Part

Can You Hear Me? [Part 1]

Can You hear meCast :

– Tiny-G : Mint, Dohee, Minjeong, Myungji

– Beast : Junhyung, Hyunseung, Yoseob

– Kim Heesun

-Mint’s POV-

Cahaya matahari pagi menerpa wajahku dengan lembut. Perlahan bibirku membentuk senyuman seiring mataku yang terbuka. Aku menyibak selimut sambil bangkit dari tempat tidur, lalu merenggangkan tubuh sesaat. Baru berdiri dan segera membuka tirai jendela kamarku. Matahari tampak sangat indah pagi ini. Kepalaku menoleh pada aquarium kecil di sebelahku, lalu membungkuk untuk melihat kura-kura kecilku yang lucu. Sebenarnya sudah tidak  bisa dikatakan kecil lagi, sekarang dia sudah sebesar telapak tanganku. Aku sangat senang bisa memulai hari dengan ceria.

Sebelum kulanjutkan, perkenalkan namaku Mint. Cukup panggil aku Mint. Sebenarnya aku bukan orang korea, hanya saja dibesarkan di sini oleh seorang penulis fiksi Kim Heesun. Jujur saja aku tidak pernah memanggilnya eomma. Usiaku 18 tahun. selain aku, ada Dohee dan Minjeong yang juga diangkat anak oleh Heesun. Bukan karena Heesun tidak memiliki anak, dia memiliki seorang putri yang 3 tahun lebih muda dariku, Myungji. Mereka semua memperlakukanku layaknya anak normal. Maksudku, fisikku memang terlihat normal, hanya saja sejak lahir aku tidak bisa mendengar. Atau kalian bisa menyebutnya tuna rungu. Heesun sangat baik padaku. Saat usiaku 5 tahun, dia mengadopsiku dan membesarkanku bersama Dohee, Minjeong dan Myungji. Dia juga yang memberikan pelajaran bahasa isyarat untukku. Serta mengharuskan yang lainnya mempelajarinya agar bisa berkomunikasi denganku. Dia ibu yang baik kan? J

Aku keluar dari kamar dan melihat pintu kamar Dohee yang tepat di sebelah kamarku terbuka, kepalaku mengintip ke dalam dan melihat Dohee dan Minjeong berloncat-loncatan di atas tempat tidur sambil bernyanyi. Bisa kutebak mereka mendengarkan music dari pengeras suara. Aku melangkah masuk dan tertawa melihat kelakuan lucu mereka.

Dohee meloncat turun dari tempat tidurnya dan menarikku bergabung bersama mereka, “Let’s go party!” gerak mulutnya.

Aku ikut berloncat-loncatan dan tertawa bersama mereka meskipun tidak tau apa yang sedang mereka dengarkan.

Tak lama Myungji muncul dan ikut bergabung bersama kami.

Karena kami semua perempuan, Heesun mengatur kamar kami di lantai atas bersebelahan satu sama lain. Kamarku terletak di antara kamar Dohee dan Minjeong, sedangkan Myungji di sisi lain kamar Dohee. Kami berbeda. Entah siapa orang tuaku, juga Dohee dan Minjeong, namun disini kami adalah keluarga. Saudari yang tidak akan terpisahkan.

Aku berhenti berloncatan karena menyadari Heesun sudah berdiri di pintu sambil tersenyum melihat kelakuan kami. Lalu kulihat dia memanggil kami untuk ikut sarapan bersamanya.

-Mint’s POV end-

-Junhyung’s POV-

Bunyi alarm mengganggu tidurku. Aku ingin terus tidur, namun aku harus memulai hari melelahkan lagi. Dengan malas tanganku terulur mematikan jam alarm berbentuk burung hantu itu. Lalu bergerak bangkit sambil mengelus pundakku. “Aaaaaah..” erangku kesal. Sejak enam tahun lalu aku tak bisa mendapatkan tidur yang nyenyak. Tapi inilah hidupku sekarang. Menjadi seorang yang hebat harus penuh perjuangan.

Oke, semua orang mengenalku. Akulah Junhyung, Yong Junhyung. Rapper papan atas yang telah mengeluarkan album-album luar biasa. banyak penyanyi-penyanyi yang memintaku untuk berkolaborasi bersama. Fansclub-ku sudah mencapai angka tertinggi sekarang. Cukup mendengar namaku, semua orang akan berteriak histeris.

Dan inilah aku. Setiap pagi setelah bangun, aku harus melakukan tread mill untuk menjaga bentuk tubuhku sambil mendengar music rap hip hop favoritku. Tak lama manajerku, Dujun, ikut bergabung.

“Kau ada fans meeting pukul 10..” ucap Dujun sambil berlari kecil di tread millnya.

Dia memang selalu mengacaukan kesenanganku dengan mendikte jadwalku setiap saat, “Hmmm…” gumamku malas.

“ingat untuk tidak membuat masalah..” ucap Dujun memperingati.

“Kapan aku pernah membuat masalah?” tanyaku heran.

Dujun tersenyum lebar.

-Junnhyung’s POV end-

=Rumah Para Gadis=

Mint naik ke lantai dua dan melihat saudarinya yang lain sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya menyenangkan, dia menghampiri mereka dan ikut memperhatikan.

“Junhyung oppa akan tampil besok, kami ingin pergi kesana..” ucap Dohee.

“Ne..” ucap Minjeong membenarkan.

“Tapi aku ingin menonton Hyunseung oppa di tv..” ucap Myungji.

“Acaranya kan malam, ikut saja dulu dengan kami..” ucap Dohee, karena mereka tidak mungkin meninggalkan Myungji sendiri dirumah karena Heesun akan pergi ke penerbit besok.

Myungji cemberut, “Tapi aku tidak begitu menyukai Junhyung..”

“Tidak apa-apa.. Setelah itu kita bisa makan mi ramen di tempat biasa..” bujuk Minjeong.

Mint bingung dengan pembahasan itu, lalu memegang bahu Minjeong dan bertanya menggunakan bahasa isyarat. “Kalian membicarakan apa?”

“Kami membicarakan Junhyung oppa..” jawab Minjeong pelan karena Mint bisa membaca gerakan bibir.

Dahi Mint berkerut, lalu bertanya lagi. “Siapa Junhyung?”

Dohee juga melihat isyarat Mint, “Kau tidak tau Junhyung oppa?”

Mint menggeleng.

“Mint, dengar ya.. Junhyung oppa itu rapper yang keren dan juga tampan. Lagu-lagu yang dia nyanyikan selalu menguasai tangga langgu. Jika dia sudah melakukan rap, semua orang akan terpesona dan….” Dohee berhenti berbicara karena Minjeong mengguncang bahunya, dia tertegun melihat saudarinya itu menunjuk telinganya dan menunduk canggung. Saat itu dia baru ingat Mint tak bisa mendengar, jadi tak bisa mendengar lagu Junhyung. “Ow.. ne.. mm.. Junhyung oppa itu rapper..” ucapnya dengan pengucapan yang jelas.

Mulut Mint membentuk huruf o dan mengangguk pelan.

“Besok kita pergi bersama saja, akan lebih seru jika kita berempat ada disana..” ucap Minjeong sambil merangkul Mint, lalu memandang Myungji. “Maukan?”

“Ne, baiklah..” ucap Myungji akhirnya.

Mint tersenyum.

=Keesokan Harinya=

Karena udara dingin, Mint mengenakan penutup telinga yang berbentuk headphone berbulu. Dia tak pernah lupa mengenakan tas selempangnya karena didalamnya ada kura-kura peliharaannya. Dia memperhatikan saudari-saudarinya kecuali Myungji sangat senang akan menyaksikan Junhyung tampil. Lalu mengedarkan pandangannya, sangat banyak gerombolan gadis dengan spanduk, poster, maupun pernak-pernik lain. Dia hanya kebingungan berdiri ditempatnya. Hingga Minjeong menarik tangannya masuk ke area penonton. Tak lama acara itu dimulai. Semua orang langsung berdiri dan berlonjak di tempatnya sambil berteriak histeris menyaksikan pria tampan di panggung. Sedangkan Mint hanya duduk di tempatnya sambil memperhatikan orang-orang itu bingung. Dia tak tau bagaimana music itu. seumur hidup dia tak pernah sekalipun mendengar.

Mint sedih tak bisa seperti orang-orang di sekitarnya yang menikmati music dan bisa mendengar jelas. Perlahan dia bangkit dan memberitau Dohee kalau ia ingin ke toilet, lalu pergi. Begitu tiba di luar, dia tersenyum memandang langit yang berawan. Lalu mengeluarkan kura-kuranya dan berpandangan sejenak. ‘Bagaimana jika kita jalan-jalan?’ batinnya, lalu melangkah riang ke satu arah sambil memperhatikan sekitarnya.

Setelah cukup lama berkeliling, Mint berjalan pelan sambil memandang kura-kuranya. ‘Acaranya sudah selesai atau belum ya? Kita kembali ke sana sekarang?’ batinnya pada kura-kura itu.

Tanpa Mint sadari, seorang pria yang mengenakan jaket besar serta tudung kepala berlari dengan kepala tertunduk dari arah depan.

DUAK!

Mint terkejut tiba-tiba seseorang menabraknya, lalu menatap orang itu bingung.

Pria yang tak lain adalah Junhyung itu menatap Mint kesal sambil menahan tudung kepalanya agar tidak terbuka, “Ya! Kau kau tidak bisa memperhatikan jalanmu?! Kenapa melamun seperti itu?!………………………………..” dia terus mengomel dengan kecepatan rapnya, lalu berjalan pergi.

Dahi Mint berkerut memandang Junhyung yang terus pergi. ‘Dia bilang apa sih? Aku tidak mengerti..’ batinnya bingung. Setelah beberapa saat dia baru menyadari kura-kuranya tidak ada karena kedua tangannya kosong, lalu segera mencari-cari disekitar sana. Mungkin saja terjatuh, namun ternyata tidak ada. dia kembali memandang kearah Junhyung pergi tadi, tapi pria itu sudah tak terlihat. ‘Apakah dia membawanya?’

Ditempat lain.

Junhyung segera masuk ke sebuah mobil dan memasang safety belt.

Dujun menginjak gas meninggalkan tempat itu sebelum ada yang menyadari Junhyung, “Kan sudah kubilang jangan lewat depan!” ucapnya kesal.

Junhyung melepaskan tudung kepalanya dan menatap Dujun kesal, “Sudah kubilang fans juga tau jalan belakang!!”

“Arrrgh! Lalu bagaimana sekarang?! Kau melarikan diri didepan semua fans-mu! Sangat memalukan!!” seru Dujun kesal.

Junhyung mendengus kesal dan memandang jendela, “Sial!” ucapnya, lalu memasukkan kedua tangan ke saku jaket. Dia tertegun merasakan sesuatu yang keras dan segera mengeluarkannya, matanya membesar menemukan kura-kura di sakunya. “Aaaaaaaaaaaa!!” jeritnya sambil melempar kura-kura itu pada Dujun.

Dujun terkejut sesuatu mengenai dadanya dan jatuh ke dekat kakinya, “Ah! Apa itu?!!”

Junhyung tampak shock dengan penemuan itu dan merapat ke jendela, “Kura-kura?!” ucapnya tak percaya.

“Kura-kura?” Tanya Dujun tak mengerti, lalu menepikan mobilnya. Dengan dahi berkerut dia mengambil kura-kura itu dan memperhatikannya, “Kenapa kau membawa kura-kura ini?” tanyanya bingung.

“Bukan aku! Aku bersumpah tidak membawanya!” seru Junhyung geli.

“Lalu, kenapa kau membawa ini?” Tanya Dujun sambil menyodorkan kura-kura itu pada Junhyung.

“Ya! Jauhkan!” seru Junhyung sambil mendorong tangan Dujun.

Dujun menahan tawa melihat ekspresi Junhyung, “Rapper terkenal takut kura-kura?” ejeknya.

“Diam! Buang saja itu keluar!” seru Junhyung.

Dujun memandang kura-kura itu dan membolak-baliknya untuk menemukan sesuatu tentang pemiliknya, “Mint?” gumamnya membaca tulisan dari cat berwarna biru di bagian bawah kura-kura itu. “Nama kura-kura ini Mint?” ucapnya heran.

“Aku tidak peduli! Cepat buang!!” seru Junhyung.

Dujun menatap Junhyung kesal, “Ya! Kau pasti tanpa sadar mengambil kura-kura ini dari pemiliknya! Aku akan menjaganya hingga pemiliknya datang..” ucapnya sambil meletakkan kura-kura itu di atas dashboard.

“Aissh! Hewan menjijikkan begitu untuk apa disimpan?!” ucap Junhyung kesal.

Dujun memutar bola matanya dan kembali menghidupkan mesin mobil.

=Kamar Mint=

Heesun menghampiri putri-putrinya dikamar Mint karena gadis itu terus menangis sejak pulang dari konser Junhyung, “Ada apa dengannya?” tanyanya sambil duduk di sebelah Mint yang menelungkup di kasur.

“Kura-kura eonni hilang ketika pergi tadi..” jawab Myungji sedih.

Heesun tertegun, lalu memandang Mint yang membelakanginya. “Bagaimana bisa?”

“Dia berkata ada seseorang yang menabraknya dan setelah itu kura-kuranya sudah tidak ada..” ucap Dohee menjelaskan.

Heesun memandang Mint yang terus terisak, lalu mengelus rambutnya lembut.

Mint berbalik memandang Heesun dengan mata memerah dan bengkak.

Heesun tersenyum, “Waeyo?” tanyanya sambil memberikan gerakan isyarat.

Mint bergerak duduk dan berbicara melalui isyarat pada Heesun, “Kura-kuraku hilang..”

“Apa kau yakin hilang? Mungkin dia hanya berkeliaran saja..” ucap Heesun pelan dengan gerakan isyarat juga.

Mint menggeleng, lalu menjawab dengan gerakan isyaratnya. “Aku yakin.. tadi aku memegangnya..”

Heesun diam sejenak sambil mengelus rambut Mint dan memandang putri-putrinya yang lain. “Mmm.. atau kita bisa membelinya lagi..” ucapnya dengan pengucapan jelas.

Mint menggeleng dan kembali menelungkup di kasur sambil terus menangis.

“Eomma.. jangan mengatakan itu..” ucap Minjeong.

Heesun bingung sendiri apa yang harus dia lakukan.

Dohee berjalan ke depan kaki tempat tidur dan berlutut agar dapat memandang wajah Mint, “Mint, kau ingat orang yang menabrakmu itu?” tanyanya dengan gerakan tangan.

Mint tertegun dan mencoba mengingat. Meskipun pria itu mengenakan tudung jaket, dia dapat melihat wajahnya dengan jelas. Lalu mengangguk membenarkan.

“Lalu, bagaimana ciri-cirinya?” Tanya Dohee.

Myungji dan Minjeong ikut berlutut di sisi kanan dan kiri Dohee.

“Ne, mungkin kita bisa mencari orang itu..” ucap Myungji.

“Cepat, katakan bagaimana orangnya?” Tanya Minjeong.

Heesun tersenyum melihat putri-putrinya sangat perhatian satu sama lain.

Mint bergerak bangkit dan turun dari tempat tidur sambil menarik tangan Dohee dan Myungji keluar dari kamarnya, lalu masuk ke kamar Dohee karena dia ingat ada poster pria yang mirip dengan pria yang menabraknya. Dia memandang para saudarinya sambil menunjuk poster Junhyung.

Dahi ketiga gadis itu berkerut, termasuk Heesun yang mengikuti para gadis itu.

“Maksudmu Junhyung oppa yang menabrakmu?” Tanya Minjeong tak mengerti.

Mint mengangguk, lalu menjelaskan dengan isyarat tangannya. “Dia menabrakku, lalu mengatakan hal yang tidak kumengerti dan langsung pergi begitu saja..”

Ketiga gadis lain saling berpandangan, tentu saja mereka sulit mempercayai itu.

Mint memberi isyarat kalau dia bersungguh-sungguh dan meminta para saudarinya percaya. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang tampak percaya.

Heesun melangkah masuk dan merangkul Mint, “Mint, dia itu rapper terkenal. Tidak mungkin dia yang menabrakmu sayang..” ucapnya dengan isyarat tangan juga.

Mint kesal tidak ada yang percaya padanya, lalu berjalan cepat keluar dari kamar Dohee dan masuk ke kamarnya serta mengunci pintu.

“Mint! Buka pintunya!” ucap Heesun sambil mengetuk, namun dia tau Mint tidak akan mendengarnya.

“Benarkah Junhyung oppa yang menabraknya?” Tanya Myungji bingung.

Dohee dan Minjeong mengangkat bahu,

Di dalam kamar, Mint menyeka air matanya dan berusaha berpikir keras. Dia memang baru sekali bertemu Junhyung, namun dia dapat dengan cepat mengingat wajah pria itu. Dan seperti ucapan Myungji, mungkin saja dia bisa menemui Junhyung dan meminta kura-kuranya kembali. Dia segera mengambil ponsel dan mencari tau tentang Junhyung di kolom pencari. Ternyata tidak sulit menamukannya, bahkan dia bisa menemukan jadwal pria itu selanjutnya. ‘Aku akan mengambil kura-kuraku!!’ batinnya.

=Parkiran=

Junhyung mengendap-endap keluar dari pintu belakang sebuah studio pemotretan karena tidak ingin para fansnya kembali menggila. Saat hendak masuk ke mobil, dia dikejutkan dengan kmunculan Mint yang tiba-tiba. “Ah! Kau mengagetkanku!” serunya sambil mengelus dada.

Mint cemberut sambil memperlihatkan photo kura-kuranya pada Junhyung, ‘Kura-kuraku!’ batinnya.

Dahi Junhyung berkerut melihat photo itu, lalu menatap Mint bingung. “Siapa kau?”

Mint menunjuk kura-kura di photo itu dan mengulurkan tangannya dengan maksud meminta kura-kuranya kembali.

Junhyung kembali teringat beberapa hari lalu dia menabrak seorang gadis dan menemukan kura-kura di saku jaketnya, “Oh! Kau gadis itu?!”

Mint menyodorkan gambar kura-kura itu ke wajah Junhyung agar pria itu mengerti.

Junhyung menatap Mint kesal, “Pergilah, aku sibuk..” ucapnya sambil membuka pintu mobil.

Mint menahan pintu mobil itu dan menatap Junhyung kesal, lalu kembali menunjuk photo kura-kuranya.

“Apa?! Kau ingin kura-kura menjijikkan itu?!” Tanya Junhyung kesal.

Mint mengangguk, lalu mengulurkan tangannya.

“Aissh! Aku sudah membuangnya!!” seru Junhyung dan langsung masuk ke mobilnya.

Mint terkejut, ‘Apa? Tidak!’ batinnya, lalu mengetuk jendela mobil Junhyung gusar.

“Aish! Gadis ini..” ucap Junhyung kesal, lalu mengenakan safety beltnya dan berpura-pura tidak mendengar ketukan di jendelanya. Saat ingin menginjak gas, dia terkejut Mint tiba-tiba berdiri di depan mobilnya dengan kedua tangan terentang.

Mint kembali memperlihatkan photo kura-kuranya.

Junhyung melepas safety beltnya, lalu membuka pintu dan menghampiri Mint dan menarik lengannya.

Mint meringis karena Junhyung menariknya dengan keras, lalu mendorongnya ke samping mobilnya hingga terjerembab ke tanah. Kedua tangan dan lututnya sakit.

“Aku tidak tau tentang kura-kura bodohmu itu!” seru Junhyung lalu kembali melangkah ke mobilnya, namun saat itu dia melihat seorang wartawan yang biasa menulis mengenai berita panas artis-artis sedang mengobrol dengan seseorang dari studio sambil berjalan kearah parkiran mobil. “Sial!” gumamnya, lalu melirik Mint yang masih terduduk di tanah sambil mengelus telapak tangannya. Dia tak ingin gadis itu memberi informasi mengenai perlakukannya tadi dan segera menarik gadis itu bangkit, lalu mendorongnya masuk ke mobil.

=Rumah Dujun dan Junhyung=

Dujun sedang sibuk mencari-cari di bawah sofa, meja dan bantal sofa ketika melihat Junhyung masuk sambil menarik seorang gadis. Dia memandang rapper itu bingung.

Junhyung melepaskan tangan Mint, “Berikan kura-kura itu padanya!”

Mint menatap Junhyung kesal sambil mengelus pergelangan tangannya.

Dujun memandang Mint, “Jadi kura-kura itu milikmu?”

Mint memandang Dujun lalu memangguk dan kembali mengeluarkan photo kura-kuranya, lalu memperlihatkannya pada pria itu.

“Ne.. Sangat mirip..” Ucap Dujun.

Mint tersenyum lebar.

Junhyung meninggalkan Mint dan Dujun karena tidak ingin berlama-lama dengan gadis aneh itu.

Dujun garuk-garuk kepala, “Maaf, sepertinya dia sedang berkeliaran.. Sebentar, aku akan mencarinya..” Ucapnya, lalu kembali mencari.

Mint tertegun, lalu ikut mencari di sekitar ruang tamu. Bibirnya membentuk senyuman lebar menemukan kura-kuranya di bawah bufet tv. Dia langsung mengambilnya dan menatapnya girang, lalu menghampiri Dujun dan memberitaunya jika dia sudah menemukan si kura-kura.

Dujun tersenyum lebar, “Wuaah.. Kau menemukannya..”

Mint membungkuk sopan tanda rasa terima kasihnya pada Dujun, lalu kembali menatap kura-kura kesayangannya.

Dujun tertegun melihat gelagat Mint. “Nona..” Panggilnya, namun gadis itu tak memandangnya. “Nona..” Ucapnya sambil memegang bahu gadis itu.

Mint memandang Dujun.

“Apa kau tuna rungu?” Tanya Dujun dengan gerakan isyarat.

Mint tersenyum lebar dan mengangguk, lalu bertanya dalam bahasa isyarat. “Bagaimana kau tau?”

Dujun tersenyum tipis, “Nenekku juga tuna rungu. Jadi aku tau..” Jawabnya dengan jelas sambil memberikan gerak isyarat.

Mulut Mint membentuk huruf o, lalu kembali tersenyum. “Terima kasih sudah menjaga kura-kuraku, kupikir tidak akan bertemu dengannya lagi.” Ucapnya dengan bahasa isyarat.

Dujun mengangguk, lalu memegang dadanya. “Namaku Yoon Dujun, kau?” Tanyanya sambil menunjuk Mint.

Mint memperlihatkan tulisan di bawah tubuh kura-kuranya, lalu menunjuk tulisan itu dan dirinya bergantian.

“Hm? Jadi Mint itu namamu?” Tanya Dujun.

Mint mengangguk.

Malamnya.

Dujun melihat Junhyung duduk di sofa sambil menonton tv, lalu ikut duduk di sebelah pria itu. “Kau tidak seharusnya kasar seperti itu pada Mint..”

Dahi Junhyung berkerut dan memandang Dujun, “Kura-kura itu?”

Dujun memandang Junhyung, “Mint itu nama gadis si pemilik kura-kura..”

“Oh..” Komen Junhyung singkat dan kembali menonton tv.

“Dia berkata kau sangat kasar padanya, kenapa kau begitu?” Tanya Dujun kesal.

“Aaah.. Kau mulai membela fans lagi..” Ucap Junhyung malas sambil mengganti channel tv.

“Dia bukan fansmu..” Ucap Dujun.

Junhyung menatap Dujun kesal, “Gadis-gadis seperti itu hanya menjadikan barang mereka sebagai modus untuk masuk kemari, ke rumahku, Yong Junhyung! Rapper terkenal yang digilai semua orang!”

“Kau mulai menyombongkan dirimu lagi, Junhyung!” Ucap Dujun semakin kesal.

Junhyung kembali memandang tv, “Kau tak bisa memungkiri musikku original dan sangat mengagumkan..” Ucapnya arogan.

“Bagaimana dia bisa tau tentang musikmu jika dia tidak bisa mendengar?!” Tanya Dujun mulai emosi.

Junhyung tertegun, lalu memandang Dujun dengan dahi berkerut. “Apa maksudmu?”

“Gadis itu tuna rungu! Kura-kura yang masuk ke saku jaketmu adalah peliharaannya sejak usia 10 tahun! Kau hampir saja membuangnya dan membuat gadis itu tak bisa menemukan kura-kuranya lagi!” Ucap Dujun kesal.

Junhyung terpaku menatap Dujun, “Kau serius?”

Dujun memutar bola matanya kesal, lalu bangkit dan melangkah ke kamarnya.

Junhyung masih duduk di tempatnya memikirkan ucapan Dujun, “Tuna rungu?” Gumamnya tak percaya. “Pantas saja dia tidak berbicara sepatah katapun, hanya memperlihatkan photo kura-kura itu..”

=Kamar Mint=

Mint tersenyum memandangi kura-kuranya sudah kembali ke aquarium, lalu menyentuh permukaan kacanya.

Heesun membuka pintu kamar dan menghampiri Mint, lalu merangkulnya. Membuat gadis muda itu memandangnya. Dia tersenyum hangat, “Kau sudah merasa lebih baik?”

Mint mengangguk dengan senyum di wajahnya.

Heesun senang mengetahuinya sambil mengelus kepala Mint penuh kasih sayang, “Syukurlah..” Ucapnya lega. Senyumnya mendadak hilang ketika melihat kura-kura di aquarium, lalu menatap Mint kaget. “Ini kura-kuramu?”

Mint mengangguk lagi, lalu menjawab dengan bahasa isyarat. “Ne, orang yang mengambilnya mengembalikannya padaku..”

Dahi Heesun berkerut, “Siapa yang mengambilnya?” Tanyanya sambil melakukan gerakan isyarat.

“Sudah kubilang, yang mengambilnya pria yang di poster Dohee..” Jawab Mint dengan bahasa isyarat.

Heesun menatap Mint bingung, “Jinja?” Tanyanya.

Mint mengangguk, lalu wajahnya berubah sebal. “Tapi dia sangat menyebalkan.” Jawabnya dengan bahasa isyarat, “Yang menjaga kura-kuraku bernama Dujun.” Lanjutnya.

Heesun masih belum yakin, namun dia mengangguk pelan. “Syukurlah..”

=Ruang Make Up=

Dujun heran melihat Junhyung hanya duduk sambil memandangi wajahnya di cermin. Biasanya pria itu akan langsung melihat tanggapan fans di internet setelah perfom. “Hei, kau kenapa?” Tanyanya sambil menyandarkan pinggangnya di meja rias.

Junhyung memandang Dujun, “Aku? Aku baik-baik saja..”

Dahi Dujun berkerut, “Kau yakin?”

Junhyung tak menjawab, lalu memalingkan wajahnya sambil memijat pangkal hidungnya. “Aaah.. Ini memuakkan..”

Dujun menatap Junhyung kesal, “Maksudmu aku memuakkan?!”

Junhyung kembali memandang Dujun, “Ani.. Bukan kau..” Ucapnya.

“Lalu?” Tanya Dujun kesal.

Junhyung menghela nafas dalam, lalu bangkit dan menatap Dujun. “Kau tau dimana gadis itu tinggal?”

Dujun menatap Junhyung tak mengerti, “Gadis mana?”

Junhyung memutar bola matanya kesal, “Si nona kura-kura..”

“Ooh.. Mint, tidak. Untuk apa aku mengetahui dimana dia tinggal..” Jawab Dujun, namun sedetik kemudian dia jadi curiga pada Junhyung. “Kenapa kau menanyakan tentangnya?”

Entah mengapa wajah Junhyung terasa panas dan tampak rona merah di kedua pipinya, dia segera kembali duduk dan sibuk dengan pantulan wajahnya di cermin sambil merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi.

“Ya.. Jawab aku, kenapa kau menanyakan tentangnya?!” Tanya Dujun semakin curiga.

Junhyung mengeluarkan ponselnya dan berpura-pura sibuk, “Aku hanya bertanya!” Ucapnya kesal tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

Dujun tersenyum melihat gelagat temannya itu, “Turtle0623..”

Dahi Junhyung berkerut dan memandang Dujun tak mengerti.

“Itu ID-nya, kau tinggal membuat ID mu dan kalian bisa chatting melalui SNS (Social Networking service)..” Ucap Dujun, lalu melangkah pergi.

Junhyung masih memandang Dujun bingung hingga pria itu hilang dari pandangannya, lalu segera membuka akun social network-nya. Dia benar-benar penasaran pada gadis bernama Mint itu, lalu mencari akun dengan ID _Turtle0623_

Dia tertegun menemukan sebuah akun dengan photo kura-kura yang waktu itu di tunjukkan Mint padanya.

“Hmm.. Aku tidak mungkin menggunakan ID-ku..” Gumamnya sambil berpikir, karena semua orang sudah tau akunnya.

Matanya melirik ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang memperhatikannya, lalu membuat akun baru untuk dirinya. Sekali lagi, matanya melirik ke kanan dan kiri memastikan stylist dan back dancernya masih asik dengan kegiatan mereka. ‘Oke, nama apa yang akan kugunakan sebagai ID?’ Batinnya, sebuah ide muncul di kepalanya. Bibirnya membentuk senyuman dan mengetik ID yang akan dia gunakan. _J0K3R_

“Great..” Gumamnya sendiri sambil tersenyum puas.

“Apa itu?” Tanya Dujun yang entah sejak kapan kembali sambil memandang layar ponsel Junhyung.

Junhyung terkejut dan langsung menempelkan ponselnya ke dada agar Dujun tak bisa melihat, “Apa?!” Tanyanya, lalu bangkit dan melangkah keluar.

Dahi Dujun berkerut memperhatikan temannya itu, “Ada apa dengannya?” Ucapnya bingung, lalu menghampiri yang lain.

=Halaman Rumah=

-Mint’s POV-

Aku tertawa melihat kelakuan tiga saudariku. Kami semua duduk di taman belakang untuk menikmati sore sambil menunggu Heesun selesai memanggang kue kering kesukaan kami.

Drrrrrt.. Drrrrrt..

Kurasakan ponselku bergetar didalam saku, lalu mengambilnya dan melihat apa yang membuatnya bergetar. Ternyata ada seseorang yang ingin menjadi temanku di forum chatting. Nama ID nya J0K3R. Aku tertawa kecil melihat photo yang dia gunakan adalah tokoh Joker di film batman. Hobiku memang melakukan chatting, karena aku tidak perlu berbicara dengan bahasa isyarat karena tidak semua orang yang dapat mengerti. Jadi aku menerima pertemanannya.

Aku baru menyadari Heesun sudah muncul bersama kue keringnya saat tiga saudariku yang lain berlari kembali ke meja. Aroma kue kering itu menggoda perutku. Kami tentu saja langsung menyerbu kue kering itu. Selain seorang penulis, Heesun juga seorang chef yang luar biasa.

Ponselku kembali bergetar, sambil mengunyah kue kering aku memandang layar ponsel. Ternyata J0K3R mengirimiku pesan.

J0K3R : Hei.. 🙂

Bibirku membentuk senyuman dan membalasnya.

-Mint’s POV end-

-Junhyung POV-

Ding!

Aku langsung menatap layar ponselku, senyuman lebar langsung muncul di bibirku melihat balasan chat-ku.

Turtle0623 : Hei.. 🙂

Aku kembali membalas dan mulai mengobrol dengannya.

-Junhyung’s POV end-

=Minggu Pagi=

J0K3R : boleh aku bertanya mengapa namamu Turtle?

Turtle0623 : karena menurutku aku seperti kura-kura.. Hihihihi..

Dahi Junhyung berkerut, lalu kembali mengetik.

J0K3R : kenapa menurutmu seperti kura-kura?

Mint tersenyum membaca pertanyaan itu, lalu membalasnya.

Turtle0623 : sebenarnya aku ini tuna rungu, aku tidak pernah mendengar apa pun. Menurutku, aku seperti kura-kura yang akan tetap mencapai tujuanku tanpa mendengarkan apa pun ucapan orang. 🙂

Junhyung tertegun. Gadis itu benar-benar jujur dan apa adanya. Bibirnya membentuk senyuman lagi sambil mengetik.

J0K3R : kalau begitu aku akan memanggilmu miss turtle.. Hahahaha

Mint tertawa membaca pesan itu, lalu membalas.

Turtle0623 : baiklah.. Kau mr. Joker.. :p

“YA! Junhyung!! Cepat!!” Seru Dujun dari jendela mobil.

Junhyung sampai terkejut mendengarnya, “Aissh! Tidak perlu berseru!!” Ucapnya kesal, lalu turun dari mobil dan berjalan mengikuti Dujun. Hari ini dia ada wawancara mengenai album barunya untuk sebuah majalah, juga ada beberapa photoshoot yang harus dia jalani.

Sambil menunggu waktu pemotretan, Junhyung kembali mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Mint.

J0K3R : miss turtle, kau disana?

Turlte0623 : Ne, kenapa kau menghilang? 🙂

J0K3R : maaf, aku harus melakukan sesuatu. Kau tau, aku iri padamu. Andai aku bisa dirumah seharian dan melakukan apa pun yang kusuka..  (-___-“) 

Turtle0623 : 🙂 kenapa iri padaku? Bukankah bagus ada hal yang bisa kau lakukan?

J0K3R : semua orang akan berkata begitu padaku. Tapi mereka tidak mengerti jika aku lelah melakukannya..

Turtle0623 : 😦 ohya? Memangnya apa yang selalu kau lakukan?

Junhyung menghela nafas dalam sambil berpikir, ‘apa yang harus ku jawab?’ Batinnya ragu.

J0K3R : kau boleh menebaknya.. Hehehe

Mint berpikir sejenak, ‘Apa ya?’ Batinnya bingung.

Turle0623 : mmm.. Aku tidak bisa menebaknya..

J0K3R : kuberi petunjuk, terkadang aku menghabiskan waktu di ruang latihan hingga pagi buta.. 🙂

Mint berpikir lagi, ‘apakah penyanyi?’

Turtle0623 : kau melakukan dance?

Junhyung memikirkan jawaban Mint, lalu tersenyum.

J0K3R : hampir benar..

Turtle0623 : kau backdancer?

“Junhyung!” Panggil Dujun lagi.

Junhyung terkejut, “Oh! Ne!” Jawabnya, lalu memasukkan ponsel ke saku dan menghampiri Dujun.

Dujun menatap Junhyung kesal, “Apa yang kau lakukan?! Cepat!”

Ditempat lain. Mint bingung mengapa J0K3R tidak membalas pesannya, ‘Apa aku salah? Mengapa dia menghilang lagi?’ Batinnya bingung.

Dua jam kemudian.

J0K3R : bisa dibilang begitu.. 🙂

Mint tersenyum.

=Pusat Perbelanjaan=

“Girls! Jangan jauh-jauh..” Ucap Heesun memperingati putri-putrinya.

“Waaah.. Yang ini lucu..” Ucap Myungji sambil menempelkan sebuah baju ke tubuhnya.

“Lihat! Ini ada 4 pasang.. Bagaimana jika kita membelinya?” Tanya Dohee dengan senyum lebar.

-Heesun’s POV-

Aku menoleh kearah putri-putriku. Bibirku membentuk senyuman melihat mereka asik memilih baju dan selalu tampak akur. Bukan hanya itu, mereka membantu Mint berinteraksi.

“Mint.. Coba yang ini.. Ini bagus untukmu..” Ucap Minjeong sambil menempelkan sebuah baju ke tubuh Mint.

Mint tersenyum memandang baju itu.

“Ayo eonni, kita coba bajunya..” Ucap Myungji sambil menarik Mint ke ruang ganti bersama Dohee dan Minjeong.

Aku kembali memandang baju-baju di depanku. Sejak suamiku meninggalkanku dan Myungji, aku sudah memimpikan hidup ramai seperti ini. Bersama putri-putri yang akan menemaniku menjalani sisa hidup, yang akan membuatku terus berjuang untuk hidup, juga yang akan memenuhi ruang pendengaranku karena pertengkaran-pertengkaran aneh mereka. Inilah hidup yang menyenangkan menurutku.

Musik di tempat itu berubah menjadi salah satu lagu karya rapper Junhyung. Dohee dan Minjeong sangat menggilainya, sedangkan Myungji lebih menyukai penyanyi Hyunseung. Sebelumnya aku tidak terlalu menaruh perhatian pada pada kedua pria yang di idolakan itu. Tapi sejak Mint mengaku orang yang mengambil kura-kuranya adalah Junhyung aku mulai memperhatikan pria itu. Bukan karena aku tertarik padanya, tapi karena aku tidak ingin putriku mengenal seseorang tanpa sepengetahuanku karena Mint memiliki kekurangan.

=Kantor Heesun=

Selain menjadi penulis novel horor, aku juga bekerja sebagai penyunting tulisan. Pagi itu, saat aku berlalu ke meja kerjaku, aku mendengar pada juniorku ribut mengenai sesuatu di ruang rapat.

“Aaaah! Andai aku juga penulis, aku ingin sekali menulis biograpinya!” Ucap Sekyung.

Aku berhenti melangkah dan berdiri di balik dinding untuk mendengarkan.

“Aku juga! Tapi di perusahaan kita banyak penulis lain yang berbakat, pasti mereka akan dipilih..” Ucap Yuri.

“Cih.. Apa sih hebatnya rapper sombong seperti itu?” Ucap Taemin sebal.

“Ya! Junhyung itu sangat keren!!” Sembur Sekyung.

Aku tertegun, ‘Junhyung?’ Batinku. Lalu muncul di pintu dan memandang mereka penasaran. “Kalian membicarakan Yong Junhyung?”

Mereka terkejut karena kemunculanku.

“Ahh.. Sanbae! Jangan mengagetkan begitu!” Ucap Sekyung kaget.

“Hehehehe..” Aku cengengesan, “Maaf.. Kalian membicarakan siapa?”

“Itu, rapper Junhyung..” Jawab Taemin.

“Apakah dia akan membuat biograpi?” Tanyaku memastikan.

“Ne..” Jawab mereka dengan wajah tak mengerti memandangku.

“Apa aku bisa masuk dalam daftar penulisnya?” Tanyaku sambil mengangkat tangan.

Mereka menatapku kaget.

“Noonim, kau kan penulis horor..” Ucap Taemin tak mengerti.

“Memangnya kenapa? Aku kan tetap saja penulis..” Ucapku cemberut.

“Tapi sanbae, kau yakin?” Tanya Yuri.

“Sudah.. Masukkan saja.. Nantikan dia yang akan memilih.. Oke?” Ucapku, lalu melangkah pergi.

Ini bukan berarti aku ingin sekali membuat biograpinya, tapi aku ingin bertemu langsung dengannya untuk memastikan apakah benar dia yang mengambil kura-kura Mint atau bukan.

-Heesun’s POV end-

=Kamar Mint=

Mint berbaring di tempat tidur sambil membalas pesan dari Junhyung. Dia merasa senang mengobrol dengan teman dunia mayanya itu.

J0K3R : miss turtle, apa kau suka membaca buku?

Turtle0623 : ne, kenapa?

J0K3R : apa kau tau penulis berbakat yang baik? Aku harus merekomendasikannya untuk kenalanku..

Turtle0623 : penulis siapa saja?

J0K3R : ne.. Kenalanku itu bisa memikirkannya lagi.. 🙂

Mint berpikir sejenak, lalu tersenyum.

Turtle0623 : Kim Heesun. Dia penulis novel favoritku.. 😀

J0K3R : begitu? Baiklah.. Aku akan merekomendasikannya.. Terima kasih.. 🙂

=Ruang Latihan=

“Kim Heesun..” Gumam Junhyung sambil melihat daftar penulis yang diberikan penerbit padanya, “aha!!” Serunya karena menemukan nama Kim Heesun di deretan akhir. Lalu mengedarkan pandangannya mencari Dujun, “Ya! Manajer! Kemari!!” Panggilnya.

Dujun yang sedang mengobrol dengan salah seorang backdancer menghampiri Junhyung, “Apa?”

“Ini! Aku ingin Kim Heesun yang menulis biograpiku..” Ucap Junhyung sambil menunjuk nama Heesun.

Dujun mengambil kertas itu dan membaca nama itu, “Kau sudah memutuskan?”

“Ne.. Katakan aku bisa melakukan wawancara secepatnya..” Ucap Junhyung dengan senyum lebarnya.

Dahi Dujun berkerut, “Tumben sekali..” Ucapnya heran, “Aku akan memberitau penerbit..”

=Ruang Keluarga=

“Ne?! Eomma akan menulis biograpi rapper Junhyung?!!” Seru Dohee histeris.

Heesun tersenyum lebar dan mengangguk, “Ne..”

“Wuaaah!! Kapan eomma?! Kyaa! Boleh kami ikut saat wawancara?!” Tanya Minjeong histeris.

Myungji cemberut, “Eomma, kenapa bukan Hyunseung oppa?”

Heesun tertawa kecil, “Eomma tidak bisa membawa kalian, tapi eomma akan memintakan tanda tangannya..” Ucapnya sambil merangkul Dohee dan Minjeong. “Hyunseung masih terlalu baru untuk membuat biograpi..”

Mint datang dan bergabung bersama keluarganya, dia bingung melihat Myungji cemberut. “Wae?” Tanyanya dengan bahasa isyarat.

“Eomma akan mewawancarai Junhyung untuk biograpinya, aku ingin Hyunseung oppa..” Ucap Myungji beserta bahasa isyarat.

Mint tertegun, ‘Junhyung?’ Batinnya.

=Fitting Room=

Junhyung merapikan kerah baju yang dia kenakan sekali lagi, malam ini dia akan menghadiri sebuah acara penghargaan dan akan menampilkan 1 lagu serta berkolaborasi dengan penyanyi lain.

Ding!

Junhyung segera mengambil ponselnya di saku celana yang tergantung. Bibirnya tersenyum melihat Mint mengiriminya pesan.

Turtle0623 : mr Joker, apa kau benar-benar merekomendasikan penulis Kim Heesun pada kenalanmu itu?

 

Junhyung tertegun membaca pesan itu.

J0K3R : ne, waeyo?

Turtle0623 : kenalanmu itu rapper Junhyung?

Mata Junhyung membesar.

J0K3R : bagaimana kau tau?

Turtle0623 :>_< jika tau dia kenalanmu, aku tidak akan merekomendasikannya!

Junhyung terkejut, “Ne? Wae?” Tanyanya sendiri. Lalu kembali mengetik.

J0K3R : wae?

Turtle0623 : dia itu menyebalkan!

Dahi Junhyung berkerut, “Aku?!”

J0K3R : tidak, dia tidak seperti itu.. Kenapa kau berpikir dia menyebalkan?

Turtle0623 : dia kasar padaku! Juga mengatakan kura-kura kesayanganku hewan menjijikkan! 😥

Junhyung tertegun mengingat hari dimana Mint datang meminta kura-kuranya. Dia sendiri menyesal berbuat seperti itu.

J0K3R : tapi, bagaimana kau tau aku merekomendasikannya pada Junhyung?

Turtle0623 : penulis Kim Heesun itu ibuku..

Mata Junhyung membesar, “Ne?!!” Serunya kaget, lalu berlari keluar dari fitting room dan mencari Dujun. “Dujun, apakah penulis Kim Heesun sudah menyetujui penulisan itu?”

Dujun memandang Junhyung heran, “Ne, akhir minggu ini wawancara akan di lakukan..”

Junhyung lemas mendengarnya, “Aaah..” Erangnya dan terduduk di sofa, lalu memandang layar ponselnya. Dia semakin lemas melihat pesan Mint. “Aaaaaah…”

“Ada apa?” Tanya Dujun bingung.

Junhyung menelungkup di sofa, “Aaaah.. Eoteokhe?”

“Ya! Jangan begitu! Baju itu sangat mahal!” Seru Dujun.

=Kamar Mint=

Trrrrrrt!!

J0K3R : miss turtle..

Mint memandang layar ponselnya, lalu kembali meletakkannya. Dia tak ingin membalas pesan dari J0K3R lagi.

Trrrrrrt!!

J0K3R : miss turtle, kau marah padaku?

 

Mint tetap hanya membacanya saja.

Trrrrrrt!!

J0K3R : maafkan aku.. 😥

 

Trrrrrrt!!

J0K3R : apakah kau membenciku karena berhubungan dengan Junhyung?

 

Trrrrrrt!!

J0K3R : kumohon maafkan aku..

 

Akhirnya Mint mengetik balasan.

Turtle0623 : apakah kau backdancer Junhyung?

J0K3R : ne..

Turtle0623 : apa kau tidak keberatan aku menyebut rapper itu menyebalkan?

J0K3R : gwenchana, itu pemikiranmu.. 🙂

 

Bibir Mint membentuk senyuman, lalu membalas.

Turtle0623 : baiklah, aku memaafkanmu.. 🙂

=Kamar Junhyung=

“Yes!! Yuhuuuuu!!” Seru Junhyung sambil berlonjak-lonjak di kasurnya.

=Meet n Greet Hyunseung=

“Kyaaa!! Hyunseung oppa!” Seru Myungji histeris melihat Hyunseung duduk di meja meet n greet.

“Myungji! Tidak perlu berlebihan kan..” Ucap Dohee sebal.

“Eonni, aku ingin meminta tanda tangannya! Ayo..” Myungji langsung menarik tangan Mint untuk ikut berbaris dengan CD mini album Hyunseung, “Ini eonni, minta tanda tangan juga..” Ucapnya sambil memberikan poster Hyunseung pada Mint.

Mint memandang poster itu bingung, namun dia hanya mengikuti Myungji.

Akhirnya tiba giliran Myungji dan Mint meminta tanda tangan.

Myungji tak bisa berhenti tersenyum lebar melihat wajah tampan Hyunseung.

“Hei.. Siapa namamu?” Tanya Hyunseung ramah.

“Myungji..” Ucap Myungji dengan pipi merona, dia tersenyum lebar melihat Hyunseung menulis namanya di tanda tangan. “Oppa, kau tampan sekali..”

Hyunseung tersenyum lebar, “Gumawo..”

Myungji tersipu dan bergeser agar Mint bisa meminta tanda tangan.

Hyunseung tersenyum, “Siapa namamu?” Sebelum menandatangani poster Mint.

Mint menjawab Hyunseung dengan bahasa isyarat.

Dahi Hyunseung berkerut, “Ne?”

Mint memandang Myungji bingung.

“Oppa, ini eonniku. Dia tuna rungu. Namanya Mint..” Ucap Myungji memberitau.

Hyunseung tertegun menatap Mint, “Tuna rungu? Ow.. Ne..” Ucapnya, lalu menandatangi poster itu dan kembali memberikannya pada Mint. “Terima kasih sudah datang..” Ucapnya dengan senyuman manisnya.

Mint tertegun melihat senyuman Hyunseung, jantungnya berdegup kencang dan tersenyum dengan kepala mengangguk. Lalu melangkah pergi bersama Myungji.

“Eonni, dia tampan kan?” Tanya Myungji dengan senyuman lebarnya.

Mint mengangguk sambil memeluk poster yang di tanda tangani Hyunseung. “Boleh aku memajangnya?” Tanyanya dengan bahasa isyarat pada Myungji.

“Ne, simpan saja.. Disana kan memang tertulis namamu..” Ucap Myungji.

Mint senang mengetahui itu.

Sementara itu, Hyunseung memandang Mint yang tersenyum memandangi poster yang tadi dia tanda tangani. ‘Bagaimana gadis tuna rungu menjadi fansku?’ Batinnya tak percaya.

“Oppa?” Panggil seorang fans yang sudah berdiri di depan Hyunseung.

Hyunseung tertegun, “Oh.. Ne..” Ucapnya sambil tersenyum, lalu melanjutkan tanda tangan itu.

=Malamnya=

Mint tersenyum memandangi poster Hyunseung yang tertera tanda tangan beserta namanya di dinding, dia tak pernah merasa sesenang itu pada sesuatu selain kura-kuranya. ‘Myungji benar, dia memang tampan..’ Batinnya.

Ditempat lain.

Junhyung baru saja selesai berlatih dance bersama backdancernya. Keringat mengalir dari pelipisnya, dia mengambil handuk kecil dan menyeka keringatnya.

Ding!

Tangannya mengambil ponsel dan meneguk air sambil membaca pesannya.

Turtle0623 : mr Joker, aku senang sekali hari ini. 🙂

Bibir Junhyung membentuk senyuman, lalu mengetik.

J0K3R : kenapa? 🙂

 

Dia menunggu beberapa saat.

Ding!

Turtle0623 : hari ini aku datang ke meet n greet penyanyi Hyunseung dan dia memberikanku tanda tangannya. 🙂

Mata Junhyung melotot membaca pesan itu, bahkan Mint menyertakan photo poster yang terpajang di dinding kamarnya. “Sial! Apa hebatnya pria itu dariku?!” Gumamnya kesal.

J0K3R : kau menyukai penyanyi Hyunseung? Bagaimana kau bisa menyukainya?

Turtle0623 : karena dia sangat ramah.. 🙂

 

“Aissh! Aku juga bisa ramah seperti itu!” Gumam Junhyung kesal.

“Ya! Ada apa denganmu?” Tanya Dujun heran.

“Hm? Oh ani..” Jawab Junhyung sambil menyimpan ponselnya.

=Ruang Pertemuan=

Heesun akhirnya duduk berhadapan dengan Junhyung untuk membahas mengenai biograpi itu.

“Baiklah.. Sepertinya kita sudah selesai.” Ucap Heesun mengakiri wawancaranya.

Junhyung tersenyum, “Ne, anda bisa menghubungi manajerku jika ada yang kurang..”

Heesun tersenyum, lalu mengeluarkan dua lembar kertas dan memberikannya pada Junhyung. “Maaf Juhyung-ssi, dua putriku merupakan fansmu. Kau tidak keberatankan memberikan tanda tanganmu untuk mereka?”

Junhyung mengambil pulpen dan menandatanginya, “Tentu..” Ucapnya, “Siapa saja nama mereka?”

“Dohee dan Minjeong..” Ucap Heesun.

Junhyung tertegun dan menatap Heesun, “Maaf, boleh saya tau berapa putri anda?”

Heesun tertegun, “Ne? Mmm.. Aku memiliki 4 putri..”

“Ooh..” Ucap Junhyung dan kembali menandatangani. “Ini, sudah..”

Heesun tersenyum menerimanya, “Terima kasih..” Ucapnya. Namun dia masih penasaran mengenai kura-kura Mint. “Maaf Junhyung-ssi, putriku yang lain, Mint..”

Junhyung tertegun mendengar ucapan Heesun, “Ne?”

“Dia berkata kura-kuranya diambil olehmu dan kau mengembalikannya lagi. Benarkah?” Tanya Heesun hati-hati.

Junhyung gugup menjawabnya, namun dia yak bisa mengelak. “Oh.. Nona kura-kura itu. Hahaha..” Dia berusaha biasa namun malah terdengar aneh.

Heesun menatap Junhyung curiga, “Ne, jadi benar?”

“Itu kan peliharaan fans-ku, wajar jika aku mengembalikannya..” Ucap Junhyung percaya diri.

“Putriku tuna rungu, dia bukan penggemarmu..” Jawab Heesun tanpa ekspresi.

Junhyung tertegun, “Mmmm.. Oh.. Begitu..”

“Tapi, jujur saja aku tidak terlalu menyukai caramu..” Ucap Heesun jujur, “Baiklah, aku kembali. Terima kasih hari ini..” Ucapnya sambil menyandang tasnya dan membungkuk sopan, lalu pergi.

Junhyung tertegun memperhatikan Heesun pergi, “Aah.. Ibunya juga membenciku..”

=Pusat Perbelanjaan=

-Mint’s POV-

Seperti biasa, kami berempat pergi berbelanja bersama. Namun hari ini agak spesial karena kami akan berbelanja untuk memberi kejutan pada Heesun. Dia akan berulang tahun awal bulan depan, jadi kami akan mempersiapkannya dari sekarang. Dohee dan Minjeong asik membicarakan mengenai barang-barang apa yang harus mereka temukan, sementara aku dan Myungji yang bertugas mendorong troly. Tidak lupa, kura-kuraku juga ikut. Dia ada di saku bajuku. 🙂

Setelah cukup lama kami mencari, aku merasa harus ke kamar kecil. Aku memegang bahu Myungji dan memberitaunya aku harus ke kamar kecil.

“Mau aku temani?” Tanya Myungji disertai bahasa isyarat.

Aku tersenyum dan menggeleng, lalu melangkah pergi menuju toilet. Agak sulit menemukannya, tapi beruntung ada tanda yang menunjukkan dimana letak toilet. Tak sampai 20 menit kemudian aku sudah kembali ke tempat tadi.

Namun aku kebingungan menemukan dimana saudariku yang lain. Aku mengeluarkan kura-kuraku dan berpandangan dengannya, ‘Kira-kira dimana yang lain ya?’ Batinku.

Duk!

Seseorang menabrakku dari belakang hingga aku terjatuh berlutut ke lantai. Kura-kuraku meluncur ke tengah ruangan. Bahkan sampai tertendang beberapa orang yang berlalu. Sebelum aku bangkit untuk mengambil kura-kuraku. Seorang pria berjaket putih dan topi senada segera mengambilnya, lalu menghampiriku.

“Gwenchana?” Tanya bibirnya sambil menarikku bangkit.

Aku mengangguk, dia mengembalikan kura-kuraku dan mengucapkan maaf. Namun dia tertegun memandangku, lalu agak menaikkan topinya hingga aku bisa melihat wajahnya. Aku terkejut menyadari pria itu bukan orang biasa, melainkan Hyunseung!!

Hyunseung tersenyum padaku, “Annyeonghaseo.. Kau mengingatku?”

Bibirku membentuk senyuman lebar dan mengangguk.

“Maaf, aku membuat kura-kuramu jatuh. Ayo..” Dia langsung menarikku pergi, padahal aku harus mencari saudariku. Tapi aku tidak bisa mengatakannya.

Akhirnya Hyunseung masuk ke sebuah kafe dan membeli dua ice capuccino untukku dan untuknya.

“Kau bersama siapa… Mint. Benarkan?” Tanya Hyunseung.

Aku tersenyum dan menjawabnya dengan bahasa isyarat. Tapi sepertinya dia tak mengerti dan mengeluarkan ponselnya, lalu menyodorkan padaku.

“Bisakah kau mengetik jawabanmu?” Tanya Hyunseung.

Aku mengambil ponselnya dan mengetik kalau aku datang bersama saudariku.

“Ooh.. Lalu, dimana mereka?” Tanya Hyunseung.

Aku kembali mengetik dan memperlihatkannya pada Hyunseung. Dia tertegun dan menatapku.

“Oh.. Maaf..” Ucapnya menyesal.

Aku menggeleng dan kembali mengetik, lalu memperlihatkannya pada Hyunseung.

Bolehkah aku meminta mereka kemari? Adikku Myungji sangat menyukaimu..

Hyunseung tersenyum, “Tentu..”

Aku tersenyum lebar dan mengeluarkan ponselku, lalu mengirim pesan pada Dohee. Tak berapa lama mereka muncul.

Wajah Myungji langsung merona merah memandang Hyunseung dan langsung membungkuk sopan. Begitu juga Dohee dan Minjeong. Mereka tampak sangat bersemangat bertemu Hyunseung. Bahkan pria itu mengantarkan kami kembali kerumah. Dia benar-benar idola yang pantas di kagumi.

Sebelum aku turun dari mobil, Hyunseung menarik tanganku dan memberikan ponselnya padaku.

“Boleh aku tau nomor ponselmu?” Tanya Hyunseung.

Aku tersenyum dan langsung memasukkan nomor ponselku.

Hyunseung tersenyum, “Gumawo..”

Aku membungkuk sopan dan segera turun dari mobilnya. Dalam beberapa jam Dohee dan Minjeong langsung berubah menjadi penggemar Hyunseung, hahahaha..

-Mint’s POV end-

-Junhyung’s POV-

Turtle0623 : sepertinya aku benar-benar menyukai Hyunseung oppa.. 🙂

Entah mengapa hatiku sangat kesal membaca pesan itu. Pria bodoh itu langsung mengambil hatinya hanya karena mengantarkannya dan saudarinya pulang.

Karena terlalu emosi aku melempar ponselku keluar mobil dan jatuh ke tengah jalan, sebuah kontrainer yang berlalu langsung melindasnya hingga hancur.

Dujun menghentikan mobil sambil menatapku kaget, “Ya! Apa yang kau lakukan?!”

“Apa? Aku bosan! Ponsel itu tak berfungsi! Aku ingin yang baru!” Seruku pada Dujun.

“Aissh! Kau akan menjalani wawancara! Mengapa mood-mu seperti ini?!” Tanya Dujun kesal.

“Sudah! Jalan saja! Aku cukup profesional untuk itu!” Ucapku dan berdiam diri.

Sebuah kantor penerbit.

“Jadi, Junhyung-ssi.. Menurutmu, apa arti hidup itu?” Tanya wartawati.

“Hidup itu ada sesuatu yang harus kau nikmati..” Jawabku.

“Begitu..” Ucapnya, “Lalu, bagaimana kau melewati masalah-masalah yang menimpamu?”

Aku tersenyum, “Aku menjalani hidupku seperti kura-kura..” Ucapku, “Aku akan terus berjalan tanpa mendengarkan apa pun ucapan orang lain..”

Orang-orang yang ada disana tersenyum, “Bagaimana kau memiliki pemikiran seperti itu?”

“Sebenarnya itu ucapan seorang kenalanku, dia membuatku menyadari arti kehidupan dan hidup seperti kura-kura..” Ucapku.

“Wuaah.. Pasti orang itu sangat berarti untukmu..” Ucap wartawati itu.

Aku tersenyum cool, “Sepertinya..”

=Minggu Pagi=

Aku tak tau mengapa, saat semalam miss turtle itu berkata akan pergi seorang diri ke perpustakaan daerah membuatku khawatir. Jadi aku mengikutinya. Dengan sweater kuno, jeans, tas sandang dan kaca mata besar ini tidak akan ada yang menyadari siapa aku jika mereka tidak menatapku selama satu jam penuh.

Aku mengikuti miss turtle yang berjalan riang menuju halte bis. Dia benar-benar terlihat manis dengan dress selutut yang terbuat dari bahan rajutan dan celana selutut, sepatu senakers, tas selempang dan penutup telinga yang terbuat dari bulu.

Miss turtle berhenti di depan sebuah poster yang memajang Hyunseung memegang sebuah botol air mineral. Shit! Dia tersenyum dan mengelus pipi gambar pria itu! Aku kesal sekali! Setelah dia berjalan, aku berhenti di dekat poster itu dan merobeknya, lalu melemparnya ke tanah dan menginjak-injak poster itu. “Aissh!” Seruku sendiri, lalu kembali mengikuti miss turtle.

Dia berhenti di halte dan menunggu bis yang akan dia, dan tentunya aku juga, naiki. Aku berdiri tak jauh di belakangnya agar dia tak curiga.

Aku menyadari dua pria yang sepertinya anak kuliahan memandangi miss turtle sejak tadi.

“Kau berani mendekatinya? Dia cute..” Bisik seorang pria.

“Kau berani?” Tanya temannya.

“Ayo kita dekati.. ” Ajak pria tadi.

Aku tak tinggal diam ketika dua pria itu melangkah ke arah miss turtle, dengan cepat aku maju agar lebih dekat pada miss turtle sambil menatap para pria itu tajam.

Dua pria itu berhenti dan menatapku kesal, “Aish.. Apa-apaan dia?” Gumam mereka sambil melangkah pergi.

Aku tersenyum tipis mengetahui caraku berhasil, namun entah apa yang terjadi. Miss turtle mundur selangkah hingga punggungnya menempel di tubuhku. Serentak aku dan dia saling berpandangan kaget.

Miss turtle memandangku bingung, lalu dahinya berkerut.

Aku sangat shock dan langsung berlari pergi. Entah apa yang membuatku takut dia menyadari siapa aku, tapi aku hanya terpikir lari jalan satu-satunya.

-Junhyung’s POV end-

-Mint’s POV-

Dahiku makin berkerut melihat pria itu kabur, ‘Kenapa dia? Aku kan hanya ingin bertanya bis mana yang menuju perpustakaan daerah..’ Batinnya bingung.

Akhirnya aku masuk ke bis dan menunjukkan kertas pada supirnya.

Ini menuju perpustakaan daerah?

Supir itu menatapku bingung, aku menunjuk telingaku dan memberitaunya aku tidak bisa mendengar. Beruntung pak supir ini mengerti dan mengangguk menjawab pertanyaanku.

Aku tersenyum dan membungkuk sopan padanya, lalu melangkah duduk. Aku menikmati pemandangan kota dengan tenang. Sudah lama aku tidak berpergian seorang diri seperti ini. Nanti Heesun akan menjemputku sepulang kerja, jadi aku tidak perlu naik bis lagi.

Setibanya di perpustakaan. Aku mencari bagian favoritku, fiksi ilmiah dan geologi. Aku duduk di meja dekat jendela dan meletakkan kura-kuraku di atas meja. Mungkin aneh, tapi dia tidak akan pergi jauh dariku. Hahaha.. Beruntung juga aku tidak bisa mendengar, jadi aku hanya bisa berkonsentrasi membaca.

Trrrrt! Ponselku bergetar.

J0K3R : miss turtle, kau sudah di perpustakaan?

-Mint’s POV end-

Turtle0623 : ne.. 🙂

Junhyung yang duduk di sebuah kafe menghela nafas lega karena Mint tidak membahas mengenai dirinya, “aah.. Kupikir dia mengenalku..” Gumamnya lega.

=Ruang Tamu=

“Wuah.. Lihat! Lihat! Wawancara terbaru mengenai Hyunseung oppa!!” Seru Myungji sambil membawa sebuah majalah menghampiri saudarinya yang lain.

“Mana?!” Ucap Minjeong sambil memandang halaman yang ditunjukkan Myungji.

“Omo! Hyunseung oppa menceritakan tentang kita! Kyaaaa!!” Jerit Dohee girang.

Mint tersenyum memandang photo Hyunseung yang terlihat sangat tampan.

“Eonni, lihat ini..” Ucap Myungji sambil menunjuk satu bagian pada Mint.

Mint membaca bagian itu dengan seksama, bibirnya membentuk senyuman dengan pipi merona. Hyunseung menyebutkan namanya sebagai penggemar tuna rungu yang pertama kali datang ke acara meet n greet-nya.

Myungji, Dohee dan Minjeong saling berpandangan dan tersenyum jahil lalu menyolek Mint yang masih merona. “Uuuuuu.. Lihat, Mint merona merah seperti tomat..” Ledek mereka.

Mint beruntung tidak bisa mendengar ucapan saudarinya, tapi senyuman para gadis itu sangat menganggunya. Dia hanya. Menunduk sambil tersenyum malu.

“Disini juga ada wawancara Junhyung, lho..” Ucap Myungji sambil membalik halaman majalah itu.

“Wuaaah.. Tampan sekali!!” Seru Dohee dan Minjeong melihat photo Junhyung yang memenuhi satu halaman.

“Ayo baca!” Ucap Minjeong dan berkonsentrasi membaca.

Mint ikut membaca meskipun dia tak begitu tertarik. Dahinya berkerut membaca Junhyung membahas mengenai hidup dan kura-kura. Kalimat yang diucapkan pria itu sama persis seperti apa yang dia katakan pada J0K3R. Dia benar-benar marah, lalu bangkit dan berjalan cepat ke kamarnya.

Dohee, Myungji dan Minjeong memandang Mint bingung. Lalu saling berpandangan bingung.

Mint menutup pintu kamar dan mengambil ponselnya, lalu mengirimkan pesan pada J0K3R.

Turtle0623 : aku tidak ingin berbicara denganmu lagi!!

Ditempat lain.

Junhyung yang sedang berlari di mesin tread mill terkejut membaca pesan Mint, dia sampai hilang kendali dan jatuh terjerembab kebelakang. “Aaw!” Rintihnya sambil bergerak bangkit, lalu menatap layar ponselnya lagi dengan mata membesar.

J0K3R : miss turtle, ada apa? Aku melakukan apa?

Turtle0623 : kenapa kau memberitau Junhyung mengenai pembicaraan kura-kura kita?! Kupikir kau temanku! Ternyata tidak!

 

Junhyung terkejut hingga mulutnya terbuka, “Mwo? Aissh!” Dengan cepat jari-jarinya mengetik balasannya.

J0K3R : aniya! Tentu saja aku temanmu! Aku tidak tau apa yang kau maksud. Tapi bukan salahku jika Junhyung juga ingin membahas kura-kura..

Turtle0623 : tidak! Junhyung jijik pada kura-kura! Dia tidak mungkin membahas kura-kura! Sudah! Jangan hubungi aku lagi!

J0K3R : dengar dulu..

Junhyung shock mengetahui Mint menghapusnya dari daftar pertemanan. “Dia menghapusku?! Ya!!” Serunya pada ponselnya sendiri. “Aaaaaaaaaah…” Teriaknya frustasi.

=Ruang Keluarga=

Junhyung menatap halaman majalah yang membahas wawancaranya waktu itu frustasi, “Aissh.. Kenapa aku menjawab seperti ini?!” Ucapnya kesal sendiri, lalu melempar majalah itu ke meja.

Dujun muncul dan duduk di sebelah Junhyung sambil menonton tv, dia tertegun melihat majalah di meja. “Hm? Sudah terbit ya?” Ucapnya sambil mengambil majalah itu dan membacanya.

Junhyung menatap tv namun tetap masih berargumentasi mengenai jawabannya itu, ‘kenapa?! Masih ada kucing, anjing, kuda! Kenapa kau memikirkan kura-kura? Aissh!’ Seru batinnya.

“Hmm.. Disini juga ada wawancara bersama Hyunseung..” Ucap Dujun sambil membaca berita mengenai Hyunseung.

Junhyung memutar bola matanya kesal, ‘Whatever..’ Batinnya tak peduli.

Dahi Dujun berkerut, “Ini perasaanku saja atau Hyunseung memang membahas fansnya bernama Mint yang seorang tuna rungu?”

Junhyung tertegun dan memandang Dujun tak percaya, “Apa?”

Dujun memandang Junhyung, “Disini di bahas kalau Hyunseung mendapatkan fans pertamanya yang tuna rungu bernama Mint..”

Junhyung langsung mengambil majalah itu dan membaca bagian yang menyebutkan nama Mint. Matanya membesar dan langsung melempar majalah itu ke meja, dia ingat saat gadis itu memberitaunya tentang tanda tangan itu.

Dujun menatap Junhyung tak mengerti, “Ada apa denganmu?”

“Buang majalah itu! Hasil wawancaraku jelek!!” Ucap Junhyung kesal, lalu bangkit dan melangkah ke kamarnya.

=Apartemen Hyunseung=

Hyunseung yang baru selesai mandi menatap wajahnya di cermin, lalu merapikan rambutnya yang masih basah. Ketika dia mengangkat tangannya, tampak bekas aneh di bawah lengannya. Dia memperhatikan bekas itu lebih jelas dan menghela nafas dalam. Dia selalu membenci tanda lahir itu, namun tak pernah ingin menghilangkannya. Karena baginya itu satu-satunya yang akan mengingatkannya pada keluarganya.

Dia mengambil handuk dan membalut tubuhnya, lalu melangkah keluar dari kamar mandi. Setelah mengenakan baju tidurnya, dia tertegun mengingat tanda lahirnya yang terlihat seperti bekas luka bakar. “Apakah dia juga mempunyainya?” Gumamnya.

=Taman=

Dohee dan Minjeong, berkat ide Junhyung, mengetahui kalau Junhyung dan teman-temannya akan bermain basket di sekitar taman yang tertutup untuk umum. Jadi mereka memaksa Myungji dan Mint untuk ikut bersama mereka sekalian berolahraga sore.

“Omo! Itu Junhyung oppa..” Ucap Minjeong melihat Junghyung yang asik bermain basket bersama teman-temannya.

“Aah.. Tubuhnya keren sekali berkeringat seperti itu..” Ucap Dohee terpana.

Myungji cemberut, “Jauh lebih baik Hyunseung oppa..” Ucapnya.

Mint mengangguk membenarkan ucapan adiknya.

“Aaah.. Fans-mu..” Ucap teman Junhyung sebal.

Junhyung memandang ke arah 4 gadis yang berdiri di pinggir lapangan, membuat Dohee dan Minjeong tersipu malu. Sedangkan Myungji dan Mint tampak cuek. Namun prioritasnya hanya Mint, gadis itu benar-benar mencuci otaknya hingga tak bisa memikirkan apa pun lagi.

Mint memegang tangan Myungji, “Aku haus, ayo kita mencari minum..” Ucapnya dengan bahasa isyarat.

Myungji mengangguk, “Kajha..” Ajaknya.

“Junhyung!!” Seru seorang teman Junhyung.

Junhyung terkejut bola yang di oper padanya melaju kencang kearahnya dan langsung mengelak, namun bola itu terus melayang menuju Mint. Matanya membesar, “Ya! Awas!!” Serunya.

Mata Dohee dan Minjeong membesar, “Mint!!” Seru mereka.

Namun Mint tak dapat mendengar ucapan mereka. Bukk!! Bola itu mengenai belakang kepalanya, membuatnya jatuh tersungkur ke tanah.

“Omo! Eonni!” Seru Myungji dan langsung membantu Mint bangkit.

Mint meringis sambil memegang belakang kepalanya.

Junhyung, Minjeong dan Dohee menghampiri Mint.

“Mint, gwenchana?” Tanya Minjeong beserta bahasa isyarat apa yang dia katakan.

Namun Mint memejamkan matanya menahan sakit, sehingga tak tau apa yang dikatakan Minjeong.

Dohee mengangkat dagu Mint hingga gadis itu memandangnya, “Gwenchana?” Tanyanya beserta bahasa isyarat.

Mint menggeleng.

Junhyung tertegun ketiga gadis itu bisa berbahasa isyarat, lalu memegang bahu Mint karena tau gadis itu tak bisa mendengarnya. “Cesongeyo..” Ucapnya ketika gadis itu memandangnya.

Mint menatap Junhyung kesal, lalu mengangguk masih sambil mengelus belakang kepalanya.

“Jika perlu ayo kita ke rumah sakit untuk memeriksanya..” Ucap Junhyung pada tiga gadis yang lain.

Dohee tertegun, “Mmm.. Boleh saja..”

=Rumah Sakit=

Mint bingung mengapa dia sampai diperiksa seluruh tubuh hingga pemeriksaan darah jika hanya kepalanya yang dibentur bola basket.

Junghyung menghampiri gadis-gadis itu di ruang tunggu bersama minuman segar sambil menunggu hasil pemeriksaan Mint keluar, “Ini..” Ucapnya ramah.

Dohee dan Minjeong merona melihat kebaikan Junhyung.

Junhyung duduk di sebelah Mint dan menatapnya khawatir, “Apakah masih sakit?”

Mint menggeleng, “Aku tidak apa-apa..” Ucapnya dengan bahasa isyarat.

Dahi Junhyung berkerut, “Ne?”

“Eonni berkata dia baik-baik saja oppa..” Ucap Myungji memberitau.

“Ooh.. Syukurlah..” Ucap Junhyung lega, “Tapi, tidak ada terasa memar?”

Mint menggeleng lagi.

“Baiklah, setelah ini aku akan mengantarkan kalian pulang..” Ucap Junhyung.

Mint sebal membaca gerakan mulut Junhyung, lalu memandang Myungji. “Dia sok baik didepan kita..” Ucapnya dengan bahasa isyarat.

Myungji menahan tawa, “Pfff..” Lalu menjawab dengan bahasa isyarat juga. “Ne..”

“Apa katanya?” Tanya Junhyung pada Myungji.

Myungji menahan tawa dan menggeleng.

=Rumah Junhyung=

Junhyung mengingat ketiga saudari Mint bisa menggunakan bahasa isyarat dengan lancar, jadi dia mencari taunya di internet. “Ini terima kasih..” Ucapnya sambil mempraktekkan apa yang tertulis di layar laptopnya, “Ini sama-sama.. Aish!! Kenapa susah sekali?!”

“Ya, berisik!” Protes Dujun yang sedang asik menonton bola.

Junhyung menatap Dujun dan ingat sesuatu, “Ya, waktu itu kau berkata Mint memberitaumu banyak hal. Bagaimana caramu berkomunikasi denganna?”

Dujun nenatap Junhyung tak mengerti, “Mengapa kau menanyakannya?”

“A.. A.. Eerrr.. Aku hanya ingin tau..” Ucap Junhyung memberi alasan.

Dujun menatap Junhyung curiga, lalu kembali menonton tv. “Tentu saja bahasa isyarat..”

Junhyung tertegun, “Ne?! Memangnya kau bisa?”

“Tentu saja, nenekku dulu juga tuna rungu.. Aissh! Ya! Tendang ke kiri!!” Seru Dujun pada tv.

“Nenekmu?” Ucap Junhyung tak percaya, “Manajer, ajari aku..”

Dujun kembali menatap Junhyung tak mengerti, “Apa?”

“Ajari aku bahasa isyarat..” Ucap Junhyung.

“Untuk apa? Kau kan tidak punya kenalan tuna rungu..” Ucap Dujun.

“Ini untuk fans ku, jika aku bisa menggunakan bahasa isyarat, aku bisa membuat semua fansku lebih mengerti..” Jelas Junhyung memberi alasan.

Dujun tersenyum jahil, “Benarkah? Apa kau ingin mendekati nona kura-kura itu?”

Junhyung terkejut, “Hahahahaha.. Kau ada-ada saja, mana mungkin.. Hahaha..” Jawabnya kaku.

Dujun menatap Junhyung kesal, “Kau akan tertawa aneh begitu jika sedang gugup.. Benarkan?”

Tawa Junhyung berhenti, “Aissh! Cepat saja ajari aku!” Serunya kesal.

=Ruang Latihan Hyunseung=

Hyunseung masih berlatih dance seorang diri dengan keringat bercucuran di wajah dan tubuhnya, dia merasa belum terlalu menguasai gerakan baru untuk lagunya, jadi dia tetap melatihnya. Dia memang seorang perfeksionis. “Ahhh.. Kenapa aku masih tidak bisa menguasainya?” Gumamnya kesal. Lalu melangkah ke pinggir ruang latihan dan duduk di sebelah tasnya, lalu mengeluarkan handuk kecil dan botol air minum.

Setelah meneguk air di botol dia kembali teringat sesuatu, lalu mengeluarkan ponselnya dan memandangnya ragu. “Apa aku mengiriminya pesan? Ah.. Nanti saja..” Ucapnya.

=Minggu Sore=

Mint, Myungji, Dohee dan Minjeong bermain dengan riang di halaman depan sementara Heesun menyunting hasil tulisannya mengenai biograpi Junhyung di bangku.

‘Sepertinya ini masih tidak memuaskan..’. Batin Heesun.

“Annyeonghaseo..” Sapa seseorang dari pagar.

Semua orang memandang ke pagar dan terpaku melihat Hyunseung berdiri di sana.

Mata Myungji langsung berbinar, “Kyaa! Hyunseung oppa!”

Heesun memandang tamu mereka bingung.

Ruang Keluarga.

“Oooh.. Jadi kau terkesan karena Mint datang ke acara meet n greetmu?” Tanya Heesun setelah mendengar cerita Hyunseung.

Hyunseung tersenyum, “Ne..”

Heesun tersenyum karena Hyunseung benar-benar sopan, “Lalu, ada perlu apa kau kemari?”

Hyunseung tampak bingung mengungkapkan maksudnya, “Mmm.. Kudengar anda membuat biograpi untuk rapper Junhyung?”

Heesun mengangguk, “Ne, wae?”

“Mmm.. Maaf, mungkin seharusnya manajerku yang mengatakan ini. Tapi aku ingin memintanya langsung padamu, bisakah anda juga membuat biograpi untukku?” Tanya Hyunseung.

Heesun tertegun, “Ne?” Lalu melirik ke arah putri-putrinya yang sejak tadi mendengarkan dari balik tembok sambil mengangguk agar dia menerimanya.

Myungji memasang wajah memelas dengan kedua tangan tergenggam dan mengangguk.

Heesun menahan tawa melihat ekspresi putri-putrinya, lalu memandang Hyunseung. “Hmm, kenapa kau memilihku?”

Hyunseung mengeluarkan sebuah buku dari balik jaketnya dan menyodorkannya pada Heesun, “Ini, sebenarnya aku pembaca setiamu..” Ucapnya dengan wajah tertunduk dan wajah memerah.

Heesun tertegun melihat itu adalah novel yang baru dia rilis beberapa bulan lalu.

“Aku juga ingin anda menandatangani nya..” Ucap Hyunseung malu.

Heesun yang sekarang terkesan dengan sikap Hyunseung, “Baiklah, aku akan membuat biograpimu secara pribadi dan juga akan menandatangani bukumu..” Ucapnya sambil mengambil pulpen dan menandatangani halaman depannya.

Hyunseung tersenyum lebar, “Gamshamida..” Ucapnya dengan anggukan kepala, “Dan, jika anda tidak keberatan. Aku akan datang setiap minggu untuk wawancara..”

Heesun mengangguk.

“Yes!! Yes!!” Sorak Myungji, Dohee dan Minjeong girang.

Hyunseung memandang ke belakang, ketiga gadis itu langsung berlari bersembunyi di balik dinding, sedangkan Mint kebingungan mengapa saudarinya pergi. Lalu ditarik agar ikut bersembunyi bersama mereka. Dia tersenyum dan kembali memandang Heesun.

=Mobil=

Junhyung berusaha melatih bahasa isyarat yang di ajarkan Dujun padanya, meskipun sulit dia bisa menguasai beberapanya. Melihat Dujun melangkah kembali ke mobil, dia segera berpura-pura sibuk dengan ponselnya.

Dujun masuk ke mobil dan langsung memasang safety beltnya, “Ada berita baru..”

“Apa?” Tanya Junhyung dengan nada malas.

Dujun menginjak gas dan membawa mobil pergi, “Hyunseung meminta penulis Kim Heesun secara pribadi untuk menuliskan biograpinya..”

Junhyung tersentak dan menatap Dujun, “Ne?!!”

“Ne..” Ucap Dujun meyakinkan.

Junhyung sangat kesal karena Hyunseung seolah-olah ingin mengikuti apa yang dia lakukan.

“Dan dia yang datang langsung ke rumah penulis itu..” Tambah Dujun.

“Mwo?!!!” Seru Junhyung.

Dujun terkejut tiba-tiba Junhyung berseru, “Ya! Kau ingin aku menabrakkan mobil ini?!”

“Aissh! Kapan jadwalku kosong! Aku akan datang ke rumah penulis Kim Heesun!” Ucap Junhyung kesal.

=Kamar Mint=

Mint memandangi layar ponselnya, sejujurnya dia juga merindukan sosok J0K3R. Dia agak menyesal telah menghapus pria itu dari pertemanan. Dia menghela nafas berat dan meletakkan ponselnya di atas kasur dan berbaring.

Myungji masuk ke kamar Mint dan duduk di pinggir tempat tidur.

Mint bangkit sambil memandang Myungji yang tampak cemberut, “Wae?” Tanyanya dengan bahasa isyarat.

Myungji memandang Mint, “Rapper Junhyung datang untuk membicarakan tentang biograpinya bersama eomma..” Ceritanya dengan bahasa isyarat.

Mint tertegun, “Benarkah?” Tanyanya dengan bahasa isyarat.

Myungji mengangguk, “Eomma meminta kita tetap di kamar saja, tapi Dohee eonni dan Minjeong eonni ingin sekali bertemu dia..”

Mint berpikir sejenak, namun dia memutuskan untuk tidak peduli. Lalu keluar kamar bersama Myungji dan bergabung dengan Dohee dan Minjeong yang memperhatikan Junhyung dari lantai atas.

“Hmmm.. Junhyung oppa tampan sekali..” Bisik Dohee dengan kedua pipi merona.

Mint melihat Junhyung berbicara bersama Heesun. Pria itu tampak tertawa sopan dan tersenyum manis. Dia bisa tau apa yang mereka bahas dengan membaca gerakan bibir. Bukan hal penting, hanya pengalaman Junhyung mengenai tur-turnya.

“Kim Heesun-ssi, aku memiliki hadiah untuk putri-putrimu. Bolehkah aku memberikannya langsung?” Tanya Junhyung sopan.

Heesun tertegun, lalu melirik ke lantai atas. “Mmm.. Baiklah..” Ucapnya, “Girls!! Kemari!” Serunya.

“Ne!!” Jawab Dohee dan Minjeong hampir bersamaan, lalu berlari turun.

Mint dan Myungji mengikuti dari belakang.

Junhyung mengangguk sopan, “Annyeonghaseo, kita bertemu lagi..”

Dohee dan Minjeong langsung merona, “Ne..”

Junhyung mengambil tasnya dan mengeluarkan hadiah pertama, “Ini untukmu dan untukmu..” Ucapnya sambil memberikan jam tangan dengan warna berbeda pada Dohee dan Minjeong.

“Kyaaa.. Gamshamida, oppa!!” Ucap Dohee dan Minjeong girang.

Junhyung tersenyum lebar,  lalu kembali mengambil hadiah lain. “Ini, kau suka Hyunseung kan?” Tanyanya sambil memberikan sebuah miniatur yang terlihat mirip seperti Hyunseung.

Mata Myungji membesar dan berbinar melihat miniatur itu, “Oh!! Hyunseung oppa!!” Teriaknya girang, lalu berlompat-lompat dan memeluk Mint. “Eonni! Lihat!!”

Mint tersenyum senang melihat Myungji kegirangan.

Junhyung mengeluarkan hadiah terakhir, sebuah boneka kura-kura. “Dan ini untukmu..”

Mint tertegun Junhyung memberikannya boneka itu.

Junhyung menatap Mint menyesal, lalu berbicara dengan disertai bahasa isyarat. “Maafkan aku mengatakan kura-kuramu hewan menjijikkan..”

Mata Heesun, Dohee, Minjeong dan Myungji membesar dan langsung menatap Junhyung dan Mint bergantian.

Junhyung masih menyodorkan boneka itu berharap Mint akan memaafkannya.

Melihat ketulusan di mata Junhyung, akhirnya Mint tersenyum dan mengambil boneka itu. “Terima kasih..” Ucapnya dengan bahasa isyarat.

Junhyung tersenyum lebar.

Saat itu Heesun menyadari satu hal, Junhyung juga memiliki sisi baik.

=Ruang Rekaman=

Junhyung tersenyum mengingat senyuman Mint padanya. Rasanya semua beban hidupnya sudah hilang. Karena perasaannya sangat baik hari itu, dia langsung menulis sebuah lagu agar tetap bisa mengenang hari itu.

Dujun masuk ke ruang rekaman ketika Junhyung sedang merekam bagian rap untuk lagu yang baru saja dia tulis dan menunggu bersama direktor disana.

Setelah mengulang bagian itu berkali-kali akhirnya Junhyung keluar dengan wajah tidak puas.

“Ada apa? Kau tampak muak dengan karya-mu sendiri..” Ucap Dujun.

Junhyung membanting dirinya ke sofa, “Aaaah.. Apa yang terjadi? Aku merasa lagu ini masih kurang memuaskan..”

Dahi Dujun dan direktor mereka, Joonki berkerut.

Junhyung berusaha memikirkan apa yang kurang dari lagunya.

“Mungkin kau butuh seorang penyanyi untuk berduet di lagu ini..” Usul Joonki.

Junhyung memandang Joonki, “Duet?”

Joonki mengangguk, “Ne, coba kau dengar bagian ini..” Dia memutar bagian rap Junhyung di tengah lagu, “Ini membosankan karena kau terus bercerita mengenai miss turtle-mu itu..”

Dujun tertegun dan menatap Junhyung kaget, “nona kura-kura?”

“Jangan sekarang!” Seru Junhyung pada Dujun.

“Maksudku..” Ucap Joonki menengahi dua pria itu, “..akan terdengar lebih bagus jika ada nyanyian merdu dengan harmonisasi..”

Junhyung memikirkannya sejenak, “Ne.. Kau benar hyung..”

“Jika suara perempuan akan lebih indah..” Ucap Dujun.

“Setuju..” Ucap Joonki.

“Kalian ada ide siapa yang bisa kuajak duet?” Tanya Junhyung.

“Bagaimana jika Jihyun? Actrees-musical itu..” Usul Joonki.

Junhyung tertegun dan menatap Joonki tak percaya, “Hyung, ada usul lain?”

“Kenapa? Menurutku dia sangat cocok, suaranya yang merdu dan berkarakter sangat pas di lagu ini..” Ucap Joonki menjelaskan.

Junhyung memejamkan mata dan menunduk menopang kepala dengan tangan.

Joonki bingung melihat respon Junhyung.

Dujun berbisik pada Joonki, “Itu mantan kekasihnya.. Jangan..”

Mata Joonki membesar, “Ne?”

Dujun mengangguk dan memberi isyarat untuk tidak melanjutkan pembahasan itu.

=Gedung Agency=

Ditengah waktu sibuknya, Hyunseung menyempatkan diri untuk mengundang Heesun dan putri-putrinya berkunjung ke kantor untuk melihat suasana disana sekaligus agar Heesun dapat merasakan bagaimana perasaan yang harus dia masukkan dalam biograpi itu.

“Kalian senang hari ini?” Tanya Hyunseung ketika mereka duduk di ruang pertemuan.

“Ne.. Senang sekali..” Jawab Dohee, Minjeong dan Myungji hampir bersamaan.

Heesun tersenyum mendengar kekompakan putri-putrinya, “Girls, kalian pergi melihat-lihat saja dulu. Eomma akan mewawancarai Hyunseung-ssi lagi.”

“Oke..” Ucap Dohee.

“Sampai nanti oppa..” Ucap Myungji, lalu pergi bersama yang lainnya.

Hyunseung tersenyum, apalagi melihat Mint tersenyum senang bersama yang lain.

Heesun mulai mewawancarai Hyunseung, suasana diantara mereka terasa lebih nyaman sekarang.

20 menit kemudian.

“Errr.. Kim Heesun-ssi, boleh aku bertanya mengenai putri-putrimu?” Tanya Hyunseung.

Heesun memandang Hyunseung bingung, “Ne, ada apa?”

“Mmm.. Begini, aku hanya heran mengapa 3 putrimu memiliki umur yang sama. Dan kulihat sepertinya mereka tidak kembar kan?” Tanya Hyunseung hati-hati.

Heesun tertawa kecil, “Sebenarnya putri kandungku hanya Myungji..”

Hyunseung tertegun, “Jadi, 3 yang lain…”

Heesun mengangguk, “Ne, mereka putri angkatku. Aku mengangkat Dohee saat Myungji berusia 1 tahun. Lalu setahun kemudian mengangkat Minjeong. Terakhir Mint.” Jelasnya.

Hyunseung menatap Heesun serius, “Jadi Mint putri angkatmu?”

Heesun mengangguk lagi, “Meskipun hanya putri angkat, aku menyayangi mereka seperti putri kandungku sendiri. Mereka semua adalah semangat hidupku yang tak akan tergantikan oleh apa pun di dunia ini..” Ucapnya dengan senyuman tulus.

Hyunseung menatap Heesun, bingung harus bagaimana menyampaikan maksudnya. “Tapi, Kim Heesun-ssi. Bolehkah aku bertanya dimana kau mengadopsi Mint?”

Heesun bingung dengan pertanyaan Hyunseung, “Maaf, tapi kenapa kau menanyakannya?”

“Kumohon, katakan dimana kau mengadopsinya..” Pinta Hyunseung.

“Mmm..” Meskipun bingung Heesun tetap menyebutkan sebuah nama panti asuhan dimana dia mengadopsi Mint.

Mata Hyunseung membesar, “Apakah dia keturuan Thailand?”

Dahi Heesun berkerut, “Pihak panti berkata seperti itu..”

Hyunseung membuka jaketnya dan melihat lengan bajunya keatas hingga tanda lahir di bawah lengannya terlihat, “Apakah dia mempunyai tanda lahir seperti ini?”

Sekarang mata Heesun yang yang membesar, lalu menatap Hyunseung tak percaya. “Ne.. Dia.. Dia punya tanda lahir seperti itu di paha kirinya..”

Hyunseung langsung menggenggang kedua tangan Heesun, “Dia adikku, Kim Heesun-ssi..”

Heesun terpaku di tempatnya menatap Hyunseung, “Ne?!”

“Ayahku, setelah berpisah dari ibuku, menikah lagi dengan seorang gadis Thai dan memiliki seorang putri. Tapi mereka mengalami kecelakaan hingga ibuku yang terpaksa menjaga adik tiriku. Namun ketika tau adik tiriku tuna rungu, dia menitipkannya ke panti asuhan..” Jelas Hyunseung, “Aku tau Mint sangat familiar di mataku sejak pertama kali aku melihatnya!”

Heesun benar-benar tak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang. “Tapi, banyak anak yang seperti itu. Tidak mungkin Mint..”

“Dia lahir 23 Juni tahun 1994. Tuna rungu dan campuran Thai? Apakah ada ribuan anak seperti itu?” Tanya Hyunseung.

Heesun tak sanggup menahan air matanya, “Lalu apa yang akan kau lakukan setelah tau dia adikmu? Kau tidak bisa mengambilnya begitu saja karena dia adalah putriku secara hukum!”

“Aniya.. Aku tidak ingin mengambilnya darimu, aku hanya ingin dia tau aku oppa-nya dan dia juga memiliki keluarga..” Ucap Hyunseung.

Heesun menyeka air matanya dan memalingkan wajahnya, sebenarnya dalam hati dia lebih takut Mint ingin kembali pada keluarganya.

“Kim Heesun-ssi, aku tau kau ibu yang sangat menyayanginya. Tapi biarkan aku juga memiliki moment bersamanya. Meskipun saudara tiri, dia tetap adikku.” Ucap Hyunseung setengah memohon.

Heesun menarik tangannya, “Biarkan aku memikirkan ini dulu..” Ucapnya sambil bangkit, “Aku akan menghubungimu lagi nanti..” Ucapnya, lalu melangkah keluar dari ruangan itu.

=Makan Malam=

“Menurutmu, Hyunseung oppa akan menang atau tidak sebagai solois terbaik?” Tanya Dohee pada Myungji.

“Tentu saja.. Dia sangat populer sekarang..” Ucap Myungji yakin.

“Ne, dan rapper terbaik akan di dapatkan Junhyung oppa..” Ucap Minjeong girang.

“Hahaha.. Benar..” Ucap Dohee membenarkan.

Mint menyadari Heesun sejak tadi termenung menatap makanannya, lalu menyenggol bahu Minjeong dan memberi isyarat untuk melihat Heesun.

“Eomma..” Panggil Myungji sambil memandang ibunya bingung, namun tak ada respon. “Eomma..” Panggilnya lagi.

Heesun terkejut, “ne?”

Dahi keempat gadis itu berkerut memandang Heesun.

“Ada apa eomma?” Tanya Dohee ingin tau.

“Hm? Oh.. Ani.. Ayo makan..” Jawab Heesun sambil melanjutkan makannya, namun pikirannya membuat nafsu makannya berkurang drastis. Lalu memandang Minjeong, Dohee dan Mint yang asik makan bersama. “Girls, setelah makan kita bicara di ruang keluarga..” Ucapnya serius.

Keempat gadis itu saling berpandangan bingung.

=Ruang Keluarga=

Heesun duduk di antara keempat putrinya sambil merangkul Myungji yang bersandar padanya,  lalu memandangi para putrinya bergantian.

“Ada apa eomma?” Tanya Minjeong memulai pembicaraan karena Heesun tampak berat memulai.

Heesun menghela nafas berat, “Mmm.. Kalian bertiga sudah beranjak dewasa. Eomma tidak bisa memungkiri kalau kalian sudah bisa memutuskan apa yang akan kalian lakukan di masa depan..” Ucapnya dengan mata mulai berkaca-kaca, dia menghela nafas lagi untuk menetralkan emosinya. “Sejak awal kalian sudah tau kalau kalian putri angkat eomma, jadi eomma akan menghargai keputusan kalian jika….” Bulir air matanya mengalir memikirkan ucapan yang akan dia katakan.

Minjeong, Dohee dan Mint menatap Heesun serius. Mata mereka juga berkaca-kaca melihat ibu mereka menangis.

Heesun menyeka air matanya dan berusaha untuk lebih tegar, “..jika suatu hari nanti kalian menemukan keluarga kandung kalian dan ingin pergi bersama mereka..” Ucapnya sedih dengan kepala tertunduk dan menangis sambil memeluk Myungji.

Bulir air mata Dohee, Minjeong dan Mint mulai berjatuhan.

Dohee memegang tangan Heesun, “Aniya.. Aku tidak akan melakukan itu, karena bagiku eomma dan Myungji adalah keluargaku..”

“Ne, eomma. Aku juga..” Ucap Minjeong.

Mint bangkit dari duduknya dan berpindah ke sebelah Heesun untuk memeluknya erat. Dohee dan Minjeong melakukan hal yang sama.

Heesun menangis sedih sambil mengelus kepala putri-putrinya.

Malamnya.

Heesun berdiri di ambang pintu kamar Mint sambil memperhatikan gadis itu terlelap, dia tidak tau harus bagaimana mengatakan padanya mengenai Hyunseung. Tapi dia juga tak boleh memutuskan hubungan keluarga mereka. Dia benar-benar tak tau apa yang harus dia lakukan.

Part 2>>

Advertisements

2 thoughts on “Can You Hear Me? [Part 1]

  1. Duh… Junhyung nyebelin banget pas pertama… Untung dia mau tobat, ya gk bang joker?? xD tjiee mint kangen ama jok3r nya.. Kalo tau itu junhyung pasti kaget/? Wkwk 😀 kaget waktu tau mint itu adeknya hyunseung…
    Btw thor, ceritanya seru 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s