Uncategorized

Give It To Me..

View of Florence, Italy

Cast:

–          Fei ‘Miss A’

–          Taecyeon ‘2PM’

Fei duduk di kursi meja belajarnya dengan kedua tangan memeluk lutut dan kepala tertunduk. Diatas meja tergeletak kertas berisikan pernyataan pencabutan beasiswanya karena nilainya jatuh drastis. Kepalanya semakin tertunduk dan menyandarkan dahinya di atas kedua lututnya. Dia menyadari semua ini adalah kesalahannya. Kebodohannya. Kepalanya kembali terangkat dan memandang photo pria yang tersenyum di atas meja belajarnya. Itu adalah Ok Taecyeon, atlet baseball di sekolah yang dia pikir adalah kekasihnya.

=Flashback=

Fei melangkah dengan riang ke lapangan baseball. Senyumannya semakin lebar melihat Taecyeon duduk sambil menyeka keringatnya. Namun rasa kesal kembali menyelimutinya karena para gadis yang menggemari kekasihnya duduk di sekitar kekasihnya itu. “Aissh..” gumamnya kesal, lalu melangkah cepat ke sana. “Ya! Minggir! Kalian masih saja mengganggu kekasihku!”

Para gadis itu menatap Fei aneh, “Apa sih? Pergilah!”

Fei melotot pada gadis-gadis itu, “Ya!”

“Sudahlah.. kau membuat telingaku sakit..” ucap Taecyeon sambil berdiri, “Hubungi aku nanti malam..” ucapnya sambil tersenyum pada Fei dan melangkah pergi.

Fei tersenyum mendengar Taecyeon memintanya menghubunginya.

“Aish.. dasar kau..” ucap gadis-gadis itu sambil beranjak dari tempatnya.

Itulah Fei, terlalu buta dengan cintanya hingga tak menyadari dia hanya di manfaatkan oleh pria yang dia pikir adalah belahan jiwanya.

Keesokan harinya.

Fei menghampiri Taecyeon di taman sekolah, “Hai..” sapanya.

Taecyeon tersenyum simpul, “Kupikir kau masih di kelas..”

“Aniya.. kelasku sudah berakhir..” jawab Fei berbohong, sebenarnya dia sengaja keluar kelas agar bisa bersama Taecyeon.

“Hmm.. oh iya, minggu ini ada pertandingan baseball. Aku jadi sering lupa mengerjakan PR karena kelelahan berlatih, apa kau bisa membantuku?” tanya Taecyeon.

Fei tersenyum lebar, “Tentu, kenapa tidak?”

Taecyeon tersenyum lebar dan mengelus rambut panjang Fei, “Terima kasih, sayang..”

Fei tersipu. Namun perasaan bahagia itu tidak berlangsung lama untuknya.

Seminggu kemudian.

Fei dipanggil ke kantor guru untuk membicarakan mengenai nilai-nilainya yang turun drastis, juga karena sering membolos kelas.

“Aku tidak mengerti apa yang terjadi padamu, Fei..” ucap wali kelas Fei, Wooyoung, kecewa.

Fei menunduk menyesal dengan kedua tangan saling menggenggam.

Wooyoung menghela nafas dalam dan melepaskan kacamata minusnya, lalu menatap Fei serius. “Kau tau, nilaimu sangat bagus. Kau tidak pernah terkena masalah sejak kelas satu hingga kelas dua. Tapi kenapa semester pertama di kelas tiga ini nilaimu malah jatuh drastis?” ucapnya kesal, “Lihat! Apa ini?!” dia melempar grafik nilai-nilai Fei ke hadapan gadis itu. “Nilaimu jatuh!! Sangat jatuh!! Rata-ratamu selalu 9, kau bahkan menangis di depanku hanya karena rata-ratamu di semester 3 turun menjadi 8,9. Kau lihat ini? Rata-ratamu 6 Fei!!”

Kepala Fei semakin tertunduk. Matanya memerah menahan air mata.

Wooyoung menghela nafas dalam lagi, “Kau datang jauh dari China bukan sekedar untuk bermain kan? Kau kemari untuk belajar! Benarkan?!!”

Fei mengangguk pelan.

Wooyoung mengelus kepalanya gusar, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. “Aku sudah berusaha memperjuangkan beasiswamu, karena selama ini nilai-nilaimu sangat bagus..” ucapnya, lalu menatap Fei. “Tapi aku tetap tak bisa..”

Fei menatap Wooyoung kaget, “Ne? Maksudmu, beasiswaku…”

Wooyoung menatap Fei serius, “Untuk mendapat beasiswa, kau harus mendapatkan rata-rata minimal 7. Tapi nilaimu 6!! 6!! Kau tau jawabannya.. Silahkan keluar..” ucapnya tanpa memandang Fei saat menyuruhnya keluar.

Fei tertegun sesaat. Dia benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan kesempatannya. Dia membungkuk sopan dan melangkah keluar dari ruang guru. Bulir air berjatuhan dari matanya ketika melangkah di koridor yang sepi karena semua orang masih berada di dalam kelas. Langkahnya terhenti dan berjongkok di lantai. Dua tahun lalu dia yang berkeras ingin ke Korea untuk melanjutkan SMA karena otak cerdasnya. Orang tuanya tidak setuju karena mereka bukan dari keluarga berada, jadi akan sulit untuk memberikan biaya hidup untuknya.

Riiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…

Bel menandakan jam istirahat tiba berdering. Dengan cepat Fei menyeka air matanya dan bangkit. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Seseorang yang dia pikir bisa menenangkannya saat itu. Taecyeon. Kakinya melangkah menuju lapangan baseball. Senyuman mengembang di bibirnya begitu melihat Taecyeon dengan seragam baseballnya berlatih mengayunkan tongkat.

“Taecyeon..” panggil Fei.

Taecyeon memandang Fei, lalu tersenyum tipis namun tetap terus melanjutkan kegiatannya.

“Apa kau sibuk? Aku ingin berbicara denganmu..” ucap Fei dengan harapan pria itu mau mendengarkan ceritanya.

“Mmm.. tidak juga, tapi aku harus melakukan pemanasan..” jawab Taecyeon, “Ohya, PR-ku yang kemarin sudah kau kerjakan?”

“Sudah, aku sudah memasukkannya ke lokermu..” jawab Fei, “Jadi, kapan pemanasanmu selesai?”

“Setelah ini aku akan berlatih bersama teman-temanku, kau bisa menghubungiku nanti malam.” Ucap Taecyeon.

“Tapi, akhir-akhir ini kau sulit di hubungi saat malam. Kau berbicara dengan temanmu?” tanya Fei.

“Ohh.. ne, beberapa junior ingin bertanya mengenai sekolah padaku..” jawab Taecyeon.

Fei tertegun, “Junior?”

“Taecyeon! Ayo mulai..” panggil anggota baseball.

“Ne..” jawab Taecyeon, lalu memandang Fei. “Aku harus pergi..” ucapnya dan langsung berlari kecil ke lapangan.

Fei menatap Taecyeon sedih. Pria itu tak pernah ada untuknya, tapi dia selalu ada untuk pria itu.

“Hihihi.. gadis itu bodoh sekali.” Bisik beberapa junior yang duduk di kursi penonton sambil melirik Fei.

Fei merasa sangat malu mendengar ucapan gadis-gadis itu, lalu segera berbalik pergi.

=Flashback end=

Fei berusaha bangkit dari keterpurukannya. Dia bertekad untuk berubah dan memulai semuanya lagi. Hal pertama yang harus dia lakukan adalah menemukan pekerjaan paruh waktu karena dia harus membayar biaya sekolahnya sejak beasiswanya di hentikan.

Fei berdiri di depan pemilik restaurant setelah menyatakan niatnya untuk bekerja paruh waktu disana.

Pemilik restaurant itu, seorang bibi bertubuh besar, memperhatikan Fei dari atas kebawah. “Hmm.. apa kau bisa bekerja dengan baik?”

Fei mengangguk cepat, “Ne, bisa bibi..”

Pemilik restauran itu memperhatikan wajah Fei, “Garis wajahmu tidak seperti orang Korea pada umumnya..”

“Ne? oh.. itu.. aku memang…”

“Dia orang China bibi..” ucap seseorang.

Fei memandang ke arah orang yang berbicara dan tertegun melihat itu adalah teman sekelasnya ketika kelas 1, Nickhun.

Nickhun tersenyum sambil menghampiri bibi pemilik restauran itu, “Fei ini teman sekolahku. Dia rajin dan sangat kompeten, aku bisa menjaminnya.”

Bibi itu tampak merona melihat senyum Nickhun, “Oh.. jika kau yakin seperti itu, baiklah.. aku akan memperkerjakanmu disini..”

Fei tersenyum lebar dan membungkuk sopan berkali-kali, “Ghamsamida..”

“Baiklah, Nickhun.. ajari dia beberapa hal ya..” ucap bibi itu, lalu melangkah masuk.

Fei tersenyum memandang Nickhun, “Nickhun, gumawo..”

Nickhun mengangguk, “Ne, ayo.. ganti bajumu..”

Fei mengangguk dan mengikuti Nickhun masuk.

=Dua Minggu Kemudian=

Taecyeon yang sedang melakukan pemanasan di lapangan baseball tak sengaja melihat Fei  berjalan menuju gedung sekolah dengan buku di tangannya. Dia langsung berpura-pura tidak melihat dan melanjutkan kegiatannya. Gadis itu sudah dua minggu tidak menghampirinya, juga tidak menghubunginya. Pasti sekarang akan datang menghampirinya. Bibirnya membentuk senyuman merasakan sebuah tangan memegang bahunya, lalu memandang ke belakang. Namun yang dia  pikirkan salah. Yang memegang bahunya adalah Suji, seorang junior yang menyukainya. Dia segera mengedarkan pandangan, tapi sosok Fei tidak terlihat dimana pun.

“Oppa, nanti malam ada acara anak osis. Apakah oppa dan teman-temanmu mau datang?” tanya Suji.

“Hm? Oh.. aku akan bertanya pada teman-temanku..” ucap Taecyeon.

Suji tersenyum, “Gumawo, oppa..” ucapnya, lalu berjalan pergi dengan pipi merona.

Taecyeon mengedarkan pandangannya lagi, tetap tidak terlihat sosok Fei.

Beberapa hari kemudian.

Taecyeon berjalan bersama teman-temannya, tentu saja ada beberapa junior wanita yang ikut dalam gerombolan itu ke taman belakang. Begitu duduk di bangku panjang sambil bercanda dengan yang lain, matanya melihat Fei duduk di bawah sebuah pohon sambil membaca buku. Gadis itu terlihat mendengarkan musik dengan earphone berwarna biru. Dia sibuk dengan teman-temannya dan tertawa, namun matanya tetap melirik gadis itu.

Fei menggunakan waktu senggangnya di sekolah untuk belajar karena dia baru selesai part time setelah pukul 9 malam, tidak ada waktu untuk belajar lagi karena dia akan kelelahan. Dia tertegun melihat sebuah botol air mineral dan menoleh pada orang yang memberikannya, bibirnya membentuk senyuman dan langsung melepaskan earphone di telinganya. “Gumawo…”

Nickhun tersenyum dan duduk di sebelah Fei, “Sekarang kau jadi sering seorang diri..” ucapnya.

Fei membuka botol dan meminumnya, “Aku memang biasa sendiri..”

“Hmm.. biasanya kau akan pergi ke lapangan baseball..” ucap Nickhun heran.

Fei tertegun mendengar ucapan Nickhun, dia memang biasanya akan menghampiri Taecyeon di lapangan baseball. Tapi sekarang dia sudah tidak akan melakukannya lagi. Senyumnya sempat memudar, namun kembali membentuk. “Aku hanya bosan kesana..”

Nickhun tersenyum, “Ohh..” komentarnya, “Mmm.. kau tau kan aku ketua club lukis?”

Fei mengangguk, “Waeyo?”

“Mmm.. maukah kau menjadi model lukis kami?” tanya Nickhun.

Fei tertegun, “Aku?”

Nickhun mengangguk, “Ne.. garis wajahmu sangat bagus untuk obyek lukis..” jawabnya, “emmm.. tapi itu jika kau mau..”

Fei senang mendengar ucapan Nickhun mengenai wajahnya, “Baiklah.. kapan?”

“Sekarang..” jawab Nickhun.

Fei tertegun lagi, “Sekarang?”

Nickhun mengangguk, “Kau keberatan?”

“Mmm.. tidak juga, ayo..” ajak Fei.

Nickhun bangkit dan membantu Fei bangkit juga, lalu melangkah ke gedung sekolah.

Taecyeon terpaku melihat Fei sama sekali tidak menyadari keberadaannya dan malah pergi bersama Nickhun, ‘Oh.. jadi dia sedang sibuk dengan pria itu?’ batinnya kesal.

Kelas Seni.

Fei duduk menyamping hingga siswa-siswa di kelas lukis bisa melihat wajahnya dari samping.

“Perhatikan lekuk hidung dan dagunya..” ucap Nickhun memberi intruksi pada anak-anak didiknya.

Fei duduk dengan tenang agar mereka bisa melukis wajahnya meskipun gugup, namun tak lama dia mendengar suara berbisik yang jelas di telinganya saat Nickhun sedang memeriksa hasil lukisan.

“Bukankah dia gadis yang tergila-gila pada Taecyeon sanbae? Kenapa dia yang jadi modelnya?” bisik gadis itu.

Fei tertegun. Dia merasa sangat malu pada dirinya sendiri. Wajar jika seluruh orang di sekolah tau, karena dia pernah beberapa kali berkelahi dengan gadis-gadis yang mendekati Taecyeon. Namun bodohnya saat itu dia bahkan tak peduli jika Taecyeon selalu menomor duakannya. Atau mungkin menomor seratuskannya.

Akhirnya setelah hampir satu bulan, Taecyeon muak dengan sikap Fei. Siang itu dia melihat gadis itu duduk di kafetaria seorang diri sambil membaca buku pelajarannya. Dia datang menghampiri sambil meletakkan botol air mineral di sebelah buku gadis itu.

Fei menoleh pada Taecyeon yang tersenyum padanya, tangannya menarik sebelah earphonenya dari telinga.

“Hei.. sepertinya ada anak rajin sekarang..” canda Taecyeon dengan senyum manisnya.

Fei tersenyum tipis dan kembali memandang bukunya.

Taecyeon tak pernah melihat Fei memberikannya senyuman seperti itu, itu membuatnya tidak senang. “Mmm.. aku tidak pernah melihatmu muncul di lapangan baseball lagi, kenapa?”

“Aku harus belajar..” jawab Fei tanpa mengangkat wajahnya.

Taecyeon tertegun dengan sikap Fei sekarang. Namun dia segera membuang jauh pikirannya karena dia tau itu hanya trik gadis itu agar dia memperhatikannya. “Oh.. begitu..” ucapnya santai.

“Taech..” panggil teman Taecyeon di depan kafetaria.

“Sebentar.” Jawab Taecyeon, lalu bangkit. “Hubungi aku nanti malam..” ucapnya sambil memegang bahu Fei dan melangkah pergi.

Fei memandang Taecyeon sesaat, lalu kembali memandang bukunya. Hatinya terasa sakit menyadari kekeliruannya. Pria yang dia dewakan selama ini hanya pecundang yang selalu memanfaatkannya. Dia segera mengerjapkan matanya berkali-kali agar air mata yang hendak jatuh kembali menghilang, “Ani, ini sudah baik..” gumamnya dan kembali mengenakan sebelah earphone di telinga.

=Malamnya=

Taecyeon memandang layar ponselnya berkali-kali. Sekarang sudah pukul 11 dan tidak ada satu pesan atapun panggilan dari Fei. Biasanya gadis itu selalu mengirimkan pesan selamat tidur ataupun selamat pagi. Tapi ini tidak ada satu pun. “Ahh… apa-apaan sih dia? Berharap aku akan bertanya mengapa dia melakukan ini? Ah! Lupakan!” ucapnya dan melemparkan ponselnya ke tempat tidur.

Di tempat lain.

Fei sudah terlelap ditempat tidurnya karena terlalu lelah bekerja.

=Sekolah=

Fei memegang dahinya sambil mengerjapkan matanya, kepalanya terasa pusing sejak pagi. Namun dia tetap membuka matanya dan membaca bukunya lagi, akan ada ulangan jumat ini jadi dia harus belajar keras. Jika dia bisa memperbaiki nilainya, dia bisa masuk ke universitas yang dia inginkan. Namun karena sudah kelas 3, akan sulit untuk mengejar beasiswa lagi, jadi dia tetap harus bekerja paruh waktu.

Nickhun datang menghampiri Fei dan duduk di sebelahnya, “Hei..”

Fei tersenyum simpul, “Hei..”

“Ibuku akan mengadakan backyard party untuk merayakan ulang tahunnya minggu ini, dia ingin kau datang. Kau bisa?” tanya Nickhun.

“Oh ya? Wuaah.. pasti menyenangkan..” ucap Fei, namun wajahnya berubah ragu. “Tapi, aku sepertinya tidak bisa datang..”

Nickhun tertegun, “Waeyo?”

Fei menunduk menyesal dan menggigit bibir bawahnya ragu, “Anu.. itu.. aku sudah menggunakan uangku untuk membayar uang sekolah. Jadi aku tidak bisa membelikan apa pun untuk ibumu..”

Nickhun hampir tertawa mendengar alasan Fei, “Kau ini.. Ibuku sudah menganggapmu seperti putrinya sendiri, kenapa memikirkan itu?”

“Habis, kan tidak enak jika datang tak membawa apa pun..” ucap Fei.

“Bagaimana jika begini, aku akan membelikan beberapa bahan masakan dan kau memasaknya untuk ibuku. Ibuku kan sangat suka padamu karena kau bisa memasak..” usul Nickhun.

Fei tersenyum lebar, “Ide bagus!” ucapnya bersemangat, namun senyumnya kembali luntur. “Tapi, dimana aku bisa memasaknya? Di asramakan tidak boleh memasak sendiri..”

“Itu masalah mudah… tenang saja..” ucap Nickhun.

Fei tersenyum, “Baiklah..”

Taecyeon menatap Fei kesal dan memukul pohon di sampingnya, “Aissh! Gadis itu!!”

Minggu Siang.

Taecyeon melangkah menuju kelasnya, karena kemarin dia meninggalkan seragam latihannya disana. “Ahh.. kenapa kelasku harus di lantai dua?” ucapnya kesal. Ketika meliwati ruang praktek club memasak, langkahnya terhenti karena seperti mendengar suara orang. Yang pasti tidak mungkin ada kegiatan belajar karena itu hari minggu. Karena penasaran dia melangkah ke pintu dan mengintip kedalam. Matanya langsung melotot dan hampir keluar dari rongganya melihat Fei di dalam bersama Nickhun.

Fei memandang ke dalam panci masakannya, “Hmm.. sepertinya ini sudah matang..” ucapnya, lalu mematikan kompor.

“Jinja?” ucap Nickhun sambil ikut melihat, “Hmm.. aromanya enak sekali..”

Fei memandang Nickhun, “Kau mau mencobanya?” tanyanya, lalu mengambil sendok dan mengambil sedikit kuah masakannya. “Ini,  hati-hati..” ucapnya sambil menyodorkan sendok itu ke mulut Nickhun.

Nickhun meniup kuah di sendok itu dan mencobanya, “Mmm.. perfect!” ucapnya.

Fei tersenyum lebar, “Kau ingin semangkuk?” tanyanya.

“Tentu..” ucap Nickhun bersemangat dan langsung duduk menunggu Fei mengambilkan semangkuk sup ikan yang dia masak.

“Ini..” ucap Fei sambil memberikan mangkuk itu ke hadapan Nickhun. “Aku akan menyalin sup ini dan ganti baju..” ucapnya lagi.

“Oke..” ucap Nickhun, lalu mulai makan.

Mulut Taecyeon terbuka karena tak percaya Fei sampai mengambilkan semangkuk sup untuk Nickhun. Bahkan dia tak pernah merasakan masakan gadis itu. Dengan kesal dia berbalik dan langsung ke lapangan baseball.

“Hm? Kupikir kau mengambil baju latihanmu..” ucap Chansung heran.

“Aku tidak ingin mengenakannya..” ucap Taecyeon memberi alasan, lalu mulai berlatih bersama teman-temannya.

Chansung yang bertugas melempar bola tertegun melihat Fei keluar dari gedung sekolah dengan dress selutut dan tampak sangat manis bersama Nickhun, “Wow.. gadis itu sudah menemukan orang lain..” ucapnya mengejek Taecyeon.

Taecyeon memandang ke arah Chansung memandang dan langsung tertegun melihat Fei tersenyum riang bersama Nickhun. Gadis itu bahkan mengenakan make up.

“Ada apa Taecyeon? Menyesal telah mencampakkannya? Hahaha..” tawa Chansung.

Taecyeon menatap Chansung, “Aku? Ah.. gadis seperti itu bisa kudapatkan dengan mudah!” ucapnya, lalu kembali mengambil sikap untuk memukul bola.

=Taman Belakang=

Taecyeon sengaja mencari Fei dan menemukan gadis itu di taman belakang. “Hei..” sapanya sambil duduk di sebelah gadis itu.

Fei melepaskan satu earphone dan tersenyum tipis, “Hei..” ucapnya canggung, lalu kembali memandang bukunya.

“Mmm.. akan ada pertandingan latihan sore nanti. Kau datang kan?” tanya Taecyeon.

“Aku tidak bisa..” jawab Fei tanpa mengalihkan pandangannya.

Taecyeon sangat terkejut mendengar ucapan Fei, namun dia tetap bersikap seperti biasa. Fei yang dia kenal seorang gadis yang benar-benar menggilainya, bahkan tidak akan berkata tidak jika dia meminta sesuatu. Tapi sekarang sangat berubah drastis. Dia diam sejenak memandangi gadis itu, “kenapa kau akhir-akhir ini selalu mendengarkan musik menggunakan earphone? Ada lagu yang sedang kau sukai?” tanyanya dengan nada menggoda seperti biasa.

“Aku suka semua lagu di mp3-ku..” jawab Fei tetap tanpa mengalihkan pandangannya.

“Mmm.. biasanya kau tidak begitu sering menggunakan earphone-mu..” ucap Taecyeon karena dia pernah meminjam earphone gadis itu hingga berbulan-bulan.

“Aku hanya ingin berkonsentrasi dengan pelajaranku, banyak orang-orang yang berbisik ketika melihatku. Jadi aku harus menyumbat telingaku..” jawab Fei.

Taecyeon tertegun. Sejujurnya dia mengetahui mengenai itu. Karena beberapa junior juga banyak yang menjuluki Fei ‘si gadis bodoh’ karena terus mengejarnya. “Oh.. begitu..” ucapnya, “Apa nanti sore kau ingin aku menjemputmu di asrama?”

“Aku ada urusan, tidak perlu..” ucap Fei.

Mata Taecyeon membesar menatap Fei, gadis di depannya seperti orang lain. Sebelumnya gadis itulah yang sering meminta bahkan sampai memohon agar dia mau mengantarkannya pulang.

Fei menutup bukunya dan memandang Taecyeon, “Masih ada yang ingin kau bicarakan? Aku harus kembali ke kelas..”

“Ani..” jawab Taecyeon pelan.

Fei tersenyum tipis, “Bye…” ucapnya dan langsung bangkit.

Taecyeon masih duduk di tempatnya sambil memperhatikan Fei pergi, “Ada apa dengannya?”

Malamnya.

Fei melangkah kembali ke asrama dengan kedua tangan di saku jaket dan tudung jaket yang menutupi rambutnya sambil bergumam mengikuti musik yang dia dengarkan. Langkahnya terhenti melihat Taecyeon berdiri tak jauh dari pagar masuk ke asramanya. Kakinya melangkah lagi menghampiri pria itu sambil melepaskan earphone dari satu telinganya, “Kenapa kau disini?”

Taecyeon menghela nafas dalam, “Kau tidak muncul saat pertandingan tadi..”

“Aku kan sudah bilang ada urusan..” jawab Fei, “Selamat malam..” ucapnya dan kembali melangkah.

Taecyeon mengikuti Fei dari belakang, “Apa kau pergi dengan seseorang?”

“Aniya..” jawab Fei sambil melangkah menaiki tangga.

“Ini sudah sangat malam, kemana kau pergi?” tanya Taecyeon lagi.

“Tidak kemana-mana..” jawab Fei dan berhenti di depan pintu kamarnya, lalu membuka pintu.

Taecyeon menarik tangan Fei sebelum masuk, membuat gadis itu memandangnya bingung. “Ada apa denganmu?”

Dahi Fei berkerut, “Apa maksudmu ada apa denganku?”

Taecyeon menatap Fei serius, “Kau mengacuhkanku. Tidak pernah menghubungiku lagi atau pun mengirimiku pesan. Juga tak pernah muncul di lapangan baseball. Ada apa denganmu? Kau marah padaku?”

Fei diam sejenak, “Ani, untuk apa aku marah padamu?”

“Lalu, kenapa kau seperti ini?” tanya Taecyeon tak mengerti.

Fei diam sejenak lagi, “Aku hanya lelah, sampai jumpa besok..” ucapnya, lalu berbalik masuk. Namun Taechyeon tetap menahan tangannya.

“Apa aku melakukan sesuatu yang salah?!” tanya Taecyeon setengah marah.

Fei memandang Taecyeon diam. Meskipun wajahnya tampak tanpa ekspresi, hatinya di dalam terasa sangat sakit. “Sesuatu? Kau sudah melakukan lebih dari seratus kesalahan..”

Taecyeon tertegun, lalu tersenyum cool. Itu selalu berhasil untuk meluluhkan hati wanita, “Tapi kau masih tetap mencintaiku kan?”

Fei merasa sakit. Air matanya hampir mengalir deras, namun dia berusaha menahannya. “Kau tidak bosan mendengarnya?” ucapnya, lalu masuk dan mengunci pintu.

Taecyeon tertegun di depan pintu kamar Fei, gadis itu bebar-benar berubah.

Begitu menutup pintu, air mata Fei langsung berjatuhan. Hatinya sangat sakit menyadari pria yang dia cintai setulus hati hanya menganggapnya seperti itu. Namun dia segera menyeka air matanya dan melangkah ke tempat tidur.

=Sekolah=

Fei merasa kepalanya sangat sakit. Dia sampai tak bisa menatap lurus ke depan saat guru sedang menerangkan materi. Namun begitu menunduk memandang buku tulisnya, tampak tetesan merah. Dia terkejut dan langsung memegang hidungnya, darah tak bisa berhenti keluar dari sana.

“Omo! Fei!!” seru teman sebangku Fei.

Istirahat.

Taecyeon berkeliling sekolah untuk mencari Fei, namun gadis itu tak terlihat dimana pun. Dia khawatir gadis itu akan bersama Nickhun. Tapi ternyata pemikirannya salah. Karena dia melihat Nickhun berlalu bersama teman-temannya. ‘Hmm.. berarti Fei tidak bersama anak itu, lalu dimana dia?’ batinnya bingung.

Akhirnya dia memutuskan untuk mencari gadis itu ke kelasnya, tetap tidak ada juga. ‘Great.. sekarang dia sudah  bisa menghilang di sekolah..’ batinnya kesal.

“Omo! Taecyeon, kenapa kau kemari?” tanya Jia, teman sekelas Fei yang juga anak cheerleaders, terkadang dia dan teman-teman cheersnya akan bergabung dengan anak baseball untuk berkumpul.

“Oh.. hei..” sapa Taecyeon canggung, karena dia tidak mengingat nama Jia. “Mmm.. aku ingin meminjam sesuatu dari Fei. Tapi dia tidak terlihat dimana pun. Dimana dia?” tanyanya memberi alasan.

“Hm? Oh.. Fei, dia ada di ruang kesehatan..” jawab Jia.

Taecyeon tertegun, “Kenapa dia disana? Dia sakit?”

“Tadi tiba-tiba Fei mimisan saat belajar..” jawab Jia.

Taecyeon tercekat, dia hampir menyerukan kekagetannya. Namun beruntung ia bisa menahannya, “Oh begitu.. baiklah.. terima kasih..” ucapnya, lalu melangkah pergi. Sejujurnya dia sangat khawatir pada Fei dan ingin mengetahui kondisinya.

Ruang Kesehatan.

Taecyeon memandang ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada yang memperhatikannya, lalu membuka pintu ruang kesehatan dan segera masuk. Tidak tampak ada perawat yang berjaga, jadi dia langsung melangkah ke tempat tidur yang di tutupi tirai pembatas. Perlahan dia membuka tirai itu dan mengintip siapa yang berbaring di tempat tidur. Seorang gadis berambut panjang bergelombang berwarna coklat berbaring membelakanginya dengan sebagian tubuh terselimuti selimut tipis. Dia menghela nafas dalam dan masuk sambil kembali menutup tirai itu, lalu duduk di sebelah tempat tidur di depan wajah Fei.

Wajah Fei terlihat pucat dan sangat tenang karena masih terlelap.

Taecyeon memperhatikan wajah Fei tak mengerti, ‘Kenapa dia bisa berubah tidak peduli padaku? Dia pasti akan mengadu padaku jika merasa sakit atau tidak nyaman akan sesuatu sebelumnya, tapi kenapa sekarang dia benar-benar berubah? Apa dia sudah mendapatkan orang lain? Pria itu?’ batinnya. ‘Ahhh.. ini memuakkan.. Mengapa aku jadi seperti ini?’ batinnya lagi kesal.

Riiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!!!

Taecyeon terkejut mendengar bunyi bel panjang itu karena Fei tampak mengerutkan dahinya kaget, “Aissh!!” gumamnya sambil segera menutup telinga gadis itu dengan tangannya. ‘Kenapa bunyi sebesar itu terdengar sampai kemari?!’ batinnya sambil memandang kearah speaker di luar tempat itu, lalu memandang wajah gadis itu yang kembali terlihat tenang. ‘Fiuuuh…’ batinnya lega sambil menarik tangannya perlahan dari telinga Fei. Untuk beberapa saat dia hanya duduk diam sambil memandangi gadis itu, bibirnya membentuk senyuman menyadari betapa cantiknya gadis di depannya. Ketika tangannya hendak bergerak menyentuh pipi gadis itu, dahi gadis itu berkerut menandakan dia telah terbangun. Dengan cepat dia menarik tangannya lagi.

Perlahan mata Fei terbuka, namun kembali terpejam dengan tangan memegang dahinya dan bergerak berbaring dengan punggungnya. “Aaahhhh…” rintihnya.

Taecyeon tertegun, “Waeyo? Kepalamu sakit?” tanyanya spontan.

Fei membuka mata dan tertegun ada Taecyeon disana, “Kenapa kau disini?”

Taecyeon bingung sendiri untuk menjawabnya, “Ne? Mmm.. aku.. mm.. hanya tak sengaja berlalu dan… emm.. dan…” dia berusaha mendapatkan ide yang pas untuk menjawab pertanyaan itu, “..dan perawat memintaku menjagamu sebentar karena dia ada urusan..” jawabnya asal.

Fei menatap Taecyeon curiga, namun dia tak ingin memikirkan alasan lainnya karena pria itu tak mungkin melakukannya karena dia ingin. Itu menurutnya, “Oh..” komentarnya singkat sambil kembali memejamkan mata dan memijat pelipisnya.

Taecyeon menghela nafas lega karena Fei tidak mencurigainya.

Fei membuka matanya dan memandang Taecyeon, “Pukul berapa sekarang?”

“Hm?” Taecyeon memandang Fei bingung, lalu memandang jam tangannya. “Pukul 3…”

“Hm? Oohhh.. aku melewatkan semua kelas..” ucap Fei lesu sambil tetap memijat pelipisnya.

Taecyeon memperhatikan Fei tanpa berkomentar.

Fei memandang Taecyeon bingung, “Kenapa kau masih disini? Pulanglah..”

“Ne? Kenapa kau menyuruhku pulang?” tanya Taecyeon heran.

“Karena jam pulang sudah berlalu satu jam yang lalu..” jawab Fei.

Taecyeon diam sejenak, “Mmm.. kau tidak ingin aku disini?”

Fei menghela nafas dalam, lalu bangkit duduk perlahan. “Aku sudah baik-baik saja..”

“Wajahmu masih sangat pucat..” ucap Taecyeon memberitau.

Fei memandang Taecyeon, “Aku tidak apa-apa.. Pergilah, sore ini kau ada latihan kan?” ucapnya, lalu menurunkan kaki ke sisi tempat tidur yang berlawanan dengan pria itu.

Taecyeon tertegun Fei masih mengingatnya, lalu segera berdiri untuk pergi ke sisi gadis itu.

Fei merasa kepalanya masih pusing, namun dia ingin segera kembali ke asramanya. Dia tidak bisa membolos bekerja. Tangannya berpegangan pada pinggiran tempat tidur karena kakinya gemetaran.

“Kau bisa berjalan?” tanya Taecyeon khawatir. Dia tak tau mengapa dia benar-benar khawatir melihat Fei seperti itu.

Fei memandang Taecyeon, “Gwenchana.. Kau bisa pergi.”

Taecyeon terdiam ditempatnya, dia sungguh ingin tetap disana. Namun dia tak ingin terlihat bodoh dengan membantu orang yang tidak ingin dia bantu, “Mmm.. baiklah..” ucapnya, lalu melangkah keluar dari ruang kesehatan.

Fei terpaku di tempatnya beberapa saat hingga mendengar suara pintu ruang kesehatan tertutup, kepalanya menoleh ke arah pintu. Membayangkan Taecyeon yang baru saja keluar, “Terima kasih Taecyeon..” gumamnya, lalu menunduk sedih. “Terima kasih memperdalam lukaku..” gumamnya lagi.

Taecyeon tidak pergi, dia masih berdiri tak jauh dari pintu ruang kesehatan. Ketika melihat pintu itu terbuka, dia segera masuk ke satu kelas dan mengintip ke arah pintu itu.

Fei keluar dari ruang kesehatan dan melangkah perlahan menuju kelasnya untuk mengambil tas. Namun beberapa langkah kepalanya kembali terasa sakit, tubuhnya terhuyung. Beruntung satu tangannya segera berpegangan pada dinding dan satu lagi memegang kepalanya.

Taecyeon hampir berlari keluar dari tempat persembunyiannya untuk membantu Fei jika Nickhun tidak tiba-tiba muncul, dahinya berkerut melihat pria itu menghampiri gadis itu.

“Fei! Gwenchana?” tanya Nickhun sambil merangkul Fei.

Fei tersenyum tipis pada Nickhun, “Ne.. hanya sedikit pusing..” jawabnya, dia juga menyadari pria itu membawakan tasnya. “Ohh.. terima kasih, Nickhun..”

Nickhun membantu Fei mengenakan tasnya dan memegang lengan gadis itu, “Ayo, aku akan membawamu kembali ke asrama..” ucapnya dan berjalan pelan bersama gadis itu.

Taecyeon hanya bisa memandangi Fei dan Nickhun pergi tanpa bisa melakukan sesuatu, ‘Kenapa kau membuatku merasa seperti ini?!’ batinnya tak mengerti.

=Setelah Ujian Akhir=

Fei menghela nafas berat sambil memandangi photo Taecyeon yang biasa terpajang di meja belajarnya, lalu memasukkannya ke dalam kardus. Itu adalah barang terakhir yang akan mengingatkannya pada pria itu. Dia menutup kardus itu dan memandang kardus-kardusnya yang lain. Dia akan segera meninggalkan asrama dan memasukkan barang-barang yang akan dia bawa nanti. Namun kardus yang ada di depannya ini berbeda, dia akan membuangnya. Membuang semua yang membuatnya teringat pada pria itu. Dia bangkit sambil membawa kardus itu keluar dari kamarnya. Ketika dia keluar dari asrama, langkahnya terhenti melihat Taecyeon berdiri di depan pagar. Dia menghela nafas dalam dan kembali melangkah.

Taecyeon mendengar suara langkah seseorang dan langsung menoleh, “Ohh.. Fei..” ucapnya dengan senyum canggung di wajahnya.

“Kenapa kau disini?” tanya Fei heran.

Taecyeon menghela nafas dalam, “Mmm.. aku ingin menanyakan beberapa hal..”

“Apa?” tanya Fei.

Taecyeon menatap Fei serius, “Apa kau membenciku?”

Fei diam sejenak, “Hmm.. Ani..”

“Lalu, kenapa kau berubah? Kau tidak seperti dirimu.. Aku tidak mengenal siapa kau sekarang..” ucap Taecyeon tak mengerti.

Fei tersenyum tipis, “Mungkin kau memang tidak pernah mengenalku..” ucapnya, lalu tertawa kecil. “Lagipula, untuk apa kau mengenalku..” ucapnya lagi, lalu melangkah ke tempat pembuangan sampah tak jauh dari pintu gerbang masuk asrama dan meletakkan kardusnya disana.

Taecyeon memperhatikan Fei hingga kembali berlalu di depannya, namun gadis itu tak berhenti dan hanya melangkah masuk ke gedung asrama. Dengan cepat tangannya terulur menarik tangan gadis itu, “Fei.. Apa yang membuatmu seperti ini?”

Fei diam sejenak, lalu memandang Taecyeon. Lalu tersenyum tipis, “Kenapa? Kau ingin tau kenapa aku?” tanyanya, namun pria itu justru mengerutkan dahinya bingung. Dia memandang lurus kedepan, “Aku tidak apa-apa.. Hanya terlalu lelah akan sesuatu..” ucapnya pelan, lalu menoleh pada Taecyeon. “Lelah akan dirimu..”

Taecyeon tertegun dan tidak tau harus mengatakan apa.

Fei melepaskan tangan Taecyeon, “Kita akan menjalani hidup yang lebih serius sekarang, selamat tinggal..” ucapnya, lalu kembali melangkah.

“Fei..” panggil Taecyeon sebelum Fei masuk, gadis itu berhenti dan berbalik memandangnya. Matanya menatap gadis itu penuh sesal, “Apakah kata maaf bisa mengembalikan semuanya?”

Fei menatap Taecyeon sedih, lalu tersenyum tipis. “Tidak akan ada yang berubah sekarang..” ucapnya, lalu berbalik dan kembali melangkah masuk.

Taecyeon sangat menyesali semuanya, dia hanya ingin Fei kembali padanya. Namun dia terlambat menyadari betapa pentingnya gadis itu.

=5 Tahun Kemudian=

Taecyeon menjalani hidupnya dengan baik dan sekarang sudah berhasil menjadi jendral menajer sebuah Mall besar di Seoul. Namun kesalahannya di masa lalu, membuatnya tak bisa melangkah maju untuk menemukan orang lain dihidupnya. Mungkin itu adalah hukuman untuknya. Hari itu, dia melangkah di sekitar pusat perbelanjaan untuk melihat pelayanan dari para pekerjanya. Beberapa kali dia menganggukan kepala saat ada staff yang menyapanya.

Tak lama dia tertegun melihat seorang pekerja wanitanya membungkuk sopan pada seorang pria dan tampak sangat menyesal, sepertinya sesuatu telah terjadi. Jadi dia langsung melangkah ke sana, “Maaf ada apa ini?” tanyanya.

“Oh.. sajangnim..” ucap pekerja itu dengan kepala tertunduk.

Sementara Taecyeon terpaku menatap siapa pria yang berdiri di hadapannya.

Pria yang tak lain adalah Nickhun itu juga terpaku menatap Taecyeon, “Oh.. bukankah kau Ok Taecyeon?”

Mata Taecyeon menyipit memandang Nickhun, “Aku tidak ingat namamu, tapi aku tau siapa kau..” ucapnya, lalu memandang pekerjanya tadi. “Apa yang terjadi?”

“Gwenchana, dia hanya melakukan kesalahan kecil..” ucap Nickhun.

Taecyeon memandang Nickhun, “Apa?”

“Dia hanya tak sengaja menukar cincin yang kupesan dua minggu lalu untuk kekasihku..” ucap Nickhun santai.

Mata Taecyeon membesar, lalu menatap pekerjanya marah.

“Tidak apa-apa, aku sudah mendapatkannya kembali..” ucap Nickhun, lalu memegang bahu pekerja tadi, “Pekerjaanmu sudah bagus.. permisi..” ucapnya, lalu melangkah pergi.

Taecyeon menghela nafas dalam, “Kembali bekerja..” ucapnya pada pekerjanya itu.

“Ne, sajangnim..” jawab gadis itu dan segera berbalik pergi.

Taecyeon memandang Nickhun yang berjalan pergi, dia ingat pria itu adalah teman Fei. Lalu segera mengejar pria itu. “YA.. tunggu..”

Nickhun berhenti dan memandang Taecyeon heran, “Namaku Nickhun!”

“Ne, maaf.. aku tidak ingat namamu..” ucap Taecyeon, “Aku ingin menanyakan sesuatu..”

Nickhun memandang jam tangannya, lalu kembali memandang Taecyeon. “Baiklah, aku masih punya waktu. Ada apa?”

“Apa kau.. mmm..” Taecyeon ragu untuk bertanya, “Mmm.. apa kau masih berhubungan dengan Fei?”

Nickhun diam sejenak, “Fei?” ulangnya, “Hmm.. masih..”

Taecyeon sangat lega mendengarnya, dia berusaha keras menahan senyumannya. “Apa kau tau dimana dia sekarang?”

Nickhun tersenyum tipis, “Kau ingin tau dimana dia?”

Taecyeon menatap Nickhun kesal, “Bisakah kau tidak mengulang ucapanku?”

Nickhun menahan tawanya, “Dia bekerja di sebuah hotel..”

“Lebih spesifik!” ucap Taecyeon semakin kesal.

“Hotel A, dia kepala koki di restaurannya..” jawab Nickhun, lalu melangkah pergi.

Taecyeon tersenyum senang, “Hotel A..”

=Restauran sebuah Hotel=

Fei melepaskan celemeknya dan masuk ke ruang ganti, tak lama dia sudah mengenakan baju biasa dan tas di satu bahunya. “Aku pergi, jangan lupa pastikan semuanya tersimpan dengan baik..” ucapnya sebelum keluar, lalu melangkah cepat menuju parkiran mobil.

Taecyeon yang duduk di lobby hotel tertegun melihat Fei melangkah cepat keluar dari hotel itu, dia sampai tak berkedip beberapa saat karena gadis itu tampak semakin cantik. Bibirnya membentuk senyuman dan segera bangkit untuk mengejar gadis itu.

Fei menekan kunci otomatis mobilnya dan hendak membuka pintu.

“Fei..” panggil Taecyeon.

Fei berhenti dan memandang siapa yang memanggilnya, dia sempat terpaku melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

“Kau mengingatku kan?” tanya Taecyeon.

Fei diam sejenak, “Hmmm..” gumamnya sambil mengangguk.

Taecyeon tersenyum tipis, “Bisakah kita berbicara sebentar?”

Fei memandang jam tangannya, “Mmm.. aku tidak bisa sekarang..”

Taecyeon agak kecewa mendengarnya, “Bagaimana jika besok?”

Fei berpikir sejenak, “Mmm.. datanglah besok siang kemari. Aku akan mentraktirmu makan…” ucapnya, lalu masuk ke dalam mobilnya.

Taecyeon hanya berdiri di tempatnya memperhatikan mobil Fei pergi, lalu tersenyum lebar karena akhirnya dia bisa bertemu gadis itu lagi.

Keesokan siangnya.

Fei mengintip dari pintu dapur untuk memastikan Taecyeon benar-benar datang atau tidak. Dia tertegun melihat pria itu duduk di sebuah meja seorang diri.

“Chef.. apa kau butuh sesuatu?” tanya Amber, seorang chef pemula yang selalu bergaya tomboy.

Fei memandang chef muda itu, “Mmmm.. aku akan menyiapkan makanan..” ucapnya dan langsung melangkah.

Taecyeon memandang jam tangannya, sudah hampir setengah jam dia disana namun Fei belum muncul. ‘Apa dia tidak ingin bertemu denganku? Mengapa dia lama sekali?’ batinnya kahwatir. Namun tak lama dia melihat seorang gadis mengenakan pakaian koki menghampiri mejanya dan meletakkan sepiring makanan di hadapannya.

“Ini, traktiranku..” ucap Fei.

Taecyeon tersenyum, “Apa aku bisa berbicara sebentar denganmu?”

Fei memandang ke dapur sejenak, lalu kembali memandang Taecyeon. “Kurasa bisa..” ucapnya dan bergerak duduk di hadapan pria itu.

Taecyeon senang Fei tidak menolaknya, “Apa kabarmu?”

“Aku baik-baik saja, kau?” tanya Fei.

“Aku juga, apalagi setelah bertemu denganmu..” jawab Taecyeon.

Fei tersenyum tipis, “Hmm.. begitu..”

Taechyoen sangat senang bisa berhadapan dengan Fei lagi hingga tak bisa mengatakan apa pun dan hanya menatap gadis itu sambil tersenyum.

“Kenapa kau memandangku terus?” tanya Fei.

“Aku hanya terlalu senang..” jawab Taecyeon jujur.

Fei tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan kiri.

Senyum Taecyeon memudar dan dahinya berkerut melihat cincin yang melingkar di jari manis Fei, spontan dia langsung menarik tangan gadis itu dan menatap cincin itu tak percaya. “Kau… sudah.. menikah?” tanyanya ragu.

Fei memandang Taecyeon dalam diam sejenak, “Ani.. ini cincin pertunanganku..”

Ada rasa lega mengetahui Fei belum menikah, juga ada rasa kecewa karena gadis itu ternyata sudah bertunangan.

Fei menarik tangannya karena Taecyeon masih memegangnya.

“Ow.. maaf..” ucap Taecyeon menyesal.

Hening..

“Mmm.. bagaimana kau tau aku bekerja disini?” tanya Fei ingin tau.

“Ohh.. itu.. beberapa hari lalu aku bertemu Nickhun..” jawab Taecyeon.

“Oh.. Nickhun..” komentar Fei.

Taecyeon memandang Fei ingin tau, “Fei, boleh aku tau siapa tunanganmu itu?”

Fei tertegun, lalu tersenyum. “Nickhun tidak memberitaumu?”

Taecyeon bingung mengapa Fei tersenyum, lalu menggeleng. “Ani..”

Fei tertawa kecil, “Benar-benar dia..”

“Kau bisa memberitauku?” pinta Taecyeon.

Fei menatap Taecyeon, “Nickhun..”

Dahi Taecyeon berkerut, “Ada apa dengan Nickhun?”

Fei kembali tersenyum, “Nickhun, adalah tunanganku..”

Taecyeon tercekat, “Nick.. Nickhun?”

Fei mengangguk, “Ne, Nickhun..”

Taecyeon merasa hancur. Rasanya tidak ada yang bisa dia katakan lagi sekarang. Bahkan setelah beberapa hari setelah pertemuannya dengan Fei dia tak bisa memikirkan apa pun selain penyesalannya. Dulu saat gadis itu selalu ada untuknya, dia tak memperlakukan gadis itu dengan baik. Bahkan hanya mengangapnya sesuatu yang bisa dia manfaatkan.

=Apartemen Taecyeon=

Taecyeon duduk di sofa sambil memandangi baju seragam baseball-nya saat SMA dulu, biasanya Fei yang selalu mengingatkannya membawa seragamnya itu. “Fei.. bagaimana caraku mengembalikan waktu?” gumamnya pelan.

=Apartemen Fei=

Fei menghampiri Nickhun di ruang tengah dengan segelas minuman dan duduk di sebelah pria itu. Dia tersenyum melihat pria itu bersandar lesu, “Ada apa lagi denganmu?”

Nickhun memandang Fei bingung, “Fei.. Eomma ingin aku segera menikahimu..”

Fei tertegun, “Hm? Apa kau tidak bisa memberikan alasan lagi?”

Nickhun mengusap wajahnya frustasi, “eomma sudah mengatur semuanya.. Lihat ini..” ucapnya sambil memberikan sebuah map pada Fei.

Fei mengambil map itu dan melihat isinya, matanya membesar melihat itu semua persiapan pernikahan dan bahkan daftar tamu. “Hm? Oh tidak! Dua bulan lagi?” ucapnya sambil menatap Nickhun tak percaya.

Nickhun mengangguk, “Ne.. eoteokhe?”

Fei tampak bingung, “Lalu, bagaimana dengan kekasihmu?”

Nikchun mengacak-acak rambutnya, “Victoria tak mau melanjutkan hubungan lagi jika ibuku tidak merestui kami juga hingga pertengahan tahun ini.. Dan setelah dia melihat tentang ini..” dia menunjuk map itu, “..dia memutuskan hubungan kami dan memintaku tidak menghubunginya lagi..” ucapnya frustasi.

Fei menatap Nickhun menyesal, “Apa sebaiknya kita membatalkan pertunangan saja?”

Nickhun menghela nafas berat, lalu kembali bersandar pada sofa. “Entahlah.. Aku belum memutuskannya..”

Fei ikut bersandar sambil menghela nafas berat berkali-kali, lalu memandang Nickhun. “Kalau begitu aku akan menyewa apartemen dan akan segera memindahkan barang-barangku..”

Nickhun menatap Fei kaget, “Ne? Aniya.. jangan melakukan itu..”

Fei menunduk sedih, “Bagaimana pun apartemen ini diberikan ibumu kan karena berpikir aku akan menikah denganmu, tapi jika aku tidak menikah denganmu tentu aku harus mengembalikannya..”

Nickhun diam sejenak, lalu mengelus rambut Fei. “Maaf, aku jadi merepotkanmu..”

Fei menggeleng, lalu tersenyum tipis. “Gwenchana.. Kita kan teman, wajar jika saling membantu..”

Nickhun menghela nafas dalam dan menatap Fei serius, “Kurasa sebaiknya kita menikah saja..”

Fei menatap Nickhun bingung, “Wae?”

“Jika kita membatalkan pertunangan ini, eomma-ku pasti tau tentang kebohongan kita dan juga tentang dirimu yang membantuku tetap berhubungan dengan Victoria. Eomma sangat menyayangimu seperti putrinya, dia pasti akan terluka mengetahui kita hanya membohonginya mengenai pertunangan ini. Kau juga pasti akan terluka.. Jadi, kupikir kita bisa memulai hubungan baru dan menikah.” Jawab Nickhun.

Fei diam sejenak memandang Nickhun, “Menurutmu begitu?”

Nickhun mengangguk, “Tidak apa-apa kan?”

Fei tersenyum, “Jika kau memang menginginkannya, aku tidak keberatan. Hidup denganmu pasti menyenangkan..”

Nickhun tersenyum, “Oke.. aku akan mencari waktu agar bisa bertemu keluargamu di Hainan..”

Fei mengangguk, “Baiklah..”

-Fei’s POV-

Aku akan memulai semuanya dengan serius. Selama ini, sejak lulus kuliah dan mulai bekerja, aku berpura-pura menjadi tunangan Nickhun karena ibunya tidak menyukai Victoria. Tapi sekarang Nickhun yang menginginkanku menikah dengannya, aku tidak keberatan. Karena kami sudah lama mengenal dan telah mengetahui satu sama lain dengan baik. Paling tidak dia bukan pria seperti Taecyeon yang selalu memanfaatkanku.

“Chef, ada yang mencarimu..” ucap seorang stafku.

Aku menoleh, “Siapa?” tanyaku.

“Aku..”

Aku memandang siapa yang berbicara, ternyata Taecyeon. Aku tertegun melihatnya membawa sebuket bunga indah ditangannya, “Taecyeon?”

Taecyeon melangkah maju dan berlutut dengan satu kaki di depanku, aku sangat terkejut melihatnya seperti itu.

“Taecyeon! Apa yang kau lakukan?!” tanyaku kaget dan menariknya bangkit namun pria itu tak bergerak.

Taecyeon mengangkat buket bunga itu dan menyodorkan sebuah kotak berisi cincin di dalamnya, “Fei, I Love You.. Would you marry me?” tanyanya.

Mataku membesar mendengar ucapannya, meskipun Nickhun sekarang adalah calon suamiku. Aku tidak pernah mendengar pertanyaan itu darinya. Karena sebenarnya hubungan kami sejak awal memang hanya kamuflase.

Terdengar bisik-bisik dari para stafku, mereka tampak tersentuh. Tentu saja, mereka tidak tau mengenai hubungan pura-puraku dengan Nickhun.

Taecyeon masih menatapku penuh harap, “Fei?”

Aku tidak tau mengapa aku merasa bimbang. Setelah 5 tahun berlalu, aku tak pernah menjalin hubungan selain Nickhun yang selalu disisiku. Tapi kami hanya berteman. Hatiku masih merasakan keberadaan Taecyeon. Namun sekarang aku akan segera menikah dengan Nickhun. Tidak mungkin aku menerima lamaran pria lain.

“Fei, aku tau semua kesalahanku.. Semua ini memang kesalahanku.. 5 tahun lalu aku bersalah karena telah menyia-nyiakanmu..” ucap Taecyeon menyesal.

Aku menunduk sedih sesaat, lalu memandangnya. “Ikut aku..” ucapku, lalu melangkah menuju ruang loker dan masuk. Tak lama Taecyeon ikut masuk.

“Kau belum menjawabku..” ucap Taecyeon.

Aku berbalik dan memandangnya, “Taecyeon, kenapa kau melakukan ini? Kau tau aku sudah bertunangan dengan Nickhun..”

“Karena kau baru bertunangan dengannya, aku akan terlebih dulu melamarmu..” ucap Taecyeon yakin.

Aku sedih semua ini tidak terjadi sebelum pembicaraanku dengan Nickhun beberapa malam lalu.

Taecyeon menatap kedua mataku, “Apa kau tidak mencintaiku lagi? Apa rasa itu telah hilang setelah 5 tahun?”

Aku berusaha keras menahan air mataku, “Dua bulan lagi, di hotel M, aku akan segera menjadi istri Nickhun..”

Taecyeon tertegun, “Ne? Fei..”

Aku menunduk sedih, “Kumohon jangan temui aku lagi..”

“Tapi Fei..” Taecyeon menyodorkan kotak cincin tadi, namun tangannya kembali jatuh lemas. “Maafkan aku..” ucapnya penuh sesal.

“Sudah tidak ada yang perlu dimaafkan..” ucapku, lalu melangkah keluar sebelum air mataku jatuh.

=Beberapa Saat Kemudian=

Untuk pertama kalinya, Nickhun menjemputku untuk makan siang sebagai tunanganku. Kami makan di sebuah restauran untuk membangun perasaan lebih dekat secara emosional.

“Eomma sudah membuat janji dengan toko baju pengantin, kapan kau ada waktu? Kita harus kesana bersama..” ucap Nickhun.

“Mmmm..” aku berusaha mengingat kapan waktu luangku, “Mungkin lusa.”

Nickhun tersenyum, “Baiklah, lusa aku akan menjemputmu lagi..”

Aku tersenyum dan kembali makan. Kulihat dia mengeluarkan ponselnya dan memandang layar ponselnya, wajahnya tampak berubah datar.

“Maaf, sebentar..” ucapnya, lalu melangkah pergi.

Aku memperhatikannya berbicara, sepertinya pembicaraan yang cukup berat. Saat kembali juga wajahnya terlihat tegang. “Siapa?” tanyaku ingin tau.

Nickhun menatapku bingung, “Hm? Ohh.. ha.. hanya.. mm.. seseorang..” ucapnya gugup dan kembali memandang makanannya.

Dahiku berkerut, “Apakah Victoria?”

Nickhun tertegun menatapku, “Mmm.. ne..”

“Oh..” komentarku, “Apa yang dia katakan?”

Nikchun diam sejenak, “Hmm… dia hanya.. ah.. sudahlah.. tidak perlu membicarakan Victoria..” ucapnya sambil tersenyum.

Meskipun dia tersenyum, aku bisa melihat ekspresi sedihnya, lalu menunduk memandang makananku. Aku mengetahui bagaimana perasaan Nickhun pada Victoria. Dia selalu menceritakan semua yang dia rasakan padaku. Karena aku sahabat terbaiknya. Setelah bertahun-tahun perasaannya tidak pernah berubah pada gadis itu. Aku tidak pernah mempermasalahkannya, namun sekarang  dia adalah calon suamiku. Apa aku akan membiarkannya menikah dengan gadis yang tidak dia cintai? Apa dia akan bahagia? Aku sudah terbiasa dengan perasaan hampa dan menjalani hidup tanpa cinta, tapi dia berbeda.

“Fei?” panggil Nickhun heran.

Aku memandangnya, “Ne?”

“Ada apa?” tanya Nickhun ingin tau.

Aku menggeleng, “Aniya..”

-Fei’s POV end-

=Wedding Dress Shop=

Fei berdiri memandangi dirinya dengan balutan baju pengantin. Baju itu tampak pas di tubuhnya, namun dia tak merasa bahagia mengenakannya.

“Nona, calon suami anda sudah menunggu..” ucap seorang pelayan disana.

“Ne..” ucap Fei, lalu melangkah keluar.

Nickhun tersenyum melihat Fei tampak cantik dengan balutan baju pengantin itu, “Wuaah.. kau cantik sekali..”

Fei tersenyum, “Terima kasih..”

Nickhun memperhatikan Fei dari atas ke bawah begitu juga sebaliknya, namun perlahan senyumannya memudar meskipun dia berusaha mempertahankannya.

Fei sangat sedih melihat senyuman palsu Nickhun, mata pria itu tak bisa menyembunyikan perasaannya. Dia menghela nafas dalam, “Kenapa Nickhun?”

Nickhun menggeleng, “Ani, aku hanya berpikir bagaimana ekspresi eomma ketika melihatmu seperti ini..”

“Mungkin eomma-mu akan tersenyum lebar..” ucap Fei.

Nickhun tersenyum, “Mungkin..”

Fei diam sejenak sambil menatap Nickhun dalam, “Nickhun.. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu..” ucapnya.

“Apa?” tanya Nickhun.

Fei menghela nafas sejenak, “Mmm.. Aku.. aku hanya ingin tau.” Ucapnya, “Apakah setelah menikah kau bisa belajar mencintaiku?”

Nickhun tertegun, lalu memalingkan wajahnya bingung.

Fei memperhatikan ekspresi wajah Nickhun, lalu menunduk sedih.

Nickhun memandang Fei, “Aku akan berusaha..”

Fei kembali memandang Nickhun dengan tatapan tak percaya, perlahan bibirnya membentuk senyuman.

Nickhun tersenyum.

=Tempat Bekerja Taechyeon=

Taechyeon masuk ke toko cincin tempat dia tak sengaja bertemu Nickhun ketika itu.

“Sajangnim, ada yang bisa kubantu?” Tanya YeEun, manajer toko perhiasan itu.

“Mmm..” Taechyeon menghampiri YeEun yang berdiri dibalik meja, “Aku ingin mencaritau tentang seorang pelanggan bernama Nickhun. Dia teman lamaku.. beberapa saat lalu dia memesan cincin untuk tunangannya, apakah aku bisa melihat bagaimana desainnya?”

YeEun diam sejenak, “Sebentar sajang-nim..” ucapnya, lalu mencari sesuatu di computer. “Tuan Nickhun..” ucapnya, lalu mengambil sebuah kertas dan memberikannya pada Taecyeon.

Taechyeon mengambil kertas yang merupakan gambar contoh cincin yang dipesan Nickhun, sangat indah. “Mmm.. apa dia mengukir sesuatu di cincin ini?”

YeEun memandang layar computer lagi, “Ne, sajangnim.. ada ukiran V di cincin itu..”

“Oh..” ucap Taechyeon sambil mengangguk, “NE?! V atau F?”

YeEun memandang Taechyeon bingung, “V, sajangnim..”

Dahi Taechyeon berkerut, “V? Vei? Tidak mungkin..” gumamnya sendiri.

“Tuan Nickhun juga memesan sepasang cincin untuk hari pernikahannya, sajangnim. Dia akan mengambilnya besok..” ucap YeEun memberitau.

Taechyeon tertegun, “Ne? bisa aku melihatnya?”

YeEun mengambil sesuatu di lemari dibelakangnya dan memberikan sebuah kotak cincin sambil membukanya didepan Taechyeon.

Taechyeon tertegun melihat betapa cantiknya sepasang cincin itu. Tangannya mengambil cincin dengan berlian diatasnya, lalu melihat ukiran nama Nickhun didalamnya. Sebaliknya di cincin tanpa berlian tertera ukiran nama Fei. Dia sempat merasa sangat sedih beberapa detik, karena gadis itu tidak akan menjadi miliknya. Namun kemudian dia mengingat cincin yang sebelumnya, ‘Tunggu, V itu berarti bukan Fei! Hmm.. sepertinya ada sesuatu yang tidak beres disini..’ batinnya sambil mengembalikan cincin itu kedalam kotak, “Baiklah, terima kasih..” ucapnya, lalu melangkah pergi.

Taechyeon mengeluarkan ponselnya dan menghubungi asistennya.

“Ne, sajangnim..” sapa seorang pria diseberang.

“Im Jaebeom, temui aku di ruangan sekarang..” Ucap Taechyeon dan langsung menuju ruangannya.

Begitu tiba di ruangannya, tampak pria muda mengenakan setelan jas rapi berwarna hitam sudah menunggu Taechyeon. Itu adalah asisten pribadinya, Im Jaebeom.

Jaebeom membungkuk sopan, “Ne, sajangnim..”

Taechyeon duduk di mejanya sambil memandang Jaebeom, “Aku ingin kau mencaritau tentang seseorang..” Ucapnya serius.

Jaebeom tertegun mendengar keseriusan dalam suara Taechyeon.

=Dapur=

-Fei’s POV-

“Chef, ada yang mencarimu..” Ucap Amber.

Aku memandang Amber, “Siapa?”

“Aku tidak tau, seorang wanita.. Dia menunggumu di meja tengah..” Jawab Amber.

Aku diam sejenak memikirkan siapa yang kira-kira mencariku, “Baik, kembali bekerja..” Ucapku, lalu melepaskan celemek dan berjalan keluar dari dapur sambil mengedarkan pandanganku. Aku menebak-nebak siapa yang ingin bertemu denganku.

“Fei..” Panggil seseorang.

Aku menoleh ke arah suara itu dan tertegun melihat Ibu Nickhun melambai padaku dengan senyuman lebar di wajahnya, dia bersama kakak Nickhun, Sunye. Aku tersenyum dan segera menghampirinya. “Annyeonghaseo, eommanim.. Eonni..” Sapaku sambil membungkuk sopan.

“Maaf, apa kau sibuk?” Tanya Ibu Nickhun.

“Aniya, eommanim..” Jawabku sopan. “Kenapa eommanim dan eonni tidak menghubungiku dulu? Aku bisa menyiapkan hidangan spesial..”

“Hahaha.. Tidak perlu, kami hanya ingin mampir.. Apa kau bisa duduk sebentar?” Tanya Sunye.

“Ne..” Jawabku sambil bergerak duduk.

Ibu Nickhun memegang tanganku dan tersenyum, “Eomma sudah melihat photomu dan Nickhun saat mencoba baju pengantin, kau sangat cantik..”

Aku tersipu mendengar ucapan ibu Nickhun, “Terima kasih, eommanim..”

“Fei, temanku mempunyai toko kue yang biasa membuat kue pernikahan. Kau ingin kutemani melihat-lihat kesana?” Tanya Sunye.

“Mmm.. Wuaah.. Aku jadi merepotkan..” Ucapku segan.

“Ahhh.. Gwenchana, kita akan segera menjadi saudari..” Ucap Sunye.

Aku tak bisa berhenti tersenyum mendengarnya.

=Apartemen=

Aku memarkirkan mobilku di parkiran basement seperti biasa, setelah itu membuka safety belt dan mengambil tas sambil membuka pintu. Lalu keluar dari mobil. Ketika hendak berjalan ke pintu masuk, langkahku terhenti karena melihat Nickhun sudah menungguku.

Nickhun tersenyum sambil melambai. Aku membalas senyumannya dan segera menghampirinya.

“Hei, kenapa kau disini?” Tanyaku sambil melangkah bersamanya.

“Well, aku ingin memberi kejutan pada sahabatku..” Jawab Nickhun sambil membenturkan bahunya padaku pelan.

Aku tertegun mendengar ucapannya, dia baru saja berkata ‘sahabatku’?

“Oh.. Maksudku, calon istriku..” Ucap Nickhun memperbaiki.

Aku tertawa kecil, “Tidak perlu diperbaiki, aku juga belum terbiasa dengan itu..”

Nickhun tertawa kecil sambil mengelus belakang kepalanya.

Setibanya di apartemenku, Nickhun langsung duduk dan terlihat sedikit gugup. Aku bertanya-tanya mengapa dia seperti itu.

Aku duduk disebelahnya sambil meletakkan minuman soda, “Ada apa Nickhun? Kau tampak gugup..”

Nickhun menatapku, seperti ada sesuatu yang mengganggunya. “Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan..”

Aku tertegun mendengar nada bicaranya, “Tentang pernikahan itu?”

Nickhun mengangguk berat, “Ne..”

“Waeyo?” Tanyaku ingin tau.

Nickhun menggigit bibir bawahnya ragu, “Mmm.. Aku ingin bertanya lagi padamu, apa kau yakin akan menikah denganku?”

Aku diam sesaat, “Mmm.. Sepertinya kau yang tidak yakin akan menikah denganku..”

“Ani, maksudku..” Nickhun tampak bingung mengatakan maksudnya.

“Kau tidak ingin menikah denganku?” Tebakku.

Nickhun tampak terkejut mendengar tebakanku dan menatapku kaget, dari tatapannya aku tau jawabannya adalah ‘iya’. “Aniya.. Bukan seperti itu..” Ucapnya pelan.

“Lalu?” Tanyaku.

“Mmm.. Aku hanya..” Nickhun mengelus belakang kepalanya bingung.

“Victoria?” Tebakku lagi.

Nickhun kembali menatapku kaget. Sekian lama bersahabat dengannya membuatku bisa menebak apa yang dia pikirkan. “Ne, tapi…”

“Kau tidak bisa melupakannya?” Tebakku memotong ucapannya.

Mulut Nickhun terbuka mendengar ucapanku, “Aaaa… Bagaimana kau tau apa yang kupikirkan?”

Aku menghela nafas dalam dan menunduk, “Hanya menebak..”

“Mmm.. Fei, aku tidak keberatan menikahi gadis baik dan luar biasa sepertimu. Tapi, aku takut kau tidak bahagia bersamaku..” Ucap Nickhun menyesal.

Aku memandang Nickhun tanpa mengatakan apa pun. Sejujurnya aku tidak mengerti mengapa bisa berada di situasi seperti ini.

“Mmm.. Aku memikirkan sebuah cara yang mungkin bisa menyelesaikan masalah ini..” Ucap Nickhun.

“Apa itu?” Tanyaku ingin tau.

“Bagaimana jika kita buat perjanjian pranikah?” Ucap Nickhun bertanya.

Dahiku berkerut berusaha mencerna ucapannya, namun sepertinya aku bisa menebak lagi apa yang dia pikirkan. “Apa kau berencana melakukan pernikahan berkala denganku?”

Mata Nickhun membesar, “Fei! Berhenti membaca pikiranku!” Ucapnya shock.

Aku jauh lebih terkejut, namun aku tak memperlihatkannya. “Kenapa kau ingin seperti itu?”

Nickhun mengelus pundaknya lagi, “Mmm.. Karena, kau pasti juga ingin kebahagiaanmu. Dan kurasa aku tidak bisa memberikannya. Jujur saja aku takut sekali melukaimu, karena kau sahabat terbaikku..”

‘Kau sedang melukaiku sekarang..’ Batinku, “Hmm.. Lalu apa yang kau rencanakan?”

“Begini, kita bisa menjalani pernikahan selama setahun.. Lalu berpisah, tapi kau tenang saja. Apartemen ini, juga semua yang kita beli selama pernikahan adalah milikmu.. Jadi kau tidak akan kehilangan apa pun.. Bagaimana?” Tanya Nickhun.

Aku diam menatapnya, lalu menghela nafas dalam. “Mmm.. Apa kau tidak bisa mencoba hubungan ini?”

Nickhun menatapku menyesal, “Aku ingin.. Tapi, aku sudah menganggapmu seperti saudariku. Bagaimana aku bisa mencintai saudariku?”

“Hmm..” Gumamku mengerti, “Tapi, bagaimana dengan ibumu?”

“Aku akan berperan sebagai suami jahat beberapa bulan sebelum kita berpisah..” Jawab Nickhun.

“Jika itu yang kau rencanakan, baiklah..” Ucapku.

Nickhun masih menatapku menyesal, “Aku egois ya?”

Aku tersenyum tipis, “Sedikit..”

“Maaf..” Ucap Nickhun sambil menunduk.

Aku hanya tersenyum pedih.

-Fei’s POV end-

=Ruang kerja Taechyeon=

Dahi Taechyeon berkerut membaca berkas di tangannya, “Hmm.. Jadi V itu Victoria?”

“Ne, sajangnim..” Jawab Jaebeom membenarkan, “Mereka sudah bersama untuk waktu yang lama..”

Taechyeon mengangguk mengerti, ‘Lalu, kenapa malah bertunangan dengan Fei?’ Batinnya tak mengerti.

“Sajangnim, gadis bernama Fei itu sesuai informasi yang kudapatkan adalah sahabat tuan Nickhun sejak sekolah dulu..” Jelas Jaebeom seperti dapat membaca pikiran Taechyeon.

“Ne, aku tau tentang itu..” Ucap Taechyeon, “Apakah Nickhun dan Victoria masih berhubungan hingga sekarang?”

Jaebeom tampak berpikir, “Aku tidak begitu yakin juga, sajangnim..”

=Mall=

Fei berjalan menelusuri toko baju sambil melihat-lihat, dia ingin membeli baju yang akan dia kenakan untuk acara makan malam bersama keluarga Nickhun besok malam.

Saat itu, Taechyeon juga sedang berkeliling untuk melihat situasi disana. Dia tertegun melihat Fei, bibirnya membentuk senyuman dan segera menghampiri gadis itu.

Fei masih asik memperhatikan baju hingga tak menyadari Taechyeon sudah berdiri di hadapannya. Duk.. Dia terkejut menabrak seseorang dihadapannya, “Ow.. Ma…” Ucapannya terputus melihat Taechyeon.

Taechyeon tersenyum, “Hei..”

Fei memandang Taechyeon bingung, “Hei, kenapa kau disini?”

“Mmm.. Aku bekerja disini..” Jawab Taechyeon.

“Ooh.. Aku tidak tau..” Ucap Fei.

“Kulihat kau sedang memilih baju, butuh bantuanku?” Tanya Taechyeon menawarkan diri.

Fei diam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Jika tak merepotkan..” Jawabnya.

Taechyeon tersenyum dan membawa Fei melihat ke bagian baju-baju kasual feminim, dia akan memperlihatkan selera fashionnya. Berharap akan membuat gadis itu terkesan. “Jadi, acara seperti apa yang akan kau datangi?”

“Mmm.. Hanya makan malam..” Jawab Fei.

Taechyeon mulai mencari beberapa baju dan mencocokkannya ke tubuh Fei, lalu mengambil rok selutut bergaya sederhana dan memberikannya pada gadis itu. “Ini, kau bisa mencobanya..”

Fei terseyum tipis, “Aku akan mencobanya..” Ucapnya, lalu masuk ke ruang ganti.

Taechyeon menunggu sambil melihat baju-baju lain jika Fei tidak menyukai pilihannya. Beberapa kali staffnya menyapa ketika berlalu, dia hanya mengangguk.

Fei keluar dari ruang ganti dan memperhatikan dirinya lagi didepan cermin, “Hmm.. Tidak buruk..”

Taechyeon memperhatikan Fei dan menahan tawa, “Pinggangmu masih kecil seperti dulu, Fei.. Lihat, kau koki terkurus yang pernah kutemui..” Ucapnya sambil mengangkat pergelangan tangan gadis itu.

Fei tertegun mendengar ucapan Taechyeon, dia tak tau pria itu juga memperhatikannya.

Taechyeon memandang Fei bingung, “Wae? Aku mengatakan sesuatu yang salah?”

Fei menarik tangannya yang masih dipegang Taechyeon dan kembali memperhatikan dirinya, “Ani, aku hanya tak tau kau juga memperhatikanku dulu..”

Taechyeon tertegun, “Tentu saja, kau kan kekasihku dulu..”

Fei memandang Taechyeon tanpa berbicara.

“Wae?” Tanya Taechyeon bingung.

Fei kembali memandang dirinya di cermin, “Ne, aku satu dari sekian banyak kekasihmu..” Ucapnya pelan.

Taechyeon merasakan perasaan aneh mendengar ucapan Fei, “Ani, aku…”

“Aku akan mengambil ini..” Potong Fei, lalu kembali masuk ke ruang ganti.

Taechyeon merasa bersalah, dia telah menyia-nyiakan gadis itu dulu. Dan dia tau luka yang telah dia torehkan tidak akan sembuh meskipun waktu telah lama berlalu.

Setelah membayar baju-baju itu, Fei melangkah keluar dari pusat pertokoan. Taechyeon tetap mengikutinya dengan wajah menyesal.

“Fei.. Sebentar..” Tahan Taechyeon sambil menarik tangan Fei.

Fei berhenti dan memandang Taechyeon tanpa ekspresi, “Wae?”

Taechyeon dapat melihat apa yang dia lakukan di masa lalu sangat membekas di hati gadis itu melihat tatapannya, “Mmm.. Kau buru-buru?”

Fei diam sejenak, “Tidak juga..”

Taechyeon tersenyum tipis, “Bagaimana jika aku mentraktirmu makan sebentar? Sebagai teman lama?”

Fei memandang Taechyeon sejenak, “Boleh..”

Taechyeon membawa Fei masuk ke sebuah kafe di mall itu dan memesan makanan spesial disana.

Keadaan hening selama Fei dan Taechyeon menikmati makanan, hal itu akibat suana canggung diantara mereka.

Taechyeon melirik Fei, “Mmm.. Fei..”

Fei memandang Taechyeon, “Hm?”

“Mmm.. Aku tidak tau kau suka memasak..” Ucap Taechyeon memulai pembicaraan.

Fei diam sejenak, lalu tersenyum. “Kau memang tidak tau apa pun tentangku..” Jawabnya, lalu memandang makanannya lagi.

Mulut Taechyeon langsung terbungkam mendengar jawaban Fei, namun gadis itu tidak salah. “Mmm.. Ne, sepertinya begitu..” Ucapnya canggung, lalu hening kembali sesaat. “Fei, apa kau membenciku?”

Fei memandang Taechyeon heran, “Kenapa aku membencimu?”

“Karena aku menyakitimu..” Jawab Taechyeon.

Fei tersenyum tipis, “Kau tau, sudah terlambat menyadarinya..”

Taechyeon tak pernah merasa sangat menyesal seperti saat itu, “Andai aku bisa kembali kemasa lalu, aku akan memperbaiki semuanya..”

Fei diam sejenak, lalu menghela nafas. “Sayangnya kau tak bisa..”

Taechyeon mengangguk berat, “Ne..”

Fei kembali memandang makanannya, “Tapi aku tidak ingin kembali ke masa lalu..” Ucapnya yang membuat Taechyeon menatapnya tak percaya, “Karena masa lalu tidak akan pernah berubah..” Ucapnya, lalu memandang Taechyeon, “Jadi, aku tidak ingin terluka lagi..”

Nafas Taechyeon terasa sesak merasakan penyesalan di dadanya, “Maafkan aku..” Ucapnya sepenuh hati, “Seharusnya aku mengatakan ini padamu dulu..”

Fei menahan tawa pelan, “Aku tidak tau sejak kapan kau mulai melihat keberadaanku, tapi aku yakin semua itu karena tidak ada lagi yang membantumu mengerjakan PR. Atau yang akan memberikan apa pun yang kau minta, atau yang selalu menuruti ucapanmu..” Ucapnya, lalu tersenyum. “Tapi itu sudah berlalu, jadi biarkan berlalu..”

Taechyeon menatap Fei penuh penyesalan. Dia menunduk memandang makanannya karena merasakan kedua matanya memanas.

Fei menghela nafas dalam dan mengambil tas tangan dan tas belanjaannya, “Baiklah, terima kasih traktirannya. Sampai jumpa..” Ucapnya, lalu berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Taechyeon yang masih berkutat dengan penyesalannya.

Taechyeon menghela nafas dalam dan memandang dinding kaca transparan. Bulir air matanya tak bisa dibendung lagi, ‘Apa aku tidak bisa mengobati luka hatimu, Fei?’ Batinnya.

Ditempat lain. Fei mengendarai mobilnya dengan bulir air mata berjatuhan. Meskipun sudah 5 tahun berlalu, kenangan masa lalu masih menyakitinya. Ponselnya berbunyi, dia segera menyeka air matanya dan menjangkau ponselnya. Ternyata dari Nickhun, dia mengatur nafasnya sesaat dan menerima panggilan itu. “Ne, Nickhun..”

“Hei, siap untuk makan malam?” Tanya Nickhun.

“Ne, aku sudah mendapatkan baju yang cocok untuk besok malam..” Jawab Fei.

“Aku akan menjemputmu pukul 7.. Apa kau ingin kubawakan sesuatu?” Tanya Nickhun.

Fei tertawa kecil, “Tidak perlu, jemput tepat waktu saja..”

“Baiklah.. Sampai jumpa besok..” Ucap Nickhun dan memutuskan telepon.

Fei menghela nafas berat dan melemparkan ponselnya ke kursi disebelahnya.

=Keesokan Harinya=

Nickhun bergegas menuju parkiran mobil sambil memandang jam tangannya, masih ada setengah jam lagi sebelum jam 7. Jadi dia berencana akan membelikan buket bunga dulu untuk Fei. Namun langkahnya terhenti melihat seorang gadis berdiri di sebelah mobilnya, Victoria.

Victoria memandang Nickhun ragu, “Nickhun, bisa kita bicara?”

Nickhun diam sejenak, “Mmm.. Aku..”

“Kumohon..” Ucap Victoria menahan tangis.

Apartemen Fei.

Fei memperhatikan dirinya dengan balutan baju yang dia beli kemarin didepan cermin, lalu melirik jam dinding. 5 menit lagi tepat pukul 7. Dia memperhatikan make upnya sekali lagi di cermin. Ketika itu ponselnya berbunyi, dia segera melihat siapa yang memanggil. Bibirnya membentuk senyuman melihat nama Nickhun yang muncul, “Ne, Nickhun..” Sapanya sambil merapikan letak antingnya.

“Fei, maaf.. Masih ada pekerjaan yang harus kulakukan.. Sepertinya aku akan datang terlambat dan tidak bisa menjemputmu..” Ucap Nickhun menyesal.

Fei tertegun mendengar ucapan Nickhun, “Ohh.. Apa kau sibuk sekali?”

“Ne, akhir bulan selalu seperti ini..” Ucap Nickhun, “Aku akan langsung ke restauran, kau bisa sampaikan maafku pada eomma dan Sunye noona karena terlambat?”

“Ne, aku akan menyampaikannya..” Ucap Fei.

“Terima kasih, sampai nanti..” Ucap Nickhun dan telepon terputus.

Fei memandang layar ponselnya sejenak, lalu segera memasukkannya ke tas dan mengambil kunci mobilnya.

=Restauran=

Fei melangkah masuk ke ruang VIP yang di pesan khusus oleh ibu Nickhun untuk acara makan malam mereka, dia tersenyum melihat Sunye dan ibunya sudah disana. “Annyeonghaseo, maaf aku terlambat..” Ucapnya sambil membungkuk sopan.

“Aniya, ayo duduk Fei..” Ucap ibu Nickhun.

Fei menghampiri meja dan duduk di sebelah Sunye.

Sunye memandang ke pintu dan Fei bingung, “Mana Nickhun?”

“Hm? Oh.. Dia berkata akan terlambat dan memintaku menyampaikan permintaan maafnya, tapi dia akan segera datang..” Jawab Fei.

“Aissh.. Anak itu!” Ucap Sunye kesal.

“Gwenchana..” Ucap Ibu Nickhun, “Lihat siapa yang paling mengerti Nickhun sekarang..” Ucapnya sambil melirik Fei.

Fei tersenyum malu, “Aniya, eommanim..”

Sunye ikut tertawa, “Ne, padahal dia bisa langsung menghubungi eomma atau aku. Tapi dia memberitau tunangannya terlebih dahulu..” Ledeknya.

Fei hanya tersenyum.

“Sudah, ayo kita langsung memesan saja..” Ucap Ibu Nickhun sambil membuka menu.

Setelah memesan dan mulai makan, mereka kembali melanjutkan obrolan.

“Oh ya, Nickhun sudah memperlihatkan cincin pernikahan kalian padaku. Cantik sekali.. Aku jadi iri..” Ucap Sunye.

Fei tersenyum, “Karena itu, segeralah menikah juga eonni..”

Sunye cemberut, “Huumm.. Tapi kekasihku masih ingin menyelesaikan S3 nya dulu sebelum menikah, ahhh.. Aku tak mengerti dengan jalan pikirannya..” Ucapnya sebal.

“Lalu, kenapa kau menolak pria yang eomma kenalkan padamu?” Tanya Ibu Nickhun menahan tawa.

“Eomma, aku tidak ingin di jodohkan..” Ucap Sunye.

Fei tertawa kecil menanggapi sikap Sunye.

“Oh iya..” Ibu Nickhun memandang Fei dan memegang tangannya, “Eomma sudah menyiapkan semuanya untukmu dan Nickhun nanti..”

Fei tertegun, “Ne?”

“Ne.. Nickhun kan terlalu sibuk dengan pekerjaannya, jadi eomma dan Sunye yang menyiapkan persiapan pernikahan untuk kalian. Tidak masalah kan?” Tanya Ibu Nickhun.

Fei tersenyum, “Gwenchana eommanim, aku percaya eommanim dan eonni tau yang terbaik..”

“Aigoo.. Eomma tau kau pasangan yang cocok sekali untuk Nickhun..” Ucap Ibu Nickhun senang.

Fei tersipu malu.

“Lalu, keluargamu kapan akan kemari? Atau kami perlu mengirimkan jet pribadi untuk menjemput mereka di Hainan?” Tanya Sunye.

“Ohh.. Tidak perlu eonni..” Jawab Fei cepat, “Karena ibuku meninggal tahun lalu, jadi hanya adikku yang tersisa. Dia akan datang seminggu sebelum pernikahan, karena dia tak bisa meninggalkan kuliahnya terlalu lama..” Jawabnya.

Sunye dan Ibu Nickhun tersenyum lebar, “Kalian memang anak-anak pintar..” Pujinya.

Fei tertawa kecil, “Tidak juga, eonni..”

Ibu Nickhun mengelus punggung tangan Fei dan menatapnya dalam, “Eomma senang akhirnya kau benar-benar akan menikah dengan Nickhun..” Ucapnya lega.

Fei tersenyum mendengar ucapan Ibu Nickhun, “Ne, eommanim..”

“Eomma punya hadiah untukmu..” Ucap Ibu Nickhun, lalu mengambil sesuatu dari tasnya.

Fei tertegun melihat Ibu Nickhun menyodorkan sebuah kotak perhiasan dan membukanya, matanya membesar melihat sebuah kalung berlian indah didalamnya. Mulutnya sampai terbuka melihatnya, lalu menatap Ibu Nickhun tak percaya.

Ibu Nickhun tersenyum lebar melihat ekspresi Fei, “Ini khusus eomma pesan untuk calon menantu eomma..”

Fei tersenyum mendengarnya, matanya sampai berkaca-kaca mendengar itu. “Ini untukku eomma?”

Ibu Nickhun mengangguk, “Ne..”

“Cantik sekali..” Ucap Fei.

Sunye bergerak bangkit, “Aku akan memasangkannya..” Ucapnya sambil mengambil kalung itu dan memasangkannya ke leher Fei.

Fei tak bisa berhenti tersenyum melihat betapa cantiknya kalung itu di lehernya, “Gumawoyo, eommanim.. Eonni..”

Ibu Nickhun membelai rambut Fei, “Ne.. Juga setelah menikah nanti kalian akan tinggal di rumah yang sudah di siapkan Nickhun untuk kalian..”

“Rumah?” Tanya Fei.

“Eomma.. Itu kejutan!” Ucap Sunye mengingatkan.

Ibu Nickhun terkejut, “Omo! Benar..”

Fei tertawa kecil, “Gwenchana eommanim, aku tidak akan memberitaukannya pada Nickhun..”

Sunye dan ibunya tertawa kecil.

“Padahal eomma yang selalu memperingatkanku agar tidak mengatakannya padamu..” Ucap Sunye menahan tawa.

“Fei, kau tau? Nickhun sampai mendesain sendiri rumah itu. Dia mulai membuatnya awal tahun ini. Mmm.. Sebenarnya dia tidak pernah membicarakan tentang rumah ini pada eomma ataupun Sunye, tapi dia pernah mengatakan kalau itu hadiah untuk tunangannya yang akan segera menjadi istrinya..” Ucap Ibu Nickhun senang.

Fei tertegun dengan senyuman tak percaya di wajahnya, “Tunangannya? Aku?”

Sunye mengangguk, “Ne.. Kupikir awalnya dia itu tidak romantis, tapi ternyata hebat sekali membuat gadis luluh..”

Fei tersenyum malu, dia tak menyangka jika Nickhun melakukan itu untuknya. Dia sampai melupakan perjanjian yang telah mereka buat meskipun belum ada perjanjian tertulis.

Malamnya.

Fei berbaring di tempat tidur dengan ponsel ditelinganya.

“Aku dimarahi eomma karena tidak datang ke restauran..” Cerita Nickhun dengan suara lesu.

Fei tertawa kecil sambil memegang bandul kalung pemberian ibu Nickhun di lehernya, “Itu karena kau lebih mendahulukan pekerjaan dari ibumu..”

Nickhun tertawa kecil, “Ne, aku pasti dikutuk ibuku jika melakukannya lagi. Tapi terima kasih sudah membelaku..”

“Ne, jika bukan aku siapa lagi yang akan membelamu?” Tanya Fei menahan tawa.

“Hmm.. Sepertinya kau ceria sekali, ada apa?” Tanya Nickhun ingin tau.

Fei tersenyum lebar, “Ibumu memberikanku hadiah kalung, indah sekali..”

“Jinja? Aissh.. Eomma, aku saja belum memberikanmu hadiah apa pun tapi eomma sudah memberikanmu kalung..” Ucap Nickhun sebal.

Fei senang mendengar Nickhun seperti benar-benar peduli dengan status mereka sebagai sepasang tunangan.

“Kau ingin cincin? Anting? Atau gelang? Katakan, aku tidak mau eomma mengungguliku..” Ucap Nickhun sebal.

Fei tertawa, “Memangnya aku piala? Kau ini..”

Nickhun tertawa juga, “Hei.. Aku sudah lama tidak mendengar kau tertawa terus seperti ini..”

Fei tersenyum mendengar ucapan Nickhun, “Ne, aku memang sudah lama tidak tertawa seperti ini. Hari ini aku merasa bahagia..”

“Hmm.. Aku senang mendengarnya..” Ucap Nickhun. “Baiklah, saatnya istirahat. Sampai jumpa besok..”

“Ne..” Ucap Fei dan telepon terputus, dia masih tersenyum memandang ponselnya.

=Sebuah Kafe=

Taechyeon tersenyum kaku pada seorang gadis dihadapannya, untuk sekian kalinya dia dijebak ibunya dalam sebuah blind-date.

Gadis bernama MinYoung itu menyelipkan rambut ke belakang telinganya, lalu memandang Taechyeon dengan wajah merona. “Mmm.. Taechyeon-ssi, kudengar kau tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis karena terlalu sibuk bekerja. Apa kau tidak ingin menjalin hubungan?”

Taechyeon berusaha mempertahankan senyum kakunya, “Mmm.. Hanya belum menemukan gadis spesial saja..”

MinYoung mengangguk mengerti, “Lalu, bagaimana menurutmu denganku? Apa aku tidak termasuk spesial?”

Taechyeon mengelus belakang kepalanya bingung, “Errr.. Kau cantik MinYoung-ssi. Tapi aku bukan orang yang bisa jatuh hati pada pandangan pertama, jadi mungkin kita bisa bertemu beberapa kali dulu baru aku bisa memutuskan..”

MinYoung tersipu dibilang cantik, “Jadi, kau berencana bertemu lagi denganku?”

“Kenapa tidak?” Ucap Taechyeon, sebenarnya dia sendiri tak begitu senang mengatakannya.

Wajah MinYoung semakin merona, dia meminum jus digelasnya untuk mengurangi gugup.

Taechyeon menghela nafas dalam dan menyeruput kopinya, dia akan mengomel lagi pada ibunya setelah ini. Saat itu matanya tak sengaja melihat Nickhun melangkah masuk ke kafe itu sambil menggandeng seorang gadis, “Hm? Nickhun?”

“Ne?” Tanya MinYoung bingung.

“Oh.. Maaf, itu.. Aku melihat temanku..” Ucap Taechyeon menjelaskan.

“Hmm.. Begitu..” Ucap MinYoung mengerti.

Taechyeon melirik Nickhun yang duduk di sisi lain ruangan bersama gadis itu, “Aku ke toilet sebentar..” Ucapnya pada MinYoung dan langsung bangkit.

Sementara itu di meja lain.

“Vict, hari pernikahanku dan Fei sudah ditentukan. Kami akan menjadi suami istri dalam waktu 3 minggu..” Ucap Nickhun pelan.

Victoria menghela nafas berat dan menunduk, “Aku tau..” Ucapnya, lalu memandang Nickhun. “Tapi, apa kau tidak bisa mempertahankanku?”

Nickhun menunduk menyesal, “Aku sangat ingin, tapi kau tau aku sangat menyayangi Fei seperti saudariku. Aku tidak bisa menyakiti perasaannya dengan membatalkan pernikahan ini..”

“Kau bilang dia sudah setuju mengenai pernikahan berkala itu, kenapa kau yang ragu sekarang?” Tanya Victoria tak mengerti.

Nickhun menghela nafas berat, lalu menggenggam tangan Victoria dan menatapnya dalam. “Dia memang menyetujuinya, tapi aku dapat melihat dia terluka mendengar usulku itu..” Ucapnya.

Bulir air mata Victoria menetes, “Jadi kau lebih memilih menjaga perasaan Fei daripada perasaanku?”

Nickhun terdiam mendengar pertanyaan Victoria, dia benar-benar bingung. “Baiklah.. Aku akan memberikan surat perjanjian itu padanya, kami hanya akan menjalani pernikahan selama setahun dan berpisah. Lalu kita akan menikah, bagaimana?”

Victoria diam sejenak, “Kau tidak menyesal?”

Nickhun menghela nafas berat, “Aku pasti menyesal, tapi ini yang harus terjadi..”

Victoria tampak berpikir, lalu berdiri. “Hubungi aku jika kau benar-benar sudah memberikan perjanjian itu pada Fei..” Ucapnya, lalu berjalan pergi.

“Vic.. Victoria..” Panggil Nickhun sambil bangkit dan berbalik mengejar gadis itu, namun langkahnya terhenti melihat Taechyeon berdiri sambil menatapnya tajam.

Taechyeon menoleh ke arah Victoria yang terus pergi, lalu menghampiri Nickhun. “Aku butuh penjelasan..”

“Ini bukan urusanmu..” Ucap Nickhun, lalu melangkah.

Taechyeon menahan bahu Nickhun dan menatapnya tajam, “Jika ini menyangkut Fei, berarti urusanku!”

Nickhun tersenyum sinis, “Ohya? Memangnya kau siapa?”

Taechyeon tersenyum sinis juga, “Aku orang yang akan memberitau Fei jika tunangannya masih berhubungan dengan mantan kekasihnya..” Ucapnya sambil memperlihatkan layar ponselnya, tampak Nickhun memegang tangan Victoria disana.

Nickhun tertegun melihat gambar itu, lalu menatap Taechyeon. “Apa maumu?”

“Penjelasan!” Tegas Taechyeon.

Nickhun menatap Taechyeon sejenak, lalu menghela nafas berat. “Baiklah, tapi kuharap kau tidak menyesal mendengarnya..”

Dahi Taechyeon berkerut, “Ne?”

“Ayo duduk..” Ucap Nickhun sambil kembali duduk.

Taechyeon duduk dihadapan Nickhun dan menunggu pria itu berbicara.

“Jangan salah mengartikan situasi ini, kau tidak mengerti apa pun..” Ucap Nickhun.

“Apa yang tidak kumengerti?” Tanya Taechyeon.

Nickhun mengelus pundaknya dan menatap Taechyeon, “Aku tidak ingin menyalahkanmu, tapi aku ingin kau tau kalau semua yang terjadi pada Fei adalah karena dirimu..”

Dahi Taechyeon berkerut, namun dia tak berkomentar.

“Dengar, aku bertunangan dengan Fei karena ibuku tidak suka aku berhubungan dengan Victoria. Juga karena ibuku sangat menginginkan Fei menjadi menantunya. Kenyataannya Fei adalah sahabatku. Dia mau membantuku dengan berpura-pura menjadi tunanganku agar hubunganku dan Victoria tak diketahui ibuku, tapi setelah sekian lama akhirnya ibuku merencanakan pernikahan untuk kami..” Jelas Nickhun.

“Lalu, hubungannya denganku?” Tanya Taechyeon tak mengerti.

“Kau yang membuat kami bersahabat..” Jawab Nickhun.

Taechyeon masih tampak tak mengerti, “Aku masih tak mengerti..”

Nickhun menghela nafas dalam, “Taechyeon, apa kau tau Fei kehilangan beasiswanya di semester awal kelas 3?”

Taechyeon tertegun, “Ne? Dia apa?”

“Kau tidak tau kan?” Tanya Nickhun sebal, “Nilai-nilainya jatuh drastis dan dia juga sering membolos kelas karena ingin menghabiskan waktu bersamamu..”

Taechyeon menatap Nickhun tak percaya, mulutnya sampai terbuka sedikit. Dia mengingat Fei sering menghampirinya disaat jam sekolah.

“Karena itu dia harus bekerja paruh waktu untuk membayar biaya sekolahnya. Aku mulai dekat dengannya karena kami bekerja paruh waktu di tempat yang sama. Dia terpaksa belajar di sekolah saat memiliki waktu senggang karena akan kelelahan setelah pulang bekerja.” Ucap Nickhun.

Taechyeon kembali ingat beberapa hari sebelum sikap Fei mulai berubah, gadis itu datang padanya dan bertanya apakah dia punya waktu. ‘Apa saat itu dia ingin mengadu padaku?’ Batinnya tak percaya.

“Dan, sejujurnya..” Lanjut Nickhun, “Saat Fei beristirahat di ruang kesehatan karena mimisan, aku melihatmu memperhatikannya dari jauh Taechyeon..”

Taechyeon menatap Nickhun kaget, “Ne?”

Nickhun mengangguk, “Fei juga mengetahuinya..”

“Fei tau?!” Tanya Taechyeon kaget.

Nickhun mengangguk lagi.

“Tapi.. Tapi… Dia tidak mengatakan apa pun?” Tanya Taechyeon ingin tau.

Nickhun menghela nafas dalam, “Dia berkata…”

=Flashback=

Nickhun membantu Fei melangkah meninggalkan gedung sekolah, gadis itu tampak benar-benar lemah. “Mmm.. Fei, tadi sepertinya aku melihat Taechyeon memperhatikanmu dari kelas yang kita lalui..”

Fei memandang Nickhun, “Taechyeon?”

Nickhun mengangguk, “Ne.. Sepertinya dia sangat khawatir..”

Fei diam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Paling tidak dia pernah memikirkanku, meskipun hanya sekali..”

“Mmm.. Tapi, bukankah dia kekasihmu?” Tanya Nickhun ingin tau.

Senyum Fei memudar, perlahan matanya memerah dan bulir air berjatuhan. Kepalanya menggeleng perlahan, “Ani.. Aku hanya orang yang membantunya..”

Nickhun menghentikan langkahnya dan juga menghentikan langkah Fei, lalu menatap gadis itu dalam. “Lalu mengapa kau menangis?”

Fei menyeka air matanya, “Karena aku terlalu mengharapkan dia menjadi kekasihku, hingga sekarang aku menyadari betapa bodohnya aku..”

Nickhun memegang bahu Fei, “Tapi Fei, jika aku membaca raut wajahnya tadi. Sepertinya dia benar-benar khawatir padamu, kau ingin aku memanggilnya agar dia yang mengantarkanmu pulang?”

Fei menggeleng, “Biarkan saja. Dia tetap orang yang tidak akan bisa kusentuh, aku hanya penggemar yang berdiri di pinggir lapangan untuk melihatnya. Jadi, sekarang aku akan memalingkan wajahku dan tidak akan memandangnya lagi..”

Nickhun diam sesaat, “Kau yakin?”

Fei mengangguk, “Ne..”

Nickhun menghela nafas dalam, dia tau gadis dihadapannya sedang berbohong. Namun ia hanya mengangguk, “Begitu, yasudah.. Ayo..” Ucapnya dan kembali membantu Fei berjalan.

=Flashback end=

Taechyeon terduduk lemas di kursinya setelah mendengar cerita Nickhun, “Jadi, dia berubah karenaku?”

Nickhun menghela nafas dalam, “Ne..” Jawabnya, “Kau tau apa yang selalu kulakukan setiap kali bertemu Fei?”

Taechyeon menggeleng pelan.

“Aku akan menceritakan sesuatu yang lucu, paling tidak dia akan tersenyum mendengarnya. Sejak dia mulai menjadi dirinya yang baru, dia selalu tampak murung. Butuh waktu hingga dua tahun hingga aku bisa membuatnya tertawa, itu bahkan lebih sulit dari mengerjakan tugas akhirku..” Ucap Nickhun.

Taechyeon diam sambil berpikir.

“Menyesal, Taech?” Tanya Nickhun melihat ekspresi Taechyeon.

Taechyeon tak bisa mengatakan apa pun. Dia hanya bisa menunduk menahan semua penyesalannya.

“Well, Taech.. Kesempatanmu untuk bersama Fei sudah kau sia-siakan dimasa lalu, jadi jangan berpikir untuk mendekatinya lagi..” Ucap Nickhun sambil berdiri.

“Tunggu!” Ucap Taechyeon sambil menarik tangan Nickhun sebelum pria itu pergi, “Nickhun, apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Fei? Mengapa kau tetap melakukan perjanjian itu jika kau tau dia akan terluka?”

Nickhun melepaskan tangan Taechyeon, “Maaf, itu hanya antara aku dan Fei. Orang luar sepertimu tidak berhak ikut campur..” Ucapnya, lalu melangkah pergi.

Taechyeon diam sejenak, lalu menunduk menahan sesalnya.

=Hotel=

Fei melangkah menuju parkiran sambil mencari kunci mobilnya dalam tas.

“Fei..” Panggil seseorang.

Fei berhenti dan menoleh pada siapa yang memanggilnya, dia tertegun melihat Victoria.

“Bisa bicara denganmu sebentar?” Tanya Victoria.

=Mobil Fei=

Victoria memandang Fei ragu.

“Kau ingin membicarakan apa Vic?” Tanya Fei, meskipun dia sudah bisa menebaknya.

“Mmm.. Ini tentang rencana pernikahanmu dan Nickhun..” Jawal Victoria.

Fei diam sejenak, “Ada apa?”

Victoria menggigit bibir bawahnya ragu, “Mmm.. Fei, apa kau yakin akan menikah dengan Nickhun?”

Fei memalingkan pandangannya dari wajah Victoria dan memandang ke depan, “Mmm.. Semuanya sudah di siapkan ibunya. Kami hanya mengikuti kemauannya..”

“Aku bertanya padamu, apa kau yakin akan menikah dengan Nickhun? Pria yang telah menjadi sahabatmu untuk waktu yang lama, juga hanya menganggapmu sebagai saudarinya?” Tanya Victoria ingin tau.

Fei diam sejenak, kedua tangannya tampak mencengkeram stir mobil. “Mmm.. Setelah menikah mungkin itu akan berubah..”

“Aku tau dia memintamu melakukan pernikahan berkala, hanya setahun kan?” Ucap Victoria.

Fei memandang Victoria, dia tak tau gadis itu juga tau.

“Aku yang meminta Nickhun melakukan itu..” Ucap Victoria jujur.

Fei tertegun, “Kau?”

Victoria mengangguk, “Karena Nickhun terlalu menjaga perasaanmu, aku hanya tak ingin kalian pada akhirnya merasa terpaksa dan tidak bahagia. Jadi aku mengusulkan seperti itu..” Ucapnya.

Fei kembali memandang ke depan sambil berpikir, ‘Jadi semua ini karena permintaan Victoria?’ Batinnya.

“Fei, maaf jika apa yang akan kukatakan akan menyakiti perasaanmu.” Ucap Victoria yang membuat Fei kembali memandangnya, “Aku yakin kau adalah sahabat terbaik Nickhun, kau sudah mengenalnya jauh sebelum aku. Dia sudah terlalu sering berkorban untukmu, apakah…” Dia diam sejenak karena ragu mengatakan maksudnya, “Apakah bisa kali ini kau yang berkorban untuknya?”

Fei tertegun, “Maksudmu?”

Victoria menghela nafas sejenak, “Mmm.. Bisakah kau yang meminta untuk membatalkan pernikahan ini?”

Fei menatap Victoria terkejut, “Ne?”

“Fei, apa kau bisa membayangkan bagaimana perasaan menyesal Nickhun jika nanti kalian berpisah?” Tanya Victoria.

Kedua tangan Fei gemetaran di stir mobil, lalu menunduk memikirkan ucapan Victoria.

Victoria sebenarnya merasa sedih harus mengatakan itu, tapi dia terpaksa demi kebahagiaan orang yang dia cintai. Tangannya terulur memegang bahu Fei, “Maafkan aku Fei, kau juga sudah seperti sahabatku. Tapi aku tak bisa melupakan kebahagiaan Nickhun.. Sekali lagi, maafkan aku..” Ucapnya, lalu keluar dari mobil.

=Apartemen Fei=

Fei duduk disofa sambil memikirkan ucapan Victoria, tangannya memegang bandul kalung berlian pemberian Ibu Nickhun. “Apa yang harus kulakukan?” Gumamnya sendiri.

Ting! Tong!

Fei memandang ke pintu mendengar suara bel, lalu bangkit dan melihat layar cctv. Ternyata Nickhun. Dia menghela nafas sejenak dan menekan tombol buka.

Terdengar pintu terbuka dan masuk Nickhun dengan senyuman manis diwajahnya.

“Hei..” Sapa Fei.

“Fei, ayo kemari..” Ajak Nickhun sambil menarik Fei duduk di sofa.

Fei tersenyum, “Wae?”

“Mmm.. Kau tau, pernikahan kita kurang dari 3 minggu lagi. Jadi kurasa kita harus menyepakati ini secepatnya..” Ucap Nickhun sambil mengambil sesuatu dari tasnya dan meletakkannya di meja.

Fei tertegun menyadari itu sebuah map, lalu menatap Nickhun. “Apa ini?”

Wajah Nickhun berubah gugup, “Mmm.. Perjanjian pra-menikah kita..” Jawabnya sambil membuka map itu.

Fei menatap kertas di dalam map itu sedih. Disana tertulis mereka hanya akan menjalani rumah tangga selama 12 bulan dan bercerai.

“Aku sudah menandatanginya di depan pengacaraku, giliranmu..” Ucap Nickhun sambil memberikan pulpennya pada Fei.

Fei menghela nafas berat, lalu memandang pulpen ditangan Nickhun. Perlahan tangannya terangkat mengambil pulpen itu, namun belum sempat menyentuhnya, dia kembali menarik tangannya.

Nickhun memandang Fei bingung, “Waeyo, Fei?”

Fei memandang Nickhun, “Apa kau yakin tidak bisa mencintaiku?”

Nickhun tertegun, “Ne?”

“Apa kau tidak bisa setelah menikah denganku belajar melihatku sebagai seorang gadis, bukan sahabat atau saudarimu?” Tanya Fei.

Nickhun tak bisa menjawab pertanyaan Fei karena dia sendiri tak yakin dengan itu, lalu menunduk menyesal.

Mata Fei memerah menahan air mata melihat ekspresi Nickhun, “Ibumu berkata kau sengaja membangun sebuah rumah untuk kejutan bagi tunanganmu..” Ucapnya sambil menahan air mata, “Tunangan yang kau maksud, Victoria kan?”

Nickhun mengangguk berat.

Bulir air jatuh ke pipi Fei mengetahui itu. Dengan cepat ia menyeka air matanya dan tersenyum karena merasa bodoh sendiri merasa semua yang Nickhun lakukan memang untuknya. “Aku seharusnya tidak perlu bertanya..” Ucapnya, lalu mengambil map itu dan berdiri. “Aku akan menandatanganinya nanti, aku harus memikirkan peraturan yang ada disini dulu..” Ucapnya, lalu melangkah ke kamar.

Nickhun menatap Fei sedih hingga menghilang dibalik pintu kamarnya. Lalu menunduk menyesal.

Fei sama sekali tidak bisa tidur memikirkan semua yang telah terjadi di pinggir tempat tidur. Tangannya memegangi bandul kalung di lehernya. Perlahan bulir air berjatuhan dari matanya. Dia merasa seperti seorang pencuri yang tak seharusnya mendapatkan hadiah cantik dari ibu Nickhun, juga apartemen itu. Seharusnya yang mendapatkan semua itu adalah calon istri Nickhun yang asli. Bukan ‘gadis penolong’ sepertinya.

Tangannya bergerak membuka kalung itu dan meletakkannya di meja di sebelah tempat tidur.

=2 Minggu sebelum Pernikahan=

Langkah Fei berhenti karena melihat ada karangan bunga indah di atas mobilnya yang terparkir, lalu mengambil karangan bunga itu dan melihatnya. Ada sebuah kartu ucapan.

Maafkan aku, Fei..

Taechyeon..

Fei memandang bunga-bunga cantik itu bingung.

“Fei..” Ucap Taechyeon sambil melangkah mendekati Fei.

Fei menoleh ke arah Taechyeon, dahinya berkerut melihat pria itu mengenakan seragam baseball yang biasa dia kenakan saat SMA. “Taechyeon, apa-apaan kau?”

Taechyeon berhenti dihadapan Fei, “Kau ingin tau mengapa aku mengenakan ini?”

Fei memandang Taechyeon bingung.

“Karena…” Lanjut Taechyeon tanpa menunggu jawaban Fei, “…saat mengenakan baju ini dulu aku selalu melihatmu muncul di lapangan baseball. Tersenyum dan melambai padaku, berteriak menyemangatiku. Juga selalu memilikimu disisiku..”

Fei tak tau harus mengatakan apa atas ucapan Taechyeon, namun dia terkejut melihat pria itu berlutut di hadapannya sambil tetap menatapnya penuh penyesalan.

“Fei, kumohon.. Jangan menikah dengan Nickhun. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari hanya sekedar membantu sahabatmu. Aku pernah melakukan kesalahan dengan memanfaatkanmu, jangan lakukan itu lagi pada Nickhun. Jangan biarkan dia memanfaatkanmu..” Mohonnya dengan mata memerah menahan air mata.

Fei tertegun mendengar ucapan Taechyeon dan menatap kedua matanya tak percaya.

Taechyeon memegang tangan Fei yang tidak memegang bunga dan menunduk penuh penyesalan. “Aku akan menebus kesalahanku dimasa lalu, aku akan melakukan apa pun untuk menebusnya..”

Bulir air mata Fei berjatuhan mendengar ketulusan disuara Taechyeon. Dia tak pernah mendengar perkataan setulus itu keluar dari mulut Taechyeon sebelumnya. Namun dia menarik tangannya dan menyeka air matanya, “Yang perlu kau lakukan hanya datang di hari pernikahanku dan Nickhun..” Ucapnya dingin.

Taechyeon menatap Fei tak percaya, “Fei?”

Fei melempar karangan buka ditangannya ke tanah, lalu berjalan cepat masuk ke mobilnya.

Taechyeon segera bangkit dan menghampiri jendela mobil Fei, lalu mengetuknya. Tapi gadis itu tetap menjalankan mobilnya, dia segera menghadang mobil itu. “Dengarkan aku dulu! Kumohon!!” Serunya.

Akhirnya Fei menurunkan setengah kaca jendela mobilnya.

Taechyeon segera menghampiri Fei dan menatapnya, “Fei, mengapa kau melakukan ini? Pertimbangkan lagi..” Mohonnya.

Bulir air mata Fei berjatuhan, lalu menatap Taechyeon dingin. “Aku sudah terbiasa di manfaatkan olehmu, jadi dimanfaatkan sekali lagi tidak masalah bagiku..” Ucapnya dingin, lalu menginjak gas pergi.

“Fei!! Fei!!” Panggil Taechyeon, namun gadis itu sudah pergi.

=Apartemen Fei=

Nickhun memandang Fei ragu, lalu memandang kertas perjanjian mereka di depannya. “Kau sudah menandatanganinya?”

“Ne..” Jawab Fei.

Nickhun mengelus pundaknya, “Mmm.. Kau marah padaku ya?”

Fei menggeleng, “Untuk apa aku marah padamu?”

Nickhun menunduk menyesal, “Sepertinya posisiku sudah seburuk Taechyeon..”

Fei menghela nafas dalam dan tersenyum tipis, “Ani..”

Nickhun menatap Fei menyesal, lalu mengulurkan tangannya untuk memegang tangan gadis itu. Namun gadis itu menarik tangannya.

Fei menyilang kedua tangannya di lutut, “Adikku akan datang besok, mungkin setelah itu aku akan menemaninya membeli pakaian untuk dikenakan di hari pernikahan nanti..” Ucapnya.

“Ohh.. Aku bisa mengajaknya berbelanja, kau pasti sibuk..” Ucap Nickhun.

Fei diam sejenak, “Mmm.. Sepertinya kau yang selalu sibuk..”

“Memang kadang-kadang, tapi aku..”

“Tidak perlu..” Potong Fei, “Aku ingin menghabiskan waktu bersama adikku..”

Nickhun terdiam sesaat, “Oh.. Baiklah..” Ucapnya. Dia tau Fei tak senang dengan semua yang akan terjadi. “Mmm.. Oh iya, kau bisa mulai memindahkan barang-barangmu ke rumah kita. Aku akan meminta orang datang untuk membawanya..”

Fei menggeleng, “Tidak perlu..” Ucapnya, “Aku hanya akan membawa baju-bajuku..”

“Mmm.. Wae? Barang-barangmu yang lain?” Tanya Nickhun.

“Gwenchana, aku juga tidak akan tinggal lama di rumahmu. Jadi tidak perlu membawa barang terlalu banyak..” Jawab Fei.

Nickhun tertegun mendengar ucapan Fei, “Fei..”

“Wae? Barang-barangku akan rusak jika sering dipindah-pindahkan..” Ucap Fei.

Nickhun memegang tangan Fei dan menatapnya kesal, “Hentikan sikapmu ini! Jika kau marah padaku, katakan!”

Fei tetap memandang Nickhun tanpa ekspresi, “Aku tidak marah..”

“Katakan saja, Fei! Aku muak dengan sikapmu ini!” Ucap Nickhun.

“Nickhun, sudah malam.. Pulanglah, besok kau harus bekerja kan?” Ucap Fei tenang.

“Fei! Kita bersahabat, tidak ada yang harus disembunyikan.. Katakan saja jika kau marah atau tidak suka akan sesuatu!” Ucap Nickhun.

Fei diam sejenak, “Selamat malam..”

Nickhun terdiam, lalu melepaskan tangan Fei dan bergerak bangkit. “Selamat malam..” Ucapnya berat, lalu berjalan ke pintu.

=Bandara=

Fei berdiri di depan pintu keluar untuk kedatangan dari luar negeri, pesawatnya sudah mendarat 10 menit yang lalu. Dia tak sabar akan bertemu dengan adiknya, Hwang WuFan, atau yang sering dipanggil Kris. Sudah lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Tak lama seorang pria mengenakan jaket hijau serta scarft abu-abu dengan baju T-shirt putih dan celana jeans yang mengenakan earphone berwarna putih berjalan sambil menarik sebuah koper besar. Satu tangannya yang lain tampak memegang ipod. Meskipun pria tampan itu sekarang mewarnai rambutnya menjadi coklat cerah, Fei tetap mengenali siapa itu. Bibirnya membentuk senyuman dan langsung melambai, “Kris!!!”

Kris melihat Fei melambai dan langsung tersenyum, dia segera mempercepat langkahnya untuk menghampiri kakaknya. “Cece!!!” Ucapnya girang sambil memeluk kakaknya. (Cece -> ‘kakak’ dalam bahasa mandarin)

Fei tersenyum lebar dan memandang adiknya, “Bagaimana perjalananmu? Melelahkan?”

“Tidak, aku menikmatinya..” Ucap Kris.

“Ayo, aku akan membawamu makan di restauran Korea. Kau suka kimchi, kan?” Ajak Fei sambil menggandeng tangan Kris.

Kris menarik kopernya sambil berjalan bersama Fei, “Cece tidak bekerja?” Tanyanya ketika mereka tiba di parkiran mobil.

“Aku sudah mengambil cuti untuk hari pernikahanku nanti..” Jawab Fei sambil membuka kunci otomatis mobilnya.

Kris cemberut sambil membuka bagasi mobil dan memasukkan kopernya, “Aku tidak ingin kau menikah secepat ini..”

Fei tertawa kecil dan masuk ke mobilnya, “Aku tetap diriku kok..” Ucapnya pada Kris yang masuk ke mobil.

Kris memandang Fei heran, “Nickhun koko memang baik, tapi sebagai sahabatmu. Apa kau yakin akan menikah dengannya?”

Fei hanya tersenyum sambil mengendarai mobilnya pergi.

Kris memperhatikan pemandangan kota Seoul melalui jendela mobil.

“Jadi, bagaimana Hongkong?” Tanya Fei ingin tau.

Kris memandang Fei dengan senyuman di wajahnya, “Aku sering merindukan Hainan, disana tak terlalu banyak orang dan memiliki taman yang luas..”

Fei tertawa kecil, “Ne, terkadang aku juga merindukan Hainan..”

“Nanti setelah lulus kuliah aku akan kembali ke Hainan dan bekerja disana..” Ucap Kris menyampaikan keinginannya.

“Kenapa?” Tanya Fei.

“Hanya bosan dengan keramian HongKong..” Jawab Kris, “Awalnya aku berencana akan mengajakmu tinggal bersamaku juga..” Ucapnya, lalu menghela nafas berat. “Tapi kau akan menikah..”

Fei tersenyum mendengar ucapan Kris, “Hmm.. Pasti akan menyenangkan kembali ke sana..”

Kris kembali memandang jendela sambil tersenyum, “Paling tidak kau tidak akan kesepian lagi di Korea setelah menikah nanti..”

Fei hanya tersenyum.

=Apartemen Fei=

Kris melangkah menyusuri apartemen Fei sambil memperhatikan setiap sisinya, sebenarnya itu pertama kalinya dia datang kesana. “Mmm.. Ibu calon suamimu termasuk orang baik hati memberikan apartemen ini padamu..”

Fei mendengarkan ucapan Kris sambil menyiapkan cemilan malam, “Memang..” Ucapnya, “Karena dia berharap aku menjadi menantunya sejak lama..”

Kris melihat photonya dan kakaknya terpajang di dinding sambil melangkah ke dapur, “Cece, apa aku akan bertemu mereka sebelum pernikahan?” Tanyanya.

“Tentu, akan ada makan malam bersama mereka di rumah Nickhun..” Jawab Fei.

Kris mengambil cemilan yang masih di buat Fei dan memakannya, “Kapan?”

“Dua hari lagi, aku akan memperkenalkanmu pada mereka juga..” Jawab Fei.

Kris mengangguk mengerti, lalu tampak berpikir. “Pernikahanmu tinggal 4 hari lagi..”

“Besok kita akan pergi berbelanja untuk mempersiapkan penampilanmu..” Ucap Fei sambil mencicipi cemilan buatannya, “Oke, ini sudah jadi..” Ucapnya sambil menyodorkan tempat cemilan pada Kris.

“Nyum..” Ucap Kris sambil menikmati cemilan itu.

Keesokan paginya.

Fei melihat adiknya sudah siap didepan cermin. Adiknya sudah tumbuh menjadi pria  fashionista, “Hei Mr. Cool.. Ready?”

Kris memandang Fei sambil tersenyum, “Sebentar lagi..”

“Oke, aku menunggumu di ruang tengah..” Ucap Fei, lalu keluar kamar.

Kris mengambil hair-spray dan menyemprotkannya ke rambut, namun ternyata benda itu sudah tak berisi lagi. “Ahh.. Harus habis disaat seperti ini?” Tanyanya kesal pada tabung kecil itu, lalu melangkah keluar dari kamar tamu. “Cece, kau ada hair-spray?”

Fei memandang Kris heran, “Ada, ambil saja di kamarku..”

Kris langsung melangkah masuk ke kamar Fei dan menghampiri meja riasnya. Tangannya membuka beberapa laci untuk mencari hair-spray, bibirnya langsung membentuk senyuman menemukannya dan segera menata rambutnya. Setelah merasa puas dia kembali membuka laci tadi dan memasukkannya, namun sesuatu membuatnya tertegun. Ada sebuah buku kecil di dalam laci itu. Tangannya terulur mengambil buku itu dan melihat apa itu, dahinya berkerut melihat itu adalah buku harian Fei. Dia jarang sekali menemukan barang yang sangat pribadi milik kakaknya. Karena penasaran dia membuka buku itu dan menemukan setengah halaman bagian depan ditulis menggunakan hangul, tapi setengah belakangnya dengan huruf mandarin. Jadi dia bisa membacanya. Cukup melihat dua halaman paling akhir, dia bisa merasakan perasaan sedih kakaknya.

“Kris..” Panggil Fei dari luar.

Kris tertegun, “Iya, aku keluar..” Ucapnya sambil kembali memasukkan buku harian itu dan hair-spray tadi.

=Pusat Perbelanjaan=

Taechyeon menghela nafas sebal melihat ibunya asik memilih pakaian disana, “Eomma, aku direktur utama sebuah Mall. Kenapa tidak membeli brand dari mall-ku? Disana barang-barangnya lebih berkelas..”

Ibu Taechyeon melirik putranya sebal, lalu kembali memilih baju. “Baju-baju disana terlalu glamor dan kasual, eomma tidak suka. Disini lebih banyak pilihan..”

“Tapi kenapa eomma memintaku yang menemani? Biasanya eomma akan pergi bersama Taeyeon..” Ucap Taechyeon tak habis pikir.

“Adikmu ada janji bersama pacarnya, jadi eomma mengajakmu saja..” Jawab Ibu Taechyeon santai.

“Eomma! Aku ini sibuk..” Ucap Taechyeon tak percaya.

Ibu Taechyeon memandang putranya sebal, “Karena itu, segera menikah agar dia bisa menemani eomma berbelanja..”

Taechyeon menatap ibunya kesal, lalu memalingkan wajahnya.

Ibu Taechyeon memukul bahu putranya sambil menahan tawa, “Eomma benar, kan..” Ucapnya, lalu kembali melihat-lihat baju.

“Usiaku masih 24 tahun eomma, tidak buru terburu-buru juga kan..” Ucap Taechyeon sebal, namun ibunya hanya tertawa. Saat itu dia mendengar dua orang yang tak jauh darinya berbicara dalam bahasa mandarin, kepalanya spontan menoleh dan langsung tertegun melihat Fei bersama seorang pria.

Fei melingkarkan tangannya di lengan Kris sambil membicarakan beberapa hal tentang masa kecil mereka. “Ooh.. Ini bagus..” Ucapnya sambil menghampiri sebuah kemeja bermotif garis, “Lihat..” Dia mengambil kemeja itu dan menempelkannya ke tubuh Kris.

Kris tertawa kecil, “Cece, aku sudah berhenti mengenakan yang motif garis. Aku lebih suka motif kotak atau polos..”

Fei tertawa sambil mengembalikan kemeja itu ke tempatnya.

Dahi Taechyeon berkerut melihat Fei tertawa lepas bersama pria itu, ‘Dia tertawa? Siapa pria itu?’ Batinnya.

“Taechyeon, ini…”

“Aku pergi sebentar, eomma..” Potong Taechyeon dan segera mengikuti Fei dan Kris yang kembali berjalan.

Fei memandang Kris bingung, “Kenapa tidak memilih? Tidak ada yang kau suka? Kita bisa pergi ke mall lain..”

Kris tersenyum, “Mmm.. Mungkin pakaian kasual saja..”

“Kasual? Mmmm..” Fei mengedarkan pandangannya mencari dimana pakaian kasual pria.

“Fei?” Ucap Taechyeon tak percaya.

Fei tertegun dan berbalik, dia agak terkejut melihat Taechyeon.

Taechyeon memandang Kris, lalu Fei. “Fei, siapa pria ini?”

Fei memandang Kris yang terlihat bingung, lalu memandang Taechyeon. “Bukan urusanmu..” Ucapnya dan menarik adiknya pergi.

“Fei!” Seru Taechyeon marah sambil menarik tangan Fei.

Kris terkejut dan langsung mendorong Taechyeon, “Hei! Watch your hand, dude!!”

“Jangan! Tidak apa-apa..” Ucap Fei menahan Kris.

“Siapa dia? Kenapa dia berani berlaku kasar padamu?” Tanya Kris tak mengerti.

“Hanya teman lama..” Jawab Fei.

Taechyeon menatap kedua orang itu tak mengerti karena mereka berbicara dalam bahasa mandarin. “Fei, jawab aku! Siapa dia?”

Fei menatap Taechyeon tak mengerti, “Adikku! Wae?!”

Taechyeon tertegun dan menatap Kris tak percaya, “Adik?”

“What do you see?!” Tanya Kris kesal, lalu menarik Fei pergi.

“Hm? Aku tidak tau dia memiliki adik..” Ucap Taechyeon tak mengerti.

………………….

Kris memperhatikan dirinya di depan cermin dengan baju yang sedang dia coba, “Cece, bagaimana menurutmu?” Tanyanya sambil memperlihatkan penampilannya pada Fei, namun gadis itu hanya berdiri di depan sebuah rak baju dengan tatapan kosong. “Fei ce..” Panggilnya, tetap gadis itu tak memberi respon. Sepertinya sedang berkutat dengan pikirannya sendiri. Dia menghela nafas dalam dan menghampiri gadis itu, “Cece?” Panggilnya sambil memegang bahu gadis itu.

Fei tersadar dan memandang Kris, “Oh.. Kau sudah mencobanya? Wuah.. Ini bagus sekali ditubuhmu..” Ucapnya sambil tersenyum dan merapikan baju yang dikenakan Kris.

Kris memandang Fei bingung, namun dia tak mengatakan apa pun.

“Kurasa ini cocok untuk makan malam nanti..” Ucap Fei.

Kris tersenyum tipis, lalu menggangguk.

Setelah membayar baju itu, mereka kembali mencari pakaian semi-formal untuk Kris kenakan di hari pernikahan.

“Kris, lihat. Blazer itu bagus..” Tunjuk Fei sambil menarik adiknya.

Kris menahan Fei, lalu menggeleng. “Tidak begitu sesuai dengan image-ku..”

Fei merengut, “Ahhh.. Kau sudah seperti selebriti saja..” Candanya.

Kris tertawa kecil, “Cece, moodku untuk berbelanja sudah hilang. Bagaimana jika kita makan saja? Aku lapar..”

Fei mengangguk, “Baiklah, ayo..”

=Makan Malam=

Fei tersenyum pada Nickhun dan keluarganya, “Eommanim, eonni, ini adikku. Hwang WuFan. Tapi kami memanggilnya Kris..”

Kris mengangguk sopan, “Annyeonghaseo.. My name is Kris, nice to meet you..”

Ibu Nickhun tersenyum, “Wuaah.. Adikmu tampan sekali..” Ucapnya.

Fei tersenyum, “Gumawoyo eommanim..”

Nickhun maju sambil mengulurkan tangannya, “Hei, Kris.. Remember me?”

Kris menjabat tangan Nickhun sambil tersenyum, “Of Course, hei Nick..”

“This is my older sister, Sunye..” Ucap Nickhun sambil menunjuk Sunye.

“Hei, Kris.. Nice to meet you..” Sapa Sunye.

“Yeah, me too..” Balas Kris.

“Baiklah, ayo kita ke ruang makan..” Ajak ibu Nickhun.

Makan malam berlangsung tenang dan sesekali tertawa kecil.

“Kris, what are you going to do after colleg later?” Tanya Nickhun.

“Me? Mmm.. Back to my hometown, Hainan and looking for a job there..” Jawab Kris.

“You don’t want to try to work in Seoul?  That way you can be close to Fei ..” Tanya Nickhun, “I can help you get a job in my company.”

“Oh.. That’s a great idea..” Ucap Sunye mendukung.

Fei memandang Kris menunggu jawabannya.

Kris tersenyum tipis, “Well, What if Fei who is close to me in Hainan?” Candanya.

Fei dan yang lain tertawa kecil, “Dengan begitu aku tidak bisa menikah..” Ucapnya dalam bahasa mandarin.

Kris tersenyum memandang Fei, “Tidak usah menikah jika begitu..” Jawabnya dengan nada bercanda.

Fei tertegun, ucapan Kris terdengar serius ditelinganya.

Kris tertawa kecil, “Just kidding, sist..” Ucapnya sambil menyenggol bahu Fei dengan bahunya.

Nickhun menyadari ekspresi Fei tak secerah tadi setelah mendengar ucapan adiknya, namun dia tak mengerti apa yang mereka bicarakan tadi.

Setelah makan malam, Nickhun duduk disebelah Fei yang sedang mendengarkan permainan piano Kris bersama keluarganya.

“Fei..” Panggil Nickhun setengah berbisik.

Fei menoleh pada Nickhun, “Ne?”

“Mmm.. Tadi, saat di meja makan. Apa yang di katakan Kris padamu?” Tanya Nickhun ingin tau.

Fei diam sejenak, “Hanya ucapan konyol..”

“Benarkah? Tapi tadi kau terlihat terkejut..” Ucap Nickhun.

“Bukan apa-apa..” Jawab Fei, lalu memandang Kris yang sudah menyelesaikan permainannya.

“Wuaaa.. That’s so nice..” Puji Sunye.

Kris tersenyum, “Thank you..”

=Apartemen Fei=

Kris berlari pagi di sekitar gedung apartemen sambil mendengarkan musik melalui earphonenya. Saat kembali ke gedung apartemen, dia tertegun melihat Taechyeon mondar-mandir seorang diri. Perlahan dia menghampiri pria itu, “Hei, what are you doing?”

Taechyeon terkejut melihat Kris, “Me? Oh.. Nothing..” Jawabnya cepat.

Dahi Kris berkerut, “Well, You don’t look safe for my sister, so stay away from her..” Ucapnya memperingati dan melangkah masuk.

“Apa? Hei..” Taecyeon menarik Kris dan menatapnya, “Apa maksudmu aku tidak aman untuknya? Aku tidak pernah mencelakainya.. Errr.. Maksudku tidak akan lagi..”

Kris menatap Taechyeon kesal, “I don’t speak Korean..”

Taechyeon tertegun, “Ow.. I’m sorry..”

“Just go away..” Ucap Kris dan kembali melangkah.

“Wait.. Can I speak with you? Please..” Pinta Taechyeon.

Kris berhenti di depan lift dan menekan tombolnya, “No, I’m kind of busy guy..” Jawabnya, lalu masuk ke dalam lift.

Taechyeon ikut masuk ke dalam lift, “Okay, just listen..” Ucapnya, “I don’t want your sister to marry Nichkhun!”

Kris tertegun dan menatap Taechyeon kaget, “What?”

“I know this does not make sense, but I knew she did not want to do this.  Change her mind, don’t let her sacrifice her life..” Pinta Taechyeon.

Kris terpaku di tempatnya mendengar ucapan Taechyeon, bahkan dia tak mempedulikan pintu lift yang sudah terbuka. Dahinya berkerut perlahan, “Can I know what your name is?”

“I’m Ok Taechyeon..” Jawab Taechyeon.

Kris tertegun, “You?” Ucapnya tak percaya.

“Yes, why?” Tanya Taechyeon tak mengerti.

Kris tampak berpikir sambil memandang kotak layar yang menunjukkan lantai yang didatangi lift, lalu kembali memandang Taechyeon. “I have to go..” Ucapnya, lalu melangkah keluar begitu pintu terbuka.

Sementara itu. Fei memandang kalender yang telah di lingkari dengan wajah sedih, hari pernikahannya tinggal beberapa hari lagi. Dia menghela nafas dalam dan memandang ke sekitar kamarnya, “Apa aku akan melakukan ini?”

Dia tertegun mendengar bunyi pintu apartemennya yang menandakan Kris sudah kembali, dia segera bangkit dan keluar kamar. “Hei, sudah kembali? Ayo sarapan..” Ajaknya.

“Langsung saja ke meja makan, aku akan mandi sebentar..” Ucap Kris sambil melangkah ke kamar tamu.

Fei melangkah ke meja makan dan menyiapkan piring serta menghidangkan makanan yang dia siapkan. Tak sampai 30 menit adiknya sudah keluar. Bibirnya membentuk senyuman ketika Kris duduk, “Ayo makan..”

Kris memandang Fei ragu, seperti ada yang dia sembunyikan.

“Ada apa? Kau tampak aneh..” Tanya Fei heran.

Kris meletakkan sebuah buku ke meja dan menyodorkannya pada Fei dengan wajah menyesal.

Fei tertegun menyadari itu adalah buku hariannya, “Bagaimana kau…”

“Maaf, aku membacanya..” Ucap Kris menyesal.

Fei mengambil buku hariannya dan berdiri, “Kris! Kenapa kau lancang sekali?!” Serunya marah.

“Maaf, aku hanya ingin tau mengapa kau tampak tak menyukai pernikahanmu..” Jawab Kris sambil berdiri, “Dan sekarang aku sudah tau..”

Fei menatap adiknya tak percaya, “Apa pun yang kutulis disini, kau tidak berhak mengetahuinya!!” Serunya, lalu berbalik.

“Cece..” Panggil Kris sebelum Fei meninggalkan meja makan. Gadis itu memang berhenti namun tak memandangnya, “Ayo kita kembali ke Hainan..”

Fei tertegun dan memandang Kris.

“Jangan menikah dengan Nickhun, aku tau kau tidak mencintainya. Juga tidak menginginkan pernikahan itu..” Ucap Kris.

Fei tak tau harus mengatakan apa, “Kris..”

“Kau melakukan ini karena dia kan?” Ucap Kris, “Ok Taechyeon?”

Fei tertegun Kris juga mengetahui itu, “Kris, ini bukan..”

“Jika kau mencintainya, buka hatimu lagi untuknya!” Potong Kris.

Fei terdiam sejenak mendengar ucapan Kris, lalu menunduk sedih. Bulir air matanya mulai berjatuhan, “Ini tak semudah yang kau pikirkan Kris..”

Kris melangkah maju dan mengangkat dagu Fei agar memandangnya, “Memang, tapi aku akan membuatnya mudah..”

“Apa pun yang kau rencanakan, kumohon jangan lakukan..” Pinta Fei.

Kris menggeleng, “Aku harus melakukannya..”

Fei memegang lengan adiknya, “Kris…”

Kris menggeleng, “Jangan katakan apa pun..”

“Kris..” Ucap Fei memohon.

“Ssst!” Tegas Kris, “Diam dan lakukan seperti apa yang kurencanakan..”

=Sebuah Rumah=

Victoria membuka pintu rumahnya karena mendengar suara bel, “Ne..” Jawabnya sambil keluar.

“Annyeonghasimnika, anda nona Victoria Song?” Tanya seorang kurir.

Victoria mengangguk, “Ne, waeyo?”

“Ada kiriman untuk anda nona..” Ucap pria itu, lalu memandang ke mobil. “Turunkan kirimannya..”

“Kiriman?” Ucap Victoria heran. Dia terkejut melihat paket yang diturunkan sangat besar, “Omo! Apa ini?”

“Maaf nona, saya tidak tau.. Ini, tolong tanda tangani disini..” Ucap kurir itu sambil menyodorkan sebuah kertas.

Victoria menandatangai kertas itu dan membawa paket itu masuk. “Ini apa ya?” Tanyanya sambil meletakkan paket berbentuk kotak itu ke meja, lalu membukanya dengan hati-hati. “Hm?!” Matanya membesar menemukan baju pengantin di dalam kotak berwarna putih itu. “Siapa yang mengirimiku ini?” Tanyanya tak percaya, lalu mengambil sebuah amplop disana.

Baju ini seharusnya milikmu.. Datanglah pada pernikahanmu besok.. Kenakan kalung itu juga..

Fei

Dahi Victoria berkerut melihat tulisan disana, lalu melihat sebuah undangan di dalam amplop itu juga. Disana tertulis Nickhun & Fei, namun nama Fei tercoret. Lalu kembali melihat baju pengantin tadi. Tampak ada kotak perhiasan diatasnya.

=Hari Pernikahan=

Nickhun berdiri di depan cermin sambil memperhatikan dirinya, beberapa jam lagi dia akan benar-benar menikah dengan Fei. Dia menghela nafas berat sambil merapikan blazernya lagi.

“Nickhun, sudah siap?” Tanya Sunye sambil tersenyum.

Nickhun tersenyum, “Siap..”

“Pengantin perempuan sudah siap, acaranya akan segera dimulai..” Ucap Sunye, “Oh iya, ini.. Ada yang memberikan ini padamu..” Ucapnya sambil mengeluarkan sebuah amplop dari tas tangannya.

“Hm? Apa ini?” Tanya Nickhun.

“Sudah, lihat nanti saja.. Kita harus segera ke altar..” Ajak Sunye sambil menarik adiknya keluar.

Acara dimulai. Nickhun mengedarkan pandangannya memperhatikan sekitar, namun tak melihat Kris. Perhatiannya teralih mendengar suara piano, itu berarti pengantin wanita sudah muncul. Dia melihat seorang gadis mengenakan baju pengantin putih dan penutup wajah berjalan ke arahnya.

Bibirnya membentuk senyuman ketika mengulurkan tangannya pada calon pengantinnya, lalu melanjutkan perjalanan mereka ke altar.

“Nickhun…” Bisik sang pengantin wanita sambil berjalan.

Nickhun menoleh sedikit sambil tetap berjalan, “Ne..” Jawabnya dan berhenti di depan pendeta.

“Kau harus tau, aku bukan Fei..” Bisiknya lagi.

Dahi Nickhun berkerut, “Apa?”

“Aku bukan Fei..” Ucap Victoria lebih jelas.

Nickhun terkejut mendengar itu sambil menatap gadis yang wajahnya ditutupi penutup itu tak percaya. Dia mendengar sang pendeta memulai acara itu.

“Sebeum kita memulai acara ini, silahkan bagi orang yang tidak menyukai pernikahan ini untuk berbicara sekarang..” Ucap pendeta itu.

Nickhun melirik kanan dan kiri, tidak ada yang berdiri atau pun berbicara.

“Tunggu..” Ucap Victoria, lalu menyibakkan penutup wajahnya. Semua mata langsung membesar memandangnya.

“Victoria?” Ucap Nickhun tak percaya.

“Maaf Nickhun, Fei yang memiliki ide ini..” Ucap Victoria.

Nickhun tertegun sesaat, lalu melirik ibunya yang tampak kaget. Namun bibirnya membentuk senyuman dan memandang pendeta, “Anda bisa mengganti nama Wang Fei Fei menjadi Victoria Song di janji setia itu..” Ucapnya.

Ibu Nickhun terkejut, “Nickhun?”

“Eomma.. Gwenchana, dia memang menginginkan ini. Jangan biarkan hari baik ini rusak eomma..” Pinta Sunye.

Akhirnya Ibu Nickhun menghela nafas dalam dan tak berbicara lagi.

Setelah pernikahan.

Nickhun tersenyum sambil memandangi Victoria yang baru saja menjadi istrinya, “Bagaimana kau bisa bekerja sama dengan Fei untuk melakukan ini?”

“Ani, semua ini ide Fei. Dia mengirimkan pakaian pengantin ini kemarin dan memintaku yang menggantikannya disini..” Jawab Victoria, lalu memegang kalung di lehernya, “Juga kalung ini..”

Nickhun tertegun, “Ne?” Dia mencoba berpikir sejenak, lalu mengeluarkan amplop yang tadi dia dapatkan. Perlahan dia merobek amplop itu dan menemukan sebuah kunci dan surat disana.

“Kunci apa itu?” Tanya Victoria.

“Aku tidak tau..” Jawab Nickhun sambil membuka lipatan surat itu dan membacanya.

Nickhun, semoga kau bahagia bersama Victoria. Maafkan keegosianku beberapa minggu terakhir ini. Sekarang aku tidak akan merepotkanmu lagi. Terima kasih untuk semuanya.

Ini kunci apartemen yang diberikan ibumu padaku, aku tidak memindahkan atau mengeluarkan barang yang sudah ada disana. Sampaikan maafku pada ibumu dan Sunye eonni..

Fei

Nickhun shock mendapatkan pesan itu, “Andwaeyo!!” Serunya.

“Ada apa?” Tanya Victoria penasaran.

Nickhun menatap Victoria, “Aku harus segera pergi.. Tunggu aku di hotel!” Ucapnya, lalu berlari menghampiri Sunye. “Noona, mana ponselku?”

“Hm? Waeyo?” Tanya Sunye sambil mengeluarkan ponsel Nickhun dari tas tangannya.

“Kunci mobil..” Ucap Nickhun.

Meskipun bingung Sunye tetap mengeluarkan kunci mobilnya.

“Aku pinjam mobilmu..” Ucap Nickhun sambil berlari pergi.

“Ya! Kau mau kemana? Nickhun!” Panggil Sunye, namun adiknya tetap pergi.

Nickhun berusaha menghubungi Fei, namun ponselnya tak aktif. Tiba-tiba seseorang menariknya hingga hampir terjerembab, “Ya!” Serunya.

Taechyeon menatap Nickhun marah, “Kau menikah dengan kekasihmu?! Bagaimana dengan Fei?! Dimana dia?!”

Nickhun melepaskan tangan Taechyeon, “Sekarang aku ingin mencarinya..” Ucapnya, lalu melangkah cepat pergi.

Taechyeon mengikuti Nickhun, “Dia tak ada di apartemenya tadi pagi, pihak apartemen berkata dia pergi dini hari dengan koper besar bersama seorang pria.” Ucapnya memberitau.

Langkah Nickhun terhenti dan menatap Taechyeon tak percaya, “Kris?”

Taechyeon mengangguk, “Ne.. Kurasa dia akan pergi jauh..”

Nickhun berpikir sejenak, “Ahh! Dia pasti kembali ke Hainan..” Ucapnya.

Mata Taechyeon membesar, “Ne?!! Oh! Dia tak boleh pergi!!” Serunya sambil berlari menuju parkiran.

Nickhun mengejar Taechyeon, “Ya! Dimana kau parkir mobilmu?”

“Di parkiran basement.. Wae?” Tanya Taechyeon.

“Mobil noona-ku ada diparkiran depan, gunakan mobilnya saja. Ayo..” Ucap Nickhun mengajak Taechyeon dan langsung berjalan menuju pintu keluar.

Taechyeon tak berkomentar dan segera mengikuti Nickhun.

“Ahhh.. Kuharap dia belum berangkat!” Ucap Nickhun sambil mengemudikan mobilnya ditengah jalanan.

“Aku tau..” Ucap Taechyeon dan langsung mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi seseorang.

Nickhun melirik Taechyeon sambil tetap mengemudi.

“Hallo, aku Ok Taechyeon. Grand manajer Mall S..” Ucap Taechyeon di telepon, “Ne, aku ingin bertanya apakah ada penumpang bernama Wang Fei Fei dengan tujuan Hainan atau daerah dimana pun di China?” Dia diam sejenak menunggu lawan bicaranya. “Ne?!” Serunya sambil menatap Nickhun, “Baik! Terima kasih..” Ucapnya dan memutuskan telepon.

“Siapa yang kau hubungi?” Tanya Nickhun.

“Bagian informasi bandara Incheon, aku sering melakukan penerbangan jadi mereka sudah mengenalku. Mereka bilang Fei akan menaiki pesawat ke Hongkong sekitar pukul 2 siang ini..” Jelas Taechyeon.

Nickhun memandang jam tangannya, “Bagus!! Baru pukul setengah 2!! Ayo kesana!”

=Bandara=

Fei memandang Kris yang sejak tadi memainkan passport di tangannya, lalu memandang jam besar di dinding. “Penerbangan kita masih setengah jam lagi, kau ingin sesuatu?”

Kris memandang Fei, “Mmm.. Aku juga ingin ke toilet, ayo ke cofeeshop..” Ajaknya.

Fei bangkit bersama Kris dan melangkah ke cofeeshop yang tak jauh dari ruang tunggu. Mereka hanya memesan dua Americano cofee dan kentang goreng.

“Cece, itu akan membuatmu gendut..” Ucap Kris karena melihat Fei terus memakan kentang goreng.

Fei tertawa kecil, “Aku ini koki, tidak masalah sedikit gendut..”

Kris tersenyum, “Cece, kau tidak menyesal pergi?”

Tawa Fei memudar dan memandang Kris ragu, “Aku tentu menyesal, tapi aku tidak ingin tetap disini..”

Kris memandang Fei sedih, “Apa kau masih mencintai Taechyeon?”

Fei tertegun, “Kenapa kau menanyakan itu?”

“Aku hanya ingin tau..” Jawab Kris.

“Kurasa aku tidak perlu menjawabnya..” Ucap Fei.

“Karena kau masih mencintainya?” Tanya Kris.

Fei terdiam, lalu menunduk memandang minumannya. Perlahan bibirnya membentuk senyuman, “Kau tau aku bukan orang yang mudah melupakan seseorang. Apalagi dia adalah cinta pertamaku..” Ucapnya sedih, lalu memandang Kris. “Tapi saat aku merasa sangat mencintainya, dia tidak merasakan hal yang sama. Dia melukaiku. Aku tak ingin merasakan sakit lagi, jadi aku akan pergi sejauh mungkin untuk melupakannya..”

“Kau tau? Terkadang, semakin kita berusaha melupakan seseorang. Justru akan terasa semakin sulit.. Benar kan?” Ucap Kris.

Fei tersenyum sedih, “kau benar..”

Kris mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Fei, “Yang kau butuhkan bukan pergi meninggalkan semua ini, tapi rasa percaya kalau kau akan bahagia disini..”

Fei tertegun mendengar ucapan Kris, lalu menggeleng pelan. “Aku akan bahagia bersamamu setelah kembali ke China. Mungkin aku akan menemukan seseorang yang spesial..” Ucapnya berusaha terdengar senang.

“Apa orang itu bisa menggantikan Taechyeon yang sangat spesial dihatimu?” Tanya Kris.

Fei terbungkam dengan pertanyaan itu, lalu menunduk bingung.

“Kau membutuhkan…”

“Aku tidak butuh apa pun!” Potong Fei tegas, lalu menyesal sendiri dengan ucapannya. “Maaf, aku tidak bermaksud…” Dia bingung mengatakan maksudnya, lalu menghela nafas dalam.

Kris tersenyum, “Tidak apa-apa, aku tau semua ini berat untukmu..”

Fei tersenyum tipis, “Kurasa sudah saatnya kita bersiap masuk ke pesawat..” Ucapnya sambil bangkit.

Kris mengikuti Fei kembali ke ruang tunggu.

“Fei!!” Seru Taechyeon dan Nickhun sambil berlari menghampiri Fei dan Kris.

Fei bingung melihat kedua pria itu ada disana.

Taechyeon langsung memeluk Fei erat, “Fei! Jangan pergi!! Maafkan aku!! Kumohon!!”

Fei terkejut karena pelukan mendadak itu hingga tak tau harus mengatakan apa. Setelah beberapa saat dia mendorong pria itu, “Kenapa kalian disini?” Tanyanya, lalu memandang Nickhun. “Bukankah kau akan menikah dengan Victoria?”

Nickhun menghela nafas dalam sejenak, lalu melangkah maju sambil memperlihatkan cincin ditangannya. “Aku sudah menikah dengannya..”

“Dengar..” Ucap Taechyeon sambil memegang pipi Fei agar memandangnya, “Fei, aku tidak tau bagaimana caraku meminta maaf padamu. Tapi aku benar-benar menyesal telah menyakitimu.. Aku tau aku adalah pria terbodoh yang tak menyadari betapa berharganya kau ketika aku memiliki kesempatan untuk bersamamu..”

Fei menatap kedua mata Taechyeon yang memancarkan penyesalan mendalam.

Kris mendekati Nickhun dan bertanya apa yang sedang terjadi, pria itu menjelaskan dalam bahasa inggris.

Fei menunduk bingung.

Taechyeon menggenggam kedua tangan Fei dan menatapnya dalam, “Fei.. Kumohon, beri aku kesempatan kedua..”

Fei kembali memandang Taechyeon, namun tak tau apa yang harus dia katakan.

Taechyeon menatap kedua mata Fei penuh harap. Dia dan semua orang disana tertegun mendengar panggilan untuk penumpang dengan tujuan Hongkong agar segera masuk ke pesawat.

Fei menghela nafas dalam dan menarik tangannya dari genggaman Taechyeon, membuat pria itu menatapnya tak percaya.

“Fei?” Ucap Taechyeon hampir menangis.

Fei memandang Taechyeon sedih menahan air matanya, “Selamat tinggal, Taechyeon..” Ucapnya, lalu melangkah menghampiri Kris. “Berbahagialah bersama Victoria, Nickhun..” Ucapnya dengan senyuman palsu diwajahnya dan menggandeng adiknya menuju boarding pass.

“Fei..” Panggil Nickhun.

Fei berhenti sejenak dan memandang Nickhun.

Nickhun menatap Fei menyesal, “Terima kasih.. Dan maafkan aku..”

Fei tak mengatakan apa pun dan segera menarik Kris pergi lagi.

Taechyeon menatap Fei yang berjalan pergi dengan bulir air mata berjatuhan, dia merasa tak berguna. Rasanya tidak ada yang berharga lagi di hidupnya.

Nickhun melangkah ke sisi Taechyeon dan memegang bahunya.

Kris memandang wajah Fei setelah mereka duduk di pesawat, “Masih belum terlambat turun dari pesawat..” Ucapnya.

Fei memandang Kris, “Hm? Mmm.. Tidak..”

Kris menggenggam tangan Fei, “Cece, jika kau mencintainya, kenapa kau tidak memberikannya kesempatan?”

Fei diam menatap Kris, lalu memalingkan wajahnya sambil bersandar dan memandang keluar jendela. Tak lama pesawat mulai bergerak dan mengudara di langit.

Kris menggoyang tangan Fei yang dia genggam, namun gadis itu tak memandangnya. Meskipun tetap memalingkan wajah, dia tau kakaknya menangis. Tangannya melepaskan genggamannya dan menarik gadis itu pelukannya dan mengelus kepala kakaknya lembut.

Fei tak bisa menutupi perasaan sedihnya, dia sendiri tak tau mengapa dia tak bisa memberi kesempatan pada Taechyeon atau pun berusaha memperbaiki semuanya. Dia hanya melepaskan semua kesedihannya di pelukan Kris.

=Dua Tahun Kemudian=

Karena Kris tak mengijinkannya tinggal sendiri di Hainan, Fei memutuskan bekerja di sebuah restauran di Hongkong dan menyewa sebuah apartemen sambil menunggu adiknya menyelesaikan kuliahnya yang sudah masuk semester akhir.

Karena memiliki tubuh langsing dan berparas cantik, Fei segera menjadi sorotan public hanya dalam waktu beberapa bulan dia mulai bekerja. Bahkan dia menjadi koki nasional yang sudah berpose di majalah terkenal di Hongkong dan beberapa di Asia.

-Fei’s POV-

Aku menarik koperku keluar dari kamar sambil berbicara dengan Kris di telepon, “Hanya 2 hari.. Akan ada demo masak di tv dan akan melakukan wawancara, lalu ada beberapa photoshoot..” Jelasku, lalu berhenti untuk mengenakan high heelsku.

“Santai saja, cece bisa berlibur sebentar disana. Jangan terlalu terburu-buru. Disini pekerjaanmu selalu padat..” Ucap Kris mengingatkan.

“Tenang saja..” Ucapku sambil tersenyum, “Baiklah, aku akan menghubungimu begitu tiba di sana..”

“Oke, bye..” Ucap Kris dan telepon terputus.

Aku akan terbang ke Thailand sore ini untuk melakukan demo memasak untuk tv nasional disana, juga wawancara dan photoshoot. Aku tak pernah berpikir bisa berubah menjadi ‘koki selebritis’ seperti ini. Karena selain menjadi koki aku juga memiliki jadwal lain seperti photoshoot, juga syuting iklan dan demo memasak di tv. Aku harus memiliki seseorang yang mengatur semuanya untukku, dan inilah dia, Lim. Sebenarnya dia orang Korea, tapi lahir dan besar di Hongkong.

“Cece, sudah siap?” Tanya Lim sambil mengambil koperku dan memasukkannya ke mobil.

“Ayo, kita langsung ke bandara..” Ucapku sambil masuk ke mobil.

Pesawat.

“Cece, begitu tiba di Thailand akan ada penyambutan untukmu..” Ucap Lim memberitauku.

Aku mengangguk, “Kalau begitu aku harus memperbaiki make up ku..” Ucapku sambil membuka tas dan mengeluarkan tas make-upku.

“Cece, kau sudah cantik tanpa make-up..” Ucap Lim.

Aku tertawa kecil sambil memperhatikan wajahku di cermin.

Begitu tiba di bandara international Thailand, aku langsung di sambut bak selebritis besar. Banyak orang-orang yang memotretku dan meminta tanda tanganku, beruntung pihak bandara sudah menyiapkan penjaga untukku.

-Fei’s POV end-

-Taechyeon’s POV-

“Sajangnim, malam ini anda bisa beristirahat. Besok anda harus menemui rekan bisnis pukul 10.30 dan rapat pukul 14.00..” Jelas Jaebeom.

“Hmm..” Jawabku sambil melepaskan blazer dan melonggarkan dasi dileherku, aku berdiri di depan jendela memandangi pemandangan malam diluar hotel tempat kami menginap.

“Saya keluar sekarang, sajangnim..” Ucap Jaebeom, lalu membungkuk sopan dan melangkah keluar.

Aku menghela nafas dalam merasakan ketenangan disana. Tanganku bergerak melepaskan kancing kemejaku dan melangkah ke kamar mandi.

Keesokan harinya.

“Welcome Mr. Ok, I’m Janice, Mr. Chirathivat’s secretary. Have a seat..” Ucap gadis bernama Janice itu sambil menunjuk tempat duduk di dekatnya, lalu duduk bersamaku.

Ini menjadi pertemuan yang tak begitu menyenangkan, memang selalu begitu. Setelah hampir pukul 5 sore aku terlepas dari kesibukan untuk hari ini.

Malamnya.

Aku hanya melangkah menuju meja yang telah dipesan oleh Jaebeom tanpa memandang sekitar dan duduk disana.

“Sajangnim, anda ingin memesan apa?” Tanya Jaebeom ketika aku masih berkutat dengan menu ditanganku.

Aku memandang pelayan yang menungguku menyebutkan pesanan, aku menyebutkan apa yang ingin kupesan. Lalu mengembalikan menu pada pelayan itu.

Jaebeom mengingatkanku tentang jadwalku besok, lalu memperhatikan sekitar kami. “Wuaah.. Disana ada demo memasak..” Ucapnya.

Aku tidak begitu tertarik mendengar ucapan Jaebeom. Namun memang benar, aku bisa mendengar seseorang berbicara menjelaskan sesuatu yang di panggang. Tidak heran aku mengerti ucapannya karena dia berbicara dalam bahasa Inggris.

“Sajangnim, koki itu cantik sekali..” Ucap Jaebeom, aku hanya memandang asistenku itu sekilas dan kembali memandang berkas di tanganku. “Dia koki terlangsing yang pernah kulihat..”

Aku tertegun, kalimat itu mengingatkanku pada Fei. Aku menghela nafas dalam dan berusaha tak terpengaruh.

“Ooh.. Pantas saja menggunakan bahasa Inggris, kokinya dari Cina..” Ucap Jaebeom sendiri, itu kebiasaannya sejak dulu. Terus berbicara meskipun aku tak pernah menanggapinya. “Namanya Wang Fei Fei.. Hmm.. Nama yang unik..”

Aku tersentak mendengar ucapan Jaebeom, lalu memandang ke arah demo memasak yang diadakan di sisi lain restauran itu. Mataku membesar melihat Fei berdiri di depan meja sambil menjelaskan apa yang dia lakukan, dia terlihat sangat ceria. Aku sedang bermimpi? Bagaimana mungkin aku bertemu dia disini? Jantungku berdegup sangat kencang melihatnya disana. Tanpa sadar kakiku berdiri sendiri dan melangkah pelan ke arah demo masak yang di tonton beberapa wanita itu.

“Sajangnim?” Panggil Jaebeom bingung.

Pikiranku sudah tak ada disini lagi, mataku hanya tertuju pada Fei. Aku tak tau apa yang terjadi disekitarku, yang kutahu, aku harus menghampirinya. Ini seperti pertanda dari Tuhan kalau dia memang ditakdirkan untukku.

“After that, you have…” Ucapan Fei terputus karena kaget melihatku muncul dan terus berjalan menghampirinya.

Aku menatap kedua wajahnya dalam, tak percaya setelah sekian lama aku bisa menatap wajahnya lagi.

“Hei, apa yang kau lakukan? Aku sedang syuting!” Bisik Fei sambil melirik orang-orang dengan kamera dan memandang kami bingung.

Aku tak peduli, kesempatan seperti ini tak akan datang dua kali. Tanganku bergerak memegang tengkuknya dan menunduk mendekati wajahnya, lalu menciumnya sepenuh hatiku. Melepaskan kerinduan dan rasa penyesalan yang selalu menyelimutiku.

Tangan Fei bergerak mendorong dadaku, namun tak lama hanya bertumpu disana dan membiarkanku menciumnya.

Karena merasakan dia tak menolak ciumanku, aku menarik wajahku dan menatapnya dalamnya. “Aku merindukanmu..” Ucapku sepenuh hati.

Fei menatapku bingung.

“Sorry, what’s going on here?” Tanya PD acara itu.

Fei memandang PD itu lalu kembali memandangku bingung, “I’m sorry.. Give me 10 minutes..” Ucapnya, lalu melangkah pergi.

Aku segera mengikuti Fei melangkah keluar restauran dan berdiri di sebelah kolam renang.

-Taechyeon’s POV end-

“Fei..” Ucap Taechyeon.

Fei memandang Taechyeon, pikirannya menjadi kacau karena kemunculan pria itu dan tiba-tiba menciumnya.

Taechyeon seperti lupa apa tujuannya kesana, karena yang ada dipikirannya adalah meyakinkan Fei tentang perasaannya. Tak peduli bagaimana caranya. Kedua tangannya menggenggam tangan gadis itu dan berlutut, “Fei.. Ini pertemuan kita yang kedua kali setelah lama tak bertemu. Kumohon.. Berikan kesempatan itu untukku.. Aku telah merenungkan diriku selama beberapa tahun ini. Aku tak bisa melupakanmu, bahkan untuk sedetikpun. Semuanya menjadi sangat gelap bagiku sejak kau kembali meninggalkanku, aku tak sanggup hidup lagi jika kau juga meninggalkanku kali ini..”

Fei tertegun mendengar ucapan Taechyeon.

“Kumohon.. Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku? Aku bisa melakukan apa pun kecuali memutar waktu, aku adalah pria paling menyedihkan di dunia ini. Tapi aku tak bisa menghentikan perasaanku untukmu.. Fei, berikan kesempatan kedua itu padaku..” Mohon Taechyeon.

Fei menghela nafas dalam, lalu bergerak mundur sambil menarik tangannya.

Taechyeon menatap Fei tak percaya, hatinya terasa sangat sakit. “Fei?”

Fei diam menatap Taechyeon sejenak, bulir air matanya mulai berjatuhan. “Maafkan aku..” Ucapnya menyesal, lalu berbalik pergi.

Taechyeon segera berdiri, “Fei! Kumohon!! Jangan pergi!!” Serunya, membuat gadis itu berhenti. “Aku akan berikan apa pun yang kau inginkan? Aku akan lakukan semua yang kau perintahkan. Kumohon..” Mohonnya. Bulir air matanya berjatuhan, kakinya terasa lemas karena Fei tetap tak mempercayainya.

Fei berbalik memandang Taechyeon, “Hentikan Taechyeon..” Ucapnya, “Kau membuatku merasa seperti orang jahat..”

“Ani.. Aku orang jahatnya, Fei..” Ucap Taechyeon sambil memegang dadanya, “Aku sudah dihukum selama ini akibat kesalahanku padamu, sekarang tolong selamatkan aku dari hukuman ini..”

Fei menatap Taechyeon tak mengerti, “Untuk apa kau melakukan ini? Bukankah masih banyak gadis yang bisa kau dapatkan? Aku hanya gadis biasa yang tidak penting..”

“Kau sangat penting, Fei! Hatiku membutuhkanmu!! Tubuhku membutuhkan pelukanmu!! Kumohon… Berikan kesempatan kedua itu padaku.” Mohon Taechyeon.

Fei menunduk sedih, “Aku tidak bisa mengulang rasa sakitku, jadi maafkan aku..”

Taechyeon menatap Fei penuh penyesalan, “Jangan Fei, kau tidak perlu meminta maafku. Karena akulah yang bersalah..” Ucapnya, lalu menunduk menyesal.

“Selamat tinggal..” Ucap Fei, lalu berbalik.

Taechyeon menoleh air kolam renang itu, tak ada yang dia pikirkan lagi. Kakinya melangkah maju dan masuk ke kolam.

BYUUUR!!

Langkah Fei terhenti, lalu berbalik namun tak melihat siapa pun disana. “Taechyeon?” Panggilnya, lalu melangkah cepat ke pinggir kolam renang. Dahinya berkerut melihat Taechyeon tak melakukan apa pun di dalam air. “Taechyeon! Ini tidak lucu! Segera keluar!!” Serunya, tapi tak ada respon. “Ya!!” Serunya lagi.

Jaebeom mencari-cari Taechyeon hingga ke kolam renang, “Kemana dia pergi?”

“Ok Taechyeon!!!” Teriak Fei yang mulai panik.

Jaebeom tertegun dan menghampiri Fei, matanya membesar melihat sesosok tubuh di dalam air. “Sajangnim!!” Serunya, lalu meloncat ke dalam air dan membawa pria itu keluar.

Fei membantu membaringkan Taechyeon ke pinggir kolam dan menatapnya khawatir, “Taechyeon..” Panggilnya sambil menepuk pipi pria itu pelan, “Taechyeon!!” Serunya sambil mengguncang tubuh pria itu.

“Sajangnim!” Seru Jaebeom, lalu menekan perut Taechyeon berkali-kali.

“Uhuk!!!” Akhirnya Taechyeon memuntahkan air yang masuk ke perutnya.

Fei menghela nafas lega, “Taechyeon…” Ucapnya lega sambil memeluk tubuh pria itu dengan air mata haru mengalir.

Taechyeon memeluk Fei sambil mengatur nafasnya.

Fei melepaskan pelukannya dan menatap Taechyeon kesal, “Pabo!! Apa yang kau lakukan?!!”

Taechyeon menatap kedua mata Fei, lalu memegang pipinya. “Ne, aku bodoh.. Aku tak bisa memikirkan apa pun selain penyesalanku padamu..”

Fei memukul bahu Taechyeon, “Pabo!” Ucapnya sambil menangis, “Pabo!!! Aku benci padamu!!!” Serunya sambil memukul bahu Taechyeon lagi, lalu menangis sambil memeluk pria itu.

Taechyeon tertegun sesaat, lalu tersenyum dan memeluk Fei. “Maafkan aku..”

=Beberapa Hari Kemudian=

Hongkong.

Kris tertegun melihat Lim keluar dari apartemen Fei.

“Hai.. Kau baru datang?” Sapa Lim.

“Fei cece ada?” Tanya Kris.

“Cece masih ada perlu di Thailand, mungkin pulangnya minggu depan..” Jawab Lim.

“Minggu depan?” Tanya Kris.

Korea.

“Maaf, sajangnim masih ada keperluan di Thailand.. Kami akan menghubungimu lagi nanti..” Ucap Jaebeom, lalu menutup telepon. Tak sampai satu menit, telepon kembali berbunyi. “Yoboseo.. Ne, Yoon sajang. Maaf, Ok sajangnim masih berada di Thailand. Kami akan menghubungi anda lagi nanti..” Ucapnya, lalu menutup telepon. Namun kembali berbunyi lagi, “Aissh!!” Akhirnya dia melempar telepon itu ke lantai.

Thailand.

Taechyeon tersenyum melihat Fei berjalan disisinya menyusuri pantai indah, ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Tangannya dan gadis itu juga saling terkait. “Kau senang berada disini?”

Fei tersenyum, “Ne.. Senang sekali..”

Taechyeon menghentikan langkah mereka dan berdiri berhadapan dengan gadis itu, “Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, aku akan menjagamu dengan baik.” Ucapnya.

Fei mengangguk.

“Aku benar-benar tak ingin kehilanganmu lagi..” Ucap Taechyeon bersungguh-sungguh.

Fei tertawa kecil, “Ne, aku tau..”

“Jadi, bagaimana jika kita menikah disini?” Tanya Taechyeon.

Fei tertegun, “Menikah?”

Taechyeon mengangguk, “Ne.. Aku bisa menyiapkan semuanya dalam waktu beberapa jam. Tapi memang kau tak bisa mengenakan baju pengantin, ahh.. Itu tidak terlalu penting. Yang terpenting kau menjadi istriku dulu..”

Fei menatap Taechyeon bingung, lalu menahan tawa. “Tidak perlu terburu-buru..”

Taechyeon tertawa kecil, “Maaf, aku sangat takut kau pergi lagi..”

Fei menggeleng, “Aku tidak akan pergi lagi..”

“Kau berjanji?” Tanya Taechyeon penuh harap.

Fei menahan tawa lagi, “Dulu kau yang selalu cuek padaku, sekarang kenapa seperti ini?”

Taechyeon tersenyum malu, “Maafkan aku..”

“Bagaimana kalau kita berlomba siapa yang tercepat mencapai laut?” Tanya Fei mengalihkan pembicaraan.

“Ne?” Taechyeon memandang Fei bingung.

“Yang kalah harus menggendong yang menang!!” Ucap Fei sambil berlari duluan.

“Ya!” Seru Taechyeon kaget, lalu tertawa dan mengejar Fei. Tidak sulit mengejar langkah gadis itu, namun meskipun menang dia tetap menyodorkan punggungnya untuk menggendong gadis itu.

Fei merasa mendapat kebahagiaannya lagi. Selama ini dia berusaha menutup hatinya karena apa yang Taechyeon lakukan dimasa lalu sangat melukainya, tapi sekarang pria itu bisa menutup luka itu dan menyembuhkannya.

===The End===

Advertisements

3 thoughts on “Give It To Me..

  1. Untung yaa akhirnya taecyeon ama fei bisa bersama lagi~ 😀 sungguh perjalanan yang panjang xD
    Tapi aku pikir nichkhun emg bakal nikah dulu ama fei lho… Baru deh taech ama fei bareng lagi.. Tapi ternyata enggak xD
    oh ya thor,, kenapa judulnya Give It To Me? Aku bingung lho xD

    1. OMG.. aku pikir ngga ada yang tertarik dengan cerita ini.. xoxo.. thank you. 😀
      Give it to me, karena Taechyeon minta Fei ngasih hatinya lagi ke dia.. 🙂 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s