Uncategorized

U & I

U&I

Cast :

– Kwon Sohyun ‘4minute’

– Jung Ilhoon ‘BTOB’

-Sohyun’s POV-

Aku membuka pagar rumah sambil melangkah keluar, tidak lupa kututup lagi sebelum pergi. Kakiku melangkah meninggalkan rumah seperti biasa. Tak jauh terlihat seorang pria yang mengenakan seragam sekolah yang sama denganku berdiri di dekat tiang listrik sambil memainkan kerikil di kakinya.

Ilhoon menoleh ketika mendengar langkah kakiku, terlihat jelas dia tidak suka menungguku setiap pagi. “Hei.. Kenapa lama sekali?”

Aku tersenyum menyesal sambil garuk-garuk kepala, “Miane.. Tadi eomma memintaku membuang sampah dulu..” Jawabku memberi alasan.

“Khaja..” Ajak Ilhoon dengan gerakan kepalanya dan mulai berjalan.

Aku segera menyamakan langkahku dengan Ilhoon yang memiliki kaki panjang, “Kau tidak lupa membawa baju olahragamu kan?” Tanyaku memastikan.

“Tenang saja, aku bawa..” Jawab Ilhoon.

Aku mengangguk, “Baguslah..”

Apa kalian penasaran mengapa kami pergi bersama? Hihihihi.. Aku dan Ilhoon tinggal di lingkungan yang sama. Hal itu membuat kami selalu bermain bersama, menghabiskan waktu bersama, juga berada di sekolah yang sama sejak sekolah dasar hingga menengah atas. Aku tak tau mengapa kami terus bersama meskipun sekarang sudah bukan anak kecil lagi, tapi kami melakukannya seperti saudara yang secara insting akan saling memperhatikan.

=Jam Olahraga=

Semua siswa kelasku berkumpul di aula olahraga. Aku bukan orang yang mahir melakukan olahraga. Terakhir kali aku bergabung dalam tim voli sekolah, aku membuat lutut kananku cedera hingga membuat Ilhoon tak berhenti mengomel ketika menggendongku pulang.  (-___-“)

“Dengar, pria wanita berdiri berhadapan. Kalian akan dipasangkan agar bisa saling melindungi dan membantu..” Ucap guru Kang.

Aku dan Ilhoon secara spontan langsung berdiri berhadapan. Itu sering terjadi. Meskipun aku juga memiliki temanku yang lain, tapi dia sudah sangat lekat padaku.

“Ulurkan kedua tangan kalian, pegang bahu masing-masing..” Ucap guru Kang lagi.

Ilhoon bisa dengan mudah memegang kedua bahuku, namun aku tak bisa menyentuh bahunya. Aigoo.. Dia tumbuh terlalu cepat.

“Ya.. Rendahkan sedikit..” Bisikku.

Ilhoon menahan tawa sambil sedikit membungkukkan tubuhnya, “Pendek..” Ejeknya.

Ucapan seperti itu sudah tak buruk lagi jika diucapkan Ilhoon padaku, karena itu hanya lelucon yang sering dia ucapkan sejak menyadari tubuhnya menjadi lebih tinggi dariku. Aku hanya tersenyum malu.

“Baik..” Ucap guru Kang lagi, “Lakukan pemanasan kaki..”

Semuanya mulai melakukan pemasanan, olahraga dimulai. Saat teman-teman wanita di kelasku bermain basket, aku hanya berdiri di pinggir lapangan memandangi bola yang di lempar kesana kemari dan mereka yang terus berlari layaknya pemain basket profesional. Aku sama sekali tak tau apa yang harus kulakukan. Sepertinya olahraga memang bukan keahlianku.

“Kwon Sohyun!” Seru guru Kang, membuatku terkejut dan memandangnya. “Kenapa hanya berdiri disana?! Segera bermain!”

Aku mengangguk cepat dan bergabung dengan kerumunan teman-temanku, namun aku tak tau harus melakukan apa.

“Yes!! Yuhuuuuuuu!!!” Sorak Hyunsik di lapangan basket pria.

Kepalaku menoleh ke arah tim pria dan melihat Hyunsik merayakan sesuatu sambil berpelukan girang, sepertinya dia berhasil memenangkan permainan itu. Kepalaku menoleh ke sisi lain lapangan, tampak Ilhoon membungkuk sambil mengatur nafasnya. Keringat memenuhi wajahnya. Tapi ini aneh sekali. Dia kalah saat bermain basket? Apa yang terjadi?

Beberapa teman kelas priaku yang lain menghampiri Ilhoon dan mengatakan sesuatu untuk menyemangatinya, dia hanya tersenyum tipis sambil mengangguk.

Duk!!!

Sesuatu yang keras mengenai kepalaku!! Membuatku terduduk di lantai sambil meringis sakit dan memegang kepalaku, “Awwww..” Rintihku.

“Kwon Sohyun!! Jangan melamun seperti itu!!” Ucap Guru Kang.

Aku memandang ke asal suara Guru Kang, ternyata tadi ada seseorang yang mengoper bola padaku. Aku hanya menunduk menyesal sambil tetap mengelus kepalaku.

Ilhoon menghampiriku sambil tertawa, “Ya.. Kenapa kau tidak memperhatikan bolanya?” Tanyanya.

Aku tak bisa mengatakan apa pun. Perlahan aku bangkit dengan wajah cemberut pada Ilhoon. Dia tak pernah berubah, seharusnya semakin dewasa dia menjadi pria gentleman yang akan membantu gadis sepertiku. Tapi hanya menertawaiku.

Tawa Ilhoon memudar, berubah dengan wajah meringis menahan sakit sambil memegang pundaknya.

Aku menatapnya bingung, “Wae?”

Ilhoon menggeleng, namun aku tau dia kesakitan.

Dia benar-benar membuatku khawatir, “Ilhoon-a, waeyo?” Tanyaku sambil memegang lengannya.

Ilhoon memejamkan matanya menahan sakit, dia agak membungkuk sambil tetap memegang pundaknya. Dahinya sampai bersandar ke bahuku.

“Ya! Ini tidak lucu! Ilhoon-a!!” Ucapku, berharap dia hanya bercanda. Tapi jika memang bercanda, aku akan menendang pantatnya!

“Aaaah..” Rintih Ilhoon.

Guru Kang datang mengahmpiri kami, “Ada apa ini?”

“Sam.. Ilhoon…” Aku tak sempat menyelesaikan ucapanku karena tubuh Ilhoon merosot jatuh, “Omo!! Ilhoon-a!!” Seruku kaget.

Ilhoon terbaring di lantai tak sadarkan diri, “Ilhoon!! Jung Ilhoon!” Panggilku sambil berlutut di sebelahnya dan memegang kedua pipinya.

Namun tak ada respon dari Ilhoon, dia tetap berbaring seperti tak bernyawa.

Setelah di bawa ke ruang kesehatan, ibu Ilhoon datang. Dia terlihat sangat khawatir, tentu saja. Karena Ilhoon masih merasa sakit ketika tersadar, dia dibawa ke rumah sakit oleh ibunya.

=Keesokan harinya=

Aku tak bisa tidur karena tak mendapatkan kabar apa pun mengenai Ilhoon, dia juga tak ada di rumah ketika aku mendatanginya.

Suasana di meja makan tenang seperti biasa. Appa akan menikmati sarapan sambil membaca koran. Jihyun eonni sarapan sambil sibuk dengan ponselnya, hanya eomma yang menyadari ekspresiku.

“Sohyun-a, eomma mendengar kalau Ilhoon sakit. Benarkah?” Tanya eomma.

Aku memandang eomma dan mengangguk sedih, “Ne eomma, dia pingsan di sekolah kemarin..”

Eomma menatapku dalam dan memegang punggung tanganku. Eomma pasti tau aku sangat khawatir akan keadaan Ilhoon. Bagaimana tidak? Aku mengenal Ilhoon sejak kami sama-sama masih mengenakan popok. Jika aku sedih, dia akan mendatangiku dan menghiburku. Begitu juga sebaliknya.

Aku berencana menjemput Ilhoon ke rumahnya, agar aku tau mengapa dia sakit kemarin. Namun sebelum aku menekan bel di luar pagar rumahnya, pintunya terbuka. Aku tertegun melihat Ilhoon keluar dengan pakaian seragamnya seperti biasa. Dia terlihat bingung melihatku di depan rumahnya.

“Sohyun-a? Kenapa kau disini?” Tanya Ilhoon.

“Mmm.. Aku khawatir kau tidak sekolah hari ini..” Jawabku.

Ilhoon tersenyum jahil, “Aigoo.. Kau sepertinya sangat takut terjadi sesuatu padaku..” Ledeknya.

Aku sangat kesal mendengar ucapannya, “Ya! Aku kan temanmu! Tentu saja aku khawatir!!”

Ilhoon menutup mulutnya menahan tawa, “Berlebihan..” Ucapnya, lalu merangkul leherku dan berjalan.

“Aissh!! Aku akan pergi sendiri!! Sana!!” Ucapku sambil mendorongnya menjauh, lalu melangkah cepat meninggalkannya.

Ilhoon tertawa sambil menyamakan langkah kami, “Ya.. Kwon Sohyun.. Jangan tinggalkan aku..”

Aku sangat kesal pada Ilhoon. Aku sampai tak tidur karena terlalu khawatir, tapi dia menertawaiku. Aku tak berbicara padanya hingga tiba di sekolah. Hampir semua orang menghampirinya dan bertanya bagaimana keadaannya. Dia tersenyum cool dan menjawab dia hanya terlalu lelah dan sedikit menderita sakit tulang belakang. Sial! Dia menjelaskannya pada orang di kelas tapi tidak padaku! Aku tak percaya memikirkannya sepanjang malam! Kau benar-benar Jung Ilhoon!!

Ketika pulang, aku tidak menunggu Ilhoon dan terus berjalan pulang.

“Sohyun.. Sohyun-a..” Panggil Ilhoon sambil mengejarku.

Aku tak mempedulikannya dan terus melangkah pergi.

“Kwon Sohyun!” Panggil Ilhoon sambil berlari ke hadapanku.

Aku menatap Ilhoon kesal, “Mwo?!”

Ilhoon menatapku tak mengerti, “Wae? Kau tak mempedulikanku seharian ini..”

“Aku tidak akan mempedulikanmu!!” Ucapku kesal, “Kau tau?! Aku tak tidur semalaman karena sangat khawatir padamu! Tapi kau malah tertawa begitu melihat wajahku!! Kau juga tidak mengatakan apa pun apa yang terjadi padamu tapi memberitau semua orang di kelas! Aku tidak akan membuang waktu mempedulikanmu!!” Ucapku panjang lebar mengungkapkan kekesalanku dan berjalan pergi.

“Ne?” Ucap Ilhoon bingung dan segera mengikutiku, “Ya..” Panggilnya, “Aku tidak memberitaumu karena kau tidak bertanya..” Ucapnya heran.

“Lupakan! Lagi pula aku tidak mau tau!” Ucapku kesal.

Ilhoon menarik tanganku dengan satu sentakan keras hingga aku berbalik menghadapnya, kedua matanya langsung menatapku dengan dahi berkerut. “Mwo? Kenapa kau seperti ini? Maafkan aku jika aku menertawaimu, tapi aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin bercanda seperti biasa..”

Aku menatapnya marah, ini pertama kalinya aku benar-benar mengungkapkan rasa marahku padanya.

“Sohyun-a..” Bujuk Ilhoon.

“Omo.. Ilhoon-a..” Ucap beberapa gadis yang berlalu sambil menghampiri Ilhoon, “Gwenchana? Kudengar kemarin kau pingsan..” Ucap mereka khawatir.

Aku menatap para gadis itu kesal, apa mereka tidak tau kami sedang berbicara?! Aku menatap Ilhoon yang tampak tersenyum cool dan senang menjadi pusat perhatian. Aisssh!! Aku segera berbalik dan berjalan pergi.

“Ya.. Sohyun.. Sohyun-a..” Panggil Ilhoon.

=Kamar Sohyun=

Tok! Tok! Tok!

Aku yang sedang mengerjakan PR di meja belajar menoleh ke pintu kamarku.

“Sohyun.. Kau tidur?” Tanya Ilhoon dari luar, lalu pintu terbuka dan muncul dia dari baliknya.

Aku tak menjawab sambil menatapnya sebal.

Ilhoon tersenyum canggung, lalu masuk sambil sesekali melirikku. Karena kami sudah bersahabat sejak lama, dia bisa dengan leluasa masuk kamarku dan duduk di pinggir tempat tidurku.

“Wae?” Tanyaku karena Ilhoon tampak canggung.

“Mmm.. Kau masih marah padaku?” Tanya Ilhoon.

Aku hanya menatapnya sebal, memangnya dia tidak bisa melihat?

Ilhoon canggung dan mengelus belakang kepalanya, “Mian..” Ucapnya menyesal.

Melihat wajah menyesalnya membuatku bingung harus bagaimana.

“Aku hanya tidak tau bagaimana caranya mengatakan padamu..” Lanjut Ilhoon, “Habis, kau selalu khawatir. Aku takut kau terkejut jika aku mengatakannya..”

Aku melipat kedua tanganku di dada, “Aku terkejut karena kau sakit tulang belakang?” Tanyaku tak mengerti.

Ilhoon memandangku ragu dan lalu menggeleng.

“Lalu?” Tanyaku lagi.

Ilhoon tampak bingung mengatakan maksudnya, “Mmm.. Aku..” Dia memalingkan wajahnya, “…kanker tulang belakang..” Ucapnya pelan, namun cukup jelas untukku dengar.

Aku terdiam mendengar ucapannya. Dahiku berkerut, tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. “Mwo?”

Ilhoon kembali memandangku. Aku bisa melihat keseriusan dalam ekspresinya, tapi benarkah?

“Ilhoon-a?” Ucapku tak percaya sambil berdiri dan berpindah duduk ke sebelahnya, “Kau tidak serius kan?”

Ilhoon menunduk sedih sesaat, lalu kembali memandangku. “Kuharap aku bisa bercanda kali ini..”

Aku tak tau apa yang harus kukatakan, ini tidak mungkin terjadi. Ilhoon baik-baik saja selama ini. Aku tau dia baik-baik saja! “Sejak kapan?”

Ilhoon menunduk, “Awal tahun ini..”

Ucapannya membuatku semakin terkejut, “Ne?!” Seruku kaget, lalu memegang kedua bahunya dan menatapnya. “Awal tahun ini?!! Bagaimana mungkin?!!”

Ilhoon terus menunduk, menghindari tatapanku. “Aku tidak pernah memberitau siapa pun awalnya, tapi rasa sakit di punggung dan pinggangku terus bertambah. Akhirnya aku memberitau ibuku dan memeriksakan diri ke rumah sakit..” Ceritanya, lalu memandangku menyesal. “Saat itu aku tau ada sel kanker di tulang belakangku..”

Sekelilingku terasa seperti ada angin tornado kencang dan hujan beserta petir yang menyambar-nyambar. Bulir air mataku terjatuh begitu saja menatap Ilhoon. Aku tak percaya sahabatku menderita penyakit mengerikan itu, “Kenapa kau tidak memberitauku?”

Ilhoon kembali menunduk sedih, “Aku ingin memberitaumu setiap ada kesempatan, tapi aku tidak tau harus mengatakannya dengan ekspresi seperti apa..”

Air mataku terus berjatuhan memandang Ilhoon. “Pabo! Kita sudah lama bersahabat tapi kau baru mengatakannya padaku sekarang?!” Tanyaku kesal, lalu memeluknya dan menangis di bahunya.

Ilhoon memelukku dan membiarkanku menangis di bahunya, “Gwenchana, dokter bilang aku mungkin bisa bertahan dengan kemoteraphy dan obat-obatan..” Ucapnya.

Aku benar-benar sedih saat ini, kenapa harus sahabatku? Masih banyak orang lain didunia ini. Meskipun dia menyebalkan, tapi dia sahabatku.

Sejak saat itu, aku selalu memperhatikan Ilhoon. Dia tak mengatakan pada siapa pun mengenai penyakitnya disekolah, hanya padaku. Aku juga ikut mengantarkannya ketika kemoterapy. Semakin hari dia terlihat semakin kurus. Tak bisa melakukan sesuatu yang berat karena tubuhnya tak sesehat dulu.

=Sekolah=

Karena mengikuti kemoteraphy, Ilhoon jadi sering lelah dan juga tampak pucat.

“Ilhoon-a, ini.. Aku membawakan makanan buatan ibuku..” Ucapku sambil membuka tempat bekalku dan menyodorkannya pada Ilhoon yang duduk di hadapanku.

Ilhoon melihat isi tempat bekalku, “Ibumu? Wuaaaa..” Ucapnya sambil mengambil sumpit dan mencicipi makanan yang di buat ibuku.

“Kemarin, dokter berkata kau harus menjaga makananmu. Jadi aku membawa ini agar kau tidak perlu jajan sembarangan..” Ucapku.

Ilhoon tersenyum memandangku sambil mengunyah makanan di mulutnya, “Gumawoyo, yobo..” Candanya, seolah-olah aku adalah istrinya.  (-___-“)

Aku tersenyum malu. Meskipun aku tau dia hanya bercanda, tetap saja aku tersipu mendengar ucapan seperti itu.

Seorang gadis berlalu di samping meja yang kududuki bersama Ilhoon, sahabatku itu menoleh dan memperhatikan gadis cantik berambut panjang itu.

Aku ikut memperhatikan gadis bernama Kim Hyuna yang memang primadona sekolah itu.

“Hmm.. Pasti menyenangkan jika berkencan dengannya..” Ucap Ilhoon padaku, lalu tertawa kecil.

Aku memandang Ilhoon kaget, “Ne?”

Ilhoon tampak senang melihat ekspresiku, “Bercanda.. Hahahaha..”

Namun, aku tak memikirkan seperti apa yang dia pikirkan. “Kau menyukainya?”

Ilhoon memandangku bingung, “Keurom.. Siapa yang tidak menyukainya?” Tanyanya, lalu tersenyum dan kembali makan.

Aku tidak tau apa yang harus kurasakan saat itu. Haruskah aku cemburu? Tapi aku bukan kekasihnya. Atau aku harus marah? Tapi kenapa? Juga aku tak mungkin membencinya karena itu. Satu pilihan yang kupunya, membantunya! Dia ingin berkencan dengan Hyuna, aku harus membantunya..

Keesokan harinya.

Aku berdiri di depan kelas Hyuna sambil mengintip ke dalam. Di kelasnya banyak sekali anak-anak keren seperti dia. Akhirnya aku melihat Hyuna duduk di meja depan. Perlahan aku masuk dan berjalan menghampiri mejanya, “Anyeong..” Sapaku.

Hyuna mengangkat wajahnya memandangku, “Ne?”

“Mmm.. Bisakah kita berbicara sebentar?” Tanyaku pelan.

Hyuna tampak bingung sesaat, “Hmm.. Baiklah..”

Aku melangkah keluar bersama Hyuna dan berhenti di koridor untuk berbicara.

“Waeyo?” Tanya Hyuna.

“Mmm.. Hyuna-ssi, bisakah kau membantuku?” Tanyaku, dahi Hyuna berkerut dengan kepala berat ke satu sisi. “Maaf, kita memang belum mengenal. Tapi aku hanya ingin kau melakukan sesuatu, aku yakin kau tidak akan menyesal melakukannya..”

“Melakukan apa?” Tanya Hyuna.

Aku mengeluarkan ponselku dan menunjukkan photo Ilhoon, “Kau mengenalnya kan?”

Hyuna memandang photo itu, lalu memandangku. “Ne.. Dia Jung Ilhoon, kapten tim basket sekolah..”

“Mantan kapten..” Ucapku memperbaiki.

Hyuna tersenyum, “Ne.. Itu..”

“Mmm.. Aku ingin kau mau berkencan dengannya..” Ucapku hati-hati.

Hyuna tampak bingung, “Wae?”

“Maaf, kau pasti bingung..” Ucapku, “Tapi Ilhoon sering berkata kalau kau sangat menarik, tapi dia terlalu malu untuk mendekatimu..”

“Dan dia memintamu yang melakukannya?” Tanya Hyuna tak percaya.

“Ani.. Ani.. Bukan seperti itu..” Jawabku cepat, “Besok adalah hari ulang tahunnya, sebagai teman dekatnya aku ingin memberikan kejutan. Karena itu, aku ingin kau berkencan dengannya.. ” Jelasku.

Hyuna diam sejenak, lalu tersenyum. “Oh.. Begitu..”

“Kau mau kan?” Tanyaku penuh harap.

Hyuna mengangguk, “Aku sangat menghargai pertemanan, jadi aku akan melakukannya..”

Senyum lebar langsung terbentuk di bibirku, “Jinja? Wuaaa.. Gamshamida..” Ucapku senang.

=Taman Hiburan=

“Tumben sekali kau mengajakku kesini..” Ucap Ilhoon heran. Hari ini dia mengenakan jaket dan topi yang membuatnya terlihat lebih cool.

Aku tersenyum, “Bukankah menyenangkan jika kita pergi seperti ini? Kau kan sudah pergi kemoteraphy hampir setiap hari, jadi aku ingin kau juga menghabiskan waktumu dengan perasaan senang..” Ucapku.

Ilhoon tertawa kecil, “Jinja? Ahhh.. Atau kau ingin berkencan denganku?” Tanyanya.

Aku tertawa, “Memangnya untuk apa kita pergi berkencan? Kita kan sudah bertemu setiap hari..” Ucapku lucu.

Ilhoon tersenyum lebar dan menatapku, “Seharusnya kau senang menjadi gadis pertama yang berkencan denganku..” Ucapnya bangga.

Ucapan Ilhoon membuatku tertegun. Dia benar, dia kan belum pernah berkencan dengan seorang gadis sebelumnya. Hatiku terasa aneh karena aku tidak akan menjadi gadis pertama yang berkencan dengannya, tapi Hyuna. Aku tersadar dari lamunanku ketika merasakan dahiku membentur sesuatu namun tak terasa sakit. Aku terkejut dan menyadari Ilhoon manahan dahiku dengan tangannya karena hampir membentur sebuah stand.

Ilhoon memandangku bingung, “Ada apa denganmu? Aku tidak bisa menggendongmu pulang jika kau pingsan disini..” Ucapnya.

Aku memegang dahiku sambil memandang Ilhoon sebal, “Kenapa tidak memberitauku saja?”

Ilhoon tertawa kecil, “Sudahlah, ayo.. Aku ingin naik komedi putar..” Ajaknya.

Aku kembali teringat rencanaku mengajaknya kemari. Ilhoon harus bertemu Hyuna di komedi putar. “Ilhoon-a..” Panggilku.

Ilhoon berhenti dan memandangku, “Wae?”

“Mmm.. Aku ingin ke toilet dulu.. Kau duluan saja ke komedi putar..” Ucapku.

“Ohh.. Keure.. Jangan terlalu lama..” Ucapnya dan melangkah diantara orang-orang menuju komedi putar.

Aku memperhatikannya melangkah pergi. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari belakang, fisiknya benar-benar berubah drastis. Melihatnya seperti ini membuat air mataku hendak jatuh lagi, namun aku tak ingin menangis. Aku harus tegar untuk terus mendukungnya melawan penyakitnya itu.

=Kamar Sohyun=

Aku terus memikirkan bagaimana Ilhoon dan Hyuna. Apakah mereka benar-benar berkencan?

Sebuah pesan masuk ke ponselku, dengan cepat aku membuka pesan itu dan melihat sebuah photo yang dikirimkan Ilhoon padaku. Itu photo Hyuna dan dia di komedi putar. Jadi mereka benar-benar berkencan? Kenapa aku malah merasa sesak? Seharusnya aku senang Ilhoon mendapatkan keinginannya. Tapi, kenapa bulir air mataku berjatuhan seperti ini?? Mengapa bukan aku yang berada disana?? Kenapa aku malah menyesalinya?? Ada apa denganku?!

=Perjalanan Pulang=

Aku berjalan di sisi Ilhoon seperti biasa. Rasanya apa pun yang kukatakan tidak akan berguna kali ini. Aku melihatnya menggerak-gerakan lehernya sambil memijat pundaknya, sepertinya dia merasa kesakitan lagi. “Ilhoon-a, apakah tasmu berat? Aku akan membawakannya..” Ucapku sambil mengambil tasnya.

Ilhoon tersenyum sambil menggeleng, “Aniya.. Gwenchana..” Jawabnya.

“Kau meminum obatmu tepat waktu kan?” Tanyaku.

Ilhoon menatapku lucu. Meskipun sekarang lebih tirus, senyumannya tetap terlihat manis.

Aku tidak tau sejak kapan, tapi senyumannya selalu membuatku tersipu.

“Oh iya, Hyuna bilang kau yang merencanakan kencan di komedi putar itu. Benarkah?” Tanya Ilhoon.

Aku tertegun, lalu tersenyum dan mengangguk.

Ilhoon merangkul leherku dan tersenyum lebar. “Gumawoyo, Sohyun-a..” Ucapnya girang.

Ini tak pernah terjadi. Tapi aku merasakan sesuatu hancur berantakan di dalam dadaku. Aku tetap mempertahankan senyumanku, “Ne..”

“Kau tau? Kemarin adalah hari terbaik dalam hidupku!” Ucap Ilhoon senang.

Kali ini ucapan Ilhoon benar-benar menusuk hatiku. Kemarin adalah hari terbaik dalam hidupnya? Jadi selama ini bersamaku hanya hari biasa yang akan terlupakan begitu saja?

“Aku akan membelikanmu hadiah karena membuatku berkencan dengan Hyuna, ayo..” Ajak Ilhoon.

Aku menahan langkahku dan melepaskan rangkulannya dari leherku.

Ilhoon memandangku bingung, “Wae?” Tanya Ilhoon.

Apa yang kulakukan sekarang? “Mmm.. Mungkin lain kali, aku merasa tidak enak badan sejak pagi..” Ucapku memberi alasan.

Ilhoon tertegun dan menatapku serius, “Ne? Jinja? Wae?” Tanyanya.

Aku tersenyum tipis, “Mungkin karena aku kurang tidur akhir-akhir ini..” Jawabku, “Aku akan langsung pulang dan beristirahat. Kau juga harus segera beristirahat.. Sampai besok, Ilhoon-a..” Ucapku sambil melambai dan melangkah pergi menuju rumahku.

Tapi keesokan harinya, Ilhoon tidak memberitauku jika jadwal kemoteraphynya di majukan. Ketika aku tiba dirumahnya, dia sudah pergi bersama ibunya. Jadi aku menunggu dirumahnya. Tidak biasanya dia tidak memberitauku, biasanya dia yang selalu mengingatkanku untuk ikut. Akhirnya mereka kembali ke rumah setelah hampir pukul 9 malam.

Aku segera menyambut mereka, namun aku terkejut melihat Hyuna membantu Ilhoon berjalan masuk rumah.

“Hati-hati Ilhoon-a..” Ucap Hyuna yang memapah Ilhoon.

Aku memandang Ilhoon yang tampak lemah seperti biasa jika kembali dari kemoteraphy, lalu kembali memandang Hyuna.

“Oh, Sohyun-a.. Kau sudah lama menunggu?” Tanya ibu Ilhoon.

“Aniya, ahjumma..” Jawabku.

Ilhoon memandangku, “Sohyun-a..” Ucapnya pelan.

“Hyuna-a, bisa bawa Ilhoon ke kamarnya? Dia pasti sangat lemah sekarang..” Ucap ibu Ilhoon.

“Ne..” Jawab Hyuna, “Ayo Ilhoon-a..” Ajaknya dan membawa Ilhoon ke kamarnya.

Ilhoon masih memandangku, “Sohyun-a..” Panggilnya lemah.

Aku tak percaya Ilhoon memberitau Hyuna sedangkan aku tidak. Dia benar-benar tak mengingatku.

“Sohyun-a, kau sudah makan malam?” Tanya ibu Ilhoon padaku.

“Ahjumma, aku harus segera pulang. Eomma bisa khawatir jika aku tidak pulang juga..” Ucapku cepat.

“Ne? Kau tidak ingin menemani Ilhoon dulu?” Tanya ibu Ilhoon.

Aku tersenyum, “Besok kami akan bertemu di sekolah, sekarang dia butuh istirahat..” Ucapku, lalu membungkuk sopan dan segera melangkah cepat keluar dari rumah Ilhoon.

Ada apa denganku? Dadaku terasa sangat sakit. Bulir air mataku mengalir begitu saja dari mataku. Ketika masuk rumah aku tak mengatakan apa pun dan langsung berlari masuk ke kamarku.

Tak lama pintu kamarku terbuka, muncul Jihyun eonni dengan wajah khawatirnya. “Sohyun-a.. Waekeure?” Tanyanya sambil duduk di sebelahku.

Aku sendiri tak tau apa yang terjadi padaku. Aku memeluk Jihyun eonni dan menangis, mengeluarkan rasa sakit di dadaku.

Jihyun eonni mengelus punggungku lembut, “Waeyo? Sesuatu terjadi pada Ilhoon?” Tanyanya.

Namun aku terlalu sedih untuk menjawab. Aku benar-benar tak tau apa yang harus kujawab.

=Kelas=

Ilhoon duduk disebelahku sambil memandangku bingung, “Kau baik-baik saja?”

Aku memandang Ilhoon bingung juga, “Memangnya aku kenapa?”

“Kau pergi begitu saja semalam.. Padahal aku ingin kau menemaniku sebentar..” Ucap Ilhoon sebal.

Bibirku membentuk senyuman kecut, “Bukankah sudah ada Hyuna..” Ucapku, berusaha terdengar lucu.

Ilhoon tersenyum dan menahan tawa, “Tapi kan aku juga ingin kau ada di sisiku..”

Aku tertegun, “Wae?”

Ilhoon diam sejenak, “Karena kau sahabat terbaikku..”

‘Tidak Ilhoon! Aku tidak ingin menjadi sahabatmu lagi!’ Batinku, “Ohh..”

Ilhoon memperhatikan meja dan tasku, “Kau tidak membawa bekal hari ini?”

Aku menggeleng. Karena sejak semalam perasaanku tidak enak, aku tidak ingin melakukan apa pun lagi.

Ilhoon cemberut dan duduk lesu di kursi, “Ahhh.. Berarti aku akan puasa selama di sekolah..”

“Wae? Pergi saja ke kafetaria..” Ucapku heran.

Ilhoon memandangku, lalu tersenyum lebar. “Aku tidak akan makan makanan yang tidak dibawakan oleh istriku..” Candanya.

Aku menatapnya aneh, namun kuakui lelucon itu membuatku selalu tertawa. “Pffff.. Siapa yang istrimu?”

Ilhoon tertawa kecil, “Kau ada rencana sepulang sekolah nanti?”

“Mmm.. Aku belum memikirkannya.. Wae?” Tanyaku.

Ilhoon tersenyum, “Kita naik komedi putar.. Yaaaa.. Yaaaa.. Yaaaa..” Bujuknya.

Dahiku berkerut, “Kenapa tidak mengajak Hyuna saja?” Tanyaku heran.

“Dia ada kelas tambahan hari ini, jadi aku akan pergi denganmu.” Jawab Ilhoon.

Dahiku semakin berkerut, “Mwo? Kau mengajakku karena Hyuna tidak bisa?”

“Aigoo.. Kau sedang datang bulan ya? Kenapa sensitif sekali?” Tanya Ilhoon kesal, “Ani.. Aku memang ingin pergi denganmu. Mau ya..” Bujuknya lagi.

Karena Ilhoon berkata memang ingin pergi denganku, aku hanya mengangguk setuju.

=Taman Bermain=

Aku duduk di atas kuda komedi putar, sementara Ilhoon berdiri di belakangku. Dia berkata tidak keren jika dia juga duduk, jadi dia akan berperan sebagai kesatria yang melindungiku. 🙂 dia tak pernah kehilangan rasa humornya.

Kedua tangan Ilhoon berpegangan di tiang bersama dengan tanganku, “Wuaah.. Ini menyenangkan sekali..” Ucapnya senang.

Aku tersenyum dan memandangnya, meskipun ini bukan kencan, aku senang menghabiskan waktu disini bersamanya.

Satu tangan Ilhoon mengambil ponsel dan mengarahkannya kepada kami. Aku tersenyum manis dengan satu tangan membentuk V di pipiku. Ilhoon tersenyum sambil menempelkan pipinya di pelipisku dan mengambil gambar itu.

Ketika pulang, Ilhoon terlihat mengelus pundaknya lagi. Pasti terasa sakit lagi. “Ilhoon-a, sakit?” Tanyaku.

Ilhoon memandangku sambil tersenyum, “Sedikit..”

“Aku akan membawakan tasmu.. Berikan padaku..” Ucapku sambil menarik tas Ilhoon.

Ilhoon segera menghindari tanganku, “Aniya.. Aku bisa membawanya..”

“Tapi, punggungmu pasti sangat sakit..” Ucapku khawatir.

Ilhoon tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya. “Aku hanya sedikit pusing.. Tolong pegang tanganku, aku takut akan salah melangkah nanti..”

Aku segera menggenggam erat tangannya, “Ayo, aku akan mengantarkanmu sampai rumah..” Ucapku, lalu berjalan bersamanya tanpa melepaskan genggaman tangan kami.

Setibanya di depan rumah Ilhoon.

“Perlu kuantarkan sampai kamarmu?” Candaku.

Ilhoon tertawa kecil, “Ani.. Kau juga harus pulang kan..” Ucapnya.

Aku tertawa, “Ne.. Sampai jumpa besok..” Ucapku sambil melambai dan melangkah menuju rumahku.

Aku benar-benar senang hari ini. Seperti ada bunga-bunga yang berterbangan di sekitarku. Ini adalah hari terbaik di hidupku. Aku akan selalu mengingatnya. Kyaaaa!! Ilhoon juga memintaku menggenggam tangannya!!

Tapi Ilhoon tidak muncul di sekolah keesokan harinya. Ketika di hubungi ponselnya tidak aktif. Ada apa dengannya? Apakah sakitnya semakin parah?

Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui kalau semalam Ilhoon pingsan dan sekarang harus menginap dirumah sakit. Aku pergi ke rumah sakit secepat yang kubisa. Berharap dia tidak dalam masalah besar.

Aku melihat ibu Ilhoon berdiri di depan sebuah ruang perawatan dengan wajah sedih, aku segera menghampirinya. “Ahjumma! Bagaimana keadaan Ilhoon?”

Ibu Ilhoon menatapku sedih, “Dia harus dirawat, sel kankernya sudah menyebar sampai ke jantung dan paru-parunya..” Jawabnya berat.

Mataku membesar, “Ne?!”

Ibu Ilhoon menunduk dan tampak bulir air berjatuhan. Begitu juga dengan bulir air mataku. Aku melangkah maju dan memeluk ibu Ilhoon. Dia seorang wanita tegar, namun tetap membutuhkan pelukan untuk menguatkannya disaat seperti ini. Aku berusaha tegar, aku tau ibu Ilhoon adalah orang paling terpukul dengan berita ini.

=Beberapa Hari Kemudian=

Aku baru bisa bertemu Ilhoon setelah beberapa hari karena ibunya berkata dia harus berada di ruang steril. Sekarang dia sudah berada di kamar perawatan biasa, itu berarti dia sudah membaik. Kuharap.

Aku duduk di sebelah tempat tidur sambil mengupas jeruk dan memberikannya pada Ilhoon. Ibuku dan Ibu Ilhoon sedang mengobrol, jadi aku bisa leluasa berbicara dengan Ilhoon. “Masih sakit?”

Ilhoon tersenyum sambil mengunyah jeruk di mulutnya, “Ani.. Dokter bilang aku bisa segera keluar dari rumah sakit..”

Bibirku langsung membentuk senyuman, “Ne? Jinja?”

Ilhoon tersenyum, “Ne..”

“Wuaaa.. Berarti kau sudah membaik..” Ucapku senang, “Ini.. Aaaa..” Ucapku sambil memasukkan jeruk ke mulut Ilhoon.

Ilhoon tertawa kecil, “Ne..” Ucapnya senang.

Malam itu aku yang akan menemani Ilhoon, karena ibu Ilhoon terlihat sangat kelelahan. Dengan begitu aku juga bisa memperhatikan Ilhoon. Hehehe..

Aku memperhatikan Ilhoon yang terlelap akibat pengaruh obat yang dia minum. Bibirku tersenyum memandang dadanya yang masih bergerak naik turun, itu berarti dia masih hidup. “Ilhoon-a, jangan menyerah. Kita masih harus masuk ke universitas bersama dan bekerja di tempat yang sama juga..” Ucapku sendiri dan tertawa kecil. Tak lama, aku mulai merasa ngantuk dan tertidur.

………………………………………………

“Ngoeeng.. Ngooong…” Dengungan sesuatu itu mengganggu tidurku. Bukan hanya itu, ada sesuatu yang bergerak-gerak di wajahku.

“Hmm..” Gumamku sambil mengernyitkan dahi.

“Hmmmpff!!” Terdengar seseorang menahan tawa, “ngoeng.. Ngoooooeeeng.. Ngoeeeeeng..” Dengungan itu kembali muncul.

Aku membuka mata dan melihat Ilhoon menarik tangannya yang memegang spidol hitam. Aku segera menyadari apa yang dia lakukan, dia mencoret wajahku!! “Ilhoon!!” Seruku kesal ketika memandang pantulan wajahku di cermin di dinding.

“Hahahahhahahaha..” Tawa Ilhoon sambil memegang perutnya.

“Ya!!! Aisssh!!” Seruku kesal sambil memukul bahunya pelan.

“Kau seperti bajak laut Sohyun..” Ucap Ilhoon sambil menunjuk wajahku.

“Ya!!” Ucapku semakin kesal. Dia membuat gambar-gambar aneh di pipiku! Jika dia tidak sedang di rawat, aku akan membalasnya!

=Sepulang Sekolah=

Aku melangkah cepat keluar sekolah karena ingin segera tiba di rumah Ilhoon. Dia belum bisa datang kesekolah, jadi aku akan datang ke rumahnya.

Ponselku berbunyi, aku segera mengambilnya dan melihat siapa yang memanggil. Ternyata Ilhoon, tentu saja aku segera mengangkatnya. “Ne, Ilhoon-a..” Sapaku.

“Sohyun-a.. Aku ingin pergi ke suatu tempat, ayo pergi bersama..” Ajaknya langsung ceria.

Dahiku berkerut, “Pergi? Kau kan baru kembali ke rumah..”

“Ne, tapi aku bosan sekali..” Ucap Ilhoon.

“Aku hampir tiba di rumahmu, nanti kita main video game saja..” Usulku, membuatnya lebih ceria.

“Ani.. Jangan ke rumahku.. Aku sudah menunggumu di dekat halte bis..” Ucap Ilhoon cepat.

Langkahku terhenti, “Mwo?! Ya!!” Seruku kesal.

“Hehehehe.. Cepatlah.. Aku menunggumu..” Ucap Ilhoon dan memutuskan telepon.

Aku terkejut menatap ponselku, “Aissh.. Micheoso!” Gumamku kesal, lalu segera berbalik dan pergi ke halte bis yang biasa aku dan Ilhoon lewati ketika pergi sekolah.

Ilhoon duduk dengan kedua tangan masuk ke saku jaket. Kepalanya tertutupi tudung jaket.

“Ilhoon-a..” Panggilku sambil menghampirinya.

Ilhoon menoleh dan tersenyum, “Sohyun-a..” Ucapnya sambil berdiri.

“Kenapa kau disini? Ibumu tau kau pergi? Kau kan baru pulang dari rumah sakit..” Ucapku khawatir.

Ilhoon tersenyum lebar, “Gwenchana.. Khaja..” Ajaknya sambil menarik tanganku pergi.

“Mau kemana?” Tanyaku bingung.

“Ikut saja..” Jawabnya sambil tetap tersenyum, mencurigakan..

Ternyata dia membawaku ke sebuah pet shop. Ini sangat membingungkan..

Ilhoon langsung menghampiri aquarium kura-kura kecil yang lucu, “Sohyun-a.. Lihat.. Itu lucu sekali..” Ucapnya sambil menunjuk seekor kura-kura yang berkumpul di sudut aquarium.

Aku tersenyum, “Ne..”

“Aku akan membelinya..” Ucap Ilhoon girang.

Aku menatapnya kaget, “Ne?”

Ilhoon tersenyum lebar, “Cokiyo..” Panggilnya pada seorang karyawan.

“Ne..” Jawab seorang pria itu, “Ada yang bisa kubantu?”

“Aku ingin membeli sepasang kura-kura ini..” Ucap Ilhoon sambil menunjuk aquarium itu.

“Baik..” Jawab pria itu dan langsung mengambilkan sepasang kura-kura itu.

“Ya.. Kau serius?” Tanyaku bingung.

“Keuromyeon..” Jawab Ilhoon, lalu melangkah riang untuk membayar kura-kura itu.

Setelah dari pet shop itu Ilhoon terus tersenyum sambil memandangi tempat kura-kura itu. Aku tak mengerti mengapa dia tiba-tiba menginginkan itu.

“Ilhoon-a, kau kan tidak suka peliharaan. Kenapa membeli kura-kura itu?” Tanyaku sambil ikut memperhatikan kura-kura itu.

Ilhoon memandangku, “Kau taukan kura-kura itu hewan terpanjang usianya?”

Aku memandangnya bingung, “Tau..”

Ilhoon kembali memandang tempat kura-kuranya, aku juga ikut memandang kura-kura itu. “Karena itu, aku akan hidup lama seperti kura-kura ini..” Ucapnya.

Aku tertegun mendengar ucapan Ilhoon dan memandangnya. Ucapannya memiliki arti yang sangat besar bagiku.

Ilhoon memandangku sambil tetap tersenyum, “Jadi, selama kura-kura ini hidup aku juga akan terus hidup..”

Bibirku membentuk senyuman mendengar ucapannya, lalu mengangguk. Meskipun aku hanya akan menjadi sahabatnya, aku tidak akan meminta lebih selama dia tetap hidup dan aku bisa terus melihatnya tertawa.

Kakiku berhenti melangkah ketika menyadari Ilhoon melangkah menuju rumahku, “Ilhoon, rumahmu kearah sana..” Ucapku sambil menunjuk arah rumahnya.

“Aku akan mengantarkanmu dulu..” Ucap Ilhoon sambil tersenyum.

“Wae? Aku yang akan mengantarkanmu.. Khaja..” Ucapku sambil menarik tangannya.

“Ya..” Ilhoon menahan tubuhnya sambil menatapku sebal, “Kau pikir seorang pria akan merasa senang diantarkan gadis pulang? Itu memalukan.. Khaja..” Ucapnya sambil menarikku. Dia masih memiliki tenaga kuat untuk menarikku. Hingga akhirnya kami tiba di depan rumahku.

“Kau mau masuk dulu?” Tanyaku.

Ilhoon menggeleng, “Ani..”

Aku tersenyum melihatnya sangat ceria.

Ilhoon memandangku aneh, “Wae?” Tanyanya.

“Aku senang kau kembali seperti dulu..” Jawabku.

“Seperti apa?” Tanya Ilhoon bingung.

“Kau yang menyenangkan..” Jawabku.

Ilhoon tersenyum malu, “Ne?”

Aku memegang bahu Ilhoon, “Karena itu, kau harus sembuh.. Ara?”

Ilhoon mengangguk, “Keurom..” Jawabnya.

Aku mengambil tempat sepasang kura-kura tadi dan memandang mereka, “Hallo.. Sampai jumpa lagi..” Ucapku, lalu mencium permukaan transparan itu dan kembali tersenyum memandang mereka.

Ilhoon menatapku kaget, lalu mengambil tempat kura-kura itu. “Ya! Kalian beruntung sekali! Belum apa-apa sudah mendapat ciuman pertamanya..” Ucapnya kesal pada kura-kura disana.

Aku tertawa sambil memukul bahunya pelan, “Mereka kan kura-kura, tidak apa-apa..”

Ilhoon menatapku lagi, “Apa kau pernah mencium seseorang sebelumnya?”

Tawaku terhenti mendengar ucapannya, “Ani..” Jawabku cepat.

Mata Ilhoon menyipit menatapku curiga, “Benar?”

“Ne.. Memangnya siapa yang menciumku? Dasar..” Ucapku sebal.

Tiba-tiba Ilhoon memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibirku, membuatku terkejut dan menatapnya kaget. Dia kembali menarik wajahnya sambil tersenyum lebar menatapku. “Kalau begitu aku yang melakukannya..”

Aku tak tau apa yang harus kukatakan. Wajahku terasa panas. Mungkin seharusnya aku berteriak marah, tapi aku tidak melakukannya. Aku malah tersipu malu sambil menundukkan kepalaku. Apa yang terjadi padaku?

Ilhoon tampak canggung juga sambil mengelus pundaknya, “Mmm.. Sampai besok..” Ucapnya.

Aku mengangguk, “Ne.. Sampai besok..” Ucapku sambil melambai dan masuk ke pintu pagar.

Ilhoon tersenyum sambil memperhatikanku sesaat, lalu berbalik dan berjalan pergi.

Jantungku berdegup kencang, bibirku tak bisa berhenti tersenyum. “Aku pulaaang..” Ucapku.

Eomma memandangku, “Sohyun-a, sudah pulang?”

Aku mengangguk, “Ne eomma..”

“Sudah makan?” Tanya eomma.

“Tadi aku sudah makan bersama Ilhoon, aku akan ke kamarku..” Jawabku sambil melangkah menuju kamarku.

Begitu pintu tertutup aku memegang bibirku sambil menahan senyum, lalu meloncat ke kasur. Rasanya ini seperti hari terbaik di hidupku. Sangaaaaat baik!! Kyaaaa!! Jika Ilhoon menciumku, berarti dia memiliki perasaan lebih padaku. Tidak mungkin kau tiba-tiba mencium sahabatmu jika tidak ada maksud lain kan? Hihihihi..

Paginya.

Aku membuka mataku dengan perasaan bahagia. Senyum langsung mengembang di bibirku mengingat apa yang sudah di lakukan Ilhoon kemarin.

“Selamat pagi..” Sapaku pada orang-orang di meja makan dan duduk di sebelah Jihyun eonni seperti biasa. Aku awalnya terlalu senang dengan perasaanku sendiri hingga menyadari eomma memandangku ragu, Jihyun eonni tampak berpura-pura sibuk dengan makanannya. Appa juga terlihat menghindariku. Ada apa dengan mereka?

“Sohyun-a..” Ucap eomma akhirnya.

Aku memandang eomma bingung, “Waeyo eomma?”

Eomma menggigit bibir bawahnya ragu, dahiku berkerut memandangnya. “Waeyo eomma?” Tanyaku lagi.

“Sohyun-a..” Ucap eomma sambil mengulurkan tangan dan memegang punggung tanganku.

Aku memandang tangan eomma dan memandang eomma tak mengerti, pasti ada sesuatu yang terjadi.

“Eomma harap kau tidak terkejut..” Ucap eomma. Aku langsung menatapnya serius. “Semalam, Ilhoon dilarikan ke rumah sakit lagi..” Ucapnya berat.

Aku tertegun mendengar ucapan eomma, mataku membesar. “Ne?”

Jihyun eonni dan appa tampak melirikku.

Eomma menggenggam tanganku, “Sohyun-a..”

Aku menarik tanganku dan berdiri sambil menatap eomma tak percaya, “Dia baik-baik saja kemarin..” Ucapku.

Eomma berdiri, “Ne.. Dia memang baik-baik saja.. Tapi ibunya menemukannya pingsan di kamar dan langsung membawanya ke rumah sakit.” Ucap eomma.

‘Pingsan?!!’ Batinku kaget, aku langsung mengambil tas dan berlari ke pintu.

“Sohyun!” Panggil eomma.

“Sohyun-a!!” Seru Jihyun eonni sambil mengejarku.

Aku tak mendengarkan mereka dan terus berlari meninggalkan rumah. Aku harus membuktikannya dengan mataku! Dia berkata akan hidup lama seperti kura-kura yang dia beli! Jadi aku harus membuatnya mengingat ucapannya itu.

Aku berusaha datang ke rumah sakit tempat biasa Ilhoon melakukan kemoteraphy. Aku bertanya pada perawat di bagian informasi dan segera menuju ruang khusus tempat Ilhoon di rawat. Namun, ketika aku berlari di lorong menuju ruangannya, langkah kakiku terhenti melihat ibu Ilhoon menangis histeris sambil memeluk seorang perawat yang berusaha menenangkannya. Bulir air mataku langsung berjatuhan deras, “Andwae..” Ucapku pelan, kakiku terasa gemetaran ketika kembali melangkah menuju ruangan khusus itu. Aku berhenti di depan jendela besar di ruangan itu sambil memandang ke dalam. Hidupku langsung terasa berhenti melihat Ilhoon terbaring di dalam dengan mata tertutup. Dua orang perawat sedang melepaskan alat bantu medis di tubuhnya. Apa-apaan ini? Dia tidak bisa meninggal!! Dia berkata akan hidup lama seperti kura-kura. Tapi kenapa dia menyerah? Kenapa dia pergi begitu saja? Aku bahkan tidak disisinya ketika dia pergi!!! Ilhoon-a!! Dia tidak mungkin pergi!! Tidak mungkin!! Akhirnya kakiku menyerah, aku merosot jatuh ke lantai dan menangis menyadari Ilhoon sudah pergi. Dia pergi begitu saja…

=Hari Pemakaman Ilhoon=

Aku tak bisa berhenti menangis memandang peti berwarna putih itu. Ibu Ilhoon terus memeluk peti itu dan menangis. Ilhoon adalah satu-satunya yang dia miliki. Begitu juga hatiku.

“Sohyun-a, kau tidak mau mengucapkan sesuatu pada Ilhoon?” Tanya Jihyun eonni yang sejak tadi berdiri disisiku.

Aku menyeka air mataku dan melangkah maju menghampiri peti putih yang sudah siap dibawa menuju tempat peristirahatan terakhir Ilhoon. Bulir air mataku terus berjatuhan, aku kembali menyekanya dan menatap peti itu. Aku tidak ingin melepas Ilhoon dengan air mata bercucuran, tapi aku tak bisa menahan kesedihanku. Aku tak ingin melepaskannya, tapi aku harus.. Tak bisakah aku juga ikut terkubur bersamanya?

“Ilhoon-a..” Ucapku dengan suara bergetar, bulir air kembali jatuh dari mataku, aku sudah lelah menyekanya. Tanganku terulur memegang permukaan peti itu, “Selamat jalan..” Ucapku. Namun sangat susah bagi hatiku mengatakannya. Aku ingin berteriak agar dia kembali bangun dan tetap disisiku. Dia harus hidup seperti kura-kura yang memiliki umur panjang. Dia harus hidup untuk masuk ke universitas bersamaku.

Jihyun eonni merangkulku karena aku tak ingin beranjak dari tempatku, “Sudah Sohyun, ayo..” Ucapnya dan membawaku pergi dari sana.

=Kamar Sohyun=

Aku berbaring miring di tempat tidur. Mataku terbuka memandangi jendela. Bulir air masih mengalir dari mataku satu persatu dan membasahi bantal kepalaku. Aku sampai harus bernafas dengan mulut karena hidungku di penuhi air. Bagaimana caraku melewati ini? Ini sangat berat bagiku. Semuanya sungguh terlalu cepat. Aku masih ingin mendengar leluconnya, melihat wajahnya ketika tersenyum, atau memukul bahunya karena mengejekku. Aku kembali mendapatkan itu, namun dia langsung pergi. Mataku sampai terasa sakit karena tak berhenti menangis sejak kemarin. Eomma sampai berencana memindahkan sekolahku agar tak terganggu bayang-bayang Ilhoon. Tapi bukan tempat yang membuatku selalu mengingatnya, tapi memori dirinya di kepalaku. Aku tak sanggup membuangnya jauh. Saat aku ingin berhenti menangis, tawa Ilhoon kembali terdengar di telingaku.

Dihari kedua, aku merasa lebih tegar untuk bangkit dari kesedihanku. Aku benar-benar merindukan sosok Ilhoon. Mungkin mendatangi rumahnya bisa mengurangi sedikit rasa rinduku.

Begitu aku melewati ruang tengah, eomma, Jihyun eonni dan appa langsung terpaku memandangku.

“Sohyun-a?” Ucap eomma tak percaya.

“Sudah merasa lebih baik?” Tanya Jihyun eonni.

“Ne..” Jawabku pelan.

“Kau ingin makan sesuatu, Seohyun?” Tanya eomma.

“Aniya, eomma.. Aku ingin kerumah Ilhoon..” Jawabku, mereka semua langsung tertegun.

“Ke rumah Ilhoon? Waeyo?” Tanya eomma.

Aku menunduk, “Aku hanya ingin kesana..” Jawabku.

“Oh.. Jangan terlalu lama..” Ucap eomma.

Aku mengangguk, “Ne eomma..” Jawabku, lalu melangkah keluar.

Setibanya di depan rumah Ilhoon, aku memandangnya sesaat sebelum masuk kepekarangan rumah. Meskipun ragu, aku tetap menekan bel dan menunggu pintu terbuka.

Pintu terbuka, ibu Ilhoon tampak tertegun melihatku. “Sohyun-a?”

“Annyeonghaseo ahjumma..” Sapaku sambil membungkuk sopan, “Apa aku boleh melihat-lihat kamar Ilhoon?” Tanyaku.

Ibu Ilhoon diam sejenak, lalu mengangguk. “Ne.. Tentu saja..” Ucapnya.

Aku melangkah masuk dan langsung menuju kamar Ilhoon. Aku tak ingin membuang waktu.

Tidak ada yang berubah dikamar ini. Masih terasa seperti ketika Ilhoon masih menghuninya. Mataku kembali basah melihat photo masa kecilku dan Ilhoon. Aku ingin kembali ke masa itu. Andai aku bisa mengambalikan waktu, aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Ilhoon.

Aku segera menyeka air mataku dan berbalik begitu mendengar suara pintu terbuka, tampak ibu Ilhoon masuk.

“Sohyun-a..” Ucapnya pelan dan memegang bahuku, “Kepergian Ilhoon memang sangat berat, kau pasti bisa melaluinya..”

Aku mengangguk pelan, “Ne.. Kau juga ahjumma..”

Ibu Ilhoon menatapku sedih, matanya mulai basah dan memegang pipiku. “Ilhoon sangat menyayangimu sejak kalian kecil..” Ucapnya, “Kalian selalu menghabiskan waktu bersama. Kau juga sudah seperti putriku sendiri.. Memandangmu membuatku merasa Ilhoon masih berada disini..” Bulir air berjatuhan dari matanya.

Aku tersenyum tipis dan memeluknya, “Ilhoon akan selalu bersama kita, ahjumma..” Ucapku.

“Mmm..” Gumam ibu Ilhoon, dia melepaskan pelukanku dan menyodorkan sebuah ponsel. “Ini ponsel Ilhoon, malam itu dia berkata kalau dia ingin kau memiliki ini..”

Aku tertegun dan memandang ponsel itu. Ilhoon tak pernah mengijinkanku menyentuh ponselnya, bahkan jika aku mengintip ketika dia membalas pesan, dia akan mengetuk dahiku dengan jarinya. Tapi sekarang dia memberikannya padaku. Tanganku menerima ponsel itu dan menatapnya.

“Kau pasti belum makan, aku akan menyiapkan makanan..” Ucap ibu Ilhoon dan kembali pergi.

Aku memandang ibu Ilhoon yang menghilang di balik pintu, lalu kembali memandang ponsel di tanganku. Mengapa dia ingin aku memiliki ini? Aku menghampiri kasur dan duduk di pinggirnya sambil mengaktifkan benda itu. Setelah menunggu beberapa detik, muncul wallpaper depan yang langsung membuatku terpaku. Itu.. Di wallpapernya terpajang photoku bersama Ilhoon di komedi putar. Bibirku membentuk senyuman karena dia selalu memiliki sesuatu yang aneh. Aku mulai melihat-lihat ponsel itu dan menemukan sebuah folder bernama ‘Untuk Sohyun..’ Dahiku berkerut dan melihat video itu. Isinya hanya sebuah video berdurasi 2 menit lebih sedikit. Aku segera mengambil earphone dari laci meja Ilhoon dan segera memasangnya untuk melihat video itu.

Video dimulai dengan Ilhoon yang tersenyum tipis pada kamera, “Annyeong.. Sohyun-a..” Ucapnya, “Aku tidak berharap kau mendapatkan pesan ini, tapi aku tidak bisa menyembunyikan kerisauanku saat ini..” Dia menghela nafas berat. “Saat melihat video ini, aku mungkin sudah tidak didunia ini lagi..” Ucapnya lagi dengan menatap sedih ke kamera, “Aku ingin kau melihat video rekaman di salah satu folder disini. Tidak akan sulit mencarinya..” Dia kembali tersenyum, namun matanya masih memancarkan kesedihan yang mendalam. “Kuharap aku masih memiliki waktu banyak untuk kuhabiskan bersamamu, Sohyun..” Ucapnya dan video selesai.

“Aku juga, Ilhoon..” Ucapku. Aku mencari folder yang dimaksud Ilhoon, ternyata memang tak sulit mencarinya. Karena folder tertulis Ilhoon’s Heart. Begitu membukanya, banyak video disana beserta tanggalnya. Video pertama yang dia buat beberapa bulan lalu. Begitu video di buka, aku tertegun melihat photoku. Itu photo yang diambil Ilhoon secara diam-diam saat kami berjalan menuju sekolah.

“Kwon Sohyun..” Terdengar suara Ilhoon, “Sahabatku sejak kecil. Kami selalu pergi dan pulang bersama. Jika aku pulang atau pergi seorang diri, rasanya sangat aneh..” Dia tertawa kecil. “Meskipun kankerku hanya stadium awal, aku tetap ingin membuat kenangan ini. Mulai sekarang aku akan terus memotretnya dan membuat diary video ini. Ahh.. Memalukan, jangan sampai Sohyun tau aku membuat diary..”

Aku tersenyum mendengar ucapan Ilhoon, dia selalu bisa mengatakan sesuatu yang lucu. Aku terus melihat video-video itu yang hampir semuanya terdapat photoku. Beberapa photo itu aku tidak tau kapan dia mengambilnya. Ini, video diary dihari Valentine. Aku tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca, itu adalah photo kami saat melihat sungai Han di malam hari. Dia berkata bosan di rumah dan mengajakku pergi.

“Valentine! Ya!! Jangan memandangi Sohyunku! Hahahahaha..” Canda suara Ilhoon di video itu, “Dia pasti berpikir aku hanya ingin pergi dengannya, tapi ini adalah Valentine pertama kami yang sangat indah.. Aku berharap dia membuatkan coklat untukku, tapi malah memberikan coklat untuk eomma.. Sohyun, aku menunggu coklat itu bertahun-tahun tapi hanya bisa melihatnya diberikan pada eomma.. Aigooo…”

Anak ini, dia tidak menyukai makanan manis. Jadi aku tidak membuatkan coklat untuknya agar dia tak perlu berpura-pura memakannya. 2 bulan terakhir video-video itu mulai terasa menyentuh. Ilhoon terdengar sangat sedih dan kesakitan.

Video di hari Ilhoon pingsan di sekolah tidak memasang photoku, tapi ilhoon yang berbicara ke kamera lagi. Dia terlihat sangat sedih.

Ilhoon menghela nafas dalam, “Sohyun-a, usiaku sudah tidak panjang.. Kankerku terus berkembang hingga membuat komplikasi di jantung dan paru-paruku. Eoteokhe? Aku berencana melamarmu saat kita masuk ke universitas.. Eotheokhe?” Ucapnya, sebulir air mengalir dari matanya. “Na eoteokhe, Sohyun-a?” Dia menangis dan menghentikan video itu. Aku ikut menitikkan air mata melihat video itu.

Video selanjutnya adalah photoku dari belakang, jika melihat lebih jelas itu saat aku melangkah pergi. “Dia marah padaku. Aku sangat menyesal! Aku tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya pada Sohyun. Apa aku bisa tertawa ketika berkata kalau usiaku hanya dalam hitungan bulan? Dia pasti menangis. Apa yang harus kulakukan?”

Aku ingat hari itu. Aku benar-benar marah padanya karena tak mengatakan apa pun padaku.

Video selanjutnya, dia merekam dirinya setelah kembali dari rumahku ketika dia mengatakan tentang penyakitnya. Aku ingat karena baju yang dia kenakan malam itu. “Aku sudah mengatakannya.. Dia menangis di pelukanku.” Ucapnya, matanya tampak berkaca-kaca dan bulir air mengalir dari matanya. “Aku ingin menyeka air matanya dan berkata semuanya akan baik-baik saja.. Tapi aku tidak bisa.” Dia memalingkan wajahnya sambil menenangkan diri sesaat, lalu kembali menatap kamera. “Aku juga tidak ingin segera pergi. Aku sangat takut pada kematian.. Jika aku pergi, siapa yang akan menemani eomma? Tidak ada lagi orang yang akan bersama Sohyun.. Kenapa aku yang menderita penyakit ini?”

Aku memejamkan mata dan menempelkan ponsel itu ke dadaku, bulir air mataku berjatuhan. Aku tidak tau Ilhoon merasa seperti itu. Di depanku dia selalu terlihat kuat dan tertawa. Setelah beberapa saat aku menyeka air mata dan kembali memandang layar ponsel.

Video dengan photoku saat berbicara dengan Hyuna?! Kapan dia memotret ini?!

“Dua hari lalu aku berkata pada Sohyun kalau aku menyukai Hyuna.. Wajahnya tampak tidak senang. Hahaha.. Itu bagus sekali!” Tawanya, “Keesokan harinya aku melihat dia berbicara dengan Hyuna, awalnya aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Tapi tadi sore akhirnya aku tau, Sohyun meminta Hyuna berkencan denganku. Aigoo.. Kupikir dia mengajakku berkencan, tapi ternyata merencanakan hal bodoh seperti itu. Memang benar jika semua pria pasti akan menyukai Hyuna, tapi aku tidak. Karena aku menyukaimu, Sohyun.. Hihihihihi..”

Video selanjutnya kembali wajah Ilhoon, dia tampak lemah. Aku ingat, ini adalah saat dia pulang kemo bersama ibunya dan Hyuna. “Sohyun-a, kenapa kau pergi begitu saja? Aku ingin kau menemaniku beberapa saat.” Ucapnya lemah, “Aku sengaja tidak memberitaunya jadwal kemoterapyku berubah, karena kemarin dia berkata dia tidak enak badan karena kurang tidur. Itu pasti karena selalu menemaniku. Kupikir dia bisa beristirahat dulu, tapi aku merasa sangat menderita dia tidak disisiku saat kemoterapy berlangsung. Aku berusaha menahannya karena eomma ada disana, ohhh.. Sohyun-a, aku pria yang tak berdaya..” Dia menghela nafas berat, “Hyuna.. Aku tidak sengaja bertemu dengannya di rumah sakit, dia berbaik hati membantu eomma membawaku pulang. Seharusnya kau yang berada disana, Sohyun. Seharusnya kau memberikan kekuatan untukku. Aku tidak sanggup menjalani hidup seperti ini, rasanya sangat menyakitkan..”

Ilhoon sangat menderita.. Bagaimana mungkin aku tak melihatnya? Aku mengingat dia sampai menitikkan air mata ketika menjalani kemoterapy. Dia tak pernah menangis didepanku sebelumnya sejak kami beranjak remaja, tapi saat itu dia benar-benar menangis.

Video ini memajang photoku dan Ilhoon di komedi putar, bibirku kembali membentuk senyuman mengingat hari itu.

“Ini seharusnya menjadi hari terbaik di hidupku.. Ini kencanku bersama Sohyun. Tapi mengapa Tuhan merenggutnya dariku?” Aku bisa mendengar Ilhoon menangis, hal ini membuatku ikut menangis lagi. “Kenapa Tuhan memaju-mundurkan keadaanku? Wae?!! Aku baru saja merasakan keindahan bersama Sohyun.. Aku sangat bahagia hari ini, tapi kenapa tubuhku tidak merasakannya?! Kenapa aku harus selemah ini?”

Aku tau, dia merekam ini saat sudah di rawat di rumah sakit. Jadi dia merasa itu adalah kencan? Ilhoon-a.. Aku juga sangat bahagia hari itu..

Sebuah video setelah itu di rekam beberapa hari setelah dia merekam yang sebelumnya. Kali ini dia merekam wajahnya. Bawah matanya terlihat menghitam, juga selang pernapasan terpasang di hidungnya.

“Aku tidak bisa memegang ponselku beberapa hari ini.. Bukan karena perawat mengambilnya, tapi…aku tak sanggup menggerakkan tubuhku.” Ucapnya sedih, “Aku tidak akan bertahan lama. Aku akan segera meninggal. Sohyun.. Aku akan segera meninggal..” Bulir air berjatuhan dari matanya.

Ternyata Ilhoon hanya berusaha memperlihatkan ketegarannya di depan semua orang, dia sangat takut menjelang kematiannya. Aku menyesal tidak berada disisinya saat itu.

Video berikutnya, ini photoku saat tertidur disisinya. Dia sempat memotretku sebelum melukis di wajahku. Dasar Ilhoon..  (-___-“)

“Lihat.. Dia tertidur.. Cute sekali. Aku sangat senang melihatnya muncul hari ini. Dia dengan besar hati mau menggantikan eomma menjagaku. Aku berterima kasih padanya karena telah membantu eomma, juga dengan begitu aku bisa berduaan dengannya..” Ucap Ilhoon ceria.

Meskipun air mataku masih mengalir, hatiku senang mendengar dia ceria bersamaku.

“Aku sangat menyayangimu Sohyun..” Lanjut suara Ilhoon.

Aku tertegun mendengar ucapan terakhir Ilhoon, terdengar sangat dalam dihatiku.

Video selanjutnya, sebuah photo sepasang kura-kura. Spontan kepalaku terangkat dan memandang sekitar. Sepasang kura-kura itu ada dalam aquarium kecil di atas meja belajar Ilhoon.

“Aku membeli mereka.. Aku berkata pada Sohyun kalau aku akan hidup lama seperti mereka..” Samar-samar aku mendengar suaranya menangis, apakah dia sangat menderita? “Aku sungguh ingin hidup lama seperti mereka. Aku masih ingin menghabiskan waktu bersama Sohyun. Tapi aku bahkan tidak bisa mengungkapkan perasaanku padanya. Apa aku akan membuatnya berharap padaku dan mati? Aku akan merasa bersalah jika itu terjadi. Hari ini aku menghabiskan waktu terakhirku bersama Sohyun, aku menciumnya. Hal yang selama ini selalu kutahan karena tak ingin membuat hubungan diantara kami rusak, tapi tadi aku benar-benar melakukannya. Mengingat senyumanya membuatku sangat bersalah. Aku akan pergi Sohyun.. Aku tidak bisa hidup lama seperti kura-kura itu.. Maafkan aku…”

Jadi dia sudah tau kalau umurnya tak akan lama lagi tapi sengaja mengajakku pergi dan membeli kura-kura itu? Ilhoon-a, jika kau menderita, mengapa tidak membaginya bersamaku?

Video terakhir, disini Ilhoon menggunakan photo masa kecil kami. Itu saat kami pertama kali masuk sekolah dasar, aku tidak mau pergi karena aku tidak suka suasananya. Tapi Ilhoon membujukku dan membawaku ke sekolah kami. Karena aku mau pergi, ibunya memotret kami sebagai kenang-kenangan.

“Sohyun-a..” Terdengar suara Ilhoon, “Maafkan aku, aku tidak bisa hidup lama seperti kura-kura itu.” Ucap Ilhoon, “Aku sudah berkata pada eomma untuk  hidup dengan baik setelah aku pergi. Tapi aku tau eomma akan kesepian setelah aku tidak ada. Bisakah kau tetap menemui ibuku dan menghiburnya? Ibuku sudah menganggapmu seperti putrinya sendiri, pasti dia akan merasa lebih baik karena kehadiranmu.. Dan, aku tidak bisa menjaga sepasang kura-kura itu. Aku membelinya karena aku tau tidak bisa merawatnya, mereka untukmu Sohyun.. Rawat mereka seperti saat kau merawatku, aku akan menghargai itu. Aku ingin selama kau merawat mereka, kau akan mengingatku. Sahabat dan pria yang sangat mencintaimu sepenuh hatinya. Kau adalah cinta pertama dan terakhirku, bisakah kau menganggapku sebagai kekasihmu? Aku ingin memiliki gelar itu saat pergi meninggalkan dunia ini.” Dia tertawa kecil, aku ikut tertawa. Hatiku senang dan sedih disaat bersamaan. Ilhoon memang selalu bisa mencampur aduk perasaanku.

“Sohyun-a.. Terima kasih sudah berada disisiku selama hampir 18 tahun ini. Semua hal yang kulakukan bersamamu sangat berharga. Aku selalu mengganggumu dan membuatmu marah bukan karena aku ingin kau membenciku, tapi agar kau tak menghabiskan waktu bersama yang lain. Saat kau marah dan mengomel padaku, kau hanya akan mengejar dan membalasku. Kau tidak akan bermain dengan yang lainnya. Aku senang karena itu. Maaf jika kau sering menangis karenaku. Percaya padaku, bagaimana pun ekspresimu, kau terlihat manis.” Aku tertawa kecil mendengar ucapannya, “Kurasa ini adalah video diary terakhirku. Sohyun-a, jika suatu hari kau mendengar semua diaryku ini, kuharap kau mengerti apa yang tidak bisa kukatakan selama ini. Bahwa aku mencintaimu..”

Aku kembali merasakan kesedihan mendalam karena Ilhoon sekarang sudah tidak ada. “Nadoo saranghae, Ilhoon-a..” Ucapku pelan.

“Dan Sohyun..” Ucap suara Ilhoon lagi, “Ciuman kita didepan rumahmu, bukan ciuman pertama kita..” Dan video itu berakhir.

Aku tertegun, “Ne?” Ucapku bingung, apa maksudnya? Bukan ciuman pertama kami? Kapan dia menciumku? Aku berusaha mencari-cari video lain yang mungkin disimpan Ilhoon mengenai ciuman itu, tapi tidak ada. Tapi ciuman pertama ataupun tidak, aku sangat bahagia melakukannya bersama Ilhoon.

Bibirku membentuk senyuman memandang ponsel itu, Ilhoon memang sudah tidak ada. Tapi dia akan terus tersimpan dalam lubuk hatiku. Aku menyeka air mata dan bergerak bangkit menghampiri meja belajar Ilhoon dan memberi makan kura-kura di dalam aquarium, lalu memandangi mereka sambil tersenyum tipis.

“Annyeong.. Aku akan menjaga kalian mulai sekarang.” Ucapku, “Aku akan datang setiap hari untuk memberi kalian makan juga membersihkan aquarium kalian. Dengan begitu ibu Ilhoon tidak akan merasa kesepian, benarkan?” Ucapku.

Ilhoon memberikan kekuatan untukku bangkit. Aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaannya padaku. Karena aku tau dia tak ingin meninggalkanku, tapi semuanya tak bisa berjalan seperti yang kami inginkan. Dulu, Ilhoon memang sering membuatku menangis karena ejekan dan kejahilannya. Tapi aku tidak pernah membencinya, aku juga tidak pergi dan mengadu pada ibuku atau guru saat di sekolah. Aku hanya akan menangis didepannya, dia akan meminta maaf dan menghiburku. Setelah itu kami akan bermain bersama lagi. Meskipun kami tak sempat saling mengungkapkan perasaan masing-masing, ciuman di depan rumahku sudah menjelaskan semuanya. Dan aku akan mengingatnya seumur hidupku.

-Sohyun’s POV end-

=Flashback=

Ilhoon terbangun dari tidurnya, terasa agak ngeri di punggungnya. “Aaah..” Rintihnya pelan sambil mengangkat tangan, saat itu tangannya membentur sesuatu. Kepalanya terangkat dan melihat apa itu, ternyata kepala Sohyun yang terlelap dengan posisi duduk. Dia terpaku sesaat memandangi wajah gadis itu, lalu tersenyum. Menyadari gadis itu ada disisinya membuatnya merasa lebih baik. Perlahan ia bangkit dan bersandar dengan siku, menurutnya wajah Sohyun terlihat lebih manis dari jarak sedekat ini. Tangannya yang lain merapikan rambut yang menutupi wajahnya. Namun senyumnya perlahan memudar mengingat dia tidak akan bisa memandangi wajah gadis itu lagi. Dia berusaha keras menahan air matanya. “Sohyun-a, kau akan mendapatkan pria lain yang lebih baik dan sehat dariku. Berbahagialah..” Ucapnya pelan. Perlahan kepalanya menunduk dan mencium bibirnya, tak lama dia kembali menarik wajahnya sambil tersenyum memandang wajah tenang Sohyun.

Dahi Sohyun berkerut, “Hmmm.. Ilhoon-a..” Gumamnya dalam tidur.

Ilhoon tertawa kecil, “Kau memimpikanku ya?” Ucapnya, saat itu muncul sebuah ide untuk menjahili Sohyun. Dengan membuat gambar diwajahnya. (∩_∩)

=Flashback end=

===THE END===

Advertisements

5 thoughts on “U & I

  1. Lol~ aku ngerasa dejavu waktu baca ff mu yg ini lho thor… Soalnya aku emg pernah baca… Tapi gak tau kalo ini ff mu -_- xD
    huah… Aku nangis bacanya 😥 apalagi pasa sohyun ngeliat video yg ilhoon bikin… 😦 sumpah sedih banget….

  2. annyeong, ff ini bikin aku nangis tanpa henti saat baca ff ini di bagian ciuman yang didepan rumah langsung sedih apalagipas tau ilhoon meninggal dan berlanjut baca diarynya aku nangis terus sampe sesak dadanya ff ini membuat aku merasakan kesedihan ilhoon dan sohyun thor jjang buat aku nangis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s