Part

Can You Hear Me? [Part 2]

Can You hear me 2

=Kantor Heesun=

Seluruh kantor gempar karena kedatangan Hyunseung hingga mereka harus menggunakan ruang rapat untuk berbicara.

Hyunseung mengeluarkan photo ayah, ibu tiri bersama Mint yang masih bayi dan memberikannya pada Heesun. “Itu Mint saat berusia 6 bulan..”

Heesun mengambil photo itu dan memperhatikannya. Dia tak bisa begitu mengenali bayi itu karena dia mengadopsi Mint saat berusia 5 tahun.

“Dan ini saat dia berusia 3 tahun..” Ucap Hyunseung sambil memberikan photo Mint bersama dirinya yang berusia 7 tahun.

Heesun tertegun melihat photo itu, memang terlihat mirip Mint saat dia mengadopsinya.

“Itu dua bulan setelah ayah kami meninggal..” Ucap Hyunseung memberitau.

Heesun berusaha menahan tangisnya, meskipun memiliki 4 putri dia tetap tak bisa kehilangan satupun dari mereka.

Hyunseung bangkit dan merangkul Heesun, “Kim Heesun-ssi, aku tau perasaanmu. Aku tidak akan mencurinya darimu. Aku hanya ingin dia tau aku ada untuknya, dia bukan anak buangan yang tak diinginkan.”

Heesun memandang Hyunseung, lalu menunduk sedih. “Aku akan memberitaunya..”

Hyunseung tersenyum, “Gamshamida..”

=Rumah Para Gadis=

Junhyung turun dari mobil dan melangkah ke pintu. Sebelum tangannya menekan bel, dia tertegun mendengar seseorang bernyanyi. Kepalanya menoleh ke arah suara itu, tanpa sadar kakinya melangkah sendiri menuju suara itu di taman belakang.

Ditaman belakang. Minjeong sedang berlatih untuk mengikuti audisi di sebuah agensi karena dia juga ingin menjadi penyanyi, sedangkan Myungji, Dohee dan Mint jadi penontonnya.

“Berhenti! Kau harus bernyanyi dengan hatimu!” Ucap Dohee kesal.

Minjeong berhenti bernyanyi dan menghela nafas dalam, “Baik..” Ucapnya, lalu kembali bernyanyi.

Dohee, Myungji dan Mint tertegun melihat Junhyung muncul sambil menatap Minjeong tak percaya.

Minjeong mendadak berhenti karena melihat Junhyung, “Omo, oppa..”

“Apa kau sudah bergabung dengan agensi?” Tanya Junhyung langsung.

Minjeong menatap Junhyung bingung, lalu menggeleng. “Ani..”

Junhyung tersenyum lebar, “Bagus! Aku yang akan mengorbitkanmu!” Serunya sambil menjabat tangan Minjeong.

Mereka hanya kebingungan.

=Ruang Rekaman=

Minjeong memasang earphone dan mendengarkan musik, lalu mulai menyanyikan part nya.

Heesun tersenyum mendengar suara indah Minjeong benar-benar akan di dengar oleh banyak orang.

Junhyung memandang Heesun, “Kim Heesun-ssi, aku sudah lama ingin memulai agansiku sendiri. Aku akan berusaha membuat Minjeong menjadi solois sehebat Lee Hyori atau BoA.”

Heesun hanya tersenyum.

Begitu keluar dari ruang rekaman, Minjeong disambut para saudarinya.

“Yuhuuu.. Kau akan menjadi penyanyi!” Seru Dohee girang.

“Yeaah.. Minjeong eonni memang hebat!” Seru Myungji.

Mint berlompat girang sambil menarik Minjeong.

“Aku senang sekali!!” Ucap Minjeong.

Senyum Mint perlahan memudar dan memandang Minjeong sedih.

“Ada apa, Mint?” Tanya Minjeong.

Mint menunjuk telinganya, lalu berkata dalam bahasa isyarat. “Aku tidak bisa mendengar suaramu..”

Ketiga saudari Mint berubah sedih dan saling merangkul satu sama lain.

“Gwenchana, kau selalu bisa melihatku bernyanyi..” Ucap Minjeong beserta gerakan isyarat.

Mint tersenyum dan mengangguk.

Heesun segera menyeka air mata harunya menyaksikan kebersamaan putri-putrinya.

Junhyung tertegun melihat Heesun sampai meneteskan air mata melihat gadis-gadis itu, lalu memandang para gadis itu. Dia merasa selama ini sangat sepi karena tak merasakan kehangatan seperti itu.

Setelah rekaman, Heesun mengajak putri-putrinya makan ice cream di sebuah kafe.

“Ayo rayakan kebebasan kita sebelum Minjeong menjadi artis..” Ucap Dohee sambil mengangkat cone ice creamnya.

“Ne..” Ucap Myungji.

Mint dan Minjeong ikut mengangkat cone ice creamnya, Heesun ikut-ikutan dan berlaku kalau mereka mendentingkan cone mereka.

“Eonni, jika nanti sudah terkenal. Eonni harus berduet dengan Hyunseung oppa ya..” Ucap Myungji penuh harap.

Minjeong tertawa kecil, “Ne, aku akan mengusahakannya..”

Heesun tertegun mendengar nama Hyunseung, lalu memandang Mint yang tampak bahagia bersama para saudarinya. ‘Bagaimana aku memberitaunya?’ Batinnya bingung.

=Sebuah Pemakaman=

Hyunseung meletakkan karangan bunga di atas sebuah makam dan memandangnya beberapa saat, “Appa, aku sudah menemukannya. Nanti aku akan membawanya kemari..”

=Taman Belakang=

Heesun melihat Mint seorang diri duduk di taman belakang bersama kura-kuranya, dia melirik ke putri-putrinya yang lain dan melihat mereka asik menonton tv. Diam-diam dia menghampiri Mint dan duduk di sebelahnya.

Mint tersenyum menyadari Heesun muncul.

Heesun tersenyum sambil mengelus rambut Mint, “Kau tidak bersama yang lain?” Tanyanya beserta gerakan isyarat.

Mint menggeleng, “aku ingin disini..” Jawabnya dengan bahasa isyarat.

Heesun menatap kedua mata Mint dalam, memikirkan apa yang akan dia katakan saja rasanya dia ingin menangis tersedu-sedu. Namun kenyataan tetaplah kenyataan. Bibirnya membentuk senyuman sedih, “Mint, eomma membesarkanmu sejak kau berusia 5 tahun.. Itu berarti sudah 13 tahun kau menjadi putri eomma..” Ucapnya dengan penyebutan yang jelas agar Mint mengerti.

Mint mengangguk.

Heesun menghela nafas dalam dan berusaha menahan tangisnya, “Bagaimana jika ternyata keluarga kandungmu akhirnya datang?”

Mint tertegun, lalu berpikir. Sejujurnya dia tak pernah memikirkan itu, karena menurutnya tidak akan ada orang yang akan menyayanginya seperti Heesun dengan kekurangan seperti itu. Perlahan kepalanya menggeleng menandakan dia tak tau.

Heesun memegang tangan Mint dan mengelus punggung tangannya, “Kau, Dohee, Minjeong dan Myungji terlihat sama di mata eomma. Tidak ada perbedaan sedikit pun..”

Mint kembali tersenyum, namun senyumnya luntur melihat bulir air mata Heesun mengalir.

Heesun segera menyeka air matanya dan menatap Mint, “Mint, ada yang ingin eomma katakan padamu.”

Mint menatap Heesun serius.

“Kau masih memiliki seorang oppa..” Ucap Heesun beserta gerakan isyarat.

Mint tertegun, lalu dahinya berkerut. Tampak kebingungan di wajahnya.

Heesun memperhatikan ekspresi Mint dengan cermat.

Setelah beberapa saat Mint kembali memandang Heesun, “Nugu?” Tanyanya dengan bahasa isyarat.

Heesun tersenyum sedih, “Penyanyi Hyunseung adalah oppa-mu..”

Mata Mint membesar dan menatap Heesun tak percaya, lalu menggeleng. “Tidak mungkin..” Ucapnya dengan bahasa isyarat.

Bulir air mata Heesun kembali berjatuhan dan mengangguk, “Ne, Hyunseung datang kemari untuk memastikan kau memang adiknya..” Jawabnya beserta gerakan isyarat.

Mata Mint mulai basah karena air mata dan tetap menggeleng.

“Kalian satu ayah beda ibu. Tapi dia tetap oppa-mu..” Ucap Heesun memberitau.

Mint tak percaya kenyataan itu, lalu bangkit sambil mengambil kura-kuranya dan berlari masuk ke rumah.

“Mint.. Mint!” Panggil Heesun, namun dia sendiri tak bisa memungkiri kenyataan itu sangat berat untuk dia terima.

“Hm? Mint?” Ucap Minjeong bingung karena Mint berlari masuk sambil menangis dan langsung naik ke lantai atas.

“Ada apa ya?” Tanya Dohee.

Dari tempatnya Myungji melihat Heesun menangis di taman belakang, “Lihat, eomma juga menangis..”

“Ayo kita ke sana..” Ajak Minjeong sambil menghampiri Heesun.

“Eomma..” Panggil Myungji sambil memeluk Heesun.

Heesun melebarkan tangannya untuk memeluk Dohee dan Minjeong sambil terus menangis.

“Eomma, ada apa?” Tanya Dohee khawatir.

“Kenapa Mint menangis dan lari ke kamarnya?” Tanya Minjeong.

Heesun berusaha menghentikan tangisnya dan memandang putri-putrinya sedih, “Girls, sebenarnya.. maksud Hyunseung meminta eomma menulis biograpinya karena ingin…” Dia tak sanggup mengungkapkan ucapannya.

“Apa eomma?” Tanya Minjeong.

“Dia oppa tiri Mint..” Jawab Heesun.

Dohee, Minjeong dan Myungji terdiam. “Ne?!”

Heesun mengangguk, “Dia ingin memastikan Mint benar-benar adiknya, karena itu dia datang kemari..”

Dohee dan Minjeong saling berpandangan, “Jadi, dia ingin mencari Mint?”

Myungji memandang ibunya sedih dan ikut menangis, “Jadi, Mint eonni akan pergi bersama Hyunseung oppa?”

Heesun mengelus pipi Myungji, “Eomma tidak tau..”

Dohee dan Myungji juga mulai menangis mengetahui kabar itu.

Sementara itu. Mint menelungkup di tempat tidurnya sambil menangis. Dia tak percaya setelah sekian lama dilupakan sekarang dia bertemu keluarganya.

Paginya.

Junhyung yang berencana datang ke rumah Heesun menghentikan mobilnya tak jauh dari pagar karena melihat mobil Hyunseung sudah lebih dulu berhenti disana. Dahinya berkerut melihat pria itu turun dari mobil dan langsung melangkah masuk, “Sial! Dia mendahuluiku..” Ucapnya.

Di dalam rumah. Suasana menjadi canggung setelah semua orang dirumah tau mengenai Hyunseung dan Mint.

“Annyeonghaseo..” Sapa Hyunseung sambil membungkuk sopan.

Heesun mengangguk, “ne..”

“Apa kau sudah memberitaunya?” Tanya Hyunseung.

Heesun mengangguk lagi, “Sejak semalam dia mengurung dirinya di kamar..”

Hyunseung tertegun mengetahui itu, “Mmm.. Boleh aku berbicara dengannya?”

“Ikuti aku..” Ucap Heesun sambil melangkah ke tangga.

Hyunseung mengangguk sopan pada Myungji, Dohee dan Minjeong yang duduk di sofa memandanginya. Lalu mengikuti Heesun.

Heesun berhenti di depan pintu kamar Mint dan memandang Hyunseung, “Biasanya Mint tidak pernah mengunci pintu kamarnya jika tidak ada sesuatu yang sangat mengganggunya..”

Hyunseung memutar gagang pintu dan ternyata terkunci, lalu memandang Heesun bingung.

“Kau lihat, dia tidak ingin di ganggu..” Ucap Heesun.

“Tapi anda berkata dia sudah mengurung dirinya sejak semalam, sekarang sudah siang. Dia belum makan apa pun dan anda membiarkannya?” Tanya Hyunseung tak percaya.

“Dia akan segera keluar setelah perasaannya membaik..” Ucap Heesun.

Hyunseung menghela nafas dalam dan menatap Heesun serius, “Tidak bisakah kau percaya padaku?” Tanyanya tanpa formalitas seperti tadi.

“Percaya apa?” Tanya Heesun.

“Percaya kalau aku tidak akan membawa Mint darimu!” Tegas Hyunseung.

Heesun terdiam menatap Hyunseung, akhirnya dia mengalah dan mengambil kunci cadangan di atas kusen pintu dan memberikannya pada pria itu.

Hyunseung mengambil kunci itu dan membuka pintu.

Mint yang duduk di sebelah jendela sambil memandangi kura-kuranya merasa ada seseorang mendekat dan memandang kebelakang, matanya membesar Hyunseung berdiri di hadapannya.

Hyunseung tersenyum, lalu berlutut di depan Mint dengan kedua tangan memegang tangan adiknya. “Gwenchana?”

Mint mengangguk pelan. Lalu berbicara dengan bahasa isyarat, “aku bukan adikmu, kau pasti salah.”

Dahi Hyunseung berkerut, “ne?”

“Dia berkata dia bukan adikmu..” Ucap Heesun yang berdiri di ambang pintu.

Hyunseung menatap Heesun kesal, “Bisakah kau memberikan kami privasi?”

Heesun menghela nafas dalam dan melangkah pergi.

Hyunseung kembali memandang Mint sambil tersenyum, lalu menyodorkan ponselnya. “Kenapa kau berkata begitu?”

Mint mengetik jawabannya di ponsel dan memperlihatkannya pada Hyunseung. “Karena aku anak yatim piatu, Kim Heesun adalah ibu angkatku..”

Hyunseung tertegun membaca itu dan memandang Mint sedih, “Ne, kau memang yatim piatu. Tapi kau memiliki seorang oppa, aku..” Ucapnya sambil memegang dadanya.

Mint menggeleng dan kembali mengetik, lalu memperlihatkannya pada Hyunseung. “Aniya, kau salah orang..”

Hyunseung menggeleng dan menatap Mint yakin, “Aniya.. Ini..” Dia membuka jaketnya dan menggulung lengan bajunya agar Mint dapat melihat tanda lahirnya, “Kau punya tanda seperti ini kan?”

Mata Mint membesar, lalu menatap Hyunseung tak percaya.

“Kau punya?” Tanya Hyunseung.

Mint memandang paha kirinya yang tertutup celana tidur, lalu kembali memandang Hyunseung.

Hyunseung tersenyum, “Ne, di paha kirimu kan?”

Mint mengangguk.

“Kau lihat? Kita memilki tanda lahir yang sama. Meskipun berbeda ibu, tapi kita lahir karena ayah yang sama..” Ucap Hyunseung.

Mint tampak benar-benar bingung, lalu menunduk sedih. Tak lama dia mulai terisak.

“Hei..” Ucap Hyunseung sambil mengangkat dagu Mint agar memandangnya, “Uljimara..” Ucapnya pelan, “Oppa datang bukan untuk merebutmu dari keluargamu, tapi oppa ingin kau tau kau tidak sendiri.”

Mint mengetik di ponsel Hyunseung dengan tangan bergetar, lalu memperlihatkannya pada pria itu. “Kenapa oppa baru mencariku sekarang?”

Hyunseung menahan kesedihannya membaca pertanyaan itu, dia sempat memalingkan wajahnya sejenak agar Mint tak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. Lalu kembali memandang adiknya, “Oppa mencarimu, tapi kau sudah lama di adopsi dan mereka tidak bisa memberikan datanya pada oppa. Kupikir…” Dia diam sejenak mengatur emosinya, “Kupikir aku bisa melupakanmu dan membiarkanmu dengan keluarga barumu, tapi.. Ketika kau muncul di acara meet n greet itu, oppa langsung merasa mengenalmu..”

Mint kembali mengetik dan memperlihatkannya pada Hyunseung, “Kau bohong.”

“Aniya! Oppa tidak berbohong padamu..” Ucap Hyunseung cepat. “Jika kau tidak percaya, kita bisa melakukan uji tes DNA. Meskipun saudara tiri kita tetap memiliki gen yang sama.”

Akhirnya Mint mengetik dengan kejujuran dari dalam hatinya dan memperlihatkannya pada Hyunseung, “aku tidak akan pergi dari Kim Heesun dan saudariku..”

Hyunseung memang tak memiliki keinginan untuk melakukan itu, namun membaca perkataan itu dari adiknya langsung membuatnya terluka. Sekeras apa pun dia menahan, bulir air tetap berjatuhan dari matanya. Kedua tangannya kembali menggenggam kedua Mint, dengan berat hati kepalanya mengangguk. “Ne..”

Mint menarik tangannya dan memberikan ponsel Hyunseung dengan kepala tertunduk.

Hyunseung mengambil ponselnya dan bergerak bangkit sambil menyeka air matanya, lalu memegang bahu adiknya hingga gadis itu memandang wajahnya. “Oppa pulang..” Ucapnya.

Mint mengangguk.

Hyunseung langsung berbalik dan berjalan cepat menuruni tangga, dia berhenti sejenak saat melihat Heesun dan putri-putrinya yang lain berdiri. Dia tak sanggup mengatakan apa pun karena air matanya terus hendak jatuh, dia hanya mengangguk sopan dan berjalan pergi.

“Eomma, Hyunseung oppa menangis?” Tanya Myungji tak percaya.

“Temani Mint..” Ucap Heesun pada putri-putrinya, lalu mengikuti Hyunseung keluar.

Hyunseung berhenti di sebelah mobilnya untuk melepaskan kesedihannya. Dia tak pernah berpikir kalau adiknya akan menolaknya.

Heesun ikut sedih melihat Hyunseung menangis, tangannya terulur memegang bahu pria itu.

Hyunseung menyeka air matanya dan memandang Heesun. “Dan kau mendapatkannya..” Ucapnya, lalu membuka pintu mobilnya.

Heesun menarik tangan Hyunseung, pria itu kembali memandangnya. “Maaf..”

Hyunseung menatap Heesun, “Aku tidak ingin mengambilnya, tapi mengetahui dia lebih memilihmu dan yang lain tetap melukaiku..” Ucapnya sedih.

Heesun mengangguk, “Aku juga sempat merasakan itu sesaat sebelum aku memberitaunya, aku merasa takut dia akan lebih memilihmu dari padaku. Tapi akhirnya aku tau kau sangat menginginkan adikmu..”

Hyunseung berusaha untuk tidak menangis di depan Heesun, “Sekarang sudah tidak ada lagi keluargaku yang tersisa selain Mint..”

Heesun menatap Hyunseung menyesal, “Maaf aku sempat meragukanmu..”

Hyunseung menghela nafas dalam.

“Hyunseung, datanglah lain kali. Aku akan memberi pengertian padanya..” Ucap Heesun.

Hyunseung memandang Heesun dan tersenyum, “Terima kasih..”

Heesun tersenyum, “Ne..”

Hyunseung berbalik dan masuk ke mobilnya.

Dikamar Mint.

Minjeong mengelus punggung Mint yang menelungkup di kasur sambil menangis, “Mint, jangan menangis lagi..”

Myungji ikut menangis melihat Mint tak bisa berhenti menangis, “Eonni, bagaimana jika Hyunseung oppa membawa Mint eonni pergi?” Tanyanya pada Dohee.

Dohee memandang Myungji bingung, lalu memandang Minjeong.

“Aniya, Hyunseung tidak akan membawanya..” Ucap Heesun sambil melangkah masuk ke kamar Mint.

“Jinja?” Tanya Myungji.

Heesun duduk di sebelah Minjeong dan menarik Mint bangkit agar memandangnya, dia tersenyum sambil menyeka air mata gadis itu. “Mint, uljimara. Hyunseung oppa tidak akan membawamu pergi..”

Dohee dan Minjoeng tersenyum, “Jinja eomma?”

Heesun mengangguk dengan senyuman, “Ne..”

“Kau lihat Mint, Hyunseung oppa tidak akan membawamu pergi..” Ucap Dohee lalu memeluk Mint senang.

“Yeeeeeaaay..” Seru Minjeong yang ikut memeluk Mint.

Myungji juga ikut memeluk Mint karena terlalu senang.

Mint memandang Heesun bingung, “lalu, mengapa dia mencariku?” Tanyanya dengan bahasa isyarat.

Heesun menatap Mint dalam, “Karena kau adalah satu-satunya anggota yang dia miliki..”

“Mint, kau tidak akan kesepian karena memiliki kami. Tapi Hyunseung oppa tidak punya siapa pun, jadi jangan membencinya ya..” Ucap Minjeong beserta gerakan isyarat.

Mint memandang Minjeong bingung, lalu memandang Dohee dan Myungji yang mengangguk memandangnya. Perlahan dia tersenyum dan memeluk para saudarinya.

Heesun lega melihat Mint kembali tersenyum dan mengecup dahi gadis itu.

=Apartemen=

Dujun memandang Junhyung heran, “Kupikir kau ke rumah penulis Kim Heesun..”

Junhyung membanting tubuhnya di sebelah Dujun, “Aaaah.. Hyunseung mendahuluiku kesana..”

“Dan kau pergi seperti pecundang?” Tanya Dujun bingung.

Junhyung menatap Dujun kesal, “Mood-ku sedang tidak baik, hentikan!” Ucapnya, lalu bangkit dan masuk ke kamarnya. Dia langsung berbaring dengan satu tangan menjadi bantal kepala di tempat tidur sambil memandang langit-langit. “Miss turtle..” Gumamnya, lalu mengeluarkan ponsel dan memandang layar ponselnya. Dia menjadikan photo bersama Minjeong, Mint, Dohee dan Myungji beserta Heesun wallpapper di ponselnya. “Kenapa kau sangat mempengaruhiku?” Tanyanya sambil menekan wajah Mint dengan ibu jarinya, lalu menghela nafas kesal.

=Rumah Para Gadis=

“Ini, lagu duet kita akan dirilis setelah jadwalku selesai. Jika kau ingin segera menandatangi kontrak, kita bisa membuat video klipnya.” Ucap Junhyung sambil memberikan ipod pada Minjeong.

Minjeong tersenyum lebar menerima ipod itu, “Wuaaah..”

Dohee dan Myungji ikut bersemangat melihat ipod itu.

Heesun tersenyum melihat gadis-gadis itu senang.

“Kim Heesun-ssi, jika anda mengijinkan. Aku ingin merekrut Minjeong..” Ucap Junhyung meminta ijin.

“Mmm.. Sejujurnya aku setuju saja jika Minjeong memang menginginkannya, tapi aku harus melihat kontraknya terlebih dahulu..” Ucap Heesun.

“Ne, aku akan segera  mempersiapkannya..” Ucap Junhyung, “Dan.. Kenapa Mint tidak terlihat?”

“Ooh.. Dia sedang tidak dalam mood baik, jadi ingin sendiri..” Ucap Heesun memberi tau.

Junhyung tertegun, “Ne? Apa dia sakit?”

Heesun menggeleng, “Aniya, hanya ada sedikit masalah yang mengganggu pikirannya..”

Junhyung mengangguk mengerti, “Begitu..” Ucapnya, lalu melirik ke lantai atas. Sebenarnya dia agak kecewa tidak bisa bertemu Mint. “Baiklah, dua hari lagi aku akan kemari bersama manajerku untuk membicarakan kontrak itu lebih lanjut.” Ucapnya sembari bangkit.

Malamnya.

“Mint! Laguku berduet dengan Junhyung oppa..” Ucap Minjeong sambil memperlihatkan layar ipod pemberian Junhyung pada Mint.

Mint tersenyum, namun dahinya berkerut melihat judul lagu itu. ‘Miss turtle?’ Batinnya.

“Kau mau melihat liriknya?” Tanya Minjeong.

Mint mengangguk, Minjeong mengambil selembar kertas dan memberikannya. Dengan cepat dia membaca kertas itu.

“Ini bagianku..” Ucap Minjeong sambil menunjuk lirik yang dia nyanyikan.

Namun Mint tidak memikirkan hal itu. Lirik yang di tulis Junhyung semuanya menceritakan seorang gadis yang menjalani hidup seperti kura-kura. Mendengar dunia dengan cara berbeda. Berambut pirang dan selalu tersenyum. Dia memegang rambutnya yang juga berwarna pirang. Disana semua obrolannya bersama J0K3R tertulis dengan bahasa yang indah. Setelah sekian lama akhirnya dia tau kalau orang dengan ID J0K3R itu adalah Junhyung.

=Dua Hari Kemudian=

Junhyung datang bersama Dujun karena ingin membicarakan kontrak kerja sama untuk Minjeong.

“Annyeonghaseo..” Sapa Minjeong, Dohee dan Myungji pada Dujun.

Dujun mengangguk sopan, “Annyeonghaseo..”

“Silahkan duduk Dujun-ssi, Junhyung-ssi..” Ucap Heesun.

Junhyung dan Dujun bergerak duduk. Tiba-tiba mint turun dari lantai atas bersama boneka kura-kura yang di berikan pria itu.

Junhyung bangkit dan tersenyum melihat Mint, “Hei..”

Mint melempar boneka itu ke lantai, membuat semua orang disana terdiam.

Junhyung menunduk memandang boneka itu dan memandang Mint bingung, “Ada apa?”

Mint menatap Junhyung marah, “kau mr Joker kan?!” Tanyanya dengan bahasa isyarat.

Junhyung tertegun, “Mint…”

Mint mendorong Junhyung menandakan dia sangat marah pada pria itu dan berbalik menuju tangga.

“Mint!” Panggil Junhyung sambil menarik tangan Mint.

Semua yang ada di ruang tamu saling berpandangan bingung.

Mint menyentak tangan Junhyung dan menatapnya marah, lalu berlari keatas.

“Junhyung!” Panggil Heesun sebelum mengejar Mint lagi.

Junhyung memandang Heesun.

“Urusanmu hanya bersamaku dan Minjeong, jangan ganggu dia..” Ucap Heesun.

Junhyung benar-benar bingung dengan apa yang terjadi, lalu kembali duduk.

“Jadi, bisa kita mulai pembicaraan ini?” Tanya Dujun mencairkan suasana.

“Shireo..” Ucap Minjeong.

Junhyung memandang Minjeong kaget.

Minjeong menatap Junhyung, “Maaf, oppa.. Aku tidak bisa bekerja sama denganmu. Jika kau tetap ingin merilis lagu duet itu, aku tidak akan meminta apa pun..” Ucapnya, lalu berdiri dan membungkuk sopan.

Dohee dan Myungji ikut berdiri. “Ne, tidak ada yang boleh mengganggu saudari kami..” Ucap Dohee.

Ketiga gadis itu berjalan pergi ke lantai atas.

Dujun kebingungan, sama seperti Junhyung. “Ada apa ini?” Tanya Dujun tak mengerti.

Junhyung memandang Heesun, “Ada apa dengan mereka?”

Heesun mengangkat bahu, “Kau sudah dengar jawaban Minjeong..”

Junhyung tak percaya semua itu terjadi begitu saja.

Dujun segera membereskan semua berkas yang belum sempat di bicarakan, “Ayo Junhyung..” Ucapnya sambil berdiri, “Terima kasih, Kim Heesun-ssi..”

Junhyung berdiri dan mengangguk sopan, lalu mengikuti Dujun.

“Tunggu..” Panggil Heesun sambil bangkit.

Junhyung berhenti dan memandang Heesun. Ternyata wanita itu hanya mengambil boneka kura-kura yang tadi di lempar Mint ke lantai dan memberikannya.

“Aku yakin Mint tidak ingin melihat ini lagi..” Ucap Heesun.

Junhyung mengambil boneka itu dan melangkah pergi dengan perasaan kesal.

Dikamar Mint.

“Kenapa kau menolaknya?” Tanya Mint dengan bahasa isyarat pada Minjeong.

“Karena aku tidak mau..” Jawab Minjeong.

“Tapi, kau kan sangat menyukai rapper Junhyung..” Ucap Mint dengan bahasa isyarat.

Minjeong tersenyum, “Tidak ada yang lebih berarti selain saudariku.” Ucapnya sambil merangkul Mint, Dohee dan Myungji.

“Ne.. Benar sekali!” Ucap Myungji.

“Ne.. Pasti Junhyung oppa melakukan hal buruk hingga kau marah seperti itu..” Ucap Dohee beserta bahasa isyarat.

Mint menceritakan mengenai chat-nya bersama seseorang dengan ID J0K3R juga tentang obrolan kura-kura dan lirik lagu itu.

“Ne? Jadi dia sengaja membohongimu?” Tanya Minjeong tak percaya.

Mint mengangguk sedih.

“Ugh! Mulai sekarang aku tidak akan menjadi fansnya lagi!” Ucap Dohee penuh kebencian, “Aku akan melepaskan posternya!” Ucapnya sambil melangkah ke kamar.

“Aku juga!” Ucap Minjeong dan melakukan hal sama.

Tinggal Myungji dan Mint yang saling berpandangan bingung.

Myungji memandang dinding kamar Mint, poster Hyunseung masih terpajang disana. Lalu memandang Mint, “Eonni, kau tidak ingin berbicara pada Hyunseung oppa?” Tanyanya beserta gerakan isyarat.

Mint tertegun memandang Myungji, lalu memandang poster Hyunseung.

Myungji memegang bahu Mint agar memandangnya, “Eonni, menerima Hyunseung oppa bukan berarti harus meninggalkan kami..” Ucapnya beserta gerakan isyarat.

Mint diam sejenak, lalu tersenyum.

Myungji menatap Mint sedih, “Dia pasti sangat sedih sekarang..”

Wajah Mint berubah sedih, “Apa yang harus kulakukan?” Tanyanya.

“Tenang saja, eomma kan punya nomor ponsel Hyunseung oppa. Minta saja dia kemari..” Ucap Myungji.

Mint kembali tersenyum, lalu mengangguk.

=Apartmen Junhyung=

Junhyung berbaring di tempat tidurnya seharian mengingat tatapan Mint padanya.

Dujun masuk ke kamar Junhyung dan duduk di sebelah pria itu, “Ya, kenapa kau jadi seperti remaja patah hati begini?”

Junhyung memutar tubuhnya dan menelungkup membelakangi Dujun tanpa menjawab.

“Ya.. Junhyung..” Panggil Dujun.

“Aku sedang tidak mood berkelahi..” Ucap Junhyung.

“Aissh..” Ucap Dujun kesal. “Jadi benar kan kau menyukai nona kura-kura itu?”

Junhyung tak menjawabnya.

Dujun menghela nafas dalam, “Kau ini rapper profesional. Jangan bertingkah seperti anak kecil. Kau harus bisa membedakan perasaan pribadi dan profesionalitasmu. Bagaimana mungkin….”

“Ara!” Potong Junhyung tanpa bergerak, “Naega arayo..”

“Lalu, kenapa kau masih seperti ini?” Tanya Dujun tak mengerti.

“Aku hanya merasa terlalu bodoh..” Ucap Junhyung berat.

Sebelah alis Dujun terangkat, “Ne? Ah.. Jinja..” Dia berusaha menahan tawanya, “Yong Junhyung adalah pria dengan percaya diri tinggi, tak pernah memikirkan hal lain selain dirimu. Tidak ada yang lebih hebat selain kau, kenapa baru sekarang kau merasa bodoh?”

Junhyung menghela nafas dalam, “Ne.. Aku memang yang paling hebat, lirik laguku tak seperti siapa pun. Musikku original dan perfomanceku sangat keren..” Ucapnya, lalu menghela nafas berat dan berputar lagi berbaring dengan punggungnya sambil menatap langit-langit. “Tapi aku tidak mempunyai hati..”

“Pfff.. Kau ini..” Ucap Dujun menahan tawa, “Hanya karena kau di tolak seorang gadis tuna rungu kau jadi drop seperti ini. Kau saja ketika putus dari Nam Jihyun seperti orang yang tak pernah punya masalah..”

“Aissh.. Jangan sebut gadis itu lagi..” Ucap Junhyung kesal.

Dujun tertawa, “Bangun! Kau itu laki-laki! Jangan berhenti berjuang dengan sekali usaha! Kau rapper hebat kan?” Ucapnya sambil menarik Junhyung bangkit.

“Aaaaah.. Menyebalkan..” Ucap Junhyung sambil bangkit.

=Lokasi Pemotretan=

Hyunseung berpose menunjukkan sisi dorky dirinya.

“Oke, terima kasih..” Ucap photographer.

Hyunseung membungkuk sopan, “Gamshamida..” Ucapnya di sertai tepuk tangan karena photoshoot itu berjalan lancar. Lalu masuk ke ruang ganti.

“Kerja bagus..” Ucap Yoseob, manajer Hyunseung.

Hyunseung tersenyum, “Mana bajuku?”

“Ini..” Ucap Yoseob sambil memberikan tas Hyunseung.

“Aku akan ganti baju..” Ucap Hyunseung lalu masuk ke ruang ganti yang hanya di tutup tirai.

Yoseob berdiri di balik tirai, “Hyung, tadi penulis Kim Heesun menelepon ke ponselmu..”

Hyunseung tertegun sambil membuka bajunya, “Lalu? Apa yang dia katakan?” Ucapnya ingin tau.

“Dia berkata seseorang bernama Mint ingin bertemu denganmu..” Ucap Yoseob.

Mata Hyunseung membesar dan langsung membuka tirai untuk menatap Yoseob tak percaya, “Ne?!”

Yoseob terkejut melihat Hyunseung membuka tirai tanpa mengenakan bajunya, membuat beberapa stylis wanita terperanjat dan menunduk malu. “Ya! Baju…”

“Mana ponselku?!” Potong Hyunseung sambil melangkah mencari ponselnya.

Yoseob tersenyum canggung pada para stylis itu dan membungkuk menyesal atas ketidaksopanan Hyunseung.

Hyunseung mengambil ponselnya di saku Yoseob dan melihat panggilan masuk tadi, ternyata benar Heesun memang memanggilnya.

“Ya! Kenakan bajumu dulu!!” Seru Yoseob sambil menendang Hyunseung masuk ke tempat ganti dan menutup tirainya. Lalu cengengesan memandang para stylis, “Maaf, pikirannya sedang terganggu..” Ucapnya menyesal.

=Rumah Heesun=

Hyunseung memacu mobilnya menuju rumah Heesun. Dia tak ingin melewatkan kesempatan emas ini. Meskipun belum tau mengapa Mint ingin bertemu dengannya, tapi dia tau sesuatu yang baik akan terjadi.

Heesun melihat ke jendela begitu mendengar suara mobil berhenti di depan rumah dan melihat Hyunseung turun, “Girls.. Hyunseung datang..”

Semuanya memandang Mint yang tampak gugup.

“Eomma akan menemuinya..” Ucap Heesun sambil melangkah ke depan.

Hyunseung tertegun melihat Heesun muncul dari balik pintu, “Annyeonghaseo..” Sapanya sambil mengangguk sopan.

Heesun mengangguk, “ne..”

“Benarkah Mint ingin bertemu denganku?” Tanya Hyunseung.

Heesun mengangguk, “Kupikir dia sudah bisa menerimamu..” Ucapnya.

Hyunseung tersenyum, “Bisa aku langsung masuk?” Tanyanya sambil melangkah ke celah pintu.

Heesun menghalangi Hyunseung dan menatap pria itu serius, “Aku tau kau senang, tapi jangan terlalu memperlihatkannya. Dia bisa takut, kau mengerti?”

Hyunseung mengangguk, “Ne..”

Heesun memberi ruang agar Hyunseung bisa masuk dan mengikuti pria itu.

Dohee, Minjoeng dan Myungji bangkit dan membiarkan Mint sendiri agar bisa berbicara dengan Hyunseung.

Hyunseung tersenyum memandang Mint berdiri di depan sofa.

Heesun merangkul putri-putrinya sambil melirik ke arah Mint dan Hyunseung, lalu melangkah ke taman belakang.

Mint tersenyum tipis memandang Hyunseung, dia merasa canggung dengan situasi mereka.

Hyunseung melangkah maju mendekati Mint, “Boleh oppa memelukmu?” Tanyanya dengan penyebutan jelas.

Mint mengangguk.

Hyunseung langsung memeluk Mint erat, perasaan haru membuatnya tak ingin melepaskan gadis itu.

Awalnya Mint bingung harus melakukan apa. Perlahan kedua tangannya terangkat dan membalas pelukan Hyunseung.

Bulir air mata haru mengalir dari mata Hyunseung karena akhirnya dapat bertemu adiknya lagi. Dia menyeka air mata dan melepaskan pelukannya, “Mint.. Oppa mianeyo.. Jeongmall, mianeyo..”

Mint tersenyum, lalu mengangguk.

Hyunseung tersenyum dan memeluk Mint lagi.

Makan Malam.

Hyunseung ikut makan malam bersama para gadis itu karena menurut Heesun dia sudah di terima di keluarga mereka.

Myungji memandang Hyunseung yang duduk di depannya, “Oppa, oppa tidak akan membawa Mint eonni kan?”

Hyunseung memandang Myungji, lalu tersenyum sambil menggeleng. “Aniya, oppa hanya ingin Mint tau dia masih memiliki seorang oppa..”

Myungji tersenyum senang.

“Hmmm.. Mint, kau beruntung sekali masih memiliki oppa. Aku tidak tau bagaimana keluargaku..” Ucap Dohee iri.

Minjeong ikut memasang wajah sedih, “Ne..”

Mint merasa sedih mengetahui hal itu dan tidak tau harus mengatakan apa.

Heesun memandang putri-putrinya sedih, “Gwenchana, kita saling memiliki kan..” Ucapnya sambil mengelus punggung tangan Minjeong dan Dohee yang duduk di sisi kanan dan kirinya.

Hyunseung menyadari dia penyebab kecanggungan itu, lalu tersenyum. “Gwenchana.. Mint oppa juga berarti oppa kalian semua..” Ucapnya.

Dohee dan Minjeong memandang Hyunseung bingung.

Hyunseung merangkul Mint, “Kalian saudari Mint, jadi berarti adik-adikku juga..”

Dohee dan Minjeong tersenyum lebar, “Jinja?”

Hyunseung mengangguk, lalu saling tersenyum dengan Mint.

“Yeay!!” Seru Dohee dan Minjeong girang.

“Aku juga?” Tanya Myungji.

“Tentu saja..” Jawab Hyunseung.

Heesun tersenyum melihat putri-putrinya kembali ceria. Dia terkesan dengan cara Hyunseung.

Hyunseung memandang Heesun dan tersenyum lebar.

Malamnya.

“Heesun-ssi, apa kau tidak keberatan jika aku mengumumkan ke media kalau Mint adalah adikku?” Tanya Hyunseung pada Heesun.

Heesun diam sejenak, “Mmm.. Sebenarnya itu hak-mu, tapi sebaiknya kau menanyakan hal itu pada Mint. Aku takut karena kepopuleranmu dia terkena imbasnya..”

Hyunseung mengangguk mengerti, “Ne, kau benar..” Ucapnya. Dia kembali memandang Heesun dan tersenyum kagum, “Aku tidak tau bagaimana caramu membesarkan adikku dan putri-putrimu yang lain, tapi aku tau kau adalah ibu yang hebat..”

Heesun menatap Hyunseung lucu, lalu tersenyum. “Aku hanya ingin menjadi ibu yang terbaik untuk putri-putriku..”

Hyunseung tak tau harus memberi respon apa, “Mmm.. Baiklah, aku akan kembali sekarang..” Ucapnya, lalu melangkah menuju ruang keluarga.

“Girls, Hyunseung akan pulang..” Ucap Heesun.

Keempat gadis itu langsung berdiri dan mengantarkan Hyunseung ke pintu.

Hyunseung berhenti di sebelah mobilnya dan memandang para gadis itu, “Sampai jumpa semua..”

“Sampai jumpa oppa..” Ucap Dohee, Minjeong dan Myungji.

Mint maju dan menyodorkan sebuah buku pada Hyunseung.

Hyunseung mengambil buku itu dan melihat covernya, ternyata buku mengenai bahasa isyarat. “Oppa akan mempelajarinya..” Ucapnya, lalu mengelus rambut Mint dan masuk ke mobil.

Mint tersenyum lebar dan melambai, dia memperhatikan mobil Hyunseung pergi hingga Heesun menarik tangannya masuk.

Tak jauh dari rumah Heesun. Junhyung memukul stir mobilnya kesal melihat Hyunseung mengelus rambut Mint dan pergi. Padahal itu sudah pukul setengah 9 malam. “Aissh!” Ucapnya geram, lalu menghidupkan mesin mobil dan pergi.

=Beberapa Saat Kemudian=

Apartemen Junhyung.

Junhyung mengambil boneka kura-kura yang di kembalikan Mint, lalu duduk bersandar di tempat tidur. Dia mengambil ponsel dan berpose cool bersama boneka kura-kura itu. Bibirnya membentuk senyuman sambil mengutak-atik ponselnya.

Rumah para gadis.

“Ya! Lihat! Lihat!” Seru Dohee sambil berlari menghampiri saudarinya di taman belakang.

“Ada apa?” Tanya Minjeong sambil mengunyah kue kering buatan Heesun.

Dohee duduk di antara Mint dan Minjeong, lalu memperlihatkan layar ipad-nya. “Myungji, kemari..”

Myungji langsung berpindah ke belakang para eonni-nya, “apa sih?”

“Lihat.. Ada berita terbaru!” Ucap Dohee sambil membuka sebuah halaman, lalu menyodorkan ipadnya pada Mint agar gadis itu bisa melihat. “Dengar, Junhyung oppa memposting sebuah photo dengan boneka kura-kura yang di kembalikan Mint waktu itu..” Ucapnya.

“Ne? Apa yang dia katakan?” Tanya Minjeong.

Sedangkan dahi Mint berkerut membaca berita itu.

“Hm?! Junhyung oppa meminta followersnya mendoakan agar miss turtle memaafkannya..” Ucap Myungji yang membaca berita itu. Dohee dan Minjeong memandang Mint yang masih terpaku menatap layar ipad.

Minjeong mendorong bahu Dohee dengan bahunya, “Bagaimana ini?” Bisiknya.

Dohee mengangkat bahu.

‘Apa-apaan dia?’ Batin Mint tak mengerti.

=Seminggu kemudian=

Berita mengenai ‘miss turtle’ yang di maksud Junhyung langsung menyebar di kalangan fansnya. Apalagi pria itu mengumumkan dia telah menulis lagu berjudul sama yang terinspirasi dari gadis yang maksudnya itu.

Akhirnya, secara tak sengaja, Junhyung akan tampil sepanggung bersama Hyunseung.

“Aku akan menyambut pertemuan kami dengan senang hati..” Ucap Junhyung senang ketika sudah berada di ruang make up.

Dujun melirik Junhyung heran, lalu geleng-geleng dan kembali memandang ipad-nya.

Sementara di ruang make up lain.

Hyunseung tersenyum senang saat wajahnya sedang di make up. karena nanti dia akan tampil live di tv, Mint dan yang lain bisa melihatnya langsung. “Yoseob, apakah besok aku ada jam kosong?”

Yoseob memandang ipad dan melihat jadwal besok, “hmm.. Besok kau hanya ada jadwal dari pukul 8 pagi hingga 12 siang. Setelah itu kau free. Wae?”

“Aku ingin bertemu adikku..” Ucap Hyunseung.

Yoseob tertawa kecil, “Jadi, bagaimana rencanamu tentang konferensi pers itu?”

“Mmm.. Aku akan bertanya padanya dulu..” Ucap Hyunseung.

“Oke, aku akan segera mengaturnya. Jadi katakan saja..” Ucap Yoseob.

“Thank you, bro..” Ucap Hyunseung.

“Oppa, tau tidak tentang miss turtle?” Tanya stylist Hyunseung yang juga make-over, Jieun.

Hyunseung memandang Jieun, “Miss turtle? Apa itu?”

“Si ‘miss turtle’ itu sekarang sedang jadi pembicaraan karena rapper Junhyung. Kabarnya sih si ‘miss turtle’ itu kekasih rapper Junhyung..” Ucap Jieun sambil tetap menata rambut Hyunseung.

“Oh, ne.. Aku juga pernah membaca berita tentang itu..” Ucap Yoseob.

“Hmm.. Rapper Junhyung memang selalu kreatif akan hal baru..” Ucap Hyunseung sambil menjangkau bukunya di bawah jaket dan mulai membaca.

Jieun tertegun melihat buku yang di baca Hyunseung, “Hm? Buku apa itu oppa?”

Yoseob ikut penasaran dan melihat cover buku di tangan Hyunseung, “Bahasa isyarat? Tumben sekali..”

Hyunseung tersenyum dan memandang pantulan wajah Yoseob dan Jieun di cermin, “Adikku tuna rungu..” Jawabnya, lalu kembali membaca sambil mempraktekkan gerakan isyaratnya.

Show Time!

Hyunseung akan tampil setelah Junhyung, jadi dia menunggu gilirannya di belakang panggung sambil mengirim pesan pada Mint kalau dia akan segera tampil.

“Oke, Hyunseung!” Panggil staff disana.

Hyunseung memberikan ponselnya pada Yoseob dan melangkah naik ke panggil bersama para backdancer. Saat itu dia dan Junhyung berselisih jalan, sebagai seorang junior dia membungkuk sopan dan kembali berjalan.

Junhyung berhenti dan melirik Hyunseung sejenak, lalu kembali melangkah turun.

Ruang Tamu

“Hyunseung oppa!!!” Seru Myungji girang.

Keempat gadis itu sudah berkumpul di depan tv menunggu penampilan Hyunseung. Meskipun tadi sempat ill feel karena melihat Junhyung, mereka kembali bersemangat menyaksikan penampilan Hyunseung.

=Sabtu sore=

Hyunseung merangkul Mint di tengah keramaian taman bermain. “Ayo kita bermain sepuasnya!!” Ucapnya senang.

Mint tersenyum lebar.

Kedua kakak adik itu bermain dengan gembira. Membuat karikatur wajah mereka, berphoto lucu, serta makan gulali sambil berkeliling.

“Hmmm.. Apa yang sebaiknya kita coba lagi?” Tanya Hyunseung sambil memandang permainan lain.

Mint melihat stand boneka kelinci berwarna-warni, bibirnya tersenyum dan memberitau Hyunseung tentang stand itu.

“Hm? Kau mau itu?” Tanya Hyunseung.

Mint mengangguk.

Hyunseung tersenyum, “Oke, ayo..” Ucapnya sambil mengandeng tangan Mint ke stand itu. “Ahjussi, aku ingin membeli boneka itu untuk adikku..”

Mint menggoyang tangan Hyunseung yang memegang tangannya agar pria itu memandangnya, lalu menggeleng.

“Ada apa?” Tanya Hyunseung bingung.

Mint mengacungkan 4 jarinya, bermaksud kalau dia ingin 4 boneka.

“Oh.. Juga untuk saudarimu yang lain?” Tanya Hyunseung.

Mint mengangguk.

“Baiklah..” Ucap Hyunseung lalu membayar 4 boneka kelinci yang cukup besar itu.

Mint memeluk dua buah boneka, Hyunseung juga dua. Dia senang sekali memiliki boneka yang sama dengan saudarinya.

Hyunseung memandang wajah Mint, “Bagaimana jika setelah ini kita pergi makan?”

Mint mengangguk setuju.

Hyunseung membuka pintu mobil dan meletakkan boneka-boneka tadi ke kursi belakang.

=Restauran Mi Ramen=

Hyunseung baru mengetahui kalau adiknya menyukai mi ramen, jadi dia mengajak adiknya ke sebuah restauran mi ramen yang paling terkenal di Seoul. Dia tersenyum memandang Mint yang asik menikmati mi di mangkuknya, tangannya terulur memegang tangan gadis itu agar memandangnya.

Mint memandang Hyunseung.

“Kau senang hari ini?” Tanya Hyunseung pelan dengan ucapan yang jelas.

Mint tersenyum dan mengangguk.

Hyunseung menatap Mint serius, “Mint, bagaimana jika aku mengadakan konferensi pers tentang dirimu?”

Senyum Mint perlahan luntur, lalu bertanya dengan bahasa isyarat. “Wae?”

“Agar semua orang tau kau adikku..” Ucap Hyunseung dengan senyum bahagia di wajahnya.

Mint tampak berpikir, lalu menggeleng.

Sekarang senyuman Hyunseung yang perlahan luntur, “Waeyo?”

Mint menjawab dengan bahasa isyarat, “Nanti jika aku melakukan sesuatu yang salah, oppa akan menerima dampaknya..”

Hyunseung tertegun, dia tak tau adiknya sampai memikirkan itu. “Jika itu memang keputusanmu..” Ucapnya berat.

=Malamnya=

Semuanya berkumpul di kamar Mint mendengarkan ceritanya tentang hari ini sambil masing-masing memeluk boneka yang di belikan Hyunseung.

“Mmm.. Menyenangkan sekali..” Ucap Myungji senang.

Mint tersenyum lebar.

Heesun muncul di pintu kamar dengan senyuman di bibirnya, “Girls.. Ayo, sudah waktunya tidur..”

“Ne…” Jawab para gadis itu dan segera beranjak dari tempatnya bersama boneka masing-masing.

Setelah tiga putrinya yang lain keluar, dia melangkah masuk dan duduk di sebelah Mint. “Bagaimana Hyunseung? Dia memperlakukanku dengan baik?”

Mint mengangguk senang, lalu menjawab dengan bahasa isyarat. “Oppa memperlakukanku dengan sangat baik..”

Heesun senang mendengarnya dan mengelus rambut Mint, “Mmm.. Apa dia bertanya tentang konferensi pers?”

Ekspresi Mint berubah bingung sambil mengangguk.

“Lalu, apa jawabanmu?” Tanya Heesun.

Mint memandang Heesun ragu, “Aku menolaknya..”

Heesun tertegun sesaat, lalu kembali tersenyum. “Gwenchana, itu keputusanmu..”

=Sebuah Acara=

“Wuaaah.. Kita bisa melihat penampilan Hyunseung oppa live!!” Seru Myungji girang karena mereka sedang berada di sebuah panggung terbuka.

“Kudengar kita bisa masuk ke ruang tunggu Hyunseung oppa, bagaimana kalau kita kesana?” Tanya Dohee bersemangat.

Mint mengangguk.

Keempat gadis itu langsung bergandengan tangan berlari ke belakang panggung. Dengan mudah mereka bisa melewati para penjaga dan masuk ke ruang yang hanya di batasi terpal antara ruang satu dan lainnya itu karena memang acaranya di lapangan terbuka.

“Annyeonghaseo..” Sapa ketiga gadis itu sambil membungkuk sopan bersama Mint.

Hyunseung, manajernya Yoseob, Jieun dan para backdancer langsung memandang ke arah gadis-gadis itu.

Hyunseung tersenyum dan langsung berdiri, “Hei..” Ucapnya dan menghampiri gadis-gadis itu, “Teman-teman, perkenalkan. Ini adikku Mint..” Ucapnya sambil memegang bahu Mint, “Ini Myungji, Dohee dan Minjeong yang juga sudah seperti adikku..”

“Hallo, aku manajer Hyunseung hyung. Namaku Yoseob..” Ucap Yoseob.

Tiba saatnya pertunjukan.

Minjoeng, Myungji dan Dohee ikut bernyanyi mengikuti Hyunseung yang tampil di atas panggung.

Mint tersenyum menyaksikan Hyunseung bernyanyi. Dia tak tau seperti apa lagunya, namun dia kagum kakaknya bisa sekeren itu diatas panggung.

Dari belakang panggung, Junhyung menunggu gilirannya tampil. Sialnya dia harus tampil setelah Hyunseung. ‘Aissh! Kenapa aku harus tampil setelah dia?’ Batinnya kesal. Karena pria itu tak kunjung turun, dia memandang ke arah panggung dengan wajah kesal. Namun saat itu dia tak sengaja melihat Mint bersama para saudarinya menyaksikan pertunjukan. “Miss turtle?” Gumamnya, lalu memandang Hyunseung. ‘Dia datang untuk menyaksikan Hyunseung?’ Batinnya tak percaya. Tiba-tiba kemarahan memenuhi kepalanya, dengan cepat dia berbalik dan menghampiri petugas yang memutarkan musik, “Ganti lagunya dengan ini..” Ucapnya sambil memberikan ipod-nya, “Gunakan auto-tone untuk refrainnya..” Ucapnya lagi, lalu kembali ke tempatnya tadi.

“Yeeeaaaaay!!! Oppaaa!!!” Teriak Minjeong, Myungji dan Dohee girang.

Hyunseung tersenyum lebar sambil melambai dan langsung turun dari panggung.

Minjeong tertegun mendengar intro lagu yang di putar, “Hm? Kenapa lagu ini?”

Muncul Junhyung dengan rap enerjik namun manis seperti sedang menggoda seorang gadis yang ia sebut ‘miss turtle’.

“Ini kan miss turtle..” Ucap Dohee.

Dari semua penonton yang berteriak histeris, Junhyung memandang ke sisi kanan, tampak Mint memandangnya tanpa ekspresi. Junhyung menyelesaikan verse pertamanya dengan berkata, “Yes this is for you, Miss Turtle..” Ucapnya dengan mata menatap Mint, lalu terdengar suara indah Minjeong melalui auto-tone.

Dohee, Minjeong dan Myungji memandang Mint yang memalingkan wajahnya. Lalu berjalan pergi.

Junhyung tertegun melihat Mint berjalan pergi, dia sampai tak menyadari bagian verse rap nya yang kedua sudah masuk dan berlalu begitu saja.

“Mint.. Tunggu..” Panggil Dohee.

“Biarkan dulu..” Ucap Minjeong sambil menarik Dohee, “Dia akan merasa lebih baik jika seorang diri..”

Meskipun Junhyung hanya terdiam karena gadis yang menjadi sumber inpirasinya itu berjalan pergi, para fansnya tetap tampak menggila dan terus meneriaki namanya.

“Aw!” Jerit Myungji karena orang-orang disana mulai saling mendorong.

“Ayo pergi..” Ucap Dohee sambil menarik dua saudarinya mengikuti Mint.

Namun ketiga gadis itu terpaku melihat Junhyung bergerak turun melalui tangga samping panggung dan berjalan cepat mengikuti Mint. Saat itu para fans yang menggila langsung ingin menyerbu idola mereka. Akibatnya, pagar pembatas bergetar hebat. Dan berakhir dengan tiang penyangga beserta pagar itu terjatuh.

“MINT!!!” Teriak Dohee, Myungji dan Minjeong histeris.

“Miss Turtle!!!” Seru Junhyung sambil berlari ke arah Mint.

Mint terkejut melihat pagar dan tiang penyangga di sebelahnya akan jatuh menimpanya. Matanya terpejam takut dan melindungi kepalanya dengan tangan.

Sedetik sebelum pagar dan tiang penyangga itu menimpa Mint, Junhyung berhasil memeluk gadis itu untuk melindunginya.

BRUKKK!!!

Hening..

“MINT!!!!” Teriak Minjeong, Dohee dan Myungji sambil berlari menghampiri saudari mereka.

Petugas keamanan langsung bergerak untuk menertibkan para fans. Yang lainnya berusaha mengangkat pagar pembatas dan tiang besi itu.

Hyunseung yang masih berdiri di belakang panggung terkejut mendengar suara jatuh besar itu, “Hm? Apa itu?” Tanyanya kaget.

Backdancer Hyunseung menggeleng, “Aku tidak tau..”

Hyunseung berjalan keluar dari belakang panggung untuk melihat apa yang terjadi. Matanya membesar melihat banyak petugas keamanan berusaha mengangkat pagar dan tiang penyangga, “Apa yang terjadi?” Gumamnya, dahinya berkerut karena seperti melihat tiga gadis menangis di dekat para petugas itu. Feeling buruk langsung menggelayut di hatinya. Kakinya meskipun ragu melangkah pelan ke arah tempat itu. Semakin lama, langkahnya semakin cepat karena semakin jelas ketiga gadis itu adalah Myungji, Minjeong dan Dohee.

“Eonni..” Tangis Myungji.

Mata Hyunseung membesar melihat darah mengalir dari bawah pagar yang tumbang itu, “Mana Mint?” Tanyanya panik pada ketiga gadis itu.

Minjeong menangis tersedu-sedu sambil menunjuk pagar itu.

Hyunseung seperti terkena serangan jantung, “MINT!!” Teriaknya, lalu berusaha mengangkat pagar itu bersama anggota keamanan yang lain.

“Hyung!!” Seru Yoseob sambil berlari menghampiri Hyunseung dan ikut membantu mengangkat pagar berat itu.

Air mata Hyunseung mengalir mengetahui adiknya tertimpa pagar seberat itu. Banyak pria akhirnya ikut datang untuk membantu mengangkat pagar itu. Begitu terangkat sedikit, dia membungkuk ke bawah pagar itu dan mengulurkan tangannya untuk menarik Mint. “Angkat lagi!!” Teriaknya karena tak bisa menyentuh Mint.

Akhirnya mereka berhasil mengangkat pagar dan tiang itu. Semua orang tertegun melihat Junhyung memeluk Mint. Darah yang menggenang di tanah adalah darahnya.

“Kyaaaa!! Oppa!!” Teriak para fans histeris.

Hyunseung membalik tubuh Junhyung dan menarik Mint yang juga berlumuran darah pria itu. “Mint.. Mint..” Panggilnya sambil menepuk pipi gadis itu perlahan.

“Mint..” Panggil Dohee.

“Cepat panggil ambulance!!!” Teriak Hyunseung.

=Rumah Sakit=

Junhyung membuka matanya dan merasakan kepalanya terasa sangat sakit. “Aaaaah..” Rintihnya sambil memegang kepalanya yang di perban.

“Ya.. Kau sudah sadar?” Tanya Dujun khawatir.

Junhyung memandang Dujun, “Apa yang terjadi?”

“Kau tertimpa pagar dan tiang penyangga. Serius men, fans-mu benar-benar gila..” Ucap Dujun sambil geleng-geleng kepalanya.

Junhyung kembali teringat sesaat sebelum dia tertimpa pagar itu, dia menyelamatkan Mint. “Dujun! Bagaimana miss turtle?!”

Dujun tertegun, “Maksudmu Mint? Ooh.. Dia masih menjalani pemeriksaan. Sepertinya gegar otak ringan..”

Mata Junhyung membesar, “Ne?! Bawa aku ke tempatnya!! Cepat!!” Serunya sambil bergerak bangkit, namun kepalanya terasa sangat sakit. “Aaaah..” Rintihnya sambil memegang kepala.

“Jangan sekarang! Istirahat dulu. Kondisimu juga parah!” Ucap Dujun sambil menahan Junhyung berbaring lagi.

Di sisi lain rumah sakit itu.

Dohee berdiri di depan pintu ruang perawatan Mint sambil memandang ke dalam melalui celah kaca di tengah pintu.

Heesun merangkul Myungji dan Minjeong yang duduk di sisi kanannya, lalu memandang Dohee. “Dohee, duduklah..”

Dohee menghela nafas dalam, lalu memandang Heesun dan menghampiri keluarganya. “Eomma, sepertinya Hyunseung oppa tertidur..”

“Hmm.. Mungkin dia terlalu lelah..” Ucap Heesun.

“Mint eonni tidak apa-apa kan eomma?” Tanya Myungji.

Heesun tersenyum tipis, “Gwenchana, Mint eonni hanya gegar otak ringan. Bisa disembuhkan nanti..” Ucapnya menenangkan, lalu mengelus rambut ketiga putrinya. “Mmm.. Kalian tunggu disini sebentar, eomma akan melihat Mint..” Ucapnya, lalu bangkit dan masuk ke ruangan perlahan.

Di dalam ruangan, Hyunseung duduk di sebelah tempat tidur Mint dengan kepala menelungkup di pinggir tempat tidur dan tangan menggenggam tangan adiknya.

Heesun memandang Hyunseung sedih. Tangannya terulur memegang bahu pria itu, “Hyunseung..” Panggilnya pelan.

Dahi Hyunseung berkerut, lalu bangkit perlahan dan memandang Heesun. “Ooh.. Aku tertidur..” Ucapnya sambil mengelus mata dengan tangan yang tidak menggenggam tangan Mint.

Heesun tersenyum, lalu menarik kursi lain dan duduk di sebelah Hyunseung. “Kau terlihat sangat lelah. Pulanglah dulu untuk beristirahat..”

Hyunseung menggeleng, “Aku tidak bisa pulang..”

“Mint tidak apa-apa, dia hanya gegar otak ringan..” Ucap Heesun mengingatkan.

“Memang..” Ucap Hyunseung, lalu memandang Mint. “Tapi aku tak bisa mengalihkan pikiranku darinya..”

Heesun terkesan dengan sikap Hyunseung, “Ne..”

Hyunseung memejamkan matanya dan memijat pangkal hidungnya.

“Kau merasa pusing?” Tanya Heesun.

“Sedikit..” Jawab Hyunseung. Dia tertegun dan kembali membuka matanya karena merasakan tangan lembut Heesun memijat pelipisnya, lalu menoleh kearah wanita itu.

Heesun tertegun tatapannya bertemu dengan Hyunseung. Tangannya berhenti memijat dan hanya bertatapan dengan pria itu.

Hyunseung merasa sekelilingnya berhenti ketika menatap ke dalam mata Heesun. Tak tau apa yang sedang terjadi, dia merasa sangat nyaman tak ingin mengalihkan pandangannya.

Heesun segera tersadar dan menunduk canggung sambil menarik tangannya, “Maaf..” Ucapnya, “Aku akan keluar..” Ucapnya lagi dan keluar.

Hyunseung memperhatikan Heesun keluar beberapa saat, lalu kembali memandang Mint.

=Dua Hari Kemudian=

Junhyung mengendap-endap keluar dari kamar dan pergi ke ruang perawatan Mint seorang diri karena tau gadis itu sudah sadarkan diri. Ketika keluar dari balik tembok dia melihat Dohee, Myungji dan Minjeong keluar dari ruang perawatan. Dengan cepat dia berbalik agar gadis-gadis itu tak melihatnya. Setelah aman, dia kembali berbalik dan melangkah ke pintu. Namun sebelum membukanya, dia tertegun melihat Hyunseung duduk di pinggir tempat tidur sambil menyuapi Mint bubur melalui celah kaca di pintu. Kemarahannya naik kekepala dan segera berbalik. Langkahnya terhenti karena mengingat dia tidak ingin jadi pecundang yang pergi begitu saja, akhirnya dia kembali berbalik dan membuka pintu.

Mint menggeleng menolak sendok bubur yang di sodorkan Hyunseung ke mulutnya.

Hyunseung menoleh ke pintu karena mendengar pintu terbuka, dia tertegun melihat Junhyung melangkah masuk.

Mint memandang Junhyung, dia sudah mengetahui dari Minjeong kalau pria itu berusaha melindunginya.

Hyunseung berdiri dan mengangguk sopan pada pria yang merupakan seniornya di dunia entertainmen, “Annyeonghaseo..”

Junhyung mengangguk, “Ne..” Ucapnya, lalu menghampiri Mint dengan senyuman di wajahnya. “Gwenchana?” Tanyanya beserta gerakan isyarat.

Mint menggangguk pelan, “Terima kasih..” Ucapnya dengan gerakan isyaratnya dan tersenyum.

“Silahkan duduk..” Ucap Hyunseung sambil menarik kursi untuk Junhyung.

“Mmm.. Bisakah kau meninggalkan kami berdua?” Tanya Junhyung.

Hyunseung mengangguk, lalu meletakkan mangkuk bubur di meja dan memandang Mint. “Mint, oppa keluar..”

Mint mengangguk.

Junhyung kesal mendengar Hyunseung mengatakan dirinya oppa, ‘Aissh.. Kenapa miss turtle tidak memanggilku oppa?!’ Batinnya.

Mint memandang Junhyung menunggu pria itu berbicara.

Junhyung merasa ini saat yang tepat untuk berbicara, “Miss turtle.. Aku tau apa yang sudah kulakukan salah, tapi aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku hanya ingin berteman denganmu. Tapi aku terlalu malu untuk meminta maaf..” Ucapnya, lalu memegang tangan Mint. “Setelah mengenalmu, aku lebih menyadari sesuatu tentang hidup. Kau sumber inspirasiku. Kau tau? Biasanya aku membuat sebuah lagu memerlukan waktu dua hari untuk merampungkan semua materinya, tapi berkat kau. Aku menulis dan membuat musik untuk lagu ‘Miss Turtle’ hanya dalam waktu 3 jam!” Ucapnya kagum.

Mint tersenyum.

Junhyung senang melihat Mint tersenyum, “Kau sudah mengetahui liriknya?”

Mint mengangguk, lalu berbicara dengan bahasa isyarat. “Ne, kau membahas tentang kura-kura..”

Junhyung tersenyum, lalu memandang mangkuk bubur yang belum kurang sedikit pun. “Kau belum makan?” Tanyanya sambil mengambil mangkuk itu.

Mint menggeleng dengan wajah cemberut.

“Makanlah..” Ucap Junhyung sambil mengambil sendok dan menyodorkannya ke mulut Mint.

“Rasanya tidak enak..” Ucap Mint dengan bahasa isyarat.

“Bukan rasanya yang tidak enak, tapi selera makanmu belum pulih..” Jawab Junhyung.

Mint tersenyum lagi, lalu bertanya. “Bagaimana kau mengerti apa yang kumaksud?”

Junhyung tersenyum membaca isyarat Mint, “Mmm.. Aku mempelajarinya dari manajerku..”

Pintu terbuka dan masuk Hyunseung.

Junhyung menghela nafas kesal melihat pria itu masuk, ‘Kenapa dia masuk disaat seperti ini?’ Batinnya.

Hyunseung membawa mi ramen instan yang sudah siap makan untuk Mint, “Ini, makanlah..”

Mint tersenyum lebar dan mengambil ramen itu.

Junhyung kembali meletakkan mangkuk bubur di meja dan memandang Hyunseung yang duduk di sisi lain tempat tidur sambil memperhatikan Mint makan. “Hyunseung..”

Hyunseung memandang Junhyung, “Ne?”

Junhyung melirik Mint yang asik makan tanpa memandang mereka, jadi gadis itu pasti tidak akan tau apa yang mereka bicarakan. Lalu kembali memandang Hyunseung, “Apa hubunganmu dengan Mint?”

Hyunseung tertegun, “Hm? Aku?” Ucapnya, lalu memandang Mint. “Mmm..”

“Apa pun hubungan kalian, kuharap kau berhenti mendekatinya..” Tegas Junhyung.

Hyunseung memandang Junhyung bingung, “Ne?”

“Kau tau tentang laguku? Miss Turtle?” Tanya Junhyung.

“Aku tau.. Dan bukankah kau menyanyikannya saat kejadian itu?” Tanya Hyunseung memastikan.

“Benar..” Jawab Junhyung, “Miss Turtle itu adalah Mint..”

Hyunseung tertegun, lalu memandang adiknya dan kembali memandang Junhyung. “Mint?”

Junhyung tersenyum sinis, “Ne..”

Hyunseung berusaha mencerna apa yang terjadi saat ini. Lalu menatap Junhyung lucu, “Tunggu, kau tidak berpikir aku berpacaran dengan Mint kan?”

“Kau memang tidak boleh melakukan itu..” Ucap Junhyung.

Hyunseung menahan tawa.

Mint memandang Hyunseung bingung, “Wae?” Tanyanya dengan bahasa isyarat.

Hyunseung menggeleng dan memberi isyarat agar Mint melanjutkan makannya.

“Kenapa kau tertawa?” Tanya Junhyung kesal.

Hyunseung tersenyum pada Junhyung, “Junhyung sanbaenim..” Ucapnya sopan, “Mint adalah adikku..”

Dahi Junhyung berkerut, lalu tertawa sinis. “Kau pikir ini lucu?”

“Aku dan Mint satu ayah beda ibu, tapi sesuatu terjadi dan Mint berakhir di panti asuhan. Beruntung dia di adopsi oleh penulis Kim Heesun.” Jelas Hyunseung.

Junhyung menatap Hyunseung tak percaya, “Apa kau bisa mengatakan cerita yang lebih masuk akal?”

Hyunseung tersenyum, dia tau cerita itu memang tidak masuk akal. “Terserah jika kau tidak mempercayai ceritaku, tapi…” Dia menatap Junhyung penuh kemenangan. “Jika kau tertarik pada adikku, kuharap hilangkan sikap sombongmu padaku..”

Junhyung tertegun, ‘Sial! Bagaimana jika dia benar kakak Mint?’ Batinnya.

=Rumah Para Gadis=

Junhyung kembali datang bersama Dujun ke rumah Heesun dan putri-putrinya untuk membicarakan masalah kontrak yang sempat batal.

“Aku tau sikapku pada Mint kemarin tidak terlalu baik, tapi kuharap aku masih punya kesempatan untuk memperbaikinya.” Ucap Junhyung memulai, “Mmm.. Dan aku juga masih berharap Minjeong bersedia bekerja sama denganku..”

Heesun memandang Minjeong, begitu juga yang lain.

Minjeong tampak berpikir.

“Jika kau bersedia menandatangani kontrak, kita bisa membuat video klipnya dengan semua saudarimu sebagai model..” Ucap Junhyung membujuk.

Mata Minjeong membesar dan memandang para saudarinya senang, “Benarkah?”

Junhyung memandang Dujun.

“Ne, kenapa tidak? Kalian bisa menjadi model iklan, drama.. Kalian juga tinggal menandatangi kontrak jika ingin..” Ucap Dujun.

“Tunggu, jadi maksudmu. Kau menginginkan semua putriku menjadi trainee di agensi barumu?” Tanya Heesun mengklarifikasi.

Junhyung tersenyum dan duduk bersandar, membiarkan Dujun yang menjelaskan.

Dujun tersenyum, “Setelah mendengar lagu Miss Turtle yang diputar dihari kejadian itu, banyak orang tertarik mendengar suara Minjeong dan bertanya siapa dia. Bahkan CEO dari JYP ent juga menanyakannya padaku.. Jadi, jika ketiga putrimu yang lain juga bergabung dengan agenciku dan Junhyung, mereka akan menjadi modelnya dan tentu juga akan mudah di kenali. Dengan begitu tawaran untuk membintangi iklan, drama atau pun model pasti akan datang..” Jelasnya.

Keempat gadis itu memandang Heesun menunggu jawabannya.

Heesun memandang putri-putrinya, “Jika kalian mau..”

Dohee, Myungji dan Minjeong langsung bersorak senang, sementara Mint tersenyum sambil memandang saudarinya.

Junhyung tersenyum memandang Mint, dengan cara itu dia bisa lebih sering di dekat gadis itu.

=Tiga Minggu Kemudian=

Hyunseung yang baru kembali dari perjalanan tur singkatnya ke beberapa kota di Korea mendatangi seorang direktor yang dulu menciptakan lagu debutnya. Dia masuk ke ruang editing dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseo..”

Direktur yang tak lain adalah Joonki itu tersenyum memandang Hyunseung, “Hei.. What’s up?” Sapanya sambil menjabat tangan Hyunseung.

Hyunseung tersenyum, lalu duduk di sebelah Joonki. “Sibuk hyung?”

“Aniya, hanya melihat hasil editan MV terbaru Junhyung..” Jawab Joonki.

“Junhyung?” Tanya Hyunseung, “Apa judul lagunya?”

“Miss Turtle.. Aku tidak mengerti mengapa lagu itu menjadi sangat hits..” Ucap Joonki.

“Miss turtle?” Ulang Hyunseung, “Apa aku bisa melihatnya? Sedikit?”

Joonki menahan tawa, “Tentu..” Ucapnya, lalu memutar video di layar.

Hyunseung menatap layar itu serius. Musik video itu menggunakan tema negeri dongeng dengan banyak boneka kura-kura saat Junhyung menyanyikan rapnya. Dia tertegun melihat seorang gadis yang tampak menyanyikan bagian reff. “Oh! Ini Minjeong?”

“Hm? Bagaimana kau tau?” Tanya Joonki.

“Aku mengenalnya..” Jawab Hyunseung.

“Dia penyanyi pertama dari agensi yang baru di bentuk Junhyung da Dujun, Beast ent.” Jelas Joonki.

“Ne?” Ucap Hyunseung tak percaya.

“Nah.. Ini..” Joonki menghentikan video dan menunjuk gadis-gadis yang mengenakan baju seperti putri kerajaan sambil bermain dengan anggun. “Mereka juga artis dari Beast ent.. Gadis manis ini tuna rungu..”

Mata Hyunseung membesar, dia tak percaya dia melihat Mint disana. “Kapan video ini di buat?”

“Sekitar dua minggu lalu.. Wae?” Tanya Joonki.

‘Dua minggu lalu?!’ Batin Hyunseung tak percaya, lalu berdiri. “Aku ingat ada urusan, sampai jumpa hyung..” Ucapnya dan langsung pergi.

=Kantor Heesun=

Heesun tertegun melihat Hyunseung menghampiri meja kerjanya, tampak orang-orang di sekitar memandang pria itu tak percaya.

Hyunseung melepas kacamata hitamnya dan menatap Heesun marah, lalu memegang tangan gadis itu. “Ikut aku!” Ucapnya dan langsung menarik Heesun ke ruang rapat.

“Ya! Ada apa?!” Tanya Heesun bingung ketika di seret.

Hyunseung menutup pintu ruang rapat dan berbalik menatap Heesun yang kebingungan.

“Ada apa? Kau bisa menimbulkan berita heboh di kantorku!” Ucap Heesun kesal.

Hyunseung mencengkeram lengan Heesun.

“Ah! Apa yang kau lakukan?!!” Tanya Heesun kesakitan.

“Kenapa Mint menandatangi kontrak bersama agensi Junhyung tanpa sepengetahuanku?!” Tanya Hyunseung tertahan.

Heesun tertegun, “Aku sudah menghubungi manajermu, tapi dia bilang kau sedang sibuk…”

“Jadi kau yang mengurus semuanya?! Karena kau yang mengadopsinya?!!” Tanya Hyunseung tak percaya.

Heesun kesal mendengar nada bicara Hyunseung mulai meninggi, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada dan menatap pria itu kesal. “Ne! Waeyo?!”

Hyunseung berusaha menahan amarahnya, lalu melepaskan lengan Heesun. “Heesun-ssi, Mint adikku.. Aku bisa menggunakan jalur hukum untuk mengambilnya kembali..”

Heesun terkejut mendengar ucapan Hyunseung, “Ne?!”

“Seorang gadis tuna rungu, di bawah umur dan anak angkat. Melakukan apa yang tidak dia tau, menjadi seorang artis di agensi baru? Sepertinya hakim akan senang memindahkan hak asuh Mint padaku..” Ucap Hyunseung dengan senyum sinisnya, lalu berbalik.

Heesun menahan tangan Hyunseung, “Kau tidak bisa melakukannya!”

Hyunseung kembali menatap Heesun, “Apa yang tidak bisa kulakukan?! Mint mungkin adik tiriku, tapi kami tetap berasal dari keluarga yang sama! Kau? Siapa kau?!” Ucapnya, lalu menyentak tangan Heesun dan membuka pintu dan berjalan keluar.

Heesun terpaku di tempatnya mendengar ucapan Hyunseung. Ucapan pria itu melukai hatinya, bulir air matanya mulai berjatuhan. Lalu segera melangkah cepat mengejar Hyunseung tanpa menyadari orang-orang memperhatikannya. “Ya!” Serunya sambil menarik tangan pria itu.

Hyunseung menatap Heesun tajam.

“Dia putriku!” Tegas Heesun.

Hyunseung menyentak tangan Heesun, lalu segera melangkah pergi.

Heesun berdiri di tempatnya menatap Hyunseung yang terus berjalan pergi dengan air mata mengalir.

“Sanbae, gwenchana?” Tanya Sekyung ragu.

Heesun menatap Sekyung marah, “Apa aku tampak baik-baik saja?!” Tanyanya, lalu berbalik dan kembali ke meja kerjanya.

=Rumah Para Gadis=

Dohee membuka pintu karena mendengar seseorang menekan bel, dia langsung tersenyum melihat Hyunseung berdiri di depan pintu. “Oppa?”

Hyunseung tersenyum tipis, “Mint ada?” Tanyanya.

“Ada, masuk saja..” Ucap Dohee.

Hyunseung melangkah masuk dan bertemu Myungji dan Minjeong di ruang tv.

“Annyeonghaseo..” Sapa Myungji dan Minjeong.

“Dimana Mint?” Tanya Hyunseung.

“Eonni ada di taman belakang..” Jawab Myungji.

“Terima kasih..” Ucap Hyunseung dan langsung melangkah ke taman belakang.

Mint duduk di taman belakang bersama kura-kuranya sambil membaca buku. Dia tertegun merasakan seseorang mengelus rambutnya dan menoleh ke samping. Bibirnya langsung membentuk senyuman melihat Hyunseung duduk.

“Apa kabarmu?” Tanya Hyunseung pelan bersama bahasa isyarat.

“Aku baik.. Bagaimana konsermu?” Tanya Mint dengan bahasa isyarat.

Hyunseung tersenyum tipis, “Berjalan baik..” Ucapnya, lalu menatap adiknya serius. “Mint, benar kau menandatangani kontrak dengan Beast agensi?”

Mint mengangguk, “Ne, bagaimana oppa tau?”

Hyunseung tampak tidak senang mengetahui itu.

Senyum Mint memudar, lalu bertanya dengan bahasa isyarat. “Oppa tidak suka?”

“Bukan tidak suka, seharusnya kau meminta persetujuan oppa dulu..” Ucap Hyunseung kesal.

Mint tampak menyesal, “Tapi eomma  menyetujuinya..”

Hyunseung menghela nafas kesal, “oke, Kim Heesun memang ibu angkatmu. Tapi aku oppamu. Apakah tidak penting meminta persetujuanku?”

Mint terkejut mengetahui ucapan Hyunseung, lalu menggeleng dengan wajah menyesal. ‘Bukan begitu oppa..’ Batinnya.

“Baiklah.. Tidak perlu meminta persetujuanku..” Ucap Hyunseung, lalu bangkit dan berjalan pergi.

Mint menatap Hyunseung kaget, lalu segera bangkit dan menarik pria itu. Dia menggeleng ketika pria itu memandangnya.

“Apa? Bukankah keputusan ada pada ibumu? Lalu untuk apa aku?” Tanya Hyunseung kecewa, lalu pergi.

Bulir air mata Mint mengalir melihat Hyunseung pergi.

Malamnya.

“Eomma pulang..” Ucap Heesun sambil melangkah masuk.

Tiga gadis di ruang tengah langsung menatapnya tanpa berbicara.

“Hei, girls.. Mana Mint?” Tanya Heesun heran.

“Dia dikamarnya eomma..” Jawab Dohee.

Heesun tertegun dan memandang ke lantai atas, pintu kamar Mint tampak tertutup. Lalu memandang meja, tampak kura-kura peliharan Mint berkeliaran. Dahinya berkerut karena gadis itu tak pernah meninggalkan kura-kuranya di sembarangan tempat. “Kenapa kura-kuranya di sini?”

“Tidak tau eomma, eonni meninggalkannya di taman belakang..” Jawab Myungji.

“Hm? Apa yang terjadi?” Tanya Heesun.

“Kami tidak tau, tadi setelah berbicara dengan Hyunseung oppa dia langsung masuk ke kamarnya..” Jawab Minjeong.

Mata Heesun membesar, “Hyunseung?”

“Ne..” Jawab Minjeong bingung.

“Ada apa eomma?” Tanya Dohee penasaran.

Heesun menghela nafas berat, lalu duduk di sebelah putri-putrinya. “Ini tentang kontrak itu..” Jawabnya, “Hyunseung marah karena Mint bergabung dengan Beast agensi tanpa sepengetahuannya..”

“Hm?! Lalu bagaimana eomma?” Tanya Minjeong.

Heesun menggeleng tanda tak tau, “Mungkin nanti eomma akan menemuinya..”

Namun hingga berhari-hari Heesun tak bisa menghubungi Hyunseung. Bahkan pria itu juga tak datang ke kantor agensi dan membatalkan semua jadwalnya.

“Sepertinya Hyunseung hyung sedang tak memiliki masalah besar..” Ucap Yoseob ketika bertemu Heesun di kantor agensi.

Heesun menghela nafas dalam. Mint juga melakukan hal yang sama. “Mmm.. Yoseob-ssi, bisakah aku tau dimana dia tinggal?”

“Aku disini..” Ucap Hyunseung sambil berjalan masuk dan duduk di sofa.

Heesun tertegun melihat Hyunseung dan segera berpindah duduk di sebelah pria itu, “Ya! Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku?! Mint jadi mengurung dirinya karena kau!”

Yoseob bergerak bangkit, “Aku pergi dulu..” Ucapnya dan melangkah keluar.

Hyunseung memandang Heesun, “Kenapa? Semua keputusan kan ada padamu, buatlah dia keluar..”

Heesun menatap Hyunseung kesal, “Ya! Berapa usiamu? Dewasalah!”

Hyunseung menghela nafas dalam dan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, “Apa bedanya aku denganmu?” Tanyanya dengan mata menatap langit-langit, lalu menatap Heesun dingin.

“Apa maksudmu? Aku selalu memperhatikan Mint dengan baik! Aku mendidiknya seperti gadis pada umumnya.. Apa yang kau katakan? Seharusnya sekarang kau membuatnya merasa nyaman karena kemunculanmu membuatnya tidak nyaman!” Ucap Heesun kesal.

Hyunseung duduk tegap dengan tatapan tajam pada Heesun, “Heesun!!” Serunya seperti wanita itu orang sebaya dengannya.

“Ya! Gunakan sopan santunmu!” Seru Heesun.

“Kau membesarkan Mint memang seperti dia gadis normal, tapi kau seharusnya tak melupakan kalau dia itu memiliki kekurangan!!” Ucap Hyunseung kesal.

“Aku tak pernah melupakannya! Karena itu aku mendukung apa pun yang dia ingin lakukan!” Tegas Heesun.

Hyunseung menatap Heesun menahan amarahnya, “Apakah kau tidak berpikir apa yang akan terjadi setelah dia benar-benar masuk ke dunia entertainment?! Heesun, dia itu tuli!! Dia tidak tau apa yang di katakan orang di belakangnya! Saat dia menyadari betapa mengerikannya orang-orang itu apa yang akan dia rasakan?!” Tanyanya, “Saat yang lain merasa dia tambang emas, mereka akan memanfaatkan Mint! Siapa yang akan mengerti apa yang dia ucapkan? Tidak semua orang mengerti bahasa isyarat! Meskipun terdengar sepele olehmu, tapi bagi Mint tidak!”

Heesun tertegun mendengar ucapan Hyunseung, sejujurnya dia tak berpikir hingga kesana.

“Aku sudah berada di dunia entertain selama hampir 3 tahun. Aku banyak mendengar ucapan-ucapan buruk dari petinggi-petinggi dunia ini saat aku memulai karirku. Bahkan tidak sedikit yang menawariku sokongan besar jika aku mau menemani mereka bermalam di hotel! Tapi aku tetap menggunakan caraku, cara yang paling mengerikan hingga kau akan berpikir menyingkir adalah jalan terbaik!” Ucap Hyunseung, “Apalagi gadis tuli seperti Mint, bisa kau bayangkan berapa banyak orang yang ingin memanfaatkannya? Gadis cantik yang tuli, kau tidak berpikir itu hal buruk?”

Heesun sekarang merasa benar-benar bersalah dan menyesal dengan keputusan terburu-burunya.

Hyunseung menghela nafas dalam, lalu kembali bersandar dan menatap langit-langit.

“Kau benar..” Ucap Heesun pelan, dia merasa telah menjadi ibu terburuk sedunia untuk Mint. Lalu menunduk menyesal, “Maafkan aku..” Ucapnya dengan suara bergetar dan mulai menangis.

Hyunseung tertegun melihat Heesun menangis, “sudah, tidak perlu menangis.. Semuanya sudah terjadi, pastikan saja dia tidak pergi tanpa sepengetahuanmu..”

Heesun memandang Hyunseung, “Maaf, seharusnya aku mengikutsertakanmu dalam mengambil keputusan untuk Mint..”

Hyunseung diam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Ne..” Ucapnya dan dengan lembut menyeka air mata Heesun.

Heesun tertegun karena perlakuan Hyunseung.

Hyunseung tersadar dan segera menjaga jarak, “Ow.. Kupikir aku harus bertemu Mint..” Ucapnya mengganti topik bicara.

=Beberapa Bulan Kemudian=

Sementara Minjeong memulai debutnya dengan lagu Miss Turtle bersama Junhyung, juga mengikuti pelatihan dance dan vokal bersama Myungji dan Dohee. Mint mengikuti kelas akting dan tata krama.

Hyunseung terus memantau perkembangan Mint agar ketakutannya tak terjadi karena Heesun sibuk dengan buku biographi Junhyung yang baru di terbitkan.

Junhyung jauh lebih sibuk sejak meresmikan gedung baru untuk agensinya. Hari ini dia berencana untuk memeriksa semua koneksi yang dia punya sebelum benar-benar mengorbitkan Minjeong sebagai solois profesional.

Dujun masuk ke ruangan Junhyung dan memberikan beberapa file, “Junhyung, sudah ada beberapa online shop yang ingin Mint jadi model mereka. Mereka bilang karakter wajahnya memberi energi positif..”

Junhyung tersenyum, “Ne? Waah.. Itu bagus.. Seleksi yang terbaik. Jangan menggunakan waktu di malam hari, juga jangan terlalu memforsir tenaganya..”

Dujun menahan tawa, “Ya, dia bukan kekasihmu.. Jangan terlalu over..”

Junhyung tersenyum malu, “Ne, tapi aku sedang mengusahakannya..”

“Dasar, sebaiknya kau tidak berharap banyak. Hubungan CEO dan artisnya tidak terlalu bisa berjalan lancar..” Ucap Dujun, lalu melangkah pergi.

=Kantor Heesun=

Hyunseung mendatangi kantor Heesun karena wanita itu berkata Mint akan mengikuti photoshoot untuk sebuah online shop. Namun begitu masuk ke ruangan besar itu, dia tertegun melihat Heesun sedang berbicara dengan seorang pria. Dahinya berkerut melihat wanita itu tersipu malu dan tertawa kecil. Entah mengapa dia merasa kesal sendiri melihat itu.

Heesun sedang berbicara dengan direktur yang baru beberapa bulan bekerja di devisinya, Daniel Henney yang berdarah Korea dan Kanada.

“Ehem..” Dehem Hyunseung.

Heesun memandang Hyunseung, “Ow.. Hyunseung?”

Hyunseung memandang Daniel.

Dahi Daniel berkerut memandang Hyunseung, “Hmm.. You’re a singer, right?”

Hyunseung mengangguk.

“Sorry Daniel, I think Hyunseung-ssi want to talk to me..” Ucap Heesun, lalu menarik Hyunseung ke ruang rapat.

Hyunseung tak habis pikir Heesun sampai berbicara formal menyebut namanya.

“Aissh.. Seharusnya kau memberitauku dulu jika ingin datang..” Ucap Heesun kesal.

Hyunseung menatap Heesun kesal, “Pasti pria tadi sedang mendekatimu kan?” Tebaknya.

“Bukan urusanmu.” Ucap Heesun, “Ada apa kau kemari?”

“Kapan Mint melakukan pemotretan?” Tanya Hyunseung.

Heesun menatap Hyunseung tak percaya, “Kau hanya ingin menanyakan itu? Kenapa tidak meneleponku saja?”

Hyunseung memutar bola matanya kesal, “Aku menghubungimu 38 kali dan selalu masuk ke mail box, juga mengirimkam 5 sms yang tak di balas sekali pun!”

Heesun tertegun, “Ne?” Ucapnya, lalu memeriksa kantong baju dan roknya. “Omo, ponselku ada di tas..”

Hyunseung menatap Heesun sebal, “Jadi, apa ini salahku?”

Heesun ikut sebal, “Ne, maaf..”

=Lokasi Pemotretan=

Mint melakukan pemotretan di temani para saudarinya.

Dohee tersenyum melihat Mint sangat cantik di depan kamera, “Dia cocok sekali menjadi model..”

“Ne, mmmm.. Cantik sekali..” Ucap Myungji.

“Hari ini kita tidak perlu berlatih dance, jadi setelah ini kita pergi makan ice cream saja ya..” Usul Minjeong.

“Ide bagus..” Ucap Dohee.

“Hei Girls..” Sapa Hyunseung dan langsung duduk di sebelah para gadis itu.

“Oppa..” Sapa Myungji senang.

Hyunseung membuka bungkusan yang dia bawa, “Ini, kalian pasti lapar..” Ucapnya sambil memberikan roti pada gadis-gadis itu.

“Ghamshamida..” Ucap mereka sambil menerima roti.

Myungji tersenyum lebar melihat Mint masuk ke ruang ganti, “Eonni..”

Mint tersenyum, apalagi melihat Hyunseung disana.

Hyunseung tersenyum lebar melihat penampilan Mint yang terlihat benar-benar cantik. “Neomu yeppo..” Ucapnya.

Seorang stylist memegang bahu Mint hingga gadis itu memandangnya, “Mint-ssi, bersiap dengan baju ketiga ya..” Ucapnya pelan.

Mint mengangguk.

Hyunseung senang Mint mendapat perlakuan baik.

Dohee bangkit dan masuk bersama Mint ke ruang ganti untuk membantu gadis itu.

Hyunseung mengedarkan pandangannya namun tak menemukan siapa pun, “Kalian bersama siapa?”

“Tadi kami diantar supir..” Jawab Minjeong.

“Dan kalian hanya berempat disini?” Tanya Hyunseung tak percaya.

Myungji dan Minjeong mengangguk.

Hyunseung memutar bola matanya kesal, “Manajer? Pembimbing?”

Myungji dan Minjeong menggeleng.

Hyunseung tampak kesal mengetahui itu.

“Kenapa oppa?” Tanya Myungji.

“Besok, aku akan memberikan asisten yang akan menemani kalian jika pergi keluar seperti ini. Araseo?” Tanya Hyunseung.

Myungji dan Minjeong tersenyum lebar, “Gumawo, oppa..”

=Toko ice cream=

“Ice cream~ Ice cream~ I melt you down like ice cream~” nyanyi Dohee sambil menggoyang-goyangkan cone ice cream di tangannya.

Hyunseung tersenyum, hari ini dia yang mentraktir para gadis itu ice cream. “Oh ya, ibu kalian tidak menemani?”

“Ani, eomma sedang ada rapat di luar..” Jawab Minjeong.

“Hmm..” Gumam Hyunseung.

“Eomma sepertinya berpacaran dengan bosnya..” Ucap Myungji polos.

Hyunseung tertegun dan menatap Myungji kaget, “Ne?!”

“Ne, kemarin eomma di antarkan bosnya pulang..” Ucap Minjeong membenarkan.

Hyunseung terkejut mendengar ucapan mereka. ‘Aissh.. Sudah kuduga!!’ Batinnya kesal. Dia tertegun karena Mint menyodorkan tisu karena ternyata ice creamnya telah mencair dan mengalir di tangannya.

Ponsel Minjeong berbunyi, “Omo.. Junhyung oppa..” Ucapnya, lalu mengangkat panggilan itu, “Yoboseyo..” Sapanya, “Hm? Kami sedang makan ice cream bersama Hyunseung oppa..”

Hyunseung selesai mengelap tangannya dengan tisu dan mengulurkan tangannya, “Berikan padaku, aku ingin berbicara dengannya..”

“Oppa, Hyunseung oppa ingin berbicara..” Ucap Minjeong, lalu memberikan ponselnya pada Hyunseung.

Hyunseung menempelkan ponselnya ke telinga dan bergerak bangkit. “Yoboseo..”

“Ne, ada apa?” Tanya Junhyung.

Hyunseung memastikan keempat gadis itu tak akan mendengarnya baru berbicara, “Yong Junhyung.. Kau membiarkan artismu melakukan pemotretan pertamanya tanpa manajer ataupun penanggung jawab dari perusahaan? Apa-apaan kau?!”

“Ne? Dujun tidak disana?” Tanya Junhyung kaget.

“Menurutmu?!” Tanya Hyunseung kesal, “Mulai besok, akan ada asisten yang akan menemani adik-adikku menjalani kegiatan diluar agensi. Kau mengerti?! Atau aku bisa menuntutmu karena menelantarkan adik-adikku!” Tegasnya.

“Aku tidak menelantarkan mereka!” Tegas Junhyung balik.

“Apa pun! Aku sudah melihatnya hari ini!” Ucap Hyunseung dan memutuskan telepon, lalu kembali ke tempat para gadis itu.

=Suatu Malam=

-Hyunseung’s POV-

Aku masuk ke sebuah club bersama teman-temanku. Malam ini kami berencana berpesta hingga pagi karena kesuksesan penjualan album terbaruku. Sekarang teman-temanku sudah turun ke lantai dansa dan menggerakkan tubuh mereka mengikuti hentakan musik. Aku masih duduk di meja VIP sambil menikmati bir di botolku. Di tengah keramaian dan lampu yang agak redup itu, aku melihat seseorang. Wanita yang membuatku langsung terpaku. Kim Heesun. Yang membuatku terkejut, ternyata wanita itu datang bersama bosnya! Aarrrgh!! Mereka berdansa dan bertingkah seperti anak muda!! Aisssh!! Pria itu mencium pipinya!! Cukup! Aku tak bisa berdiam diri. Aku langsung berdiri dan melangkah cepat menghampiri mereka. Tanpa ragu aku langsung menarik pria itu dan melayangkan tinju ke wajahnya.

DUAKKK!! Pria itu terhuyung kebelakang.

Mata Heesun membesar, “Omo!! Daniel! Are you okay?” Tanyanya, lalu menatapku. “Hyunseung?”

Aku menatapnya marah. Rasanya ada yang mendidih di dalam tubuhku. Aku langsung berbalik dan keluar dari Club itu.

-Hyunseung’s POV end-

=Apartemen Hyunseung=

Hyunseung melempar jaketnya ke sofa dan membanting tubuhnya kesana. Dia berusaha menghapus ingatan saat Daniel mencium pipi Heesun dan wanita itu tampak tersipu. “AISHHH!!” Teriaknya sambil menendang meja hingga terbalik.

Ting! Tong!

Hyunseung menoleh ke pintu, sebenarnya dia tak ingin membukanya. Namun dia tetap bangkit dan melangkah ke layar cctv. Dia tertegun melihat orang yang berdiri di balik pintu adalah Heesun.

“Hyunseung! Buka pintunya!” Seru Heesun sambil menggedor pintu Hyunseung.

Hyunseung menekan tombol pembuka otomatis dan menunggu wanita itu masuk.

“Ya! Apa-apaan kau?!” Seru Heesun kesal.

Hyunseung menatap Heesun dalam diam, lalu berbalik dan melangkah ke sofa.

“Ya!! Hyunseung!!” Seru Heesun sambil menarik tangan Hyunseung.

Hyunseung langsung menarik Heesun dan mendorongnya hingga pinggang wanita itu menabrak belakang sofa.

Heesun terkejut, “A.. Ap.. Apa yang kau lakukan?”

Hyunseung menatap Heesun marah, lalu dengan cepat menarik belakang leher Wanita itu dan menciumnya.

Heesun terkejut dan langsung mendorong Hyunseung, PLAKK!! Tangannya menampar pipi pria itu hingga menghadap ke satu sisi.

Tangan Hyunseung perlahan terangkat dan memegang pipinya, lalu kembali menatap Heesun.

Heesun menatap Hyunseung tak mengerti.

“Katakan aku sudah gila!” Ucap Hyunseung.

“Ne, kau memang gila!” Ucap Heesun.

Hyunseung memeluk pinggang Heesun dengan satu tangannya dan menahan belakang kepala wanita itu dengan tangannya yang lain agar dia bisa menciumnya dalam.

“Mmmph!! Mmmph!!” Heesun berusaha mendorong pria itu lagi, namun ciuman pria itu seperti menghipnotisnya. Hatinya bergetar merasakan bibir lembut pria itu. Perlahan matanya terpejam dan memeluk leher pria itu.

Paginya.

Hyunseung terbangun karena bunyi alarm di meja, “Mmmm..” Gumamnya sambil mengulurkan tangan dan mematikan alarm itu. Perlahan dia bangkit sambil mengusap matanya, lalu menyadari dia tak mengenakan apa pun selain selimut yang menutupi dirinya. Kepalanya menoleh ke samping, namun tak menemukan siapa pun. “Aaaaah.. Aku benar-benar gila!” Ucapnya karena mengingat apa yang telah terjadi semalam.

<<part 1

Part 3>>

Advertisements

4 thoughts on “Can You Hear Me? [Part 2]

  1. Untung hubungan mint ama seunghyun bisa membaik.. Dan mint akhirnya bisa nerima hyunseung sebagai oppa nya… 🙂
    skrg ada masalah lagi.. Hyunseung + heesun… Hmm..

    1. Eh salah kan… -_- malah nulis seunghyun.. Maksudnya junhyung! xD *efek abis baca mr&mrs choi nih wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s