Chapter

Baby Boo~~ [Chapter 2]

–Pain–

2

=Hari Valentine=

Hyuna berdandan secantik mungkin untuk menemui Hyunseung, dia ingin memberikan syal rajutan yang telah susah payah dia buat. Namun yang dia lihat tidak seperti harapannya. Dia tertegun melihat Hyunseung ditarik oleh seorang gadis ke mobilnya.

“Khaja.. kau malas sekali..” ucap Eunji sebal.

Hyunseung sangat kesal gadis itu membuatnya tak berkutik, “Ya! Minta mobilmu sendiri dari ayahmu!” ucapnya kesal.

Eunji berhenti dan hampir memukul Hyunseung kesal, “Sudah, turuti saja!” ucapnya, lalu masuk ke mobil.

Hyunseung membuka pintu mobilnya dan masuk.

Hyuna terpaku di tempatnya, dia merasa sangat aneh. Tidak tau apa yang benar-benar dia rasakan saat itu. Tangannya menggenggam tas kertas berisi syal untuk Hyunseung, lalu menunduk sedih. Perlahan dia berbalik dan berjalan pergi.

Hyunseung berbelok keluar dari kawasan kampusnya dengan perasaan kesal pada Eunji, gadis yang tak lain adalah sepupunya. Tak jauh meninggalkan kampus, matanya melirik ke spion dan langsung terpaku melihat Hyuna berjalan pergi meninggalkan kampusnya. Spontan kakinya menginjak rem hingga mobil berhenti mendadak.

“KYAAA!!” teriak Eunji kaget, lalu menatap Hyunseung. “Ya! Kau…” dia tak sempat menyelesaikan perkataannya karena pria itu sudah keluar dari mobil. “Aissh.. waekeure?” ucapnya bingung sambil memperhatikan sepupunya itu.

Hyuna tertegun melihat Hyunseung berjalan menghampirinya, “Oppa?”

Hyunseung menatap Hyuna dingin seperti biasa, “Kenapa kau disini?”

“Hm? Oh.. aku..” ucap Hyuna bingung.

Hyunseung memandang bungkusan ditangan Hyuna, “Apa itu?”

Hyuna memandang tas kertas ditangannya dan tersenyum lebar, “Aku membuatkan sesuatu untukmu..” ucapnya sambil mengeluarkan syal yang dia buat, “Ini..”

Hyunseung tertegun melihat syal merah itu dan memandang Hyuna.

“Udara sering dingin akhir-akhir ini, jadi aku memberikannya untuk hadiah valentine.” Ucap Hyuna senang. “Kemari..” dia menarik Hyunseung maju dan memasangkan syal itu dilehernya, “Hmm.. dengan begini oppa akan terus hangat.. keutji?”

Hyunseung merasakan sesuatu yang aneh didalam dadanya. Apalagi gadis didepannya terlihat tidak seperti biasa. Tangannya bergerak memegang tangan Hyuna yang merapikan syal di lehernya, “Gwenchana?”

“Hm?” Hyuna tampak bingung dengan pertanyaan Hyunseung, lalu tersenyum lebar. “Gwenchana..”

“Mmm.. kau tidak pernah muncul lagi beberapa hari ini..” ucap Hyunseung, bingung harus bagaimana mengatakannya.

Hyuna tertawa kecil, “Miane oppa, aku banyak tugas. Jadi aku harus belajar giat, oppa tidak suka gadis bodoh kan?”

Meskipun Hyuna tersenyum dan tampak ceria, Hyunseung seperti melihat sesuatu yang berbeda dalam tatapannya. “Oh.. begitu..”

“Keure, aku akan pergi. Bye oppa..” ucap Hyuna dan berjalan pergi kearah lain.

Hyunseung memperhatikan Hyuna yang berjalan pergi, hatinya terasa sangat aneh melihat gadis itu lagi.

Din!! Din!!

Hyunseung terkejut dan memandang kebelakang.

Eunji menatap Hyunseung kesal dari sebelah kursi kemudi, “YA! Sampai kapan kau akan berdiri disana?!”

Hyunseung mendengus kesal dan kembali memandang kearah Hyuna tadi, gadis itu sudah jauh pergi. Dengan berat hati dia berbalik dan kembali ke mobil.

“Siapa gadis tadi? Kekasihmu?” Tanya Eunji setelah mereka kembali dalam perjalanan.

“Ani..” jawab Hyunseung.

Eunji menatap Hyunseung sebal, “Tidak mungkin bukan kekasihmu jika dia menunggu lama di depan kampus untuk memberikan ini..” ucapnya sambil menunjuk syal dileher pria itu.

Hyunseung tertegun dan memandang Eunji kaget, “Mwo?”

“Aku melihat gadis itu berdiri di depan kampus ketika datang tadi, kupikir dia menunggu siapa. Ternyata kau..” jawab Eunji santai.

Hyunseung tak percaya mendengar ucapan Eunji dan kembali memandang jalanan, ‘Dia sudah lama menungguku?’ batinnya tak percaya.

“Kau punya makanan tidak? Aku lapar..” ucap Eunji sambil membuka tas Hyunseung.

“Ya! Siapa yang mengijinkanmu membuka tasku?!” ucap Hyunseung kesal sambil menjangkau tasnya.

Eunji memukul tangan Hyunseung, “Aku tidak akan mencuri barangmu!” ucapnya sebal dan kembali mencari-cari apakah ada makanan disana.

“Tidak ada apa pun!” ucap Hyunseung memberitau.

Eunji tertegun menemukan sebuah lipatan kertas, “Hm? Apa ini?” ucapnya sambil membuka lipatan kertas itu.

Dahi Hyunseung berkerut karena merasa tidak mengenal kertas itu, “Apa itu?”

Eunji tersenyum jahil pada Hyunseung, “Ohh.. gadis tadi bernama Kim Hyuna?” ledeknya.

Hyunseung menatap Eunji kaget dan langsung mengambil kertas itu, lalu membaca pesan disana.

_oppa, selamat menikmati! Saranghae.._

Kim Hyuna

Hyunseung tertegun membaca pesan itu, lalu memandang jalanan dengan wajah risau.

Malamnya.

Hyunseung berbaring di tempat tidur sambil memandangi jimat buatan Hyuna. Syal yang dibuat gadis itu terlipat rapi disebelahnya. Dia hanya tak mengerti mengapa gadis itu masih berbuat baik padanya meskipun dia selalu bersikap dingin. Ia bergerak bangkit, namun tak sengaja dia malah meremas jimat itu. Sepertinya ada sesuatu didalam jimat itu. Dahinya berkerut memandang benda itu dan memeriksa apakah ada sesuatu disana. Dari sebuah lubang kecil di pinggir kepala kucing itu, dia menemukan lipatan kertas. Tangannya membuka kertas itu dan membaca isinya.

Oppa! Fighting!!

Dia menghela nafas dalam dan kembali memasukkan lipatan kertas itu ke dalam kepala kucing tadi, lalu memandangi jimatnya. “Kenapa aku merasa seperti ini?” tanyanya sendiri.

=Suatu Hari=

Naeun penasaran mengapa Hyuna sering tidak masuk akhir-akhir ini, jadi dia memutuskan untuk melihat gadis itu kerumahnya sepulang sekolah. “Hm? Tidak ada siapa-siapa?” tanyanya sambil mengintip melalui pintu gerbang. Dahinya berkerut melihat halaman depat tampak tak terawat. Banyak daun kering berserakan, juga sepertinya rumah itu sudah lama tak ditempati. “Hyuna-a..” panggilnya, “Hyuna-a!” panggilnya lebih keras. Ia terkejut merasakan seseorang memegang bahunya, “Omo!”

Seorang ibu tersenyum ramah, “Maaf Agassi, kau mencari orang yang tinggal disini?”

“Oh.. ne, Ahjumma. Temanku tinggal disini..” jawab Naeun.

“Mereka sudah tidak tinggal disini lagi, Agassi..” ucap ibu itu.

Naeun tertegun, “Ne? mereka pindah kemana?”

“Molaso, setelah perusahaan tuan Kim bangkrut kudengar mereka pergi keluar negeri..” jawab ibu itu.

Mata Naeun melotot, “Mwo?! Bangkrut?! Luar negeri?!”

Sementara itu.

Hyuna berdiri disebelah mobil Hyunseung sambil memainkan kerikil didekat kakinya, tak lama pria itu muncul. “Oppa..” sapanya ceria.

Hyunseung berhenti di dekat Hyuna sambil memandang gadis itu bingung, karena gadis itu kembali mengenakan make-up diwajahnya. “Wae? Kau akan pergi ke pesta hallowen?” tanyanya dingin.

Hyuna tertawa kecil, “Aniya, oppa..” ucapnya lucu.

Hyunseung sangat kesal melihat gadis itu mengenakan make-up, karena itu membuatnya terlihat sangat cantik hingga semua pria memandang kearahnya. “Kenapa kau kesini?”

Hyuna cemberut, “Oppa, aku kemari untuk bertemu denganmu. Juga sudah berdandan cantik untukmu..”

Hyunseung memutar bola matanya kesal, “Apa yang cantik? Kau terlihat seperti badut!” ucapnya, lalu membuka pintu. “Masuk, aku akan mengantarkanmu pulang!”

Hyuna diam ditempatnya sambil menatap Hyunseung kesal, “Oppa, apa susahnya mengatakan aku cantik.. Dasar..”

Hyunseung menghela nafas kesal dan menatap Hyuna, “Kau hanya anak kecil, apa yang terlihat cantik dari anak kecil?” tanyanya dingin, “Cepat masuk atau aku pergi tanpamu!” gertaknya.

Hyuna menatap Hyunseung kecewa, hatinya juga terasa sakit mendengar ucapan pria itu. “Oppa! Aku sekarang sudah dewasa, aku bukan anak-anak lagi. Kenapa kau tidak melihatku seperti wanita?”

Hyunseung menutup pintu yang tadi dia bukakan untuk Hyuna, “Karena kau selalu terlihat seperti anak kecil dimataku!” ucapnya, lalu berjalan ke pintu kemudi.

Hyuna tertegun mendengar ucapan Hyunseung, lalu mengikuti langkah pria itu. “Oppa, aku menyukaimu.. Kenapa kau tidak bisa membalasnya? Padahal aku selalu disisimu..”

Hyunseung membuka pintu dan memandang Hyuna kesal, “Mwo? Hanya karena kau menyukaiku bukan berarti aku harus menyukaimu juga kan?!”

Hyuna terpaku mendengar ucapan Hyunseung. Hatinya terasa sangat sakit, matanya memerah menahan air mata dan menunduk sedih.

Hyunseung memalingkan wajahnya dan masuk ke mobil, lalu menghidupkan mesin dan meninggalkan Hyuna seperti itu.

Hyuna memandang mobil Hyunseung pergi, bulir air matanya tetap mengalir meskipun dia berusaha menahannya. Dengan cepat dia menyeka air matanya dan tersenyum tipis, “Keure oppa, akhirnya kau mengatakan yang sebenarnya..” ucapnya pelan, lalu melangkah pergi.

Hyunseung mengendarai mobilnya dengan satu tangan memegang dahi, dia tak tau mengapa ia mengatakan itu pada Hyuna. “Apa yang kau lakukan Jang Hyunseung?!” gumamnya kesal, lalu memutar mobilnya kembali ke kawasan kampus. Namun gadis itu sudah tidak ada. “Ahh.. micheoso!” gumamnya.

Keesokan harinya. Hyunseung sengaja menunggu di depan sekolah untuk bertemu dengan Hyuna.

Naeun melangkah menuju gerbang seorang diri dan melihat Hyunseung berdiri sambil bersandar disebelah mobilnya, “Hyunseung oppa?” gumamnya, lalu segera menghampiri pria itu. “Hyunseung oppa..”

Hyunseung memandang Naeun, “Oh.. Son Naeun, mana Hyuna?”

Naeun tertegun mendengar pertanyaan Hyunseung, “Oppa tidak mendengar tentang Hyuna?”

Dahi Hyunseung berkerut, “Wae?”

Mata Naeun memerah dan mulai menangis mengingat temannya itu.

Hyunseung terkejut melihat Naeun malah menangis, lalu melirik ke kanan dan kiri. Orang-orang memandang kearah mereka kaget. “Ya.. jangan menangis.. kemanhe..” bujuknya, tapi gadis itu tetap menangis. “Ayo.. “ dia menarik Naeun masuk ke mobil dan pergi dari sana.

Sebuah taman.

Hyunseung memandang Naeun yang masih menyeka air matanya dengan tisu, “Kenapa kau menangis seperti itu? Orang-orang akan berpikir aku melakukan sesuatu padamu..”

Naeun menunduk menyesal, “Cesongeo, oppa.. Aku sedih sekali setelah mengetahui apa yang menimpa Hyuna..”

Dahi Hyunseung berkerut, “Apa yang terjadi padanya?”

Naeun menggigit bibir bawahnya ragu, “Mmm.. Hyuna sering tidak masuk akhir-akhir ini, jadi aku datang kerumahnya. Tetangganya berkata kalau keluarga Hyuna sudah pindah karena perusahaan ayah Hyuna bangkrut..”

Mata Hyunseung membesar, “Ne?!”

Naeun mengangguk, “Ne..” jawabnya.

“Lalu, bagaimana dengan Hyuna?” Tanya Hyunseung ingin tau.

Naeun kembali menangis mengingat kisah yang akan dia ceritakan, “Itu… Mmm.. ayah Hyuna…” dia tampak tak sanggup menceritakannya.

“Wae? Cepat katakan!” desak Hyunseung.

Bulir air mata Naeun kembali mengalir, “Ayah Hyuna kabur keluar negeri karena terbelit hutang, hingga Hyuna yang harus menanggung semuanya..”

Mulut Hyunseung terbuka karena terkejut, “Mwo?”

“Hyuna kasihan sekali..” ucap Naeun sedih, “Aku sudah curiga melihat tangannya sering terluka, pasti dia bekerja keras. Dia juga tidak pernah lagi membawa bekal dan sering tertidur dikelas..”ceritanya.

Hyunseung tertegun mendengar ucapan Naeun, dia ingat ketika memberikan bekal pagi itu tangan Hyuna sepertinya memerah. Juga saat memberikan jimat itu. Selain jari-jarinya juga terlihat plester ditangannya. “Apa kau tau dimana dia sekarang?”

Naeun menggeleng, “Hyuna tak pernah mengatakan apa pun padaku. Dia selalu berkata semuanya baik-baik saja. Jika dia memberitauku, aku pasti membantunya..”

Hyunseung menghela nafas berat. Dia ingat bagaimana ekspresi Hyuna kemarin, juga saat memberikan syal padanya.

“Eoteokhe, oppa?” Tanya Naeun.

Hyunseung memandang Naeun, “Mmm.. aku akan mengantarkanmu pulang dan mencari tau tenang Hyuna..” ucapnya sambil menghidupkan mesin dan pergi.

=Sebuah Ruangan=

Hyuna menatap wajahnya didepan cermin. Dia bisa melihat luka yang dirasakan hatinya disana. Tangannya terulur mengambil kuas dan memoles pipinya dengan  blush on, lalu menghela nafas dalam dan tersenyum. “Uljimara(jangan menangis) Hyuna..” ucapnya pelan, namun bulir air matanya tetap mengalir. “Kau akan terlihat jelek jika menangis, uljimara..” ucapnya sambil menyeka air matanya, tapi tetap saja mengalir. Akhirnya dia benar-benar menangis mengingat ucapan Hyunseung beberapa hari lalu. Setelah beberapa saat dia berusaha menenangkan diri.

Pintu diruangan itu terbuka, muncul seorang gadis yang mengenakan baju sexy. “Kim Hyuna! Giliranmu!” panggilnya.

“Ne..” jawab Hyuna dan segera memperbaiki make-upnya, lalu beranjak.

Hyuna mengenakan pakaian sexy yang memperlihatkan hampir semua tubuhnya, juga make up tebal hingga tak ada yang akan menyangka dia masih 17 tahun. Terdengar music memekakkan telinga semakin lama semakin jelas dia melangkah, hingga akhirnya dia tiba di ruangan klub. Yang dimaksud gadis tadi dengan ‘giliran’nya adalah menari diatas panggung. Dia terpaksa harus bekerja sebagai penari stiptis di klub itu akibat ayahnya memiliki hutang banyak pada pemiliknya. Bahkan dia sama sekali tak dibayar untuk itu. Dia mencari uang dengan bekerja di sebuah minimarket 24 jam setelah dari klub.

Begitu music berganti dan Hyuna naik ke panggung, para pria langsung menyaksikan pertunjukannya sambil bersorak senang. Meskipun dia tak ingin melakukannya, tapi dia tak memiliki pilihan lain. Dia menggerakkan tubuhnya  dengan tatapan sexy, tak jarang dia melakukan gerakan seduktif yang membuat para pria akan melakukan apa pun untuk mendapatkannya.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 ketika Hyuna mengambil tasnya dan bergegas pergi, tentu dia tak ingin terlambat bekerja.

“Kim Hyuna..” panggil manajer klub itu.

Hyuna berhenti dan memandang pria itu, “Ne?”

“Kemari sebentar..” ucap pria itu.

Hyuna memiliki firasat buruk mengenai hal itu, dengan hati-hati dia mengikuti manajernya itu masuk kesebuah ruang karaoke.

“Ayo duduk..” ucap manajer itu sambil menunjuk sofa disebelahnya.

Hyuna mengangguk sopan dan duduk di sebelah pria itu.

Pria itu tersenyum, “Hyuna, hutang ayahmu terlalu banyak. Jika kau hanya menari disini tidak akan cukup..” ucapnya, “Kau juga harus menemani tamu-tamu disini.”

Hyuna terkejut, “Ne? tapi aku bukan pelacur..” ucapnya.

Pria itu tersenyum sambil mengelus pipi Hyuna, “Belum..”

Hyuna menghindari tangan pria itu, “Aku tidak akan melakukannya!”

“Baiklah.. Maka semua orang akan melihat bagaimana menariknya dirimu menari diatas panggung itu..” ucap pria itu mengancam.

“Mwo?! Sajangnim..” ucap Hyuna tak percaya.

“Pulanglah, kau pasti sudah mengerti besok..” ucap pria itu.

Hyuna menatap pria itu marah, lalu bangkit dan melangkah pergi.

Minimarket 24 jam.

Hyuna termenung dibalik meja kasir sambil memikirkan ucapan manajernya tadi.

“Baiklah.. Maka semua orang akan melihat bagaimana menariknya dirimu menari diatas panggung itu..”

Jika semua orang tau mengenai dirinya yang menjadi penari striptis di klub, dia tidak akan memiliki muka lagi untuk bertemu siapa pun. Dan jika Hyunseung sampai melihat rekaman itu, dia bisa membunuh dirinya sendiri. Bulir air matanya mengalir mewakilkan sakit dihatinya.

<<Back           Next>>

Advertisements

6 thoughts on “Baby Boo~~ [Chapter 2]

  1. ughhh nyeseekkk nya hyuna unni…
    ayah nya knpa tega sekali..
    kasian kn hyuna yg harus nanggung semua beban nyaa..
    jangan sampe dech hyuna unni nglakuin kerjaan yg d suruh manager nyaa..

    tuh kan hyunhyun oppa..
    kata2 nyakitin banget sichhh..
    kalo oppa gag ngatain kayak gto kn hyuna unni gag seterpuruk ituu..
    TT

  2. 17 taun menanggung beban seberat itu?? aigoo ayah ny kejam sekali meninggalkan anak ny seorang diri. tsk tsk

    semoga hyuna eonnie segera dpt menyeleseikan beban ny,, dan hyunseung oppa datanglah segera membantu eonnie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s