seorang desainer.”

“Hm? Siapa?” Tanya Haneul bingung.

“Pemilik butik tempatku mengadakan showcase..” Jawab Yeonsoo.

Langkah Haneul terhenti dengan tatapan kagetnya pada Yeonsoo, “Kau tetap mengadakan showcase?”

Yeonsoo memandang Haneul bingung, “Ups..” Ucapnya, karena seharusnya dia tak memberitau pria itu.

Haneul menatap Yeonsoo kesal, “Ha Yeonsoo!”

“Aku hanya ingin melakukannya..” Ucap Yeonsoo.

Haneul menghela nafas dalam, lalu menarik Yeonsoo agar berjalan lebih cepat.

“Haneul-a..” Panggil Yeonsoo sambil menahan langkahnya.

Haneul berhenti dan kembali memandang Yeonsoo kesal.

Yeonsoo memasang wajah menyesal, “Habis kau sibuk dengan kegiatan sekolah, jadi aku melakukannya tanpa sepengetahuanmu..”

Haneul diam dan menunduk perlahan, lalu memandang Yeonsoo. “Maaf, aku tau kau ingin melakukan showcase itu. Aku memang terlalu sibuk akhir-akhir ini..”

Yeonsoo tersenyum.

“Tapi lain kali, kau harus melakukannya bersamaku..” Ucap Haneul mengingatkan.

Yeonsoo mengangguk.

Haneul tersenyum tipis dan menarik tangan Yeonsoo untuk berjalan bersamanya.

=Pusat Perbelanjaan=

Youngkwang merangkul Yeonsoo sambil mendorong troly belanjaan, “Kau tidak ingin bergabung dengan agensi ayahmu?”

Yeonsoo menggeleng, “Aku hanya ingin bersenang-senang..”

Youngkwang tertawa kecil, lalu mengambil beberapa snack dan memasukkannya ke troly. “Beruntung ayahmu mengerti apa yang kau inginkan..”

Yeonsoo tersenyum lebar, “Ne..” Ucapnya riang.

Saat itu, Narsha dan Gain masuk ke rak yang sama dari arah yang berlawanan.

“Samchon.. Jangan makan itu terus, nanti immo marah lagi..” Ucap Yeonsoo mengingatkan.

Narsha menoleh kearah suara Yeonsoo dan tertegun, “Omo.. Ha Yeonsoo?”

Yeonsoo memandang Narsha dan tersenyum lebar, “Eonni..”

Narsha tersenyum, “Wah.. Kebetulan sekali..”

“Annyeonghaseo..” Sapa Yeonsoo sopan.

Gain tersenyum, “Sudah lama tak bertemu..”

Youngkwang memegang bahu Yeonsoo, “Nugu?” Bisiknya.

“Ini eonni yang kuceritakan waktu itu..” Jawab Yeonsoo.

“Annyeonghaseo, apa kau ayah Yeonsoo?” Tanya Narsha sopan.

“Ini pamanku, eonni..” Ucap Yeonsoo memberitau.

Youngkwang tersenyum sambil mengulurkan tangan, “Annyeonghaseo, Kim Youngkwang imnida..”

Narsha tersenyum lebar sambil membalas uluran tangan Youngkwang, “Narsha..”

“Annyeonghaseo.. Son Gain imnida..” Ucap Gain sambil melambai.

Youngkwang tertegun, “Oh.. Annyeonghaseo..”

“Eonni, Youngkwang shamchon ini suami bibiku yang bernama Gain itu..” Ucap Yeonsoo memberitau.

Gain tersenyum malu, “Ohh.. Begitu..”

“Yeonsoo, jika kau ingin, datanglah ke butikku.” Ucap Narsha.

Yeonsoo tersenyum, “Ne..”

“Baiklah, kami permisi..” Ucap Narsha dan pergi bersama Gain.

“Bagaimana samchon? Orangnya menyenangkan kan?” Tanya Yeonsoo setelah melangkah pergi.

Youngkwang tersenyum lebar, “Ne..”

“Samchon, setelah lulus sekolah nanti aku akan mempelajari desain.” Ucap Yeonsoo bersemangat.

Youngkwang tertawa kecil, “Jinja? Woaaa.. Itu sangat keren..”

Yeonsoo tersenyum lebar, “Tentu saja..”

Gain muncul dengan beberapa barang ditangannya dan memasukkannya ke troly, “Kalian membicarakan apa?”

“Immo, samchon mengambil banyak kripik kentang..” Ucap Yeonsoo.

Youngkwang menatap Yeonsoo sebal, namun gadis itu hanya tersenyum lebar padanya. Lalu tersenyum lebar pada Gain. “Hanya beberapa..”

Gain menatap Youngkwang sebal, lalu memandang troly.

“Immo.. Tadi kami bertemu eonni yang membantuku waktu itu..” Cerita Yeonsoo.

Gain tersenyum sambil mengelus kepala Yeonsoo, “Jinja? Mmm.. Ayo kita membayar ini dan makan..” Ajaknya sambil merangkul keponakannya dan berjalan ke arah kasir.

=Brown Eyed Girls Boutique=

Haneul menarik tas Yeonsoo dari belakang karena gadis itu hendak masuk ke butik.

Yeonsoo memandang Haneul heran, “Wae?”

Haneul memandang Yeonsoo tak mengerti, lalu memandang Brown Eyed Girls Boutique. “Kenapa kesini?”

“Aku ingin belajar mendesain..” Jawab Yeonsoo.

“Kau belum mengenal mereka dengan baik..” Ucap Haneul.

Yeonsoo tersenyum dan melingkarkan tangannya di tangan Haneul, “Kalau begitu, ayo kukenalkan pada mereka..”

“Ne?” Ucap Haneul kaget.

Yeonsoo menarik Haneul masuk ke butik, “Annyeonghaseo..” Sapanya dengan suara lantang.

Narsha yang sedang mengatur rak-rak baju dan yang lain langsung memandang ke pintu.

“Ooh.. Yeonsoo-a..” Ucap Narsha sambil menghampiri gadis itu.

Yeonsoo tersenyum lebar, “Eonni, aku datang lagi..” Ucapnya sambil membungkuk sopan.

Miryo ikut menghampiri dengan tatapan bingung pada Haneul, “Kau bersama siapa?”

Yeonsoo menarik Haneul maju selangkah, “Ini temanku..” Ucapnya memperkenalkan.

“Annyeonghaseo, Kang Haneul imnida..” Ucap Haneul sambil membungkuk sopan.

Gain dan Jea ikut menghampiri.

“Wuaa.. Anak SMA sekarang sangat tinggi..” Ucap Jea kagum.

Haneul tersenyum tipis.

“Ayo.. Kita bicara di dalam..” Ajak Narsha dan melangkah masuk.

Yeonsoo menarik Haneul untuk ikut masuk ke ruang pertemuan.

“Eonni, aku ingin mempelajari desain baju.. Apa eonni mau mengajariku?” Tanya Yeonsoo langsung.

Narsha tertegun menatap Yeonsoo, begitu juga dengan Miryo, Jea dan Gain. Lalu berpandangan bingung.

Haneul memandang Yeonsoo bingung, gadis itu selalu mengungkapkan apa yang ada di pikirannya dengan mudah.

Narsha kembali memandang Yeonsoo, melihat binar dalam tatapan gadis itu membuatnya sangat terkesan. Bibirnya membentuk senyuman perlahan, “Kau serius?”

Yeonsoo mengangguk, “Ne.. Aku akan giat belajar jika eonni mau mengajariku..”

“Mmm.. Baiklah..” Ucap Narsha.

Yeonsoo tersenyum senang, lalu bangkit berdiri dan membungkuk sopan. “Gamshamida..”

Narsha tersenyum lebar.

Setelah dari butik, Yeonsoo berloncat-loncat girang ketika pulang bersama Haneul.

Haneul memandang Yeonsoo khawatir, “Yeonsoo-a..”

Yeonsoo memandang Haneul dengan senyuman lebar, “Ne?”

“Kau yakin akan mempelajari desain di butik itu?” Tanya Haneul.

Yeonsoo mengangguk, “Ne.. Narsha eonni sangat berbakat, aku ingin sekali bisa seperti dia..”

Haneul tampak ragu, “Tapi aku tidak begitu yakin..”

Yeonsoo tersenyum, “Gwenchana..”

“Ini tidak baik, Yeonsoo..” Ucap Haneul.

Yeonsoo memandang Haneul bingung, “Wae?”

Haneul menghela nafas dalam, “Yeonsoo, bisa tidak kau memikirkan dulu sebelum mengatakan apa yang ada di pikiranmu..”

Yeonsoo diam memandang Haneul.

“Jika kau memang ingin mempelajari desain, kau bisa mempelajarinya di tempat khursus. Ayahmu seorang aktor besar, apa susahnya membawa orang yang bisa mengajarimu ke rumah?” Tanya Haneul.

Yeonsoo memandang Haneul bingung.

“Mmm.. Ayo..” Ucap Haneul sambil kembali melangkah.

Yeonsoo mengikuti Haneul tanpa berbicara. Hingga mereka tiba sampai di depan rumahnya.

Haneul berhenti dan memandang Yeonsoo, lalu tersenyum tipis. “Sampai besok..” Ucapnya, lalu berbalik.

“Haneul-a..” Panggil Yeonsoo.

Haneul berhenti dan memandang Yeonsoo, “Ne?”

“Haneul-a, aku tau kalau kebiasaanku itu tidak bagus. Tapi, bisakah kali ini kau mendukungku?” Tanya Yeonsoo.

Haneul diam sejenak, “Wae?”

“Aku tidak tau kenapa, tapi aku ingin belajar dengannya..” Jelas Yeonsoo.

Dahi Haneul berkerut, “Yeonsoo-a..”

“Kumohon.. Kali ini saja..” Bujuk Yeonsoo.

Haneul menghela nafas dalam dan diam sejenak.

Yeonsoo memasang puppy-eyesnya, “Aku tidak akan melakukannya lagi.. Ya..” Bujuknya, karena pria itu hanya diam. Dia memegang lengan Haneul dan mengguncang lengannya, “Kumohon.. Kumohon..”

Akhirnya Haneul luluh, “Baiklah..”

“Yeay!!” Seru Yeonsoo girang.

“Tapi..” Potong Haneul, membuat Yeonsoo kembali memandangnya. “Pastikan kau tidak melakukan hal yang lebih buruk dari hal ini!”

Yeonsoo mengangguk, “Ne..”

Haneul tersenyum, “Aku pulang..”

Yeonsoo tersenyum sambil melambai, “Sampai jumpa besok..”

Paginya.

Yeonsoo berjalan ke ruang makan dan melihat Hyunbin sudah duduk disana sambil membaca koran, “Selamat pagi, appa!!” Ucapnya sambil memeluk leher ayahnya dari belakang.

Hyunbin terkejut dan tersenyum sambil mengelus rambut Yeonsoo, “Selamat pagi..”

Yeonsoo segera duduk di hadapan ayahnya dan mulai sarapan. “Appa, bagaimana Hawaii?” Tanyanya.

“Sangat indah..” Jawab Hyunbin, “Liburan ini appa berencana mengajakmu berlibur disana, pasti menyenangkan..”

Yeonsoo tersenyum lebar, “Wuaa.. Keren..”

Hyunbin senang melihat respon Yeonsoo, “Oh ya, direktor Kim….”

“Shiro!” Potong Yeonsoo, lalu kembali makan.

Hyunbin menghela nafas dalam, “Appa hanya ingin berkata kalau direktor Kim memujimu cantik..”

Yeonsoo cemberut mendengar ucapan Hyunbin, “Apa dia menawarkan peran lagi?”

Hyunbin tertawa kecil, “Aneh sekali.. Banyak gadis yang bisa bernyanyi rela ikut training di agensi, tapi kau tak perlu audisi malah menolaknya..”

“Karena aku inginnya menjadi desainer..” Ucap Yeonsoo.

Hyunbin tertegun mendengar ucapan Yeonsoo, “Mwo?”

“Desainer..” Jelas Yeonsoo, “Aku ingin sekali belajar desain setelah lulus nanti..”

Butuh beberapa menit bagi Hyunbin mencerna ucapan Yeonsoo, “Tapi Yeonsoo..”

“Appa bilang akan mendukung apa pun keputusanku..” Protes Yeonsoo.

“Ne, memang begitu. Tapi…”

“Kenapa ada ‘tapi’ juga?” Tanya Yeonsoo kesal.

Hyunbin terdiam sesaat, “Ne.. Baiklah..” Ucapnya berat.

Yeonsoo tersenyum lebar.

=Beberapa Saat Kemudian=

Narsha tersenyum melihat kesungguhan Yeonsoo membuat sebuah baju. Bahkan gadis itu mendesain sendiri model baju yang ingin dia buat. Dalam waktu seminggu 70% mini dress itu sudah terlihat. “Wuaaa.. Kau sangat berbakat dalam hal ini..” Ucapnya kagum sambil memperhatikan baju itu.

Yeonsoo tersenyum lebar, “Ne.. Karena aku harus segera menyelesaikannya..”

“Wae? Kau ingin mengenakannya saat kencan?” Ledek Narsha sambil menahan tawa.

Wajah Yeonsoo memerah, “Aniya..” Jawabnya malu.

Narsha menahan tawa, “Lalu?”

“Bibiku akan berulang tahun bulan depan, jadi aku ingin memberikan ini padanya..” Jawab Yeonsoo bangga.

Narsha tertegun, “Ne?”

Yeonsoo mengangguk, “Ne..” Jawabnya, lalu memandang baju yang dia buat. “Memang bukan baju yang bagus, tapi aku membuatnya sepenuh hati..”

Ini yang Narsha sukai dari Yeonsoo, selalu bersemangat. “Bibimu yang bernama Gain itu?”

Yeonsoo mengangguk lagi, “Ne.. Karena sejak kecil aku tidak mempunyai ibu, Gain immo yang selalu merawatku. Bisa dibilang dia adalah sosok ibuku..” Ceritanya.

Narsha diam sejenak, “Ibumu tidak ada?”

Yeonsoo menggeleng, “Ani.. Ayahku berkata ibuku pergi begitu saja ketika aku bayi..”

Narsha tampak berpikir sejenak.

Yeonsoo tersenyum lebar, “Gwenchana eonni, ibuku pasti memiliki alasan kuat mengapa dia meninggalkanku..” Ucapnya dan kembali melanjutkan bajunya.

Narsha menatap Yeonsoo kagum, lalu mengacak-acak rambutnya gemas. “Kau anak yang mengagumkan..”

“Eonni!” Protes Yeonsoo sambil merapikan rambutnya.

=Sekolah=

Yeonsoo keluar kelas sambil memandang ke kanan dan kiri, tapi tak menemukan Haneul di manapun. Jadi dia melangkah ke kelas pria itu, sudah kosong. Dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi pria itu.

“Yoboseo?”

Yeonsoo tertegun mendengar suara seorang gadis yang mengangkat pesan itu, “Bukankah ini ponsel Kang Haneul?”

“Ne.. Dia sekarang sedang mengatur dekorasi untuk acara amal minggu ini..” Jawab gadis.

“Acara amal? Dimana?” Tanya Yeonsoo.

“Di gedung olahraga..” Jawab gadis itu.

“Terima kasih..” Ucap Yeonsoo dan memutuskan telepon, lalu melangkah menuju gedung olahraga.

Begitu Yeonsoo masuk, lapangan basket dan futsal sudah berubah menjadi panggung kecil dan beberapa stand. Disana juga tampak beberapa orang mulai bekerja.

“Tolong naikkan sedikit lagi..” Ucap Haneul pada beberapa siswa yang memasang spanduk untuk acara itu.

Yeonsoo tersenyum dan segera menghampiri Haneul, “Haneul-a..”

Haneul memandang Yeonsoo dan tampak menyesal, “Oh.. Yeonsoo-a.. Maaf, aku tidak bisa menunggu di depan kelasmu..”

“Gwenchana.. Kau sepertinya sibuk..” Ucap Yeonsoo sambil memperhatikan sekitar.

“Ne.. Guru memilihku sebagai ketua di acara amal ini..” Ucap Haneul. “Dan.. Sepertinya aku tidak bisa pulang bersamamu, aku masih harus menyelesaikan ini..”

Yeonsoo mengangguk, “Gwenchana, aku bisa pulang sendiri. Lagi pula aku akan pergi ke butik..”

Haneul tertegun, “Butik?”

Saat itu seorang gadis berambut panjang datang dan memberikan sebuah map pada Haneul, “Haneul-a, ini daftar standnya..”

“Ohh.. Terima kasih..” Ucap Haneul sambil mengambil map itu dan melihatnya.

Gadis itu memandang Yeonsoo, “Mmm.. Kau yang menelepon tadi itu ya?”

Yeonsoo tersenyum tipis, “Ne..”

Haneul tertegun dan memandang Yeonsoo kaget, “Kau tadi menelepon?”

“Ne.. Tapi dia yang mengangkat..” Jawab Yeonsoo sambil menunjuk gadis tadi.

Haneul memandang gadis itu.

“Ne.. Ini, kau meninggalkan ponselmu.” Ucap gadis itu sambil mengeluarkan ponsel Haneul dari saku bajunya dan memberikannya pada pria itu.

Yeonsoo tertegun melihat ponsel Haneul ada pada gadis itu.

“Aku meninggalkannya? Ow.. Aku jadi sering lupa akhir-akhir ini..” Ucap Haneul sambil mengambil ponselnya, “Terima kasih Dahee-a..” Ucapnya.

Gadis bernama Dahee itu tersenyum dan pergi ke tempat lain.

“Haneul-a, siapa Dahee itu?” Tanya Yeonsoo.

“Dia teman sekelasku.. Juga sekretaris untuk acara ini..” Jelas Haneul.

“Ooh.. Begitu..” Ucap Yeonsoo mengerti.

“Haneul-a, ini harus bagaimana?” Tanya seorang murid.

“Sebentar..” Ucap Haneul.

“Kau sangat sibuk ya? Kalau begitu aku akan langsung ke butik.. Sampai nanti..” Ucap Yeonsoo sambil melambai dan berjalan pergi.

Haneul tidak nyaman melihat Yeonsoo pergi begitu saja, “Yeonsoo-a..” Panggilnya.

Yeonsoo berhenti dan memandang Haneul, “Ne?”

“Nanti malam aku akan ke rumahmu..” Ucap Haneul.

Yeonsoo tersenyum, “Ne..”

Haneul tersenyum.

Yeonsoo kembali melangkah keluar dari gedung olahraga.

=Brown Eyed Girls Boutique=

“Annyeonghaseo..” Ucap Yeonsoo sambil melangkah masuk ke butik.

“Oh.. Yeonsoo-a..” Sapa Gain yang sedang merapikan rak.

Yeonsoo melihat ada kerumunan dan semua orang sibuk disana, “Eonni, ada apa disana?”

“Hm? Oh.. Itu, kau tau aktris yang terkenal itu, Uee?” Tanya Gain.

“Ooh.. Yang jadi model iklan mobil itu ya?” Tanya Yeonsoo memastikan.

“Ne..” Jawab Gain, “Dia sedang berkunjung dan semua orang jadi sangat sibuk. Jea, Narsha dan Miryo jadi kewalahan. Dia merasa artis besar dan ingin di layani..” Ucapnya sebal.

“Hmm.. Begitu..” Ucap Yeonsoo, “Aku akan menyelesaikan bajuku..”

Gain tersenyum, “Semangat!”

Yeonsoo tersenyum dan masuk ke ruang desain. Setelah membuka tas dan baju luarnya, dia mulai melanjutkan bajunya. Saat itu ponselnya berbunyi, dia sempat terkejut melihat nama ayahnya muncul di layar. “Ahh.. Eoteokhe?” Gumamnya bingung, tapi dia harus menjawab pesan itu. “Ehem..” Dia berdehem sejenak dan menempelkan ponsel di telinga, “Ne, appa..”

“Yeonsoo-a, kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?” Tanya Hyunbin.

“Oh.. Aku sedang melakukan sesuatu tadi..” Jawab Yeonsoo memberi alasan.

“Hmm.. Kau sudah di rumah?” Tanya Hyunbin.

“Ani..” Jawab Yeonsoo.

“Dirumah Gain?” Tanya Hyunbin lagi.

Yeonsoo menelan ludah, “Ani..”

“Lalu, dimana kau sekarang?” Tanya Hyunbin.

“Mmm.. Aku.. Aku sedang di tempat temanku..” Jawab Yeonsoo.

“Dirumah Haneul?” Tanya Hyunbin ingin tau.

Jantung Yeonsoo berdegup kencang, “Mmm.. Ne..” Jawabnya pelan.

“Oh.. Jangan pulang terlalu malam.. Kau mengerti?” Ucap Hyunbin mengingatkan.

Yeonsoo lega ayahnya tidak curiga, “Ne, appa..”

“Baiklah.. Sampai nanti..” Ucap Hyunbin dan memutuskan telepon.

“Fiuuuh..” Yeonsoo menghela nafas lega dan memandang layar ponselnya sejenak. Lalu kembali sibuk dengan baju yang dia buat.

Pintu ruang desain terbuka, muncul Narsha. “Oh.. Yeonsoo-a, sudah datang?”

Yeonsoo memandang Narsha dan tersenyum, “Eonni, annyeonghaseo..”

Narsha menghampiri Yeonsoo sambil memperhatikan baju yang di kerjakan gadis itu, “Mmm.. Sudah hampir selesai..” Ucapnya kagum.

Yeonsoo tersenyum lebar, “Ne, hanya perlu beberapa tambahan di bahu dan pinggangnya..” Ucapnya sambil merapikan lipatan baju itu.

Narsha tersenyum kagum pada Yeonsoo, lalu menarik tangan gadis itu dan melihat permukaan kulitnya.

Yeonsoo memandang Narsha bingung, “Waeyo eonni?”

“Aku hanya ingin melihat tanganmu..” Ucap Narsha, “Kau pasti bekerja sangat keras, lihat tanganmu jadi kasar seperti ini..”

Yeonsoo tersenyum malu, “Aku hanya bisa mengerjakannya disini, jadi aku selalu berusaha melakukan dengan baik..”

Narsha memperlihatkan tangannya, “Ini, kau lihat?”

Yeonsoo memperhatikan tangan Narsha dan menyentuhnya, “Omo.. Kulit eonni rasanya berbeda..”

Narsha mengangguk, “Seperti inilah tangan penjahit..” Ucapnya, “Karena terlalu sering memegang kain dan benang..”

Yeonsoo menggenggam kedua tangan Narsha dan menatapnya, “Suatu hari aku akan memiliki butikku sendiri, juga dengan pakaian desainku sendiri..”

Narsha tersenyum lebar, “Ne..”

“Eonni, baju ini sudah hampir selesai. Maukah kau mencobanya untukku?” Pinta Yeonsoo.

Narsha tertegun, “Ne? Aku?”

Yeonsoo mengangguk, “Ne.. Karena ini kejutan untuk bibiku, aku tidak mungkin memintanya mencoba baju ini. Jadi, eonni coba saja..” Bujuknya.

Narsha memandang baju itu dan Yeonsoo bergantian.

“Ayolaaaah..” Bujuk Yeonsoo lagi.

Akhirnya Narsha mencoba baju itu di ruang ganti. Meskipun belum selesai, tapi sudah tampak bagus dan pas di tubuhnya. Bibirnya membentuk senyuman memandang dirinya di cermin, namun perlahan kenangan masa lalu membuatnya tertegun.

=Flashback=

“Kau yang membuatnya?” Tanya pria itu begitu mendapatkan hadiah sebuah blazer dari Narsha.

Narsha tersenyum lebar, “Ne.. Aku membuatnya setiap malam dan inilah dia..”

Pria itu tersenyum lebar, “Wuaaa.. Bagus sekali.. Aku akan mengenakannya saat audisi..”

Narsha senang mendengarnya, “Jinja?”

Pria itu mengangguk.

=Flashback end=

Tok! Tok! Tok!

Narsha tersentak mendengar ketukan pintu dan menyadari bulir air matanya menetes.

“Eonni.. Kenapa lama sekali?” Tanya Yeonsoo dari luar.

Narsha segera menyeka air matanya, “Oh.. Ne..” Jawabnya dan segera keluar dari ruang ganti.

“Waeyo eonni?” Tanya Yeonsoo.

Narsha tertawa kecil, “Maaf, aku sempat terkagum-kagum dengan baju ini..”

Yeonsoo tersipu, “Eonni..” Ucapnya malu.

“Baju ini bagus.. Pas dengan lekukan tubuhku.. Bibimu pasti menyukainya..” Ucap Narsha sambil tersenyum.

Yeonsoo tersenyum lebar.

=Van Hyunbin=

Hyunbin memandang layar ponselnya, wajah Yeonsoo yang tersenyum padanya menjadi wallpaper disana. Bibirnya membentuk senyuman, namun beberapa saat kemudian tampak sedih.

“Hyunbin, kita sudah tiba..” Ucap manajer Hyunbin sambil memarkirkan mobil.

Hyunbin memandang manajernya dan mengangguk, “Ne..” Ucapnya, lalu mengambil buket bunga dan keluar dari van. Dia mengenakan pakaian serba hitam karena akan mengunjungi makam seorang temannya. Beberapa langkah sebelum mendekati makam, dia berhenti karena melihat seorang gadis sudah terlebih dulu berdiri disana dengan pakaian serba hitam. Dahinya berkerut karena merasa mengenal gadis itu.

Gadis itu melepas kacamata hitamnya dan memandang nisan bertuliskan, Choi Jinhyuk. “Akhirnya aku bisa mengunjungimu lagi..” Ucapnya pelan, lalu diam sejenak untuk mengatur emosinya. Matanya kembali memandang nisan itu, “Maafkan aku..” Ucapnya penuh sesal, bulir air mata mengalir dari matanya begitu saja. Dadanya juga terasa sesak, “Maafkanku Jinhyuk..” Tangisnya, kakinya bergetar hebat dan hampir jatuh terduduk jika Hyunbin tidak menahan tubuhnya. Dia terkejut melihat siapa yang membantunya.

“Gwenchana?” Tanya Hyunbin khawatir.

Gadis yang tak lain adalah Narsha itu berdiri tegap, “Hyunbin-a?”

“Aku tidak tau kau kembali ke Korea..” Ucap Hyunbin.

Narsha menunduk, “Ne.. Aku kembali beberapa bulan lalu..”

Hyunbin memandang nisan itu, lalu meletakkan buket bunga di tangannya. “Dia pasti merindukanmu..”

“Aku harus pergi..” Ucap Narsha sambil melangkah melewati Hyunbin.

“Hyojin..” Panggil Hyunbin.

Narsha berhenti, namun tak berbalik.

“Apa kau ingin bertemu dengannya?” Tanya Hyunbin.

Narsha diam sejenak, kedua tangannya menggenggam kacamata untuk menutupi kegugupannya. Perlahan dia berbalik dan memandang Hyunbin, “Maaf, anggap saja kau tidak bertemu aku disini..”

“Hyojin..” Ucap Hyunbin.

Narsha segera berbalik dan berjalan cepat meninggalkan makam itu.

=Taman Hiburan=

Yeonsoo tersenyum lebar sambil melangkah keluar dari taman hiburan bersama Haneul, mereka menikmati hari yang menyenangkan karena itu adalah hari Minggu.

“Yeonsoo-a, hari ini kau tidak ke butik?” Tanya Haneul.

Yeonsoo menggeleng, “Aku sudah berkata akan pergi, jadi akan datang besok sepulang sekolah..”

“Tapi Yeonsoo, sepertinya Narsha-ssi itu sangat mencurigakan..” Ucap Haneul mengungkapkan pemikirannya.

Langkah Yeonsoo terhenti dan memandang Haneul bingung, “Ne?”

Haneul memandang Yeonsoo, “Yeonsoo, kau baru mengenal Narsha-ssi. Tapi dia sudah sangat baik padamu.. Apa menurutmu dia tidak mencurigakan?”

“Apa maksudmu?” Tanya Yeonsoo tak mengerti.

“Maaf Yeonsoo, aku tidak terlalu suka kau bergaul dengan Narsha-ssi dan teman-temannya..” Jawab Haneul.

Yeonsoo terkejut, “Haneul-a?”

“Kau mulai berbohong pada ayahmu, juga pada bibi dan pamanmu. Berkata kau bersamaku, atau mengerjakan tugas di suatu tempat. Tapi kau menghabiskan waktu disana.. Itu tidak baik Yeonsoo..” Jelas Haneul.

Yeonsoo diam memandang Haneul, “Tapi.. Aku mempelajari desain disana..”

“Jika memang begitu, katakan pada keluargamu..” Ucap Haneul.

Yeonsoo menunduk bingung, lalu kembali memandang Haneul. “Haneul-a, aku sedang melakukan sesuatu yang rahasia. Jadi tidak bisa memberitau mereka dulu..”

Haneul menatap Yeonsoo serius, “Apa itu?”

“Sudah kubilang kan, rahasia..” Ucap Yeonsoo.

Haneul memutar bola matanya kesal.

“Haneul-a..” Ucap Yeonsoo.

Disisi lain tempat Yeonsoo dan Haneul, Narsha berjalan di trotoar dengan perasaan hampa dan penyesalan dalam. Dia hanya terus melangkah tanpa melihat orang-orang disekitarnya. Namun akhirnya langkah kakinya terhenti, bulir air kembali berjatuhan dari matanya. “Jinhyuk.. Maafkan aku..” Gumamnya. Tangannya terangkat memegang dadanya yang terasa sesak. Kenangan di masa lalu kembali muncul di kepalanya.

=Flashback=

-Narsha’s POV-

Jinhyuk mengikuti audisi di sebuah agensi sore ini. Aku sama sekali tak bisa memejamkan mata menunggu kabar darinya. Sejak pagi hingga malam aku terus berdoa agar dia bisa lolos seleksi itu, karena itu adalah mimpinya. Akhirnya ponselku berbunyi, aku segera melihat layarnya. Namun yang menghubungiku Hyunbin. Aku menghela nafas dalam dan mengangkat panggilan itu, “Ne, Hyunbin-a..”

“Hyojin-a..” Ucap Hyunbin pelan.

Aku tertegun mendengar nada bicaranya, “Hyunbin-a.. Waeyo?”

“Hyo.. Hyojin-a..” Ucap Hyunbin tercekat.

“Hyunbin-a! Waeyo?!” Tanyaku panik.

“Jinhyuk..” Ucap Hyunbin, suaranya terdengar bergetar.

“Waeyo? Ada apa dengannya?!” Tanyaku kaget.

“Dia….” Hyunbin terdengar berat mengatakannya.

“Ada apa Hyunbin?!!!” Seruku marah, entah mengapa firasat buruk menggelayut di dadaku hingga bulir air mataku berjatuhan.

“Jinhyuk meninggal..” Ucap Hyunbin terbata-bata.

Aku terkejut seperti mendengar petir di telingaku, “Apa kau bilang?!”

“Jinhyuk.. Sudah meninggal, Hyojin..” Ucap Hyunbin sambil menangis.

Aku tak bisa percaya ini! Jinhyuk tidak mungkin meninggal! Dengan cepat aku langsung mendatangi rumah sakit yang di beritau Hyunbin padaku. Berharap itu semua hanya lelucon mereka, sama seperti saat mereka mengatakan kalau Jinhyuk sakit keras tapi ternyata itu hanya trik mereka agar aku datang dan mendapat kejutan ulang tahun dari mereka. Tapi ini bukan hari ulang tahunku!! Aku benar-benar takut!!

Langkahku terhenti melihat Hyunbin berdiri di depan sebuah ruangan dengan kepala tertunduk dan bulir air berjatuhan, aku menghampirinya dengan jantung berdebar kencang.

Hyunbin memandangku sedih, “Hyojin-a..”

“Dimana Jinhyuk?” Tanyaku dengan suara bergetar.

“Dia disana..” Jawab Hyunbin sambil menunjuk pintu di depannya.

Aku langsung membuka pintu itu dan melihat sesosok tubuh yang di tutupi kain putih, kain itu tampak memerah. Seluruh tubuhku gemetaran membayangkan Jinhyuk benar-benar berada di balik kain itu. Tanganku terangkat dan terulur untuk membuka kain itu, dalam hati aku berharap ini hanya lelucon mereka seperti biasa. Dan saat aku membuka kain ini, Jinhyuk akan langsung tertawa dan berkata aku telah di bodohi. Tapi…

Mataku melotot melihat benar-benar Jinhyuk yang berbaring di balik kain itu. Wajah dan tubuhnya berlumuran darah. Aku langsung membungkam mulutku sendiri karena tak percaya melihat apa yang kulihat. “Jin.. Jinhyuk..” Ucapku sambil menggoyang tubuhnya perlahan.

Jinhyuk tak memberi respon apa pun dan hanya tetap diam.

Bulir air mataku mengalir lebih deras, kedua tanganku memegang pipinya dan menyeka darah di wajahnya. “Jinhyuk-a..” Panggilku lagi, tapi dia tetap tak merespon.

Hyunbin memelukku dari belakang dan menarikku menjauh dari Jinhyuk, “Dia sudah meninggal, Hyojin..”

-Narsha’s POV end-

=Flashback end=

Narsha menyeka air matanya dan berusaha melangkah lagi, namun tubuhnya gemetaran hebat dan membuatnya jatuh di trotoar. Tasnya juga terjatuh hingga isinya bertebaran.

“Omo! Nona, anda baik-baik saja?” Tanya seorang pria.

Narsha gemetaran dan tak bisa berpikir jernih.

“Nona..” Ucap pria itu sambil memegang bahu Narsha.

Reflek Narsha mendorong tangan pria itu, “Jangan sentuh aku!!”

Yeonsoo yang sedang saling berdiam diri dengan Haneul melihat ada orang-orang yang mulai berkerumun, lalu melangkah kesana.

Haneul memandang Yeonsoo bingung, “Yeonsoo-a!”

Yeonsoo memperhatikan dari jauh dulu, matanya membesar melihat Narsha terduduk di trotoar sambil menangis. “Omo! Narsha eonni..” Ucapnya, lalu segera menghampiri wanita itu.

“Yeonsoo!” Panggil Haneul dan mengikuti gadis itu.

“Omo! Eonni! Gwenchana?” Tanya Yeonsoo sambil menyamakan tingginya dengan Narsha.

Narsha memandang Yeonsoo dengan bulir air terus berjatuhan, “Ha Yeonsoo..” Ucapnya pelan.

“Eonni, waekeure?” Tanya Yeonsoo khawatir.

Haneul tertegun melihat Narsha.

Narsha menangis tersedu-sedu, “Yeonsoo-a..” Tangisnya.

“Eonni..” Ucap Yeonsoo bingung.

Kesadaran Narsha menurun dan jatuh tak sadarkan diri. Yeonsoo segera menarik Narsha kepelukannya sebelum terbaring di trotoar.

“Omo!! Eonni!!” Seru Yeonsoo kaget.

“Yeonsoo, ayo bawa dia ke rumah sakit..” Ucap Haneul, lalu memberikan punggungnya sambil menarik kedua tangan Narsha ke bahunya dan menggendong gadis itu.

Yeonsoo segera memunguti barang-barang Narsha kembali ke tas dan segera mengikuti Haneul yang mencari taxy.

=Rumah Sakit=

Narsha tersadar di kamar perawatannya.

Jea langsung berdiri dan memandang Narsha, “Narsha, kau sudah sadar?”

Narsha mengerutkan dahi memandang Jea, “Jea, aku dimana?”

“Kau di rumah sakit, kemarin malam kau pingsan..” Jelas Jea.

“Ne?” Ucap Narsha bingung.

“Semalam Yeonsoo dan temannya yang membawamu kemari..” Ucap Jea memberitau.

Narsha tertegun, dia kembali teringat semalam Yeonsoo menghampirinya.

“Kau sudah merasa baik?” Tanya Jea khawatir.

Narsha tersenyum tipis, “Ne..”

“Ahhh.. Kau ini, jika kau memiliki masalah.. Ceritakan padaku, jangan pendam sendiri. Kau sampai seperti ini..” Ucap Jea sebal.

Narsha menghela nafas dalam.

“Dokter berkata kau hanya tertekan, juga sepertinya lambungmu bermasalah..” Ucap Jea memberitau.

Narsha hanya diam dan kembali memejamkan matanya, “Aku ingin tidur..”

Jea menghela nafas dan kembali menyelimuti Narsha, “Tidurlah..”

Narsha memang memejamkan matanya, namun dia kembali mengingat senyuman Jinhyuk. Tawa Jinhyuk. Juga lelucon-lelucon yang diberikan pria itu padanya.

=Sebuah Wawancara=

Setelah melakukan beberapa kali photoshoot, Hyunbin wawancara untuk sebuah majalah.

“Annyeonghaseo, Hyunbin-ssi.. Senang bisa duduk berhadapan denganmu lagi..” Ucap pewawancara dari majalah itu, Seohwa.

Hyunbin tersenyum tipis, “Ne. Annyeonghaseo..”

“Hyunbin-ssi, semua orang pasti punya cerita masa lalu. Apa anda bisa memberitau tentang kisah masa lalu yang sangat berarti untukmu?” Tanya Seohwa.

Hyunbin diam sejenak, lalu tersenyum. “Mmm.. Tentu saja..”

“Lalu, kisah seperti apa yang akan kau bagikan?” Tanya Seohwa.

“Kisah yang tidak pernah kulupakan adalah hari dimana aku mengikuti audisi pertamaku untuk bergabung dengan agensi..” Ucap Hyunbin memulai sambil mengenang hari itu, “Hari itu, aku sebenarnya hanya menemani sahabatku. Sahabat yang sudah seperti saudara kandung bagiku.” Lanjutnya, lalu tersenyum. “Kami bahkan bertaruh siapa yang akan lolos audisi hari itu. Jika aku menang, dia akan mentraktirku seminggu penuh. Begitu juga sebaliknya..” Ucapnya, senyumnya luntur perlahan dan menunduk sedih. “Ternyata kami berdua lolos audisi. Tapi sahabatku tidak bisa melanjutkan impiannya lagi. Bahkan dia tak sempat mendengar berita itu..” Lanjutnya sedih.

Seohwa tertegun melihat ekspresi Hyunbin, “Waeyo, Hyunbin-ssi?”

“Setelah kembali dari audisi, kami mengalami kecelakaan. Ani.. Bukan kami, hanya dia..” Ucap Hyunbin, matanya mulai berkaca-kaca mengingat hari itu. “Dia melindungiku, tapi malah dia yang tertabrak. Aku terlalu shock hingga tak bisa melakukan apa pun selain menangis. Cih.. Dia bahkan tidak mengeluh saat nyawanya sudah diujung tanduk..” Ucapnya, bulir air berjatuhan dari matanya.

Seohwa tertegun melihat Hyunbin sampai meneteskan air matanya.

Hyunbin menyeka air matanya dan tersenyum, “Maaf, dia benar-benar orang yang berjasa dihidupku..”

Seohwa tersenyum tipis, “Ne, aku mengerti.” Ucapnya, “Lalu, apa yang terjadi setelah itu?”

“Mmm.. Seminggu setelah sahabatku meninggal, aku menerima panggilan dari agensi dan memberitau kalau aku berhasil lolos pada audisi. Awalnya aku tidak ingin melanjutkannya, tapi aku sadar, menjadi seorang aktor adalah impian sahabatku. Tapi dia tak bisa mencapai impiannya.” Ucap Hyunbin, “Jadi, aku berpikir untuk menjadi aktor. Berharap dia akan merasa senang karena aku akan mencapai impiannya..”

Seohwa mengangguk mengerti, “Jadi, awal kau masuk ke dunia entertainmen karena temanmu itu?”

Hyunbin tersenyum tipis, “Ne..”

“Wuaaa.. Pasti dia sangat bangga padamu sekarang..” Ucap Seohwa.

“Kuharap begitu..” Ucap Hyunbin.

=Rumah=

“Appa..” Ucap Yeonsoo sambil memegang perutnya.

Hyunbin memandang Yeonsoo yang tampak kesakitan, “Yeonsoo? Waeyo?!” Tanyanya panik sambil menghampiri gadis itu.

“Perutku sakit..” Ucap Yeonsoo menahan sakit. Keringat dingin memenuhi dahinya, wajahnya juga tampak pucat.

“Ne?! Wae? Kau makan apa tadi?” Tanya Hyunbin sambil merangkul putrinya.

“Mola..” Ucap Yeonsoo sambil menggeleng, “Aw..” Rintihnya.

Hyunbin menggendong Yeonsoo dengan kedua tangannya, “Tenang saja, kita akan segera tiba di rumah sakit..” Ucapnya sambil melangkah ke mobil.

Setelah medudukkan Yeonsoo ke mobil, Hyunbin segera masuk juga ke mobil sambil menghubungi Gain.

“Ne, oppa..” Jawab Gain di seberang.

“Gain-a, Yeonsoo mengeluh sakit perut. Wajahnya pucat dan tampak sangat kesakitan, oppa membawanya ke rumah sakit sekarang..”

“Ne?! Omo! Aku akan menyusul!” Ucap Gain.

Hyunbin memutuskan telepon dan segera mengendarai mobilnya pergi.

“Aw.. Appa, sakit..” Tangis Yeonsoo sambil terus memegang perutnya.

“Ne, Yeonsoo. Tahan sedikit lagi..” Ucap Hyunbin menenangkan, meskipun dia sendiri tak bisa tenang.

Tak sampai 20 menit mereka tiba di rumah sakit. Hyunbin segera menggendong Yeonsoo masuk.

“Tolong!! Putriku kesakitan!” Seru Hyunbin.

Seorang perawat mendorong tempat tidur ke arah Hyunbin, “Tuan, baringkan dia disini..”

Hyunbin membaringkan Yeonsoo ke tempat tidur.

“Appa..” Tangis Yeonsoo sambil menahan tangan Hyunbin.

“Ne.. Appa disini, Yeonsoo-a..” Ucap Hyunbin sambil tetap menggenggam tangan Yeonsoo dan berjalan disisi tempat tidur.

“Awww.. Sakiiit..” Rintih Yeonsoo.

Hyunbin sangat khawatir melihat Yeonsoo terus merintih.

“Maaf tuan, anda tidak boleh masuk..” Ucap seorang perawat sambil menahan Hyunbin di depan UGD.

“Ne..” Ucap Hyunbin.

“Appa..” Panggil Yeonsoo, namun para perawat tak menghiraukannya dan segera memberikan bantuan pertama.

Hyunbin menunggu dengan perasaan gusar di depan ruang UGD. “Tuhan, tolong jaga dia..” Gumamnya.

Tak lama Gain tiba di rumah sakit bersama Youngkwang, “Oppa! Bagaimana Yeonsoo?” Tanyanya.

“Dia masih di periksa..” Ucap Hyunbin.

“Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa sakit perut?” Tanya Youngkwang.

“Aku tidak tau.. Tiba-tiba dia berkata perutnya sakit..” Jawab Hyunbin.

“Ooh.. Semoga tidak ada yang mengkhawatirkan..” Ucap Gain khawatir.

Hyunbin terkejut melihat beberapa wartawan yang membawa kamera berada di depan resepsionis, “Shit! Siapa yang memberitau mereka?!” Ucapnya kesal.

“Tunggu disini, aku akan memberitau petugas keamanan untuk menjaga mereka tetap jauh..” Ucap Youngkwang, lalu berjalan pergi.

Gain mendekati Hyunbin dan memeluk lengannya, “Oppa, gwenchana.. Yeonsoo akan baik-baik saja..”

=Ruang Perawatan Yeonsoo=

“Kau ini! Bagaimana mungkin kau makan sembarangan?! Untuk apa appa memberikanmu uang banyak jika kau juga makan di pinggir jalan?!” Tanya Hyunbin kesal pada Yeonsoo yang bersembunyi dalam pelukan Gain.

“Oppa.. Jangan marah-marah dulu..” Ucap Gain.

Hyunbin memutar bola matanya kesal, lalu membanting tubuhnya di sofa.

Youngkwang duduk di sisi Yeonsoo sambil mengelus rambutnya, “Yeonsoo-a, kenapa kau makan sembarangan? Lihat, kau jadi terkena infeksi usus..”

Yeonsoo memandang Youngkwang, “Aku tidak tau makanan yang kumakan tidak baik..” Jawabnya.

Gain mengelus rambut Yeonsoo, “Gwenchana, yang penting sekarang kau harus memperhatikan makananmu..”

Yeonsoo mengangguk, “Ne, immo..”

Hyunbin berdiri dan menatap Yeonsoo kesal, “Hei! Kenapa kau selalu menuruti Gain tapi appa tidak?!” Tanyanya.

Yeonsoo kembali memeluk Gain dan menyembunyikan wajahnya ngeri.

“Oppa..” Ucap Gain mengingatkan.

Hyunbin menghela nafas sebal, “Aku akan keluar sebentar..” Ucapnya, lalu melangkah keluar.

Setelah Hyunbin keluar, Yeonsoo memandang Gain bingung. “Immo, kenapa appa sering marah-marah sih?”

Gain tertawa kecil, “Tidak apa-apa, ayahmu hanya kesal saja..”

Sementara itu diluar, Hyunbin melangkah di koridor dan duduk di kursi tunggu untuk menenangkan pikirannya. Saat itu dia mendengar dua langkah kaki dan mengangkat wajahnya, seketika dia langsung terpaku tatapannya bertemu dengan Narsha.

Narsha yang saat itu akan keluar dari rumah sakit bersama Miryo juga terpaku menatap Hyunbin.

Hyunbin berdiri, “Hyojin?”

“Hyunbin-a? Kenapa kau disini?” Tanya Narsha.

Miryo memandang Hyunbin dan Narsha bergantian karena bingung dengan situasi mereka.

“Mmm.. Put..triku.. Dia dirawat disini..” Jawab Hyunbin gagu.

Narsha tertegun, “Putrimu?”

Hyunbin mengangguk kecil, “Ne..”

“Kau mengenal aktor ini?” Tanya Miryo pada Narsha.

Narsha memandang Miryo dan Hyunbin bergantian, “Ne..”

“Kami teman saat SMA..” Jawab Hyunbin.

“Ooh..” Miryo mengangguk mengerti.

“Aku akan pergi..” Ucap Narsha, lalu melangkah pergi.

“Hyojin..” Panggil Hyunbin sambil menahan tangan Narsha.

Narsha memandang Hyunbin.

Hyunbin tampak ragu untuk berbicara karena ada Miryo disana, “Hyojin, apa kau tidak ingin menyapa putriku dulu?”

Narsha diam sejenak, lalu menarik tangannya. “Maaf, aku harus pergi..” Ucapnya dan segera melangkah cepat meninggalkan Hyunbin.

Begitu masuk mobil, Miryo memandang Narsha bingung. “Hei.. Ada apa denganmu dan aktor itu? Apa hubungan kalian tidak baik?”

Narsha diam memandang keluar jendela sesaat, lalu menoleh pada Miryo. “Itu hanya karena kami sudah lama tidak bertemu..” Jawabnya, lalu kembali memandang ke jendela.

“Hm? Begitu..” Ucap Miryo, “Tapi.. Kenapa kau tidak mau bertemu dengan putrinya?”

Narsha kembali diam sesaat, “Aku hanya ingin segera beristirahat di apartemen..” Jawabnya.

=Keesokan Harinya=

Karena Hyunbin harus mengurus beberapa hal, Gain yang menemani Yeonsoo di rumah sakit.

“Immo, aku tidak membawa ponselku. Boleh pinjam punyamu?” Tanya Yeonsoo.

Gain memberikan ponselnya pada Yeonsoo, “Waeyo?”

Yeonsoo mengambil ponsel Gain, “Haneul pasti menghubungiku, tapi ponselku dirumah.. Apalagi aku tidak masuk sekolah hari ini..” Ucapnya.

Gain tersenyum mendengar ucapan Yeonsoo, “Kau seperti Youngkwang saat jauh dariku..” Candanya.

Yeonsoo tertawa kecil dan menelepon Haneul.

“Yoboseo..” Sapa seorang gadis.

Yeonsoo tertegun, “Ini ponsel Kang Haneul kan?”

“Ne.. Dia tertidur, mau kubangunkan?” Tanya gadis itu lagi.

Yeonsoo terkejut mendengar ucapan gadis itu, “Tertidur? Siapa ini? Kau Kim Dahee?”

“Ne..” Jawab gadis itu, “Ooh.. Kau Ha Yeonsoo kan?”

Yeonsoo langsung memutuskan telepon dan diam menahan emosinya.

Dahi Gain berkerut melihat ekspresi Yeonsoo sambil memotong apel, “Waeyo?”

“Ani..” Jawab Yeonsoo, lalu mengambil potongan apel dan memakannya. Dalam hati dia sangat kesal karena Haneul menghabiskan waktu bersama Dahee.

=Sekolah=

Haneul berdiri di depan kelas Yeonsoo dan menunggu gadis itu keluar, namun gadis itu tak kunjung muncul. “Oh.. Cokiyo..” Panggilnya pada seorang pria yang mengenakan kacamata.

“Ne?” Ucap pria itu.

“Mmm.. Apakah Ha Yeonsoo tidak datang?” Tanya Haneul.

“Ha Yeonsoo? Oh.. Dia sudah 2 hari tidak datang..” Jawab pria itu.

Haneul tertegun, “Ne? Waeyo?”

Pria itu mengangkat bahu, “Guru hanya berkata kalau Yeonsoo ijin..”

Dahi Haneul berkerut, “Oh.. Ne, terima kasih..”

Pria itu mengangguk dan berjalan pergi.

Haneul berusaha memikirkan mengapa Yeonsoo tidak muncul di sekolah, ‘Apa dia ke butik?’ Batinnya. Dia sudah berusaha menghubungi gadis itu sejak kemarin, namun tak pernah diangkat.

=Brown Eyed Girls Boutique=

Haneul mendorong pintu dan melangkah masuk sambil mengedarkan pandangannya.

Miryo memandang Haneul bingung.

“Annyeonghaseo..” Sapa Haneul sambil membungkuk sopan.

“Ne, ada apa?” Tanya Miryo.

“Mmm.. Maaf, apakah Ha Yeonsoo ada disini?” Tanya Haneul.

Narsha yang sedang berkeliling menoleh ke arah Haneul karena menyebut nama Yeonsoo.

“Ani, dia sudah 2 hari tidak datang..” Jawab Miryo.

Haneul tertegun, “Ne?”

Narsha menghampiri Haneul, “Ada apa ini?”

“Annyeonghaseo..” Sapa Haneul sambil membungkuk sopan.

“Dia mencari Ha Yeonsoo..” Jawab Miryo.

Narsha tertegun dan memandang Haneul bingung, “Kau mencari Yeonsoo?”

“Ne.. Dia sudah 2 hari tidak masuk sekolah, aku juga tidak bisa menghubunginya. Rumahnya juga selalu kosong..” Jelas Haneul.

Narsha mengerutkan dahinya, “Dia sudah 2 hari ini tidak muncul..”

Haneul mulai khawatir, “Apa yang terjadi?” Gumamnya tak mengerti.

“Apa sesuatu sudah terjadi?” Tanya Narsha.

Haneul menggeleng, “Tidak ada..” Jawabnya, “Mmm.. Aku akan mencarinya ke tempat lain, terima kasih..” Pamitnya dan segera pergi.

=Kafe=

“Ani, Yeonsoo sudah lama tak mengunjungiku..” Jawab Amber.

Haneul semakin khawatir, “Ahh.. Kemana dia?”

“Apakah dia memiliki tempat lain untuk dikunjungi?” Tanya Amber.

“Aku tidak tau, tapi aku akan menemukannya.” Ucap Haneul, “Terima kasih..” Ucapnya, lalu berbalik pergi.

Setelah dari Kafe, Haneul hanya melangkah tanpa tau kemana dia harus pergi. Dia berusaha menebak-nebak dimana gadis itu sekarang. Langkahnya terhenti karena ada beberapa petugas yang mengangkat kaca besar, dia diam di tempatnya hingga mereka berlalu. Tanpa sengaja kepalanya menoleh ke sebuah stand majalah di pinggir jalan, saat itu matanya menangkap sebuah berita yang menjadi topik utama di sebuah majalah. Dahinya berkerut dan menghampiri stand itu sambil memperhatikan majalah tadi. “Putri Aktor Hyunbin?” Gumamnya tak percaya, lalu mengambil majalah itu dan membuka halamannya. Matanya membesar melihat sebuah gambar yang memperlihatkan Hyunbin menggendong seorang gadis masuk ke rumah sakit, meskipun wajahnya tak terlihat dia bisa menebak itu adalah Yeonsoo. “Yeonsoo!” Ucapnya kaget, lalu meletakkan majalah itu lagi dan berlari cepat ke rumah sakit itu.

=Rumah Sakit=

Yeonsoo berjalan ke bagian informasi sambil membawa tiang infusnya, “Annyeonghaseo..”

Perawat yang duduk di balik meja informasi tersenyum memandang Yeonsoo, “Ne, ada yang bisa kubantu nona?”

“Maaf, apakah pasien bernama Narsha masih di rawat disini atau tidak?” Tanya Yeonsoo.

“Oh.. Sebentar, nona..” Jawab perawat itu dan mencari di komputernya. “Ohh.. Pasien Narsha sudah keluar kemarin, nona..”

Yeonsoo tampak kecewa mendengarnya, “Ohh.. Begitu..”

Seseorang berlari ke bagian informasi dengan wajah panik dan nafas terengah-engah, “Maaf… Ha Yeonsoo, dimana kamar Ha Yeonsoo..” Ucapnya di tengah nafasnya yang memburu.

Yeonsoo menoleh dan tertegun melihat Haneul, “Haneul-a?”

Haneul menoleh dan tertegun melihat Yeonsoo, “Yeonsoo?” Ucapnya, lalu menghela nafas lega dan memeluk gadis itu erat. “Oooh.. Syukurlah kau baik-baik saja..”

Yeonsoo bingung mengapa Haneul berlebihan.

Haneul melepaskan pelukannya dan memperhatikan tubuh Yeonsoo, “Apa yang terjadi?” Tanyanya.

“Hm? Aku hanya infeksi usus, tapi sudah membaik..” Jawab Yeonsoo.

Haneul menatap Yeonsoo kesal, “Kenapa kau tidak memberitauku? Aku sangat khawatir!”

Yeonsoo teringat kemarin Dahee yang mengangkat ponsel Haneul dan menatap pria itu kesal juga, “Aku sudah menghubungimu! Tapi Dahee yang mengangkatnya! Dia bilang kau tertidur!! Kau pergi bersamanya?!” Tanyanya kesal.

Haneul tertegun, “Ne? A..ani!”

Yeonsoo mendorong Haneul dengan satu tangannya, lalu berbalik dan berjalan ke kamarnya sambil mendorong tiang infusnya.

“Yeonsoo-a..” Panggil Haneul sambil mengejar Yeonsoo. “Kemarin aku memang tertidur di kelas, itu karena aku terlalu lelah mempersiapkan acara amal. Mungkin saat itu Dahee mendengar ponselku berbunyi..”

Yeonsoo berhenti dan menatap Haneul, “Jika dia bisa dengan mudah mengambil ponselmu, itu berarti kau sangat dekat dengannya!”

Haneul terkejut mendengar ucapan Yeonsoo, “Ani! Dia hanya teman sekelasku..”

Yeonsoo diam dengan tatapan mematikan pada Haneul, “Sudahlah.. Lupakan saja!” Ucapnya dan kembali berjalan ke kamar perawatannya.

Haneul mengikuti Yeonsoo lagi, “Yeonsoo, aku hanya berteman biasa dengan Dahee..”

Yeonsoo masuk ke kamarnya tanpa berkomentar dan naik ke tempat tidur, lalu berbaring membelakangi Haneul.

Haneul menghela nafas dalam, lalu duduk di sebelah tempat tidur. Keadaan hening beberapa saat, “Yeonsoo-a, aku langsung berlari kemari setelah membaca tentangmu di majalah. Aku sangat khawatir karena kau tak muncul selama 2 hari di sekolah, kau tidak menjawab panggilanku, juga tidak ada di butik. Aku bahkan sampai mendatangi Amber..” Ceritanya sambil memandangi Yeonsoo yang membelakanginya, satu tangannya terlipat di pinggir tempat tidur dan satu lagi menopang pipinya. “Yeonsoo..” Panggilnya.

Yeonsoo menutup telinganya dengan tangan.

“Yeonsoo-a..” Panggil Haneul sambil mengetuk punggung Yeonsoo dengan jari telunjuknya.

“Andwae..” Ucap Yeonsoo sebal.

Haneul menahan senyumnya dan menggelitik Yeonsoo dari belakang, “Yeonsoo-a..”

“Mmm!! Haneul!!” Seru Yeonsoo menahan tawa, lalu berbalik untuk menahan tangan pria itu.

Haneul tertawa dan terus menggelitik Yeonsoo.

“Hahaha.. Haneul!!” Teriak Yeonsoo kegelian, namun karena dia terus berusaha menghindari tangan Haneul dia hampir jungkir balik ke belakang. “Kyaaaa!”

“Oh!!” Haneul segera menahan tubuh Yeonsoo agar tak terjatuh, tapi hal itu membuat setengah tubuhnya memeluk gadis itu. Mereka saling bertatapan kaget karena jarak wajah mereka sangat dekat.

Mata Yeonsoo berkedip-kedip menatap kedua mata Haneul. Jantungnya berdegup kencang.

Jantung Haneul berdegup kencang.

Gain yang baru kembali ke kamar perawatan Yeonsoo terkejut melihat pertunjukan disana, dia sempat bingung harus melakukan apa. “Ehem..”

Haneul dan Yeonsoo terkejut dan segera menjauh dengan wajah merah padam.

Gain menahan senyuman sambil melangkah masuk, “Hmm.. Kau datang, Haneul..”

“Oh.. Ne.. Annyeonghaseo..” Sapa Haneul gugup.

Gain menghampiri kedua anak muda itu, “Kalian sedang mengobrol?” Ledeknya.

“Ne?” Ucap Yeonsoo kaget, lalu berpandangan dengan Haneul dan menunduk malu.

Gain tersenyum melihat ekspresi mereka, “Anggap aku tidak melihat apa pun..” Ucapnya.

Haneul menatap Gain kaget, lalu menunduk malu.

“Immo!” Ucap Yeonsoo malu.

=Beberapa Hari Kemudian=

Narsha mondar-mandir di kamarnya, “Ooh.. Apa dia baik-baik saja?” Gumamnya.

Keesokan harinya di butik.

Narsha memperhatikan rak-rak baju dengan wajah risau, dia sama sekali tak bisa berkonsentrasi.

“Annyeonghaseo..” Sapa Yeonsoo ceria sambil masuk ke butik.

Narsha terkejut melihat Yeonsoo.

“Ooh.. Yeonsoo-a..” Ucap Gain kaget.

Yeonsoo tersenyum lebar sambil membungkuk sopan, “Aku datang..”

Narsha menghampiri Yeonsoo dan menatapnya, “Yeonsoo-a, kau baik-baik saja?”

“Ne, eonni..” Jawab Yeonsoo.

“Kemana kau beberapa hari ini? Temanmu sampai mencari kemari..” Tanya Narsha khawatir.

Yeonsoo cengengesan, “Maaf eonni, beberapa hari lalu aku di rawat di rumah sakit karena infeksi usus..” Jawabnya sambil memegang perutnya.

“Ne?!” Seru Narsha kaget, “Infeksi perut?! Lalu bagaimana sekarang?”

“Gwenchana eonni.. Perutku sudah baik-baik saja..” Jawab Yeonsoo.

Narsha menghela nafas lega, “Syukurlah..”

“Eonni.. Hari ini hari ulang tahun bibiku, aku akan mengambil baju buatanku dan memberikannya..” Ucap Yeonsoo memberitau.

Narsha tersenyum, “Ne, eonni sudah memasukkannya ke kotak. Ada di mejaku..”

“Oh.. Jinja?” Tanya Yeonsoo senang.

Narsha mengangguk.

Setelah mengambil kotak berisi hadiahnya, Yeonsoo berpamitan untuk pergi. “Terima kasih eonni atas bantuanmu..”

Narsha tertegun mendengar ucapan Yeonsoo, “Mmm.. Apa kau akan datang lagi?”

“Keureomyeon.. Aku kan masih harus belajar padamu..” Ucap Yeonsoo.

Narsha lega mendengarnya dan tersenyum, “Ne..”

“Aku pergi eonni..” Ucap Yeonsoo sambil membungkuk sopan dan berjalan ke pintu, namun langkahnya terhenti karena mendapatkan sebuah ide. Lalu berbalik lagi dan tersenyum lebar pada Narsha.

Narsha bingung mengapa Yeonsoo tersenyum seperti itu, “Waeyo?”

“Eonni, bagaimana jika eonni ikut bersamaku?” Tanya Yeonsoo.

Narsha tertegun, “Ne?”

=Rumah Gain-Youngkwang=

Gain, Youngkwang dan Hyunbin sudah menunggu Yeonsoo di ruang keluarga untuk merayakan ulang tahun Gain bersama. Dia langsung berdiri mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya.

“Hm? Kau mengundang seseorang?” Tanya Youngkwang.

Gain menggeleng, “Ani..” Jawabnya, “Aku lihat dulu..” Ucapnya sambil melangkah keluar.

Yeonsoo turun dari mobil dengan kotak hadiah di tangannya, Narsha juga ikut turun. “Ayo eonni..” Ajaknya dan masuk ke pintu, “Aku datang..”

Gain tertegun melihat Yeonsoo, “Yeonsoo? Kau bersama siapa?”

Narsha ikut masuk dan langsung terpaku melihat Gain.

“Aku bersama seseorang..” Ucap Yeonsoo dan memandang Narsha.

Gain memandang Narsha dan ikut terpaku, “Oh.. Hyojin eonni?”

“Hm?” Yeonsoo menatap Gain tak percaya, “Immo mengenal Narsha eonni?”

“Yeonsoo, kenapa lama sekali?” Tanya Hyunbin yang muncul di belakang Gain.

Narsha terkejut melihat ada Hyunbin juga disana.

Yeonsoo memandang ayahnya bingung, “Appa? Kupikir appa tidak bisa datang..”

Mata Narsha melotot dan menatap Yeonsoo kaget.

Hyunbin tertegun melihat ada Narsha disana, “Hyojin-a?”

Narsha menatap Hyunbin tak percaya, lalu kembali menatap Yeonsoo.

Yeonsoo bingung melihat ekspresi Narsha, “Eonni, waeyo?”

Narsha menunduk untuk menyembunyikan kegusarannya, “A..aku harus pergi..” Ucapnya dan segera berjalan keluar.

“Eonni..” Panggil Yeonsoo, dia tidak mengejar Narsha karena Hyunbin menahan tangannya.

“Yeonsoo, sejak kapan kau mengenal Hyojin?” Tanya Hyunbin tak percaya.

Yeonsoo bingung sendiri, “Ne? Sudah cukup lama..”

Hyunbin menatap Yeonsoo risau, lalu segera mengejar Narsha keluar. Namun gadis itu sudah memacu mobilnya pergi.

“Immo, waekeure?” Tanya Yeonsoo tak mengerti.

Gain juga tampak tak mengerti, “Tidak tau..”

Hyunbin kembali masuk dengan wajah sedih dan langsung menatap Yeonsoo, matanya tampak berkaca-kaca.

“Appa, waekeure?” Tanya Yeonsoo khawatir.

Hyunbin diam dan menunduk, lalu menggeleng pelan.

Perayaan ulang tahun Gain berjalan dengan perasaan tegang.

“Immo.. Aku sebulan terakhir ini belajar membuat baju dengan Narsha eonni. Dan ini dia..” Ucap Yeonsoo riang sambil memberikan kotak yang dia bawa.

Gain tertegun dan segera membuka kotak itu, matanya membesar melihat baju yang ada didalamnya. “Omo! Kau yang membuat ini?”

Yeonsoo mengangguk, “Ne..”

Gain tersenyum haru melihat baju itu dan mengelus rambut Yeonsoo, “Gumawo..” Ucapnya, lalu mencium pipi gadis itu.

Yeonsoo senang Gain menyukai hadiahnya.

Sementara Hyunbin menatap Yeonsoo gusar.

Perjalanan pulang.

Hyunbin menggandeng tangan Yeonsoo berjalan menuju rumah.

“Hm? Narsha eonni teman sekolah appa?” Tanya Yeonsoo tak percaya.

“Ne..” Jawab Hyunbin, “Appa tidak tau sejak kapan dia menggunakan nama Narsha..”

Yeonsoo merasa seperti melihat sesuatu yang ajaib, “Wuaaa.. Ini kebetulan sekali..”

Hyunbin tersenyum tipis, “Ne.. Sangat kebetulan..”

Yeonsoo memandang Hyunbin bingung, “Tapi appa, kenapa tadi Narsha eonni terlihat sangat terkejut?”

Hyunbin diam sejenak, memikirkan apa yang harus dia katakan.

“Appa, waeyo?” Tanya Yeonsoo.

Hyunbin menarik Yeonsoo kesisinya dan merangkul bahunya, lalu mengecup dahinya sambil tetap berjalan. “Well, dulu kami sangat dekat. Selain kami, ada juga seorang lagi. Choi Jinhyuk..” Ucapnya memulai, gadis itu mengangguk mengerti. “Saat itu kami dikenal sebagai 3 sahabat yang menyenangkan, appa dan Jinhyuk selalu membuat lelucon untuk membuat Hyojin kesal. Suatu hari Jinhyuk menyadari perasaannya pada Hyojin dan menyatakan perasaannya.” Ucapnya sambil tertawa pedih, “Anak itu.. Selalu melakukan apa yang terlintas di kepalanya tanpa berpikir dulu..” Ucapnya dan melirik Yeonsoo, “Seperti seseorang..”

Yeonsoo tersenyum malu.

Hyunbin tersenyum menatap Yeonsoo, namun senyumnya memudar dan kembali memandang langit. “Tapi Jinhyuk meninggal di hari kami mengikuti audisi.”

Yeonsoo terkejut mendengar ucapan ayahnya.

“Hyojin sangat terpukul. Sejak saat itu hubungan kami menjadi tidak baik dan dia pergi ke Amerika..” Lanjut Hyunbin menyelesaikan ceritanya.

Yeonsoo diam memikirkan apa yang baru saja diceritakan ayahnya.

=Sekolah=

Yeonsoo melangkah keluar kelas dengan wajah murung, ‘Apa aku datang ke butik? Tapi bagaimana jika Narsha eonni tidak ingin bertemu denganku?’ Batinnya bingung. Langkahnya terhenti karena hampir menabrak Haneul di depan kelas.

Dahi Haneul berkerut memandang Yeonsoo, “Waeyo?”

“Haneul-a?” Ucap Yeonsoo bingung.

Haneul menyelipkan rambut Yeonsoo ke belakang telinganya, “Ada masalah lagi?”

“Mmm.. Ada sedikit..” Jawab Yeonsoo.

Haneul menghela nafas dalam, “Hari ini acara amal di gedung olahraga, aku tidak bisa pulang cepat.”

Yeonsoo mengangguk, “Ne, aku akan pulang sendiri..”

Haneul menatap Yeonsoo serius, “Langsung pulang ke rumah!”

Yeonsoo mengangguk mengerti, “Ne..”

“Nanti malam aku akan meneleponmu.. Mengerti?” Tanya Haneul lagi.

Yeonsoo tersenyum, “Ne..” Ucapnya.

Haneul tersenyum, “Bagus.. Ayo, aku akan mengantarkanmu ke depan..” Ucapnya sambil menggandeng tangan Yeonsoo.

Yeonsoo melangkah pulang seorang diri sambil bersenandung kecil, saat itu tanpa sadar dia menyanyikan lagu Hello to myself. “..Hokshi neodo wehrob-go jichimyeon yeo-gi kkumkkudeon nal giyeo-khaeju-llae (If you ever get lonely and tired, will you remember me, who used to dream here?)..” Langkahnya terhenti saat menyanyikan bagian itu dan tertegun sesaat, “Apa eonni merasa sendiri dan sedih karena Choi Jinhyuk meninggal?” Gumamnya. Tanpa berpikir lagi dia memutar tubuh dan berjalan ke arah lain.

=Brown Eyed Girls Boutique=

Narsha berdiri di balik dinding kaca sambil memperhatikan ke depan. Dalam bayangannya masih terlihat bagaimana Yeonsoo duduk dan bernyanyi untuk showcasenya disana. Dia menunduk sesaat karena bulir air hendak terjatuh dari matanya, saat dia mengangkat wajahnya lagi, Yeonsoo berdiri di luar butik sambil menatapnya.

Yeonsoo tersenyum pada Narsha.

Ruang Desain.

“Kupikir kau tidak datang..” Ucap Narsha sambil merapikan baju jahitannya.

Yeonsoo merapikan kertas-kertas desain di meja Narsha, “Aku pasti datang..” Ucapnya.

Narsha tak menjawab sambil tetap menyematkan peniti ke bajunya di boneka torso.

Yeonsoo memandang Narsha sedih mengingat cerita Hyunbin mengenai Jinhyuk, “Eonni..”

Narsha tertegun mendengar Yeonsoo memanggilnya, “Ne..” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari bajunya.

“Aku tidak ingin mencampuri urusanmu dan ayahku, tapi…” Yeonsoo menggantung ucapannya.

Tangan Narsha berhenti bergerak menunggu lanjutan ucapan Yeonsoo.

“..apakah eonni membenci ayahku?” Tanya Yeonsoo.

Narsha tertegun, lalu memandang Yeonsoo. Kepalanya berpaling dan melepaskan kain di depannya, “Aku akan memeriksa diluar..” Ucapnya, lalu berbalik ke pintu.

“Ayahku mencintaimu dulu..” Ucap Yeonsoo.

Langkah Narsha terhenti karena terkejut mendengar ucapan Yeonsoo.

Mata Yeonsoo tampak berkaca-kaca, “Ayahku, terlihat terluka ketika menceritakan tentang Choi Jinhyuk yang menyatakan perasaannya padamu..”

Ucapan Yeonsoo membuat Narsha kembali mengingat masa lalu, saat Jinhyuk memberitau Hyunbin mengenai hubungan mereka.

=Flashback=

“Hyunbin! Ada berita mengejutkan..” Ucap Jinhyuk ceria.

Hyunbin memandang Jinhyuk bingung, “Berita apa?”

Jinhyuk tersenyum lebar dan menggenggam tangan Narsha, “Aku dan Hyojin berpacaran..”

Hyunbin tertegun, “Ne?” Ucapnya dan memandang Narsha yang terlihat menunduk bingung.

Narsha tersenyum tipis pada Jinhyuk yang tersenyum padanya, lalu memandang Hyunbin dengan ekspresi menyesal.

Sepulang sekolah, mereka pergi ke kafe tempat biasa mereka berkumpul.

“Hyojin-a, kau ingin aku memesan sesuatu untukmu?” Tanya Jinhyuk dengan senyuman manis di wajahnya.

Narsha tersenyum, “Ne..”

“Sebentar..” Ucap Jinhyuk, lalu bangkit dan pergi ke counter makanan. Meninggalkan Narsha dan Hyunbin di meja.

Narsha memandang Hyunbin yang sejak tadi menunduk sambil mengaduk-aduk jus jeruknya, “Hyunbin-a..”

Hyunbin memandang Narsha.

Narsha menatap Hyunbin menyesal, “Maaf aku tidak memberitaumu tentang ini..”

Wajah Hyunbin menyiratkan luka di hatinya, namun dia tersenyum. “Gwenchana, aku tau kau memang menyukai Jinhyuk..”

Narsha merasa bersalah melihat senyuman Hyunbin, “Tapi, kemarin kau terlebih dulu menyatakan perasaanmu..”

Hyunbin tersenyum pedih, “Aku berkata aku menyayangimu, jadi aku tetap bisa menyayangimu sebagai sahabatku..”

Narsha menatap Hyunbin menyesal, “Hyunbin-a..”

Hyunbin menunjukkan senyuman terbaiknya, “Gwenchana.. Aku akan ikut bahagia melihatmu bersama Jinhyuk..”

=Flashback end=

Bulir air berjatuhan dari mata Narsha, hari itu dia benar-benar telah menghancurkan hati sahabatnya. Namun tak ada yang bisa dia lakukan untuk menebus semuanya sekarang.

“Eonni.. Ayahku adalah seseorang yang benar-benar tulus ketika menyayangi seseorang. Kumohon jangan membencinya..” Pinta Yeonsoo.

Narsha tidak tau harus mengatakan apa dan hanya diam. Akhirnya dia kembali bisa menguasai dirinya, “Ini tidak ada sangkut pautnya denganmu, Yeonsoo..” Ucapnya pelan, lalu kembali melangkah ke pintu.

“Eonni..” Panggil Yeonsoo lagi, membuat Narsha yang sudah memegang pegangan pintu kembali berhenti. “Apakah kau pernah merasa kehadiranmu membuat orang sekitarmu serba salah?” Tanyanya, “Aku pernah merasakannya.. Ayahku bekerja keras untuk membuatku bahagia, tapi itu malah membuatku merasa kesepian. Aku membencinya karena itu. Tapi akhirnya aku mengerti kalau dia memiliki tanggung jawab besar, terhadapku juga pekerjaannya. Karena itu, aku berusaha mengerti dan mengalah. Aku tau meskipun ayahku sibuk, dia tetap menyayangiku. Memikirkanku kemana pun dia pergi..” Ucapnya dan berhenti sejenak untuk menghela nafas, “Hello to myself.. Adalah kata-kata yang sering kuucapkan akhir-akhir ini, karena dengan begitu aku bisa tau siapa diriku dan apa yang kuinginkan. Aku bisa meyakinkan diriku kalau aku adalah putri ayahku dan yang kuinginkan adalah membuatnya tenang.”

Bulir air mata Narsha semakin deras mengalir, lalu memandang Yeonsoo. “Kau tidak tau apa pun tentang itu..” Ucapnya, lalu membuka pintu dan keluar.

Yeonsoo tertegun melihat Narsha menangis dan keluar begitu saja, “Eonni?” Ucapnya bingung.

Begitu keluar ruang desain, Narsha tak sanggup menahan tangisnya. Kakinya bergetar dan jatuh berlutut di lantai, tangannya bergerak memegang dada. “Wae? Kenapa kau mengatakan itu?” Tangisnya.

=Sorenya=

Yeonsoo melangkah menuju rumahnya sambil mengingat wajah Narsha tadi, “Kenapa eonni menangis? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Atau karena ada sesuatu antara eonni dan appa?” Gumamnya tak mengerti. Dia hanya bisa menghela nafas dalam dan menunduk lesu sambil terus berjalan.

Tak lama dia mengangkat kepalanya dan terkejut melihat Haneul berdiri di depan sebuah mini-market. ‘Omo! Eoteokhe?’ Batinnya panik, lalu segera bersembunyi di balik sebuah pohon. Dia sudah berjanji akan langsung pulang, jika Haneul tau dia baru kembali dari butik dia bisa diomeli pria itu. Dia mengintip dari balik pohon, memperhatikan mengapa Haneul berdiri disana. “Hm? Kenapa dia disana?” Gumamnya tak mengerti.

Namun pertanyaan Yeonsoo langsung terjawab. Saat itu Dahee keluar dari mini-market dengan kantung belanjaannya.

Haneul memandang Dahee, “Oh, sudah selesai?”

Dahee tersenyum, “Ne..”

“Ayo..” Ajak Haneul sambil berjalan bersama Dahee, “Apakah berat?” Tanyanya sambil mengambil kantung belanjaan dari tangan Dahee.

“Gumopta..” Ucap Dahee.

Yeonsoo tertegun melihat Haneul bersama Dahee. Dia keluar dari persembunyiannya dan memperhatikan kedua orang itu berjalan pergi, “Haneul-a..” Ucapnya tak percaya. Cukup lama dia berdiri disana hingga tak melihat kedua orang itu lagi, tangannya mengeluarkan ponsel dan menghubungi Haneul.

“Ne, Yeonsoo-a..” Sapa Haneul di seberang.

Yeonsoo diam memikirkan apa yang akan di katakan Haneul nanti.

“Yeonsoo-a?” Panggil Haneul.

“Haneul-a..” Ucap Yeonsoo akhirnya.

“Ne.. Waekeure?” Tanya Haneul.

“Kau sekarang ada dimana? Bisakah datang ke rumahku?” Tanya Yeonsoo.

“Sekarang? Mmm.. Aku sedang melakukan sesuatu, sepertinya tidak bisa ke rumahmu..” Jawab Haneul.

Hati Yeonsoo terasa sakit mendengar jawaban Haneul, “Kau bersama siapa?”

“Aku? Oh.. Sekarang aku…tidak bersama siapa-siapa..” Jawab Haneul gugup.

Bulir air mata Yeonsoo berjatuhan dan langsung memutuskan telepon, “Pembohong!” Ucapnya pelan dan terus menangis.

=Keesokan Harinya=

Yeonsoo sengaja pulang tanpa bertemu Haneul, juga tak mengangkat panggilan pria itu. Dia juga tidak bisa ke butik setelah apa yang terjadi kemarin. Jadi dia datang ke tempat lain.

Youngkwang memandang Yeonsoo yang duduk di sofa ruangannya heran, “Wae? Tidak biasanya kau datang kemari..”

Yeonsoo duduk lesu dan menghela nafas berat, “Habis, appa sedang syuting.. Jika aku kesana, direktor Kim akan merayuku lagi agar mau bergabung dengan drama-nya..”

Youngkwang menahan tawa mendengar ucapan Yeonsoo sambil memandang layar komputernya, “Tidak kebutik?”

Yeonsoo menghela nafas berat lagi, lalu menggeleng.

Youngkwang menyadari raut wajah Yeonsoo tidak seperti biasanya, “Wae? Sesuatu terjadi?”

Yeonsoo memandang Youngkwang, “Mmm.. Samchon, aku berusaha disukai orang-orang di sekitarku. Tapi kenapa aku merasa bersalah?”

Dahi Youngkwang berkerut, “Apa maksudmu?”

“Apa aku menyebalkan? Atau aku aneh?” Tanya Yeonsoo.

Youngkwang menahan tawa, “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Yeonsoo menunduk lesu, “Ahhh.. Kenapa ya?”

Youngkwang memandang Yeonsoo tak mengerti, “Aigoo.. Apa yang membuatmu aneh begini?”

Yeonsoo tak menjawab dan hanya menunduk lesu.

Youngkwang kembali menahan tawa, “Mungkin kau mengatakan sesuatu yang buruk..”

Yeonsoo memandang Youngkwang bingung, “Ne?”

“Kau tau? Kebiasaanmu mengungkapkan apa yang kau pikirkan dengan mudah bisa menjadi hal negatif..” Ucap Youngkwang memberitau.

Yeonsoo tertegun dan memikirkan ucapan Youngkwang, ‘Kebiasaanku?’ Batinnya tak percaya, lalu terkejut sendiri menyadari sesuatu. ‘Haneul sering memperingatiku tentang kebiasaanku, tapi aku terus melakukannya. Apa dia lelah menghadapiku? Dia selalu mengalah, tapi apa mungkin dia sudah tak tahan lagi? Karena itu dia dekat dengan Dahee? Juga Narsha eonni, andai aku tidak mengungkapkan apa yang kupikirkan. Mungkin dia tidak akan menangis seperti itu..’ Batinnya.

Youngkwang tertegun melihat ekspresi Yeonsoo, “Yeonsoo-a?”

Yeonsoo memandang Youngkwang, “Samchon, aku harus pergi..” Ucapnya dan segera mengambil tas dan berlari keluar.

“Ya! Yeonsoo! Ha Yeonsoo!” Panggil Youngkwang, namun keponakannya itu tetap pergi. Dahinya berkerut sendiri, “Omo, sepertinya ucapanku yang salah..” Ucapnya.

Yeonsoo berjalan seorang diri di trotoar sambil berpikir keras, hatinya merasakan perasaan bersalah dan menyesal. Ponselnya berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk, lalu memandang layarnya.

From: Kang Haneul

Ha Yeonsoo! Kenapa kau tidak membalas atau mengangkat panggilanku?! Dimana kau sekarang?!

Yeonsoo tertegun membaca pesan itu. Entah mengapa dia malah merasa semakin bersalah, lalu mengabaikan pesan itu dan memandang wallpaper ponselnya. Photonya bersama Haneul yang tersenyum ceria. “Apa kau lelah padaku? Apa aku sangat menyebalkan? Apakah Dahee bisa lebih baik dariku?” Gumamnya, bulir air matanya berjatuhan mengingat pria itu.

Di tempat lain.

Hyunbin berdiri memandangi photo Jinhyuk di bawah nisannya, “Jinhyuk-a, jika kau ada disini. Apa yang akan kau katakan?” Tanyanya, lalu menghela nafas berat. “Terkadang aku merindukan pemikiran konyolmu.” Ucapnya, lalu tertawa pedih. “Yeonsoo memiliki sikap sepertimu, aku tidak tau apakah karena aku terlalu merasa bersalah padamu. Karena itu Yeonsoo selalu mengingatkanku padamu.” Ucapnya, perlahan bulir air matanya menetes. Lalu memandang langit-langit, “Jika kau masih hidup, kau pasti akan merawat Yeonsoo dengan baik.” Ucapnya dan kembali memandang photo sahabatnya itu, “Terlalu banyak penyesalan hingga rasanya aku tak sanggup bertahan, tapi aku harus melewati semuanya demi Yeonsoo. Demi kau dan Hyojin..” Ucapnya, lalu menunduk dan menangis penuh penyesalan.

=Rumah Yeonsoo=

Haneul mondar-mandir di depan pagar rumah Yeonsoo dan sesekali mengedarkan pandangannya melihat sosok gadis itu.

Akhirnya Yeonsoo muncul dan tertegun melihat Haneul di depan rumahnya.

“Ha Yeonsoo! Ada denganmu?!” Seru Haneul khawatir.

Yeonsoo memandang Haneul bingung.

“Darimana saja kau? Aku sudah menunggu lama disini!” Ucap Haneul kesal.

Yeonsoo sangat sedih bertemu Haneul, lalu menundukkan kepalanya. “Aku hanya pergi ke suatu tempat..”

Haneul menghela nafas lega, “Tapi syukurlah kau sudah pulang..”

Yeonsoo mengangkat wajahnya memandang Haneul tanpa mengatakan apa pun.

“Ada apa?” Tanya Haneul khawatir.

“Haneul-a..” Ucap Yeonsoo pelan, lalu menghela nafas dalam dan kembali berbicara. “Apa kau menyukai Dahee?”

Haneul terkejut mendengar pertanyaan Yeonsoo, “Yeonsoo-a?”

Bulir air mata Yeonsoo mengalir satu persatu, “Apa kau benar-benar menyukainya?”

Haneul sangat shock hingga tak tau apa yang harus dia katakan selain kebingungan, “Apa maksudmu?”

Yeonsoo menunduk sesaat, lalu kembali memandang Haneul sambil tersenyum. “Jika kau memang menyukainya, gwenchana..”

Haneul bingung apa yang harus dia katakan, “Yeonsoo-a..”

Bulir air mata Yeonsoo berjatuhan, namun dia tetap mempertahankan senyumannya. Bibirnya tampak bergetar. “Mungkin sebaiknya kita tidak melanjutkan hubungan ini lagi..”

Mata Haneul membesar mendengar ucapan Yeonsoo, “Mwo?”

Yeonsoo menghela nafas dalam dan mengangguk, “Sampai jumpa di sekolah, Haneul-a..” Ucapnya, lalu melewati pria itu masuk ke rumah.

Haneul terpaku di tempatnya, lalu berbalik dan memperhatikan Yeonsoo berlari masuk ke rumahnya.

Ditempat lain.

Hyunbin duduk termenung di vannya. Setelah cukup lama, dia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.

Narsha yang sudah bersiap tidur kembali bangkit untuk mengangkat panggilan masuk di ponselnya, “Yoboseyo?”

Hyunbin merasa sangat gugup mendengar suara Narsha, “Hyojin-a..”

Narsha diam sejenak, “Nuguseyeo?”

“Ini.. Ha Hyunbin..” Ucap Hyunbin pelan, mengingat apa yang ingin dia katakan sudah membuatnya sangat takut. Rasa penyesalan dan bersalah yang selama ini ingin dia lupakan kembali muncul dihatinya.

Narsha tertegun, “Hyunbin?”

Bulir air mata Hyunbin mulai berjatuhan lagi mengingat semua penyesalannya, matanya terpejam menahan rasa bersalahnya.

Dahi Narsha berkerut, “Hyunbin, waeyo?”

Hyunbin membuka matanya dan menghela nafas dalam, “Hyojin-a, aku sudah menjadi seorang pengecut belasan tahun terakhir ini..” Ucapnya, “Aku menutupi sebuah kenyataan agar kau tidak membenciku, tapi setelah kembali bertemu denganmu. Semuanya kembali jelas di ingatanku..”

“Hyunbin, apa maksudmu?” Tanya Narsha.

Hyunbin kembali memejamkan matanya dan menunduk, “Setelah aku mengatakan ini, aku tidak mungkin punya muka bertemu denganmu..” Ucapnya dengan suara bergetar.

=Flashback=

Jinhyuk tertawa melihat wajah khawatir Hyunbin, “Ya! Tenang saja, audisinya kan berjalan lancar.” Ucapnya sambil merangkul pria itu.

Hyunbin memandang Jinhyuk, sebenarnya bukan itu yang dia pikirkan sekarang. “Aku tidak memikirkan itu..”

“Hm? Lalu?” Tanya Jinhyuk heran.

Hyunbin menunduk bingung, “Ini tentang Hyojin..”

Jinhyuk tertegun, “Ne? Ada apa dengan Hyojin?”

Hyunbin berhenti melangkah dan memandang Jinhyuk serius, “Jinhyuk-a, mungkin sekarang bukan saat yang tepat mengatakannya. Tapi aku tidak sanggup menyembunyikannya lagi darimu..” Ucapnya.

Jinhyuk memandang Hyunbin bingung, “Ne? Apa maksudmu?”

Hyunbin mengumpulkan semua keberaniannya dan menatap Jinhyuk yakin, “Jihyuk-a, aku menyukai Hyojin..”

Jinhyuk terdiam dan menatap Hyunbin tak percaya, “Mwo?”

“Aku menyatakan perasaanku sehari sebelum kau menyatakan perasaanmu padanya..” Lanjut Hyunbin.

Mata Jinhyuk membesar, “Ne?!”

Hyunbin menunduk menyesal, “Tapi Hyojin memang menyukaimu.” Ucapnya, “Maaf aku mengatakan hal tidak penting seperti ini..” Ucapnya, lalu melangkah pergi.

Jinhyuk menatap Hyunbin kesal, “Ya! Ha Hyunbin!” Serunya.

Hyunbin tersentak dan menatap Jinhyuk kaget, apalagi pria itu mengejarnya dan langsung menarik kerah bajunya. “Jin.. Jinhyuk-a..”

Jinhyuk menatap Hyunbin marah, “Kau! Kenapa kau tidak berkata sejak awal jika kau menyukainya?!”

Hyunbin menunduk bingung, “Aku..tidak tau cara mengatakannya..”

“Dasar pengecut!” Seru Jinhyuk dan melayangkan pukulannya ke wajah Hyunbin, namun pria itu mengelak dan membuatnya hampir terjungkal. Tapi dia malah terdorong ke tengah jalan dan sebuah mobil langsung menabraknya.

=Flashback end=

Mata Narsha membesar dengan tangannya yang tak memegang ponsel membungkam mulutnya, bulir air matanya langsung berjatuhan mendengar pengakuan Hyunbin.

Hyunbin menangis penuh sesal, “Itulah yang sebenarnya terjadi saat itu.. Jinhyuk bukan ingin melindungiku, tapi ingin menyerangku. Akulah yang menyebabkan kematiannya..”

Narsha menangis mengetahui itu, dia sampai tidak bisa mengatakan apa pun karena terlalu shock.

“Maafkan aku..” Ucap Hyunbin dan memutuskan telepon itu. Lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis penuh sesal.

=Meja Makan=

Yeonsoo dan Hyunbin memiliki ekspresi yang sama, juga tidak bernafsu untuk menyantap sarapan mereka. Akhirnya Yeonsoo bergerak duluan mengambil tas dan menyandangnya sambil berdiri.

“Oh.. Kau sudah akan pergi?” Tanya Hyunbin.

“Ne..” Jawab Yeonsoo pelan, lalu membungkuk sopan dan berjalan pergi.

Hyunbin ikut berdiri, “Yeonsoo-a..”

Yeonsoo memandang ayahnya, “Ne?”

Hyunbin menatap putrinya dalam, lalu memeluk gadis itu.

“Appa, waeyo?” Tanya Yeonsoo bingung.

Hyunbin berusaha menahan air matanya, namun dia tetap menitikkan air matanya tanpa sepengetahuan Yeonsoo. “Appa ingin memelukmu sebentar..” Ucapnya.

Meskipun bingung, Yeonsoo hanya diam sambil memeluk ayahnya.

Hyunbin memejamkan matanya dan mendekap Yeonsoo lebih erat, “Yeonsoo-a, appa miane.” Ucapnya sepenuh hati, “Appa selalu sibuk hingga tak memperhatikanmu. Appa ingin sekali menebus semuanya. Tapi appa tidak bisa..”

Yeonsoo semakin bingung mendengar ucapan Hyunbin, “Appa, kenapa berbicara seperti itu?”

Hyunbin menyeka air matanya dan melepaskan pelukannya sambil tertawa kecil, “Appa hanya ingin mengatakan maaf karena appa terlalu sibuk akhir-akhir ini..”

Yeonsoo tersenyum tipis, “Ne, gwenchana appa.. Aku mengerti..”

Hyunbin tersenyum dan mengelus rambut Yeonsoo.

“Aku pergi, appa..” Ucap Yeonsoo dan berjalan keluar dari rumah.

=Sekolah=

Ketika istirahat, Yeonsoo mendapatkan sebuah pesan dari Haneul.

From: Kang Haneul

Yeonsoo-a, ayo berbicara..

Yeonsoo menghela nafas dalam dan membalas.

To: Kang Haneul

Dimana?

From: Kang Haneul

Dibelakang sekolah..

Yeonsoo bangkit dan berjalan keluar dari kelasnya menuju belakang sekolah. Ketika dia tiba pria itu sudah menunggunya.

Haneul langsung berdiri tegap begitu melihat Yeonsoo, “Yeonsoo..”

Yeonsoo menundukkan wajahnya agar tidak perlu memandang wajah Haneul, “Apa yang ingin kau bicarakan?”

Haneul menghela nafas dalam dan menatap Yeonsoo yakin, “Yeonsoo-a, kuakui Dahee memang gadis yang menyenangkan. Mungkin aku menyukainya. Tapi aku tidak ingin hubungan kita berakhir.. Bisakah kita memperbaikinya?”

Yeonsoo diam sejenak dan memandang Haneul, “Apakah aku sangat menyebalkan?”

Haneul tertegun, “Ne?”

“Apa kau sering kesal karenaku?” Tanya Yeonsoo.

Haneul tampak bingung menjawabnya, “Mmm.. Itu.. Errrr..”

Tanpa mendengar jawaban Haneul, Yeonsoo sudah tau jawabannya. “Kita tidak bisa memperbaikinya, Haneul..”

Haneul menatap Yeonsoo tak percaya, “Yeonsoo-a..”

Mata Yeonsoo mulai berkaca-kaca, “Maaf aku membuatmu sulit.. Terima kasih untuk semuanya..” Ucapnya, lalu membungkuk sopan dan berbalik pergi.

Haneul menatap Yeonsoo yang berjalan pergi sedih, lalu menunduk menahan air matanya.

Yeonsoo kembali ke kelasnya dan duduk tenang disana. Namun hatinya sangat sakit. Dia sadar sejak dia dan Haneul tidak sekelas lagi, banyak perbedaan yang terjadi diantara mereka. Namun dia berpikir semuanya akan baik-baik saja selama Haneul selalu mengalah padanya, tapi sekarang dia sudah menyudahi semuanya. Dia tak ingin membuat Haneul terus mengalah pada dirinya yang egois.

Sepulang sekolah.

Yeonsoo melangkah meninggalkan sekolah dengan perasaan sedih. Ketika hendak keluar gerbang, dia melihat Haneul berbicara dengan Dahee sambil tersenyum. Tak bisa dipungkiri, perasaannya sangat sakit meskipun dia yang memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan mereka.

Haneul menyadari Yeonsoo memandanginya dan segera menjaga jarak dari Dahee sambil menatap gadis itu.

Yeonsoo menunduk dan mempercepat langkahnya. Dia tak ingin menengok kebelakang dan terus berjalan.

Haneul menatap Yeonsoo sedih, lalu memandang Dahee. “Aku pulang duluan..” Ucapnya, lalu melangkah ke arah yang sama dengan Yeonsoo.

=Rumah=

Yeonsoo masuk ke pintu gerbang dan melihat mobil ayahnya, “Appa tidak pergi?” Gumamnya heran, lalu masuk ke rumah. “Aku pulang..” Ucapnya, namun tak ada yang menyahut. Dia memandang ke kanan dan kiri mencari ayahnya, “Appa..” Panggilnya.

Dia membuka pintu kamar namun tak menemukan siapa pun, “Appa..” Panggilnya. Tetap tak ada jawaban, “Hm? Kemana appa?” Tanyanya sendiri, lalu meletakkan tas di sofa dan berjalan ke kulkas untuk mengambil minum. Saat membuka pintu kulkas, dia menemukan ada bercak darah. Dahinya berkerut dan kembali menutup pintu, dia terkejut melihat banyak bercak darah di lantai. Dia segera mengikuti arah darah itu dan lebih terkejut menemukan Hyunbin di teras belakang terbaring berlumuran darah, “APPA!!!” Teriaknya histeris, lalu berlari menghampiri pria itu.

Hyunbin tampak tak sadarkan diri dengan luka terbuka di perutnya yang terus mengeluarkan darah.

“Appa!! Appa!!” Teriak Yeonsoo sambil memegang kedua pipi Hyunbin, namun tak ada jawaban. Air matanya berjatuhan deras dan berusaha menahan pendarahan di perut ayahnya. “Appa!! Bangun!!” Teriaknya.

Tak lama.

Haneul memutuskan untuk kembali berbicara dengan Yeonsoo, namun begitu tiba di rumahnya. Sudah banyak orang yang berkerumun. Apalagi ada sebuah ambulance disana.

“Appa!!” Tangis Yeonsoo sambil mengikuti para petugas medis membawa ayahnya ke ambulance.

Mata Haneul membesar melihat wajah dan baju Yeonsoo terdapat bercak darah. Namun dia tak bisa melakukan apa pun selalin menatap ambulance yang berlalu di hadapannya.

=Rumah Sakit=

“Maaf nona, anda tidak boleh masuk..” Ucap seorang perawat di pintu UGD dan menutup pintunya.

Yeonsoo hanya bisa menangis di depan UGD, tangannya berlumuran darah Hyunbin. Dan ketika dia menutup mulutnya menahan tangis, darah itu juga melumuri wajahnya. “Appa..” Tangisnya.

Tiba-tiba banyak wartawan muncul dan langsung mengelilingi Yeonsoo.

“Nona! Anda putri aktor Ha Hyunbin?! Apa yang terjadi?” Tanya seorang wartawan.

“Apakah ini bunuh diri?” “Atau pembunuhan?” “Nona! Tolong berikan komentarmu!”

Yeonsoo bingung tiba-tiba di kerumuni dan blits kamera menyerang wajahnya. Dia berusaha menghindari para wartawan itu namun mereka terlalu banyak. “Hentikan!” Serunya sambil melindungi matanya dari blits kamera.

“Nona! Apakah itu darah ayahmu?” “Nona, anda melihat siapa yang melakukannya?” Para wartawan itu tetap meneruskan pertanyaan mereka.

Yeonsoo semakin panik dan tak tau apa yang harus dia lakukan, “Kumohon berhenti..” Tangisnya.

“Ya!! Berhenti!!” Seru Haneul sambil menerobos para wartawan dan langsung memeluk Yeonsoo, “Kalian tidak lihat dia sangat shock?! Hentikan!!” Teriaknya.

Saat itu petugas keamanan segera datang dan menertibkan para wartawan itu.

Haneul memeluk Yeonsoo yang terus menangis, “Tenang Yeonsoo, mereka sudah pergi.

Ruang Tunggu.

Yeonsoo duduk diam dengan wajah shock ke lantai, kedua tangannya tak bisa berhenti gemetaran. Bayangan ayahnya berlumuran darah di teras belakang terus berputar-putar di benaknya.

Haneul membasahi sapu tangannya untuk membersihkan darah di tangan dan wajah Yeonsoo, seragam luar gadis itu juga berlumuran darah Hyunbin. Dia menatap gadis itu sedih dan membersihkan darah di wajah gadis itu dengan sapu tangan.

Yeonsoo merasakan sentuhan di wajahnya dan menoleh pada Haneul.

Haneul tersenyum tipis, “Aku sudah menghubungi bibimu, dia akan segera datang..” Ucapnya, lalu mengambil satu tangan Yeonsoo dan membersihkannya dengan sapu tangan.

Yeonsoo tetap memandangi Haneul yang memandangi tangannya sambil tersenyum.

Haneul memandang Yeonsoo sekilas dan kembali memandang tangan gadis itu sambil membersihkannya, “Wae? Wajahku membuatmu takut?” Candanya agar gadis itu merasa lebih baik.

Bulir air mata Yeonsoo kembali menetes.

Haneul memandang Yeonsoo kaget, “Yeonsoo-a, waeyo?” Tanyanya khawatir.

“Aku bersyukur ada kau disini..” Jawab Yeonsoo.

Haneul diam sejenak dan tersenyum, lalu mengangguk. “Gwenchana, semuanya akan baik-baik saja..”

Yeonsoo mengangguk pelan.

=Apartemen Narsha=

Narsha mengambil gelasnya dan duduk di sebelah Jea dan Gain yang sedang asik menonton tv. Sementara Miryo tampak asik mendesain baju di ipadnya. Dia merasa tidak cukup baik sejak pengakuan Hyunbin kemarin, namun dia tak ingin terus-terusan terpuruk karena semua itu adalah masa lalu.

Tiba-tiba Miryo tersentak, “Omo! Bukankah ini Yeonsoo?” Ucapnya sambil menyodorkan ipadnya pada Narsha.

Narsha mengambil ipad itu dan memandang layarnya, dahinya berkerut melihat beberapa photo yang memperlihatkan Yeonsoo menangis di tengah para wartawan, wajah dan bajunya berlumuran darah. Matanya membesar ketika melihat photo gadis itu berusaha melindungi wajahnya dari kilatan kamera, “Omo! Apa yang terjadi padanya?!”

“Wae?” Tanya Jea dan Gain penasaran.

“Kabarnya aktor Hyunbin terluka parah dan dibawa kerumah sakit..” Ucap Miryo memberitau.

“NE?!” Seru Narsha, lalu memberikan ipad pada Miryo dan segera berlari ke kamar untuk mengganti baju dan segera kerumah sakit.

=Depan ruang Operasi=

Hyunbin harus menjalani operasi karena mengalami pendarahan di dalam. Yeonsoo, Gain, Youngkwang dan Haneul duduk di depan ruang operasi dengan wajah tegang.

Yeonsoo sampai tak mengucapkan apa pun selama 2 jam terakhir karena terlalu tegang.

Gain merangkul Yeonsoo sambil mengelus rambutnya.

Pintu operasi terbuka, “Keluarga Ha Hyunbin..”

“Ne!” Jawab Gain dan Youngkwang hampir bersamaan, lalu menghampiri perawat itu bersama yang lain.

“Hyunbin-ssi mengalami kerusakan pada organ hati, bisakah dari keluarganya melakukan tes untuk pendonoran?” Tanya perawat itu.

“Aku akan melakukannya!” Ucap Yeonsoo cepat.

“Aku juga, aku akan melakukan pemeriksaan..” Ucap Gain.

“Baik, ayo ikut saya..” Ucap perawat itu.

Beberapa saat setelah pemeriksaan.

“Ha Gain-ssi, anda bisa melakukan pendonoran untuk saudaramu..” Ucap perawat itu.

“Ne..” Jawab Gain.

Yeonsoo memandang perawat itu bingung, “Apakah aku tidak bisa?”

“Maaf nona, kau tidak bisa melakukan pendonoran itu..” Ucap perawat itu menyesal.

Dahi Yeonsoo berkerut, “Ne? Tapi aku putrinya, kenapa aku tidak bisa?”

Perawat itu menatap Yeonsoo kaget, lalu memandang kertas hasil pemeriksaan milik Yeonsoo di tangannya. “Ne?” Ucapnya kaget dan memandang Yeonsoo tak percaya.

Dahi Gain berkerut mendengar ucapan perawat itu, “Waeyo?”

“Tapi, hasil pemeriksaan menyatakan kalau DNA Ha Yeonsoo dan Ha Hyunbin sama sekali tidak cocok..” Ucap perawat itu bingung.

Yeonsoo terkejut mendengar ucapan perawat itu.

Gain spontan menatap Yeonsoo tak percaya. Lalu menatap perawat itu, “Ani, itu tidak mungkin..” Ucapnya dan mengambil kertas hasil pemeriksaan itu, matanya melotot karena memang kecocokan antara Yeonsoo dan Hyunbin hanya 13%.

Yeonsoo benar-benar tak percaya mendapati hasil itu, “Tidak mungkin..”

“Baiklah, Ha Gain-ssi, operasi pencangkokan akan di adakan sekitar pukul 2 malam ini..” Ucap perawat itu, lalu melangkah pergi.

“Yeonsoo-a..” Ucap Gain sambil memegang tangan Yeonsoo.

Bulir air mata Yeonsoo mengalir deras, “Immo, kenapa DNA-ku dan appa tidak cocok?”

“Ani.. Pasti ada kesalahan..” Ucap Gain menenangkan.

Youngkwang langsung menyambut Gain dan Yeonsoo keluar dari ruang pemeriksaan, semantara Haneul harus pulang karena malam sudah semakin larut. “Bagaimana?”

Gain memandang Youngkwang, lalu menoleh pada Yeonsoo yang tampak semakin shock.

“Waeyo?” Tanya Youngkwang bingung.

“Mmm.. Aku akan menjalani operasi pencangkokan hati untuk Hyunbin oppa pukul 2 nanti..” Jawab Gain, lalu kembali memandang Yeonsoo.

Youngkwang merangkul Yeonsoo, “Yeonsoo, waekeure?”

“Hasil pemeriksaan DNA Yeonsoo dan Hyunbin oppa..” Ucap Gain tergantung, membuat Youngkwang memandangnya serius. “..tidak cocok..” Ucapnya.

Youngkwang menatap Gain tak mengerti, lalu menatap Yeonsoo kaget. “Ne?! Bagaimana mungkin?!”

“Aku ingin melakukan tes lagi! Pasti ada yang salah.. Benarkan immo!” Ucap Yeonsoo.

Gain memandang Yeonsoo sedih, “Ne, kita bisa melakukan tes lagi..”

Narsha yang mendengarkan pembicaraan mereka mendekati ketiga orang itu, “Tidak perlu..”

Youngkwang, Gain dan Yeonsoo menoleh pada Narsha.

“Eonni?” Ucap Yeonsoo bingung.

Narsha menatap Yeonsoo dalam dan memegang tangannya, bulir air mulai berjatuhan dari matanya.

“Apa maksudmu, eonni?” Tanya Gain tak mengerti.

Narsha menggenggam kedua tangan Yeonsoo dan menunduk sambil menangis, “Karena Yeonsoo memang bukan anak Hyunbin..”

Yeonsoo benar-benar terkejut mendengar ucapan Narsha, begitu juga dengan Youngkwang dan Gain. “M..mwo?”

Narsha mengangkat wajahnya memandang Yeonsoo, “Hyunbin membesarkanmu karena kau adalah anak dari sahabat terbaiknya..”

Gain terkejut, “Eo.. Eonni.. Apa maksud semua ini?”

Narsha tersedu-sedu beberapa saat dengan kepala tertunduk, “Yeonsoo… Putriku bersama Jinhyuk..”

Mulut Yeonsoo sampai terbuka dengan mata membesar mendengar ucapan Narsha, “Mwo?!”

Gain menarik Narsha dan memegang kedua bahunya, “Eonni!! Apa-apaan ini?!!”

Yeonsoo tampak benar-benar shock, “Andwaeyo..” Gumamnya tak percaya sambil menggeleng, matanya membesar dan bulir air berjatuhan. Perlahan dia mundur, seluruh tubuhnya bergetar hebat karena itu.

“Yeonsoo-a..” Ucap Youngkwang sambil merangkul Yeonsoo.

Narsha menangis sambil memandang Gain penuh sesal, “Maafkan aku..”

“Ani!! Kau pasti berbohong!! Kau berbohong!!” Teriak Yeonsoo pada Narsha.

Youngkwang memeluk Yeonsoo dan berusaha menenangkannya, “Shhh.. Tenang Yeonsoo..” Ucapnya.

Saat Gain menjalani operasi pencangkokan, Yeonsoo dan Youngkwang duduk di ruang tunggu bersama Narsha. Namun Narsha duduk di kursi yang berhadap punggung dengan mereka. Tidak ada siapa pun lagi selain mereka disana.

Youngkwang merangkul Yeonsoo dan membuat gadis itu tetap tenang.

Setelah hampir satu jam tidak ada yang membuka suara, Yeonsoo memecahkan keheningan. “Benarkah aku bukan anak ayahku?” Tanyanya tanpa memandang siapa pun.

Youngkwang memandang Yeonsoo binung.

Namun Narsha tau pertanyaan itu bertuju padanya, “Ne..” Jawabnya.

Youngkwang melirik Narsha tanpa berkomentar.

“Bagaimana mungkin?” Tanya Yeonsoo.

Narsha mengelus kedua tangannya dan menunduk menatap lantai, “Aku mengetahui kehamilanku seminggu setelah Jinhyuk meninggal..” Ucapnya memulai, “Tidak ada orang yang bisa kupercayai selain Hyunbin. Hyunbin bersedia menerima anak yang kukandung sebagai anaknya dan berniat menikahiku..” Lanjutnya, dia berhenti sejenak karena bulir air yang terus hendak jatuh dari matanya. “Tapi ketika bayi itu lahir, aku tidak sanggup menatapnya. Aku tak bisa melupakan Jinhyuk.. Karena itu aku memutuskan pergi. Meninggalkan semuanya dan memulai hidupku lagi..” Ucapnya ditengah tangis.

Bulir air mata Yeonsoo ikut berjatuhan mendengar kenyataan itu, dia semakin merasa bersalah mengingat dia pernah berkata kalau mungkin ibunya meninggalkan Hyunbin karena pria itu adalah pecundang. Tapi justru Hyunbinlah yang dengan penuh kasih sayang merawatnya saat ibu kandungnya pergi begitu saja.

=Ruang Perawatan Hyunbin=

Bulir air mata Gain berjatuhan sambil memeluk Hyunbin yang sudah kembali sadar, “Oppa! Kenapa kau melakukan percobaan bunuh diri?!!” Serunya.

Hyunbin memeluk Gain dan menunduk sedih.

Gain memeluk Hyunbin erat sambil terus menangis, “Oppa! Jika kau meninggal aku tidak punya keluarga lagi!”

“Maafkan aku..” Ucap Hyunbin menyesal, lalu memandang sekitar tapi tak menemukan Yeonsoo. “Dimana Yeonsoo?”

Gain melepaskan pelukannya dan memandang Hyunbin, “Oppa! Kenapa kau tidak pernah memberitauku jika Yeonsoo bukan putrimu?!”

Hyunbin tertegun dan melotot menatap Gain, “Darimana kau tau?!”

“Yeonsoo sangat terkejut mengetahui hasil tes antara kau dan dia sama sekali tidak cocok!” Ucap Gain.

“Ne?!! Dimana dia sekarang?!” Tanya Hyunbin panik.

“Dia dirumahku..” Jawab Gain, lalu memukul bahu Hyunbin kesal. “Kenapa oppa juga tidak bilang jika Yeonsoo anak Hyojin eonni dan Jinhyuk oppa?!!”

Hyunbin semakin terkejut Gain tau tentang itu, “Ne?! Apakah Yeonsoo mengetahuinya?”

“Ne.. Hyojin eonni yang memberitaunya..” Ucap Gain.

Hyunbin menunduk gusar, “Aku harus bertemu Yeonsoo.. Kumohon bawa dia kemari..”

=Rumah Gain-Youngkwang=

Youngkwang bertugas menemani Yeonsoo di rumah selama Gain dan Hyunbin di rumah sakit. Dia mengetuk pintu kamar gadis itu perlahan, “Hei little bird..” Panggilnya, lalu mengetuk lagi. “Buka pintunya..”

Yeonsoo membuka pintu dan hanya menunduk.

Youngkwang tersenyum, “Hei.. Ayo makan..”

Yeonsoo mengangguk dan berjalan keluar.

Youngkwang berjalan bersama Yeonsoo ke meja makan dan duduk, “Samchon hanya memasak kimchi, jadi kita makan saja..”

Yeonsoo memandang Youngkwang sesaat, “Samchon..”

“Ne?” Jawab Youngkwang.

“Apa samchon tetap akan menganggapku keponakanmu sekarang?” Tanya Yeonsoo.

Youngkwang tertegun, “Apa maksudmu?”

“Karena…” Yeonsoo menunduk, “..aku bukan anak kandung appa, itu berarti aku juga tidak ada hubungan darah dengan Gain immo..”

Youngkwang diam sejenak, lalu mengelus kepala Yeonsoo dan tersenyum. “Tentu saja..” Ucapnya, “Bagaimana pun, aku tetap menyayangimu little bird..”

Yeonsoo memandang Youngkwang dan tersenyum, “Jinja?”

Youngkwang mengangguk, “Ne.. Kau tau kenapa aku memanggilmu ‘little bird’?”

Yeonsoo tampak bingung, “Wae?”

“Karena saat pertama kali aku bertemu denganmu, kau seperti burung kecil yang menggemaskan.. Setelah menikah dengan bibimu, kau tau aku selalu ingin membawamu menginap dirumah kami?” Jelas Youngkwang sambil tersenyum dan mengacak-acak rambut Yeonsoo.

Yeonsoo tersenyum mendengar ucapan Youngkwang. Namun wajahnya kembali murung, “Samchon, apakah setelah ini akan ada yang berbeda?”

“Mmm.. Sejujurnya samchon belum tau..” Jawab Youngkwang, “Tapi apa pun yang terjadi, samchon dan Gain immo selalu ada untukmu..”

Yeonsoo tersenyum dan memeluk Youngkwang, “Gumawoyo, samchon..”

Youngkwang mengelus punggung Yeonsoo dan mencium puncak kepalanya.

=Rumah Sakit=

Hyunbin menatap Yeonsoo dengan bulir air berjatuhan dan menggenggam kedua tangan gadis itu, “Yeonsoo-a.. Bagaimana pun hasil tes itu, kau tetap putri appa. Arasso?”

Bulir air mata Yeonsoo berjatuhan dan mengangguk, “Ne, appa..”

Hyunbin menarik Yeonsoo ke pelukannya dan mendekap gadis itu.

Gain memeluk lengan Youngkwang dan saling tersenyum.

Sorenya.

Yeonsoo berbaring di tempat tidur bersama Hyunbin. Dia memandang ayahnya sebal, “Appa, bagaimana jika saat itu aku terlambat pulang?”

Hyunbin tersenyum sambil mengelus kepala Yeonsoo, “Gwenchana, dengan begitu kau tidak akan tau tentang rahasia itu..”

Yeonsoo melotot pada Hyunbin dan memukul dadanya, “Appa!”

“Aaaw.. Yeonsoo-a, apa baru saja operasi..” Ucap Hyunbin sambil memegang perutnya.

“Omo.. Miane appa..” Ucap Yeonsoo menyesal.

Hyunbin meringis sesaat dan kembali tersenyum sambil memandang Yeonsoo.

Yeonsoo tersenyum dan memegang pipi Hyunbin, meskipun begitu matanya kembali basah karena air mata.

“Wae? Berhentilah menangis..” Ucap Hyunbin dengan nada bercanda sambil menyeka air mata Yeonsoo.

“Appa, selama membesarkanku, apakah pernah sekali saja appa merasa aku adalah bebanmu?” Tanya Yeonsoo.

Mata Hyunbin ikut berkaca-kaca mendengar pertanyaan Yeonsoo, lalu tersenyum hangat. “Ani.. Bagaimana mungkin appa merasa kau adalah beban?” Tanyanya, “Kau adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan pada appa, juga titipan penting dari sahabat appa. Choi Jinhyuk.”

Yeonsoo diam sejenak sambil memandang kedua mata Hyunbin, “Juga gadis yang appa cintai..” Tambahnya.

Senyum Hyunbin luntur perlahan, “Ne?”

“Appa mencintai Narsha eonni kan?” Tanya Yeonsoo.

Hyunbin diam sejenak, “Itu hanya masa lalu, Yeonsoo..”

“Tapi masa lalu itu juga yang membuat appa tidak menemukan seorang pun untuk menjalani hidup, juga membesarkanku seorang diri.” Ucap Yeonsoo.

Hyunbin tertawa pedih, “Sifatmu ini, mengungkapkan apa yang ada di pikiranmu dengan mudah, adalah sifat buruk yang dimiliki Choi Jinhyuk. Ayahmu..”

Yeonsoo sedih mendengar ucapan Hyunbin, “Appa, jika kita terlahir kembali. Apa appa tetap mau menjadi ayahku?”

Bulir air mata Hyunbin benar-benar terjatuh mendengar pertanyaan Yeonsoo, lalu mengangguk dan mencium dahi gadis itu. Serta memeluknya erat. “Kau adalah satu-satunya prioritas hidup appa, Yeonsoo..”

Yeonsoo menangis mendengar ucapan Hyunbin, “Gumawo, appa..” Ucapnya.

=Conferensi Pers=

Hyunbin, setelah pulih, mengadakan conferensi pers bersama Yeonsoo. Untuk pertama kalinya dia memperkenalkan putrinya ke dunia luar secara terang-terangan.

Hyunbin merangkul Yeonsoo dan mencium dahinya, lalu tersenyum pada wartawan yang sibuk mengabadikan moment mereka. “Ini adalah putriku, Ha Yeonsoo..”

Yeonsoo tersenyum lebar pada para wartawan.

“Hyunbin-ssi, apa benar kejadian yang menimpamu itu adalah sebuah kesengajaan atau bisa dikatakan bunuh diri?” Tanya seorang reporter.

Hyunbin tersenyum, “Ani.. Terjadi sebuah kecelakaan kecil dirumah hingga aku terluka, beruntung putriku pulang tepat waktu dan menemukanku sebelum aku meninggal karena kehabisan darah..”

Yeonsoo tersenyum memandang Hyunbin.

“Begitu..” Ucap seorang reporter.

“Ha Yeonsoo-ssi, mengapa selama ini ayahmu menyembunyikanmu?” Tanya seorang wartawan.

“Animida..” Jawab Yeonsoo, “Bukan ayahku yang menyembunyikanku, tapi aku tidak menyukai dunia entertainment..”

“Hm? Waeyo? Bukankah ayahmu adalah aktor besar?” Tanya wartawan lain.

“Itu karena jika aku masuk ke dunia entertainment, apa pun yang kulakukan akan di pandang buruk oleh semua orang. Bahkan saat aku panik karena kondisi ayahku, kalian semua tidak peduli bagaimana kondisiku dan terus melontarkan pertanyaan..” Jawab Yeonsoo yang membuat semua reporter dan kameramen disana tersindir dan menunduk malu.

Hyunbin tertawa kecil mendengar jawaban Yeonsoo sambil mengelus rambutnya, “Baiklah.. Sekian untuk wawancara kali ini, terima kasih..”

Yeonsoo membantu Hyunbin berdiri dan pergi dari tempat conferensi.

“Appa, kita akan kemana?” Tanya Yeonsoo ketika mereka menuju suatu tempat dengan van Hyunbin.

Hyunbin tersenyum, “Mengunjungi makam ayahmu..”

Yeonsoo sempat terkejut mendengar ucapan Hyunbin, namun sedetik kemudian dia teringat mengenai ‘ayah kandung’nya. “Ooh.. Ayah yang itu..”

=Makam Jinhyuk=

Narsha berdiri di depan makam Jinhyuk sambil menangis, “Jinhyuk.. Hyunbin membesarkan putrimu dengan baik.. Dia sangat mengagumkan sepertimu.. Kenapa kau pergi sebelum melihatnya? Sekarang dia sudah mengetahui siapa orangtua kandungnya..” Ucapnya ditengah tangis.

“Hyojin..” Ucap Hyunbin.

Narsha tertegun dan memandang Hyunbin, dia juga tertegun melihat Yeonsoo.

“Kau juga disini?” Tanya Hyunbin canggung.

“Annyeonghaseo..” Sapa Yeonsoo.

Narsha menyeka air matanya, “Aku harus pergi..” Ucapnya, lalu melangkah melewati Yeonsoo dan Hyunbin.

Yeonsoo memandang Narsha pergi tanpa mengatakan apa pun.

“Dia hanya belum terbiasa, jangan bersedih..” Ucap Hyunbin.

Yeonsoo memandang Hyunbin dan mengangguk.

Hyunbin tersenyum dan menarik Yeonsoo ke depan makam Jinhyuk, “Itu ayahmu, Yeonsoo…”

Yeonsoo memandang photo Jinhyuk kagum, “Wuaaa.. Ayahku tampan sekali..”

Hyunbin tertawa kecil, “Kau pikir dari mana wajah lucumu itu?”

Yeonsoo tersenyum malu, “Kupikir dari appa..”

Hyunbin mengangguk, “Ne, bisa saja..”

Yeonsoo memandang nisan Jinhyuk dan tersenyum, “Jinhyuk appa, aku putrimu Ha Yeonsoo.. Mungkin seharusnya aku bernama Choi Yeonsoo jika appa masih hidup.” Ucapnya dan tertawa kecil, “Appa tidak perlu mengkhawatirkanku, karena aku di rawat oleh Hyunbin appa..”

Hyunbin tersenyum mendengar ucapan Yeonsoo.

“Aku akan sering mengunjungimu nanti..” Ucap Yeonsoo menyudahi ucapannya.

“Jinhyuk-a..” Ucap Hyunbin, “Kau bahkan tidak tau kau memiliki seorang putri.” Ucapnya sebal, lalu tersenyum. “Tapi kau tenang saja, dia sudah tau siapa kau sebenarnya. Paling tidak dia bisa mendoakanmu setiap hari..”

Yeonsoo mengangguk.

=Sepulang Sekolah=

Yeonsoo dan Haneul berjalan pulang seperti biasa sambil membicarakan mengenai kenyataan tentang orangtuanya. Kali ini mereka bersama sebagai sahabat.

Mata Haneul membesar, “Ne?! Narsha-ssi itu ibumu?!”

Yeonsoo tersenyum dan mengangguk, “Mengejutkan kan?”

Haneul mengangguk, “Sangat..”

Yeonsoo tertawa kecil, “Meskipun begitu, aku senang tidak ada yang berubah..”

“Tapi… Bagaimana sekarang hubunganmu dan Narsha-ssi?” Tanya Haneul.

“Mmm.. Sebenarnya kami sudah lama tak bertemu. Aku bingung harus bagaimana membangun hubungan ibu dan anak diantara kami..” Jawab Yeonsoo bingung.

Haneul memandang Yeonsoo bingung, “Hm? Tumben sekali.. Biasanya kau selalu memiliki ide yang aneh..”

Yeonsoo tersenyum malu, “Ne, tapi kali ini aku tidak bisa memikirkan apa pun..”

“Mmm.. Bagaimana kalau begini..” Ucap Haneul yang mendapat sebuah ide.

Yeonsoo memandang Haneul penasaran, “Mwo?”

Haneul tersenyum.

=Ide Haneul=

Yeonsoo mendorong pintu dan berjalan masuk, “Annyeonghaseo..” Sapanya.

Semua orang di butik memandang Yeonsoo kaget, apalagi ada Hyunbin disana.

Yeonsoo tersenyum lebar pada Narsha yang memandang mereka bingung, “Eonni, bagaimana jika kita pergi makan siang bersama?” Tanyanya.

Sebuah Taman.

Hyunbin, Yeonsoo, Narsha dan Haneul duduk bersama di atas sebuah kain dan makanan di hadapan mereka.

“Kenapa kau tidak bilang Haneul akan ikut juga?” Tanya Hyunbin.

Yeonsoo memandang Haneul dan ayahnya bergantian, “Wae? Akan menyenangkan jika Haneul ikut..”

“Jadi kita akan berpiknik disini?” Tanya Narsha heran.

“Ne.. Karena disini sangat tenang dan menyenangkan..” Jawab Haneul.

“Chaaan.. Ayo mulai makan.. Aku membawa nasi gulung, kimchi dan telur dadar..” Ucap Yeonsoo senang sambil mengeluarkan makanan dari keranjang.

“Ini kau yang memasaknya?” Tanya Hyunbin.

Yeonsoo tersenyum malu, “Aniyeo.. Gain immo yang memasaknya.. Hihihi..”

“Ya sudah, ayo kita mulai makan..” Ucap Haneul membuat suasana ceria.

Narsha memandang Yeonsoo bingung, lalu Hyunbin. Tapi karena itu adalah acara piknik biasa, dia berusaha bersikap biasa juga.

Yeonsoo dan Haneul membuat suasana menjadi menyenangkan dengan lelucon mereka. Selesai makan, mereka berjalan-jalan di sekitar taman untuk beberapa saat.

Haneul memberi isyarat pada Yeonsoo untuk memulai rencana mereka dengan gerakan alisnya. Gadis itu tersenyum dan mengangguk kecil. “Aw! Yeonsoo-a!” Ucapnya sambil tertawa.

“Kau kena! Weeeeek..” Ledek Yeonsoo dan berlari melarikan diri.

“Ya!” Seru Haneul dan langsung mengejar Yeonsoo.

“Kyaaaa!!” Teriak Yeonsoo dan berusaha berlari ke arah lain.

Hyunbin dan Narsha bingung melihat kelakuan kedua anak itu.

“Yeonsoo-a! Itu berbahaya!” Ucap Hyunbin memperingati, namun kedua anak muda itu sudah jauh berlari.

Narsha memandang Hyunbin dan memalingkan wajahnya canggung. Hyunbin juga merasakan hal yang sama.

“Mmm.. Bagaimana kabarmu?” Tanya Hyunbin sambil melangkah pelan bersama Narsha.

“Baik.. Lukamu?” Tanya Narsha.

“Sudah membaik sekarang..” Jawab Hyunbin sambil tersenyum tipis.

Hening..

“Mmm.. Benarkah lukamu itu.. Errr..” Narsha bingung bagaimana menyebutkannya.

“Bunuh diri?” Ucap Hyunbin.

Narsha menatap Hyunbin kaget, lalu mengangguk.

Hyubin tersenyum tipis, “Ne..”

Langkah Narsha terhenti dan menatap Hyunbin, “Tapi kau bilang pada media..”

“Kecelakaan?” Potong Hyunbin, “Itu untuk menyelamatkanmu dan Yeonsoo..”

“Kenapa kau melukai dirimu?” Tanya Narsha tak mengerti.

Hyunbin menatap Narsha dalam, “Karena rasa penyesalanku, rasa bersalahku, juga rasa maluku. Padamu dan Yeonsoo..”

Narsha menatap Hyunbin tak percaya.

“Karenaku, kau kehilangan pria yang kau cintai. Kehilangan ayah dari putrimu, juga kehilangan kebahagiaanmu. Dan karenaku, Yeonsoo tidak mengenal siapa ibunya. Tidak tau bagaimana pria yang dia anggap adalah ayahnya, juga merasa kesepian karena pria ini..” Ucap Hyunbin penuh penyesalan.

Narsha memandang Hyunbin sedih, lalu memandang Yeonsoo yang tertawa bersama Haneul. “Tapi dia tidak menyalahkanmu.. Dia tetap menjadi putrimu..”

“Karena dia memiliki hati lembut sepertimu..” Ucap Hyunbin.

Narsha kembali memandang Hyunbin.

“Dia juga memiliki suara emas sepertimu..” Lanjut Hyunbin.

Narsha menunduk sedih dan memandang Yeonsoo, matanya kembali terasa panas karena bulir air hendak jatuh. “Juga memiliki senyum ceria Jinhyuk..” Ucapnya dengan suara bergetar.

Hyunbin menatap Narsha sedih, “Hyojin-a, Yeonsoo memiliki sebagian besar sifat Jinhyuk. Tapi dia bukan Jinhyuk, dia putrimu..”

Narsha memandang Hyunbin dengan mata basah, “Aku sudah memutuskan untuk kembali ke Amerika..”

Hyunbin tertegun, “Ne? Wae?”

Narsha kembali menunduk, “Aku tidak bisa terus melihat Yeonsoo, itu sama saja seperti aku memandang Jinhyuk.”

“Hyojin, putrimu sudah tau kenyataan tentangmu. Dan kau akan pergi begitu saja?” Tanya Hyunbin tak percaya.

Narsha menggeleng, “Akulah pengecut sebenarnya, Hyunbin. Aku bahkan tak bisa menghadapi putriku, aku tidak bisa menghadapi keegoisanku.”

Hyunbin memegang kedua bahu Narsha dan menyentak tubuhnya, “Ya! Park Hyojin! Sadarlah! Kau bukan anak belasan tahun lagi! Kau seharusnya mencintai putrimu sepenuh hati, karena dia adalah anak dari orang yang kau cintai!”

Narsha berusaha melepaskan tangan Hyunbin dari bahunya, “Kau tidak mengerti Hyunbin!”

Hyunbin menatap Narsha marah, “Kau bukan Hyojin yang kukenal, kau hanya seorang gadis egois. Yeonsoo beruntung tidak dibesarkan olehmu!” Ucapnya, lalu melepaskan bahu Narsha. “Ha Yeonsoo! Kemari!” Panggilnya.

Yeonsoo yang masih bermain-main bersama Haneul langsung terdiam dan memandang Hyunbin kaget.

Hyunbin memandang Yeonsoo, “Ha Yeonsoo!!”

Yeonsoo berpandangan dengan Haneul dan melangkah menghampiri ayahnya, “Appa, waekeure?”

Hyunbin langsung menarik tangan Yeonsoo pergi.

“Appa?” Yeonsoo memandang Narsha bingung sambil mengikuti ayahnya.

Haneul menghampiri Narsha, “Narsha-ssi, waeyo?”

Narsha memandang Haneul, lalu melangkah pergi sambil menahan tangisnya.

=Pulang Sekolah=

“Apa ayahmu mengatakan sesuatu?” Tanya Haneul ketika dia dan Yeonsoo berjalan kembali ke rumah.

Yeonsoo menggeleng, “Ayahku hanya tersenyum dan berkata tidak terjadi apa pun..”

“Tapi kenapa Narsha-ssi terlihat sedih dan hampir menangis?” Tanya Haneul tak mengerti.

Yeonsoo mengangkat bahu.

Haneul berpikir sejenak, “Apa mungkin ada sesuatu diantara mereka?”

“Mmm.. Dulu memang ada sesuatu diantara mereka, tapi kalau sekarang aku tidak tau..” Jawab Yeonsoo.

“Atau mereka masih saling mencintai?” Ucap Haneul sendiri.

Yeonsoo tertegun dan memandang Haneul, “Ooh.. Kau benar..”

Haneul memandang Yeonsoo bingung, “Apa?”

Yeonsoo tersenyum lebar dan menarik Haneul pergi.

“Yeonsoo-a..” Ucap Haneul bingung.

Brown Eyed Girls Boutique.

Yeonsoo terkejut mendengar berita yang di sampaikan Gain.

“Ne?! Narsha eonni pergi ke bandara?” Tanya Yeonsoo kaget.

“Ne, Narsha akan kembali ke Amerika..” Jawab Gain.

“Maaf, apa Narsha-ssi sudah lama pergi?” Tanya Haneul.

“Sekitar 10 menit lalu..” Jawab Gain.

“10 menit?” Tanya Haneul, lalu memandang Yeonsoo. “Ayo, kita masih bisa mengejarnya!” Ucapnya dan langsung menarik Yeonsoo keluar. Di depan butik dia segera menghentikan sebuah taxy.

=Bandara=

Yeonsoo melangkah cepat bersama Haneul menuju penerbangan keluar negeri sambil mencari-cari dimana Narsha.

Haneul menahan tangan Yeonsoo, “Yeonsoo-a, aku akan cari ke sebelah sana. Kau cari ke sana..” Ucapnya sambil menunduk dua arah yang dia maksud.

Yeonsoo mengangguk mengerti, lalu segera mencari lagi.

Disisi lain. Narsha berdiri bersama Jea di depan boarding pass untuk mengucapkan salam perpisahan.

“Kau harus segera menghubungiku begitu tiba di New York..” Ucap Jea.

Narsha mengangguk, “Ne..”

Jea menghela nafas dalam dan memeluk Narsha, “Kau tau dimana kami berada, pulanglah ketika kau merasa lebih baik..” Ucapnya.

Narsha memeluk Jea hangat, “Terima kasih, Jea..” Ucapnya dan melepaskan pelukan itu, “Jaga dirimu..”

“Aku yang seharusnya mengatakan itu padamu..” Ucap Jea.

Narsha tersenyum, “Baiklah.. Aku akan segera pergi..” Ucapnya.

“Eonni!!” Panggil Yeonsoo sambil menghampiri Narsha.

Narsha kaget melihat Yeonsoo muncul.

“Eonni.. Kenapa kau pergi? Kenapa kau tidak memberitauku?!” Tanya Yeonsoo kesal.

“Yeonsoo? Bagaimana kau tau aku disini?” Tanya Narsha tak mengerti.

Yeonsoo memegang lengan Narsha, “Eonni tidak boleh pergi! Ayo kita kembali!” Ucapnya sambil menarik wanita itu.

“Yeonsoo..” Ucap Narsha sambil menarik tangannya.

Yeonsoo kembali menarik tangan Narsha, “Eonni, untuk apa pergi ke Amerika lagi? Kau kan sudah kembali, disini kau bisa hidup lebih baik..”

Narsha menatap Yeonsoo marah dan menarik tangannya dengan kasar, “Karena aku tidak bisa melihatmu!”

Yeonsoo tertegun, “Wae?”

Mata Narsha mulai memerah menahan air matanya.

Jea bingung melihat kedua orang itu.

“Kupikir kau memang berbeda. Tapi ternyata kau adalah dia..” Ucap Narsha, “Kau memiliki senyum ceria Jinhyuk, tatapan matanya, juga sifatnya!”

Yeonsoo menatap Narsha bingung, “Wae? Aku memang anaknya.. Apa yang salah dengan itu?”

“Narsha, ada apa ini?” Tanya Jea tak mengerti.

“Aku pergi…” Ucap Narsha, lalu berbalik dan berjalan cepat ke boarding pass.

“Yeonsoo-a?” Ucap Haneul yang kembali muncul.

Yeonsoo menatap Narsha marah, bulir air matanya mulai berjatuhan. “Jika kau pergi aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!”

Narsha terus berjalan meskipun bulir air matanya berjatuhan.

“Eonni!!” Panggil Yeonsoo, namun Narsha menghampiri petugas boarding pass dan memberikan passportnya. “EOMMA!!!!” Teriak Yeonsoo sekuat yang dia bisa hingga memejamkan mata. Membuat semua orang di sekitarnya terdiam dan menatapnya bingung. Dia kembali membuka matanya memandang Narsha yang sama sekali tak bergeming.

Haneul melirik Yeonsoo dan memandang Narsha.

Jea memandang Yeonsoo kaget seperti orang disekitarnya.

“Jika kau pergi, Jinhyuk appa juga pasti tidak akan memaafkanmu!” Ucap Yeonsoo.

Narsha memandang Yeonsoo, bulir air semakin deras berjatuhan dari matanya. Akhirnya dia menyerah. Passportnya terlepas dari tangan dan terjatuh ke lantai. Kepalanya tertunduk dan menangis, tubuhnya melemah dan terduduk di lantai.

“Narsha!!” Ucap Jea sambil menghampiri Narsha.

“Agassi, gwenchana?” Tanya petugas boarding pass.

Narsha hanya terus menangis tanpa menghiraukan orang-orang yang memandangnya bingung.

=Setahun Kemudian=

Yeonsoo berlari keluar dari kamarnya sambil merapikan rambut. Itu adalah hari pertamanya di universitas dan dia tak mau memulainya dengan keterlambatan. “Appa.. Aku pergi..” Ucapnya pada Hyunbin yang sedang membaca koran di meja makan.

“Ne? Ha Yeonsoo! Sarapan dulu!” Panggil Hyunbin.

Narsha terkejut Yeonsoo berlari secepat kilat melaluinya, “Yeonsoo!”

“Aku harus pergi.. Annyeonghaseo..” Ucap Yeonsoo dan keluar dari rumah.

Narsha dan Hyunbin diam memandang Yeonsoo, lalu saling berpandangan.

“Ada apa dengannya?” Tanya Narsha.

Hyunbin menggeleng, “Dia memang aneh seperti ini..”

Narsha menahan tawa dan duduk di sebelah Hyunbin, “Dia pasti menirumu..”

Hyunbin tersenyum memandang Narsha, “Jinja?”

Narsha tersenyum dan mengangguk.

Hyunbin mencubit pipi Narsha gemas dan melanjutkan makannya.

Narsha tersenyum manis sambil memperhatikan Hyunbin makan, lalu memandang cincin di jari manisnya dan memandang photo pernikahan di dinding. Setelah belasan tahun memiliki putri akhirnya dia menjadi seorang istri.

Sementara itu.

Yeonsoo berlari menghampiri Haneul yang sudah menunggunya, “Ohh.. Akhirnya..”

Haneul tersenyum memandang Yeonsoo yang tampak manis dengan minidress dan tas selempangnya, “Sudah tiba? Ayo, kita langsung berangkat..”

Yeonsoo tersenyum dan melangkah bersama Haneul, “Huuuufff.. Aku tidak sabar untuk menjadi mahasiswi..” Ucapnya bersemangat.

Haneul tersenyum lebar sambil melirik gadis disebelahnya, tangannya perlahan memegang jemari Yeonsoo dan menggenggam tangannya.

Yeonsoo tersipu merasakan tangan Haneul menggenggam tangannya.

“Yeonsoo-a..” Panggil Haneul pelan.

“Ne?” Jawab Yeonsoo.

“Mmm..” Haneul berhenti sejenak dan menarik Yeonsoo berhadapan dengannya.

Yeonsoo memandang Haneul bingung.

“Yeonsoo-a, setahun lalu kita memutuskan untuk berteman saja. Tapi, saat ini aku tidak ingin kita hanya berteman saja..” Ucap Haneul dengan tatapan dalam, “Bisakah kita memulai hubungan lagi?”

Yeonsoo tertegun mendengar ucapan Haneul, perlahan wajahnya merona dan menunduk malu.

“Aku menyukaimu apa adanya.. Kelucuanmu, keanehanmu, juga sifat sembronomu..” Ucap Haneul sambil tersenyum.

Yeonsoo tersenyum malu, “Jinja?”

Haneul mengangguk, “Ne.. Kau mau menjadi kekasihku lagi?”

Yeonsoo memandang Haneul dan tersenyum lebar, lalu mengangguk. “Ne..”

Haneul tersenyum, lalu menarik tangan Yeonsoo pergi lagi.

=Makam Jinhyuk=

Yeonsoo berdiri diantara Hyunbin dan Narsha, lalu meletakkan buket bunga di makam Jinhyuk. “Appa.. Kami datang..”

Narsha tersenyum mendengar ucapan Yeonsoo sambil mengelus rambutnya.

Hyunbin merangkul Yeonsoo dan Narsha, “Jinhyuk, aku akan menjaga Hyojin dan Yeonsoo. Kami sudah menjadi satu keluarga sekarang..”

“Ne, Hyunbin appa sudah menikahi eomma.. Appa tidak perlu khawatir lagi..” Ucap Yeonsoo ceria.

Narsha tersenyum sambil berpandangan dengan Hyunbin dan memandang putrinya.

Yeonsoo tersenyum pada Narsha dan Hyunbin bergantian, lalu memandang makam Jinhyuk.

Hello To Yourself, tidak hanya diriku, tapi juga dirimu. Temukan apa yang kau inginkan, apa yang membuatmu bahagia, maka kau akan menikmati hidupmu. 🙂

===THE END===

Advertisements

One thought on “Hello To Yourself..

  1. Ahh… Udah dari awal aku ngerasa kalo yeonsoo itu anaknya narsha.. Tapi gak kepikiran ternyata dia bukan anaknya hyunbin…..
    gak tau kenapa… Aku bener2 terharu bacanya… :’) apalagi pas yeonsoo manggil narsha eomma.. Itu bener2 mengharukan…. :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s