Uncategorized

GET the Cube: I Know You Love Me!

I know You Love me

Cast:

– Jihyun ‘4Minute’

– Hyunsik ‘BTOB’

– Beast: Dujun, Junhyung, Gikwang & Hyunseung

– Kim Joon

Jihyun bergerak bangkit sambil mengelus pundaknya, dia merasa tidak begitu baik beberapa hari ini. Kepalanya menoleh ke samping, tidak ada siapa pun disana. Lalu menoleh ke arah jam di meja, ternyata sudah pukul 9. Dia bangun sangat siang lagi. “Ahhh.. Ada apa denganku?” Gumamnya tak mengerti.

Setelah bersiap dan mengenakan bajunya, dia berjalan keluar apartemen seorang diri. Dia harus melapor ke kantor polisi atas keanggotaannya dalam sebuah perkumpulan penjahat bernama Cube, namun ini adalah kewajibannya yang terakhir setelah 6 bulan. Ponselnya berbunyi ketika dia sudah berada di taxy, dia sudah bisa menebak siapa yang memanggil. “Ne..” Jawabnya.

Terdengar seorang pria menghela nafas kesal, “Seseorang dari kantor polisi menghubungiku, kau harus melaporkan hari ini?”

Jihyun memalingkan wajahnya keluar jendela, “Ne..”

“Kenapa kau tidak memberitauku? Ini pelaporan yang terakhir kan?” Tanya pria yang tak lain adalah Hyunsik itu.

“Hanya pelaporan biasa..” Ucap Jihyun.

“Dimana kau sekarang?” Tanya Hyunsik.

“Agassi, kita sudah sampai..” Ucap supir taxy itu memberitau.

“Ne, ahjussi..” Jawab Jihyun sambil memberikan uang dan turun dari taxy. “Aku sudah tiba.. Bye..” Ucapnya dan memutuskan telepon.

Ditempat lain. Hyunsik menatap ponselnya kesal. Setelah 6 bulan bersama gadis itu tetap keras kepala dan semaunya. “Ahhh.. Na mincheoso!” Gumamnya sambil mengambil kunci mobil dan bangkit dari duduknya.

=Kantor Polisi=

Jihyun duduk di depan seorang polisi perempuan yang mengetik sesuatu di komputer sambil sesekali menanyainya.

“Baiklah Nam Jihyun-ssi, kau melakukan tugasmu dengan baik..” Ucap polisi itu.

“Ne.. Aku permisi..” Ucap Jihyun sambil berdiri dan membungkuk sopan, lalu berjalan menuju pintu keluar. Namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan membuat langkahnya terhenti, satu tangannya terulur memegang dinding dan satunya lagi memegang dahi. Setelah beberapa saat dia bisa menguasai dirinya dan kembali melangkah keluar, namun kepalanya masih terasa pusing.

Hyunsik yang sejak tadi menunggu Jihyun di depan kantor polisi langsung keluar mobil dan menghampiri gadis itu, “Hei..”

Jihyun memandang Hyunsik bingung, “Kenapa kau disini?”

“Menurutmu?” Tanya Hyunsik, “Ayo, aku akan mengantarkanmu pulang..” Ucapnya sambil menarik tangan Jihyun.

Jihyun menahan langkahnya, “Tidak perlu, kau pergi saja. Aku akan mengunjungi teman-temanku di penjara..”

Hyunsik menatap Jihyun kesal, “Kalau begitu aku akan mengantarkanmu..”

Jihyun menghela nafas dalam, “Aku tidak ingin bertengkar disini, kau bisa pergi..” Ucapnya dan melangkah pergi.

Hyunsik menatap Jihyun tak mengerti, “Ada apa dengan hidupku?” Gumamnya tak mengerti.

=Apartemen=

Hyunsik yang duduk di sofa menonton tv menoleh pada Jihyun yang keluar dari kamar dan duduk di sebelahnya.

Jihyun mengambil remote dan mengganti channel tv tanpa mengatakan apa pun.

Tangan Hyunsik memegang tangan Jihyun dan mengaitkan jari mereka sambil merendahkan duduknya dan menempelkan kepalanya ke bahu gadis itu.

Jihyun memandang Hyunsik bingung, “Wae?”

Hyunsik tersenyum sambil tetap memandang layar tv, “Hanya ingin menarik perhatianmu..”

Jihyun menahan senyumnya, “Cih.. Lepaskan..” Ucapnya sambil menarik tangannya, namun Hyunsik tetap menggenggam tangannya.

Hyunsik memandang wajah Jihyun, gadis itu tampak menahan senyumnya.

Jihyun memalingkan wajahnya agar Hyunsik tak melihat wajahnya.

Hyunsik senang Jihyun tersenyum, tangannya yang lain menarik dagu gadis itu agar memandangnya. “Tersenyum saja..”

Wajah Jihyun terasa panas, “Mwoya?” Ucapnya malu.

Hyunsik memajukan wajahnya untuk mencium Jihyun, namun tiba-tiba gadis itu mendorong wajahnya dan berlari ke kamar. Dia terkejut sambil memegang hidungnya, “Ada apa dengannya?” Tanyanya bingung dan bangkit dari sofa, juga menyusul Jihyun ke kamar. Dia lebih terkejut mendengar gadis itu muntah di kamar mandi dan langsung berlari kesana, “Jihyun..”

Jihyun berlutut di depan toilet duduk sambil mengelap mulutnya dengan punggung tangan, perutnya terasa sangat mual.

Hyunsik memijat pundak gadis itu, “Ada apa denganmu?”

Jihyun menggeleng.

“Ayo.. Lebih baik kau langsung tidur..” Ucap Hyunsik sambil membantu Jihyun berdiri sambil memutar pembilas di toilet dan membawa gadis itu keluar dari kamar mandi.

=Beberapa Hari Kemudian=

Jihyun mondar-mandir di ruang tengah sambil menggigit kukunya menunggu Hyunsik pulang, dia benar-benar resah saat itu. Akhirnya sekitar pukul 8 malam pria itu tiba dirumah.

Hyunsik memandang Jihyun bingung, “Ada apa?” Tanyanya.

“Ikut aku..” Ucap Jihyun dan berjalan ke kamar.

Hyunsik garuk-garuk kepala bingung dan mengikuti Jihyun.

Jihyun berhenti di depan meja dan berbalik menatap Hyunsik dengan kedua tangan terlipat didada.

Hyunsik semakin tak mengerti, “Waeyo?”

“Itu..” Ucap Jihyun sambil menunjuk sesuatu di meja dengan lirikan matanya.

Hyunsik memandang meja, ada sebuah benda kecil panjang berwarna putih. Dahinya berkerut sambil mengambil benda itu. Tak lama matanya membesar menyadari ada 2 garis merah tertera disana, lalu menatap Jihyun tak percaya.

Jihyun menatap Hyunsik marah, “Kau brengsek!!” Serunya.

Hyunsik terkejut tiba-tiba mendapat julukan itu, “Ne? Wae?”

Jihyun memukuli Hyunsik hingga pria itu perlu melindungi dirinya, “Ugh!! Brengsek!!” Serunya terus.

“Ya! Berhenti!! Apa salahku?!!” Ucap Hyunsik sambil menahan pukulan Jihyun. Duak!! Kaki gadis itu menendang selangkangannya hingga terpental ke belakang dan mendarat di kasur. “Aaarrgghh!!” Jeritnya sambil memegang selangkangannya yang terasa ngilu.

“Rasakan!!” Seru Jihyun, lalu kembali memukuli Hyunsik.

“Ya! Ya!! Berhenti!! Kenapa kau memukuliku?!!” Seru Hyunsik tak mengerti.

Jihyun menendang Hyunsik dan berhenti sambil menatap pria itu marah, “Kau membuatku hamil!! Apa yang harus kulakukan sekarang?!! Brengsek!!” Serunya dan kembali memulikuli Hyunsik.

Hyunsik segera menahan kedua tangan Jihyun dan menarik gadis itu menelungkup di atas tubuhnya, dengan begitu dia bisa menatap gadis itu dalam. “Aku memang membuatmu hamil dan aku akan bertanggung jawab.. Apa yang salah? Kenapa kau selalu membuatku menjadi orang jahat?” Tanyanya pelan.

Jihyun menatap Hyunsik marah, “Karena aku tidak ingin mengandung anakmu!”

Hyunsik tertegun dan menatap Jihyun tak percaya. Ucapan gadis itu sangat menusuk hatinya, “Mwo?”

Jihyun bergerak bangkit, namun Hyunsik masih tetap menahan kedua tangannya.

“Wae Jihyun-a? Apa yang membuatmu selalu menolak keberadaanku? Bukankah kita sudah saling terbuka beberapa bulan ini?” Tanya Hyunsik pelan.

Jihyun menatap Hyunsik tanpa menjawab, lalu kembali menarik tangannya dan bergerak bangkit. Juga keluar dari kamar.

Hyunsik menghela nafas dalam, lalu bergerak duduk. Dia tak mengerti mengapa Jihyun masih terus memberi dinding tebal diantara mereka.

=Markas GET=

Hyunsik menatap layar komputernya namun sama sekali tak bisa berkonsenterasi pada pekerjaannya. Ucapan Jihyun semalam masih berputar-putar di kepalanya. Perlahan tangannya mengambil ponsel dan menatap layarnya, helaan nafas berat keluar dari mulutnya melihat photo tenang Jihyun saat tidur dibahunya.

“Yo Hyunsik!!” Seru Minhyuk sambil merangkul Hyunsik.

Hyunsik terkejut dan menatap Minhyuk kesal, “Aissh..”

Minhyuk tertawa kecil sambil mengacungkan dua jarinya membentuk V.

Hyunsik membalik ponselnya di atas meja dan duduk bersandar dikursinya.

“Waeyo? Sejak tadi kuperhatikan wajahmu terlihat tidak senang. Ada masalah?” Tanya Minhyuk.

Hyunsik memandang Minhyuk dan menghela nafas dalam, “Bukan apa-apa..”

Minhyuk memperhatikan wajah Hyunsik, “Apa karena Miss J?”

Chorong menoleh kearah Minhyuk dan Hyunsik karena mendengar nama ‘Miss J’.

“Sedikit..” Ucap Hyunsik.

“Waeyo?” Tanya Chorong ingin tau.

Hyunsik dan Minhyuk memandang Chorong.

“Hanya sedikit masalah..” Ucap Hyunsik.

“Hmm.. Dia kan memang biangnya masalah, wajar saja jika kau selalu terkena masalah..” Ucap Chorong.

Ucapan Chorong membuat Hyunsik kesal, namun dia tak mengatakan apa pun. “Sudahlah.. Bukan masalah besar..” Ucapnya.

Sementara itu di apartemen.

Jihyun duduk di pinggir tempat tidur sambil berpikir, satu tangannya memegang perut. ‘Apa yang harus kulakukan? Ahh.. Ini masalah besar..’ Batinnya. Kepalanya menunduk dan memandang perutnya, ‘Haruskah aku menggugurkanmu? Ahhh.. Tapi kau anakku..’ Batinnya lagi makin bingung.

Ting! Tong!

Spontan Jihyun memandang ke arah asal suara bel, terdengar sekali lagi. Dia bangkit dan melangkah ke pintu serta membukanya.

Seorang wanita bergaya elegan yang berdiri didepan pintu tertegun melihat Jihyun.

“Nuguseyo?” Tanya Jihyun.

Dahi wanita itu berkerut, “Seharusnya aku yang bertanya siapa kau?”

Jihyun menatap wanita itu kesal, “Ahjumma, aku yang bertanya terlebih dahulu..”

Wanita itu tersedak mendengar Jihyun memanggilnya ‘ahjumma’, “Ahjumma? Ya!!”

“Mwo?” Tantang Jihyun.

Wanita itu memutar bola matanya kesal dan mendorong pintu dengan kasar dan masuk.

Jihyun terkejut dan segera menarik wanita itu, “Ya, ahjumma! Dimana sopan santunmu?!”

Wanita itu menatap Jihyun tak percaya, “Lepaskan tanganku!” Serunya sambil menyentak tangannya. “Ini rumah putraku! Kau siapa?!”

Jihyun terkejut, “Ne?”

“Ne!! Aku ibu Lim Hyunsik!! Siapa kau?!” Tanya wanita itu marah.

Jihyun bingung harus mengatakan apa, “Mmmm.. Aku..aku..”

Kembali ke kantor Hyunsik.

Hyunsik mendengar ponselnya berbunyi dan segera mengangkatnya, “Ne eomma..” Sapanya dan mendengar, matanya membesar dengan rasa terkejut yang tak terkira. “Mwo?! Eomma di apartemenku? Aku pulang sekarang..” Ucapnya dan segera memutuskan telepon dan segera berlari keluar.

Apartemen.

Sunmi, ibu Hyunsik, duduk di sofa besar sambil menatap Jihyun yang berdiri di depannya dengan kepala tertunduk.

Saat itu Hyunsik masuk dan berhenti di sebelah Jihyun.

Jihyun meliriknya dan kembali menunduk.

“Eomma, kenapa tidak memberitauku dulu jika akan datang?” Tanya Hyunsik.

Sunmi menatap Hyunsik kaget, “Oh! Jadi seorang ibu harus membuat janji dulu untuk bertemu putranya?”

“Aniya.. Bukan seperti itu eomma..” Ucap Hyunsik cepat, “Maksudku, aku kan sedang bekerja. Bagaimana jika ketika eomma datang tidak ada siapa pun di apartemenku?” Jelasnya.

Sunmi mendengus kesal, “Siapa gadis ini?!” Tanyanya sambil menunjuk Jihyun tanpa memandangnya.

Jihyun melirik Hyunsik, menunggu jawaban pria itu.

Hyunsik memandang Jihyun dan ibunya bergantian, “Mmm.. Dia..”

Sunmi bangkit dan menatap Hyunsik tajam, “Kau tidak memelihara gadis seperti ini kan?!” Tanyanya dengan nada tinggi.

Hyunsik terkejut mendengar pertanyaan ibunya, “Aniya eomma!!”

Jihyun juga terkejut mendengar tuduhan Sunmi.

“Lalu siapa dia?!” Tanya Sunmi.

Hyunsik menarik Jihyun kesisinya, “Dia ibu dari anakku..”

Jihyun dan Sunmi serentak menatap Hyunsik kaget.

“Mwo?!!” Seru Sunmi, lalu menatap Jihyun tak percaya.

Hyunsik memeluk Jihyun, “Eomma, maaf aku belum sempat mengenalkannya padamu. Tapi dia memang mengandung anakku dan aku sudah berencana menikahinya..”

Sunmi terkejut, “Mwo?!!”

Jihyun memandang Hyunsik. Seharusnya dia merasa bahagia, tapi dia malah merasa bersalah.

“Dia.. Dia hamil?” Tanya Sunmi tak percaya sambil menunjuk perut Jihyun.

“Ne, eomma..” Jawab Hyunsik.

Sunmi memejamkan mata sambil memijat batang hidungnya, “Ahhh.. Aku bisa gila..”

“Eomma, seharusnya kau bahagia karena akan segera menjadi nenek..” Ucap Hyunsik tak mengerti.

Sunmi menatap Hyunsik tegas, “Kau sudah eomma jodohkan dengan putri dari keluarga Heo!”

Sekarang Hyunsik dan Jihyun yang menatap Sunmi kaget.

“Eomma!” Ucap Hyunsik tak percaya.

“Karena itu eomma datang.” Ucap Sunmi menjelaskan.

Jihyun memandang Hyunsik, tersirat luka dihatinya.

“Eomma, aku tidak akan menikahi gadis lain selain Jihyun!” Tegas Hyunsik.

Sunmi menyilangkan kedua tangannya didada dan menatap Hyunsik marah, “Kau memilih gadis ini? Dia?!”

Hyunsik kesal mendengar nada bicara ibunya, “Eomma, tolong hargai keputusanku..”

Sunmi menatap Jihyun, lalu tertawa sinis. “Apa kau yakin yang dia kandung itu anakmu?” Tanyanya sinis.

Kali ini Jihyun benar-benar tersinggung dengan ucapan Sunmi.

“Eomma!” Seru Hyunsik.

Jihyun maju selangkah dan menatap Sunmi marah, “Nyonya, aku memang tidak berasal dari keluarga terpandang sepertimu. Tapi aku tidak pernah menjajakan tubuhku!!”

Sunmi terkejut Jihyun berani berseru padanya, “Omo.. Belum apa-apa kau sudah berani berbicara dengan nada tinggi padaku!?!!”

“Jika kau ingin menjodohkan putramu, jodohkan saja! Aku tidak peduli!!” Seru Jihyun lagi dan melangkah ke kamar.

“Jihyun..” Panggil Hyunsik, namun gadis itu tetap tak berhenti.

“Aigoo.. Kau akan menikahi gadis seperti itu?” Tanya Sunmi tak percaya pada Hyunsik.

Hyunsik menatap ibunya kecewa, “Eomma, aku tidak pernah sekecewa ini padamu..”

“Ne? Hyunsik?” Ucap Sunmi kaget.

“Maaf eomma, tapi aku harus meminta eomma pergi dari sini..” Ucap Hyunsik sopan.

Mulut Sunmi sampai terbuka karena kaget, “Mwo?! Lim Hyunsik! Kau mengusir ibumu hanya karena gadis itu?!!”

Hyunsik membungkuk sopan, “Maaf eomma, eomma tau dimana pintunya..”

Sunmi menghela nafas kesal dan langsung melangkah ke pintu.

Hyunsik masih mempertahankan posisi membungkuknya hingga terdengar pintu terbuka dan tertutup lagi. Sejujurnya dia tak ingin membuat ibunya kesal, namun dia juga harus menjaga perasaan Jihyun. Kakinya segera melangkah ke kamar namun tak menemukan Jihyun, matanya melirik pintu kamar mandi dan menghampirinya. Dia mendekatkan telinganya ke pintu, tapi tak terdengar apa pun. “Jihyun..” Panggilnya. Tak ada jawaban. Tangannya terangkat dan mengetuk perlahan, “Jihyun-a..”

Pintu terbuka, muncul Jihyun dengan wajah tanpa ekspresinya.

Meskipun Jihyun terlihat biasa, tapi Hyunsik tau gadis itu benar-benar terluka. “Maaf, ibuku…..”

Jihyun langsung berjalan tanpa mendengarkan ucapan Hyunsik dan berhenti di sebelah tempat tidur, lalu berbalik memandang pria itu. “Ibumu sudah pulang?”

Hyunsik mengangguk, “Ne..”

Jihyun mengambil bantal kepalanya, “Aku akan tidur di sofa depan..” Ucapnya sambil melangkah ke pintu.

Hyunsik menahan tangan Jihyun ketika gadis itu berlalu di sebelahnya, lalu mengambil bantal ditangan gadis itu. “Aku yang akan tidur di sofa depan..” Ucapnya dan berjalan keluar.

Jihyun menghela nafas dalam dan berdiam diri sesaat, lalu berbalik dan berjalan pelan ke tempat tidur. Tangannya bergetar ketika menahan tubuhnya agar tidak terbanting saat berbaring. Hatinya terasa sangat sakit, namun dia berusaha keras untuk tidak menangis. Dia tak ingin menangis. ‘Apa yang kau pikirkan Jihyun? Duniamu sangat berbeda dengannya. Kau tak pantas mendapatkannya.’ Batinnya pedih.

Paginya.

Jihyun terbangun karena rasa mual di perutnya, ia langsung menutup mulut dengan tangan dan berlari ke kamar mandi. Dengan cepat dia berlutut di depan toilet sambil membuka tutupnya dan memuntahkan isi perutnya. Kepalanya terasa pusing dan mual di perutnya sangat mengganggu.

Hyunsik yang mendengar Jihyun muntah langsung masuk ke kamar mandi dan memijat pundak gadis itu, “Gwenchana?”

Jihyun mengelap mulutnya dengan punggung tangan dan menghela nafas dalam.

“Ayo..” Ucap Hyunsik sambil membantu Jihyun bangkit dan memutar pembilas toilet.

Meja makan. Jihyun sama sekali tidak memakan sarapannya. Ia hanya mengaduk-aduknya dengan sumpit.

Hyunsik memandang Jihyun bingung, “Wae? Kau tidak selera makan?”

Jihyun memandang Hyunsik dan mengangguk.

Hyunsik tersenyum, “Lalu, apa yang ingin kau makan? Aku akan membuatkannya..”

“Entahlah.. Aku hanya merasa mual..” Jawab Jihyun.

“Tapi kau harus tetap makan demi bayi yang ada di kandunganmu.” Ucap Hyunsik, lalu bangkit dan berpindah duduk ke sebelah Jihyun. “Ingin kusuapi?” Tanyanya.

Jihyun menatap Hyunsik aneh, “Tidak.. Kau pergi bekerja saja..”

Hyunsik mengambil sumpit Jihyun dan menyodorkan makanan ke mulut gadis itu, “Aa..” Ucapnya seperti tak mendengar ucapan gadis itu.

Jihyun menatap Hyunsik sedih.

“Wae? Buka mulutmu.. Anak kita kelaparan..” Ucap Hyunsik.

Akhirnya Jihyun mengalah dan membuka mulutnya.

Hyunsik tersenyum Jihyun menurut, “Ayo.. Kau harus menghabiskan semuanya..” Ucapnya sambil terus menyuapi gadis itu hingga makanan di piring habis.

Jihyun mengambil gelas dan meminum airnya.

Hyunsik membelai rambut Jihyun lembut sambil tersenyum hangat, “Jangan pikirkan yang lain, kita bisa melewati ini..” Ucapnya.

Jihyun memandang Hyunsik tanpa berbicara.

“Kau menginginkan pernikahan besar atau sederhana?” Tanya Hyunsik.

Jihyun menggeleng.

Hyunsik memandang Jihyun bingung, “Wae?”

“Kau sudah dijodohkan ibumu..” Jawab Jihyun.

Senyum Hyunsik memudar dan menatap Jihyun tegas, “Aku yang memutuskan siapa yang akan kunikahi, ara?”

Jihyun tak tau harus mengatakan apa, perasaannya sungguh campur aduk saat itu.

Hyunsik menghela nafas dalam dan bergerak memeluk Jihyun, “Jangan pikirkan ibuku, dia akan mengerti nanti.” Ucapnya pelan.

Jihyun melepaskan pelukan Hyunsik, “Kau bisa terlambat bekerja nanti..” Ucapnya mengingatkan.

Hyunsik tersenyum tipis dan memegang pipi Jihyun sambil mencium dahinya, “Aku pergi..” Ucapnya.

Jihyun mengangguk.

Hyunsik berdiri dan berjalan pergi.

=Markas GET=

Hyunsik memikirkan apa yang harus dia lakukan sebagai seorang ayah siaga, ‘Hmm.. Apa aku perlu membeli perlengkapan bayi? Ahh.. Itu terlalu cepat, paling tidak aku harus tau jenis kelaminnya dulu.’ Batinnya, lalu berpikir sejenak. ‘Apa ya? Jihyun selalu mual-mual di awal kehamilannya.. Oh! Aku tau! Aku harus mempersiapkan susu! Bukankah itu bagus untuk perkembangan janinnya?’ Batinnya sambil tersenyum dan mengangguk sendiri.

“Ya.. Ada apa denganmu?” Tanya Minhyuk yang duduk di sebelah meja Hyunsik.

“Ne? Oh.. Ani..” Jawab Hyunsik sambil tersenyum.

Mata Minhyuk menyipit menatap Hyunsik, “Kemarin kau tampak risau dan sekarang tersenyum lebar, wae?”

Hyunsik tertawa kecil, “Gwenchana..” Ucapnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

=Apartemen=

Jihyun keluar kamar dan langsung menuju meja makan, saat itu Hyunsik sedang mengaduk sesuatu di dalam gelas panjang. Sepertinya susu.

Hyunsik tersenyum lebar begitu Jihyun muncul, “Naah.. Ini, aku sudah membuatkan susu untukmu. Minumlah..” Ucapnya sambil memberikan gelas susu tadi.

Jihyun memandang gelas susu itu bingung sambil mengambilnya, lalu mengendus baunya.

“Wae? Kau ingin bertanya apa yang kumasukkan kesana?” Tanya Hyunsik sebal.

Jihyun memandang Hyunsik, “Ani, aku suka aromanya..” Ucapnya dan tersenyum.

Hyunsik senang melihat gadis didepannya tersenyum, “Cepatlah minum, ini bisa mengurangi rasa mualmu juga..”

Jihyun langsung meneguk susu itu hingga habis tak tersisa.

“Bagus..” Ucap Hyunsik senang. “Kau harus meminumnya 3 kali sehari. Aku akan membuatkan susu pagi dan malam untukmu, jadi kau harus membuat untuk siangnya saja. Arasso?”

Jihyun tak tau mengapa dia senang mendapat perhatian dari Hyunsik. Pria itu sangat baik padanya. “Ne, arasso..” Ucapnya.

Hyunsik memegang kedua bahu Jihyun dan menatap kedua matanya dalam, “Dengar, apa pun yang terjadi. Apa pun yang dikatakan ibuku, aku hanya akan menikahimu dan membesarkan anak-anak kita bersama.. Arasso?”

Jihyun menahan tawa, “Anak-anak?”

“Ne.. Aku ingin memiliki 4 anak.. Atau 6? 7?” Ucap Hyunsik.

“Ya.. Memangnya aku kucing?” Ucap Jihyun sambil memukul bahu Hyunsik pelan.

Hyunsik tertawa kecil, “Intinya aku tidak ingin hidup dengan gadis lain, aku hanya ingin kau yang selalu ada disaat aku memejamkan mataku di malam hari dan saat aku membuka mataku di pagi hari..”

Saat itu Jihyun sangat tersentuh dengan ucapan Hyunsik, rasanya semuanya akan baik-baik saja selama pria itu disisinya. Dia meletakkan gelas dimeja dan memeluk leher pria itu.

Hyunsik perlu membungkuk sedikit agar Jihyun bisa memeluknya dengan leluasa sambil membalas pelukannya. Bibirnya membentuk senyuman lebar karena ini pertama kalinya gadis itu memeluknya duluan.

‘Aku akan berjuang untukmu, Hyunsik..’ Batinnya, “Gumawo, Hyunsik..” Ucapnya penuh haru.

Hyunsik mengelus punggung Jihyun lembut, “Ne, chagiya..” Jawabnya.

Jihyun tertawa kecil mendengar sebutan Hyunsik padanya dan melepaskan pelukannya.

“Aku akan pergi sekarang, sampai nanti..” Ucap Hyunsik dan mencium pipi Jihyun, lalu melangkah ke pintu.

Jihyun memegang perutnya sambil tersenyum, ‘Mungkin ini adalah awal hidupku yang baru. Bersama Hyunsik dan dirimu.. Terima kasih telah tumbuh di rahimku..’ Batinnya.

=Penjara=

Jihyun tersenyum memandang Gikwang, Dujun, Junhyung dan Hyunseung duduk di depannya. Sedangkan keempat pria itu memandangnya bingung.

“Ada apa? Kau tersenyum terus sejak tadi..” Ucap Gikwang curiga.

Jihyun tak bisa menutupi rasa bahagianya, “Ne, aku sangat bahagia..”

keempat pria itu tampak penasaran, “Waeyo?”

Jihyun diam sejenak sambil memandangi keempat pria itu bergantian, “Aku hamil..” Ucapnya pelan.

Mata keempat pria itu langsung membesar dan tampak tak percaya.

“Mwo? Hamil?!” Seru Gikwang kaget.

“Itu anak detektive itu?” Tanya Hyunseung.

Jihyun mengangguk, “Ne..”

“Wuaaa.. Aku tidak percaya kalian benar-benar menjalin hubungan..” Ucap Dujun takjub.

Jihyun tertawa kecil, “Begitulah..”

“Aigoo.. Aku tidak akan bisa bertemu keponakanku hingga dua tahun kedepan..” Ucap Gikwang sebal.

“Gwenchana, aku akan memperkenalkan kalian padanya. Jadi dia tidak akan asing lagi ketika bertemu kalian..” Ucap Jihyun.

Hyunseung tersenyum melihat ekspresi bahagia Jihyun dan memegang tangan gadis itu, “Aku turut bahagia atas berita itu..”

Jihyun tersenyum, “Gumawo..”

“Dia harus diberi nama dengan awalan huruf D!” Ucap Dujun.

“Ani.. G saja..” Ucap Gikwang.

Jihyun hanya tertawa mendengar perdebatan itu.

=Markas GET=

Hyunsik menutup berkas-berkas yang harus dia periksa sebelum menyelidiki ke langsung dan merenggangkan tubuhnya. Saat itu dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan waktunya makan siang.

“Ahh.. Akhirnya makan siang!!” Ucap Minhyuk senang.

“Ya.. Aku membawa makanan, ayo makan..” Ajak Eunji sambil mengeluarkan makanan dari tas makanannya.

“Wuaaa..” Ucap Yoseob sambil menghampiri meja.

Hyunsik, Minhyuk dan Chorong bergabung di meja panjang itu dan menikmati makanan yang dibawa Eunji.

“Hmm.. Apa ini kau yang memasaknya?” Tanya Minhyuk.

“Ani, ibuku berkata aku harus memberi teman-temanku makanan sehat karena terlalu sibuk bekerja..” Jawab Eunji sambil tertawa.

Hyunsik teringat sesuatu dan mengeluarkan ponselnya, lalu mengirimkan pesan untuk Jihyun.

To: My Wife

Hei, kau sudah makan siang? Tidak lupa meminum susumu kan?

Tak lama pesan balasan masuk, membuatnya tersenyum.

From: My Wife

Ne..

Minhyuk melirik layar ponsel Hyunsik dan mengerutkan dahi membaca siapa pengirimnya. “Ya.. Siapa ‘istrimu’ itu?” Tanyanya setengah berbisik.

Hyunsik tersenyum memandang Minhyuk, tampak kebahagiaan di matanya, “Ya istriku..” Jawabnya dan makan.

Minhyuk yang masih belum puas mendengar jawaban Hyunsik kembali menanyakannya saat mereka di toilet pria, “Ya.. Memangnya kau sudah menikah?” Tanyanya.

Hyunsik memandang Minhyuk dan memegang bahunya, “Aku akan segera menikah..”

Minhyuk tertegun, “Dengan Miss J?”

Hyunsik mengangguk, “Ne.. Aku akan menjadi seorang ayah..” Ucapnya bangga.

Mata Minhyuk membesar, “Mwo? Dia sudah hamil?!”

“Ne, bukankah itu hebat?” Tanya Hyunsik sambil tertawa dan berjalan keluar.

=Beberapa Hari Kemudian=

“Jihyun, lihat.. Mana yang kau suka?” Tanya Hyunsik sambil memperlihatkan layar ipadnya pada Jihyun yang duduk disebelahnya ditempat tidur.

Jihyun memandang layar ipad Hyunsik, ternyata pria itu memintanya memilih lokasi untuk resepsi pernikahan. Dia memandang pria itu bingung, “Kenapa kau memintaku memilihnya?”

“Karena ini pernikahan kita..” Jawab Hyunsik.

Jihyun menggigit bibir bawahnya ragu, “Mmm.. Entahlah.. Ini terlalu besar kurasa..” Ucapnya.

“Wae? Ini cukup sederhana..” Ucap Hyunsik, “Kita hanya akan mengundang teman-teman dekat dan keluarga saja, jadi tidak besar kan?”

Jihyun diam menatap Hyunsik sejenak, “Satu-satunya keluargaku yang tersisa sudah meninggal beberapa tahun lalu.. 3 temanku masih mendekam di penjara. Tidak akan ada yang datang dari pihakku..”

Hyunsik tertegun, dia sampai lupa tentang hal itu. “Ow.. Mmm.. Kita bisa memilih lagi..” Ucapnya.

Jihyun memandang layar ipad namun tak ada yang cocok menurutnya.

“Wae? Kau tidak suka satu pun?” Tanya Hyunsik.

Jihyun menghela nafas dalam, “Mungkin aku perlu memikirkannya dulu..”

Hyunsik tersenyum sambil mengangkat satu tangannya dan merangkul Jihyun, “Baiklah.. Aku akan menunggu keputusanmu..” Ucapnya dan mengecup dahi gadis itu.

Jihyun tersenyum.

Hyunsik meletakkan ipadnya di meja sebelah tempat tidur dan kembali menatap Jihyun dalam.

“Wae?” Tanya Jihyun.

“Jihyun, bisakah kita ‘melakukannya’? Tanya Hyunsik hati-hati.

Wajah Jihyun terasa panas dan tersenyum malu, lalu mengangguk pelan.

Hyunsik mengelus rambut Jihyun dan menciumnya lembut.

Paginya.

Sunmi berhenti didepan apartemen Hyunsik dan mengeluarkan kunci cadangan yang diberikan putranya dulu, lalu membuka pintu dan masuk. Namun tak terlihat siapa pun diruang tengah, jadi dia langsung menuju kamar. Matanya membesar melihat putranya masih terlelap dengan Jihyun yang menelungkup di atas dadanya, dari tempat Sunmi berdiri dia bisa melihat punggung mulus Jihyun yang hanya tertutupi selimut. “Aissh.. Mereka!!” Gumamnya marah sambil melangkah cepat ke tempat tidur, “YA!! Pelacur busuk!!!” Serunya sambil menjambak rambut Jihyun hingga tersentak bangun.

“Ahhk!!” Jerit Jihyun kesakitan sambil memegangi rambutnya.

Hyunsik ikut terbangun dan terkejut ibunya menjambak rambut Jihyun, “Eomma!!” Serunya sambil menarik kekasihnya.

Tanpa perasaan Sunmi langsung menarik rambut Jihyun lebih keras, membuat gadis itu terjatuh dari tempat tidur dan menyeretnya keluar kamar tanpa sehelai benang pun ditubuhnya.

“Kyaa!! Lepaskan!!!” Teriak Jihyun.

“Eomma!!!” Seru Hyunsik sambil memasang boxernya dan berlari keluar dengan selimut ditangannya sebelum Sunmi menendang Jihyun keluar apartemen tanpa pakaian.

Jihyun berusaha menahan langkahnya saat Sunmi menarik rambutnya ke pintu, “Ahjumma!! Hentikan!!” Serunya.

“Mow?! Kau berseru padaku?!!” Ucap Sunmi marah dan menjambak Jihyun semakin keras.

Hyunsik membalut tubuh Jihyun dengan selimut dan melepaskan tangan ibunya dari rambut gadis itu, serta langsung memeluknya. “Eomma! Apa yang kau lakukan?!!” Tanyanya marah.

Sunmi menatap Hyunsik marah, “Gadis seperti apa yang kau bela ini?!” Ucapnya, lalu menatap Jihyun. “Hanya ini yang bisa kau lakukan untuk memikat putraku?! Dengan tubuhmu?! Kau benar-benar!!”

Jihyun tak tau harus bagaimana membalas ucapan Sunmi.

“Eomma, dia kekasihku! Dia juga mengandung anakku! Tolong hargai dia!” Pinta Hyunsik.

Sunmi menatap Hyunsik, “Menghargainya?! Hyunsik, tidak ada seorang gadis baik yang bisa membuat seorang putra meninggikan suaranya pada ibunya!”

Hyunsik menatap ibunya tak mengerti, “Eomma.. Kenapa kau seperti ini? Kumohon, jangan memperburuk situasi ini..”

Sunmi menghela nafas dalam dan menatap Jihyun kecewa, “Nona, apa yang akan dikatakan keluargamu?” Ucapnya.

Jihyun tertegun mendengar ucapan Sunmi.

“Mereka pasti akan sangat kecewa karena perbuatanmu ini..” Ucap Sunmi.

“Eomma!” Tegas Hyunsik.

Sunmi menatap Hyunsik, lalu berbalik dan berjalan keluar.

Jihyun berpandangan dengan Hyunsik, lalu menunduk bingung.

“Jihyun..” Ucap Hyunsik sambil mengangkat dagu Jihyun agar memandangnya, “Maafkan ibuku..”

Jihyun hanya diam tanpa mengatakan apa pun.

Namun pertemuan Jihyun dan Sunmi masih berlangsung.

Siang itu Jihyun tertegun melihat Sunmi bisa masuk ke apartemen, “Ahjumma, bagaimana kau bisa masuk?” Tanyanya.

“Putraku sudah memberikanku kunci cadangan sejak pertama dia tinggal disini..” Ucap Sunmi dan duduk di sofa.

Jihyun bingung apa yang harus dia lakukan, “Mmm.. Apa anda ingin minum sesuatu?” Tanyanya sopan, mengingat wanita itu adalah calon mertuanya.

Sunmi memandang Jihyun tanpa ekspresi, “Duduklah.. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan padamu..” Ucapnya.

Jihyun menghela nafas dalam dan duduk di sofa di sebelah sofa yang diduduki Sunmi.

Sunmi memandang Jihyun tegas, “Namamu Nam Jihyun?”

“Ne..” Jawab Jihyun.

“Kau tau kenapa aku tidak menyukaimu?” Tanya Sunmi.

“Aniyo..” Jawab Jihyun.

Sunmi menghela nafas dalam, “Karena aku tidak ingin putraku selalu mendapatkan masalah..” Ucapnya.

Jihyun tak menjawab ucapan Sunmi.

Sunmi mengeluarkan sebuah map yang tampak penuh dari tasnya dan meletakkannya dihadapan Jihyun, “Selama beberapa hari ini aku menyelidiki tentangmu..”

Jihyun tertegun, “Ne?”

“Nam Jihyun-ssi, Hyunsik adalah putraku satu-satunya. Dia dibesarkan penuh kasih sayang dan serba berkecukupan, seluruh keluarga kami terpandang. Ketika dia berkata ingin menjadi detektive untuk kepolisian, aku sangat bangga padanya. Dia memiliki karir cemerlang, juga gadis baik yang dekat dengannya beberapa saat lalu. Kau tau Park Chorong? Aku benar-benar menyukai gadis itu, tapi ternyata Hyunsik telah memutuskan tidak akan serius dengan Chorong. Kupikir karena dia ingin mengejar karirnya, tapi ternyata karena kau..” Ucap Sunmi. “Aku tidak menyalahkanmu yang terlahir dari keluarga bermasalah, tapi tolong jangan menjadi beban putraku!” Tegasnya.

Dahi Jihyun berkerut, “Apa maksudmu beban putramu?”

“Pertama, Hyunsik hampir celaka karenamu. Kedua, Hyunsik juga hampir di pecat karena membantumu. keempat, Hyunsik tidak akan memiliki karir cemerlang jika menikah denganmu!” Jawab Sunmi.

“Apa maksudmu?!” Tanya Jihyun mulai kesal.

Sunmi menatap Jihyun, “Jika semua orang tau Hyunsik berhubungan dengan gadis sepertimu, dia akan menjadi cemoohan semua orang. Kau mengerti?” Tanyanya dingin.

“Sepertiku?” Tanya Jihyun.

Sunmi tersenyum sinis, “Kau putri dari seorang penari striptis di klubkan?”

Jihyun terkejut Sunmi sampai tau hal itu.

“Dan ayahmu, mati karena bunuh diri saat perusahaannya jatuh bangkrut. Karena itu ibumu bekerja di klub malam. Karena itu juga dia melahirkan adikmu. Benarkan?” Lanjut Sunmi.

Mulut Jihyun terbungkam karena ucapan Sunmi.

Sunmi senang Jihyun tak berkutik karena ucapannya, “Juga, prediket gila itu tak akan hilang darimu.. Bahkan kau adalah anggota penjahat.. Kau pikir itu bagus untuk putraku?” Ucapnya sinis, “Sebaiknya kau menyadari tempatmu, Nam Jihyun-ssi. Kau tak pantas mendapatkan pria sempurna seperti putraku, kau mengerti maksudku?”

Jihyun berusaha keras menahan air matanya, harga dirinya diinjak-injak dan tak tersisa sedikit pun.

“Tentang anak yang kau kandung, gugurkan! Aku tidak ingin Hyunsik memiliki seorang anak dari gadis sepertimu..” Ucap Sunmi.

Jihyun hanya bisa diam.

Sunmi mengeluarkan kertas dan menulis nomor ponselnya, “Ini, hubungi aku secepatnya saat kau siap untuk melakukan aborsi..” Ucapnya sambil memberikan secarik kertas itu ke tangan Jihyun, lalu berdiri. “Baiklah.. Kuharap kau memikirkan betapa jauh posisimu dan putraku, jadi jangan berharap kau bisa hidup dengannya..” Ucapnya, lalu melangkah pergi.

Jihyun menggenggam kertas itu erat, bulir air berjatuhan dari matanya. Saat itu, semua harga dirinya tak berarti lagi. Tangannya yang lain bergerak memegang perutnya, ‘Memulai hidup baru? Cih.. Kau sangat memalukan Nam Jihyun! Hidup seperti apa yang akan kau dapatkan setelah menjadi beban Hyunsik?’ Batinnya.

Malamnya.

“Ini.. Ayo habiskan..” Ucap Hyunsik sambil memberikan gelas susu pada Jihyun dengan senyuman lebar di wajahnya.

Jihyun menatap gelas itu, lalu mengambilnya dan meneguknya hingga habis.

“Bagus..” Ucap Hyunsik sambil mengelus pipi Jihyun.

Jihyun tak mengatakan apa pun.

“Oh ya, kau belum pernah memeriksakan kandunganmu ke dokter. Bagaimana jika besok kita memeriksakannya? Itu akan lebih baik..” Ucap Hyunsik bersemangat.

Jihyun memandang Hyunsik tanpa ekpresi, “Tidak perlu..” Ucapnya, lalu berdiri dan berjalan ke kamar.

“Hm? Jihyun-a..” Panggil Hyunsik bingung, lalu mengikuti gadis itu ke kamar.

Jihyun sudah berbaring di kasur ketika Hyunsik masuk.

Hyunsik duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap Jihyun khawatir, “Jihyun-a, waeyo?”

“Aku hanya lelah..” Ucap Jihyun dan membelakangi Hyunsik.

Hyunsik memandang Jihyun tak mengerti, namun dia hanya menghela nafas dalam dan mengelus rambut gadis itu. “Selamat tidur..” Ucapnya dan mencium pipi gadis itu lembut.

Jihyun tak memberi respon. Hatinya sangat ingin bersama Hyunsik, pria itu membuatnya bisa merasa bahagia. Juga tidak merasa sendiri. Tapi jika dia bersama pria itu, dia tidak akan mungkin bahagia jika nantinya pria itu terus berkorban demi dirinya.

Keesokan paginya.

Hyunsik tersenyum dan bergerak hendak mencium dahi Jihyun, namun gadis itu mengelak. “Jihyun-a, waeyo?”

“Aku tidak suka kau melakukan itu..” Ucap Jihyun dingin.

Hyunsik tertegun, “Ne? Ow.. Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi..”

Hati Jihyun bergetar mendengar Hyunsik mengalah untuknya, lagi. Sejak awal selalu pria itu yang mengalah untuknya. Bahkan setelah dia melukai pria itu, pria itu tetap memperlakukannya dengan baik. Hal itu membuatnya semakin ingin pergi, meninggalkan Hyunsik untuk selamanya.

Hyunsik tersenyum, “Aku pergi..” Ucapnya pelan dan berbalik.

Jihyun memperhatikan Hyunsik hingga menghilang dari pandangannya, lalu menunduk sedih. “Kau gadis tak tau diri.. Sampai kapan kau akan menikmati ini?” Gumamnya, lalu melangkah cepat ke kamar sambil menahan air matanya. Dia mencari secarik kertas kemarin dan memanggilnya.

“Yoboseo..” Sapa Sunmi diseberang.

Jihyun menghela nafas dalam, “Aku akan melakukannya..” Ucapnya berat.

=Markas GET=

Hyunsik tak bisa berhenti berpikir mengapa sikap Jihyun kembali dingin padanya, “Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” Gumamnya tak mengerti. Namun dia berusaha mengenyampingkan pemikiran itu karena dia tau ibu hamil memang memiliki mood yang labil. Tak lama dia menemukan sebuah ide, “Aku akan membuat janji dengan dokter kandungan..” Ucapnya sambil tersenyum dan menghubungi rumah sakit tempat keluarganya biasa melakukan medical check up. Tak lama telepon itu dijawab, “Ne, aku Lim Hyunsik. Aku ingin membuat janji dengan dokter kandungan..” Ucapnya langsung.

“Sebentar tuan Lim, kami akan memeriksa jadwal dokter kandungan..” Ucap gadis resepsionis.

“Ne..” Ucap Hyunsik.

“Hm? Tuan Lim, ibu anda juga sudah membuat janji dengan dokter kandungan..” Ucap gadis itu memberitau.

Hyunsik tertegun, “Ne? Waeyo?”

“Disini tertulis ibu anda diatasnamakan pasien bernama Nam Jihyun..” Jawab gadis itu.

Hyunsik tersentak, “Nam Jihyun?! Jam berapa janji itu?”

“10 menit lagi tuan, ibu anda juga sudah melakukan konfirmasi kehadirannya..” Jawab gadis itu.

“Oh.. Begitu..” Ucap Hyunsik, namun dia tetap tak bisa tenang. “Maaf, bisakah kau memberitauku mengapa ibuku datang bersama Nam Jihyun?”

“Maaf tuan, saya tidak bisa mengatakannya..” Ucap gadis itu.

“Kumohon, Nam Jihyun adalah istriku..” Ucap Hyunsik untuk mengubah keputusan gadis itu.

“Ne? Oh.. Benarkah tuan Lim?” Tanya gadis itu tak percaya.

“Ne, tolong katakan apa yang ibuku lakukan? Memeriksa kandungannya?” Tanya Hyunsik mendesak.

“Mmm.. Tuan, sebenarnya saya tidak bisa mengatakannya. Tapi karena anda suaminya, saya akan mengatakannya.” Ucap gadis itu, “Ibu anda akan mengaborsi kandungan istri anda tuan..”

Mata Hyunsik melotot dan spontan berdiri, “MWO?!!” Serunya, membuat semua orang disana menatapnya kaget. “Aku segera kesana!” Ucapnya dan memutuskan telepon, lalu berlari keluar tanpa mempedulikan orang-orang yang menatapnya bingung.

=Rumah Sakit=

Jihyun duduk dengan jantung berdebar kencang menunggu namanya dipanggil bersama Sunmi.

“Aku akan memberikanmu uang untuk pergi meninggalkan Hyunsik, juga jika kau merasa kurang, kau bisa memintanya lagi padaku. Kau mengerti?” Tanya Sunmi dingin.

Jihyun menatap Sunmi tajam, “Apakah aku serendah itu dimatamu?” Tanyanya.

“Memangnya apa yang membuatmu patut kuhargai?” Tanya Sunmi sinis.

“Nam Jihyun-ssi..” Panggil seorang perawat.

Jihyun benar-benar muak dengan wanita di hadapannya, dia langsung berdiri dan masuk ke ruang dokter.

“Nam Jihyun?” Ucap dokter itu.

“Ne..” Jawab Jihyun.

“Silahkan berbaring, prosesnya akan langsung dimulai..” Ucap dokter itu.

Jihyun tak heran jika dokter itu tidak berusaha mengubah pemikirannya lagi karena pasti Sunmi sudah menyumbat mulutnya dengan uang. Dia langsung naik ke tempat tidur dan berbaring disana. Setelah beberapa saat dokter itu siap dan mengambil posisi di depan selangkangannya.

“Anda mungkin akan merasakan nyeri, tapi bius akan menguranginya.” Ucap dokter itu.

Jihyun tak menjawab, dia hanya menatap langit-langit tanpa ekspresi. ‘Aku akan segera membuang bebanmu Hyunsik, setelah itu kau bebas.. Ini caraku membalas semua perlakukanmu. Maafkanku..’ Batinnya.

“YA!!” Terdengar seruan di depan pintu.

BRAKKKK!!! Pintu didobrak oleh seseorang, membuat dokter dan Jihyun terkejut.

Mata Jihyun membesar melihat Hyunsik menatapnya marah diambang pintu, “Hyunsik?”

Hyunsik melangkah masuk sambil menunjuk dokter tadi, “Jauhkan tanganmu darinya!!” Ancamnya dan menghampiri Jihyun yang bergerak duduk.

“Hyunsik, kenapa kau disini?” Tanya Jihyun.

Hyunsik langsung menarik tangan Jihyun, “Kita pulang!!” Perintahnya dan menyeret gadis itu keluar.

“Hyunsik!! Ya! Lepaskan!!” Seru Jihyun sambil berusaha menahan langkahnya, namun Hyunsik sangat kuat.

“Hyunsik!! Ada apa denganmu?!! Dia yang menginginkan aborsi ini!! Kenapa kau seperti ini?!” Seru Sunmi sambil menahan Hyunsik.

Hyunsik menatap ibunya penuh amarah, “Eomma, jangan sampai aku kehilangan rasa hormatku padamu!” Ucapnya dingin.

“Lim Hyunsik!” Ucap Sunmi marah.

Jihyun menyentak tangannya agar terlepas dari genggaman Hyunsik, namun pria itu semakin mempererat gengggamannya.

Hyunsik menatap Jihyun marah, “Apa yang kau pikirkan?!! Menggugurkannya?!! Itu anakku!!” Serunya.

“Karena ini anakmu aku akan menggugurkannya!!” Balas Jihyun.

PLAKKK!!! Hyunsik benar-benar hilang kesabaran hingga menampar Jihyun dengan keras hingga wajahnya menghadap ke satu sisi. Sunmi juga terkejut melihat sikap kasar putranya. Hyunsik tak membiarkan Jihyun sadar dari tamparan itu dan langsung mencengkeram dagu gadis itu dan memutar wajahnya agar kembali menatapnya.

“Jangan berpikir untuk melakukan ini lagi!!” Ancam Hyunsik dan kembali menyeret Jihyun pergi.

Selama perjalanan pulang, tak seorang pun dari mereka mengatakan sesuatu. Kedua tangan Jihyun gemetaran. Baru kali ini dia melihat sisi mengerikan Hyunsik yang selalu mengalah padanya, juga selalu bersikap lembut. Begitu tiba di parkiran apartemen, dia tak sempat keluar dari mobil karena pria itu kembali menarik tangannya dengan kasar memasuki gedung apartemen.

Hyunsik terbakar kemarahan yang tak dapat dia jabarkan. Rasanya dia ingin menghancurkan semua barang yang ada di sekitarnya namun dia tetap berusaha diam hingga masuk ke apartemennya.

Jihyun kembali di tarik ke kamar dan di dorong dengan kasar oleh Hyunsik ke tempat tidur.

Hyunsik menarik bahu Jihyun agar gadis itu kembali menatapnya, “Kau tidak ingin aku bersikap lembut?! Kenapa kau selalu menguji kesabaranku Nam Jihyun?!”

Jihyun benar-benar ketakutan, ia tak tau apa yang akan di lakukan Hyunsik padanya jika dia melawan.

“Wae?!!! Kucing mencuri lidahmu?!!! Kenapa kau hanya diam?!! Kau ingin membuatku semakin marah kan?!! Cepat!! Katakan makianmu sekarang!!” Ucap Hyunsik.

“W..waekeure?” Tanya Jihyun dengan suara bergetar.

Hyunsik sangat marah hingga rasanya ingin meledak-ledak, “Waekeure?! Kau bertanya ada apa?!!!” Serunya, “Kau hampir menggugurkan anakku!! ANAKKU!!!” Bentaknya diakhir kalimat.

Jihyun mengumpulkan keberaniannya untuk melawan, “Tapi dia ada di tubuhku!! Aku benci merasakannya tumbuh!!!” Serunya.

PLAKK!!! Tamparan lain melayang ke pipi Jihyun, membuat kepalanya terasa sangat sakit.

Hyunsik kembali menarik dagu Jihyun agar menatapnya, matanya melotot pada gadis itu. “Jihyun, aku bisa menjadi pria mengerikan yang pernah ada jika kau terus memancing kemarahanku!” Ucapnya dingin.

Jihyun tak percaya Hyunsik menamparnya hingga dua kali, “Hyun… Hyunsik?”

Hyunsik tersenyum sinis, “Wae? Kau terkejut? Aku sudah bersabar cukup lama Nam Jihyun, jangan salahkan aku jika aku melakukan ini sekarang..”

Jihyun merasa sangat hancur, pria yang selalu lembut padanya sekarang ikut menghancurkan harga dirinya. “Kau tidak berbeda dengan pria lainnya! Aku menyesal telah mengenalmu..” Ucapnya tertahan.

Hyunsik tertegun namun tak memperlihatkannya, “Kau baru mengetahuinya?”

“Lepaskan aku!!” Seru Jihyun sambil mendorong Hyunsik, dengan cepat dia menjangkau laci buffed. Namun pria itu lebih cepat darinya.

Hyunsik menarik tubuh Jihyun dan kembali membaringkannya di tempat tidur, satu tangannya menekan bagian bawah perut gadis itu.

Mata Jihyun membesar menatap Hyunsik, dia benar-benar shock dengan gerakan tiba-tiba pria itu.

“Jangan sampai aku yang membuatmu keguguran, Jihyun..” Ucap Hyunsik dingin.

Jihyun tak percaya kalimat itu keluar dari mulut Hyunsik. Pertahanannya runtuh. Bulir air mengalir dari matanya yang tetap menatap pria itu. ‘Apa yang telah kau lakukan padanya, Jihyun? Mengapa dia menjadi seperti ini?’ Batinnya.

Kemarahan Hyunsik luluh lantak melihat Jihyun menangis, dia langsung tersadar dengan apa yang telah dia lakukan. Kakinya mundur selangkah sambil menatap Jihyun menyesal, “Maafkan aku..” Ucapnya pelan.

Jihyun tak bisa menahan tangisnya, hatinya benar-benar terasa sakit. Dia sudah membuat banyak masalah untuk dirinya juga Hyunsik.

Bulir air mata penyesalan Hyunsik mengalir dan jatuh berlutut, “Maafkan aku..”

Jihyun memejamkan matanya dan menangis tersedu-sedu menyadari kesalahannya telah berpikir Hyunsik akan terus menjaganya, juga akan terus bersamanya.

Sunmi yang juga mengikuti Hyunsik terpaku di pintu kamar melihat putranya menangis penuh penyesalan di lantai, sementara Jihyun menangis tersedu-sedu di tempat tidur.

Malam itu. Jihyun duduk di pinggir tempat tidur dengan kepala tertunduk, sementara Hyunsik duduk di meja kerjanya juga dengan kepala tertunduk. Mereka tak tau harus bagaimana memecahkan masalah itu.

Hyunsik menghela nafas dalam dan mengelus pundaknya, “Katakan apa yang membuatku selalu menjadi penjahat dimatamu Jihyun..” Ucapnya pelan.

Jihyun memandang Hyunsik dan kembali menunduk.

Hyunsik menatap Jihyun meminta penjelasan, “Aku selalu berusaha mengerti dirimu, aku melakukan semua yang akan membuatmu nyaman bersamaku. Aku…..” Dia kehilangan kata-katanya karena tak tau apa lagi yang harus dia katakan.

Jihyun tetap tak menjawab.

“Aku sangat bahagia dengan kehadiran bayi dikandunganmu, kenapa kau ingin menggugurkannya? Aku akan bertanggung jawab, aku akan membuatmu bahagia.. Percaya padaku..” Ucap Hyunsik memelas.

Bulir air jatuh perlahan dari mata Jihyun, “Kenapa aku harus mempertahankannya?”

Hyunsik memejamkan mata sesaat dan kembali memandang Jihyun sedih, “Karena aku..”

“Kenapa aku harus mempertahankannya karena kau?” Tanya Jihyun lagi.

“Karena aku mencintaimu..” Jawab Hyunsik.

Bulir air mata Jihyun semakin deras berjatuhan dan memandang Hyunsik, “Kenapa kau mencintaiku?”

Hyunsik diam menatap Jihyun, lalu turun dari kursi dan duduk dihadapan gadis itu sambil menggenggam tangannya. “Apa kau mencintaiku?”

Jihyun menghela nafas berat menatap Hyunsik, lalu menarik tangannya. Namun pria itu malah menggenggam tangannya lebih erat.

“Jawab aku, apa kau mencintaiku?” Ulang Hyunsik sambil menatap kedalam mata Jihyun.

Jihyun menunduk dan menggeleng.

“Tatap aku dan jawab, Nam Jihyun!” Tegas Hyunsik.

Jihyun semakin terisak ketika menatap kedalam mata Hyunsik.

“Kau mencintaiku, Nam Jihyun?” Tanya Hyunsik lagi.

“Apa yang kau harapkan dari gadis sepertiku?” Tanya Jihyun.

“Aku mengharapkan kehadiranmu.. Melihatmu dan merasakanmu disisiku adalah yang kuinginkan.. Aku tidak butuh apa pun lagi..” Jawab Hyunsik.

Jihyun sangat kesal mendengar ucapan Hyunsik, juga merasa bahagia disaat yang bersamaan. Tangannya yang satu bergerak menampar pria itu namun hanya benturan kecil yang tiba di pipinya.

Hyunsik memegang tangan Jihyun di pipinya dan menggenggam kedua tangan gadis itu, “Dengar, aku tidak akan menyerah begitu saja atas dirimu. Aku sudah melakukan sejauh ini untuk bisa bersamamu, jadi aku tidak akan menyerah begitu saja.. Kumohon berjuang bersamaku, percaya padaku. Aku akan membuatmu bahagia, aku tau semuanya pasti akan berat. Tapi jika bersama pasti kita bisa melaluinya..” Pintanya.

“Pabo.. Kau bisa mendapat ratusan gadis lebih berkelas dariku!” Ucap Jihyun di tengah tangisnya.

“Ne.. Aku bisa mendapatkan gadis yang lebih berkelas, berasal dari keluarga terpandang. Tapi aku tidak akan bisa menemukan gadis sepertimu lagi, kau hidupku dan kebahagiaanku. Kumohon Jihyun, hentikan kekeraskepalaanmu..” Mohon Hyunsik.

Jihyun tak pernah merasa benar-benar membutuhkan seseorang hingga tak bisa bernafas jika tidak bersama orang itu selain Hyunsik. Selama ini dia berusaha menahan dirinya, tapi sekarang tak ada lagi alasan untuk menutupi perasaannya. Dia menarik tangannya dari genggaman Hyunsik dan memeluk lehernya erat, air matanya tak bisa terbendung lagi.

Hyunsik memejamkan matanya sambil memeluk Jihyun, merasakan keberadaannya lebih dalam.

=Rumah Ibu Hyunsik=

Hyunsik berdiri di depan ibunya sambil menggenggam tangan Jihyun erat, “Eomma, jengmall miane. Aku tidak bisa menuruti perintahmu untuk melakukan perjodohan dengan putri dari keluarga Heo, aku akan menikahi Jihyun dengan atau tanpa restumu. Cesonghamida..” Ucapnya dengan kepala menunduk sopan.

Sunmi duduk menyerong dengan wajah kesal agar tidak menatap putranya, “Kau akan menyesali ini Hyunsik.. Jika kau menikahi putri dari keluarga Heo, karirmu akan melonjak naik. Kau bisa tetap mempertahankan keluarga kita yang terpandang..” Ucapnya tanpa memandang putranya.

Jihyun memandang Hyunsik yang sama sekali tak luluh.

“Ne eomma, aku mungkin tidak akan menjadi keluarga paling terhormat di dunia. Aku juga tidak akan menjadi detektive kepolisian yang sangat dihargai…” Ucap Hyunsik pelan, “Tapi aku akan menjadi pria paling bahagia karena bisa hidup bersama gadis yang kucintai. Aku akan tertawa setiap hari menyaksikan anak-anakku tumbuh besar hingga mereka memiliki keluarganya masing-masing..” Sebulir air mengalir jatuh dari mata kanannya dan memandang Jihyun, “Dan aku akan menghabiskan sisa waktuku bersama orang yang benar-benar tulus padaku..”

Jihyun sangat tersentuh mendengar ucapan Hyunsik. Matanya berkaca-kaca sambil tersenyum haru.

Sunmi tak bisa mengatakan apa pun mendengar ucapan Hyunsik.

Hyunsik menyeka air matanya dan tersenyum pada ibunya, “Hanya itu yang bisa kukatakan eomma..” Ucapnya, “Kami pergi..”

“Tunggu..” Ucap Jihyun, “Ada yang ingin kukatakan padamu, nyonya.. Ohh.. Ani, eommanim..”

Hyunsik memandang Jihyun, ingin tau apa yang akan disampaikan gadis itu.

Jihyun menghela nafas dalam, “Ibuku memang seorang penari striptis di sebuah klub setelah ayahku meninggal karena bunuh diri, dan benar juga adikku lahir karena pekerjaannya itu. Meskipun semua orang menghujatnya karena pekerjaannya itu, aku tidak pernah malu menjadi putrinya. Aku sangat bangga pada ibuku. Dia akan terlihat murahan karena tersenyum pada para pria yang menyaksikan penampilannya dan melucuti semua pakaian ditubuhnya, tapi dia tak pernah terlihat rendah dimataku.” Ucap Jihyun dengan bulir air berjatuhan, “Ibuku akan pergi bekerja setelah menidurkanku dan adikku, membacakan dongeng terbaik dengan akhir bahagia. Aku bisa melihat air yang selalu hampir jatuh dari matanya, tapi dia tidak pernah memperlihatkan wajah sedihnya didepanku. Aku pernah menangis saat para tetangga menyebut ibuku wanita murahan, tapi ibuku menyeka air mataku sambil tersenyum dan berkata kalau dia tak peduli apa yang dipikirkan orang tentangnya, dia hanya peduli apa yang aku dan adikku pikirkan tentangnya.” Ucapnya, “Eommanim, aku ingin bertanya padamu. Apa kau pantas menghujat ibuku hanya karena dia ingin menyelamatkan anak-anaknya?” Ucapnya, lalu membungkuk sopan dan berbalik pergi.

Hyunsik membungkuk sopan dan mengikuti Jihyun.

Sunmi tertegun sambil berpikir.

Selama perjalanan pergi, Jihyun tak mengatakan apa pun dan hanya memandang keluar jendela.

Hyunsik melirik Jihyun, “Jihyun-a..”

“Hm?” Jawab Jihyun sambil memandang Hyunsik.

Hyunsik tersenyum.

“Wae?” Tanya Jihyun heran.

“Aniya..” Jawab Hyunsik sambil tertawa kecil.

Jihyun semakin penasaran, “Wae?”

Hyunsik menghentikan mobilnya di lampu merah dan memutar tubuhnya memandang Jihyun sambil tersenyum, “Aku sudah merencanakan pernikahan yang sesuai seperti keinginanmu..”

Dahi Jihyun berkerut, “Ne? Bagaimana?”

“Rahasia..” Ucap Hyunsik.

“Kenapa rahasia? Memangnya hanya aku yang akan menikah?” Ucap Jihyun sebal.

Hyunsik tertawa kecil sambil kembali mengendarai mobilnya.

Jihyun cemberut dan menatap Hyunsik kesal, “Aissh..” Ucapnya dan memandang ke jendela.

Hyunsik senang melihat ekspresi Jihyun, “So eomma, tersenyumlah..” Rayunya.

Jihyun menatap Hyunsik bingung, “So eomma?”

Hyunsik tersenyum lebar sambil memandang ke jalanan di depan, lalu melirik Jihyun. “Ne.. Namanya So..” Ucapnya sambil mengelus perut Jihyun dengan satu tangannya. “Jika perempuan, maka Sohyun, jika laki-laki maka Jiso.. Othe(bagaimana)?”

Jihyun memandang Hyunsik bingung.

“Wae? Kau tidak suka?” Tanya Hyunsik.

Jihyun berpikir sejenak, “Jika laki-laki namanya Soji.. Dan jika perempuan Sohyun..”

Hyunsik kembali tersenyum, “Baik..”

Jihyun tersenyum.

=Sebuah Tempat=

Jihyun yang mengenakan dress berwarna putih turun dari mobil dengan mata tertutup dan di bimbing oleh Hyunsik.

“Hati-hati..” Ucap Hyunsik.

“Kita dimana? Buka penutup ini..” Ucap Jihyun sambil melangkah.

“Andwae..” Ucap Hyunsik.

“Aku akan membukanya..” Ucap Jihyun sambil hendak membuka kain penutup itu.

“Jangan!” Ucap Hyunsik sambil menahan tangan Jihyun.

“Lalu katakan ini dimana!” Ucap Jihyun.

Hyunsik tersenyum, “Tenang saja So eomma..” Ucapnya.

Jihyun berhenti melangkah, “Aku tidak mau ikut!”

Hyunsik menahan tawa dan menggendong Jihyun dengan kedua tangannya, “Diam saja..” Ucapnya.

“Ya!! Aku hamil 3 bulan! Jangan macam-macam!!” Seru Jihyun mulai panik.

Hyunsik hanya tertawa dan terus berjalan. Tak lama akhirnya dia menurunkan Jihyun berdiri dengan kakinya. “Tunggu disini..”

“Ne? Dimana ini?!” Tanya Jihyun sambil menarik tangan Hyunsik yang melepaskan tangannya.

“Jangan cengeng, kau wanita hamil..” Ucap Hyunsik.

“Ya!! Ya!! Lim Hyunsik!!” Seru Jihyun panik.

Terdengar tawa seseorang dan sebuah tangan memegang lengan Jihyun.

Jihyun terkejut dan menarik tangannya, namun tangan itu tetap menahannya.

“Kemanhe..” Ucap suara pria.

Jihyun tertegun karena merasa mengenal suara itu, “Dujun?”

“Ne.. Tenanglah..” Ucap Dujun menahan tawa.

Jihyun membuka penutup matanya dan terkejut melihat Dujun dengan stelan jas dihadapannya, “Eoteokhe? Bagaimana bisa kau ada disini?! Bukankah kau…” Dia memandang ke sekitar namun tak menemukan Hyunsik dimana pun.

Dujun tertawa melihat ekspresi Jihyun, “Lihat kebelakang..”

“Hm?” Jihyun perlahan memandang ke belakang dan ternyata mereka berada di kawasan penjara, lalu memandang Dujun tak mengerti. “Mengapa aku disini? Ada apa ini?”

Dujun tersenyum lebar, “Ini pernikahanmu..”

Jihyun tertegun, “Mwo?”

“Aku yang akan mendampingimu di altar..” Ucap Dujun sambil merapikan dasinya.

Jihyun mendadak merasa kesal, “Mwo? Dia merencanakan pernikahan di penjara?! Aisssh.. Aku akan menghajarnya nanti!!” Ucapnya sendiri.

Dujun tersenyum lucu dan memberikan buket bunga ke tangan Jihyun, “Jangan memasang wajah garangmu, kau akan berjalan ke altar. Ayo..” Ajaknya sambil melingkarkan satu tangan Jihyun ke lengannya.

Jihyun mendengus kesal sambil ikut berjalan bersama Dujun. Tak lama mereka tiba di sebuah ruangan yang dikanan dan kirinya di isi beberapa orang yang tidak asing.

“Jihyun-a..” Sapa Gikwang sambil melambai dari sisi kiri. Hyunseung juga tampak tersenyum lebar padanya. Junhyung mengacungkan kedua ibu jarinya memuji penampilan Jihyun.

Disisi kanan tampak Minhyuk, Yoseob dan Eunji tersenyum memandangnya.

Hyunsik yang berdiri diujung altar menunggunya dengan senyuman hangat dan mengulurkan tangannya.

Dujun memberikan tangan Jihyun pada Hyunsik dan membiarkan mereka melangkah menuju altar.

Jihyun menatap Hyunsik kesal saat mereka berdiri berhadapan.

“Wae? Tersenyumlah.. Kita akan segera menikah..” Bisik Hyunsik.

“Pernikahan macam apa di penjara?!” Tanya Jihyun setengah berbisik.

Hyunsik tertawa kecil, “Jika tidak disini, bagaimana teman-temanmu bisa menghadiri pernikahan kita?” Bisiknya.

“Aissh!!” Jihyun hampir memukul Hyunsik dengan buket bunga ditangannya.

“Agassi, apa pernikahan ini akan berlangsung?” Tanya pendeta yang menunggu mereka bertengkar.

Jihyun menatap Hyunsik kesal, “Aisshh..” Ucapnya tertahan. “Ne, lakukan..” Ucapnya pelan.

Hyunsik tersenyum, “Aigoo.. So eomma, mengerikan..” Ledeknya.

Jihyun berusaha menahan kekesalannya hingga proses itu selesai dan mereka resmi menjadi suami istri.

“Silahkan mencium pengantin wanitamu..” Ucap sang pendeta.

Hyunsik menarik Jihyun untuk menciumnya, namun gadis itu mendorong wajahnya menjauh. “Ya..” Protesnya.

“Mwo?” Tanya Jihyun kesal.

Hyunsik menghela nafas kesal dan melangkah pergi.

Jihyun tersenyum melihat wajah kesal pria itu dan menariknya.

Hyunsik menatap Jihyun kesal, sekarang gadis itu malah tersenyum memandangnya.

“Begitu.. Tunjukkan jika kau kesal padaku, jangan terus mengalah dan tetaplah disisiku, So appa..” Ucap Jihyun sambil tersenyum dan menarik kerah baju Hyunsik dan mencium bibirnya.

Terdengar tepuk tangan dan tawa dari para tamu undangan.

Hyunsik tertawa kecil dan memeluk Jihyun erat.

=Kehamilan 5 bulan=

“Jadi, Sohyun atau Soji?” Tanya Hyunsik di telepon, dia tak bisa menemani Jihyun melakukan USG karena harus melakukan rapat dengan pemimpin utama.

Jihyun tersenyum lebar sambil memandang photo hasil USG bayi dalam kandungannya yang mulai membesar. “Soji..” Jawabnya senang.

Hyunsik tersenyum lebar, “Soji? Wuaaa.. Kita akan mendapat jagoan kecil..” Ucapnya senang.

“Ne..” Ucap Jihyun penuh haru.

Hyunsik mendengar Jihyun terisak, “Yobo, kau menangis?”

“Ani..” Jawab Jihyun berusaha menutupi suaranya.

“Jujur saja, aku mendengar isakanmu..” Ucap Hyunsik.

“Ne..” Ucap Jihyun akhirnya, “Melihat wujudnya yang sudah menyerupai bayi membuatku terharu..” Ucapnya sambil menatap photo hasil USG tadi, bulir air mata haru mengalir di pipinya. “Aku tidak percaya dia benar-benar ada di perutku..”

Hyunsik tersentuh mendengar ucapan Jihyun, “Aku justru sibuk disaat seperti ini, miane..”

“Gwenchana.. Aku kan bukan wanita manja.. Aku bisa melakukan semuanya sendiri..” Ucap Jihyun.

“Aissh.. Bisa tidak sekali saja kau berlaku manja padaku?” Tanya Hyunsik sebal.

Jihyun tertawa kecil, “Miane, oppa..” Ucapnya lucu.

Hyunsik menahan tawa, “Keyowa(lucu)..”

“Hyunsik, ayo..” Panggil Minhyuk dari pintu.

“Oh.. Ne..” Jawab Hyunsik, “Yobo-a, aku harus pergi..”

“Ne, fighting..” Ucap Jihyun.

“Oh.. Saranghae..” Ucap Hyunsik.

“Ne, nadoo..” Jawab Jihyun dan telepon terputus.

“Hmm.. Yang sudah menikah ceria sekali..” Ucap Minhyuk ketika Hyunsik menghampirinya.

Hyunsik hanya tertawa kecil, “Wae? Kau iri?”

Minhyuk tertawa, “Jadi, perempuan atau laki-laki?” Tanyanya penasaran.

Hyunsik tersenyum lebar, “Laki-laki..”

“Woaaa.. Daebak.. Bagaimana caramu melakukannya?” Tanya Minhyuk kagum.

Hyunsik memandang Minhyuk aneh, “Apa maksudmu?”

“Bagaimana caramu bisa langsung mendapatkan anak laki-laki? Beritau aku..” Ucap Minhyuk.

Hyunsik menghela nafas kesal dan berjalan pergi.

“Ya.. Jangan pelit.. Beritau aku..” Bujuk Minhyuk.

=Apartemen=

Hyunsik menelungkup diatas kasur sambil menempelkan telinganya ke perut Jihyun yang berbaring didepannya.

“Kau dengar sesuatu?” Tanya Jihyun.

Hyunsik tersenyum sambil mengangkat kepalanya, “Dia menendangku..” Ucapnya senang.

Jihyun tersenyum, “Kata dokter mungkin tendangan itu akan terasa sedikit menyakitkan setelah kehamilan masuk bulan ke 7. Hmmm.. Pasti karena dia anak laki-laki..” Ucapnya khawatir.

Hyunsik bergerak berbaring di sebelah Jihyun dan menarik gadis itu dalam rangkulannya, lalu mencium dahinya lembut. “Kau akan melewatinya dengan baik..”

Jihyun senang Hyunsik ada disisinya, memberi kekuatan padanya disaat berat seperti itu. “Hyunsik-a..” Panggilnya sambil menatap pria itu dalam.

“Ne..” Jawab Hyunsik.

Jihyun memegang pipi Hyunsik dan tersenyum penuh arti, “Kau selalu memberikan kekuatan untukku melewati ini, gumawo..”

Hyunsik tersenyum dan memeluk Jihyun, “Ne.. Nadoo gomawo..”

“Waeyo?” Tanya Jihyun.

“Karena kau akan menjadi ibu dari anak-anakku, juga selalu ada disisiku..” Jawab Hyunsik.

Jihyun tertawa kecil, namun tawanya berhenti dan melepaskan pelukan Hyunsik. “Hyunsik-a, bagaimana dengan ibumu?”

Hyunsik tertegun, “Mmm.. Molaso..”

“Apa ibumu masih marah?” Tanya Jihyun.

Hyunsik tidak tau harus menjawab apa.

“Mmm.. Bagaimana jika akhir minggu kita mengunjunginya?” Tanya Jihyun mengusulkan.

“Kau yakin?” Tanya Hyunsik.

“Aigoo.. Aku bisa bertahan ketika meloncat dari mobil, jika hanya bertemu ibumu tidak akan sulit..” Jawab Jihyun.

Hyunsik tersenyum dan mencium pipi Jihyun, “Baiklah..”

=Rumah Sunmi=

Suasana ruang keluarga menjadi tegang dengan kehadiran Jihyun dan Hyunsik.

“Kenapa kalian kemari?” Tanya Sunmi dingin.

Hyunsik berpandangan dengan Jihyun, lalu mengelus pundaknya canggung.

Jihyun tersenyum manis, berusaha memberikan kesan baik pada ibu mertuanya. “Eommanim, bayi yang kukandung laki-laki.. Ini, anda ingin melihat photo USGnya?” Tanyanya sambil menyodorkan photo USG bayinya.

Sunmi memalingkan wajahnya, tidak ingin memandang photo itu.

Jihyun tak mudah menyerah, “Dia sangat lucu.. Lihat tangan dan kakinya..”

Hyunsik kesal ibunya sama sekali tak menghargai Jihyun. Dia menarik tangan gadis itu yang mengulurkan photo dan bangkit, “Khaja, sepertinya eomma sedang tak ingin menerima tamu..” Ucapnya, lalu merangkul Jihyun dan berjalan keluar.

“Ya.. Kenapa malah pergi?” Protes Jihyun saat Hyunsik membawanya keluar rumah.

Hyunsik memandang Jihyun kesal, “Jangan kemari lagi, ara?” Ucapnya dan membukakan pintu mobil.

Jihyun memandang Hyunsik kesal tanpa bergerak masuk.

“Masuk..” Ucap Hyunsik.

“Ya.. Jika kau tidak berusaha meluluhkan ibumu, anak kita akan terlahir dengan kebencian ibumu.. Ara?” Ucap Jihyun.

Hyunsik menghela nafas dalam, “Ara..” Ucapnya, “Tapi aku tidak suka ibuku tak mempedulikanmu..”

Jihyun tersenyum dan mengelus kedua bahu Hyunsik, “Gwenchana, ibumu hanya butuh waktu menerimaku..”

Hyunsik kagum dengan sosok Jihyun, kepalanya mengangguk sambil mengelus kepala gadis itu. “Ne..” Ucapnya, lalu mengecup dahi gadis itu. “Masuklah.. Kita kembali lain kali..”

Jihyun mengangguk dan masuk ke mobil.

=Beberapa Hari Kemudian=

“Eommanim.. Aku membawakanmu ini..” Ucap Jihyun sambil memberikan makanan yang dia masak diatas meja, “Aku membuatnya tadi pagi..”

Sunmi memandang Jihyun dingin, “Aku tidak membutuhkannya, pergilah..”

Jihyun tetap tersenyum, “Eommanim, cobalah sedikit. Aku masih berlatih membuatnya, jadi aku butuh seseorang untuk menilainya..”

“Kubilang pergi!!” Seru Sunmi.

Jihyun terkejut dan diam sejenak, “Mmm.. Ne, eommanim.. Tapi aku akan kembali lagi besok..” Ucapnya sambil tersenyum dan berjalan pergi.

Jihyun terus kembali keesokan harinya meskipun mendapat respon yang sama setiap harinya, namun dia tak menyerah.

“Eommanim.. Aku datang lagi..” Ucap Jihyun ceria.

Sunmi memutar bola matanya kesal, “Pergilah! Untuk apa kau kembali lagi?!”

Jihyun tersenyum lebar, “Eommanim, cucumu sudah masuk bulan ke 7. Anda tidak ingin mengelusnya?”

Sunmi menatap perut Jihyun dan mendengus kesal, “Tidak.. Dia bukan cucuku..”

“Nyonya, tamu anda sudah tiba..” Ucap pembantu dirumah itu.

“Oh.. Ne..” Ucap Sunmi sambil berdiri.

Jihyun ikut berdiri melihat dua orang wanita bergaya glamor muncul, “Annyeonghaseo..” Sapanya.

Kedua wanita itu memandang Jihyun bingung, apalagi gadis itu tampak sedang hamil besar. Mereka bergerak duduk bersama Sunmi.

“Nugu, Sunmi-ssi?” Tanya seorang dari mereka.

Sunmi memandang Jihyun dan kedua temannya, dia agak bingung menjawabnya.

“Namaku Nam Jihyun, aku istri Lim Hyunsik.. Senang berkenalan denganmu..” Ucap Jihyun sopan.

Kedua wanita itu tertegun dan tampak tidak senang.

“Oh.. Dia si gadis tak tau diri itu?” Sindir yang lain.

Jihyun tertegun, ternyata Sunmi sampai bercerita seperti itu tentangnya.

Sunmi melirik Jihyun yang tampak menunduk malu.

“Mmm.. Aku akan menyiapkan minum..” Ucap Jihyun, lalu berjalan ke dapur.

“Cih.. Dia benar-benar tak punya malu..” Ucap wanita lainnya.

Jihyun merasa terluka, namun dia tak bisa menyalahkan Sunmi.

=Apartemen=

Jihyun duduk dimeja makan sambil memandangi gelas kosong didepannya. Jujur saja dia merasa lebih baik berhenti mendekati Sunmi, namun dia tak ingin menyerah.

“Yobo-a, waekeure?” Tanya Hyunsik sambil memeluk Jihyun dari belakang.

Jihyun tersenyum, “Aniya..”

Hyunsik mengelus perut Jihyun lembut, “Ada masalah dengan si kecil Soji?”

Jihyun memandang Hyunsik, “Gwenchana.. Dia baik-baik saja..” Ucapnya.

Hyunsik tertegun melihat ekspresi Jihyun, “Ada apa?”

“Apanya?” Tanya Jihyun.

Hyunsik merapikan poni Jihyun yang menutupi dahinya, “Eomma mengatakan sesuatu yang menyinggungmu?”

“Hm? Ani..” Jawab Jihyun.

Hyunsik menatap Jihyun serius, “Jujurlah..”

“Aniya..” Jawab Jihyun sambil tersenyum.

“Apa kau akan kesana besok?” Tanya Hyunsik.

“Tentu saja..” Jawab Jihyun.

Hyunsik menghela nafas dalam.

Ponsel Jihyun berbunyi, dia langsung terkejut melihat siapa yang memanggil. “Omo! Ibumu..”

Hyunsik ikut terkejut, “Ne? Jangan diangkat..”

“Mwo? Jangan..” Ucap Jihyun, “Aku akan mengangkatnya..” Ucapnya, lalu menjawab panggilan itu. “Ne, eommanim..” Sapanya.

Hyunsik memperhatikan ekspresi Jihyun mendengarkan ibunya berbicara.

“Berbelanja? Besok? Oh.. Ne, eommanim..” Jawab Jihyun dengan senyuman lebar diwajahnya, “Ne.. Annyeonghaseo..” Sapanya dan telepon terputus.

“Ada apa?” Tanya Hyunsik penasaran.

Jihyun tersenyum lebar, “Ibumu mengajakku berbelanja untuk keperluan bayi besok..”

Hyunsik tertegun, “Ne?”

“Ne!! Wuaaaah..” Ucap Jihyun senang karena usahanya selama ini tidak sia-sia.

“Aku akan menemanimu besok..” Ucap Hyunsik khawatir.

“Jangan.. Aku harus membangun kebersamaan dengan ibumu..” Ucap Jihyun.

“Kau yakin?” Tanya Hyunsik.

Jihyun mengangguk, “Ne..” Jawabnya, lalu memegang kedua pipi Hyunsik dan menatapnya dalam. “Tenang saja, ini permulaan yang baik untuk kita..”

Meskipun belum begitu yakin Hyunsik mengangguk, “Baiklah..”

=Pusat Perbelanjaan=

Jihyun menyesal tidak mendengarkan Hyunsik kemarin. Sekarang dia harus menahan kekesalannya karena Sunmi membuatnya berkeliling pusat perbelanjaan selama hampir 2 jam tanpa membeli apa pun.

“Hmm.. Kurasa tidak ada barang yang cocok untuk anakmu disini..” Ucap Sunmi akhirnya.

Jihyun menatap Sunmi kesal, namun dia berusaha menahannya. “Ne, eommanim..”

Sunmi memandang Jihyun, “Mungkin sebaiknya kita melanjukannya besok..” Ucapnya dan berjalan.

Jihyun benar-benar kesal dengan wanita itu, “Aissh..” Gumamnya kesal, lalu mengikuti wanita itu.

Malamnya.

“Jadi, bagaimana hari ini?” Tanya Hyunsik yang memijat kaki Jihyun di pangkuannya.

“Huuffft.. Ibumu hanya berputar-putar tanpa membeli apa pun dan berkata tidak ada yang cocok untuk anakku, lalu memutuskan melanjutkan besok.” Cerita Jihyun sebal.

Hyunsik menahan tawa, “Eomma pasti sedang mengujimu..”

Jihyun menghela nafas berat mengingat besok masih akan mengalami hal berat seperti ini, lalu memandang Hyunsik dengan mata memelas. “Besok kau ikut ya..” Pintanya.

Hyunsik diam sejenak, “Mmm.. Aku mau, tapi…”

“Mwo?” Tanya Jihyun.

“Besok akan ada inspeksi ke klub malam, jadi aku harus mempersiapkannya..” Jawab Hyunsik menyesal.

Jihyun bersandar lesu, “Ahhhh…”

“Jika kau tidak ingin pergi, aku akan menghubungi eomma dan berkata kau merasa tidak baik..” Ucap Hyunsik.

“Ani.” Jawab Jihyun cepat, “Jangan, aku akan pergi bersamanya besok..”

“Kau yakin?” Tanya Hyunsik.

“Ne..” Jawab Jihyun pelan.

“Hmm.. Baiklah..” Ucap Hyunsik, lalu memegang perut Jihyun yang sudah sangat membesar. “Pastikan saja kau tidak terlalu lelah dan membuat Soji kita ikut merasakannya..”

Jihyun tersenyum, “Ne..”

=Pusat Perbelanjaan Lainnya=

Jihyun memegang pinggangnya yang mulai terasa nyeri karena terus berjalan, “Aahhh..” Rintihnya pelan.

Sunmi berhenti dan memandang Jihyun, “Waekeure?”

“Ohh.. Aniya, eommanim..” Jawab Jihyun sambil tersenyum.

“Aigoo.. Kau pasti jarang berjalan kan? Baru sebentar sudah seperti itu, bagaimana bayimu bisa tumbuh dengan baik jika begitu..” Ucap Sunmi dan melangkah lagi.

Jihyun menggigit bibir bawahnya kesal, “Aissh..” Ucapnya kesal dan kembali mengikuti Sunmi. Namun semakin lama dia merasa perutnya terasa nyeri.

“Kenapa kau berjalan lama sekali?” Tanya Sunmi kesal.

Jihyun menghela nafas dalam, “Eommanim, bisakah kita duduk sebentar? Aku lelah sekali..”

“Duduklah dulu, aku akan melihat ke tempat itu..” Ucap Sunmi dan berjalan lagi.

Jihyun menghela nafas kesal dan bergerak duduk di bangku panjang, ‘Ahhhh.. Kenapa aku mendapatkan ibu mertua sepertinya?’ Batinnya kesal sambil mengelus perutnya. Kepalanya terangkat memandang sosok Sunmi yang semakin jauh, “Wanita itu mengujiku..” Ucapnya kesal, lalu bangkit dan mengikuti Sunmi. “Kau akan lihat bagaimana aku yang sebenarnya!” Tekadnya. Namun semua itu langsung luntur karena nyeri di perutnya semakin parah. “Aaahh..” Rintihnya sakit. Dia tertegun merasa ada cairan mengalir di kakinya. Kepalanya menunduk dan melihat cairan merah mengalir turun di kakinya.

Seorang gadis seusia Jihyun yang berlalu langsung menghampirinya, “Agassi, kau mengalami pendarahan!” Ucapnya.

Jihyun memandang wanita itu panik, “Apa yang harus kulakukan?!”

“Tenang, jangan panik.. Kau harus segera ke rumah sakit.” Ucap wanita itu, “Kau datang bersama siapa?”

“Aku? Aku bersama…..” Jihyun berusaha mencari-cari sosok Sunmi namun tak terlihat.

“Aku seorang dokter di rumah sakit tak jauh dari sini, aku akan meminta ambulance datang. Kau tidak perlu khawatir..” Ucap wanita itu lagi.

=Rumah Sakit=

Hyunsik duduk disebelah Jihyun yang terbaring di tempat tidur, satu tangannya menggenggam tangan gadis itu. Kepalanya menoleh pada suara pintu dan langsung berdiri begitu melihat Naeun, dokter yang menolong istrinya tadi. “Annyeonghaseo..” Sapanya.

“Selamat sore, namaku Son Naeun. Aku yang menangani Nam Jihyun-ssi, apa kau suaminya?” Tanya Naeun.

“Ne..” Jawab Hyunsik.

“Mmm.. Bisakah kita berbicara diluar?” Tanya Naeun.

“Baik dokter..” Jawab Hyunsik dan mengikuti Naeun keluar ruang perawatan Jihyun.

Naeun berhenti dan memandang Hyunsik, “Maaf, saya berbicara dengan siapa?”

“Lim Hyunsik imnida..” Jawab Hyunsik.

“Baik, Lim-ssi..” Ucap Naeun memulai, “Begini, jujur saja sekarang aku masih menganalisa apa apa yang menyebabkan pendarahan oleh istrimu. Tapi yang pasti dia sangat tertekan akhir-akhir ini. Mungkin dia tidak memperlihatkannya, tapi tubuhnya jelas memperlihatkan kondisinya sekarang..” Jelasnya.

Hyunsik mengangguk mengerti, “Ne, saya mengerti..”

“Apa dia melakukan pekerjaan berat akhir-akhir ini?” Tanya Naeun.

“Mmm.. Ani..” Jawab Hyunsik.

Naeun berpikir sejenak, “Baiklah.. Aku akan menemuinya besok pagi, mungkin sesama wanita bisa saling membantu..” Ucapnya.

“Ne, gamshamida..” Ucap Hyunsik sambil membungkuk sopan.

Tak lama setelah Naeun pergi, Sunmi datang dengan wajah cemasnya.

“Hyunsik! Bagaimana keadaannya?” Tanya Sunmi.

Hyunsik menatap ibunya marah, namun dia tetap terlihat tenang. “Eomma, kumohon.. Jangan hubungi Jihyun lagi..” Ucapnya pelan.

Sunmi tertegun, “Hyunsik-a?”

Hyunsik membungkuk sopan, lalu masuk ke ruang perawatan Jihyun.

Sunmi tertegun di tempatnya. Sejujurnya dia merasa bersalah mendengar kabar tentang Jihyun yang pendarahan, tapi dia terlalu memegang teguh harga dirinya.

Keesokan harinya.

“Kau tidak bekerja?” Tanya Jihyun pada Hyunsik.

Hyunsik tersenyum, “Ani, aku sudah mengambil ijin selama beberapa hari..” Jawabnya.

Jihyun cemberut, “Aku sudah baik-baik saja, tidak perlu berlebihan..” Ucapnya.

Hyunsik memegang tangan Jihyun dan mencium punggung tangannya, “Aku akan lebih tenang jika berada disisimu..”

Jihyun tersipu, “Dasar..” Ucapnya, “Oh iya, bagaimana dengan ibumu? Apa dia marah karena aku pergi begitu saja?”

Hyunsik tertegun, “Mmm.. Tenang saja, kau tidak perlu mendekatinya lagi..”

“Wae?” Tanya Jihyun.

“Kau mengalami pendarahan karena kekeraskepalaan ibuku, tidak perlu memikirkannya lagi..” Ucap Hyunsik.

Jihyun diam sejenak, “Mmm.. Apa kau mengatakan sesuatu pada ibumu?”

Hyunsik garuk-garuk kepala, “Hanya memperingatinya..”

Jihyun menatap Hyunsik kesal, “Aissh.. Kenapa kau begitu?”

“Karena nyawamu terancam jika bertemu ibuku..” Ucap Hyunsik.

“Tapi jika begitu ibumu akan semakin membenciku..” Ucap Jihyun kesal.

Hyunsik menghela nafas dalam, “Begini saja..” Ucapnya, “Temui ibuku lagi setelah anak kita lahir, ara?”

Jihyun diam sejenak, lalu mengangguk setuju. “Baiklah..”

Hyunsik tersenyum, lalu mengelus perut Jihyun. “Apa sudah baik-baik saja?”

Jihyun tersenyum, “Ne..” Ucapnya, “Aku senang kau ada disini..” Ucapnya.

Hyunsik mengangguk, “Aku akan ada disini hingga kau pulang..”

“Oh ya, jangan beritau apa pun pada teman-temanku. Ara?” Ucap Jihyun mengingatkan.

“Ne, arayo..” Ucap Hyunsik.

Namun berita buruk menghampiri mereka.

“Nam Jihyun-ssi, bayimu harus segera dilahirkan. Jika tidak itu tidak akan baik untuk bayinya atau untuk tubuhmu juga..” Ucap Naeun memberitau.

Jihyun terlalu shock untuk memberikan respon.

“Mwo?” Ucap Hyunsik kaget.

“Pendarahan itu menyebabkan kondisi kandunganmu melemah, jika tidak segera dilahirkan kemungkinan akan terjadi pendarahan yang lebih parah..” Ucapn Naeun lagi.

Hyunsik memandang Jihyun yang menatap Naeun tanpa berkedip, namun tangannya tampak gemetaran.

Jihyun tersadar merasakan genggaman Hyunsik pada tangannya. Satu tangannya yang lain memegang perutnya, “Apa dia baik-baik saja?”

“Sampai sekarang jantungnya masih berdetak, karena itu dia harus segera dilahirkan.” Jawab Naeun.

“Kami akan melakukannya..” Ucap Hyunsik.

Jihyun memandang Hyunsik yang tersenyum hangat padanya, memberikan semangat agar dia lebih kuat. Dia kembali memandang Naeun, “Tapi… Dia akan baik-baik saja kan?”

Naeun mengangguk, “Ne..”

Malam itu Jihyun menjalani operasi caesarea untuk mengeluarkan bayinya. Hyunsik tak bisa tenang menunggu diluar ruang operasi.

Hyunsik mengelus kedua tangannya. Duduk bersandar, berdiri, berjalan berputar di depan pintu ruang operasi, juga bersandar pada dinding.

=Rumah Sunmi=

“Mwo?! Sudah lahir?! Bukankah masih 7 bulan?” Tanya Sunmi ditelepon pada orang yang memberikannya informasi tentang Jihyun. Dia tak bisa datang ke rumah sakit karena Hyunsik sudah melawangnya, jadi dia melakukan cara itu.

“Karena pendarahan yang dideritanya, kandungannya jadi bermasalah. Jika tidak segera dilahirkan, bayi dan ibunya bisa meninggal..” Jelas orang itu.

“Ne?!” Ucap Sunmi kaget, satu tangannya menutup mulut tak percaya. “Lalu, bagaimana kondisi mereka sekarang?”

“Operasinya berjalan lancar, tapi kondisi bayinya sangat lemah hingga harus berada di inkubator.” Jawab orang itu.

Sunmi memejamkan matanya, “Terima kasih..” Ucapnya dan memutuskan telepon. Dia sangat menyesal mengetahui semua itu menimpa Jihyun, ‘Kenapa aku menjadi orang yang sangat jahat seperti ini?’ Batinnya.

=Rumah Sakit=

Jihyun yang duduk di kursi roda menghela nafas berat memandangi bayi kecilnya didalam kotak inkubator, dia hanya bisa menatapnya. Hal itu membuatnya sangat khawatir.

Hyunsik mengelus bahu Jihyun yang benar-benar tampak hancur sekarang, “Dia baik-baik saja. Kita hanya perlu menunggunya kuat didalam sana..” Ucapnya.

Jihyun memandang Hyunsik sambil memegang tangan pria itu dibahunya, dia berusaha menahan air matanya.

Hyunsik berlutut di sebelah Jihyun sambil memeluk lehernya dari belakang, “Lihat, dia tenang sekali..” Ucapnya sambil memperhatikan bayi mereka di dalam inkubator.

Jihyun tersenyum, namun bulir air matanya berjatuhan.

“Soji-a.. Soji-a.. Annyeong..” Ucap Hyunsik, “Eomma dan appa menunggumu disini..”

Jihyun tak sanggup menahan air matanya.

Hyunsik bisa merasakan bagaimana perasaan Jihyun saat itu, meskipun gadis itu berkarakteristik keras dan dingin, tapi tetap hanya seorang gadis biasa. “Gwenchana..” Ucapnya lembut dan mencium pipi gadis itu.

Dari kejauhan, Sunmi memperhatikan kedua orang itu sedih. “Eomma miane, Hyunsik-a..” Gumamnya.

=Penjara=

“Mwo?!” Seru Hyunseung, Dujun, Junhyung dan Gikwang dengan mata melotot begitu mendengar berita dari Hyunsik mengenai Jihyun.

“Ne, bayi kami sudah lahir..” Jelas Hyunsik lagi.

Dahi keempat pria itu berkerut.

“Bukankah masih kurang bulan? Kenapa cepat sekali?” Tanya Gikwang.

“Mmm.. Kandungannya lemah, jadi harus melahirkan sebelum waktunya..” Jawab Hyunsik.

“Apa terjadi sesuatu?” Tanya Hyunseung curiga.

Hyunsik tersenyum, “Aniya, semuanya baik-baik saja..”

“Kau serius?” Tanya Dujun.

Hyunsik mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan photo Soji pada keempat pria itu, “Ini putraku..”

“Woaaa..” Ucap Gikwang sambil mengambil ponsel Hyunsik untuk melihat bayi mungil disana.

“Lucunya..” Ucap Junhyung.

“Tampan sekali..” Ucap Dujun.

“Mmm.. Bagaimana keadaan Jihyun sekarang?” Tanya Hyunseung.

“Dia masih sedih karena belum bisa memeluk bayinya..” Jawab Hyunsik.

Hyunseung tampak ikut sedih, “Hmm.. Begitu..”

“Hyunsik, siapa namanya?” Tanya Gikwang.

“Namanya Lim Soji..” Jawab Hyunsik dengan senyuman diwajahnya.

“Soji? Mmm.. Tidak buruk..” Ucap Gikwang.

Malamnya.

Jihyun berdiri dibalik dinding kaca transparan sambil memandangi Soji, sudah hampir dua minggu bayi mungilnya ada disana. Tangannya terangkat menyentuh permukaan kaca itu, seolah-olah bisa menyentuh bayinya. “Soji-a..” Gumamnya sedih, bulir air kembali berjatuhan dari matanya.

Naeun berjalan kesisi Jihyun dan memandangi Soji, “Dia tampan seperti ayahnya..”

Jihyun menyeka air matanya, “Ne..”

“Kau harus tegar untuk bayimu, dia sangat membutuhkannya sekarang..” Ucap Naeun memberikan semangat.

Jihyun memandang Naeun, “Kapan dia bisa keluar dari sana?”

“Kondisinya harus benar-benar stabil dulu..” Jawab Naeun.

“Apakah masih lama?” Tanya Jihyun.

Naeun diam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Kau mempunyai suami yang baik, Jihyun-ssi..” Ucapnya.

Dahi Jihyun berkerut, “Apa maksudmu?”

Naeun melangkah maju dan memegang bahu Jihyun, “Aku yakin dia tak memberitaumu karena dia tak ingin kau semakin shock, tapi sudah dua minggu berlalu.”

“Katakan apa maksudmu!” Tegas Jihyun.

Naeun menatap Jihyun sedih, “Kemungkinan bayimu bertahan hanya 30%..” Jawabnya.

Jihyun seperti mendengar petir di siang bolong, jantungnya terasa berhenti selama beberapa detik. “M..mwo?”

“Bayimu kekurangan oksigen setelah pendarahan itu, otaknya tidak berfungsi dengan baik.” Jelas Naeun.

“Tapi.. Dia baik-baik saja.. Dia ada disana!!” Ucap Jihyun.

“Bayimu..” Naeun menggantung ucapannya sejenak, “Tidak pernah menangis sejak dilahirkan..”

Jihyun menatap Naeun tak percaya dengan mata membesar, bulir air matanya terus berjatuhan. “Jadi…selama ini aku hanya menunggu hal yang sia-sia? Dia tidak akan pernah pulih?”

Naeun mengangguk, “Ne..”

Dunia Jihyun terasa runtuh, dia tidak akan pernah bisa mendengar tawa bayinya. Dadanya terasa sesak memikirkan dia hanya akan mengantarkan bayinya pada kematian. Satu tangannya memegang dada dan menangis pedih.

Naeun memeluk Jihyun agar gadis itu lebih tenang, “Aku tau kenyataan sangat berat, Jihyun-ssi.. Tapi kau harus menghadapinya.”

=Ruang Perawatan Jihyun=

Jihyun tak bisa berhenti menangis di tempat tidur, dia tak percaya Hyunsik menyembunyikan semua itu darinya. Sekarang hatinya terasa seperti tercabik-cabik, dua minggu ini dia selalu berdoa demi keselamatan bayinya. Tapi ternyata bayinya takkan sanggup bertahan. Hyunsik sama sekali tak membahasnya, tapi selalu membuatnya berharap lebih dan terus berdoa.

Hyunsik masuk ke ruang perawatan dengan makanan di tangannya, dia langsung terkejut melihat Jihyun menangis. “Yobo, waekeure?” Tanyanya khawatir.

Jihyun menatap Hyunsik marah, “Kau brengsek!!” Serunya.

Hyunsik bingung mendengar ucapan Jihyun, “Ada apa?”

Jihyun bangkit duduk dan melemparkan bantalnya pada Hyunsik, “Aku benci kau Lim Hyunsik!!!” Teriaknya.

Hyunsik memandang Jihyun tak mengerti, “Apa yang terjadi? Mengapa kau seperti ini?!”

Jihyun menatap Hyunsik penuh amarah, “Brengsek!! Kenapa kau tidak berkata bayiku tidak akan bertahan?!!” Teriaknya.

Hyunsik tertegun mendengar ucapan Jihyun, “Ne? Bagaimana kau tau?”

Jihyun mengambil vas bunga di meja dan melemparkannya pada Hyunsik.

Hyunsik segera menangkis vas itu hingga mengenai dinding dan pecah berantakan.

“Brengsek!!! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!!” Teriak Jihyun.

“Jihyun.. Jangan seperti ini..” Ucap Hyunsik menenangkan.

“PERGI!!” Teriak Jihyun.

“Jihyun…” Ucap Hyunsik.

Seorang perawat masuk dan terkejut melihat vas bunga berantakan, “Apa yang terjadi?”

“Bawa pria ini pergi!! Aku tidak ingin melihatnya!!” Teriak Jihyun.

“Jihyun! Tenangkan dirimu!!” Ucap Hyunsik.

“Maaf tuan, sebaiknya anda menunggu diluar..” Pinta perawat itu.

Hyunsik menatap Jihyun sedih, “Ne..” Ucapnya dan melangkah keluar.

Keesokan harinya.

Akhirnya, Jihyun bisa menyentuh bayinya. Namun hal itu karena bayinya tidak akan bertahan lebih lama. Jadi dia diijinkan untuk mengantarkannya hingga benar-benar meninggal.

Jihyun mengelus pipi bayi mungilnya dengan air mata berlinang, “Soji-a.. Eomma miane. Eomma tidak bisa bersamamu sejak kau lahir.. Eomma sangat bahagia kau lahir..” Ucapnya pelan.

Naeun memandang layar pendeteksi jantung Soji dan memandang Jihyun sedih, “Jihyun-ssi, dia sudah meninggal..” Ucapnya pelan.

Jihyun juga merasa mati mendengar itu. Dia menatap bayi mungilnya dalam, ‘Tuhan, kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa aku?!!!’ Batinnya. Matanya terpejam dan mengecup dahi bayinya. “Eomma menyayangimu.. Jeongmall miane..” Bisiknya.

Hyunsik memperhatikan Jihyun melepas kepergian bayi mereka dari balik dinding kaca, gadis itu akan berteriak jika dia mendekat, jadi dia hanya bisa melakukan itu. Bulir air matanya berjatuhan melihat Jihyun menangis tersedu-sedu sambil memeluk bayi mereka. Seseorang memegang bahunya, kepalanya menoleh dan melihat Sunmi yang juga ikut menangis melihat itu.

Sunmi tak bisa mengatakan apa pun untuk menghibur Hyunsik.

Hyunsik melihat Jihyun berjalan keluar dari ruangan itu bersama Naeun, “Jihyun..” Ucapnya sambil menghampiri gadis itu.

Jihyun menatap Hyunsik tajam, “Menjauh dariku..” Ucapnya dingin.

Hyunsik merasa sangat bersalah pada Jihyun, “Jihyun, aku..”

Jihyun langsung memalingkan wajahnya dan berjalan pergi.

“Jihyun..” Panggil Hyunsik.

“Tolong, biarkan dia dulu..” Ucap Naeun sambil menahan Hyunsik, “Dia masih terguncang..”

Hyunsik hanya bisa menatap Jihyun yang terus berjalan pergi penuh sesal.

=Ruang Perawatan Jihyun=

Jihyun duduk sambil memeluk lututnya di tempat tidur, dia tak ingin bertemu Hyunsik. Semua ini membuatnya semakin membenci dirinya. “Apa yang salah dengan hidupku?” Gumamnya, dia sudah berhenti menangis dan berusaha memikirkan hidupnya lagi. “Apakah ini salahku?” Gumamnya lagi, “Ne.. Ini salahku. Hidupku memang sangat mengerikan sejak awal. Putri seorang penari striptis, gila dan pembunuh bayaran. Sangat menarik.. Salahku berpikir tentang kehidupan yang baik. Pria yang tulus mencintaiku? Cih.. Kau hanya sampah Jihyun..” Ucapnya, “Maka sadarlah dimana tempatmu..” Dia menyibak selimut dan turun dari tempat tidur, lalu berjalan ke pintu dan membukanya. Dengan hati-hati dia mengintip keluar, tidak terlihat Hyunsik atau ibunya disana. Perlahan dia membuka pintu lebih lebar dan keluar. Dia ingin pergi dari sana, kemana pun tempat yang bisa menjauhkannya dari Hyunsik.

Langkahnya terhenti melihat Hyunsik dan ibunya diujung lorong, dia sempat memandang ke kanan dan kiri bingung.

Naeun muncul dari balik pintu tangga darurat dan menarik Hyunsik masuk. “Sssst..” Bisiknya.

Jihyun menatap Naeun tak mengerti, namun dia tetap tenang saat mendengar suara Hyunsik berlalu.

Naeun mengintip ke celah pintu dan melihat Hyunsik sudah jauh, lalu kembali memandang Jihyun.

“Mengapa kau membantuku?” Tanya Jihyun.

Naeun menghela nafas dalam, “Karena aku tau apa yang kau rasakan sejak awal, Jihyun-ssi..”

“Apa maksudmu?” Tanya Jihyun lagi.

“Kau akan terus terluka jika bersamanya. Kau tidak pantas merasakan itu. Kau seharusnya bersama orang-orang yang mengerti dirimu, bukan bersama mereka..” Ucap Naeun.

Dahi Jihyun berkerut.

“Kimjun oppa ingin kau bergabung dengannya..” Ucap Naeun.

“Kimjun? Siapa dia?” Tanya Jihyun.

“Zero.zero.zero..” Jawab Naeun.

Mata Jihyun membesar, “Ne?! Bukankah dia dihukum seumur hidup?”

“Ne, tapi dia berhasil menyogok sipir penjara dan melarikan diri. Sekarang dia sudah mengumpulkan anak buahnya untuk membalas dendamnya pada polisi. Bukan hanya kau yang memiliki dendam pada mereka, Kimjun oppa juga begitu. Karena itu dia melakukan hal-hal gila selama ini, karena dia ingin membuat kepolisian kacau..” Jelas Naeun.

Jihyun berusaha mencerna ucapan Naeun, “Tapi, bagaimana kau mengenalnya?”

“Aku adik ChunYang eonni..” Jawab Naeun, “Ketika itu aku melihatmu dibawa ke klinik oleh Dujun oppa, adik Kimjun oppa. Memang ChunYang eonni dan Kimjun oppa tak pernah terlihat seperti pasangan, tapi mereka saling mencintai. Kimjun oppa sengaja berlaku kasar dan dingin pada ChunYang eonni karena dia tidak ingin eonniku ikut terseret. Setelah kau dirawat disini, aku kembali teringat dirimu. Jadi aku memberitaukan tentangmu pada Kimjun oppa, karena aku melihatmu tidak bahagia bersama mereka..” Jelas Naeun.

Jihyun diam menatap Naeun.

Naeun memegang bahu Jihyun, “Percaya padaku, kau akan merasa lebih baik jika bergabung dengannya. Bukankah kau lebih menyukai pisau-pisaumu?”

Jihyun berusaha berpikir cepat, “Dimana dia?”

Sementara itu.

“Eomma, kumohon jangan kemari. Jihyun bisa semakin tertekan jika melihatmu..” Ucap Hyunsik di depan ruang perawatan Jihyun.

“Eomma sangat menyesal Hyunsik.. Eomma mohon, biarkan eomma berbicara dengannya..” Pinta Sunmi dengan bulir mata bercucuran.

Hyunsik mengela nafas dalam, “Eomma, jangan sekarang..” Ucapnya, lalu membuka pintu kamar Jihyun dan melangkah masuk. Namun dia dikejutkan dengan kekosongan disana. “Jihyun..” Panggilnya sambil melangkah ke kamar mandi, namun kosong. “Jihyun!!” Ucapnya sambil berlari keluar.

=Markas zero.zero.zero=

Jihyun melangkah masuk ke kawasan sebuah pabrik tua seorang diri, tekadnya sudah bulat untuk bergabung bersama Kimjun. Karena dengan begitu dia bisa berseberangan dengan Hyunsik. Dia tidak mungkin bisa bersama pria itu lagi. Tidak peduli Kimjun adalah pembunuh adiknya, dia tetap akan melakukannya.

Seorang pria yang menjaga di pintu menatap Jihyun, “Siapa kau?”

Jihyun menatap pria itu dingin, “Katakan pada zero.zero.zero, Nam Jihyun ingin bertemu..”

Pria itu memerintahkan seorang pria untuk masuk, tak lama pria itu kembali keluar dan membisikkan sesuatu ke telinganya. “Kau bisa masuk..” Ucapnya sambil membukakan pintu.

Jihyun langsung masuk ke sebuah ruangan.

Kimjun tersenyum manis melihat Jihyun, “Annyeong..”

Jihyun menatap Kimjun dingin, “Tidak perlu bermulut manis, katakan saja apa rencanamu untuk menyerang kepolisian?”

Kimjun tertawa kecil sambil bangkit dan menghampiri Jihyun, “Tenang saja, aku punya banyak rencana sayang..” Ucapnya.

“Apa yang harus kulakukan?” Tanya Jihyun dingin.

Kimjun menghela nafas dalam dan menatap Jihyun, “Setelah rencanaku berjalan, aku akan menyerahkan hidupku padamu..”

Dahi Jihyun berkerut, “Mwo?”

Kimjun tersenyum, bukan senyuman licik. Tapi senyuman hangat, “Aku tau kau sangat ingin membalas kematian adikmu..”

Jihyun menatap Kimjun tak mengerti.

“Aku tau kau memiliki luka hati yang tak akan bisa diobati oleh siapa pun, aku tidak akan mengobatinya. Tapi memuaskannya. Dan cara memuaskannya dengan membiarkanmu membunuhku.” Ucap Kimjun.

Jihyun tertegun, dia merasa ucapan Kimjun memang benar-benar dari hatinya. “Mengapa kau melakukan semua ini?”

“Bersenang-senang..” Jawab Kimjun dan tertawa kecil.

Jihyun menatap Kimjun kesal, “Bukan itu maksudku..”

“Sudahlah.. Yang penting kau sudah disini, ayo.. Akan kukenalkan pada yang lain..” Ajak Kimjun sambil menarik Jihyun keluar dari ruangan itu.

=Apartemen=

Hyunsik merasa hancur. Jihyun pergi begitu saja. Meninggalkannya bersama semua penyesalan dan cintanya. Ia menjalani hari-harinya dengan perasaan hampa. Kepergian Jihyun sangat berpengaruh padanya, pada kehidupannya.

Hyunsik menoleh ke arah dapur dan melihat ibunya menyiapkan makanan. Kakinya melangkah pelan kesana dan menatap ibunya tanpa ekspresi. “Eomma..”

“Kau sudah lapar? Sebentar..” Ucap Sunmi sambil tersenyum.

“Pergilah..” Ucap Hyunsik.

Sunmi tertegun, “Hyunsik-a?”

“Jaebal eomma..” Ucap Hyunsik, wajahnya melukiskan bagaimana hatinya hancur saat itu. “Jihyun tidak ada disini, jangan buat aku berharap dia akan kembali. Dia tidak akan kembali pada pria tak berguna sepertiku..”

Sunmi menatap Hyunsik sedih, “Hyunsik..”

Bulir air mata Hyunsik berjatuhan, “Jaebal eomma.. Dia tidak akan kembali.. Dia pergi meninggalkanku..”

Sunmi melangkah menghampiri Hyunsik dan memeluknya, “Miane Hyunsik-a, semua ini salah eomma..” Ucapnya menyesal.

Hyunsik terisak dibahu ibunya, “Eomma, dia benar-benar meninggalkanku..” Ucapnya pedih.

=Penjara=

Junhyung lepas kendali dan langsung menarik kerah baju Hyunsik, “Mwo?!!! Dia pergi?!!”

“Ya! Junhyung!” Ucap Gikwang sambil menahan Junhyung.

Hyunsik tertunduk menyesal di depan Junhyung, “Cesongeso..” Ucapnya pelan.

“Mwo?! Hanya itu yang bisa kau ucapkan?!” Tanya Junhyung, lalu melepaskan kerah baju Hyunsik kasar.

Dujun dan Hyunseung sejak tadi hanya diam dengan wajah marah. Akhirnya Dujun bangkit, “Detektif.. Kesempatanmu sudah habis.. Ayo..” Ucapnya sabil berjalan pergi.

Ketiga anggota Cube segera mengikuti Dujun pergi.

=Markas zero.zero.zero=

Tsssukk!!

Pisau yang dilempar Jihyun tepat mengenai sasarannya. Meskipun sudah lama tak menggunakan senjata, dia masih cukup mahir setelah melatihnya lagi.

Kimjun masuk dengan senyuman puas di wajahnya, “Good job, Jihyun..” Ucapnya.

Jihyun tersenyum memandang Kimjun, “Panggil aku Miss J, zero.zero.zero..”

Kimjun mengangguk, “Ne, Miss J..” Ucapnya, “Aku sudah memikirkan satu rencana bagus, mau dengar?”

“Mwo?” Tanya Jihyun.

Kimjun merangkul bahu Jihyun dan membawanya keluar dari ruangan itu.

“Tidak bisa berbicara disini?” Tanya Jihyun kesal.

“Ani.. Tidak terlalu baik berbicara diruang kecil..” Ucap Kimjun sambil tertawa, dia membawa Jihyun ke atap gedung. “Hmm.. Udara segar..” Ucapnya lega.

Jihyun memperhatikan langit yang sangat cerah saat itu, ketenangan itu membuatnya merindukan seseorang. Pria yang bisa membuatnya merasa lebih baik hanya karena menggenggam tangannya, namun dia tak pantas mendapatkan itu.

“Kau pernah mencintai seseorang yang seharusnya tidak pantas untukmu?” Tanya Kimjun.

Jihyun memandang Kimjun, lalu menghela nafas sambil memandang lurus kedepan. Angin berhembus membuat rambutnya berterbangan. “Ne..”

Kimjun tersenyum sedih sambil menatap udara kosong di depannya, “Miss J, kau tau mengapa aku memintamu bergabung dalam misi ini?”

“Wae?” Tanya Jihyun.

Kimjun menghela nafas dalam dan memandang Jihyun, “Aku ingin kau menjadi satu kakiku..”

Jihyun menatap Kimjun aneh, “Mwo?”

Kimjun mengulurkan tangannya pada Jihyun, lalu menarik jari gadis itu untuk merasakan denyut nadinya. “Kau bisa merasakannya?”

Dahi Jihyun berkerut karena tak mengerti maksud Kimjun, “Merasakan apa?”

“Detak jantungku..” Jawab Kimjun.

Jihyun merasa dipermainkan oleh Kimjun, “Ada dengan detak jantungmu? Terasa seperti mesin jahit, pelan, menusuk dan…..” Dia terdiam merasakan keanehan denyut nadi pria itu.

Kimjun tersenyum, “Aku memiliki bom waktuku sendiri..”

Jihyun sampai tak tau apa yang harus dia katakan.

Kimjun memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan kembali memandang langit. “Sebelum kalian menangkapku, aku sudah tau usiaku tidak akan lama. Kupikir mati dipenjara akan menyenangkan..” Dia menghela nafas berat, “Tapi aku kemudian berpikir, untuk apa mati ditempat menyedihkan seperti itu? Lebih baik aku melakukan apa yang kuinginkan hingga mati, itu pasti menyenangkan..”

“Tapi…semua orang akan mengejarmu, mengharapkan kematianmu, juga takut padamu..” Ucap Jihyun pelan.

Kimjun tersenyum lebar, “Itu bonus untukku.. Hahahaha..”

Jihyun menatap Kimjun aneh, “Ya.. Kau sangat mengerikan, kau tau?”

Kimjun mengangguk dengan ekspresi seperti anak kecil yang melakukan sesuatu hebat, “Sejak usiaku 16 tahun, aku mengidap sesuatu yang membuatku harus berurusan dengan dokter kejiwaan. Dia berkata aku mendapat trauma berat hingga tak bisa berpikir dengan logika lagi. Jika aku berusaha berpikir lurus, aku akan melakukan sesuatu gila seperti membunuh atau pun menghancurkan sesuatu. Dan aku menyukainya.. Hahahhaa..”

“Aissh.. Ya!! Pabo!!” Seru Jihyun kesal.

“Oh ya, saat aku menculikmu dan adikmu, aku sama sekali tidak bermaksud melukai kalian. Aku hanya ingin memberi peringatan pada para polisi itu, tapi ternyata adikmu meninggal. Aku juga tau kalau kau harus mendapat perawatan di rumah sakit jiwa karena itu.” Ucap Kimjun pelan.

Jihyun tertegun mendengar ucapan Kimjun, mengingat hari itu membuatnya kembali terpuruk.

“Aku akan membuka sebuah rahasia padamu, kau mau dengar?” Tanya Kimjun.

“Sejak tadi kau sudah mengatakan rahasiamu, masih ada lagi?” Tanya Jihyun lagi.

Kimjun tertawa kecil, “Aku punya banyak rahasia, mau tau tidak?”

“Apa lagi?” Tanya Jihyun.

“Ini tentang So-1..” Jawab Kimjun.

Jihyun tertegun lagi, “Ne? Ada apa dengannya?”

Kimjun tersenyum hangat, “So-1 sebenarnya adalah anak buahku..”

Mata Jihyun membesar, “Ne?!!”

Kimjun mengangguk, “Ne..”

“Tapi.. Dia kan anggota Cube!! Bagaimana mungkin… Ya!! Kau memata-matai adikmu sendiri?!!!” Tanya Jihyun tak percaya bercampur marah.

“Ani..” Jawab Kimjun, “Aku mengawasinya..”

“Ne?” Jihyun benar-benar tak mengerti apa yang dipikirkan pria dihadapannya.

“Aku juga tau So-1 memiliki wajah seperti adikmu, aku yang membuatmu mengetahui itu hingga akhirnya kau bergabung dengan Cube.” Cerita Kimjun, “Itu caraku menebus kesalahanku..”

Jihyun memandang Kimjun tak mengerti, “Tunggu, selama ini yang kutau kau pria tak berperasaan yang tega memburu adiknya sendiri. Tapi kenapa kau sekarang bertingkah seperti kau adalah malaikat dibalik semua kekacauan ini?!”

Kimjun berpikir sejenak, “Memburu?” Ucapnya, lalu tersenyum. “Aku mendidiknya..”

Jihyun terkejut, “Ya! Mendidiknya?! Kau hampir membunuhnya!! Berkali-kali!!”

Kimjun menerawang sedih kedepan, “Dia masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi saat semuanya terjadi. Aku berusaha menutupi semuanya dan membangun keberanian dalam dirinya..” Ucapnya, lalu menoleh pada Jihyun. “Aku tau apa yang kulakukan padanya sangat gila, tapi dengan begitu dia akan belajar bagaimana caranya membalasku. Dia akan semakin kuat hingga bisa melewatiku. Aku tidak ingin dia berpikir ada hal baik yang akan terjadi hingga semuanya menjadi baik-baik saja, karena itu tidak akan terjadi. Tidak akan pernah.. Jadi dia harus mempersiapkan dirinya sendiri untuk itu..”

Jihyun benar-benar tak percaya apa yang baru dia dengar, pria tak berperasaan di hadapannya ternyata adalah pria hebat yang luar biasa. “Kau melakukan itu?”

“Aku ingin merangkulnya ketika dia merasa tak sanggup berjalan, juga mengacak-acak rambutnya ketika dia merasakan patah hati karena seorang gadis. Tapi aku menolak melakukan itu dan memutuskan untuk menghancurkan masa kecilnya, karena aku tidak ingin dia tumbuh dengan sisi baik dunia. Aku ingin dia melihat dunia dari semua sisi buruknya, dengan begitu dia akan terpacu untuk lebih baik. Kau mengerti?” Ucap Kimjun.

Jihyun dapat merasakan matanya mulai basah mendengar ucapan Kimjun, “Kau tau apa yang dipikirkan Dujun tentangmu?”

“Aku adalah hyung terburuk sedunia..” Jawab Kimjun santai.

Jihyun tak dapat menahan dirinya, kakinya melangkah maju dan memeluk Kimjun. “Pabo.. Dia seharusnya sangat bangga menjadi adikmu..”

Kimjun tertawa kecil dan mengelus punggung Jihyun, “Karena itu, bantu aku..”

Jihyun melepaskan pelukannya dan memandang pria itu, “Apa rencanamu?”

Kimjun tersenyum lebar, “Bagaimana jika kita membuat kembang api di kantor-kantor polisi?”

Jihyun tertegun, “Ne?”

=Markas GET=

Hyunsik duduk termenung di mejanya sambil memandang layar ponselnya. Dia masih memasang wallpaper Jihyun yang tertidur dibahunya, ‘Kau baik-baik saja?’ Batinnya.

Minhyuk memandang Hyunsik sedih, dia tau temannya itu sangat kehilangan Jihyun. Perlahan dia menghampiri pria itu dan duduk di sebelahnya, “Hei..”

Hyunsik memandang Minhyuk, “Sudah kembali?”

Minhyuk tersenyum tipis, “Ne..” Jawabnya.

“Hmm..” Gumam Hyunsik dan melanjutkan pekerjaannya.

Minhyuk memegang bahu Hyunsik, membuat pria itu memandangnya. “Aku ikut sedih melihatmu seperti ini, kau kan detektive hebat. Kenapa tidak menyelidiki dimana Jihyun? Itu akan membuatmu merasa lebih baik..”

Hyunsik diam sejenak, lalu tersenyum tipis. Minhyuk tak tau bagaimana mahirnya Jihyun bersembunyi.

“Ya.. Berita besar!!” Ucap Eunji yang berlari menghampiri teman-temannya.

“Ada apa?” Tanya Chorong.

“Baru saja, kantor utama dan beberapa cabang meledak!” Cerita Eunji.

“Mwo?!!” Seru Hyunsik, Minhyuk, Yoseob dan Chorong.

“Ne.. Kita harus segera ke kantor utama. Pelakunya meninggalkan sebuah tanda..” Ucap Eunji.

“Ayo kesana..” Ucap Hyunsik.

Kantor Utama Kepolisian.

Anggota GET terkejut melihat gedung besar itu sebagiannya runtuh dan tak berbentuk.

“Siapa yang berani melakukan ini?” Tanya Yoseob tak percaya.

“Ayo lihat, ada sesuatu yang mereka tinggalkan di sebelah sana..” Ucap Eunji sambil melangkah ke dinding yang tersisa.

Semuanya mengikuti Eunji dan memperhatikan gambar kumpulan donat di dinding yang terbuat dari cat pilox. Dahi mereka berkerut karena tak mengerti maksud dari gambar itu.

“Apa maksudnya ini?” Tanya Minhyuk.

Hyunsik memperhatikan gambar-gambar itu, hingga dia menyadari ada 3 donat yang berjejer dengan warna yang sama. Saat itu dia terkejut, “Zero.zero.zero..” Ucapnya tercekat.

“Ne? Dia kan ada di penjara..” Ucap Chorong.

Hyunsik menatap teman-temannya bergantian, “Kita harus memeriksanya..”

=Markas zero.zero.zero=

Kimjun tak berhenti tertawa karena keberhasilannya meledakkan beberapa cabang kepolisian. Dia sampai membuat pesta di markasnya bersama semua anak buahnya.

“Yuhuuuuu.. Minum sampai pagi!!! Hahahahaha…” Tawanya, lalu meneguk bir di botolnya.

Jihyun hanya duduk di sebelah Kimjun sambil meminum bir di botolnya, dia tak begitu tertarik memperhatikan sekitar karena anak buah Kimjun yang semuanya pria sedang asik bersama gadis-gadis panggilan yang mereka sewa khusus untuk acara itu.

“Oppa.. Minum lagi..” Ucap seorang gadis yang duduk disisi Kimjun.

Jihyun berusaha tak mendengarkan atau pun peduli, namun para pria itu mulai gila karena mabuk. Jadi dia bergerak bangkit dan keluar dari tempat itu. Ia pergi ke atap gedung dan duduk memandangi langit bersama botol birnya. Kesunyian itu membuatnya semakin merindukan Hyunsik. Sekarang dia benar-benar telah berada di seberang pria itu, jadi dia tak akan bisa kembali. Bulir air matanya mengalir begitu saja mengingat betapa bahagianya dia bersama Hyunsik. Namun dia segera menyeka air matanya ketika mendengar seseorang datang.

Kimjun muncul bersama banyak botol bir ditangannya, “Hei.. Kenapa kau sendiri?” Tanyanya sambil ikut duduk di sebelah Jihyun dan meletakkan semua botol-botol itu.

“Kenapa kau kemari? Bukankah kau bersama gadis tadi?” Tanya Jihyun.

“Ahhh.. Gadis seperti itu bisa kupanggil lagi, biarkan saja..” Jawab Kimjun dan meminum bir di botolnya.

Jihyun menghela nafas dalam dan meminum bir dibotolnya, “Kau sudah memulainya, apa yang akan kau lakukan lagi?”

“Mmm.. Apa ya?” Ucap Kimjun sambil berpikir.

“Dasar, kau belum memilikinya?” Tanya Jihyun.

Kimjun tertawa, lalu memandang langit malam yang cerah. “Hmm.. Biasanya aku akan datang kemari jika aku merindukan seseorang..” Ucapnya, lalu memandang Jihyun. “Kau merindukan seseorang?”

Jihyun memalingkan wajahnya, “Ani..” Jawabnya dan meminum bir di botolnya hingga tak tersisa setetes pun.

Kimjun membuka botol lain dan memberikannya pada Jihyun, “Kau merindukan pria itu kan?”

Jihyun menatap Kimjun kesal dan mengambil botol bir tadi, “Jangan asal bicara..” Ucapnya dan kembali meneguk air di botol.

Kimjun tersenyum, “Aku bisa merasakannya dari tatapanmu..” Ucapnya.

“Diamlah..” Ucap Jihyun.

“Ayah dari bayimu..” Lanjut Kimjun.

Jihyun tertegun mendengar ucapan Kimjun.

“Miss J, hidup adalah pilihan. Jika kau ingin bersamanya, tinggalkan semua ini dan kembali. Tapi jika kau memang ingin meninggalkannya, tunjukkan padanya kau sekarang berada disisi yang berbeda..” Ucap Kimjun.

Jihyun menatap botol bir ditangannya.

“Jika kau benar-benar terlibat, kau tidak akan bisa berhenti hingga kau mati..” Ucap Kimjun.

Jihyun memandang Kimjun, pria itu seperti orang yang paling mengerti dirinya saat itu. “Aku akan melakukannya..”

Kimjun tersenyum, “Ayo.. Kita minum lagi..” Ucapnya senang.

Paginya.

Jihyun terbangun karena sinar matahari menyelinap masuk ke bawah pelupuk matanya, “Mmmm…” Gumamnya sambil memegang kepala. Bir semalam membuat kepalanya sangat sakit. Ketika mecoba bergerak, dia menyadari ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang. Dengan cepat dia bangkit sambil melepaskan pelukan itu, “YA!!!” Teriaknya sambil mendorong tubuh Kimjun menjauh.

Kimjun tersadar, “Ahhh… Mwoya?” Protesnya.

Jihyun segera memeriksa tubuhnya, bajunya masih lengkap dan tak terasa ada tanda-tanda pemerkosaan. Lalu menatap Kimjun yang masih tampak sangat mengantuk, “YA!! Apa-apaan kau?!!!”

“Aissh.. Disini dingin! Karena itu aku memelukmu..” Ucap Kimjun sebal sambil mengelus matanya dan bergerak duduk.

“Aissh!! Kau membuatku terkejut!!” Ucap Jihyun kesal.

Kimjun menggaruk-garuk leher dan tubuhnya seperti anak kecil bangun tidur, “Ahhh.. Dingin sekali..” Ucapnya.

Jihyun menatap Kimjun heran, lalu melihat semua botol yang dibawa pria itu semalam telah kosong. Berarti mereka minum hingga benar-benar mabuk dan tertidur disana.

“Ahhh..” Rintih Kimjun sambil memegang dada kirinya.

“Wae?” Tanya Jihyun.

Kimjun memejamkan mata dan mencengkeram dada kirinya, “Aarrgghhh…”

Jihyun terkejut melihat Kimjun terlihat kesakitan, “Ya.. Kau baik-baik saja?”

Satu tangan Kimjun memegang tangan Jihyun, menyampaikan pesan dia tidak baik-baik saja.

Kamar Kimjun.

“Oppa! Sudah kubilang jangan mengkonsumsi alkohol! Jantungmu akan bermasalah lagi!!!” Ucap Naeun kesal sambil menyuntikkan sesuatu ke tubuh Kimjun.

Kimjun meringis karena dada kirinya masih terasa sakit.

“Ya! Kenapa kau selalu seperti anak kecil?” Tanya Jihyun kesal.

“Ne, arasso.. Arasso..” Ucap Kimjun sebal.

Naeun menatap Kimjun dalam, “Oppa, jebal.. Berhentilah, kau harus mendapatkan pengobatan serius..”

Kimjun tersenyum, “Aniya.. Aku lebih suka menghancurkan sesuatu dari pada berbaring di tempat tidur..”

“Oppa..” Ucap Naeun, kedua matanya tampak basah dan bulir air berjatuhan.

Kimjun menyeka air mata Naeun, “Gwenchana, aku akan baik-baik saja..” Ucapnya, “Setelah aku meninggal semua penderitaanku akan pergi, benarkan?”

Naeun tak bisa menahan air matanya dan menunduk sedih.

“Aigoo.. Si kecil Naeun cengeng sekali..” Ucap Kimjun sambil memeluk gadis itu.

Jihyun tertegun melihat Naeun sampai menangis mendengar ucapan Kimjun.

Setelah memberi obat penenang untuk Kimjun, Naeun diantar Jihyun keluar markas.

“Naeun-ssi..” Panggil Jihyun.

“Ne?” Jawab Naeun.

“Mmm.. Apa kau sangat mengenal Kimjun? Kenapa kau sampai menangis mendengar ucapannya?” Tanya Jihyun ingin tau.

Naeun tersenyum tipis, “Mmm.. Aku tidak mengenalnya langsung, tapi ChunYang eonni sudah menceritakan semuanya padaku..”

“Apa yang diceritakan ChunYang? Bisakah kau memberitaukannya padaku?” Pinta Jihyun.

“Kau tau berapa jarak umur Kimjun oppa dan Dujun oppa?” Tanya Naeun.

Jihyun diam sejenak, “Mmm.. Aku saja tidak tau berapa usia Dujun..”

Naeun tertawa kecil, “Kimjun oppa dan Dujun oppa berbeda 10 tahun.”

“Ooh…” Jihyun mengangguk mengerti.

“Ketika Kimjun oppa berusia 12 tahun, dia menyaksikan kedua orang tuanya dibunuh di depan matanya.” Ucap Naeun.

Jihyun tertegun, “Ne?”

“Ayahku yang mengurus mereka sejak itu, tapi Kimjun oppa tidak bisa terlepas dari orang-orang yang telah membunuh orangtua mereka..” Lanjut Naeun, “Kimjun oppa bisa pulang sebulan sekali, atau bahkan tidak pernah pulang. Dia juga selalu membuat Dujun oppa kesal, bahkan sampai berkelahi habis-habisan. Tapi itu semua karena Kimjun oppa tidak ingin Dujun oppa merasakan apa yang dia rasakan..” Ucapnya sedih, “Tanpa sepengetahuan kami semua, ternyata Kimjun oppa diperbudak oleh orang-orang itu, dia dipaksa melakukan hal-hal mengerikan seperti mencuri dan membunuh. Dujun oppa tidak pernah tau kalau Kimjun oppa melakukan semua itu agar dia tidak ikut diperbudak seperti dia. ChunYang eonni juga tidak pernah tau Kimjun oppa bekerja keras untuk membantu kami membiayai kuliahnya, juga kuliahku..” Sebulir air mengalir dari matanya.

Jihyun terenyuh mendengar cerita Naeun, “Aku tidak percaya sekarang aku mengasihani orang yang membunuh adikku..”

Naeun tersenyum sambil menyeka air matanya, “Jihyun-ssi, mungkin aku tidak pantas mengatakan ini. Tapi, bisakah kau membantu Kimjun oppa?”

Jihyun mengangguk, “Ne..”

“Terima kasih..” Ucap Naeun, “Aku pergi sekarang..”

“Ne.. Terima kasih, Naeun-ssi..” Ucap Jihyun.

Jihyun kembali ke kamar Kimjun dan duduk disisinya. Ia merasa seperti terhubung dengan pria itu. Tangannya terulur dan menggenggam tangan pria itu, “Ya.. Seharusnya kau membunuhku juga saat itu, jadi aku tidak perlu mengkhianati adikku seperti ini..” Ucapnya pelan.

=Apartemen Hyunsik=

Hyunsik tertegun melihat Jihyun tersenyum pada bayi dipelukannya, gadis itu tampak sangat bahagia. “Jihyun?”

Jihyun memandang Jihyun, senyum gadis itu memudar. Berubah menjadi tatapan dingin dan penuh kebencian.

Hati Hyunsik seperti tertusuk belati tajam mendapat tatapan itu, “Jihyun-a.. Miane..”

“Kau membuatku kehilangan Soji! Jika aku tidak bertemu denganmu, aku tidak akan mengalami ini! Aku akan tetap baik-baik saja tanpa kau!! Kau dengar?!!!” Seru Jihyun.

Bulir air mata Hyunsik mulai berjatuhan dan menggeleng, “Ani.. Jangan katakan itu, kumohon.. Maafkan aku..”

“Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Kau adalah pria yang paling kubenci, Lim Hyunsik!!” Seru Jihyun.

Hyunsik tersentak dari tidurnya, dia kembali memimpikan Jihyun. Hidupnya dipenuhi penyesalan sekarang. Rasanya tak ada yang ingin dia lakukan lagi. “Jihyun, apa kau tidak akan kembali padaku?” Gumamnya pedih, bulir air kembali mengalir darinya.

Namun Hyunsik tetap harus memulai hidupnya lagi. Dia tak tau apakah dia bisa melewati semua itu, namun dia akan bangkit. Pagi itu juga seperti pagi sebelumnya, ibunya akan muncul dan membuatkannya sarapan.

Sunmi tersenyum, “Makanlah.. Eomma membuatkan semuanya untukmu..”

Hyunsik menghela nafas dalam dan mulai makan, “Eomma, kenapa selalu datang kemari?”

“Eomma tidak mau kau makan sembarangan, apalagi sampai tidak makan..” Ucap Sunmi.

“Aku baik-baik saja, eomma..” Ucap Hyunsik.

Sunmi menghela nafas dalam dan memegang punggung tangan Hyunsik, “Hyunsik-a, eomma juga menyesal karena Jihyun pergi. Tapi ini sudah berbulan-bulan berlalu. Jangan terus seperti ini, kau masih muda.. Nikmati hidupmu..” Ucapnya.

Hyunsik memandang ibunya, “Eomma..”

“Mwo? Sampai kapan kau akan berharap dia kembali padamu? Dia tidak akan kembali.. Kau tau? Jika seorang wanita telah terluka hatinya, akan sangat sulit menyembuhkannya.. Karena itu eomma meninggalkan appamu..” Ucap Sunmi menjelaskan.

Hyunsik tertegun mendengar ucapan Sunmi. Tubuhnya duduk bersandar sambil memandangi makanannya, lalu berpaling.

“Hyunsik-a..” Ucap Sunmi.

Sebulir air jatuh dari mata Hyunsik, dia menyadari dia benar-benar telah menyakiti perasaan Jihyun.

Sunmi tertegun, “Hyunsik-a..” Ucapnya sedih.

“Ne, eomma.. Dia tidak akan kembali.. Dia sangat membenciku.” Ucap Hyunsik pedih.

Sunmi menyeka air mata Hyunsik, “Menangislah, itu akan membuatmu lebih baik. Tapi setelah itu kau harus bangkit lagi! Temukan hidupmu yang baru..”

=Markas GET=

“Hei semua..” Sapa Hyunsik ketika dia masuk ke ruang kerja.

“Hyung, merasa lebih baik?” Tanya Yoseob.

Hyunsik tersenyum tipis dan duduk di tempatnya.

Chorong menghampiri meja kerja Hyunsik dan meletakkan sebotol minuman bervitamin.

Hyunsik memandang Chorong tak mengerti.

“Minumlah.. Wajahmu terlihat pucat akhir-akhir ini..” Ucap Chorong dan kembali ke tempatnya.

Hyunsik memandang botol itu sejenak, lalu menoleh ke arah Chorong yang duduk membelakanginya. Selama beberapa bulan ini dia mengakui gadis itu cukup banyak berubah, seperti awal mereka saling mengenal.

Keesokan harinya.

Terjadi peledakan lagi di cabang lain kantor kepolisian, GET berusaha menemukan siapa yang melakukan itu dengan melakukan olah TKP.

“Minhyuk, sepertinya yang melakukan ini zero.zero.zero lagi..” Ucap Hyunsik.

“Ne.. Mereka meninggalkan gambar donat lagi. Aahhhh.. Kenapa mereka menggunakan donat? Aku jadi ingin makan donat..” Ucap Minhyuk dan berjalan pergi.

Hyunsik menahan tawa mendengar ucapan pria itu.

Chorong menghampiri Hyunsik, “Sudah tau siapa yang melakukannya?”

“Zero.zero.zero..” Jawab Hyunsik.

Chorong menghela nafas berat, “Mmm.. Apa kau bisa meminta bantuan Agent D? Bukankah dia lebih mengenal zero.zero.zero?”

Hyunsik bingung harus menjawab apa, “Mmm.. Well, mereka tidak ingin bertemu denganku lagi sejak Jihyun pergi..” Ucapnya pelan.

Chorong tertegun, “Oh.. Maafkan aku..”

Hyunsik mengangguk kecil.

“Mmm.. Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?” Tanya Chorong hati-hati.

Hyunsik tersenyum tipis, “Ne..”

Chorong tersenyum, “Syukurlah..” Ucapnya, lalu berbalik.

“Chorong..” Panggil Hyunsik.

“Ne?” Jawab Chorong sambil berbalik.

“Ibuku mengundangmu makan malam dirumahnya, apa kau tidak keberatan?” Tanya Hyunsik.

Chorong diam sejenak mencerna ucapan Hyunsik, lalu tersenyum lebar. “Ne..”

“Baiklah, pukul 7 nanti aku akan menjemputmu..” Ucap Hyunsik.

Chorong tampak tersipu dan berjalan pergi.

=Markas zero.zero.zero=

Jihyun dan Kimjun berbaring di atap sambil memandangi langit sore.

“Awan disana berwarna putih..” Ucap Kimjun sambil menunjuk gumpalan awan dilangit.

Jihyun menatap Kimjun aneh, “Semua awan berwarna putih..”

Kimjun tertawa, “Kupikir kau tidak tau..”

Jihyun tertawa kecil, “Dasar kau..”

Kimjun menghela nafas dalam, “Miss J, kau bersedia membantuku?”

Jihyun menoleh kearah Kimjun, “Mwo?”

Kimjun menatap kedua mata Jihyun dalam, “Bisakah kau masuk ke penjara dan membebaskan adikku?”

Jihyun cukup terkejut mendengarnya, “Mwo?!”

Kimjun kembali memandang langit, “Aku tau hukumannya hanya 3 tahun, tapi aku tidak ingin dia disana. Dia harus segera keluar, aku sudah menyediakan tempat untuknya di California. Dia bersama anak buahnya..” Ia kembali memandang Jihyun, “Juga kau, akan aman disana..”

Jihyun tertegun, “Apa maksudmu?”

Kimjun tersenyum, “Aku tau Dujun menyayangimu seperti adiknya, karena itu aku akan menyelamatkan keluargaku. Kalian harus selamat..”

“Apa yang kau katakan?!” Tanya Jihyun kesal. Dia sangat takut mendengar ucapan Kimjun.

“Aku akan menyudahi teror ini, jadi kita semua bisa pergi bersama.. Ara?” Jawab Kimjun.

Jihyun menghela nafas lega, “Aissh.. Kupikir kau ingin bunuh diri..”

Kimjun tertawa, “Aniya.. Aku juga akan mati, untuk apa bunuh diri lagi.. Hahhahaa..”

Jihyun tertawa mendengar ucapan Kimjun. “Lalu, dimana lokasi terakhir?”

“Rahasia..” Ucap Kimjun dan tertawa.

“Aissh.. Kau ini..” Ucap Jihyun sebal.

=Penjara=

Dujun berbaring di tempat tidur sambil berpikir. Jihyun sudah menghilang berbulan-bulan dan tak pernah sekali pun menghubungi mereka.

Gikwang memandang Dujun heran, “Ya.. Kau masih saja berpikir, berhentilah.. Nanti otakmu lelah..”

Dujun menatap Gikwang kesal, “Diamlah..”

“Hmm.. Apa yang akan dilakukan Jihyun seorang diri? Dia pasti sangat terpukul karena kematian bayinya..” Ucap Junhyung.

“Kuharap dia tidak bunuh diri disuatu tempat..” Ucap Hyunseung.

“Ne.. Kuharap juga begitu..” Ucap Gikwang.

Tiba-tiba listrik mati, membuat 4 pria itu terkejut.

“Hmm? Ada apa ini?” Tanya Gikwang.

Duar!! Duar!! Duar!!

Terdengar ledakan dari sisi pintu masuk utama, keempat pria itu saling berpandangan bingung.

“Uhuk! Uhuk!! Ya!! Apa-apaan ini?!” Ucap Junhyung karena asap bermunculan.

Hyunseung melihat sesuatu terlempar ke jeruji besi mereka, “Awas!!!” Teriaknya sambil menarik teman-temannya menjauh dari sel.

Duarr!!! Ledakan itu membuat jeruji itu hancur.

“Uhuk!! Aissh.. Siapa yang melakukan ini?!!” Ucap Dujun kesal.

Tuk.. Tuk.. Tuk.. Terdengar suara sepatu hak tinggi mendekat, muncul seorang gadis dengan setelah hitam dan rambut panjang yang terikat kebelakang dengan senyum menawannya. “Hei, lama menunggu?”

Mata keempat pria itu membesar melihat Jihyun, “Jihyun?!!”

“Waktu kita 20 menit hingga cctv menyala kembali, ayo..” Ajak Jihyun.

“Kenapa kau melakukan ini?” Tanya Junhyung tak mengerti.

“Aku akan menjelaskannya, ikut aku..” Jawab Jihyun.

Keempat pria Cube saling berpandangan dan akhirnya setuju pergi bersama Jihyun.

=Markas zero.zero.zero=

Jihyun menghentikan mobilnya di depan markas dan turun.

Empat pria Cube yang sudah mengganti baju mereka turun sambil memperhatikan tempat itu.

“Tempat apa ini?” Tanya Gikwang.

Jihyun memandang Hyunsueng yang tampak menatapnya tak percaya, lalu memandang Dujun. “Markas zero.zero.zero..”

Semuanya menatap Jihyun kaget, “Mwo?”

Jihyun melangkah maju mendekati Dujun, “Markas zero.zero.zero..” Ucapnya.

“Mengapa kau membawa kami kemari?! Dan kenapa kau berhubungan dengannya?!!” Tanya Dujun marah.

“Dujun, semua yang terjadi tidak seperti apa yang kau pikirkan.. Kimjun menyiapkan tempat untuk kita di California.. Kita akan memulai hidup baru disana..” Jawab Jihyun.

“Jihyun!! Aku tak percaya kau mengkhianatiku!!” Seru Dujun.

“Ani! Aku tidak mengkhianatimu, aku melakukan ini demi kita semua..” Ucap Jihyun.

“Dujun..” Hyunseung memegang bahu Dujun, “Aku tau kau sangat membenci zero.zero.zero, tapi saat ini pilihan kita tidak banyak..” Ucapnya.

“Mwo?!! Kau juga percaya?! Aku lebih mengenalnya! Dia sangat licik! Kau tau?!” Seru Dujun dan berbalik.

Jihyun menarik Dujun dan menatapnya dalam, “Aku mempertaruhkan nyawaku Dujun, percaya padaku.. Jika ini hanya kelicikan Kimjun, kau bisa membunuhku dan pergi..”

Dujun menatap Jihyun kaget.

“Dujun, kita tak punya pilihan lain.. Setelah semua ini, kita akan dihukum mati karena melarikan diri juga melukai sipir penjara..” Ucap Junhyung.

“Ne, itu benar..” Ucap Gikwang.

“Kumohon..” Pinta Jihyun sepenuh hati.

Dujun berusaha tetap pada keputusannya, namun akhirnya dia menyerah. “Baiklah..”

Jihyun tersenyum, “Ayo masuk..” Ucapnya dan memimpin jalan masuk ke markas.

“Miss J, tuan zero.zero.zero sudah pergi sejam yang lalu..” Ucap pria penjaga pintu.

Jihyun tertegun, “Ne? Bukankah dia berkata akan menungguku?”

“Saya tidak tau..” Ucap pria itu.

Jihyun berpikir sejenak, lalu menatap teman-temannya. “Kalian tetap disini!” Ucapnya dan berlari kembali ke mobil.

“Ya.. Jihyun..” Panggil Gikwang bingung.

“Kemana dia?” Tanya Junhyung bingung.

“Apa kita harus menunggu diluar?” Tanya Dujun kesal.

“Ayo masuk..” Ucap Hyunseung dan melangkah ke pintu.

Penjaga itu langsung membukakan pintu.

“Kami belum makan apa pun, sediakan makanan..” Ucap Hyunseung pada orang didalam dan langsung masuk ke sebuah ruangan.

Dujun menatap Hyunseung bingung, “Bagaimana mungkin mereka langsung menurutimu?”

Hyunseung memandang Dujun, lalu dua temannya. “Karena aku tangan kanan zero.zero.zero..”

Semuanya terpaku ditempatnya menatap Hyunseung.

=Lokasi terakhir=

Hyunsik bersama teman-temannya bersiap di lokasi yang menurut mereka adalah sasaran berikutnya, ia akan menangkap biang keladi semua kekacauan ini.

“Belum ada tanda-tanda orang yang mencurigakan..” Ucap Minhyuk di earphonenya.

Anggota GET berpencar ditengah keramaian orang didepan gedung cabang kepolisian di pinggiran Seoul.

“Pantau terus..” Ucap Hyunsik.

Jihyun berusaha menyembunyikan wajahnya dengan mengenakan topi sambil mencari sosok Kimjun.

Hyunsik melihat seorang pria berjalan santai keluar dari gedung, dahinya berkerut karena merasa mengenal pria itu. “Dia!” Serunya dan langsung menarik bahu pria itu.

Kimjun yang mengenakan jaket dan celana jeans berputar memandang Hyunsik, dia langsung tersenyum. “Wuaa.. Kita bertemu lagi..”

“Aku mendapatkan….”

DUARRRR!!!

Ledakan besar terdengar dari dalam gedung, membuat semua orang terkejut dan berlarian panik.

Hyunsik menatap Kimjun marah, “Kau!!”

Kimjun tersenyum, “Ne..”

Hyunsik melayangkan pukulannya, Kimjun sama sekali tak mengelak. Namun ketika hendak melayangkan pukulan lagi, seseorang menendangnya. DUAAKK!! Dia terhuyung ke belakang. Lalu menatap siapa yang menendangnya sambil memegang dagunya.

“Pabo ya! Kenapa kau pergi seorang diri?!!” Seru Jihyun pada Kimjun.

Kimjun menyeka darah dari sudut bibirnya, “Karena ada yang menjual permen kesukaanku disekitar sini..”

“Aisssh!!” Ucapnya kesal.

“Jihyun?” Ucap Hyunsik tak percaya.

Jihyun menatap Hyunsik. Pria itu benar-benar ada dihadapannya sekarang, namun dia tak akan mundur. “Kita bertemu lagi, dektektif..” Ucapnya dingin.

“Apa kau ingin mengobrol dulu? Aku ingin membeli permen..” Ucap Kimjun.

Jihyun menatap Kimjun kesal, “Ya!!”

“Jihyun!” Ucap Hyunsik sambil memegang kedua bahu Jihyun dan menatapnya dalam.

Jihyun menatap Hyunsik tajam dan menendangnya hingga terjungkal ke belakang, lalu menarik Kimjun ke tengah keramaian itu. “Kita bertemu di mobil..” Ucapnya dan berpencar.

Hyunsik tak lagi memikirkan Kimjun, dia langsung mengejar Jihyun dan menarik tangannya di tengah keramaian.

Jihyun terkejut Hyunsik dapat menariknya, “Lepaskan!” Serunya.

“Maafkan aku..” Ucap Hyunsik sepenuh hatinya.

“Hyunsik!! Hyunsik!!” Teriak Chorong dan Minhyuk yang berusaha mencapai Hyunsik di tengah keramaian.

Jihyun menghentak tangannya, namun Hyunsik tetap menahannya.

“Kau bekerja untuk zero.zero.zero?” Tanya Hyunsik tak percaya.

Jihyun menatap Hyunsik tajam, “Ne!! Aku ide dari semua kekacauan ini!” Ucapnya, lalu tersenyum sinis. “Hebatkan?”

“Wae?” Tanya Hyunsik.

“Agar aku bisa membunuhmu!” Jawab Jihyun.

Hyunsik tertegun, hatinya kembali terasa sakit. “Lakukan sekarang..” Ucapnya.

Jihyun tertegun.

“Lakukan sekarang, Jihyun.. Bunuh aku.. Sekarang!” Ucap Hyunsik dengan bulir air mata berjatuhan.

Jihyun terdiam menatap kedua mata Hyunsik, pria itu terlihat sangat tulus.

“Cepat! Bunuh aku!” Ucap Hyunsik.

“Micheoso?!” Seru Jihyun dan menyentak tangannya, lalu berjalan pergi.

Hyunsik langsung memeluk Jihyun erat dari belakang, “Jangan pergi, kumohon..”

Hati Jihyun bergetar mendengar ucapan Hyunsik, namun dia tak ingin menyerah. “Lepaskan!”

“Lebih baik kau membunuhku dari pada pergi begitu saja..” Ucap Hyunsik.

Mata Jihyun terpejam menahan air matanya, “Aku harus pergi..”

“Jangan pergi..” Mohon Hyunsik.

“Aku harus… Biarkan aku pergi..” Ucap Jihyun pelan.

Hyunsik menghela nafas dalam dan melepaskan pelukannya.

Jihyun langsung berjalan cepat pergi.

“Kau tau kemana kau harus kembali, Jihyun!!” Seru Hyunsik.

Jihyun berhenti dan memandang Hyunsik, lalu kembali melangkah pergi.

=Markas zero.zero.zero=

Dujun tak mengatakan apa pun. Dia tak percaya orang yang selama ini bersamanya adalah mata-mata Kimjun.

Kimjun masuk ke ruangan Cube dan duduk di hadapan Dujun, “Kau siap berangkat?”

Dujun menatap Kimjun dingin, “Kapan kau akan mengirim kami ke California?!! Aku bersumpah akan langsung membunuhmu jika kau mempermainkanku!”

Kimjun tersenyum, “Ne.. Kau serius sekali.. Pesawat jetku akan berangkat dua hari lagi. Nikmati saja waktumu hingga dua hari lagi..” Ucapnya, lalu bangkit dan berjalan keluar.

Atap Markas.

“Kau tau kemana kau harus kembali, Jihyun!!”

Ucapan Hyunsik itu terus berputar-putar dikepala Jihyun. Dia memejamkan matanya dan menutup telinganya.

Kimjun keluar dari pintu dan melihat Jihyun menutup kedua telinganya, perlahan dia menghampiri gadis itu dan duduk disebelahnya. “Hei…”

Jihyun terkejut dan langsung membuka mata dan telinganya.

Kimjun tersenyum, “Kau mengingat pria itu? Apa yang dia ucapkan?”

“Hm? Bukan apa-apa..” Jawab Jihyun, berusaha terlihat biasa.

Kimjun memandang langit sambil tetap tersenyum, “Kita berangkat lusa. Kesempatan terakhirmu untuk menemuinya adalah sekarang..”

Jihyun menatap Kimjun.

Kimjun memandang Jihyun dan mengelus rambutnya, “Sadarlah Jihyun, jangan lukai hatimu terus menerus. Temui dia, kau akan merasa lebih baik.”

“Apa maksudmu?” Tanya Jihyun.

“Kita berangkat lusa, jika kau ingin pergi, datanglah..” Jawab Kimjun, lalu bangkit dan berjalan pergi.

Jihyun diam memikirkan ucapan Kimjun, lalu memandang langit.

=Apartemen Hyunsik=

Hyunsik berbaring di tempat tidurnya sambil memandangi photo Jihyun di ponselnya, lalu menukar photo dengan photo Soji yang sempat dia ambil. “Seharusnya ini keluarga bahagia kita, Jihyun..” Gumamnya.

Ting! Tong!

Hyunsik menghela nafas dalam, lalu bergerak bangkit. Meskipun dia ingin seorang diri saat itu, dia tetap berencana membukanya. Ternyata yang datang Chorong, dia kembali menghela nafas dalam ketika menekan tombol pembuka otomatis.

Terdengar bunyi pintu terbuka khas, muncul Chorong dengan senyuman manisnya. “Annyeong, sudah makan? Aku membawa cake..” ucapnya sambil memperlihatkan kotak cake ditangannya.

Hyunsik tersenyum tipis.

Chorong melangkah cerita ke ruang tengah dan meletakkannya di meja, “Aku akan mengambil pisau dan garpu..” ucapnya sambil melangkah ke dapur.

Hyunsik duduk di sofa sambil memandang cake itu, ternyata didalamnya cake coklat. Jihyun sangat suka cake coklat.

=Flashback=

“Kau mau cake coklat atau keju?” Tanya Hyunsik sambil memandang layar ipadnya.

“Coklat..” jawab Jihyun tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.

“Baik, kau ingin yang besar atau yang kecil?” Tanya Hyunsik.

“Beli saja, kenapa banyak bertanya?” Tanya Jihyun kesal.

Hyunsik tertawa, “Araso..” ucapnya.

=Flashback end=

“Hyunsik?” panggil Chorong.

“Hm?” jawab Hyunsik yang tersadar dari lamunannya.

Chorong memandang Hyunsik bingung sambil memegang bahunya, “Waeyo?”

Hyunsik memandang tangan Chorong di bahunya, terasa sangat berbeda dengan sentuhan Jihyun. Walaupun sering kasar dan ketus, sentuhan Jihyun sangat lembut.

“Kau melamun terus, ada apa?” Tanya Chorong khawatir.

Hyunsik tersenyum tipis, “Ani, gwenchana..”

Chorong menatap Hyunsik dalam, “Apa karena Miss J?”

Hyunsik tertegun, “Mmm.. miane..”

Chorong memeluk leher Hyunsik dan mengistirahatkan dagunya ke bahu pria itu, “Kau harus melupakan Miss J, Hyunsik.. Aku ada disini untukmu. Aku tidak akan meninggalkanmu seperti dia..”

Hyunsik tak tau apa yang harus dia lakukan, “Chorong..” ucapnya sambil berusaha melepaskan pelukan gadis itu.

Chorong memeluk Hyunsik lebih erat, “Jangan Hyunsik, bukalah hatimu untukku..”

Hyunsik menghela nafas berat, perlahan tangannya terangkat dan memeluk Chorong, “Maafkan aku Chorong..”

Terdengar suara khas pintu terbuka, namun tak terdengar suara siapa pun.

Hyunsik menoleh kearah pintu dan langsung terkejut melihat Jihyun menatapnya tanpa berkedip, “Jihyun!!” ucapnya sambil mendorong Chorong dan langsung berdiri.

Chorong tertegun melihat Jihyun.

“Jihyun, ini tidak seperti yang kau pikirkan..” ucap Hyunsik.

Jihyun menatap Chorong, lalu menatap Hyunsik dengan senyuman sinisnya. “Kau benar, detektif.. aku selalu tau kemana aku harus pulang, pastinya bukan tempat ini..” ucapnya dingin, lalu berbalik ke pintu.

“Jihyun!!” panggil Hyunsik sambil mengejar Jihyun. “Jihyun.. dengarkan aku..” ucapnya, akhirnya dia berhasil menarik tangan gadis itu hingga berputar memandangnya.

Jihyun menatap Hyunsik dingin, “Lepas!” serunya.

“Aku tidak melakukan apapun, kau hanya masuk disaat yang tidak tepat! Kumohon!!” ucap Hyunsik berusaha menjelaskan.

“Untuk apa kau menjelaskannya? Aku tidak butuh penjelasanmu..” ucap Jihyun dingin, lalu berbalik.

Hyunsik menarik Jihyun lagi, “Kita bicara di apartemen, jangan seperti ini. Kumohon..” pintanya.

“Tidak perlu, aku pergi!” ucap Jihyun.

“Jihyun..” mohon Hyunsik.

“Lepaskan aku!!” seru Jihyun.

Hyunsik memegang kedua bahu Jihyun, “Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi!!”

Jihyun menendang perut Hyunsik dengan lututnya, namun pria itu sudah tau gerakannya. Hyunsik membenturkan lututnya dan lutut Jihyun, lalu mengunci gerakan tangan gadis itu.

Jihyun tak kehilangan akal, dia membenturkan dahinya ke wajah Hyunsik. DUAKK!!!

“Arrrrghh!!!” seru Hyunsik dan spontan melepaskan Jihyun untuk memegang hidungnya yang mulai berdarah.

Jihyun melayangkan tinjunya ke wajah Hyunsik, DUAKKK!!!!

Hyunsik terhuyung ke dinding, “Ahh…”

“Kau beruntung aku tidak membunuhmu, detektif..” ucap Jihyun dingin dan berjalan.

Hyunsik menahan sakit diwajahnya dan menarik tangan Jihyun lagi, “Aku tidak peduli sebanyak apa kau memukuliku, aku akan menerima semuanya..”

Langkah Jihyun terhenti, dia sangat kesal Hyunsik selalu mengalah padanya. Dia kembali berbalik menatap pria itu marah, tanpa ragu dia langsung menendang perut pria itu dengan lututnya.

DUAKK!! “Arrggh!!” seru Hyunsik dan jatuh ke lantai.

Jihyun menatap Hyunsik yang meringkuk di lantai marah, “Berhenti mengalah padaku!! Kau membuatku merasa bodoh!!”serunya, lalu menendang kaki Hyunsik.

“Arrrrgghh!!” rintih Hyunsik.

Bulir air mata Jihyun berjatuhan melihat Hyunsik kesakitan. Ssseet!! Sesuatu mengenai punggungnya, “Ahhh…” rintihnya, tubuhnya terasa lemah.

Hyunsik memandang Jihyun bingung, apalagi tiba-tiba gadis itu jatuh ke atas tubuhnya. “Jihyun..” panggilnya sambil mengguncang tubuh gadis itu, namun tak ada jawaban. Saat itu dia melihat sesuatu menancap di dekat bahu Jihyun, sebuah peluru bius.

“Hyunsik! Gwenchana?” Tanya Chorong panic.

Mata Hyunsik membesar melihat Chorong memegang pistol bius, “Chorong! Dimana kau mendapatkan itu?!”

“Aku memang selalu membawanya untuk keadaan seperti ini..” ucap Chorong.

Hyunsik bangkit perlahan sambil melepaskan peluru bius di bahu Jihyun, “Jihyun..” panggilnya, namun gadis itu akan kehilangan kesadarannya sekitar 2 jam kedepan.

“Kau bisa bangkit?” Tanya Chorong.

Hyunsik berdiri sambil menggendong Jihyun, lalu membawanya ke apartemen. Dia langsung membaringkan gadis itu ke kasur. Untuk berjaga-jaga, dia mengikat kedua tangan dan kaki gadis itu agar tidak bisa kabur. Lalu keluar kamar, menemui Chorong yang tampak khawatir.

“Hyunsik, kau terluka..” ucap Chorong sambil memegang pipi Hyunsik.

Hyunsik menghindari tangan Chorong, “Gwenchana..” ucapnya pelan.

“Hyunsik, kau harus mengirimnya ke rumah sakit jiwa! Bukan kemari!” ucap Chorong kesal.

Hyunsik memandang wajah Chorong, “Maaf, tapi bisakah kau pergi? Aku tidak ingin diganggu saat ini..” ucapnya pelan.

Chorong memandang Hyunsik sedih, lalu melangkah cepat ke sofa untuk mengambil tas tangannya dan keluar.

Hyunsik menghela nafas berat, lalu melangkah ke dapur untuk membersihkan dari di hidungnya. Batang hidungnya jadi sedikit bengkak karena benturan kepala Jihyun. Dia sempat terkesan kemampuan gadis itu bertambah baik.

Tak lama Hyunsik kembali masuk ke kamar dan duduk di sebelah Jihyun. Matanya menelusuri seluk beluk wajah gadis itu, sama sekali tidak berubah dari terakhir kali dia menatapnya seperti ini. Senyuman terbentuk dari bibirnya, “Aku akan mempertahankanmu.. Bagaimana pun caranya..” ucapnya pelan.

Dua jam kemudian.

Dahi Jihyun berkerut dan membuka matanya perlahan. Pandangannya sempat kabur beberapa saat, hingga dia menyadari kedua tangan dan kakinya terikat. “Ah! Mwoya!!” serunya sambil berusaha melepaskan diri.

Hyunsik yang sempat tertidur langsung terjaga mendengar seruan Jihyun, “Oh.. kau sudah sadar..” ucapnya sambil merenggangkan tubuh.

“Apa-apaan ini?! Cepat buka!!” seru Jihyun.

Hyunsik menghela nafas dalam menatap Jihyun, “Ani.. Aku tidak akan membukanya hingga kita berbicara..”

“Bicara apa?! Aku tidak ingin berbicara denganmu!!” teriak Jihyun.

Hyunsik menatap Jihyun dalam, “Wae?”

“Lepaskan aku, Lim Hyunsik!!!” teriak Jihyun sambil terus berontak.

“Aku sering menanyakan ini padamu, tolong jawab sejujurnya saat ini..” ucap Hyunsik, “Mengapa kau selalu membuatku menjadi pria jahat disaat aku ingin membantumu?”

Jihyun menatap Hyunsik marah, “Jika kau tidak membukanya sekarang, aku akan menghabisimu Hyunsik!!!”

Hyunsik menunduk sedih, “Apa kau bahagia bersamaku, Jihyun?”

“Hyunsik!!!” teriak Jihyun lagi.

Hyunsik diam sejenak, lalu mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sakunya. “Aku akan memberikanmu ini, tapi sebelumnya, aku ingin kau menjawab pertanyaanku satu ini..”

“Cepat berikan!!!” teriak Jihyun.

Hyunsik kembali merasakan dinding tebal diantara dia dan Jihyun, itu membuatnya sangat sedih. “Apa kau menyesali kelahiran Soji?”

Jihyun terdiam mendengar pertanyaan Hyunsik, kali ini dia tak sanggup berteriak.

“Tolong jawab aku, Jihyun..” pinta Hyunsik.

Jihyun menggigit bibir bawahnya, tidak tau apa yang harus dia jawab.

Hyunsik merasa hancur. Selama ini dia sama sekali tidak dapat masuk ke dunia Jihyun, itu berarti dia tak akan bisa bersama gadis itu. Bulir air matanya berjatuhan begitu saja, “Aku tidak bisa menjadi pria yang baik untukmu, maafkan aku..” ucapnya penuh sesal.

Jihyun merasa bersalah melihat Hyunsik menangis, ‘Kau adalah pria yang terlalu sempurna untukku, Hyunsik..’ batinnya.

Hyunsik memandang Jihyun sedih, “Apa kau memang ingin pergi dariku?”

Jihyun berusaha keras menahan air matanya, “Ne..” jawabnya, beruntung suaranya tidak bergetar saat menjawab.

Wajah Hyunsik menyiratkan luka di hatinya, “Kau benar-benar menginginkannya?”

“NE!!! LEPASKAN AKU SEKARANG!!!” teriak Jihyun, tenggorokannya sampai terasa sakit.

Tangan Hyunsik bergetar ketika bergerak untuk memotong tali yang mengikat tangan Jihyun.

Jihyun langsung meloncat dari kasur dan berjalan ke pintu, namun ada yang aneh karena Hyunsik tidak menahannya. Perlahan kepalanya menoleh ke belakang, tampak pria itu menatap kosong ke tempat tidur dengan bulir air berjatuhan dari matanya.

Saat itu Hyunsik mengingat bagaimana Jihyun tersenyum dan tertawa bersamanya di tempat tidur itu, sekarang semua itu hanya akan menjadi kenangan pahit untuknya.

“Selamat tinggal, Hyunsik..” ucap Jihyun, lalu berjalan keluar dari kamar. Namun dia kembali merasa ada sesuatu yang aneh karena Hyunsik tidak menahannya, ‘Dia melepaskanku?’ batinnya sedih sambil berhenti sebelum membuka pintu depan, ‘Tidak ada lagi kekeraskepalaanku?’ dia memejamkan mata dan menunduk membiarkan bulir air matanya berjatuhan. ‘Baiklah.. ini yang seharusnya terjadi, selamat tinggal..’ batinnya lagi dan membuka pintu, tapi kakinya tidak melangkah keluar. Melainkan terpaku ditempatnya beberapa saat, ‘Tunggu, mengapa Hyunsik membiarkanku pergi semudah ini?’ batinnya, lalu berbalik memandang kamar. Terdengar bunyi khas pintu tertutup dibelakangnya. Kakinya kembali melangkah ke kamar, entah kenapa hatinya berkata ada sesuatu yang salah disana.

Hyunsik membuka laci meja kerjanya, diatas meja masih tertata rapi alat make up dan barang-barang Jihyun seperti saat gadis itu masih tinggal disana. Tangannya mengambil pistol laras pendeknya beserta pengedap suara, lalu memasang pengedap suara itu dan memeriksa peluru disana.

Ketika Jihyun mengintip kedalam melalui pintu yang terbuka lebar, matanya langsung melotot melihat Hyunsik mengarahkan pistol tadi kekepalanya. “Hyunsik!!!” teriaknya sambil berlari ke dalam.

Hyunsik tak sempat menekan pelatuk pistol karena Jihyun merebut pistol itu.

“YA!! Apa yang kau lakukan?!!!” seru Jihyun marah.

Hyunsik memandang Jihyun tanpa ekspresi, “Berikan padaku..” ucapnya.

Jihyun menatap Hyunsik tak mengerti, “Apa yang kau lakukan?” tanyanya pelan.

“Berikan padaku..” ucap Hyunsik lagi.

Jihyun menggeleng, “Pabo ya!” ucapnya sambil memukul bahu Hyunsik.

Hyunsik menatap Jihyun tegas, “Aku menghargai keputusanmu untuk pergi, jadi hargai keputusanku untuk mati!”

Jihyun mendengar keputusasaan dalam nada bicara Hyunsik, “Wae? Ini bukan dirimu, Hyunsik..”

“Diriku atau bukan, itu bukan urusanmu!” ucap Hyunsik dingin, lalu merebut pistol tadi dari tangan Jihyun. “Kau ingin tetap disini dan melihatku mati? Atau kau ingin pergi dan hanya mendengar kabar kematianku?”

Jihyun sangat takut mendengar ucapan Hyunsik, “Hyunsik, berikan pistol itu.. Kau tidak pantas melakukan ini.”

“Tidak pantas? Wae? Karen hanya kau yang boleh melakukan semaumu? Aku akan melakukan apa yang kumau, jadi jangan pedulikan aku seperti yang biasa kau lakukan..” ucap Hyunsik dan kembali mengangkat pistol itu kekepalanya.

Jihyun menahan tangan Hyunsik, “Andwae! Jangan lakukan ini..”’

Hyunsik menatap Jihyun putus asa, “Aku berusaha menjadi yang terbaik untukmu, tapi aku bahkan tidak bisa menyentuh siapa kau yang sebenarnya.”

Mata Jihyun mulai dipenuhi air, ‘Kau sudah melakukannya, Hyunsik..’ batinnya dengan bulir air berjatuhan dari matanya.

Hyunsik tersenyum dalam tangisnya, “Aku membuat hidupmu sulit kan, Jihyun? Pergilah.. kau akan lebih baik jika tidak bersamaku..”

Jihyun menunduk sesaat dan menatap Hyunsik sedih, “Aku pergi tidak untuk melihatmu mati, Hyunsik.. Aku pergi agar kau memiliki hidup yang normal, kau tidak perlu terus mengalah pada gadis tak tau diri sepertiku..”

Hyunsik menggeleng dan memegang kedua pipi Jihyun, “Hidup normal seperti apa yang akan kujalani jika kau tidak disisiku?”

Jihyun memegang tangan Hyunsik di pipinya dan menatap kedua mata pria itu dalam.

Hyunsik menyeka air mata Jihyun dengan ibu jarinya, “Kau tidak perlu mengasihani pria memalukan sepertiku, Jihyun.. Aku akan melepaskanmu, aku tidak akan menahanmu lagi..”

Jihyun tak bisa menghentikan tangisnya, “Kau ingin tau mengapa aku ingin pergi?”

Hyunsik mengangguk pelan.

“Karena…” Jihyun menghela nafas berat, “..kau tidak akan menjalani kehidupan yang baik bersamaku..”

“Apa yang….”

“Sssst.. dengarkan aku..” potong Jihyun. “Kau selalu mengalah dan mengalah atas keegoisanku, kau melakukan apa pun untuk membuatku bahagia, kau memberikanku semangat dan kekuatan untuk tetap hidup. Kau melakukan semua itu Hyunsik. Tapi semakin sering kau melakukannya, aku semakin sadar jika kau dan aku sangat berbeda.. kau tidak pantas mendapatkan gadis mengerikan sepertiku, kau lebih pantas mendapatkan gadis berkelas seperti Chorong…” jelasnya.

Hyunsik menggeleng, “Aniya, Jihyun.. Tidak ada yang lebih pantas bersamaku selain dirimu, hanya dirimu..”

Bulir air mata Jihyun semakin deras berjatuhan, “Kau tadi bertanya, apakah aku bahagia bersamamu?” tanyanya, “Ne, aku sangat bahagia.. Sangat-sangat-sangat bahagia. Kau pria pertama yang membuatku merasa dihargai, membuatku sadar aku juga ingin bahagia. Tapi sampai kapan kau akan bersabar untukku?”

“Aku akan terus bersabar untukmu, aku tidak akan bisa menemukan seseorang yang special sepertimu lagi Jihyun..” ucap Hyunsik.

“Kau juga bertanya, apakah aku menyesali kelahiran Soji?” lanjut Jihyun, “Ani.. aku sangat menginginkan kelahirannya. Meskipun dia tak bisa bertahan, meskipun aku baru bisa menyentuhnya hanya untuk melepas kepergiannya, aku bahagia telah melahirkannya. Karena dia adalah anakmu..”

Hyunsik menatap Jihyun tak mengerti, “Lalu, mengapa kau tetap ingin pergi? Mengapa kau ingin meninggalkanku?”

“Pada dasarnya aku adalah sampah Hyunsik, kau yang membuatku merasa seperti berlian paling berharga didunia..” ucap Jihyun.

“Kau memang berlian yang berharga, Jihyun..” ucap Hyunsik.

“Tapi akhirnya aku sadar, aku bukan berlian. Aku tetap sampah yang akan terus menjadi sampah..” ucap Jihyun.

“Berhenti memikirkan dirimu, Jihyun! Selama ini kau terus mempertahankan dinding besar  diantara kita! Aku berusaha terbuka padamu, memberikan apa yang kupunya untukmu, tapi aku tetap tak bisa menemukan siapa kau sebenarnya!” ucap Hyunsik, “Aku tidak peduli kau sampah atau pun berlian! Aku hanya ingin dirimu! Karena aku mencintaimu! Kenapa kau tak bisa mempercayaiku?!”

Jihyun memegang bahu Hyunsik dan menempelkan dahinya di dada pria itu, “Karena aku mempercayaimu, aku tidak ingin kau terluka karena kehadiranku..”

Hyunsik memeluk Jihyun erat, “Aku hanya ingin kau berada disisiku, mendampingiku hingga kita tua..”

Jihyun akhirnya menyerah pada perasaannya, kedua tangannya memeluk pria itu dan membiarkan semua kelemahannya disambut oleh Hyunsik dan merasa kuat karena kehadirannya.

=Markas zero.zero.zero=

“Jihyun pergi? Aissh.. dan dia membiarkan kita disini?” Tanya Dujun kesal.

“Mungkin dia pergi menemui Hyunsik..” ucap Junhyung.

Semuanya terdiam memandang Junhyung, lalu mengangguk berat.

“Ya.. membicarakan apa?” Tanya Kimjun yang tiba-tiba muncul.

Dujun menatap Kimjun dingin, lalu berjalan pergi.

“Ya.. aku baru datang..” ucap Kimjun kesal.

=Apartemen Hyunsik=

Hyunsik membuka matanya perlahan dan langsung tersenyum melihat Jihyun masih terlelap disisinya, tangannya bergerak pelan mengelus pipi gadis itu. Harinya langsung terasa menyenangkan hanya karena gadis itu ada bersamanya lagi.

Jihyun merasakan sentuhan lembut di pipinya dan membuka mata, bibirnya membentuk senyuman.

“Kuharap aku bisa melihatmu setiap pagi aku membuka mata..” ucap Hyunsik.

“Nanti kau bosan..” ucap Jihyun.

Hyunsik menggeleng, “Tidak akan..” ucapnya dan mengecup dahi gadis itu lembut. “Kau ingin aku membuatkanmu sesuatu?”

“Bukankah memang kau yang selalu membuatkanku sesuatu?” canda Jihyun.

Hyunsik tertawa kecil, “Ne..” ucapnya dan bergerak bangkit, “Ayo.. aku akan membuatkanmu sarapan..”

Meja makan.

Jihyun memandang Hyunsik yang makan sambil terus tersenyum dihadapannya. Dia masih ingin memberitau priai tu tentang rencana Kimjun, namun dia tak tau cara yang tepat.

Hyunsik menyadari ekspresi Jihyun terlihat aneh, “Waeyo?”

Jihyun menghela nafas dalam, “Kau tidak bertanya mengapa aku bergabung dengan zero.zero.zero?”

Hyunsik diam sejenak, “Mmm.. wae?”

“Karena aku ingin berseberangan denganmu. Kau seorang polisi, aku seorang penjahat. Kita tidak akan bertemu..” ucap Jihyun.

Hyunsik menatap Jihyun, “Mmm.. anggap aku tidak menanyakannya..” ucapnya dan kembali makan.

Jihyun sedih melihat Hyunsik yang berusaha berpura-pura tidak tau apa pun, “Aku yang menghancurkan penjara Seoul dan membawa teman-temanku kabur..”

Hyunsik menatap Jihyun kaget, “ne?”

“Aku melakukan kejahatan besar, Hyunsik. Kali ini prediket gila tidak akan membantuku, aku akan dihukum berat karena ini..” ucap Jihyun.

Hyunsik terdiam menatap Jihyun.

“Besok…” ucap Jihyun lagi, “Aku, Cube dan zero.zero.zero akan pergi ke California..” ucapnya memberitau.

“Mwo? Kau tidak akan pergi!” tegas Hyunsik.

Jihyun menggeleng, “Aku harus pergi..”

Hyunsik menghela nafas dalam sambil meletakkan sumpit ditangannya.

“Aku bukan sekedar pembunuh bayaran sekarang, aku penjahat besar. Aku yang memasang bom di beberapa cabang kepolisian..” jelas Jihyun lagi.

“kenapa kau melakukan semua itu?!!” Tanya Hyunsik marah.

“Karena, seberapa besar cintaku padamu. Atau pun sebaliknya. Kita tetap berada di tempat yang berbeda..” jawab Jihyun. “Jika aku tidak pergi, mungkin aku akan dihukum seumur hidupku..”

Hyunsik menunduk sedih dan kembali menatap Jihyun, lalu berdiri dan pergi dari meja makan.

Jihyun menyeka air mata yang mengalir di pipinya dan hanya duduk diam disana untuk menenangkan dirinya.

Hingga malam, Hyunsik tidak mengatakan apapun. Meskipun memandang Jihyun, dia hanya akan menatapnya sedih.

Jihyun masuk ke kamar dan melihat Hyunsik berbaring di tempat tidur dengan tatapan kosong ke langit-langit, perlahan dia naik ke tempat tidur dan membaringkan kepalanya ke dada pria itu. Tak ada satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan untuk waktu yang lama.

“Apa kau akan tetap mencintaiku?” Tanya Hyunsik pelan.

Mata Jihyun kembali digenangi air mendengar pertanyaan Hyunsik, dia hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.

“Apa kau….” Hyunsik diam sejenak, “..akan kembali padaku?” Tanya Hyunsik lagi.

Jihyun tidak tau untuk jawaban yang satu itu, “Aku tidak tau…” jawabnya.

Dengan lembut Hyunsik membaringkan Jihyun ke bantalnya dan menatap gadis itu dalam, “Kau harus kembali, Jihyun..”

Jihyun tak bisa berjanji, dia tak ingin Hyunsik terus menunggunya. “Aku tidak bisa berjanji, Hyunsik..”

Hyunsik memegang kedua pipi Jihyun, lalu mencium gadis itu lembut.

Jihyun memejamkan matanya, ingin merasakan kelembutan pria itu terakhir kalinya.

Hyunsik menarik wajahnya dan kembali menatap Jihyun, “Saat kau merasa harus kembali, dan kau masih merasakan cintamu untukku. Datanglah padaku, arasso?”

Bulir air mata Jihyun mengalir lagi, “Ne..”

Hyunsik memajukan wajahnya dan kembali mencium Jihyun lembut.

2 am.

Jihyun membuka matanya dan diam sejenak ditempatnya. Tangannya perlahan mengelus tangan Hyunsik di pinggangnya. Dengan hati-hati dia melepaskan pelukan itu dan menyibak selimut. Tanpa menimbulkan suara dia mengenakan pakaiannya lagi, sebelum pergi dia sempat menatap pria itu sedih. ‘Jika kita memang ditakdirkan bersama, aku pasti akan kembali padamu Hyunsik..’ batinnya, lalu segera keluar.

Didepan gedung apartemen.

Chorong yang menyelidiki mengenai Jihyun menunggu di depan gedung apartemen bersama anggota GET yang lain. Dengan begitu mereka bisa melacak dimana zero.zero.zero.

“Apa tidak apa-apa seperti ini, Hyunsik hyung akan marah jika kita melakukan ini..” ucap Yoseob.

Chorong menatap Yoseob kesal, “Jadi kau akan ikut menyembunyikan penjahat seperti Hyunsik?”

Yoseob tidak bisa mengatakan apa pun lagi.

“Itu! Ada yang keluar!” ucap Eunji.

Chorong langsung memperhatikan seorang gadis yang berjalan keluar dari gedung apartemen, “Itu Miss J! ikuti dia!”

Yoseob memandang Minhyuk yang langsung menjalankan perintah Chorong, sejujurnya dia lebih ingin menyelamatkan Jihyun demi Hyunsik daripada menghancurkan rekan kerjanya itu. Diam-diam dia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan untuk Hyunsik.

Hyunsik sebenarnya tidak tidur, dia sengaja berpura-pura tidur agar Jihyun tidak merasa berat untuk pergi. Matanya terbuka dan memandangi ruang kosong disisinya, tangannya terangkat dan mengelus bantal kepala Jihyun. “Aku akan menunggumu, Jihyun..” gumamnya. Ponselnya berbunyi, tangannya terulur ke meja disebelah tempat tidur dan melihat pesan itu. Mendadak matanya melotot membaca isi pesan itu, “Aissh!” ucapnya sambil meloncat dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya.

=Markas zero.zero.zero=

Dujun tertegun mendengar cerita Hyunseung mengenai mengapa Kimjun memerintahkannya ada di Cube, “Dia mengawasiku?”

Hyunseung mengangguk, “Ne, dia ingin memastikan kau terus belajar dari kesalahanmu. Karena itu dia terus memberikanmu masalah..”

Dujun tampak berpikir, “Tapi, apa gunanya dia melakukan itu?”

“Agar kau bisa berdiri dengan kakimu sendiri..” jawab Hyunseung.

“Sial! Dia benar-benar tak punya akal sehatnya lagi!” ucap Dujun kesal.

“Memang..” ucap Jihyun yang baru datang dan duduk disebelah Dujun.

Dujun memandang Jihyun bingung, “Kau tidak tinggal bersama Hyunsik?”

Jihyun menggeleng, “Ani, aku akan pergi bersama kalian..”

“Kau yakin?” Tanya Hyunseung.

Jihyun mengangguk pelan.

Dujun tersenyum tipis, “Kau bisa melewatinya..”

Jihyun tersenyum tipis, namun dia kembali teringat masalah Kimjun. “Kau tau bagaimana orangtuamu meninggal?”

“Ne, dibunuh mafia yang akhirnya membuat Kimjun berkuasa seperti ini..” jawab Dujun malas.

Jihyun menghela nafas dalam, “Dan…” lanjutnya, “Apa kau tau Kimjun menyaksikan pembunuhan itu dengan mata kepalanya sendiri?”

Dujun tertegun mendengar ucapan Jihyun dan memandang gadis itu tak mengerti, “Mwo? Siapa yang mengatakannya padamu? Dia berkata tidak ingat apa pun tentang masa kecil kami selain saat dia mematahkan tanganku di lapangan hokey..” ucapnya kesal.

Jihyun menatap Dujun sedih sambil menggeleng, “Dia mengingat semuanya dengan jelas, tapi tidak ingin kau tau sedikit pun..”

Kali ini Dujun terbungkam, “Ne?”

“Dia tidak mendapatkan kekuasaan dari pada mafia yang membunuh orangtua kalian, tapi diperbudak oleh mereka untuk melakukan hal-hal buruk.” Jelas Jihyun lagi.

“Ne? tapi tidak ada yang mengatakannya padaku..” ucap Dujun tak percaya.

“Karena itulah dia selalu memperlakukanmu dengan buruk..” ucap Hyunseung, membuat Dujun dan Jihyun memandangnya. “Agar kau tidak mencaritau tentangnya, agar kau membencinya hingga akan terus berusaha lebih baik darinya..”

Dujun menatap Hyunseung dan Jihyun bergantian, dia tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. “Pria brengsek itu melakukannya untukku?”

Jihyun dan Hyunseung mengangguk.

Dujun tertawa pedih, “Bangsat tua!” gumamnya.

“Ya.. ayo pergi..” ucap Junhyung memberitau.

Jihyun memandang Dujun, “Khaja..”

Perlahan Dujun bangkit bersama Hyunseung dan Jihyun. Mereka langsung keluar markas karena Kimjun bersama anggota Cube yang lain sudah menunggu. Mereka akan pergi ke bandara tertutup untuk naik pesawat jet yang di sewa Kimjun dan berangkat ke California.

Dujun menatap Kimjun marah dan masuk ke mobil.

Kimjun bingung mengapa Dujun menatapnya seperti itu, “Ada apa dengannya?” ucapnya sendiri.

“Ayo berangkat..” ucap Hyunseung sambil masuk ke mobil.

Jihyun duduk di kursi tengah bersama Dujun dan Hyunseung, di belakang Gikwang dan Junhyung. Sementara Kimjun duduk di kursi paling depan bersama supir.

“Ya, kau tidak berpamitan pada Naeun?” Tanya Jihyun ketika mobil mulai berjalan pada Kimjun.

Kimjun menghela nafas dalam, “Aku sudah memberitaunya kemarin, jadi tidak perlu berpamitan lagi..”

“Dasar kau ini..” ucap Jihyun, lalu memandang Dujun yang terus menatap keluar mobil marah. Paling tidak pria itu sudah tau apa yang sebenarnya terjadi.

Dujun merasa marah dan sedih di saat yang bersamaan, rasanya dia ingin mengamuk pada Kimjun karena memperlakukannya bertolak belakang dengan apa yang ingni dia sampaikan. Saat itu dahinya berkerut melihat sebuah mobil yang berusa menyamakan kecepatan dengan mobil yang mereka naiki, sepertinya mobil itu tidak asing dimatanya. Matanya melotot melihat kaca jendela terbuka, tampak Chorong yang membidik supir. “YA!!!” Serunya memperingati supir, namun terlambat.

Dor!! Pria yang mengendarai mobil tersentak dan tak bisa mengendalikan stir.

“Ya!!!” seru Kimjun sambil berusaha mengambil alih stir.

“Oh!!” seru Jihyun karena melihat mobil tak terkendali dalam kecepatan tinggi.

“Sial!!” seru Hyunseung dan langsung memeluk Jihyun untuk melindunginya.

Mobil berguling-guling beberapa kali hingga kembali ke posisi semula di pinggir jalan. Semua orang didalamnya tak sadarkan diri karena benturan keras itu.

“Ya!! Chorong!! Kau mencelakai mereka semua!!” seru Eunji.

Minhyuk memarkirkan mobil tak jauh dari tempat kejadian tadi, “Yoseob! Hubungi polisi dan ambulance!” serunya sambil melepaskan safety belt dan berlari kearah mobil itu.

Chorong melakukan hal yang sama.

Dujun mengernyitkan dahinya dan bergerak sedikit, “Ahhh..” rintihnya sambil memegang tengkuk. Darah mengalir didahinya, perlahan dia menegakkan kepalanya dan memandang ke sekitar. “Ya… ya.. Jihyun.. Hyunseung..” panggilnya sambil mengguncang kedua orang itu.

Jihyun membuka matanya perlahan, “Ahhh..” rintihnya sambil memegang belakang lehernya.

“Aww..” rintih Gikwang sambil bergerak duduk.

“Ahh.. kepalaku..” ucap Junhyung.

Jihyun memandang Hyunseung, “Hyunseung.. Hyunseung..” panggilnya sambil mengguncang tubuh pria itu.

Dahi Hyunseung berkerut dan membuka matanya perlahan, “Ahh..”

“Kalian baik-baik saja?” Tanya Dujun.

“Ne..” jawab Gikwang.

Jihyun memandang pria yang mengendarai mobil, sudah jelas pria itu tidak selamat. Lalu memandang Kimjun yang terkulai di kursinya. “Ya.. ya…” panggilnya sambil mengguncang pria itu.

Dujun tertegun melihat Kimjun tak memberi respon, “Ya..” panggilnya.

“Sial! Mereka mendekat!” ucap Junhyung yang melihat Minhyuk dan Chorong mendekat dengan senjata di tangan mereka.

“Ayo!!” ucap Gikwang sambil mengambil senjatanya dan turun dari mobil bersama Junhyung.

“Berhenti!” seru Junhyung sambil menodongkan senjatanya.

“Kalian tidak akan lepas kali ini!” ucap Chorong sambil tetap menodongkan pistolnya.

Dujun turun dari mobil dan segera mengampiri pintu di sebelah Kimjun, “Ya!!” serunya sambil menarik pria itu keluar.

“Kimjun!” panggil Jihyun panic.

Dahi Kimjun berkerut dan membuka matanya, “Ahh..”

“ohh.. syukurlah..” ucap Jihyun lega.

“Kalian baik-baik saja?” Tanya Kimjun.

“Menurutmu?” Tanya Dujun kesal, lalu berdiri dan bergabung dengan Gikwang dan Junhyung menodongkan pistolnya.

Jihyun membantu Kimjun duduk, “Ya, segera minta bantuan pada markas. Mobil kita rusak parah, tidak mungkin bisa membawa kita ke bandara..”

Kimjun memandang mobilnya, “Ahh.. sial, padahal ini favoritku..”

“Aissh.. tidak ada gunanya kau mengatakan itu sekarang!” ucap Jihyun.

Hyunsik muncul disaat yang tepat, “Ya! Chorong! Minhyuk! Turunkan senjata kalian!” serunya sambil berlari turun.

“Mwo? Dan membiarkan mereka pergi? Cih! Kau benar-benar, Hyunsik!” ucap Chorong tak percaya.

“Turunkan senjata kalian!” ucap Hyunsik.

Minhyuk memandang Hyunsik dan menurunkan senjatanya, begitu juga Gikwang dan Junhyung. Namun Chorong tak mau menurunkan senjatanya.

“Chorong! Turunkan senjatamu!” ucap Hyunsik sambil menarik tangan Chorong.

Chorong mengarahkan pistolnya pada Hyunsik, “Kau polisi Hyunsik!!”

Hyunsik terkejut melihat Chorong menodongnya.

“Ya!! Turunkan senjatamu!!” ucap Dujun.

“Jika aku tidak bisa membunuh mereka, kau yang akan kubunuh Hyunsik!” ucap Chorong marah.

Dengan cepat Dujun memeluk Chorong dari belakang dan berusaha merebut senjata itu dari tangan gadis itu, tapi gadis itu tak ingin menyerah.

DOR!!!

Semua orang terkejut mendengar letusan senjata itu, lalu saling berpandangan memastikan tidak ada yang terkena. Namun Jihyun terkejut merasakan Kimjun memeluknya erat, perlahan pria itu melemah dan terbaring di depannya. Kedua tangannya gemetaran menyadari peluru itu seharusnya mengenainya, namun Kimjun melindunginya.

“Tuan!!” seru Hyunseung.

Dujun terpaku melihat Kimjun terkapar.

Chorong sendiri terkejut melihat darah Kimjun membasahi aspal.

“Kimjun?” ucap Jihyun tak percaya sambil memegang kedua pipi Kimjun.

Kimjun terbatuk dan memutahkan darah, lalu memandang Jihyun sambil tersenyum. “Gwencha..na?”

“mwoya?!! Kau sekarat!! Pabo!!” seru Jihyun.

Dujun berlari menghampiri Kimjun dan berlutut di sebelah Kimjun, “Ya!! Aku mengapa kau yang terkena peluru itu?!” ucapnya tak percaya, sebenarnya itu pertanyaan untuk dirinya sendiri.

Eunji dan Yoseob tertegun melihat kejadian itu.

Kimjun memandang Dujun dan memegang bahunya sambil tersenyum, “Kau sudah melakukan yang terbaik.. Aku bangga padamu..” ucapnya pelan.

Dujun benar-benar shock, bulir air matanya berjatuhan begitu saja menyaksikan Kimjun sekarat. “Brengsek, apa yang kau katakan?! Kita akan pergi ke California! Jangan bertingkah kau akan mati!!”

“Ani.. sejak awal itu memang untukmu, kau yang harus tinggal disana..” ucap Kimjun.

“Apa yang kau katakan?! Pria brengsek sepertimu tak pantas mengatakannya!!” seru Dujun dengan bulir air mata tetap mengalir.

Kimjun tertawa kecil, namun darah yang keluar dari mulutnya semakin banyak. “Kau sangat hebat Dujun.. Aku bangga memilikimu sebagai adikku..”

“Pabo! Tentu saja kau bangga padaku!” ucap Dujun dan menangis dengan kepala tertunduk.

“kau pemimpin mereka, jangan menangis.. Pabo..” ucap Kimjun.

Dujun tak sanggup menahan kesedihannya saat itu, selama ini dia selalu memimpikan bisa membunuh Kimjun seperti itu. Namun saat itu dia benar-benar menyesalinya, “Kau harus tetap mendidikku dengan cara gilamu, hyung…”

Kimjun kembali tersenyum, “Kau memanggilku hyung? Sudah lama sekali..” ucapnya.

“Hyung, aku masih membutuhkanmu..” ucap Dujun ditengah tangisnya.

Hyunsik menghampiri Jihyun yang tak bisa menahan air matanya menyaksikan Dujun dan Kimjun, lalu merangkul gadis itu.

Jihyun memeluk Hyunsik dan menangis di bahunya.

Kimjun menggeleng pelan, “Kau sudah bisa berdiri dengan kakimu, tugasku sudah berakhir Dujun..”

“Aniya! Hyung! Aku masih lemah.. jangan pergi begitu saja!” ucap Dujun.

Kimjun tersenyum lemah, perlahan ekspresinya menghilang dan menutup matanya.

Dujun melotot melihat Kimjun memejamkan matanya, “Hyung! Hyung!!!” teriaknya.

Gikwang memegang bahu Dujun.

Semuanya tertegun mendengar sirene dari kejauhan.

“Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Junhyung.

“Kita tidak bisa pergi kebandara seperti ini, tidak mungkin kita berlari kesana..” jawab Gikwang.

“Jadi kita menyerahkan diri saja?” Tanya Hyunseung.

Hyunsik memandang Jihyun yang tampak bingung, “Gunakan mobilku..” ucapnya tiba-tba.

Semuanya memandang Hyunsik, “ne?”

Hyunsik melemparkan kunci mobilnya pada Junhyung, “Cepat! Pergilah! Aku akan menutupi kepergian kalian dengan terbunuhnya zero.zero.zero..” ucapnya.

“Tapi…”

“Cepat!!” seru Hyunsik.

Suara sirene itu membuat mereka tak bisa berpikir jernih, “Ayo.. kita pergi!” ucap Hyunseung sambil bangkit, yang lain langsuang berlari ke mobil Hyunsik. “Ayo Dujun..” ajak Hyunseung sambil menarik Dujun dan membawanya ke mobil Hyunsik.

Jihyun berjalan cepat bersama yang lain, namun baru beberapa langkah dia berhenti dan berbali memandang Hyunsik.

“Pergilah..” ucap Hyunsik.

Jihyun berlari memeluk Hyunsik dan memberikan ciuman perpisahan pada pria itu. “Aku beruntung mengenalmu, Hyunsik..” ucapnya pelan.

Hyunsik tersenyum sedih, “Aku juga..” ucapnya.

Dengan berat hati Jihyun berlari ke mobil dan pergi bersama teman-temannya.

Hyunsik memandangi mobil itu sedih. Dia tak tau apakah itu adalah pertemuan terakhirnya bersama Jihyun, dia tidak akan menyesalinya. “Sampai jumpa, Jihyun..” gumamnya.

=Sebulan kemudian, California=

Jihyun merasa tidak nyaman dengan perutnya selama beberapa hari, juga selalu merasa mual di pagi hari.

Gikwang memijat pundak Jihyun, “Aneh.. kau seperti wanita hamil..” ucapnya heran.

Jihyun memandang Gikwang kesal, “Bagaimana aku bisa hamil?”

Hyunseung memandang Jihyun serius, “Apa kau berhubungan intim dengan Hyunsik setelah Soji meninggal?” tanyanya.

Jihyun memandang Hyunseung, “Ani, aku….” Ucapannya terputus mengingat hari saat dia datang ke apartemen Hyunsik. Mulutnya terbuka mengingat dia memang berhubungan intim dengan Hyunsik. “Oh! Aku melakukannya saat kembali ke apartemen..”

“Ne? oh my god! Dan kita akan membesarkan anak kecil disini?” ucap Junhyung tak percaya.

Jihyun memandang perutnya tak percaya, ‘Aku hamil?’ batinnya tak percaya. Seulas senyum muncul di bibirnya, ‘Aku akan kembali Hyunsik.. aku bersama anak kita..’ batinnya penuh haru, bulir air mata berjatuhan di pipinya.

Keempat pria lain tertegun melihat Jihyun tersenyum namun air matanya mengalir, itu berarti berita baik untuk mereka.

“Dia harus memanggilku appa!” ucap Dujun langsung.

“Ne? aniya! Aku yang dipanggil appa..” ucap Gikwang.

“Kalau begitu dia kan memanggilku Papa..” ucap Hyunseung dan tertawa.

“Aissh.. memangnya kalian ayahnya..” ucap Junhyung, lalu memandang Jihyun. “Dia harus memanggilku daddy..” ucapnya.

Jihyun tertawa kecil melihat keempat pria itu mendukung kehamilannya. ‘Eomma akan menjagamu dengan baik, kau akan hidup.’ Batinnya.

=5 tahun Kemudian=

Hyunsik tersenyum melihat Eunji yang berjalan sambil memegang pinggangnya karena perut besar itu membuatnya sering merasa lelah, “Eunji, berhentilah berjalan kesana kemari.” Ucapnya.

Eunji menghela nafas berat, lalu memandang kebelakang. “Yobo-a, kenapa tidak membantuku?” tanyanya manja.

Yoseob segera menghampiri Eunji, “ne, miane..” ucapnya menyesal.

Hyunsik tertawa kecil. Banyak terjadi selama 5 tahun ini. Seperti Yoseob yang akhirnya memberanikan diri melamar Eunji tahun lalu, sekarang mereka akan segera mendapatkan anak pertama. Minhyuk masih belum memikirkan pernikahan karena dia masih terlalu sibuk dengan para kekasihnya. Chorong pindah tugas setelah kejadian itu, dia tak ingin bekerja sama dengan orang yang tak bisa sejalan dengannya.

Hari ini seperti hari sebelumnya, ibunya akan memintanya mengikuti kencan buta lagi. Tapi dia tetap menolaknya.

“Hyunsik-a, kenapa kau tetap menolak kencan buta itu? Usiamu sudah 34 tahun, kenapa kau masih sendiri?” Tanya Sunmi tak habis pikir.

Hyunsik tersenyum, “Eomma, istriku masih hidup.. jangan seperti itu..”

“Aigoo, kenapa kau selalu berkata seperti itu? Dia sudah pergi selama 5 tahun tanpa kabar..” ucap Sunmi kesal.

“Gwenchana, lagi pula pekerjaanku semakin berat. Aku belum ingin memikirkan penikahan lainnya..” ucap Hyunsik menahan senyuman.

Sunmi menghela nafas kesal dan tidak mengatakan apa pun lagi.

Suatu sore, Hyunsik mendapat sebuah surat yang mangatakan dia harus datang ke taman di sekitar apartemennya. Meskipun tidak tau siapa yang mengirimnya, dia tetap datang untuk memastikan apa yang orang itu inginkan. Namun sudah hampir satu jam tidak ada orang yang menghampirinya. “Apa itu hanya surat iseng?” ucapnya sendiri sambil memandang jam tangannya.

Saat itu seorang gadis kecil berlari kecil menghampiri Hyunsik dan memandanginya dengan mata polos kecil itu.

Hyunsik memandang gadis kecil itu dan tersenyum, “Annyeonghaseo..” sapanya sambil menyamakan tinggi mereka.

Gadis itu tersenyum malu, “Ahjussi, wajahmu mirip sekali dengan appa-ku..” ucapnya polos.

Hyunsik tersenyum lebar, “Hmm.. jinja? Semirip apa?”

“mmm..” gadis kecil itu memperhatikan wajah Hyunsik, “Hidungmu mirip sekali.. lihat, hidungku seperti itu juga..” ucapnya sambil memegang hidung kecilnya.

Hyunsik tertawa kecil, “Ne, hidung kita sangat bagus..” ucapnya sambil mengelus kepala gadis itu, “Mmm.. Ireumi mwoyeyo(siapa namamu)?”

“Lim Sohyun imnida..” jawab gadis kecil itu bersemangat.

Hyunsik tertegun mendengar nama gadis kecil itu, “Siapa?”

“Lim.So.Hyun ahjussi..” ucap gadis bernama Sohyun itu memperjelas namanya.

Hyunsik benar-benar tak percaya dengan pendengarannya, “Berapa usiamu, sayang?”

“Mmm..” Sohyun berpikir, lalu menoleh kesamping. “Eomma, usiaku berapa?”

Hyunsik menoleh kearah gadis itu bertanya, mulutnya langsung terbuka melihat orang yang selama ini selalu dia nantikan.

Jihyun tersenyum, “5 tahun, Sohyun..” jawabnya

Hyunsik menatap Sohyun tak percaya, lalu menatap Jihyun. “Jihyun-a, dia….”

Jihyun mengangguk, “Sohyun kita..”

Hyunsik menatap Sohyun penuh haru dan langsung memeluknya erat, bulir air mengalir dari matanya. Ia tak percaya gadis itu adalah putrinya. Dia bergerak berdiri sambil menggendong Sohyun karena tak ingin berpisah dari putri kecilnya. Dia melebarkan satu tangannya pada Jihyun.

Jihyun tersenyum dan memeluk Hyunsik.

Hyunsik mencium dahi Jihyun, “Akhirnya kau kembali..”

Jihyun mengangguk dengan bulir air mata haru mengalir dipipinya.

“Eomma, kenapa ahjussi ini menciummu?” Tanya Sohyun tak mengerti.

Jihyun tersenyum pada Sohyun, “Sohyun-a, ini appa..” jawabnya.

Sohyun menatap Hyunsik tak percaya, “Appa?”

Hyunsik mengangguk, “Ne, appa..”

Sohyun tampak bingung, “Jadi ahjussi bukannya mirip appaku tapi memang appaku?”

Hyunsik tertawa kecil, “Ne, Sohyun-a..”

Sohyun tersenyum lebar, “Appa!” ucapnya riang dan memeluk Hyunsik.

Apartemen.

Jihyun menidurkan Sohyun di tempat tidur sambil menyanyikan lullaby.

Hyunsik tersenyum memperhatikan Jihyun sudah berubah menjadi ibu yang luar biasa.

Jihyun memandang Hyunsik, “Wae?”

Hyunsik menggenggam tangan Jihyun dan mencium punggung tangannya, “Berjanji kau tidak akan pergi lagi..”

Jihyun tersenyum, lalu mengangguk. “Aku akan mengikuti kemana suamiku pergi sekarang..”

Hyunsik senang mendengar ucapan Jihyun dan menciumnya lembut.

“Shhh.. Sohyun tidur..” ucap Jihyun sambil mendorong Hyunsik, pria itu hanya tertawa pelan dan berbaring di sebelah putri kecilnya.

=Rumah Sunmi=

“Eommanim, aku kembali..” ucap Jihyun dan membungkuk sopan.

“Sohyun-a, beri salam pada nenek..” ucap Hyunsik.

Sohyun tersenyum lebar dan berlari menghampiri Sunmi, “Halmoni, annyeonghaseo..”

“Omo! Cantik sekali..” ucap Sunmi sambil memangku Sohyun.

“Keurom eomma, istriku sangat cantik, tentu putriku cantik juga..” ucap Hyunsik.

Jihyun tersenyum mendengar ucapan Hyunsik.

Sunmi mengelus rambut Sohyun dan memandang Jihyun, “Jihyun-a, eomma jeongmal miane..” ucapnya menyesal.

Jihyun mengangguk, “ne, eomma..”

“Halmoni, eomma berkata kimchi buatanmu sangat enak. Aku ingin mencobanya..” ucap Sohyun manja.

Sunmi memandang Sohyun, “Jinja? Khaja..” ajaknya dan mengajak gadis kecil itu ke dapur.

Hyunsik berpandangan dengan Jihyun dan saling tersenyum, “Ayo..” ajaknya dan ikut kedapur.

Jihyun senang semuanya berjalan dengan baik, meskipun harus membesarkan putrinya hingga berusia 5 tahun seorang diri, dia senang sekarang Hyunsik ada bersamanya.

===THE END===

Advertisements

4 thoughts on “GET the Cube: I Know You Love Me!

  1. Aahh sedih banget… Sumpah aku nangis di part yg ini 😥
    akhirnya perjuangan jihyun ama hyunsik gak sia2 dan sunmi akhirnya mau nerima jihyun..
    Tapi kaget lho.. Aku pikir kimjun emg jahat.. Tapi ternyata.. Dia hanya menjadi kakak yg baik bagi dujun :’)
    akhirnya terjawab deh kenapa hyunseung tuh tertutup banget xD ahh sohyun.. Kamu imut banget yahh sayang.. 😀

      1. Heheheh… Btw thor, aku nanya donk *banyak tanya ya gw -_-
        itu kenapa nama agent nya hyunseung So-1?? Artinya apasih??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s