Part

Can You Hear Me? [Part 3]

Can You hear me 3

=Meja kerja Heesun=

“Aaiishh!! Picheoso(gila)!!” Gumam Heesun sambil memukul kepalanya kesal. Dia merasa telah berbuat kesalahan besar, “Bagaimana mungkin aku tidur dengan Hyunseung? Arrrggh!!” Gumamnya sambil mengacak-acak rambut.

“Heesun?” Panggil Daniel bingung.

Heesun segera merapikan rambutnya dan memandang Daniel, “Yes..”

“Kenapa semalam kau pergi begitu saja? Aku juga tak bisa menghubungimu..” Ucap Daniel khawatir.

Heesun tersenyum canggung, “Ohh.. That.. Mmmm.. I.. I… Mmm.. Ow.. My girls called, so I just go home.. I’m sorry..”

Daniel tersenyum, “It’s okay..” Ucapnya, “Mmm..” Gumamnya sambil melirik kanan dan kiri, lalu membungkuk dan berbisik pada Heesun. “How about tomorrow night at my apartment?”

Heesun tertegun, “Hm?” Ucapnya bingung, karena dalam pergaulan barat. Pria yang mengajak teman wanita ke tempat tinggalnya berarti berniat melakukan hubungan lebih. “Mmm.. I think, that’s a good idea..” Ucapnya sambil tersenyum meskipun dia sendiri tidak yakin dengan jawabannya.

Daniel mengedipkan sebelah matanya, “I can’t wait..” Ucapnya, lalu melangkah pergi.

Heesun tersenyum. Menurutnya Daniel benar-benar sosok pria yang mengagumkan. Pria itu juga tidak pernah mempermasalahkan mengenai putri-putrinya. Sesosok suami dan ayah yang luar biasa.

“Hmm.. At his apartemen?” Tanya Hyunseung di dekat wajah Heesun.

Heesun terkejut dan menatap Hyunseung, “Ya! Kau menguping?!”

Hyunseung memandang Heesun, “Ayo bicara..” Ucapnya.

Ruang rapat.

Heesun menyilangkan kedua tangan di dada dan menatap Hyunseung serius, “Semalam adalah kesalahan.. Jangan membahasnya!”

“Kesalahan? Kau yang pertama membuka dressmu..” Ucap Hyunseung kesal.

Heesun terkejut, “Ani!! Kau yang menariknya ke atas!!”

“Kau menikmatinya kan?!!” Tanya Hyunseung kesal.

“Aku?! YA! Kau yang membuatku lepas kendali!!” Ucap Heesun dengan mata melotot.

Hening..

Kedua orang itu saling menatap kesal.

“Sudah! Anggap tak terjadi apa pun..” Ucap Heesun sambil bangkit dan berjalan ke pintu.

“Aku mencintaimu..” Ucap Hyunseung.

Langkah Heesun berhenti, lalu menatap Hyunseung tak percaya.

Hyunseung menatap Heesun, “Aku melakukannya karena aku mencintaimu..”

“Kau benar-benar gila!” Ucap Heesun, lalu kembali berbalik.

Hyunseung segera berdiri dan menarik tangan Heesun hingga gadis itu berbalik menghadapnya, “Kenapa aku gila? Karena tidur dengan wanita tanpa suami? Atau karena aku mencintai seorang wanita dewasa?”

“Hyunseung! Aku ibu adikmu!!” Tegas Heesun.

“Ibu angkat, Heesun!! Itu tak berarti apa pun!!” Tegas Hyunseung balik.

Heesun menatap Hyunseung tak mengerti, “Hyunseung, ini…” Dia bingung bagaimana mengatakan maksudnya.

Hyunseung mengecup bibir Heesun dan menatap kedua matanya, “Apa yang salah?”

Heesun menatap Hyunseung bingung, “Kenapa Hyunseung? Kenapa aku?”

Hyunseung menatap kedua mata Heesun dalam, “Hatiku yang merasakannya.. Aku juga tak mengerti..”

Heesun diam sejenak sambil berpikir, lalu memandang Hyunseung. “Berapa usiamu?”

“26..” Jawab Hyunseung.

“Usiaku 34 tahun, Hyunseung. Aku juga memilki 4 orang putri. Kita tak mungkin bisa menjalani hubungan seperti ini..” Jelas Heesun.

Hyunseung memegang kedua pipi Heesun dan mendorong wanita itu ke pintu, lalu mencium bibirnya. Awalnya wanita itu hanya diam, namun tak lama membalas ciumannya.

Heesun menyadari apa yang mereka lakukan salah, lalu mendorong Hyunseung pelan. Bulir air matanya mengalir ketika menatap pria itu, “Kumohon, Hyunseung..”

“Kau mencintaiku?” Tanya Hyunseung.

“Hyunseung, aku jauh lebih tua darimu..” Jawab Heesun.

“Kau mencintaiku?” Tanya Hyunseung lagi.

“Aku seorang janda dengan 4 orang putri..” Jawab Heesun.

“Kau mencintaiku?” Tanya Hyunseung sekali lagi.

Heesun menatap Hyunseung sedih, “Aku tidak pantas untukmu, Hyunseung..”

“Aku bertanya! Apa kau mencintaiku?!” Tegas Hyunseung.

Heesun menunduk menahan tangis dan mengangguk pelan.

Hyunseung tersenyum dan mengangkat dagu Heesun agar memandangnya, “Itu yang ingin kudengar..” Ucapnya, lalu kembali mencium Heesun.

=Beast Agency=

Junhyung berjalan santai sambil mengelus pundaknya, langkahnya terhenti melihat ke sebuah ruangan karena melihat seorang gadis berbaring dengan satu sisi tubuhnya di bangku panjang di pinggir ruangan seorang diri. Namun dia bisa langsung menebak siapa gadis berambut pirang itu karena melihat seekor kura-kura berkeliaran di ruangan yang biasanya digunakan untuk olah vokal itu. Perlahan dia masuk sambil memperhatikan Mint, ternyata gadis itu tertidur. “Kenapa dia tidur disini?” Tanyanya sendiri, lalu duduk bersila di lantai sambil memandangi wajah tenang Mint.

Junhyung memperhatikan wajah Mint tampak lelah. Bibirnya membentuk senyuman melihat gadis itu ada di hadapannya sekarang. Dia tertegun merasakan sesuatu menyentuh pahanya, ternyata kura-kura Mint hendak memanjat celananya. Kali ini dia sudah tak merasa jijik lagi. Melihat kura-kura itu seperti melihat gadis manis di depannya.

Mint membuka matanya perlahan dan melihat wajah Junhyung yang sedang tersenyum memandang ke bawah. Dia bangkit perlahan dan duduk.

Junhyung menyadari Mint terbangun, “Oh.. Kau sudah bangun?”

“Kenapa kau disini?” Tanya Mint menggunakan bahasa isyarat.

“Aku tidak sengaja lewat dan melihatmu tertidur disini..” Jawab Junhyung, “Ini, kura-kuramu sampai berkeliaran..” Ucapnya sambil mengangkat kura-kura Mint.

Mint tersenyum melihat Junhyung memegang kura-kura itu tanpa jijik.

“Ohya, ini sudah sore.. Ayo..” Ajak Junhyung sambil bangkit.

Mint mengambil tasnya dan memasukkan kura-kuranya ke tas.

“Ayo, mungkin saudarimu yang lain masih di kelas vokal..” Ucap Junhyung sambil memimpin jalan.

-Junhyung’s POV-

Aku mengintip ke celah kaca di pintu, ternyata Minjeong, Dohee dan Myungji memang disana. “Lihat mereka disini..” Ucapku sambil memandang Mint, lalu membuka pintu dan membiarkannya masuk terlebih dulu. “Annyeonghaseo..” Sapaku.

“Oppa.. Eonni..” Sapa Myungji.

“Annyeonghaseo, Yong sajangnim..” Sapa pelatih vokal.

Aku belum terbiasa dengan sapaan itu, namun itulah aku sekarang. Pendiri agensi termuda yang pernah ada. Hahaha.. “Lanjutkan saja..” Ucapku dan duduk di pinggir ruangan bersama Mint sambil memperhatikan.

Minjeong memiliki suara paling menawan, aku bisa pastikan dia menjadi dance-singer seperti BoA dalam waktu setahun. Dohee juga memiliki suara bagus dan karakter yang lucu. Sedangkan Myungji karena usianya lebih muda, vokal trainer berpikir untuk menjadikannya rapper. Jadi Dohee dan Myungji bisa di debutkan sebagai duo. Atau mungkin aku menyatukannya dengan Minjeong dan menjadi trio yang tak tertandingi.

Kepalaku menoleh ke samping, Mint tersenyum memperhatikan saudarinya berlatih bernyanyi. Saat ini aku penasaran sekali apa yang dia pikirkan. Mengapa dia tersenyum seperti itu? Hidup dalam keheningan. Tidak ada yang bisa dia dengarkan dan dia tetap tersenyum seperti itu. Apakah dia pernah berpikir hidup tidak adil?

=Rumah Junhyung=

Aku duduk bersandar di sofa dengan kepala mendongak menatap langit-langit. Perasaanku tak karuan. Aku tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Bahkan seorang gadis seperti Nam Jihyun tak membuatku gila seperti ini. Apakah ini yang di namakan cinta? Aku hanya ingin membuatnya bahagia, terus berada disisinya, juga memiliki moment bersamanya. Tapi, apakah ada yang bisa kulakukan untuknya?

Dujun duduk di sebelahku dan langsung mengganti channel tv.

Aku melirik manajerku itu, “Dujun..”

“Hmm?” Gumam Dujun tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar tv, dia sedang serius memperhatikan drama yang diperankan aktris favoritnya, Suzy ‘Miss A’.

“Apa kau tau pengobatan atau cara membuat seorang tuna rungu bisa kembali mendengar?” Tanyaku.

Dahi Dujun berkerut, lalu menoleh kearahku. “Ne?”

Aku mengangguk dan menunggunya berbicara.

Dujun berpikir sejenak, “Mmm.. Entahlah.. Aku tidak begitu tau..”

Aku menghela nafas dalam dan kembali menatap langit-langit.

-Junhyung’s POV end-

-Heesun’s POV-

Aku duduk di sofa di apartemen Hyunseung sambil bersandar padanya, dia merangkulku dan menggenggam tanganku. Aku tak pernah merasa senyaman dan seaman ini bersama seorang pria kecuali almarhum suamiku, sepertinya aku benar-benar gila.

“Malam ini kau akan ke apartemen Daniel?” Tanya Hyunseung memecah keheningan.

Aku berpikir sejenak dan memandangnya, lalu menggigit bibir bawahku ragu.

“Kau tidak boleh pergi..” Ucap Hyunseung.

Perlahan aku duduk tegap dan melepaskan genggamannya, “Hyunseung, kuakui aku memiliki perasaan padamu. Tapi kita tetap harus kembali ke realita. Hubungan seperti ini tidak benar..”

Hyunseung memutar bola matanya kesal, “Kau kembali membahasnya untuk ke 98 kalinya..”

“Tapi ini memang kenyataannya.. Kau tidak bisa memungkiri itu..” Ucapku meminta pengertiannya.

Hyunseung menatapku, “Berikan satu alasan kuat mengapa aku tidak bisa bersamamu! Jangan pikirkan anak-anak atau pun usiamu karena aku tidak peduli akan itu!”

Aku terdiam sejenak. Mengapa pria yang jauh lebih muda dariku ini bisa membuatku merasa seperti ini? Apa yang telah kulakukan dimasa lalu hingga berada di situasi seperti ini? “Katakan satu alasan kuat mengapa aku harus mencintaimu?”

Hyunseung diam menatapku, aku dapat melihat banyak kata-kata yang ingin dia katakan namun dia ragu mengatakannya.

Aku menghela nafas dalam dan memalingkan wajahku, “Sebaiknya kita tak melanjutkannya..” Ucapku berat sambil mengambil tas dan bangkit, lalu melangkah ke pintu.

“Heesun..” Panggil Hyunseung sambil bangkit dan memandangku.

Aku berhenti dan memandangnya.

“Nanti malam, datanglah ke apartemenku. Jangan ke apartemennya..” Ucap Hyunseung.

Aku terpaku memandangnya, “Hyunseung, nanti malam aku akan berkencan dengan Daniel..” Ucapku pelan, lalu kembali melangkah.

“Aku tau kau mencintaiku.. Aku akan menunggumu..” Ucapnya.

Kakiku bergetar mendengar ucapannya, mengapa perasaanku seperti ini? Aku segera membuka pintu dan keluar.

Sore, pukul 6:23 pm.

Aku memandang wajahku lagi di cermin, ada keraguan di hatiku. Tujuanku memang apartemen Daniel, tapi aku terus memikirkan apartemen Hyunseung.

Terdengar pintu terbuka, masuk keempat putriku yang tersenyum lebar padaku. “Wuaaaah.. Eomma! Cantik sekali!”

Aku tersenyum dan merangkul mereka.

“Eomma akan berkencan?” Tanya Myungji.

Aku mengangguk, “Mmm.. Gwenchana?” Tanyaku.

“Keuromyeon.. Eomma kan wanita single..” Ucap Myungji sambil menahan tawa.

Aku tertawa kecil. Memandang wajah Mint kembali membuatku teringat Hyunseung, sekarang aku baru merasakan penyesalan mengapa dia yang harus menjadi adik tiri pria itu.

“Eomma, apakah kekasih eomma tampan?” Tanya Dohee ingin tau.

“Ne? Mmm.. Belum menjadi kekasih..” Ucapku dengan pipi merona.

“Hihihi.. Eomma seperti Myungji saat bertemu Hyunseung oppa..” Ejek Minjeong.

“Eonni..” Rengek Myungji.

Aku tertegun mendengar nama Hyunseung, hatiku kembali bimbang. Apa yang harus kulakukan?!

Apartemen Daniel.

Daniel melingkarkan satu tangannya di bahuku, “Heesun, I know this may be too fast, but I feel not being able to hold it longer..”

Aku tertegun memandang Daniel.

Daniel tersenyum sambil menyisir rambutku dengan jarinya, kedua matanya menatap lurus ke mataku. “Would you be my wife?”

Aku terkejut dia langsung memintaku menjadi istrinya.

“I don’t mind with your four daughter, I will love them as my own daughter..” Ucap Daniel lagi.

Ucapan Daniel membungkam mulutku, “Hmm.. Daniel, I…”

“It’s okay..” Ucap Daniel lembut, lalu mengecup pipiku. “I’ll be waiting..”

Aku tau Daniel seorang pria baik yang akan menjadi ayah untuk putri-putriku, dia juga bisa menjamin hidup kami. Tapi, mengapa Hyunseung yang tertera di hatiku? Aku tak sanggup menahan perasaanku, “Mmm.. It’s almost midnight. I have to back home now..” Ucapku sambil bergerak bangkit.

Daniel mengangguk, “It’s nice to see you..” Ucapnya.

Aku tersenyum dan langsung berjalan pergi sebelum Daniel mengatakan hal yang membuatku makin bimbang.

-Heesun’s POV end-

=Apartemen Hyunseung=

Sekali lagi Hyunseung memandang jam tangannya, sudah pukul 1 lewat. Dia kecewa Heesun tak datang ke tempatnya. “Apa dia bermalam disana?” Gumamnya tak percaya.

Ponselnya berdering, ternyata Heesun. Dengan cepat dia mengangkatnya. “Yoboseyo?”

Heesun menghela nafas berat, “Kau masih menunggu?”

“Ne..” Jawab Hyunseung.

Heesun diam.

“Heesun..” Panggil Hyunseung.

“Hmm..” Gumam Heesun.

“Kau bermalam di tempat Daniel?” Tanya Hyunseung hati-hati.

“Aniyo..” Jawab Heesun singkat.

“Lalu, kenapa tidak kemari?” Tanya Hyunseung.

Heesun menghela nafas berat lagi, “Aku takut jika melihat wajahmu malam ini, aku akan menamparmu habis-habisan..”

“Pfff…” Hyunseung menahan tawa mendengar ucapan Heesun, “Wae?”

Heesun dia sejenak, “Kenapa harus kau Hyunseung?”

Hyunseung tertegun, dia mengerti apa yang dibicarakan Heesun. “Karena aku mencintaimu..” Jawabnya, “Aku..”

“Daniel memintaku menjadi istrinya..” Potong Heesun.

Hyunseung tersentak, “Ne?!” Serunya, “Lalu?”

“Aku akan segera menjadi nyonya Henney..” Ucap Heesun bohong.

Mulut Hyunseung terbuka tak percaya, “Apa? Heesun, kau gila?!”

“Kau yang gila!!” Seru Heesun.

Hyunseung memejamkan mata menahan kekesalannya, “Heesun, kau tidak mencintainya!”

“Tidak sulit mencintainya..” Ucap Heesun.

“Heesun…”

“Kau Mint oppa, aku Mint eomma.. Dan akan terus begitu.. Terima kasih Hyunseung-ssi..” Ucap Heesun, lalu memutuskan telepon.

Hyunseung menghela nafas dalam dan meletakkan ponselnya di sofa. “Aissh..” Gumamnya kesal.

=Beberapa Hari Kemudian=

Ruang Kerja Daniel.

“Daniel, yes I will..” Jawab Heesun akhirnya.

Daniel tersenyum lebar dan langsung memeluk Heesun erat, “I’m so glad to hear that! I love you..”

Bibir Heesun terasa berat untuk tersenyum, namun inilah jalan satu-satunya agar dia bisa melupakan perasaannya pada Hyunseung. “I love you too..” Ucapnya pelan.

=Rumah Para Gadis=

“Ne?! Menikah?!” Tanya Dohee tak percaya.

Heesun tersenyum lebar dan mengangguk, “Ne, dia sudah melamar eomma.. Jika kalian tidak keberatan akhir minggu ini Daniel akan ikut makan malam disini..”

“Wuaaah! Tentu saja boleh! Kami juga ingin mengenalnya..” Ucap Minjeong bersemangat.

“Andwae!! Aku tidak mau!” Ucap Myungji.

Semuanya tertegun dan memandang Myungji, “Wae?”

“Jika eomma menikah, bagaimana dengan kami?” Tanya Myungji.

Heesun mengelus rambut Myungji, “Tentu saja akan ikut kemana pun eomma pergi..”

Myungji masih cemberut memandang Heesun.

Mint sejujurnya juga tak begitu setuju, namun dia tak bisa menyerobot pembicaraan karena dia tak bisa berbicara.

Kamar Myungji.

Mint mengelus bahu adiknya yang diam-diam menangis karena keputusan ibunya.

“Eonni, aku tidak mau eomma menikah..” Ucap Myungji pelan.

Mint tersenyum tipis, “Gwenchana..” Ucapnya dengan bahasa isyarat.

“Jika eomma menikah, mungkin dia akan lupa padaku..” Ucap Myungji.

Mint menggeleng, “aniya..” Jawabnya dengan bahasa isyarat, lalu memeluk Myungji.

Setelah Myungji tertidur, Mint masuk ke kamarnya dan berbaring di tempat tidur. Dia juga ingin menolak keinginan Heesun, namun dia sadar dia hanya anak adopsian. Meskipun sudah seperti anak kandung, dia tetap harus menyadari tempatnya. Perlahan bulir air matanya mengalir, yang dia takutkan sama dengan Myungji.

=Akhir Minggu=

-Mint’s POV-

Aku melirik Dohee dan Minjeong yang asik mengobrol dengan Daniel sambil makan. Myungji hanya diam bersamaku. Heesun juga tampak tersenyum bahagia bersama Daniel. Kulihat mulut pria itu bergerak bertanya pada Myungji.

“Myungji, kenapa kau hanya diam saja?” Tanya Daniel.

Myungji menggeleng dan tetap makan.

Kulihat Heesun memegang punggung tangan Daniel dan meminta pengertiannya. Aku tak begitu menyukai moment itu.

Setelah makan malam, Daniel dan Heesun duduk di ruang tengah sambil mengobrol, sedangkan yang lain berkumpul di kamar Dohee. Aku berdiri di pembatas lantai atas sambil memperhatikan mereka. Aku tidak bermaksud mengetahui pembicaraan mereka, tapi aku tak bisa menahan diriku. Aku tertegun melihat ekspresi wajah Heesun berubah kaget, lalu menyebutkan tentang luar negeri.

“But, what about my girls?” Tanya Heesun.

Daniel memegang tangan Heesun, “We can bring them all..” Jawabnya sambil tersenyum.

Aku terkejut, dia bermaksud membawa Heesun dan kami semua pindah keluar negeri setelah menikah. Mengapa? Kenapa tidak disini saja?

Sebelum tidur, aku menghampiri Heesun di kamarnya.

Heesun tersenyum melihatku masuk, “Hei.. Ada apa?”

Aku duduk di sebelahnya dan bertanya dalam bahasa isyarat, “Apakah kau akan pindah keluar negeri setelah menikah nanti?”

Heesun tertegun, “Darimana kau tau?”

Aku menatapnya tak percaya, “Jadi benar?” Tanyaku dengan bahasa isyarat.

Heesun tampak bingung, “Mint, itu hanya seperti pindah rumah..”

Mint terdiam. Apakah aku bisa menolak? Apa aku bisa mengubah pikirannya untuk tidak menikahi Daniel?

Heesun mengelus rambutku lembut.

-Mint’s POV end-

=Kantor Heesun=

Hyunseung melangkah menuju meja kerja Heesun, saat itu dia tak sengaja mendengar pembicaraan beberapa karyawan.

“Heesun sanbae ternyata akan segera menikah dengan bos kita..” Ucap Sekyung.

“Ne, dan kudengar mereka akan pindah ke luar negeri setelahnya..” Ucap Nara.

Hyunseung tertegun, “Luar negeri? Berarti…” Gumamnya, lalu melangkah cepat menghampiri meja kerja Heesun, namun dia kembali tertegun melihat Daniel sedang berbicara dengan wanita itu.

Heesun tertegun melihat Hyunseung, “Hyunseung?”

Daniel memandang Hyunseung bingung.

Hyunseung berusaha menahan emosinya, “Heesun-ssi, aku ingin meminta ijinmu untuk mengajak Mint menginap di apartemenku selama beberapa hari..” Ucapnya sopan.

Heesun menatap Hyunseung bingung, “Kenapa?”

“Karena Mint adalah adikku..” Jawab Hyunseung.

Daniel menatap Heesun kaget, wanita itu tak pernah membicarakan mengenai itu.

“Tapi…”

“Terima kasih..” Potong Hyunseung, lalu melangkah pergi.

“Hyunseung!” Panggil Heesun.

=Kamar Mint=

Mint berkerut melihat Hyunseung berkata kalau dia akan menginap di apartemen oppanya itu dan memasukkan beberapa bajunya ke tas. Dia segera berdiri ke depan oppanya dan bertanya dengan bahasa isyarat. “Oppa, kenapa tiba-tiba?”

Hyunseung tersenyum sambil mengelus rambut Mint, “Ambil kura-kuramu..” Ucapnya, lalu membawa tas Mint keluar.

Mint memandang Hyunseung bingung, namun dia segera mengambil tas selempang dan memasukkan kura-kuranya. Lalu mengejar pria itu.

“Girls..” Panggil Hyunseung begitu tiba di lantai bawah.

Tiga saudari Mint memandang Hyunseung bingung.

Hyunseung tersenyum, “Mint akan menginap di apartemen oppa untuk beberapa hari, tidak perlu khawatir..” Ucapnya, lalu menarik Mint keluar.

“Hm? Kenapa tiba-tiba?” Tanya Minjeong pada saudarinya bingung.

Tak lama setelah Hyunseung pergi bersama Mint, Heesun pulang.

“Girls, Hyunseung sudah kemari? Mana Mint?” Tanya Heesun.

“Mereka sudah pergi eomma..” Jawab Dohee bingung.

Heesun menghela nafas kesal, “Arrgh!” Erangnya tertahan, lalu masuk ke kamar.

=Apartemen Hyunseung=

Kedua kakak adik itu asik memakan ramen di meja dapur dengan ceria. Hyunseung teringat sesuatu. “Mint..” Panggilnya sambil memegang punggung tangan adiknya.

Mint memandang Hyunseung.

“Mmm.. Kau ingin mengunjungi appa?” Tanya Hyunseung.

Mint tertegun.

Hyunseung memberi isyarat agar Mint menunggu sebentar, lalu bangkit dan mengambil sesuatu di kamarnya. Tak lama dia kembali dengan sebuah album photo kecil di tangannya, “Ini..” Ucapnya sambil meletakkannya di depan adiknya.

Mint memandang album itu dan membukanya. Di halaman pertama terlihat photo seorang pria dan wanita thailand. Dia memandang Hyunseung, ‘Ini orang tuaku?’ Batinnya tak percaya.

“Itu appa dan ibumu..” Ucap Hyunseung pelan agar Mint dapat membaca gerak mulutnya dengan jelas.

Mint kembali memandang photo itu, lalu membalik halaman selanjutnya. Dia tertegun melihat photo seorang bayi menggemaskan, juga tertulis Goonshipas di bawah photo itu. Dia melihat jari Hyunseung menunjuk tulisan itu dan memandangnya.

“Nama lahirmu, Goonshipas Jang..” Ucap Hyunseung.

Dahi Mint berkerut, ‘Goonshipas?’ Batinnya.

“Goonshipas adalah nama Thailand, Jang nama keluarga appa. Seperti namaku, Jang Hyunseung..” Jelas Hyunseung.

Mint mulai mengerti dan kembali membalik album photo itu, sebuah photo anak kecil duduk diatas pangkuan pria muda. Sepertinya dia mengenal pria itu, lalu memandang Hyunseung.

Hyunseung tersenyum, “Itu kau dan aku..” Ucapnya, “Sebelum kau menghilang dan aku tau kau di titipkan ke panti asuhan oleh ibuku..” Lanjutnya menyesal.

Mint memandang Hyunseung sambil berpikir, lalu tersenyum dan menutup album itu. “Ayo ke mengunjungi appa..” Ucapnya dengan bahasa isyarat.

Hyunseung mengangguk.

Malamnya.

Hyunseung melihat Mint bermain bersama kura-kuranya di karpet, lalu memegang bahu gadis itu.

Mint memandang Hyunseung.

“Apa benar Heesun akan menikah?” Tanya Hyunseung.

Ekspresi Mint tampak sedih, lalu mengangguk.

Hyunseung tertegun, “Kau tidak suka?”

Mint tampak bingung.

“Kenapa kau tidak suka?” Tanya Hyunseung ingin tau.

Mint menggigit bibir bawahnya ragu.

“Gwenchana, oppa-dongsaeng itu wajar saling bercerita..” Ucap Hyunseung memancing.

Mint mengambil ponsel dan mengetik apa yang dia pikirkan, karena akan panjang jika dia memberitaunya dengan bahasa isyarat. Lalu menunjukkannya pada Hyunseung.

Hyunseung mengambil ponsel Mint dan membaca tulisan di layarnya. Dia tertegun adiknya membicarakan kalau sepertinya Heesun tidak menyukai pernikahan itu. Satu hal yang di ketahuinya sejak dulu, anak dengan indra kurang lebih peka dari pada anak normal lainnya. Lalu memandang Mint.

Mint mengambil ponselnya dan kembali mengetik, lalu memberikannya pada Hyunseung.

Hyunseung terkejut membaca tulisan Mint, lalu memandang adiknya tak percaya.

Kurasa Heesun melakukan itu karena seseorang..

=Sebuah Makan Malam=

Daniel mengajak Heesun makan malam untuk membicarakan rencana pernikahan mereka lebih serius, namun sebuah pembicaraan membuat wanita itu terkejut.

“Wait, you mean. We move to aboard?” Tanya Heesun.

“Yes.. Bukankah itu menyenangkan? Putri-putrimu akan belajar di luar negeri..” Ucap Daniel.

“Mmm..” Heesun bingung apa yang harus dia katakan, “That’s good, Dan.. But, I have to talk with my girls first..”

Daniel tersenyum, “Of course..”

Heesun tersenyum kaku.

“And, you know? Disana banyak fasilitas yang mendukung anak tuna rungu, jadi tidak akan sulit bagi Mint untuk bersosialisasi..” Ucap Daniel sambil memegang tangan Heesun.

Heesun tertegun, “Mmm.. Daniel, that’s great. But, Mint masih memiliki Hyunseung. Kurasa dia tidak akan mau pergi keluar negeri..”

“Mmm.. So, you mean she will stay with Hyunseung if we move out of State?” Tanya Daniel.

Heesun terkejut, “No! I don’t mean that..” Jawabnya cepat, “Mint is my daughter! I won’t let her live without me…”

Daniel memandang Heesun tak mengerti, “So?”

Heesun diam sejenak, “Biarkan aku membicarakan ini bersama putri-putriku..”

Daniel mengangguk, “Okey..”

=Rumah Para Gadis=

Heesun melangkah masuk perlahan sambil memikirkan ucapan Daniel. Dia tak pernah berpikir semua ini menjadi lebih rumit. Menikah dengan Daniel adalah cara untuk melupakan Hyunseung, namun jika pindah keluar negeri Mint akan menjadi sedih.

Diruang tengah para gadis berkumpul sambil membicarakan tentang nama lahir Mint.

“Aku punya nama keluarga, sama seperti Hyunseung oppa..” Cerita Mint senang dengan bahasa isyarat.

“Ne? Jang Mint?” Tanya Minjeong.

Mint menggeleng, “Nama lahirku Gooshipas Jang..” Jawabnya dengan bahasa isyarat.

“Oooh.. Namamu aneh..” Komentar Dohee, lalu tertawa.

Mint menyadari Heesun berdiri memandangi mereka, lalu tersenyum. Yang lain ikut menyadarinya.

“Eomma.. Bagaimana makan malamnya?” Tanya Dohee.

Heesun tersenyum, “Baik..” Jawabnya, “Baiklah, eomma ke kamar..” Ucapnya dan berjalan ke kamarnya.

Di kamar, Heesun memikirkan keputusannya lagi. ‘Jika menikah dengan Daniel, aku takut Mint tidak ingin tinggal bersamaku lagi..’ Batinnya.

=Makan Malam Keluarga=

Heesun berdiri di depan cermin di toilet sambil merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Malam ini dia akan membicarakan mengenai pernikahannya dengan putri-putrinya lebih serius, tentu saja Daniel juga ada disana.

“Kau akan menjadi Nyonya Heney, Heesun.. Jangan pikirkan dia..” Ucap Heesun pada dirinya sendiri.

Namun seseorang melangkah masuk dan menatap Heesun dari pantulan kaca, “Maksudmu aku?”

Mata Heesun membesar melihat Hyunseung, lalu berbalik. “Ya! Ini toilet wanita!”

Hyunseung tak mendengarkan ucapan Heesun dan melangkah menghampirinya, “Kau memikirkanku kan?”

Heesun tertegun menatap Hyunseung, “Ani..”

Hyunseung menatap kedua mata Heesun dalam, lalu memegang kedua bahunya. “Kau bertanya kenapa aku mencintaimu?” Tanyanya, “Aku tak punya alasan mengapa aku mencintaimu, hanya satu yang kutahu, aku bahagia saat bersamamu..” Ucapnya tulus.

Heesun menatap Hyunseung, “Hyunseung, kumohon.. Jangan buat situasi ini semakin rumit!! Aku bisa gila dengan semua ini!”

“Tapi kau tidak akan bahagia bersamanya Heesun, Mint juga tidak menyukai pernikahan ini..” Ucap Hyunseung.

Heesun tertegun, “Mint? Dia memberitaunya padamu?”

Hyunseung mengangguk, “Ne..”

Heesun diam sejenak, lalu menghela nafas dalam. “Hanya ini yang bisa kulakukan agar kau berhenti mendekatiku..”

Hyunseung menatap Heesun sedih, lalu memegang pipi gadis itu. Perlahan dia mendekatinya dan hendak menciumnya, tapi Heesun memalingkan wajahnya.

“Cukup Hyunseung!” Tegas Heesun, lalu mendorong pria itu menjauh dan menatapnya marah. “Hargai keputusanku! Aku tidak ingin bersamamu!! Kau hanya anak kecil yang tak mengerti apa pun tentang kehidupan! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri!”

Dahi Hyunseung berkerut, “Heesun, bahkan Mint dapat merasakan kau melakukan ini untuk melupakan seseorang. Aku kan?!!”

“Ne! Aku muak dengan perasaanku! Seharusnya aku tidak merasakan perasaan ini padamu!!” Seru Heesun sambil menahan air matanya.

“Kapan kau akan mengerti? Apa yang dirasakan hatimu tak bisa kau kontrol dengan logika!” Seru Hyunseung.

Heesun menatap Hyunseung marah, bukan karena ucapan pria itu. Tapi karena kekeraskepalaannya juga pada jantungnya yang terus berdegup kencang saat dia bersama pria itu.

Saat itu keempat saudari itu melangkah masuk ke toilet dan tertegun melihat Heesun menatap seorang pria dengan air mata mulai berjatuhan.

“Kau tau?! Aku menyesal bertemu denganmu!! Aku menyesali semuanya!! Bahkan aku menyesal telah berpikir untuk mengadopsi Mint!!!” Seru Heesun meluapkan semua emosinya pada Hyunseung.

Keempat gadis itu tertegun. Dohee dan Minjeong langsung memandang Mint yang tampak shock.

“Eo.. Eomma..” Ucap Myungji dengan suara bergetar menahan tangis.

Heesun terkejut melihat putri-putrinya ada disana, apalagi melihat wajah shock Mint.

Hyunseung berbalik, “Mint?!”

Mint langsung berbalik dan berlari pergi.

“Mint!! Mint!! Tunggu!!” Panggil Minjeong dan Dohee sambil mengejar gadis itu.

Myungji menatap ibunya kecewa, lalu ikut mengejar Mint.

Hyunseung menatap Heesun marah, “Baiklah!! Semoga kau bahagia dengan pernikahanmu!! Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi!! Dan MAAF jika adikku telah menyusahkanmu!!” Ucapnya, lalu segera mengejar gadis-gadis itu.

Heesun tak bermaksud mengatakan itu, dia hanya ingin membuat Hyunseung berhenti menganggunya. Sekarang dia bukan hanya melukai hati Mint, juga semua putrinya. Dia menangis menyesali apa yang sudah dia katakan.

Hyunseung berlari melewati para gadis untuk mengejar Mint, karena tak ada gunanya berteriak. Namun dia tak berhasil menarik tangan gadis yang malah kabur menggunakan taxi.

“Omo! Mint! Bagaimana ini?” Tanya Minjeong tak mengerti.

“Dia pasti pulang.. Ayo..” Ucap Dohee memberi instruksi.

“Ayo! Mobilku di parkiran depan..” Ucap Hyunseung.

=Rumah para Gadis=

-Mint’s POV-

Aku berlari naik ke lantai dua dengan air mata bercucuran. Sebelum masuk ke kamar aku mengambil kunci cadangan di atas kusen pintu dan mengunci pintu kamarnya dari dalam. Aku tidak ingin seorang pun mengusikku sekarang. Aku langsung naik ke tempat tidur dan menangis mengingat apa yang di ucapkan Heesun. Bahwa dia menyesal telah mengadopsiku. Aku tak pernah merasa sesakit ini seumur hidupku. Rasanya seperti aku hanya ingin mati dan terkubur sangat dalam hingga tak ada seorang pun yang menemukanku..

-Mint’s POV end-

Dohee, Minjeong, Myungji dan Hyunseung berlari ke pintu kamar Mint.

“Mint!! Buka pintunya!! Mint!!” Panggil Dohee sambil mengetuk pintu.

“Eonni.. Buka pintunya..” Ucap Myungji sambil mengetuk.

“Mint…” Panggil Minjeong.

Hyunseung meraba atas kusen pintu namun tak menemukan apa pun, “Percuma, dia tidak akan mendengarnya..” Ucapnya frustasi.

Heesun kembali ke rumah bersama Daniel dan langsung menghampiri pintu kamar Mint, “Bagaimana? Dia ada di dalam?”

“Ne, tapi dia menguncinya..” Jawab Dohee.

“Hei.. What’s wrong?” Tanya Daniel ikut panik.

Hyunseung menatap Daniel, lalu memandang Heesun. Dia memalingkan wajah, “Aku akan mencoba memanjat jendelanya..” Ucapnya sambil melangkah menuruni tangga.

“Tunggu oppa..” Panggil Minjeong dan langsung mengikuti Hyunseung bersama Dohee dan Myungji.

Hyunseung menemukan tangga di samping rumah dan menggunakannya untuk mencapai jendela kamar Mint. Kamarnya tampak gelap, sebelumnya gadis itu tak pernah membiarkan kamarnya gelap selain ketika tidur karena dia tak bisa melihat apa pun. Namun dari cahaya yang menerobos masuk ke kamar melalui jendela, dia bisa melihat adiknya meringkuk di atas tempat tidur sambil menangis tersedu-sedu. Dia menghela nafas berat dan memegang kaca jendela.

Minjeong, Dohee dan Myungji heran melihat Hyunseung turun lagi.

“Waeyo oppa? Eonni tidak didalam?” Tanya Myungji bingung.

“Aniya, dia didalam..” Jawab Hyunseung, “Tapi kurasa biarkan dia dulu malam ini..” Ucapnya, lalu memandang Heesun yang berdiri tak jauh di belakang gadis-gadis itu bersama Daniel. Dia langsung memalingkan wajahnya dan berjalan masuk ke mobil.

Paginya.

Suasana meja makan terasa canggung. Heesun sangat menyesal terjadi seperti ini. Mint juga tak keluar dari kamarnya setelah semua orang duduk di meja makan dalam diam.

“Mint belum keluar?” Tanya Heesun.

Minjeong menggeleng, “aniya, eomma..”

Hening..

Dohee menyenggol bahu Minjeong dan memberi isyarat agar segera berbicara pada Heesun.

Minjeong tampak ragu namun tetap mengangguk, lalu memandang Heesun yang menatap makanannya sedih. “Eomma..”

Heesun memandang Minjeong, “Ne?”

“Mmm.. Aku dan Dohee memutuskan akan pindah ke asrama yang di sediakan agensi..” Ucap Minjeong pelan.

Heesun tertegun dan menatap kedua putri adopsinya tak percaya, “Wae?”

“Mmm.. Kami hanya ingin lebih serius mengikuti pelatihan di agensi..” Jawab Minjeong ragu.

“Ne..” Ucap Dohee membenarkan, “Kami juga akan mengajak Mint..”

Heesun merasa benar-benar bersalah, dia tau putri-putrinya yang lain juga ikut terluka karena ucapannya. “Minjeong, Dohee.. Eomma miane, eomma tidak bermaksud mengatakan itu.. Tidak sama sekali..” Ucapnya menyesal.

Minjeong dan Dohee diam memandang Heesun, lalu meletakkan sumpit mereka dan berdiri.

“Eomma bisa mengatakannya pada Mint..” Ucap Minjeong, lalu melangkah pergi bersama Dohee.

Heesun menatap kedua putrinya menyesal, lalu memandang Myungji yang sejak tadi hanya duduk tanpa mengangkat wajahnya. “Myungji-a..” Ucapnya pelan sambil memegang punggung tangan putri bungsunya, namun gadis kecil itu menarik tangannya dan bangkit pergi. Heesun tak bisa menahan air matanya, dia tau semua ini salahnya.

=Beast Agency=

Junhyung heran tak melihat salah seorang dari keempat saudari itu di ruang berlatih, “Mana Dohee, Minjeong dan Myungji?” Tanyanya pada seorang pelatih vokal.

“Dohee menghubungiku kalau mereka tidak bisa datang hari ini karena Mint merasa tidak baik..” Jawab pelatih itu.

Junhyung tertegun, “Mint?”

=Kantor Heesun=

Heesun berusaha menghindari pertemuan dengan Daniel karena perasaannya belum membaik dan takut akan semakin buruk jika bertemu.

Daniel melihat Heesun berlalu dan segera menarik tangan gadis itu sebelum menghilang dari pandangannya, “Heesun..”

Heesun tertegun melihat Daniel, “Daniel..”

Daniel menatap Heesun tak mengerti, “Why you always ignonring me since this morning?”

Heesun menunduk canggung, “No, I’m not.. I just.. Mmm..”

“What’s wrong with Mint?” Tanya Daniel ingin tau.

Heesun memandang Daniel bingung, tidak tau apa yang harus dia lakukan. “She’s fine..” Ucapnya, lalu melangkah pergi.

=Hyunseung’s Apartemen=

Hyunseung duduk di sofa sambil memandang layar ponselnya. Sejak semalam dia terus mengirim pesan pada Mint, namun tak satu pun yang di balas. Saat ini dia benar-benar menyesal telah egois memaksakan cintanya pada Heesun, jika dia lebih realistis adiknya tidak akan terluka seperti ini. “Oppa miane, Mint..” Gumamnya.

Ting! Tong!

Hyunseung mendesah kesal, lalu bangkit dan melangkah ke layar cctv. Dia tertegun melihat Heesun berdiri di depan pintu. Meskipun tidak ingin membuka pintu, dia tetap melangkah ke pintu dan membukanya. Namun tak memberikan ruang untuk wanita itu masuk.

Heesun memandang Hyunseung tanpa bicara.

Hyunseung menatap Heesun dingin, “Heesun-ssi, jika kau datang untuk memperingatiku. Tenang saja, aku sudah kembali pada realita dan tidak akan mengganggumu..”

Heesun menghela nafas berat dan melangkah maju untuk memeluk pria di hadapannya.

Hyunseung diam di tempatnya, berusaha menahan perasaannya sendiri. Kepalanya menunduk memandang wajah Heesun di dadanya. Wanita itu tampak memejamkan mata menghela nafas berat berkali-kali, “Heesun-ssi, lepaskan aku..”

Heesun tak melakukan apa pun, malah semakin mempererat pelukannya di pinggang pria itu.

Hyunseung memandang ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka, namun dia menyadari pasti ada kamera cctv di tempat itu. “Heesun-ssi, disini ada kamera cctv dan aku seorang entertainer. Lepaskan aku..” Ucapnya pelan tanpa menyentuh Heesun sedikit pun.

“Aku tak tau harus melakukan apa..” Ucap Heesun dengan suara bergetar.

Hyunseung menghela nafas dalam sambil memejamkan matanya, lalu kembali memandang wajah Heesun. “Seharusnya kau menemui Daniel, bukan aku..” Ucapnya.

“Aku tak bisa menatap wajahnya..” Ucap Heesun, bulir air jatuh perlahan di pipinya.

“Dan kau datang padaku karena tak ada orang lain yang dapat menolongmu?” Tanya Hyunseung, lalu tersenyum sinis. “Terima kasih..” Ucapnya, lalu melepaskan pelukan Heesun dan mendorong wanita itu pelan.

Heesun menunduk di hadapan Hyunseung sambil terus menangis, perasaannya tak bisa terungkapkan lagi.

Hyunseung tak sanggup melihat Heesun menangis seperti itu, namun dia tak ingin mengulangi kesalahannya lagi. “Pergilah..” Ucapnya pelan, lalu melangkah masuk.

Kaki Heesun bergetar hebat dan jatuh terduduk di depan pintu apartemen Hyunseung, membuat pria itu kembali membuka pintu yang belum sempat tertutup dan memandangnya sedih.

Akhirnya Hyunseung membungkuk dan menarik Heesun perlahan kembali berdiri, “Ayo masuk..” Ucapnya sambil merangkul gadis itu dan membawanya masuk.

Heesun tidak ingin memikirkan realita sekarang. Dia hanya ingin merasa lebih nyaman dan aman di pelukan Hyunseung.

Hyunseung memeluk Heesun yang masih menangis di sofa sambil bersandar padanya. Dengan lembut jari-jarinya menyisir rambut wanita itu.

Setelah sekian lama hening, akhirnya Heesun dapat menguasai dirinya lagi. Namun tak ingin melepaskan pelukan Hyunseung dari tubuhnya. “Mengapa cinta itu begitu rumit?” Tanyanya pelan.

Hyunseung diam sejenak, lalu memandang Heesun yang masih menatap sedih ke bawah. “Itulah cinta yang sebenarnya..”

Heesun memejamkan matanya, mendengarkan detak jantung Hyunseung lebih jelas.

“Aku bisa merawat Mint, tidak apa-apa jika kau menikah dengan Daniel dan pindah keluar negeri.. Aku akan berbicara dengannya perlahan agar dia mengerti..” Ucap Hyunseung.

“Aku tak akan meninggalkannya..” Ucap Heesun.

“Hidup itu pilihan, Heesun.. Kau sudah mengatakan hal menyakitkan itu, jadi kau harus memilih Daniel atau putri-putrimu..” Ucap Hyunseung, “Maksudku, putri-putri angkatmu. Karena Myungji sudah pasti ikut denganmu..” Ucapnya memperbaiki.

Heesun diam sesaat, “Bisakah aku tidak perlu memilih? Aku ingin tetap bersama putri-putriku, mungkin Daniel.. Juga kau..”

“Kau tetap saja egois..” Ucap Hyunseung.

Heesun perlahan bangkit menatap Hyunseung, “Jika aku bersamamu? Apa kau akan menjamin kehidupanku dan putri-putriku? Apa kau bisa memendam ucapan orang mengenai status dan usiaku? Apa karirmu akan tetap berjalan setelah…..”

Hyunseung menutup mulut Heesun dengan ciumannya, tak lama dia kembali menarik wajahnya dan memandang wanita itu tulus sambil memegang kedua pipinya, “Jika kau yakin padaku, aku bisa melakukan apa pun..”

Heesun tertegun, bulir air matanya kembali mengalir dan menunduk bingung.

Hyunseung tau Heesun tak mungkin mempercayainya, lalu melepaskan pipi gadis itu dan memalingkan wajahnya. “Lupakan ucapanku..”

Heesun kembali merebahkan kepalanya ke dada Hyunseung dan mencengkeram kerah baju pria itu, “Aku tak bisa memutuskannya sekarang..”

“Sudahlah.. Daniel bisa menjamin hidupmu dan putrimu, aku tak bisa melakukan apa pun selain bernyanyi dan menari. Tidak usah pikirkan aku..” Ucap Hyunseung sebal.

Heesun kembali duduk tegap dan menatap Hyunseung kesal dengan air mata berjatuhan, “Bersikaplah seperti sebelumnya! Aku membutuhkanmu yang seperti itu!”

Hyunseung menatap kedua mata Heesun dingin, “Aku sudah kembali ke realita..”

Heesun menatap Hyunseung sambil terus menangis, tampak keraguan di matanya namun dia tetap menatap kedua mata pria itu. Perlahan kedua tangannya terangkat dan memegang kedua pipi Hyunseung, bibirnya mengecup bibir pria itu. Sekali, dua kali, hingga berakhir dengan ciuman panas di antara keduanya.

=Rumah Para Gadis=

“Dia belum keluar kamar?” Tanya Junhyung.

Dohee menggeleng, lalu memandang Minjeong.

“Dia belum keluar sejak semalam..” Jawab Minjeong.

Junhyung memandang pintu kamar Mint yang tertutup rapat, “Ini sudah sore, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?”

“Kemarin malam Hyunseung oppa melihat Mint eonni menggunakan tangga di jendela kamarnya..” Cerita Myungji.

“Tangga? Bisa aku menggunakannya?” Tanya Junhyung.

Jendela kamar Mint.

Junhyung naik perlahan ke tangga  hingga dapat mencapai jendela kamar Mint. Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat gadis itu tidur di tempat tidurnya.

“Bagaimana oppa?” Tanya Minjeong dari bawah.

“Sepertinya dia tidur..” Jawab Junhyung sambil memperhatikan Mint.

“Tidur? Mint eonni biasanya tidak sering tidur disiang hari..” Ucap Myungji.

Junhyung mencoba memperhatikan lebih jelas, wajah Mint dari sana tidak terlalu terlihat. Dahinya berkerut melihat keanehan pada gadis itu.

“Oppa, biasanya Mint tidak pernah mengunci pintu jendelanya.. Coba saja buka..” Ucap Dohee memberitau.

Junhyung mencoba membuka jendela kamar Mint, ternyata memang tidak terkunci. Perlahan dan hati-hati dia membuka lebar jendela dan bergerak masuk. “Mint?” Panggilnya sambil menghampiri gadis itu.

Mint tak menjawab.

Junhyung duduk di sebelah Mint sambil memandang wajahnya, “Mint..” Panggilnya pelan sambil mengguncang bahu gadis itu. Tetap tak ada respon, “Mint..” Panggilnya lagi sambil mengguncang lebih keras. Matanya membesar, “MINT!!!” Serunya sambil menepuk pipi gadis itu pelan.

=Kamar Hyunseung=

Heesun dan Hyunseung tidur berhadapan sambil saling memandang.

Tangan Hyunseung terangkat dan mengelus pipi Heesun. Wanita itu memegang tangannya dan menggenggamnya erat. “Kemana Kim Heesun yang selalu sadar mengenai realita?” Tanyanya heran.

Heesun merasa lebih baik sekarang, menggenggam tangan Hyunseung seperti itu membuatnya tenang. “Aku mengerti apa yang kau katakan sebelumnya..” Ucapnya, “Aku tak tau mengapa aku mencintaimu, tapi aku bahagia saat bersamamu..”

Mata Hyunseung menyipit menatap Heesun, “Great, apa kau harus  tidur denganku dulu baru kau menyadari perasaanmu? Jadi tubuhku lebih terpercaya dari pada ucapanku?” Tanyanya sebal.

Heesun menahan tawa, “Pfff..” Dia bergerak maju dan mengecup bibir Hyunseung. “Kau lucu sekali..”

Hyunseung tersenyum dan merapikan rambut panjang Heesun yang menutupi wajahnya. Matanya menelusuri seluk beluk wajah gadis itu, “Kau mau mencoba hubungan ini?”

Heesun mengelus pipi Hyunseung, “Jika kau merasa sanggup menjalaninya..”

“Aku sanggup..” Ucap Hyunseung yakin, “Tapi, bagaimana Daniel?”

Heesun diam sejenak untuk berpikir, “Aku akan berbicara padanya..”

Hyunseung mengangguk, “Ne..”

Ponsel Heesun berbunyi, dia memandang ke kanan dan kiri mencari dimana ponselnya. “Dimana ponselku?”

Hyunseung bangkit duduk dan mengambil ponsel Heesun di lantai, lalu memberikannya pada wanita itu. “Ini..”

Heesun ikut duduk sambil menahan selimut di tubuhnya, “Hm? Dohee..” Ucapnya, lalu mengangkat telepon. “Ne..”

“Eomma.. Mint pingsan! Kami membawanya ke rumah sakit bersama Junhyung oppa..” Ucap Dohee memberitau.

Mata Heesun membesar dan menatap Hyunseung tak percaya, “Ne?! Eomma akan segera ke sana..” Ucapnya dan langsung turun dari tempat tidur sambil memunguti baju-bajunya.

“Ada apa?!” Tanya Hyunseung bingung.

“Cepat Hyunseung!! Mint pingsan!” Seru Heesun sambil mengenakan baju-bajunya lagi.

“Ne?!!” Seru Hyunseung dan ikut mengenakan pakaiannya.

=UGD=

“Dia hanya dehidrasi dan tertekan, tidak ada masalah serius..” Jelas dokter yang memeriksa Mint.

“Ne? Ohhh.. Syukurlah..” Ucap Junhyung lega.

Dohee, Minjeong dan Myungji juga menghela nafas lega.

Setelah dokter itu pergi, mereka tetap menemani Mint hingga tersadar.

“Eonni, gwenchana?” Tanya Myungji dengan bahasa isyarat.

Mint memandang saudarinya bingung, kepalanya juga terasa pusing.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Junhyung.

Mint ingin bertanya dia dimana, namun kedua tangannya terasa lemas untuk di gerakkan.

“Tidak apa-apa, Mint.. Kau ada dirumah sakit..” Ucap Minjeong memberitau.

Heesun dan Hyunseung muncul, “Mint!” Seru Heesun sambil menghampiri gadis itu.

Keadaan hening ketika Heesun dan Hyunseung muncul.

“Mint.. Gwenchana?” Tanya Heesun jelas sambil memberikan gerakan isyarat pada Mint.

Mint hanya diam menatap Heesun.

“Mint..” Ucap Hyunseung karena gadis itu hanya diam.

“Maaf, tolong jangan dipaksa berbicara..” Ucap Junhyung memberitau.

“Apa yang terjadi padanya?” Tanya Heesun khawatir.

“Dia hanya dehidrasi dan tertekan..” Jawab Junhyung, “Jadi lebih baik biarkan dia tenang, baru kalian berbicara lagi padanya..”

Heesun tertegun dan berpandangan dengan Hyunseung bingung, lalu memandang Mint yang memandangi saudari-saudarinya.

=Rumah Para Gadis=

Mint hanya duduk di tempat tidur tanpa mengangkat wajahnya, dia tak ingin mengetahui apa pun dari Heesun maupun Hyunseung, karena itu dia tak ingin memandang wajah mereka.

“Mint.. Tatap oppa!” Tegas Hyunseung sambil mengangkat dagu Mint agar menatapnya, namun gadis itu tetap memalingkan pandangannya.

“Oppa, sebaiknya oppa jangan terlalu memaksanya..” Ucap Minjeong pelan.

“Ne, nanti Mint semakin tertekan..” Ucap Dohee.

Hyunseung memandang gadis-gadis itu, lalu mengangguk. “Baiklah..” Ucapnya berat, lalu memandang Mint. “Tolong pastikan dia makan teratur..” Ucapnya, lalu bangkit dan menghampiri Heesun di ambang pintu.

Heesun memandang Mint sedih, “Dia pasti membenciku..”

Hyunseung merangkul Heesun dan membawanya ke lantai bawah, “Aniya.. Dia belum tenang saja.. Setelah itu kita akan menjelaskan semuanya..”

Heesun berusaha menahan air matanya.

Hyunseung mengelus rambut Heesun lembut, “Tenanglah.. Yang terpenting dia perlahan membaik..”

Sementara itu.

Junhyung duduk di depan mobilnya tak jauh dari rumah Heesun. Dia tak bisa tenang karena Mint masih lemah, “Ahhh.. Kenapa aku disuruh pulang dan Hyunseung tetap disana?” Ucapnya kesal, “Aishh!!”

Tak lama, Junhyung tertegun melihat Hyunseung berjalan keluar dan menghampiri mobilnya di temani Heesun.

Hyunseung membuka pintu mobilnya dan memandang Heesun sebelum masuk, “Kau akan baik-baik saja kan?”

Heesun mengangguk, “Aku akan memberitau mereka tentang rencana pembatalan pernikahanku dan Daniel..”

Hyunseung tersenyum tipis, lalu mengelus rambut Heesun dan mencium dahinya. “Aku pulang..”

Heesun tersenyum, “Ne..”

Mata Junhyung membesar melihat Hyunseung mencium dahi Heesun dan pergi bersama mobilnya, “Mereka?! Ahh!! Apa-apaan mereka?!” Gumamnya tak percaya.

=Meja Makan=

Keadaan rumah masih canggung ketika Heesun sarapan bersama putri-putrinya. Mint tak mau memandangnya sejak semalam, hal itu membuatnya merasa lebih bersalah.

Dohee mencolek pinggang Minjeong agar berbicara pada Heesun mengenai keputusan mereka semalam.

“Eomma..” Panggil Minjeong.

Minjeong memandang Minjeong, “Ne?”

“Mmm..” Minjeong tampak ragu untuk berbicara.

“Ada apa?” Tanya Heesun karena merasa ada sesuatu yang serius.

“Mmm.. Itu.. Mengenai pindah ke asrama..” Ucap Minjeong.

Heesun tertegun, “Ada apa?” Tanyanya lagi.

Minjeong memandang Dohee, lalu kembali memandang Heesun. “Kami bertiga akan pindah ke asrama sore ini..”

Heesun terkejut, “Ne?!” Serunya, lalu memandang Myungji yang tampak sedih karena keputusan kakak-kakaknya. “Waeyo?”

“Mmm.. Kami hanya..” Ucapan Minjeong terhenti merasakan Dohee memegang tanganya.

Dohee menatap Heesun yakin, “Kami tidak ingin eomma merasa berat untuk menikah dengan Mr. Henney.. Jika setelah menikah eomma pindah ke luar negeri, kami bertiga akan tetap disini dan mengikuti pelatihan di agensi..”

Heesun tertegun, tak tau apa yang harus dia katakan. Matanya memerah menahan air mata. “Kenapa kalian… Eomma..” Dia tak tau harus mengatakan apa.

“Maaf eomma..” Ucap Minjeong, “Kami bukan bermaksud untuk tidak menghargaimu sebagai ibu kami, tapi kami merasa ini jalan terbaik untuk tetap berlatih dan menjaga perasaan Mint..”

Myungji mulai terisak dan menyeka air matanya.

“Eomma..” Suara Heesun terdengar gemetaran, “Eomma akan membatalkan rencana pernikahan dengan Daniel..”

Minjeong, Dohee dan Myungji menatap Heesun kaget, sementara Mint masih menunduk.

“Eomma tidak ingin berpisah dari kalian, kalian semua.. Maafkan ucapan eomma saat itu.. Eomma tidak bermaksud seperti itu..” Ucap Heesun menyesal, bulir air mulai berjatuhan di pipinya.

Semuanya hanya diam memandang Heesun.

Heesun memegang dahinya menahan kesedihan dan menyesalannya, “Ini bukan tentang kalian.. Ini tentang eomma dan….” Dia masih ragu untuk mengatakannya pada mereka, “..seseorang yang eomma cintai..”

“Jadi, eomma tidak akan menikah dengan Mr. Henney?” Tanya Myungji.

Heesun menggenggam satu tangan Myungji dan menggeleng, “Ani..” Ucapnya, lalu memandang para putrinya. “Eomma mohon, jangan pergi. Eomma tau semua ini salah eomma, tapi kalian akan mengetahui semuanya nanti. Eomma akan mengatakan alasan sesungguhnya.. Eomma berjanji..” Ucapnya sambil memandang putri-putrinya, dia tertegun sekarang Mint memandangnya. “Mint! Eomma miane.. Jeongmall, mianeyo!!” Ucapnya cepat.

Mint hanya diam, lalu kembali memandang makanan di depannya.

=Beberapa Hari kemudian=

“Dia masih belum berbicara padamu?” Tanya Hyunseung di telepon.

“Ne.. Dia tak mau memandangku.. Bagaimana aku bisa menjelaskan padanya..” Ucap Heesun dengan suara bergetar.

“Aku mengerti jika dia masih marah, aku akan datang besok siang. Jadi tenanglah..” Ucap Hyunseung lembut.

“Ne.. Gumawo..” Ucap Heesun, “Dan, aku sudah memberitau Daniel mengenai pembatalan pernikahan itu..”

Hyunseung tertegun, “Lalu?”

Heesun menghela nafas berat, “Dia sangat terkejut saat mengetahui alasanku yang sebenarnya..”

“Kau menyesalinya?” Tanya Hyunseung.

“Aniya, sekarang terasa lebih lega.. Setelah ini hanya perlu menjelaskannya pada anak-anak..” Jawab Heesun ceria.

Hyunseung tersenyum tipis, “Saranghaeyo..”

“Ne, nadoo saranghaeyo..” Balas Heesun.

“Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti..” Ucap Hyunseung, lalu memutuskan telepon dan berbalik. “Ahh!!!” Serunya kaget karena Junhyung sudah menatapnya curiga, “Ya!! Jangan muncul tiba-tiba!!”

Junhyung menatap Hyunseung tajam, “Ada apa antara kau dan Heesun-ssi?!”

Hyunseung memandang Junhyung kesal, lalu memandang ke kanan dan kiri. “Kami memiliki hubungan spesial..”

Mata Junhyung membesar, “Ne?!”

Hyunseung menghela nafas berat dan memegang bahu Junhyung, “Kau menyukai adikku?”

Junhyung tertegun dan merasakan kedua pipinya panas, “Hm? Ani..” Elaknya.

“Ya sudah kalau begitu..” Ucap Hyunseung, lalu berjalan pergi.

“Eh! Ani.. Tunggu dulu..” Panggil Junhyung sambil menarik Hyunseung, “Ne, aku menyukainya!”

Sebenarnya Hyunseung sudah tau itu yang akan di katakan Junhyung, “Ikut aku..” Ucapnya sambil melangkah sambil menarik Junhyung.

Kafe.

“Mwo?!!!” Seru Junhyung setelah mendengar cerita Hyunseung mengenai hubungannya dengan Heesun dan kesalahpahaman Mint.

“Ne..” Ucap Hyunseung, “Aku tau ini memang aneh, tapi aku dan Heesun ingin bersama. Mint hanya salah paham dengan arti kata-kata Heesun saat itu..” Jelasnya. “Jadi, kumohon bantu aku membuatnya percaya..”

Junhyung memandang Hyunseung serius, lalu mengangguk. “Baiklah..”

=Rumah Para Gadis=

Heesun membuka pintu kamar Mint dan melihat gadis itu duduk di atas tempat tidurnya, bibirnya membentuk senyuman namun kembali luntur karena gadis itu berbaring membelakanginya. Perlahan dia menghampiri tempat tidur dan duduk di pinggirnya, “Mint.. Ayo bicara..” Ucapnya sambil menarik lengan Mint, tapi gadis itu tetap tak mau berbalik.

Mint tidak ingin mengetahui apa pun. Terasa kasurnya bergoyang, dan seseorang memeluknya dari belakang. Dia bisa tau orang itu menangis karena tubuh orang itu bergetar dan tersedu-sedu. Tangan lembut Heesun menggenggam tangannya sambil memeluknya.

Heesun menangis penuh penyesalan karena telah melukai hati putrinya, ‘Kumohon.. Jangan seperti ini Mint..’ Batinnya.

Mint bergerak melepaskan pelukan Heesun, namun wanita itu tetap mempererat pelukannya. Hatinya terasa lebih sakit mengingat ucapan wanita itu.

Paginya.

Heesun terbangun karena cahaya matahari yang menerobos masuk ke bawah pelupuk matanya. Perlahan dia menggeliat sambil membuka mata, namun dia terkejut tak menemukan siapa pun di sebelahnya. Lalu seger bangkit duduk dan memandang sekitar, “Mint..” Panggilnya, lalu turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar.

Dohee tertegun melihat Heesun keluar dari kamar Mint, “Eomma?”

“Kau melihat Mint?” Tanya Heesun.

Dohee tampak bingung, lalu menggeleng. “Aku baru bangun eomma..”

“Hm??” Heesun segera turun dari lantai atas dan mencari Mint di sekitar rumah. “Mint..”

Minjeong keluar dari kamarnya sambil mengelus matanya, “Ada apa?”

“Mint tidak ada di kamarnya..” Ucap Dohee memberitau.

Minjeong tertegun, “Ne?!”

Myungji menatap kedua kakaknya kaget, “Ne?!” Serunya, lalu masuk ke kamar Mint. Tak lama dia setengah berlari keluar, “Eonni! Kura-kura Mint eonni tidak ada!”

Mata Minjeong dan Dohee membesar, “Ne?!!” Seru mereka hampir bersamaan, lalu segera berlari ke bawah. “Eomma!!”

Heesun berlari ke tangga dan memandang putri-putrinya, “Ada apa? Mana Mint?!”

“Eomma! Mint pergi! Kura-kuranya tidak ada!!” Ucap Minjeong memberitau.

Heesun menatap putri-putrinya tak percaya, “Ne?! Omo!!” Serunya, “Ayo kita cari dia di sekitar sini..” Ucapnya dan langsung melangkah keluar.

Apartemen Hyunseung.

Hyunseung keluar dari kamar mandi dengan handuk baju, ponselnya berdering ketika dia membuka lemari. Perlahan dia menghampiri tempat tidur dan mengangkat panggilan dari Heesun, “Ne?”

“Hyunseung! Mint pergi dari rumah!!” Seru Heesun di seberang.

Hyunseung tersentak, “Ne?!!!”

“Aku dan yang lain sedang mencarinya di sekitar rumah..” Ucap Heesun memberitau.

“Aku akan segera kesana..” Ucap Hyunseung, lalu memutuskan telepon dan kembali menempelkan ponselnya di telinga.

Kamar Junhyung.

Tangan Junhyung bergerak mencari-cari ponsel di bawah bantal dengan mata tertutup, lalu menempelkan ponsel di telinga. “Yoboseyo?” Ucapnya mengantuk.

“Junhyung!! Mint menghilang!!” Ucap Hyunseung di seberang.

Mata Junhyung langsung terbuka lebar dan bangkit duduk, “NE?!!!”

=Sebuah Tempat=

Mint duduk di dalam sebuah terowongan di tempat bermain sambil memandangi kura-kuranya. Dia tak ingin bertemu siapa pun saat ini, jika di rumah dia tetap akan bertemu saudarinya dan Heesun. Jadi dia memutuskan pergi hingga perasaannya lebih baik.

Dia mengelus cangkang kura-kuranya pelan, ‘Aku terluka kura-kura..’ Batinnya sedih, ‘Bagaimana caraku untuk menyembuhkannya?’ Batinnya lagi.

Drrrrrrt… Drrrrrrt..

Ponselnya bergetar panjang sejak tadi di dalam tas, namun dia tak ingin melihatnya. Dia tak ingin siapa pun menemukannya.

Sementara itu.

Hyunseung menghampiri Heesun dan putri-putrinya, “Bagaimana? Sudah ketemu?”

Heesun menggeleng, “Aniya, dia tidak mengangkat panggilan atau membalas pesan..”

“Aaah.. Kemana dia?” Tanya Hyunseung bingung, lalu memandang gadis-gadis lain. “Kalian tau kira-kira tempat apa yang akan di datangi Mint?”

Minjeong menggeleng, “Ani oppa, Mint selalu pergi bersama kami.. Tidak ada tempat lain selain rumah yang sangat kami sukai..”

Junhyung berlari menghampiri orang-orang itu, “Mana Mint? Sudah ditemukan?”

“Belum..” Jawab Heesun.

“Aaargh!” Erang Junhyung kesal.

“Dia pasti tak pergi jauh, aku yakin.. Ayo cari lagi..” Ucap Heesun dan langsung pergi bersama putri-putrinya.

“Aku akan ke sana..” Ucap Hyunseung dan berjalan cepat ke arah lain.

Junhyung memandang dua arah itu bingung, “Ne? Aku?” Ucapnya bingung, lalu melangkah ke arah lainnya. Namun akhirnya dia berhenti melangkah karena tak menemukan clue kemana Mint pergi. Dia memejamkan mata sambil mengetuk-ketuk dahinya dengan telunjuk, “Think Junhyung! Think!!” Gumamnya sambil berpikir. Tak lama matanya terbuka karena menemukan sebuah ide, lalu mengeluarkan ponselnya. “GPS!!” Ucapnya dan langsung mencari dimana Mint melalui ponselnya.

Setelah beberapa saat, Junhyung tiba di sebuah tempat bermain. Namun tak melihat siapa pun, “Disini menunjukkan ponsel Mint ada di sekitar sini..” Gumamnya sambil memandang layar ponsel, lalu mengedarkan pandangannya. “Tapi dimana?” Pandangannya terpaku pada terowongan di tengah tempat itu, perlahan dia melangkah menghampiri terowongan itu. Dia membungkuk dan memandang ke dalam, tatapannya langsung bertemu dengan Mint. “Oh!! MINT!!” Serunya lega, lalu masuk ke terowongan itu dan memegang kedua tangan Mint, kedua bahu dan kedua pipinya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. “Gwenchana?”

Mint menatap Junhyung tak percaya, lalu bertanya dengan bahasa isyarat. “Bagaimana kau tau aku disini?”

Junhyung tersenyum sambil memperlihatkan layar ponselnya.

Mint tertegun, lalu memandang tasnya dan kembali memandang Junhyung.

Junhyung memandang Mint tak mengerti, “Mengapa kau pergi? Semuanya khawatir padamu..” Tanyanya beserta gerakan isyarat.

Mint bingung menjawab pertanyaan Junhyung, “tolong jangan beritau yang lain..” Pintanya dengan bahasa isyarat.

Junhyung tertegun, “Mmm.. Baiklah..” Jawabnya, lalu tersenyum.

Mint tersenyum tipis.

Junhyung menatap Mint sedih, lalu memegang tangannya. Membuat gadis itu memandangnya bingung, “Aku tau apa yang sudah terjadi..”

Senyum Mint memudar, lalu menunduk sedih.

Tangan Junhyung yang lain mengangkat dagu Mint agar memandangnya, “Jika aku menjelaskan, kau ingin mendengarkannya?”

Mint tertegun, lalu menggeleng pelan.

Junhyung menghela nafas dalam masih sambil memegang dagu Mint, “Percaya padaku, kau akan mengerti jika aku menjelaskannya..”

Mint menatap Junhyung ragu.

“Sampai kapan kau akan marah seperti ini? Bukan hanya kau, orang sekitarnya juga terluka..” Ucap Junhyung, “Kau mau mendengarnya?”

Akhirnya Mint mengangguk setuju.

Junhyung melepaskan dagu Mint dan siap bercerita, “Sebenarnya, Ibu angkatmu, Kim Heesun dan oppamu, Hyunseung. Mereka saling mencintai…” Ucapnya pelan disertai gerakan isyarat.

Mint tertegun, perlahan dahinya berkerut dengan tatapan tak percaya.

“Memang mengejutkan, tapi ini kenyataannya. Heesun berencana menikah dengan Daniel agar bisa melupakan Hyunseung..” Jelas Junhyung.

Mint tampak benar-benar bingung dan mencoba mencerna semuanya.

Junhyung memegang kedua tangan Mint dan menatap kedua matanya serius, “Saat kau mendengar Heesun berkata dia menyesal mengadopsimu, dia tidak bermaksud menyesal telah membesarkanmu. Tapi dia menyesal  mengadopsimu karena dengan begitu dia dan Hyunseung tak bisa bersama dengan nyaman..” Jelasnya.

Mata Mint membesar, dia benar-benar tak tau itu alasan sebenarnya.

“Kau mengerti sekarang?” Tanya Junhyung.

“Jinja?” Tanya Mint dengan gerakan isyarat.

Junhyung mengangguk.

Mint tampak berpikir, semua itu benar-benar mengejutkannya.

Junhyung menggoyang tangannya yang memegang tangan Mint agar gadis itu memandangnya. Bibirnya membentuk senyuman, “Kita kembali sekarang?”

Mint menggigit bibir bawahnya bingung.

Akhirnya Hyunseung kembali bertemu Heesun dan putri-putrinya. “Aku tidak menemukannya..”

“Kami juga..” Ucap Heesun frustasi, lalu memegang kepalanya.

Myungji tertegun melihat seekor kura-kura berjalan pelan di atas pasir tempat bermain, “Itu! Kura-kura!” Serunya sambil menunjuk kura-kura itu dan langsung mengambilnya.

“Apakah milik Mint?” Tanya Minjeong.

Myungji mengangguk karena melihat ada nama Mint di bawah kura-kura itu.

“Mint! Dimana dia?” Tanya Heesun sambil mengedarkan pandangannya.

Mint menyadari kura-kuranya tidak ada dan memandang ke kanan dan kiri bingung.

“Wae?” Tanya Junhyung ingin tau.

Mint menatap Junhyung panik, “Kura-kuraku..” Ucapnya dengan bahasa isyarat.

Junhyung memandang Mint bingung karena dia belum mempelajari banyak tentang bahasa isyarat, jadi dia tak mengerti apa yang di maksud Mint. “Ne?”

Mint merasa tak cukup waktu menjelaskan, jadi dia langsung keluar dari terowongan itu untuk mencari kura-kuranya. Namun begitu keluar dia tertegun melihat keluarganya sudah ada di sana.

“Mint..” Ucap Heesun dan langsung memeluk Mint.

Junhyung keluar dari terowongan dan memandang orang-orang disana bingung.

Ketiga saudari Mint ikut memeluknya.

Heesun melepaskan pelukannya dan menatap Mint khawatir, “Kenapa kau pergi begitu saja? Eomma khawatir, Mint..” Ucapnya.

“Mint, gwenchana?” Tanya Hyunseung khawatir.

Mint memandang Heesun dan Hyunseung bergantian, lalu menunduk.

Hyunseung memandang Junhyung meminta penjelasan.

“Aku sudah menjelaskannya..” Ucap Junhyung memberitau.

“Menjelaskan apa?” Tanya Minjeong tak mengerti.

=Ruang Tengah=

Minjeong, Dohee dan Myungji terperanjat mendengar penjelasan Heesun dan Hyunseung mengenai kenyataan yang terjadi. Serentak mereka memandang kedua orang itu bergantian.

Heesun menunduk menyesal, “Saat itu, maksud eomma bukan menyesal karena memiliki putri seperti Mint. Tapi karena Mint adalah adik Hyunseung..” Ucapnya menjelaskan, “Kalian mengertikan?”

Ketiga gadis itu saling berpandangan bingung, lalu kembali memandang ibu mereka dan Hyunseung.

Hyunseung yang duduk di sebelah Heesun memandang ketiga gadis itu, “Apakah kalian keberatan?”

Ketiga gadis itu tampak bingung dan memilih untuk diam.

Di kamar Mint.

“Kenapa kau masih tidak berbicara dengan mereka?” Tanya Junhyung tak mengerti.

“Aku tidak tau apa yang harus kukatakan..” Ucap Mint dengan bahasa isyarat.

“Apa kau setuju jika mereka bersama?” Tanya Junhyung pelan.

Mint diam sejenak sambil berpikir, “Jika Heesun bersama oppa, berarti dia akan menjadi kakakku.. Atau oppa yang menjadi ayahku..” Ucapnya dengan bahasa isyarat.

Junhyung juga ikut merasa bingung mengetahui itu, “Benar..”

Mint menunduk bingung, ternyata kenyataan jauh lebih membingungkan dari perasaan marahnya kemarin.

=Rumah Junhyung=

Junhyung duduk lesu di sofa sambil memikirkan masalah yang dialami Mint dan keluarganya. ‘Bagaimana caraku membantunya?’ Batinnya bingung.

Dujun duduk di sebelah Junhyung sambil menatap temannya itu heran, “Junhyung, kau menonton ini?” Tanyanya.

Junhyung tersadar dari lamunannya dan baru menyadari siaran di tv sedang menayangkan MV terbaru dari Jihyun, “Hm?! Oh! Kenapa ini?!” Ucapnya kesal sendiri dan mengganti siaran itu.

Dujun geleng-geleng kepala, “Kemarikan..” Ucapnya sambil mengambil remote dari tangan Junhyung, “Aku ingin melihat Suzy-ku..” Ucapnya dengan mata berbinar dan mengganti siaran untuk menonton drama yang di perankan Suzy ‘Miss A’.

Junhyung menatap Dujun aneh, “Aisssh..” Gumamnya kesal.

Dujun terkejut melihat tv, “Ya! Kenapa dia menjadi cameo!!” Ucapnya kesal sambil menunjuk layar tv.

Junhyung memandang tv dan melotot, Jihyun juga muncul di drama yang di tonton Dujun. “Aisssh.. Memuakkan..” Ucapnya, lalu bangkit dan masuk ke kamarnya.

Dia dan Jihyun berhubungan saat mereka masih SMA. Mereka saling jatuh cinta dan berpacaran, semuanya berjalan baik-baik saja hingga mereka bergabung dengan agensi berbeda dan debut sebagai penyanyi dan rapper. Namun, ternyata Jihyun lebih terobsesi menjadi penyanyi besar dengan menggunakan segala cara. Salah satunya meninggalkan Junhyung yang saat itu masih rapper pemula dan belum menjadi siapa-siapa demi bersama seorang CEO yang membuatnya menjadi terkenal seperti sekarang. Setelah itu Junhyung membenci dan tidak ingin mendengar apa pun mengenai Jihyun, karena itu juga dia berusaha menjadi rapper hebat agar bisa melampaui gadis itu.

=Apartemen Hyunseung=

Hyunseung duduk bersandar di sofanya dengan kepala terdongak memandang langit-langit sambil mendengarkan Heesun berbicara di telepon.

“Mint belum mau mengatakan apa pun..” Ucap Heesun, lalu menghela nafas berat. “Juga pada saudarinya yang lain.. Dia tidak mau menatap kami lebih dari dua detik. Sepertinya dia menggunakan kekurangannya sebagai senjata..”

Hyunseung menghela nafas berat, “Aku akan mencari jalan keluar ini secepatnya..”

“Ne.. Kuharap dia bisa segera kembali normal..” Ucap Heesun.

“Hmm.. Baiklah, sampai nanti..” Ucap Hyunseung dan memutuskan telepon.

Yoseob yang sejak tadi duduk di dekat Hyunseung sambil membaca jadwal memandang pria itu, “Wow.. Kalian sudah seperti ayah dan ibunya sekarang..”

Hyunseung memandang Yoseob kesal, “Moodku sedang buruk, jika tidak ingin celaka tutup mulutmu..” Ucapnya dingin.

Yoseob menahan tawa, “Ne..” Ucapnya, lalu kembali memandang layar ipadnya.

Hyunseung menghela nafas dalam dan memejamkan matanya sejenak sambil berpikir.

Yoseob tiba-tiba mendapatkan sebuah ide, lalu memandang Hyunseung. “Hyung, sepertinya aku ada jalan..”

Hyunseung membuka mata dan menatap Yoseob serius, “Apa?”

Yoseob memperbaiki posisi duduknya dan menatap Hyunseung, “Begini hyung, dalam hukum Mint adalah anak sah penulis Kim Heesun. Jika kau berhubungan dengannya akan sulit karena hubungan kalian bersama Mint..” Ucapnya memulai, “Bagaimana jika penulis Kim Heesun membatalkan pengadopsian itu dan mengembalikan hak asuh Mint padamu, dengan begitu kau dan dia tidak memiliki masalah lagi. Kau tetap bersama adikmu, penulis Kim Heesun tetap bersama putrinya. Errrr.. Maksudku akan menjadi adiknya jika kau bersama dia..”

Hyunseung tertegun, ide Yoseob sangat briliant. “Ne!! Benar!! Kau benar Yoseob!!!” Serunya girang.

Yoseob tersenyum, “Ne.. Tapi..” Wajahnya berubah bingung, “Bagaimana jika setelah mengumumkan hubunganmu dan penulis Kim Heesun fans-mu akan berkurang?”

Hyunseung diam sejenak, lalu tersenyum. “Berarti yang tersisa adalah fans sejatiku..”

Yoseob tersenyum kagum dan memegang bahu Hyunseung, “Benar hyung..”

=Taman Belakang=

Mint duduk bersama kura-kuranya untuk berpikir. ‘Apa yang harus kulakukan? Membiarkan oppa bersama Heesun? Tapi aku adik dan putri mereka. Bagaimana ini?’ Batinnya pada kura-kuranya. Dia tertegun melihat seseorang meletakkan selembar kertas di dekat tangannya, lalu menoleh. Ternyata Heesun.

Heesun tersenyum, “Bacalah..” Ucapnya.

Mint memandang kertas itu dan membaca tulisan disana.

Mint.. Mungkin menurutmu hubungan yang kujalani bersama Hyunseung sangat membingungkan. Tapi inilah yang akan membuat kami bahagia jika kau menyetujuinya. Namun semua itu terserah padamu. Jika kau setuju, kami akan menjalaninya dengan bahagia. Jika tidak, kami akan berpisah dan menjalani kehidupan kami masing-masing dengan perasaan tersiksa..

Mint tertegun membaca tulisan disana, lalu memandang Heesun yang tersenyum padanya. Namun tampak kesedihan dalam matanya.

“Kau mengertikan, Mint?” Tanya Heesun beserta gerakan isyarat.

Akhirnya setelah sekian lama tak menggunakan bahasa isyarat, Mint menjawab Heesun. “Tapi, jika kau bersama Hyunseung oppa, kau akan menjadi kakakku..”

Heesun membelai rambut Mint lembut, “Gwenchana.. Selama aku masih bisa bersamamu, Minjeong, Dohee dan Myungji..”

Mint diam memandang Heesun bingung.

Minjeong, Dohee dan Myungji menghampiri mereka dan memandang Mint serius.

“Mint, kami bertiga sudah memikirkan ini dan memutuskan untuk menyetujuinya..” Ucap Minjeong beserta bahasa isyarat.

“Karena Mint..” Ucap Dohee, membuat semua memandangnya. “Eomma akan bahagia bersama Hyunseung oppa, jadi kita tidak boleh menghalanginya..”

Heesun terharu tiga putrinya yang lain mengerti bagaimana perasaannya dan merangkul mereka sambil mengelus kepalanya.

Myungji memeluk Heesun dari samping,”Ne, eonni. Eomma sudah hidup seorang diri membesarkan kita. Sekarang saatnya eomma bersama seseorang yang eomma cintai..” Ucapnya.

Heesun memandang Mint menunggu responnya.

Mint memandang saudarinya bergantian, lalu berpikir beberapa saat. Tak lama dia kembali tersenyum dan mengangguk.

Heesun senang mengetahui Mint juga setuju dan memeluknya.

=Dua Bulan Kemudian=

Mint memandang surat yang menyatakan kalau dia bukan anak adopsian Heesun lagi, namun dia tidak bersedih. Karena meskipun begitu dia tetap tinggal di rumah wanita itu bersama saudarinya, tak ada yang berubah kecuali hubungan Heesun dan Hyunseung.

Ditempat lain.

Junhyung tertegun melihat Jihyun muncul di agensinya. Ini pertama kalinya setelah 5 tahun dia langsung bertatap muka dengan gadis itu.

Jihyun tersenyum, “Hallo Junhyung, lama tak bertemu..”

Junhyung menatap Jihyun dingin, “Apa maumu?”

“Kau bahkan tidak menanyakan kabarku..” Ucap Jihyun sebal.

“Katakan saja apa maumu!” Tegas Junhyung karena tak mau berlama-lama berhadapan dengan gadis itu.

Jihyun tertawa kecil, “Mmm.. Baiklah.. Aku ingin kau membuatkan lagu duet untukku dan dirimu..”

Junhyung menatap Jihyun dengan satu alis terangkat, “Ne? Aku? Kau bercanda? Mati pun aku tak akan melakukannya!” Ucapnya marah, “Keluar dari tempat ini sebelum aku memanggil petugas keamanan untuk menyeretmu keluar!”

Jihyun menatap Junhyung tajam, “Ohya? Kau berani melakukan itu? Rapper Junhyung?!” Tantangnya.

Junhyung emosi dan langsung berdiri, “Menurutmu?!” Dia langsung menarik tangan Jihyun dan menyeretnya keluar dari ruangannya.

“Ya!! Ya!! Junhyung!!!” Seru Jihyun yang hampir slip beberapa kali karena hak sepatunya terlalu tinggi.

Semua orang memandang Junhyung yang terus menyeret Jihyun ke luar gedung dengan dahi berkerut.

Dujun terkejut melihat itu dan segera mengejar, “Ya!! Junhyung!!”

“Aww!!! Lepaskan!” Seru Jihyun.

Junhyung melepaskan tangan Jihyun di depan gedung agensi dan menatapnya marah, “Kau harus ingat ini tempatku! Wilayahku! Aku berhak melakukan apa pun di tempatku!!” Ucapnya, lalu berbalik dan berjalan pergi.

Dujun segera menghampiri Jihyun yang masih mengelus pergelangan tangannya, “Maaf, Jihyun-ssi.. Junhyung masih belum bisa memaafkanmu..” Ucapnya menyesal.

Jihyun tersenyum tipis, “Ne, gwenchana..”

“Mmm.. Saranku, lebih baik kau tidak muncul lagi. Aku takut Junhyung melakukan yang lebih buruk..” Ucap Dujun.

Jihyun hanya tersenyum, lalu mengangguk sopan dan berjalan pergi.

Dohee, Minjeong, Myungji dan Mint berjalan menuju gedung sambil membicarakan sesuatu tentang pelatihan mereka. Saat itu Minjeong menyadari Jihyun berjalan ke parkiran.

“Omo! Itu Jihyun eonni! Yang penyanyi itu..” Ucap Minjeong sambil menunjuk Jihyun.

Semuanya memandang Jihyun.

“Omo! Benar! Kyaa.. Aku ingin tanda tangannya!!” Ucap Dohee dan langsung menghampiri gadis itu bersama yang lain.

“Annyeonghaseo..” Sapa tiga gadis itu pada Jihyun sebelum membuka mobilnya.

Jihyun berhenti dan tersenyum memandang gadis-gadis itu, “Ne..”

“Omo.. Eonni, kami fans-mu.. Bolehkah kami meminta tanda tanganmu?” Tanya Minjeong sopan.

Jihyun tersenyum lebar, “Tentu..”

Dohee, Minjeong dan Myungji langsung mengeluarkan buku agenda mereka beserta spidol dan menyodorkannya pada Jihyun. Sedangkan Mint tampak bingung sendiri.

Jihyun menandatangani buku-buku itu bergantian, “Kalian trainee di sini?”

“Ne, eonni..” Jawab Dohee.

Ketika mengambil buku agenda Minjeong, Jihyun tertegun. “Mmm.. Oh.. Kau yang berduet dengan rapper Junhyung itu kan?”

Minjeong tersipu, “Ne.. Waah.. Eonni mengingatku..”

Jihyun tersenyum manis, “Suaramu bagus sekali..”

“Ghamsamida, eonni..” Ucap Minjeong malu.

Jihyun tertegun Mint, perlahan dahinya berkerut. “Sepertinya aku pernah melihatmu..”

“Ne, eonni.. Mint eonni model toko online M.King..” Ucap Myungji memberitau.

“Hm? Oh.. Dia model yang tuna rungu itu?” Tanya Jihyun.

Mint mengangguk.

Jihyun tersenyum lagi, “Kalau begitu aku permisi, semangat untuk trainee kalian..” Ucapnya.

“Ne, gamshamida eonni..” Ucap ketiga gadis itu hampir bersamaan dan berjalan menuju gedung.

Jihyun masuk ke mobilnya dan menghidupkan mesin. Sebelum mengeluarkan mobilnya dia kembali memandang gadis-gadis tadi. Dahinya berkerut melihat Mint memegang kura-kura sambil bercanda dengan gadis-gadis lain. Dia tertegun, “Miss Turtle?” Gumamnya, lalu mengambil ponselnya dan memutar lagu Junhyung yang berjudul Miss turtle dan mendengarkan liriknya. Dia kembali tertegun, “Mendengar dengan cara berbeda? Gadis yang dia maksud ini tuna rungu? Gadis itu?!”

=Kantor Heesun=

Heesun menarik tangannya ketika Hyunseung menggenggam tangannya keluar dari kantor.

Hyunseung memandang Heesun bingung, “Wae?”

Heesun melirik kanan dan kiri, “Disini banyak orang, ayo kita jalan saja..” Ucapnya sambil melangkah duluan.

Hyunseung segera mengikuti langkah Heesun dan kembali memegang tangannya, bahkan mengaitkan jari-jari mereka sambil tersenyum dan kembali melangkah.

Heesun terkejut Hyunseung melangkah dengan riang sambil menggenggam tangannya, “Ya.. Hyunseung!” Bisiknya.

Hyunseung memandang kebelakang sambil tetap tersenyum, lalu berhenti melangkah. “Ne..” Jawabnya manis.

“Orang-orang memandangi kita, lepaskan..” Bisik Heesun sambil berusaha menarik tangannya.

Hyunseung tetap menahan tangan Heesun, “Aku memang ingin orang-oran tau..” Ucapnya, lalu mendekati gadis itu dan mencium pipinya.

Heesun tertegun menatap Hyunseung perlahan kedua pipinya memerah dan tersipu malu. Lalu melirik sekitar, tampak orang-orang di lobby melotot menatap mereka.

Hyunseung kembali melangkah sambil menarik tangan Heesun.

Heesun tersenyum. Meskipun aneh tapi dia menyukai perasaan bahagia itu.

=Rumah Para Gadis=

“Eomma pulang..” Ucap Heesun sambil melangkah masuk, namun tak melihat putri-putrinya.

“Girls..” Panggil Hyunseung sambil memandang ke kanan dan kiri, “Apa mereka sudah tidur?”

“Aniya, ini masih pukul 8.. Biasanya mereka menonton drama di tv..” Ucap Heesun heran.

“Eomma.. Eomma..” Panggil Dohee dan Minjeong sambil berlari turun.

“Ada apa?” Tanya Heesun.

“Myungji..” Ucap Dohee.

“Ada apa dengannya?” Tanya Heesun khawatir.

“Sejak pulang berlatih dia berkata perutnya sakit.. Sekarang dia menangis di kamarnya..” Ucap Minjeong.

Mata Heesun membesar, “Ne?!” Serunya, lalu berpandangan dengan Hyunseung yang juga tampak kaget dan langsung setengah berlari ke atas.

Di kamar Myungji. Mint menemani adiknya yang terus menangis sambil memegang perutnya.

“Myungji, sayang.. Ada apa?” Tanya Heesun sambil duduk di pinggir tempat tidur.

“Eomma.. Perutku sakit..” Tangis Myungji sambil memeluk ibunya.

“Gwenchanayo, eomma ada disini. Ayo kita kerumah sakit sekarang..” Ucap Heesun sambil membelai rambut putri bungsunya.

“Kemari Myungji, oppa akan menggendongmu..” Ucap Hyunseung sambil mendekat dan menggendong Myungji dengan kedua tangannya.

=Rumah Sakit=

Minjeong, Dohee dan Mint duduk di ruang tunggu sambil menikmati minuman hangat. Myungji masih di periksa dokter, Heesun dan Hyunseung menemaninya.

Untuk menghilangkan bosan Dohee melihat-lihat internet, tiba-tiba matanya membesar. “Omo! Lihat!” Ucapnya sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Mint dan Minjeong.

Mata Minjeong dan Mint ikut membesar. Karena berita panas yang sedang beredar adalah tentang Hyunseung yang akhirnya muncul bersama seorang wanita. Berita itu semakin panas dengan photo mereka berdua jalan bergandengan tangan dengan senyum di wajah mereka. Juga mereka membahas mengenai Heesun yang seorang penulis senior dan lebih tua dari Hyunseung.

Ketiga gadis itu berpandangan bingung.

“Apa menurut kalian ini buruk?” Tanya Dohee.

“Mmm.. Entahlah.. Menurutmu?” Tanya Minjeong pada Mint.

“Kupikir tidak terlalu buruk..” Jawab Mint dengan bahasa isyarat.

Hyunseung datang dan duduk di sebelah gadis-gadis itu, “Apa itu?”

Ketiga gadis itu memandang Hyunseung dan memperlihatkan layar ponsel Dohee.

Hyunseung membacanya sejenak, lalu memandang para gadis itu. Tak lama bibirnya membentuk senyuman, “Wuaaah.. beritanya cepat menyebar.. ayo kita komentari..” ucapnya sambil mengeluarkan ponsel dan mengomentari berita itu seolah-olah dia hanya netizen biasa.

Ketiga gadis lain ikut tersenyum lebar dan mengomentari berita itu menggunakan ponsel masing-masing.

Hyunseung menulis : Wuah.. mereka cocok sekali bersama.. Hyunseung memang tak pernah melihat seorang gadis dari usianya, menurutnya cinta adalah segalanya..

“Oppa, kenapa memamerkan diri sendiri?” tanya Minjeong menahan tawa.

Hyunseung tertawa kecil, “Tidak apa-apa.. mereka kan tidak tau aku yang menulis..” ucapnya, namun komentar yang baru saja di posting membuatnya tertegun.

Hyunseung oppa akan bahagia bersama wanita yang dia cintai, kurasa mereka memang di takdirkan bersama..

“Siapa yang menulis ini?” tanya Hyunseung.

Dohee dan Minjeong memandang Hyunseung bingung, lalu memandang Mint yang masih asik memandang layar ponselnya. Dan mereka tau Mintlah yang menulisnya.

Hyunseung tersenyum memandang adiknya.

“Ohya, ada apa dengan Myungji? Apa dia baik-baik saja?” tanya Minjeong.

“Gwenchana, dia hanya salah makan.. Dokter bilang dia akan memberikan obat agar Myungji memuntahkan makanan itu dan akan segera membaik..” jelas Hyunseung.

“Fiuuuh.. syukurlah..” ucap Dohee lega, lalu menoleh pada Mint untuk memberitau hal itu, namun wajah gadis itu tampak tidak begitu senang.  “Mint?” panggilnya sambil memegang bahu gadis itu.

Mint memandang Dohee.

“Waeyo?” tanya Dohee beserta bahasa isyarat.

Mint diam sejenak, lalu menggeleng dan menutup layar ponselnya.

“Hm?!” Mata Minjeong membesar melihat berita baru yang langsung menjadi topik panas menggantikan berita Hyunseung tadi, lalu memandang Mint.

“Ada apa?” tanya Dohee ingin tau.

“Wae?” tanya Hyunseung.

Minjeong memandang Hyunseung dan Dohee bergantian, lalu memperlihatkan layar ponselnya.

Mata Dohee ikut membesar dan juga memandang Mint, lalu kembali memandang Minjeong. “Kurasa dia sudah membacanya..”

Mata Hyunseung menyipit membaca berita itu karena kesal, “Aissh..” gumamnya kesal.

Berita panas itu adalah skandal cinta rapper Junhyung dan penyanyi Jihyun. Hal itu dikarenakan penyanyi itu mendatangi Beast agensi seorang diri dan meminta rapper itu membuatkannya lagu.

=Beast Agensi=

Junhyung memandang ke pintu dan terheran-heran melihat Hyunseung masuk, “Ada apa?”

Hyunseung menatap Junhyung kesal, “Pertama, aku ingin kau menjauhi adikku. Kedua, kau menyebalkan karena menggeserku dari berita terpanas!!” ucapnya.

Dahi Junhyung berkerut, “Aku tidak peduli yang kedua..” ucapnya, “Tapi kenapa aku harus menjauhi adikmu?”

Hyunseung memutar bola matanya kesal, “Kau tidak membaca berita panas yang kumaksud?” Tanyanya.

Junhyung berpikir sejenak, lalu memukul dahinya. “Ah! Benar!! Aku harus berbicara pada Mint!” ucapnya sambil bangkit dan melangkah keluar ruangannya.

Hyunseung mengikuti Junhyung dengan pandangannya, “Dia sekarang dirumah sakit..”

Langkah Junhyung berhenti dan menatap Hyunseung kaget, “Ne?! Dia sakit?!”

“Ani, bukan dia.. Myungji yang sakit.. Jadi mereka semua berada disana..” ucap Hyunseung, lalu melangkah pelan mendekati Junhyung. “Jika kau tidak bisa menjaga perasaannya, lebih baik kau menjauhinya..” ucapnya dingin, lalu melangkah pergi.

Junhyung menghela nafas dalam, lalu menghubungi Dujun untuk segera mengadakan konferensi pers mengenai berita itu.

=Rumah Sakit=

Mint berjalan di lorong seorang diri menuju kamar perawatan Myungji, namun langkahnya terhenti melihat Junhyung berdiri di hadapannya.

Junhyung mengetahui Mint terganggu dengan berita itu melihat tatapan gadis itu padanya, “Kau sudah membaca berita itu?” tanyanya beserta bahasa isyarat.

Mint diam sejenak, lalu mengangguk. “Kau memang pantas bersamanya..” ucapnya dengan bahasa isyarat, lalu membungkuk sopan dan berjalan pergi.

Junhyung menahan tangan Mint dan menatapnya, “Aniya.. itu tidak benar..”

“Kau tidak perlu mengatakannya padaku..” ucap Mint dengan bahasa isyarat.

Junhyung tertegun, bingung apa yang harus dia katakan lagi. “Besok, datanglah ke agensi. Ada yang ingin kutunjukkan padamu..”

Mint diam memandang Junhyung, “Wae?”

“Datang saja..” ucap Junhyung, “Kau harus datang..”

Meskipun ragu Mint tetap mengangguk pelan.

=Keesokan Harinya=

Junhyung tersenyum melihat hiasan bunga yang dia siapkan untuk menyatakan perasaannya untuk Mint di atap gedung. Rangkaian bunga indah berwarna pink yang membentuk kata I ♥ U. “Kau akan mengetahuinya sebentar lagi, Mint..” gumamnya senang.

“Ya!! Junhyung!! Apa-apaan ini?!!” teriak Jihyun sambil menghampiri Junhyung.

Junhyung menatap Jihyun kesal, “Untuk apa lagi kau kemari?!”

“Apa-apaan kau?! Mengatakan kita punya hubungan dimasa lalu?!!” teriak Jihyun.

Junhyung menatap Jihyun marah, “Lalu aku harus mengatakan aku sebenarnya mengusirmu dari tempatku?”

“Aissh! Berita itu membuatku repot!” ucap Jihyun kesal.

“Aku tidak peduli!! Urus saja urusanmu sendiri!!” ucap Junhyung, “Pergilah! Aku menunggu seorang spesial!!”

Jihyun baru menyadari ada tulisan dengan rangkaian bunga indah di sana, dia sampai terpana melihat rangkaian bunga itu. “Junhyung, ini untuk seseorang?”

“Ne! Untuk miss turtle-ku!! Jadi segera pergi sebelum aku berpikir mendorongmu kesana!” ucap Junhyung sambil menunjuk pinggiran atap.

Jihyun menatap Junhyung diam, “Siapa miss turtle itu?! Kau bahkan tidak pernah menyanyikan lagu untukku!! Tapi menciptakan lagu untuknya!”

“Bukan urusanmu!!” tegas Junhyung, “Atau kau memang ingin aku menjatuhkanmu dari sini?!”

Jihyun menatap Junhyung kesal, lalu berbalik dan pergi.

Junhyung mengikuti Jihyun. Bukan bermaksud untuk mengantarkannya, tapi ingin memeriksa mengapa Mint belum muncul juga. Dia berhenti karena melihat Dujun yang menatapnya aneh karena ada Jihyun juga.

“Kau bersama Jihyun? Kupikir kau akan bersama Mint..” ucap Dujun tak mengerti.

“Apa?! Tentu saja aku bersama Mint! Katakan padanya untuk langsung ke atap, aku akan menunggunya..” ucap Junhyung, lalu kembali berbalik.

“Hm?” Dujun tampak bingung dan segera menarik tangan Junhyung, “Ya.. Mint sudah datang sejak tadi dan aku juga sudah memintanya langsung ke atap..”

Junhyung menatap Dujun bingung, “Ne? Tapi dia tidak muncul..” ucapnya, lalu dia menyadari sesuatu. “Ah! Sial! Dia pasti melihat Jihyun bersamaku!!!” ucapnya, lalu segera berlari keluar dari gedung agensi.

-Mint’s POV-

Aku mencoba menerka-nerka apa yang kira-kira akan di tunjukkan Junhyung ketika menaiki tangga menuju atap. Entah mengapa jantungku berdegup kencang. Tapi aku tidak ingin memikirkan apa pun dulu, jangan-jangan dia hanya ingin menunjukkan sesuatu karena aku temannya. Perlahan aku membuka pintu atap dan mencari dimana Junhyung. Aku terpaku melihat dia bersama seorang gadis, bukan sembarang gadis. Penyanyi Jihyun. Bahkan ada tulisan I ♥ U dengan rangkaian bunga yang indah..

Ada apa ini? Hatiku terasa sangat sakit. Bulir air mataku langsung berjatuhan begitu saja. Jadi dia ingin aku menjadi saksi ketika dia memperlihatkan itu pada Jihyun? Kenapa dia jadi terlihat seperti orang terjahat sedunia? Aku segera menyeka air mataku dan berbalik pergi.

-Mint’s POV end-

Junhyung setengah berlari di jalanan sambil memandang ke kanan dan kiri mencari sosok Mint. Dia yakin gadis itu belum pergi jauh. Akhirnya dia melihat seorang gadis mengenakan sweater dan celana selutut, juga tas selempang yang sangat dia kenali. “MINT!” panggilnya, lalu mengejar gadis itu.

“Kyaaaaa!! Junhyung oppa!!” teriak segerombolan gadis yang langsung mengerumini Junhyung hingga dia tak bisa melangkah.

“Maaf, aku harus pergi.. maaf..” ucap Junhyung sambil mencari celah untuk lewat, namun dia tak bisa. Perasaannya semakin gusar karena Mint hampir hilang dari pandangannya. “Aku harus pergi! Maaf!!” ucapnya dan langsung mendorong gadis-gadis itu ke samping tanpa memandang mereka. Karena pikirannya hanya tertuju pada Mint, “Mint!!” teriaknya sambil berlari.

Mint terus berjalan dengan perasaan sedih. Saat itu lampu penyeberangan sudah berkedip-kedip yang menandakan akan segera berubah merah. Dia segera mempercepat langkah kakinya.

“MINT!!” teriak Junhyung.

Langkah Mint terhenti. Dia merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada sesuatu yang membuatnya harus berhenti, ‘Ada apa ya?’ batinnya sambil memandang kanan dan kiri, orang-orang disekitar sana tampak normal-normal saja. Perlahan dia berbalik untuk memastikan apa yang terjadi. Matanya membesar melihat Junhyung berlari ke arahnya dan langsung memeluknya erat.

“Ahhhhh… akhirnya kau berhenti..” ucap Junhyung sambil memeluk Mint meskipun gadis itu takkan mendengarnya.

Mint mendorong Junhyung dan menatapnya tak mengerti.

“Kenapa kau pergi? Aku menunggumu, Mint.” Ucap Junhyung.

Mint kembali teringat apa yang dia lihat tadi, lalu menunduk dan hendak berbalik pergi. Namun pria itu kembali memeluknya. Ketika dia hendak berontak agar Junhyung melepaskannya, pelukan itu semakin erat. ‘Junhyung.. lepaskan aku!’ batinnya sambil terus berusaha mendorong pria itu.

Junhyung mendekap Mint erat, ‘Kumohon.. tetaplah diam Mint.’ Batinnya.

Akhirnya Mint berhenti melawan dan hanya diam membiarkan Junhyung memeluknya. Pipinya menempel di dada bidang pria itu. Dia tak tau apa yang terjadi, namun sepertinya ada sesuatu yang berdetak di dekat telinganya.

‘Aku mencintaimu, Mint..’ batin Junhyung sepenuh hati, berharap gadis itu bisa merasakan perasaan tulusnya.

Mata Mint membesar, lalu mendorong Junhyung perlahan dan menatapnya tak percaya.

Junhyung menatap kedua mata Mint, “Kau mendengarnya?” ucapnya pelan dengan pengucapan yang jelas.

Mint masih menatap Junhyung tak percaya beberapa saat, tak lama bibirnya membentuk senyuman dan mengangguk.

Junhyung tersenyum dan memegang kedua pipi Mint, “Kau mendengarnya? Ucapan hatiku?”

Mint mengangguk lagi dengan senyuman lebar.

“Ahh.. aku tau kau pasti belahan jiwaku..” ucap Junhyung dan langsung memeluk Mint lagi.

Kali ini Mint membalas pelukan Junhyung dengan perasaan bahagia. Perasaan sedihnya tadi sudah hilang begitu saja karena ketulusan pria itu.

=Dua Tahun Kemudian=

Debut rookie grup yang sangat di tunggu-tunggu membuat semua orang tercengang, dalam waktu seminggu lagu debut mereka telah menguasai tangga lagu. Mereka adalah Tiny-G yang terdiri dari Minjeong sebagai leader dan main vocal, Dohee main dancer dan 2nd vokal, juga Myungji main rapper. Apalagi karena mereka adalah grup pertama dari agensi Junhyung.

Di sebuah studio Pemotretan.

Mint merapikan rambutnya dan berpose dengan tatapan berani ke kamera. Wajah cantik dan ekspresinya tak pernah mengecewakan photograper. Hal itu yang membuatnya cepat menarik perhatian. Hampir semua majalah fashion baik dalam dan luar negeri sudah memajang wajahnya sebagai model. Juga iklan di tv maupun model Mv telah banyak dia bintangi. Sekarang namanya tertera dalam deretan model paling di cari tahun ini.

Junhyung melangkah masuk ke studio dan tetap berdiri di bagian ruangan yang gelap sambil memperhatikan Mint berpose dengan sempurna di depan kamera. Bibirnya membentuk senyuman karena sekarang semua orang sudah mengetahui mengenai hubungannya dengan model kesayangannya itu, Miss turtle.

Selesai menjalani photoshoot Mint kembali ke ruang ganti untuk bersiap pulang, saat itu ia baru menyadari keberadaan Junhyung.

“Hei..” sapa Junhyung sambil mendekati Mint dan mencium pipinya.

Mint tersenyum lebar, “Kupikir kita akan bertemu di acara itu..” ucapnya dengan bahasa isyarat.

Junhyung menggeleng, “Aku ingin pergi bersamamu..”

“Baiklah, tunggu sebentar..” ucap Mint dan langsung masuk ke ruang ganti.

=Sebuah Kafe=

Heesun melangkah masuk ke sebuah kafe dengan terburu-buru karena dia sudah terlambat, namun dia kebingungan melihat kafe itu gelap. “Hm? Kenapa gelap seperti ini?” ucapnya sendiri. Dia tertegun melihat seseorang menghidupkan lilin dan berjalan ke arahnya, yaitu Hyunseung yang tersenyum manis padanya. “Hyunseung, kenapa gelap sekali?”

Hyunseung berjalan ke sisi Heesun dengan lilin di tangannya, “Karena aku ingin kau melihat ini..” ucapnya dan memandang ke ruangan gelap itu. “Sekarang..” perintahnya.

Heesun menyadari kalau bukan hanya mereka yang ada disana, namun mulutnya terbungkam melihat tulisan di dinding yang terbuat dari lampu-lampu berwarna warni. Mulutnya sampai terbuka karena tak terkesima.

Would You Marry Me?

Heesun memandang Hyunseung tak percaya, “Hyunseung, ini untukku?”

Hyunseung mengangguk masih dengan senyumannya, lalu meniup lilin di tangannya. “Tidak perlu mengatakan apa pun. Jika kau setuju, cium aku.. Jika tidak, kau bisa pergi..” ucapnya.

Heesun tersenyum dengan mata berkaca-kaca, “Kau bercanda?” ucapnya sebal, lalu memeluk leher pria itu dan menciumnya.

Hyunseung memeluk pinggang Heesun dan tersenyum di tengah ciuman manis itu.

Tiba-tiba lampu di ruangan itu hidup, membuat Heesun langsung memandang sekitar kaget.

“Cukhae eomma!!!” sorak Dohee, Minjeong dan Myungji girang.

Disana juga terlihat Mint, Junhyung, Yoseob dan Dujun.

“Ahhh.. pantas saja kalian tidak  bisa dihubungi sejak tadi pagi..” ucap Heesun menahan tawa.

Ketiga putri Heesun dan Mint yang sekarang statusnya bukan anak adopsiannya lagi langsung memeluk Heesun untuk memberikan selamat.

“Omo! Berarti kita akan memanggil Hyunseung oppa menjadi Hyunseung appa?” ucap Myungji bingung.

Hyunseung tersenyum lebar sambil mengelus rambut Myungji, “Gwenchana, itu panggilan yang bagus.. hahaha..”

“Lalu, berarti Mint menjadi bibi kita?”ucap Minjeong.

Mint tertawa.

“Sudah, jangan pikirkan itu.. Yang penting kita semua akan tetap menjadi satu keluarga..” ucap Heesun senang dan kembali memeluk putri-putrinya beserta Mint.

===THE END===

<<Part 2

Advertisements

2 thoughts on “Can You Hear Me? [Part 3]

  1. Fiuhh untung semua masalah bisa selesai… =)
    Tjiee hyunseung+heesun & junhyung+mint cie cie xD
    tapi itu emg bisa ya mint denger suara hatinya junhyung?? Wkwk 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s