Uncategorized

GET the Cube!!

Get the CubeCast:

Cube:

– Jihyun ‘4Minute’

– Dujun ‘Beast’

– Junhyung ‘Beast’

– Hyunseung ‘Beast’

– Gikwang ‘Beast’

GET:

– Hyunsik ‘BTOB’

– Minhyuk ‘BTOB’

– Yoseob ‘Beast’

– Dongwoon ‘Beast’

– Eunji ‘A-Pink’

– Chorong ‘A-Pink’

Kepolisian Seoul harus menghadapi penjahat-penjahat hebat yang lebih mengandalkan kepintaran mereka dibandingkan kekerasan fisik. Mereka sampai membentuk sebuah devisi khusus bernama GET untuk menangkap penjahat-penjahat itu. Sudah banyak organisasi-organisasi kejahatan yang telah mereka lumpuhkan, namun ada satu organisasi yang sama sekali tidak bisa mereka sentuh. Cube.

GET terdiri dari bebrapa orang berpengalaman dan memiliki kelebihan hebat dibidangnya. Diketuai oleh pria tampan dan sangat baik dalam mengatur strategi, Son Dongwoon. Seorang gadis yang sangat mahir menggunakan senjata berapi dan ahli beberapa jenis bela diri, Park Chorong. Sang ahli computer dan jenius dalam menelusup di dunia maya, Jung Eunji. Pria berkarisma dan memiliki taktik hebat untuk mengungkat sebuah kejahatan, Lim Hyunsik. Pria berwajah imut yang bisa menipu siapa saja dengan senyuman manisnya dan bisa menggunakan senjata dengan baik, Lee Minhyuk. Dan yang termuda dari mereka semua, Yang Yoseob.

“Bos.. Cube memiliki 5 anggota..” Ucap Eunji yang akhirnya berhasil menembus benteng pertahanan Cube.

Dongwoon langsung menghampiri Eunji dan memandang layar komputernya, “Ne?! siapa saja mereka?!”

Hyunsik, Minhyuk dan Chorong ikut menghampiri, “Nugu?”

“Ini..” Eunji membuka sebuah folder dan memandang Dongwoon, “Ada 4 orang pria dan 1 wanita. Agen J, D, G, So-1 dan Miss J..”

Dahi ketiga pria itu berkerut tanda tak mengerti.

“Ini perasaanku saja atau mereka memang memiliki nama panggung seperti idol sekarang?” Tanya Minhyuk bingung.

“Aku akan berusaha masuk lagi..” ucap Eunji sambil berusaha menerobos lebih dalam. Namun baru beberapa saat dia mengetik sesuatu, komputernya tidak memberi respon. “Hm? Kenapa ini?” ucapnya bingung dan mencoba mengklik mouse, tetap tak terjadi apapun.

“Wae?” Tanya Hyunsik.

Tiba-tiba layar computer Eunji mati, semua orang disana tertegun menatap layarnya dengan dahi berkerut. Lalu kembali menyala dengan sebuah laman bertuliskan: ‘Jangan memancing Peperangan!!’ dan kembali mati.

Mereka hanya bisa menatap layar computer shock.

“Mereka tau kita menyusup?” ucap Eunji tak percaya.

“Sial! Mereka lebih tangguh dari yang kukira!” ucap Dongwoon kesal.

“Aku akan memesan computer baru..” ucap Chorong yang sejak tadi asik mengemut lollipop sambil bermain game di ipadnya sambil mengambil gagang telepon dan menghubungi bagian peralatan.

Eunji memandang Dongwoon, “Bos, bagaimana?”

Dongwoon memejamkan mata sambil memijat pangkal hidungnya frustasi.

Di markas lain.

“Hahahahahahha…” Anggota Cube tertawa terbahak-bahak setelah mengirimkan virus yang merusak computer GET.

Cube terdiri dari Agent D, Yoon Dujun, yang merupakan pemimpin mereka. Agent J, Yong Junhyung, penembak jitu dan ahli strategi. Agent G, Lee Gikwang, ahli computer dan programmer hebat, terutama dalam membuat virus seperti tadi. So-1, Jang Hyunseung, ahli pertempuran dan penyamaran. Miss J, Nam Jihyun, ahli mengenakan pistol dan pisau, petarung hebat, bertolak belakang dari penampilannya yang cantik dan anggun.

“Aku yakin mereka harus mengganti computer dengan lebih canggih..” tawa Gikwang.

“Idemu bagus sekali agent D. membiarkan mereka masuk dan menghancurkannya..” ucap Junhyung sambil memegang bahu Dujun.

Dujun tersenyum cool, “Aku hanya bosan terus kabur dari mereka..”

“Tapi, mereka pasti berusaha lagi. Bagaimana?” Tanya Jihyun.

Semuanya memandang Dujun, sementara sang bos hanya memandang mereka bingung. “Hancurkan lagi..”

Gikwang tersenyum lebar, “Solusi yang bagus..” ucapnya.

Hyunseung yang sejak tadi diam hanya duduk tenang di sofa. Dia memang tertutup dan tidak terlalu banyak bicara, juga memiliki aura yang mematikan jika berada di sekelilingnya. “Aku ada dikamarku jika perlu..” Ucapnya sambil bangkit dan berjalan ke tangga.

Jihyun mengikuti Hyunseung dengan lirikannya hingga hilang di dinding tangga.

“Ayo kita susun rencana lagi.. Sepertinya ini akan menyenangkan..” Ucap Gikwang bersemangat.

=Apartemen Hyunsik=

Hyunsik terbangun mendengar bunyi alarm di mejanya. Tangannya terulur keluar dari balik selimut dan mematikan alarm, lalu bangkit perlahan sambil mengusap wajahnya. Dia meregangkan tubuhnya sesaat dan menyibak selimut. Setiap pagi setelah bangun dia akan melakukan hal yang sama. Pertama, mengganti baju dengan baju olahraga dan berlari pagi disekitar gedung apartemennya. Kedua, melakukan sit up dan push up masing-masing 100 kali untuk menjaga bentuk tubuh proposionalnya. Ketiga, mandi dan bersiap pergi bekerja. Setiap pagi dia hanya akan sarapan sandwich isi sayuran dan telur juga jus. Itu hidup sehat yang terus dia terapkan.

Dia memarkirkan mobilnya di parkiran basement dan turun, lalu melangkah masuk.

“Hyungnim.. Baru datang?” Sapa Yoseob yang sedang menyusun berkas-berkas lama.

“Ne..” Jawab Hyunsik dan langsung duduk di mejanya yang dibatasi skat antara dia dan Minhyuk.

“Selamat pagi..” Sapa Eunji ceria seperti biasa dan duduk di mejanya.

“Hei semua..” Sapa Chorong sambil melangkah masuk, “Ada yang mau?” Tanyanya sambil mengangkat bungkusan di tangannya.

“Wuaaaah…” Seru Yoseob yang langsung menyerbu Chorong, Eunji juga ikut. Bahkan Minhyuk yang baru muncul juga ikut.

Hyunsik hanya tersenyum dan memulai pekerjaannya.

Chorong memandang Hyunsik dan tersenyum tipis.

=Kamar Miss J=

Jihyun terbangun mendengar suara gaduh diluar kamarnya. Itu sudah seperti alarmnya setiap pagi karena Junhyung dan Gikwang mulai berdebat tentang siapa yang akan menyiapkan sarapan. Dia mulai bangkit dan menyibak selimutnya, lalu turun dari tempat tidur. Seperti biasa juga, dia akan mulai membereskan tempat tidurnya dan melakukan treat mill hingga satu jam. Lalu masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuh.

Setelah itu dia keluar dari kamar dan melangkah menuju tangga, langkahnya berhenti di depan pintu kamar Hyunseung dan mendengarkan ke dalam. Memastikan apakah pria itu sudah bangun atau belum, namun dia terkejut menyadari Gikwang berdiri di depan kamarnya dengan dahi berkerut menatapnya. Dia segera berdiri tegap dan berjalan seperti tidak terjadi apa pun.

Gikwang memperhatikan Jihyun pergi, lalu geleng-geleng kepala dan masuk ke kamarnya.

=Seminggu Kemudian=

Eunji yang sedang berkonsentrasi dengan komputernya tertegun menatap layar, lalu memandang Dongwoon di ruang kerjanya yang hanya di batasi dinding kaca. “Bos!! Bos!!” Panggilnya sambil melambai untuk menarik perhatian pria itu.

Dongwoon memandang Eunji dan segera bangkit dari duduknya.

Hyunsik, Chorong, Minhyuk dan Yoseob segera menghampiri Eunji.

“Waeyo?” Tanya Dongwoon sambil menghampiri gadis itu.

“Agen J terungkap!!” Seru Eunji.

“Ne?! Siapa dia?” Tanya Dongwoon penasaran.

“Namanya Yong Junhyung.. Dia..” Eunji terdiam karena layar komputernya tiba-tiba mati. Dia dan semua orang disana melotot, “Aaaarrgh!!” Serunya.

Di markas lainnya.

Gikwang menatap layar laptopnya shock. Membuat Junhyung memandangnya bingung.

“Ya, ada apa denganmu?” Tanya Junhyung heran.

Dujun memandang Gikwang juga, “Wae?”

Gikwang memandang teman-temannya, “Ya.. GET baru saja masuk dengan akun lain dan berhasil melihat profilmu..” Ucapnya pada Junhyung.

Junhyung terkejut, “Ne?!”

Jihyun mendengar seruan Junhyung dan segera menuju ruang tengah yang di jadikan ruang kerja mereka, “Wae?”

“Ada apa?” Tanya Hyunseung yang baru turun dari lantai atas.

“GET melihat profil Agent J..” Ucap Dujun menjawab.

“Ne? Lalu?” Tanya Jihyun kaget.

“Aku mengirimkan virus lagi pada mereka..” Jawab Gikwang.

Dujun berpikir sejenak, “Kurasa ini sudah saatnya kita bergerak menyerang mereka..”

Hyunseung, Gikwang, Junhyung dan Jihyun memandang Dujun tak mengerti.

“Dengar, kita kelompok illegal. Mereka hanya tinggal membubarkan kita dan habis sudah, tapi mereka berdiri atas ijin pemerintah. Jika kita terus bersembunyi, sama saja kita hanya menunggu kapan mereka menangkap kita..” Jelas Dujun.

Yang lainnya mengangguk mengerti, “Hmm.. Benar..” Ucap Gikwang.

“Lalu, apa rencanamu?” Tanya Jihyun.

Dujun tersenyum, “Sebelum mereka menghancurkan kita, kita hancurkan mereka..” Ucapnya dengan senyuman evil.

Junhyung tersenyum, “Aku suka idemu.”

“Oke, mereka menginginkan data kita, kita berikan..” Ucap Gikwang dan mulai mengetik sesuatu di laptopnya.

=Markas Get=

“Bos!!! Aku menemukan data mereka!!” Seru Eunji.

Dongwoon dan yang lain berlari menghampiri Eunji.

“Apa yang kau temukan?!” Tanya Dongwoon.

“Lihat, ini..” Ucap Eunji sambil mengetik sesuatu dan membuka sebuah laman.

Hyunsik memperhatikan layar dengan dahi berkerut, sama seperti yang lainnya melihat sebuah photo seorang gadis mengenakan topeng pesta yang menutupi sebagian wajahnya. Gadis itu tersenyum licik sambil memegang sebuah kertas bertulis ‘I’m Miss J, nice to know you..’

Mulut mereka terbuka karena menyadari itu sebuah tipuan.

“Sial!! Mereka mengerjai kita lagi!” Seru Dongwoon.

“Ada lagi!!” Ucap Hyunsik yang melihat gambar itu berganti.

Seorang pria yang mengenakan topeng putih yang menutupi semua wajahnya sambil memegang sebuah kertas, ‘So-1’. Gambar selanjutnya, pria lagi mengenakan kaca mata hitam dan masker yang menutupi hidung hingga dagunya dengan kertas bertulis ‘Agen G!’. Selanjutnya, pria lainnya yang berdiri membelakangi mereka dengan satu tangan memegang kertas bertulis ‘Agent D’. Pria terakhir hanya mengenakan kacamata hitam dan tersenyum penuh kemenangan dengan kertas bertulis, ‘Agent J!’. Lalu dilaman terakhir, tampak photo mereka bersama dengan pesan, ‘This is War!!’

“Mereka penjahat atau photo model?!” Ucap Minhyuk kesal.

Dongwoon menatap layar komputer penuh kemarahan, “Mereka menantang kita!”

“Mereka? Yang benar saja bos..” Ucap Chorong.

Dongwoon berbalik dan segera berjalan masuk ke ruangannya.

“Bos tidak salah juga..” Ucap Hyunsik.

“Ne, kita harus bersiap..” Ucap Eunji.

“Tapi, apa mereka bisa menemukan tempat ini?” Tanya Chorong.

Tiba-tiba ruangan itu menjadi gelap. Semuanya terkejut.

“Omo! Kenapa ini?” Tanya Chorong tak mengerti.

“Aku akan memeriksa listriknya..” Ucap Hyunsik sambil melangkah pelan menuju saklar lampu.

Sebenarnya anggota Cube sudah berada diruangan itu dengan pistol di tangan mereka. Mereka bisa berjalan di dalam kegelapan tanpa sepengetahuan lawan karena mengenakan kacamata khusus dibalik topeng mereka yang membuat mereka bisa melihat dalam kegelapan.

Jihyun tersenyum melihat Hyunsik melangkah ke arahnya. Tangannya yang tidak memegang sniper mengelus pipi pria itu, membuatnya berhenti dan memandang sekitar bingung. “Hei tampan..” Bisiknya di telinga Hyunsik.

Hyunsik terkejut, “Siapa kau?!!”

“Ya! Ada apa denganmu?” Tanya Minhyuk kaget.

Dongwoon terkejut tiba-tiba kedua tangannya terborgol ke kursi, “Ya!!” Serunya.

Dujun tersenyum sambil menodongkan pistolnya ke wajah Dongwoon dalam kegelapan.

Lampu menyala kembali. Semua anggota kepolisian terkejut dengan kedatangan tamu tak diundang mereka.

Hyunsik melotot melihat Jihyun menodongkan sniper ke wajahnya, “Kau?”

Minhyuk, Chorong dan Eunji terkejut melihat Hyunseung dan Junhyung dari tempat berbeda menodongkan pistol mereka. Dan entah kapan, Gikwang sudah memutar layar komputer membelakangi Eunji dan melihat isinya.

Dujun menarik kursi beroda Dongwoon keluar dari ruangannya dan mendorongnya ketengah ruangan.

“Wow.. Kalian masuk terlalu dalam..” Ucap Gikwang kagum.

“Jangan sentuh komputerku!” Seru Eunji.

Jihyun mendorong dada Hyunsik mundur agar bergabung bersama teman-temannya sambil tersenyum. Sebagian wajahnya memang tertutup, namun senyum manisnya tetap terlihat.

“Apa yang kalian inginkan?!” Tanya Dongwoon kesal.

Dujun yang satu-satunya tidak mengenakan apa pun untuk menyembunyikan wajahnya tersenyum sambil tetap mengarahkan pistolnya ke wajah Dongwoon, “Kami hanya ingin memberitau kalau kami bukan organisasi yang mudah ditangani..”

Dongwoon menatap Dujun penuh kemarahan, “Ne?! Kami akan menghancurkan organisasi kalian!”

“Kita akan lihat, siapa yang akan hancur..” Ucap Dujun. “Kuharap kalian menghafal wajah kami…”

Dahi Dongwoon berkerut.

Dimulai dari Gikwang yang berdiri di depan komputer, membuka masker di wajahnya dan tersenyum.

Hyunseung membuka topeng putihnya, membuat Eunji dan Chorong terksima.

Junhyung hanya membuka kacamata hitamnya.

Terakhir, Jihyun membuka topengnya sambil tetap tersenyum pada Hyunsik.

Hyunsik tertegun melihat wajah Jihyun.

“Kita akan memulai perang ini dengan terbuka..” Ucap Dujun.

“Kau tau, agent D? Kau dan teman-temanmu sangat bodoh! Menampakkan wajahmu disini akan membunuhmu! Kau tau!!” Ucap Dongwoon kesal.

Jihyun tertawa kecil, “Kenapa bos? Kau mengandalkan ini?” Tanyanya sambil menarik sesuatu dari tasnya.

Mata semua orang disana membesar, Jihyun memegang semua kamera cctv yang sudah tak berbentuk.

“Kami hanya memberitau kalian wajah kami, ingatlah!!” Ucap Dujun, lalu mengambil kacamata dari saku baju dan mengenakannya, begitu juga yang lainnya.

Lampu kembali padam.

“Aw!!” Seru Minhyuk karena sesuatu mengenai kepalanya.

Tanpa sadar tangan Hyunsik menarik tangan Jihyun dan menatap kematanya meskipun saat itu sangat gelap.

Jihyun terkejut dan hampir menembak pria itu jika tak berhasil menarik tangannya lagi.

Begitu lampu menyala, Cube sudah pergi.

“Oooh.. Mereka benar-benar..” Ucap Chorong sambil mengelus dada.

Minhyuk mengambil sesuatu yang membentur kepalanya tadi, ternyata sebuah kotak jam tangan.

Hyunsik dan Eunji segera melepaskan borgol ditangan Dongwoon.

“Arrrghh!! Aku akan menghancurkan mereka!!” Seru Dongwoon marah.

“Bos!!!” Seru Minhyuk sambil melempar kotak di tangannya dan berlari sambil menarik Chorong dan Eunji, “Mereka meninggalkan bom!!!” Serunya.

“Ne?!!” Seru Hyunsik dan Dongwoon, lalu segera berlari keluar dari ruangan mereka.

DUARRR!!!

Bom itu meledak sesaat setelah mereka keluar, membuat mereka terpental dan mendarat ke halaman.

Dari kejauhan, Cube tertawa penuh kemenangan dari dalam Mobil yang mereka naiki.

“Permulaan yang baik..” Ucap Dujun.

“Menurutmu, apa yang akan mereka lakukan?” Tanya Gikwang.

“Mereka akan membalas kita..” Jawab Hyunseung, “Aku tak sabar..”

Sementara yang lain asik membicarakan misi mereka, Jihyun di kursi belakang diam memandangi jendela. Dia masih tak mengerti mengapa Hyunsik menahan tangannya, namun tak menangkapnya. Tangannya mengelus lengannya yang tadi di pegang Hyunsik.

=Beberapa Saat Kemudian=

“Apa kita tidak melakukan pergerakan lagi?” Tanya Gikwang pada Dujun.

“Tenang dulu, selama beberapa saat ini kita jangan bergerak dulu. Kita akan membuat kejutan..” Jawab Dujun dengan senyuman evilnya.

Jihyun tertawa kecil, “Ne.. Kau benar..”

Hyunseung bangkit dari duduknya, “Baiklah.. Aku ada di kamarku..” Ucapnya sambil melangkah naik ke tangga.

“Wuaaa.. Bagaimana dia bisa memiliki aura seperti ini?” Tanya Gikwang tak percaya.

Jihyun memandang Hyunseung sedih, lalu mendengarkan teman-temannya yang mulai membicarakan tentang pria itu.

“Kupikir So-1 itu setengah serigala.. Dia menyeramkan sekali..” Ucap Gikwang.

“Atau jangan-jangan dia itu vampir..” Ucap Junhyung.

Jihyun memutar bola matanya kesal, lalu berdiri dan berjalan keluar markas. “Aku harus ke minimarket depan..”

“Belikan cemilan!!” Ucap Gikwang mengingatkan.

“Ne..” Jawab Jihyun sambil terus melangkah.

=Mini Market=

Jihyun masuk ke sebuah mini market dan berlaku seperti innocent-girl biasa. Dengan dress selutut yang dilapisi baju hangat dan sepatu boots, juga rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai membuatnya terlihat cantik. Dia mengambil sebuah keranjang dan memasukkan beberapa cemilan, lalu mengambil pembalut untuknya.

Hyunsik mengendarai mobilnya sambil memikirkan kejadian di markas GET sebelumnya. Dia benar-benar tak mengerti mengapa dia bisa tiba-tiba menarik tangan Jihyun, padahal dia sama sekali tak ingin menangkapnya. Matanya melihat sebuah mini market dan menghentikan mobilnya di depan mini market itu dan turun. Dia berencana membeli beberapa kaleng minuman. Dia langsung mengambil keranjang dan membuka lemari pendingin, lalu mengambil beberapa kaleng minuman bersoda. Juga beberapa kaleng bir, sebagai pria dewasa tidak heran jika dia membeli itu. Karena tak mau berlama-lama, dia langsung menghampiri kasir.

“Ini saja tuan?” Tanya gadis di kasir.

“Mmm.. Aku ingin sebungkus rokok di sudut kiri itu..” Jawab Hyunsik sambil menunjuk kotak rokok yang dia maksud.

“Ne, tuan..” Ucap gadis itu sambil mengambil kotak rokok yang dimaksud Hyunsik.

Jihyun melangkah ke kasir dan mengantri dibelakang Hyunsik sambil melihat-lihat majalah.

“Terima kasih tuan, silahkan datang lagi..” Ucap gadis kasir itu sambil memberikan kantung plastik berisi belanjaan Hyunsik.

“Gamshamida..” Ucap Hyunsik sambil mengambil kantung plastik itu dan langsung melangkah pergi.

Jihyun melangkah maju dan meletakkan keranjangnya di meja kasir.

Ketika membuka pintu mini-market, Hyunsik baru menyadari gadis yang mengantri dibelakangnya adalah Jihyun. Namun dia tak ingin mencari keributan di tempat umum, jadi dia menyimpan belanjaannya ke mobil dan menunggu hingga gadis itu keluar.

Tak lama Jihyun keluar dari mini-market dan melangkah santai.

“Hei Miss J..” Sapa Hyunsik dengan kedua tangan terlipat di dada.

Jihyun tertegun, lalu berbalik perlahan. ‘Oh my god!’ Batinnya.

Hyunsik tersenyum sambil memperhatikan penampilan Jihyun, “Kau tau? Aku tidak mengerti mengapa penjahat selalu memiliki style yang bagus..” Ucapnya.

Jihyun menatap Hyunsik dengan sikap siaga, dia tentu tak ingin tertangkap dengan alasan bodoh. Bibirnya membentuk senyuman, “Ne, style adalah prioritas kami.”

Hyunsik diam sejenak, “Jujur, kau tak terlihat seperti pembunuh bayaran Miss J..”

Jihyun menyelipkan rambutnya kebelakang telinga, “Benarkah?” Ucapnya dengan senyum menggoda.

Hyunsik mengambil sesuatu dari sakunya, membuat Jihyun mundur beberapa langkah. “Oh! Tunggu..”

“Maaf tampan, aku ingin berlama-lama, tapi aku sibuk..” Ucap Jihyun, lalu menarik pisau kecil dari balik roknya dan melemparnya dengan gerakan secepat kilat kearah Hyunsik.

Tssukk!!

“Aaahhk!!” Teriak Hyunsik sambil memegang bahunya yang tertusuk pisau Jihyun, perlahan dia mencabut pisau itu dan memandang Jihyun yang sudah berlari menjauh.

“Omo! Tuan! Anda baik-baik saja?” Tanya seseorang yang berlalu.

“Oh.. Ne..” Ucap Hyunsik sambil menahan darah yang keluar dari lukanya dan segera masuk ke mobil.

=Markas GET=

“Ne?! Lalu bagaimana bahumu?” Tanya Chorong khawatir setelah mendengar cerita Hyunsik mengenai kejadian tadi malam.

Hyunsik memegang bahunya yang masih terasa ngilu jika digerakkan, “Gwenchana, hanya pisau kecil..”

“Apa kau mengambil pisaunya? Mana?” Tanya Minhyuk.

Hyunsik membuka tasnya dan mengambil sebuah pisau yang dia bungkus kertas agar tak merusak tasnya, “Ini..”

Minhyuk mengambil pisau itu dan memperhatikannya, “Wow.. Gadis itu pasti sangat hebat. Pisau seperti ini hanya digunakan orang yang memiliki kecepatan kilat dan gerakan tangan yang kuat..”

“Hmm.. Musuh kita bukan orang yang biasa..” Ucap Eunji.

“Ne, kita harus berhati-hati..” Ucap Chorong.

“Miss J saja sehebat itu, apa lagi yang lainnya..” Ucap Yoseob kagum.

Hyunsik tak memikirkan hal yang sama dengan teman-temannya. Yang ada dipikirannya adalah alasan mengapa Jihyun bisa bergabung dengan kelompok penjahat seperti itu.

=Beberapa Hari Kemudian=

Gikwang tertegun mendapat sebuah email dan membuka isinya. Dahinya berkerut melihat photo didalamnya, “Ya!! Kemari!! Pali!!” Teriaknya.

Seluruh isi rumah langsung berlari menghampiri Gikwang dan menatap layar laptop. Mata mereka membesar dan memandang Jihyun tak percaya.

Jihyun terpaku menyadari itu adalah pisau yang dia lemparkan pada Hyunsik.

“Miss J, ini milikmu kan?” Tanya Dujun.

Jihyun memandang Dujun, “Ne..”

“Bagaimana GET bisa mendapatkannya?!” Tanya Junhyung.

Jihyun memandang Junhyung, “Mmm.. Kemarin malam aku bertemu salah seorang dari mereka, aku melemparkan satu pisauku ke bahunya..”

Keempat pria itu menatap Jihyun kaget, “Mwo?!!”

“Aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu di kedepan hari..” Ucap Jihyun.

Dujun menghela nafas dalam dan memalingkan wajahnya, tidak tau harus bagaimana mengungkapkan kekesalannya.

“Tidak ada pertanggungjawaban, ini sudah konsekuensi pekerjaan kita. Jalani saja..” Ucap Hyunseung dan naik ke lantai atas.

Jihyun memandang Hyunseung naik. Pria itu memang selalu dingin, tapi terkadang dia merasa sangat dekat dengannya.

“So-1 benar..” Ucap Gikwang, lalu memegang bahu Jihyun. “Miss J, tidak apa-apa..”

Jihyun mengangguk pelan, “Ne..” Ucapnya, “Aku akan kembali ke kamarku..” Dia melangkah naik ke tangga. Saat melewati kamar Hyunseung, dia berhenti sejenak dan tersenyum seolah-oleh pria itu ada di depannya. Kakinya kembali melangkah menuju kamarnya.

=Toilet Pria=

Hyunsik berdiri di depan cermin di toilet pria markas baru GET sambil memandangi bahunya yang masih tertutupi perban, “Kau cukup hebat, Miss J..” Gumamnya. Ketika melihat seseorang masuk, dia segera mengenakan kausnya lagi.

“Oh, hyungnim.. Yang lain mencarimu..” Ucap Yoseob memberitau, lalu menghampiri wastafel untuk mencuci tangan.

“Ne..” Jawab Hyunsik dan segera keluar.

Hyunsik mengikuti teman-temannya yang berencana pergi ke mini market tak jauh dari markas. Namun setelah jauh melangkah dia baru menyadari dimana mereka sekarang. Dia berhenti di depan mini market yang dimasuki teman-temannya, lalu memandang sekitar. Itu adalah mini market dimana dia dan Jihyun bertemu.

“Jadi mini market ini di sekitar markas baru..” Gumamnya, lalu ikut melangkah masuk.

Eunji dan Chorong tertawa kecil sambil berjalan menuju tempat buah-buahan dengan keranjang ditangan mereka. Yoseob dan Minhyuk asik mencari-cari makanan kecil dan barang lain yang mereka butuhkan, sedangkan Hyunsik melihat-lihat majalah.

Saat itu, Jihyun yang sedang dalam mood jelek melangkah menuju mini-market itu. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tak menyadari bahaya yang menunggunya.

Hyunsik melihat seorang gadis melangkah di depan mini-market, matanya membesar menyadari itu adalah Jihyun. Apalagi gadis itu masuk tanpa melihat-lihat dulu, dia melirik teman-temannya yang masih asik dengan kegiatan mereka masing-masing.

Jihyun mengambil keranjang dan langsung pergi ke rak yang sepi untuk mengambil mi ramen.

Hyunsik masih berdiam diri ditempatnya didepan tempat majalah itu, perlahan dia melirik kearah Chorong dan Eunji tadi, tak tampak seorang pun dari mereka. Lalu melirik ke arah dua temannya yang lain, juga tak tampak menyadari keberadaan Jihyun. ‘Apa yang harus kulakukan?’ Batinnya sambil berpikir. Dia melirik Jihyun yang tampak tak menyadari situasi disana.

Jihyun mengambil beberapa bungkus mi ramen dan memasukkannya ke keranjang sambil memikirkan Hyunseung, ‘Aku tau kau tidak sedingin penampilanmu..’ Batinnya, lalu seulas senyum muncul di bibirnya. Tiba-tiba seseorang berdiri dibelakangnya dan menutup mulutnya.

“Ssh!!” Bisik Hyunsik ditelinga Jihyun sebelum gadis itu memberontak.

Jihyun terdiam ditempatnya, ketika tangannya hendak mengambil pisau di balik rok yang dia kenakan, sebuah tangan menahannya.

“Aku tidak butuh pisaumu yang lain, Miss J..” Bisik Hyunsik, “Bahuku masih cedera karenamu dan tolong jangan berteriak..”

Mata Jihyun membesar menyadari pria itu adalah Hyunsik.

“Jika kau ingin tertangkap, tusuklah aku..” Bisik Hyunsik lagi.

Jihyun menoleh ke samping, Hyunsik melepaskan mulutnya. “Apa maumu?” Tanyanya pelan.

Hyunsik tetap berdiri dibelakang Jihyun sambil melirik ke kanan dan kiri memastikan teman-temannya tidak ada disana, “Dengar, ada 4 teman-temanku yang lain disini..” Ucapnya setengah berbisik.

Jihyun terkejut mengetahui itu, lalu tersenyum sinis. “Jadi ini caramu untuk berkelahi? Dengan menjebak seorang gadis di rak?”

Hyunsik menatap gadis di depannya kesal, namun dia bisa mendengar suara Eunji dan Chorong semakin mendekat. “Aku tidak tau mengapa aku melakukan ini, tapi kuharap kau membalasnya!” Bisiknya dan langsung mengeluarkan sapu tangannya, lalu menutup setengah wajah Jihyun dengan itu.

Jihyun tertegun Hyunsik melakukan itu, lalu berbalik berhadapan dengan pria itu. Dia sama sekali tak mengerti mengapa pria itu membantunya.

Hyunsik mengambil keranjang di tangan Jihyun, “Pergilah..”

“Hahaha.. Kau selalu berhasil membuat lelucon itu..” Tawa Eunji.

Jihyun mengangguk pelan dan segera melangkah ke pintu mini-market.

Hyunsik memperhatikan Jihyun yang berhasil keluar dari mini-market tanpa seorang pun yang menyadarinya.

Eunji tertegun melihat banyak mi ramen di keranjang di tangan Hyunsik, “Wuaa.. Kau mengambil banyak mi ramen..” Ucapnya.

“Apa kau sudah lupa hidup sehatmu, Hyunsik?” Tanya Chorong heran.

“Aku hanya ingin ini..” Ucap Hyunsik, lalu melangkah ke tempat lain.

Jihyun melangkah meninggalkan mini-market itu dan berhenti di tempat yang tak di terangi lampu jalan. Perlahan tangannya mengambil sapu tangan yang menutupi wajahnya dan memandang benda itu sesaat, dia sama sekali tak mengerti mengapa Hyunsik membantunya. Bahkan setelah dia menyerangnya.

=Markas=

Markas Cube.

Gikwang yang sedang memakan keripik kentang didepan komputer tertegun mendapatkan sebuah e-mail, ketika membukanya, dia dikejutkan oleh sesuatu. “Agen D!! Semuanya!! Kemari!!” Serunya.

Dujun, Junhyung, Jihyun dan Hyunseung segera menghampiri Gikwang.

“Wae?!” Tanya Dujun ingin tau.

“Ada penawaran bagus.. Lihat..” Ucap Gikwang sambil menunjuk layar komputernya.

Semuanya membaca layar komputer dengan wajah serius, lalu mata mereka membesar.

“Mwoya?!!” Seru Jihyun tak percaya.

“Wuaah!! 10 juta dollar untuk mendapatkan kalung berlian di pameran besar malam ini?!” Seru Junhyung tak percaya.

Dujun tertegun, “10 juta dollar?”

“Apa orang ini tak salah?” Tanya Hyunseung tak percaya.

“Ya! Lakukan misi ini!” Ucap Gikwang bersemangat, “Lihat, kita hanya perlu mengambil kalung berlian ini dan mendapatkan uangnya..”

“Agak mencurigakan..” Ucap Jihyun.

“Apa maksudmu? Ini luar biasa, Miss J..” Ucap Junhyung.

“Maksudku, tiba-tiba seseorang mengirimkan misi ini dan menawarkan bayaran setinggi itu. Apa masuk akal?” Tanya Jihyun tak mengerti.

“Ayo kita buat masuk akal..” Ucap Dujun, “Semuanya, bersiap. Kita punya acara penting malam ini..” Ucapnya, lalu melangkah ke kamarnya.

“Tapi..”

“Sudahlah Miss J, silahkan pilih gaunmu untuk malam ini..” Ucap Gikwang sambil mendorong Jihyun ke lantai atas.

“Aku sudah lama tak mengenakan tuxedoku..” Ucap Junhyung sambil naik ke lantai atas.

Hyunseung memandang layar komputer lagi, lalu ikut melangkah ke atas.

Dimarkas lain.

“Ya!! Kemari!!” Seru Chorong didepan komputernya.

Hyunsik, Minhyuk, Eunji dan Dongwoon langsung menghampiri Chorong. “Ada apa?!”

“Dengar, Cube akan menghadiri pameran besar nanti malam!” Ucap Chorong membaca email yang masuk padanya.

“Cube?!” Tanya Eunji.

“Ne..” Jawab Chorong sambil mengangguk.

“Siapa yang mengirimkan email ini?” Tanya Dongwoon.

Chorong membaca nama pengirim, “000..” Jawabnya.

“Siapa 000?” Tanya Minhyuk tak tau.

“Tak peduli siapa dia, ayo siapkan pakaian pesta kalian. Kita ada undangan besar malam ini..” Ucap Dongwoon sambil melangkah pergi.

Kamar Jihyun.

Gadis itu memoleskan lipstik berwarna merah menyala ke bibirnya dan menyimpan alat make upnya lagi. Saat memandang wajahnya, dia hanya menghela nafas dan berbalik menuju pintu. Dia merasa tidak yakin dengan misi malam ini, namun dia tak bisa mengelak. Terutama karena Hyunseung juga pasti menyelesaikan misi itu.

=Sebuah Hotel=

Pesta elegan bertema pesta topeng sedang berlangsung dan dengan sebuah kalung berlian yang dipamerkan di sebuah ruangan.

Jihyun mengenakan topeng pesta yang menutupi mata dan sebagian wajahnya, begitu juga dengan teman-temannya yang lain.

“Aku akan memeriksa tempat kalung berlian itu..” Ucap Gikwang sambil melangkah diantara para tamu undangan lain.

“Aku akan melihat berapa keamanan disini..” Ucap Junhyung dan melakukan hal sama seperti Gikwang.

“Aku akan memastikan tuan rumah tidak mengetahui tentang kita, kau dan Miss J perhatikan situasi..” Ucap Dujun, lalu melangkah pergi.

Jihyun yang memiliki firasat buruk tentang semua ini memandang Hyunseung khawatir, “So-1, kurasa ada sesuatu yang salah disini..”

Hyunseung memandang Jihyun tak mengerti, “Apa maksudmu?”

“Apa kau tidak curiga? Mengapa tiba-tiba ada orang yang ingin kita mengambil kalung berlian itu dan menawarkan biaya besar hanya beberapa jam sebelum kita harus melakukannya? Biasanya kita mendapat misi seminggu sebelum kita melakukannya..” Jelas Jihyun.

“Miss J, kau hanya terlalu curiga. Pastikan saja kau melakukan tugasmu dengan baik..” Ucap Hyunseung dingin, lalu melangkah.

Jihyun menarik tangan Hyunseung, membuat pria itu kembali menatapnya. “Bagaimana jika ini jebakan? Kau tidak tau? Ini berbahaya!”

Hyunseung menarik tangannya, “Lalu, kenapa kau juga ikut jika menurutmu ini berbahaya?”

“Karena kau akan celaka!” Ucap Jihyun, lalu tertegun dan merasa canggung sendiri.

Hyunseung menatap Jihyun tak mengerti, “Sudahlah, aku tak ingin berdebat disini..” Ucapnya dan melangkah pergi.

Jihyun menghela nafas dalam melihat Hyunseung berjalan pergi, “Kupikir kau memang dia..” Gumamnya pelan, lalu memutar tubuh untuk memperhatikan situasi.

Ditempat yang sama.

“Lakukan tugas kalian..” Ucap Dongwoon sambil merapikan blazernya dan melangkah diantara para tamu.

Minhyuk menggandeng Eunji melangkah masuk seperti sepasang tamu biasa, sementara Hyunsik bersama Chorong ke sisi lain ruangan. Mereka mendengar ucapan Dongwoon melalui earphone yang tak terlihat oleh orang lain.

Chorong mengambil dua buah gelas berkaki dan memberikannya satu pada Hyunsik, “Anggap saja kita sedang menikmati pesta ini..”

Hyunsik mengambil gelas itu dengan senyuman dan menyicipinya sedikit. Saat itu musik berubah slow dan para tamu mulai berdansa dengan pasangan masing-masing.

“Arrgh.. Aku paling benci berdansa seperti ini..” Ucap Chorong dan meneguk air digelasnya.

Hyunsik mengedarkan pandangannya, saat itu dia menyadari ada seorang gadis berjalan seorang diri menghindari orang-orang yang asik berdansa. Meskipun gadis itu mengenakan topeng pesta, dia bisa menebak siapa gadis itu. “Aku akan melihat beberapa tamu yang mencurigakan..” Ucapnya pada Chorong sambil meletakkan gelas tadi di meja dan melangkah pergi.

Jihyun tertegun menyadari seorang pria dengan topeng pesta menghampirinya, pria itu mengulurkan tangannya tanda ingin mengajak berdansa. Dia memberi respon dengan menggeleng dan menggerakkan tangannya ke kanan dan kiri, lalu melangkah pergi.

Hyunsik segera menahan tangan Jihyun, “Ayolah, Miss J..” Bisiknya.

Jihyun menatap pria dihadapannya kaget, dia bisa menebak pria itu adalah Hyunsik.

Hyunsik tersenyum dan menarik Jihyun mendekat, lalu menarik satu tangan gadis itu ke bahunya dan bergerak lambat mengikuti musik yang slow.

Jihyun mengikuti gerakan Hyunsik sambil tetap berhati-hati, “Apa maumu sekarang?”

Hyunsik diam sejenak, tak tau apa yang sebenarnya dia inginkan. “Bisakah kau mengatakan namamu?”

Dahi Jihyun berkerut.

“Namaku Lim Hyunsik..” Ucap Hyunsik pelan.

Jihyun diam sambil menatap Hyunsik tak mengerti.

“Teman-teman, ruangan disudut kiri! Segera kemari..” Suara  Dujun terdengar di telinga teman-temannya.

Jihyun segera menarik dirinya, “Aku harus pergi..” Ucapnya, lalu berbalik.

Hyunsik menahan tangan Jihyun dan menatapnya penuh harap, “Kumohon..”

Jihyun tertegun mendengar nada bicara Hyunsik.

“Miss J! Kau dengar?!” Panggil Junhyung.

“Ne..” Jawab Jihyun pelan, namun masih menatap Hyunsik. “Hanya Miss J..” Ucapnya pada pria itu dan melangkah pergi.

Hyunsik kecewa Jihyun tak memberitau siapa nama aslinya.

Chorong datang menghampiri Hyunsik, “Hyunsik, Siapa itu?” Tanyanya sambil memperhatikan Jihyun pergi.

“Hm? Oh.. Gadis yang tak sengaja kutemui..” Jawab Hyunsik.

“Guys, aku menemukan Cube!” Ucap Minhyuk di telinga teman-temannya.

Hyunsik tertegun dan melihat ke arah Jihyun pergi tadi.

Hyunseung mengendap-endap masuk ke sebuah ruangan, disana Junhyung dan Dujun sudah bersiap.

“Aku sudah mematikan sistem cctv untuk ruangan ini, jadi kita aman..” Ucap Junhyung.

Dujun dengan sarung tangan plastik membuka tutup kalung berlian yang terbuat dari kaca itu perlahan, lalu meletakkannya di lantai. Dengan hati-hati dia mengambil kalung berlian itu.

“Wuaah! Kita kaya!” Ucap Junhyung senang.

Dahi Dujun berkerut melihat kalung ditangannya, “Tunggu..” Ucapnya sambil memeriksa kalung itu.

“Jangan bergerak!!” Seru Dongwoon yang langsung masuk ke ruangan itu bersama Minhyuk dan Eunji dengan pistol ditangan mereka.

Dujun, Junhyung dan Hyunseung terkejut. Mereka juga segera mengeluarkan senjata dan menodongkannya pada mereka.

Dongwoon melepaskan topengnya sambil tersenyum, “Kalian tidak akan lepas kali ini..” Ucapnya.

Junhyung tersenyum sinis, “Aku meragukannya..”

“Tunggu..” Ucap Dujun sambil menurunkan pistolnya.

Semuanya memandang Dujun.

“Kalian menjebak kami dengan kalung berlian palsu ini?!” Tanya Dujun kesal sambil melempar kalung itu ke kaki Dongwoon.

Junhyung dan Hyunseung terkejut, “Palsu?!”

Begitu juga Minhyuk dan Eunji.

“Tidak peduli siapa yang menjebak kalian, kalian milikku sekarang..” Ucap Dongwoon.

BRAAKK!! Pintu masuk tertutup.

“Siapa yang menutup pintu?” Tanya Minhyuk tak mengerti.

Tiba-tiba dari ventilasi udara muncul asap putih yang menyesakkan dada.

“Ahh!! Sial! Siapa yang melakukan ini!” Seru Dongwoon.

Hyunseung, Junhyung dan Minhyuk tanpa sadar langsung bekerja sama untuk mendobrak pintu.

“Uhuk!! Uhuk!!” Batuk Eunji, dia berada tepat dibawah ventilasi udara, membuatnya banyak menghirup gas beracun itu.

“Eunji!!” Seru Dongwoon sambil memapah Eunji.

Dujun menyadari ada orang lain yang ingin menjebak mereka.

Sementara itu diluar.

Gikwang melihat seseorang menutup dan mengunci pintu ruangan yang diberitaukan Dujun, dia merasa tak mengenal orang itu dan pasti bukan bagian dari penyelidik itu. “YA!!” Serunya sambil mengejar orang itu.

Pria itu segera melarikan diri.

Gikwang memeriksa pintu itu, namun tak bisa membukanya. Pria tadi sudah berlari jauh, “Miss J! Tangkap pria itu!” Ucap Gikwang melalui earphone.

Jihyun tertegun melihat pria yang berlari ke arahnya, dengan cepat dia melakukan tendangan memutar untuk melumpuhkan pria itu. DUAK!!! Tidak sulit baginya.

“Aaahkk!” Teriak pria itu karena Jihyun memelintir tangannya kebelakang dan menduduki punggungnya.

“Siapa kau?!” Tanya Jihyun kesal.

Saat itu Chorong dan Hyunsik juga menuju tempat yang sama, mereka terkejut melihat Jihyun melumpuhkan seorang pria.

“YA!!” Seru Chorong dan langsung menyerang Jihyun.

BUK!! Tendangan Chorong membuat Jihyun terpental kebelakang. Membuat pria tadi terlepas.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Hyunsik pada pria itu.

Tak disangka pria itu malah menerjang Hyunsik dan melarikan diri.

Hyunsik meringis memegang dadanya.

“YA!!!” Teriak Gikwang berusaha mengejar pria tadi, “Aissh!! Pria itu mengurung teman kalian dan teman-teman kami diruangan dengan gas beracun!” Serunya pada Chorong.

“Ne?!” Seru Hyunsik.

Jihyun bangkit dan mendorong Chorong, “Bisa tidak kau hanya mengurusi urusanmu?!!!”

Chorong membalas Jihyun dengan memukul wajahnya, saat itu tas tangan gadis itu terlepas dan terjatuh ke lantai.

“Ya! Sudah! Rekan kita sekarat!” Seru Gikwang sambil menarik Jihyun yang hendak kembali menyerang Chorong.

Chorong mengikuti Gikwang dan Jihyun, Hyunsik memandang tas tangan Jihyun dilantai. Disana juga ada ponsel gadis itu, dengan cepat dia segera mengambil ponsel itu dan menyusul Chorong.

“Sial! Pintu ini tak bisa di dobrak!” Seru Gikwang.

“Sial! Kenapa tidak ada Yoseob disaat seperti ini?!” Ucap Hyunsik frustasi.

“Tidak!! Bagaimana ini?!!” Seru Jihyun panik sambil berusaha membuka pintu.

“Minggir..” Ucap Hyunsik sambil mendorong Jihyun ke samping, lalu mengeluarkan pistolnya dan menembaki pintu itu.

Gikwang ikut mengeluarkan pistolnya dan menembaki pintu itu, tak lama akhirnya pintu itu terbuka.

Dengan cepat Jihyun mendorong pintu terbuka. Hyunseung, Junhyung, Minhyuk, Dujun, Dongwoon dan Eunji langsung keluar sambil terbatuk-batuk.

“So-1! Kau baik-baik saja?” Tanya Jihyun sambil memapah Hyunseung yang terus terbatuk-batuk.

“Kita dijebak!” Ucap Dujun.

“Ayo pergi..” Ucap Gikwang sambil memapah Junhyung dan berjalan pergi.

=Markas Cube=

Jihyun duduk di sisi Hyunseung yang berbaring di sofa dengan selang oksigen di hidungnya. Dia sangat khawatir karena pria itu tampak kesulitan bernafas karena gas beracun yang terhirup kemarin. Berkali-kali Hyunseung tampak melancarkan kerongkongannya dan menghela nafas berat. ‘Bertahanlah, So-1..’ Batinnya sambil menempelkan kain lembab ke leher pria itu.

Gikwang menatap Jihyun heran, “Ya, Agent D dan J juga terkapar disini.. Kenapa hanya So-1 yang kau perhatikan?”

Jihyun memandang Gikwang, lalu kembali memandang Hyunseung.

Hyunseung bergerak duduk sambil melepaskan selang oksigen dihidungnya, “Aku akan ke kamarku..” Ucapnya sambil bangkit.

“Tunggu, kau harus menggunakan ini beberapa saat lagi!” Ucap Jihyun sambil menahan Hyunseung.

Hyunseung menatap Jihyun, “Aku hanya ingin beristirahat di kamarku..” Ucapnya dingin dan melangkah ke tangga.

“So-1! So-1!!” Seru Jihyun sambil mengikuti Hyunseung.

Dujun, Junhyung dan Gikwang memperhatikan mereka tak mengerti.

Jihyun menarik Hyunseung sebelum masuk ke kamar, “Ya! Kenapa kau tidak pernah mendengarkan ucapanku?! Kau bisa mati jika gas beracun itu masih ada didalam tubuhmu!”

Hyunseung menyentak tangan Jihyun, “Aku tau! Dan tutup mulutmu!” Serunya.

Jihyun tersentak mendengar seruan Hyunseung, apalagi pria itu membanting pintu didepan wajahnya. Dia menghela nafas dalam sambil mengelus kepalanya, lalu masuk ke kamarnya.

=Apartemen Hyunsik=

Hyunsik duduk di sofa sambil memandangi ponsel Jihyun. Sejak semalam dia hanya memandanginya, “Dia pasti mencari ini..” Gumamnya.

Hati-hati dia membuka kunci ponsel itu dan melihat wallpapernya. Bibirnya membentuk senyuman melihat wajah cantik Jihyun di wallpaper ponsel itu.

“Kau penjahat tercantik yang pernah kutemui..” Gumamnya, lalu melihat isi ponsel itu. Dahinya berkerut melihat data pribadi gadis itu, “Nam Jihyun? Miss J? Hmm.. Nama yang bagus..”

Tiba-tiba Hyunsik mendapat sebuah ide, “Aku akan mengembalikan ponsel ini..” Gumamnya, lalu menekan nomor ponselnya dan memanggilnya. Dengan begitu dia memiliki nomor ponsel gadis itu.

=Mini Market=

Hyunsik mondar mandir di depan mini-market sambil sesekali mengedarkan pandangannya. Dia selalu melakukan itu setiap malam selama beberapa hari terakhir, dia sangat berharap Jihyun akan muncul lagi. Dan malam ini sepertinya adalah malam keberuntungannya.

Jihyun harus kembali ke mini-market itu untuk berbelanja karena malas pergi ke tempat yang lebih jauh, sebelum masuk dia memperhatikan dari luar siapa yang ada didalam dulu.

“Miss J..” Sapa Hyunsik dari belakang Jihyun.

Jihyun terkejut dan langsung berbalik, “Kau lagi!” Ucapnya kesal.

Hyunsik tersenyum dengan kedua tangan disaku, “Kita bertemu lagi..”

“Apa maumu sebenarnya? Menyelidikiku? Membuatku akan membuka mulut tentang teman-temanku? Hm! Klasik!” Ucap Jihyun kesal, lalu membuka pintu mini-market dan masuk.

Hyunsik mengikuti Jihyun masuk, gadis di kasir menyapa mereka ketika itu. “Aku hanya penasaran mengapa kau bisa bergabung bersama mereka..”

Jihyun mengambil keranjang dan menghampiri rak bagian mi ramen, “Bukan urusanmu..” Ucapnya cuek.

Hyunsik mengangguk mengerti, “Baik, bukan urusanku..” Ucapnya sambil mengangguk, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Jihyun dari belakang. “Tapi tidak apa-apa kan jika aku mencaritaunya sendiri, Nam Jihyun-ssi?” Bisiknya.

Jihyun tertegun dengan tangan terulur hendak mengambil bungkus mi ramen, lalu menatap Hyunsik tak percaya.

Hyunsik tersenyum, “Bagaimana aku tau?” Tanyanya seolah-olah bisa membaca pikiran Jihyun.

Mata Jihyun menyipit menatap Hyunsik curiga, “Jangan-jangan kau memasang kamera disini untuk memata-mataiku!”

“Pff..” Hyunsik menahan tawa mendengar ucapan Jihyun, “Aku tidak segila itu, Miss J..” Ucapnya sambil mengeluarkan sebuah ponsel di sakunya dan menyodorkannya pada Jihyun, “Milikmu?”

Mata Jihyun membesar melihat ponselnya dan mengambilnya, lalu menatap Hyunsik tak percaya. “Dimana kau menemukannya?”

“Saat kau berkelahi dengan temanku, Chorong.. Tas tanganmu terjatuh, juga ponselmu ini..” Jelas Hyunsik.

Jihyun mengulurkan tangannya, “Lalu, mana tas tanganku?”

“Mmm.. Aku tidak ingat mengambil tas tanganmu juga.” Jawab Hyunsik sambil mengelus belakang kepalanya.

“Aigoo..” Ucap Jihyun sambil menatap Hyunsik kesal, “Itu koleksi khusus perancang dari Swiss! Harganya sangat mahal!”

Hyunsik mengangkat bahu tanda tak tau, lalu mengikuti Jihyun yang berjalan ke tempat lain. “Aku bisa membelikan yang baru jika tas itu memang berarti bagimu..”

Jihyun memperhatikan barang apa saja yang dia butuhkan lagi, “Tidak perlu, aku punya yang lebih mahal..” Ucapnya kesal.

Hyunsik menahan tawa mendengar ucapan Jihyun.

Jihyun berhenti dan menatap Hyunsik, “Kenapa kau mengikutiku?”

Hyunsik tersenyum, “Entahlah, aku hanya ingin..”

“Dengar! Setelah kau mengetahui nama asliku, bukan berarti kau bisa memanfaatkan situasi! Aku tidak akan menuruti apa yang kau inginkan, ataupun melakukan apa yang kau suruh! Kau mengerti?!” Tegas Jihyun.

Hyunsik mengangguk mengerti, tetap dengan senyuman di wajahnya. “Untuk informasi saja, aku sudah menyimpan nomor ponselku di ponselmu. Jika nantinya kau ingin menghubungiku, aku akan senang mengetahuinya..”

Jihyun menatap Hyunsik aneh, “Untuk apa aku menghubungimu? Secara teknis kau adalah musuhku, begitu juga sebaliknya!” Ucapnya dan segera melangkah ke kasir untuk membayar belanjaannya.

Hyunsik tetap mengikuti Jihyun hingga keluar dari mini-market, “Hei.. Kenapa kau sangat membenciku? Coba kau pikirkan, jika aku memang ingin menangkapmu, mengapa tidak sejak saat kita pertama bertemu saja? Ahh.. Aku tidak mengerti mengapa wanita sangat membingungkan..”

Jihyun berhenti dan berbalik menatap Hyunsik, “Kenapa masih mengikutiku?! Kau ingin aku menusukmu lagi?! Kali ini aku akan menusuk tepat dijantungmu!”

Hyunsik menatap Jihyun tak mengerti, “Kenapa kau sangat membenciku? Apa salahku?”

Jihyun menatap Hyunsik penuh kebencian, “Tanyakan pada dirimu, apa kau sudah merasa hebat menjadi penegak hukum?!” Tanyanya sinis dan berbalik pergi.

Dahi Hyunsik berkerut, “Penegak hukum? Apa maksudnya?”

=Markas GET=

Hyunsik melirik ke kanan dan kiri, berhubung Eunji dan Chorong pergi ke universitas Yoseob, dia bisa menggunakan komputer Eunji tanpa terganggu. Dengan cepat dia mencolokkan kabel data ke ponselnya dan mulai mengetik sesuatu di komputer. Dia menggunakan photo Jihyun yang diam-diam dia ambil dari ponsel gadis itu dan nama asli gadis itu untuk mencari tau data pribadinya.

Setelah menunggu beberapa saat, sebuah profile muncul. Photo Jihyun dan data singkatnya. “Hmm.. Sulung dari dua bersaudara?” Gumamnya, bibirnya membentuk senyuman melihat photo Jihyun yang tertera memperlihatkan sisi innocent gadis itu. “Ayo lihat berita apa yang kau punya..” Gumamnya sambil mengklik berita mengenai gadis itu. Muncul sebuah halaman koran yang memperlihatkan sebuah mobil hitam. Setelah membaca cerita dalam berita itu, Hyunsik sempat tertegun beberapa saat. Ternyata Jihyun dan adiknya diculik saat berusia belasan tahun. Adiknya meninggal karena kekurangan oksigen akibat terkurung dalam bagasi mobil. Juga sempat menjalani terapi kejiwaan selama beberapa tahun.

Hyunsik sempat menyesal karena membaca berita itu, sekarang dia merasa terkejut hingga tak bisa melakukan apa pun. Tangannya ragu untuk mengklik photo yang ada dil ayar, namun dia tetap mengkliknya. Matanya membesar melihat photo Jihyun bersama seorang pria. “Ini….” Ucapnya sambil menunjuk pria itu.

=Beberapa Hari Kemudian=

Jihyun melangkah santai menuju mini-market, sebelum masuk dia sempat melihat dulu siapa saja yang ada didalam. Namun biasanya di jam segitu jarang ada orang yang datang kesana. Saat sedang mengambil keripik kentang pesanan Gikwang, ponselnya berdering. Wajahnya berubah sebal ketika melihat nama Hyunsik beserta photonya di layar.

“Aissh.. Kapan dia memotret dirinya?!” Ucapnya sebal, namun tetap mengangkat panggilan itu. “Mwo?!”

“Miss J..” Ucap Hyunsik yang sebenarnya berdiri diluar mini-market sambil memandangi Jihyun.

“Mwo?! Apa maumu sekarang?!” Tanya Jihyun kesal.

“Bisakah kau memandang ke pintu depan?” Tanya Hyunsik.

Jihyun menoleh ke pintu dan melihat Hyunsik berdiri di depan pintu kaca dengan satu tangan memegang ponsel dan satu lagi masuk ke saku.

“Aku ingin mengatakan sesuatu..” Ucap Hyunsik.

“Katakan saja! Aku bisa mendengarmu..” Ucap Jihyun.

Hyunsik diam sejenak menghela nafas dalam sambil menatap Jihyun sedih, “Miss J, So-1 bukanlah Jikyun..” Ucapnya pelan.

Jihyun tertegun mendengar ucapan Hyunsik. Keranjang ditangannya sampai terlepas dan terjatuh ke lantai.

“Jikyun sudah meninggal, Miss J..” Ucap Hyunsik.

Jihyun menarik ponsel dari telinganya dan memutuskan telepon, lalu memandang kedepan. Ingatan-ingatan dimasa lalu kembali bermunculan di kepalanya. Seperti baru saja terjadi beberapa saat lalu. Tubuhnya gemetaran dan segera melangkah ke pintu keluar, sebelum pergi dia sempat menatap Hyunsik marah sesaat.

Hyunsik menatap Jihyun sedih, lalu mengikuti langkah gadis itu. “Miss J..” Panggilnya, namun gadis itu tetap berjalan pergi. “Miss J!” Panggilnya sambil menarik tangan gadis itu hingga berbalik memandangnya. Dia terkejut mengetahui gadis itu menangis.

Jihyun menatap Hyunsik penuh kebencian tanpa mengatakan apa pun.

Hyunsik menghela nafas dalam, “Kau berada di Cube karena So-1 kan? Aku bisa melihat bagaimana caramu membantunya di tempat kejadian itu..”

“Bukan urusanmu!” Ucap Jihyun tertahan, lalu menarik tangannya dan kembali melangkah pergi.

Hyunsik tetap mengikuti Jihyun, “Aku tau alasanmu bertahan di Cube, So-1 memiliki wajah yang menyerupai Jikyun kan?”

Langkah Jihyun terhenti dan kembali berbalik menatap Hyunsik.

Hyunsik menatap Jihyun sedih, “Jikyun sudah meninggal, So-1 dan Jikyun adalah orang berbeda..”

Bulir air mata Jihyun terus berjatuhan menatap Hyunsik, dengan cepat dia mengambil pisau dari balik roknya dan mengarahkannya pada pria itu. “Ne!! So-1 tidak mungkin menjadi Jikyun! Aku tau! Jikyun sudah mati!! Aku tau!! Aku yang paling tau tentang semua itu!! Aku!! Aku yang tau!!” Teriaknya.

Hyunsik menjaga jarak agar Jihyun tak kembali menyerangnya, “Ne, kau yang tau.. Turunkan pisaumu..” Ucapnya pelan.

Jihyun menurunkan pisau itu dan menangis sesaat, lalu memegang dahinya dengan tangan yang memegang pisau itu.

“Ya! Lepaskan pisau itu!” Seru Hyunsik.

Jihyun kembali mengarahkan pisaunya kepada Hyunsik ketika pria itu mendekat, “Aku tau Jikyun didalam bagasi! Jika mereka membukanya lebih cepat, pasti dia tidak akan mati!! Aku tidak akan seperti ini!!” Teriaknya.

“Miss J! Berhenti berteriak!” Ucap Hyunsik karena orang-orang mulai memandangi mereka.

Jihyun tertegun sesaat, lalu seperti orang kebingungan yang memandang ke kanan dan kiri. Tangannya menurunkan pisau itu sambil tetap memandang ke kanan dan kiri.

Dahi Hyunsik berkerut melihat Jihyun, “Miss J?” Panggilnya sambil mendekati gadis itu.

Jihyun menatap Hyunsik, lalu menghampirinya dengan wajah tegang dan panik. “Dia ada di bagasi! Adikku masih disana!! Buka bagasi itu!!” Mohonnya.

Hyunsik terkejut melihat Jihyun seperti orang kehilangan kewarasannya, “Miss J?” Ucapnya bingung sambil memegang kedua bahu gadis itu.

Tubuh Jihyun merosot sambil terus menangis, Hyunsik berlutut dan memeluknya agar tak terbaring di lantai. “Cepat buka bagasi itu.. Dia disana..” Tangisnya.

Hyunsik memandang Jihyun sedih, dia mengambil pisau di tangan gadis itu dan memeluknya agar tenang.

“Tuan, gadis itu baik-baik saja?” Tanya pria yang sejak tadi memperhatikan mereka.

“Ne.. Dia hanya sedikit depresi. Maaf mengganggumu..” Ucap Hyunsik menyesal.

“Apa dia kenalanmu?” Tanya pria itu lagi.

“Ne.. Dia.. Emmm.. Kekasihku..” Jawab Hyunsik agar orang itu segera pergi.

“Ow.. Baiklah, permisi..” Ucap pria itu dan pergi.

Hyunsik mengucapkan maaf pada orang-orang disekitar sana karena telah menimbulkan keributan beberapa saat hingga menyadari dia tak mendengar suara tangisan Jihyun lagi, “Miss J?” Panggilnya, namun gadis itu tampak tak sadarkan diri. “Sial!” Gumamnya, lalu menggendong gadis itu masuk ke mobilnya.

=Markas Cube=

“Ya.. Ini, orang yang menjebak kita!” Teriak Gikwang dari ruang tengah.

Dujun, Junhyung dan Hyunseung segera menghampiri Gikwang.

“Ne? Nugu?” Tanya Dujun.

“Zero.zero.zero..” Jawab Gikwang pelan.

Mata Dujun membesar, “Shit!!!” Serunya sambil menendang lantai.

Hyunseung memutar bola matanya mendengar nama itu, “Great! Aku sempat memikirkan dia..”

“Aissh!! Pria itu!” Ucap Junhyung kesal.

“Sial!! Jadi begini caramu menyerang kami?!!” Seru Dujun marah.

“Apa ada rencana, agent D?” Tanya Gikwang.

Dujun memejamkan matanya sambil berpikir. Ini bukan masalah kecil jika pria bernama zero.zero.zero sudah ikut campur dengan urusan mereka.

Hyunseung memandang sekitar, “Mana Miss J?”

Agent yang lain baru menyadari ketidakhadiran Jihyun.

=Apartemen Hyunsik=

Jihyun bergerak sedikit sambil mengelus matanya, lalu membuka mata dan memandang sekitar. Dia terkejut menyadari dia tak berada dikamarnya. Dengan cepat dia bangkit dan memeriksa tubuhnya, bajunya masih lengkap dan tak ada tanda-tanda pemerkosaan.

“Kau di apartemenku, Miss J..” Ucap Hyunsik sambil melangkah masuk ke kamarnya.

Jihyun terkejut dan segera hendak mengambil pisaunya dibalik rok, namun sudah tak ada.

“Aku menyimpannya..” Ucap Hyunsik yang menyadari apa yang dicari Jihyun sambil duduk di pinggir tempat tidurnya.

Jihyun merapatkan selimut ketubuhnya dan menjauh dari tempat Hyunsik duduk, “Kenapa aku disini?!”

“Semalam kau pingsan, jika kubawa kerumah sakit akan berbahaya untukmu. Jadi aku membawamu ke apartemenku..” Jelas Hyunsik.

Jihyun mencoba mengingat kejadian semalam, namun dia hanya ingat ketika pria itu berkata tentang So-1 yang bukan Jikyun. Dia kembali menatap pria itu kesal, “Mana pisau-pisauku? Aku harus segera pergi..”

“Kau yakin? Sekarang pukul 10 siang..” Jawab Hyunsik sambil menunjuk jam dimejanya.

Jihyun menatap jam itu kaget, “Ne?!”

“Ne, aku yakin kau tak ingin berkeliaran ditengah terik matahari seperti ini..” Ucap Hyunsik sambil tersenyum.

“Ahh.. Eoteokhe?” Gumam Jihyun bingung.

“Tenang saja, kau bisa menghabiskan waktu di apartemenku..” Jawab Hyunsik.

Jihyun menatap Hyunsik heran, “Ya! Aku ini penjahat! Kenapa berbaik hati padaku? Sudahlah, aku bisa bersembunyi ditempat lain. Mana pisau-pisauku?”

Hyunsik diam sejenak, lalu membuka laci disebelah tempat tidur dan mengambil tali yang digunakan Jihyun untuk menyelipkan pisau-pisau itu. “Kau tau, ini bisa melukai pahamu. Kenapa tidak menggunakan pistol saja?” Tanyanya heran.

Jihyun mengambil tali itu dan menyibak selimut, lalu memasangnya lagi. “Bukan urusanmu..”

Hyunsik memalingkan wajahnya karena Jihyun mengangkat pahanya, “Ya.. Aku ini pria!” Ucapnya kesal.

“Aku tau..” Ucap Jihyun, lalu turun dari tempat tidur dan langsung melangkah ke pintu.

“Ya.. Kau bisa menunggu disini hingga malam tiba..” Ucap Hyunsik sambil berdiri.

“Tidak, terima kasih..” Ucap Jihyun tanpa memandang Hyunsik.

Hyunsik mengikuti Jihyun keluar kamar dan mendahului gadis itu ke pintu, juga menahan pintu itu.

Jihyun menatap Hyunsik kesal, “Ya!!”

Hyunsik menatap Jihyun tak mengerti, “Mengapa kau selalu berburuk sangka padaku? Aku hanya ingin membantumu!”

“Tapi aku tidak butuh bantuanmu!” Ucap Jihyun.

Hyunsik muak dengan kekeraskepalaan Jihyun dan langsung mengangkat pinggang gadis itu ke bahunya dan membawanya kembali masuk.

“Ya!! Ya!!” Teriak Jihyun.

Hyunsik menurunkan Jihyun di sofa dan duduk dimeja agar bisa berhadapan langsung dengan gadis itu, “Aku tidak ingin kau membawa status kita saat ini! Tak bisakah kita berteman?”

Jihyun menatap Hyunsik penuh kebencian, “Aku tidak berteman dengan polisi! Juga tidak ingin berbaik hati pada mereka!!”

Hyunsik hampir tersedak mendengar ucapan Jihyun, “Karena aku anggota kepolisian? Ya! Apa-apaan kau?!”

“Tutup mulutmu!” Seru Jihyun dan bergerak bangkit.

Hyunsik menahan kedua tangan Jihyun hingga gadis itu tak bisa bangkit, “Wae? Kau trauma dengan polisi? Apa tuntutanmu tak berjalan lancar? Atau pajakmu terhitung dua kali lipat?!!” Tanyanya kesal.

Jihyun berusaha berontak, “Lepas!” Serunya, namun pria itu terlalu kuat. Dia juga berusaha menendang pria itu, namun kakinya terjebak diantara kaki pria itu.

“Nam Jihyun!!” Seru Hyunsik.

Jihyun terkejut dan menatap Hyunsik tak percaya, sudah lama tak ada yang berseru dengan nama aslinya.

“Dengar, apa pun yang dilakukan polisi-polisi itu padamu. Aku akan berusaha memperbaikinya..” Ucap Hyunsik pelan.

Jihyun menatap Hyunsik tajam, lalu tersenyum sinis. “Kau tak akan bisa memperbaikinya..”

“Aku bisa! Katakan, apa yang membuatmu membenci polisi?” Tanya Hyunsik ingin tau.

Senyum Jihyun memutar dan menatap Hyunsik tajam. Tampak kebencian mendalam di tatapannya.

“Jawab aku!” Ucap Hyunsik tegas.

“Kau harus menghidupkan Jikyun lagi untuk memperbaikinya..” Ucap Jihyun dingin.

Hyunsik tertegun, “Ne?”

“Wae? Kau tak bisa?” Tanya Jihyun sinis.

Dahi Hyunsik berkerut, “Apa maksudmu?”

“Saat itu aku berkata pada polisi yang datang ke lokasi penculikan kalau adikku ada dalam bagasi mobil, tapi mereka berkata aku tidak perlu ikut campur. Hingga beberapa jam aku berteriak kalau adikku ada di dalam bagasi, mereka baru memeriksanya.” Ucap Jihyun dengan wajah penuh kebencian, namun bulir air mulai berjatuhan dari matanya. “Tapi Jikyun sudah mati! Dia mati 1 jam sebelum mereka membuka bagasi itu..” Lanjutnya, lalu bibirnya membentuk senyuman sinis. “Kau bisa menghidupkan Jikyun lagi?”

Hyunsik menatap Jihyun tak percaya, tak tau apa yang harus dia katakan.

“Setelah kejadian itu aku selalu berhalusinasi, melihat hal-hal mengerikan yang terus menghantuiku. Karena itu aku harus menjalani terapi kejiwaan. Kau tau rasanya? Setelah keluar dari tempat rehabilitasi semua orang memberi gelar ‘gila’ padaku. Kau bisa menghilangkan itu?!” Ucap Jihyun penuh emosi. Matanya melotot pada Hyunsik dengan bulir air mata terus berjatuhan.

Hyunsik menatap Jihyun iba, rasanya dia ikut merasakan apa yang dirasakan gadis itu. Dia melepaskan kedua tangan Jihyun dan memeluknya.

Jihyun berusaha melepaskan pelukan Hyunsik, namun pria itu tetap memeluknya erat.

Hyunsik memejamkan matanya dan menarik tubuh Jihyun lebih menempel ke tubuhnya, berusaha memberikan pesan kalau semuanya akan baik-baik saja.

Tangan Jihyun yang berusaha mendorong Hyunsik akhirnya melemah dan hanya bertumpu di dada bidang pria itu. Matanya terpejam dan menyandarkan dahinya di sudut bahu dan leher pria itu.

Hyunsik mengangkat tangannya untuk mengelus rambut Jihyun, sementara tangannya yang lain memeluk gadis itu “Aku tidak seperti itu Miss J. Aku akan menjadi lebih baik..” Ucap Hyunsik sambil mengelus punggung Jihyun.

=Markas GET=

“Hei.. Tumben sekali Hyunsik ijin tidak masuk hari ini, kemana dia?” Tanya Eunji pada teman-temannya.

“Mola, dia hanya berkata tidak bisa datang. Sepertinya harus melakukan sesuatu..” Ucap Minhyuk.

Chorong tertegun, “Apa mungkin dia sakit ya? Seperti waktu itu, dia berkata ijin tidak masuk tapi ternyata demam tinggi..”

“Aah.. Benar, dia kan berpikir tidak keren jika kita mengetahuinya sakit.” Ucap Eunji sambil mengangguk.

“Begini saja, setelah kita menyelesaikan tugas siang ini, kita datang saja ke apartemennya. Paling dia tak akan pergi kemana-mana..” Usul Minhyuk.

“Aku setuju..” Ucap Chorong cepat.

Eunji menatap Chorong heran, lalu matanya menyipit. “Ya, jadi benar kau dan Hyunsik pernah berkencan dulu?”

Minhyuk ikut menatap Chorong curiga, “Benar?”

Chorong tampak gugup, “Ne? Ooh.. Ani..” Jawabnya sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga.

“Aigoo.. Jangan berbohong, iya kan?” Selidik Eunji.

“Sudah.. Ceritakan saja. Aku tau kalian sering pergi bersama saat kita masih berlatih di markas utama..” Ucap Minhyuk.

Wajah Chorong merona merah, “Baiklah, itu hanya masa lalu. Lagi pula kami hanya berteman dekat saja..”

“Apa Hyunsik tak pernah mengatakan isi hatinya padamu?” Tanya Minhyuk ingin tau.

Chorong menggeleng.

“Ahhh.. Jangan-jangan Hyunsik malu menyampaikannya padamu, dia kan memang selalu begitu..” Ucap Eunji.

“Bagaimana jika kami membantumu?” Tanya Minhyuk dengan senyuman manisnya.

Chorong tertawa kecil.

=Apartemen Hyunsik=

Jihyun berbaring di sofa dengan sebagian tubuhnya tertutupi selimut hangat. Dia kembali tak sadarkan diri setelah menangis tersedu-sedu di bahu Hyunsik.

Hyunsik duduk disofa di sebelah sofa tempat Jihyun berbaring sambil memandang layar ponsel gadis itu. Sejak tadi ada panggilan dari G, J dan D. Tapi tentu saja dia tak bisa menjawabnya. Pesan pendek kembali masuk.

From: G

Miss J, dimana kau? Apa semuanya baik-baik saja?

Hyunsik menghela nafas dalam sambil melirik Jihyun yang masih terlelap, akhirnya dia memutuskan untuk membalas pesan itu agar tak ada yang khawatir.

To: G

Ne, aku baik-baik saja.

Setelah membalas pesan Gikwang, Hyunsik meletakkan ponsel Jihyun disofa dan berpindah duduk ke meja agar bisa memandangi wajah gadis itu lebih jelas. Bibirnya membentuk senyuman melihat ekspresi Jihyun sudah lebih tenang, tangannya terulur dan menyentuh pipi gadis itu. “Kau aman disini..” Gumamnya.

Ting! Tong!

Hyunsik memandang ke pintu, lalu bangkit perlahan dan berjalan ke layar cctv. Matanya membesar melihat teman-temannya didepan pintu. Terdengar bunyi bel lagi. “Oh tidak!” Ucapnya sambil berlari menghampiri sofa, lalu dengan hati-hati mengangkat tubuh Jihyun dan membawanya ke kamar. Perlahan dia membaringkan gadis itu ke tempat tidur dan kembali menyelimutinya, sebelum keluar kamar dia sempat mencari apa yang bisa dia jadikan alibi. Beruntung matanya melihat headphone dan segera menggantungnya di leher.

Seperti tak terjadi apa pun, Hyunsik membuka pintu dan tampak bingung melihat teman-temannya. “Oh, kalian..”

“Ya, kenapa lama sekali membukanya? Kami pikir terjadi sesuatu padamu!” Ucap Chorong kesal.

“Hehehe.. Maaf, aku mengenakan headphone..” Ucap Hyunsik sambil memegang headphone di lehernya, “Ada apa?” Tanyanya tanpa bergeser dari tempatnya.

Dahi Minhyuk berkerut, “Bisa bicara didalam?” Tanyanya heran.

“Ne? Ow! Benar, ayo masuk..” Ucap Hyunsik sambil melangkah masuk, dia mengedarkan pandangannya untuk memastikan tidak terlihat tanda-tanda keberadaan Jihyun di apartemennya.

Chorong, Eunji dan Minhyuk melangkah masuk dan duduk disofa.

“Kami membawakanmu makanan, ini..” Ucap Eunji sambil menyodorkan bungkusan makanan pada Hyunsik.

Hyunsik tersenyum, “Terima kasih, tapi tadi pagi aku sudah menyiapkan makanan untukku. Aku akan memakannya nanti..”

Minhyuk duduk bersandar disofa sambil memperhatikan ruang tamu, “Sepertinya ada yang berbeda..” Ucapnya.

Hyunsik terkejut, “Ne?! Ani! Tidak ada yang berubah!” Ucapnya cepat.

Minhyuk memandang Hyunsik heran, “Ada apa denganmu?”

“Hm? Ani.. Aku baik-baik saja..” Jawab Hyunsik berusaha menutupi kegugupannya.

“Oh iya, kenapa kau izin hari ini?” Tanya Chorong ingin tau.

“Ooh.. Aku hanya merasa tidak baik tadi pagi, sepertinya gejala flu. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa..” Jawab Hyunsik.

Chorong yang duduk didekat Hyunsik mengulurkan tangannya ke dahi pria itu, “Kau tidak panas..”

Hyunsik menarik tangan Chorong dari dahinya, “Ne, aku baik-baik saja.. Besok aku sudah masuk seperti biasa lagi..”

Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel, membuat orang-orang disekitar sana memandang ke sekitar mencari asal suara.

“Ponsel siapa itu?” Tanya Minhyuk.

“Tunggu, sepertinya disini..” Ucap Eunji sambil mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya, “Hm? Ponselmu Hyunsik?” Tanyanya.

Hyunsik terkejut melihat itu adalah ponsel Jihyun.

Minhyuk tak sengaja melihat layarnya, dibalik pemberitahuan pesan masuk terlihat samar photo seorang gadis. “Omo! Ini siapa?!” Serunya histeris.

Dengan cepat Hyunsik merebut ponsel itu dari tangan Minhyuk, “Ya! Jangan sembarangan melihat!” Serunya.

Minhyuk terkejut, lalu menatap Hyunsik curiga. “Aigoo.. Kau memajang photo seorang gadis kan? Siapa itu?”

Eunji dan Chorong tampak tertarik, “Hm? Gadis? Siapa?”

Hyunsik menelan ludah memikirkan jawaban apa yang harus dia katakan, “Bu.. Bukan siapa-siapa..”

“Jika bukan siapa-siapa kenapa wajahmu pucat begitu? Hahaha..” Tawa Eunji.

Chorong menatap Hyunsik ingin tau, “Apakah kekasihmu?”

Semuanya terdiam menatap Chorong, lalu menatap Hyunsik menunggu jawaban.

“Mmm.. Bukan, bukan kekasihku..” Jawab Hyunsik pelan.

“Tapi, kenapa kau menjadikannya wallpaper ponselmu?” Tanya Chorong.

Hyunsik tertawa kecil, “Mmm.. Ini, ini seorang aktris kesukaanku.. Aku hanya malu memperlihatkannya..”

“Ooh.. Aktris, kupikir kekasihmu..” Ucap Eunji sambil mengangguk mengerti.

“Ohya? Siapa aktris favoritmu?” Tanya Minhyuk ingin tau.

Hyunsik tertegun, “Ne?” Dia berusaha memikirkan salah satu aktris cantik yang sedang naik daun, “emmm.. Itu.. Park ShinHye..” Jawabnya asal.

“Hmm.. Park ShinHye..” Ucap mereka bertiga sambil mengangguk mengerti.

Hyunsik menghela nafas lega dan memandang layar ponsel Jihyun, ada pesan masuk. Dari G.

From: G

Kenapa kau tidak kembali sejak semalam?

Hyunsik melirik teman-temannya yang sedang membahas tentang aktris Park ShinHye itu. Lalu memikirkan balasan apa yang harus dia ketik.

To: G

Aku akan segera pulang ketika malam, tenang saja..

=Markas Cube=

“Miss J berkata akan kembali ketika malam..” Ucap Gikwang memberitau pesan Jihyuk pada teman-temannya.

“Hm? Tidak biasanya Miss J pergi seorang diri sampai bermalam..” Ucap Junhyung heran.

Hyunseung memandang jam tangannya, “Masih pukul 2..” Ucapnya.

“Apa dia terkena masalah?” Ucap Dujun mengemukakan pendapatnya.

“Entahlah.. Tapi sepertinya akhir-akhir ini Miss J memang sering terlibat masalah..” Ucap Gikwang.

=Apartemen Hyunsik=

Akhirnya Jihyun kembali terbangun dikamar Hyunsik, perlahan dia bangkit sambil memegang kepalanya. Dia memandang ke kanan dan kiri, namun tak melihat Hyunsik disana. Dia menyibak selimut dan menurunkan kakinya ke samping tempat tidur, saat itu dia sadar tali dan pisau-pisaunya di paha tidak ada. Namun semua itu ada di atas meja, juga ponselnya. Dia bangkit sambil mengambil barang-barangnya dan berjalan ke pintu.

Hyunsik yang sedang menyiapkan makan malam tersenyum melihat Jihyun keluar dari kamarnya, “Hei.. Kau lapar?”

Jihyun tertegun melihat pria itu memasak, perlahan dia berjalan ke meja dapur dan duduk. Sejujurnya dia sangat lapar karena seharian tidak makan, “Kau memasak?”

Hyunsik mengangguk, “Ne.. Tinggal sendiri bukan berarti tak memperhatikan makanan kan? Ayo makan..”

Jihyun memandang semangkuk pasta yang disodorkan Hyunsik untuknya, lalu memandang pria itu curiga. “Kau tidak memasukkan racun kan?”

Hyunsik menahan tawa, “Tentu saja tidak, jangan berpikir buruk terus padaku.”

Jihyun sangat ingin langsung menyantap pasta di hadapannya, namun dia tak ingin terlihat mudah. “Apa saja yang kau gunakan untuk memasaknya?”

Senyum Hyunsik menghilang dan memandang Jihyun tak mengerti, lalu mengambil garpu dan mengambil sedikit mi pasta di mangkuk gadis itu dan memakannya. “Kau lihat? Jika aku memasukkan sesuatu, aku yang terlebih dulu terkena dampaknya.”

Jihyun diam sejenak, lalu mengambil garpu lain dan mulai makan. Dia cukup terkesan masakan Hyunsik sangat enak, namun tentu saja tak memperlihatkannya.

Hyunsik ikut makan dihadapan Jihyun sambil memperhatikan gadis itu makan, “Kau tau, kau gadis pertama yang tidur dan makan berdua denganku disini..”

Jihyun memandang Hyunsik tanpa berkomentar dan kembali memandang mangkuknya.

Hyunsik merasa gagal menarik perhatian Jihyun dan memikirkan cara lain, “Mmm.. Aku baru melihat ada seorang gadis bisa tertidur hampir 20 jam sehari..” Komentarnya sambil melirik Jihyun, namun sepertinya dia gagal lagi.

“Aku pernah tertidur selama hampir seminggu..” Ucap Jihyun tanpa memandang Hyunsik karena sibuk dengan makanannya.

Hyunsik tertegun mendengar ucapan Jihyun hingga menatap gadis dihadapannya tak percaya. “Ne?”

Jihyun meletakkan garpu di tangannya, “Aku sudah selesai, terima kasih..” Ucapnya sambil bangkit dan berjalan ke pintu.

Hyunsik segera mengejar Jihyun dan menarik tangannya, “Tunggu, aku akan mengantarkanmu..”

Jihyun menepis tengan Hyunsik, “Tidak perlu, aku bisa sendiri..”

Hyunsik kembali menahan tangan Jihyun, “Tutup mulutmu! Ikut aku!” Ucapnya kesal dan menarik gadis itu keluar dari apartemennya.

Jihyun menatap Hyunsik kesal, namun tetap berjalan.

Selama perjalanan Jihyun hanya diam sambil memandang ponselnya, dahinya berkerut ada beberapa pesan dari Gikwang. “Kau membalas pesan-pesan ini?!” Tanyanya marah.

“Aku hanya tidak ingin mereka khawatir..” Jawab Hyunsik.

“Aissh.. Lancang sekali!!” Seru Jihyun dan memeriksa apa saja yang dikirimkan teman-temannya.

Hyunsik melirik Jihyun kesal, “Kau tidak bisa berhenti berseru, Miss J?”

Jihyun menatap Hyunsik, “Tidak..”

Hyunsik memutar bola matanya kesal dan kembali fokus ke jalanan, “Aku tak mengerti mengapa kau mau menjadi penjahat hanya karena seorang pria yang mirip dengan adikmu..” Ucapnya heran, namun dia bergidik melihat tatapan mematikan Jihyun padanya.

“Hentikan mobil ini!” Perintah Jihyun.

“Aku hanya bercanda..” Ucap Hyunsik menyesal.

Jihyun melepaskan safety beltnya dan langsung membuka pintu tak peduli mobil Hyunsik masih melaju.

“Ya!!” Seru Hyunsik sambil menarik tangan Jihyun sebelum gadis itu meloncat sambil berusaha tetap mengendalikan mobilnya.

Jihyun menatap Hyunsik marah.

“Tutup pintu itu! Aku akan menghentikan mobilku!” Seru Hyunsik.

Jihyun mendorong tangan Hyunsik dan langsung meloncat keluar.

“YA!!” Teriak Hyunsik dan reflek menginjak rem.

Jihyun berguling di aspal beberapa saat namun berhasil berhenti dengan posisi berjongkok, dia sudah terlatih untuk kondisi seperti itu. Dengan cepat dia bangkit dan berlari meninggalkan tempat itu.

Hyunsik keluar dari mobilnya hanya untuk ternganga melihat Jihyun berlari pergi seolah-olah tidak terjadi apa pun barusan. Dia ingin mengejar gadis itu, namun kendaraan dibelakangnya sudah menekan klakson panjang. Terpaksa dia kembali masuk ke mobilnya dan menginjak gas pergi.

Tak lama setelah itu. Jihyun sudah bisa melihat markas Cube dari tempatnya berjalan. Lengan dan lututnya terluka karena tergesek aspal, pelipis kanannya mengeluarkan darah. Pergelangan kaki kanannya juga terasa nyeri saat melangkah.

Dia berhenti sejenak dan duduk di sebuah bangku, “Aah.. Sakit..” Rintihnya pelan sambil memegang kepala.

Hyunseung yang sedang berjalan-jalan di tengah kegelapan tertegun melihat Jihyun duduk di bangku seorang diri dengan tubuh terluka. “Ya, ada apa denganmu?”

Jihyun menoleh pada Hyunseung, “So-1?”

Hyunseung menghampiri Jihyun dan memperhatikan luka di tubuhnya, “Ada apa denganmu?”

Jihyun bingung harus bagaimana menjelaskan keadaanya, “Aku hanya meloncat dari mobil..” Ucapnya pelan.

Hyunseung menarik tangan Jihyun, “Ayo..”

Jihyun tak melawan dan mengikuti Hyunseung kembali ke markas. Semua orang tampak kaget melihat kondisi Jihyun.

“Ya.. Kau diserang atau bagaimana?” Tanya Dujun tak mengerti.

“Seharusnya kau tidak pergi seorang diri! Apa-apaan kau?!” Tanya Junhyung kesal.

Jihyun hanya diam. Gikwang membantunya mengobati luka-luka di lengan, lutut dan pelipisnya.

“Apakah sakit?” Tanya Gikwang sambil membersihkan luka di lengan Jihyun.

Jihyun menggeleng. Matanya melirik Hyunseung yang berdiri di anak tangga terakhir memperhatikan teman-temannya. ‘Kau yang membuatku berharap kau memang Jikyun, So-1..’ Batinnya sedih.

=Beberapa Hari Kemudian=

Markas Kepolisian.

Hyunsik duduk di ruang kerjanya bersama yang lain sambil menatap layar ponselnya, dia tak tau apa yang harus dia katakan jika menghubungi Jihyun dan itu membuatnya frustasi. Apalagi ketika mengingat bagaimana gadis itu meloncat dari mobilnya dan berlari pergi. ‘Dia pasti terluka..’ Batinnya, ‘Aku tau dia terluka..’ Batinnya lagi. Sejak semalam dia benar-benar menyesal telah membahas mengenai Jikyun lagi di mobil. Jihyun bukan gadis yang mudah ditaklukan, gadis itu akan sangat sensitif jika sudah mengenai adiknya.

Eunji kembali ke kursinya setelah berbicara dengan Dongwoon di kursinya sambil menghela nafas berat.

Hyunsik menoleh pada Eunji, “Waekeure?”

Eunji memandang Hyunsik frustasi, “Kau tau, orang yang menjebak kita waktu itu bernama zero.zero.zero..” Ucapnya.

Dahi Hyunsik berkerut, “Hm? Aku tidak pernah mendengarnya..”

“Sepertinya mereka organisasi lain yang luput dari pantauan kita..” Ucap Eunji sambil berpikir.

Hyunsik berpikir sejenak, “Dan dia juga ingin menghancurkan Cube..”

“Ne..” Jawab Eunji. “Mmm.. Apa menurutmu mungkin mereka adalah musuh Cube?”

“Mungkin..” Jawab Hyunsik, “Yang jelas juga musuh kita karena juga telah menjebak kita..”

“Ne, kau benar.. Aku masih harus memeriksakan diri ke rumah sakit karena asap beracun itu..” Ucap Eunji kesal.

Hyunsik mengangguk, lalu memandang layar ponselnya lagi. Saat itu, dia teringat Jihyun. Sebuah ide muncul di kepalanya. Seulas senyum muncul di bibirnya, ‘Okay, Miss J..’ Batinnya senang.

=Markas Cube=

Semua anggota Cube duduk di ruang tengah untuk membicarakan mengenai zero.zero.zero.

Dujun mengelus dahinya sambil menghela nafas berat, “Ini bukan sekedar masalah kecil..”

“Zero.zero.zero tidak pernah bisa menyentuh kita, kenapa sekarang kau risau begitu?” Tanya Junhyung heran.

Dujun memandang Junhyung dan yang lain bergantian, lalu menghela nafas berat. “Karena sebelumnya zero.zero.zero tidak tau aku pemimpin Cube..” Ucapnya pelan.

Dahi Jihyun berkerut, “Maksudmu?”

Dujun mengelus pundaknya, “Well.. Harusku akui, ada satu hal yang tidak pernah kukatakan pada kalian..”

Anggota Cube memandang Dujun serius.

Dujun menghela nafas dalam, “Aku mempunyai seorang kakak laki-laki, kami selalu bersaing dalam hal apa pun.” Ucapnya memulai cerita, “zero.zero.zero adalah kakakku..”

Mata semua anggota Cube melotot dengan mulut terbuka, “Ne?!”

Dujun memegang kepalanya frustasi, “Ahhh.. Dia benar-benar membuatku gila..”

“Kau serius agent D?” Tanya Junhyung tak percaya.

“Aku berharap terlahir sebagai anak tunggal..” Ucap Dujun.

“Lalu, bagaimana mungkin dia ingin membunuh adiknya di ruang yang penuh asap beracun?!” Tanya Jihyun kaget.

“Dia bahkan pernah mematahkan lenganku saat kami bermain hokey..” Jawab Dujun dan kembali kesal mengingat hari itu.

Semuanya tercekat dan saling berpandangan tak percaya.

Dujun menghentak kakinya ke lantai, “Arrrgh!!” Serunya, lalu membanting punggungnya ke sofa.

“Apakah ini berarti perang?” Tanya Junhyung.

Dujun menatap Junhyung kesal, “Menurutmu?!”

“Apa yang zero.zero.zero inginkan darimu?” Tanya Hyunseung.

Dujun duduk tegap dengan kedua tangan tersilang di dada dan memandang jendela untuk berpikir, “Mungkin dia ingin menghancurkanku, atau dia ingin membuatku tunduk di bawah kekuasaannya, atau dia ingin membunuhku..” Jawabnya santai.

Keempat anggota Cube yang lain bergidik.

Dujun kembali memandang anggotanya, “Yang pasti dia ingin mengungguliku..” Ucapnya.

“Woaaah.. Keluargamu sangat mengerikan..” Ucap Gikwang ngeri.

“Sudahlah.. Pastikan saja kita tidak terbunuh oleh ulahnya..” Ucap Dujun, lalu bangkit dan masuk ke kamarnya.

Keempat anggota Cube saling berpandangan dan geleng-geleng kepala.

Sementara itu.

Hyunsik berdiri di depan mini market sambil memandang jam tangannya, “Hmm.. Jam 8, dia pasti belum keluar dari markasnya.” Ucapnya sendiri, lalu melangkah ke arah Jihyun pergi saat itu sambil memperhatikan sekitar. Juga menebak-nebak arah mana yang kira-kira di lalui gadis itu. Namun dia tak menemukan apa pun yang mencurigakan disana, hanya perumahan sepi. “Apa yang harus kulakukan untuk menemukannya?” Gumamnya sambil berpikir.

Hyunsik mengeluarkan ponselnya, “Apa aku bisa melacaknya menggunakan GPS?” Ucapnya ragu, lalu mencoba menemukan dimana sinyal ponsel Jihyun. Dahinya berkerut mendapatkan sinyal, namun ragu apakah memang ponsel gadis itu atau tidak. Tapi tidak salah jika mencoba. Dengan tetap hati-hati dia melangkah mengikuti dimana senyal ponsel gadis itu, untuk lebih amannya dia berjalan di sisi jalan yang tak tersorot cahaya lampu. Sepertinya dia memang selalu beruntung.

Jihyun duduk di bangku tak jauh dari markas Cube sambil memandangi bintang. Di perumahan itu sangat jarang ada orang yang keluar atau beramah tamah antar tetangga, jadi dia tak perlu khawatir ada yang mengenalinya.

Hyunsik tersenyum melihat Jihyun dan mengendap-endap menghampiri gadis itu.

“Kau bukan dia, tapi kenapa terkadang terlihat sama?” Tanya Jihyun sendiri.

Hyunsik berhenti dan memandang Jihyun bingung.

Jihyun menghela nafas dalam dan menunduk memandang kakinya.

Meskipun Jihyun tak mengatakan apa pun lagi, Hyunsik bisa merasakan kesedihan gadis itu. Dia memberanikan diri lebih mendekat dan duduk di sebelah Jihyun namun dengan arah yang berlawanan.

Jihyun menoleh ke samping, lalu terkejut melihat Hyunsik. “Ya!” Serunya kaget, lalu memandang ke arah markas untuk memastikan tidak ada yang memperhatikan.

Hyunsik tersenyum tipis, “Hei..”

“Kenapa kau disini?!” Tanya Jihyun curiga, lalu memandang sekitar. “Kau ingin memata-matai markasku ya?!”

Hyunsik bingung sendiri melihat ekspresi Jihyun, “Ani, aku datang sendiri..” Jawabnya.

Jihyun menatap Hyunsik kesal, “Ya, aku sangat muak bertemu denganmu! Berhenti muncul di depanku!” Ucapnya, lalu berdiri dan melangkah kembali ke markas.

Hyunsik segera berdiri dan menarik tangan Jihyun, “Miss J, tunggu..”

Jihyun menatap Hyunsik marah, “Lepaskan tangan kotormu!”

Hyunsik menatap Jihyun tak mengerti, “Miss J, aku dapat memastikan tanganku bersih dari kejahatan apa pun!” Ucapnya tegas.

“Oh ya?! Apa kau bisa memastikan semua pekerjaan yang kau lakukan bersih?” Tanya Jihyun sinis.

Hyunsik berusaha menahan diri agar tak terpancing oleh gadis itu, “Dengar, Nam Jihyun-ssi! Bukankah pekerjaanmu yang sangat kotor? Membunuh orang tak bersalah?! Mencuri?! Menjebak orang?!”

Jihyun tersenyum sinis, lalu tertawa merendahkan. “Jadi karena itu kau dan teman-temanmu mengincar Cube? Kami lebih terhormat dari apa yang kau pikirkan!”

“Tidak ada pembunuh yang terhormat!” Ucap Hyunsik.

Jihyun diam sejenak, lalu tersenyum manis. Membuat Hyunsik bergidik melihat perubahan ekspresinya. “Ne, tidak ada pembunuh yang terhormat..” Ucapnya, “Begitu juga para polisi yang telah membunuh adikku, benarkan? Detektive, Lim Hyunsik?”

Hyunsik tertegun, merasa bersalah atas ucapannya sendiri. “A.. Ani.. Bukan seperti itu..”

Jihyun menyentak tangannya dan kembali menatap Hyunsik dingin, “Jadi, siapa yang bermain di kubangan lumpur?” Tanyanya sinis, lalu berbalik dan melangkah pergi.

Hyunsik diam sejenak memperhatikan Jihyun pergi, “Aku…” Ucapnya.

Jihyun berhenti melangkah mendengar ucapan Hyunsik, lalu berbalik memandang pria itu tak mengerti.

“Aku yang bekerja di pekerjaan buruk, kau juga..” Ucap Hyunsik.

Jihyun menghela nafas dalam dan kembali melangkah pergi.

Hyunsik mulai kesal dengan sikap Jihyun, “Ya! Nam Jihyun!” Panggilnya, namun gadis itu tak berhenti. “Jihyun!! Kembali kemari atau aku akan mengikutimu ke markas Cube!!” Ancamnya.

Jihyun tak peduli mendengar ucapan Hyunsik dan terus melangkah. ‘Memangnya kau mau cari mati?’ Batinnya kesal, namun tepat di depan rumah yang sebenarnya adalah markas Cube, Gikwang muncul di pintu.

“Ya.. Miss J, kemana saja? Kupikir kau menghilang lagi..” Ucap Gikwang heran.

“Aku hanya ingin berjalan-jalan..” Jawab Jihyun sambil melangkah maju, namun dia berhenti melihat Gikwang tertegun menatap kebelakangnya. Ketika memandang ke belakang, matanya membesar melihat Hyunsik.

“Kau!!” Seru Gikwang sambil menunjuk wajah Hyunsik.

Hyunsik memandang Jihyun dan Gikwang santai, “Hei semua..”

Jihyun shock pria itu bukannya lari, lalu menatap Gikwang yang memasang sikap siaga.

………………………………………………..

Hyunsik di dorong dengan kasar ke kursi oleh Dujun dan Gikwang, kedua tangan dan kakinya diikat di kursi.

Junhyung, Dujun dan Gikwang menyilangkan kedua tangan di dada sambil menatap Hyunsik sinis.

“Cih.. Kau merasa hebat datang kemari?” Tanya Dujun sinis.

Hyunsik memandang semua orang disana, lalu melirik Jihyun yang berdiri di anak tangga paling akhir dengan wajah tertunduk.

“Ya!! Apa maumu kemari? Ohh.. Atau kau sudah menghubungi teman-temanmu yang lain untuk datang kemari? Hmm.. Hebat sekali..” Sindir Junhyung.

Hyunsik memandang ketiga pria di depannya, “Sebenarnya, aku ingin membicarakan tentang zero.zero.zero..”

Dahi Dujun berkerut, “Mwo? Cih.. Kau datang ke tempat yang salah! Kurung dia!” Ucapnya dan berjalan ke kamarnya.

Gikwang tersenyum senang, “Sepertinya kau akan bermalam disini..” Ucapnya.

Hyunsik sama sekali tidak menunjukkan rasa takutnya, “Jika aku tidak kembali selama beberapa hari, teman-temanku akan mencariku..”

“Tutup saja mulutmu..” Ucap Junhyung, lalu menyeret kursi yang di duduki Hyunsik bersama Gikwang menuju gudang di belakang rumah dan melemparkan pria itu disana.

Hyunsik terbanting miring ke lantai bersama kursinya. Matanya terbuka memandang Gikwang yang tersenyum padanya.

“Shh.. Tetangga disini tidak suka ribut..” Ucapnya, lalu menutup mulut Hyunsik dengan lakban. Lalu menutup pintu dan meninggalkan pria itu disana.

Hyunsik tidak bisa melakukan apa pun di dalam ruangan gelap itu. Meskipun begitu dia sama sekali tidak takut. Dia merasa harus melakukan itu, jadi dia akan menerima semuanya.

Jihyun terkejut mendengar Hyunsik yang di kurung di gudang belakang, namun dia tak mengatakan apa pun.

Keesokan harinya.

Jihyun turun dari lantai atas dan melihat teman-temannya asik di ruang tengah, kepalanya menoleh ke gudang belakang, lalu kembali pada teman-temannya. “Ya, bagaimana dengan detektif itu?”

Semuanya memandang Jihyun bingung, “Detektif mana?” Tanya Gikwang polos.

“Yang kalian masukkan ke gudang semalam..” Ucap Jihyun.

“Oh.. Benar, dia..” Ucap Gikwang ingat, lalu memandang Dujun. “Bagaimana agen D?”

Dujun berpikir sejenak, “Kita tunggu hingga besok, jika tidak ada yang mencarinya atau mengusik kita.. Baru kita bicara lagi dengannya..” Jawabnya santai.

Jihyun tertegun, “Dia disana dua malam apa tidak apa-apa?” Tanyanya.

“Tenang saja.. Dia kan pria, tidak mungkin lemah sekali..” Ucap Junhyung santai.

Keempat pria Cube kembali sibuk dengan kegiatan mereka. Jihyun sangat khawatir, namun berusaha tak memikirkannya.

Namun hingga malam, Jihyun tak bisa menahan dirinya untuk tidak memikirkan bagaimana keadaan Hyunsik. Setelah memastikan yang lain tidur, dia mengendap-endap keluar kamarnya. Dengan bantuan senter untuk menerangi penglihatannya.

Begitu membuka pintu gudang, udara pengap langsung tercium. Membuat Jihyun perlu menahan beberapa detik dan kembali menghelanya perlahan. Disana jauh lebih gelap dari ruangan lainnya. Sinar senternya mengenai kaki seseorang yang terikat pada kursi, dia segera menghampiri pria itu dan duduk di depan kepalanya yang terkulai di lantai. Dahinya berkerut melihat Hyunsik tak bergerak, “Ya..” Panggilnya pelan sambil mendorong pipi pria itu dengan telunjuknya, tak ada respon, “Ya!” Panggilnya sambil mendorong pipi pria itu lebih keras.

Akhirnya Hyunsik tersadar kembali dan membuka matanya perlahan, lalu memandang ke asal cahaya itu lemah.

Jihyun bangkit untuk menarik kursi tempat Hyunsik terikat kembali tegak, lalu membuka lakban di mulut Hyunsik perlahan.

Hyunsik tampak sangat lemah karena udara sembab dan dehidrasi.

Jihyun tak ingin merasa bersalah, namun dia tak bisa menyingkirkan perasaan khawatirnya. “Ya! Pabo! Jika kau langsung pergi, tidak mungkin terjadi seperti ini!”

Hyunsik memandang wajah Jihyun di tengah kegelapan, entah mengapa dia senang gadis itu khawatir padanya. Bibirnya membentuk senyuman lemah.

PLAKK!! Tangan Jihyun menampar wajah Hyunsik hingga menghadap ke satu sisi.

Kepala Hyunsik yang sudah terasa sangat pusing, menjadi semakin berputar.

“Aku benci melihat senyumanmu itu!” Ucap Jihyun kesal, lalu kembali memasang lakban di mulut Hyunsik dan bangkit. Dia ingin pergi, namun saat itu dia menyadari pria itu malah tampak tak sadarkan diri. “Ya..” Ucapnya sambil mengetuk kepala pria itu, namun tak ada jawaban. “Ya!” Panggilnya sambil mengguncang tubuh pria itu.

=Kamar Jihyun=

Hyunsik membuka matanya perlahan, lalu mengedarkan pandangannya. Tubuhnya terasa lemah karena tidak menerima asupan makanan dan air lebih dari 24 jam. Setelah beberapa menit dia baru menyadari di hidungnya terpasang alat inhalasi. ‘Dimana ini?’ Batinnya. Akhirnya dia melihat seorang gadis tertidur di kursi dengan kepala tertumpu pada tangannya di meja. Ia bisa menebak itu adalah Jihyun. Jika ia bisa bergerak, saat itu ia akan bangun dan memindahkan gadis itu ke tempat tidur. Namun keadaannya sangat buruk saat itu.

Duk! Kepala Jihyun terjatuh dari tangannya dan membentur meja, membuat gadis itu langsung terjaga dan memegang dahinya. “Aaaaaaah..” Rintihnya pelan. Lalu memandang sekitar kamarnya dan menyadari Hyunsik sedang memandanginya. “Oh.. Kau sudah sadar?” Tanyanya sambil bangkit dan menghampiri pria itu, lalu duduk di pinggir tempat tidur.

Hyunsik tak mengatakan apa pun, hanya memandangi Jihyun.

“Kau dehidrasi dan kekurangan oksigen..” Ucap Jihyun memberitau sambil melepaskan alat inhalasi dari wajah Hyunsik.

Hyunsik tertegun merasakan tangan Jihyun sangat lembut memegang kepalanya.

“Ini, minum perlahan..” Ucapnya sambil menyodorkan botol air mineral ke mulut Hyunsik.

Hyunsik menelan air itu perlahan, namun tiba-tiba tenggorokannya terasa aneh dan malah kembali menyemburkan air itu. “Uhuk! Uhuk!”

“Aissh! Sudah kukatakan perlahan!” Ucap jihyun kesal, lalu mengambil handuk kecil di meja.

“Mian..” Ucap Hyunsik menyesal karena tangan dan sebagian baju Jihyun terkena air yang muncrat dari mulutnya. Tapi ternyata gadis itu bukannya mengelap air ditubuhnya, melainkan membersihkan wajah Hyunsik.

“Kau sangat dehidrasi, jangan menelan air terlalu cepat dulu..” Ucap Jihyun dan membersihkan air di tangannya.

Hyunsik memandang Jihyun tak mengerti, ‘Bagaimana gadis sepertimu bergabung dengan pria-pria itu?’ Batinnya bingung.

“Ini, cobalah minum sedikit lagi..” Ucap Jihyun dan kembali memberikan botol minuman ke mulut Hyunsik.

Hyunsik mengangguk pelan dan meminum air di botol itu perlahan, kali ini dia bisa menelannya dengan baik. Memang terasa lebih baik setelah meminum setengah air di botol itu.

Jihyun menutup botol dan meletakkannya di meja, lalu memandang Hyunsik. “Tidurlah..” Ucapnya dan bangkit.

Hyunsik mendapatkan sedikit kekuatannya dan menarik tangan Jihyun, membuat gadis itu berhenti untuk menatapnya. “Jika kau membantuku, apa kau akan terkena masalah?”

Jihyun diam sejenak, “Anggap saja ini balasanku karena kau telah membantuku di mini-market..” Ucapnya, lalu kembali melangkah pergi, tapi tangan pria itu tetap memegang pergelangan tangannya. “Lepaskan!” Ucapnya kesal.

Hyunsik menatap Jihyun tulus, “Terima kasih, kupikir aku akan mati disana..” Ucapnya.

Jihyun tertegun, lalu memalingkan wajahnya dan berjalan keluar kamar.

Keesokan paginya.

Jihyun harus menghadapi teman-temannya karena membantu Hyunsik.

“Mwo?! Kau membawanya ke kamarmu?!! Ya!!” Seru Junhyung di akhir kalimatnya.

Jihyun tersentak mendengar seruan Junhyung di depan wajahnya dengan mata terpejam.

Hyunseung melangkah maju dan langsung menjambak rambut Jihyun agar wajah gadis itu dekat dengan wajahnya.

“Aaahk!!” Jerit Jihyun sambil memegang kepalanya, Hyunseung benar-benar terlihat menyeramkan.

“So-1!!” Seru Dujun.

“Kau punya hubungan dengan detektif itu?” Tanya Hyunseung tanpa mendengarkan Dujun.

“Ani!!” Jawab Jihyun.

Hyunseung semakin memperkuat cengkeraman tangannya di rambut Jihyun.

“Aaaaahkkk!!!” Jerit Jihyun menahan sakit.

“Jawab aku, Miss J!!” Seru Hyunseung.

“Aku tidak punya hubungan apa pun dengannya!!” Seru Jihyun.

Tanpa perasaan Hyunseung langsung mendorong kepala Jihyun hingga gadis itu terjerembab ke lantai.

“YA!!” Seru Gikwang pada Hyunseung, lalu segera membantu Jihyun yang tampak shock.

“So-1! Kita tidak menyakiti wanita!!” Ucap Dujun pada Hyunseung.

Hyunseung membanting dirinya ke sofa dan memalingkan wajahnya kesal.

“Miss J, masuk ke kamarmu..” Ucap Dujun.

Jihyun langsung melangkah cepat menaiki tangga.

“Tapi, detektif itu kan ada di kamarnya..” Ucap Junhyung mengingatkan.

Dujun melirik Jihyun, lalu memandang teman-temannya. “Jika Miss J mempercayainya, aku yakin pria itu tak seburuk yang kita pikirkan..” Ucapnya.

Gikwang mengangguk mengerti.

Dujun menatap Hyunseung kesal, lalu melangkah pergi.

Hyunsik yang sebenarnya mendengarkan pembicaraan di bawah segera kembali ke kamar Jihyun dan duduk di pinggir tempat tidurnya.

Jihyun masuk ke kamarnya dan terpaku melihat Hyunsik yang juga memandangnya.

Hyunsik berdiri, “Miss J, gwenchana?”

Jihyun tak menjawab dan segera duduk di meja untuk mengelap pisau-pisaunya.

Hyunsik menghampiri Jihyun dan memperhatikan ekspresinya, “Apa yang terjadi?”

“Bukan urusanmu..” Jawab Jihyun tanpa memandang Hyunsik. Namun sebuah elusan lembut di rambutnya membuatnya tertegun dan memandang Hyunsik.

“Apakah So-1 menyakitimu?” Tanya Hyunsik.

Jihyun diam sesaat, lalu memalingkan wajahnya. “Ani, dia tidak bermaksud menyakitiku, dia hanya kesal. Itu karena kau!”

Hyunsik berlutut di sebelah Jihyun untuk menyamakan tinggi mereka, “Dia memang menyakitimu..”

Jihyun menatap Hyunsik, “Ani! Dia tidak mungkin menyakitiku!”

Hyunsik menatap Jihyun iba, “Yang tidak mungkin menyakitimu adalah Nam Jikyun..” Ucapnya.

Jihyun tertegun mendengar nama adiknya. Ekspresi Hyunsik memancarkan ketulusan yang sudah lama tak dia pandang dari orang sekitarnya. Tanpa sadar matanya memerah dan bulir air mulai berjatuhan.

Tangan Hyunsik terangkat dan menyeka air mata Jihyun, “Gwenchana..” Ucapnya.

Saat itu Jihyun kembali pada dirinya yang asli. Seorang gadis innocent yang sangat menyayangi adiknya.

Hyunsik melepaskan pisau di tangan Jihyun dan kembali meletakkannya di meja, “Ayo.. Aku tau kau tidak tidur semalaman..” Ucapnya sambil menarik tangan gadis itu bangkit.

Jihyun sama sekali tak menolak dan hanya mengikuti Hyunsik ke tempat tidur, lalu berbaring disana. Rasanya sudah sangat lama dia tak merasakan keberadaan seseorang yang bisa membuatnya tenang seperti saat itu.

Hyunsik tersenyum, “Kau mau kunyanyikan lullaby?” Candanya.

Jihyun tersenyum.

Hyunsik hampir bersorak girang melihat senyuman Jihyun, tangannya menggenggam tangan gadis itu. Ia semakin senang gadis itu tak menolak genggamannya.

Jihyun memejamkan matanya dan mulai tenggalam dengan dunianya.

‘Kenapa kau tidak menunjukkan dirimu yang asli sejak dulu?’ Batin Hyunsik sambil memperhatikan ekspresi tenang Jihyun.

Tak lama, dahi Jihyun tampak berkerut dan mulai tidak tenang. “Hmm.. Hmm.. Andwae..” Gumamnya.

Hyunsik menggenggam tangan Jihyun lebih erat sambil mengelus rambutnya, “Ssssh..” Ucapnya agar gadis itu kembali tenang.

Namun Jihyun tersentak dari tidurnya dengan bulir air mata mengalir deras.

“Hei.. Waekeure?” Tanya Hyunsik khawatir.

Jihyun bergerak bangkit sambil menyeka air matanya, “Hanya mimpi buruk..”

Hyunsik memandang jam di meja Jihyun, “Kau baru tidur selama setengah jam..”

“Jika aku merasa nyaman, aku akan bermimpi buruk.. Lalu akan mulai berhalusinasi dan akan berteriak histeris..” Ucap Jihyun.

Hyunsik tertegun mendengar ucapan Jihyun.

Jihyun menatap Hyunsik, “Kenapa aku menceritakan ini padamu?” Tanyanya kesal, lalu turun dari tempat tidur dan melangkah keluar dari kamarnya.

Dahi Hyunsik berkerut, “Baru saja aku bertemu kau yang asli..” Ucapnya pelan, lalu mengikuti Jihyun keluar.

Begitu Hyunsik muncul di ruang tengah, semua orang disana memandangnya tanpa berbicara. Sementara Jihyun tampak melangkah seorang diri keluar rumah.

“Hei.. Apa motif mu datang kemari?” Tanya Dujun.

“Aku akan mengatakannya, tapi tolong jangan gunakan kekerasan saat ini..” Ucap Hyunsik.

Sementara itu. Jihyun melangkah menjauh dari markas sambil memikirkan yang tengah terjadi di markas Cube. Dia berencana akan membeli beberapa cemilan untuk menghilangkan perasaan aneh di hatinya. Namun dia tak menyangka ada sesuatu buruk yang menunggunya.

Saat Jihyun hendak mendorong pintu mini-market, seorang pria keluar. Bahkan hampir bertabrakan dengannya.

Pria yang tak lain adalah Minhyuk itu terkejut melihat Jihyun, “Kau?!”

Jihyun melangkah mundur dan segera berlari, namun Minhyuk lebih cepat. Pria itu berhasil menariknya, juga melumpuhkannya ke tanah, “Ya!!” Teriaknya.

Minhyuk memborgol kedua tangan Jihyun ke belakang tubuhnya.

“Omo!! Ada apa ini?!” Tanya orang-orang sekitar panik.

“Dia ini penjahat! Aku polisi..” Ucap Minhyuk sambil memperlihatkan lencana nya.

……………………………………….

Jihyun duduk di sudut ruangan tanpa mengatakan apa pun di salah satu sel sementara di markas GET. Sudah hampir satu jam dia disana tapi belum ada seorang pun yang datang untuk menginterogasinya.

Dongwoon muncul dengan senyuman di wajahnya bersama Minhyuk dan Eunji. Minhyuk membuka pintu sel dan kembali menguncinya setelah Dongwoon masuk.

“Tinggalkan kami..” Ucap Dongwoon.

Minhyuk dan Eunji terkejut, “Anda yakin, bos?” Tanya Eunji.

“Tenang saja, gadis manis tidak mungkin menggigit kan?” Ucap Dongwoon dengan nada bercanda dan menghampiri Jihyun.

Minhyuk dan Eunji keluar dari ruangan itu.

Jihyun memandang Dongwoon yang duduk bersila di hadapannya tanpa ekspresi.

“Miss J, kau bisa mengatakan dimana teman-temanmu dan hukumanmu akan ringan..” Ucap Dongwoon.

Jihyun memalingkan wajahnya, sama sekali tak berminat menjawab.

Dongwoon tersenyum, “Miss J, aku tau masa lalumu..” Ucapnya yakin.

Jihyun tetap tak mengatakan apa pun.

“Mmm.. Kau pasien di Rumah Sakit Jiwa Busan kan?” Tanya Dongwoon.

Jihyun tertegun dan memandang Dongwoon.

Senyum Dongwoon semakin lebar melihat ekspresi Jihyun, “Kau tau? Dengan statusmu sebagai pasien disana, kau tidak akan dijatuhi hukuman penjara..”

Jihyun berusaha menahan dirinya, namun kedua tangannya mulai gemetaran.

Dongwoon menyadari tangan Jihyun yang mulai saling menggenggam, perlahan tangannya terulur dan memegang tangan gadis itu sambil menatap gadis itu iba. “Aku tau kau pasti merasa berat tinggal disana hingga melarikan diri.. Aku mengerti jika akhirnya kau memutuskan untuk bergabung dengan para penjahat itu..”

“Aku tidak gila, karena itu aku pergi..” Ucap Jihyun pelan, namun Dongwoon bisa melihat bibirnya bergetar.

“Ssssh.. Sudahlah, miss J.. Kau aman disini, apakah para pria itu mengancammu? Tidak perlu khawatir, mereka tidak akan bisa mendekatimu lagi..” Ucap Dongwoon penuh simpatik.

Jihyun mendorong tangan Dongwoon menjauh, “Tutup mulutmu!”

Dongwoon sama sekali tak bergeming dan menatap Jihyun sedih, dia memang sangat mahir mengorek informasi. “Apa mereka menyakitimu? Aku bisa melindungimu..” Ucapnya lembut.

Jihyun tertegun mendengar ucapan Dongwoon, dia kembali teringat saat Hyunseung menjambak rambutnya, juga mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.

Melihat ekspresi Jihyun, Dongwoon seperti bisa membaca apa yang dirasakan gadis itu. Dengan lembut dia menarik gadis itu ke pelukannya, “Tenanglah, disini kau akan dilindungi.. Kau hanya perlu mengatakan dimana mereka..”

Jihyun diam dalam pelukan Dongwoon, tak tau apa yang harus dia katakan.

“Mereka memang penjahat yang mengerikan, tapi aku akan melindungimu..” Ucap Dongwoon lagi.

Jihyun diam-diam memegang pergelangan kakinya dan mengambil pisau di balik sepatu bootnya. Lalu dengan cepat menusuk paha Dongwoon.

Tsuuukkk!!

“Arrrrgghh!!!” Teriak Dongwoon.

Dengan cepat Jihyun bangkit dan berlari ke pintu sel, sambil memperhatikan Dongwoon yang kesakitan dia mengambil jepit rambutnya dan berusaha membuka gembok di pintu.

“Ya!!” Seru Dongwoon pada Jihyun, namun gadis itu berhasil membuka gembok sel dan keluar. Terpaksa dia mengeluarkan pistol dan membidik Jihyun.

Pintu terbuka, masuk Eunji dan Minhyuk. “Bos, gwencha…”

DOR!!

“Aahk!!!” Seru Eunji sambil memegang bahunya. Peluru yang seharusnya mengenai Jihyun menembus bahunya.

“Eunji!!” Seru Minhyuk sambil memapah Eunji.

Jihyun menendang kedua orang itu dan keluar dari ruangan itu, namun Minhyuk berhasil menarik kakinya. Dia terjatuh ke lantai dan segera berusaha melepaskan tangan Minhyuk.

“Chorong!! Yoseob!!!” Teriak Minhyuk sambil memperat pegangannya pada kaki Jihyun.

“Aissh!!” Seru Jihyun kesal, lalu menendang wajah Minhyuk.

DUAKKKK!!

“Aaarrgghhh!!!” Teriak Minhyuk karena kaki Jihyun mengenai batang hidungnya.

Dengan cepat Jihyun bangkit dan berlari ke pintu depan, namun dia masih harus menghadapi Chorong dan Yoseob.

“Berhenti!!” Seru Yoseob sambil mengarahkan pistolnya kepada Jihyun.

“Kau pikir bisa pergi begitu saja?!” Ucap Chorong dan melayangkan tendangan memutarnya.

Jihyun mengelak dan melayangkan pukulannya, namun Chorong tak semudah yang dia pikirkan. Gadis itu menangkap tangannya dan menendang perutnya dengan lutut. BUKK!!! “Aaahh!!” Serunya.

Chorong tak memberikan waktu untuk Jihyun menahan sakit, Duakkk!! Dia memukul wajah Jihyun hingga terjerembab ke lantai. “Kau tak akan semudah itu pergi!!” Serunya, lalu menendangi Jihyun di lantai.

Yoseob terkejut melihat Chorong berlebihan menendangi Jihyun, “Noonim! Berhenti..” Ucapnya sambil menarik gadis itu mundur.

Chorong menatap Jihyun penuh kemarahan, lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ambulance.

Jihyun menggeliat di lantai sambil memegang perutnya. Dada dan perutnya terasa sangat sakit.

=Markas Cube=

“Ya, kenapa Miss J belum kembali juga?” Tanya Gikwang selagi Hyunsik membicarakan sesuatu yang penting bersama teman-temannya minus Hyunseung.

Semuanya memandang Gikwang, “Miss J?”

“Ne.. Sudah malam begini tapi dia belum kembali juga..” Ucap Gikwang.

“Mungkin dia pergi seperti waktu itu..” Ucap Junhyung.

Hyunsik mulai merasa bersalah, ‘Apakah karena ucapanku tadi?’ Batinnya.

“Aku tak bisa menghubungi ponselnya..” Ucap Gikwang sambil mencoba lagi.

Hyunsik mulai khawatir.

“Nanti dia akan kembali, jangan pikirkan itu..” Ucap Dujun dan kembali memandang Hyunsik. “Apa kau yakin semua itu akan berhasil?”

“Mmm.. Sejujurnya aku belum membicarakan ini pada yang lain, tapi aku ingin meminta persetujuanmu dulu. Lalu kita akan bekerja sama untuk menangkap zero.zero.zero itu..” Jelas Hyunsik.

“Lalu, setelah zero.zero.zero tertangkap, kami akan ditangkap juga?” Tanya Junhyung sinis.

“Ani.. Jika kalian bisa membantu pihak kepolisian, ada kemungkinan kita bekerja sama terus..” Jawab Hyunsik.

“Bagaimana jika tidak?” Tanya Dujun.

“Aku akan membersihkan nama kalian karena telah berjasa pada negara..” Jawab Hyunsik yakin.

Dujun mengangguk setuju, “Baiklah..”

“Baiklah.. Kita bisa segera ke markas GET..” Ucap Hyunsik, “Ohya, dimana ponselku? Aku harus memberitau teman-temanku mengenai pembicaraan kita..” Ucapnya.

“Ini..” Ucap Gikwang sambil memberikan ponsel Hyunsik dari sakunya.

Hyunsik mengambil ponselnya dan mengaktifkannya. Ada banyak pesan masuk dari anggota GET. Yang terbaru membuat dahinya berkerut.

From: Chorong

Hyunsik! Dimana kau?! Terjadi kekacauan di markas!! Bos dan Eunji terluka!

Mata Hyunsik membesar.

“Wae?” Tanya Gikwang heran.

“Ada kekacauan di markas GET, sepertinya aku harus kesana sekarang..” Ucap Hyunsik.

“Lalu kami?” Tanya Junhyung.

“Aku akan segera menghubungi kalian..” Jawab Hyunsik sambil bangkit, “Kumohon percaya padaku..”

Dujun berdiri sambil menatap Hyunsik serius, “Dengar detektive, aku akan berusaha mempercayaimu. Tapi jika kau terbukti mempermainkan kami, aku tidak akan melepaskanmu. Kau mengerti?!” Tanyanya setengah mengancam.

Hyunsik mengangguk, “Ne..” Jawabnya, lalu melangkah pergi.

=Markas GET=

Hyunsik muncul kembali di markas setelah membersihkan dirinya di apartemen, saat itu dia sangat terkejut mendengar berita dari teman-temannya.

“Mwo?!” Serunya kaget.

“Ne, hyungnim..” Jawab Yoseob, “Bos terluka di paha kirinya dan Eunji noonim terluka di bahu kanannya. Minhyuk hyungnim juga terluka di hidungnya..”

Yang membuat Hyunsik kaget bukan hanya itu, tapi berita kalau mereka mengurung Jihyun. “Dimana Miss J sekarang?”

“Di selnya, aku sudah pastikan dia tak akan bisa lari lagi..” Ucap Chorong santai.

Hyunsik segera berjalan cepat menuju ruangan sel sementara, sebelum masuk Yoseob menahannya.

“Hyungnim, tunggu..” Panggil Yoseob.

Hyunsik memandang Yoseob, “Wae?”

Yoseob melirik Chorong yang tampak tak memperhatikan mereka dan mendekati Hyunsik, “Hyungnim, sepertinya Chorong noonim memiliki dendam pribadi pada Miss J..”

Dahi Hyunsik berkerut, “Apa maksudmu?”

“Chorong noonim memukuli Miss J tanpa ampun..” Jawab Yoseob, membuat Hyunsik melotot. “Jika aku tidak menahannya, mungkin dia bisa membuat Miss J masuk ke ICU..”

Hyunsik melirik Chorong yang sekarang tampak memandang dia dan Yoseob, “Hmm.. Begitu..” Ucapnya, lalu membuka pintu.

“Hyungnim..” Ucap Yeseob sambil menahan tangan Hyunsik yang membuka pintu.

Hyunsik kembali memandang Yoseob.

“Hyungnim..” Ucap Yoseob ragu, lalu memajukan wajahnya untuk berbisik pada Hyunsik. “Chorong noonim berkata akan menggeledah Miss J, tapi malah merobek bajunya hingga….”

“Ya! Apa yang kalian bicarakan?!” Tanya Chorong curiga.

Yoseob terkejut dan segera menjaga jarak dari Hyunsik.

Hyunsik melirik Chorong dan kembali memandang Yoseob, “Ne..” Jawabnya, lalu masuk ke ruangan sel dan menutup pintu. Dahinya berkerut melihat Jihyun berbaring di lantai dengan satu tangan terborgol ke jeruji besi. “Miss J?” Panggilnya. Tidak ada jawaban dari gadis itu, perlahan dia menghampiri gadis itu. Dia berlutut di dekat tangan Jihyun yang terborgol diluar sel, “Miss J..” Panggilnya sambil memperhatikan wajah gadis itu. Dia terkejut melihat kondisi baju Jihyun yang terlihat seperti korban pemerkosaan daripada di geledah. ‘Chorong!!’ Batinnya kesal. Tangannya terulur mengelus pipi gadis itu, “Miss J..” Panggilnya. Saat itu dia sadar, Jihyun tidak bernafas. “Miss J! Miss J!!” Panggilnya sambil mengelus kepala Jihyun. “Nam Jihyun!” Serunya, tetap tak ada jawaban. “Shit!!” Serunya, lalu berlari keluar ruang sel. “Yoseob!! Mana kunci sel sementara?” Tanyanya.

Yoseob dan Chorong memandang Hyunsik bingung.

“Mmm.. Disana..” Jawab Yoseob sambil menunjuk kunci yang tergantung di dinding.

Hyunsik segera kembali ke ruangan sel dan membuka pintu jeruji, “Miss J!” Serunya sambil menghampiri gadis itu. Wajah Jihyun tampak pucat, hal itu membuatnya semakin panik. “Miss J!!” Panggilnya sambil memegang kedua pipi gadis itu. Karena tak ingin melihat bagian tubuh Jihyun yang terlihat dari pakaiannya yang robek, dia melepaskan kemejanya dan menutupi tubuh gadis itu.

Yoseob dan Chorong masuk ke ruang sel dan menatap Hyunsik bingung.

“Hyunsik! Apa yang kau lakukan?!” Tanya Chorong tak mengerti.

Hyunsik memeriksa denyut nadi Jihyun di lehernya, terasa sangat lemah. Lalu menatap Chorong, “Chorong, apa kau juga memukul dadanya?”

“Ne? Mmm.. Entahlah..” Jawab Chorong berpura-pura tidak ingat.

“Ne, hyungnim.. Perut dan dadanya..” Ucap Yoseob memberitau, namun langsung menunduk karena tatapan tajam Chorong.

“Dia tidak bernafas!!” Ucap Hyunsik panik, lalu menempelkan kedua telapak tangannya yang saling bertumpu di dada Jihyun dan mulai menekannya perlahan berkali-kali. “Bernafas Miss J..” Ucapnya sambil terus melakukan pertolongannya.

“Ya! Hyunsik!!” Seru Chorong karena Hyunsik menyentuh kulit Jihyun.

“Ahhhhh…” Akhirnya Jihyun menghela nafas pelan.

Hyunsik sangat lega akhirnya Jihyun kembali bernafas, “Miss J!!” Serunya lega sambil memegang pipi gadis itu dan menatap wajahnya.

Perlahan Jihyun membuka matanya.

Hyunsik tersenyum, “Miss J..”

Dahi Chorong berkerut menyaksikan apa yang dilakukan Hyunsik.

“Hyungnim, apa aku perlu memanggil ambulance?” Tanya Yoseob.

“Tidak perlu!! Dia itu tahanan kita!! Tidak perlu berlaku berlebihan!!” Seru Chorong, lalu keluar dari ruangan sel.

Yoseob bergidik memandang Chorong pergi, lalu memandang Hyunsik. “Jadi hyungnim?”

Hyunsik memandang Jihyun yang sudah bernafas meskipun belum terdengar normal, “Kurasa tidak perlu..” Ucapnya, lalu memandang Yoseob. “Aku akan menanganinya dari sekarang, terima kasih..”

Yoseob mengangguk dan melangkah keluar, meninggalkan Hyunsik dan Jihyun di dalam sel.

Hyunsik memandang tangan Jihyun yang terborgol ke jeruji besi, lalu mencari kunci yang pas untuk membukanya dari kumpulan kunci yang dia gunakan membuka sel.

“Ahhh..” Rintih Jihyun lemah saat borgol itu menarik tangannya.

“Maafkan aku..” Ucap Hyunsik, tapi berkat itu dia berhasil membuka borgol itu dan mengelus pergelangan tangan Jihyun lembut.

Jihyun menatap Hyunsik tak mengerti, “Kapan kau pergi dari markas Cube?” Tanyanya.

“Mmm.. Tadi siang..” Jawab Hyunsik, “Aku tidak tau mereka menangkapmu, jika tau aku akan langsung kemari..”

Jihyun meringis dan memegang perutnya, “Ahhh..”

“Wae? Chorong melukaimu? Apakah ada luka dalam? Sebaiknya kita memeriksakannya ke rumah sakit..” Ucap Hyunsik cemas.

Jihyun memandang Hyunsik aneh, lalu berusaha bangkit. Namun perutnya terasa sangat sakit.

“Miss J..” Ucap Hyunsik khawatir dan hendak memeriksa perut gadis itu jika Jihyun tidak memukul tangannya.

“Apa yang kau lakukan?!” Tanya Jihyun kesal.

“Aku hanya…”

“Aku tidak butuh bantuanmu!” Potong Jihyun, meskipun dia tak bisa bangkit karena perutnya terasa sakit.

Hyunsik menatap Jihyun bingung, “Sampai kapan kau akan keras kepala seperti ini?”

“Sampai aku mati!” Ucap Jihyun.

Hyunsik menghela nafas dalam dan bangkit, “Baiklah.. Aku akan pergi.. Jangan salahkan aku jika kau terluka parah..” Ucapnya, lalu melangkah keluar. Tidak lupa dia kembali mengunci sel dan meninggalkan Jihyun disana.

Jihyun memejamkan matanya begitu Hyunsik keluar dari ruangan itu. Lalu kembali membukanya dan berusaha bangkit duduk, “Ahhh..” Rintihnya pelan karena perutnya terasa seperti masih ditendangi Chorong. Namun dia berusaha menahannya dan bergerak bangkit, tangannya tampak bergetar hebat ketika berpegangan di jeruji besi. Namun baru bangkit sedikit dia kembali terjatuh karena perutnya tak memberikan bantuan apa pun. “Aah!! Awww.. Aaaakk..” Rintihnya yang tertelungkup di lantai dengan satu tangan mencengkeram perutnya. Saat itu dia terbatuk dan menyadari darah keluar bersama batuknya. “Oooh.. Dia melukai organ hatiku..” Gumamnya, lalu menyeka darah di bibirnya.

=Keesokan Harinya=

Markas Cube

“Ya!! Kemari!!” Teriak Gikwang pada teman-temannya di ruang tengah.

“Mwo?” Tanya dujun dan Junhyung.

“Lihat ini!” Seru Gikwang sambil memperlihatkan layar laptopnya.

Dahi Dujun dan Junhyung berkerut melihat photo kumpulan pisau di layar, “Apa ini?” Tanya Dujun bingung.

“GET menangkap Miss J!!” Seru Gikwang.

Dujun terkejut, “Mwo?!”

“Aissh!! Shit!! Aku tau pria itu tak bisa di percaya!!” Seru Junhyung.

Emosi Dujun langsung naik ke kepala, “Aku akan membunuhnya! Tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya!” Ucapnya. “Ayo bersiap…” Ucapnya dan segera kembali ke kamarnya.

Markas GET

“Bos.. Aku sudah mengirimkan photo pisau-pisau itu..” Lapor Eunji yang hanya bisa mengenakan tangan kirinya untuk beberapa saat.

Hyunsik tertegun dan memandang Dongwoon dan Eunji.

“Bagus, mereka akan segera muncul untuk menyelamatkan temannya..” Ucap Dongwoon sambil tersenyum, lalu melangkah kembali ke ruangannya perlahan.

“Eunji, pada siapa kau kirimi photo itu?” Tanya Hyunsik.

“Hm? Tentu saja pada Cube! Aku akan membalas dendam pada mereka!” Ucap Eunji dengan semangat membara.

Mata Hyunsik membesar, “Mwo?!! Aissh!! Kau…” Dia sampai tak tau harus mengatakan apa.

Sementara itu.

Jihyun duduk bersandar ke dinding sambil memegangi perutnya, dia merasa sakit itu tidak kurang sedikit pun.

Yoseob masuk ke ruang sel dan menghampiri jeruji besi, “Hei..” Panggilnya.

Jihyun membuka matanya dan menoleh pada Yoseob.

“Apa kau butuh sesuatu? Kau belum makan apa pun dari kemarin..” Ucap Yoseob pelan.

Jihyun diam sejenak, “Mmm.. Apa kau bisa membantuku ke toilet?”

Yoseob diam sambil berpikir, “Aku ingin membantumu, tapi tentang itu aku tidak terlalu yakin..” Ucapnya menyesal.

Jihyun menatap Yoseob kesal, “Enyahlah!” Ucapnya dan memalingkan wajahnya.

“Maaf..” Ucap Yoseob dan keluar lagi.

Setelah mendengar pintu tertutup, Jihyun memejamkan matanya. Perlahan rasa sakit di perutnya mereda, namun dadanya terasa lebih sakit. Matanya kembali terbuka perlahan dan memandang ke udara kosong di depannya sedih, “Jikyun-a, noona benar-benar tak berguna. Maafkan aku..” Gumamnya.

Hyunsik sama sekali tak bisa tenang, jantungnya berdegup kencang memikirkan apa yang akan dilakukan Cube setelah tau Jihyun dalam tahanan GET. Kepalanya menoleh ke sekitar, memperhatikan teman-temannya yang masih asik dengan kegiatannya masing-masing meskipun malam sudah semakin larut. Dia segera bangkit sambil mengambil jaket dan kunci mobilnya, lalu melangkah menghampiri Yoseob. “Yoseob, aku tidak akan lama.. Pastikan Chorong tidak masuk ke ruangan sel..” Bisiknya.

Yoseob mengangguk, “Ne, hyungnim..”

Hyunsik melangkah ke pintu tanpa mengatakan apa pun pada teman-temannya.

Minhyuk yang memiliki plester di batang hidungnya menyadari Hyunsik hendak pergi, “Ya, Hyunsik.. Mau kemana?” Tanyanya.

“Tidak lama..” Jawab Hyunsik sambil terus melangkah.

Namun tiba-tiba semuanya menjadi gelap, membuat Hyunsik bisa menebak sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Hm? Ada apa ini?” Tanya Chorong bingung.

“Ding.. Dong..” Bisik seseorang di telinga Hyunsik.

Hyunsik tersentak, apalagi merasakan suatu logam menyentuh dagunya.

“Kyaa!” Teriak Chorong.

“Chorong! Aw!! Siapa kau?!” Teriak Eunji.

“Ada apa? Nooninm!!” Seru Yoseob.

Duak!! Duak!!

Setelah bunyi pukulan itu, terdengar sesuatu terbanting ke meja dan jatuh ke lantai.

“Ya!! Buka pintunya!!” Teriak Dongwoon sambil menggedor-gedor pintu ruang kerjanya.

Semuanya kembali terang benderang.

Hyunsik terkejut melihat Dujun yang melepaskan kacamatanya sambil tersenyum sinis, apalagi yang mengenai dagunya adalah ujung sniper pria itu.

“Mau kemana? Cube baru datang..” Ucap Dujun, lalu mendorong Hyunsik mundur dengan ujung snipernya.

Hyunsik mundur kembali ke ruangan, saat itu dia melihat Eunji dan Chorong terikat di kursi mereka. Sedangkan Yoseob dan Minhyuk terbaring tak sadarkan diri di lantai, juga terikat. Junhyung dan Gikwang tampak berdiri di tengah ruangan. Dongwoon terkunci di ruangannya.

“Hmmm.. Sangat rapi..” Ucap Gikwang.

“Agen D, aku bisa menjelaskan semua ini..” Ucap Hyunsik.

Duak!! Dujun memukul wajah Hyunsik dengan snipper di tangannya, membuat pria itu mundur beberapa langkah dan menabrak meja.

“Hyunsik!!” Teriak Chorong dan Eunji hampir bersamaan.

“Bicara pada sniperku..” Ucap Dujun, “Agen G, temukan Miss J..”

Hyunsik menggeleng sesaat sambil memegang dagunya yang terasa ngilu.

Gikwang langsung menjelahi ruangan untuk menemukan Jihyun.

“Agen D, semua ini salah paham.. Jangan lakukan ini..” Ucap Hyunsik pelan.

Dujun tersenyum sinis, “Tidak perlu bermanis mulut lagi, Dektektif. Kita akan memulai perang yang sesungguhnya sekarang..”

“Jangan! Kau salah sangka!! Teman-temanku belum mengetahui tentang kesepakatan kita.. Biarkan aku menjelaskan terlebih dulu..” Pinta Hyunsik.

Junhyung menghampiri Hyunsik dari belakang dan menarik bahunya hingga pria itu berbalik menghadapnya. “Akan kujelaskan sendiri..” Ucapnya, lalu melayangkan tinjunya ke wajah pria itu.

Duak!!

Hyunsik terjerembab ke bawah.

“Hyunsik!! Ya!!” Teriak Chorong.

Junhyung tak memberikan waktu untuk Hyunsik bangkit, dia kembali menarik kerah baju pria itu dan memberikan pukulan bertubi-tubi ke wajahnya.

Sementara itu.

Gikwang masuk ke ruangan sel dan menemukan Jihyun, “Miss J..” Panggilnya sambil menghampiri pintu, dia tak perlu kunci untuk membukanya. Dia hanya mengeluarkan pistol dan menembaki kunci pintu hingga terbuka.

Jihyun membuka mata dan memandang Gikwang yang menghampirinya.

“Miss J, gwenchana?” Tanya Gikwang khawatir.

Jihyun menghela nafas berat menatap Gikwang, “Perutku sakit..” Ucapnya pelan.

Gikwang menyeka keringat di dahi Jihyun dan saat itu dia sadar kalau Jihyun menahan sebuah kemeja menutupi tubuhnya. “Miss J, apa yang mereka lakukan padamu?” Tanyanya sambil membuka kemeja itu. Matanya membesar melihat bagaimana baju Jihyun.

Jihyun memejamkan matanya karena perutnya terasa sakit.

“Brengsek!” Gumam Gikwang, lalu membuang kemeja itu. Dia melepaskan jaket hitamnya dan menutupi tubuh Jihyun, “Ayo, aku akan membawamu pergi..” Ucapnya. Perlahan dia menyelipkan satu tangannya ke bawah lipatan lutut Jihyun dan mengangkat gadis itu.

“Aaah..” Rintih Jihyun sambil mencengkeram perutnya.

“Tahan sedikit, Miss J..” Ucap Gikwang dan melangkah keluar dari ruang sel. “Let’s go!” Ucapnya sambil melangkah cepat menuju pintu keluar.

“Ya!!” Seru Chorong.

Junhyung berhenti memukuli Hyunsik dan segera keluar bersama Gikwang.

Dujun menghampiri Hyunsik dan menatapnya tajam, “Detektif, ini belum selesai..” Ucapnya dingin, lalu berbalik pergi.

Hyunsik menghela nafas berat sambil memegang dadanya, sikunya bergerak menopang tubuhnya agar bisa bangkit sedikit untuk melihat Gikwang yang menggendong Jihyun. ‘Miss J..’ Ucap batinnya.

=Mobil=

Jihyun berbaring di kursi belakang dengan punggung bersandar ke dada Gikwang, keringat dingin semakin banyak mengalir di dahinya.

Junhyung mengendarai Mobil secepat yang dia bisa sambil sesekali melirik Jihyun dari spion.

Gikwang memeluk Jihyun dan menahan tubuh gadis itu agar tak terguling dari kursi.

“Agent D, kondisi Miss J sangat buruk. Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Junhyung panik.

Dujun mencengkeram tangannya dan memukul dashboard, kepalanya menoleh ke belakang. Jihyun tampak sangat kesakitan dengan dahi berkerut. Dia berusaha berpikir cepat, “Mmm.. Aku tau kita harus kemana..” Ucapnya pada Dujun.

=Sebuah Klinik kecil=

Dujun membuka pintu klinik dan memerintahkan Gikwang membawa Jihyun masuk.

Seorang wanita berusia awal 30-an yang mengenakan blazer kedokteran langsung terkejut melihat Dujun. “Dujun? Apa yang kau lakukan?”

Dujun menghampiri wanita itu dan memegang tangannya, “Noona, kumohon bantu aku kali ini!” Mohonnya.

Wanita itu memandang Jihyun yang terbaring di tempat tidur dan memandang Dujun dengan dahi berkerut dan kedua tangan terlipan di dadanya, “Dujun, kau tau Kimjun tidak akan senang kau kemari!”

“Aku tau!! Tapi ini sangat mendesak!!” Pinta Dujun.

“Dujun!!” Tegas wanita itu.

Dujun hampir kehilangan akal sehatnya memikirkan bagaimana kondisi Jihyun, spontan dia langsung mengeluarkan pistol laras pendek dari pinggangnya dan menempelkannya ke perut gadis itu. “Noona, kau tau aku bisa lebih liar dari pada Kimjun!” Ucapnya setengah mengancam.

Wanita bernama ChunYang itu menghela nafas kesal, lalu melangkah menghampiri tempat tidur. Dujun mengikutinya sambil tetap menodongkan pistol ke punggungnya. Dia memasang stetoskop dan memeriksa denyut nadi Jihyun. Lalu kembali melepaskan alat itu dari telinganya dan memeriksa bagian tubuh Jihyun yang lain. Dahinya berkerut ketika melihat memar membiru di perut kanan gadis itu, “Apa yang terjadi padanya?” Tanyanya pada Dujun.

“Dia mendapat pukulan..” Jawab Dujun.

ChunYang menghela nafas dalam dan memandang Jihyun, “Kondisinya sangat parah.. Kau harus membawanya ke rumah sakit..”

Dujun tertegun, “Apa kau tidak bisa memberikan apa pun untuk mengurangi rasa sakitnya?”

ChunYang menghela nafas dalam, “Dujun, aku hanya dokter klinik kecil. Aku tidak menyediakan obat seperti itu..”

Dujun memejamkan matanya frustasi dan memandang Jihyun.

“Maaf Dujun, aku harus mengatakan ini. Tapi kau harus segera pergi sebelum Kimjun tau kau menemuiku..” Ucap ChunYang.

Dujun mengangguk berat.

=Di Tempat Lain=

Hyunsik menyeka darah di wajahnya yang babak belur dan segera keluar dari markas tanpa mengatakan apa pun pada yang lain.

Selama mengendarai mobil, Hyunsik tak bisa menghilangkan wajah Jihyun dari pikirannya. “Aarrgh!!” Serunya sambil memukul stir mobil. Dia tak ingin semuanya jadi berantakan seperti itu. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya dia memutuskan untuk melacak dimana Mobil Cube. Sebagai anggota kepolisian itu tentu tak sulit baginya.

=Sebuah Pabrik Tua=

Dujun, Junhyung dan Gikwang keluar dari Mobil untuk membicarakan jalan apa yang harus mereka tempuh untuk Jihyun.

“Apa kau belum bisa menghubungi So-1?” Tanya Dujun pada dua temannya.

Gikwang menggeleng.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kondisi Miss J akan semakin menurun..” Ucap Junhyung frustasi.

Dujun berusaha berpikir keras untuk memutuskan, kepalanya menoleh ke pintu Mobil yang terbuka. Tampak kaki Jihyun yang berbaring di kursi belakang Mobil.

“Bawa Miss J ke rumah sakit..” Ucap Gikwang.

Dujun menatap Gikwang, “Kau gila!! Dengan begitu kita akan tertangkap jika melakukan itu!”

“Tapi kondisi Miss J sangat buruk, dia bisa meninggal jika tidak segera di tangani!” Ucap Gikwang.

“Kita harus melakukan sesuatu!!” Seru Junhyung menengahi kedua pria itu.

Gikwang memutar bola matanya kesal dan memalingkan wajahnya, begitu juga Dujun.

“Kita harus memikirkan semua ini dengan tenang!” Ucap Junhyung.

Dujun diam sejenak dan memandang Jihyun, dia menghela nafas dalam dan melangkah ke Mobil. Sejujurnya dia sangat khawatir dengan kondisi Jihyun, perlahan dia masuk ke Mobil dan berlutut di sebelah gadis itu. Hatinya sangat sedih melihat wajah gadis itu memancarkan rasa sakit yang tak tertahan, tangan gadis itu juga tampak mencengkeram perutnya. Tangannya mengeluarkan pistol laras pendeknya dan memasang pengedap suara, lalu memandang gadis itu sedih. Tangan kirinya melingkar di atas kepala Jihyun dan mengelus rambutnya, dia juga mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. “Miss J..” Panggilnya pelan.

Mata Jihyun terbuka perlahan dan menatap Dujun lemah.

Dujun menatap kedua mata Jihyun dalam, “Terima kasih kau sudah berada di timku selama ini. Aku sudah menganggapmu seperti adikku.” Ucapnya dengan suara bergetar. Mungkin jika disana tidak gelap, Jihyun bisa melihat matanya yang memerah menahan air mata. “Maaf aku tidak bisa melakukan apa pun untukmu..” Ucapnya menyesal, “Tapi aku akan melepaskanmu dari penderitaan ini..” Ucapnya, lalu menunduk untuk mencium dahi Jihyun sambil memejamkan matanya erat. Saat itu sebulir air jatuh dari satu matanya. Tangan kanannya mengangkat pistol dan mengarahkannya ke perut Jihyun.

Gikwang menoleh ke arah Mobil dan melotot melihat Dujun mengarahkan pistolnya ke perut Jihyun, “YA!! Agent D!!” Serunya sambil berlari ke Mobil.

Junhyung juga langsung berlari ke Mobil.

Gikwang menarik Dujun sebelum menekan pelatuk pistolnya, juga menyeret pria itu hingga terjatuh keluar dari Mobil. “Michoseo?!!!” Serunya marah pada Dujun yang terduduk sambil memeluk lututnya di tanah. Tak peduli tubuhnya di penuhi pasir. Gikwang terlalu emosi hingga menendang kaki Dujun kesal.

Dujun terdorong dan menahan tubuhnya agar tak terbaring di tanah.

Junhyung memeriksa Jihyun di dalam Mobil, “Miss J..” Panggilnya.

Jihyun memandang Junhyung lemah.

Junhyung lega Jihyun masih hidup dan tersenyum, “Syukurlah..” Gumamnya.

Gikwang menarik kerah baju Dujun hingga berdiri menghadapnya, namun dia membatalkan niatnya berteriak pada pria itu karena melihat bulir air berjatuhan dari matanya. “Agent D?”

Dujun menatap Gikwang marah, “Jika kau tidak bisa membantunya, biarkan dia terlepas dari rasa sakitnya!” Ucapnya tertahan.

“Tapi tidak dengan membunuhnya!!” Seru Gikwang, lalu melepaskan kerah baju Dujun.

Sebuah mobil berkecepatan tinggi berhenti di sebelah Mobil Cube, spontan ketiga pria itu langsung menodongkan pistol mereka.

Hyunsik turun dari mobil dengan kedua tangan terangkat ke atas tanda menyerah, “Aku tidak membawa senjata..”

Dujun menatap Hyunsik kesal, “Untuk apa kau kemari?! Ingin menyerahkan nyawamu semudah ini?”

“Agent D! Ijin membunuhnya!” Lapor Junhyung.

“Tunggu!! Dengarkan aku dulu!!” Seru Hyunsik.

Dujun memberi isyarat agar Junhyung menahan diri dan membiarkan Hyunsik berbicara.

“Aku akan menerima apa pun yang kalian lakukan! Aku tidak akan melarikan diri!” Ucap Hyunsik, “Ijinkan aku membantu kalian mengobati Miss J!”

“Mwo?!! Aissh!!” Gikwang hampir menarik pelatuk pistolnya jika Dujun tidak menahannya.

Dujun menatap Hyunsik tajam, “Mwo?! Kau pikir kami akan tertipu lagi olehmu?!l

Hyunsik menggeleng, “Aku tidak pernah bermaksud menipu kalian, kumohon percaya padaku! Aku hanya ingin membantu Miss J! Kumohon!!”

Dujun tersenyum sinis, “Aku lebih percaya pada pistolku daripada kau..”

Hyunsik berlutut dengan kedua tangan tetap terangkat, “Baiklah.. Kalian bisa membunuhku jika tidak percaya padaku..” Ucapnya. Dia langsung memejamkan mata melihat ketiga pria itu bersiap menembaknya.

Melihat kesungguhan Hyunsik, Dujun menurunkan senjatanya dan menatap pria itu. “Kuberi satu kesempatan lagi karena ini mengenai nyawa Miss J..”

“Agent D?!” Seru Gikwang dan Junhyung hampir bersamaan tak percaya.

Hyunsik membuka matanya memandang Dujun tak percaya.

“Kau dengar detektif..” Ucap Dujun dingin.

Hyunsik segera berdiri, “Ne!!”

“Satu kesempatan terakhirmu!” Ucap Dujun, “Jika kau melanggarnya lagi, aku akan membuatmu menyesal saat itu juga. Kau mengerti?!”

Hyunsik mengangguk cepat, “Ne!”

=Apartemen Hyunsik=

Karena Cube tidak bisa muncul di tempat umum, Hyunsik memanggil dokter pribadi keluarganya ke apartemen untuk memeriksa Jihyun.

Hyunsik, Dujun, Junhyung dan Gikwang di depan kamarnya gusar menunggu dokter Shin dan perawat Bae memeriksa Jihyun.

“Ahh!! Kenapa lama sekali?!” Seru Gikwang kesal.

“Tenangkan dirimu! Dokter masih memeriksanya..” Ucap Hyunsik berusaha menenangkan.

Junhyung menatap Hyunsik tajam, “Jika ini adalah salah satu trikmu, aku akan membuatmu tidak bisa berjalan lagi seumur hidupmu!” Ancamnya.

Hyunsik mengangguk mengerti, “Ne..”

Pintu terbuka, muncul Dokter Shin dan Perawat Bae.

“Dokter, bagaimana?” Tanya Hyunsik langsung.

Dokter Shin memandang Hyunsik, ekspresinya tampak tidak terlalu baik. “Mmm.. Tuan Lim, kondisinya sangat parah..”

Hyunsik menghela nafas dalam dan menunduk khawatir sama seperti yang lainnya, lalu kembali menatap dokter itu. “Apa anda bisa membantunya?”

“Saya sudah memberikan suntikan obat penenang untuk mengurangi rasa sakitnya. Tapi, memang paling baik jika anda membawanya ke rumah sakit..” Jelas Dokter Shin.

Hyunsik mengangguk mengerti, “Ne, Gamshamida Dokter Shin..”

Dokter Shin mengangguk, “Saya permisi..” Ucapnya dan melangkah ke pintu bersama perawat Bae.

Para pria itu berdiam diri sejenak sambil saling berpandangan, tidak tau apa yang harus mereka katakan.

Akhirnya Dujun meremas rambutnya frustasi dan mengumpat berkali-kali menyerukan kegusarannya (N/A: tebak sendiri apa yang dia ucapkan :p).

“Agent D, lakukan sesuatu!” Seru Junhyung.

Dujun memandang kedua temannya gusar, “Apa yang bisa kulakukan?!! Kita adalah buronan polisi!! Apa yang bisa kita lakukan?!! Muncul di tempat umum sama saja bunuh diri!!”

Junhyung memukul udara kosong dan menatap dinding.

“Ahhh!! Dimana So-1 saat seperti ini?!” Seru Gikwang.

Hyunsik memandang ketiga pria itu, “Bagaimana jika aku yang membawa Miss J ke rumah sakit?” Tanyanya.

Semuanya menatap Hyunsik.

“Jika aku yang membawanya ke rumah sakit, tidak akan ada yang menyadari siapa dia..” Jelas Hyunsik agar para pria itu tidak salah sangka.

Junhyung menatap Hyunsik tajam, “Apa memar di wajahmu masih kurang banyak?!”

“Dengar!! Kita tidak bisa mengulur waktu! Kondisi Miss J sangat buruk!” Ucap Hyunsik.

“Kita?!” Ucap Gikwang, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada. “Sejak awal kau bukan bagian dari kami!”

Hyunsik menghela nafas dalam berusaha menetralkan emosinya, “Dengar..”

“Bawa Miss J, kita pergi..” Ucap Dujun memotong ucapan Hyunsik.

Hyunsik terkejut dan langsung menahan tangan Dujun, “Mwo?! Kau akan membawanya dalam keadaan seperti itu?” Tanya kaget.

Dujun menyentak tangan Hyunsik dan menatapnya tajam, “Aku hanya memberimu kesempatan untuk membantu Miss J, tapi sekarang bukan keputusanmu. Kami pergi..”

Gikwang bergerak ke kamar Hyunsik.

Hyunsik menghalangi Gikwang dengan tubuhnya, “Dengar! Dia bisa meninggal! Kumohon percaya padaku!!” Serunya.

Gikwang berhenti dan memandang Dujun.

“Kalian tidak ingin membiarkannya meninggal kan?! Jadi biarkan aku membantu..” Ucap Hyunsik.

Dujun menghela nafas dalam dan memandang Junhyung dan Gikwang bergantian. “Baik..” Ucapnya berat.

Hyunsik menghela nafas lega dan segera menghubungi ambulance.

=Rumah Sakit=

Hyunsik menggenggam tangan Jihyun yang masih belum sadarkan diri setelah operasi menghentikan pendarahan di organ hatinya. Meskipun malam telah larut, dia tak ingin beranjak dari tempatnya. Bibirnya membentuk senyuman memandang wajah Jihyun yang saat itu mengenakan selang oksigen. Dia tak tau perasaan apa yang dia rasakan, yang dia tau, dia harus berada disisi Jihyun.

Ponsel Hyunsik bergetar, dia segera mengeluarkan benda itu dan memandang layarnya. Dahinya berkerut melihat nama Chorong muncul disana. Dia melirik Jihyun dan bergerak bangkit keluar ruang perawatan untuk mengangkat panggilan itu.

“Ne, Chorong..” Jawab Hyunsik.

“Ya, Hyunsik! Kenapa kau tidak datang ke kantor selama berhari-hari?! Kau sudah bosan dengan pekerjaanmu?!” Tanya Chorong di seberang.

Hyunsik memutar bola matanya kesal, “Aku sudah meminta ijin selama seminggu pada bos, tidak perlu berteriak..” Ucapnya kesal.

“Mwo? Apa yang kau lakukan?” Tanya Chorong.

“Park Chorong, kau tau pukul berapa ini? Kembalilah beristirahat.. Selamat malam..” Ucap Hyunsik dan memutuskan panggilan itu. Dia menghela nafas dalam dan kembali masuk ke dalam ruang perawatan Jihyun.

Hyunsik kembali duduk di sebelah tempat tidur Jihyun dan menggenggam tangan gadis itu lagi, “Istirahatlah, Miss J..” Ucapnya lembut dan mencium punggung tangan Jihyun.

Sementara di Markas Cube.

“Arrrgh!!” Seru Gikwang sambil menarik ponsel dari telinganya, “So-1 tetap tak bisa dihubungi!” Serunya kesal.

Dujun hanya duduk di tempatnya dengan wajah serius dan tangan terlipat di dada. Junhyung memandangnya penasaran.

Gikwang memandang Dujun hati-hati, “Agent D, ada apa?”

Akhirnya Dujun menoleh dan memandang kedua temannya bergantian, masih dengan pemikirannya. “Aku memikirkan sesuatu..”

“Apa?” Tanya Junhyung.

Dujun kembali memalingkan wajahnya, “Aku akan membubarkan Cube..”

Junhyung dan Gikwang terkejut, “Ne?! Wae?!”

Dujun menghela nafas dalam, “Aku akan mengalahkan zero.zero.zero.” Jawabnya, “Jika aku berhasil, setelahnya aku akan menyerahkan diri ke polisi. Tapi jika tidak, well..aku akan mati..”

“Wae?” Tanya Gikwang tak mengerti.

Dujun menghela nafas dalam, “Aku tak pernah mengatakan ini dan mungkin tidak akan mengatakannya lagi..” Ucapnya pelan, “Tapi, setelah melihat bagaimana Jihyun terluka karena berada di timku. Aku merasa bersalah padanya. Aku tidak ingin kalian juga merasakannya. Karena kalian semua sudah seperti saudaraku..” Jelasnya dengan wajah tetap berpaling dari Gikwang dan Junhyung, saat itu wajahnya merona merah karena malu.

Gikwang dan Junhyung saling berpandangan bingung.

“Karena itu..” Lanjut Dujun dan memandang kedua temannya, “Aku akan membiarkan kalian pergi dan menghadapi semuanya sendiri..”

Junhyung tersenyum lebar, “Agent D, ucapanmu cengeng sekali.” Ucapnya, lalu berdiri. “Ayo kita persiapkan strategi untuk mengalahkan zero.zero.zero..”

Dujun memandang Junhyung bingung, “Mwo?”

Gikwang ikut berdiri, “Ne.. Kurasa kita perlu mencari tau dulu dimana dia dan anggotanya..”

Dujun memandang Gikwang dan Junhyung tak mengerti, “Ya, ada apa dengan kalian?”

“Agent D.. Kita bisa berjuang bersama, lalu menyerahkan diri pada polisi. Itu sangat bermartabat. Ayo bersiap..” Ucap Junhyung.

Dujun diam sejenak, lalu tersenyum. ‘Aku tau kalian memang yang terbaik..’ Batinnya, lalu berdiri. “Ayo!!”

“Tapi, bagaimana dengan Miss J?” Tanya Gikwang.

“Gwenchana.. Dia sudah menerima yang lebih buruk, kita akan menanggungnya. Kita kan pria..” Jawab Dujun.

“Ne! Aku setuju! Khaja!” Ajak Junhyung lagi.

=Ruang Perawatan Jihyun=

Hyunsik memandang jam tangannya, sudah pukul 5 pagi. Dia belum mau memejamkan matanya dan tetap duduk tenang sambil memperhatikan wajah tenang Jihyun. Dia tertegun melihat Jihyun mengerutkan dahinya.

“Jikyun-a..” Gumam Jihyun dengan mata tetap terpejam.

Hyunsik memperhatikan wajah Jihyun.

“Jikyun-a..” Gumam Jihyun lagi. Kali ini dia tampak semakin gusar, bulir air mengalir dari sudut matanya. “Ji.. Jikyun-a..” Gumamnya dan mulai menangis.

Hyunsik menggenggam tangan Jihyun erat dan mengelus pipinya, “Miss J..” Panggilnya pelan.

Jihyun tersentak dan langsung membuka matanya, lalu memandang ke sekitar.

Hyunsik tersenyum lebar, “Miss J?”

Jihyun memandang Hyunsik dengan dahi berkerut, “Dimana aku?”

Hyunsik tampak terharu dan mengelus rambut Jikyun, “Kau di rumah sakit..”

“Mana Jikyun?” Tanya Jihyun.

Senyum Hyunsik memudar, “Ne? Ji.. Jikyun?” Tanyanya bingung.

“Aku melihatnya disini..” Ucap Jihyun sambil memandang sekitar.

Hyunsik memegang kedua pipi Jihyun agar gadis itu memandangnya, “Miss J, Jikyun sudah meninggal.. Itu hanya mimpimu..” Jawabnya.

Jihyun terpaku menatap Hyunsik, ekspresinya berubah drastis kembali dingin. “Ohh.. Ne, kau benar..” Ucapnya pelan.

Hyunsik sedih melihat Jihyun seperti itu. “Miss J..”

Jihyun memandang Hyunsik, saat itu dia menyadari tangannya di genggam pria itu. “Bisa kau lepaskan tanganku?” Tanyanya dingin.

“Oh.. Maaf..” Ucap Hyunsik cepat sambil melepaskan tangan Jihyun.

Jihyun memandang sekitar lagi, “Kenapa aku ada dirumah sakit?” Tanyanya.

“Kemarin kau menjalani operasi untuk menghentikan pendarahan di organ hatimu..” Jawab Hyunsik.

Jihyun tertegun. Dia kembali teringat saat Dujun hendak membunuhnya di Mobil, “Mana teman-temanku?”

“Mmm.. Mereka tidak bisa datang kemari.” Jawab Hyunsik, “Kau tau.. Tempat umum..”

“Aku harus bertemu mereka..” Ucap Jihyun, “Kapan aku keluar dari rumah sakit?”

“Sekitar seminggu atau dua minggu lagi..” Jawab Hyunsik.

Jihyun tertegun, “Mwo?!”

“Gwenchana, kau akan baik-baik saja..” Ucap Hyunsik menenangkan.

“Aku ingin keluar besok!” Ucap Jihyun, atau itu perintah.

Hyunsik menggeleng, “Tidak bisa, keadaanmu belum membaik Miss J.. Dan kau baru saja sadar..”

Jihyun menatap Hyunsik tajam, “Aku bisa pergi sendiri..”

Hyunsik terpaku mendengar ucapan Jihyun, “Baiklah.. Aku akan mengusahakan kau keluar besok..” Ucapnya mengalah.

Jihyun memalingkan wajahnya, mengingat apa yang dilakukan Dujun sebelumnya. ‘Jika kau membunuhku, aku tidak perlu memimpikan Jikyun. Karena aku akan bersamanya..’ Batinnya sedih.

=Apartemen Hyunsik=

Jihyun memegang perutnya yang masih terasa nyeri jika dia bergerak terlalu banyak dan menatap Hyunsik marah, “Kenapa kau membawaku kemari?!! Aku akan pergi!!!” Teriaknya pada Hyunsik.

Hyunsik menatap Jihyun kesal, “Lalu kau akan kemana?!! Kembali ke markas? Kondisimu belum membaik!!”

Jihyun tidak mendengarkan ucapan Hyunsik dan bangkit dari sofa sambil memegangi bekas operasinya yang mulai terasa berdenyut lagi. Dia perlu menyeret langkah kakinya menuju pintu hingga dia terjatuh karena sakit di perutnya. “Ahhh..” Rintihnya menahan sakit.

Hyunsik menghampiri Jihyun namun tak langsung membantunya, “Kenapa kau sangat keras kepala?” Tanyanya kesal.

Jihyun meringkuk dilantai dan menatap Hyunsik tajam, dia berusaha menahan rasa sakitnya dan bangkit.

Hyunsik diam memperhatikan Jihyun melangkah ke pintu dengan kaki gemetar dan langkah sempoyongan. Gadis itu kembali terjatuh, dan kali ini tampak benar-benar kesakitan. “Miss J?” Ucapnya sambil menghampiri gadis itu. “Berhenti keras kepala!” Ucapnya kesal, lalu menggendong gadis itu dan membawanya ke kamar.

Jihyun sama sekali tak berontak karena bekas operasinya terasa sangat sakit. Matanya terpejam menahan sakit.

Hyunsik membaringkan Jihyun dikasur dan menarik selimut untuk menghangatkannya.

Jihyun kembali membuka matanya perlahan dan memandang wajah khawatir Hyunsik. Saat itu dia berusaha menolak untuk kembali menjadi dirinya yang asli, karena itu sangat berat baginya.

Hyunsik tersenyum hangat, “Sudah lebih baik?”

Jihyun menatap Hyunsik tajam, “Aku pernah berkata aku tidak menyukai senyumanmu itu kan?” Tanyanya dingin.

Senyuman Hyunsik memudar perlahan dan menghela nafas dalam, “Wae? Kenapa kau selalu menolak semua orang yang ingin membantumu?”

“Karena aku tidak membutuhkannya!” Jawab Jihyun.

Hyunsik menatap Jihyun tak mengerti, “Apa menurutmu Cube lebih bisa di percaya?”

“Jangan membawa mereka! Kau tidak mengenal mereka!!” Seru Jihyun, lalu meringis menahan sakit di perutnya. “Ahhh..”

Hyunsik memutar bola matanya kesal, “Kapan kau akan menyadari hidupmu bukan sesuatu yang mengerikan?”

Jihyun menatap Hyunsik marah, lalu melemparkan bantal di sebelahnya ke wajah pria itu. “Jika kau punya banyak waktu! Urus saja dirimu!!” Teriaknya.

Hyunsik menghela nafas dalam dan mengambil bantal yang di lemparkan Jihyun tadi, lalu kembali memandang gadis itu. “Istirahatlah..” Ucapnya dan beranjak dari tempatnya.

=GET’s office=

Hyunsik duduk di tempatnya sambil memutar-mutar spidol di tangan. Dia hanya berpikir bagaimana caranya bisa masuk ke dunia Jihyun.

Eunji bergerak duduk di sebelah Hyunsik dan memperhatikan wajahnya, “Ya, ada apa denganmu?”

Hyunsik memandang Eunji, “Aniya..” Jawabnya sambil tersenyum tipis.

Eunji memperhatikan wajah Hyunsik curiga, “Hmm.. Apa yang terjadi padamu dan Chorong saat aku, bos dan Minhyuk tidak disini?”

Dahi Hyunsik berkerut, “Apa maksudmu?”

“Yoseob berkata kalau kau membantu Miss J, apa yang kau lakukan? Chorong pasti tidak senang karena itu..” Ucap Eunji memberitau.

Hyunsik menghela nafas dalam dan memutar bola matanya kesal, lalu duduk bersandar sambil kembali memutar spidol di tangannya. “Tidak terjadi apa-apa..”

“Aigoo.. Ya, Hyunsik.. Bagaimana kau bisa tidak mengerti perasaan seorang gadis? Mana ada gadis yang bisa berdiam diri ketika pria yang disukainya menyentuh gadis lain?” Tanya Eunji sebal.

Hyunsik memandang Eunji kesal, “Aku tidak menyentuhnya, tapi menyelamatkannya..”

“Tapi, tetap saja kau menyentuhnya..” Ucap Eunji.

Hyunsik menghela nafas dalam untuk menetralkan amarahnya, “Apa kau akan berdiam diri jika melihat seseorang tergeletak tak bernafas karena rekan kerjamu memukulinya secara tak manusiawi?!” Tanyanya kesal, lalu memalingkan wajahnya.

Eunji diam sambil menatap Hyunsik sebal, “Aigoo.. Miss J itu tidak waras!”

Hyunsik menatap Eunji kesal.

“Miss J, nama aslinya Nam Jihyun. Dia masih terdaftar sebagai pasien di RSJ Busan..” Ucap Eunji.

Hyunsik tertegun mendengar ucapan Eunji.

“Dia kabur dari sana dengan melukai tiga orang penjaga, dia itu sakit jiwa.. Benar-benar gila!” Tambah Eunji.

Dahi Hyunsik berkerut, “Kabur?” Tanyanya. Lalu berpikir, ‘Jadi dia kabur?!’ Batinnya. “Aku harus pergi..” Ucapnya sambil mengambil kunci mobil dan berjalan cepat keluar.

“Ya! Hyunsik!” Panggil Eunji.

=Apartemen Hyunsik=

Jihyun berjalan pelan di depan meja Hyunsik dengan satu tangan memegang bekas luka operasinya. Tangannya yang lain mencari ponselnya. Akhirnya dia menemukan ponselnya, lalu mengaktifkannya. Dia berencana menghubungi salah seorang anggota Cube.

Setelah memanggil sebuah nomor, dia menempelkan ponsel ke telinga.

“Miss J!! Bagaimana keadaanmu?!!” Sorak Gikwang di seberang.

Jihyun menarik ponselnya dari telinga beberapa saat dan kembali menempelkan ponselnya, “Aku baik-baik saja..” Jawabnya, “Dimana kalian?! Kenapa membiarkanku bersama detektif itu?!” Serunya, “ahhh..” Rintihnya sambil memegang perutnya yang terasa sakit saat berseru.

“Aissh.. Kupikir kau akan lebih lembut setelah sembuh..” Ucap Gikwang sebal.

“Dimana kalian?! Aku akan kembali ke markas..” Ucap Jihyun.

“Andwae! Tetap disana! Kami sudah tidak di markas lagi.. Zero.zero.zero menghancurkannya semalam..” Jawab Gikwang dan menghela nafas berat.

Jihyun terkejut, “Ne?! Bagaimana bisa?!”

“Kami memang sudah berencana menyerang zero.zero.zero, tapi semalam dia mendahului kami dan menyerang markas. Beruntung kami sempat melarikan diri.. Tapi Miss J, semua barang-barangmu tak sempat kami ambil..” Jelas Gikwang.

Jihyun menghela nafas lega, “Syukurlah.. Lalu, bagaimana sekarang? Katakan dimana kalian, aku akan menyusul kalian..” Ucapnya.

Gikwang diam sejenak.

“Agent G?” Panggil Jihyun.

“Agent D memerintahkanku dan agent J agar tidak memberitaumu..” Jawab Gikwang berat.

Jihyun tertegun, “Ne? Wae??! Cepat katakan!!”

“Miss J..” Ucap suara lain telepon, Jihyun tau itu suara Dujun.

“Agent D, dimana kalian?” Tanya Jihyun.

Dujun menghela nafas dalam, “Miss J, maaf aku sempat hampir membunuhmu..” Ucapnya menyesal.

Jihyun merasa ada sesuatu yang di sembunyikan teman-temannya, “Agent D, cepat katakan dimana kalian!” Tegasnya.

Dujun menghela nafas dalam lagi, “Miss J, senang memilikimu dalam timku..” Ucapnya berat.

“Agent D!” Seru Jihyun kesal, namun telepon itu putus begitu saja. Matanya membesar dan memandang layar ponselnya, lalu kembali memanggil nomor Gikwang. Tidak aktif. Dia mencoba lagi, tetap tidak aktif. Pemikiran negatif muncul di benaknya, “Ahhh.. Dimana mereka?” Gumamnya.

Jihyun tak ingin berdiam diri, dia segera membuka lemari baju Hyunsik. Karena tak membawa baju, dia terpaksa mengenakan pakaian pria itu. Dia mengambil celana jeans pensil dan sebuah kemeja. Perlu pengorbanan berat saat dia menekuk perutnya untuk mengenakan celana.

Matanya terpejam dan menggigit bibir bawahnya menahan sakit ketika memasukkan satu persatu kakinya ke celana jeans. Dia menghela nafas dalam dan dengan satu sentakan menarik celana itu naik ke pinggangnya, “Arrrghh!!” Jeritnya tertahan. Nafasnya terasa sesak namun dia berusaha menahannya. Dia segera memasang resleting celana dan mengenakan kemeja Hyunsik, satu-satunya yang tak terlalu besar di tubuhnya.

Dia berusaha melangkah keluar dari apartemen Hyunsik sambil memegangi bekas operasinya yang masih terasa sakit ketika bergerak. Dia terus berusaha menghubungi Gikwang sambil berjalan keluar dari gedung apartemen.

Saat itu, Hyunsik memarkirkan mobilnya dan langsung berlari ke pintu masuk.

“Hyunsik!” Panggil Chorong sambil keluar dari mobil dan mengejar Hyunsik.

Hyunsik berhenti dan memandang ke arah suara Chorong, “Mwo?” Tanyanya dengan wajah datar.

Chorong menarik Hyunsik dan langsung memeluk tubuhnya, “Hyunsik.. Maafkan aku.”

Hyunsik terkejut dan segera mendorong Chorong, “Ada apa denganmu?!”

Chorong menatap Hyunsik dan bulir air mulai berjatuhan, “Kenapa kau tak pernah mengerti perasaanku?”

Hyunsik menghela nafas dalam, “Sudahlah.. Aku harus pergi..” Ucapnya.

Chorong kembali menarik Hyunsik dan memegang kedua pipi pria itu, lalu dengan cepat mencium bibir pria itu.

Hyunsik terkejut dan langsung mendorong Chorong, namun terlalu kencang hingga gadis itu hampir terjungkal. Spontan dia kembali menarik gadis itu dan memeluknya agar tak jatuh. “Ya! Kau sudah tidak waras?!” Ucapnya.

Chorong terisak-isak di dada Hyunsik sambil memeluknya erat.

Hyunsik hendak melepaskan pelukan Chorong lagi, namun matanya membesar melihat Jihyun berdiri di depan pintu masuk tertegun melihatnya. Satu tangan gadis itu memegang perut dan satunya lagi memegang ponsel di telinga.

Jihyun terpaku di tempatnya melihat Hyunsik berpelukan dengan Chorong, apalagi tadi mereka tampak berciuman.

Hyunsik berusaha melepaskan pelukan Chorong, “Miss J!!” Panggilnya ketika melihat gadis itu melangkah pergi.

Chorong terkejut mendengar Hyunsik memanggil nama Jihyun, lalu berbalik dan melotot melihat gadis itu.

Jihyun berusaha melangkah secepat yang dia bisa sambil menahan sakit di perut kanannya.

“Miss J!” Panggil Hyunsik lagi, dia bisa dengan mudah menangkap gadis itu dengan memeluknya dari belakang. “Ya! Kemana kau akan pergi?! Lukamu belum sembuh!”

“Lepaskan!!” Seru Jihyun sambil berontak.

Hyunsik melirik wajah Jihyun dan memancarkan penyesalan, “Maafkan aku..” Ucapnya, satu tangannya turun ke perut gadis itu dan menekan luka bekas operasinya.

“Aaaaarrrrggh!!” Teriak Jihyun kesakitan dan perlawanannya terhenti.

Hyunsik segera menggendong Jihyun dengan kedua tangannya.

Jihyun mencengkeram perutnya sambil menatap Hyunsik marah, “Brengsek!!! Kau brengsek!!” Teriaknya sambil memukuli kepala pria itu dengan tangannya yang lain.

“Ya! Ya! Hentikan!!” Seru Hyunsik, namun Jihyun tetap memukulinya. “Miss J!!” Serunya dan membenturkan dahinya ke dahi gadis itu.

Duakkk!! Jihyun memejamkan matanya menahan sakit dan tak sadarkan diri.

Hyunsik menatap Jihyun menyesal, “Miane..” Ucapnya pelan dan melangkah ke pintu masuk apartemen. Dia sempat memandang Chorong yang masih berdiri di tempatnya sebelum masuk.

Chorong menatap Hyunsik tak percaya, lalu mengeleng pelan. “Andwae.. Hyunsik?” Dia tak percaya pria itu membantu Jihyun.

Setelah masuk ke apartemen, Hyunsik membaringkan Jihyun ke tempat tidur dan melepaskan sepatu gadis itu, lalu menyelimutinya. Perlahan tangannya mengelus dahi gadis itu dan menghela nafas berat, “Miane.. Jongmal, mianeyo..” Ucapnya menyesal, lalu mengecup dahi gadis itu.

Beberapa jam kemudian.

Hyunsik tak mengangkat satu pun panggilan dari rekan kantornya, dia tau dia akan mendapat masalah besar karena membantu Jihyun.

Jihyun terbangun dan merasakan nyeri pada dahi dan perut kanannya, “Aaaah..” Rintihnya sambil memegang perut dan dahinya. Matanya perlahan terbuka dan memandang sekitar. Dia ingat apa yang telah dilakukan Hyunsik sebelumnya dan itu membuatnya sangat marah.

Hyunsik menyandarkan kepalanya ke sofa dan memandang langit-langit. ‘Apa yang akan kulakukan sekarang?’ Batinnya. Kepalanya menoleh pada suara pintu kamar dan langsung bangkit begitu melihat Jihyun keluar kamar dengan wajah marahnya, “Kau sudah sadar?” Tanyanya.

Jihyun berjalan mendekati Hyunsik, lalu melayangkan tangannya untuk menampar wajah pria itu. Namun pria itu lebih cepat dan menahan tangannya.

“Miss J! Ada apa denganmu?!” Tanya Hyunsik tak mengerti.

“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!! Aku muak denganmu!! Kau pria brengsek!!” Seru Jihyun di depan wajah Hyunsik.

Dahi Hyunsik berkerut, kesabarannya benar-benar teruji selama berada di sekitar Jihyun. “Jihyun..” Ucapnya pelan, “Aku berusaha membantumu, kenapa kau selalu bersikap seolah aku adalah pria jahat?!”

“Karena aku tak butuh bantuanmu!! Kau tau?!!” Jawab Jihyun, lalu menyentak tangannya yang masih di pegang Hyunsik.

Hyunsik berusaha menahan emosinya dengan menutup rapat kedua bibirnya, namun itu tak berguna sekarang. Lalu tersenyum sinis, “Kau tidak akan menemukan seorang pun yang peduli padamu..” Ucapnya dingin.

Jihyun menatap Hyunsik tajam, tampak amarah membara dalam tatapannya.

“Semua orang akan menjauhimu karena kau adalah pasien Rumah Sakit Jiwa! Siapa yang akan mempedulikanmu?!” Lanjut Hyunsik, dia hanya ingin membuat Jihyun merubah pikirannya.

Jihyun tersenyum sinis, “Aku tidak butuh siapa pun!”

Hyunsik tertawa sinis, “Jinja? Bukankah kau berharap So-1 adalah Jikyun? Kau membutuhkannya, benar kan?!”

Ekspresi Jihyun melemah mendengar nama adiknya dan Hyunseung.

“Lihat.. Kau mulai berubah lagi..” Ucap Hyunsik sambil menunjuk wajah Jihyun.

Kedua tangan Jihyun gemetaran dan dia menggenggamnya erat.

“Lihat.. Dimana So-1 saat kau benar-benar membutuhkannya?! Bahkan teman-temanmu meninggalkanmu! Benar kan?!” Lanjut Hyunsik yang semakin emosi.

Gigi Jihyun saling bergemertak mendengar ucapan Hyunsik, “Kemanhe(hentikan)!” Ucapnya tertahan.

“Kau adalah orang paling menyedihkan yang pernah kutemui!” Ucap Hyunsik terus.

“Kemanhe!!” Ucap Jihyun tegas.

“Wae? Kau akan menusukku lagi dengan pisaumu?!” Tantang Hyunsik.

“Kemanhe!!!” Teriak Jihyun.

“Kenapa aku harus berhenti? Jika kau tidak butuh bantuanku, apa aku tidak boleh berbicara?!” Tanya Hyunsik kesal.

Jihyun tak sanggup menahan gejolak di dalam dirinya, dengan cepat tangannya menarik pistol di saku celana Hyunsik dan mengarahkannya ke kepala.

Mata Hyunsik melotot dan segera merebut pistol itu.

DOR!!!

Peluru itu mengenai langit-langit.

Hyunsik menatap lubang di langit-langit apartemennya shock, lalu memandang Jihyun juga tampak shock.

Jihyun menatap kedua tangannya yang gemetaran hebat.

Hyunsik melempar jauh pistolnya dan menatap Jihyun cemas, “Miss J, kau baik-baik saja?”

Jihyun menatap Hyunsik masih dengan wajah shocknya, “W..wae? Peluru itu tidak mengenaiku..” Ucapnya terbata-bata, “Bahkan peluru itu tak mau membantuku..”

Hyunsik mulai khawatir dengan kondisi Jihyun, “Apa yang kau katakan? Beruntung peluru itu tak mengenaimu!!”

Mata Jihyun bergerak-gerak panik karena kenangan masa lalu mulai bermunculan lagi di kepalanya, “A..andwae..” Ucapnya, lalu menutup kedua telinganya dengan tangan. “Andwae!!” Ucapnya lagi.

Hyunsik memegang kedua bahu Jihyun, “Miss J?”

Jihyun memejamkan matanya dan menggeleng, “Andwae!! Jikyun!! Jangan masuk kesana!! Andwae!! Keluarkan dia!!! Kyaaaaa!!!” Teriaknya histeris.

Hyunsik terkejut, “Miss J!” Ucapnya sambil menyentak tubuh Jihyun pelan.

“Jikyun!!! JIKYUN!!!” Teriak Jihyun masih dengan mata terpejam dan menutup kedua telinganya. Bulir air matanya mengalir deras.

“Jihyun! Tenang!! Jihyun!!” Ucap Hyunsik berusaha menenangkan Jihyun.

“JIKYUN!!! ANDWAE!!! KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!” Teriak Jihyun histeris dan mulai meronta-ronta.

Hyunsik memeluk Jihyun dan berusaha menenangkannya, “Berhenti!! Jihyun!!!”

Jihyun membuka matanya dan mendorong Hyunsik, lalu mundur dengan tatapan takutnya. “KYAAAAAAAAA!!!!” Teriaknya lagi dengan suara melengking tinggi.

“JIHYUN!!” Teriak Hyunsik, PLAK!! Tanpa sadar tangannya bergerak menampar gadis itu.

Jihyun terbanting ke sofa dan terpaku dengan mata melotot seperti baru saja melihat hantu.

Hyunsik menatap tangannya kaget, “Apa yang kulakukan?!” Ucapnya sendiri dan segera duduk di sebelah Jihyun, “Jihyun.. Jihyun!” Panggilnya sambil memegang kedua pipi gadis itu agar menatapnya.

Mata Jihyun bergerak memandang Hyunsik. Satu tangannya bergerak memegang dadanya yang sekarang terasa jauh lebih sakit dari perutnya. “Ahh.. Ahhh…” Rintihnya dan mulai menangis tersedu-sedu seperti seseorang yang sangat berarti baginya baru saja meninggal dunia.

Hyunsik menatap Jihyun sedih, lalu memeluknya dan mengelus punggungnya lembut. Bulir air matanya ikut mengalir melihat penderitaan gadis itu.

Jihyun terus menangis tersedu-sedu di dada Hyunsik, “Biarkan aku mati.. Aku tidak sanggup seperti ini..” Tangisnya.

Hyunsik mendekap kepala Jihyun di bahunya dan mencium puncak kepalanya, “Aku disini Jihyun.. Aku ada untukmu..” Ucapnya lembut.

Malamnya.

Jihyun masih terisak-isak dalam pelukan Hyunsik di tempat tidur meskipun air matanya sudah tak mengalir lagi.

Hyunsik mengelus rambut Jihyun lembut, dia menyesal sudah memancing emosi gadis itu.

“Ji.. Jikyun-a..” Gumam Jihyun, “Jikyun..”

Hyunsik menunduk memandang wajah Jihyun. Gadis itu memejamkan mata, namun wajahnya tampak sangat risau. Juga terus terisak-isak. Tangannya bergerak menyentuh pipi gadis itu dan menatapnya dalam. Mata gadis itu sembab karena terus menangis.

“Jikyun-a..” Gumam Jihyun lagi.

Tangan Hyunsik di pipi Jihyun turun ke dagu dan mengangkatnya, wajahnya mendekati wajah gadis itu dan memejamkan mata ketika bibirnya merasakan bibir gadis itu.

Jihyun tak memberi respon apa pun, namun tak berapa lama bibirnya membalas ciuman Hyunsik.

=Markas zero.zero.zero=

Dujun, Gikwang dan Junhyung menerobos masuk dan menembaki siapa saja yang muncul. Tak sampai setengah jam seluruh gedung itu sudah di penuhi mayat-mayat tak berguna.

“Aaah.. Sial! Dia tidak disini!” Ucap Dujun kesal, lalu menendang tubuh tak bernyawa di dekatnya untuk melampiaskan kekesalannya.

“Agent D!! Agent J!!” Seru Gikwang dari suatu tempat.

Serentak Dujun dan Junhyung mencari kemana asal suara Gikwang. Mata mereka sama-sama melotot melihat pria itu memapah Hyunseung yang babak belur dan tampak tertatih-tatih.

“So-1!!” Seru Dujun dan Junhyung hampir bersamaan.

“Aku menemukannya di gudang di belakang.” Ucap Gikwang.

“Bagaimana kau bisa seperti ini?!” Tanya Dujun tak percaya.

“Uhuk..” Hyunseung terbatuk sambil memegang dadanya, lalu menyeka darah di bibirnya. “Aku ingin menyelidiki zero.zero.zero..”

“Dan kau pergi seorang diri?! Pabo!” Ucap Gikwang sambil memukul bahu Hyunseung kesal.

“Ahhh..” Rintih Hyunseung kesakitan.

“Omo! Miane..” Ucap Gikwang menyesal.

“Lalu dimana dia?” Tanya Dujun.

Hyunseung menatap Dujun, “Agent D, zero.zero.zero adalah orang yang menculik Miss J dan adiknya dulu..”

Tiga anggota Cube yang lain terkejut, “Ne?!!”

“Zero.zero.zero tidak mengincarmu, agent D..” Ucap Hyunseung, “Tapi Miss J..”

Mata Dujun membesar, “Miss J dalam bahaya!! Ayo!!” Serunya dan langsung berlari keluar.

=Apartemen Hyunsik=

Hyunsik mengompres mata Jihyun yang masih membengkak ketika bangun tidur. Tangannya yang lain mengelus rambutnya. Bibirnya membentuk senyuman melihat Jihyun mengerjapkan matanya berkali-kali. “Matamu terasa sakit?”

Jihyun mengangguk pelan.

Hyunsik menunduk agar Jihyun menatap matanya, namun gadis itu terus menghindari tatapannya. “Jihyun-a, kenapa kau tidak menatapku?”

Jihyun tak menjawab, “Bisakah kau mencari tau nomor telepon RSJ Busan?”

Hyunsik tertegun, “Wae?”

Jihyun menghela nafas dalam, “Mungkin lebih baik aku kembali kesana..”

Hyunsik menatap Jihyun kaget, “Ne? Ani! Untuk apa kembali kesana?!”

“Ketika bangun kepalaku terasa sangat sakit, aku tidak ingat apa yang terjadi semalam. Tapi aku tau akal sehatku mulai menghilang lagi..” Jelas Jihyun.

“Siapa yang berkata seperti itu? Kemarin aku membenturkan kepalaku padamu dan kau pingsan, karena itu kau tak ingat apa pun dan kepalamu terasa sakit..” Ucap Hyunsik membuat alibi.

Jihyun mengangkat wajahnya menatap kedua mata Hyunsik, “Aku tidak mungkin menangis hanya karena itu..” Ucapnya kesal.

“Kau menangis dalam tidurmu.. Kau puas?!” Tanya Hyunsik.

Jihyun mengalihkan pandangannya, “Sudahlah.. Aku akan kembali ke RSJ Busan jika teman-temanku tidak kembali..” Ucapnya.

Hyunsik menatap Jihyun dalam, “Apa kau tidak bisa tetap disini?”

Jihyun tertegun dan menatap Hyunsik tak mengerti.

Hyunsik menatap kedua mata Jihyun, tidak tau kata-kata seperti apa yang harus dia ucapkan. Dia tak mau kesalahannya mengucapkan kalimat membuat Jihyun kembali terpukul. Tangannya bergerak menggenggam tangan gadis itu tanpa melepaskan tapan mata mereka dan menempelkan punggung tangan gadis itu ke dadanya. Dimana jantungnya berada.

Jihyun tak mengerti mengapa jantungnya berdegup kencang. Dia ingin menarik tangannya, namun yang terjadi hanya gerakan kecil. Hyunsik menggenggam tangannya lebih erat, membuatnya tak bisa menarik tangannya lagi.

Keadaan itu terjadi selama beberapa menit, hingga Hyunsik menemukan pembicaraan lain.

“Kau ingin makan sesuatu?” Tanya Hyunsik.

Jihyun diam sejenak, “Mmm.. Pasta.. Seperti yang kau buat waktu itu..”

Hyunsik tersenyum, “Baik..” Ucapnya, lalu bangkit dan berjalan ke dapur.

Ruang makan.

Hyunsik memandang Jihyun bingung, gadis itu tampak hanya mengaduk-aduk pasta di mangkuknya, “Jihyun-a, waeyo?”

Jihyun memandang Hyunsik, “Ani..” Jawabnya, dan memasukkan gulungan mi pasta di garpunya ke mulut.

Dahi Hyunsik berkerut, tangannya terulur dan menempelkan punggung tangannya ke dahi gadis itu. “Kupikir kau sedikit demam..”

Jihyun menepis tangan Hyunsik, “Ani.. Aku baik-baik saja..”

Hyunsik mulai tampak khawatir, “Tapi wajahmu merah seperti itu..”

Jihyun segera memalingkan wajahnya. Wajahnya merona karena mengingat bagaimana dia telah berteriak dan memaki Hyunsik kemarin.

Hyunsik berdiri, “Aku akan mengambil kompres..”

“Na gwenchana!” Tegas Jihyun dengan tatapan kesal pada Hyunsik.

Hyunsik tertegun dan kembali duduk, “Begitu?”

Jihyun menghela nafas dalam dan kembali hanya memandang pastanya.

Hyunsik memperhatikan wajah Jihyun, “Jihyun, jika ada sesuatu yang mengganggumu, katakan saja..”

Jihyun memandang Hyunsik, “Kau tidak memanggilku Miss J..” Ucapnya heran.

Hyunsik diam sejenak, lalu mengelus belakang kepalanya. “Mmm.. Miss J panggilan dari rekan kerjamu, tapi aku bukan. Jadi aku akan memanggilmu Jihyun..” Jelasnya.

Jihyun diam memandang Hyunsik.

Hyunsik tersenyum, “Makanlah..” Ucapnya dan kembali melanjutkan makannya.

Jihyun masih memandangi Hyunsik, “Kenapa kau membantuku?”

Hyunsik memandang Jihyun, tertegun.

Jihyun tampak mengingat, “Saat di mini-market, kau bisa membiarkanku di tangkap teman-temanmu.” Ucapnya, “Kau juga tidak perlu mencari tau tentangku.. Bahkan kau membuatku teringat semua kenangan yang ingin kubuang jauh..”

Hyunsik tidak tau harus merasa bersalah atau pemuja rahasia.

“Kenapa kau melakukan itu? Kau seharusnya hanya menangkap Cube dan semuanya selesai..” Tanya Jihyun.

Hyunsik tampak bingung untuk menjawab, “Mmm.. Sejujurnya aku tidak tau..”

“Juga, kenapa kau memintaku tetap disini?” Tanya Jihyun lagi.

Hyunsik menatap Jihyun serius, “Jika aku berkata ‘Aku sepertinya mencintaimu’, apa kau akan percaya?”

Jihyun menatap Hyunsik tak mengerti, lalu tertawa sinis. “Cih.. Sepertinya kau memang playboy bodoh..” Ucapnya.

Hyunsik tersenyum lucu, “Naega?” Tanyanya sambil menunjuk dirinya.

“Beberapa saat lalu kau berciuman dan memeluk gadis lain, lalu sekarang mengatakan sepertinya kau mencintaiku. Kurasa sudah banyak gadis yang mendengarnya..” Ucap Jihyun jijik dan memalingkan wajahnya.

Hyunsik tertegun, ‘Dia benar-benar melihatnya..’ Batinnya, “Tapi, saat itu aku tidak merasakan apa pun ketika menciumnya. Dan saat memeluknya, itu hanya sebuah kecelakaan..”

“Aku tidak peduli..” Ucap Jihyun, “Aku selesai..” Ucapnya sambil bangkit, meskipun dia belum memakan setengah dari pastanya.

Hyunsik segera bangkit dan kembali menarik Jihyun duduk, “Kau tidak akan kemana pun hingga makananmu habis..” Ucapnya. Atau lebih tepat memerintah.

Jihyun menatap Hyunsik tajam.

“Jihyun, kau harus menghargai apa yang orang lain buat untukmu..” Ucap Hyunsik.

Jihyun mendengus kesal, lalu membalik piring itu hingga pasta didalamnya berserakan di meja dan kembali meletakkannya. Matanya kembali menatap Hyunsik. “Apa aku masih harus memakannya?”

Hyunsik menatap Jihyun marah, “Nam Jihyun..” Ucapnya tertahan, tak tau harus bagaimana mengungkapkan kemarahannya.

Jihyun tersenyum sinis, “Wae? Kenapa kau tidak memakiku? Atau usir saja aku..”

Hyunsik berusaha keras menahan amarahnya, satu tangannya mengelus rambut dan berubah menjadi cengkeraman. Tangannya yang lain memukul piringnya hingga melayang ke lantai.

PRANKKK!!!

Jihyun memandang pecahan piring itu dan menatap Hyunsik.

“Jihyun, aku juga punya batas kesabaran..” Ucap Hyunsik.

Jihyun berdiri dan berjalan pergi.

Hyunsik menghela nafas dalam, lalu menoleh ke arah Jihyun pergi. Gadis itu membuka pintu dan keluar. “Arrgh!” Serunya sendiri, lalu bangkit dan melangkah pelan mengejar gadis itu.

Jihyun keluar dari apartemen dan berjalan pelan menuju lift, lukanya sudah membaik walaupun masih terasa nyeri.

“Nam Jihyun..” Panggil seseorang.

Jihyun menoleh, dahinya berkerut melihat siapa yang memanggilnya. Namun sebelum dia sempat berseru, pria itu menyemprot sesuatu ke wajahnya. Drastis kesadarannya menurun dan jatuh tak sadarkan diri.

Pria itu segera menampung tubuh Jihyun dan menggendongnya pergi menuju tangga darurat.

Hyunsik keluar dari apartemennya dan kebingungan tak melihat Jihyun, “Jihyun?” Panggilnya sambil memandang ke kanan dan kiri, “Hm? Dia bisa menghilang secepat ini?” Ucapnya panik dan segera berlari ke lift.

Begitu keluar lift, Hyunsik berpapasan dengan Dujun yang mengenakan jubah panjang untuk menutupi wajahnya.

“Ya! Detektif!” Panggil Dujun.

Hyunsik menoleh dan terkejut melihat Dujun.

“Kenapa kau sendiri? Mana Miss J?” Tanya Dujun.

“Aku sedang mencarinya..” Jawab Hyunsik.

Dujun terkejut, “Ne?!!”

“Agent D!! Aku melihat seorang pria menggendong seorang gadis ke mobil disana!!” Ucap Gikwang di telinga Dujun.

“Aku segera kesana!” Jawab Dujun dan berlari kembali ke Mobil.

Hyunsik merasa ada sesuatu yang buruk terjadi dan segera mengikuti Dujun.

Setelah Hyunsik dan Dujun masuk ke Mobil, Junhyung segera menginjak gas mengikuti mobil hitam yang sudah mulai melaju.

“Ada apa?! Mengapa kalian kemari?!” Tanya Hyunsik panik.

Saat itu semua anggota Cube baru menyadari Hyunsik ada di Mobil mereka.

“Ya, kapan kau masuk?” Tanya Gikwang.

“Aku bertanya terlebih dahulu.. Ada apa?! Mengapa Miss J di culik?!” Tanya Hyunsik tak mengerti.

“Ahhhh… Shit!!” Seru Junhyung karena mobil hitam itu berbelok ke jalanan kecil. Tiba-tiba dia ikut berbelok, membuat semua orang di dalam mobil terpojok ke kanan mobil.

“YA!!!” Teriak Gikwang, Dujun dan Hyunsik kaget.

Junhyung tak mempedulikan teriakan yang lain karena terlalu fokus dengan mobil di depannya.

Di mobil depan.

Jihyun mulai sadar dari pingsannya. Dahinya berkerut dan membuka mata perlahan. Saat itu dia sadar berada di sebuah mobil dan terbaring di kursi belakang. Kedua tangan dan kakinya terikat, juga mulutnya tertutup lakban. Matanya membesar menyadari apa yang sedang dia alami. ‘Aku di culik?!’ Batinnya panik.

“Mobil itu memang mengejar kita!” Ucap seorang pria di kursi kemudi.

Jihyun tertegun mendengar suara pria.

“Ne!! Benar!! Cepat! Lepaskan diri dari perhatian mereka!” Ucap pria lain.

Jihyun berusaha bangkit dan mengintip ke jendela belakang, ternyata yang mereka maksud adalah mobil Cube. Karena dia bisa melihat Junhyung yang mengenakan kacamata hitam memacu mobilnya. Dia tak ingin menjadi seorang gadis lemah dan berusaha memikirkan cara apa yang bisa membantunya. Akhirnya dia menemukan sebuah cara.

Jihyun duduk tegap dan memukul kepala pria yang mengendarai mobil dengan kedua tangannya yang terikat.

DUAKKK!! Pria itu terkejut dan mobil sempat oleng.

“YA!!” Seru pria yang lain.

Jihyun menggunakan kedua kakinya yang terikat untuk menendang pria itu.

“YA!!” Pria yang memegang stir mobil menarik rambut Jihyun dengan satu tangannya.

“Hmmmp!! Hmmmp!!” Teriak Jihyun sambil memukuli tangan pria itu.

Dahi Junhyung berkerut melihat mobil di depannya bergerak tak terkendali dalam kecepatan tinggi, “Ya.. Mobil itu sepertinya aneh sekali..”

Gikwang, Hyunsik dan Dujun langsung memperhatikan dengan dahi berkerut, “Ne..” Jawab mereka.

“Omo!! Miss J!! Dia pasti membuat masalah disana!!” Seru Gikwang, mengingat betapa brutalnya Jihyun saat berkelahi.

Sementara itu, Jihyun membenturkan kepalanya ke kepala pria yang menarik rambutnya.

“Aaargh!!!” Teriak pria itu dan mobil benar-benar tak terkendali.

Jihyun segera membuka pintu dan meloncat keluar.

“Arrgghh!!! Gadis itu!!!” Teriak Gikwang sambil menunjuk Jihyun yang berguling-guling di aspal.

Junhyung menginjak rem agar tak melindas Jihyun yang berguling ke tengah jalan. Membuat semua orang di mobil terdorong ke depan. Sementara mobil yang membawa Jihyun tadi menabrak pembatas jalan.

Hyunsik segera membuka pintu dan berlari menghampiri Jihyun, “Jihyun.. Jihyun!!” Serunya sambil menarik gadis itu duduk.

Jihyun membuka matanya, dahinya berdarah dan ada sedikit luka gores di lengannya.

“Kenapa kau melakukannya lagi?!!” Seru Hyunsik sambil melepaskan lakban di mulut Jihyun, lalu melepaskan ikatan tangannya.

Gikwang tiba di sisi Jihyun terlebih dulu dari Dujun dan Junhyung dan segera melepaskan ikatan kaki Jihyun.

“Miss J! Gwenchana?” Tanya Dujun khawatir.

Jihyun memandang teman-temannya bergantian, lalu mengangguk.

Junhyung menatap pria yang keluar dari mobil depan sambil memegangi kepalanya yang berdarah, “Aissh!!” Gumamnya kesal sambil menghampiri pria itu dan menarik kerah bajunya, “Ya!! Siapa yang memerintahkanmu?!! Zero.zero.zero?!!” Tanyanya emosi.

Sementara Junhyung menginterogasi pria itu, Hyunsik membantu Jihyun bangkit dan membawanya ke mobil. “Gwenchana? Ada luka dalam?” Tanyanya begitu Jihyun duduk.

Jihyun memegang dahinya yang berdarah sambil memandang Hyunsik bingung.

“Bagaimana bekas operasimu? Apakah sakit lagi?” Tanya Hyunsik.

“Tidak perlu berlebihan.. Lukaku saat meloncat dari mobilmu lebih parah..” Jawab Jihyun.

Hyunsik menghela nafas lega, “Syukurlah..”

=Markas Lain Cube=

Jihyun terkejut melihat kondisi Hyunseung. Wajah pria itu babak belur, juga sangat lemah hingga tak bisa banyak bergerak untuk beberapa saat. Kakinya melemah dan jatuh berlutut di hadapan Hyunseung yang duduk di sofa. Bulir air matanya langsung berjatuhan, “Wae? Ada apa denganmu?” Tanyanya dengan suara bergetar dan kedua tangan memegang pipi pria itu.

“Gwenchana..” Ucap Hyunseung.

Jihyun merasa hancur melihat Hyunseung terluka seperti itu. Tangannya bergerak memeluk pria itu dan menangis di dadanya.

Hyunseung tertegun Jihyun memeluknya sambil menangis, lalu melirik teman-temannya yang juga bingung harus melakukan apa. Tangannya terangkat dan mengelus punggung gadis itu perlahan, “Na gwenchana..”

Hyunsik memandang Jihyun sedih, dia tau gadis itu merasa adiknya Jikyun yang berada di posisi Hyunseung.

Setelah lebih tenang, semua pria kecuali Hyunseung duduk di ruang tengah membicarakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sementara Hyunseung dan Jihyun berbicara di sebuah kamar.

Hyunseung tersenyum tipis, “Apakah semirip itu?” Tanyanya.

Jihyun mengangguk, “Ne..” Jawabnya, “Saat pertama kali melihatmu, kupikir kau benar-benar dia. Karena itu aku berusaha keras dan akhirnya bisa bergabung dengan Cube..”

Hyunseung menghela nafas berat, “Tapi aku bukan dia..”

Jihyun menunduk sedih, “Ne.. Kau memang bukan dia..”

Hyunseung memandang wajah sedih Jihyun, “Mmm.. Kau tau, sebenarnya aku lebih tua darimu. Jadi…” Ia menggantung ucapannya sejenak sambil mengelus pundaknya.

Jihyun memandang Hyunseung, menunggu lanjutan ucapan pria itu.

“..mungkin kau bisa menganggapku kakak laki-lakimu mulai sekarang..” Lanjut Hyunseung pelan.

Jihyun diam sejenak, lalu tersenyum.

Hyunseung mengulurkan tangannya.

Jihyun memandang tangan Hyunseung bingung, lalu memandang pria itu.

Hyunseung tersenyum, “Tidak mau menjabat tangan oppa? Dongsaeng?”

Jihyun menahan tawa dan menjabat tangan Hyunseung.

Dengan satu sentakan kecil, Hyunseung menarik Jihyun ke pelukannya.

Jihyun terkejut merasakan pelukan Hyunseung, “So-1?”

“Maaf aku sangat kasar padamu sebelumnya..” Ucap Hyunseung menyesal. “Kupikir kau hanya gadis menyebalkan, tapi ternyata kau berpikir aku adalah adikmu..”

Jihyun tersenyum dan melingkarkan tangannya di tubuh pria itu.

Ruang tengah.

“Zero.zero.zero orang yang dulunya menculik Jihyun?!” Tanya Hyunsik kaget.

“Ne.. Karena itu dia menyerang kami.” Jawab Dujun, “Dan yang seperti kau lihat, dia menginginkan Miss J..”

“Apa kita perlu memberitau Miss J?” Tanya Junhyung.

“Tentu saja! Agar dia bisa lebih berhati-hati lagi..” Ucap Gikwang.

“Andwae!” Ucap Hyunsik cepat, semua orang memandangnya dengan dahi berkerut. “Miss J sangat sensitif jika membahas tentang adiknya, jika dia tau tentang siapa yang membunuh adiknya…” Dia diam sejenak mencari kalimat yang tepat, “..dia bisa kehilangan akal sehatnya dan melakukan sesuatu yang buruk..”

“Seburuk apa?” Tanya Junhyung.

“Mmm.. Kalian tau Miss J pasien…” Hyunsik melirik kebelakang, memastikan Jihyun tak mendengarkan mereka. “..RSJ Busan?” Lanjutnya setengah berbisik.

Ketiga pria itu terdiam, lalu mengangguk.

“Ne, dia keluar setahun sebelum bergabung dengan Cube..” Jawab Dujun.

Hyunsik menggeleng, “Dia tidak ‘keluar’, tapi melarikan diri..”

“Mwo?!” Tanya ketiga pria itu.

“Dia masih sangat labil. Jika ada sesuatu yang membuatnya labil lagi, aku takut dia yang akan mencari zero.zero.zero..” Jelas Hyunsik.

“Lalu, apa yang kita lakukan sekarang?” Tanya Gikwang.

Dujun diam sambil berpikir, “Mmm..” Gumamnya sambil melirik Hyunsik, “Kau punya ide?”

Hyunsik berpikir sejenak, “Aku punya..”

=Markas GET=

Mata Jihyun membesar ketika Hyunsik membawa Cube ke depan markas GET, “Ya! Micheoso?!” Tanyanya kesal.

Hyunsik memandang Jihyun dan menggeleng, lalu menggenggam tangan gadis itu dan menariknya masuk bersama yang lain.

Anggota GET tertegun melihat Hyunsik bersama Cube.

“Hyunsik! Jadi benar kau berkerja sama dengan Cube?” Tanya Eunji tak percaya.

Hyunsik mengedarkan pandangannya, tampak Chorong menatap tangannya yang menggenggam tangan Jihyun. “Kupastikan Cube datang tanpa kekerasan..” Ucapnya, “Ayo bicara di ruang rapat..”

Ruang Rapat.

“Mwo?! Bekerja sama?!” Seru Dongwoon setelah mendengar ucapan Hyunsik.

“Ne, bos..” Jawab Hyunsik.

“Lim Hyunsik! Kau bisa diberhentikan secara tak hormat karena membantu buronan!” Ucap Dongwoon.

“Ya! Kami menjadi buronan juga karena kau! Jangan sok suci!” Ucap Dujun kesal.

Chorong menatap Hyunsik kesal, “Apa-apaan ini Hyunsik?”

“Dengar!” Ucap Hyunsik, “Musuh kita sekarang adalah zero.zero.zero.. Cube lebih tau mengenainya dari pada kita. Bukankah ada pepatah yang mengatakan kalau musuh dari musuh kita adalah sekutu yang baik?” Jelasnya.

“Yup! Kau benar!” Ucap Gikwang setuju.

Anggota GET tampak mengerutkan dahi menatap Hyunsik.

Junhyung menghela nafas dalam dan berdiri, “Sudahlah.. Jangan buang-buang waktu, kita harus segera menghancurkan zero.zero.zero..” Ucapnya.

Cube ikut bangkit.

“Aku setuju dengan Hyunsik hyungnim..” Ucap Yoseob angkat suara.

Semuanya memandang Yoseob.

Yoseob menghampiri Hyunsik, “Jika kita mencarinya dengan cara kita sendiri, perlu waktu yang lama karena kita sama sekali tidak tau apa pun mengenai zero.zero.zero..”

“Benar..” Ucap Hyunsik.

Dongwoon tampak berpikir dan memandang Dujun.

“Tenang saja, bekerja sama bukan berarti masalah Cube selesai..” Ucap Dujun.

Akhirnya Dongwoon menghela nafas dalam, “Baiklah.. Tapi hanya untuk menangkap zero.zero.zero..”

=Apartemen Hyunsik=

GET dan Cube membicarakan tentang strategi mereka untuk menangkap zero.zero.zero.

Jihyun menyilang kedua tangannya di dada dan menatap Hyunsik kesal, “Kenapa kalian semua membicarakan zero.zero.zero, aku harus beristirahat?”

Hyunsik menyilang kedua tangannya di dada dan menatap Jihyun kesal juga, “Memangnya siapa yang dua hari lalu meloncat keluar dari mobil?”

Jihyun menggemertakkan giginya dan menyipitkan kedua matanya menatap Hyunsik kesal, “Siapa yang keras kepala membantuku?!”

Hyunsik merendahkan kepalanya agar bisa menatap kedua mata Jihyun lebih dekat, “Siapa yang bodoh menganggap….” Ucapannya terputus menyadari apa yang akan dia ucapkan.

“Mwo?!” Tanya Jihyun, tapi Hyunsik tak melanjutkan ucapannya. “Mwo!!” Tanyanya sambil memajukan wajahnya, tapi bibirnya malah mengenai bibir pria itu. Dia segera memegang bibirnya kaget.

Hyunsik juga terkejut. Namun setelah beberapa detik berubah menahan tawa.

Wajah Jihyun berubah merah padam, “Kenapa kau tertawa?!” Tanyanya kesal.

“Ani..” Jawab Hyunsik sambil tetap menahan tertawa.

Jihyun tampak semakin kesal, “Ya!”

Hyunsik tersenyum dan memegang kedua pipi Jihyun, lalu mencium bibir gadis itu lembut.

Mata Jihyun membesar, namun sama sekali tak mendorong Hyunsik.

Hyunsik menarik wajahnya dan menatap kedua mata Jihyun dalam, “Istirahatlah.. Aku akan memberitau hasil pembicaraan nanti padamu..”

Jihyun tidak tau mengapa dia merasa malu saat itu. Jantungnya juga berdegup kencang.

“Jika kau menjadi gadis manis, aku akan membuatkan pasta lagi nanti..” Bujuk Hyunsik sambil mencubit pipi Jihyun.

“Aissh!! Memangnya aku anak kecil?!” Tanya Jihyun kesal sambil menepis tangan Hyunsik, lalu berbalik dan berbaring di kasur sambil menarik selimut.

Hyunsik tersenyum dan berjalan keluar kamar.

Diruang tengah semuanya tampak canggung dan menjaga jarak satu sama lain sambil membaca berkas-berkas di tangan mereka.

“Okay.. Sampai mana pembicaraan kalian?” Tanya Hyunsik sambil duduk di antara Cube dan GET.

Anggota GET dan Cube memandang Hyunsik dan tampak canggung.

Hyunsik memandang mereka bingung, “Wae? Kalian belum memulainya?” Tanyanya.

“Kita mulai sekarang..” Ucap Dujun.

“Zero.zero.zero sangat misterius, dia tidak akan melakukan sesuatu jika tidak benar-benar menarik perhatiannya.. Kita harus tau apa yang dia inginkan sekarang..” Ucap Dongwoon.

Semua anggota GET kecuali Hyunsik mengangguk, sedangkan Cube dan Hyunsik saling berpandangan.

“Dia ingin menghancurkanku..” Jawab Dujun, tidak ingin membuka rahasia mengenai Jihyun.

“Wae?” Tanya Minhyuk.

Dujun menghela nafas dalam, “zero.zero.zero adalah kakakku..”

“Haah?!” Semua anggota GET terkejut mendengar ucapan Dujun.

“Mwo?! Keluargamu semuanya penjahat?!!” Tanya Eunji kaget.

Dujun garuk-garuk kepala.

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang zero.zero.zero?” Tanya Dongwoon.

Dujun melipat kedua tangannya di dada dan menyandarkan punggungnya ke sofa, “Dia sangat menyukai sesuatu yang diluar akal sehat..”

Semuanya mengangguk mengerti. Pembicaraan itu terus berlangsung hingga malam tiba. Terjadi beberapa kali perdebatan karena GET dan Cube memiliki cara berbeda untuk menyerang zero.zero.zero. Akhirnya terjadi kesepakatan kalau mereka akan melakukan penyerangan dengan cara Cube.

Jihyun bosan berbaring di tempat tidur, jadi dia bangkit dan melangkah ke pintu untuk mengetahui apa yang terjadi diluar. Perlahan dia membuka pintu dan mengintip keluar, anggota GET sedang makan di dapur. Gikwang juga berada disana dan tampak sudah akrab dengan Yoseob. Hyunsik duduk di sofa bersama Dujun, Hyunseung dan Junhyung.

“Apa Miss J ikut pada misi ini?” Tanya Junhyung pelan.

“Jangan.. Itu sama saja dengan mengantarkannya kepada zero.zero.zero..” Jawab Hyunsik.

Dahi Jihyun berkerut, ‘Aku?’ Batinnya bingung, lalu membuka pintu lebih lebar lagi agar bisa mendengar lebih jelas.

“Dia benar..” Ucap Dujun, “Miss J pasti masih mengingat wajah orang yang menculiknya, jadi akan buruk jika dia bertemu langsung dengannya..”

Hyunseung mengangguk, “Ne.. Pria itu telah membuat seorang gadis innocent menjadi liar..” Ucapnya.

Jihyun tertegun.

“Apa alasan yang baik untuk membuatnya mengerti?” Tanya Junhyung.

“Mmm.. Mungkin dengan memberikannya obat tidur..” Jawab Hyunsik.

Tiga pria lain menatap Hyunsik dengan satu alis terangkat.

“Jika Miss J tertidur, dia tidak akan tau kita pergi. Dan mungkin saat dia terbangun kita sudah kembali..” Jelas Hyunsik.

Junhyung, Dujun dan Hyunseung mengangguk mengerti. “Benar juga..”

“Tapi, bagaimana jika miss J terbangun saat kita masih pergi?” Tanya Junhyung.

“Tidak apa-apa.. Kita bisa membuat alibi.. Yang terpenting Miss J tidak tau kalau zero.zero.zero adalah orang yang menculik dia dan adiknya..” Ucap Hyunseung.

Mata Jihyun membesar mendengar ucapan Hyunseung, tangannya membekap mulut agar tak menimbulkan suara. Dia sampai tak bernafas beberapa saat karena terlalu shock. ‘Mwo? Orang yang menculikku?!’ Batinnya tak percaya.

“Sssh!! Kau ini! Bagaimana jika ada yang mendengarnya?!” Ucap Dujun kesal.

Jihyun menutup pintu dan berjalan cepat ke tempat tidur. Kedua tangannya bergetar dan tetap membungkam mulutnya. Bulir air matanya berjatuhan mengingat ketika Jikyun di seret dan di masukkan ke bagasi mobil.

“Noona!! Noona!!”

Jihyun memejamkan matanya dan menutup kedua telinganya karena kembali mendengar Jikyun berteriak memanggilnya. Dia kembali merasakan ketakutan saat itu. ‘Andwae! Jikyun!’ Batinnya. Di kepalanya terlihat lagi kejadian saat Jikyun di masukkan ke bagasi mobil. Seorang pria yang duduk sambil memegangi tubuhnya yang terikat tertawa melihat adiknya menangis ketakutan.

Kebencian dan kemarahannya memuncak, matanya kembali terbuka dan menatap penuh kebencian kedepan. “Kau harus mati di tanganku!” Gumamnya, kepalanya menoleh ke meja Hyunsik, lalu segera mencari-cari sesuatu. Bibirnya membentuk senyuman sinis menemukan sebuah pistol laras pendek dalam laci.

“Ya! Kalian tidak makan?” Tanya Gikwang dari meja makan.

Dujun, Junhyung, Hyunseung dan Hyunsik memandang Gikwang. Lalu bangkit dan bergabung dengan yang lainnya.

Saat itu Jihyun memanfaatkan kelengahan mereka untuk keluar dari kamar dan berjalan cepat ke pintu tanpa sepengetahuan siapa pun.

Hyunsik, Dujun, Juhyung, Minhyuk, Eunji dan Dongwoon menoleh ke arah suara khas pintu apartemen ketika terbuka. Lalu saling berpandangan.

“Hm? Ada yang datang?” Tanya Minhyuk.

“Mola..” Jawab Hyunsik, “Tapi sepertinya tidak ada yang tau kode masuk apartemenku..”

Anggota Cube dan Hyunsik tertegun sambil saling menatap kaget, lalu langsung berlari ke pintu. Junhyung dan Gikwang memeriksa kamar.

Hyunsik membuka pintu dan berlari keluar.

Dujun dan Hyunseung keluar juga dan langsung memandang ke kanan dan kiri.

“Miss J!!” Panggil Hyunseung.

“Miss J!!” Panggil Dujun.

Pintu apartemen terbuka, muncul Gikwang dan Junhyung dengan wajah panik mereka. “Ya! Miss J tidak ada di kamar..”

“Ne?!!” Seru Hyunsik, “Arrrgh!!” Erangnya dan langsung berlari ke lift bersama yang lain.

Ketika pintu lift terbuka di lantai bawah, kelima pria itu dapat melihat Jihyun melangkah cepat keluar dari apartemen. “Itu!! Cepat!” Seru mereka.

Kelima pria itu segera berlari mengejar Jihyun, “Miss J!!”

Jihyun menyadari para pria itu mengejarnya, lalu masuk ke keramaian orang dan berusaha tak terlihat lagi.

Kelima pria itu benar-benar kehilangan jejak Jihyun.

“Arrrgh!! Kenapa dia sangat mahir melarikan diri?” Ucap Junhyung kesal.

Hyunsik memandang ke sekitar tetap mencari.

Gikwang memandang teman-temannya ragu, “Mmm.. Semuanya, aku tidak tau ini penting atau tidak. Tapi sepertinya tadi Miss J merobek sebuah halaman di buku agendamu..” Ucapnya sambil memegang bahu Hyunsik.

Mata Hyunsik membesar, “Ne?!!”

“Buku agenda? Apa yang kau tulis disana?!” Tanya Junhyung.

“Aku.. Aku menulis rencana penangkapan zero.zero.zero..” Jawab Hyunsik.

“Aissh!! Kenapa kau meletakkan buku itu disana?!! Dia pasti membacanya!!” Seru Dujun kesal.

“Ubah rencana! Kita harus bergerak sekarang!” Ucap Hyunseung, lalu berlari kembali ke apartemen.

=Sebuah Rumah=

Jihyun berhenti di sebuah rumah mewah sambil menatapnya tajam, ‘Aku akan membunuhmu!’ Batinnya penuh kebencian. Lalu melangkah masuk ke pekarangan.

Dua penjaga langsung menghampiri Jihyun, “Maaf nona, anda tidak bisa masuk..”

Jihyun memandang kedua pria itu bergantian dan tersenyum manis, “Kenapa aku tidak boleh masuk?”

“Ini tempat terlarang.. Anda sebaiknya pergi..” Ucap pria satu lagi.

Jihyun tertawa kecil, “Jinja?”

“Nona, anda..” Pria yang satu lagi mengulurkan tangan untuk mendorong Jihyun, tapi gadis itu langsung menarik tangannya dan membanting tubuhnya ke tanah.

“Ya!!” Seru pria yang satu lagi.

Jihyun segera melakukan tendangan memutar dan tepat mengenai wajah pria itu. Duaakk!! Pria itu terjatuh ke tanah. Dia dengan cepat segera berlari masuk ke rumah.

Di sebuah ruangan di rumah mewah itu, pria tampan yang mengenakan jaket bulu tertarik melihat layar tv yang terhubung ke cctv. Pintu ruangannya terbuka, pria itu memandang salah seorangnya yang masuk.

“Bos, ada penyusup. Tapi kami akan segera membereskannya..” Ucap pria itu.

Pria yang tak lain adalah zero.zero.zero atau Kimjun itu melirik layar tv, lalu tersenyum. “Tidak.. Lakukan seperti perintahku..” Ucapnya, “Bimbing dia kemari..”

“Baik bos..” Ucap pria itu sambil mengangguk sopan, lalu keluar.

Kimjun tersenyum lebar melihat Jihyun menyerang beberapa anak buahnya di anak tangga, tangannya mengambil walky talky dan berbicara. “Permudah dia.. Buat seolah-olah dia menang atas kalian.”

Lalu di layar tv terlihat seperti Jihyun berhasil mengalahkan para pria itu dan segera naik ke lantai atas. Tiga pria juga muncul untuk menghadangnya, namun kembali lagi dia berhasil menanganinya.

Kimjun duduk bersandar di kursinya sambil tetap memperhatikan layar tv, satu tangannya bergerak menarik laci dan mengambil sesuatu disana. Sebuah potongan berita di koran tua. Bibirnya membentuk senyuman memandang koran itu. Matanya melirik Jihyun yang sudah semakin dekat dengan ruangannya. Tangannya meletakkan koran tadi, lalu mengambil pistol berisi obat bius di laci yang sama dan memeriksa pelurunya. Matanya kembali menatap layar tv dan menghitung mundur. “…3.. 2… 1”

Brak!! Jihyun menendang pintu hingga terbuka lebar, saat tangannya bergerak menembak pria yang duduk di balik meja, sesuatu mengenai lehernya. Sssseet!! Tubuhnya tersentak dan spontan memegang leher. Mendadak tubuhnya terasa lemas dan hampir terjatuh jika dia tidak berpegangan pada pintu.

Kimjun tertawa kecil sambil bergerak bangkit dan menghampiri Jihyun, “Hallo.. Kau merindukanku?”

Jihyun berusaha melawan obat bius yang mulai mengawasinya dan menatap Kimjun tajam, “Kau…” Ucapnya lemah.

Kimjun tersenyum, “Ne..”

Akhirnya Jihyun tak bisa menahan dirinya dan jatuh tak sadarkan diri.

Kimjun segera menahan tubuh Jihyun dan menggendongnya, “Sayang, aku akan melanjutkan apa yang sudah kumulai dulu..” Ucapnya, lalu melangkah keluar dari ruangannya. Namun begitu dia hendak turun tangga, terdengar rentetetan pistol dari lantai bawah. Juga terlihat beberapa anak buahnya terkapar berlumuran darah.

Tampak seorang pria di tendang kebelakang, lalu seorang pria muncul. Dujun. Dia langsung melotot melihat Kimjun menggendong Jihyun, “Ya!!” Teriaknya dan berlari naik.

Kimjun tersenyum sinis, lalu berbalik dan berjalan cepat ke sebuah pintu. Itu adalah lift rahasia di rumahnya.

“Ya!! Tunggu!!” Teriak Dujun, namun ketika dia tiba Kimjun sudah menghilang di balik pintu lift. “Sial!!” Serunya, lalu kembali berlari ke bawah.

“Kau menemukannya?” Tanya Hyunsik.

“Zero.zero.zero yang menemukannya!” Jawab Dujun sambil berlari ke arah belakang rumah.

“Mwo?!” Seru Hyunsik dan segera berlari mengikuti Dujun.

Sebelum mereka menemukan kemana Kimjun pergi, pria itu muncul di ambang pintu dapur sambil tersenyum.

Dujun menatap Kimjun tajam dan menyadari pria itu tak menggendong Jihyun lagi, “Mana anggotaku?!”

Kimjun melipat kedua tangannya di dada, “Mola..” Ucapnya.

“Ya!! Kau sudah di kepung!! Kami polisi!!” Seru Hyunsik sambil menodongkan pistolnya kepada Kimjun.

Kimjun mengangkat kedua tangannya tanda menyerah dan berlutut, “Kau mendapatkanku, detektif..” Ucapnya sambil tersenyum.

Hyunsik dan Dujun mengerutkan dahi melihat kelaukan Kimjun.

“Neo! Apa yang kau rencanakan?!” Tanya Dujun kesal.

Anggota kepolisian sudah menangkap anak buah zero.zero.zero, GET dan Cube segera menghampiri Hyunsik dan Dujun.

“Tangkap dia!!” Ucap Dongwoon.

Minhyuk dan Yoseob segera menghampiri Kimjun dan menarik pria itu berdiri sambil memborgol tangannya ke belakang.

“Mana Miss J?” Tanya Gikwang pada Dujun.

Hyunsik memperhatikan ekspresi Kimjun yang terlihat menyembunyikan sesuatu. Tangannya menarik kerah baju pria itu dan menatapnya tajam, “Mana Jihyun! Apa yang kau lakukan padanya?!” Tanyanya.

Kimjun tersenyum lebar, “Waktumu 1 jam..” Ucapnya, lalu berjalan keluar bersama Yoseob dan Mihyuk.

Hyunseung menarik bahu Kimjun dan menatapnya tajam, “Dimana dia?!!”

Kimjun sama sekali tak terlihat takut, “Aku berhak diam hingga pengacaraku datang kan?” Ucapnya.

“Ya!!” Seru Hyunseung, namun Junhyung menahannya.

Kimjun tertawa dan pergi bersama Minhyuk dan Yoseob.

“Waktu apa yang 1 jam?” Tanya Eunji bingung.

Dujun dan Hyunsik saling berpandangan bingung.

Gikwang yang sejak tadi memperhatikan sebuah jam besar di sudut ruangan melangkah maju agar bisa memperhatikan lebih jelas. Dahinya berkerut karena merasa ada yang aneh pada jam itu. Satu tangannya terulur membuka pintu kaca lemari itu, namun ternyata yang terlihat di balik kaca itu hanya kamuflase! Yang tersembunyi di balik pintu kaca itu adalah sebuah bom. Dan itu akan meledak 56 menit lagi. “YA!!! Ini yang dia maksud 1 jam!!”

Semuanya melotot dan menghampiri jam itu.

“Sial!! Dia akan meledakkan tempat ini!!” Seru Junhyung.

“Ayo pergi!! Semuanya sudah bersih!” Seru Chorong.

“Ani! Miss J! Dia menyembunyikan Miss J di suatu tempat!!” Seru Hyunsik.

“Dan dia ingin kita menemukannya sebelum benda ini meledak!” Ucap Hyunseung.

“Segera cari Miss J!! Aku akan berusaha mematikannya!!” Seru Gikwang sambil membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah notebook kecil.

“Aku pernah menangani hal seperti ini sebelumnya..” Ucap Eunji dan membantu Gikwang.

Hyunsik beserta para pria Cube segera berpencar mencari dimana kira-kira Kimjun menyembunyikan Jihyun.

“Dia pasti membius Miss J, tadi aku melihat gadis itu tak sadarkan diri..” Ucap Dujun.

Hyunsik mengangguk dan segera mencari ke ruangan-ruangan di rumah besar itu.

Chorong mengikuti Hyunsik, “Hyunsik! Hyunsik! Berhenti!”

Hyunsik tetap mencari tanpa memperdulikan Chorong.

Chorong menarik Hyunsik hingga menghadapnya, “Ya! Ayo segera pergi!! Tempat ini akan segera meledak!!”

Hyunsik menatap Chorong kesal, “Aku harus menemukan Miss J!!” Ucapnya dan kembali mencari.

Chorong kembali menarik Hyunsik, “Hyunsik! Untuk apa kau melakukan ini?! Dia itu penjahat! Juga tidak waras!”

Hyunsik menatap Chorong, “Aku hanya ingin mencarinya!” Ucapnya dan kembali memeriksa tiap ruangan.

Chorong tetap mengikuti Hyunsik, “Hyunsik! Aku tau kau tertarik padanya, tapi aku tidak bisa percaya kalau kau bisa bersamanya! Dia itu sakit! Sakit jiwa!!”

Hyunsik berhenti dan menatap Chorong, “Lalu?! Apa yang harus kulakukan? Membiarkannya mati disini? Menangkap Cube dan menjadi pahlawan?! Kau pikir aku bisa menerima itu?!”

“Lim Hyunsik! Sadarlah! Jika kau membantu mereka, kerja kerasmu selama ini akan sia-sia! Kau akan diberhentikan secara tidak hormat dan tidak ada kepolisian yang akan menerimamu bekerja!” Ucap Chorong berusaha mengubah keputusan Hyunsik.

Hyunsik menatap Chorong tajam, “Tapi.. Jika aku pergi sekarang.. Menjadi polisi terbaik yang pernah ada.. Menangkap Cube dan zero.zero.zero.. Aku tidak akan bangga dan senang menerimanya..” Ucapnya, “Hal pertama yang akan kulakukan adalah mengambil pistolku dan menembak kepalaku sendiri..”

Chorong tertegun, “Hyunsik?”

“Kau tau mengapa aku harus menemukannya?! Karena aku mencintainya! Aku akan melindunginya hingga aku tak sanggup bernafas lagi! Kau mengerti?!” Tanya Hyunsik dingin, lalu berbalik dan melangkah cepat mencari Jihyun.

Chorong tertegun di tempatnya mendengar ucapan Hyunsik.

Hyunsik sudah memeriksa hampir semua ruangan di rumah itu dan segera kembali ke depan jam tadi.

“Bagaimana? Kau berhasil menghentikannya?!” Tanya Dujun yang baru kembali seperti Hyunsik pada Gikwang.

Gikwang tampak kebingungan memandang layar notebooknya, “Aku tidak bisa memecahkan kodenya..”

“Ini kode yang di gunakan dalam perang virus dua tahun lalu di Amerika..” Ucap Eunji, “Tapi aku belum bisa memecahkannya..”

Hyunsik memejamkan matanya frustasi sambil memegang dahinya, memikirkan dimana kira-kira zero.zero.zero menyembunyikan Jihyun.

“Berapa waktu yang tersisa?” Tanya Dujun.

Gikwang menoleh pada bom tadi, “12 menit 45 detik.” Ucapnya.

Dujun menunduk frustasi.

“Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Eunji.

Hyunsik kembali membuka matanya dan menatap Dujun, “Aku tau!!”

Dujun menatap Hyunsik kaget, “Ne?!”

“Eunji! Katakan pada semuanya untuk segera keluar!” Ucap Hyunsik pada Eunji, “Kau juga..” Ucapnya pada Dujun, lalu berlari pergi.

“Ya!! Lalu bomnya?” Tanya Gikwang.

“Karena itu segera pergi!! Menjauh dari sini! Biarkan saja meledak! Aku akan segera keluar!!” Jawab Hyunsik sambil terus berlari.

“Gikwang!! Perintahkan semuanya keluar! Aku akan ikut mencari Miss J!” Ucap Dujun dan mengikuti Hyunsik.

Sementara itu.

Jihyun mengerutkan dahinya dan membuka mata, namun semuanya gelap. “Hmm.. Dimana ini?” Gumamnya sambil mengangkat tangan dan berusaha meraba-raba. Namun dia tertegun merasakan sesuatu keras di depannya. Tangannya meraba sekitar lagi, dan saat itu dia sadar. Dia berada dalam bagasi mobil. Rasa takut dan panik langsung merajainya. “Oh!! Kyaaaa!!! Tidak!! Keluarkan aku!!” Jeritnya panik sambil menendangi tutup bagasi itu. Ingatan saat melihat adiknya ditemukan tewas dalam bagasi beberapa tahun silam kembali muncul di kepalanya. Bulir air matanya mengalir mewakili rasa takutnya, “Tidak! Tolong aku..” Tangisnya, kedua tangannya berhenti memukul dan memeluk dirinya dalam kegelapan itu sambil terus menangis. Dia merasa tak berdaya hingga tak bisa melakukan apa pun. “Tolong aku..” Tangisnya. Dia juga teringat adiknya meninggal karena kekurangan oksigen, alam bawah sadarnya mulai mempengaruhinya. Nafasnya terasa sesak dan tak bisa menghela nafas lagi. Tangannya mencengkeram lehernya karena tak bisa bernafas. ‘Tolong aku!!’ Jerit batinnya dengan mata terpejam, ‘Tolong..’ Batinnya lagi, wajah Hyunsik muncul di balik pelupuk matanya. ‘Tolong aku Hyunsik..’

Dujun menarik bahu Hyunsik ketika pria itu masuk ke parkiran basement di rumah itu, “Ya!! Dimana Miss J? Kenapa kau membuang waktu berlari kesana kemari?!”

“Agent D! Kau ingat bagaimana adik Miss J meninggal?” Tanya Hyunsik.

Dujun mengingat sejenak, lalu menatap Hyunsik kaget. “Bagasi mobil!! Dia di bagasi mobil!!” Serunya.

Hyunsik mengangguk, “Ne! Ayo kita temukan dia!!” Ucapnya dan mulai mencari-cari di deretan mobil yang banyak terparkir disana. “Miss J!!” Panggilnya.

“Miss J!! Dimana kau?! Jawab aku!!” Seru Dujun sambil mencari ke arah yang berlawanan.

“Jihyun!!” Panggil Hyunsik. Langkahnya terhenti ketika melewati sebuah mobil dan kembali mundur, dahinya berkerut melihat sesuatu terjepit di pintu bagasi. Dan dia tau itu baju Jihyun. “Jihyun!” Serunya sambil berusaha membuka bagasi itu. Namun itu tak semudah pemikirannya.

Tak habis akal, Hyunsik segera mengambil kapak di tabung darurat dan berusaha mencongkel pintu itu.

Dujun berlari menghampiri Hyunsik, “Ya! Bagaimana?”

“Dia di dalam bagasi ini!” Seru Hyunsik sambil berusaha mengcongkel pintu itu.

Dujun mendorong Hyunsik ke samping dan mengeluarkan pistolnya. Meskipun tak yakin akan berhasil, dia tetap menembaki kunci bagasi itu.

Sepertinya Hyunsik selalu di kelilingi keberuntungan, bagasi itu terbuka karena Dujun merusak kuncinya. “Jihyun!” Serunya sambil membuka bagasi itu. Ternyata gadis itu memang disana.

“Miss J!! Syukurlah!!” Ucap Dujun.

Hyunsik menepuk pipi Jihyun, “Jihyun!” Panggilnya karena gadis itu tampak tak sadarkan diri, namun matanya masih basah karena air mata tadi.

“Tidak ada waktu! Bawa dia!!” Ucap Dujun.

Hyunsik segera mengangkat tubuh Jihyun dan berjalan cepat keluar dari parkiran.

“Itu mereka!!” Seru Junhyung begitu melihat Dujun dan Hyunsik muncul dari balik van tak jauh dari rumah itu.

“Cepat!! Bom itu akan meledak kurang dari 60 detik lagi!!” Seru Gikwang.

Tepat ketika Dujun dan Hyunsik berlindung di balik van, terdengar ledakan besar. DUARRRRRRRRRRRRRRRR!! Puing-puing rumah berterbangan. Hyunsik meringkuk di balik van sambil melindungi Jihyun dengan pelukannya.

Junhyung dan Hyunseung melindungi kepala mereka dari puing-puing yang berterbangan. Yoseob secara reflek merangkul Chorong untuk melindunginya. Sementara Minhyuk dan Dongwoon merapat ke badan mobil. Gikwang yang berada di sebelah Eunji juga spontan memeluk gadis itu untuk melindunginya.

Setelah beberapa saat mereka menegakkan kepala untuk melihat situasi sudah aman.

“Sudah selesai?” Tanya Gikwang memastikan.

Eunji menyadari dia memeluk Gikwang dan segera menjaga jarak.

Gikwang juga merasa canggung karena hal itu.

“Noonim, gwenchana?” Tanya Yoseob pada Chorong.

Chorong mengangguk, “Ne, Gumopta..” Ucapnya.

Hyunsik melepaskan pelukannya dan memandang Jihyun yang belum sadar, “Jihyun..” Panggilnya pelan sambil mengelus pipi gadis itu. Namun tak ada respon, “Jihyun!” Panggilnya lebih keras sambil menyentak tubuh gadis itu. Matanya membesar melihat gadis itu tak memberi respon, ‘Andwae! Aku tidak terlambat! Kumohon!! Jangan pergi Jihyun!’ Batinnya memohon.

“Miss J?” Ucap Gikwang tak percaya.

Dujun menatap Jihyun tak percaya, “Dia meninggal?” Tanyanya pelan.

Hyunsik memegang leher Jihyun dengan jantung berdebar kencang, tidak terasa apa pun.

“Apa kau bisa merasakan denyut nadinya?” Tanya Eunji.

Mata Hyunsik terpejam merasakan detak jantung Jihyun lebih fokus. Matanya kembali terbuka dan menatap Jihyun, “Aku merasakannya!” Serunya, lalu membaringkan gadis itu ke tanah dan memperbaiki posisi duduknya di sebelah gadis itu sambil menggulung lengan bajunya.

“Apa yang akan kau lakukan?!” Tanya Hyunseung.

“Menyelamatkannya..” Jawab Hyunsik dan mulai memompa kedua tangannya di dada Jihyun, berharap cara ini akan berhasil lagi.

Semuanya menatap Jihyun, menunggu kejutan apa yang akan terjadi. Namun setelah beberapa menit Jihyun tak memberikan respon apa pun.

Dujun memejamkan matanya menyadari Jihyun tak memberi respon sambil memegang bahu Hyunsik, “Berhenti, detektif..” Ucapnya pelan.

Hyunseung, Junhyung dan Gikwang menunduk sedih menyadari mereka terlambat menyelamatkan Jihyun.

“Tidak! Dia masih hidup! Jantungnya masih berdetak!!” Seru Hyunsik sambil terus memberikan hentakan kecil di dada Jihyun.

“Berhenti!!” Seru Dujun.

Hyunsik mendorong tangan Dujun dari bahunya dan menunduk sambil membuka mulut Jihyun, dia menghembuskan udara dua kali dan kembali menekan dadanya. Lalu kembali menghembuskan udara dan menekan dadanya.

Dujun terkejut melihat Hyunsik malah menempelkan bibirnya pada Jihyun, “Ya!! Apa yang kau lakukan?!” Serunya.

“Uhuk…” Jihyun terbatuk dan kembali menghela nafas.

Mata Hyunsik membesar dengan senyuman tak percaya di bibirnya, “Dia kembali!! Aku tau dia masih hidup!!” Serunya.

Semua orang disana tertegun melihat Jihyun kembali bernafas.

Hyunsik mengangkat tubuh Jihyun ke pangkuannya sambil merapikan rambut yang menutupi wajahnya sambil menatapnya penuh haru, “Jihyun… Jihyun.. Kau dengar aku?”

Perlahan Jihyun membuka matanya.

Hyunsik tersenyum dengan kedua mata menatap mata gadis itu dalam.

Jihyun memandang Hyunsik lemah, tangannya bergerak perlahan menggenggam baju pria itu. “Tolong aku.. Hyunsik..” Ucapnya pelan.

Hyunsik tertegun akhirnya Jihyun menyebut namanya, lalu mengangguk cepat dan memeluk gadis itu. “Kau tidak perlu takut.. Aku akan selalu melindungimu..” Ucapnya.

GET dan Cube hanya bisa saling berpandangan melihat kejadian di depan mereka.

=Dua Bulan Kemudian=

Mata Jihyun memerah dan bulir air berjatuhan menatap empat teman-temannya yang mengenakan seragam napi.

Dujun tersenyum dan mengulurkan tangannya ke tangan Jihyun diatas meja, “Hei.. Kau datang kemari hanya untuk menangis?” Tanyanya dengan nada bercanda.

Jihyun menggenggam tangan Dujun yang memegang tangannya sambil memandang keempat pria itu bergantian, “Kenapa kalian melakukan ini? Seharusnya aku juga dihukum..”

Gikwang tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang rapi, “Gwenchanayo.. Berkat berjasa atas tertangkapnya zero.zero.zero, kami hanya akan di hukum selama 3 tahun. Tidak lama..”

“Tapi aku juga bagian dari kalian..” Ucap Jihyun.

Hyunseung mengulurkan tangannya menggenggam tangan Jihyun dan menatapnya dalam, “Kami tidak mungkin menjerumuskan adik kami sendiri..”

“Yup! Benar sekali..” Ucap Junhyung membenarkan.

Jihyun menangis mendengar ucapan para pria itu. Mereka mengakui semua kesalahan dan berkata kalau mereka mempengaruhinya yang seorang pasien rumah sakit jiwa untuk bergabung, karena itu dia tak di tahan dan hanya diwajibkan melapor ke kantor polisi.

“Miss J..” Ucap Dujun, “Ani.. Maksudku, Jihyun..” Ucapnya memperbaiki, “Kau akan aman bersama Detektif Hyunsik, kami juga akan tenang jika kau bersamanya..”

“Ne, Jihyun-a..” Ucap Gikwang, “Berhentilah memarahinya, semua ini bukan salahnya. Kami memang harus mempertanggung jawabkan kesalahan kami..”

“Paling tidak, tunggulah kami hingga keluar dari sini bersamanya..” Ucap Junhyung.

“Ne, aku yakin dia tak akan membuatmu terluka. Dia pria yang baik, Jihyun..” Ucap Hyunseung.

Jihyun tertegun mendengar ucapan para pria itu, mengingat selama dua bulan terakhir ini dia selalu berteriak marah pada Hyunsik karena membuat teman-temannya di penjara. Bahkan dia hampir melempar semua pisau dapur pada pria itu. Beberapa kali dia berencana keluar dari apartemennya, pria itu memohon agar dia tak pergi kemanapun.

=Apartemen Hyunsik=

Jihyun duduk di sofa menunggu Hyunsik kembali dari markas GET hingga pukul 1 pagi.

Hyunsik tertegun melihat Jihyun menatapnya di sofa, “Hm? Kau belum tidur?”

Jihyun berdiri, “Kemari..” Panggilnya sambil melambaikan tangan.

Dahi Hyunsik berkerut dan menghampiri gadis itu, “Wae?”

Jihyun diam memandang Hyunsik, lalu menggulung lipatan lengan baju pria itu ke atas sedikit. Terlihat perban di lengan pria itu. Matanya kembali memandang pria itu.

“Wae? Lukanya sudah sembuh..” Jawab Hyunsik sambil menurunkan lengan bajunya.

Jihyun tak tau harus mengatakan apa karena luka itu akibat pisau yang dia lempar dua hari lalu.

Hyunsik tersenyum dan memegang pipi Jihyun lembut, “Ada apa dengan ekspresimu?” Tanyanya.

Jihyun tertegun, Hyunsik selalu memperlakukannya dengan lembut meskipun dia selalu kasar dan mengerikan. Tangannya melepaskan tangan pria itu dan menatapnya serius, “Aku akan menghubungi RSJ Busan, besok aku akan kembali ke sana..”

Hyunsik tertegun dan menatap Jihyun tak percaya sambil memegang kedua bahunya, “Mwo?! Ani! Kau tetap disini!!” Tegasnya.

“Kau ingin benar-benar tertusuk pisau yang kulempar?! Bisa saja nanti pisau itu mengenai jantungmu!!” Seru Jihyun.

Hyunsik menatap kedua mata Jihyun kesal, “Wae? Apa pedulimu?! Yang tertusuk tubuhku! Kau tidak perlu mengkhawatirkannya!” Ucapnya marah, “Kau tidak akan pergi kemana pun!!” Serunya, lalu melangkah cepat ke kamarnya.

Jihyun langsung memeluk Hyunsik dari belakang, membuat pria itu terkejut dan terpaku di tempatnya. Matanya terpejam dan menempelkan satu pipinya ke punggung pria itu.

Kepala Hyunsik menunduk memandang tangan Jihyun di pinggangnya tak percaya, “Jihyun?”

“Karena aku takut aku benar-benar melakukannya..” Ucap Jihyun dengan suara bergetar.

Hyunsik tertegun mendengar ucapan Jihyun.

Bulir air menyelinap keluar dari sudut mata Jihyun dan mulai terisak, “Aku tidak tau apa yang kulakukan.. Aku tidak waras seutuhnya. Bagaimana jika aku benar-benar menusuk jantungmu?”

Tangan Hyunsik bergerak memegang tangan Jihyun di pinggangnya, “Gwenchana.. Aku bertahan sejauh ini karena aku yakin kau akan membalas perasaanku, jika kau yang menusukku, aku tidak akan menyesalinya..”

Jihyun semakin terisak mendengar ucapan Hyunsik, “Pabo ya!”

Bibir Hyunsik membentuk senyuman, akhirnya dia benar-benar tau bagaimana perasaan Jihyun yang sesungguhnya. Tangannya melepaskan tangan gadis itu di pinggangnya dan berbalik berhadapan dengan Jihyun. “Sudah sangat larut, ayo tidur..” Ucapnya, lalu menggendong Jihyun dan berjalan ke kamar.

“Ya! Turunkan aku!” Ucap Jihyun malu.

Hyunsik hanya tertawa sambil tetap berjalan, lalu merendahkan wajahnya ke wajah Jihyun. Dalam hati ia sempat khawatir gadis itu malah akan menghajarnya habis-habisan, tapi kali ini berbeda.

Jihyun tersenyum malu dan mengangkat dagunya tinggi agar bibirnya bisa menyentuh bibir Hyunsik.

Hyunsik tersenyum dan menurunkan Jihyun ke kasur, “Selamat tidur..” Ucapnya.

Jihyun tersenyum dan berbaring, Hyunsik menyelimutinya dan berjalan masuk ke kamar mandi. Dia senang semuanya menjadi tenang. Zero.zero.zero di hukum seumur hidup karena percobaan pembunuhan pada pihak kepolisian waktu itu, itu berarti dia tak perlu khawatir apa pun lagi. Juga karena Hyunsik akan selalu menjaganya.

===THE END===

Advertisements

4 thoughts on “GET the Cube!!

  1. Aaaahh… Baru nemu ff Hanna eonnie yang ini >< xD kkkk
    keren banget!!! Aku suka ama sifatnya jihyun yang berjuang keras demi jikyun…! Paling favorit ama kata2 nya minhyuk "mereka itu penjahat atau photo model" sumpah thor! Aku ngakak! xD lol~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s