Uncategorized

Hello To Myself..

Hello To myself

Cast:

– Ha Yeon-soo

– Kang Haneul

– Hyun-Bin/ Ha Hyun-Bin

– Han GaIn/ Ha GaIn

– Kim Young-Kwang

– Amber

-Yeon-soo’s POV-

Semua orang, termasuk teman-temanku, memiliki idolanya masing-masing. Mereka selalu membicarakannya setiap hari, di sekolah, di telepon, juga di rumah. Mereka hanya tau orang yang mereka idolakan sangat ramah dan baik pada fansnya, tapi pada keluarga mereka? Jangan tanyakan padaku..

“Yeonsoo-a, kau tidak pernah mengatakan siapa idolamu…” Ucap Nana, teman yang duduk didepanku.

“Ne, katakan.. Siapa?” Tanya Eunha yang duduk disebelah Nana.

Aku memandang mereka bergantian, “Kim Youngkwang..”

Dahi kedua gadis itu berkerut memandangku, “Nugu?” Tanya Nana.

“Dia berperan di drama apa?” Tanya Eunha.

“Aniya.. Dia bukan aktor atau pun penyanyi..” Jawabku santai.

“Ne? Lalu?” Tanya Eunha tak mengerti.

“Pamanku..” Jawabku.

Eunha dan Nana menatapku aneh, lalu berbalik memandang ke depan. Orang-orang dikelas dan sekolah menganggapku aneh karena tak pernah membicarakan tentang idola remaja yang sedang hits, bukan masalah bagiku. Karena aku memang mengidolakan pamanku, dia lebih keren dari idol manapun.

Seperti biasa, setelah pulang sekolah aku akan kembali ke rumah ‘mewah’ yang di idam-idamkan semua orang. Tapi aku tidak. Mereka akan menginginkannya jika tak pernah merasakannya. Setiap hari, aku akan meletakkan tasku di sofa. Lalu berjalan ke dapur dan membuka kulkas, lalu mengambil botol air mineral dan menuang isinya ke gelas. Rumah sebesar ini membuatku merasa seperti orang terasing.

Ponselku berdering menandakan ada pesan masuk, aku segera mengeluarkan ponsel dan melihat layarnya. Tampak GaIn immo muncul di layarnya, bibirku membentuk senyuman dan segera mengangkatnya. “Ne, immo..”

“Yeonsoo-a, kau baru pulang sekolah kan?” Tanya GaIn immo di seberang.

“Ne, immo..” Jawabku.

“Datanglah ke rumahku untuk makan malam..” Ucap GaIn immo.

“Baik..” Jawabku girang, lalu menutup telepon. Aku segera berlari ke sofa, mengambil tas dan masuk ke kamarku untuk mengerjakan PR.

Sekitar pukul 7 aku sudah bersiap untuk pergi ke rumah GaIn immo. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku, jadi aku bisa berjalan kaki ke sana.

“Aku datang..” Ucapku sambil melangkah masuk.

GaIn immo yang sedang menata meja makan tersenyum padaku, “Sudah datang?”

“Ne..” Jawabku dan langsung membantunya. GaIn immo adalah adik ayahku, Kim Youngkwang yang kusebut sebelumnya adalah suaminya.

“Chaaaaaan.. Makanan tiba..” Ucap Youngkwang samchon(paman) sambil membawa makanan yang baru dia masak.

“Wuaaa.. Ayam bakaaar..” Ucapku girang dan duduk.

Youngkwang samchon bukan pria terkenal yang muncul di tv, dia hanya seorang manajer sebuah perusahaan biasa. Tapi yang membuatku mengidolakannya, adalah sosoknya..

Youngkwang samchon tersenyum lebar padaku, “Little bird, makan sepuasmu..” Ucapnya.

Aku tersenyum lebar dan mengangguk, “Ne..” Jawabku dan langsung melahap makanan di meja.

Yang membuatku mengagumi Youngkwang samchon adalah : perhatiannya yang seperti seorang ayah padaku.

=Rumah=

“Yeonsoo-a..” Panggil appa dari pintu depan.

Aku segera berdiri dan memandang appa yang berjalan ke arahku dengan senyuman lebar di wajahnya.

“Yeonsoo-a, lihat.. Appa membawa apa untukmu..” Ucap appa sambil memperlihatkan sebuah boneka teddy bear lucu padaku.

Aku memandang boneka itu dan memandang appa.

Appa memandangku bingung, “Wae? Kau tidak suka?”

Aku menghela nafas dalam dan mengambil boneka itu, bibirku membentuk senyuman. “Aniya.. Aku suka..”

Appa tersenyum senang sambil mengelus kepalaku, “Syukurlah..”

“Ada berita apa kali ini?” Tanyaku.

Appa diam sejenak sambil mengelus pundaknya, lalu membawaku duduk ke sofa. “Yeonsoo-a, appa harus menghadiri premier film appa di Busan. Tidak akan lama, hanya dua hari.”

Aku memandang appa tanpa menjawab. Hal ini sudah sering terjadi, jadi aku sudah biasa menanganinya. “Mmm.. Apa aku boleh menginap di rumah Gain immo?”

Appa mengangguk, “Tentu..”

Berita yang satu ini membuatku tersenyum, “Gwenchana, appa bisa pergi..”

Appa tersenyum sambil mengelus kepalaku, “Itu baru putri appa..”

Dan appaku adalah orang yang di impi-impikan setiap wanita untuk menjadi oppa mereka, suami mereka, atau menantu idaman mereka. Tapi menurutku appa bukan appa yang di idamkan anaknya, tapi selalu berusaha menjadi yang terbaik untukku.

-Yeonsoo’s POV end-

=Rumah Gain&Youngkwang=

“Little bird! Ayo berangkat..” Panggil Youngkwang.

“Ne…” Ucap Yeonsoo sambil berlari menuju pintu depan.

“Yeonsoo, ini.. Kau lupa bekalmu..” Ucap Gain mengingatkan.

“Ooh.. Ne, gamshamida..” Ucap Yeonsoo sambil menerima tempat bekal dari Gain.

Gain tersenyum, “Hati-hati..”

Yeonsoo lebih merasa seperti anak dari Gain dan Youngkwang dari pada anak ayahnya. Atau itu yang dia harapkan.

Setibanya di sekolah.

“Bye, samchon..” Ucap Yeonsoo sambil turun dari mobil.

“Hei.. Little bird.. Tunggu..” Panggil Youngkwang.

Yeonsoo berhenti dan memandang Youngkwang yang mengambil sesuatu dari kursi belakang.

“Kau lupa gitarmu..” Ucap Youngkwang sambil menyodorkan tas girtar Yeonsoo.

Yeonsoo tertawa kecil, “Oh.. Ne.. Maaf, aku lupa..” Ucapnya sambil mengambil tas gitarnya. “Bye samchon..” Ucapnya dan melangkah menuju gedung sekolah.

Yeonsoo langsung menuju ruang musik, hari ini adalah kelas kesukaannya. Begitu masuk dia langsung duduk di belakang dan membuka tas gitarnya. Setelah beberapa saat memainkan gitarnya, seorang pria bergerak duduk di sampingnya. Kepalanya menoleh memandang pria itu yang sedang membuka tas gitarnya juga. Dia merasa belum pernah melihat pria itu.

Pria itu mengeluarkan gitarnya dan tersenyum pada Yeonsoo, “Annyeonghaseo..”

Yeonsoo mengangguk sopan, “Nuguseo?”

Pria itu mengulurkan tangannya, “Kang Haneul, aku baru di transfer dari Gwangju..”

Yeonsoo membalas uluran tangan pria bernama Haneul itu, “Ha Yeonsoo..” Balasnya sambil tersenyum. “Kau juga memainkan gitar?”

Haneul mengangguk, “Ne..” Jawabnya.

Setelah kelas musik.

Haneul mengejar langkah Yeonsoo, “Yeonsoo-a..”

Yeonsoo memandang Haneul dan tersenyum, “Ne?”

Haneul berjalan bersama Yeonsoo menuju kelas, “Guru Im berkata akan ada pengambilan nilai semester, apa kau sudah mempersiapkan diri?”

Yeonsoo mengangguk, “Ne, aku akan membawakan lagu Lonely milik 2ne1..”

Haneul tersenyum, “Wuaah.. Apa kau merasa kesepian?” Candanya.

Yeonsoo hanya tertawa kecil, “Ayo, kelas akan di mulai.

Haneul mengangguk.

=Rumah Gain=

Gain membuka pintu kamar Yeonsoo yang tak tertutup rapat, namun saat itu dia melihat keponakannya itu sedang menelepon. Jadi dia kembali menarik pintu dan menunggu.

“Appa bilang hanya dua hari..” Ucap Yeonsoo protes, lalu mendengarkan penjelasan ayahnya. “Mwo? Tapi pementasan musikku lusa. Appa tidak pernah datang sekali pun, tapi orang tua lain selalu datang..” Dia diam lagi, terlihat wajahnya memancarkan kekecewaan yang dalam. “Ne! Appa sibuk!! Ne!! Araso!!” Ucapnya dan langsung memutuskan telepon. Dia berdiam diri sejenak untuk menenangkan diri, lalu mengambil gitarnya dan mulai memetiknya perlahan.

“Baby I’m sorry neowa isseodo nan lonely.. Saranghagin naega bujokhanga bwa.. ireon motnan nal yongseohae.. I’m sorry ige neowa naui story.. sarangiran naegen gwabunhanga bwa.. ne gyeote isseodo.. Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely.. Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely.. Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely.. Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely.. (Baby I’m sorry, even when I’m with you, I’m Lonely.. I must be lacking when it comes to love, please forgive this person horrible person I am.. I’m sorry, this is your and my story.. I must not be worthy of this thing called love, even though I’m by your side.. Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely.. Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely.. Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely.. Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely..)”

Gain diam sejenak di tempatnya. Dia bisa merasakan apa yang di rasakan keponakannya itu sekarang. Perlahan dia menutup pintu dan berjalan ke ruang tengah, lalu duduk bersama suaminya di sofa.

Youngkwang memandang Gain heran, “Wae?”

Gain memandang Youngkwang, lalu menghela nafas dalam. “Yeonsoo ingin ayahnya datang ke pentas seni sekolahnya..”

Youngkwang mulai mengerti, “Tapi ayahnya selalu sibuk?” Tebaknya.

Gain mengangguk.

Youngkwang diam sejenak sambil berpikir. Sebuah ide muncul di kepalanya dan tersenyum pada istrinya, “Kapan acaranya..”

“Lusa..” Jawab Gain, dia agak bingung melihat suaminya tersenyum.

=Pentas Seni semester=

Yeonsoo memandang ke kanan dan kiri di depan gerbang, lalu menghela nafas berat. Kepalanya menunduk dan berbalik menuju gedung sekolah.

“Yeonsoo-a..” Panggil Haneul.

Yeonsoo berhenti dan memandang ke arah suara Haneul. Pria itu tersenyum sambil melambai padanya.

Haneul menghampiri Yeonsoo bersama ibunya, “Eomma, ini Yeonsoo yang pernah ku ceritakan..”

Ibu Haneul tersenyum lebar melihat Yeonsoo, “Aigoo.. Neomu yeppo..”

Yeonsoo tersipu dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseo, Ha Yeonsoo imnida..”

“Ayo eomma, acaranya akan segera mulai..” Ucap Haneul sambil membawa ibunya bersama Yeonsoo.

Akhirnya acara itu akan segera di mulai.

“Baik, anak-anak.. Bersiaplah..” Ucap Guru Im.

Yeonsoo tertegun, lalu kembali memandang ke pintu. Tapi tanda-tanda ayahnya akan datang tidak ada juga.

Guru Im memandang Yeonsoo tampak sedih, “Ha Yeonsoo, tidak orang tuamu tidak datang?”

Yeonsoo memandang Guru Im, lalu menggeleng sedih.

Haneul memegang bahu Yeonsoo, gadis itu memandangnya sedih. Bibirnya membentuk senyuman hangat.

Yeonsoo tersenyum tipis.

“Maaf, saya terlambat..” Ucap seseorang.

Guru Im tersenyum, “Oh.. Ne, silahkan tuan.. Anda orang tua murid?”

Yeonsoo merasa mengenal pria tadi dan berbalik, matanya membesar melihat Youngkwang. “Samchon?” Ucapnya pelan.

Youngkwang tersenyum memandang Yeonsoo, lalu memutar tubuh gadis itu dan merangkulnya di depan Guru Im. “Aku wali dari Ha Yeonsoo..”

Semuanya tertegun memandang Youngkwang.

Yeonsoo memandang Youngkwang bingung, namun dia merasa senang pamannya datang untuknya.

“Baiklah.. Semuanya bersiap..” Ucap Guru Im dan berjalan pergi.

“Aku duluan..” Ucap Haneul pada Yeonsoo, lalu membungkuk sopan pada Youngkwang dan pergi.

Youngkwang memperhatikan Haneul pergi, lalu berpandangan dengan Yeonsoo. “Dia sangat sopan, pacarmu?”

Wajah Yeonsoo langsung berubah merah merona, “Ne?! Ani!” Ucapnya cepat.

Youngkwang tertawa, “Hanya bercanda..”

Yeonsoo cemberut, “Samchon kenapa kemari?”

“Ingin melihat penampilanmu.. Segeralah bersiap..” Ucap Youngkwang sambil mendorong Yeonsoo pelan.

Yeonsoo tersenyum senang pada Youngkwang.

“Fighting..” Ucap Youngkwang menyemangati dengan kedua tangan terkepal.

Yeonsoo tersenyum dan mengangguk, lalu segera bersiap.

=Rumah=

Hyunbin memandang Yeonsoo heran saat makan malam. Gadis itu tampak biasa saja dan tidak mengatakan apa pun tentang pentas seni. “Yeonsoo-a..”

Yeonsoo memandang Hyunbin, “Hm?”

“Bagaimana pertunjukan seninya?” Tanya Hyunbin ingin tau.

“Berjalan seperti biasa..” Jawab Yeonsoo, lalu kembali makan.

Hyunbin sebenarnya merasa menyesal karena tak bisa menghadiri acara sekolah Yeonsoo. Karena jadwalnya yang selalu padat, “Maaf, appa tidak bisa hadir lagi..”

“Gwenchana, Youngkwang samchon sudah menggantikan appa..” Ucap Yeonsoo.

Hyunbin tertegun, “Youngkwang? Mmm.. Syukurlah..” Ucapnya, namun dia tetap tak merasa tenang. “Mmm.. Bagaimana jika minggu ini kita menghabiskan waktu bersama?”

Yeonsoo memandang Hyunbin dengan senyuman lebar di wajahnya, “Jinja?”

Hyunbin tersenyum dan mengangguk, “Ne.. Kita bisa menonton film, berjalan-jalan atau pergi ke taman hiburan malam..”

Yeonsoo tampak girang mendengarnya, “Ne!! Aku mau!! Aku mau!!” Serunya.

Hyunbin senang melihat putrinya kegirangan.

Dirumah lainnya.

Youngkwang tersenyum melihat video penampilan Yeonsoo yang sengaja dia rekam tempo hari. Gadis itu telah tumbuh menjadi gadis serba bisa.

Gain duduk di sebelah suaminya sambil meletakkan salad buah, dia ikut tersenyum melihat layar tv. Apalagi karena melihat ekspresi suaminya. “Hei.. Kenapa kau tersenyum terus? Kau kan sudah melihatnya berkali-kali..” Ucapnya heran.

Youngkwang memandang Gain sambil menahan tawa, “Entahlah.. Aku merasa senang melihat Yeonsoo telah menjadi gadis besar..”

Gain tersenyum lebar, “Ne..” Ucapnya, namun wajahnya berubah sedih, “Mmm.. Maaf, aku tidak bisa memberikanmu anak..” Ucapnya menyesal.

Youngkwang tersenyum hangat sambil merangkul Gain, “Sudahlah.. Kebahagiaan kita tak tergantung pada ada atau tidaknya anak.. Bukankah Yeonsoo sudah seperti putri kita?” Candanya.

Gain mengangguk, “Ne..” Jawabnya dan tertawa kecil.

=Rumah=

Yeonsoo memandang jam sekali lagi. Hyunbin sudah terlambat satu jam dan ponselnya tak bisa di hubungi. Namun dia mencoba mengerti kalau ayahnya adalah artis besar, jadi wajar jika sibuk. Namun hingga hampir 3 jam kemudian ayahnya tetap tak datang. Kepalanya memandang jam dinding, sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rencana pergi mereka adalah jam 7.

Dia berusaha menahan air matanya yang hendak jatuh, namun tak bisa. Ini bukan yang pertama kalinya terjadi, namun tetap membuatnya terluka.

Hyunbin memarkir mobilnya di depan rumah dan segera berlari masuk ke rumah, dia tertegun melihat Yeonsoo menangis di ruang tengah. Gadis itu terlihat manis dengan dress selutut dan pita di rambutnya.

Yeonsoo memandang Hyunbin kecewa, lalu berdiri.

Hyunbin menghampiri Yeonsoo dan menggenggam tangannya, “Yeonsoo-a, appa miane.. Jeongmall mianeyo..” Ucapnya menyesal.

Yeonsoo menyentak tangannya, “Jangan berjanji jika appa tidak bisa menepatinya!! Aku sudah menunggumu berjam-jam!! Aku berdandan agar terlihat manis untuk pergi bersamamu!! Jika kau ingin membatalkannya, kau bisa memberitauku!!! Kenapa kau membuatku menunggu?!!!!” Teriaknya.

Hyunbin merasa seperti ayah tak berguna mendengar teriakan Yeonsoo, “Masih jam 11.. Kita pergi sekarang.. Ayo.. Kita bisa menghabiskan waktu di taman hiburan, appa bisa membukanya khusus untuk kita..”

Tawaran Hyunbin tak membuat Yeonsoo merasa lebih baik, dia semakin kesal karena ayahnya. “Ani! Aku ingin tidur saja!” Ucapnya, lalu berbalik dan masuk ke kamarnya.

Hyunbin menghela nafas dalam dan bergerak duduk sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia sadar sudah terlalu sering membuat kecewa putrinya. Dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi manajernya, “Hyung, kosongkan jadwalku besok..” Ucapnya, “Pokoknya kosongkan saja..” Ucapnya dan segera memutuskan telepon.

Keesokan paginya.

Yeonsoo keluar dari kamarnya dengan seragam sekolah, dia heran melihat ayahnya mengenakan baju santai dan menata meja makan.

Hyunbin tersenyum lebar menyadari Yeonsoo muncul, “Yeonsoo-a, ayo kemari..”

Yeonsoo melangkah ke meja makan dan duduk di satu kursi yang ditarik Hyunbin untuknya dengan pandangan bingung pada ayahnya.

Hyunbin bergerak duduk di hadapan Yeonsoo dan meletakkan salad di depannya dan putrinya, “Ayo kita sarapan.. Setelah itu appa akan mengantarkanmu ke sekolah..”

Yeonsoo tak mengatakan apa pun, hanya memandang ayahnya bingung. “Wae?”

Hyunbin masih mempertahankan senyum coolnya, “Anggap saja penebusan dosa kemarin..”

Yeonsoo diam sejenak, lalu mulai makan tanpa mengatakan apa pun. Namun wajahnya tampak terlihat tidak senang.

Senyum Hyunbin menghilang sambil memperhatikan ekspresi wajah Yeonsoo, “Waeyo, Yeonsoo-a..”

Yeonsoo diam sejenak memandang saladnya, lalu memandang Hyunbin dengan bulir air mata berjatuhan. “Aku putri appa, bukan sesuatu yang bisa di tebus..”

Hyunbin tertegun, “Yeonsoo-a..”

Yeonsoo menyeka air matanya dan mengambil tas, lalu melangkah pergi.

“Yeonsoo.. Sarapanmu..” Panggil Hyunbin, namun gadis itu tak berhenti juga. Jadi dia mengejarnya. “Ayo, appa akan mengantarkanmu..” Ucapnya sambil menekan kunci otomatis mobilnya.

Yeonsoo berhenti dan berbalik memandang ayahnya, “Jika appa mengantarkanku, akan banyak orang yang mengerumunimu nanti..” Ucapnya, lalu kembali berbalik pergi.

Hyunbin tertegun lagi. Dia tak tau putri kecilnya bisa terlihat sedewasa itu. “Yeonsoo…” Panggilnya sambil mengikuti putrinya itu.

“Jangan ikuti aku!” Seru Yeonsoo.

Hyunbin malah merangkul gadis itu dan berjalan bersama, “Ayo kita berjalan.. Pasti menyenangkan..”

Yeonsoo melepaskan rangkulan ayahnya, “Appa!”

Hyunbin menahan tangan putrinya dan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengannya, kedua matanya menatap mata Yeonsoo. Pancaran mata gadis itu memperlihatkan kekecewaan yang mendalam padanya. Dia menghela nafas dalam dan berusaha tenang, “Yeonsoo-a, appa seorang aktor. Appa sudah memiliki kontrak yang tak bisa di ganggu gugat. Appa juga melakukan ini semuanya demi dirimu. Karena appa menyayangimu, Yeonsoo..”

Yeonsoo menatap Hyunbin menahan kekesalannya, matanya sampai memerah menahan tangis. “Aku benci appa..” Ucapnya pelan.

Hyunbin tertegun, “Yeonsoo?”

Bulir air mata Yeonsoo jatuh satu persatu ke pipinya, “Aku benci appa!!” Ucapnya lebih jelas dengan nada tinggi.

Hyunbin tak bisa mengatakan apa pun mendengar ucapan Yeonsoo, “Yeonsoo-a..”

Yeonsoo menyentak tangannya dan berbalik pergi sambil menyeka air matanya. Saat itu dia benar-benar merasa marah pada ayahnya. Namun dia hanya seorang gadis remaja labil biasa.

Dua jam kemudian.

Yeonsoo duduk di pinggir sebuah lapangan basket dengan kepala tertunduk. Dia sedang tenggelam dengan banyak penyesalan dalam dirinya. Pertama dia membolos sekolah, hal itu tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Kedua, biasanya semarah apa pun pada ayahnya dia tidak akan mengatakan hal buruk seperti ‘membenci’ ayahnya. Ketiga sekarang dia tak tau harus melakukan apa karena tak mempunyai teman dekat sebelumnya.

“Ahhh.. Micheoso..” Ucap Yeonsoo sambil memukul kepalanya pelan,  dia menghela nafas dalam dan menunduk sedih.

Sebuah bola basket menggelinding ke kaki Yeonsoo. Gadis itu tertegun dan memandang ke arah asal bola itu datang tadi. Beberapa orang yang sedang bermain di lapangan memandang ke arahnya.

Seorang gadis berambut pendek dan terlihat sangat boyish maju selangkah. “Hei.. Bisa lempar bolanya?”

Yeonsoo mengambil bola itu dan berdiri, lalu melemparkannya pada gadis yang benar-benar terlihat seperti pria itu.

Gadis itu tersenyum, “Thank you..” Ucapnya dan kembali bermain bersama teman-temannya.

Yeonsoo kembali duduk sambil memperhatikan orang-orang itu bermain basket. Mereka tampak tertawa bersama dan sangat menikmati permainan mereka. Dia menghela nafas dalam dan menunduk sedih. Meskipun mempunyai teman di sekolah, tak ada satu pun yang akrab dengannya. Karena dia tak ingin seorang pun dari mereka mengetahui siapa ayahnya. Itu akan membuatnya repot dan menyebalkan. Tapi dia justru merasa sedih sekarang.

Tak lama orang-orang yang bermain basket itu menghentikan permainan dan bersiap pulang.

“Bye..” Ucap gadis tomboy tadi pada teman-temannya sambil mengambil tas di pinggir lapangan, saat itu dia melihat Yeonsoo masih duduk dengan kepala tertunduk di tempatnya.

Yeonsoo menoleh ke samping dan tertegun melihat gadis tomboy tadi sudah duduk di sebelahnya.

“Mmm.. Aku lupa membawa botol air minumku, apa kau punya?” Tanya gadis itu.

Yeonsoo tampak bingung, namun tetap mengambil botol air minumnya dan memberikannya pada gadis itu.

Gadis itu tersenyum menerima botol air minum itu dan meneguk air di dalamnya. “Ini..” Ucapnya sambil mengembalikan botol air itu, “Gumawo..” Dia melihat nama di baju seragam Yeonsoo, “..Ha Yeonsoo..”

Yeonsoo tersenyum tipis, “Ne..” Ucapnya dan kembali memasukkan botol minumnya ke dalam tas.

“Sedang apa kau disini?” Tanya gadis itu ingin tau.

Yeonsoo bingung harus menjawab apa, “Mmm.. Aku.. Aku.. Aku hanya..” Ucapnya sambil garuk-garuk kepala.

“Apa kau kabur dari rumah?” Tebak gadis itu menahan tawa.

Yeonsoo menatap gadis itu kaget, “Ne?! Ani.. Aku tidak kabur..”

Gadis itu tertawa kecil, “Aku hanya bercanda..” Ucapnya.

Yeonsoo tersenyum kaku.

“Namaku Amber..” Ucap gadis tomboy itu memberitau.

“Annyeong, Amber..” Sapa Yeonsoo.

Amber tertawa kecil, “Kau lucu sekali..” Ucapnya, lalu memandang bola basket di tangannya sejenak dan kembali memandang Yeonsoo. “Kau bisa bermain basket?”

Yeonsoo menggeleng, “Ani..”

Amber menyodorkan bola basket di tangannya pada Yeonsoo, “Mau main?”

Yeonsoo tersenyum lebar, lalu hendak mengambil bola. Namun dengan cepat Amber menarik bola itu dan berjalan menuju lapangan.

“Jika kau bisa memasukkan satu bola saja, aku akan mentraktirmu ice cream. Jika tidak, kau harus mentraktirku..” Ucap Amber sambil mendribel bola.

Yeonsoo mengangguk setuju dan berlari ke lapangan bola basket dengan riang. Tapi Amber bukan lawan sepadan untuknya. Dia bahkan tak bisa memegang bola lebih dari dua detik.

Akhirnya setelah hampir satu jam, Yeonsoo lelah mengejar Amber ke sana kemari dan berhenti berlari sambil mengatur nafasnya.

Amber tertawa melihat Yeonsoo kelelahan, “Apa kau tidak pernah lari pagi? Kenapa baru sebentar sudah menyerah?”

Yeonsoo membungkuk sambil menghela nafas sebanyak-banyaknya, “Ahhh.. Rasanya aku akan mati..” Ucapnya dan menyeka keringat di dahinya.

Amber menghampiri Yeonsoo dan membantunya berdiri tegap, “Jangan manja begitu.. Ayo.. Kau harus mentraktirku makan ice cream..” Ucapnya sambil menarik gadis itu.

“Ne? Tunggu.. Aku…” Yeonsoo masih berusaha mengatur nafasnya.

=Bangku sebuah Taman=

“Jadi, apa yang kau lakukan? Kenapa kau membolos?” Tanya Amber sambil menikmati ice cream bersama Yeonsoo.

Yeonsoo menghela nafas dalam sambil memandang ice creamnya, “Tadi pagi aku bertengkar dengan ayahku. Perasaanku benar-benar tak karuan, jadi kupikir jika aku pergi akan membuatku merasa lebih baik. Tapi sekarang malah semakin merasa menyesal..”

“Pfff…” Amber menahan tawa melihat ekspresi dan mendengar ucapan Yeonsoo, “Jadi karena pertengkaran orang tua dan anak..” Ucapnya.

Yeonsoo mengangguk.

“Kau tinggal pulang dan meminta maaf pada ayahmu..” Ucap Amber memberi usul.

Yeonsoo memandang Amber, “Apa ayahku tidak akan marah? Aku sepertinya mengatakan sesuatu yang mengerikan..”

“Kalau begitu tinggalkan saja ayahmu..” Ucap Amber.

Yeonsoo menatap Amber kaget, “Ne?!”

Amber tertawa, “Aku hanya bercanda..”

Yeonsoo juga tertawa, “Kau ini..”

“Segeralah pulang, sebelum pihak sekolah menghubungi ayahmu terlebih dahulu..” Ucap Amber.

Yeonsoo diam sejenak, “Begitu?”

Amber mengangguk, “Ne..”

Yeonsoo tersenyum, “Terima kasih, kau membuatku merasa lebih baik..”

Amber tersenyum lebar, “Tentu..”

“Dan…” Ucap Yeonsoo sebelum berdiri, “Apa aku bisa bertemu kau lagi?”

“Aku biasa bermain basket bersama teman-temanku hari Rabu dan Jumat, datang saja lagi nanti..” Jawab Amber.

Yeonsoo tersenyum, lalu bangkit. “Sampai jumpa Amber..” Ucapnya sambil melambai dan melangkah pergi.

Amber tersenyum melihat Yeonsoo pergi.

=Rumah=

Yeonsoo berdiri di depan rumahnya, mobil ayahnya masih di depan garasi menandakan ayahnya masih dirumah. Dia menghela nafas dalam dan melangkah masuk ke rumah perlahan. “Aku pulang..” Ucapnya pelan.

Saat itu Hyunbin berjalan keluar dari kamarnya dengan baju rapi dan sambil berbicara di teleponnya, “Ne hyung! Aku akan segera…” Ucapannya terputus melihat Yeonsoo berdiri di ruang tengah memandangnya bingung. “Yeonsoo-a?”

Yeonsoo memperhatikan ayahnya, “Appa akan pergi?”

“Hyung, kuhubungi nanti..” Ucap Hyunbin dan memutuskan telepon, “Seharusnya kau ada di sekolah kan? Kenapa kau sudah pulang?”

“Aku bertanya duluan..” Protes Yeonsoo.

“Ne, appa harus menandatangani kontrak iklan..” Jawab Hyunbin pelan.

Yeonsoo menatap ayahnya kesal, baru saja dia berniat minta maaf tapi ada yang membuatnya semakin kesal. “Appa seharusnya mengurangi kesibukanmu, bukan terus menambahnya..” Ucapnya kesal, lalu berbalik dan berjalan keluar.

“Yeonsoo-a..” Panggil Hyunbin sambil mengejar putrinya. “Yeonsoo-a, kontrak ini tidak lama. Hanya 6 bulan.. Appa akan memberikan waktu lebih untukmu..”

Yeonsoo berhenti dan menatap ayahnya, “Aku tidak ingin mendengar janjimu lagi!” Ucapnya, lalu berlari ke rumah Gain.

“Yeonsoo..” Panggil Hyunbin, namun putrinya tetap berlari pergi.

=Rumah Gain=

Gain mengelus kepala Yeonsoo yang berbaring di pangkuannya, “Gwenchana, tidak perlu sedih lagi..” Ucapnya.

Youngkwang duduk di sebelah Gain sambil memandangi Yeonsoo yang tampak sangat sedih.

“Aku tau appa tidak akan datang, tapi aku tetap menunggunya hingga tengah malam. Itu membuatku sangat kesal..” Ucap Yeonsoo. Sesekali bulir air matanya berjatuhan.

Gain berpandangan dengan Youngkwang sedih, lalu memandang Yeonsoo di pangkuannya.

Youngkwang mendekatkan wajahnya ke kepala Yeonsoo, “Hei little bird, bagaimana jika kita bertiga pergi menonton film?” Tanyanya.

Yeonsoo memandang Youngkwang, lalu bangkit perlahan. “Kita?”

Youngkwang merangkul Gain dengan senyuman lebar di wajahnya, “Ne.. Kita pergi menonton bersama..”

Gain tersenyum, “Benar.. Pasti menyenangkan..”

Perlahan bibir Yeonsoo membentuk senyuman, “Ne..”

Youngkwang senang melihat Yeonsoo kembali tersenyum, “Ayo bersiap..”

Gain menyeka air mata Yeonsoo dan menarik gadis itu bangkit.

=Bioskop=

“Ayo kita masuk..” Ajak Youngkwang.

“Let’s go!!” Ucap Yeonsoo bersemangat.

Gain mendengar ponselnya berbunyi dan memandang layarnya, dia sempat tertegun melihat Hyunbin meneleponnya. “Mmm.. Kalian duluan saja, aku akan mengangkat telepon dulu..” Ucapnya dan berjalan menjauh sambil mengangkat telepon. “Ne oppa..” Jawabnya sambil memperhatikan Youngkwang dan Yeonsoo masuk ke ruang bioskop.

“Gain, Yeonsoo bersamamu?” Tanya Hyunbin khawatir.

“Ne, oppa.. Tidak perlu khawatir..” Jawab Gain.

Hyunbin menghela nafas lega, “Syukurlah..” Ucapnya, “Apa kalian di rumah?”

“Ani, kami pergi menonton film. Youngkwang ingin menghibur Yeonsoo, jadi kami pergi bersama..” Jawab Gain.

Hyunbin tertegun mendengar jawaban adiknya, “Oh.. Begitu..”

“Oppa, aku harus segera masuk. Bye..” Gain memutuskan telepon dan segera masuk ke ruang bioskop.

Hyunbin yang berada di toilet pria di sebuah kantor redaksi menghela nafas dalam. Dia sangat menyesal selalu mengecewakan putrinya. Sebuah ide muncul di kepalanya, dia akan memberi kejutan pada Yeonsoo.

Beberapa jam kemudian.

Yeonsoo masih tertawa bersama Youngkwang mengingat film yang mereka nonton tadi.

“Sebaiknya kita segera mencari tempat untuk makan, aku lapar sekali..” Ucap Gain.

“Ne.. Ayo makan di restauran Jepang..” Usul Youngkwang.

“Wuaaa.. Ayo.. Aku ingin mencoba wasabi…” Ucap Yeonsoo bersemangat.

“Heiii…” Sapa Hyunbin yang tiba-tiba muncul dengan kacamata dan topi yang menyamarkan wajahnya sambil merangkul Gain dan Yeonsoo dari belakang.

Yeonsoo menatap ayahnya kaget, “Appa?”

“Bagaimana jika kita menghabiskan waktu bersama?” Tanya Hyunbin sambil memandang Gain, Youngkwang dan Yeonsoo bergantian dengan senyuman lebar di wajahnya.

“Hm?” Ucap Gain bingung.

=Ruang VIP sebuah Restauran=

Keadaan terasa canggung karena ada Hyunbin disana.

“Bagaimana filmnya Yeonsoo?” Tanya Hyunbin berusaha membuat suasana kembali ceria.

Yeonsoo tersenyum kaku dan mengangguk, “Bagus..”

Gain dan Youngkwang saling berpandangan, bingung karena situasi itu.

“Appa dengar ceritanya sangat lucu, benarkah?” Tanya Hyunbin lagi.

“Ne..” Jawab Yeonsoo lagi.

Youngkwang tersenyum, “Yeonsoo hampir tak bisa berhenti tertawa saat menontonnya..”

Yeonsoo tertawa kecil, “Ne.. Samchon juga..”

Hyunbin tertegun melihat keakraban Yeonsoo dan Youngkwang, dia merasa justru sangat jauh dari putrinya sendiri.

Gain menyadari perubahan wajah Hyunbin, namun dia tak bisa mengatakan apa pun untuk membantu menyelesaikan masalah itu.

=Keesokan Harinya=

Yeonsoo masuk ke kelas dan duduk di mejanya.

Haneul melihat Yeonsoo duduk dan segera menghampirinya, “Yeonsoo-a.. Kenapa kau tidak masuk kemarin?”

Yeonsoo tersenyum tipis, “Aku merasa tidak baik kemarin..”

Haneul menghela nafas dalam, “Kupikir terjadi sesuatu padamu..” Ucapnya kesal, lalu memberikan ponselnya. “Ini, masukkan nomormu. Agar aku bisa bertanya jika lain kali kau tidak masuk seperti kemarin..”

Yeonsoo tertawa kecil dan menyimpan nomor ponselnya, “Ini..” Ucapnya sambil mengembalikan ponsel Haneul.

Pulang sekolah.

Yeonsoo dan Haneul berjalan bersama keluar dari gerbang sekolah. Haneul bercerita kalau dia baru pindah rumah dan ternyata hanya beberapa rumah dari rumah Yeonsoo.

“Aku tidak tau kau menjadi tetangggaku..” Ucap Yeonsoo senang.

“Aku juga baru pindah kemarin. Sebelumnya aku dan keluargaku tinggal di apartemen sementara..” Jelas Haneul.

“Hmm.. Berarti kita bisa mengerjakan tugas bersama..” Ucap Yeonsoo girang.

“Ne..” Jawab Haneul.

Akhirnya mereka tiba di depan rumah Yeonsoo.

“Ini rumahku..” Ucap Yeonsoo.

Haneul tertegun membaca nama di pagarnya, Keluarga Ha, lalu memandang Yeonsoo. “Yeonsoo, kudengar dari tetangga sekitar, bukankah ini rumah aktor Ha Hyunbin?”

Yeonsoo terdiam,  “Mmm.. Ne..”

Dahi Haneul berkerut, “Kau putri Ha Hyunbin?”

Yeonsoo mengangguk pelan, “Ne..”

Haneul terkejut, “Omo! Jinja? Ahh.. Aku sama sekali tak menyangkanya..”

Yeonsoo cemberut, “Ne.. Ayahku memang terkenal, tapi tidak ada yang tau siapa putrinya..”

“Kau tau? Ibuku penggemar ayahmu..” Ucap Haneul.

Yeonsoo tersenyum lebar, “Kapan-kapan aku akan main ke rumahmu membawakan photo beserta tanda tangan ayahku..”

Haneul tertawa kecil, “Baiklah.. Aku pergi.. Bye..”

Yeonsoo melambai dan melangkah masuk. Dia tertegun melihat mobil ayahnya terparkir di depan garasi, “Hm? Appa dirumah?” Gumamnya heran, lalu melangkah masuk. “Aku pulang..”

“Yeonsoo-a..” Sambut Hyunbin ceria, “Appa sudah menunggumu, segeralah ganti baju.. Kita akan mengubah tatanan rumah..”

Yeonsoo memandang ayahnya bingung, “Wae?”

“Sudaaah.. Ganti saja bajumu dulu..” Ucap Hyunbin sambil mendorong Yeonsoo agar segera masuk ke kamarnya.

20 menit kemudian.

Yeonsoo keluar dari kamar dan melihat barang-barang di rumahnya tampak berantakan.

“Yeonsoo-a.. Ayo.. Kau ingin memilih tempatnya?” Panggil Hyunbin.

Yeonsoo memandang Hyunbin bingung, “Appa, kenapa membuat rumah berantakan seperti ini?”

“Karena kita akan merapikannya lagi..” Jawab Hyunbin santai, “Ayo.. Kita geser sofa ini..” Ucapnya sambil mendorong sofa.

Yeonsoo tersenyum dan segera membantu ayahnya. Mereka menata ulang ruang tengah. “Appa, vas ini di letakkan di meja ini atau itu?” Tanyanya sambil mengangkat sebuah vas.

Hyunbin tersenyum, “Dimana saja, jika menurutmu bagus..”

Yeonsoo mengangguk dan meletakkan vas itu di atas meja di sebelah tv.

Setelah membereskan rumah, Yeonsoo dan Hyunbin menyiapkan makanan dan menikmatinya bersama.

Yeonsoo senang bisa menghabiskan waktunya bersama Hyunbin, sudah sangat lama sejak mereka bisa tertawa bersama seperti hari itu. “Appa tidak bekerja?” Tanyanya ingin tau.

Hyunbin tersenyum, “Gwenchana, appa sengaja mengosongkan jadwal hari ini..” Jawabnya.

Saat itu ponsel Hyunbin berbunyi, dia dan Yeonsoo serentak memandangnya. Dia sempat tertegun memandang layar ponsel.

Yeonsoo memperhatikan ekspresi Hyunbin yang langsung mencabut batray ponselnya, “Manajer appa?”

Hyunbin tersenyum, “Bukan siapa-siapa..”

Yeonsoo merasa bersalah, walau bagaimana pun, ayahnya seorang aktor. Banyak yang harus di pertanggung jawabkan jika ayahnya mangkir dari pekerjaannya. Dia menghela nafas dalam sambil meletakkan sumpit di tangannya, “Appa harus pergi kan?”

“Ani.. Appa akan di rumah seharian..” Ucap Hyunbin.

“Appa sudah menandatangi kontrak, jadi harus mempertanggung jawabkannya..” Ucap Yeonsoo, lalu berdiri dan berjalan ke kamarnya.

Hyunbin memandang Yeonsoo sedih.

Malamnya.

Yeonsoo duduk di pinggir tempat tidurnya sambil memetik gitarnya.

“Sha la la la la.. Sha la la la la.. You used to call me your angel.. Said I was sent straight down from heaven.. You’d hold me close in your arms.. I love the way you felt so strong.. I never wanted you to leave.. I wanted you to stay here holdin’ me..

I miss you.. I miss your smile.. And I still shed a tear every once in a while.. And even though it’s different now.. You’re still here some how.. My heart wont let you go.. And I need you to know.. I miss you.. Sha la la la la.. I miss you..” Nyanyinya. (Miley Cyrus – I Miss You). Dia menghela nafas dalam dan menunduk sedih.

Di satu sisi Yeonsoo sangat merindukan ayahnya dan ingin mempunyai saat bersama, namun dia tak bisa mengganggu pekerjaan ayahnya sebagai aktor.

=Sebuah Lokasi Syuting=

Yeonsoo turun dari van dan melihat proses syuting ayahnya di depan sebuah kafe. Sekarang ayahnya sedang menjadi tokoh utama sebuah drama yang dalam sekejap mendapatkan rating terbaik. Bibirnya membentuk senyuman melihat ayahnya berakting sangat baik.

Seorang direktor yang sedang memperhatikan proses jalannya syuting tak sengaja melihat Yeonsoo yang berdiri diantara staff. Dia tertarik melihat wajah cantik dan kepolosan di wajah gadis itu. Kakinya melangkah menghampiri Yeonsoo.

Yeonsoo tertegun melihat seorang pria menghampirinya.

“Agassi, siapa namamu?” Tanya direktor itu sopan.

Yeonsoo bingung mengapa pria itu menanyakan namanya, “Ne? Mmm.. Ha Yeonsoo imnida..” Ucapnya sopan.

Direktor itu tersenyum lebar, “Agassi, wajahmu sangat menarik. Apa kau tertarik melakukan akting?”

Yeonsoo tertegun, “Ne?”

Direktor itu mengeluarkan kartu namanya dan menyodorkannya pada Yeonsoo, “Perkenalkan, namaku Hong Kiljo. Aku direktor untuk drama ini.. Ada sebuah peran yang kurasa belum menemukan aktris yang tepat, apa kau ingin mencobanya?”

Yeonsoo memandang kartu nama itu bingung, lalu memandang Direktor Hong lebih bingung.

Hyunbin menyelesaikan satu scene dan menyadari Direktor Hong berbicara pada putrinya, jadi dia segera menghampiri keduanya. “Maaf, ada apa Direktor Hong?”

Yeonsoo memandang Hyunbin dan kembali pada Direktor Hong.

Direktor Hong memandang Hyunbin heran, “Hyunbin, kau mengenal gadis ini?”

“Ne?” Hyunbin memandang Yeonsoo dan kembali pada Direktor Hong, “Ne, Direktor Hong. Ini putriku..”

Direktor terkejut, “Ne? Omo.. Ini gadis kecil yang pernah kau bawa di red karpet itu?” Tanyanya tak percaya sambil memperhatikan Yeonsoo.

Hyunbin tersenyum lebar, “Ne..”

Direktor Hong tersenyum memandang Yeonsoo yang tersipu malu, “Waaah.. Putrimu sangat cantik Hyunbin.. Apa dia bisa akting? Aku ingin melihatnya berakting untuk peran Jung Mirae itu..”

Hyunbin tertegun, “Ne? Oh.. Dia tidak pernah mendapatkan kelas akting, Direktor Hong..”

“Aigoo.. Kau kan bisa mengajarinya nanti.. Apa kau setuju dia bergabung dalam drama ini?” Tanya Direktor Hong.

Hyunbin berpandangan dengan Yeonsoo.

=Van=

“Shiro..” Ucap Yeonsoo pada ayahnya.

Hyunbin memandang Yeonsoo heran, “Wae? Jika kau juga bergabung dengan drama ini, kita akan memiliki waktu bersama terus..”

“Shiro!” Tegas Yeonsoo.

“Yeonsoo-a, banyak aktris-aktris dari agensi yang berharap bisa mendapatkan peran itu. Tapi kau bisa mendapatkannya dengan mudah, bahkan tidak perlu casting..” Ucap Hyunbin membujuk.

Yeonsoo menyilang kedua tangannya di dada dan menatap Hyunbin kesal, “Aku benci dunia entertainment!”

Hyunbin terdiam, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Yeonsoo-a..”

“Andwae!” Tegas Yeonsoo.

Hyunbin hanya bisa menghela nafas dalam dan tidak melanjutkan berbincangan itu, jika tidak putrinya akan marah lagi padanya. Setelah sekian lama dia mendapat ide untuk mencairkan ketegangan, “Mmm.. Yeonsoo-a, bagaimana akting appa?”

Yeonsoo memandang Hyunbin dan kembali memandang jendela, “Biasa saja..”

Hyunbin melirik putrinya sebal, namun dia tau mood putrinya sudah terlanjur rusak. “Setelah ini ada photoshoot, kau ingin ikut?” Tanyanya.

“Aku pulang naik taksi saja.. Youngkwang samchon akan menunjukkan ruang kerja barunya..” Jawab Yeonsoo tanpa memandang Hyunbin.

Hyunbin kesal Youngkwang selalu berhasil mempengaruhi Yeonsoo, tangannya terulur dan menarik dagu gadis itu agar memandangnya. “Kau ikut dengan appa..”

Yeonsoo mendorong tangan Hyunbin dari dagunya, “Shiro!”

Hyunbin menghela nafas dalam, lalu mengulurkan tangan menggenggam tangan putrinya. “Yeonsoo-a, ini bukan photoshoot untuk appa saja..” Ucapnya, “Appa ingin membuat photo kita bersama, sudah lama sekali sejak photo keluarga kita yang terakhir kan?” Ucapnya pelan.

Yeonsoo tertegun mendengar ucapan ayahnya, “Photo keluarga?”

Hyunbin mengangguk, “Ne..” Ucapnya, “Kau mau kan?”

Yeonsoo tersenyum dan mengangguk.

=Studio Photo=

“Appa, apakah harus mengenakan make up seperti ini?” Tanya Yeonsoo bingung saat wajahnya mulai di berikan make up natural.

Hyunbin tersenyum, “Ne, agar terlihat lebih bagus..”

Pemotretan di lakukan dengan 3 baju yang berbeda. Semua photo bertema ceria, mereka lebih terlihat sedang melakukan pemotretan untuk majalah.

“Yeonsoo, pegang ini bersama appa..” Ucap Hyunbin sambil menyodorkan tongkat kayu di tangannya, putrinya segera menuruti. Mereka saling berpandangan dan tersenyum, lalu tertawa.

Setelah pemotretan selesai, Yeonsoo dan Hyunbin melihat hasilnya di layar komputer.

“Ooh.. Yeppo..” Ucapnya sambil menunjuk sebuah photo.

Yeonsoo tertawa kecil.

“Hmm.. Kau menurunkan gen yang baik..” Ucap photograper.

Yeonsoo tersipu malu.

Hyunbin merangkul putrinya, “Tentu saja..”

“Aku akan mengirimkan photo-photo terbaik ke rumahmu, tapi pilihlah beberapa photo yang akan di cetak besar..” Ucap photograper yang sudah lama bekerja sama dengan Hyunbin itu.

Hyunbin tersenyum, “Terima kasih..” Ucapnya, lalu memandang Yeonsoo, “Photo mana yang ingin di pajang?”

Yeonsoo mulai memilih, “Ini di ruang tamu.. Ini di ruang keluarga.. Ini di kamarku.. Ini di kamar appa.. Dan ini di kamarku di rumah Gain immo..” Ucapnya girang.

Dahi Hyunbin berkerut mendengar ucapan terakhir Yeonsoo, “Kamarmu di rumah Gain?”

“Ne.. Gain immo dan Youngkwang samchon membiarkanku memiliki satu kamar tamu..” Jawab Yeonsoo, lalu kembali memilih photo.

Entah mengapa Hyunbin merasa sedih mengetahui Yeonsoo memiliki kamar sendiri di rumah Gain, itu membuatnya merasa semakin jauh dari putrinya.

=Beberapa Saat Kemudian=

“Projek akhir semester ini berbeda dari sebelumnya..” Ucap Guru Im, “Kali ini, kalian harus menampilkan sebuah lagu yang sangat memiliki arti khusus untuk kalian..”

Yeonsoo diam sejenak memikirkan lagu apa yang sangat berarti baginya, “Lagu apa ya?”

“Projek kali ini berjudul ‘impianku’..” Lanjut Guru Im lagi.

Sepulang sekolah.

“Apa kau sudah menemukan lagu untuk projek akhir semester?” Tanya Haneul.

Yeonsoo menggeleng, “Belum..” Jawabnya, “Kau?”

“Mmm..” Haneul tampak berpikir, “Sejujurnya aku masih bingung dengan judulnya.. ‘Impianku’..” Ucapnya. “Apakah ini bermaksud sesuatu yang sangat ingin kita lakukan atau cita-cita kita ke depan?”

Yeonsoo ikut berpikir, “Benar juga.. Aku juga belum mengerti maksud itu..”

Haneul tersenyum, “Yeonsoo-a, bagaimana jika kita memikirkannya bersama? Errr.. Maksudku, mungkin kita bisa berlatih bersama..”

Yeonsoo tersenyum, “Ne..”

Haneul senang Yeonsoo setuju berlatih bersamanya.

“Mmm.. Besok bibiku akan mengadakan acara kecil di halaman belakang rumahnya, apa kau mau datang?” Tanya Yeonsoo.

Haneul tertegun mendengar pertanyaan Yeonsoo, lalu mengangguk. “Tentu saja..”

Yeonsoo tersenyum lebar.

=Rumah=

“Ya! Kau tidak punya otak?! Kau ingin membatalkan kontrak itu?! Kita bisa rugi besar!!” Seru manajer Hyunbin marah.

“Hyung.. Pelankan suaramu! Yeonsoo bisa terbangun!” Ucap Hyunbin.

Manajer Hyunbin berusaha meredakan emosinya dan kembali menatap pria di hadapannya emosi, “Kontrak itu sangat penting Hyunbin, karirmu akan semakin menanjak setelah menjadi model untuk brand ini!”

“Ne, hyung! Aku tau!” Ucap Hyunbin, “Tapi…” Ucapannya terputus.

“Apa?” Tanya manajer Hyunbin meminta penjelasan.

Hyunbin menatap manajernya menyesal, “Sudah terlalu banyak waktu yang dilalui Yeonsoo tanpa kehadiranku, hyung.. Aku tidak ingin dia merasa lebih nyaman bersama orang lain selain aku..”

Manajer Hyunbin menghela nafas dalam dan memalingkan wajahnya kesal.

“Hyung, kau juga mempunyai anak. Pasti kau mengerti bagaimana perasaanku. Kumohon mengertilah..” Pinta Hyunbin.

Manajer Hyunbin kembali memandang pria itu, “Kita bicarakan saat konferensi di kantor agensi..” Ucapnya, lalu melangkah ke pintu depan.

Hyunbin membanting dirinya di sofa dan berpikir beberapa saat.

Sementara itu di balik dinding pembatas ruang keluarga dan ruang tamu, Yeonsoo berdiri disana dengan air mata berjatuhan. Kepalanya menoleh sedikit, ‘Miane, appa..’ Batinnya menyesal.

=Halaman Belakang Rumah Gain=

“Annyeonghaseo.. Kang Haneul imnida, aku teman sekelas Yeonsoo dan juga baru pindah ke rumah nomor 243..” Ucap Haneul memperkenalkan diri pada Youngkwang dan Gain sopan.

Gain dan Youngkwang tersenyum.

“Ne.. Senang bertemu denganmu..” Ucap Gain, “Namaku Ha Gain dan ini suamiku Kim Youngkwang..”

“Immo, aku dan Haneul memiliki projek akhir semester. Kali ini judulnya ‘impianku’. Kami akan menampilkannya disini..” Cerita Yeonsoo senang.

“Ne, anggap saja hiburan dari kami..” Ucap Haneul membenarkannya.

“Wuaa.. Kami tidak sabar untuk melihatnya..” Ucap Youngkwang.

Haneul dan Yeonsoo segera menyiapkan dua kursi dan mengeluarkan gitar mereka. Mereka akan menampilkan sebuah lagu dari BTOB yang berjudul ‘Father’.

Youngkwang sudah mempersiapkan kamera untuk merekam pertunjukan Haneul dan Yeonsoo dengan senyuman mengembang.

“Lagu ini sebenarnya pilihanku, Haneul hanya menyetujuinya..” Jelas Yeonsoo sebelum memulai penampilan mereka. Dia dan Haneul berpandangan sambil menghitung ketukan dan memulai petikan gitar mereka bersama.

“Sseul sseul haejin dwitmoseubi nat seoreo.. Georeo ganeun naenae barabodaga.. Geunyang nunmuri naseo.. Geunyang ulgiman haesseo.. Jigeum kkeot moreugo san naega miwoseo..(His lonely back seemed so unfamiliar.. I just watched him as he walked along.. And tears just formed so I just cried.. Because I hated myself for not knowing all this time..)” Nyanyi Haneul memulai.

“Apeseon taeyeonhan cheog utgiman haeseo.. Hangsang nae apeseon ganghan cheog haeseo.. Saenggag jocha motaesseo.. Anin julman arasseo.. Sseul sseul han dwit moseubeul mollatdeon geoya..(Because he always pretended to be calm and smiled.. Because he always pretended to be strong in front of me.. I didn’t even think of it, I thought I would never see it.. So I didn’t know about his lonely back..)” Lanjut Yeonsoo.

Haneul dan Yeonsoo menyanyikan refrain pertama dengan harmonisasi yang indah, “Geuttaeneun mollatjyo neomuna eoryeotjyo.. Nuguboda oeroul tende.. Dagagaji motaetjyo.. Ijeya aratjyo jogeum neujeun geon anijyo.. Neomuna hago sipeun mal yeongwonhi.. Saranghabnida.. Nae abeoji..(I didn’t know back then, I was too young.. You must have been lonelier than anyone else but I didn’t approach you.. Now I finally know, I hope it’s not too late.. These are the words I wanted to say so much, I love you forever.. My father..)”

“Hanchameul geureoke nan barabodaga.. Dallyeogaseo geunyang ana beoryeosseo.. Manyang ulgo sipeoseo.. Geu pume ulgo sipeoseo.. Dangsinui gomaumi neomu seoreowoseo..(After watching him for a long time.. I ran to him and just hugged him.. I wanted to just cry, I wanted to cry in his arms.. Because my gratitude toward you was so sad..)” Yeonsoo menyanyikan bait ini dengan penuh penghayatan.

Refrain kedua juga dinyanyikan dengan harmonisasi indah dari Yeonsoo dan Haneul. Gain dan Youngkwang sangat senang mendengarkan pertunjukan kedua anak muda itu.

“Hansum han beon pug swimyeon da naajin deut sen cheog.. Naegen boyeoyo geudaeui heureuji anhneun nunmul..(You pretend to feel better after letting out a deep sigh.. I can see your invisible tears..)” Nyanyi Haneul.

“Sangcheo gadeughan gaseum ulji ankon apasseul hyungteo.. Da naega mandeun geonde jakku haeyo wae geudae taseul..(You don’t cry over your scarred heart with the painful wounds.. I made those scars but why do I keep blaming you?..)” Nyanyi Yeonsoo. “And your eyes showed you were tired.. But you hid it, such a liar.. Ije naega ana julgeyo naege gidaedo dwaeyo..(And your eyes showed you were tired.. But you hid it, such a liar.. Now I will embrace you, you can lean on me..)”

“And your eyes showed you were tired.. But you hid it such a liar.. Geudaeneun yeongwonhan naui nopeun haneurieyo..(And your eyes showed you were tired.. But you hid it such a liar.. You are forever a high sky to me..)” Nyanyi Haneul.

Yeonsoo dan Haneul berpandangan dan menyanyikan refrain terakhir bersama, “Geochireojin sone jureumjin nungae.. Sseul sseul haejin dwitmoseub majeo.. Nan igsughaji anhaseo.. Naega geuraetna bwa apeuge haetna bwa.. Dwidoraseon dwismoseub majeo.. Naega namgin jimman gataseo.. Haejun ge eobtjiman.. Nan deurin ge hana eobtjiman.. Neomuna hago sipeun mal yeongwonhi.. Saranghabnida.. Nae abeoji..(Your beaten hands, your wrinkled eyes.. Your lonely back – I’m not used to any of those.. Maybe that’s why I was like that, that’s why I hurt you.. Even your turned back seems like baggage that I left behind.. I haven’t done anything for you, I haven’t given anything to you but.. These are the words I wanted to say so much, I love you forever.. My father..)

Gain dan Youngkwang langsung bertepuk tangan begitu Yeonsoo dan Haneul menyelesaikan lagu mereka.

=Perjalanan Pulang=

Haneul berjalan bersebelahan bersama Yeonsoo menuju rumah gadis itu, dia merasa sangat senang hari itu hingga tak bisa berhenti tersenyum. Begitu juga sebaliknya.

“Tadi itu pertunjukkan yang keren..” Ucap Yeonsoo.

“Ne..” Jawab Haneul setuju.

Yeonsoo menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

“Mmm.. Yeonsoo, apakah lagu itu memiliki arti lain untukmu?” Tanya Haneul ingin tau.

Yeonsoo tersenyum, “Ne..” Jawabnya, lalu melangkah sambil memperhatikan langit malam yang cerah. “Aku selalu berpikir buruk tentang ayahku, padahal ayahku selalu berusaha melakukan yang terbaik untukku.. Tapi aku terlalu malu untuk mengatakan ‘Gumawo appa’, juga ‘miane appa’..” Jelasnya sedih.

Haneul tertegun memandang Yeonsoo, “Mmm.. Apakah di acara pengujian nanti ayahmu datang?” Tanyanya.

Yeonsoo memandang Haneul, “Aku tidak tau.. Tapi sepertinya tidak..”

“Oh..” Haneul manggut-manggut.

“Wae?” Tanya Yeonsoo.

“Ani..” Jawab Haneul, lalu tersenyum. “Aku hanya berpikir, jika ayahmu datang ke acara itu, kau nyanyikan saja lagu itu untuknya. Maka dia akan tau bagaimana perasaanmu yang sebenarnya..”

Yeonsoo berhenti melangkah dan menatap Haneul tak percaya.

Haneul bingung karena ekspresi Yeonsoo, “Wae? Aku mengatakan sesuatu yang salah?”

Yeonsoo tersenyum lebar dan menggeleng, “Ani..” Ucapnya, “Idemu bagus sekali!!” Ucapnya bersemangat.

Haneul tersenyum, “Ayahmu pasti menyukainya..”

Yeonsoo mengangguk, lalu memandang ke depan sambil menggenggam kedua tangannya bersemangat. “Aku akan memastikan ayahku datang kali ini!” Ucapnya.

Haneul tertawa kecil melihat tekad Yeonsoo.

=Ruang Makan=

Yeonsoo memandang Hyunbin yang menikmati sarapan sambil membaca berita di ipadnya. “Appa..”

“Hm?” Gumam Hyunbin menjawab Yeonsoo, lalu memandang putrinya sambil mengambil cangkir kopinya dan menyeruputnya.

Yeonsoo memasang wajah sebal, “Akhir semester ini aku akan melakukan penampilan seperti biasa, appa harus datang..” Ucapnya tegas.

Hyunbin diam memandang Yeonsoo, “Kapan?”

Yeonsoo diam sejenak. Namun akhirnya dia menghela nafas berat dan kembali memandang makanannya, “Tidak jadi, aku tau appa sibuk..”

Hyunbin merasa bersalah mendengar ucapan Yeonsoo, “Jika kau memberitau appa kapan, mungkin appa bisa menjadwalkan dari sekarang..”

Yeonsoo memandang Hyunbin, dia rasa itu sebuah peluang. “Jika appa bisa menjadwalkannya, appa akan datang?”

Hyunbin tersenyum, “Tentu saja..”

Bibir Yeonsoo membentuk senyuman lebar, “Jinja?”

Hyunbin mengangguk, “Ne..”

Yeonsoo tampak senang mendengar ucapan Hyunbin, “Acaranya tanggal 21 bulan ini..”

Hyunbin berpikir sejenak, “Tanggal 21.. Baik, appa akan memasukkannya ke dalam jadwal appa..”

Yeonsoo sangat senang mendengarnya, dengan riang dia langsung berdiri dan berlari memeluk ayahnya. “Yeaay!!!”

=Istirahat=

Haneul dan Yeonsoo makan siang bersama di kafetaria sambil membicarakan tentang pertunjukkan akhir semester itu.

Haneul memandang Yeonsoo tak percaya, “Ayahmu akan datang?”

Yeonsoo tersenyum sambil mengangguk, “Ne..”

Haneul masih tampak tak percaya, “Hmm.. Bagus..”

Yeonsoo bingung melihat ekspresi Haneul yang tampak ragu, “Wae? Ini kan idemu..”

“Bukan begitu..” Ucap Haneul cepat, “Aku hanya memikirkan bagaimana respon orang tua yang datang jika ayahmu datang..” Jelasnya, lalu menahan tawa memikirkannya.

Yeonsoo ikut tertawa, “Kau benar..”

Haneul teringat sesuatu, “Oh iya, lusa adalah hari ulang tahun ibuku.. Aku ingin membelikannya sesuatu, tapi aku tidak tau daerah di sekitar sini. Apa kau tidak keberatan menemaniku mencari hadiah sepulang sekolah nanti?”

“Tentu saja..” Jawab Yeonsoo cepat.

Haneul tersenyum, “Gumawo..”

Yeonsoo mengangguk.

Sepulang sekolah.

“Mmm.. Aku pernah membeli hadiah untuk Gain immo di toko sebelah sana. Ayo..” Ajak Yeonsoo sambil menarik Haneul ke toko yang dia maksud.

Begitu masuk mereka langsung di sambut oleh pelayan yang ada di sana.

“Lihat.. Disebelah sini ada pajangan yang lucu..” Ucap Yeonsoo.

Haneul tersenyum melihat pajangan porselen yang berbentuk hewan-hewan, “Waah.. Lucu sekali..” Ucapnya sambil mengambil porselen kucing.

Yeonsoo ikut tersenyum, “Ibumu suka apa? Disini menyediakan banyak barang..”

Haneul meletakkan porselen tadi dan berpikir sejenak, “Mmm.. Sebenarnya ibuku tidak banyak menyukai barang, tapi kurasa ibuku akan suka pajangan ini..” Ucapnya.

“Apa sebelumnya kau tidak pernah memberikan hadiah pada ibumu?” Tanya Yeonsoo.

“Mmm.. Sebelumnya aku tinggal di asrama, jadi jarang bertemu ibuku. Tiap ibuku ulang tahun, aku hanya akan meneleponnya.” Jawab Haneul.

“Ohh.. Begitu..” Ucap Yeonsoo mengerti.

Haneul memandang pajangan-pajangan itu bingung, “Tapi aku tidak tau apa yang kira-kira ibuku sukai, aku selalu khawatir jika ibuku tidak menyukai apa yang kuberikan..”

Yeonsoo tersenyum, “Ani.. Ibumu pasti suka..” Ucapnya.

Haneul tersenyum, “Bagaimana kau tau?”

“Gain Immo berkata kalau hadiah dari orang yang sangat spesial juga akan jadi sangat spesial, karena bukan bentuknya yang membuatmu senang, tapi perhatian yang diberikan orang itu..” Jelas Yeonsoo.

Haneul menatap Yeonsoo kagum, “Kau benar..” Ucapnya, “Aku akan membelikan pajangan porselen ini untuk ibuku..”

Yeonsoo tersenyum lebar.

Setelah membeli hadiah, Yeonsoo menunjukkan toko kue yang dia sukai untuk membeli kue ulang tahun kecil.

“Berikan hadiah ini bersama kue ulang tahun di tengah malam sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk ibumu, ibumu pasti akan terharu sampai menitikkan air matanya..” Ucap Yeonsoo.

Haneul mengangguk, “Ne, aku akan melakukannya. Terima kasih sudah memberitauku..”

Yeonsoo tersenyum, dia memegang bungkusan hadiah porselen tadi sementara Haneul memegang kotak kue.

Haneul tampak berpikir dan memandang Yeonsoo, “Mmm.. Yeonsoo, boleh aku menanyakan sesuatu?”

Yeonsoo memandang Haneul, “Boleh..”

“Mmm.. Sejak tadi kau selalu bercerita tentang bibimu, bagaimana dengan ibumu?” Tanya Haneul pelan.

Yeonsoo tertegun dan tampak sedih, namun kembali tersenyum. “Ibuku pergi saat aku bayi..”

Haneul tertegun dan memandang Yeonsoo kaget sambil berhenti melangkah.

Yeonsoo memandang Haneul, dia tau apa yang dipikirkan pria itu.

“Maafkan aku..” Ucap Haneul menyesal.

Yeonsoo tersenyum, “Gwenchana, aku tidak pernah memikirkannya..” Ucapnya, lalu kembali berjalan.

Haneul mengikuti Yeonsoo perlahan, dia menyesal telah bertanya. Mereka sama sekali tak berbicara hingga tiba di depan rumah Gain.

Yeonsoo berhenti dan memandang Haneul, “Ini..” Ucapnya sambil memberikan tas belanjaan Haneul.

Haneul tersenyum, “Terima kasih sudah menemaniku..”

Yeonsoo mengangguk, “Ne, aku senang melakukannya..”

Haneul tersenyum canggung.

“Mmm.. Baiklah, aku akan masuk..” Ucap Yeonsoo, lalu membuka gebang rumahnya.

“Yeonsoo..” Panggil Haneul.

Yeonsoo memandang Haneul, “Ne?”

Haneul menatap Yeonsoo, “Mmm.. Aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu sedih..”

Yeonsoo tersenyum, “Gwenchana.. Tidak ada salahnya mengenang masa lalu..”

Haneul tersenyum, “Ne.. Masuklah, aku akan kembali..”

“Bye..” Ucap Yeonsoo sambil melambai, lalu masuk ke pekarangan. Setelah beberapa langkah, kepalanya menoleh ke belakang dan melihat Haneul melangkah pergi. Bibirnya membentuk senyuman sendiri, lalu kembali melangkah masuk.

Yeonsoo membuka pintu rumah dan masuk.

Youngkwang yang ternyata memperhatikan Yeonsoo dari jendela langsung tersenyum jahil, “Hei.. Little bird..” Godanya.

Senyuman Yeonsoo menghilang dan menatap Youngkwang kaget, “Samchon! Sejak kapan disana?”

Youngkwang tersenyum lebar, “Sejak kau dan temanmu itu berdiri di depan pagar..”

Wajah Yeonsoo mendadak memerah melihat senyuman jahil Youngkwang.

“Dia kekasihmu ya?” Tanya Youngkwang.

Mata Yeonsoo membesar, “Ani!” Ucapnya cepat sambil menggeleng.

Youngkwang tertawa kecil, “Wuaaa.. Little bird-ku sudah besar..”

“Samchon!” Ucap Yeonsoo sebal.

Youngkwang tertawa sambil merangkul Yeonsoo dan melangkah masuk.

“Hei.. Sudah datang..” Sapa Gain yang sedang menyusun piring di meja makan.

Yeonsoo tersenyum, “Ne..”

“Ayo duduk..” Ucap Gain sambil bergerak duduk.

Youngkwang dan Yeonsoo ikut duduk di meja makan.

“Chagiya, kau tau tadi Yeonsoo diantarkan siapa?” Tanya Youngkwang pada Gain sambil melirik Yeonsoo.

Wajah Yeonsoo kembali merona merah, “Samchon!”

Youngkwang tertawa.

Gain memandang kedua orang itu bingung, “Ne? Siapa?”

“Itu.. Pria tampan yang dia undang beberapa saat lalu..” Jawab Youngkwang.

Gain tertegun dan memandang Yeonsoo sambil tersenyum, “Oh ya?” Ucapnya.

“Dia hanya temanku, immo..” Ucap Yeonsoo sebal.

Gain dan Youngkwang saling berpandangan, lalu tertawa kecil.

Yeonsoo cemberut menatap Gain dan Youngkwang tertawa.

“Baiklah.. Baiklah.. Hanya temanmu..” Ucap Youngkwang akhirnya.

Gain menahan tawanya sambil menghidangkan makanan.

Yeonsoo mulai makan dengan wajah sebalnya.

Youngkwang dan Gain masih tersenyum melihat wajah sebal Yeonsoo.

“Mmm.. Oh ya, bukankah akan ada penampilan akhir semester?” Tanya Youngkwang pada Yeonsoo.

Yeonsoo memandang Youngkwang bingung, “Ne..” Jawabnya bingung karena pamannya tau.

“Hmm.. Benarkah?” Tanya Gain, “Kapan?” Tanyanya pada Yeonsoo.

“Mmm.. Tanggal 21..” Jawab Yeonsoo.

“Wuaaah.. Pasti menyenangkan jika kita bisa melihat penampilan Yeonsoo..” Ucap Youngkwang pada Gain.

Gain tersenyum, “Benar..”

Yeonsoo tersenyum lebar, “Kalian akan datang?”

“Kami akan datang..” Ucap Youngkwang bersemangat.

“Jinja? Waaah.. Appa juga akan datang..” Ucap Yeonsoo girang.

Youngkwang dan Gain langsung tertegun mendengar ucapan Yeonsoo.

“Appamu akan datang?” Tanya Gain hati-hati.

“Ne.. Appa sudah berjanji akan datang..” Jawab Yeonsoo.

Gain berpandangan dengan Youngkwang.

Yeonsoo heran melihat ekspresi paman dan bibinya, “Waeyo?”

“Hm? Oh.. Ani.. Kami hanya terkejut ayahmu bisa meluangkan waktu..” Ucap Youngkwang jujur.

Yeonsoo hanya tersenyum.

Setelah makan malam, Youngkwang mengantarkan Yeonsoo pulang sambil merangkul gadis itu.

“Tadi Haneul memintaku menemaninya membeli hadiah ulang tahun untuk ibunya..” Cerita Yeonsoo sambil berjalan.

“Hmm..” Youngkwang tersenyum sambil melirik keponakannya. Dia tau itu hanya trik pria mendekati seorang gadis.

“Wae?” Tanya Yeonsoo heran.

Youngkwang tersenyum lebar, “Ani..”

Yeonsoo menatap Youngkwang sebal.

“Tapi, Kang Haneul itu sepertinya pria baik..” Ucap Youngkwang.

Wajah Yeonsoo merona mendengarnya.

Youngkwang menghela nafas dalam mengingat ucapan Yeonsoo mengenai ayahnya, dia hanya khawatir gadis itu kembali kecewa.

Sementara Youngkwang mengantarkan Yeonsoo, Gain menghubungi Hyunbin. Namun perlu waktu yang lama hingga panggilannya tersambung.

“Ne, Gain..” Jawab Hyunbin di seberang.

“Oppa, apa kau bisa bicara sebentar?” Tanya Gain.

“Ne, bicaralah..” Jawab Hyunbin.

Gain menghela nafas dalam sejenak, “Oppa, apa kau yakin bisa menghadiri acara pertunjukkan Yeonsoo?”

“Hm? Kenapa kau menanyakannya?” Tanya Hyunbin heran.

“Oppa, kau tau sudah berapa kali Yeonsoo kecewa karena janjimu.” Ucap Gain mengingatkan.

Hyunbin diam sejenak, “Ne, aku tau. Tapi aku akan sangat mengusahakannya kali ini..”

“Kuharap kau tidak mengingkari janjimu kali ini oppa..” Pinta Gain.

“Ne..” Jawab Hyunbin.

Kembali pada Youngkwang dan Yeonsoo.

Yeonsoo memandang Youngkwang ragu, “Samchon..”

Youngkwang memandang Yeonsoo, “Ne?”

“Mmm.. Apa samchon tau sesuatu tentang ibuku?” Tanya Yeonsoo pelan.

Youngkwang tertegun mendengar pertanyaan Yeonsoo, “Kenapa kau menanyakan itu?”

“Mmm.. Aku hanya ingin tau..” Jawab Yeonsoo.

“Well, aku mulai berkencan dengan bibimu saat kau berusia 2 tahun. Jadi aku tidak begitu tau tentang ibumu..” Jelas Youngkwang.

“Hmm.. Begitu..” Ucap Yeonsoo manggut-manggut.

=Kelas=

Yeonsoo menopang dagunya dengan tangan sambil memperhatikan guru yang sedang menjelaskan pelajaran, pikirannya sedang tidak ada disana. Setelah sekian lama dia kembali memikirkan ibunya. Dia sama sekali tidak tau apa pun tentang ibunya. Ayahnya berkata ibunya pergi saat dia masih bayi, Gain juga mengatakan itu.

“Ha Yeonsoo..” Panggil guru yang mengajar, namun Yeonsoo masih termenung. “Ha Yeonsoo!!”

Yeonsoo tersentak dan menyadari seluruh kelas memandanginya, “Ne?”

Guru itu menatap Yeonsoo kesal, “Kerjakan soal ini..” Ucapnya sambil menunjuk papan tulis dengan lirikan matanya.

Yeonsoo terkejut, “Ne?!”

Akibatnya..

Yeonsoo berdiri di depan kelas dengan kedua tangan terangkat dan harus menghadap ke arah teman-temannya. Beberapa temannya tertawa ketika memandangnya, jadi dia hanya menunduk malu.

Haneul melirik guru yang mengajar sambil menunggu Yeonsoo memandangnya, lalu mengangkat kertas bertuliskan ‘Fighting!’

Yeonsoo tersenyum membaca pesan itu. Dan hukumannya belum selesai sampai disana. Saat istirahat dia harus membersihkan halaman dari daun-daun kering, dia tak boleh berhenti hingga semuanya bersih.

“Huffffffft!!! Menyebalkan!!” Keluh Yeonsoo sambil memandangi halaman yang besar itu. Belum lagi murid-murid yang berlalu menertawakannya karena mengalungkan papan nama bertuliskan, ‘Aku suka melamun saat belajar’.

Yeonsoo mulai menyapu dan menumpuk daun-daun kering di beberapa titik, namun angin membuatnya kembali berterbangan. “Oh!! Aissh!!” Serunya kesal dan kembali menyapu.

Dari kejauhan Haneul tertawa melihat kekonyolan Yeonsoo marah-marah pada angin, lalu menghampiri gadis itu. “Hei.. Bukan begitu caranya..”

Yeonsoo tertegun memandang Haneul, “Haneul-a?”

Haneul mengambil sebuah tempat sampah dan memasukkan daun-daun kering tadi ke dalamnya, lalu memandang Yeonsoo. “Jika kau hanya menumpuknya, angin akan kembali meniupnya..”

Yeonsoo tersenyum malu sambil garuk-garuk kepala.

Haneul mengulurkan tangannya pada Yeonsoo dan mengambil sapu di tangan gadis itu, “Aku akan mengumpulkannya, kau masukkan saja ke tempat sampah..”

Yeonsoo mengangguk dan mulai memasukkan daun-daun kering ke dalam tempat sampah. Namun beberapa gadis yang berlalu menertawakannya karena mengenakan papan nama itu. Dia hanya menunduk dan terus memasukkan daun-daun kering itu.

Haneul melirik orang-orang sekitar mereka dan memandang Yeonsoo. Bibirnya membentuk senyuman karena menurutnya gadis itu justru lucu menggunakan papan nama itu.

=Pulang Sekolah=

“Yeonsoo-a, ayo pulang..” Ajak Haneul.

“Hm? Mmm.. Aku akan pergi ke suatu tempat dulu.. Kau duluan saja..” Ucap Yeonsoo.

“Suatu tempat?” Tanya Haneul.

“Ne.. Bye..” Jawab Yeonsoo dan langsung berlari pergi sebelum Haneul mengatakan sesuatu.

Haneul memperhatikan Yeonsoo heran.

Yeonsoo ingin bertemu dengan Amber karena itu adalah hari Rabu. Namun ketika dia tiba disana gadis tomboy itu tak terlihat di lapangan basket, “Hm? Mana dia?” Tanyanya sambil mengedarkan pandangannya. Lalu menghampiri seorang pria yang sedang beristirahat di pinggir lapangan. Dia berjongkok agar tinggi mereka sama, “Permisi..”

Pria berwajah tampan itu memandang Yeonsoo, “Ne?”

“Apa kau mengenal Amber?” Tanya Yeonsoo.

“Amber?” Ulang pria itu dan Yeonsoo mengangguk, “Oh.. Sekarang dia sedang part time, jadi tidak bisa terlalu sering bermain basket bersama kami..”

“Part time? Dimana?” Tanya Yeonsoo.

=Sebuah Kafe=

Yeonsoo mengintip dari sudut luar kafe yang berdinding kaca transparan itu mencari sosok Amber. “Oh.. Itu dia..” Ucapnya sambil tersenyum karena melihat gadis tomboy itu berjalan membawa pesanan pelanggan. Dia segera melangkah ke pintu dan masuk, juga mencari tempat duduk yang mudah di lihat Amber. “Permisi..” Panggilnya ketika Amber berlalu.

Amber menoleh pada Yeonsoo dan langsung tertegun.

Yeonsoo tersenyum, “Haii..”

Amber tersenyum dan menghampiri Yeonsoo, “Hei.. Bagaimana kau tau aku disini?”

“Aku bertanya pada temanmu..” Jawab Yeonsoo.

“Maaf, aku tak bisa mengobrol saat jam kerja. Tapi shift-ku akan selesai sebentar lagi, kau mau memesan apa?” Tanya Amber.

“Mmm.. Aku suka makanan dan minuman yang manis..” Jawab Yeonsoo.

“Baiklah, sebentar..” Ucap Amber dan berjalan pergi.

Sementara itu. Haneul yang mengikuti Yeonsoo berdiri di depan kafe dengan dahi berkerut memperhatikan gadis itu, namun dia tak melakukan apa pun.

Hingga Yeonsoo akhirnya keluar dari kafe bersama Amber sambil mengobrol dan tertawa kecil. Haneul diam-diam kembali mengikuti mereka.

“Bagaimana kau dan ayahmu?” Tanya Amber.

Yeonsoo tersenyum malu, “Hubungan kami sudah membaik. Dan kuharap tidak akan memburuk lagi..”

“Itu bagus..” Ucap Amber.

=Depan Rumah Yeonsoo=

Haneul mondar-mandir di depan pagar rumah Yeonsoo dengan satu tangan memegang payung karena turun hujan. Dia sengaja segera kembali ke rumah dan mengganti baju, lalu pergi ke depan rumah Yeonsoo. Namun setelah hampir satu jam gadis itu tak kunjung muncul dan hujan mulai turun, beruntung dia sudah bersiap dengan payungnya. Tak berapa lama dia melihat Yeonsoo berlari di tengah hujan menuju rumahnya.

Yeonsoo yang basah kuyup memandang Haneul bingung, “Haneul-a?”

“Ya! Kenapa kau tidak menunggu hujan reda?!” Tanya Haneul kesal.

Yeonsoo memandang Haneul bingung dan juga tampak mengigil karena dingin.

Haneul mendorong pintu gerbang, “Masuklah.. Kita bicara besok di sekolah..” Ucapnya, lalu berjalan pergi.

Yeonsoo memandang Haneul bingung, lalu segera masuk ke rumah.

Malamnya.

Yeonsoo keluar dari kamar mandi dan naik ke tempat tidurnya. Begitu berbaring dia mengingat ekspresi Haneul tadi sebelum pergi. Tangannya menjangkau ponsel di meja dan mengirim pesan pada Haneul.

To: Kang Haneul

Hei.. Kau sudah tidur?

Yeonsoo menunggu beberapa saat dan pesan dibalas.

From: Kang Haneul

Belum, wae?

To: Kang Haneul

Tadi kenapa kau ada di depan rumahku?

From: Kang Haneul

Aku hanya ingin meminjam buku catatanmu, tapi ternyata kau belum pulang.

Yeonsoo berpikir sejenak, “Catatanku?” Gumamnya bingung.

To: Kang Haneul

Oh.. Begitu.. Maaf, apa kau lama menunggu?

Yeonsoo menarik selimut menutupi tubuhnya, lalu kembali berbaring dan melihat pesan yang baru masuk.

From: Kang Haneul

Tidak, aku juga baru tiba ketika kau pulang.. 🙂 Apa kau baik-baik saja?

Bibir Yeonsoo membentuk senyuman.

To: Kang Haneul

Ne, aku baik-baik saja.. 🙂

From: Kang Haneul

Tidurlah.. Sampai jumpa besok..

=Paginya=

Yeonsoo melangkah lesu keluar dari kamarnya sambil mengenakan sweater. “Uhuk.. Uhuk..” Batuknya. Dia merasa tak enak badan sejak bangun tadi pagi, pasti karena semalam pulang hujan-hujanan.

Haneul sengaja pergi lebih pagi untuk menjemput Yeonsoo karena khawatir, beberapa saat setelah menunggu di depan pagar, gadis itu muncul sambil terbatuk-batuk.

Yeonsoo terkejut berpapasan dengan Haneul begitu membuka pagar, “Haneul-a?”

Haneul tersenyum, “Ayo berangkat sekolah..”

Yeonsoo tersenyum, “Ayo..”

Haneul tertegun mendengar suara Yeonsoo, “Kenapa suaramu jadi aneh begitu?”

Yeonsoo memegang lehernya, “Sepertinya aku terkena flu..”

Haneul menatap Yeonsoo kesal, “Itu karena kau hujan-hujanan..” Ucapnya, lalu membuka tas dan mengaluarkan syal berwarna putih. “Kenakan ini..” Ucapnya sambil melilit leher gadis itu dengan syal.

Yeonsoo tersenyum, “Gumawo..”

Haneul tersenyum, “Ayo kita pergi..” Ajaknya sambil menarik tangan Yeonsoo.

Wajah Yeonsoo merona merasakan tangan Haneul menggenggam tangannya, lalu menunduk malu.

Setelah beberapa langkah Haneul baru menyadari dia menggenggam tangan Yeonsoo, wajahnya juga ikut memerah dan memandang gadis itu. Jantung mereka berdegup kencang ketika saling bertatapan. Apalagi wajah Yeonsoo yang merona terlihat sangat manis. Mereka saling bertatapan beberapa saat lalu sama-sama menunduk malu.

“Maaf..” Ucap Haneul sambil melepaskan tangan Yeonsoo.

“Ne..” Jawab Yeonsoo pelan.

“Mmm..” Haneul mengelus belakang kepalanya canggung, “Ayo..” Ajaknya dan melangkah duluan.

Yeonsoo mengikuti Haneul dengan wajah tetap merona.

Cukup lama hingga akhirnya Haneul menemukan ide untuk memulai pembicaraan.

“Yeonsoo-a..” Panggil Haneul.

Yeonsoo menoleh ke arah Haneul namun tak menatap matanya, “Ne?”

“Kemarin kau pergi kemana?” Tanya Haneul hati-hati.

Yeonsoo memandang Haneul, “Kemarin?”

Haneul menunggu jawaban Yeonsoo.

“Oh.. Kemarin.. Aku bertemu temanku, orangnya sangat baik.. Jika sempat aku akan mengenalkanmu padanya..” Ucap Yeonsoo.

Haneul mengangguk mengerti, “Hmm.. Begitu..” Ucapnya, “Laki-laki?”

Yeonsoo memandang Haneul bingung, “Perempuan..”

Dahi Haneul berkerut, lalu mengingat sosok orang yang pergi bersama Yeonsoo kemarin.

“Mmm..Bagaimana dengan hadiah yang kau beli untuk ibumu waktu itu?” Tanya Yeonsoo.

Haneul memandang Yeonsoo, dia baru ingat belum memberitau gadis itu. “Oh.. Ibuku sangat menyukainya. Terima kasih..”

Yeonsoo tersenyum dan mengangguk, “Ne..”

“Saat aku memberitau kalau ide itu darimu, ibuku sangat senang dan berkata kalau dia ingin kau ikut makan malam bersama kami..” Cerita Haneul.

“Makan malam?” Tanya Yeonsoo.

“Ne..” Jawab Haneul sambil tersenyum.

“Kapan?” Tanya Yeonsoo senang.

“Mmm.. Jika kau tidak keberatan, bagaimana jika malam ini?” Tanya Haneul.

Yeonsoo mengangguk, “Baiklah.. Aku akan datang ke rumahmu..”

“Aku akan menjemputmu pukul 7..” Ucap Haneul.

Yeonsoo mengangguk lagi.

=Van Hyunbin=

Dahi Hyunbin berkerut melihat jadwalnya, lalu melirik manajernya yang sedang mengemudi. “Hyung, aku sudah berkata kalau tanggal 21 akan pergi ke sekolah Yeonsoo kan?”

“Ne.. Wae?” Tanya manajer Hyunbin.

“Tapi, kenapa pagi tanggal 21 itu aku harus mengunjungi rumah anak-anak kanker?” Tanya Hyunbin heran.

“Tidak masalah, bisa di geser setelah kau kembali dari sekolah Yeonsoo..” Jawab manajer Hyunbin.

Hyunbin tersenyum, “Gumawo, hyung..”

Manajer Hyunbin tersenyum.

=Rumah Haneul=

Yeonsoo tersenyum dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseo, eommanim.. Namaku Ha Yeonsoo, aku tinggal di rumah nomor 231.”

Ibu Haneul yang sejak tadi tersenyum, tertegun mendengar nomor rumah Yeonsoo. Lalu memandang putranya, “231?”

Haneul tersenyum, “Ne, eomma..”

Yeonsoo tersenyum manis, “Ne, eommanim. Aku putri aktor Ha Hyunbin..”

Ibu Haneul terkejut, “Omo.. Benarkah?”

Yeonsoo mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya dan memberikannya pada Ibu Haneul, “Kudengar eommanim menyukai ayahku..”

Mata Ibu Haneul langsung berbinar mendapatkan photo Hyunbin beserta tanda tangan pria itu, “Omo! Terima kasih..”

Yeonsoo tersenyum lebar dan mengangguk, lalu berpandangan dengan Haneul.

“Ayo.. Kita makan malam, masuklah..” Ajak Ibu Haneul.

Setelah makan malam. Haneul mengantarkan Yeonsoo kembali ke rumahnya.

“Ibuku sangat menyukai hadiahmu, terima kasih..” Ucap Haneul sambil melangkah.

Yeonsoo tersenyum senang, “Ne, aku juga senang bisa membuat ibumu senang..”

Haneul tersenyum lebar.

“Oh iya, aku tadi tidak melihat ayahmu..” Ucap Yeonsoo.

Haneul tersenyum tipis, “Ayah dan ibuku sudah lama berpisah..”

Yeonsoo tertegun, “Ne?” Ucapnya kaget sambil berhenti melangkah.

Haneul hampir tertawa melihat ekspresi Yeonsoo.

“Sejak kapan?” Tanya Yeonsoo.

“Mmm.. Sudah sangat lama.. Karena itu aku sempat memilih tinggal di asrama, agar ayah dan ibuku tidak memperebutkanku..” Jawab Haneul.

Yeonsoo tampak menyesal mendengarnya, “Maaf..”

Haneul tersenyum sambil menggeleng, “Tidak perlu..” Ucapnya.

“Lalu, dimana ayahmu sekarang?” Tanya Yeonsoo.

“Setahun lalu ayahku menikah lagi, karena itu aku memutuskan tinggal bersama ibuku..” Jawab Haneul.

Yeonsoo masih menatap Haneul menyesal.

Haneul mengacak-acak poni Yeonsoo sambil menahan tawa, “Sudah.. Tidak perlu memandangku begitu..”

Yeonsoo merapikan poninya.

“Ayo.. Nanti ayahmu khawatir..” Ucap Haneul sambil kembali berjalan.

Yeonsoo mengikuti Haneul tanpa berbicara, hingga tiba di depan pagar rumahnya.

“Besok acara pertunjukkan kita, semoga berjalan lancar..” Ucap Haneul.

Yeonsoo tersenyum, “Ne..”

Haneul tersenyum manis, “Masuklah.. Aku akan pulang..”

Yeonsoo mengangguk, “Terima kasih, Haneul-a..”

Haneul melambai dan berjalan mundur, lalu berbalik pergi.

Yeonsoo membuka pagar dan berjalan masuk.

=Tanggal 21=

Yeonsoo menyandang tas sekolahnya dan membawa tas gitarnya, lalu melangkah riang keluar dari kamar. Namun dia tak menemukan ayahnya dimana pun. “Hm? Appa sudah pergi?” Gumamnya bingung, lalu mengeluarkan ponsel dan menghubungi ayahnya.

“Ne, Yeonsoo-a..” Jawab Hyunbin di seberang.

“Appa, acaraku hari ini..” Ucap Yeonsoo.

“Ne, appa tau. Appa hanya mengurus beberapa hal dan segera ke sekolahmu.” Ucap Hyunbin.

Yeonsoo tersenyum, “ne..” Jawabnya dan memutuskan telepon.

Di tempat lain. Hyunbin tersenyum memandang layar ponselnya. Saat itu dia baru menyadari mobil yang di kendarai manajernya menuju ke tempat yang tak seharusnya di dalam jadwal, “Hyung? Kenapa kita ke rumah anak-anak kanker?” Tanyanya tak mengerti.

“Produser memintaku membawamu kesini terlebih dahulu..” Jawab manajer Hyunbin dan memarkirkan mobil.

Hyunbin menatap manajernya kesal, “Hyung!! Aku sudah berkata akan pergi ke sekolah Yeonsoo!!”

Manajer Hyunbin memandang pria itu, “Ne.. Aku tau.. Hanya sebentar..” Ucapnya, “Aku ingin sekali membantumu, tapi jika aku melakukan itu, aku bisa kehilangan pekerjaanku. Ayolah, hanya sebentar saja..”

Hyunbin menghela nafas kesal, lalu bersandar. “Sebentar saja!”

=Sekolah Yeonsoo=

Yeonsoo memandang ke kanan dan kiri, menunggu ayahnya yang tak kunjung muncul. Ponsel ayahnya juga tak bisa dihubungi, “Appa!!” Ucapnya kesal pada ponselnya.

Haneul setengah berlari menghampiri Yeonsoo, “Yeonsoo-a! Sudah hampir giliranmu..” Ucapnya memberitau.

“Ne?” Ucap Yeonsoo tak percaya, namun pria itu segera menarik tangannya.

Gain dan Youngkwang lega melihat Yeonsoo muncul bersama Haneul, “Ooh.. Akhirnya kau muncul juga..”

“Immo, appa tidak menjawab panggilanku..” Ucap Yeonsoo bingung.

Gain dan Youngkwang saling berpandangan bingung.

“Mmm.. Kau sudah menghubungi manajernya?” Tanya Youngkwang.

Yeonsoo mendapatkan sebuah ide, “Benar, manajer appa..” Ucapnya dan menghubungi manajer Hyunbin, lalu menempelkan ponsel ke telinganya.

“Yoboseyo..” Sapa manajer Hyunbin diseberang.

“Annyeonghaseo, ini Ha Yeonsoo. Apakah aku bisa berbicara dengan ayahku?” Tanya Yeonsoo sopan.

Manajer Hyunbin tertegun dan memandang pria itu yang sedang menghibur anak-anak kanker tak jauh darinya.

“Yoboseo?” Panggil Yeonsoo.

“Oh.. Yeonsoo-a..” Ucap manajer Hyunbin, menandakan dia masih disana, “Mmm.. Ayahmu akan segera ke sekolahmu, sekarang dia sedang mengunjungi anak-anak kanker. Tapi dia akan segera ke sekolahmu..”

Yeonsoo tertegun mendengar ucapan manajer ayahnya, “Oh.. Begitu..” Ucapnya berat, “Gamshamida, ahjussi..” Ucapnya, lalu memutuskan telepon.

Gain mengelus kepala Yeonsoo karena gadis itu tampak sedih, “Wae? Dimana ayahmu?”

Yeonsoo memandang Gain dengan mata menahan air mata, namun bibirnya membentuk senyuman. “Appa akan segera datang..”

“Ha Yeonsoo!” Panggil guru Im.

Yeonsoo memandang guru Im, “Ne..” Jawabnya.

Youngkwang memegang kedua bahu Yeonsoo, “Little bird! Tampilkan yang terbaik! Kami selalu ada untukmu..” Ucapnya memberi semangat.

Yeonsoo tersenyum dan mengangguk. Meskipun begitu, hatinya sangat sedih. Akhirnya dia naik ke panggung bersama gitarnya. Dia duduk dan menarik mic mendekati mulutnya, “Annyeonghaseo, Ha Yeonsoo imnida..” Ucapnya sopan, lalu mengedarkan pandangannya. Tak terlihat Hyunbin disana. Dia menghela nafas dalam dan menunduk sedih.

“Ha Yeonsoo, segera mulai..” Ucap Guru Im dari belakang panggung.

Yeonsoo mengangguk, lalu dengan berat hati menekan kunci gitar dan mulai memainkan intro.

Haneul yang memperhatikan Yeonsoo bersama Youngkwang dan Gain mengerutkan dahi, “Kenapa lagu ini?” Gumamnya bingung.

“Hello yeo-gin icheonshibinyeon iworaju chu-un gyeou-riya(Hello, this is February 2012, a very cold winter).. Where are you eolmana kakka-i wah i-nni(Where are you – how close are you).. keutorok wonhadeon kkume yeo-gi nan ajing neomeojigo tto ul-ko(To the dream that I wanted so bad? Here, I’m still falling and crying again).. dachigo jichyeoseo i-reoseol himjocha eop-seo(I’m hurt and tired and have no strength to get up).. keuchiman neon nal bogo utket-ji(But you would probably see me and smile)..” Nyanyi Yeonsoo, itu adalah lagu Hello to Myself dari Yeun ‘Wonder Girls’ yang menceritakan mengenai seseorang yang sangat ingin mencapai mimpinya, begitu juga dengan dia. Mimpinya adalah mendapatkan ayahnya, “Hello to myself hello to myself.. ul-ji malla-go nal wiirohaeju-llae(Will you comfort me, saying don’t cry?)…….” Jari-jarinya berhenti memetik tali gitar seiring dengan air yang mengalir dari matanya. Dia tak ingin melanjutkan penampilan itu dan langsung berdiri, lalu berlari turun dari panggung.

Gain tampak hampir menangis melihat Yeonsoo berlari pergi.

“Yeonsoo?” Ucap Haneul tak mengerti.

=Rumah=

Yeonsoo berlari masuk ke rumah sambil tetap menangis, namun dia berhenti di ruang tamu dan membanting gitarnya ke lantai. Karena terlalu emosi dia menginjak benda itu hingga patah, lalu berlari masuk ke kamarnya.

Tak lama Gain dan Youngkwang tiba, “Yeonsoo-a..” Panggilnya. Mereka tertegun melihat gitar Yeonsoo patah di lantai, lalu saling berpandangan.

Sorenya.

Hyunbin berlari masuk ke rumah dan langsung di sambut dengan tatapan kecewa dari adiknya yang duduk di sofa bersama Youngkwang. “Gain, dimana Yeonsoo?” Tanyanya.

Gain berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, “Oppa, aku sudah mengingatkanmu tentang ini kan?”

Hyunbin menghela nafas dalam dan menunduk menyesal, “Aku tau.. Aku sudah berusaha datang secepat yang kubisa..” Ucapnya.

“Kau tau ini tidak akan berlalu dengan mudah, oppa..” Ucap Gain.

Hyunbin memandang Gain penuh penyesalan.

=Keesokan Harinya=

Yeonsoo keluar dari kamar dengan tas di punggungnya, dia berhenti melangkah melihat Hyunbin tersenyum padanya dari meja makan dan langsung berjalan menuju pintu depan.

“Yeonsoo..” Panggil Hyunbin dan mengejar putrinya.

Yeonsoo tak berhenti meskipun ayahnya terus memanggil, hingga ayahnya menarik tangannya.

“Yeonsoo.. Tunggu, appa ingin berbicara..” Ucap Hyunbin.

Yeonsoo menatap ayahnya marah tanpa berbicara.

Hyunbin menatap putrinya penuh penyesalan, “Appa miane.. Jeongmall, mianeyo..”

Yeonsoo menghentak tangannya dan kembali berjalan pergi.

Hyunbin sangat menyesali semuanya. Dia tak bisa mengatakan apa pun lagi sekarang.

Haneul sengaja menunggu Yeonsoo di jalan yang biasa mereka lalui, dia segera menghampiri gadis itu ketika muncul. “Yeonsoo-a..” Panggilnya.

Yeonsoo berhenti dan memandang Haneul, lalu menunduk malu karena kemarin dia pergi begitu saja di tengah pertunjukkannya.

Haneul tersenyum, “Ayo.. Kita akan terlambat jika tidak bergegas..” Ucapnya, lalu menarik tangan Yeonsoo pergi.

Yeonsoo masih tetap menundukkan kepalanya menahan malu.

Haneul memandang wajah Yeonsoo yang tampak malu dan terus melangkah di belakangnya, “Yeonsoo-a..”

“Ne?” Jawab Yeonsoo sambil memandang Haneul sekilas dan kembali menunduk.

“Kau tau? Kemarin suaramu sumbang saat menyanyikan bait sebelum refrain..” Ucap Haneul memberitau.

Yeonsoo menatap Haneul kaget, “Ne?”

Haneul tersenyum dan menggangguk, “Ne.. Seharusnya kau menaikkan sedikit nadanya seperti ini..” Dia mencontohkan cara yang benar menyanyikannya.

Yeonsoo bingung mengapa Haneul malah membahas mengenai itu, “Ohh.. Begitu..” Ucapnya.

“Tapi petikan gitarmu sangat bagus, aku menyukainya..” Ucap Haneul.

Yeonsoo tertegun, lalu tersipu malu. “Jinja?”

Haneul mengangguk, “Ne..”

Yeonsoo tersenyum mendengar ucapan Haneul.

Haneul senang melihat Yeonsoo kembali tersenyum, “Ayo..” Ajaknya agar gadis itu berjalan lebih cepat.

Sepulang sekolah.

Yeonsoo masuk ke pagar rumah Gain dan masuk ke rumah, “Aku datang..”

Gain langsung menyambut Yeonsoo, “Yeonsoo-a, gwenchana?” Tanyanya khawatir.

Yeonsoo tersenyum, “Ne, immo..”

Gain lega melihat Yeonsoo tersenyum sambil mengelus rambut gadis itu, “Ayo, immo sudah menyiapkan makan siang..”

Yeonsoo mengangguk dan melangkah ke dalam.

Hingga malam Yeonsoo tak kembali ke rumahnya karena tak ingin bertemu dengan Hyunbin. Youngkwang dan Gain juga sengaja tak membahas itu karena takut gadis itu akan pergi ke tempat lain.

Namun sebagai seorang ayah, Hyunbin tak bisa membiarkan putrinya tak pulang, apalagi karena dirinya. Jadi dia berencana menjemput putrinya.

Yeonsoo menatap ayahnya penuh kebencian.

“Mmm.. Kami ada di kamar jika kalian membutuhkan sesuatu..” Ucap Youngkwang dan langsung pergi bersama Gain.

Hyunbin menatap Yeonsoo penuh penyesalan, “Yeonsoo, ayo kita bicara di rumah..” Ucapnya pelan.

“Aku tidak ingin pulang!” Ucap Yeonsoo.

Hyunbin melangkah maju, namun Yeonsoo melangkah mundur. “Yeonsoo, appa mengaku salah. Semua ini salah appa..”

“Jika appa tau, pulanglah! Aku tidak ingin bertemu appa!” Ucap Yeonsoo.

Hyunbin menghela nafas dalam, berusaha menenangkan dirinya agar tak terbawa emosi. “Yeonsoo-a..”

“Pergi!!” Teriak Yeonsoo.

Hyunbin menatap Yeonsoo kaget.

“Baik! Aku yang pergi!” Ucap Yeonsoo, berjalan cepat melewati ayahnya.

Hyunbin menahan tangan Yeonsoo, “Ha Yeonsoo!” Tegasnya.

Yeonsoo menatap ayahnya marah.

Hyunbin menatap Yeonsoo kesal, lalu menghela nafas dalam. “Ayo pulang..” Ucapnya pelan.

“Shireo!!” Tegas Yeonsoo, lalu berusaha melepaskan tangan ayahnya.

Hyunbin mempererat genggamannya, “Turuti appa!!” Tegasnya.

“Shireo!!” Teriak Yeonsoo.

“Ha Yeonsoo!!!” Bentak Hyunbin emosi.

Yeonsoo tersentak mendengar bentakan ayahnya. Suasana hening untuk beberapa saat.

“Maaf, appa tidak bermaksud membentakmu..” Ucap Hyunbin.

Mata Yeonsoo memerah menahan air mata, namun dia tetap menatap ayahnya marah.

Hati Hyunbin luluh melihat mata Yeonsoo, “Appa benar-benar menyesal, Yeonsoo.. Andai appa bisa menebus semuanya..”

“Appa tidak pernah berubah! Appa selalu gila ketenaran! Semuanya hanya tentang appa!! Appa tidak pernah memikirkanku!!” Teriak Yeonsoo.

“Ani, Yeonsoo! Aku selalu memikirkanmu! Appa ingin melakukan apa pun untukmu!” Ucap Hyunbin.

“Appa pembohong!! Appa hanya bisa memberikan janji palsu dan menganggap semuanya akan baik-baik saja jika appa meminta maaf!! Appa merasa menjadi bintang besar sangat hebat hingga melupakan orang di sekeliling appa!!” Ucap Yeonsoo.

Hyunbin terus berusaha menahan emosinya, “Ha Yeonsoo!! Berani sekali kau mengatakan itu pada ayahmu!”

“Wae?!!” Tantang Yeonsoo, “Pasti karena appa selalu memikirkan diri appa!! Berusaha menjadi bintang besar!! Eomma pergi meninggalkanku!! Eomma pasti merasa muak hingga tidak ingin mengurus anak dari pecundang sepertimu!!!” Teriaknya.

Hyunbin terdiam, seperti ada petir menyambar di telinganya mendengar ucapan Yeonsoo. Genggaman tangannya melonggar dengan tatapan tak percaya pada gadis itu.

Yeonsoo menarik tangannya dan segera berlari keluar rumah. Sementara Hyunbin masih terpaku di tempatnya.

Gain dan Youngkwang yang sebenarnya tetap mendengarkan untuk mengantisipasi kejadian seperti itu segera keluar.

“Oppa! Kenapa kau membiarkannya pergi?!!” Tanya Gain marah, sementara Youngkwang segera berlari keluar mengejar Yeonsoo.

=Lapangan Basket=

Amber bermain basket seorang diri karena dia bekerja part time di siang hari. Dia mendribel bola sambil menatap ring serius, namun ketika hendak melempar bola itu, dia berhenti karena melihat Yeonsoo berdiri di pinggir lapangan basket. Wajah gadis itu terlihat menggambarkan sesuatu yang besar. Bibirnya membentuk senyuman, “Hei.. Mau bermain?” Tanyanya sambil mengangkat bola di tangannya.

=Kamar Haneul=

Haneul sedang mengerjakan PR nya ketika sebuah panggilan masuk, dia segera mengambil ponsel dan menerima panggilan itu. “Yoboseo..”

“Yoboseo.. Kang Haneul?”

Haneul tertegun mendengar suara seorang wanita, “Ne..”

“Maaf, Kang Haneul. Aku Ha Gain, bibi Yeonsoo..” Ucap Gain memperkenalkan diri.

“Oh.. Annyeonghaseo..” Sapa Haneul sopan.

“Apakah kau tau dimana Yeonsoo sekarang?” Tanya Gain.

Haneul tertegun, “Yeonsoo?”

=Lapangan Basket=

Amber tertawa melihat wajah Yeonsoo memerah dengan keringat bercucuran sambil mendribel bola, “Kau tetap tak bisa memasukkan satu bola pun..” Ejeknya.

Yeonsoo menghela nafas dalam berkali-kali, “Menyebalkan! Aku akan merebutnya!!” Ucapnya, lalu kembali mengejar Amber untuk merebut bola.

Amber dengan mudah menghindar dan melempar bola ke ring, “Yuuup!! Masuk!!” Ucapnya girang.

Yeonsoo menatap Amber kesal, “Ugh!! Curaaaaang!”

Amber tertawa, “Aku? Tidak.. Kau saja yang tak bisa merebutnya..”

Yeonsoo mengambil bola yang menggelinding dan mendribelnya, lalu melemparkannya ke ring sebelum Amber merebut bola itu. Tapi sayang hanya berputar di sekeliling ringnya, “Aarghh!!” Serunya kesal.

Amber tertawa, “Lihat.. Kau saja tidak bisa memasukkannya..” Ucapnya, lalu mengambil bola yang menggelinding ke kakinya.

“Ayo main lagi..” Ucap Yeonsoo.

Amber berlari ke ring di seberang sambil mendribelnya, Yeonsoo berlari mengejarnya dan hendak merebut bola itu. Namun kakinya slip dan terjatuh. Amber berhenti dan memandang Yeonsoo.

“Hei, kau baik-baik saja?” Tanya Amber sambil menghampiri Yeonsoo.

Yeonsoo bergerak duduk sambil memegang lutut kanannya, “Ahh.. Sakit..” Rintihnya dan mulai menangis.

Amber berlutut di sebelah Yeonsoo, “Sakit sekali?”

Yeonsoo tidak menjawab dan terus menangis.

“Yeonsoo..” Panggil Amber sambil memegang kepala gadis itu, “Kakimu sakit?”

Yeonsoo menangis bukan karena lututnya, tapi karena hatinya. Dia merasa kesal pada ayahnya, juga pada dirinya sendiri.

Haneul yang sangat khawatir karena tak bisa menghubungi Yeonsoo berusaha mencari-cari kemana kira-kira gadis itu pergi. Akhirnya dia berhasil menemukan gadis itu dilapangan basket, namun tidak sendiri. Dahinya berkerut melihat Yeonsoo menangis di tengah lapangan dengan Amber berusaha membujuknya.

Amber duduk bersila di depan Yeonsoo yang terus menangis, “Ini bukan karena kakimu kan?” Tanyanya. Namun gadis itu tetap menangis. Akhirnya dia hanya diam sambil memperhatikan gadis di depannya menangis.

=Rumah Gain=

Gain berdiri di depan pintu kamar Yeonsoo sambil memperhatikan gadis itu terlelap. Amber mengantarkannya pulang setelah merasa lebih baik sekitar pukul 11 malam.

Youngkwang menghampiri Gain dan ikut memperhatikan Yeonsoo, “Apa kita harus membangunkannya untuk sarapan?”

Gain menghela nafas dalam, “Aku tidak tau..” Ucapnya, lalu berpandangan dengan Youngkwang. “Menurutmu?”

“Ayolah.. Kita tidak mengajarinya untuk jadi pengecut, dia harus tetap menghadapi apa pun yang terjadi..” Ucap Youngkwang, lalu melangkah masuk untuk membangunkan Yeonsoo.

=Sekolah=

Yeonsoo melangkah masuk ke kelas dan duduk di tempatnya. Kepalanya menoleh ke tempat duduk Haneul, pria itu sudah ada disana. Dia merasa ada sesuatu yang aneh. Bahkan hingga pulang pria itu sama sekali tak menegurnya.

“Haneul-a..”Panggil Yeonsoo sambil berlari kecil mengejar Haneul ketika pulang.

Haneul mendengar panggilan Yeonsoo namun tak berhenti, dia hanya memutar bola matanya kesal.

Yeonsoo heran Haneul yang jelas-jelas mendengar panggilannya tapi tak menghiraukannya, “Hei.. Kang Haneul!” Panggilnya lebih keras. Pria itu tetap tak berhenti. Dia berlari lebih kencang dan menarik tangan pria itu, “Ya..”

Haneul berhenti dan memandang Yeonsoo.

Dahi Yeonsoo berkerut memandang Haneul, “Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?”

“Aku tidak dengar..” Jawab Haneul, “Aku pergi..” Ucapnya dan langsung berjalan pergi.

Yeonsoo terkejut melihat Haneul langsung pergi, itu tidak seperti dia yang biasanya. “Hei.. Tunggu..”

Haneul berhenti dan memandang Yeonsoo, “Wae?”

Yeonsoo memandang ekspresi Haneul tak mengerti, “Ada apa Haneul-a? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?”

Haneul menatap Yeonsoo tanpa ekspresi, “Pertama, aku tidak menyukai seorang pembohong. Kedua, aku tidak suka seseorang yang dekat denganku mencari orang lain untuk mengadu.” Ucapnya, membuat Yeonsoo menatapnya tak mengerti. Dia berbalik dan berjalan pergi.

Dahi Yeonsoo berkerut, “Apa maksudnya?” Tanyanya bingung.

=Kafe=

Amber tertawa mendengar cerita Yeonsoo sambil meletakkan susu coklat pesanan gadis itu, “Temanmu itu mengatakan tidak suka orang yang dekat dengannya pergi mencari orang lain?”

Yeonsoo mengangguk, “Ne.. Aku benar-benar tak mengerti..”

Amber tertawa lagi, “Aneh sekali..”

Yeonsoo meminum susu coklatnya dan mengangguk, “Ne..” Ucapnya setuju.

“Sudah.. Habiskan susumu, lalu segera pulang.” Ucap Amber, lalu melangkah pergi.

“Ne..” Ucap Yeonsoo dan meneguk habis susunya, lalu segera pulang.

=Rumah Gain=

“Yeonsoo-a, kau masih belum berbicara dengan ayahmu?” Tanya Gain saat makan malam.

Yeonsoo memandang bibi dan pamannya bergantian, lalu menggeleng.

Gain menghela nafas dalam, lalu memandang suaminya.

Youngkwang memandang Yeonsoo serius, “Little bird.. Samchon mengerti jika kau kecewa pada ayahmu, tapi bukan hanya kau yang sedih. Ayahmu juga..”

Yeonsoo hanya diam dan memandang makanannya.

“Tidak apa-apa jika sekarang kau masih belum mau, tapi pikirkan lagi..” Ucap Gain.

Yeonsoo mengangguk pelan.

=Pulang Sekolah=

Haneul melangkah meninggalkan sekolah seorang diri. Langkahnya terhenti melihat seseorang yang memegang bola basket menunggunya ditengah jalan.

Amber tersenyum, lalu mengangkat bola basket dengan satu tangannya. “Kau bisa bermain basket?”

=Lapangan Basket=

Haneul menatap Amber yang mendribel bola tanpa ekspresi.

“Dengar.. Jika kau bisa memasukkan bola lebih banyak dariku, Yeonsoo milikmu..” Ucap Amber.

Haneul terkejut mendengar ucapan Amber, “Mwo?!”

Amber tertawa kecil, “Yeonsoo sudah menceritakan perlakuanmu padanya, kau cemburukan karena dia mencariku?”

Haneul menatap Amber kesal, “Kau pikir Yeonsoo adalah piala?!”

Amber merasa itu semakin menyenangkan, “Wae? Kau tak bisa mengalahkanku?” Ucapnya meremehkan.

Haneul semakin kesal mendengar ucapan Amber, lalu tersenyum sinis. “Kau menantang orang yang salah..”

Amber tersenyum, lalu memulai serangannya.

1 jam kemudian.

Haneul berbaring di lapangan basket dengan nafas sesak, “Aisssh!!” Serunya kesal karena Amber berhasil unggul satu angka.

Amber duduk di sebelah Haneul dengan nafas sesak, namun tertawa senang. “Kau hebat juga..”

Haneul melirik Amber tajam, “Kau puas?!!”

Amber tersenyum lucu, “Kau benar-benar bodoh atau hanya berpura-pura?”

Dahi Haneul berkerut, lalu bergerak duduk sambil tetap mengatur nafasnya. “Aku?”

Amber menatap Haneul seperti sesuatu yang lucu, “Kau cemburu teman perempuanmu pergi mencari teman perempuannya?”

Haneul menatap Amber tak mengerti.

“Hei bodoh..” Ucap Amber sambil melempar bola basket kepada Haneul. “Apa kau benar-benar tak bisa melihat aku ini perempuan?”

Haneul terkejut mendengar ucapan Amber dan menatapnya tak percaya, “Ne?!”

Amber tertawa, “Aku benar-benar seorang perempuan..”

Mulut Haneul terbuka memperhatikan Amber, “Jinja?”

“Bodoh sekali..” Ucap Amber, lalu bangkit sambil mengambil bola basketnya. Sebelum pergi dia sempat menertawai Haneul sekali lagi.

Haneul berusaha mencerna ini semua, “Jadi.. Oh tidak!!” Serunya sendiri dan segera berlari mengambil tasnya di pinggir lapangan, lalu segera pulang.

=Rumah Gain=

Yeonsoo yang sedang menonton tv bersama Youngkwang tertegun melihat Hyunbin muncul.

“Yeonsoo-a..” Ucap Hyunbin.

Yeonsoo berdiri dan langsung berjalan ke kamarnya.

“Yeonsoo..” Hyunbin mengikuti putrinya dan berhenti tepat di depan pintu kamar yang terbanting. “Yeonsoo-a..” Panggilnya sambil mengetuk pintu.

“Pergi!!” Seru Yeonsoo.

Hyunbin menghela nafas dalam dan menempelkan dahinya ke pintu, “Yeonsoo..”

“Aku tidak ingin bertemu appa!” Teriak Yeonsoo.

“Yeonsoo, keluarlah.. Katakan apa yang kau ingin appa lakukan..” Bujuk Hyunbin, tak lama pintu terbuka.

Yeonsoo menatap ayahnya marah, “Aku ingin appa bukan orang terkenal yang hanya memikirkan dirimu!!!”

Hyunbin menatap kedua mata putrinya dalam, matanya tampak berkaca-kaca. “Itu yang benar-benar kau inginkan?”

“Ne! Aku tidak butuh ketenaranmu! Aku hanya butuh ayahku!” Seru Yeonsoo, lalu kembali menutup pintu.

Hyunbin tertegun di tempatnya.

Gain datang menghampiri Hyunbin dan memegang bahunya, membuat pria itu memandangnya. “Oppa, biarkan dia tenang dulu..”

Hyunbin mengangguk, “Ne..” Ucapnya berat, “Tolong jaga dia..”

Gain mengangguk, “Ne, Oppa..”

Hyunbin berjalan keluar dari rumah Gain untuk kembali ke rumahnya. Setelah mendengar ucapan Yeonsoo, dia berpikir keras bagaimana dia bisa melakukan apa yang diinginkan putrinya.

-Hyunbin’s POV-

Aku berbaring di sofa di ruang tengah seorang diri. Meskipun matahari sudah terbenam, aku tidak bergerak untuk menghidupkan lampu. Perasaanku terasa hampa. Dirumah ini seharusnya di penuhi cinta dan tawa Yeonsoo. Kupikir aku bisa menjadi ayah yang baik. Kupikir Yeonsoo akan merasa menjadi putri yang paling beruntung di dunia ini. Aku tak pernah ingin mengecewakannya, tapi yang kulakukan justru bertolak belakang. Kesibukanku membuatnya merasa seorang diri. Bahkan adik iparku lebih mengerti dirinya dibandingkan aku. Sekarang aku harus memilih mana prioritas hidupku. Yeonsoo-lah prioritas hidupku.

Keesokan harinya. Aku datang ke kantor agensi dan langsung menemui CEO Kim, dia yang sangat berjasa melambungkan namaku selama ini. Dan aku akan membuat dia juga yang menurunkanku lagi.

CEO Kim tersenyum melihatku muncul, “Hei.. Ini aktor favoritku. Ada apa Hyunbin?”

Aku membungkuk sopan dan memandangnya, “CEO Kim, kontrakku akan berakhir bulan ini.” Ucapku langsung, “Aku tidak akan memperpanjangnya lagi..”

CEO Kim tertegun dan menatapku kaget, “Ne?”

“Aku akan beristirahat beberapa saat, terima kasih..” Ucapku sambil membungkuk sopan, lalu keluar dari ruangannya.

Seperti yang kuduga, berita itu langsung menyebar dan menghebohkan dunia entertainment. Padahal itu baru keputusanku.

-Hyunbin’s POV end-

=Sekolah Yeonsoo=

Yeonsoo melangkah masuk ke kelas dan tertegun melihat teman-temannya berkerumun, seperti membicarakan sesuatu yang heboh. Dia meletakkan tas dan bergerak duduk, “Nana.. Ada apa? Kenapa heboh sekali?”

Nana memandang Yeonsoo, “Masa kau tidak tau? Berita ini sudah menjadi topik terpanas sejak kemarin..” Ucapnya.

Dahi Yeonsoo berkerut, “Berita apa?”

Eunha memandang Yeonsoo dan menunjukkan halaman depan sebuah majalah pada gadis itu.

Yeonsoo memperhatikan dan membaca judul berita utamanya. Matanya membesar dan mulutnya terbuka setelah mengerti apa yang membuat semua orang kaget. Dengan cepat dia segera bangkit dan berlari pergi bersama tasnya.

Haneul melihat Yeonsoo berlari keluar kelas, “Yeon…” Dia belum sempat menyelesaikan ucapannya karena gadis itu hanya berlari melewatinya. “Hm?” Gumamnya tak mengerti. Saat itu dua orang gadis berlalu di sebelahnya sambil membicarakan sesuatu di majalah yang mereka pegang, dia melihat majalah itu sekilas. Mendadak matanya membesar dan langsung merebut majalah itu untuk melihat lebih jelas.

Kedua gadis itu terkejut, “Aish.. Mwoya?!”

‘Aktor Hyunbin akan pensiun?’ Adalah judul majalah itu.

Haneul mengembalikan majalah itu dan segera mengejar Yeonsoo.

=Rumah=

Yeonsoo berlari secepat yang dia bisa ke rumah, namun ternyata di depan pagar rumahnya sudah berkumpul wartawan dan reporter. Dia berhenti tak jauh dari rumah dengan nafas terengah-engah, dia tak bisa masuk ke rumah jika seperti itu. “Appa..” Gumamnya sambil mengedarkan pandangan mencari celah kecil.

Di dalam rumah. Hyunbin mengintip ke jendela, dia menghela nafas melihat banyak wartawan di depan rumahnya.

“Great.. Ini yang kau mau kan?” Tanya manajer Hyunbin sinis.

Hyunbin memandang manajernya, lalu mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.

“Ne hyung..”

“Youngkwang, tolong sembunyikan Yeonsoo beberapa saat. Wartawan akan segera menemukannya..” Pinta Hyunbin.

“Baik, aku akan segera menjemputnya ke sekolah..” Ucap Youngkwang di seberang dan telepon terputus.

Diluar rumah.

Yeonsoo hampir menangis karena tak menemukan cara untuk masuk ke rumah, “Appa.. Eoteokhe?” Gumamnya bingung. Dia tambah kebingungan melihat para wartawan disana mulai memandangnya. Namun sebelum beberapa dari mereka mendekatinya, Haneul muncul di hadapannya. “Haneul-a?”

“Ssshh.. Mereka akan kemari, ayo..” Ajak Haneul sambil merangkul Yeonsoo dan berjalan pergi seperti mereka bukan siapa-siapa.

Yeonsoo mengikuti langkah Haneul menjauh dari rumahnya.

Haneul melirik ke belakang dan menghela nafas lega, “Mereka tidak curiga.. Ayo kita pergi..”

Yeonsoo memandang Haneul bingung, “Kemana?”

“Ke tempat aman..” Ucap Haneul.

=Sekolah Yeonsoo=

Youngkwang mencari Yeonsoo namun tak menemukannya dimana pun, “Maaf, ini benar kelas Ha Yeonsoo?” Tanyanya.

Eunha mengangguk, “Ne, waeyo ahjussi?”

“Dimana dia?” Tanya Youngkwang.

“Mmm.. Tadi tiba-tiba Yeonsoo pergi begitu saja..” Jawab Eunha.

Youngkwang tertegun, “Ne? Pergi?”

=Lapangan Basket=

“Kenapa kita ke sini?” Tanya Yeonsoo pada Haneul yang asik mendribel bola dan menembakkannya ke ring. Dia terkejut melihat bola itu masuk tanpa menyentuh ring sedikit pun, “Woaaaaa.. Bagaimana kau melakukannya?”

Haneul tersenyum sambil menangkap bola dan mendribelnya, “Mau kuajari?”

Yeonsoo mengangguk cepat dan segera menghampiri Haneul.

“Pegang ini..” Haneul memberikan bola basket pada Yeonsoo dan menghadapkan gadis itu ke ring sambil berdiri di belakangnya. “Lalu, fokuskan pandanganmu ke ring sambil memegang seperti ini..” Ucapnya sambil memegang kedua tangan Yeonsoo mengarahkan bagaimana cara memegangnya.

Yeonsoo menatap ring dan mengangguk, “Ne..”

Haneul melirik ekspresi Yeonsoo, bibirnya tak bisa berhenti tersenyum karena gadis di sisinya. Dia kembali memandang ring, “Angkat tanganmu seperti ini..” Ucapnya sambil mengangkat tangan gadis itu, “Lempar!”

Yeonsoo melempar bola basket itu dan memperhatikan, namun sayang sekali bola itu hanya mengenai ring bagian luar dan terpental. “Aaaah…” Keluhnya kecewa.

Haneul tetap tersenyum, “Gwenchana.. Kau bisa mencobanya lagi..”

Yeonsoo kembali bersemangat dan mengambil bola basket, lalu mempraktekkan apa yang diajarkan Haneul padanya. Namun cukup sulit baginya.

Haneul merasa ada seseorang yang memperhatikan mereka dan menoleh. Ternyata Amber memperhatikan mereka dari kejauhan sambil tersenyum. Bibirnya juga membentuk senyuman.

Amber melambai dan berbalik pergi, membiarkan kedua orang itu menikmati waktu mereka.

“Aaaah..” Erang Yeonsoo kesal karena bolanya kembali meleset.

Haneul memperhatikan Yeonsoo mencoba lagi dan lagi, dia hanya berdiri ditempatnya memperhatikan gadis itu sambil tersenyum. Hingga bola yang di lempar Yeonsoo terpental di ring dan malah mengenai kepala gadis itu.

DUK!

“Aaaakkhhh!!!” Teriak Yeonsoo sambil memegang kepalanya.

Haneul tersentak dari lamunannya dan segera menyadari apa yang terjadi, “Hei.. Gwenchana?” Tanyanya khawatir.

“Aww.. Kepalaku sakit..” Ucap Yeonsoo.

Haneul tertawa kecil sambil mengelus kepala Yeonsoo, “Seharusnya kau memperhatikan ketika bola itu datang padamu..”

Yeonsoo cemberut sambil mengelus kepalanya. “Aku juga tidak menyangka akan datang padaku..”

Haneul mengambil bola basket dan kembali memberikannya pada Yeonsoo, “Masih ingin mencoba?”

Yeonsoo cemberut, lalu menggeleng. “Nanti mengenai kepalaku lagi..”

Haneul tertawa, lalu melempar bola ke ring. Sekali lagi masuk dengan bersih.

Mata Yeonsoo membesar dan menatap Haneul tak percaya, “Bagaimana kau melakukannya?!”

Haneul mengangkat bahunya, “Insting..”

Yeonsoo tertawa mendengar ucapan Haneul, namun setelah beberapa saat wajahnya berubah sedih dan menunduk.

Haneul memandang Yeonsoo bingung, “Waeyo, Yoensoo-a?”

Yeonsoo mengangkat wajahnya memandang Haneul, “Beberapa hari lalu aku berkata pada ayahku kalau aku tidak menyukai ketenarannya. Aku juga berkata kalau aku membencinya karena hanya memikirkan dirinya. Kurasa karena itu ayahku memutuskan untuk pensiun..” Ucapnya menyesal.

Haneul diam melihat mata Yeonsoo mulai basah karena air mata.

Bulir air mata Yeonsoo akhirnya benar-benar mengalir, “Aku mengatakan itu karena aku marah pada ayahku. Tapi kenapa sekarang aku malah merasa bersalah?” Ucapnya dan mulai terisak. “Sepertinya aku yang terlalu memikirkan diriku. Tapi aku kan hanya ingin ayahku seperti ayah pada umumnya, apakah aku salah?”

Haneul menarik Yeonsoo perlahan ke tubuhnya dan memeluk gadis itu sambil mengelus rambut dan punggungnya. Dia hanya diam menunggu gadis itu lebih tenang.

=Rumah=

Hyunbin terlonjak dari duduknya mendengar kalau Yeonsoo sudah pergi dari sekolahnya, “Mwo?!! Kau yakin?!”

“Ne, hyung.. Sekarang aku sedang mencarinya di sekitar sekolahnya.” Jawab Youngkwang sambil mengendarai mobilnya.

Hyunbin memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya lagi. “Baik.. Terima kasih..” Ucapnya, lalu memutuskan telepon.

“Ada apa?” Tanya manajer Hyunbin.

Hyunbin segera mengambil kunci mobilnya, “Aku harus menemukan Yeonsoo, dia tidak berada di sekolahnya..” Ucapnya sambil melangkah keluar.

“Ya! Tunggu!” Panggil manajer Hyunbin.

Hyunbin tak mendengarkan panggilan manajernya dan terus keluar rumah, lalu masuk ke mobilnya. Para wartawan histeris melihatnya muncul, apalagi ketika mobilnya keluar dari pagar. Dia perlu menekan klakson berkali-kali agar para wartawan itu menyingkir dari depan mobilnya. “Aissh!! Minggir!” Serunya sendiri di dalam mobil.

=Sebuah Halte Bis=

Haneul memandang Yeonsoo yang sejak tadi hanya duduk dengan kepala tertunduk. “Yeonsoo-a..”

Yeonsoo memandang Haneul, “Ne?”

“Aku sudah bercerita tentang perpisahan ayah dan ibuku kan?” Tanya Haneul.

Yeonsoo mengangguk.

Haneul tersenyum tipis, lalu menerawang jauh ke depan. “Saat mendengar kalau orangtuaku memutuskan untuk berpisah, aku sangat marah. Aku menyalahkan mereka berdua karena tak bisa mempertahankan pernikahan mereka. Bahkan untukku. Karena itu aku pergi dari rumah dan tinggal di asrama, apalagi juga karena mereka mulai bersiteru tentang siapa yang akan merawatku..” Ucapnya, lalu memandang Yeonsoo. “Tapi setelah beberapa saat aku sadar, yang menjalani pernikahan itu adalah kedua orangtuaku. Jika mereka merasa tidak bisa lagi bersama, aku tidak bisa memaksakannya. Karena hal itu akan membuat mereka merasa tidak nyaman, mungkin menderita. Aku berusaha mengerti dan memutuskan untuk tinggal bersama ibuku. Dan meskipun ayahku tidak selalu bersamaku, dia tetap memikirkanku. Menanyakan kabarku, juga mengingat hari ulang tahunku..” Ceritanya.

Yeonsoo mengangguk mengerti.

“Jadi..” Lanjut Haneul, “..terkadang kita hanya melihat sesuatu dari sisi yang ingin kita lihat. Namun sisi lain dari hal itu bisa saja menyakitkan bagi orang lain.” Ucapnya.

Yeonsoo diam sejenak mencerna ucapan Haneul, “Maksudmu, disaat aku merasa kesepian dan marah karena ayahku selalu sibuk dengan pekerjaannya, ayahku juga merasakan hal yang sama?”

Haneul mengangguk, “Ne..” Jawabnya, “Melihatmu sedih dan terluka, mungkin lebih menyakitkan bagi ayahmu karena dia yang membuatmu seperti itu.”

Yeonsoo diam sambil mengingat semua perkataannya pada Hyunbin, dia kembali menyesal telah mengatakan semua itu.

Sebuah mobil berhenti tiba-tiba, membuat Yeonsoo dan Haneul terkejut.

Yeonsoo tertegun melihat Hyunbin keluar dari mobil.

“Yeonsoo! Masuk ke mobil!!” Panggil Hyunbin.

Yeonsoo berdiri dan memandang Hyunbin bingung, “Appa?”

Blits kamera langsung menerpa Yeonsoo dan Hyunbin dari mobil di belakang mobil Hyunbin.

Hyunbin segera menarik Yeonsoo dan mendorongnya masuk ke mobil, lalu juga segera masuk.

Haneul memandang mobil Hyunbin yang langsung mengebut pergi bingung.

“Kenapa kau pergi dari sekolah?!! Bagaimana jika wartawan menemukanmu?!!” Seru Hyunbin sambil tetap mengemudi.

Yeonsoo menatap ayahnya kaget, dia masih sangat shock dengan semua itu.

Hyunbin terlihat panik dan memacu mobilnya seperti di sirkuit balapan.

Yeonsoo memperhatikan ekspresi ayahnya yang terus marah-marah karena dirinya pergi tanpa sepengetahuan siapa pun, juga kecemasan ayahnya jika sesuatu terjadi padanya. Bulir air berjatuhan dari matanya menyadari betapa besar cinta yang dirasakan Hyunbin untuknya.

Hyunbin tertegun melihat Yeonsoo menangis, amarahnya langsung lenyap seketika. Berganti dengan perasaan khawatir. “Yeonsoo-a, appa tidak bermaksud memarahimu.. Maafkan appa.. Jangan menangis..” Bujuknya.

Yeonsoo hanya menatap ayahnya menyesal, lalu menunduk.

Setelah beberapa saat berpergian dengan mobil, Hyunbin menghentikan mobilnya di pinggir sebuah sungai di pinggir kota untuk bersembunyi beberapa saat dari wartawan. Namun karena itu dia tak bisa menyewa penginapan karena orang-orang pasti mengincarnya sekarang.

Sekarang Hyunbin dan Yeonsoo duduk di kursi belakang dan merasa canggung satu sama lain sambil menjaga jarak. Malam semakin larut dan udara juga semakin dingin. Hyunbin melirik Yeonsoo yang terlihat mengelus lengannya.

“Kau kedinginan?” Tanya Hyunbin.

Yeonsoo mengangguk.

Hyunbin menjangkau sesuatu di balik kursi dan menarik selimut hangat yang biasa dia gunakan jika dalam perjalanan jauh ke lokasi syuting, lalu menyelimuti tubuh Yeonsoo. “Ini, hangatkan dirimu..”

Yeonsoo memandang ayahnya yang kembali duduk tenang tanpa mengatakan apa pun. Dia memperhatikan ayahnya tidak mengenakan baju hangat, pasti juga merasa kedinginan namun tak ingin mengatakannya. Perlahan dia mendekat ke ayahnya dan menyelimuti pria itu dengan selimut.

Hyunbin memandang Yeonsoo tak percaya. Tapi melihat gadis itu tersenyum, dia senang putrinya tidak marah lagi padanya. Tangannya merangkul gadis itu dan memeluknya agar lebih dekat dengannya.

Yeonsoo mendongak memandang ayahnya, perasaannya terasa tenang bersama ayahnya.

Hyunbin tersenyum pada putrinya, “Tidurlah..”

Yeonsoo memejamkan mata dan tidur di bahu ayahnya.

Hyunbin sampai menangis haru bisa sedekat itu dengan putrinya. Dia benar-benar bahagia bisa menghabiskan waktu bersama lagi. Setelah beberapa saat, dia menggenggam tangan Yeonsoo dan mencium punggung tangannya. “Appa menyayangimu, Yeonsoo.. Lebih dari apa pun di dunia ini..” Ucapnya pelan.

=Paginya=

Cahaya terang masuk pelupuk mata Yeonsoo, membuatnya memejamkan mata lebih erat sesaat dan membukanya perlahan. Setelah beberapa saat dia menyadari kalau dia tidur di bantal di pangkuan Hyunbin. Perlahan dia bangkit dan melihat matahari terbit dari arah depan mobil. Kepalanya menoleh memandang ayahnya yang tampak lelah.

Setengah jam kemudian.

Hyunbin yang berbaring di bantal di kursi belakang terbangun dan bangkit perlahan, butuh beberapa saat hingga dia menyadari apa yang sudah terjadi sebelumnya. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, saat itu dia baru menyadari Yeonsoo tidak ada. Matanya terbuka lebar dan langsung keluar dari mobil, “Yeonsoo! Yeonsoo!!” Panggilnya.

Yeonsoo muncul dari balik bukit pasir kecil dan memandang ayahnya, “Ne..”

Hyunbin menghela nafas lega melihat Yeonsoo ada disana, lalu menghampiri putrinya. “Kenapa kau disana?”

Yeonsoo berjalan kembali ke mobil, “Hanya ingin bermain air..”

Hyunbin mengelus rambut Yeonsoo, “Mmm.. Kau lapar?”

Yeonsoo menggeleng.

Hyunbin kembali merasa canggung, “Mmm.. Mungkin sebaiknya kita kembali..” Ucapnya sambil kembali ke mobil.

“Kemana?” Tanya Yeonsoo.

Hyunbin berhenti dan memandang Yeonsoo.

“Jika ke rumah pasti masih ada wartawan..” Jelas Yeonsoo.

Hyunbin diam sejenak, “Mmm.. Benar..” Ucapnya.

“Mungkin kita bisa disini dulu sebentar?” Usul Yeonsoo, lalu tersenyum.

Hyunbin tersenyum dan mengangguk.

Mereka kambali masuk ke mobil dan duduk diam untuk beberapa saat.

“Appa..” Ucap Yeonsoo membuka suara.

Hyunbin memandang putrinya, “Ne?”

“Mmm.. Appa membenciku?” Tanya Yeonsoo.

Hyunbin tertegun sesaat, lalu menggeleng. “Ani..”

Yeonsoo menunduk menyesal, lalu kembali memandang ayahnya. “Saat aku mengatakan eomma meninggalkanku karena appa, aku menyesal telah mengucapkannya..”

Hyunbin menatap Yeonsoo sedih, lalu menggeleng pelan. “Aniya.. Mungkin kau benar..”

Mata Yeonsoo mulai dipenuhi air dan bulir air berjatuhan sambil menggeleng, “Juga saat aku mengatakan aku benci ketenaran appa, aku tidak bermaksud agar appa keluar dari dunia entertainment..”

Hyunbin tersenyum tipis dan menyeka air mata Yeonsoo, “Gwenchana, appa memang sudah saatnya berhenti. Appa akan memfokuskan semuanya padamu, jadi mungkin appa akan bekerja di balik layar saja..”

Yeonsoo memeluk ayahnya sambil terus menangis.

Hyunbin mengelus rambut Yeonsoo dan mencium puncak kepalanya, “Maaf selama ini appa terlalu egois dan hanya memikirkan diri appa..”

=Sebulan Kemudian=

-Yeonsoo’s POV-

Semuanya berjalan baik sekarang. Appa memang berencana berhenti, tapi aku membujuknya untuk tetap melakukan itu jika dia memang menyukainya. Jadi, appa tetap bermain di drama atau pun acara-acara tv. Tapi tetap memprioritaskanku. Aku tetap tak bisa mengatakan ‘miane appa’ ataupun ‘gumawo appa’. Tapi Haneul memberikanku jalan keluarnya.

Hari Valentine tiba, disaat semua gadis menyediakan hadiah untuk seorang pria yang disukainya. Aku menyediakan 4 hadiah berupa coklat yang susah payah akhirnya bisa kubuat.

Kotak berisi coklat pertama:

Aku tersenyum lebar sambil menyodorkan kotak dengan pita itu pada appa, “Happy Valentine appa..”

Appa tersenyum lebar sambil mengambilnya, “Wuaaa.. Coklat..” Ucapnya senang ketika melihat isinya, tangannya mengambil gulungan kertas kecil yang kuselipkan di dalamnya. Juga langsung membaca isinya.

‘Appa, aku bangga menjadi putrimu. Aku menyayangimu.. :).    Ha Yeonsoo..’

Appa tertegun sesaat, lalu memandangku yang masih tersenyum lebar menunggu reaksinya. Akhirnya dia tersenyum.

“Aku pergi dulu appa..” Ucapku, lalu segera melangkah pergi dengan riang.

Kotak berisi coklat kedua:

Aku menyodorkan kotak coklat pada Youngkwang samchon. Aku sengaja datang ke tempatnya bekerja hanya untuk memberikan itu padanya. Banyak karyawan-karyawan disana yang memandangku bingung. “Happy Valentine, samchon..”

Youngkwang samchon tersenyum lebar sambil menerima kotak itu dan membukanya, “Hmm.. Coklat..” Ucapnya.

“Aku membuatnya sendiri..” Ucapku memberitau.

Youngkwang samchon masih tersenyum lebar, itu adalah daya tariknya. Kurasa karena itu Gain immo jatuh cinta padanya, hihihihi.. Namun saat melihat sebuah photo yang juga ku selipkan didalamnya, dia sempat tertegun sesaat menatap photo itu, lalu kembali memandangku sambil tersenyum penuh haru.

Itu adalah photoku saat berusia 3 tahun bersama Youngkwang samchon. Di belakangnya juga kutulis ‘With My Lovely samchon’.

Aku membungkuk sopan dan berbalik pergi.

Kotak berisi coklat ketiga:

Aku tersenyum lebar sambil memberikan kotak berisi coklat pada Amber di kafe tempat dia bekerja.

Amber tertawa kecil sambil mengambil kotak itu dan melihat isinya, “Coklat?”

Aku mengangguk, “Ne.. Itu coklat khusus untuk sahabatku..”

Amber tersenyum lebar dan mengangguk, lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan memasangkannya di pergelangan tanganku. Sebuah gelang kerang yang indah, “Dan ini hadiah untuk sahabatku..”

Aku tersenyum melihat gelang itu, lalu memandangnya.

“Terima kasih hadiahmu, tapi aku tidak bisa berlama-lama mengobrol..” Ucap Amber.

“Ne.. Aku akan pergi sekarang. Bye..” Ucapku sambil melambai dan melangkah pergi.

Kotak berisi coklat keempat:

Aku mengulurkan kotak terakhir dengan kepala tertunduk dan kedua pipi terasa panas, juga senyum malu di wajahku.

“Untukku?” Tanya Haneul sambil menunjuk dirinya.

Aku mengangguk pelan.

Haneul tersenyum sambil mengambil kotak itu dan melihat isinya, kulihat wajahnya merona perlahan. Lalu menunduk malu.

Melihatnya merona membuat pipiku juga semakin terasa panas. Kulihat tangannya terulur padaku, lalu memandangnya yang masih menunduk malu.

“Mmm.. Berhubung ini hari valentine, kau mau berkencan denganku?” Tanya Haneul malu.

Jantungku berdegup kencang. Rasanya ada sesuatu yang hampir meledak di dalam dadaku. Tanganku terulur memegang tangannya dan mengangguk pelan.

Haneul menarikku perlahan dan berjalan bersama. Sesekali kami akan saling tersenyum satu sama lain tanpa mengatakan apa pun. Kurasa ini yang dimaksud dengan bahasa cinta, tidak perlu mengatakan apa pun. Cukup dengan gerak tubuh, kita akan mengerti. 🙂

Hello to myself, ucapkan itu pada dirimu. Agar kau lebih mengenal siapa dirimu, juga mengetahui apa yang kau inginkan. 🙂

-Yeonsoo’s POV end-

===The End===

Advertisements

2 thoughts on “Hello To Myself..

  1. Wuiihh keren banget nih FF! Seneng akhirnya hyunbin bisa lebih memperhatikan yeonsoo 🙂 tadinya sebel ama hyunbin yg kayak lebih mementingkan pekerjaan nya….
    tapi akhirnya appa dan anak ini bisa bahagia 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s